MAKALAH
REGULASI PENDIDIKAN JASMANI & OLAHRAGA PASCA ERA-REFORMASI
OLEH
RAZIKIN MASRURI NIM 150614806176
UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik dan khidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini terselesaikan dengan lancar. Adapun pembahasan didalam makalah ini membahas tentang bagaimana regulasi pendidikan olahraga pasca era-reformasi.
Penulis akan berupaya untuk mengupas tentang bagaimana peraturan yang diterapkan oleh pemerintah untuk keberlangsungan pendidikan olahraga. Semoga makalah ini bisa memperluas wawasan kita tentang peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia dan upaya pemerintah untuk menjadikan olahraga di negeri ini menjadi alat pemersatu bangsa. Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu kritik dan saran dari para pembaca sangat berharga untuk perbaikan makalah ini.
Malang, 2015
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH 2. RUMUSAN MASALAH
3. TUJUAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB III PENUTUP
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Regulagi merupakan peraturan hukum negara yang mengikat seseorang, kelompok, masyarakat, swasta dan lembaga. Regulasi menggambarkan bagaimana aturan yang terjadi dikehidupan sehari-hari. Peraturan berfungsi untuk membatasi tindakan atau prilaku yang terdapat pada masyaarkat agar tidak keluar dari
ambang batas norma yang ditetapkan.
Regulasi pendidikan jasmani dan olahraga memiliki acuan hukum dari pemerintah sperti Undang Undang, Peraturan Mentri dan Peraturan Presiden. Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan program nasional terdapat sistem dan pembinaan dalam pendidikan jasmani dan olahraga.
Pendidikan di Indonesia telah berlangsung sejak lama tapi belum fokus pada pembelajaran lebih kepada penyebaran ajaran agama. Pendidikan mulai masuk melalui datangnya bangsa Portugi, penjajahan belanda dan pendudukan jepang. Setelah Indonesia merdeka Indonesia mulai berbenah dalam memperbaiki
pendidikan di Indonesia. Sehingga sampai saat ini kita bisa menikmati pendidikan dengan mudah.
Menurut Jesse Feiring Williams dalam William H. Freeman
(2001:3) pendidikan Jasmani adalah tentang sejumlah aktivitas-aktivitas fisik manusia yang dipilih, dan dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai hasil yang bermanfaat bagi tubuh. KEPMENDIKBUD No. 413/u/1987 menerangkan bahwa pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara
keseluruhan yang bertujuan meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, intelektual dan emosional melalui aktivitas fisik. Pendidikan jasmani diartikan sebagai program pendidikan melalui aktivitas gerak. Pengertian
olahraga berdasarkan (pasal 1 ayat 4 UU RI No. 3 Tahun 2005) olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta
B. RUMUSAN MASALAH
Berasarkan ulasan di atas, maka rumusan masalahnya adalah : 1. Apa itu Regulasi?
2. Apa yang dimaksud dengan Regulasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga? 3. Bagaimana Regulasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga Pasca Era
Reformasi? C. TUJUAN
1. Memahami makna Regulasi pada umumnya.
2. Memehami Regulasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Regulasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan regulasi sebagai sebuah peraturan. Secara lengkap regualasi merupakan cara untuk mengendalikan manusia atau masyarakat dengan suatu aturan atau pembatasan tertentu.
Penerapan regulasi bisa dilakukan dengan berbagai macam bentuk yakni pembatasan hukum yang di berikan oleh pemerintah, regulasi oleh suatu perusahaan dan sebagainya. Pengertian regulasi menurut para ahli, regulasi merupakan sebuah istilah yang bisa dipakai dalam segala bidang. Regulasi menurut para ahli pun ikut beragam menyesuaikan bidang dan segi ilmu yang dikaji.
B. Regulasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Regulasi Pendidikan Olahraga adalah peraturan yang mengikat, membatasi dan seabagai pijakan bagi pendidikan olahraga agar tidak keluar dari tujuan pendidikan itu sendiri. Beberapa Peraturan yang di keluarkan pemerintah sebagai landasan Olahraga di Indonesia, sebagai berikut :
1. PPRI No. 16 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.
2. PPRI No. 17 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pekan dan Kejuaraan Olahraga.
3. PPRI No. 18 tahun 2007 tentang Pendanaan Keolahragaan. 4. PERMEN Pemuda da Olahraga RI No. 0009 tahun 2015 tentang
Kedudukan, Fungsi, Tugas dan Susunan Organisasi badan Olahraga Profesional Indonesia.
5. UU RI No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. C. Regulasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga Pasca Era Reformasi
Olahraga bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, disamping itu olahraga juga berperan sebagai alat komunikasi, membangun rasa kebersamaan,
bidang olahraga dan pendidikan jasmani yang mana dengan melakukan perubahan dan penyempurnaan pada pemerintahan, sistem keolahrgaan dan badan olahraga untuk menunjang keolahragaan dan pendidikan jasmani di Indonesia.
Tahun 1941, pemerintah Belanda mendidikan Academish InstitutVoor Licchamiljke Opvoeding (AILO) di Surabaya dengan tujuan untuk menyediakan guru-guru pendidikan jasmani. Pada tahun berikutnya AILO berubah menjadi APD (Akademi Pendidikan Djasmani) didirikan di Jakarta, UI. Yogyakarta dilingkungan UGM, dan Bandung dengan Universitas Padjadjaran.
Pada tahun 1963 berbagai jenis kelembagaan ini mulai diseragamkan menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang secara keseluruhan di Indonesia berjumlah 11 buah, yaitu di kota Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surkarta, Surabaya, Makasar, Manado dan Banjarmasin.
Tahun 1977 semua STO bergabung ke lembaga Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan (FKIK). Empat tahun kemudian FKIK berubah menjadi FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan). Seiring dengan perjalanan waktu perubahan IKIP menjadi Universitas, berubah pula nama lembaga tinggi keolahragaan menjadi FIK (Fkultas Ilmu Keolahragaan). Sampai saat ini ada 3 bentuk kelembagaan, yaitu (1) Fakultas sendiri dengan nama Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas eks IKIP, (2) Fakultas pada IKIP, dan (3) Jurusan di Fakultas Ilmu Pendidikan.
Setelah melewati proses panjang setelah Soekarno bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pembangunan demi masa depan anak cucu bangsa terus dilakukan. Presiden pertama Indonesia ingin mengangkat nama bangsa ini ke tingkat internasional melalui bidang
keolahragaan.hal ini dibuktikan dengan pembangunan stadion Senayan. Proyek itu di mulai pada tahun 1958 dan fase pertama pembangunannya selesai pada tahun 1962, sehingga bisa dipakai untuk penyelenggaraan Asian Game IV.
% untuk olahraga dan 60 % untuk bisnis. Lihat saja, selain hotel disana berdiri juga pusat perbelanjaan.
Dunia olahraga menjadi harapan bangsa untuk menjadikan bangsa ini sejajar dengan bangsa lain terutama pada sebelum era reformasi. Menurut Soedarman (1997) yang dikutip oleh Herita Warni dalam jurnalnya
mengemukakan bahwa Olahraga merupakan bidang pembangunan yang penting, terutama sebagai pendukung utama bagi perjuangan bangsa dalam mencapai kedudukan dan kehidupan yang sejajar dengan bangsa lain, terhormat, diseganai, karena prestasi olahraga merupakan prestasi bangsa.
Masyarakat Indonesia sejatinya sangat haus akan prestasi duta-duta di berbagai cabang olahraga. Dalam beberapa tahun terakhir atau sejak era
reformasi, prestasi olahraga Indonesia mengalami kemerosotan. Julukan sebagai penguasa Asia Tenggara karena seringnya menjuarai SEA Games, seakan sirna. Indonesia kembali merebut juara umum SEA Games tahun 2011 saat menjadi tuan rumah, setelah terakhir sebelum reformasi 1997.
