BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang gencar melakukan pembangunan di beberapa sektor yang ada didalamnya agar pembangunan yang
dilakukan dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan pendanaan yang cukup memadai pula dan salah satu sumber pendapatan negara adalah berasal dari sektor pajak (Husni, 2008).
Target penerimaan negara dari sektor pajak setiap tahun semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari APBN. semakin meningkatnya target
penerimaan pajak, berarti pemerintah masih dapat melakukan upaya-upaya untuk menggali potensi pajak dan mengoptimalkan penerimaan pajak (Husni,2008)
Penghasilan Tidak Kena pajak (PTKP) merupakan jumlah penghasilan
tertentu yang tidak kena pajak.Untuk menghitung besar penghasilan kena pajak wajib pajak orang pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan
jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak (Siti Resmi, 2013:96). Dalam perpajakan nasional, cost of living atau perlambang biaya hidup minimum selama satu tahun diwujudkan dalam bentuk Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Oleh karena
itu, PTKP merupakan bagian tak terpisahkan dari Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi (Indraaya, 2012).
inflasi, nilai tukar rupiah, harga minyak internasional, produksi minyak mentah internasional, tingkat suku bunga, sedangkan faktor internal meliputi variabel
dasar pengenaan pajak (tax base) atau objek pajak dan tarif pajak pajak (Herdiyanto,2002:72).
Terdapat beberapa faktor yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan penyesuaian PTKP. Pertama adalah perkembangan harga kebutuhan pokok masyarakat. salah satu tolak ukur kebutuhan pokok masyarakat
adalah besaran Upah Minimum Propinsi (UMP) yang besarannya ditetapkan dengan didasarkan atas Kebutuhan Hidup Layak (KLH) dan memperhatikan
produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Pertimbangan lain mengenai perlunya perubahan PTKP adalah terkait dengan perlunya kebijakan stimulus fiskal untuk mengantisipasi perlambatan
ekonomi global, sebagai dampak krisis finansial Eropa dan Amerika Serikat tersebut, telah menyebabkan penurunan tingkat ekspor, dan berdampak pada
tidak terserapnya produk dalam negeri. Dengan demikian, disamping untuk mengantisipasi penurunan daya beli masyarakat, kebijakan penyesuaian PTKP merupakan salah satu kebijakan stimulus fiskal. Dengan adanya stimulus fiskal ini
diharapkan akan meningkatkan daya beli masyarakat yang kemudian akan berdampak pada peningkatan investasi dan produk domestik bruto.
Atas dasar perimbangan-pertimbangan tersebut, maka ditetapkan penyesuaian besarnya PTKP sebagaimana diatur dalam PMK NO
berbagai pihak karena berimplikasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah, sejak awal ditetapkannya UU PPh telah melakukan penyesuaian
besaran PTKP sebanyak tujuh kali dimana dalam satu dekade terakhir saja telah terjadi penyesuaian sebanyak empat kali, yakni pada 2006, 2009, 2013, 2015.
Kebijakan penyesuian PTKP dilatarbelakangi oleh kondisi perekonomian yang menunjukkan kecenderungan perlambatan sejak tahun 2013. Hingga pada triwulan I tahun 2016 perekonomian hanya muncul sebesar 4,9 persen dari target
APBN. Kinerja ekonomi negara mitra dagang utama yang melambat, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, menjadi salah satu perlambatan pertumbuhan
ekonomi nasional.
Pada Tanggal 24 Juni 2016 Kementerian Keuangan Republik Indonesia secretariat Jenderal Biro Komunikasi dan Layanan Informasi mengeluarkan siaran
pers No.31/KLI/2016 terkait Penghasilan Tidak Kena Pajak Naik .
Dari sisi penerimaan pajak, naiknya PTKP berarti akan menurunkan
Penghasilan Kena Pajak (PKP). Sehingga, konsekuensinya akan ada penurunan penerimaan PPh Orang Pribadi dibandingkan proyeksi penerimaan yang seharusnya dapat diperoleh. untuk mengantisipasi berkurangnya penerimaan PPh,
DJP dapat melakukan ekstensifikasi. salah satunya melalui pengampunan pajak (Tax Amnesty) untuk menambah jumlah wajib pajak dan meningkatkan kesadaran
serta kepatuhan wajib pajak itu sendiri. Kebijakan tax amnesty di harapkan mampu memberikan makna baru keadilan, yaitu dengan menambah jumlah wajib
kebawah yang memberikan kontribusi perpajakan melainkan juga menjaring wajib pajak baru non karyawan yang selama ini menyembunyikan harta dan
menghindari pajak.
