• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKTAT PROGRAM STUDI KEWIRAUSAHAAN SEMES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DIKTAT PROGRAM STUDI KEWIRAUSAHAAN SEMES"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM STUDI KEWIRAUSAHAAN

MATA KULIAH

KREATIVITAS DAN INOVASI

Kode MK: KEW 3102

SEMESTER 2

Nama Dosen

Pieter Radiantius, S.Kom, M.M.

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN

SHANTI BHUANA

Bengkayang, Kalimantan Barat

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas segala penyertaan dan berkat-Nya

sehingga penulis telah menyelesaikan penyusunan Diktat Kreativitas dan Inovasi untuk

Program Studi Kewirausahaan. Penyusunan diktat ini bertujuan untuk menunjang program

pengajaran mata kuliah Kreativitas dan Inovasi pada semester dua di Sekolah Tinggi Ilmu

Manajemen (STIM) Shanti Bhuana, Bengkayang.

Mata kuliah Kreativitas dan Inovasi memberikan inspirasi untuk mengembangkan ide

dan gagasan yang pada akhirnya bertujuan untuk memotivasi para mahasiswa agar memiliki

jiwa wirausaha dan siap dalam menghadapi tantangan global dengan berbekal ilmu teori

dan berlandaskan semangat amare. Pembahasan materi ditekankan pada masalah

menciptakan ide yang kreatif dan inovatif dengan tetap mengedepankan budaya amare.

Diktat ini meliputi sebelas bab yaitu Kreativitas, Inovasi, Inovasi Produk Inovasi Jasa dan

Manajemen Inovasi dan Teknologi, Model Bisnis Inovasi, Ekonomi Inovasi dan Ekosistem

Inovasi, Inovasi di Indonesia, Ekonomi Kreatif, Sumber Daya Ekonomi Kreatif, Mengelola Ide

dan Gagasan, Cetak Biru Industri Kreatif di Indonesia dan Inovasi dan Kreatif dalam

Berwirausaha.

Demikian semoga diktat Kreativitas dan Inovasi ini dapat bermanfaat bagi para

mahasiswa-mahasiswi program studi Kewirausahaan STIM Shanti Bhuana Bengkayang.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I KREATIVITAS ... 1

BAB II INOVASI ... 5

BAB III INOVASI PRODUK, INOVASI JASA DAN MANAJEMEN INOVASI DAN TEKNOLOGI... 7

BAB IV MODEL BISNIS INOVASI ... 15

BAB V EKONOMI INOVASI DAN EKOSISTEM INOVASI ... 22

BAB VI INOVASI DI INDONESIA ... 29

BAB VII EKONOMI KREATIF... 36

BAB VIII SUMBER DAYA EKONOMI KREATIF ... 42

BAB IX MENGELOLA IDE DAN GAGASAN ... 46

BAB X CETAK BIRU INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA ... 52

BAB XI INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM BERWIRAUSAHA ... 56

(4)

BAB I

KREATIVITAS

1.1 KONSEP DAN KONTEKS KREATIVITAS

“e ara eti ologi, kata kreati itas ya g dala ahasa I ggris reati it asal

ula ya dia il dari ahasa lati , yaitu reo ya g arti ya e iptaka atau e uat .

Konsep kreativitas memiliki bahasan yang luas, yaitu menyangkut hubungan antara

kreativitas dengan inteligensi, mental, tipe dan kemampuan personal, kesehatan, mental,

pendidikan, dan pelatihan, teknologi, proses pembelajaran, dan mengajar.

Dari sudut pandang psikologis, kreativitas adalah suatu proses mental dalam

memunculkan ide-ide dan konsep-konsep baru atau keterkaitan antara ide-ide baru dengan

konsep yang ada, agar ide-ide baru dan konsep-konsep baru tersebut menjadi nilai yang

nyata, maka ide-ide tersebut ditransformasikan dan diimplementasikan menjadi tindakan

nyata. Sehingga, kreativitas baru bernilai jika ditransformasikan melalui inovasi. Seperti dikemukakan oleh Gurteen (1998) bahwa kreativitas sebagai penghasil ide-ide, sedangkan

inovasi merupakan perbuatan mentransformasikan ide-ide tersebut ke dalam tindakan

melalui seleksi, perbaikan, dan penerapan.

Howkins (2001 : ix) mengatakan bahwa kreativitas muncul apabila sseorang berkata,

mengerjakan, dan membuat sesuatu yang baru, baik dalam pengertian menciptakan sesuatu

dari yang tadinya tidak ada maupun dalam pengertian memberikan karakter baru pada

sesuatu. Ora g ya g kreatif seri g dise ut reator , yaitu setiap orang yang menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru. Definisi yang hampir sama dikemukakan oleh UNCTAD

dan UNDP (2008: 10), bahwa kreativitas sebagai proses dimana ide-ide dihasilkan,

terinteralisasi, dan ditransformasikan kedalam sesuatu yang bernilai.

Kata kreativitas berkaitan dengan unsur keaslian (orisinalitas), imajinasi, inspirasi,

gagasan, kecerdikan, dan penemuan-penemuan (UNDP dan UNCTAD, 2008:3,11-12).

Dikatakan kreatif apabila penemuannya mengandung pembaruan, berdasarkan pada

imajinasi, inspirasi, kecerdikan, dan penemuan. Konsep kreativitas mengandung lima unsur

(5)

1. Orisinalitas, mengandung arti penciptaan sesuatu dari yang belum ada sebelumnya atau memperbarui sesuatu yang telah ada.

2. Berimajinasi, merupakan proses berpikir tentang sesuatu yang baru. 3. Inspirasi adalah gagasan-gagasan baru yang dapat divisualisasikan

4. Kecerdikan merupakan kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak 5. Penemuan merupakan sesuatu yang baru ditemukan yang sebelumnya belum ada.

Thedeo Levit mengatakan bahwa kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru

(creativity is thinking new things). Hakikat kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang

tidak ada atau memperbarui kembali sesuatu yang telah ada (Zimmerer, 1996). Hal yang

sama mengenai hakikat kreativitas juga dikemukakan oleh oleh West (2005: 15) bahwa

esensi dari kreativitas terletak pada kemampuan menghasilkan gagasan baru, mengerjakan

sesuatu dengan cara yang berbeda, dan memiliki pendekatan alternatif.

Hasil dari kreativitas adalah produk kreatif (Creative product) yang didefinisikan

sebagai barang-barang dan jasa-jasa yang memiliki nilai ekonomi yang dihasilkan dari

kreativitas (Howkins, 2001 : x). Hasil dari kreativitas bisa diamati dari segi produk, proses,

strategi, metode, dan desain baru yang dihasilkan.

1.2 TERJADINYA PROSES KREATIF

Menurut Howkins (2001: 16), ada lima tahap proses kreatif yag disebut a five-fold mix of

dreams and analysis, intuitive jumps, and cold-blooded, calculation (terdapat lima tahap

yang terjalin secara integral, yang dimulai dari khayalan-khalayan, analisis,

lompatan-lompatan ide/gagasan/intuitif, dan diaplikasikan dengan tenang, saksama, dan penuh

perhitungan). Kelima tahapan tersebut disingkat menjadi RIDER (Review, Incubation, Deams,

Excitement, Reality Check).

1. Peninjauan/pengkajian ulang (Review)

Peninjauan merupakan suatu proses pengambilan persediaan tentang sesuatu,

menyangkut apa yang ingin diketahui (curious), membangun hubungan-hubungan

(connections), bertanya tentang apa yang telah terjadi, dan mengapa? (asking what was

that? and why? ). Pada tahap ini seseorang mempersiapkan diri untuk mengidentifikasi

masalah, tantangan, dan memecahkan masalah dengan banyak belajar, berpikir,

(6)

2. Inkubasi (Incubation)

Inkubasi merupakan pembiaran ide-ide kita untuk saling mencocokannya sendiri, yang

dapat terjadi atau muncul beberapa jam atau bulan, atau ketika beristirahat. Pada tahap

ini, seseorang mengambil waktu untuk meninggalkan perkara, istirahat dan santai,

bebas dari rutinitas berpikir. Orang kreatif selalu mengenal kapan inkubasi diperlukan

dan memiliki sumber-sumber seperti waktu, uang, dan apa saja yang perlu dimiliki dan

disediakan.

3. Mengkhayal (Dreams)

Mengkhayal merupakan aaktivitas pikiran dalam berkelana pada alam bawah sadar,

penggalian, dan penjelajahan simbol-simbol, khayalan, mimpi-mimpi, dan cerita-cerita.

Pada tahapan ini, ide atau gagasan-gagasan bermunculan dalam bentuk penyelesaian,

cara kerj, dan jawaban-jawaban baru dalam penciptaan.

4. Rangsangan (Excitement)

Rangsangan merupakan perangkat yang memperkuat loncatan intuitif dan arah

perubahan yang pergerakannya setengah diperhitungkan.

5. Pemeriksaan secara nyata (Reality check)

Pemeriksaan secara nyata merupakan analisis secara nyata untuk menjamin atau

memastikan bahwa khayalan-khayalan dan intuisi kita tidak terlalu jauh dan dapat

diwujudkan. Pada tahap ini, ide atau kreasi baru harus diwujudkan dalam relaitas. Tentu

saja diperlukan pemikiran kritis dan konvergen.

1.3 MENGELOLA KREATIVITAS

1.3.1 MENGELOLA KREATIVITAS INIDIVIDU

Pa lo Pi asso e gataka ah a setiap orang dilahirkan memiliki kreativitas, tetapi yang menjadi masalah adalah agai a a e gelola kreati itas terse ut . Artinya

setiap orang yang dilahirkan di dunia ini memiliki potensi kreativitas yang sama, tetapi yang berbeda adalah hasrat dan motivasi serta lingkungan yang dihadapi untuk mengembangkan kreativitasnya.

Kreativitas pribadi mengandung arti kemampuan individu untuk menciptakan ide-ide

baru dan perspektif yang relevan melalui teknik-teknik dan pelatihan-pelatihan, seperti yang

(7)

mengatakan unsur-unsur penting untuk mengembangkan kreativitas individu sebagai

berikut:

 Memahami proses berpikir kreatif

 Mengidentifikasi blok untuk berpikir kreatif dan ketrampilan individu dengan bantuan manajer untuk meningkatan respon kreatif.

