Kajian kerentanan
dampak perubahan iklim
& risiko bencana
Desa Melemba
Penanggung Jawab Anas Nasrullah
Penulis Naskah Muhamad Suhud
Sofyan ‘Eyank’
Tim Pendukung Libby
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
II. PROFIL DESA MELEMBA
III. KONDISI IKLIM DESA
IV. DAMPAK MASALAH IKLIM DESA MELEMBA
V. KAJIAN KEMAMPUAN ADAPTASI MASYARAKAT DESA MELEMBA
VI. TINGKAT KERENTANAN MASYARAKAT
VII. PENUTUP DAN REKOMENDASI
1
I. PENDAHULUAN
Iklim merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk pola kehidupan dan penghidupan suatu masyarakat. Iklim juga merupakan bagian penting dalam menentu-kan lingkungan alam. Faktor-faktor tersebut berinteraksi membentuk sistem kehidupan yang saling mengisi.
Terjadinya perubahan iklim memengaruhi terhadap pola musim maupun sifat-sifat cuaca pada suatu wilayah. Perubahan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif. Namun kecenderungan yang terjadi dibanyak wilayah di Indonesia, dampak negatif lebih dominan. Tidak terkecuali di wilayah Desa Melemba, Kabupaten Kapuas Hulu,Provinsi Kalimantan Barat. Semakin buruknya dampak perubahan iklim juga berkorelasi dengan semakin menurunnya fungsi ekologis akibat kerusakan lingkungan yang ada.
Masyarakat pedesaan, pada dasarnya telah memiliki pengetahuan dan kearifan lokal dalam memprediksi cuaca dan musim. Pengetahuan ini terkait erat dengan mata penca-harian maupun tradisi yang berjalan dalam kehidupan mereka; kapan waktu bertanam, melakukan ritual adat, berburu, mengambil hasil hutan, mencari ikan, dll. Hal-hal tersebut juga terkait dengan ancaman-ancaman bencana yang ada seperti cuaca ekstrim dan banjir.
Persoalan mulai munculatau dirasakan, saat terjadinya perubahan. Cuaca atau musim seringkali tidak menentu.Parameter atau tanda-tanda yang diajarkan para tetua (nenek moyang) sebagai pengetahuan dan kearifan lokal tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini. Perubahan yang belum sempat dipelajari secara sungguh-sungguh, kerap ber-dampak negatif, seperti gagal panen atau bahkan menyebabkan kerugian harta benda bahkan jiwa.
Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, ProvinsiKaliman-tan Barat, merupakan salah satu desa di Daerah Ailran Sungai (DAS) Labian-Leboyan. Sungai yang bermuara di Danau Sentarum itu selanjutnya bersatu dengan Sungai Kapuas. Desa yang secara keseluruhan bergantung pada alam cenderung memiliki ting-kat kerentanan tinggi. Kondisi ini tidak lepas dari sensitifnya alam terhadap perubahan yang terjadi. Selain itu desa-desa di DAS Labian Leboyan memiliki keterbatasan terha-dap berbagai akses dan fasilitas publik.
kebutuhan dasar penghidupan dari alam yang ada disekitar desa. Hutan, sungai, danau, rawa maupun lahan pertanian merupakan sumberdaya yang mampu menopang kehidu-pan masyarakat.
Untuk mengetahui lebih mendalam, seberapa besar kerentanan masyarakat Desa Melemba terhadap dampak perubahan iklim, WWF bersama dengan pemerintah Desa Melemba melakukan pengkajian kerentanan dan risiko bencana terkait iklim secara partisipatif.
Adapun maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan kegiatan penilaian kerentanan ini yaitu:
Mengidentiikasi tingkat kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim •
di Desa Melemba sebagai wilayah DAS Labian-Leboyan.
Menemukan masalah yang ada (aktual) dan potensi masalah yang akanterjadi akibat •
adanya dampak perubahan iklim.
Mengidentiikasi berbagai pengalaman berkemampuan (Capability Experience) yang •
telah dimiliki oleh masyarakat (kearifan lokal dan kekinian) dan para pihak lainnya dalam menyikapi perubahan iklim.
Merumuskan strategi peningkatan kapasitas masyarakat dalam bentuk rencana •
adaptasi perubahan iklim di tingkat desa.
II. PROFIL DESA MELEMBA
Desa Melemba secara administratif masuk wilayah Kecamatan Batang Lupar, Kabupat-en Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Desa Melemba terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Meliau, Dusun Sungai Pelaik, dan Dusun Manggin, dengan jumlah penduduk sebanyak 334 jiwa yang terdiri dari 101 KK. Untuk mencapai desa Melemba, hanya bisa ditempuh melalui transportasi air dengan waktu tempuh antara 1-2 jam pada musim hujan atau 3-4 jam pada musim kemarau. Biaya untuk menuju ke Desa Melembadari kota kecamatan di Lanjak mencapai Rp. 1.000.000 – Rp. 2.500.000.
Kawasan Wilayah Melemba merupakan desa enclave dari Taman Nasional Betung Karihun Danau Sentarum (TNBKDS). Desa Melemba juga menjadi bagian dari wilayah hutan lindung dan hutan produksi. Sebagian kawasan juga masih tumpang-tindih (overlaps) dengan manajemen dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) koridor Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun.
Secara historis, Desa Melemba merupakan gabungan dari dua kampung, yakni Meliau dan Manggin, terjadi pada tahun 1985. Sebelum dibentuk menjadi desa, kehidupan masyarakat masih bersifat individualistik. Tempat tinggal tidak menetap (berpindah tempat/nomaden) dan tinggal di perbukitan. Alasan perindahan tempat antara lain terjadinya konlik antar suku, lahan pertanian tidak menghasilkan, rumah rusak, wabah penyakit serta kematian yang terjadi terus menerus.
Pada perkembangannya, masyarakat yang sebelumnya bermukim di Bukit Mpegal, memutuskan untuk pindah dan mendirikan rumah betang atau rumah panjang di ping-giran Sungai Labian. Mayoritas penduduk yang tinggal di desa berasal dari Suku Dayak Iban, dan berprofesi sebagai petani atau bercocok tanam dan nelayan.
Tabel 2
Aktiitas Masyarakat Desa Melemba
Waktu Kegiatan Perubahan dari kegiatan
05.00-06.00 Memasak, menyapu, cuci-cuci, umpan ternak, makan/ sarapan
Sudah banyak perubahan sesuai de-ngan profesi dan usia.
06.00-11.00 Nahan Menoreh, berangkat seko-lah, ke ladang, ke kantor, ke kebun, berburu, nyadap, nahan pukat atau bubu, nempa parang, jual sayur atau kue, nusuk manik/kerajianan tangan
11.00-17.00 Makan siang, istirahat siang, pekerjaan masih sama dengan jam 06.00-11.00
17.00-05.00 Masak, ngumpan ternak, berburu, nyadap aren, ngannyam, nonton atau istirahat bersama keluarga dan tidur.
Sebagian besar masyarakat Desa Melemba memiliki mata pencaharian petani dan nelayan air tawar. Aktivitas telah dimulai pada umumnya pada pukul 05.00 pagi. Perempuan memulai kegiatan harian dengan menyiapkan kebutuhan keluarga, seperti memasak, menyapu, memberi makan ternak, menyiapkan anak sekolah. Pada pukul 06.00 – 11.00 siang, penduduk laki-laki dan perempuan telah membagi diri pekerjaan masing-masing. Saat musim kemarau, penduduk perempuan maupun laki-laki me-norah karet. Menoreh karet tidak dilakukan saat musim penghujan. Selain hasil karet tidak banyak, juga dapat menyebabkan tanaman karet membusuk dan mati. Sebagian yang lain, penduduk laki-laki mencari ikan dan pada waktu tertentu berburu. Pada waktu musim penghujan, para perempuan membuat kerajinan karena kegiatan bertani atau menoreh karet tidak dapat dilakukan. Kegiatan dilanjutkan setelah istirahat dan makan siang pada pukul 11.00 – 13.00 wib sampai pada pukul 17.00 wib. Kegiatan malam dipenuhi dengan bersantai dengan keluarga.
7 Masyarakat juga masih memanfaatkan hutan untuk mendapakan madu hutan dan berburu.
Gambar 1. Sketsa Desa Melemba
Sketsa sumber daya dan kebencanaan menunjukan, sumber daya penting menyatu de-ngan pemukiman. Sungai yang menjadi wilayah desa melemba berbatasan dede-ngan Desa Sungai Ajung dan Desa Tempurau.
Lahan sawah tadah hujan berada di selatan desa seluas 49 ha.Kawasan ekowisata yang dikembangkan sejak tahun 2010 seluas 7.062 ha.Sumber air bersih berada di Bukit Peninjau dan Bukit Telatap yang dialirkan melalui pipa dan cara ini telah dimanfaatkan oleh warga sejak tahun 2014.
Di desa juga terdapat beberapa fasilitas publik, diantaranya adalah Sekolah Dasar (SD) 2 buah, sarana kesehatan berupa Puskedes dan Pustu, Kantor desa, Posyandu.
