PERAN UNICEF DALAM MENGATASI
PENINGKATAN EKSPLOITASI TERHADAP ANAK DI
INDONESIA (2014-2019)
UNICEF'S Role In Addressing Increased Exploitation Of Children In Indonesia (2014-2019) Khairunnisa1, Dwi Ardiyanti2
1,2
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Potensi Utama
1,2,3Universitas Potensi Utama, K.L. Yos Sudarso KM 6,5 No.3 A Tj. Mulia – Medan
Email: [email protected] , [email protected] ABSTRAK
Kejahatan eksploitasi pada anak terbagi ke dalam tiga jenis yakni eksploitasi fisik, eksploitasi sosial dan eksploitasi seksual. Maka dari itu pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNICEF agar anak-anak Indonesia terhindar dari ancaman eksploitasi. UNICEF merupakan organisasi internasional yang memiliki peranan tersendiri dalam melindungi anak di Indonesia. Hal ini memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikam pemahaman tentang apa saja peran UNICEF dalam mengatasi masalah eksploitasi terhadap anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif agar dapat menjabarkan berbagai informasi dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna dengan cara menelaah studi pustaka seperti buku-buku, jurnal, koran, majalah, maupun internet. Kemudian melalui pendekatan Feminisme Sosialis yaitu untuk menyerukan solidaritas global di kalangan kaum perempuan agar memerangi kesenjangan sosial. Hasil penelitian mengatakan bahwa peran UNICEF dalam menangani kasus eksploitasi terhadap anak di Indonesia yaitu membantu Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak. Faktanya, meskipun UNICEF sudah melakukan upaya-upaya mengurangi angka eksploitasi anak di Indonesia, namun masih saja jumlah anak korban terus bertambah. Ini artinya tindakan yang dilakukan UNICEF dinilai masih kurang efektif. Seharusnya UNICEF bersama dengan pemerintah Indonesia serta pihak yang bertanggung jawab dalam mengatasi masalah eksploitasi anak harus lebih ekstra membuat langkah-langkah pencegahan agar eksploitasi anak di Indonesia dapat ditanggulangi. Kata Kunci: Eksploitasi Anak, UNICEF, Indonesia, Kerjasama, Interdependensi
ABSTRACT
The crime of exploitation against children is divided into three types, namely physical exploitation, social exploitation and sexual exploitation. Therefore, the Indonesian government collaborates with UNICEF so that Indonesian children are protected from the threat of exploitation. UNICEF is an international organization that has its own role in protecting children in Indonesia. This provides a positive effect for improving the quality of human resources in Indonesia. The purpose of this study is to provide an understanding of what UNICEF's roles are in overcoming the problem of exploitation of children in Indonesia. This research uses qualitative methods in order to describe a variety of information with thorough and meaningful descriptions by examining literature studies such as books, journals, newspapers, magazines, and the internet. Then through the Socialist Feminism approach, namely to call for global solidarity among women in order to fight social inequality. The results of the research show that UNICEF's role in handling cases of exploitation of children in Indonesia is to help Indonesia ratify the Convention on the Rights of the Child. In fact, even though UNICEF has made efforts to reduce the number of child exploitation in Indonesia, the number of child victims continues to grow. This means that the actions taken by UNICEF are still considered ineffective. UNICEF, together with the Indonesian
government and those responsible for overcoming the problem of child exploitation, should take extra steps to prevent the exploitation of children in Indonesia.
Keywords: Child Exploitation, UNICEF, Indonesia, Cooperation, Interdependence
1. PENDAHULUAN
Tindakan eksploitasi terhadap anak di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sering ditemukan di lingkungan sekitar kita anak-anak menjadi korban berbagai jenis eksploitasi. Fungsi pemerintah pada suatu negara sangat dibutuhkan untuk mengurangi peningkatan eksploitasi mengingat anak-anak merupakan modal pembangunan dimasa yang akan datang. Pemerintah harus bertanggung jawab pada semua permasalahan rakyatnya. Segala bentuk eksploitasi terhadap anak dapat berdampak pada psikologis anak. Masalah eksploitasi anak dengan berbagai tujuan menyangkut beberapa faktor diantaranya ekonomi, pengaruh lingkungan, kurangnya pendidikan, faktor budaya seperti pernikahan dini dan hutang serta lemahnya penegakan dan perlindungan hukum yang telah dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak[1]. Indonesia memiliki letak yang sangat strategis di kawasan Asia Tenggara dan sebagai negara maritim sehingga mempunyai banyak daerah yang langsung berbatasan dengan negara lain[2]. Melihat kondisi Indonesia yang semakin hari semakin meningkat terkait kasus eksploitasi terhadap anak-anak di Indonesia, UNICEF adalah organisasi internasional yang berperan aktif mengatasi berbagai isu tentang anak turut membantu Indonesia dalam memerangi para pelaku kejahatan perdagangan anak.
