• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMANDIRIAN PADA ANAK USIA DINI PENGARUH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEMANDIRIAN PADA ANAK USIA DINI PENGARUH"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KEMANDIRIAN PADA ANAK USIA DINI

PENGARUH METODE TOKEN EKONOMI UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN

PRILAKU “SUKA DITUNGGU” PADA ANAK USIA DINI (2-3 Tahun) Di POS PAUD

MUTIARA BUNDA KOTA MALANG

Azizah Arum Sari

(2)

ABSTRAK

Anak usia dini adalah anak yang berusia 2-6 tahun dalam tahap ini merupakan proses perkembangan kemandirian awal yang di pelajari dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, pengasuhan orang tua dan pengasuhan guru, faktor-faktor tersebutlah yang mampu mendukung perembangan kemandirian anak. Tujuan utama dalam penelitian ini memfokuskan pada penelitian eksperimen guna mengukur tingkat kemandirian ana usia dini pada prilaku “ Suka ditunggu” pada umur( 2-3 tahun) di sekolah Pos PAUD Mutiara Bunda, untuk mengetahui pengaruh tingkat perkembangan kemandirian anak dengan menggunakan metode token ekonomi dalam bentuk stiker bergambar kartun yang di gemari oleh sebagian besar anak pada umur 2-3 tahun sehingga akan mempengaruhi tingkat kemandirian dalam proses belajar. Teknik Token ekonomi adalah salah satu metode pada modifikasi prilaku. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan Children Checklist behavior, dengan analisis data menggunakan Nonparametric dan menggunakan aplikasi SPSS. Dalam penelitian ini menggunakan dua kelompok eksperimen yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol jumlah subjek dalam kelompok eksperimen ada 8 subjek dan kelompok kontrol ada 8 subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukannya peningkatan kemandirian yang baik pada kelompok eksperimen dan

(3)

PENGARUH METODE TOKEN EKONOMI UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN

PRILAKU “SUKA DITUNGGU” PADA ANAK USIA DINI (2-3 Tahun) di POS PAUD

MUTIARA BUNDA KOTA MALANG :

Kemandirian merupakan suatu prilaku yang akan banyak memberikan dampak positif bagi perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya. Anak usia dini menurut undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ialah anak sejak lahir sampai usia enam tahun sedangkan anak usia TK adalah usia 4-6 tahun. Pendidikan anak usia dini mengacu pada pendidikan yang diberikan kepada anak usia 0 – 6 tahun atau sampai dengan usia 8 tahun.

Menurut Erikson (dalam Desmita, 2011) menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego, yaitu merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri. Kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana peserta didik secara relative bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain. Berdasarkan otonomi tersebut peserta didik diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

(4)

melaksanakan dua tugas penting, pertama memisahkan diri dari ibu dan lain-lainnya, kedua mulai menguasai diri, lingkungan dan ketrampilan dasar utuk hidup. Dalam tahap perkembangan pada umur 2-3 tahun kemandirian inilah adalah hal penting berperan penting dalam pembentukan sebuah prilaku, seingga mulai sejak dini kemandirian pada anak harus mulai di tumbuhkan.

Menurut Steinberg (dalam Desmita, 2011) kata mandiri dari dua istilah yang pengertiannya sering disejajarkan silih berganti, yaitu “autonomy” dan ”independence”, karena perbedaan sangat tipis dari kedua istilah tersebut. Independence dalam arti kebebasan, secara umum menunjuk pada kemampuan individu melakukan sendiri aktivitas hidup, tanpa menggantungkan orang lain.untuk meningkatkan kemandirian pada anak usia dini. Steinberg (dalam Desmita, 2011) membedakan kemandirian atas tiga bentuk, yaitu :

A. Kemandirian emosi, yakni aspek kemandirian yang berhubungan perubahan kedekatan atau keterikatan hubungan emosional individu, terutama sekali dengan orang tua atau orang dewasa lainnya yang banyak melakukan interaksi dengannya. Contoh kemandirian emosi diantaranya yaitu hubungan antara anak dengan orangtua berubah dengan sangat cepat, lebih-lebih setelah anak memasuki masa remaja seiring dengan semakin mandirinya anak dalam mengurus diri sendiri pada pertengahan masa kanak – kanak, maka perhatian orangtua dan orang dewasa lainnya terhadap anak semakin berkurang

B. Kemandirian kognitif, yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan secara bebas dan menindaklanjutinya. Kemandirian kognitif yaitu mandiri dalam bertindak dan bebas untuk bertindak sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan orang lain. Kemandirian bertindak dimulai sejak usia anak dan berkembang dengan sangat tajam sepanjang usianya. C. Kemandirian nilai, yakni kebebasan untuk memaknai seperangkat benar – salah, baik – buruk

