Manusia dan Lingkungan, Vbl. XI, No.
I,
Maret 2004, hal. 12-24Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada Yogtakarta, Indonesia
STRATEGI PENGBMBANGAN PERTANIAN DAN
KONSBRVASI
LAHAN
DI
KAWASAN
SEGARA
ANAKAN,
JAWA
TENGAH
(Agriculture
ond
Land
Conservation
Development
Strategt in
Segora
Anokan
Region, Central
Java,
Indonesia)
Suratman*
dan Miseri
Roeslan
Afany**
*
Balai
Penelitian Tanah, Puslitbang Tanah dan
Agroklimat,
Bogor.
Jl.
Ir. H.
Juanda 98,
Telp
0251-3230123, Fax.025
l-3
I I256,
:
csar@bogor. wasantara.net.
id
**
Jurusan
Ilmu
Tanah Fakultas Pertanian,
UPN "Veteran"
Yogyakarta,
Jln.
Lingkar
Utara, Yogyakarta
"telp.
486737
:
[email protected]
Abstrak
Segara Anakan merupakan suatu kesatuan kawasan laguna yang mempunyai keunikan, tidak sebagaimana
umumnya lahan pantai pasang surut di Indonesia. Beberapa keadaan dan proses yang khas terjadi di kawasan
ini, antara lain adanya pasang surut yang bergantian secara musiman antara air asin dan tawar, sedimentasi sungai sangat cepat sehingga terbentuk Atanah timbul@, penyempitan kawasan perairan, pembentukan dan perubahan
alur sungai, serta penciutan hutan mangrove. Keadaan ini menyebabkan perubahan yang drastis terhadap mata
pencaharian penduduk yang tadinya nelayan menjadi petambak dan petani. Untuk itu diperlukan masukan
strategi pengembangan pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan yang khas tersebut. Sesuai dengan
karakteristik lahanny4 daerah ini dapat dikelompokkan menjadi zona pengembangan tambak, pengembangan
lahan basah, lahan kering, tanaman tahunan, dan areal konservasi. Dari segi konservasi diperlukan tindakan
pengendalian sedimen dan mempertahankan keberadaan areal sempadan pantai dan hutan mangrove.
Kata
kunci:
karakteristik lahan, pengelolaan lahan. konservasi lahan, pengembangan pertanian, Segara Anakan.Abstracl
Segara Anaknn is a lagoon which has unique characteristics dffirent from other swamp lands in Indonesia. Its characterislics include seasonalfuctuation of fresh water river and sea wate,i rapid river sedimenlation, narrowing water area, forming and changing river channels, and decreasing forest area. These phenomena have drasticallv changed people occupation. They, who were previously .fishernten, have changed
to
be farmers. These conditions require an agriculture development strategy suitablefor
that area. Based on itscharacteristics, the area can be categorized inlo development zones for fshpond, wetland, dn- land, anrutal crop, and conservalion. This area requires actions to conlrol the sedimentation process .[or mainlaining its
coaslal belt and mangrove forest.
Key words: land characteristic, land management, agricultu'e development, Segara Anokan.
I. PENDAIIULUAN
Segara anakan
merupakan
suatu
kawasan denganekosistem laguna. Laguna adalah
suatu perairan laut yang terlindung oleh daratan, dalamhal
ini
Pulau Nusakambangan. sehingga perairan tersebutmasih
memiliki
sifat-sifat perairan
lautseperti
keadaan
garam tinggi, namun
kondisi
fisiknya
tenang. Kawasan yang posisinyamenge-lilingi
perairan
Segara
Anakan adalah
DesaUjunggagak, Ujungalang, dan Panikel
termasukKecamatan Kawunganten
yang
saat
ini
dikenal denganwilayah "Kampung laut"
dan DesaCiku-jang yang termasuk Kecamatan Patimuan.
Kondisi yang
sangat
spesifik
dari
wilayahini
adalah adanya perubahanalam yang
berupapendangkalan
dan
penyempitan
laguna
yangberlangsung
cepat. Pada
tahun
1903
seluas6.450 ha. I-uas tanah
timbul
atau dataran lumpur bertambah dengan cepatdari 481 ha
pada tahun 1878menjadi
2.629 ha padatahun
1991. Selama kurunwaktu
l3
tahundari
1978-1991 luas perrnu-kaan Segara anakan berkurang sekitar 600/o dari4.820
ha
menjadi
1.919
ha. Data tahun
1903 menunjukkan bahwa luas saat itu 6.450 ha,jadi
90 tahun yang lalu luas wilayah perairannya 3,34kali
luas saat
ini. ('t'inr
Peneliti Segara Anakan, 2000).Faktor yang
dominan
berpengaruh terhadap proses sedimentasi yang terjadidi
kawasan Sega-raAnakan
ini
adalah akibatdari
adanyaerosi
dibagian
hulu
daerahaliran
sungaidari
beberapasungai besar
yang
mengumpuldi
kawasan
ini.Daerah
aliran
sungai
(DAS)
Citanduy
yang luasnya446.000
ha,
dengan panjangaliran
170krn.
rnerupakan sungai terbesaryang masuk
ke karvasanini
dengan memasok air tawar 3.500juta
m3 per tahun (69%) yang membawa bahan sedimen yang diendapkandi
kawasanini.
Sungai lain yang memberikankontribusi lebih kecil
adalah Sungai Cibeureurn, Cihaur-Cikonde(Tim
Peneliti Segara Anakan,2000)Perubahan-perubahan yang terjadi
di
kawasanini
menyebabkan terganggunya sumber alamanta-ra lain kondisi
tanah.
Dampakdari
keadaan itu yang menonjol adalah terjadinya perubahan aspek sosial ekonomi dan lebih luas ke aspek kehidupan sebagianbesar
masyarakat,dari
pola
nelayan. petambak. meniadi petani. Tulisanini
menyajikan teknologi pengelolaan lahan untuk usaha pertanianserta usaha
konservasi
yang dapat
dilakukanuntuk
mempertahankan kawasan Segara Anakantetap
terpelihara
baik
kawasan perairan,
hutan konservasi, maupun lahan budidaya yang ada.II.
BAHAN DAN METODE
a. Bahan
Data yang dipergunakan untuk mendasari
penu-lisan
makalahini
adalahhasil
pengkajian survey sumberdayalahan
yang dilakukan
di
kawasan segara anakan pada September 1999 serta data-datasekunder
berupacitra foto
udara berwarna skalal:50.000
tahun 1998, Peta RupaBumi
skalal:25.000
Bakosurtanaltahun
1999, Peta Geologiskala
l:250.000
Direkrorat Geologi
Bandung,Peta
RePPProT, PetaTopografi
skala
l:50.000,PetaAdministrasi Pemda
Dati
IlCilacap,
dan data-data pendukung lainnya.b.
MetodeDalam rangka penentuan strategi pengembangan pertanian
dan
konservasi lahandilakukan
kajian terhadap potensiwilayah/karakteristik
lahandae-rah telitian
seluas
17.000ha yang meliputi
(a)fisik
lahan: topografi,relief,
lereng,(b)
tanah, (c) sumberdaya air, dan(d)
vegetasi dan penggunaan lahan.Pengamatan
fisik
lahan berupa topografi,relief
dan
kelerengan
berfungsi
untuk
mendapatkangambaran
tentang
fisik
lahan dalanr rangkaseba-gai
penentu rencana konservasidan
rencana pe-ngembanganPertanian.