Sumberdaya penting masyarakat mengalami gangguan pada musim hujan berupa ban-jir. Sungai menjadi keruh. Ancaman ini berpotensi menjadi bencana. Banjir menyebab-kan gagal panen pada sawah serta merusak tanaman perkebunan. Banjir juga me-nyebabkan air keruh dengan durasi waktu 1 minggu. Pada saat air keruh, pendapatan nelayan dalam menangkap ikan berkurang. Hanya beberapa jenis ikan yang menjadi hasil tangkapan nelayan pada kondisi air sungai keruh. Pada saat air kembali normal, hasil tangkapan ikan meningkat.
memu-dahkan mobilitas penduduk untuk keluar desa. Sekalipun terdapat ancaman berupa cuaca buruk yang dapat menyebabkan kecelakaan pada transportasi air ini, namun ke-mampuan masyarakat dalam membaca cuaca meminimalisasi kasus-kasus kecelakaan transportasi air.
2.1 Perubahan Penghidupan, Sosial dan Sumber Daya
Masyarakat Desa Melemba sepenuhnya menggantungkan kehidupan pada sumberdaya alam yang ada. Sungai, danau, hutan, serta lahan pertanian merupakan sumberdaya tumpuan masyarakat. Sungai dan danau merupakan aset terpenting bagi masyarakat. Selain sebagai sumber penghidupan utama sebagai nelayan air tawar, sungai sampai saat ini menjadi sarana penting mobilitas penduduk. Berkembangnya tren memancing di seluruh dunia sebagai olah raga, juga menjadi bagian penting kehadiran sungai dan danau dalam paket ekowisata.
Sumberdaya penting lain adalah hutan. Saat ini penduduk Desa Melemba memanfaat-kan hutan dari hasil hutan bumemanfaat-kan kayu (HHBK). Komoditas tidak saja berupa barang seperti madu, tanaman obat, dan pangan, tetapi juga jasa lingkungan melalui pengem-bangan ekowisata.Flora-fauna eksotis seperti Orangutan, Bekantan, atau satwa liar lain, serta keragaman anggrek (terdapat lebih dari 50 jenis), menjadi daya tarik tersendiri dalam paket ekowisata.
Pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan di Desa Melemba merupakan bagian dari proses panjang sistem sosial yang ada. Sebelumnya, masyarakat meman-faatkan hasil alam langsung dari hutan. Pemanfaatan sungai dan danau untuk meleng-kapi kebutuhan. Perubahan terjadi seiring dengan mulai terbukanya akses informasi dan interaksi dengan pihak luar. Perpindahan pemukiman yang sebelumnya menem-pati perbukitan dengan sumber penghidupan utama dari daratan bergeser pada pemu-kiman pinggir sungai dengan tetap mempertahankan tradisi sebelumnya. Penduduk tinggal di rumah panjang sebagai bagian dari tradisi suku Dayak.
Peran laki-laki dan perempuan dalam melakukan aktivitas mata pencaharian dan sumberdaya alam saling melengkapi. Berbagai kegiatan dilakukan secara bersama-sama. Baik pada sektor pertanian, nelayan maupun pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Dominasi terjadi pada beberapa sub kegiatan. Seperti pembagian peran dalam menyiapkan lahan, benih, menanam maupun saat panen. Demikian juga pada sektor nelayan, ekowisata, dll. Secara umum, pembagian peran menerminkan keadilan gender yang berimbang.
9 maupun non formal. Aturan formal dituangkan dalam berbagai kebijakan peraturan desa, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Aturan informal dilakukan melalui berbagai kesepakatan dan hukum adat yang masih berlaku berikut sanksi sebagai bentuk penegakan hukum atas aturan yang ada.
Perubahan lingkungan secara signiikan terjadi bersamaan dengan izin HPH pada tahun 1980 – 2000. Eforia kebebasan paska peralihan pemerintahan dari Orde Baru, mendorong maraknya pembalakan liar sampai tahun 2008. Kondisi menciptakan keru-sakan hutan yang sangat signiikan. Kerukeru-sakan ini berimplikasi pada kerukeru-sakan DAS dan kualitas Sungai Labian sebagai sumber penghidupan utama masyarakat.
Dengan dukungan dari organisasi non pemerintah seperti WWF, masyarakat mulai membenahi kerusakan lingkungan yang ada. Warga masyarakat menetapkan hutan desa, agroforestry.Pada tahun 2010, ditetapkan hutan wisata seluas 7.026 ha. Penghi-jauan dilakukan diantaranya dengan menanam 10.000 bibit kopi pada kawasan agroforestry seluas 27 ha, menanam tanaman buah lokal dan kayu keras sebanyak 23.000 pada kawasan habitat orangutan, dan menananm bibit karet pada lahan-lahan masyarakat.
Masyarakat Desa Melemba, juga memanfaatkan berkembangnya teknologi untuk berba-gai aspek kehidupan. Perahu sebaberba-gai sarana transportasi maupun sarana nelayan telah menggunakan mesin. Alat tangkap pun berkembang dari yang tradisional ke arah yang lebih modern. Belum adanya aturan, menyebabkan beberapa nelayan menggunakan alat tangkap yang merusak seperti jamal waring sehingga mengganggu ketersediaan ikan. Pada akhirnya, dibuat aturan dalam penggunaan alat tangkap yang tidak merusak atau mengganggu daur hidup ikan. Pada sektor pertanian, penggunaan pestisida dan herbisida kimiawi juga menyebabkan gangguan terhadap ekosistem. Beberapa jenis ikan mulai langka pada wilayah sekitar pertanian.
11
Tabel 3
Perubahan Sumber Penghidupan dan Sosial Masyarakat
Sumber penghidupan utama (matapencarian) dan tambahan
Mata pencaharian utama: Nelayan
Tambahan; bertani; ekowisata; pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Sebelumnya masyarakat desa memanfaatkan hasil hutan, sungai dan bertani dengan cara berpindah-pindah.
Sumberdaya tumpuan masyarakat Sungai, danau, hutan dan lahan pertanian Yang dikerjakan laki-laki dan perempuan
atas penghidupan dan sumberdaya alam
Pembagian peran laki-laki dan perempuan dilakukan secara proporsional. Laki-laki dan perempuan secara bersama-sama menangkap ikan, berladang, pengolah ikan dll
Pihak mana yang memiliki kewenangan memberi izin menggunakan sumberdaya alam
Pada kawasan taman nasional DS, izin diberikan oleh kan-tor taman nasional. Dishut untuk kawasan hutan lindung KPH untuk hutan produksi
Menangkap ikan, ada aturan main dalam penggunaan alat tangkap ikan berdasarkan kesepakatan rukun nalayan yang dibuat tahun 2012 (terlampir).
Dalam berladang, terdapat aturan adat dalam pengola-han lapengola-han sampai system pemanenan. Terdapat ritual pada pemilihan lokasi berladang, masa tanam maupun pemanenan
Perubahan pada kondisi sumberdaya alam 10/20 tahun terakhir
- Hutan : pada tahun 1980 – 2000 terdapat izin HPH Pada tahun 2000 – 2005; terjadi praktik illegal loging yang menyebabkan kerusakan hutan semakin parah. Selanjutnya, hutan dijadikan hutan desa dan kegiatan jasa lingkungan hutan wisata pada 2010 seluas 7.026 ha. - Sungai :
Terdapat penambangan pasir dan pembangunan jalan, sehingga sungai menjadi keruh saat awal musim hujan dan terjadi pendangkalan.
Ikan mulai berkurang
Alat tangkap mulai beralih ke yang lebih modern System penangkapan berlebihan (over fishing) dengan penggunaan jamal waring (jala padat)
Ikan kualitas eksport; arwana, belida dan tapa Kejadian banjir besar rata-rata lamanya lebih dari lima
• •
•
Kejadian banjir besar rata-rata lamanya lebih dari lima bulan
Ada kesepakatan untuk melakukan budidaya ikan arwana Saat hujan, air menjadi keruh dan ikan menjadi sedikit
Pertanian dan perkebunan : sebelumnya pertanian *
masih tradisional dengan peralatan yang sederhana Pengembangan argo foresti seluas 27 ha. De-*
ngan jenis bibit kopi sebanyak 10 ribu bibit. Dan pengayaan di habitat hutan seluas 67 ha. Berupa tanaman buah local dan kayu keras sebanyak 23.000 bibit
Mulai menggunakan pestisida dan herbisisa. Peng-*
gunaan zat kimia ini mempengaruhi ekosistem, beberapa jenis hewan hilang atau langka seperti kepiting (yuyu), ikan lele
Peran perempuan lebih dominan, dari mulai menyiap-*
kan lahan, menyemai dan melakukan perawatan Air bersih; sebelumnya penggunaan air untuk kebu-*
tuhan sehari-hari menggunakan air sungai laboyan. Pada tahun 2013 mulai menggunakan air yang diambil dari mata air di dusun sungai Plaid an tahun 2014 di dusun meliau
Perubahan pada cara masyarakat memanfaatkan sumberdaya
Pengelolaan sumberdaya alam pada kawasan konservasi diatur sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Perubahan pada kehidupan sosial dan
ekonomi masyarakat 10/20 tahun terakhir
Selain mayoritas penduduk sebagai petani dan nelayan, di Desa Melemba ini juga tumbuh usaha-usaha kerajinan, pariwisata, homestay, peternakan, perikanan, dan HHBK. Kearifan lokal dan pengetahuan lokal
dalam pengelolaan sumberdaya alam
Ritual dalam berladang; pada tiap fase terdapat ritual
•
Memahami cuaca dengan melihat tanda-tanda alam,
•
khususnya dalam transportasi
Penyiapan bibit tanaman karet dengan cara direndam
•
sebelum ditanam sampai gugur daun. Cara ini untuk menyesuaikan lahan yang lama terendam banjir yang mencapai 5 bulan
Telur ikan sebagai tanda untuk melihat air pasang
(me-•
13
• •
•
•
Peran strategis perempuan dahulu dan sekarang
Sebelumnya, perempuan tidak berperan dalam struktur pemerintahan, organisasi maupun kegiatan-kegiatan kemasyarakat.