(5)

disbanding kedua tipe kamandirian lainnya. Kemandirian nilai semakin berkembang setelah sebagian besar cita – cita pendidikan, rencana pekerjaan, pernikahan dan identitas diri tercapai. Beberapa ahli mengakui keluarga dan lingkungan sekolah sebagai sumber utama bagi perkembangan kemandirian nilai. Ciri kepribadian mandiri dalam Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian anak usia dini terbagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut : (Soetjiningsih, 1995 & Mu’tadin 2002)

A. Faktor Internal adalah faktor yang ada dari diri anak itu sendiri yang meliputi:

1) Emosi Faktor ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.

2) Intelektual Faktor ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

B. Faktor Eksternal adalah hal–hal yang datang atau ada dari luar diri anak itu sendiri meliputi :

Lingkungan, Karekteristik sosial, Stimulus, Pola Asuh, Cinta Dan Kasih Sayang, Kualitas Interaksi Anak dan Orang Tua dan Pendidikan Orang Tua.

Selanjutnya, Tim Pustaka Familia (2006: 45) memberikan beberapa ciri khas anak mandiri, yaitu:

1. Mempunyai kecenderungan memecahkan masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah;

2. Tidak takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya;

3. Percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan, dan 4. Mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya.

(6)

1. Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilian sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekwensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.

2. Motivasi instrinsik yang tinggi. Motivasi instrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi instrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walupun kedua motivasi ini kadang berkurnag, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivsasi instrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri.

3. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya.

(7)

5. Bertanggung jawab menerima konsekwensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputuan atau pilihan tentu ada konsekwensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya.

6. Menyesuiaiakan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaiakan diri degan lingkungan yang baru.

7. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.

Token ekonomi adalah suatu teknik pendekatan behavior berdasarkan atas asas kondisioning operan Skinner. Token ekonomi bertujuan untuk mengembangkan tingkahlaku yang dapat menyesuaikan dengan memberikan penguatan dengan kupon; pada saat tingkahlaku yang tidak diinginkan dihilagkan dengan cara tidak memberi kupon (MAKALAH KONSELING)

Sebagai pembanding peneliti menggunakan peneltian sebelumnya yang memiliki kemiripan pada salah satu variabel yaitu :

(8)

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, terlihat pentingnya untuk mengetahui apakah metode token ekonomi merupakan salah satu metode modifikasi prilaku yang merupakan pengembangan dari metode reinsforcment dan dikaitkan dengan peningkatan kemandirian pada anak usia dini pada prilaku Suka di tunggu pada saat sekolah, apakah memiliki pengaruh pada perubahan prilaku para peserta didik, peserta didik disini merupakan anak PAUD pada rentangan usia 2 hingga 3 tahun.

H1: adanya pengaruh antara metode token ekonomi terhadap peningkatan kemandirian prilaku suka di tunggu pada anak usia dini.

METODE

Subjek :

Pada penelitian ini pengambilan data dilakukan di sekolah Pos Paud Mutiara Bunda di jalan Simpang raya langsep no.2 kota malang, peneliti menggunakan subjek 16 anak di kelas Paud, dalam pengambilan data peneliti membagi subjek menjadi dua kelompok kecil yakni 8 subjek menjadi kelompok kontrol dan 8 subjek menjadi kelompok eksperimen, criteria subjek dalam penelitian ini yang menjadi kelompok eksperimen adalah sujek yang masih suka di tunggu oleh orang tuanya, sedangkan kelompok kontrol adalah subjek yang sudahtidak di tunggu oleh orang tuannya.

Material:

Lembar observasi berupa behavior Check list, stiker bergambar kartun frozen, mickey mouse, mini mouse, upin dan ipin, Thomas, Barbie, Doraemon, Hello Kitty, Princces Sophia, Patrick dan juga Spongebob, dan buku cerita.

Prosedur :

(9)

berlangsung , dan menjadikan peserta didik yang masih di tunggu sebagai kelompok eksperimen yang nantinya akan diberikan perlakuan dan kelompok kontrol pada subjek yang tidak di tunggu dalam proses pembelajaran.