Namun pemerintah memandang perlu untuk memberikan stimulus
ekonomi guna mendorong peningkatan permintaan keseluruhan pada saat kondisi ekonomi sedang dalam perlambatan. sekaligus mendorong membesarnya tax base dari penerimaan PPN.
Dari sisi ekonomi makro kenaikan PTKP bisa berdampak positif,terutama pada naiknya pendapatan siap belanja (disposable income). sehingga pada
gilirannya akan mendorong permintaan baik melalui konsumsi rumah tangga maupun investasi.
Pada akhirnya kebijakan untuk menaikkan PTKP Perlu didukung bersama,
selain untuk memberikan perlindungan kepada para pekerja dan pegawai dengan penghasilan di bawah 4,5 juta per bulan, lebih lanjut kebijakan ini diharapkan
dapat menjadi motor penggerak roda perekonomian Indonesia. Dengan adanya langkah strategis yang sedang, tengah, dan akan dilakukan oleh DJP untuk mengantisipasi potensial loss kebijakan kenaikan batas PTKP ini sudah pada track
yang benar. Kebijakan yang saling beriringan ini akan menjadi strategi yang baik untuk mengamankan penerimaan Negara (APBN) sehingga stabilitas
perekonomian terjaga dan target penerimaan pajak tercapai.
Melihat permasalahan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
“Dampak Perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Terhadap
Jumlah Penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Periode 2014-2016) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia”.
B. Tujuan dan Manfaat Tugas Akhir 1. Tujuan Tugas Akhir
a. Untuk mengetahui Bagaimana Dampak perubahan PTKP berpengaruh
terhadap penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia
b. Untuk mengetahui Apa saja Kendala yang dihadapi dalam mencapai target Penerimaan pajak dengan adanya perubahan PTKP baik bagi fiskus maupun wajib pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Medan Polonia
c. Untuk mengetahui masalah yang terjadi jika kenaikan PTKP tidak
didukung dengan tingkat kesadaran wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia
2. Manfaat Tugas Akhir : 2.1. Bagi Mahasiswa
a. Menambah wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai “Dampak Perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Terhadap jumlah penerimaan Pajak Penghasilan Orang
b. Memperluas ilmu pengetahuan dan sebagai sarana penerapan teori yang telah di peroleh di bangku kuliah kedalam praktek
yang sesungguhnya, khususnya dalam melakukan perhitungan besarnya pajak terutang yang dilakukan wajib
pajak orang pribadi.
c. Meningkatkan motivasi belajar mahasiswa dalam bidang perpajakan seiring dengan ketentuan dan peraturan yang
sewaktu-waktu dapat berubah.
2.2 Bagi Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU
a. Memperluas pandangan masyarakat terhadap sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan dari lembaga pendidikan
nasional khususnya: Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU.
b. Untuk menciptakan rasa tanggung jawab, profesionalitas serta kedisiplinan yang nantinya sangat di butuhkan ketika memasuki dunia kerja yang sebenarnya.
c. Untuk meningkatkan interaksi antara mahasiswa, dosen, program Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu
2.3. Bagi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Polonia a. Membina kerja sama antara Lembaga Pendidikan Perguruan
Tinggi dengan instansi Pemerintah khususnya di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia.
b. Memberikan informasi kepada pihak-pihak yang membutuhkan dan dapat sebagai bahan masukan informasi kepada para pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan
Polonia untuk di jadikan panduan mengenai kemauan dan kemampuan Wajib Pajak dalam membayar pajak.
c. Memberi kontribusi yang baik bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia dalam meningkatkan potensi pajak yang ada dan dapat meningkatkan pelayanan bagi para wajib
pajak.