 Menggunakan metode berpikir kreatif lebih sering untukmendapatkan ide-ide segar dan menemukan solusi permasalahan lebih cepat.

 Membiarkan visi kreatif pribadi menjalankan ide kreativitas untuk membantu individu/manajer mencapai tujuan pribadi dan profesional.

1.3.2 MENGELOLA KREATIVITAS PERUSAHAAN

Perusahaan harus menyadari bahwa salah satu letak capital asset-nya adalah

kreativitas yang terdapat pada pegawainya. Melaui kreativitas, hasil karya yang diciptakan

oleh setiap individu menjadi berbeda dan unik. Oleh karena itu, perusahaan harus

memahami pemikiran kreatif setiap individu yang bergabung di dalam perusahaan untuk

meningkatkan potensi pemikiran baru.

Bakker (2006) mengungkapkan pentingnya kreativitas dalam proses pengembangan

bisnis sebagai berikut :

1. Kreativitas membawa ide-ide inovatif, produk, layanan, dan kepuasan pelanggan

lebih besar.

2. Pendekatan kreatif akan mendorong kepemimpinan dan membantu hubungan lebih

dekat serta membuat kehidupan lebih memuaskan.

3. Penemuan kreativias memberikan makna lebih besar terhadap pekerjaan.

4. Penemuan kreativitas membuka peluang atau kemungkinan baru.

Kesuksesan bisnis perusahaan dimulai melalui pengelolaan dan pembuatan

segmentasi pasar untuk meningkatkan produk dan jasa mereka. Namun, perjalanan dari

input ataupun output itu menjadi sebuah inovasi membutuhkan proses, dan proses

tersebutlah yang akan menjadi produk atau jasa (output) menjadi lenih menarik dan unik.

Kreativitas memegang peranan terpenting didalam proses menghasilkan output terbaik.

Oleh karena itu, kreativitas dalam perusahaam perlu dikelola dan diberdayakan untuk

(8)

BAB II

INOVASI

2.1 KONSEP DAN KONTEKS INOVASI

“e ara eti ologi, kata i o asi ya g dala ahasa I ggris dieja de ga i o atio

asal ula ya dia il dari ahasa Lati yaitu i o otus , yang dalam bentuk kata bendanya

dieja de ga i o are u tuk e yataka pe arua atau peru aha dari akar kata ke dala suatu ya g aru .

Peter F Drucker (1991: 21) inovasi adalah alat spesifik wirausahawan yaitu suatu alat

untuk memanfaatkan perubahan sebagai peluang bagi bisnis yang berbeda, inovasi dapat

ditampilkan sebagai ilmu, dapat dipejari dan dapat dipraktekkan. Definisi hampir sama

dikemukakan oleh Avanti Fontuna (2009: 22) bahwa inovasi adalah pengenalan cara-cara

baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentrandformasi input menjadi output

sehingga menghasilkan perubahan besar dalam perbandingan antara nilai guna dan harga

yang ditawarkan kepada konsumen atau pengguna.

Inovasi memiliki beberapa makna penting secara multidimensional yaitu:

1. Inovasi Sebagai Pembaruan (Innovation as Novelty)

Pada hakikatnya, inovasi adalah pembaruan atau kebaruan, yaitu adanya nilai tambah

baru bagi penggunanya. Objek inovasi adalah nilai tambah suatu produk, proses, atau

jasa. Inovasi selalu dinyatakan dalam bentuk solusi teknologi yang lebih baik diterima

masyarakat. Kebaruan hanya merupakan konsekuensi dari implementasi praktis inovasi.

Parameter kunci dari inovasi adalah nilai tambah bagi pengguna.

2. Inovasi Sebagai Perubahan (Innovation as Change)

Inovasi merupakan perubahan. Perubahan bisa dalam bentuk transformasi, difusi yang

berujung pada perubahan. Dilihat dari dimensi waktu inovasi, inovasi lebih menekankan

pada objek baru, namun sebenarnya lebih menekankan pada proses baru yang dapat

mengakibatkan objek baru, dengan demikian inovasi mengacu pada transformasi untuk

(9)

3. Inovasi Sebagai Keunggulan (Innovation as Advantage)

Inovasi adalah keunggulan, dengan inovasi berarti kita menciptakan

keunggulan-keunggulan dalam bentuk yang baru. Inovasi bisa dalam berbagai bentuk seperti inovasi

produk, proses, metode, teknologi, dan manajemen.

Inovasi juga bisa berarti kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka

memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi dan menciptakan peluang untuk

meningkatkan dan memperkaya kehidupan. Jadi, inovasi merupakan salah satu bentuk

usaha atau tindakan dari kreativitas atau proses penggunaan atau implementasi gagasan,

pemecahan masalah, atau peluang baru yang muncul dari kreativitas. Seperti dikemukakan

Zimmerer (1996) bahwa inovasi adalah melakukan sesuatu yang baru (innovation is doing new things), sedangkan kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru (creativity is thinking bew things).Dalam bentuk bagan, maka keterkaitan antara kreativitas dan inovasi

dapat digambarkan sebagai berikut :

(Dhewanto, 2013) I D E

P E O P L E

C R E A T I V I TY

(10)

BAB III

INOVASI PRODUK, INOVASI JASA

MANAJEMEN INOVASI DAN TEKNOLOGI

3.1 PENTINGNYA STRATEGI INOVASI PRODUK DAN JASA

Inovasi produk dan jasa merupakan hasil dari pengembangan produk baru oleh suatu

perusahaan atau industri baik yang sudah ada maupun belum. Dari produk lama yang telah

mencapai titik jenuh di pasaran, diperlukan sebuah inovasi untuk mengganti produk lama

tersebut. Penggantian ini dapat berupa produk pengganti yang secara total baru atau

dengan perkembangan produk lama yang lebih modern dan up to date, sehingga dapat

terus meningkatkan keinginan konsumen dalam keputusan pembelian produk tersebut.

Merilis produk baru yang inovatif dan meningkatkan loyalitas pelanggan (Razeghi, 2008).

Pengembangan produk sangat penting untuk keberlangsungan bisnis, terutama

dalam membentuk loyalitas pelanggan. Adanya fenomena PLC (Product Life Cycle) dimana

sebuah perjalanan produk atau jasa mengalami tahapan Pengenalan produk (Introduction),

Pertumbuhan (Growth), Kesuksesan atau kejayaan (Maturity), dan Penurunan (Decline),

seperti pada gambar sebagai berikut :

(11)

Inovasi produk dan jasa secara lebih baik dapat terlaksana dengan memahami praktik apa

yang terbaik yang harus diadopsi untuk proses pengembangan produk, dan kemudian

mengadopsi praktik-praktik ini untuk mengulangi kesuksesan dan proses maturity dari

perusahaan-perusahaan yang memiki performa terbaik.

Semua perusahaan harus memperbarui produk dan layanan mereka untuk bertahan

hidup. Menurut Peter Drucker (1954), sebuah perusahaan yang kompetitif memiliki dua

tujua pe ti g yaitu e iptaka ilai pela gga ustu er alue (atau pemasaran) dan inovasi.

Inovasi produk dan jasa dipandang semakin penting secara strategis karena pasar

internasional memiliki kompetisi yang semakin meningkat. Pesaing-pesaing semakin

bermunculan dan tak dapat dihindari. Customer sekarang lebih cerdas dan menjadi lebih

selektif dalam memilih produk dan jasa yang akan dikonsumsinya. Hasilnya adalah pasar

yang semakin tersegmen karena produk dan jasa yang manfaatnya semakin terspesifikasi,

juga product life cycle yang semakin pendek karena banyaknya pesaing yang memasuki

pasar.

3.2 PROSES PENGEMBANGAN PRODUK

(Holtzman, 2011)

Concept Screening Concept Generation

Developing the operations process

Preliminary Design

Design evaluation and improvement

(12)

Gambar diatas menggambarkan proses pengembangan ketika bergerak melalui

serangkaian tahapan. Berikut penjelasan setiap tahapnya

a. Penciptaan Konsep (Concept Generation)

Proses awal dari perkembangan produk baru adalah pencetusan gagasan yaitu

pencarian sistematis terhadap ide-ide produk baru. Perusahaan biasanya harus harus

banyak mengeluarkan gagasan yang baru dan terbaik. Pencarian untuk gagasan produk

baru ini seharusnya di lakukan secara baik dan sistematis. Pencetusan atau penciptaan

gagasan ini dapat di peroleh dari berbagai sumber, yaitu :

 Sumber Internal : Gagasan produk dapat bersumber dari dalam perusahaan, baik dari manajemen puncak, karyawan dan sebagainya yang ada dalam lingkungan

perusahaan.

 Pelanggan : gagasan produk dapat berasal dari mengamati dan mendengarkan pelanggan. Kebutuhan dan keinginan pelangan di ketahui melalui survey konsumen.

 Pesaing : Gagasan produk dapat juga berasal dari menganalisis produk pesaing. Perusahaan dapat menganalisi iklan para pesaing dan bentuk komunikasi lain untuk

memperoleh rahasia produk baru mereka. Perusaan dapat pula membeli produk

pesaing dan membongkarnya bagai mana produk itu bekerja.

 Distributor : Distributor harus dekat dengan pasar dan banyak menyerap informasi tentang, masalah-masalah konsumen dan membantu kemungkinan di

kembangkannya produk baru. Distribotor dapat memberitahukan perusahaan

tentang konsep, teknik dan bahan–bahan baru yang di gunakan untuk mengembangkan produk baru.

b. Penyaringan Konsep (Concept Screening)

Tahap ini merupakan langkah lanjutan setelah terciptanya ide, yang bertujuan

mengidentifikasi konsep-konsep yang paaling menjanjikan dengan mendefinisikan

secara teliti strategi pengembangan produk barunya, menegaskan produk dan pasar apa

yang akan ditekankan, menegaskan apa yang di inginkan perusahaan dari produk

barunya, pangsa pasar, serta hal-hal lainnya.

c. Penyisihan ide/gagasan (Preliminary Design)

Setelah melalui dua tahap diatas, maka proses selanjutnya adalah menyisihkan gagasan

(13)

d. Pengembangan dan Pengujian Konsep (Design evaluation and improvement)

Gagasan yang telah lolos dari penyaringan menjadi satu konsep produk yang akan di

kembangkan dan di lakukan pengujiannya. Pengembangan konsep- tugas pemasar

adalah mengembangkan gagasan ini menjadi alternative konsep produk, mengetahui

sejauh mana setiap konsep menarik perhatian konsumen dan memilih konsep terbaik.