Pengamatantanah
dan sumberdaya air meliputijenis
tanah, sifatfisik
dankimia
serta penggunaan lahan.Kondisi iklim,
DASdan
sifat fisik kimiawi air
merupakan informasi yang sangat berhargadalam
menentukan potensi tanahdan
hidrologi
dalam
rangka
perencanaankonservasi lahan
dan
pengembangan pertaniandilokasi penelitian.
Pengamatan lapangan terhadap
potensi
wila-yah didukung data
sekunder berupa
peta potensiwilayah
topografi, foto udara, rupa bumi, geologi,iklim, tanah
dipakai
sebagai dasardalam
me-nentukanstrategi
pengembangan pertanian dan rencana konservasi lahan.Dari
data-datatentang
kesesuaianlahan
dan potensi lahannyaakan
dapat dirumuskan strategipengelolaan lahannya
sementaradari
data-datatingkat kekritisan lahannya dapat dirumuskan tin-dakan konservasi lahannya.
Suratman dan Miseri Roeslan Afany
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.
Kondisi
Umum Wilayah
Wilayah
SegaraAnakan
secara umum berupatubuh
air
yang bersifat
payau, sisanya
berupalahan basah
atau
daratan
yang
terkena
pasangsurut.
Sebetulnya
batas
dari
kawasan
Segara Anakanini
tidakjelas
karena dari tahun ke tahunwilayah
perairannyamenyempit
sedang wilayah daratannyabertambah.
Namun
demikian
untukpenunjukan kawasan
ini
dapat
berpedomandari
batas administrasi
dari
desa
yang
beradadi
sekitar perairan
segara anakan,yang
disebut dengan kawasanAkampung
laut@. Terdapat tiga Desayang
berada
di
kawasanini
yakni
UjungAlang,
Panikel, danUjung
Gagak yang termasukKecamatan Kawung Anten.
Di
luar
kawasan
kampung
laut
ini
secara historis sebetulnya merupakan bagiandari
SegaraAnakan yang telah
mengalamisedimentasi
lan-jut
dan
menjadi daratan.
Pada
awalnya
luaswilayahnya nreliputi
beberapa desadi
luar
Kam-pung Laut,
termasuk
beberapayang
termasuk dalamwilayah
Kecamatan Sidorejo, Kedungrejo, Gandrungmangu, dan Patimuan.b.
Kondisi
Lahan
Bentuk
lahanterdiri
atas dataranaluvial,
da-taran
pasangsurut,
dataran lumpur, dan
pulau-pulau
kecil yang
disebut tanah
timbul,
serta dibagian pinggiran
sisi
selatan
yang
membatasiwilayah
ini
dengan laut berupa daerah perbukitan yang merupakan pulau Nusakambangan.(l).
Pesisir
lumpur
dan
laguna,
merupakanareal
pengendapan
lumpur
yang
paling mudadi
sekeliling
laguna, terbentuk akibat sedimentasi sungai dan doronganbalik
oleh pasangsurut
air laut, bersifat payau.(2).
Dataran
pasangsurut
lumpur,
adalah peng-endapanlumpur yang
membentuk
dataran baru, kadang-kadang sebagian atau seluruhnya masih terkena pasang surut air laut.(3).
Dataran
fluvio-marin,
terbentuk dari prosesfluvial
(pengendapan oleh sungai) dan marin,dua
proses
dari
aktivitas
sungai
dan
laut berlangsung sekaligus, terbagi menjadi:a.
Rawa belakang pasang
surut,
dataranfluvio-marin
yang terletak
di
belakangbeting atau
belakang pengendapanpa-sang surut lumpur,
terjadinya
pasangsurut lebih
dipengaruhi oleh
dorongan fluktuasi air pasang.b.
Transisi
dengan daerahaluvial,
dataranfluvio-marin
yang terletak pada transisi dengan daerah yang sudah tidak terkena pengaruh marin atau pasang surut.(4).
Tanggul
sepanjangalur-alur
pasangsurut,
adalah areal
yang
terletak
di
sepanjangalur
atau sungai
kecil yang
terbentuk
aki-bat
pengendapanbahan
endapan
sungai, membentukposisi lebih
tinggi dari
areal di belakangnya.(5).
Perbukitan, terbentuk
akibat proses angkat-an, lipatan, atau patahan, lereng > 25oh.(6).
Endapan lumpuradalahpengendapan lumpuryang berada
di
areal laguna, kadang muncul hanya apabila air surut, lama kelamaan peng-endapan makin banyak sehingga membentuk daratanbaru.
Biasanyadi
lahan
ini
sudahditandai oleh
munculnya
calon
tumbuhan mangrove.c.
Keadaan TanahTanah
merupakansalah
satu faktor
pentingyang
harus
dipertimbangkandalam
pengelolaan lahan untuk tujuan pertanian dan konservasi lahan. Sebagian besar tanah yang terbentukdi
kawasan laguna merupakan tanah basah,terbentuk
dalamkondisi basah (aquic condition), berasal
darialuvium
sungai
atau laut dan
didominasi
oleh pengendapan bahan sedimen sungai. Pengendapanyang
berulang-ulang menyebabkan
statifikasi,sehingga
sifat
pelapisan beragam
di
beberapabagian lahan. Bahan
sedimen
yang
di
bawa sungaimelewati
beberapaformasi geologi
yang menyebabkan pengk ayaan basa-basa dan terbentuk tanah dengan kesuburan relatiftinggi.
Fluktuasi air laut yang drastis menyebabkan pola yangberubah-ubah
sangat nyata setiap saat,namun
pencucianbahan beracun
cenderungintensif.
Dari
prosestersebut terbentuk tanah seperti pada Tabel
l.
l.
Sifat
morfologi
tanahBerdasarkan
tingkat
perkembangannyaseba-gian
besartanah
di
kawasanini
termasuk
baru berkembang, kecuali pada lahan yang bertopografitinggi
(berombak sampai
berbukit)
di
daratan Pulau Nusakambangan.Tingkat
kematanganbe-lum
matang
(unripe)
sampai
setengah matang(halfripe), bersifat melumpur.
Sebagian
besar(lebih
dari 75o/o) tanah dalamkondisi
basah yangdicirikan sifat morfologi
dengan
warna
kelabu kehijauan gelap. Proses reduksi oksidasi (redoks)jrga
terjadi
di
beberapabagian
wilayah
yangdicirikan
adanya motles/ karatan.2.
Sifat
Fisik
TanahKadar air tanah sangat bervariasi dari terendah 55,2o/o
di
dusunBugel
sampai tertinggi
sebesar 75,3 Vodi
dusunTirangsabuk.
Beratjenis
tanah bervariasidari
yang terendah 0,55grlcc
di
dusun Muaradua sampai yang tertinggi sebesarI,05 grlcc
di
dusun Bugel. Kadarair
kapasitas lapang (pF2)terendah
50,40
di
dusun Bugel,
yang
tertinggisebesar 64,00/o
di
dusun Cibeureum,
sedangkan kadar air padatitik
layu (pF 4,2) terendah 20,5oA di dusun Karanganyar sampai yangtertinggi
sebesar 333o/odi
dusun Cibeureum.Permeabilitas
tanah bervariasi
dari
kategori rendahyaitu
0,16 mm/jamdi
dusunBugel
sampaitermasuk
sedangyaitu
sebesar2,77
cm/jam
didusun
Karanganyar.