Tahun 2000, merupakan tonggak sejarah olahraga sebagai bidang ilmu yang diakui secara formal oleh Komisi Disiplin Ilmu (KDI) yang ke-12 di Indonesia yang disebut sebagai KDI-Keolahragaan.
D. Peran Pendidikan Jasmani
Peranan pemerintah dalam engatur pelaksanaan pendidikan
terjadi sejak 1950 melalui draf undang-undang wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun. Prioritas dalam pendidikan semakin ditekankan pada era
pemerintahan presiden Soeharto yang diwujudkan dalam pendirian hampir 40.000 sekolah dasar baru pada akhir 1980an sehingga memungkinkan tercapainya target wajib belajar 6 tahun.
Ruang Lingkup Olahraga menurut Pasal 17 UU No. 3 SKN (Sistem Kesehatan Nasional) meliputi domain: olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. Kompleksitas permasalahan keolahragaan masih ditambah dengan pandangan negatif pada sebagian pihak termasuk dari institusi pendidikan. Misalnya, mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga belum dapat
dilecehkan dan dianggap tidak penting apalagi pada masa-masa menjelang ujian akhir, mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga dihapuskan dengan alasan agar para siswa dalam belajarnya untuk menghadapi ujian akhir nasional “tidak terganggu”.
Sungguh ironis apabila melihat pasal 25 UU SKN yang menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan sebagai suatu kesatuan yang sistematis dan berkesinambungan dengan Sistem Pendidikan Nasional. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga di sekolah merupakan tumpuan yang sangat vital dalam pembangunan sistem olahraga nasional, karena dari sekolah tersebut akan muncul bibit-bibit atlet potensial yang pada gilirannya akan menuju pada olahraga prestasi. Krisis
pendidikan jasmani di tingkat institusi pendidikan ada hubungannya dengan krisis prestasi olahraga nasional. Peran penyelenggaraan pendidikan jasmani di sekolah harus mendapat perhatian yang serius, mulai dari olahraga usia dini.
Walau pendidikan jasmani di sekolah bukanlah bertujuan menelurkan olahragawan prestasi, di lembaga itulah dibentuk dasar olahraga, yaitu pengajaran keterampilan gerak yang benar, motivasi berolahraga yang tinggi, dan identifikasi bakat sedini mungkin. Melalui peningkatan peran pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah, pola pembinaan dan pembibitan dalam olahraga dimulai. Pembinaan dan pengembangan olahraga perlu dilakukan secara komprehensif dan melibatkan IPTEK dalam pelaksanaannya.
Upaya mencapai efektivitas pembinaan olahraga juga dapat dilakukan dengan jalan pemassalan olahraga di masyarakat, serta adanya komitmen dari seluruh pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk mensukseskan gerakan nasional olahraga dan tentunya mengimplementasikan UU SKN itu sendiri sebagai dasar sekaligus payung hukum pelaksanaan pembangunan olahraga nasional. Semoga uraian ini dapat menjadi bahan renungan yang harus
BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan
Terdapat kesimpulan sebagai berikut :
1. Peraturan pendidikan atau kebijakan pendidikan di Indonesia beruabah-ubah sesuai dengan pergantian pemerintahan.
DAFTAR RUJUKAN
Artikel. (2007). Olahraga: Dari Orla, Orba, hingga Reformasi. http://www.bulutangkis.com
Freeman H. William . 2001. Physical Education and Sport INA Changing Society. United States of America. Sixth Edition. Campbell University
http://www.bglconline.com/2015/01/sejarah-pendidikan-di-indonesia-dan-perkembangannya/
Majid, Abdul. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Samsuri (2011), Kebijakan Pendidikan Kewarganegaraan Era Reformasi di
Indonesia, dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan no 2 tahun 30
Waseso, Mulyadi Guntur dan Ali Saukah. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Warni, Herita. (2013). Jurnal (Tranformasi Karakter Tangguh Dalam Proses Pembinaan Olahraga Prestasi (Studi Naturalistik Terhadap Para Atlit Di Kalimantan Selatan)). UPI. Perpustakaan UPI.