Pengembangan dan pengujian konsep ini harus di rancang sedemikian rupa sehingga

dapat di ketahui reaksi dari para pelangan terhadap setiap jenis produk baru tersebut.

e. Pengujian terhadap model kerja dan hasil akhir (Protoyping and final design)

Setelah mengembangkan konsep produk, manajemen dapat mengevaluasi suatu daya

tarik dari usulan bisnis. Manajemen juga memerlukan proyeksi penjualan, biaya yang di

perlukan, serta yang akan di capai, yang mana semuanya itu harus sesuai dengan tujuan

perusahaan. Pengujian ini terdiri atas empat langkah, yaitu :

 Mengidentifikasikan ciri-ciri produk.

 Memperkirakan permintaan pasar dan persaingan serta kemungkinan produk untuk menghasilkan laba.

 Menyusun suatu program untuk mengembangkan produk

 Menetapkan tanggun jawab untuk penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan pelaksanaan produksi.

f. Pengembangan Proses Operational (Developing the operations process)

Pada proses selanjutnya, konsep produk yang telah di analisis

kemungkinan-kemungkinannya secara teoritis dan ternyata dapat di terima, maka konsep tersebut di

kembangkan. Dalam hal ini, ada tiga langkah yang perlu di lakukan, yaitu :

1. Pembuatan Model dengan 3 persyaratan :

 Harus di pandang oleh konsumen sebagai suatu perwujudan atribut-atribut pokok, seperti produk sebelumnya.

 Harus dapat bekerja dengan aman dalam keadaan dan penggunaan yang normal.

 Bisa di laksanakan oleh pabrik sesuai dengan amggaran yang tersedia.

2. Pengujian Fungsional, yaitu pengujian untuk mengetahui apakah produk tersebut

benar-benar berfungsi dengan baik dan aman baik dan aman bagi konsumen.

3. Pengujian Konsumen, yaitu mencoba konsumen untuk menilai, bagaimana

(14)

3.3 DORONGAN INOVASI

Setiap dorongan inovasi dapat datang melalui dua hal yang berbeda (Boehma, 1986;

Bullinger, 1994) :

1. Market Pull / Demand Pull

Inovasi yang datang melalui sumber ini dimulai dari ketidakpuasan customer akan suatu

produk di pasar, yang kemudian menciptakan pemecahan masalah atas permintaan

customer ini (sebuah produk untuk kebutuhan tertentu). Dorongan ini datang dari

seseorang atau sekelompok orang yang mau mengekspresikan kebutuhan pasar menjadi

produk nyata yang dapat digunakan oleh banyak orang yang membutuhkannya. Hasil

produk merupakan produk pengganti atau penambah.

2. Technology Push

Inovasi yang datang dari sumber ini dimulai dengan ketidakpuasan peneliti (internal atau

eksternal)akan produk yang sudah ada, kemudian tujuan utama adalah

mengkomersialisasikan produk baru yang belum dimengerti oleh masyarakat. Dorongan

ini tidak melihat pasar apakah penciptaan produk ini dibutuhkan sebelumnya oleh pasar

atau tidak. Hasil produk merupakan produk yang kreatif atau destruktif di pasaran.

Produk destruktif dikenal sebagai hasil dari distruptive innovation, yaitu inovasi yang

membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada,

dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.

3.4 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI PRODUK

Unilever sebagai perusahaan ketiga terbesar di dunia dalam penyedian consumer

goods, sadar jika inovasi adalah mesin penggerak pertumbuhan perusahaannya, urat nadi

kehidupan untuk bisnisnya. Disebutkan dala e site ya, asa depa ka i erga tu g pada kemampuan kami untuk mengantarkan inovasi kepada consumer secara lebih cepat

daripada pesai g ka i. ‘ahasia kesuksesa i o asi produk ereka adalah selalu

mengaitkan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan konsumen. Beberapa

contoh inovasi produk Unilever misalnya :

a. Molto Ultra Sekali Bilas (membersihkan pakaian dengan lebih sedikit air)

Berawal dari ide untuk mengurangi penggunaan air dalam mencuci, terutama dalam hal

membilas pakaian untuk meringankan pekerjaan customer mereka yang mencuci

(15)

formulanya ditemukan, mereka juga mengkampanyekan iklannya dengan pesan bahwa

customer bisa mendapatkan pakaian yang bersih dengan sekali pencucian, sehingga

dapat menghemat air untuk masa depan.

b. Rexona Active Reverse (deodoran yang cerdas)

Berawal dari tantangan untuk mengembangkan sebuah produk yang menawarkan

perlindungan ekstra saat keringat keluar lebih banyak dari biasanya sehingga seseorang

tetap segar dan percaya diri, dan hasil riset menemukan bahwa keringat emosi bisa

keluar secara instant dan sering muncul di telapak tangan dan ketiak, dan menimbulkan

bau yang lebih tidak sedap dibandingkan dengan keringat fisik., sehingga muncullah

produk Rexona Active Reverse yang aromanya teraktivitasi ketika tubuh bereaksi

terhadap situasi yang menekan.

3.5 RUANG LINGKUP DAN DIMENSI INOVASI JASA

Berikut merupakan konsep inovasi jasa yang dikemukakan oleh Miles (1993) :

a. Inovasi dalam pelayanan, inovasi jasa terkait erat dengan desain layanan dan

pe ge a ga laya a aru .

b. Inovasi dalam proses, yaitu cara-cara baru atau peningkatan dalam proses merancang

dan memproduksi jasa. Inovasi semacam ini mungkin berbasis teknologi, teknik atau

keahlian, atau organisasi kerja (misalnya restrukturisasi kerja antara para profesional).

c. Inovasi dalam perusahaan jasa, organisasi, dan industri. Meliputi inovasi organisasi,

produk jasa, proses inovasi, dan pengelolaan proses inovasi dalam organisasi jasa.

Deen Hertog e gide tifikasi e pat di e si i o asi jasa :

a. Konsep Jasa: mengacu pada konsep jasa yang baru bagi pasar tertentu atau sebuah

proporsi ilai aru . Di e erapa sektor jasa, seperti ritel, isal ya e gorga isasi

toko dengan cara yang berbeda dan menyediakan format toko yang bisa memberikan

kenyamanan konsumennya untuk berbelanja seperti adanya alunan musik, kebersihan

area toko, dan layanan informasi.

b. Interface klien: mengacu pada inovasi dalam interface antara penyedia layanan dan

pelanggan. Klien sering kali terlibat dalam produksi jasa, sehingga dapat menjadi inovasi

utama bagi banyak layanan. Contohnya, adanya fasilitas self service ketika klien

(16)

c. Sistem service delivery: sering berkaitan dengan hubungan antara penyedia jasa dan

klien. Banyak inovasi menyangkut pelayanan elektronis, misalnya, transportasi dan

kemasan inovasi. Contohnya delivery pizza, delivery KFC dan McDonald.

d. Pilihan teknologi: Teknologi informasi baru sangat penting untuk layanan karena

memungkinkan untuk efisiensi dan efektivitas dalam elemen pengolahan informasi. Kita

juga sering melihat yang diteraapkan oleh beberapa minimarket dan supermarket dan

Kartu Jakarta Sehat (KJS)yang diterapkan oleh pemerintah Jakarta untuk memberikan

fasilitas layanan kesehatan gratis untuk masyarakat Jakarta.

3.6 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI JASA

1. PT. Bank Central Asia, Tbk (BCA) merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia

yang memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi untuk memberikan pelayanan

yang terbaik bagi nasabahnya. BCA merupakan katalis dalam hal kecanggihan teknologi

perbankannya, berbagai inovasi telah dilakukan dengan menghadirkan fasilitas-fasilitas

yang up to date, seperti video banking, internet banking, mesin ATM yang multifungsi

(setoran, tarikan, dan transfer), dan berbagai inovasi mutakhir lainnya.

2. Jotun Indonesia merupakan sebuah perusahaan penyedia produk cat yang

meluncurkan DecorativeJI, yaitu sebuah inovasi layanan bagi pelanggan berupa mobile

apps yang dapat diunduh dan diakses pelanggan melalui perangkat komunikasi mobile.

Hal ini merupakan sebuah terobosan baru bagi pelanggan di industri cat di Indonesia.

Aplikasi ini memberikan solusi kepada pelanggan akan kebutuhan terhadap cat.

3.7 MANAJEMEN INOVASI DAN TEKNOLOGI

Manajemen Teknologi didefinisikan sebagai penghubung teknik, ilmu pengetahuan,

disiplin manajemen untuk merencanakan, mengembangkan, dan mengimplementasikan

kemampuan teknologi untuk membentuk dan mencapai tujuan strategis dan operasional

dari sebuah organisasi. Sedangkan Manajemen Inovasi yaitu pendekatan yang komprehensif

untuk manajerial dalam pemecahan masalah dan tindakan berdasarkan kerangka

pemecahan masalah integratif serta pemahaman tentang keterkaitan antara aliran inovasi,

tim organisasi dan evolusi organisasi.

Komitmen inovasi oleh top manajemen pada gilirannya memerlukan pengakuan

(17)

 Manajemen teknologi meliputi manajemen inovasi.

 Hal ini dibutuhkan untuk membina lingkungan dimana mendorong pemikiran inovatif.

 Melibatkan pemimpin perusahaan dari proses dan produk yang ada untuk sesuatu yang

aik da le ih erharga.

 Proaktif dan mendorong kreativitas dan pengambilan resiko.

3.7.1 DAMPAK INTERNET DAN E-COMMERCE

Komputer modern dan teknologi informasi telah menciptakan peluang yang luas bagi

para manajer, secara spesifik yang bergerak dalam bidang manajemen inovasi dan teknologi

untuk memanfaatkan sumber daya mereka. Dengan lebih 500 juta pengguna di seluruh

dunia dan meningkat secara eksponensial, internet dan semua subnetwork global telah

menjadi salah satu enabler yang paling dominan terhadap operasi bisnis.

