BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teoritis
2.1.1 Teori Agensi
Fakta yang mendasar pada teori agensi adalah para manajer memiliki
tujuan-tujuan pribadi yang bersaing atau berlawanan dengan tujuan
memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Para manajer diberi kekuasaan oleh
para pemilik perusahaan untuk membuat keputusan, di mana hal ini menciptakan
potensi konflik kepentingan yang dikenal sebagai teori keagenan (agency theory).
Hubungan keagenan (agency relationship) terjadi ketika satu atau lebih individu
yang disebut sebagai principal menyewa individu atau organisasi lain, yang
disebut sebagai agen, untuk melakukan sejumlah jasa dan mendelegasikan
kewenangan untuk membuat keputusan kepada agen tersebut. Potensi konflik
kepentingan terjadi antara agen dengan pemegang saham luar atau antara agen
dengan kreditor atau pemilik utang (Brigham, 2006: 36).
Agency problem akan timbul karena tindakan pajak agresif yang dilakukan perusahaan akan memperoleh keuntungan yang baik untuk pemilik atau pemegang
saham perusahaan. Keuntungan yang diperoleh adalah penghematan pajak
sehinggan kas yang dinikmati pemilik atau pemegang saham akan menjadi lebih
besar. Tim manajer akan mendapatkan kompensasi pula dari para pemilik maupun
pemegang saham perusahaan. Terlebih lagi, tim manajer bisa mempunyai
theory dapat diatasi dengan dua cara (Gitman, 2007 dalam Hidayanti, 2013: 29), sebagai berikut:
1. Market Forces
Cara ini dilakukan dengan cara pemegang saham yang memiliki saham mayoritas, seperti investor institusional yang biasanya berupa perusahaan asuransi jiwa, mutual fund, perusahaan dana pension. Melalui hak suara mayoritas maka diyakini akand apat mengatasi masalah agensi yang akan muncul. Hal yang dilakukan yaitu dengan memberikan tekanan pada manajer untuk bekerja lebih baik ataupun menggantikan manajemen yang dianggap tidak dapat memenuhi kesejahteraan pemegang saham ataupun pemilik perusahaan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan motivasi di tim manajer untuk bertindak sesuai dengan kepentingan para pemilik perusahaan.
2. Agency Cost
Cara ini dilakukan karena agency cost merupakan biaya yang akan dikeluarkan untuk mengurangi agency cost sekaligus untuk pemenuhan kesejahteraan para pemegang saham. Biaya yang dikeluarkan berasal dari biaya insentif yang nantinya akan diberikan kepada manajer untuk memaksimalkan harga saham perusahaan. Lalu, agency cost juga timbul oleh adanya pengawasan terhadap setiap tindakan manajer, yang dimana sistem pengawasan tersebut adalah corporate governance.
2.1.2 Tindakan Pajak Agresif
Agresivitas pajak didefenisikan sebagai kegiatan perencanaan pajak semua
perusahaan yang terlibat dalam usaha mengurangi tingkat pajak yang efektif
(Hlaing, 2012: 4). Penelitian ini mengacu pada definisi pajak agresif yang
digunakan Frank et al (2009) yaitu tindakan yang bertujuan untuk menurunkan
laba kena pajak melalui perencanaan pajak baik menggunakan cara yang
tergolong atau tidak tergolong ke dalam tax evasion. Perencanaan pajak dapat di
golongkan dalam hambatan pajak dan dapat berakibat kurangnya penerimaan kas
dari seberapa besar perusahaan tersebut mengambil langkah penghindaran pajak
dengan memanfaatkan celah-celah yang ada dalam peraturan perpajakan. Dengan
begitu, perusahaan akan dianggap semakin agresif. Dan untuk memerangi usaha
penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan, pemerintah memakai
peraturan corporate governance (Schon, 2008 dalam Sari dan Martani, 2010: 6)
Suatu agresivitas pelaporan pajak adalah situasi ketika perusahaan
melakukan kebijakan pajak tertentu dan suatu hari terdapat kemungkinan tindakan
pajak tersebut tidak akan diaudit atau dipermasalahkan dari sisi hukum, namun
tindakan ini berisiko karena ketidakjelasan posisi akhir atau apakah tindakan
pajak tersebut dianggap melanggar atau tidak melanggar hukum yang berlaku di
kemudian hari (Murhpy, 2004 dalam Sari dan Martani, 2010: 4). Juga menurut
Watson (2011 dalam Sari dan Martiani, 2010: 4), perusahaan yang sadar sosial
(high level CSR) cenderung kurang agresif dibandingkan dengan perusahaan yang
tidak bertanggung jawab secara sosial (low level CSR) dalam kebijakan
penghindaran pajaknya.