Indeks stabilitas
agregat bervariasidari
yang terendah dengannilai
53
di dusun Bugel sampai yang tertinggi dengan nilai 207di
dusun Cimerutu. Permeabilitas menunjukkan/
berkaitan erat dengan sifat tekstur dan strukturnya,
hal
ini
berkaitan denganperkolasi
air
tanahnya/ ketersediaan airtanah.
Umumnyanilainya
sangatlambat (<0,124 cm/jam)
sampai
sedang(2,03-6,35cmljam)di
lapaisaan atas, sedangkan di lapisanbawah agak lambat (<-,125-0,5) sampai
lambat(0,125-0,500). Ruang
pori
yang terendah 60,4 Vodi
dusun Bugel sampai yangtertinggi
sebesar 76,6di
dusun Muaradua dan Karanganyar.Indeks
plastisitas tanah menunjukkan mudahtidaknya tanah diolah, makin
tinggi
nilaianya maka tanah makin sukar diolah. Tkrnahdi
kawasanini
menunjukkan plastis(<20-30)
sampai sangatplastis (indeks >30). Kecuali
pada tanah
yang tergolong aluvial agak plastis (10-20).Nilai
COLE
(coefisienof
liniaer
extensibility)menunjukkan daya kembang
kerut
tanah
yangmenyebabkan terj adinya retak-retak apabi I a keri n g.
Thnah
di
kawasnini
umumnyatergolong
sangattinggi.
Nilai
COLE
ini
dipengaruhi olehjenis
dan kandunganmineral liat,
tekstur, dan muatan yang teradsorbsi pada permukaan liat.Nilai
stabilitas
(kemantapan)agregat
tanah menggambarkan kemantapan tanah dalammene-rima
gaya perusak tanah akibatmesin
peftanian,irigasi,
curah hujan
yang
berpengaruh terhadap kekompakan kepadatan tanah, pori aerasi, drainaseyang dapat
mempengaruhi perkembangan akar tanaman dan degradasi lahan. Kemantapan agregatini
biasanya
disebabkanoleh
bahan
sementasipartikel
halus yangterdiri
bahanorganik, koloid
liat,
dan kation Fe dan
Al
(Baveq
196l
dan Wischmeier,et al,
l97l).
Kawasanini
termasuk sangat stabil (indeks >80) sampai agak stabil(50-66)
pada lapisan atas. Sedangkan lapisan bawah stabil (66-<80) sampai sangat stabil (>80). 3.Sifat
Kimia
TanahKemasaman
tanah
sedang
sampai
tinggiberkisar antara 5,7
-
8,1di
lapisan atas dan antara 5,9-8,1di
lapisan bawah.Di
daerah yangintensif
terkena pasang surut
air
lautrelatif
mempunyai pH yang cenderung lebihtinggi
dibandingkan dengan daerahyangjauh
dari perairan segara anakan.Sebagai sumber
N
tanah, Nitrogen merupakan salah satu unsurhara makro yang bersifat
labil. Umumnya mengandung C-organik sedang sampai tinggi, pada lapisan bawah umumnya lebih rendah.Kandungan
C
organik
ini
cenderungtinggi
dibagian
wilayah
hutan mangrove atau bekas hutan mangrove.Kapasitas
Tukar Kation
(KTK)
merupakankemampuan
tanah
untuk
mengikat atau
meng-adsorbsi
kation pada
permukaan
kisi
koloid-koloid
tanah,
baik
lapisan
atasmaupun
lapisanbawah termasuk
tinggi.
Kejenuhan Basa
(KB)
merupakan
nilai
refleksidarijumlah
basa di dalam tanah (komplek pertukaran kationkoloid),
hampir semuanya mempunyai kejen uhan basa sangat tinggi baik pada lapisan atas maupun lapisan bawah.Kandungan
P total
seluruh
tanah
di
bagian lahan rendah(low
land) pada lapisan atas termasuktinggi,
sedangkanpada
lapisan bawah beberapa tanah mempunyai kandunganyang lebih
rendah. Besarnya kandungan unsur P ini antara lain berasaldari
sumber bahanyang
mengadung unsur fosfattinggi.
Susunan
Kation/
basa
(Ca,
Mg,K
dan
Na) menunjukkan bahwaNa
dalam tanah pada tanahkering
cenderunglebih
rendah danwilayah
yangterkena pengaruh
air
laut
cenderung lebih tinggi. SedangkanCa
cenderunglebih tinggi
di
bagian dataranberelief
tinggi
seperti halnvadi
wilayah Pulau Nusakambangan, halini
disebabkan sumber unsur Ca berasal dari bahan pembentuk tanah yang berasal dari batu kapuratau berkapur. Berdasarkan status kesuburannya secara umum termasuk tinggi. Halini
disebabkan antara lain dari bahan sedimen yang termasuk basayang
di
angkutdari
DaerahAliran
Sungai
(DAS) hulu dan
di
endapan di wilayah ini.Segara
anakan mempunyai
permasalahan dengan salinitas, dimusim penghujan mendekati nol sehingga usaha tambak bisa terganggu, sedangkan musim kemarau salinitastinggi
sehingga tanaman pertanian yang terganggu.Suratman dan Miseri Roeslan Afany
d.
PenggunaanLahan dan
VegetasiKondisi
vegetasi sangat berperan dalamkon-servasi lahan.
Kondisi
ini
sangat
dipengaruhi beberapafaktor
antaralain
pola sosial
ekonomimasyarakat
dalam mengelola lahan,
motivasipetani
dalam
konservasi
lahan, serta
faktoralamiahnya.
Penggunaanlahan
di
kawasan ini
selengkapnya
disajikan
pada Tabel
2.
Vegetasi yang tumbuhdi
bagian tanahtimbul
saatini
khas yaitu hutan mangrove. Fenomen a y ang terjadi saatini
bahwa lahan tanahtimbul
bertambah, namunhutan mangrove
dari
tahun
ke
tahun
luasannyaberkurang yaitu
dari
17.100 ha padal917
menjadi8,389
ha
pada
tahun
1991.
Kondisi
kelestarian hutan mangrove pada saatini bervariasi.
Hutan mangrove muda tidak terganggu terdapatdi
pulau-pulau kecil, tanahtimbul
bagian barat, pulau-pulau bagiantimur,
serta pantaitimur
dan barat perairan SegaraAnakan. Bagian utara
sampai pedalaman pantai timur telah terganggu dengan tingkat sedangsampai berat.
Vegetasihutan bakau
merupakanindikasi
adanya pengaruhmarin
yang berkorelasi dengankondisi hidrologi dan
tanahnya.
Lahaninilah yang
mengindikasikan jangkauan aktivitas marin atau sebaran bahan marin.Hutan mangrove yang ada di kawasan ini disam-ping berfungsi sebagai konservasi juga mendukung hasil perikanan karena secara fisik berfungsi sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen.
Secara
biologis
berfungsi
sebagai penghasil sejumlah besar detritus (sisa dedaunan mangrove yangjatuh
ke air dan hancur) serta sebagai daerah asuhan (nursery ground) daerah mencari makanan (feedinggrounfi,
dan daerah pemijahan (spowning ground) berbagaijenis
ikan, udang, dan biota laut lainnya(Aini,
1999).Di
kawasan
ini
menurut
survei
pada
tahun1983
tercatat
26 jenis
tumbuhan mangrove de-ngantiga
jenis
vegetasi dominanyakni
Api-api
(Avicenia
oficinalis
danA.
alba),
Bakau(Rhizo-phora apiculata
dan R. mucronata), dan Tancang(Bruguiera
glmnorrhiza).