Saat ini, peran perempuan telah ada pada struktur pemer-intahan seperti BPD; struktur organisasi kemasyarakatan, kelompok-kelompok di masyarakat dll
Perubahan secara umum kearah positif dalam pengelolaan sumberdaya alam
14 Bulan
Info 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Musim hujan X X X X XXX XXX XX Musim kemarau X X XX XXX XXX
Masa peralihan musim
X X X
Tanda-tanda datang-nya musim :
• Angin Angin kuat
Petir
Angin di
danau cukup kencang. Hujan nyala (hujan dan panas dalam satu waktu)
Angin berhembus sedang Angin
ken-• Suhu Pada malam hari dingin Siang panas Panas sekali Siang panas
Pada malam hari dingin
• Air permukaan Air mulai surut Air surut Air surut
Kurang lebih 4 meter dari
Air Air sungai sangat tinggi
Naik air sungai kurang lebih
• Air bukit Air melimpah Air berkurang Air melimpah
• Rawa
Aktifitas Masyarakat
harga kebutuhan naik
Sumber Penghidupan
Berbuah
diambil banyak diambil
Buah-buahan; teng
Karamba
Kesehatan Masyarakat
III.KONDISI IKLIM DESA
Untuk mengetahui kondisi iklim di desa, dilakukan indentiikasi komponen-komponen iklim yang terjadi pada umumnya berdasarkan siklus dalam satu tahun. Identiikasi dilakukan melalui pembagian musim yang terjadi, sifat musim (hujan dan panas/keker-ingan) serta masa peralihan, tanda-tanda datangnya musim dari sisi sifat angin, suhu, dan kelembaban. Dari komponen musim dan tanda-tanda yang telah teridentiikasi, alam dikaitkan dengan pola penghidupan yang ada di masyarakat, seperti kelimbahan sumberdaya tumpuan masyarakat, pendapatan masyarakat, pengeluaran, jenis-jenis penyakit, jenis ancaman bencana, dll.
Tabel 4
15
• Angin Angin kuat Angin di Angin berhembus sedang Angin
• Suhu Siang panas Siang
• Air permukaan Air mulai surut Air surut Air surut
Danau sentarum kering
Kurang lebih 4 meter dari
normal sungai
Air
mu-lai naik
Air sungai sangat tinggi
(puncak air sungai)
Naik air sungai kurang lebih
2 meter dari kondisi normal
• Air bukit Air melimpah Air berkurang Air melimpah
• Rawa Tergenang Kering Tergenang
Aktifitas Masyarakat
Hasil/pendapatan
masyarakat XX X X XX XX X X X X XXX XXX XXX Pengeluaran uang
cash
Transportasi sulit,
harga kebutuhan naik
Sumber Penghidupan
Padi
Panen Bu-ka
la-han tanam perawatan Berbuah Karet Getah
karet
• Angin Angin kuat Angin di Angin berhembus sedang Angin
• Suhu Siang panas Siang
• Air permukaan Air mulai surut Air surut Air surut
Kurang lebih 4 meter dari
Air Air sungai sangat tinggi
Naik air sungai kurang lebih
• Air bukit Air melimpah Air berkurang Air melimpah
• Rawa
Aktifitas Masyarakat
harga kebutuhan naik
Sumber Penghidupan
Berbuah
diambil banyak diambil
Buah-buahan; teng
Perikanan XX X X X X X X X X X XXX XXX
Karamba X X X X X
Madu XXX XXX XXX X
Kerajinan X X X X X X X X X X X X
Kesehatan Masyarakat
Diare X X X X X
Tipes X X X X X X
Batuk pilek X X X X X X
Kejadian Bencana
Banjir X X X
Dari tabel 4 di atas menunjukkan, musim penghujan berlangsung selama 7 bulan; dimulai bulan September dan berakhir pada bulan Maret. Musim kemarau berlangsung selama 5 bulan, berlangsung pada dari bulan April-Agustus. Masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau terjadi pada bulan Maret dan April.Sementara, masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan pada bulan September.
Tanda-tanda musim masih dapat dikenali oleh masyarakat secara baik. Musim penghu-jan ditandai dengan kecepatan angin yang kuat. Pada bulan Januari dan Februari, kerap terjadi hujan yang disertai petir. Angin yang bertiup keras di danau menjadi pertanda musim mulai beralih dari musim penghujan ke musim kemarau. Udara terasa lembab (panas) dan kerap terjadi hujan bersamaan dengan terik matahari. Sementara itu, pada masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan ditandai dengan angin kencang yang terjadi pada malam hari.
Air permukaan, baik air sungai maupun mata air mulai berkurang memasuki musim ke-marau. Pada puncak kemarau, yakni pada bulan Juli-Agustus, kondisi Danau Sentarum kering. Air Sungai Leboyan menyusut dan turun sampai 4 meter dari batas badan sun-gai. Sementara saat puncak musim penghujan, yakni pada bulan Oktober-Desember, Danau Sentarum tergenang air. Ketinggian sungai naik mencapai 2 meter dari batas badan air. Demikian juga dengan rawa-rawa yang ada di wilayah Desa Melemba mulai terisi air.
17 penghujan maupun musim kemarau. Pada sektor pertanian, penyiapan lahan telah dila-kukan menjelang musim penghujan. Memasuki musim hujan merupakan masa tanam. Panen padi terjadi pada bulan Agustus. Pohon karet pada dasarnya dapat menghasilkan getah karet sepanjang musim. Namun pada wilayah desa yang tergenang, seperti Dusun Meliau, menorah karet tidak dapat dilakukan saat musim penghujan –karena lahan perkebunan karet tergenang. Jika dipaksa menoreh, dapat menyebabkan pohon karet membusuk dan mati.
Pada saat musim penghujan, ketersediaan ikan melimpah. Nelayan air tawar panen ikan pada bulan November-Januari. Pada saat kemarau, ikan lebih banyak berada di hulu Sungai Labian. Pendapatan nelayan dari sektor perikanan tetap ada, namun tidak banyak. Pada awal musim hujan, saat Sungai Labian keruh, tidak banyak ikan yang dapat ditangkap nelayan. Air keruh umumnya berlangsung kurang lebih 5-7 hari.
Pada sektor hasil hutan bukan kayu, seperti madu dimulai pada bulan Desember dan hasil madu tertinggi pada bulan Januari-Maret. Ekowisata yang dikembangkan masyarakat banyak dikunjungi wisatawan pada masa libur, yakni Juni-Juli. Pengun-jung ekowisata dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sekalipun dirasakan oleh masyarakat sendiri, kendala transportasi yang menyebabkan paket wisata cukup mahal dapat menghambat daya tarik turis untuk berkunjung ke Desa Melemba.
Pengeluaran terbesar warga Desa Melemba terjadi pada musim kemarau.Surut atau keringnya Danau Sentarum menyebabkan air (sungai dan danau) sebagai satu-satunya jalur transportasi tidak dapat dilalui melalui jalur terdekat. Jalur transportasi harus memutar untuk sampai ke pusat kota kecamatan maupun beberapa wilayah lainnya. Kondisi ini menyebabkan seluruh kebutuhan dasar/pokok mengalami kenaikan. Ber-samaan dengan musim kemarau, penyakit seperti diare mengalami peningkatan. Pada musim penghujan, penyakit yang umum diderita penduduk adalah lu dan tipes.
3.1 Pandangan Masyarakat Atas Perubahan Pola Musim
19
POLA IKLIM PERUBAHAN DAMPAK PERUBAHAN
A Lamanya musim kemarau Tahun 2007 lebih panjang kemarau bisa selama dari Mei – Oktober Tahun 2015 lebih panjang kemarau selama 6 bulan dari Maret – Agustus
Tidak menentu dalam lima tahun terakhir
Danau kering, ikan banyak mati dan air bersih sulit didapat.
Transportasi jalur air makin sulit/jauh Harga kebutuhan meningkat Disisi kesehatan diare meningkat, alergi kulit, ganguan pernafasan akibat kabut asap
Petani karet mendapat hasil torehan lebih banyak.