Berikut dampak adanya internet dan e-commerce bagi perusahaan :

 Memungkinkan perusahaan untuk melakukan bisnis di daerah geografis dengan kecepatan tinggi, fleksibilitas, dan ekonomis.

 Sistem canggih interoperabilitas dan pengolahan data memungkinkan perusahaan untuk melakukan usaha jauh lebih kompleks

 Menciptakan tekanan besar untuk memberikan produk-produk mutakhir  Menghasilkan lingkungan bisnis dengan perubahan cepat dan beresiko tinggi

 Adanya EDI (Electronic Data Interchange) yaitu sistem pilihan untuk memindahkan set data yang besar, dikelola secara terpusat dan terkendali, validasi antara masyarakat

dimana saja dan kapan saja.

3.7.2 CONTOH IMPLEMENTASI MANAJEMEN TEKNOLOGI DAN INOVASI

Sistem e-procurement (e-Proc) PLN sebagai salah satu aplikasi yang merupakan

implementasi dari IT Governance yang mendukung Good Corporate Governance (GCG).

Terwujudnya aplikasi tersebut merupakan hasil kebijakan Manajemen PT.PLN (Persero)

terkait dengan Informasi Stok Material PLN, Penyusunan HPS (Harga Perkiraan Sendiri) dan

monitoring pergerakan material, dan PLN mengoptimalkan eProc yang sudah

dikembangkan untuk tercapainya harga pembelian optimal dan inventori PLN yang efisien.

(18)

BAB IV

MODEL BISNIS INOVASI

4.1 INOVASI HIJAU

Inovasi hijau adalah tanggung jawab bersama karena merupakan hasil produk dari

pemerintah, sektor swasta, dan individu masyarakat. Dibandingkan dengan inovasi secara

umum, inovasi hijau cukup kompleks dan membutuhkan kompetensi baru yang beragam.

Untuk keberhasilan inovasi, pendekatan lintas disiplin yang memanfaatkan pengetahuan

(baik internal maupun eksternal, jaringan, dan sumber daya) sangatlah penting. Nilai-nilai

dan makna inovasi hijau juga dikenal dengan istilah lain yaitu eco-inovasi, inovasi lingkungan

dan inovasi berkelanjutan.

Definisi inovasi hijau dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori (Hordern dkk,

2008). Inovasi hijau dilihat sebagai:

1. Pengurangan dampak lingkungan :

 Eco-inovasi relevan untuk semua kalangan masyarakat yang mengembangkan, menerapkan dan memperkenalkan ide-ide baru, perilaku, produk dan proses dan

berkontribusi pada pengurangan beban lingkungan atau keberlanjutan ekologi

(Klemmer dkk, 1999)

 Inovasi hijau adalah produk baru dan proses yang menyediakan kebutuhan pelanggan dengan nilai bisnis, tetapi secara signifikan mengurangi dampak

lingkungan (James, 1997)

2. Pengenalan/penciptaan kinerja lingkungan :

 Blattel Mink (1998) menyatakan bahwa inovasi hijau dapat mencakup pengembangan produk baru (teknologi lingkungan), pasar baru, dan sistem baru

serta pengenalan dimensi ekologi dalam strategi ekonomi

 (Keeble, dkk, 2005) Pendorong inovasi lingkungan berarti penciptaan ruang pasar bar, produk dan jasa atau proses yang didorong oleh isu-isu sosial, lingkungan atau

(19)

3. Peningkatan kinerja lingkungan

 Sebagai bagian dari inovasi, inovasi lingkungan dapat dikatakan memiliki kualifikasi yang berhubungan dengan orientasi arah inovasi terhadap perbaikan lingkungan

(Mirata dan Emtairah, 2005)

 Inovasi lingkungan mencakup semua inovasi yang memiliki efek menguntungkan pada lingkungan terlepas dari apakah efek ini adalah tujuan utama dari inovasi.

Diantaranya adalah proses, produk dan inovasi organisasi (OECD, 2008)

4.1.1 STRATEGI INOVASI HIJAU

Isu-isu lingkungan merupakan realitas dasar bagi perusahaan dalam mengelola

perubahan secara proaktif untuk keuntungan strategis. Noci dan Verganti (1999)

e perti a gka isu-isu hijau se agai su er uta a peru aha strategis . La gkah untuk memasukkan isu lingkungan dalam strategi bisnis adalah sebagai akibat dari

perubahan sistem sosial, persaingan dan regulasi/kebijakan. Terdapat hubungan positif yang

signifikan antara strategi inovasi hijau dan kinerja bisnis secara keseluruhan.

Aspek penting bagi setiap organisasi adalah harus berinovasi untuk tetap kompetitif

dan dapat menyeimbangkan jangka pendek serta kebutuhan bisnis jangka panjang.

Keberhasilan inovasi hijau memberikan tantangan yang cukup besar, sehingga perusahaan

berusaha melakukan proses transisi, mengintegrasikan pertimbangan lingkungan ke dalam

inti dari strategi bisnis mereka. Untuk melakukan hal ini, perusahaan dihadapkan dengan

tantangan untuk mengidentifikasi, mengembangkan, daan menyebarkan kemampuan

inovasi hijau ke dalam fungsi bisnis yang relevan.

Keeble (2005) menguraikan bahwa agar inovasi hijau berhasil, perusahaan perlu

mengembangkan cara-cara berpikir baru yang kreatif dan keberlanjutan dalam pengambilan

keputusan dan proses inovasi yang strategis.

4.1.2 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI HIJAU

Philips LED yang hemat energi dan mengurangi emisi karbon

(www.newscenter.philips.com)

Royal Philips Electronics (NYSE: PHG, AEX: PHI) bertujuan untuk meningkatkan kualitas

hidup masyarakat melalui inovasi bermakna, termasuk solusi di bidang pencahayaan.

Philips Lighting memungkinkan penghematan biaya dan peningkatan kelangsungan

(20)

dan mengurangi emisi karbon. LED mentransformasi pencahayaan dengan membuka

kemungkinan-kemungkinan baru untuk bagaimana dan dimana pencahayaan artifisial

digunakan dan meningkatkan pengalaman manusia. Philips mencipatakan

pencahayaan yang memberikan nilai lebih, menambah keindahan, meningkatkan

keamanan, serta memberikan visibilitas yang lebih baik, dimana kesemua hal tersebut

dilakukan dengan mengurangi tingkat panas, daya listrik dan dampak terhadap

lingkungan. Contoh pencahyaan yang menggunakan LED Philips yaitu : Jembatan

Suramadu, Air Mancur di Palembang dan Candi Prambanan di Yogyakarta.

4.2 INOVASI TERTUTUP DAN INOVASI TERBUKA

Inovasi dalam paradigma lama berarti orang-orang dengan seragam laboratorium di

pusat-pusat litbang sebuah perusahaan raksasa. Laboratorium AT&T Bell di New Jersey, AS

seri g dijadika iko i o asi odel la a i i, ya g diistilahka de ga odel lit a g ya g teri tegrasi se ara erti al vertically integrated R&D) atau model inovasi tertutup (closed innovation). Disebut inovasi yang terintegrasi dan tertutup lantaran, hanya terdapat satu

jalan masuk menuju proses inovasi, yakni inovasi yang berbasiskan sumber-sumber

knowledge dalam perusahaan, serta hanya satu jalan keluar untuk output proses inovasi

yakni melalui kanal pemasaran perusahaan.

Inovasi tertutup terlampau lamban dan terkungkung (insular) tidak berkesesuaian

dengan karakteristik ekonomi global yang amat dinamis, sehingga muncullah model inovasi

terbuka (open innovation) yang lebih demokratis, sebagai antitesis terhadap model

terintegrasi secara vertical. Open innovation menurut Chesbrough (2003) didefinisikan

sebagai penggunaan aliran knowledge baik yang ada di dalam maupun dari luar yang

ditujukan untuk mengakselerasi inovasi internal, disamping untuk mengembangkan pasar

demi pemanfaatan eksternal inovasi. Dalam model ini proyek inovasi dapat dimulai

berbasiskan sumber-sumber knowledge atau teknologi dari dalam perusahaan maupun dari

luar perusahaan. Teknologi baru juga dapat masuk ke dalam proses inovasi di pelbagai

tahapan, disamping itu output proses inovasi juga dapat masuk ke pasar melalui pelbagai

cara, bukan saja melalui kanal perusahaan-perusahaan tersebut tetapi juga melalui lisensi

(21)

Fleksibilitas yang ditawarkan inovasi terbuka bagaikan serangan virus bagi model

inovasi tradisional yang kaku, yang akan menggerogoti system lawas ini dari dalam. Open

innovation memungkinkan penciptaan wirausaha-wirausaha baru secara tak terduga.

4.2.1 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI TERTUTUP

Saat ini masih banyak perusahaan yang mengembangkan konsep inovasi tertutup.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi cenderung menggunakan inovasi

tertutup. Perusahaan sangat berhati-hati dalam mengembangkan inovasi di bidang

teknologi, salah satu perusahaan bisnis di bidang teknologi yang berhasil mengembangkan

inovasi tertutup adalah Apple.

Apple adalah perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs. Steve Jobs membangun

perusahaannya dengan bergantung pada sumber daya yang dimiliki perusahaannya. Strategi

yang digunakan ialah dia memilih orang-orang terbaik untuk bekerja dalam perusahaannya

dan memaksimalkan kemampuan sumber daya untuk menghasilkan inovasi, dimana inovasi

tersebut menggunakan teknologi baru dan berhasil menjadi produk yang unggul di pasaran.

Produk-produk tersebut seperti : iTune, iPhone, iPad. Dalam persaingannya Apple menjadi

perusahaan yang sangat tertutup. Segala informasi yang berada di dalam perusahaan dijaga

dan dikelola hanya di dalam perusahaan. Apple juga tidak memiliki mitra dalam

mengembangkan produknya, tetapi ia berhasil memenangkan pasar dari inovasi yang

dihasilkan.