Padatahun
l9l7
totalluas hutan seluruhnya yang ada
di
sekitar segara anakanlk.
23.000 ha, yang termasuk hutanmang-rove
lk.
17.100 ha. Sedangkan dataterakhir
1992menunjukkan bahwa kawasan
hutan
mangrovediperkirakan masih seluas 12.227 ha. Perambahan
hutan
mangrove
yang beralih fungsi
menjadi lahan budidaya telah merambahdi
kawasan batashak hukum
Perum Perhutani terutamadi
daerahlindung bagian timur. Menurut surveiterbaru tahun
1999 hanya tersisa 200 ha lagi yang bisa dijadikan sebagai zona lindung yaitu
di
bagian barat Sungai Sapuregel. (Gema SA,
1999). Berdasarkan liputan lahan selama25
tahunterakhir terjadi
perubahan luasan yang mencolok (Tabel 3).e.
lklim
Kondisi
iklim
di
kawasan Segara Anakan dan sekitarnya termasuk amat basah, bulan basah (curahhujan rata-rata >200 mm/bulan) terjadi lebih dari 9 bulan tanpa bulan kering (CH < I 00mm).
Klasifikasi
Oldeman termasuk zona
A.
Curah hujan terendah pada bulan Mei setelah itu naik dan turunlagipada
bulan
Juli,
sedangkantertinggi terjadi
pada bulanNopember (Tabel
4).
Kondisi
seperti
ini
tidakbanyak
dijumpai
di
Pulau Jawa, hanya sekitar 5%o saja. lntensifnya curah hujan mendukung besarnyaerosi
yang ikut andil
dalam
proses sedimentasidi
kawasanini.
Pengikisan lahandari DAS
hulu menjadi besar, apalagi faktor kondisi lahan lainnya mendukung sehingga bahaya erosi menjadi besar. Curah hujan bulanan berkisar antaral0
mm
padabulan
Agustus-September sampailebih
dari
800mm
padabulan Oktober tanpa musim
kemarauyang
nyata. Stasiun Cilacap mempunyai
curahhujan
rata-rata
3.450 mm, maksimum 504
mmpada bulan Oktober dan
minimum
105mm
pada bulan September.f.
Hidrologi
DAS
Citanduy
yang
terletak
di
wilayahadministrasi
Jawa Barat
dan
Jawa
Tengah merupakan DAS terluas yang mengalirdi
wilayahini,
mencakup446.000 ha. Sungai
ini
mengalir sepanjang 1k.70km. Dari
segi
hidrologi
sungaiini
mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikankontribusi
pasokanair
tawar, karena dari 5.100juta
m3 air yang masuk Segara Anakan per tahun, sungai Citanduy memberikan kontribusi lk 3.500juta
m3 (690/o). Sedangkan sungai lainnya 1.500 m3 (29%) dan curah hujan 100 m3 per tahun (2o/o).Selain sungai Citanduy
kondisi
hidrologi
kawasan
ini
juga
dipengaruhi
oleh
beberapaDAS
yang
bermuaradi
kawasanini
antara lainCibeureum dan S. Cihaur-Cikonde, serta beberapa
sungai
kecil
lainnya. Fluktuasi
sungai Citanduyyang cukup
besar antara
musim
kemarau
danpenghujan
sangat
memberikan pengaruh
polakonservasi di kawasan ini. Rata-rata fluktuasi aliran musim kemarau-penghujan
S.Citanduy
14,77 dan 24,45juta m3 per hari, S. Cibeureum 0,05 dan0,I
I m3 per hari. S. Cihaur-Cikonde 0,08 dan 0,79 m3perhari (Ludwig,
1985). Hasil analisiscontohair
oioo),
residuterlarut
tinggi
(5.000-38.000 mg/l), muara Sungai Citanduy, lokasi tambak, dansekitar
suspensi padatan rendah (5-20 mg/l), sulfat terlarut tanahtimbul
umumnya pH air termasuk netral(7-
tinggi,
dan sulfida rendah.7,5), kualitas air payau sampai asin (salinitas 4-28
Tabel
l.
Satuan Tanahdi
Kawasan SegaraAnakan
No. SPT Tanah Pewakil Analisa Fisiografi Bentuk Wilayah Lerens Bahan lnduk Ltns Ha JO I 2 3 4 6 5 1 8Gleisol Hidrik, tekstur lirt bcrdcbu, drainrse sangat terhambat, kedrlemen efektif dalrm pH agak rlkalis, KTK dan KB sangat
tinggi (Typic Hldraquents) -RM- t 5
Gleisol Ttionik, tekstur lapisan atas liat bcrdcbu dan lapisan bawah berdcbu, drainase sangat tcrhambat, kedalaman dangkal, pH nctral. KTK dan KB sangat tinggi (Sulfic Endoaquenls)-RM-25
Gleisol Tionik, tekstur lapisan atas lial berdebu dan lapisan bawah liat .
liat berd ebu, drainase sangat terhambat, kedalaman dangkal, pH agak masam-nelral KTK dan KB sangat tinggi (Sulfic endoaquenls)-RM-3 Gleisol Eutrik, tekstur liat bcrdebu, drainase lerhanrbat, kedalaman sedang, pH nctral. KTK dan KII sangat tinggi (Typic Endoaqucnts)
-RM.I9
Gleisol Tionik. teksttrr lapisan atas liat berdebu dan lapisan bawah liat
-liat berdebu, drainase sangat terhambal, kedalaman dangkal, pll. KTK. KB (Sulfic endoaquents)
Gleisol Hidrik, lekstur liat berdebu. drainase sattgai terhantbal. kedalaman efektif dalam. pti. KTK. KB (.fvpic enrk'uqttenls) -Rlil-ll
Gleisol Eutrik, tekstur lapisan atas liat berdebu dan bawah liat.
drainase terhanrbat, kedalaman dangkal, plJ agak masam-netral. KTK
dan KB sangat tinggi (Typic Endoaquents)-RM-8
Cleisol Tionik, tekstur liat berdebu, drainase sangat terhambat. kedalaman dangkal, pI I nelral, KTK dan KB sangat tinggi (S ulfic
Endoaquents)-RM-7
Cleisol Eutrik, tekstur lapisan atas liat berdebu dan lapisanbawah lempung liat berdebu, drainase tcrhambat, kedalaman sedang, pH agak masam. KTK dan KB sangat tinggi (Typic lindoaqucpts) -RM-2 I
Gleisol Eutrik, tekstur lapisan atas lial berdebu dan lapisan bawah lempng lial berdebu, drainase terhambll, kedalaman sedang, pH. KTK. KB (TypicEndoaqucpls)
Gleisol Fluvik, tckstur lapisan atas liat berde bu dan lapisan bawahlempung liat berdebu, drainase terhambat, kcdalaman scdang,
pH, KTK, KB (Fluvaqucntikc Endoaquepts)
Gleisol Tionik. tekstur liat bcrdbu, drainase sangat terhambat. kedalaman dangkal, pH netral, KTK dan KB sangat tinggi (Sulfic
Endoaquents)-RM-4
Aluvial Gleik, tekstur lapisan atas lenrpung berdehu dan lapisan bawah lempung berpasir. drainasc agak tcrhamtrat. kedalaman scdang. pH agak alkalis, KTK dan KB sangal tinggi (Fluvaqucntic
Eutnrdcpts)-RM.I3
Gleisol eutrik. lekstur lapisan atas liat berdebu dan lapisanbawah lempung lial berdebu, drainase terhambal kedalanran sedang, pll agak masam-nelral. K-tK drn KB sangat tinggi (Tvpic Endoaquepts)
-RM-27
Mcditcran Krornik, tckstur lapisan atas liat bcrdebu dan lapisan bau'ah hat, tlrainasc baik, kcdalaman tlalanr, pll agak rnasanr sanrpai rrctral,
KTK tinggi. KB sangat tinggi (Typic tlapludalfsO-RM-2
Kambisol Eutrik. tekstur lapisan atas liat berdebu dan lapisan bawah liat, drainase baik. kedalaman dalam, pll, K t'K, Kll (Typic
Eutrude pts ) Endapan lumpur RM.I5 RM-25 RM.3 RM-26 RM.I9 RM-I2 RM.I2 RM-7 RM.8 RM-I6 RM-2I RM- I4 RM.I3 RM.27 Rrn-2 L'C (' {: d" -eo x-6 *tr-d0 tru ('3 g9 o.E EE dL ?5 €6 o u) E 6 6 a 3
]
E EE b0t Pbo -c .-6 Gd EA o a C c 6 G d o -d .D: Ed =o vd bal oc >G -d d.-de oi! = bDg c:' a9p x€ .)2 oa Eg ooJ d)6 c d F c ao',
I -c U d o\ .d (t o € qt Y bt! c j ! o U € o ;? .T ,'' 5 I (, ca (! bo c d at ! a) L E E -3?