B Lamanya musim hujan Tahun 2010 lebih panjang selama 9 bulan
Tidak menentu dalam lima tahun terakhir
Petani karet tidak dapat menoreh Transportasi jalur air lancar Harga barang stabil Penghasilan ikan lebih banyak C Lamanya musim peralihan Stabil lamanya musim peralihan
selama 1-2 bulan sepanjang tahun. Waktu terjadinya tidak lagi dapat diperkirakan
Sampar ayam merugikan peternak Hama meningkat
Daun karet gugur
Bisa mansai ikan di rawa atau di dekat sungai atau sekitar sungai dan diladang yang ada rawanya Musimnya ikan memijah, contohnya ikan tapah, biawan, dll.
D Tanda-tanda awal musim hujan, kemarau, dan peralihan
Musim hujan ke musim kemarau Air sungai dan danau surut Burung belibis banyak kepinggir sungai
Burung tintin apai banyak kepinggir danau
Bulan sabit menghadap ke barat tanda-tanda musim kemarau Musim kemarau ke musim hujan Burung tintin apai bertelur Banyak Laron pada malam hari Banyak suara kodok
Bulan sabit miring ke timur tanda
Akar kayu menjelang tua Mulai timbul penyakit flu, batuk Petani madu hutan dalam panen madunya bergantung pada musim hujan
Tabel 5
Banyak suara kodok
Bulan sabit miring ke timur tanda masuk musim hujan
Kuncup bunga banyak terlihat E Sifat musim Musim hujan
Air pasang, ketinggian air sungai meningkat 1-2 meter di daerah Melambai dan sekitarnya karena curah hujannya tinggi
Air danau bergelombang Angin kencang, petir cukup kuat Curah hujan tinggi
Musim kemarau
Musim hujan
Pohon lalau dan pohon lain yang tinggi kena sambar petir
Tanaman padi ter-endam air, petani terancam gagal panen
Musim kemarau
Transportasi jalur air sulit/jauh Harga kebutuhan meningkat F Kearifan lokal/
pengeta-huan lo-kal terhadap awal musim, lama musim, dan tanda-tanda musim
Hujan
Aktivitas masyarakat waktu men-ebas, menanam, dan memanen me-lihat tanda-tanda alam dari hewan sekitar seperti burung ketupung, lebah hutan, kijang, dll. Ada acara adat ketika mulai menanam
Tidak terjadi perubahan dari tradisi yang dulu ke jaman sekarang
Dipercaya dapat mendatangkan bala (bencana) pada yang tidak percaya atau mematuhi
Catatan:
Dari seluruh dampak perubahan yang paling dirasakan masyarakat merugikan: Gagal panen tanaman dan ikan
Untuk di Melemba, musim kemarau membuat masyarakat sulit beraktivitas di jalur air (transportasi air) dan harga kebutuhan meningkat
21 saat sungai pasang.
Berkurangnya pendapatan saat musim kemarau, berkorelasi dengan kebutuhan dasar yang meningkat, menjadikan kemarau menjadi masa sulit bagi warga masyarakat. Kemarau lebih panjang seperti yang terjadi pada tahun 2007 dan tahun 2015 dirasakan cukup menyulitkan. Beberapa pendapatan dari getah karet, panen padi, maupun hasil tangkapan ikan, berkurang dan hanya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada saat itu, karamba ikan sebagai tabungan, kerap menjadi penolong dalam memenuhi kebutuhan yang ada. Beberapa alternatif untuk mendapatkan pendapatan telah dila-kukan. Diantaranya adalah dengan mengolah hasil ikan menjadi ikan kering atau ikan asin, mengolah madu, serta mengembangkan ekowisata.
3.2 Kecenderungan Kondisi Cuaca
Warga masyarakat Desa Melemba merasakan terjadi perubahan kondisi cuaca, khusus-nya dalam lima tahun terakhir. Perubahan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut untuk ke depan. Perubahan-perubahan tersebut diyakini oleh warga masyarakat tidak lepas dari berubahnya kondisi lingkungan yang ada disekitar lokasi kegiatan. Berop-erasinya HPH yang dilanjutkan dengan terjadinya pembalakan liar paska reformasi menyebabkan banyak hutan rusak. Demikian juga pembangunan jalan di wilayah hulu sungai dan penambangan, menyebabkan perubahan terhadap isik lingkungan. Seperti sungai menjadi sangat keruh pada masa awal musim hujan, terjadinya sendimentasi pada sungai, mulai berkurangnya berbagai jenis satwa, termasuk ikan sebagai sumber pendapatan masyarakat.
Komponen cuaca Perubahan beberapa
tahun terakhir Dampak
Kecendrungan di masa yang akan
datang
Suhu udara Tahun 90an suhu masih sejuk ( iklim masih segar) [90-97]
Masih normal Terjadinya perubahan yang signifikan Berkurangnya habitat hutan dan areal hutan 1997; Suhu meningkat
atau menjadi panas dan kering.
2015; suhu hampir sama dengan tahun 1997 Tahun 97 terjadi kebekaran hutan yang menyebabkan kabut asap.
Ekosistem hutan terganggu
Sempat terjadi tergang-gunya penerbangan Penyakit ISPA dan diare meningkat
Jarak pandang tidak sampai 30 m sehingga menganggu transportasi 2010-2015 setiap
tahun-nya terjadi perubahan suhu semakin meningkat Terjadi kebarakan hutan dan kabut asap.
Ekosistem terganggu Pada musim kemarau, ikan semakin berkurang
Suhu danau Suhu air danau meningkat Kemarau lebih panjang selama lima tahun tera-khir (2011-2015) 2016 terjadi banjir besar
Tangkapan ikan kurang Populasi ikan terganggu Banyak ikan yang mati karena suhu danau menjadi panas Pada musim penghu-jan; Tangkapan ikan meningkat
Populasi ikan semakin menurun
Kelangkaan beberapa jenis ikan
Suhu rawa Terjadi perubahan suhu; meningkat
Menyebabkan penurunan populasi ikan
Produksi hasil tani masyarakat menurun
Terjadinya kelangkaan atau bahkan menghilang-nya flora dan fauna Curah hujan Dalam lima tahun Terjadi banjir besar Terjadinya penurunan
ha-Tabel 6
23
Curah hujan Dalam lima tahun (2011-2016), curah hujan semakin meningkat (lebih tinggi).
Durasi hujan lebih pendek Lama musim penghujan lebih pendek
Terjadi banjir besar Erosi bantaran sungai Gagal panen
Terjadi derangan penyakit diare, malaria
Terjadinya penurunan ha-sil petani dan perkebunan
Kecepatan angin 2011-2016 kecepatan angin di atas kecepatan rata-rata
Terjadi peningkatan gelombang danau Terganggunya transpor-tasi air
Banyaknya tanaman masyarakat yang tumbang
Terganggunya aktivitas masyarakat
Kenaikan air sungai 2011-2016 terjadi kenai-kan air sungai ( banjir) sampai 3 kali dalam setahun
Terganggunya transpor-tasi air
Meningkatnya
Terjadinya kerawanan pangan
Kenaikan air danau 2011-2016 terjadinya kenaikan air danau yang signifikan
Terjadinya peningkatan populasi ikan.
Tabel 6 di atas memperlihatkan pola perubahan cuaca yang dirasakan masyarakat terjadi pada lima tahun terakhir, yakni dari tahun 2011-2016. Masyarakat merasakan perubahan-perubahan tersebut bersifat tidak pasti atau tidak dapat disamakan dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2016, musim kemarau menjadi lebih pendek dari musim-musim sebelumnya.
Tahun 2015 ada kemiripan dengan tahun 1997. Kemarau terasa kering dan terjadi kabut asap karena adanya kebakaran hutan, sekalipun tidak separah tahun 1997-1998. Demikian juga dari sisi durasi waktu musim kering, tidak sepanjang pada tahun 1997-1998.
Kejadian Tahun Sebelum dan Dampak 2016 2011 2010-2006
Bajir Sedalam 2-2,5 m dari per-mukaan air sungai ±3-5 m
Selama ± 5 bulan beda dengan tahun tahun sebe-lumnya 2011-2015 banjir normal. Ada juga ke-jadian 2014 3 x kemarau dan ada ban-jir.
Sedalam 0,5-1,5 m dari per-mukaan sungai tidak ada banjir yang besar/ lama sampai tahun 2014 Catatan: ada kemarau pasda ta-hun 2013. 2 x ke-marau se-hingga mempengaruhi produksi ikan bagi masyarakat
Tidak ada banjir khusus karena pada tahun 2006-2007 itu kemarau pan-janng sehinnga tidak mempengaruhi masyarakat han-ya akses ke kota kecamatan agak susah. Tapi pada tahun 2010 ada banjir dalam selama 10 bulan.