Dalam tulisan Syafarini, menurut D.W. Bowett Organisasi Internasional adalah organisasi tetap bersifat multilateral daripada bilateral yang didirikan atas dasar suatu perjanjian dan mempunyai tujuan-tujuan tertentu[3]. Pada tahun 1948, ketika terjadinya kekeringan hebat di Lombok, UNICEF bergegas datang ke Indonesia memberikan penanganan cepat untuk menyelamatkan anak-anak di Indonesia. Pada tahun 1950, Indonesia secara resmi bekerjasama dengan UNICEF[4]. Dengan adanya tulisan ini, UNICEF diharapkan mampu melakukan tindakan konkrit untuk melindungi hak-hak anak Indonesia.
2. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis memutuskan untuk menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengertian metode penelitian kualitatif menurut para ahli salah satunya adalah Sugiyono, penelitian kualitatif yaitu metode dengan mengumpulkan data yang berbentuk gambar, kata, dan skema[5]. Dengan menggunakan metode ini diharapkan bisa menjelaskan informasi-informasi bermutu dengan deskripsi-analisis secara tepat sasaran dengan menelaah studi pustaka seperti buku-buku, jurnal, koran, majalah, maupun internet.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
United Nations Children’s Fund (UNICEF) yakni sebagai organisasi internasional dibawah naungan PBB dibentuk untuk anak-anak di kota New York pada 11 Desember 1946[6]. Organisasi Internasional tersebut bergegas datang ke Indonesia untuk membantu anak-anak yang mengalami dampak dari adanya perang dunia kedua. Sejak saat itulah menjadi awal terjalin nya hubungan kerjasama antara Indonesia dengan UNICEF.
Sejarah Kerjasama Indonesia dengan UNICEF
Pada tahun 1948, menjadi awal Indonesia menjadi ketergantungan terhadap UNICEF ketika terjadi keadaan krisis yaitu kekeringan parah di Lombok sehingga membutuhkan penanganan cepat untuk memastikan anak-anak di Lombok tetap selamat. Dalam tulisan Nur, Interdependensi menurut Yanuar Ikbar adalah ketergantungan antara dua pihak atau lebih yang memiliki kelemahan satu sama lain dari tiap-tiap negara melalui eminensinilai suatu masyarakat[7]. Setahun kemudian tahun 1949, perjanjian kerjasama pertama ditandatangani Republik Indonesia secara resmi untuk mendirikan dapur susu di pusat pemerintahan baru yaitu
Yogyakarta ketika tahun itu[8]. Ketika awal tahun 1960an, UNICEF lebih fokus pada pembangunan kesejahteraan anak dari pada memenuhi pertolongan manusiawi. UNICEF menjalankan program gizi pada 100 desa dari delapan provinsi yang ada di Indonesia tepatnya pada tahun 1962. Kemudian pada tahun 1966, Indonesia bergabung lagi dengan PBB dan melakukan perjanjian dengan UNICEF guna melakukan hubungan kerjasama demi mencapai keuntungan bagi kedua belah pihak. Kemudian Pemerintah Indonesia dengan UNICEF mengeluarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertamanya pada 1969, tidak hanya itu bantuan teknis juga diberikan oleh organisasi PBB lainnya[9]. Setelah terjalin kerjasama selama beberapa tahun kedepan, akhirnya pemerintah Indonesia dengan UNICEF membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun dengan fokus program Perlindungan Anak, Kesehatan, Pendidikan, Air dan Sanitasi dan Memerangi HIV/AIDS serta kondisi darurat lainnya yang akan dilaksanakan untuk tahun 2006-2010 juga yang akan datang.