d tr 6 ! 3 ht) E 5 <1. o c LL 9/H.,y ct so =S n co 2.117 2.038 I 2.387 4.642 2.728 596 lta4 502 t5, t0 il,33 tt.21 25.6(' t5,t5 8.87 7.69 2.79 LUAS TOTALl7
Suratman dan Miseri Roeslan Atany
Tabel 2. Penggunaan
Lahan
di
Kawasan SegaraAnakan
Tabel 3.
Perubahan
Kondisi
Lahan )'ang'I'er,iadi
tli
Kawasan SegaraAnakan
Jenis liputan lahan Luas (Ha)
Th.
t978i'h.
1987't'h.
r99 r Perairan Bakau Flutan Sawah Sedimen Warakas Permukiman 4.820 10.975I.20t
2.045 48r 2.622 1753.t00
30.695 t.t98
4.378t.t67
t.642
119I.9t9
8.389t.t04
6.179 2.629t.469
t83JUMLAH
Kondisi lahan Luas (ha)
Th. 1978 Th. 1987 Th. 1919 Perairan 4.820 3.100 1.919 Bakau 10.975 10.695 8.389 Hutan 1.201 1 .198 1.104 Sawah
2.U5
4.378 6.1 79 Sedimen 481 1.167 2.629 Warakas 2.622 1.6A2 1.469 Pemukiman 175 179 183 Sumber: LP-lPBTabel 4.
Curah
Hujan
di
Daerah PenelitianSumber: [,aporan'['irn Peneliti Segara Anakan (2000)
l8
Bulan Besarnya curah hujan nrasing-rnasing tahun (mrn)
I 989 I 990 I 991 1992 I 993 1994 I 995 I 996 1997 I 998 .lanuari 382 309 5s9 7e5 359 357 295 341 349 268 Pebruari
3r8
383 178 442 194 r93 442 385r8t
34t
Maret t59 205 275 368 366 407 368 278 152 429April
286 389 712 226 46140t
226il6
r00 358 Mei 2354t0
t04 400 373 56 400 243 163t62
Juni 3035r8
60 411 172 5 471l8e
60 330 Juli27t
124 ,523t
6 523t
63 t2 587 Agustus 202 437 9 r33 0 8 200 0 167 September 5 66 -t1 7 57 0 7 t5 457 Oktober t47 271 t39 852 122 27 852 r t82 4 436 Noeember 376 620 657 600 481 180 6007t8
50 787 Desember 30r 640 562 388 592 363 388 504 t77 32sParameter Simbol/Satuan Areal tambak Muara Citanduy Kawasan Tanah
timbul
DHL
Mhos/cm 76.2504t.250
r s.100 Salinitas O/oo 28l8
4 Suspensi padatanMg/l
6 20 5 Kekeruhan 3,82 11,76 3,23 PH 7,02 7.13 7,38 Sulfats04
4,813 4,813 5,063 Sodium Na L310 t.280 321 Kalsium Ca 99,06 78,6 17,02 MagnesiumMg
18,22 16,88 2,030 Besi Fe 12,091 7,342 0,039 Mangan Mn 0.016 0,013 0,004 Tembaga Cu 0,008 0,012 <0,001 Timbal Pb 0,1 54 0,1 82 0,008Tabel 5.
Hasil Analisa Contoh
Air
Sumber: Proyek KPSA dalam Laporan
Tim
Peneliti Segara Anakan (2000)Dari
hasil
analisaterlihat
bahwadi
wilayah laguna SegaraAnakan terdiri air asin sampai payau, sedangdi
wilayah
daratan yang sebagian berupa lahan budidayaterdiri
atas air tawar sampai sedikit payau.Hal
ini
terlihat darinilai
salinitas bahwa di lagunanilainya
4-28
oloo dandi
lahan budidaya 0-3 o/oo, sedangpH
7 -7 ,5 dan 6,5, danDHL
410-2.650 mmhos/cmdan
15.100-76.250 mmhos/cm. Berdasarkankualitasnya
dari
kandungan
Fe
di lahan budidaya 0,131-l ,783 mgll sedangdi
laguna 7.342-12.091mg/l
(Tabel 5).Kawasan segara anakan merupakan kawasan dataran rendah
yang
merupakan muara beberapasungai besar
yang
menyatu, tempat
akumulasiberbagai bahan sedimen sungai dengan beraneka ragam
jenis
bahandan
kecepatan pengendapan. SegaraAnakan
secara potensial rentan terhadap genanganair
karena merupakan dataran
hasil bentukanaluvial
dan marin yang terletak diantarabagian muara
S.
Citanduy, Cikonde-Cihaur,
S.Cibeureum, S. Ujungalang, dan S. Sapuragal. g.
Kondisi
DAS
Hulu
DAS hulu
seluruh sungai
yang menuju
kewilayah
ini
memberikankontribusi
besar dalam pembentukan tanah dan konservasi yang terjadi diwilayah
Segara Anakan. Tiga sungai memberikankontribusiterbesar, dan dari ketiga sungai
ini
dapatdi
ketahui kondisi
tanah, lahan, bahaninduk
dan penggunaan lahannya antara lain:a)
Kondisi
lahan.pada wilayah paling ujung
DAS
Citanduyme-lintasi wilayah
pegunungan,perbukitan,
dataran bergelombang, bebukit, sampai dataran datar dan daerah aluvial yang berupa satuan lahanAf.l.2.l.
;Af.
1.2.2.;Kc.3.2.;
Hkq. 1.3.2. ;Hkc.
1.3.2. ; Hqd. 1.3.2.; Hu.
1.3.2. ; Vab. 2.3.1. ; Vab. 2.11.2.;
dan Yab.2.10.2.Bahan induk pembentuk tanah sangat bervariiasi
dari
bahanvolkan
yang terdapatdi
bagian ujungbarat laut/ DAS hulu S.