Hasil perkebunan men-ingkat
Hasil pertanian stabil Pada tahun 2006-2008 ikan stabil panen raya bisa mencapai 3-5 ton 1 x panen (piam, tapah) Tahun 2009-2010 kamarau
banjir panen ikan stabil Cuma beda jenis ikan yang didapat (lais, baung, dan sepat)
Pada tahun 2011-2012 stabil hanya hasil ikan
prediksi. Masyarakat masih mampu menyiasati waktu yang tepat dalam menggunakan transportasi air untuk berbagai kebutuhannya.
3.3 Perubahan Kejadian Bencana/Gangguan Iklim atau Cuaca Buruk
Jika dikaitkan dengan terminologi dan indikator sebuah kejadian dikatagorikan ben-cana, Desa Labian belum mengalami kejadian bencana. Jenis-jenis ancaman yang ada masih berpotensi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan bailk. Baik dari sisi anca-man, kerentanan, maupun kapasitas terhadap ancaman bencana yang ada.
Sebuah kejadian atau kondisi dapat dikatagorikan sebagai bencana jika; 1) menyebab-kan gangguan yang meluas bagi masyarakat, 2) menyebabmenyebab-kan kerugian; harta benda, jiwa, lingkungan, ekonomi, sosial budaya serta 3) masyarakat yang terkena dampak tidak mampu mengatasi dengan sumberdaya yang mereka miliki. Dari tiga indikator tersebut, kemampuan masyarakat Desa Melemba masih memiliki kemampuan dalam mengatasinya. Baik terkait dengan musim penghujan berupa banjir, erosi maupun wa-bah penyakit – maupun saat musim kemarau yang menyebabkan terganggunya mobili-tas sehingga harga-harga kebutuhan pokok menjadi meningkat. Pola-pola penyesuaian diri masyarakat pun terus berkembang seiring dengan perubahan-perubahan karakter maupun sifat ancaman bencana.
Tabel 7
25
selama 10 bulan.
stabil hanya hasil ikan agak menurun dan Pada tahun 2013-2015 penghasilan bagi nelayan dan petani: panen gagal, panen ikan meningkat, panen madu stabil. Pada tahun 2015-2016 Panen padi gagal Panen ikan meningkat Karet gagal total Panen madu menurun Erosi/
longsor
Dari tahun ketahun terjadi penurunan pasir diperbukitan Terjadi bencana di bukit peninjau.
Erosi menjadi di sepanjang Sungai Laboyan menyebabkan sendimentasi
Jenis ancaman yang berpotensi menjadi bencana yang ada di wilayah Desa Melemba antara lain adalah banjir, cuaca buruk yang menyebabkan gelombang tinggi sehingga mengganggu transportasi, serta kekeringan yang menyebabkan terganggunya mobilitas penduduk.
Banjirberpotensi mengancam karena pemukiman penduduk berada tepat di pinggir sungai. Rumah panjang sempat ditinggikan 1,5meter pada tahun 2006 karena tinggi air melebihi lantai rumah panjang. Indentiikasi ancaman, baik dari sisi perubahan curah hujan maupun perubahan lingkungan (sendimentasi), dapat mengancam kehidupan masyarakat. Baik mengancam pemukiman maupun mata pencaharian penduduk. Musim yang tidak lagi dapat diprediksi, menyebabkan tanaman pertanian terancam gagal panen. Pada awal musim penghujan, sungai menjadi keruh dan menyebabkan kelangkaan ikan.
Kecenderungan ke depan, ancaman banjir berpotensi mengganggu kehidupan sehingga diperlukan langkah-langkah strategis sebagai bagian dari antisipasi atau upaya mengu-rangi risiko bencana.
Cuaca buruk dan kekeringan berdampak pada terganggunya transportasi. Kekeringan juga menyebabkan biaya transportasi lebih tinggi. Tersedianya sarana transportasi lain, baik sarana transportasi yang lebih ekonomis atau transportasi darat, dapat mengu-rangi dampak ancaman berupa cuaca buruk dan kemarau. Beragamnya mata penca-harian serta pola pengolahan yang lebih baik, juga akan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak ancaman cuaca buruk dan kekeringan.
27
IV. DAMPAK MASALAH IKLIM DESA
MELEMBA
Dampak yang dirasakan terkait iklim di desa cukup beragam. Dari berbagai dampak yang ada, masa musim kemarau sampai saat ini memunculkan persoalan bagi masyarakat dibandingkan masa musim penghujan. Namun, jika dikaji lebih dalam, musim penghujan, juga berkontribusi terhadap beberapa persoalan di masyarakat. Termasuk persoalan yang dianggap paling menonjol, yakni terjadinya pendangkalan sungai. Secara spesiik, dampak yang ada setelah ditimbang dari yang paling menonjol atau paling membebani masyarakat adalah :
Meningkatnya harga kebutuhan pokok dan BBM yang diakibatkan terhambatnya •
transportasi pada musim kemarau. Danau Sentarum sebagai bagian penting sarana transportasi penduduk kering sehingga tidak bisa dilalui perahu motor. Demikian juga debit air Sungai Labian yang menyusut, juga menjadikan jalur transportasi terputus. Pada masa kemarau, pendapatan dari hasil nelayan menurun. Karena pada saat kemarau, ikan berada di hilir sungai. Desa Melemba yang menjadi bagian dari hulu Sungai Labian pada saat air menyusut tidak cukup mendapatkan hasil tangka-pan.
Pendangkalan sungai tidak lepas dari perubahan lingkungan yang terjadi. Pendang-•
kalan sebagai bagian dari proses erosi akibat penambangan dibagian hulu, degradasi hutan (termasuk dampak akibat HPH dan pembalakan liar antara tahun 90an-2008), maupun aktivitas lainnya, berpadu dengan perubahan pola curah hujan yang mulai berubah. Hujan yang cenderung lebih pendek dengan intensitas lebih tinggi men-jadikan erosi lebih tinggi. Dampak dari pendangkalan sungai cukup beragam dan dapat mengancam berbagai penghidupan masyarakat pada masa depan. Banjir yang menjadi bagian dari siklus kehidupan masyarakat dapat menjadi ancaman serius, baik terhadap pemukiman, lahan pertanian, maupun berbagai aset masyarakat lain-nya. Sendimentasi juga akan menyebabkan masa keruh sungai menjadi lebih lama pada masa musim penghujan. Saat sungai keruh, pendapatan dari hasil tangkapan ikan tidak maksimal. Padahal, saat banjir sebenarnya merupakan masa panen karena kondisipotensi tangkapan ikan yang melimpah.
28
Tabel 8.
Upaya yang Telah Dilakukan Masyarakat
Dampak Pa-ling Dirasakan
Upaya Yang Telah Dilakukan
Masyarakat
Tindakan lain yg perlu
dila-kukan
Keterbatasan melakukan tindakan
tersebut
Hasil yang diharapkan bila tindakan dilakukan
tersebut
Kemarau; Menyebabkan trasportasi air terkendala, harga Sembako tinggi dan harga BBM meningkat Internal control
•
system pada pro-duk masyarakat Membangun
•
kerjasama antar desa
Membangun
•
ketahanan pangan Perdes tentang
•
pengelolaan SDA Membentuk
•
dan mengelola jaringan pasar Jalan darat
•
Pada dasarnya
•
ketahanan pangan telah dilakukan oleh masing-masing kelu-arga. Namun belum terjadi pada tingkat kolektif.
Kendala yang
diha-•
dapi antara lain : Perdes tentang PSDA
•
secara terintegrasi telah masuk pada beberapa Perdes, diantaranya adalah RPJMDes. Kendala adalah ketersediaan waktu untuk pemba-hasan serta tenaga pendamping. Jaringan pasar
•
membutuhkan komit-men di masyarakat maupun pemerima produk. Proses yang dilakukan lewat memasarkan melalui jejaring yang ada Jalan darat
terkenda-•
la pada anggaran daerah yang belum mengalokasikan
Ketahanan pangan;
•
memperkuat daya tahan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan. Perdes PSDA akan
•
menjamin dan memastikan penge-lolaan SDA di desa lebih berkelanjutan Jaringan tetap
•
pasar; Ada kepastian hasil produk masyarakat diterima oleh pasar sehingga penghasi-lan masyarakat lebih pasti. Adanya jalan darat,
•
29
daerah yang belum mengalokasikan untuk pembangunan jalan
Restorasi lahan
•
terbuka di pesisir DAS (WWF Tahun 2011 17000 bibit,FORCLIME tahun 2013 2700 bibit,tahun 2015 29000 bibit,Tembesu 5000 bibit) Sosialisasi
ten-•
tang Pemanfaa-tan hasil sumber daya alam Normalisasi
•
sungai Penguatan hukum
•
adat dan kearifan lokals
Merancang dan
•
penanaman di lahan terbuka dengan jenis tanaman Menjalin kerja
•
sama dengan desa sekitar dan lembaga tentang penge-lolaan SDA
Perdes tentang PSDA
•
secara terintegrasi telah masuk pada beberapa Perdes, diantaranya adalah RPJMDes. Kendala adalah ketersediaan waktu untuk pemba-hasan serta tenaga pendamping Ketersediaan
•
bibit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam penaman, juga ter-kendala komitmen dan ketersediaan waktu serta perawatan paska penanaman. Komitmen atas
•
kesepakatan dan keberlanjutan. Juga terkait penerapan sangsi
Ketersediaan lahan
•
Perdes PSDA akan
•
menjamin dan memastikan penge-lolaan SDA di desa lebih berkelanjutan Mengurangi
degra-•
dasi lingkungan serta memperkuat ekowisata yang dikembangkan Adanya aturan
•
terkait pengelo-laan sumberdaya alam, termasuk pengaturan dalam pemanfaatan yang lebih berkelanjutan Ketersediaan lahan
•
untuk lahan sawah untuk ketersediaan pangan
Lanjak, ibu kota kecamatan. Biaya tersebut hanya untuk BBM mesin motor.Implikas-inya, seluruh kebutuhan dasar ikut naik. Kondisi ini akan semakin parah saat terjadi kelangkaan BBM jenis bensin.