Keberlangsungan Kerjasama Indonesia dan UNICEF
Dalam mengatasi masalah eksploitasi pada anak UNICEF telah membentuk dan melaksanakan program-program kerja untuk mencapai targetnya. Berikut kinerja yang dilakukan UNICEF di Indonesia dari tahun 2014-2019:
UNICEF Dalam Mengatasi Perdagangan Anak 2014
Pada februari 2014 diawali dengan kunjungan Direktur Eksekutif UNICEF ke Jakarta dan Aceh serta diakhiri dengan upacara resmi memperingati sepuluh tahun sejak 2004 tsunami Aceh. Pada tahun 2014 UNICEF melakukan pemantauan terhadap anak korban kekerasan dan eksploitasi. UNICEF mendukung upaya pemerintah untuk menanggapi peningkatan kesadaran tentang risiko dan dampak kekerasan. UNICEF melakukan kerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan memproduksi video kartun yang bertujuan untuk memberdayakan anak kecil dalam melindungi diri mereka dari pelecehan[10]. Dengan munculnya video tersebut, anak-anak dapat mengerti bahwa bahaya pelecehan bisa dilakukan oleh siapa pun. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melakukan upaya dengan peninjauan kembali kerangka hukum dan kebijakan terkait. Maka dengan adanya pedoman hukum nasional dan internasional, pemerintah Indonesia dan UNICEF akan terus melakukan kerjasama dengan tujuan agar eksploitasi anak ini dapat berkurang.
UNICEF Dalam Mengatasi Sanitasi Lingkungan 2015
Program kerja UNICEF pada tahun 2015 yaitu UNICEF bekerjasama dengan BAPPENAS untuk menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat lebih diplomatis guna untuk meningkatkan program dan capaian pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan[11]. Salah satu kerja nyata UNICEF terkait program WASH adalah mengadakan kampanye Tinju Tinja. Program ini bertujuan untuk menghentikan praktik buruk yaitu Buang Air Besar Sembarangan, agar anak-anak tidak terkena penyakit berbahaya seperti diare dan lainnya yang dapat menyebabkan kematian. UNICEF Dalam Mengatasi Perkawinan Anak 2016
Pada tahun 2016, UNICEF melakukan kegiatan dalam mengatasi perkawinan anak di Indonesia. Ada beberapa penelitian tentang perkawinan anak menemukan bahwa akar penyebab pernikahan anak adalah ketidaksetaraan gender. Menurut Mansour Fakih feminisme adalah tindakan yang berangkat dari kesadaran dan asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya lemah dan mudah untuk ditindas atau dieksploitasi, sehingga wajib hukumnya bagi perempuan untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut[12]. Peran tokoh agama dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan bahwa anak perempuan Indonesia mampu membuat pilihan.
UNICEF Dalam Mengatasi Masalah Gizi 2017
UNICEF sebagai organisasi internasional terus menjadi mitra pilihan Pemerintah Indonesia untuk mengatasi nutrisi ibu dan anak serta sangat mendukung gerakan Scalling Up Nutrition atau meningkatkan gizi yaitu upaya untuk mengatasi semua bentuk malnutrisi. UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan dalam menyusun pedoman nasional terkait manajemen terpadu malnutrisi akut yang dikenal sebagai Pengelolaan Gizi Buruk di Kabupaten Kupang[13].
Kerjasama dengan beberapa Kementerian berarti UNICEF tidak bisa bertanggung jawab sendirian. Interdependensi terus terjadi selama proses kerjasama dalam mengatasi masalah anak-anak yang tereksploitasi di Indonesia. Menurut Robert O.Keohane dan Joseph S. Nye, teori interdependensi dapat dipahami secara sederhana yaitu hubungan saling ketergantungan atau timbal balik antara satu sama lain dalam hubungan intemasional[14]. Terkait hal tersebut, UNICEF bekerjasama dengan BAPPENAS dalam membantu UNICEF melalui program kerja yang telah dibuat untuk anak di Indonesia yaitu mengenai pencegahan Gizi Buruk terhadap anak yang kurang mampu. UNICEF Dalam Mengatasi Anak Korban Bencana Alam 2018
Gempa bumi yang terjadi di Sulawesi pada bulan september 2018 membuat UNICEF menjadi organisasi internasional pertama yang bergerak cepat membantu menolong anak-anak di Sulawesi pasca bencana tersebut. UNICEF bekerjasama dengan dinas kesehatan wilayah Sulawesi dan LSM di kota Ambon untuk melindungi anak-anak terhadap penyakit yang dapat dicegah. UNICEF juga berupaya untuk memastikan kesiapan akses terhadap kesempatan belajar yang dibutuhkan untuk kemajuan anak[15]. Kerjasama antar kedua belah pihak yang dilakukan antara UNICEF dan Kementerian Indonesia memberikan dampak positif terhadap penanggulangan masalah anak di Indonesia.
