Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

174  Download (8)

Teks penuh

(1)
(2)

4.5 PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGADUKAN TERHADAP ANGKA PENYABUNAN SABUN CAIR

Berikut grafik yang menunjukkan pengaruh variasi suhu dan waktu pengadukan terhadap kadar angka saponifikasi sabun cair pada berbagai waktu analisa:

Gambar 4.6 Grafik Pengaruh Variasi Suhu dan Waktu Pengadukan Terhadap Nilai Bilangan Saponifikasi Sabun Cair pada Berbagai Waktu Analisa

Gambar 4.6 menunjukan hubungan suhu reaksi dan waktu pengadukan terhadap Nilai Bilangan saponifikasi sabun cair yang dihasilkan. Dari ketiga gambar diatas dapat dilihat nilai alkali bebas sabun tertinggi pada masing-masing waktu analisa 0, 12 dan 24 jam, adalah pada waktu pengadukan 2 jam pada suhu reaksi 80 ˚C, yaitu

(3)

untuk masing-masing waktu analisa adalah pada waktu pengadukan 4 jam dan suhu reaksi 65 ˚C yaitu berturut turut sebesar 208,81542; 198,939015; 197,5281.

Bilangan penyabunan adalah banyaknya alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah minyak. Semakin tinggi bilangan penyabunan menunjukkan semakin tinggi pula kadar asam lemak bebas dalam minyak sehingga alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan minyak tersebut juga akan semakin banyak [55].

Dari gambar 4.6 tersebut dapat dilihat adanya pengaruh waktu pengadukan terhadap nilai bilangan saponifikasi sabun. Dengan semakin bertambahnya waktu pengadukan dapat menyebabkan nilai bilangan saponifikasi sabun yang dihasilkan semakin rendah. Sedangkan dengan semakin bersarnya suhu reaksi penyabunan menyebabkan nilai bilangan alkali bebas pada sabun menurun sampai pada titik optimum. Hal ini disebabkan oleh semakin lama waktu pengadukan menyebabkan waktu interaksi antara minyak dan alkali semakin besar, maka reaksi akan mendekati kestimbangan sehingga sedikit sisa minyak yang belum bereaksi dengan alkali, dan semakin kecil nilai asam lemak bebas. Dan pengaruh suhu reaksi terhadap nilai bilangan saponifikasi sabun akan semakin turun seiring dengan semakin besar suhu reaksi, tatapi pada suhu 80 ˚C terjadi peningkatan nilai bilangan saponifikasi. Pada kisaran suhu tertentu, kenaikan suhu akan mempercepat reaksi penyabunan, yang artinya menaikan hasil dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika kenaikan suhu telah melebihi suhu optimal maka akan menyebabkan pengurangan hasil karena reaksi akan bergeser ke arah pereaksi atau dengan kata lain produk akan berkurang [52]. Reaksi dengan suhu melewati titik optimal akan menghasilkan sabun dengan nilai bilangan saponifikasi yang besar.

(4)

mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan meningkatkan jumlah minyak yang tersabunkan [52].

(5)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1. Dari analisa pH sabun cair diperoleh berkisar antara 8,2-10,2 menunjukkan

bahwa sabun cair telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

2. Dari analisa densitas sabun cair diperoleh densitas sabun sebesar 1,02 - 1,12 telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

3. Dari analisa kadar alkali bebas sabun cair diperoleh alkali bebas sabun sebesar 0,008976 – 0,0378675 telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

4. Dari analisa bilangan saponifikasi sabun cair diperoleh bilangan saponifikasi sebesar 282,36117 – 197,5281 telah memenuhi Standar Nasional Indonesia. 5. Alkali dari kulit coklat berpotensi menjadi sumber alkali dalam pembuatan

sabun.

1.2 SARAN

Adapun saran yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain:

1. Dilakukan analisa impurities dan analisa logam lain yang terkandung pada alkali dari abu coklat untuk mengetahui kandungan yang berpengaruh pada pembuatan sabun.