Kekuatan dan kelemahan atas persoalan yang paling menonjol atau membebani antara lain :
Tabel 9
Kekuatan dan Kelemahan Masyarakat
Kekuatan Kelemahan
Sumberdaya alam melimpah dan potensial; sungai, danau, hutan dan lahan pertanian.
Sumberdaya manusia terbatas yang memiliki pengeta-huan dan keterampilan minim
Mata pencaharian beragam; sepanjang musim; nelayan, bertani, kerajinan, ekowisata
Akses informasi terbatas. Belum ada jaringan komu-nikasi sampai ke desa
Memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan; pemanfaatan SDA dan pengelolaan HHBK
Energy listrik terbatas dan mahal; terdapat jenset desa, namun mahal. Energi tenaga surya dikelola per KK dan minim perawatan
Semangat dan kebersamaan masyarakat tinggi Transportasi terbatas dan mahal; satu-satunya jalur transportasi melalui air. Membutuhka biaya besar Aturan adat dan kesepakatan dalam perlindungan SDA
dan pemanfaatan sungai
Pelanggaran belum disertai sangsi yang tegas bagi pelanggar. Seperti penggunaan alat tangkap ikan yang merusak
Kebijakan yang melindungi SDA; desa, kabupaten maupun nasional
Kebijakan TN dan hutan lindung membatasi pemanfaa-tan oleh masyarakat
Dukungan dari organisasi non pemerintah; WWF, FORINA, FORCLIME, RIAK BUMI dll
Keterbasan sumber pendanaan untuk kegiatan infrastruktur fasilias public, normalisasi sungai (sendimentasi) dll
32
KOMPONEN KEUNTUNGAN KELEMAHAN
Manusia • Sumberdaya manusia dengan komposisi yang seimbang (laki-laki, perempuan, anak-anak dan manula)
Pengetahuan atas pengelolaan
•
SDA
Memiliki semangat untuk maju
•
-Terbatasnya pengetahuan dan teknologi serta berbagai cara dalam memanfaatkan sumberdaya alam secara maksimal
Sosial Budaya • Aturan adat yang masih kuat dalam hal pertanian, perikanan dan kehidupan masyarakat Gotong royong dan kebersamaan
•
dalam hal membangun rumah, menjaga dan melestarikan ka-wasan, sosial kemasyarakatan
•
•
Belum diperkuat melalui regulasi
•
pemerintahan desa. Sehingga dapat mengikat secara formal Belum secara keseluruhan
•
memahami tentang pentingnya konservasi
Belum seluruhnya terakomodir
•
V. KAJIAN KEMAMPUAN ADAPTASI
MASYARAKAT DESA MELEMBA
Secara alamiah, seluruh mahluk hidup akan melakukan penyesuaian terhadap setiap perubahan yang terjadi. Menjadi hukum alam, ketidakmampuan menghadapi peruba-han akan berdampak buruk bagi keberlanjutan kehidupannya, bahkan terancam atas kepunahan.
Desa Melemba pun terus melakukan penyesuaian atas perubahan-perubahan yang ter-jadi. Perpindahan pemukiman dari perbukitan ke pinggir sungai, perubahan atas mata pencaharian utama dari bertani ke nelayan air tawar sampai pemukiman dengan pola panggung dan kemudian ditinggikan akibat banjir yang melebihi lantai, adalah pola-pola penyesuaian dari pengalaman berupa kejadian yang berdampak negatif. Demikian juga dengan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti pola bertani, trans-portasi maupun alat tangkap ikan.
Kemampuan adaptasi masyarakat Desa Melemba diidentiikasi melalui 5 komponen aset penghidupan; aspek manusia, sosial budaya, ekonomi, infrastruktur dan lingkun-gan. Masing-masing komponen dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi terkait dengan iklim:
Tabel 10
33
menjaga dan melestarikan ka-wasan, sosial kemasyarakatan Regulasi pemerintahan desa;
•
RPJMDES telah memasukan kerentnan dan pola adaptasi perubahan iklim, Perdes tentang pengelolaan obyek wisata (Per-des 2012), raper(Per-des pengemban-gan ekowisata
Kelompok masyarakat; rukun
•
nelayan, ekowisata, kerajinan, perikanan (ICS; Internal contol system)
•
•
konservasi
Belum seluruhnya terakomodir
•
berbagai kepentingan yang ada di masyarakat
Tidak tersedia tenaga pengajar
•
Tidak tersedia tenaga
kes-•
ehatan
Ekonomi • Sumber ekonomi baragam; sun-gai, hutan, danau, perkebunan dan pertanian
Mata pencaharian tersedia
•
sepanjang musim
Pemasaran produksi (barang dan
•
jasa) tersedia dan menjanjikan Pengelolaan jasa lingkungan
•
ekowisata Pengelolaan HHBK
•
Inovasi pengelolaan dan
•
produksi perikanan, kerajinan dan HHBK
Kemiskinan energy (sumber
•
tidak tersdia, ada tapi mahal, ada tapi tidak menguasai teknologi)
Harga kebutuhan pokok tinggi
•
Transportasi terbatas
(satu-•
satunya hanya melalui air) Belum ada pasar tetap untuk
•
menstabilkan harga produksi masyarakat
Komunikasi
•
Lingkungan • Kawasan konservasi; taman nasional dan kawasan lindung yang memiliki kekuatan hukum dalam perlindungan kawasan Sungai; sumber mata
pencahar-•
ian, sarana transportasi utama, ekowisata
Hutan; HHBK
•
Danau; sumber mata
pencahar-•
ian, sarana transportasi, obyek wisata
Habitat flora fauna eksotik;
•
orang utan, bekantan, owa,
•
Penegakan hukum belum
tera-•
komodir dalam aturan adat atau kesepakatan masyarakat Pemanfaatan belum maksimal
•
Transportasi mahal, terutama
•
pada musim kemarau Promosi ekowista
•
Pengambangan sarana dan
•
prasana untuk ekowisata Tanaman obat mulai
diting-•
•
Habitat flora fauna eksotik;
•
orang utan, bekantan, owa, klasi, beruang, trenggiling, senyolong (buaya ikan) burung rangkong, raja udang, kuau, ikan arwana, toman, piyang dll Flora; anggrek (50 jenis), kantor
•
semar, tanaman obat,
•
Infrastrukur • Fasilitas public berupa kantor kepala desa, sekolah, posyandu dan sarana kesehatan pembantu Rumah panjang sebagai
pemuki-•
man masyarakat
Air bersih yang dialirkan dari
•
sumber air di bukit Dermaga perahu yang dibuat
•
menyatu dengan pemukiman
Tidak terdapat jalan darat
•
sebagai alternative mobilitas penduduk
Fasilitas public tidak cukup
•
memiliki tenaga ahli (guru, medis dan para medis serta peralatan dan perlengkapan yang memadai)
Keuntungan atau kekuatan terhadap aset penghidupan secara umum menunjukkan besaran kemampuan atas kondisi yang ada (negatif maupun positif) serta perubahan-perubahan yang terjadi. Kelemahan atau kendala-kendala yang dihadapi, secara umum masih dapat diatasi dengan kemampuan yang ada. Termasuk besarnya biaya transportasi maupun dampaknya terhadap harga-harga kebutuhan pokok yang ada di masyarakat.
Untuk menilai tingkat kerentanan, dilakukan indentiikasi hubungan masyarakat de -ngan pihak-pihak terkait. Tidak saja pihak yang memiliki hubu-ngan secara langsung, tapi juga lembaga yang secara tugas pokok dan fungsi memiliki hubungan dengan masyarakat. Untuk melakukan penilaian pola hubungan kelembagaan, digunakan piranti diagram ven. Piranti ini menjadi media untuk melihat seberapa besar peran dan kontribusi para pihak dengan masyarakat yang memengaruhi tingkat kerentanan terha-dap dampak perubahan iklim.
35 Diagram ven di atas menunjukan seberapa besar tingkat kebutuhan masyarakat terh-adap kelembagaan yang ada serta peran-peran yang terjadi. Irisan kelembagaan dengan masyarakat desa merupakan peran yang dirasakan oleh masyarakat saat ini. Semakin jauh jarak dengan masyarakat, maka semakin kecil dukungan atau hubungan yang ada.