4.2.2 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI TERBUKA

Procter and Gamble (P&G) ketika memutuskan merangkul model open innovation

la gsu g e era gus sikap eksklusif. “trategi Co ept + De elop diterapkan dengan membuka lebar-lebar pintu bagi innovator di luar perusahaan. Pada tahun 2006, P&G

merangkul BASF, Laboratorium Nasional Los Alamos, AS dan segelintir perusahaan lain

untuk program kerja sama pertukaran ide-ide. Kolaborasi ini menghasilkan Yet2.com,

sebuah wahana pertukaran hak kekayaan intelektual, dan YourEncore, suatu jejaring bagi

para pakar yang telah pensiun. Belum puas, P&G melebarkan sayap kerja sama dengan

(22)

selama beberapa pecan : P&G ingin mempelajari seluk beluk bisnis online sementara Google

ingin mempelajari kiat membangun merek (brand building).

4.3 INOVASI RADIKAL DAN INOVASI BERTAHAP

Inovasi radikal (radical innovation) dilakukan dengan skala besar yang dilakukan oleh

para ahli dibidangnya dan biasanya dikelola oleh departemen penelitian dan

pengembangan. Inovasi radikal ini sering kali dilakukan di bidang manufaktur dan lembaga

jasa keuangan. Inovasi radikal memberikan lonjakan signifikan dalam benefit atau nilai yang

ditawarkan, demikian pula dengan keaslian ide yang mendasarinya. Radical innovation

merupakan produk, jasa atau teknologi baruyang dikembangkan oleh suatu organisasi

yang sepenuhnya menggantikanproduk, jasa, atau teknologi yang ada dalam suatu

industri.

Inovasi bertahap (incremental innovation) a d a l a h p r o d u k , j a s a a t a u

t e k n o l o g i b a r u y a n g m e m o d i f i k a s i p r o d u k , j a s a a t a u t e k n o l o g i y a n g

a d a . P e r u s a h a a n y a n g mengimplementasikan inovasi radikal menggeser secara

fundamental sifat daripersaingan dan interaksi perusahaan dalam lingkungan.

Perusahaan yangmengimplementasikan inovasi bertahap memperbaiki tapi tidak

secarafundamental mengubah interaksi persaingan dalam suatu industri.

4.3.1 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI RADIKAL

Rumah Sakit (RS) Wockhdart di Bangalore, India melakukan inovasi radikal berupa

program wisata kesehatan (medical tourism), dimana RS ini menyodorkan tariff operasi by

pass jantung dengan tariff yang relative murah, perbedaannya bias sampai 16 kali lipat jika

dibandingkan dengan tariff operasi di AS. Rahasia dibalik harga miring ini adalah inovasi

radikal baik pada instrument maupun teknik operasi. Inovasi yang juga mengadopsi

pengetahuan lokal ini, bahkan memungkinkan pasien menjalani operasi tanpa harus dibius

total, namun tanpa rasa sakit. Penghematan radikal adalah alasan lainnya, RS sejak awal

menolak mendatangkan peralatan super canggih yang lazim digunakan RS-RS Negara maju,

alasannya adalah harga peralatan-peralatan tersebut (sesungguhnya) tidak sebanding

(23)

4.3.2 CONTOH IMPLEMENTASI INOVASI BERTAHAP (INCREMENTAL INNOVATION)

Penggerak utama inovasi inkremental di banyak perusahaan dalam 10 tahun terakhir

ini adalah program-program yang ditujukan untuk perbaikan terus-menerus, pengurangan

biaya dan kualitas manajemen. Beberapa tahun yang lalu, Toyota menanggapi insiden

berpotensi cacat dari sistem akselerator dengan seluruh perusahaan, penegasan kembali

yang rendah hati dari pendirinya, Taiichi Ohno. Sistem tersebut menjadikan Toyota sebagai

perusahaan otomotif yang terkemuka. Toyota memulai peneltian yang cermat untuk setiap

produk yang pembelian atau pembuatannya termasuk ke dalam pemasangan otomotifnya

untuk menumbuhkan perhatian terhadap keuntungan yang didapat dari penggabungan

perusahaan optomotif yang dimulai oleh Daimler Chrysler. Hasilnya: perusahaan dalam satu

decade ini menghasilkan $20 milyar dari pembelian onderdil, dan juga menaikkan

kualitasnya secara signifikan. Mengambil perspektif Jepang yang menyatakan bahwa 1001

inovasi kecil atau perkembangan bersama akan menjadi hal yang transformatif. Contoh yang

hebat adalah pembuatan klakson oleh pemasok Jepang sehingga mengurangi komponennya

yang tadinya terdiri dari 28 komponen menjadi 6 komponene saja sehingga menghemat

40% biaya pembuatan tapi juga menaikkan kualitasnya. Contoh lainnya adalah interior

pegangan pintu. Tadinya ada 35 komponen dalam 1 pegangan tapi sekarang hanya 3 saja

untuk 90 model Toyota. Para insinyur Toyota menyebut proses ini sebagai kawaita zokin wa

shi eru atau e eras tetesa air dari ha duk ya g keri g arti ya proses pe ge angan, luar biasa dan tanpa akhir ini telah berhasil.

4.4 KLASTER INOVASI

Salah satu strategi mendorong terciptanya inovasi, dalam koridor model

konvensional yang kental nuansa sistematik ini, adalah melalui pembentukan pusat-pusat

keunggualan inovatif atau klaster-klaster inovasi. Kalster inovasi merupakan wahana tempat

bersinerginya para pelaku inovasi guna membangun kekuatan komparatif dan kompetitif

dalam suatu jejaring kerja sama yang terpadu.

Istilah klaster i o asi innovation cluster) sendiri bermakna luas. Istilah-istilah lain

ya g erasosiasi atau ahka eririsa de ga ya a tara lai pusat sai s science center),

klaster riset i o asi research intensive cluster , klaster eko o i economic cluster),

(24)

districts) atau zo a pe a gu a i dustry/ is is high tech business district atau zo a

pe a gu a i dustry/ is is industrial park). Klaster inovasi memuat karakteristik institusi-institusi tersebut, namun yang menjadi komponen distingtif dari klaster inovasi

adalah klaster ini secara fisik terkonsentrasi pada sebuah lokasi khusus (tidak terfragmentasi

seperti halnya asosiasi riset) dan mempunyai jalinan Triple Helix di dalamnya.

4.4.1 KLASTER ININOVASI TAMAN IPTEK

Karakteristik utama taman iptek adalah klaster inovasi ini terkait dengan, model

mutakhir, dioperasikan secara dominan oleh perguruan tinggi. Taman iptek juga sangat

terasosiasi dengan peran inkubasi bisnis, yang menjadi karakteristik utama lainnya. Secara

sederhana dapat didefinisikan taman iptek merupakan area khusus yang didesikasikan

untuk riset-riset saintifik yang terkait dengan kepentingan bisnis (business footing). Focus

utama taman iptek adalah penegembangan iptek dan produk iptek, bukan proses produksi

(manufacturing) atau administrasi produk iptek, satu hal yang membedakannya dengan

industrial park.

Aktor utama taman iptek adalah institusi litbang (dalam hal ini universitas) dan

industri. Terlibat pula pemerintah sebagai regulator. Didalam taman iptek, sebagaimana

ditunjukkan Stanford University Science Park-taman iptek pertama, model bagi science park

di dunia-universitas dan industry bekerja secara berdampingan. Universitas menyediakan

akses sumber daya bagi industry (peneliti, mahasiswa, fasilitas, hasil riset) untuk

meningkatkan kapasitas industry, dan universitas memperoleh mutual benefit pemanfaatan

hasil riset dan permintaan proyek riset berdasarkan kebutuhan industry. Kolaborasi dan

komitmen keduanya juga termasuk penciptaan lingkungan tinggal-bekerja-bermain (

live-work-play) yang kondusif. Dengan kata lain, taman iptek merupakan inisiatif kerja sama

(25)

BAB V

EKONOMI INOVASI DAN EKOSISTEM INOVASI

5.1 Ekonomi Inovasi dan Ekosistem Inovasi

Joseph Schumpeter (1942) mengatakan bahwa dunia mulai bergerak meninggalkan

ekonomi berbasis sumber daya alam, memasuki era Ekonomi Inovasi (innovation economy).

Malaysia, Korea Selatan, China, beserta sejumlah negara Asia lain, seperti India, mulai

menyelinap dan berjalan cepat di lintasan Ekonomi Inovasi mengekor negara-negara Dunia

Pertama. Ini adalah buah dari keputusan tepat—jika bukan keputusan berani—dalam menyikapi krisis ekonomi global dan ancaman latennya. Alih-alih ke ali ke hangar , banyak negara Asia memanfaatkan situasi ini sebagai momentum untuk menata diri secara

radikal: dana penelitian dan pengembangan (litbang) dipergemuk, modal manusia (talenta)

digodok lewat pusat-pusat keunggulan inovasi, klaster-klaster litbang disemai, sistem

pendidikan dipermak supaya adaptif terhadap budaya inovasi.

Singkat kata, ekosistem inovasi diperbaiki. Sehingga, dalam dua dekade terakhir,

bumi laksana bidang datar yang bergerak miring beberapa derajat, menghadap Timur:

power tengah menggelosor perlahan ke arah Asia. 4 Zhongguancun di China, Bangalore di

India, Daedeok Innapolis di Korea Selatan, Hsinchu Science Park di Taiwan, Biopolis di

Singapura, untuk menyebut sejumlah nama, adalah pusat-pusat keunggulan sains dan

teknologi yang bermekaran di Timur yang kelak patut dipersandingkan dengan hub-hub

serupa di belahan AS dan Eropa. Dalam waktu mendatang klaster-klaster teknologi-tinggi ini

bakal menjadi pabrik utama bagi produk-produk high-tech IT, bioteknologi, kedokteran,

yang turut menjubeli pasar dunia. Sebenarnya Indonesia sudah memiliki banyak institusi

pendukung inovasi tetapi belum tertata secara optimal dalam satu ekosistem inovasi. Untuk

penataan ekosistem inovasi tersebut, beberapa faktor strategis yang perlu mendapatkan

perhatian yang sungguh-sungguh antara lain adalah kepemimpinan, pendidikan, peningkatan

sistem etika dan etos kerja, sosial budaya, harmonisasi kebijakan, dan aspek pendanaan yang

mendukung pengembangan riset dan inovasi untuk pertumbuhan ekonomi yang berwawasan

(26)

(Zuhal, 2013)

5.1.1 PARADIGMA BARU EKONOMI

Dalam model Ekonomi Neoklasik, distribusi pendapatan (income) dilakukan melalui

interaksi dinamis antara supply dan demand, ya g difasilitasi le at aksi alisasi

kepuasa maximization of utility). Konsumsi—sebuah cara mencapai kepuasan maksimum individu—kare a ya dia ggap se agai engine pe ggerak pertu uha dala model ini. Model Ekonomi Inovasi berargumen bahwa bukan hanya konsumsi, tetapi

investasi inovasi yang akan lebih menjamin pertumbuhan berkesinambungan. Supaya

akumulasi terus tumbuh, stok kapital tidak boleh turun. Karenanya, menurut model ini,

diperlukan knowledge atau temuan-temuan baru yang dilakukan lewat investasi litbang.