Citanduy,
dan
batuan sedimen (batupasir, batuliat, dan batugamping). b)Tanah
terdiri
atas:- Di
wilayah
aluvial
berupa:
Tropaquepts,Troposaprists, dan Eutropepts.
- Di
wilayah
dataran
berupa:
Hapludults,Dystropepts, dan Eutropepts.
-
Di
wilayah
perbukitan berupa: Dystropepts.Hapludults,
Rhodudults, Eutropepts,Haplu-dalfs. dan Rendolls.
-
Di
wilayah
perbukitan KarsVKapur
berupa:Rendolls, Hapludalfs, dan Eutropepts.
Suratman dan Miseri Roeslan Afany
- Di
wilayah dataran
volkan
tua
berupa:Hapludults, Eutropepts, dan Dystropepts.
- Di
wilayah
perbukitan
dan
pegununganvolkan tua berupa: Dystropepts.
Liputan tanah
dihulu
S. Cibeureum, S. Cikondemeliputi
tanahAluvial
Kelabu Tua (Fluvaquents)yang
terbentukdari
endapanliat
pada fisiografi dataran, tanah Grumosol Kelabu (Hapluderts) yangjuga
terbentuk dari bahan endapanliat
padafisio-grafi
dataran, dan tanah yang merupakan AsosiasiAluvial
Kelabu dan
Aluvial Coklat
Kekelabuan (Fluvaquents dan Udifluvents) yang terbentuk dari bahan induk endapanliat
dan pasir pada fisiografi dataran.Penggunaan lahan
wilayah DAS hulu
berupa lahan usaha yang berupa sawah, ladang, tegalan, kebun campuran dan hanya sebagiankecil
hutan produksi tanpa kawasan lindung.h. Proses Sedimentasi
Sungai Citanduy merupakan sungai yang ber-muara
di
Segara Anakan yang mengangkut bahan sedimen terbesar, yaitu sekitar 3 juta ton per tahun. Sedangkan dari S. Cibeureum 9.000 ton per tahundan
dari
S. Cihaur- Cikonde 2.194
ribu ton
pertahun. Lumpur yang masuk
di
kawasan SegaraAnakan sebagian besar dipasok
dari
S. Citanduy,yakni
760ribu ton
pertahun (74%)
dandari
S. Cihaur - Cikonde 260ribu
ton per tahu (25%).Akibat
sedimentasiini
luas perairan
Segara Anakan menciut dengancepat,
padatahun
1903luas
kawasan
perairan
Segara
Anakan
adalah6.450
ha,
sedangkantahun
1992
tinggal
1.800ha.
Sementaraitu
luas tanahtimbul
atau dataran lumpur bertambah dengan cepat dari 481 ha padatahun
1878menjadi 2.629 ha
padatahun
1991. Sebagian besarmateri
sedimendari
S.
Citanduy bergerakkembali
kedekatmuara sungai
selama periode pasang surut, kecuali sebagian yang tetaptinggal
dalam saluran dan dipengaruhioleh
arus pasang surut sisa.Arus
pasangsurut
relatif
kuatdi
dekat
pemasukkan sebelahbarat laguna
danmencapai maksimum 1,5 m per detik.
Sedimen
dari
S. Cihaur-
Cikonde terbawa ke arah barat daya selarna satu periode pasang surut.Arus
pasangsurut yang
relatif
lemah
di
muarasungai
kurang
memberikan pengaruh
terhadapgerakan
materi
sedimen.
Materi
sedimen
dariS.
Cihaur
-
Cikonde
lebih
mengarahke
bagian tengahdari
laguna Segara Anakan, menyebabkan terjadinya pendangkalan dengan pola alur-alur baru yang menyisakan kedalaman perairan membentukpola sungai
di wilayah
Segara Anakan.Materi
sedimenyang
diendapkandi
dataran lumpur berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya,hal
ini
disebabkanoleh
perbedaanjenis
bahanyang terangkut
dari wilayah DAS hulu
masing-masing sungai.
Keadaanini
mengakibatkanse-baran
karakteristik
tanah
yang ada
di
wilayahSegara
Anakan
beragam tergantungdari
bahan yang diendapkan masing-masing sungai.i.
Potensi KesesuaianLahan Pertanian
Berdasarkan
kondisi
fisik,
kimia
tanah,
dan lingkungannya,dari
luaslahan
17.994 ha berda-sarkan kesesuaian lahannya untuk tanaman perta-nian adalah sebagai berikut:.
Sesuaiunfuk
tanaman panganlahan
basah9.647
ha
(54,2oh),dimana 5.005
ha
sesuaimarginal. Faktor pembatas berupa kemasaman tanah dan drainase, terdapat pada lahan dataran
fluviomarin
dan tanggul-tanggulalur
pasangsurut,
sedangkanyang tidak
sesuai adalahdi
pesisir, dataran pasangsurut
lumpur, dan perbukitan dengan faktor pembalas genangan dan lereng..
Sesuaiuntuk
tanaman pangan lahan kering9.757
ha
(45,1%), dimana 7.029
ha
sesuaimarginal Faktor
pembatasnya berupakema-saman tanah, drainase, kesuburan, dan toksi-sitas, terdapat pada lahan dataran
fluvioma-rin
dan
tanggul-tanggul
alur
pasang surut, sedangkan yang tidak sesuai adalah di pesisir, dataran pasang surut lumpuq dan perbukitandengan
faktor
pembatas genangan
dan lereng..
Untuk
tanaman
tahunan/perkebunan hanya sesuai marginal saja,yakni
4.324ha(24,0oh)
dengan
faktor
pembatas kemasaman tanah,drainase, dan lereng, terdapat pada lahan
da-taran
fluviomarin dan
tanggul-tanggul
alurpasang surut,
dan
perbukitan,
sedangkanyang
tidak
sesuai adalahdi
pesisir, dataran pasangsurut
lumpur, dan
sebagian dataranfluviomarin
dengan tingkat genangan tinggi. Kemampuan atau kesesuaian lahan untuk per-taniandi
kawasan Segara Anakan dapatdikelom-pokkan menjadi
tiga, yakni
areal
yang
terletakdi
dekat pantai
dibagian selatan berupa
hutanmangrove
denganluas
sekitar
1.575ha
(27oh),areal yang berada
di
bagian tengah seluas 1.650 ha (28%) yang dapat ditanami padi dengan hasil yang kurang memadai, dan areal yang berada lebih jauhdari
pantaidi
bagian utara seuas 2.575 ha @5%)yang
sesuaiuntuk
persawahan dengan tanaman padi yang tumbuh baik.j.
Strategi
Pengem banganPertanian
Dari data-datapengamatan langsung dilapangan serta
data-data
sekunderdidapatkan
gambarantentang
kesesuaianatau
kemampuan
lahannya yang menjadi dasar dalam strategi pengembangan pertanian.Daerah
yang
secarapotensial
dikembangkan untuk pertanianyakni 2.575ha(a5%)
dari wilayahtotal,
daerahini
terletak
diwilayah
bagian utarayang relatip
jauh dari
pantai.
Daerahini
cukupbaik untuk
daerahpertanian terutama
tanaman padi, tanaman pangan lahan kering dan perkebunan mengingat daerahini
relatip datar, ketersediaan air cukup baik karena dari segi / hidrologi mendukung baikjumlahnya maupun kualitasnya yakni pH yang baik,DHL
relatip rendah dan kandungan keharaan yang mendukunguntuk
pertumbuhan. Daerahini
relatip
jauh
dari
garispantai
sehingga pengaruhburuk dari
air
laut
terhadap tanah sebagai mediafumbuh
tanaman secara langsung dapat ditekan.Kegaraman
/
DHL
yang
tinggi
dan
kandungannatrium dan
clorida
yang
tinggi
akan berakibat terhadap penurunankualitas tanah.