Beberapa kelembagaan secara lebih spesiik, dapat dilihat dalam table dibawah ini.
Tabel 11
Hubungan kelembagaan dan peran masing-masing
ORGANISASI HUBUNGAN PERAN
PEMDES DEKAT; peran BPD sebagai rep-resentasi dari masyarakat dalam struktur pemerintahan desa aktif. Bersama-sama pemerintahan desa menyusun perencanaan pembangu-nan dengan pendekatan partisipatif
Memfasilitasi perencanaan pem-bangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Menyusun regulasi tingkat desa; peraturan desa
Memfasilitasi persoalan yang ada di masyarakat untuk mengambil keputusan bersama
Bersama-sama melakukan advokasi ke berbagai pihak
PEMDA JAUH; jarak dan sulitnya trans-portasi serta kendala komunikasi menyebabkan hubungan dengan Pemda Kabupaten Kapuas Hulu jauh. Tidak banyak interaksi Pemda dengan masyarakat secara langsung. Hubungan dengan Pemda banyak ditangani tingkat Kecama-tan dan Desa.
Pemerintahan daerah berperan memfasilitasi, mendorong maupun memberi bantuan kepada seluruh warga masyarakat, termasuk masyarakat desa Melemba yang secara territorial terisolir.
Dinas Pertanian JAUH : hubungan yang dirasakan masyarakat dengan dinas pertanian berupa pemberian bibit tanaman
Memberikan dukungan sector pertanian, baik berupa kebijakan, program, dukungan pendanaan maupun peningakatan kapasitas Dinas Perikanan Memberikan penyuluhan tentang
perikanan
Memberikan bantuan berupa bibit dan sarana produksi perikanan
Memberikan dukungan sector perikanan, baik berupa regu-lasi, program, bantuan maupun peningkatan kapasitas kepada masyarakat
Dinas Kesehatan Tersedianya pelayanan kes-ehatan desa (pusdes, puskesmas pembantu dan posyandu) sangat membantu warga masyarakat. Namun dari sisi pelayanan, masih sangat kurang. Tenaga kesehatan kerap tidak berada di tempat serta obat-obatan dan perlengkapan medis terbatas.
Memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
Pemerintah: Taman Nasional
JAUH: hubungan dengan masyarakat yang sebagian wilayahnya masuk pada wilayah Taman Nasional adalah informasi tentang fungsi dan kewenangan Taman Nasional
Koordinasi terkait kegiatan/pro-gram yang ada di wilayah Taman Nasional
LSM WWF
DEKAT; hubungan terkait dengan pelaksanan program. Selain itu, kedekatan emosional pelaksana program (staff WWF, FORINA,
37 Ciri Acuan / Indikator
Tingkatan
Rendah/ kurang baik (1)
Sedang/ cukup
(2)
Tinggi/ Baik
(3)
Masyarakat memiliki kebersamaan, ke-biasaan gotong royong, memiliki pemimpin dan sekelompok orang yang bekerja untuk kepentingan de-sa, kebiasaan ber-musyarawarah membuat rencana bersama, dan nilai-nilai baik dalam mengelola lingkungan.
X
Masyarakat memiliki keahlian, kemampuan, dan kerjasama serta motivasi kuat untuk mengatasi masalah peru-bahan kondisi iklim terhadap sumber penghidup-an, diantaranya dengan mata pencarian tambahan atau pilihan lain, dan mengatasi masalah cuaca buruk yang
X program (staff WWF, FORINA,
FORCLIME) membangun hubungan kekerabatan. Sehingga tidak saja terkait dengan pelaksanaan program, berbagai persoalan maupun gagasan yang muncul dari masyarakat pun menjadi agenda bersama untuk dilakukan Masyarakat sekitar DEKAT; hunbungan antar
masyarakat adalah terkait dengan mekanisme mata pencaharian maupun pengelolaan SDA yang memiliki pengaruh terhadap peles-tarian SDA.
Telah membentuk kelompok kerukunan nelayan, kelompok masyarakat DAS
Kebersamaan dan kesamaan hak sebagai warga Negara untuk terli-bat dalam pengelolaan SDA
Dari proses identiikasi persoalan yang paling menonjol dari sisi kekuatan dan kelema-han, aset penghidupan dan pola hubungan kelembagaan, selanjutnya dilakukan penila-ian tingkat kapasitas adaptasi melalui indikator sebagai acuan untuk mendapatkan tingkatan atau kelas.
Tabel 12
an, diantaranya dengan mata pencarian tambahan atau pilihan lain, dan mengatasi masalah cuaca buruk yang mengakibatkan kerusakan harta benda dan keselamatan jiwa.
Masyarakat memiliki kemampuan membangun hubungan dan kerjasa-ma yang baik dengan pihak luar (LSM, swasta, pemerintah daerah), dan menyelenggarakan kerjasama kegiatan
X
Lingkungan tempat bermukim yang sehat, sumberdaya alam yang be-ragam, dan sumber air yang sehat dan cukup.
X
Memiliki pengetahuan dan pengalaman menghadapi perubahan lingkungan sebelumnya.
X
6 6
Nilai Tingkatan Kemampuan Adaptasi Masyarakat (rata-rata)
2,4
39
VI. TINGKAT KERENTANAN
MASYARAKAT
Tingkat kerentanan masyarakat dinilai dari seberapa besar Paparan (exposure), kepe-kaan (sensitivity) dan kemampuan adaptasi (kapasitas). Kerentanan dinyatakan dalam hubungan fungsional dalam menilai tingkat kerentanan individu atau masyarakat di suatu tempat. Hubungan fungsional tersebut akan menunjukkan bahwa komponen paparan dan kepekaan sebagai penambah kerentanan, sementara komponen kapasitas sebagai faktor penurun kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Dengan penjelsanan demikian, tingkat kerentanan dapat dinyatakan dalam hubungan fungsional, diantaranya: Kerentanan = Paparan+ kepekaan – kemampuan adaptasi.
Pada proses sebelumnya, telah didapatkan tingkat kapasitas adapatasi melalui iden-tiikasi kondisi kekinian maupun perubahan-perubahan yang terjadi serta analisis kecenderungan kedepan. Dari proses tersebut, selanjutnya didapat tingkat kapasitas adaptasi melalui proses identiikasi dan analisis terhadap persoalan yang dianggap paling membebani atau paling menonjol, kekuatan dan kelemahan dalam mensikapi atau menghadapi persoalan tersebut serta analisis perubahan-perubahan terkait iklim terhadap lima asset penghidupan dan hubungan kelembagaan.
Untuk mendapatkan tingkat kerentanan, proses selanjutnya adalah melakukan penila-ian terhadap potensi dampak atau dampak terpendam sebagai bentuk hubungan fungsi dari paparan (exposure) dan kepekaan (sensitivity).
Gambar 2
Berbagai data dan informasi terkait dengan paparan dan sensitifas telah tergali sebe-lumnya, baik dalam penyusunan proil desa/wilayah maupun perubahan-perubahan yang terjadi dan kecenderungannya. Data dan informasi tersebut sebagai bagian dari proses analisis, menjadi dasar dalam proses penilaian tingkat paparan dan sensitifas untuk mendapatkan nilai dampak terpendam.
Tabel 13
Penilaian tingkat paparan (exposure)
Pengertian Penjelasan lebih lanjut Nilai
Perubahan iklim mempengaruhi kegiatan budaya masyarakat
Perubahan komponen iklim, seperti curah hujan, suhu, kelembaban maupun pergeseran musim dan perubahan sifat dan lamanya tidak secara signifikan mempengar-uhi kehidupan masyarakat Desa Melemba.
Perubahan komponen iklim, mengganggu pada bebe-rapa sector, seperti pertanian maupun cuaca buruk berupa gelombang tinggi di danau.
Pergeseran musim, dirasa membingungkan sehingga mengganggu aktifitas pertanian, seperti menentukan masa tanam.
Sedang 2
Perubahan iklim mempengaruhi ketenangan masyarakat
Perunahan komponen iklim mempengaruhi ketenangan warga dalam hal musim kemarau. Kemarau yang menyebabkan terganggunya akses transportasi satu-satunya warga adalah air menjadi terhambat. Kondisi ini menjadikan hampir seluruh kebutuhan pokok meningkat. Juga menyebabkan biaya transportasi menjadi lebih tinggi.
Perubahan curah hujan, mengganggu ketanangan warga pada awal musim penghujan yang menyebabkan sungai menjadi keruh. Waktu keruhnya sungai menjadi lebih lama dari biasanya. Dampak lain dari kekeru-han yang mencirikan terjadinya erosi menyebabkan pendangkalan sungai
Sedang 2
Perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan sumberdaya alam
Tidak banyak pengaruh terhadap ketersediaan sumberdaya alam.
Sedikit 2 Cuaca buruk merusak harta benda
dan memunculkan korban jiwa
Belum ada korban jiwa terkait cuaca buruk. Masyarakat masih memiliki kemampuan dalam mem-baca tanda-tanda alam.