C. Uraian Teoritis 1. Pengertian Pajak
Pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah: Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara dan yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi
2. Sistem Pemungutan Pajak
Sistem pemungutan pajak di Indonesia sesuai dengan asas pemungutan
pajak menganut system pemungutan pajak Self Assessment System dan Withholding Assesment System.
a. Official Assessment Sistem adalah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pemerintah (petugas pajak) untuk menentukan besarnya pajak yang
terutang oleh wajib pajak. sistem pemungutan pajak ini sudah tidak berlaku lagi setelah reformasi perpajakan pada
tahun 1984. Ciri- ciri sistem pemungutan pajak ini adalah : pajak terutang di hitung oleh wajib pajak
1) wajib pajak bersifat pasif
2) Hutang pajak timbul setelah petugas pajak menghitung pajak yang terutanng dengan
diterbitkannya surat ketetapan pajak.
b. Self Assessment System adalah system pemungutan pajak ini memberikan wewenang sendiri, dan membayar sendiri
pajak yang seharusnya dibayar. Ciri-ciri sistem pemungutan pajak ini adalah :
1) pajak yang terutang di hitung sendiri oleh wajib pajak 2) wajib pajak bersifat aktif dengan melaporkan dan
c. Withholding system adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pihak lain atau pihak ketiga yang
memotong dan memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
3. Pajak Penghasilan ( PPh) Pasal 21
Pajak Penghasilan Pasal 21 merupakan pajak penghasilan ( PPh) yang dikenakan atas jasa penghasilan berupa gaji, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri. PPh pasal 21 dipotong, di setor, dan dilaporkan oleh pemotong yaitu : Pemberi Kerja, bendaharawan Pemerintah, dana pensiun Perusahaan, dan Penyelenggara kegiatan. PPh 21 yang telah dipotong dan disetorkan
dengan benar oleh pemberi kerja atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaan dari satu pemberi kerja merupakan
pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Dasar Hukum pengenanaan PPh Pasal 21 Undang- Undang Pajak Penghasilan, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 68 Tahun 2009
tentang pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa uang pesangon, Uang Tebusan Pensiun, dan Tunjangan Hari Tua (JHT) beserta peraturan
Penghasilan hasil reformasi perundang-undangan yang berlaku per 1 Januari 2009 yaitu Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak
Penghasilan. Berdasarkan UU No.36 Tahun 2008 tentang Pajak atas Penghasilan Kena Pajak adalah seperti tabel berikut :
Tabel 1.1 Lapisan Penghasilan Kena Pajak dan Tarif
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000,-
Diatas Rp 50.000.000 - Rp 250.000.000 Diatas Rp 250.000.000 - Rp 500.000.000
Diatas Rp 500.000.000,-
5%
15% 25%
30%
4. Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah besarnya penghasilan yang
menjadi batasan tidak kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi, dengan kata lain apabila penghasilan Neto wajib pajak orang pribadi yang menjalankan
usaha dan/atau pekerjaan bebas jumlahnya dibawah PTKP tidak akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 dan apabila berstatus sebagai pegawai atau penerima penghasilan sebagai objek PPh Pasal 21. Besarnya
PTKP untuk Tahun 2014, 2015,2016 terdiri dari :
a. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk tahun pajak
2014 adalah sebagai berikut :
1) Rp 24.300.000,00 ( dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah)
2) Rp 2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk wajib pajak yang kawin;
3) Rp 24.300.000,00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) Tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung
dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan;
4) Rp 2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.
b. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP) untuk tahun pajak 2015 sebagai berikut :
1) Rp 36.000.000,00 (Tiga puluh enam juta rupiah) untuk diri wajib pajak orang pribadi;
2) Rp 3.000.000,00 (Tiga juta rupiah) tambahan untuk wajib pajak
yang kawin;
3) Rp 36.000.000,00 (Tiga puluh enam juta rupiah) tambahan untuk
seorang isteri yang penghasilannya di gabung dengan penghasilan suami sebagaimana di maksud dalm pasal 8 ayat (1)
4) Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3(tiga) orang setiap keluarga.
c. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk tahun pajak 2016 sebagai berikut :
1) Rp 54.000.000,00 (lima puluh empat juta rupiah) untuk diri
wajib pajak orang pribadi;
2) Rp 4.500.000,00 (empat juta lima ratus rupiah) tambahan untuk
wajib pajak yang kawin;
3) Rp 54.000.000,00 (lima puluh empat juta rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya di gabung dengan
penghasilan suami sebagaimana di maksud dalam pasal 8 ayat (1) Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak
Penghasilan;
4) Rp 4.500.000,00 (empat juta lima ratus ribu rupiah ) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3(tiga) orang untuk
5. Pengertian Kesadaran wajib Pajak
Kesadaran wajib pajak adalah suatu kondisi dimana wajib pajak
mengetahui, mengakui, menghargai, dan mentaati ketentuan perpajakan yang berlaku serta memiliki kesungguhan dan keinginan untuk memenuhi
kewajiban pajaknya.