UNICEF Berpartisipasi Dalam Forum Diskusi 2019
Pada tahun 2019, UNICEF menghadiri acara memperingati hari anak sedunia yang ke 30 sesuai dengan diadopsinya KHA, anak-anak Indonesia mengimbau agar bisa berkontribusi dalam membuat kebijakan yang akan berdampak pada masa depan mereka. Dalam forum tersebut, mereka memiliki beberapa permintaan supaya seluruh anak-anak Indonesia dapat menikmati air yang sehat, bersih dan aman serta mampu melindungi anak disabilitas, anak korban kekerasan, konflik dan bencana juga mereka yang berhadapan dengan hukum[16].
Potensi Kerjasama Jangka Panjang Indonesia dan UNICEF
Masalah eksploitasi anak di Indonesia bukanlah menjadi isu yang baru tetapi aktivitas ini sudah berlangsung semenjak dahulu. Indonesia diketahui sebagai negara tujuan, transit dan sumber dari kasus eksploitasi seksual terhadap anak. Malaysia, Singapura, Hongkong dan sebagian negara-negara Timur Tengah menjadi negara tujuan eksploitasi terhadap anak yang paling diminati[17]. Adanya interaksi antar kedua belah pihak secara internasional yang menimbulkan tujuan eksploitasi anak sangat merugikan negara. Perwita dan Yani mengatakan hubungan bilateral merupakan situasi yang menafsirkan adanya hubungan timbal balik antara aktor utama ataupun kedua belah pihak yang terlibat dalam merasionalisasikan hubungan bilateral[18]. Terlebih lagi pada masa globalisasi ini menyebabkan kebutuhan saling berkomunikasi bagi negara-negara semakin intens demi terwujudnya tujuan-tujuan kerjasama yang diinginkan.
Dalam hal ini, pola kerjasama antara pemerintah Indonesia dan UNICEF bisa termasuk kedalam pola kerjasama G2G dan pola kerjasama non G2G. Kerjasama Goverment to Goverment yaitu suatu kepentingan agar bisa berkorelasi antar satu pemerintah dengan pemerintah lainnya, kegiatan ini bukan saja terkait pada hal-hal yang terkait pada kebijakan pemerintah saja, namun juga untuk mempermudah kerjasama antar negara dan unsur-unsur negara seperti perusahaan, industri dan yang paling penting adalah masyarakat. Kerjasama tersebut berhubungan erat dengan proses-proses politik, kegiatan administrasi perdagangan, prosedur hubungan sosial dan budaya, dan lain sebagainya. Sedangkan pola kerjasama non G2G merupakan interaksi yang tidak melibatkan aktor negara ataupun unit-unit pemerintahan[19]. Oleh karenanya, UNICEF dan Indonesia melakukan pola kerjasama dalam bentuk G2G dan non G2G untuk menyelesaikan masalah eksploitasi anak, adapun usaha yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Pola Kerjasama G2G Yang Dilakukan UNICEF di Indonesia
Gambar 2. Pola Kerjasama Non G2G Yang Dilakukan UNICEF di Indonesia Hambatan UNICEF
Adapun hambatan yang dihadapi UNICEF selama beroperasi di Indonesia pertama adalah kurangnya pendataan. Untuk mempermudah memperoleh data UNICEF bekerja sama dengan lembaga pemerintah seperti Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Banyak hal yang menjadi penyebab sulitnya memperoleh data, salah satunya yaitu pencatatan kelahiran anak yang sepenuhnya belum terdaftar. Kedua, anak yang terlahir dari keluarga miskin cenderung akan mengakibatkan permasalahan ekonomi[20]. Keadaan masyarakat yang tergolong menengah kebawah akan membawa dampak cukup serius terhadap kehidupan anak kedepannya. Lantaran anak dalam situasi serba kekurangan mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap penelantaran, kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi. Ketiga kurangnya kesadaran masyarakat, walaupun pemerintah Indonesia telah menerbitkan undang-undang tentang perlindungan anak, akan tetapi masyarakat Indonesia tetap saja kurang menyadari pentingnya menegakkan perlindungan anak. Lagi-lagi ini terjadi pada masyarakat golongan menengah kebawah, mereka tidak menyadari akan pentingnya melindungi hak-hak anak atau bisa saja terjadi dalam masyarakat yang tinggal di pedesaan[21]. Ketidakpahaman akan undang-undang perlindungan anak menyebabkan mereka tidak bisa mengimplementasi undang-undang itu sendiri sehingga banyak orang tua dan orang dewasa yang menganggap anak itu semata-mata hak milik mereka dan