2. Dilakukan penelitian dengan perbandingan alkali : minyak : air sebagai variabelnya, untuk melihat pengaruh perbandingannya terhadap kualitas sabun.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Naomi, P. Anna . M. Lumban. Gaol, dan M. Y. Toha, “Pembuatan Sabun Lunak Dari Minyak Goreng Bekas Ditinjau Dari Kinetika Reaski Kimia,”

Junal . Teknik . Kimia., vol. 19, no. 2 (2013), hal; 42–48.

[2] Eke, U. B.,Dosumu, O. 0., Oladipo, E. and Agunbiade, F. O., “Analysis of Locally produced Soap using Sheabutter Oil ( SBO ) Blended with Palm- Kernel Oil ( PKO ) Elevendifferent blends of sheabutter oil ( SBO ) and palin kernel oil ( PKO ) were employedin soap andsalt in the ratio 100 : I ( Oguntola , 2002 ). It is,” Niger. J. Sci., vol. 38 (2004). hal. 19–24. [3] Aiwize, E.A and J. I. Achebo, “Liquid Soap Production With Blends of

Rubber Seed Oil ( Rso ) and Palm Kernel Oil ( Pko ) With Locally Sourced Caustic Potash ( Koh ),” Nigerian Jurnal of Technology. vol. 31, no. 1 (2012) pp. 63–67.

[4] Warra . A. A, L. G. Hassan, S. Y. Gunu, and S. A. Jega, “Cold Process Synthesis and Properties of Soaps Prepared from Different Triacylglycerol Sources,” Nigerian. J. Basic Appl. Sci., vol. 18, no. 2 (2010). hal: 315–

321.

[5] Khanahmadi, Soffia, Faridah Yusof, Hwai Chyuan Ong, Azura Amid, Harmen Shah, “Cocoa pod husk: A new source of CLEA-lipase for preparation of low-cost biodiesel: An optimized process,” J. Biotechnol., vol. 231 (2016) hal. 95–105.

[6] Kaltsum, U.B., Dosumu, O.O., Oladipo, E. and Agunbiade, “Analysis of Locally Produced Soap Using Sheabutter Oil (SBO) Blended with Palm Kernel Oil (PKO),” Niger. J. Sci., vol. 45 (2015). hal. 32 – 40.

[7] George Bart Bradshaw, Wilmington, Del and Walter C. Manly, “United States Patent Office: Process Of Making Pure Soap,” 263.820, 1989. [8] Nisa, Dianrifiya and Widya Dwi Rukmi Putri, “Pembuatan CMC dari

Kulit Buah Kakao (Teobroma cacao L .) Sebagai Bahan Baku Pembuatan CMC (Carboxymethyl Cellulose),” J. Pangan dan Agroindustri, vol. 2,

(7)

[9] Direktorat. Jendral. Perkebunan and Kementrian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia: Kakao. no:I. Jakarta: Direktorat Jendral Perkebunan, 2014.

[10] Daud, Zawawi. Angzzas Sari Mohd Aripin, Ashuvila Mohd Awang, Halizah Hatta, Mohd Zainuri Mohd “Chemical Composition and Morphological of Cocoa Pod Husks and Cassava Peels for Pulp and Paper Production,” Aust. J. Basic Appl. Sci., vol. 7, no. 9 (2013) Hal. 406–411. [11] Akoto, Ester Gyedu, Daniel Yabani, John Sefa and Dominic Owusu,

“Natural Skin-care Products: The Case of Soap Made from Cocoa Pod Husk Potash,” Adv. Res., vol. 4, no. 6 (2015), hal. 365–370.

[12] Fatwatun, Nelly, Kaunaini Chusna, Bambang Pramudono, “Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) : Pemecahan Emulsi Dengan Metode Ultrasonik,” J. Teknol. Kim. dan Ind., vol. 2, no. 4 (2013), hal. 184–188. [13] Willcox, Michael, “Soap,” in Poucher’s Peifumes, Cosmetics and Soaps material, 10 th., H. Butler, Ed. London: Kluer Academic Publisher, 2000, pp. 453–465.