Pertam subjek dikumpulkan dan diberikan perlakuan berupa pemahaman kemandirian prilaku disekolah, dimana seusia mereka hendaknya sudah di tinggal orang tua saat proses belajar dan dijemput pada saat perpulangan, kemudian subjek di berikan perlakuan berupa pemberian instruksi, jika nanti tidak di antar maka nanti akan diberikan stiker bergambar kartun di kartu token yang telah diberikan peneliti, peneliti akan memberikan satu setiker jika subjek disekolah tidak di tunggu orang tua dan jika nanti dalam satu minggu subjek bisa mendapatkan 2 stiker maka subjek akan

mendapatkan hadiah berupa buku mewarnai, tahap selanjutnya pneliti juga akan melakukan kerjasama dengan guru berupa pemberian stiker token kepada peserta didik yang tidak di tunggu orang tuanya, kemudian peneliti akan menggunakan children checklist behavior untuk melihat apakah ada perubahan prilaku yang terjadi pada peserta didik yang diberikan perlakuan, dan tahap terakhir peneliti akan melihat Apakah ada perubahan prilaku yang sigifikan terhadap peserta didik setelah diberikan

perlakuan berupa pemberian token Ekonomi terhadap prilaku mandiri pada anak yang suka di tunggu. HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian menggunakan metode token ekonomi untuk meningkatkan kemandirian anak usia dini pada prilaku suka di tunggu di PAUD POS Mutiara Bunda kota malang mendapatkan penghitunggan menggunakan Aplikasi SPSS didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel. 1

(10)

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

kelompok 16 1 2 1.50 .516

Valid N (listwise) 16

Dari tabel descriptive diatas di menunjukkan hasil mean kelompok dengan jumlah 1,50 dengan jumlah jumlah keseluruhan subjek 16

Tabel. 2 Rata-rata

Mann-Whitney Test

Ranks

kelompok N Mean Rank Sum of Ranks t_skor eksperimen 8 11.06 88.50

kontrol 8 5.94 47.50

Total 16

Pada tabel diatas adalah tabel rata-rata pada kelompok eksperimen mendapatkan rata-rata sebesar 11.06 sedangkan rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 5,94

Tabel. 3 Grafik

(11)

45, subjek 4 mendapatkan t-skor sebanyak 65, subjek 5 mendapatkan t-skor sebanyak 43, subjek 6 mendapatkan t-skor sebanyak 45, subjek 7 mendapatkan t-skor sebanyak 65, dan subjek 8 mendapatkan t-skor sebanyak 45. Sedangkan dari kelompok kontrol subjek 1 mendapatkan nilai t-skor sebanyak 62, subjek 2 mendapat t-skor sebanyak 43, subjek 4 mendapat t-skor sebanyak 38, subjek 5 dan 6 mendapatkan t-skor sebanyak 43, subjek 7 mendapatkan t-skor sebanyak 40 dan subjek 8 mendapatkan skor t-tes sebanyak 42, jadi dapat di simpulkan bahwa tinggi t-skor masing-masing subjek bervariasi dan cenderung lebih tinggi pada kelompok eksperimen, sehingga penelitian ini ada pengaruh metode token ekonomi terhadap kemandirian pada prilaku suka di tunggu disekolah Pos PAUD Mutiara Bunda di kota Malang.

Tabel.4

Data signifikansi

Test Statisticsb

t_skor Mann-Whitney U 11.500 Wilcoxon W 47.500

Z -2.172

Asymp. Sig. (2-tailed) .030 Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)]

.028a

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: kelompok

Pada tabel diataas terdapat data signifikansi yang didapat dari penelitian ini adalah 0,030 dan kurang dari 0,05 yang artinya ada pengaruh terhadap peelitian.

DISKUSI

(12)

frekuensi merupakan cara untuk mengukur prilaku sehari-hari degan menghitung jumlah respon yang muncul, seperti seberapap sering subjek memberikan respon prilaku yang di harapakan leh peneliti, sehingga nantinya akan di dapatkan hasil prilaku yang diartikan sebagai adanya pengaruh metode yang dilakukan dengan mengukur variabel terikatnya.

Setelah pengambilan data dan menganalisis menggunakan aplikasi SPSS dengan menggunakan analisis non parametric, dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian within-subject, dalam (Liche,2015: 107) menjelaskan bahwa desai within-subject yang awal mula di perkenalkan oleh B.F Skinner pada tahun 1938, yang biasa juga diseburt dengan mengguakan pendekaten N-kecil (Small-N), pada penelitian ini menggunakan desain ini karena hanya menggunakan sekelompok subjek dan setiap subjek diberikan beberapa perlakuan VB yang berbeda.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada awal penelitian masih banyak peserta didik yang masih di tunggu oleh orang tua maupun pengasuh, mereka masih menunggu anak anaknya di luar kelas, pada penelitian ini di harapkan nantianya setelah mendapatkan peralkuan pada peserta didiknya maka akan ada pengaruh perubahan prilaku pada peserta didiknya.