anak-NonG2G
1. UNICEF Melakukan Kerjasama dengan End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT)
2. UNICEF Melakukan Sosialisasi dan Kampanye 3. UNICEF bekerjasama dengan Bluebird Corperation 4. UNICEF Menghadiri Forum Diskusi
5. UNICEF Melakukan Pengangkatan Duta UNICEF
G2G
1. Melakukan Kesepakatan Aksi Program Negara bersama dengan Pemerintah Indonesia 2. Melakukan Ratifikasi Konvensi Hak Anak
3. Meratifikasi Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi
4. Melakukan Kerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional 5. Melakukan Kerjasama dengan Pemerintah Sulawesi Selatan 6. Melakukan Kerjasama dengan Pemerintah Aceh
7. Melakukan Kerjasama dengan Kementerian Sosial
8. Melakukan Kerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
9. Melakukan Kerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA)
anak tidak mempunyai hak apapun. Keempat adalah modus operandi yang semakin bervariasi, sesuai dengan pasal 21 tahun 2007 tindakan modus operandi tentang kejahatan terpidana diatur dalam pasal 5 dan 6 yaitu apabila pelaku melancarkan aksi pengangkutan anak, mengirimkan anak ke dalam atau keluar negeri dengan memberikan sesuatu agar anak tersebut mudah untuk dieksploitasi[22]. Miris nya jika anak-anak tersebut memperdagangkan diri sendiri demi tujuan meningkatkan status sosial mereka di lingkungan pergaulan nya, tentu saja kegiatan haram itu akan mempersulit pemerintah Indonesia dan UNICEF.
Keuntungan Kerjasama Jangka Panjang Indonesia dan UNICEF
Keuntungan jangka panjang yang akan didapatkan Indonesia jika masih tetap bekerjasama dengan UNICEF seperti adanya pendanaan dan fasilitas pendidikan, sanitasi lingkungan dan perbaikan gizi yang dapat membantu mencegah serta menangani kekerasan pada anak di Indonesia[23]. UNICEF turut terlibat dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk memperbaiki sistem pencatatan kelahiran dan lain-lain.
Kerugian Indonesia dalam kerjasama dengan UNICEF
Kerjasama Indonesia dengan UNICEF tidak memberikan dampak negatif terhadap Indonesia karena dengan adanya organisasi internasional UNICEF telah diakui khususnya oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia bahwa organisasi internasional tersebut mampu dalam menyelesaikan berbagai masalah eksploitasi anak.
Keuntungan UNICEF dalam kerjasama dengan Indonesia
Keuntungan nya yaitu UNICEF mendapatkan pengakuan dari seluruh dunia, terkhusus bagi Indonesia bahwa organisasi internasional tersebut telah berhasil memperkenalkan bahwa seluruh anak-anak mempunyai peran yang sangat penting untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia[24]. Tidak hanya di Indonesia saja, UNICEF juga mendapatkan pengakuan dari masing-masing negara anggota bahwa organisasi internasional dibawah naungan PBB tersebut diharapkan dan dinilai sangat penting keberadaan di setiap negara karena UNICEF dapat mengatasi berbagai permasalahan anak.
Kerugian UNICEF dalam kerjasama dengan Indonesia
Kecenderungan dari adanya interaksi kerjasama ini bukan saja memberikan efek positif tetapi memberikan efek negatif juga bagi UNICEF. Dampak negatif tersebut berupa adanya ketergantungan UNICEF terhadap negara pendonor dana, perusahaan swasta, lembaga donor, dan sumbangan perseorangan. Selain itu, program kerja UNICEF harus disesuaikan dengan kebijakan serta peraturan-peraturan seperti etika dan norma yang berlaku khususnya dalam hal ini di Indonesia[25]. Jika UNICEF ingin membangun kerjasama dengan pihak kementerian Indonesia ataupun NGO untuk menangani aktivitas tertentu maka tetap mengacu pada Standard Operational Prosedure yang telah ditentukan.
Peran Antipatif Melalui Program Kerja UNICEF di Indonesia
Melindungi anak secara efektif dari segala bentuk kekerasan, penelantaran dan eksploitasi harus adanya bagian-bagian yang saling terkait baik itu kesejahteraan sosial anak dan keluarga maupun perilaku tepat yang dilakukan oleh masyarakat[26]. Kerangka hukum juga diperlukan untuk membantu sistem informasi dan data tentang perlindungan terhadap anak.