[14] The Soap and Detergent Association, Second Edition. Washington DC: The Soap and Detergent Assocation, 1994.

[15] Rizky, Nadya Dwi Ridho, Muhammad Mag Nasution, “Penetapan Kadar Alkali Bebas Pada Sabun Mandi Sediaan Padat Secara Titrimetri,” Thesis, Program Sarjana Fakultas MIPA Universitas Sumatra Utara, Medan, 2012.

[16] Zulkifli, Mochamad and T. Estiasih, “Sabun Dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit : Kajian Pustaka [in Press Oktober 2014],” J. Pangan dan Agroindustri, vol. 2, no. 4 (2014), pp. 170–177.

[17] Badan Standarisasi Nasional, “Standar Nasional Indonesia: Sabun mandi,” Jakarta, 1994.

[18] Dalimunthe, Nur Aisyah. “Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas Menjadi Sabun Mandi Padat,”. Thesis, Program Master Fakultas Teknik, Universitas Sumatra Utara, 2009.

(8)

[20] Arita, Susila, Tuti Emilia Agustina, Dina Patrica, Lena Rahmawati Jurusan, “Pemanfaatan Gliserin Sebagai Produk Samping Dari Biodiesel Menjadi Sabun Transparan,” J. Tek. Kim., vol. 16, no. 4 (2009), pp. 50– 53.

[21] Rozi, Muhammad. “Formulasi Sediaan Sabun Mandi Transparan minyak Atsiri Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dengan Cocamid Dea Sebagai Surfaktan,” Skripsi, Program Sarjana Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiah Surakarta, 2013.

[22] Dayat Suryana, Membuat Sabun: Cara Membuat Berbagai Sabun Padat dan Cair, Frist Edition. Bandung: Dayat Suryana, 2013.

[23] Sari, Tuti Indah Julianti Perdana Kasih, Tri Jayanti Nanda Sari, “Pembuatan Sabun Transparan dan Sabun Cair dari Minyak Jarak,” J. Tek. Kim., vol. 17, no. 1 (2010), pp. 28–33.

[24] Friedman, Marcel. Chemistry , Formulation , and Performance of Syndet and Combo Bars, Second Edition., vol. 11. United States: Elsevier Ltd., 2004.

[25] Astuti, Dwi Herry and Sanny “Pemanfaatan Minyak Biji Mimba dari Biji Mimba sebagai Bahan Pembuatan Sabun dengan Proses Semi Boiled,” in

Seminar Nasional Teknik Kimia Soebardjo Brotohardjono IX, 2012, p. D.12-2 – D.12-3.

[26] Retnowati, Diah S., Andri C. Kumoro, Ratnawati, Catarina S. Budiyati. “Pembuatan dan Karakterisasi Sabun Susu dengan Proses Dingin,” J. Rekayasa Proses, vol. 7, no. 2, (2013), pp. 46–51.

[27] Kurnia, Farid and I. Hakim, “Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak dan Soda Q Sebagai Upaya Meningkatka Pangsa Pasar Soda Q,” J. Tek. Kim., 2010.

[28] Wolfrum, Stefan, Julien Marcus, Didier Touraud,Werner Kunz, “A renaissance of soaps?-How to make clear and stable solutions at neutral pH and room temperature,” Adv. Colloid Interface Sci., vol. 236, pp. 28– 42, 2016.

Figur

Gambar 4.6  Grafik Pengaruh Variasi Suhu dan Waktu Pengadukan Terhadap Nilai Bilangan Saponifikasi Sabun Cair pada Berbagai Waktu Analisa

Gambar 4.6

Grafik Pengaruh Variasi Suhu dan Waktu Pengadukan Terhadap Nilai Bilangan Saponifikasi Sabun Cair pada Berbagai Waktu Analisa p.2

Referensi

Memperbarui...