Untuk dapat meningkatkan kemandirian pada prilaku suka di tunggu pada peserta didik di POS Paud Mutiara Bunda peneliti memberikana metode token ekonomi untuk meningkatkan prilaku peserta didik yang masih di tunggu oleh pengasuh atau orang tua mereka, perlakuan ini di berikan pada kelompok eksperimen sedangkan pada kelompok konrol hanya sebagai pembanding, pada kelompok kontrol subjeknya adalah peserta didik yang sudah tidak di tunggu oleh orang tua atau pengasuh.

(13)

Faktor-faktor yang mendorong hasil penelitian sehingga mendapatkan hasil yang signifikan sebesar 0,030 adalah:

1. Adanya kerja sama yang bagus antara pihak sekolah, orangtua dan peneliti, sehingga memberikan kelancaran dalam memberikan perlakuan

2. Kecocokan metode token ekonomi dengan usia anak 2-3 tahun, karena pada tahap

perkmbangan ini pemberian reward masih sangat kuat, metode token yang di berikan adalah berupa stiker bergambar kartuan yang disukai karena telah disesuaikan oleh peneliti pada uji percobaan sebelum pengambilan data

3. Keberhasilan orang tua karena telah memberikan pengertian terhadap anaknya bahwa kalo sekolah tidak perlu di tunggu.

Ada juga faktor eksternal yang menyebabkan beberapa kendala dalam penelitian diantaranya: 1. Awal kali pertemuan peneliti dengan peserta didik , peserta didik kurang mampu beradaptasi

dengan peneliti, akhirnya mereka menangis.

2. Adanya rasa iri yang timbul pada subjek pada kelompok kontrol yang menginginkan setiker token yang sama

Namun semua faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penelitian ini mampu teratasi oleh peneliti karena adanya kerjasama yang baik antara semua pihak.

Pengambilan data awal atau observasi awal di lakukan pada tanggal 13 April kemudian mulai pemberian perlakuan atau melakukan eksperimen pada tanggal 14-15 April 2016 di mulai pada jam 07.00 sampai jam 10.30 WIB di sekolah Pos PAUD Mutiara Bunda.

Hasil penelitian ini menghasilkan gambaran bahwa penerapan metode token ekonomi mampu meningkatkan kemandirian pada prilaku suka di tunggu pada anak usia dini agar proses pembelajaran mampu berjalan dengan lebih baik, dalam hal ini peneliti menyarankan hendaknya guru

(14)

pada rentangan umur 4-6 tahun namun dengan menggunakan pengukuran terhadap variabel yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN

Tedjasaputra.S.Mayke. (2001). Jakarta:Bermain Mainan dan Permainan. PT Gramedia Widiasarana. Indonesia

Marliani,Rosleni.(2013). PsikologiEksperimen. Bandung :CV.PustakaSetia Alwisol.(2009). Psikologi Kepribadian. Malang :UMM Press

Jannah Miftakhul. Putra, Dwi, Kusuma. 2013, Perkembangan Kemandirian Anak Usia Dini (Usia 4-6 Tahun) Di Taman Kanakkanak Assalam Surabaya. Surabaya,Program Studi Psikologi Universitas Negeri Surabaya.

(15)

AUTHORE NOTE

(16)

LAMPIRAN Dokumentasi penelitian “ kondisi setelah di berikan perlakuan”

(17)
(18)

Gambar

Tabel. 3 Grafik

Referensi

Dokumen terkait

154 NURHALIZAH FADILA CAPAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

Timbangan ini dipasang pada bagian luar pabrik Casting (Penuangan) yang digunakan untuk menimbang MTC (Metal Transportation Car), yang digunakan untuk membawa ladle yang

--- Menimbang, bahwa Memori Banding dari Kuasa Hukum Para Penggugat / Pembanding dan Kontra Memori Banding dari Kuasa Hukum Tergugat / Terbanding VI setelah diperhatikan

Slika 3.1. Shema razvoja injekcijski prešanih polimernih otpresaka [1] ... Različiti pogledi na proizvod [3] ... Proizvod kao sustav u kojem se vrši pretvorba ulaznih veličina u

Dari uji numerik yang telah dilakukan sebelumnya, dapat diihat bahwa untuk tren harga yang cenderung naik selama proses pembongkaran kapal dan periode penjualan besi tua

Akar permasalahan pembelajaran tersebut me- liputi: (1) belum adanya model dan manajemen pembelajaran yang disepakati antara kedua belah pihak, (2) belum siapnya

Nilai-nilai karakter bangsa itu berkaitan erat dengan hajat hidup dan kehidupan manusia Indonesia yang tidak hanya mengejar kepentingan diri sendiri, tetapi juga berkaitan

Dalam lingkup ini tentu diperlukan sinergi yang baik antara dokter, pasien, dan keluarga untuk mencegah peningkatan stasium gangguan ginjal itu sendiri sebab