Wilayah
ini
merupakan
wilayah
yangpaling
potensial
untukdikembangkan pertaniannya
baik
untuk
lahanbasah/padi. maupun lahan kering.
Daerah
marginalyakni
yangberada
dibagiantengah dengan luas
areal
I .650 ha (28%) lahanini
kurang potensial untuk pertanian namun demikian masih dapat dipakai untuk pengembangan pertanian
dengan
budidaya
padi
walaupun
hasil
relatiprendah.
Pengelolaanyang baik untuk
tanah
initerutama mengusahakan pengaruh
air
laut ditekan sehingga pengaruh kegaraman yangtinggi
dapat dikendalikan. Pada kondisiini
masalah kecukupanair
tak
menjadi hambatan akantetapi
yangmen-jadi
masalah adalah kualitasnyayakni
kadar ga-ramnyayang
tinggi
sehingga akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Masalah kegaraman dapat ditekan dengan mengaturair
irigasi yang
masuk kelahan denganair
pengairanyang relatip
tawar atau sedikit payau. Menanam dengan sistem surjanatau
penggunaan varietastanaman
yang
tahan terhadap kegaraman. Pembuatansistem
lrigasi-drainase
yang
merrjamin
air
dapat
keluar
dan masuk dengan lancardiikuti
masukan hara untuk mendukung pertumbuhantanaman.
Keracunan sulfat/sulfit sering terjadi pada wilayah ini, tindakanpencucian dengan
air
tawar
dan peningkatan pHdengan
pengapuran merupakanalternatip
pena-nganan
akibat
kehadiranpiryt.
Masalah ketidak seimbangan nutrisi/keharaan dapat diatasi dengan pasokan hara melalui pemupukan.Daerah yang secara potensial merupakan
dae-rah yang
tidak
sesuaiuntuk
pertanian daerahini
meliputi
daerah yang terletak didekat pantai yaknibagian
selatan
yang
berbatasandengan
garis pantai.Faktor
pembatas terutanra drainase burukyakni
sering tergenangair
pasang yang berakibat terhadap tingginya DHL (kegaraman), pH yang ren-dah, keharaan (nutrision). Pada lahan ini sebaiknya tidak diperlakukan untuk keperluan pertanian baik untuk sawah maupun tanaman peftanian yang lain.Lahan
ini
sebaiknya
dibiarkan
dengan vegetasialami yang dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik yakni
mangrove.k.
Tindakan
Konservasi Lahan
Tindakan konservasi
lahan ditujukan
untukmenjaga lahan
agar terjadi
keseimbangan ataskelestarian
alam dan
pemanfaatan sumberdayalahan yang ada sehingga lahan akan terhindar
da-ri
kemerosotankualitas atau
terjadi
kerusakan.Tindakan
konservasidilakukan
baik
pada
arealpertanian maupun hutan mangrove/vegetasi alami. Tindakan konservasi lahan meliputi.
l.
Kawasan
Hutan
Mangrove
Untuk
daerah kawasan
sekitar garis
pantai yang berupa vegetasi/hutan mangroveperlu
dija-ga
agar
tidak
mengalami
kerusakan.
Karenahutan
ini
mempunyai fungsi
yang
sangat besardalam menjaga atau melindungi ekosistem pantai, menjaga dan menanami
kembali
mangrove padahutan yang
kosong
merupakantindakan
untukmempertahankan
dan
melindungi
keberadaanmangrove
di
lahan pantai.2.
Kawasan Pertanian
Tindakan konservasi lahan didaerah pertanian termasuk didalamnya
( I
)
Menjaga
fungsi irigasi-drainase
pada kawasan pertanian agar terjaga dari banjir dan terpenuhinyaair
irigasi yang berkualitas.(2)
Meningkatkan
daya dukung lahan
dengancara mengurangi kekritisan lahan
baik
secarafisik
maupun
kimia.
Secarafisik
terutamaditujukan untuk
mengendalikanerosi
pada lahany^ng
berlerengcuranl
secarafisik
de-ngan
pembuatan teras serta penanamanSuratman dan Miseri Roeslan Afany
jajar
kontur.
Secarakimia
dilakukan
untuk menangani kemasaman tanah maupun akibat kegaraman serta masalah keharaan.3. Pada
kawasan
DASPenanganan
daerah
hulu
penting
dilakukanmengingat
sedimentasiyang
terjadi
di
kawasanSegara
Anakan
sebagian besarakibat
erosi yang terbawaaliran
sungaidari
daerahhulu.
Beberapa penyebaberosi
tersebut selain pembukaan lahan atas secara besar-besaran menjadi lahan pertanian, juga sistem olah tanah dan pola tanam yang kurang benar. Pengelolaan lahan yang tidak semestinya di DAS hulu Citanduy dan Cimeneng/Cikonde paling dom inan sebagai penyebab terjadinya sedimentasi dalam jumlah yang besar ke laguna SegaraAnakan,dan
mempercepatproses
pertambahan daratanyang
disebut tanahtimbul.
Penangananerosi di
daerah hulu
DAS
akan berdampak untuk menekanjumlah
sedimentasi dikawasan Segara Anakan.Usaha
lain
terhadap bahan sedimenyang
ter-bawa
air
sungaiyakni
mengarahkanaliran
yangmembawa bahan sedimen
ke wilayah
yang sudahdiprogramkan
danjuga
pengerukan sedimen dipindahkan ke wilayah penimbunan.
Secara
ringkas
penanganan konservasi lahandi
kawasan Segara Anakan dapat dilakukan secarakimiawi, mekanik,
maupun
vegetatif/
biologis.Secara vegetatif/ biologis
dengan(a)
pelestarianhutan mangrove
dengan penanaman komponentumbuhan mangrove,
(b)
melindungi
tanah DAShulu
dengan tanaman konservasi,(c)
pengaturanlpengelolaan
lahan budidaya
dengan
tanamanproduktif dan
konservatif dengan
penyesuaianpola
tanam denganmusim.
Secaramekanik
de-ngan pembuatan teras
di
wilayah DAS
hulu
atau wilayah tepian laguna yang berlereng, Konservasi secarakimia
terutamayang
menyangkut ketidak seimbanganhara
dan zat meracunpirit
dan besi, dengan pemupukan, ameliorasi, dan pencucian ataupelindian toksik.
Sedangdari
segi
kelembagaanperlu
dirintis
kerjasama dengan Dinas Perhutanandan
Konservasi Tanah
(DPKT) serta
PerumPerhutani.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
l.