Negara-negara maju menyadari ketidakandalan konsumsi sebagai basis

pertumbuhan. Merespon krisis finansial yang menerpa AS, Presiden Barrack Obama di

hadapan National Academy of Science (April 2009) mengharapkan adanya gerakan nasional

ya g dapat e gi spirasi ge erasi uda to be makers, not just consumers of things. Ketika AS kian awas soal pentingnya inovasi, dan banyak negara Asia kian bergiat

mengokohkan sains, teknologi dan infrastrukturnya guna menyongsong era Ekonomi

inovasi, Indonesia seakan tak bergeming: tetap saja getol membangun mall-mall megah

(27)

5.2PELUANG INDONESIA

Berpopulasi 237 juta jiwa, atau keempat terbesar di dunia, Indonesia adalah pangsa

pasar empuk produk-produk erdas egara lai . Juluka Bla kBerry atio , isal ya, meski hanya lelucon, disematkan sejumlah media asing kepada Indonesia—negeri berpendapatan per kapita 3.464 US $ atau rangking109 dunia—menyusul laku kerasnya smartphone mahal bikinan perusahaan asal Kanada itu. Belum lagi untuk produk-produk

otomotif, pasar Indonesia termasuk yang paling menggiurkan para importir. Predikat

ko su e ya g rakus dala ko petisi pasar glo al ya g se git le ih erko otasi se agai o jek alias kor a , sehi gga sudah aktu ya dita ggalka . Na u agai a a kesiapa egeri i i u tuk e jadi su jek , yak i e gekor Korea Selatan, Singapura, atau Taiwan sebagai produsen produk high-tech yang disegani? Kabar buruknya adalah: minat kaum

muda kepada pendidikan sains dan rekayasa—cabang ilmu wajib untuk berinovasi— cenderung menurun Daya saing negeri ini hanya ditopang lulusan sarjana teknik 11,5 persen

dan sarjana sains 3,6 persen, menunjukkan karakteristik generasi muda konsumtif yang

kurang bergairah untuk berproduksi.

Pa eo: ―Kalau isa eli ke apa harus iki se diri ta pak ya elu aka asuk peti es.Toh, pelua g u tuk a gkit asih ada. Jika Bu g Kar o per ah erujar: ―Beri aku sepuluh pe uda, aka aku aka gu a g du ia . Kita, setidak ya, isa elihat pelua g itu

bertengger di pundak kaum muda. Setumpuk prestasi kelas dunia diraih para pelajar

Indonesia, seolah menjadi petunjuk: negeri ini gudangnya orang cerdas. Pada tahun 2005 di

Singapura, Indonesia menyabet juara umum Olimpiade Fisika Internasional. Pada kompetisi

IT ahasis a I age Cup di Pola dia, ya g diikuti 4 egara, I do esia e oro g

dua podium: juara kedua kategori Windows Phone 7 Rockstar Award juara ketiga kategori

Interoperability Award (Kompas 11 Juli 2011). Kita juga boleh menepuk dada dengan

ke u ula Bi asakti , o il For ula “atu karya ahasis a UGM.“elai itu, ke a pua

para peneliti negeri ini di bidang litbang juga terus meningkat.

Semua talenta yang masih dimiliki menjadikan indikator inovasi Indonesia berada

pada posisi lumayan: peringkat ke-36 dari 139 negara yang dinilai oleh World Economic

Forum (WEF). Terkait peringkat daya saing, laporan WEF juga memberi angin segar: pada

2010 posisi Indonesia secara keseluruhan berada di peringkat 44, bergeser cukup signifikan

dari peringkat ke-54 pada 2009. Momentum ini cukup beralasan sebagai pangkal tolak

(28)

5.2.1 VISI BANGSA SEBAGAI PLATFORM NASIONAL

Pengalaman beberapa negara seperti Finlandia, China, India, Korea dan Malaysia

menunjukkan adanya peran aktif lembaga eksekutif (pemerintah) dan lembaga legislatif,

maupun yudikatif mencari kesepakatan dan komitmen bersama untuk melaksanakan

sebuah visi negara dan bangsa. Visi negara dan bangsa ini tentunya didesain secara sistemik

dan terencana dengan konsep kerangka kerja yang baik, strategis dan sesuai dengan potensi

sumber daya yang tersedia, dengan selalu mempertimbangkan pendekatan-pendekatan

sosiodan tekno-ekonomi yang dapat dipertanggungjawabkan. Visi ini juga harus

disosialisasikan kepada kalangan akademisi/peneliti, pengusaha dan komunitas profesi dan

masyarakat luas. Dengan demikian seluruh komponen bangsa yang dapat digolongkan

dalam quadruplehelix (akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas) dapat memahami

kemana arah negara dan bangsa ini akan dibawa.

Indonesia harus segera menetapkan visi tersebut dan memantapkannya menjadi visi

bersama, visi sang pemimpin dan visi rakyatnya untuk dicapai. Visi ini tentunya harus selaras

dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, serta kemampuan IPTEK Indonesia.

Indonesia dengan sistem multi partai saat ini memang menghadapi tantangan yang lebih

kompleks untuk mendapatkan kesepahaman visi bangsa. Di sini, tekad mencapai

kemandirian teknologi inovasi dapat dijadikan sebagai common goal dan sekaligus platform

nasional yang akan dikejar oleh seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang ditemukan di

beberapa negara, umumnya hanya ada satu visi Bangsa yang merupakan sebuah konsensus

nasional. Pemerintah berkewajiban secara proaktif memasyarakatkan Visi tersebut ke

berbagai jajaran mulai dari kementerian terkait, kemudian sosialisasi di tingkat provinsi,

kabupaten, kecamatan sampai tingkat pemerintahan yang paling bawah. Visi tersebut juga

harus disosialisasikan di kalangan akademisi/peneliti, pengusaha dan komunitas profesi dan

masyarakat luas.

Pemerintah bersama lembaga legislatif seyogianya mengajak seluruh komponen

bangsa untuk memantapkan sebuah Visi Bangsa apakah 2025, 2030, atau 2045. Indonesia

sudah memiliki RPJPN dan kelengkapannya MP3EI. KIN memperkenalkan Inisiatif 1-747

(akan dijelaskan kemudian) untuk memperkuat program sains, teknologi dan inovasi.

Pengemasan ketiga hal tersebut sangat perlu untuk mengembangkan institusi yang mampu

mengelola dan sekaligus memperkuat para aktor sains, teknologi dan inovasi untuk

(29)

upaya di atas, upaya sinergis antar komponen di atas perlu digalakkan, dan untuk itu

diperlukan suatu kepemimpinan yang kuat dan berwawasan sosio dan tekno-ekonomi yang

komprehensif.

Visi pemerintah Indonesia atau yang dikenal dengan sebutan Visi Indonesia 2025

adalah menjadi negara maju pada tahun 2025. Untuk mencapai visi ini, pemerintah telah

meluncurkan program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Pengembangan Ekonomi

Indonesia), sebagai pelengkap RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional).

MP3EI terdiri atas 8 program dan 22 kegiatan ekonomi. Delapan program tersebut adalah:

1. Industri Manufaktur, 2. Pertambangan, 3.Pertanian, 4.Kelautan dan Perikanan,

5.Pariwisata, 6.Telekomunikasi, 7.Energi, dan 8.Strategi Pembanguanan Regional.Semua

program ini membutuhkan investasi yang signifikan baik dari dalam maupun luar negeri.

(30)

5.2.2. SISTEM EKONOMI NASIONAL UNTUK TRANSFORMASI EKONOMI

Inovasi merupakan sebuah fenomena kompleks yang melibatkan produksi, difusi dan

translasi dari pengetahuan teknologi menjadi sebuah produk atau proses yang baru. Konsep

inovasi mengalami beberapa kali perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman

dan ditambah dengan perkembangan tentang proses inovasi itu sendiri. Proses inovasi

melibatkan hubungan interaktif antara berbagai aktor inovasi yang mengikuti jalur non

linear yang dikarakterisasi dengan mekanisme umpan balik yang sangat komplek.

Pendekatan sistemik untuk inovasi didasari oleh asumsi bahwa proses inovasi tidak dapat

dikelompokkan ke dalam beberapa fase yang terisolasi. Adanya interaksi antara seluruh

aktor inovasi di dalam sebuah sistem sistemik menjadikan inovasi sebagai sebuah sistem

yang saling terkait satu sama lain, tidak terisolir atau terkontrol, dan memiliki sistem umpan

balik yang bekerja. Pandangan inovasi seperti inilah yang menjadi dasar terbentuknya

sebuah sistem inovasi secara umum.

Pendekatan Sistem Inovasi Nasional (SINAS) menjadi salah satu fondasi untuk

mendesain hubungan yang kompleks antara beberapa institusi inovasi yang terikat di dalam

proses inovasi. SINASdapat digambarkan sebagai sekumpulan institusi yang saling terkait

dan bersinergi membangun dan mendifusikan teknologi di dalam satu kerangka acuan di

mana pemerintah dapat menjalankan kebijakan untuk memicu proses inovasi. Dari

pandangan ini dapat diambil kesimpulan bahwa performansi inovasi dalam sebuah sistem

ekonomi tidak saja bergantung kepada masing-masinginstitusi yang bekerja secara

sendiri-sendiri tetapi kepada bagaimana masing-masing institusi ini saling bekerjasama di dalam

sebuah sistem. Dalam SINAS ini pemerintahmemegangperananpentingdalammemicu

terjadinya proses inovasi.