41
Perubahan iklim bencana banjir merendam pemukiman
Banjir yang terjadi atau masyarakat lebih menyebut sebagai pasang air Sungai Labian, tidak mempengar-uhi pemukiman warga. Pemikiman warga yang berada di pinggir sungai telah disesuaikan dengan pasang tertinggi sungai. Rumah dalam bentuk rumah panjang pernah ditinggikan setinggi kurang lebih 0,5 meter karena pernah terlewati oleh pasang sungai.
Rendah 1
Erosi sungai Erosi pada sepanjang sungai cukup tinggi. Kondisi ini berdampak pada pendangkalan sungai. erosi terjadi, selain karena curah hujan juga karena lingkungan yang rusak.
Sedang 2
Nilai tingkat kepekaan adalah; nilai total (10) / jumlah indicator (6) = 1,6
Dari 6 indikator yang digunakan sebagai parameter tingkat paparan, Desa Melemba memiliki kelas 1,6. Nilai tersebut dibulatkan menjadi 2 karena di atas 1,5 yang artinya memiliki tingkat Sedang.
Selanjutnya, untuk mendapatkan tingkat sensitiitas atau kepekaan, digunakan 7 in -dikator sebagai parameternya.
Table 12
Tingkat paparan Desa Melemba
Pengertian Penjelasan lebih lanjut Nilai
DAS dalam kondisi yang baik Sampai saat ini, DAS Labian relative terjaga. Namun sebelumnya, DAS Labian rusak akibat dari operasi HPH dan aksi pembalakan liar. Selain kawasan DAS menjadi kawasan taman nasional dan hutan lindung, banyak upaya atau inisiatif masyarakat untuk menjaga kelestarian DAS Labian
Sedang 2
Ekosistem disekitar aliran sungai mampu meneyerap air hujan
Ekosistem aliran sungai, danau maupun rawa masih memiliki kemampuan dalam menampung curah hujan yang ada. Banjir atau pasang sungai masih dalam kondisi tertampung oleh badan sungai maupun wilayah limpasan yang ada. Namun sendimentasi terus terjadi dan dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi fungsi sungai maupun habitat ikan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat desa Melemba maupun masyarakat sepanjang sungai Labian
DAS mampu/ mencukupi pertanian dan kebutuhan rumah tangga pada musim hujan maupun kemarau
Sampai saat ini, DAS maupun aliran sungai yang ada mampu memenuhi kebutuhan rumah tanggal masyarakat. Baik pada musim penghujan maupun musim kemarau. Musim penghujan menjadi masa panen ikan untuk nelayan. Demikian juga dengan tanaman padi di ladang. Sedangkan masa kemarau, pada beberapa komoditas pertanian seperti karet dan buah-buahan cukup baik.
Pertanian padi di pinggir sungai, memanfaatkan lahan pada saat sungai surut (kemarau).
Baik 3
Infrastuktur penting jalan desa, fasilitas air, dan listrik dapat berfungsi pada saat cuaca buruk berlangsung.
Yang mempengaruhi adalah listrik. Ada beberapa desa yang belum mendapatkan listrik.
Listrik sampai saat ini dipenuhi melalui jenset dan panel surya yang dikelola tingkat rumah tangga. Sarana transportasi saat ini satu-satunya adalah sungai. pada musim kemarau, terhambat karena danau sentarum yang memperpendek jarak ke kota kecama-tan kering. Sehingga harus memutar dan memerlukan transportasi darat.
Sedang 2
Masyarakat dapat melakukan per-jalanan kedalam dan keluar desa dengan lancar saat cuaca buruk atau bencana iklim.
Kondisi cuaca buruk, khususnya pada masa peralihan masih dapat disiasati. Karena cuaca buruk tidak sepa-njang hari atau terjadi pada waktu lama. Masyarakat juga masih memiliki pengetahuan mengenal tanda-tanda alam, sehingga mereduksi terjadinya kecelakaan transportasi pada saat kondisi cuaca buruk
Baik 3
Memiliki hubungan baik dengan pihak pihak di luar desa
Desa Melemba memiliki hubungan baik dengan pihak luar. Hubungan dengan Organisasi non pemerintah dalam pelaksanaan program di desa, memberi kesem-patan masyarakat untuk dapat berhubungan dengan pihak-pihak lain, baik pemerintah daerah maupun pihak non pemerintah.
Sampai saat ini, hubungan baik baru tercapai pada level kecamatan. Sedangkan pada tingkat kabupaten masih perlu ditingkatkan.
43
Pemantauan lingkungan sekitar DAS dan infrastruktur yang terkait dilakukan secara berkala atau teratur
Pada beberapa sector pada dasarnya telah dilakukan, seperti monitoring habitat orang utan maupun satwa liar. Sedangkan pada kawasan DAS masih belum secara keseluruhan. Demikian juga terkait dengan in-frastruktur. Masih dibutuhkan peningkatan kapasitas dalam meningkatkan peran dalam pemantauan ling-kungan oleh masyarakat, maupun masyarakat memiliki kemampuan mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk menkjalankan kewajibannya.
Buruk 1
Nilai tingkat paparan adalah; nilai total (14) / jumlah indicator (7) = 2
Nilai atau tingkat paparan untuk Desa Melemba adalah 2 atau sedang. Nilai tersebut diperoleh dari nilai keseluruhan, yakni 14 dibagi jumlah indikator (7).
Dengan demikian, dari hasil kepekaan dan paparan yang masing-masing mendapatkan nilai 2, maka nilai dampak terpendam dari perubahan iklim untuk Desa Melemba ada-lah 2 atau Sedang. Nilai tersebut diperoleh dari nilai kepekaan + nilai paparan / 2.
Table 13
Tingkat Kerentanan Desa Melemba
Kapasitas Adaptasi
Da
mp
ak
Te
rp
en
da
m
Kerentanan Tinggi Sedang Rendah Rendah
Sedang Tingkat kerentanan Desa Melemba Tinggi
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan tingkat kerentanan masyarakat Desa Melemba terhadap dampak perubahan iklim adalah SEDANG. Tingkatan ini menunjukan kondisi yang perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh. Karena jika tidak dilakukan upaya peningkatan kapasitas adaptasi, maka tingkatan kerentanan yang saat ini sedang dapat berubah menjadi tinggi. Apalagi jika dicermati dari berbagai faktor yang memengaruhi tingkat kerentanan juga bersifat dinamis. Seperti curah hujan yang berkorelasi dengan kondisi lingkungan setempat, yang berimplikasi terhadap mata pencaharian penduduk.
Dampak-dampak buruk perubahan iklim seperti cuaca buruk maupun ancaman bencana, juga dapat menjadi catatan tersendiri. Peninggian rumah panjang sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketinggian banjir atau pasang permukaan Sungai Labian, menunjukkan terjadinya perubahan karakteristik banjir yang terjadi, apakah besaran banjir tersebut disebabkan perubahnya fungsi ekologis sungai, DAS maupun curah hujan itu sendiri.
Dampak banjir, selain memunculkan dampak positif bagi masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Air sungai menjadi keruh dengan durasi yang cenderung lebih lama (yang diprediksi akibat erosi). Dalam jangka panjang, hal ini dapat menjadikan badan sungai menjadi dangkal. Ini juga akan ber-implikasi terhadap berbagai sektor penghidupan masyarakat.
45
VII. PENUTUP DAN REKOMENDASI
Proses penggalian data dan informasi terkait dampak perubahan iklim melalui pendekatan partisipatif, sampai mendapatkan hasil tingkat kerentanan menjadi bagian penting bagi perencanaan komunitas maupun Desa Melemba. Proses panjang yang telah dilakukan sejak bulan Mei-Oktober 2016 diharapkan mampu menjadi dasar bagi komuntias maupun desa dalam menyusun rencana adaptasi terhadap dampak peruba-han iklim maupun risiko bencana.
Teridentiikasinya berbagai dampak negatif dari perubahan iklim, perlu disikapi dengan baik agar dampak yang ada, sekalipun saat ini masih dirasakan mampu disikapi melalui berbagai upaya penyesuaian secara alamiah, dapat menjadi bagian strategi yang terarah dan terukur serta berkelanjutan.
Dampak perubahan iklim yang juga berkorelasi dengan fungsi lingkungan atau fungsi ekosistem, perlu digali lebih mendalam dan disosialisasikan dengan berbagai pihak, baik pada tingkat pemerintah daerah, pusat maupun sesama masyarakat. Kerusakan lingkungan yang teridentiikasi, menjadikan dampak perubahan iklim semakin buruk dirasakan bagi masyarakat, dan hal tersebut perlu diantisipasi. Tentunya untuk itu dibutuhkan sinergis antar sektor dan actor.
Untuk itu, kajian ini merekomendasikan beberapa hal, diantaranyaadalah :
Memasukan hasil pengkajian kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan 1.
risiko bencana ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM-Des)
Memperkuat rencana peraturan desa tentang pengelolaan sumber daya alam yang 2.
akan disusun di Desa Melemba
Disiminasi hasil kajian kepada masyarakat yang lebih luas 3.
Menyusun rencana aksi komunitas untuk adaptasi perubahan iklim sebagai tindak 4.