Gambar 3. Program Kerja UNICEF di Indonesia
Gambar 4. Aksi Pencegahan Yang Dilakukan UNICEF di Indonesia
Kampanye Tinju Tinja juga dilakukan pada tahun 2014, dengan diperankan oleh duta Tinju Tinja yaitu Melanie Subono adalah salah satu aksi pencegahan yang juga termasuk kedalam program kerja UNICEF dalam mengatasi masalah sanitasi lingkungan[27]. Pada 25 maret 2018, David Beckham adalah seorang mantan pemain bola berkebangsaan Inggris, ia merupakan seorang duta UNICEF berkesempatan untuk mengunjungi Indonesia dalam rangka mendukung gerakan #Endviolence[28]. Kemudian, Nicholas Saputra sebagai duta UNICEF Indonesia memiliki misi yaitu meningkatkan mutu layanan air dan sanitasi serta masih banyak kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan Nicholas untuk mengedukasi setiap anak di Indonesia[29]. Selain itu ada platform yang bernama U-Report Indonesia yang dipakai sebagai wadah untuk pelaporan informasi. U-Report ini dibentuk sejak tahun 2014 dengan menggunakan sosial media seperti Twitter, Facebook, Instagram agar anak Indonesia dapat menyampaikan aspirasi dalam membantu membuat tindakan pencegahan terhadap kekerasan dan eksploitasi anak di Indonesia[30]. Tahun 2018 juga dapat menjadi bukti pencegahan eksploitasi terhadap anak yang dilakukan UNICEF yaitu pada masa terjadinya tsunami di Sulawesi Tengah[31]. Organisasi Internasional ini dengan segera menangani rehabilitasi bagi anak korban bencana alam agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian yang telah dilakukan hingga bab ini, penulis menarik kesimpulan yaitu meningkatnya kasus eksploitasi pada anak disebabkan oleh beberapa faktor yaitu minim nya ekonomi, rendah nya pendidikan, lingkungan, lemahnya penegakan dan perlindungan hukum serta kecanggihan gadget. Disini UNICEF sebagai organisasi internasional yang melindungi hak-hak anak membantu Indonesia agar dapat mengubah kehidupan anak di Indonesia. Adapun upaya-upaya UNICEF dalam mengatasi kasus eksploitasi pada anak di Indonesia yaitu dengan melakukan Kesepakatan Rencana Aksi Program Negara, membantu Indonesia mengadopsi Konvensi Hak Anak, melakukan sosialisasi dan kampanye, menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam menyelesaikan setiap masalah anak di daerah yang bersangkutan dan bekerjasama dengan perusahaan serta NGO seperti ECPAT dan Perusahaan Bluebird.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori Interdependensi dan teori Feminisme Sosialis. June Hannam di dalam buku nya, dikatakan feminisme adalah pengakuan terhadap ketidakseimbangan ketangguhan antar pria dan wanita[32]. Dengan menggunakan pendekatan Feminis Sosialis kita dapat memahami bahwa ketidakadilan terhadap kaum perempuan karena adanya sistem kapitalisme ini karena akar penindasan perempuan itu pada faktor ekonomi dan patriarki yang membatasi gerak perempuan.
1. Kesehatan dan Gizi 2. Pendidikan Dasar 3. Perlindungan Anak 4. Program HIV/AIDS
5. Kebersihan Air dan Lingkungan
Aksi Pencegahan Yang Dilakukan
UNICEF di Indonesia
1.
Megadakan Kampanye Tinju Tinja2.
Mengadakan Kampanye #Endviolence3.
Membuat Platform U-Report4.
Memberikan Pertolongan Terhadap Anak Yang Menjadi Korban Bencana AlamProgram Kerja UNICEF di
Kekerasan serta eksploitasi terhadap anak tidak menunjukkan adanya indikasi penurunan yang diharapkan. Adapun jaringan pekerja sosial dan paraprofesional di masing-masing provinsi sudah melaksanakan layanan tersier misalnya melalui dukungan psikososial dan pelayanan medis dengan baik terhadap anak yang menjadi korban eksploitasi namun belum memadai terkait kegiatan pencegahan. Ketentuan hukum di Indonesia untuk melindungi anak pun sudah ada sejak lama tapi tetap saja masih ditemukan kekurangan. Kelemahan dari isi pasal maupun dari penerapan undang-undang membuat kesempatan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, misal pebisnis perdagangan manusia yang di dalamnya terdapat anak perempuan dibawah umur dengan tujuan menghasilkan omset miliyaran rupiah.
Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan ini, sudah saatnya UNICEF membuat langkah-langkah pencegahan konkrit dan tidak hanya terpaku untuk menyediakan layanan rehabilitasi untuk anak-anak korban ESKA. UNICEF harus mampu mendorong pemerintah Indonesia untuk memperkuat kerangka hukum dan peraturan di tiap provinsi yang harus sejalan dengan hukum nasional dan dengan memberikan sanksi lebih berat lagi agar oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab merasakan efek jera. Selain itu pemerintah harus mendukung peningkatan kapasitas paraprofesional dan jaringan pekerja sosial di tiap provinsi dan kabupaten agar mereka mempunyai keterampilan untuk melibatkan masyarakat dan keluarga akan pentingnya hak anak. UNICEF juga harus mampu mengubah pola pikir dan perilaku orang tua dalam mengasuh anak nya untuk tidak membiasakan cara kekerasan yang dianggap sudah menjadi tradisi yang merupakan salah satu hambatan sebab praktek kekerasan dapat memperburuk kerentanan anak-anak terhadap ESKA. Terakhir yaitu salah satu program kerja UNICEF dalam bidang pendidikan harus bisa lebih menjangkau anak-anak termiskin yang tidak bersekolah karena sampai saat ini masih banyak anak-anak daerah terpencil dengan tingkat ekonomi yang sangat minim tidak memiliki akses pendidikan.
5. SARAN
Penelitian ini dibuat agar kita mengerti tentang upaya apa saja yang telah dilakukan UNICEF untuk mengatasi permasalahan eksploitasi terhadap anak Indonesia. Dalam tulisan ini masih banyak sekali kekurangan seperti belum banyak ditemukan mengenai angka pasti korban ESKA pada anak dan cara pencegahan nya. Maka dari itu penulis berharap pada penulis selanjutnya yang ingin meneruskan penelitian ini agar menambahkan data-data anak korban ESKA serta cara pencegahan nya demi kesempurnaan penulisan ini.
UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada Universitas Potensi Utama yang sudah membagikan dukungan dan semangat terhadap penulisan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Listyani, A., Taftazani, B. M., & Resnawaty, R. (2015). PERLINDUNGAN ANAK DARI BAHAYA KEKERASAN. Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(1). [2] Pertahanan, K. (2015). Buku putih pertahanan Indonesia. Jakarta: Kementerian Pertahanan
Republik Indonesia.
[3] Syafarini, D. A. N. (2020). IMPLEMENTASI PROGRAM KAMPANYE HE FOR SHE DARI UN WOMEN DALAM UPAYA MENGURANGI KEKERASAN SEKSUAL DI INDONESIA (2016-2019) (Doctoral dissertation, FISIP UNPAS).
[4] RIFANSYAH, V., Ak, S., & Idris, A. (2019). ANALISIS KERJASAMA INTERNASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN UNICEF DALAM PROGRAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH TAHUN 2011-2015 (Doctoral dissertation, Sriwijaya University).
[5] Arifin, Z. (2020). Metodologi penelitian pendidikan. Jurnal Al-Hikmah, 1(1). [6] Mustofa, S. (2019). Hukum Pencegahan Pernikahan Dini. GUEPEDIA
[7] NUR, M. J. (2018). PERANAN INTERNATIONAL COOPERATION AND DEVELOPMENT FUND TAIWAN DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA.
[8] Kanal Pengetahuan. (2019). Inilah Cara Berhenti Donasi UNICEF Indonesia 2019. Diakses 7 agustus 2020, dari https://www.kanal.web.id/cara-berhenti-donasi-unicef
[9] JULIANI, A. (2017). PERAN UNICEF DALAM MENANGANIMASALAH PERNIKAHAN DINI DI INDONESIA THE ROLE OF UNICEF IN ADDRESSING THE MATTER OF EARLY MARRIAGE IN INDONESIA (Doctoral dissertation, PERPUSTAKAAN).
[10] UNICEF. (2017). ANNUAL REPORTS. Diakses 16 agustus 2020, dari https://www.unicef.org/publications/index_102899.html
[11] Nawasis. (2015). Laporan Kegiatan Refresh Fasilitator Program Wash Unicef. Diakses 11 agustus 2020, dari nawasis.org/portal/digilib/read/43-laporan-kegiatan-refresh-fasilitator-program-wash-unicef/50697
[12] Fakih, M. (1995). Menggeser konsepsi gender dan transformasi social. Pustaka Pelajar. [13] Saputri, R. A., & Tumangger, J. (2019). Hulu-Hilir Penanggulangan Stunting di
Indonesia. Journal of Political Issues, 1(1), 1-9.