Wajib pajak dikatakan memiliki kesadaran apabila (Manik Asri, 2009) : a. Mengetahui adanya undang-undang ketentuan perpajakan
b. Mengetahui fungsi pajak untuk pembiayaan Negara
c. Memahami bahwa kewajiban perpajakan harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
d. Memahami fungsi pajak untuk pembiayaan Negara
e. Menghitung, membayar, melaporkan pajak dengan sukarela
f. Menghitung, membayar, melapor pajak dengan benar
6. Dampak Perubahan PTKP pada perekonomian ditinjau dari sudut pandang perpajakan
Disamping pengaruhnya terhadap penerimaan Perpajakan, peningkatan PTKP dipandang memiliki dampak bagi perekonomian secara
makro karena dengan naiknya PTKP sebagai angka pengurang dalam perhitungan pajak penghasilan orang pribadi,maka pajak yang dibayarkan
wajib pajak orang pribadi akan lebih kecil.pengaruhnya pada disposable income atau daya beli masyarakat akan meningkat.sebagaimana penelitian
income sebesar 2,63%. Disposable Income dapat diartikan sebagai
penghasilan yang dapat dibelanjakan rumah tangga.
PPN dan PPNBM menjadi salah satu indikator karena konsumsi
rumah tangga berupa barang terdapat bagian PPN atau PPNBM (untuk barang-barang mewah) didalamnya. Kemudian PPh 4 ayat (2) pun cukup menggambarkan pengaruh kenaikan PTKP karena semakin kecil pajak yang
dibayarkan rumah tangga,maka rumah tangga akan memiliki uang yang banyak untuk melakukan investasi atau simpanan,seperti deposito, obligasi,
surat utang negara, dan lain-lain. Hasil investasi tersebut tentu dikenakan pajak.
D. Ruang Lingkup Tugas Akhir
Adapun yang menjadi ruang lingkup Tugas Akhir adalah Sebagai berikut: 1. Dampak perubahan PTKP berpengaruh terhadap penerimaan pajak
penghasilan orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan
Polonia.
2. Kendala yang dihadapi dalam mencapai target penerimaan pajak dengan adanya perubahan PTKP baik bagi fiskus maupun wajib pajak di Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia.
3. Masalah yang terjadi jika kenaikan PTKP tidak didukung dengan tingkat
E. Metode Penelitian 1. Jenis Data
Data dalam laporan ini dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
a. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber asli,
hasil wawancara yang kompeten.
b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari sumber yang telah ada misalnya, studi kepustakaan dan
dokumentasi.
2. Sumber Data
a. Studi Literatur (Kepustakaan)
Dasar teori yang mendukung laporan ini menyangkut masalah yang
dibahas yang berasal dari buku-buku, peraturan perundang-undangan perpajakan, artikel ilmiah, catatan-catatan maupun bahasa tertulis
yang berhubungan dengan Laporan Tugas akhir ini. b. Observasi Lapangan
Pada tahapan ini penulis melakukan pengamatan secara langsung dan
pencatatan sesuai sistematis terhadap data yang ada Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia.
Dalam metode ini Penulis langsung turun kelapangan Untuk mengamati, mendengarkan, serta mencatat dan menyimpulkan
mengenai hal-hal yang berhubungan dengan laporan ini. 1) Data Wawancara
Penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada pihak-pihak KPP yang dianggap mampu memberikan masukan data dan informasi yang diberikan bagi penyusunan laporan ini
2) Data Dokumentasi
Kegiatan yang mengumpulkan dokumen atau informasi yang
berhubungan dengan objek yang dianggap sebagai bukti otentik yang dianggap sah dalam melengkapi Laporan Tugas Akhir.
4. Alat Pengumpul Data
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa alat
pengumpul data, seperti : dengan melakukan pencatatan, merekam dan memotret serta melakukan wawancara dengan beberapa informan terkait.
5. Informan Penelitian
Adapun informan yang membantu penulis dalam mengumpulkan data
terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Kepala KPP Pratama Medan Polonia dan fiskus sebagai informan
kunci (key informan), dan