Secara umum daerahtelitian
Segara Anakanmerupakan
wilayah yang meliputi
daerahsedimentasi
yang
membentuk
kawasanlaguna,
pulau-pulau
tanah
timbul
serta perbukitan Pulau Nusa KambanganBerdasarkan
hasil
pengamatan
lapangandan
data-datasekunder
berupa
peta-peta topografi, petawilayah,
rupabumi
maupunfoto
udara
dapat disusun kemampuan lahandi lokasi
telitian.Atas dasar pengamatan terhadap sumberdaya
lahan daerah
penelitian
dihasilkan
tingkatkesesuaian
lahan pada
daerahtelitian
dariluasan
17.994
ha,
sesuai
untuk
tanaman pangan lahanbasah
9.647 ha (54,2Yo), yangmana
5.005
ha
sesuai
marginal
denganfaktor
pembatas
kemasaman
tanah
dan drainase, terdapatdi
dataranfluviomarin
dantanggul-tanggul
alur
pasang
surut;
sesuaiuntuk
tanamanpangan lahan
kering
9.757 ha (45,1o/o),7 .029 ha sesuai marginal denganfaktor
pembatas kemasaman tanah, drainase,kesuburan, dan toksisitas, terdapat
di
dataranfluviomarin
dan tanggul-tanggulalur
pasangsurut; Untuk
tanaman
tahunarlperkebunan hanya sesuaimarginal
saja,yakni
4.324 ha (24,0%) denganfaktor
pembatas kemasaman tanah, drainase, dan lereng, terdapatdi
datar-an
fluviomarin
dan
tanggul-tanggul
alur pasang surut,dan perbukitan.
Sisanya tidak sesuai untuk pengembangan pertanian. Lahanyang kurang dan
tidak
sesuai untukpertanian terutama daerah
yang
terletak pada wilayah yang paling dekat dengan garispantai
denganfaktor
penrbatas sifatkimiawi
yakni
kegaraman,kehadiran
senyawapirit
dan
terjadinya banjir
atau pasang surut serta kelerengan.Strategi Pengembangan pertanian mendasar-kan pada potensi lahan yakni kesesuaian lahan, strategi tersebut
meliputi
pengaturan sistem irigasi-drainase yang menjamin tataair
yangbaik dari
segi
pemenuhandan
kualitasnya serta pengendalianbanjir,
Tindakankimiawi
ditujukan
untuk
menekan pengaruh
burukkegaraman,
peningkatan
pH
tanah
sertaperbaikan keharaan
melalui
pemupukan.Secara
biologis
diusahakan
melakukan penanamandengan varietas
adaptip
lokal maupun varietasyang
tahan terhadapkega-raman.
Penggunaan
sistem surjan
perlu dilakukan untuk menekan dampak buruk dari kegaraman.Tindakan konservasi lahan pada daerah telitian mendasarkan pemanfaatan lahan sesuai daya 2. 3. 4. 5. 6. 22
dukungnya.
Lahan yang
tidak
sesuai untuk pertanian seperti hutan mangrove dilestarikan kebe radaannyadan
dijaga
terhadap
keru-sakannya.
Pada lahan
Pertanian
tindakankonservasi
ditujukan
untuk
menciptakanlingkungan
yang
mendukung
pertumbuhantanaman. Pada
lokasi
penelitian
konservasilahan
pertanianmeliputi
pengendalianero-si
untuk lahan
dengan kelerengan
besar,pengaturan irlgasi-drainase
yang
bertujuanmenyediakan air
irigasi
baikjumlah
maupun kualitasnya serta rnencegah terjadinya banjir.Menjaga terjaminnya kebutuhan
nutrisi tananran dengan pemupukan serta perbaikansifat kimia
berupa penurunan
kegaraman, menaikkan pH dan menekan tingkat keracunan besi dan sulfat.7.
Penangananerosi
di
daerah
aliran
sungai(DAS)
hulu
dimaksudkan
untuk
menekanproses sedimentasi yang terjadi pada daerah
telitian
terutama padasekitar
muara sungai yang berakibatterjadinya
pendangkalan dan kerusakan hutan mangrove.Saran-saran
l.
Berdasarkankondisi
iklim
dan pertimbangan konservasinyamaka lahan
budidaya
yang dapat dikelola harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (a) Pola tanam disesuaikan dengan musim dan budaya daerah setempat, (b) Penggunaan beberapa varietas disesuaikan dengan wilayahnya.Usaha konservasi harus didukung oleh
penge-lolaan
lahanDAS
hulu yang
saatini
sudahcukup intensif
sebagai lahan
usaha. Perludilakukan
pengendalian
penggunaan lahanbudidaya dengan memperhatikan
kawasankonservasinya.
Dalam upaya
pengembangan pertanian,di-perlukan perbaikan dalam
teknik
budidayapertanian sepefti perbaikan saluran air,
pene-rapan
sapta usahatani, rencanapola
tananryang optimal
dengan
memperhatikan ienisdan
varietaskomoditas yang
diorientasikan dengan kebutuhan pasar.Untuk
kelancaran usahatani, koperasi, dan sosial ekonomi ma-syarakat pertanian.DAFTAR
PUSTAKA
Aini.
1999.Mansrove
yang unik
dan
nrenarik. (iema Segara Attakan, Voll.
No.4.
1999.Gema
S
A,
1999.
Hutan
Mangrove
di
SegaraAnakan. Majalah Gema S
A.
Vol.3, tahun l.Kartadibrata,
M.
dkk.
(1997). Upaya
ProyekCitanduy-Ciwulan
untuk
MenjaminKetersediaan
Air.
Lokakarya
Nasional JantinanAir
tlagi
Petani. Bandung.Oldenran. 1,.R.
(1975)
An
Agro-clinratik
Mapof
Java. Clentral
Research
lnstitute
for
Agriculture.
Departement
of
Agriculture.
Bogor.
PMO-SACDP
(1999)
Survei Sosial
Ekonomi Daerah kawasan Segara Anakan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Ci lacap.PMO-SACDP,
(1999).
Sekilas Tentang
SegaraAnakan. Cilacap.
Pemda. Cilacap (1999). Peta Potensi Sumberdaya
Lahan
Kawasan SegaraAnakan
Skala
I
:50.000
PKSPI--lPB
(1999).
Peta
Penggunaan
l.ahan Segara Anakan Skalal:
50.000.PPT (1983) Jenis dan Macam Tanah
di
lndonesia Untuk Keperluan Survei dan Pemetaan'lanah.P3M'f.
Pusat Penelitian 'lanah, Bogor.Proyek
P3MT
(1983)-lerm
of
Reference.Klasifikasi
Pengelolaan
-lanah.
ProyekPertanian Menunjang Transmigrasi,
PusatPenelitian Tanah. Bogor.
PT ECl-Delft
Hydraulics (1994)
Segara Anakan Conservation and Development Project.Final Report. PMO-SACDP. Cilacap.Pusat Survei SDA ( 19970 Penyusunan Data Spatial
Tematik
Kawasan SegaraAnakan,
Cilacap.Bakosurtanal. Bogor.
Saeni,
M.S.
dan
M.
SJDP
Tanasale
(1999)Desalinisasi
Air
Laut
dengan
Tanaman Mangrove. Buletin JurusanKimia,
lPB. Sasaki,Y
and H. Sunarto (1994) Mangrove Forestof
Segara Anakan Lagoon. Ecological Assesmentfor
Management Planningof
SA Lagoon. JJSPS-DGHE.Soil
Survei Staff (1998)
Keysto
Soil
Taxonomi.National
ResourcesConservation
Services. United States Departenrent ofAgriculture.
Sukardi, M. dkk ( 1989) Macam-macam Peta Tanah dan Kegunaannya. Serial Populer
No.
I IPHPI SP/1989. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor. Suratnran(2000).
Mengenal
Kesetaraan SisternKlasifikasi yang
Berkembangdi
lndonesiaSaat
lni.
Pusat
Penelitian 'l-anah
danAgroklirnat,
Depafiement Pertanian.2.
1
Suratman dan Miseri Roeslan Afany