Pengalaman Korea Selatan, serta negara-negara advanced economy lainnya,

menunjukkan bahwa produktivitas negara hanya dapat didongkrak melalui kontribusi

inovasi (teknologi) yang signifikan. Dan, sebagaimana telah disinggung sebelumnya,

invovasi—dalam skala massif dan yang kontinyu—hanya dapat terwujud melalui ketersediaan SINAS yang mapan di suatu negara.Adalah penting untuk mengetahui

mengapa SINAS sedemikian krusial sehingga dijadikan jembatan transformatif menuju

negara maju.

Ide tentang SINAS, dan inisiatif penguatan SINAS, sesungguhnya bermula dari

(31)

lebih jauh, adalah untuk mengetah agai a a supaya i o asi dapat u ul se ara berkesinambungan dan, pada gilirannya, memiliki da pak eko o i ya g luas ?

Inovasi tidak datang tiba-tiba, melainkan lahir sebagai keluaran dari sinergi yang

kompleks antara para aktor di dalam sistem inovasi. Melalui sinergi ini knowledge disebar,

diperbarui, dan dimanfaatkan oleh para pelaku inovasi guna menghasilkan teknik dan/atau

produk baru—yak i, apa ya g lazi dise ut i o asi . De ga kata lai , ke eradaa alira knowledge merupakan komponen terpenting dalam proses inovasi. Salah satu cara untuk

memompa aliran knowledge, sekaligus meningkatkan penggunaan knowledge, dalam ranah

ekonomi dan sosial masyarakat adalah melalui SINAS.

Interaksi SINAS harus dilihat sebagai entitas organisasi dan jaringan yang kompleks.

SINAS melibatkan setidaknya empat pilar, yang kesemuanya harus berkoordinasi—yakni

tidak sekadar eri teraksi , a u erkola orasi se ara har o is—guna menjamin keberlangsungan inovasi dan dampak ekonominya, yakni:

1. Institusi penghasil teknologi. Pada pilar ini, terdapat sejumlah isu spesifik yang berkaitan

dengan inovasi, seperti: penjaminan mutu dan sertifikasi produk teknologi; standar,

ukuran dan pengujian produk teknologi; perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual

(HaKI); pendanaan litbang; konsultasi teknologi dan manajemen.

2. Institusi pendidikan (isu-isu spesifik terkait, misalnya: pendidikan dasar yang

komprehensif; pendidikan menengah terkait aplikasi teknologi; pelatihan vocational;

pendidikan tinggi bidang perekayasaan dan manajemen).

3. Perusahaan/korporasi (isu-isu spesifik terkait, antara lain: pembelajaran teknologi;

pengembangan skilled human capital dan aliansi teknologi/pengetahuan; litbang dan

kemitraan litbang).

4. Institusi penghasil regulasi dan insentif (isu-isu spesifik terkait, misalnya: regulasi

ekonomi makro, insentif promosi industri dan ekspor, regulasi pengelolaan SDA, fiskal,

pajak dan perdagangan, HaKI, infrastruktur ekonomi, alih teknologi, standar

internasional, persaingan sehat, nilai dan sikap mental, serta keterbukaan).

Tampak bahwa implementasi inovasi merupakan proses kompleks yang membutuhkan

harmonisasi pelbagai kebijakan dan strategi dari banyak sektor. Jika hal itu terpenuhi,

inovasi akan terjadi secara berkesinambungan dan berkontribusi secara signifikan terhadap

pertumbuhan ekonomi. Di sinilah titik berat fungsi SINAS: melakukan harmonisasi, sekaligus

(32)

BAB VI

INOVASI DI INDONESIA

6.1 POTRET BUDAYA INOVASI DI INDONESIA

Pada era kontemporer saat ini budaya inovasi belum terbangun di Indonesia (meski

jejak i o asi uka ya tidak ada dari masa lalu, yang terungkap lewat peninggalan

artifak-artifak i o atif . Pa eo kalau bisa membeli, kenapa harus membuat asih e deka di benak sebagian besar masyarakat. Pandangan ini diteguhkan laporan Global Consumer

Report AC Nielsen yang menobatkan Indonesia sebagai negara paling konsumtif terbesar

ke-2 di dunia setelah Singapura. Salah satu indikator adalah nilai transaksi kartu kredit di negeri

ini yang mencapai Rp 250 triliun setahun, atau seperlima angka APBN.Survei global lain dari

World Intellectual Property Organization (WIPO) memasukkan Indonesia sebagai negara

paling malas mencipta (inventing).Ini tercermin dari kecilnya angka registrasi paten. Pada

2009 temuan made in Indonesia yang dipatenkan hanya berjumlah enam buah, atau

tertinggal beribu-ribu kali lipat dibanding Jepang (224.795 paten) dan AS (135.193 paten),

menempatkan ranking paten Indonesia yang terendah di antara negara-negara G-20.

Ketersediaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, pada kadar tertentu,

merupakan salah satu faktor yang membuat manusia Indonesia lebih suka menjual apa yang

dimiliki (alias menjadi pedagang) ketimbang mencipta apa yang tidak dimiliki (menjadi

inventor). Keunggulan komparatif SDA yang tidak ditangani secara visioner ini telah

menumbuhkan me talitas pe ari re te rent-seeking), sebagai cara mudah mengantungi keuntungan, dimana ini juga diperburuk oleh sikap nrimo—kebalikan dari semangat self-improvement-nya bangsa AS—yang benihnya telah ada di masyarakat.

Kondisi-kondisi ini kemudian beresonansi dengan rezim otoritarian-paternalistik

yang berkuasa selama tiga Dekade, dimana kreatifitas dipasung, yang pada gilirannya

berkontribusi terhadap lemahnya inisiatif untuk berimprovisasi dan berinovasi. Jika pun ada,

inovasi di Indonesia, berseberangan dengan kasus klaster biotek San Diego, lebih

berorientasi pada inovasi yang dikawal pemerintah (government-led innovation) ketimbang

tumbuh dari bawah (bottom-up).

(33)

berwirausaha (entrepreneurship), sebuah pilihan yang menuntut kreatifitas dan keberanian

mengambil risiko. Pada tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia yang terjun menjadi

pengusaha ha ya sekitar , juta ji a atau perse total populasi; i i u a seuju g kuku dibanding AS yang memiliki 37,7 juta entrepreneurs atau 12 persen jumlah penduduk negeri

itu, angka terbesar di dunia. Sekali lagi, nilai-nilai budaya (worldview) menjadi determinan:

masyarakat AS dikenal memiliki sikap yang sangat toleran terhadap kesalahan berbisnis

(business failure). Di klaster IT Silicon Valley ada sebuah lelucon: kekeliruan dalam

menerapkan resep bisnis (teknik pemasaran, misalnya) sangat diharapkan, bahkan

ditunggu-tunggu kedatangannya! Penerimaan yang luas terhadap business failure ini turut

mendorong budaya risk-taking di AS.

Sementara di Indonesia, atmosfer yang dikembangkan selama beberapa dekade

(terutama di sektor pendidikan dan parenting) justru kurang mendorong semangat

bereksperimen dan sikap tidak takut salah. Ini misalnya tampak dari kecenderungan

pengusahaIndonesia untuk membeli teknologi lisensi asing dalam proses produksi

ketimbang repot-repotberinvestasi—mengambil risiko—di litbang teknologi guna menciptakan terobosan.

Kesadaran mengenai peran penting inovasi dan sistem inovasi yang produktif untuk

percepatan pertumbuhan ekonomi, belakangan kian mengkristal di tingkat pemerintah

pusat.Didirikannya Komite Inovasi Nasional (KIN) pada 2010 oleh Presiden RI merupakan

sinyal positif munculnya mindset inovasi di tingkat elite. Namun menjadi pertanyaan:

apakah mindset ini merupakan sebuah konsensus nasional yang takkan lekang oleh waktu

alias menjadi visi pembangunan jangka panjang negeri ini, atau sekadar gagasan periodikal

yang tumbuh dan layu seiring dengan pergantian pemerintahan? Katakanlah bahwa inovasi

telah menjadi mindset di tingkat elite, tetapi menjadi pertanyaan pula: apakah masyarakat

memiliki mindset yang sama, sehingga ketika inisiatif top-down dijalankan pemerintah,

masyarakat akan merespons dengan baik—tidak bertepuk sebelah tangan?

Sebagaimana dijelaskan di muka, budaya berinovasi belum terbangun mapan di

negeri ini. Karena itulah secara bersamaan, seiring dengan upaya top-down pemerintah,

perlu dilakukan upaya membangun mindset inovasi di tengah-tengah masyarakat, sehingga

mindset ini akan selalu ada dan tidak terpengaruh oleh pergantian pemerintahan. Upaya ini

dapat dilakukan dengan melakukan penguatan inovasi terhadap simpul-simpul strategis

(34)

selalu ada (exist), memiliki peran besar, dan/atau kelak memegang tampuk kepemimpinan

bangsa dimasa mendatang, antara lain: lembaga swadaya masyarakat (LSM), pers,

perguruan tinggi, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), atau asosiasi-asosiasi bisnis.

Pembentukan jaringan atau komunitas inovasi di antara, dan untuk, elemen-elemen ini

perlu dilakukan guna menebar ''virus-virus inovasi''.

6.2MENINGKATKAN KEMAMPUAN EKONOMI BANGSA

Upaya-upaya mencapai visi Indonesia 2025 telah dilakukan pemerintah secara

bertahap melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 1 (2005–2009), RPJM 2 (2010-2014), yang akan dilanjutkan dengan RPJM 3 hingga RPJM 5 (2020-2024). Jika dalam

RPJM 1 pemerintah fokus pada upaya-upaya penataan kembali NKRI, membangun Indonesia

yang aman dan damai, yang adil dan demokratis dengan tingkat kesejahteraan yang lebih

baik, dalam RPJM2 pemerintah mengarahkan perhatiannya pada target memantapkan

penataan kembali NKRI, meningkatkan kualitas SDM, membangun kemampuan IPTEK, dan

memperkuat daya saing perekonomian bangsa. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan

produktivitas nasional melalui peningkatan kemampuan IPTEK dan kualitas SDM guna

meningkatkan daya inovasi.