[14] Syah, A. H. (2019). Analisis Kebijakan AS Terhadap Arab Saudi Dengan Konsep Interdependensi Kompleks.
[15] Rikin, A. S. (2018). Unicef Bantu Anak Korban Bencana Sulteng. Diakses 11 agustus 2020, dari https://www-beritasatu-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.beritasatu.com/amp/yudo- dahono/nasional/518117/unicef-bantu-anak-korban-bencana-sulteng?amp_js_v=a6&_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16059751798 834&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s&shar e=https%3A%2F%2Fwww.beritasatu.com%2Fyudo-dahono%2Fnasional%2F518117%2Funicef-bantu-anak-korban-bencana-sulteng [16] Nasar, M. F. (2018). Capita Selekta Zakat. Gre Publishing.
[17] Muhaemin, B. (2016). Prinsip-prinsip Dasar Tentang Hak Perlindungan Anak: Jurnal Syariah dan Hukum, 14(1), 77-87.
[18] Perwira, A. A. B., & Yani, Y. M. (2006). Pengantar ilmu hubungan internasional. PT Remaja Rosdakarya.
[19] Prihanto, I. G. (2017). E-Government dan Penerapannya. Berita Dirgantara, 18(1).
[20] Mubarok, N. (2016). Kebijakan pemerintah dalam keterlambatan pengurusan Akta Kelahiran anak Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, 19(1), 42-65.
[21] Hasanah, U., & Raharjo, S. T. (2016). Penanganan kekerasan anak berbasis masyarakat. Share: Social Work Journal, 6(1).
[22] Wulandari, C., & Wicaksono, S. S. (2014). Tindak pidana human trafficking terhadap perempuan dan anak. Yustisia Jurnal Hukum, 3(3), 15-26.
[23] Wulandhari, A. (2019). PERANAN UNITED NATIONS CHILDREN’S FUND DALAM MEMULIHKAN DAN MEMPERBAIKI LAYANAN AIR BERSIH DAN SANITASI DI ACEH. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 9(1), 367-384.
[24] Winata, M. R. (2019). PERAN UNICEF DALAM MEMBANTU MENGATASI PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA (Doctoral dissertation, PERPUSTAKAAN). [25] Lestari, R., & Fachri, Y. Implementasi Konvensi Internasional Tentang Konvensi Hak Anak
di Indonesia (Studi Kasus: Pelanggaran terhadap Hak Anak di Provinsi Kepulauan Riau 2010-2015) (Doctoral dissertation, Riau University).
[26] Suyanto, B. (2010). Masalah sosial anak. Kencana.
[27] Rahmadani, R. D., & Ridlo, I. A. (2020). Kebiasaan Buruk Masyarakat dalam Pembuangan Tinja ke Sungai di Kelurahan Rangkah, Surabaya. Jurnal: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education, 8(1), 87-98.
[28] Lestari, N. D., & Susanto, A. (2019). KAMPANYE #AKHIRI KEKERASAN DALAM RANGKA KEMITRAAN GLOBAL UNICEF-INDONESIA UNTUK MENDORONG PENGAKHIRAN KEKERASAN TERHADAP ANAK. KINESIK, 6(1), 48-63.
[29] Subaryati, D. A. (2019). Kolaborasi antara Indonesia dan Australia dengan Unicef dan Ausaid: studi kasus program sekolah satu atap (satap) di Papua tahun 2011-2015 (Doctoral dissertation, Universitas Pelita Harapan).
[30] Nursalim, N., & Hidayat, F. A. (2019). MEMPERKUAT PERAN SEKTOR PENDIDIKAN UNTUK MEMBANGUN KETERAMPILAN HIDUP REMAJA DI KABUPATEN SORONG. Jurnal Abdimasa, 2(1), 15-21.
[31] Desi, Purnamawati. (2018). Kemensos-unicef percepat rehabilitasi anak korban gempa sulteng. Diakses 18 agustus 2020, dari https://sulteng-antaranews- com.cdn.ampproject.org/v/s/sulteng.antaranews.com/amp/berita/45002/kemensos-unicef-percepat-rehabilitasi-anak-korban-gempa sulteng?amp_js_v=a6&_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16045171853 553&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s&shar e=https%3A%2F%2Fsulteng.antaranews.com%2Fberita%2F45002%2Fkemensos-unicef-percepat-rehabilitasi-anak-korban-gempa-sulteng