Tekad pemerintah untuk mencapai masyarakat adil dan makmur melalui

peningkatan kemampuan teknologi dan inovasi tercermin secara jelas, diantaranya melalui

arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan Tapak Siring, 21 April 2010, yang

antara lain dikemukakan: a) Perlunyapeningkatan infrastruktur ekonomi termasuk

i frastruktur IPTEK di seluruh ilayah ta ah air; pe a gu a ―connectivity aik fisik maupun ICT; c) perlunya upaya inovasi teknologi secara besar-besarandan terencana yang

dihasilkan oleh seluruh komponen aktor inovasi: pemerintah, dunia akademis, pengusaha

dan masyarakat; d) pentingnya upaya perbaikan secara sungguh-sungguh terhadapiklim

investasi; dan e) peningkatanproduktivitas nasional.

Selain hal di atas, diperlukan usaha untuk memperbaiki peraturan dan

perundang-undangan untuk meningkatkan ruang gerak investasi sektor riil terutama manufaktur dalam

rangka mendorong tumbuhnya investasi produktif (productive investment). Karena telah

diyakini bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, faktor inovasi dan

ekologi harus mewarnai segala ekonomi kita. Indonesia juga harus melakukan upaya

Referensi

Dokumen terkait

UMKM Naik Kelas menggambarkan pelaku usaha UMKM tumbuh dan berkembang. Dengan semangat inovasi, kreativitas, dan dedikasi, mereka meningkatkan skala usaha dan mencapai prestasi baru. Keberhasilan UMKM Naik Kelas tidak hanya menciptakan dampak positif pada bisnis lokal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi komunitas untuk terus berkembang dan berkontribusi pada perekonomian yang lebih

Menjual rak telur kepada konsumen memiliki berbagai manfaat yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis Anda serta memberikan nilai tambah yang kompetitif. Berikut beberapa manfaat utamanya: 1. Potensi Pasar yang Luas Rak telur dibutuhkan oleh berbagai pelaku bisnis, seperti peternakan unggas, distributor telur, supermarket, pasar tradisional, dan pelaku usaha makanan. Permintaan yang stabil memastikan peluang bisnis yang besar. 2. Produk dengan Konsumsi Berkelanjutan Telur adalah kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi masyarakat. Dengan demikian, permintaan rak telur sebagai pelindung dalam distribusi dan penyimpanan tetap tinggi. 3. Keuntungan Finansial yang Stabil Dengan harga produksi yang relatif terjangkau dan permintaan pasar yang konstan, bisnis rak telur memiliki potensi margin keuntungan yang baik. 4. Solusi Perlindungan Produk Rak telur berfungsi melindungi telur dari kerusakan selama penyimpanan dan transportasi. Memberikan solusi ini kepada konsumen akan meningkatkan kepercayaan mereka terhadap bisnis Anda. 5. Produk Ramah Lingkungan Rak telur berbahan kertas daur ulang atau serat alami lebih diminati karena ramah lingkungan. Ini memungkinkan bisnis Anda mengikuti tren keberlanjutan yang semakin diminati pasar. 6. Fleksibilitas Ukuran dan Kustomisasi Anda dapat menawarkan berbagai ukuran dan jenis rak telur sesuai kebutuhan pelanggan, seperti rak untuk 6, 12, atau 30 butir telur. Kustomisasi desain untuk merek konsumen juga bisa menjadi nilai tambah. 7. Peluang Ekspor Rak telur yang berkualitas tinggi memiliki potensi untuk diekspor ke negara-negara yang memiliki industri unggas besar. 8. Membantu Konsumen Menghemat Biaya Dengan menyediakan rak telur yang tahan lama dan berkualitas tinggi, konsumen dapat mengurangi kerugian akibat kerusakan telur selama

Mesin Rak Telur: Investasi Tepat untuk Bisnis yang Lebih Menguntungkan Dalam dunia bisnis yang kompetitif, produktivitas tinggi dan efisiensi biaya adalah kunci kesuksesan. Jika Anda sedang mencari cara untuk meningkatkan kualitas dan jumlah produksi rak telur dengan hasil yang maksimal, mesin rak telur adalah solusi terbaik yang dapat membawa bisnis Anda ke level berikutnya. Mengapa Mesin Rak Telur Adalah Pilihan Cerdas? 1. Peningkatan Kapasitas Produksi Tidak perlu lagi repot dengan proses produksi manual yang memakan waktu. Mesin rak telur memungkinkan Anda memproduksi rak dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Dengan kapasitas produksi yang tinggi, Anda dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. 2. Kualitas Produk yang Terjamin Produk yang dihasilkan oleh mesin ini memiliki bentuk dan ukuran yang seragam, sehingga lebih kokoh dan mampu melindungi telur dengan baik. Konsistensi kualitas ini akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis Anda. 3. Hemat Biaya dan Efisiensi Operasional Mesin rak telur membantu Anda mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual, sehingga menghemat biaya operasional. Selain itu, penggunaan bahan baku lebih efisien dan mengurangi limbah produksi. 4. Ramah Lingkungan Mesin ini dapat menggunakan bahan baku dari kertas daur ulang atau material ramah lingkungan lainnya. Dengan demikian, Anda tidak hanya meningkatkan keuntungan bisnis, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga lingkungan. 5. Teknologi Modern yang Mudah Digunakan Dilengkapi dengan panel kontrol digital, mesin ini memungkinkan pengaturan suhu, tekanan, dan waktu produksi dengan mudah dan presisi tinggi. Bahkan tanpa pengalaman teknis yang mendalam, Anda dapat mengoperasikannya dengan lancar.

Jika Anda bergerak dalam industri rak telur atau memiliki rencana untuk memulai bisnis di bidang ini, penggunaan mesin rak telur adalah langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memberikan berbagai keuntungan kompetitif. Mengapa Memilih Mesin Rak Telur? 1. Efisiensi Produksi Maksimal Dengan mesin rak telur, proses produksi dapat berjalan secara otomatis dan jauh lebih cepat dibandingkan metode manual. Dalam waktu yang sama, Anda dapat memproduksi lebih banyak rak telur dengan kualitas yang seragam. 2. Kualitas Produk yang Konsisten Mesin rak telur dirancang untuk menghasilkan produk dengan bentuk dan ukuran yang seragam. Ini penting untuk menjaga standar kualitas produk yang diminati konsumen, khususnya dalam industri telur dan logistik. 3. Hemat Biaya Operasional Menggunakan mesin rak telur secara signifikan mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual. Selain itu, mesin ini mampu mengoptimalkan penggunaan bahan baku sehingga mengurangi limbah produksi. 4. Ramah Lingkungan Bahan baku untuk pembuatan rak telur dapat menggunakan material daur ulang seperti kertas bekas atau serat alami. Proses produksi dengan mesin juga lebih hemat energi dibandingkan metode tradisional. 5. Fleksibilitas Produksi Mesin rak telur modern dapat disesuaikan untuk memproduksi berbagai jenis dan ukuran rak telur sesuai dengan kebutuhan pasar. Fleksibilitas ini memungkinkan Anda untuk menjangkau berbagai segmen konsumen. Investasi yang Menguntungkan Mesin rak telur bukan hanya alat produksi, tetapi juga investasi yang dapat meningkatkan daya saing bisnis Anda di pasar. Dengan kemampuan memproduksi rak telur dalam jumlah besar dan kualitas tinggi, Anda memiliki peluang besar untuk menjangkau pasar lokal maupun ekspor. Dukungan Teknologi Modern Mesin rak telur dilengkapi dengan fitur-fitur canggih seperti panel kontrol digital yang memudahkan pengaturan suhu, tekanan, dan waktu produksi. Kemudahan ini memungkinkan siapa pun, bahkan tanpa pengalaman teknis yang mendalam, untuk mengoperasikan mesin dengan efisien.

Solusi Es Kristal Terbaik untuk Bisnis Anda: Mesin Es Kristal Kapasitas 2 Ton Dalam dunia bisnis makanan dan minuman, memiliki pasokan es yang andal dan berkualitas tinggi adalah kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Es kristal, dengan kejernihan dan bentuknya yang sempurna, tidak hanya meningkatkan estetika minuman, tetapi juga memastikan kualitas terbaik bagi pelanggan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, hadir mesin es kristal kapasitas 2 ton sebagai solusi unggul untuk bisnis Anda. Keunggulan Mesin Es Kristal Kapasitas 2 Ton Produksi Efisien Mesin ini mampu menghasilkan es kristal hingga 2 ton per hari. Dengan kapasitas besar ini, Anda tidak perlu khawatir kehabisan pasokan es, bahkan saat menghadapi permintaan tinggi. Kualitas Es Kristal yang Sempurna Teknologi canggih dalam mesin ini memastikan setiap potongan es yang dihasilkan memiliki kejernihan dan bentuk yang konsisten. Es kristal yang dihasilkan tidak mudah mencair, sehingga cocok untuk berbagai kebutuhan bisnis, termasuk restoran, kafe, dan pabrik pengolahan makanan. Hemat Energi Mesin ini dirancang untuk efisiensi energi, membantu mengurangi biaya operasional tanpa mengorbankan kualitas. Dengan sistem pendinginan yang inovatif, mesin ini bekerja dengan optimal sambil tetap ramah lingkungan. Mudah dioperasikan Mesin ini dilengkapi dengan panel kontrol yang intuitif, memudahkan pengguna untuk mengoperasikan dan memantau kinerjanya. Sistem otomatisnya juga membantu menjaga produksi tetap berjalan dengan lancar. Manfaat bagi Bisnis Anda Investasi dalam mesin es kristal kapasitas 2 ton adalah langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas operasional bisnis Anda. Dengan pasokan es yang konsisten, Anda dapat: Menyajikan minuman yang lebih menarik dan berkualitas kepada pelanggan. Mengurangi ketergantungan pada penyedia es eksternal, sehingga lebih hemat biaya. Meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis Anda. Fleksibilitas dan Keandalan Mesin es kristal kapasitas 2 ton cocok untuk berbagai jenis bisnis: Restoran dan Kafe: Pastikan minuman dingin Anda selalu segar dengan es kristal yang jernih. Industri Perikanan: Jaga hasil tangkapan tetap segar dengan es yang tahan lama. Pabrik Pengolahan Makanan: Lindungi produk Anda dengan es berkualitas