2.1.2.1 Keuntungan dan Kerugian dari Pajak Agresif
Manajer selaku pihak yang membuat keputusan, ia akan memperhitungkan
terlebih dahulu keuntungan ataupun kerugian dari keputusan yang akan
diambilnya. Adapun keuntungan dari tindakan pajak agresif yang dijabarkan oleh
Chen et al. (2008: 3), adalah:
2. Keuntungan bagi manajer (baik langsung atau tidak langsung) dengan mendapatkan kompensasi dari pemilik atau pemegang saham perusahaan atas tindakan pajak agresif yang dilakukannya.
3. Keuntungan bagi manajer dengan cara mempunyai kesempatan untuk melakukan rent extraction.
Sedangkan kerugian yang akan dialami ketika mengambil tindakan pajak agresif
menurut Sari dan Martani (2010: 5) adalah:
1. Kemungkinan perusahaan mendapatkan sanksi atau penalti dari fiskus pajak, dan turunnya harga saham perusahaan.
2. Rusaknya reputasi perusahaan akibat audit dari fiskus pajak.
3. Penurunan harga saham dikarenakan pemegang saham lainnya mengetahui tindakan pajak agresif yang dijalankan manajer dilakukan dalam rangka rent extraction.
2.1.3 Good Corporate Governance
Tata kelola sebuah perusahaan muncul karena adanya pemisahan antara
kepemilikan dengan pengelola perusahaannya. Tata kelola ini disebut juga dengan
Corporate Governance. Tata kelola pada perusahaan ini rentan pula dengan masalah, salah satu masalahnya adalah agency problem atau masalah agensi.
Masalah agensi adalah konflik yang terjadi karena ada perbedaan tujuan juga
kepentingan yang ada pada manajer dan pemilik perusahaan karena perusahaan ini
memerlukan pengawasan. Pengawasan inilah yang disebut dengan corporate
governance atau tata kelola perusahaan. Atau tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan
dan etika berusaha (Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor. KEP
The Indonesian Institute for Corporate Governance atau IICG (2012) mengartikan Good Corporate Governance (GCG) sebagai struktur, sistem dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan sebagai upaya untuk memberikan
nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang dengan
tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya berdasarkan norma, etika,
budaya dan aturan yang berlaku. Menurut IICG pula, manfaat dari pelaksanaan
GCG adalah menjaga sustainability perusahaan, meningkatkan nilai perusahaan dan kepercayaan pasar, mengurangi agency cost dan cost of capital, meningkatkan
kinerja, efisiensi dan pelayanan kepada stakeholders, melindungi organ dari
intervensi politik dan tuntutan hukum dan membantu terwujudnya good corporate
citizen. Prinsip-prinsip GCG inilah yang dapat memberikan manfaat bagi perusahaan selain hanya terlihat baik di mata pemerintah juga masyarakat.
Menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No
KEP-117/M-MBU/2002 Pasal 1, Corporate Governance adalah suatu proses dari struktur yang
digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan
akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya,
berlandaskan perundangan dan etika. Dari pengertian ini didapat bahwa
Corporate Governance digunakan untuk meningkatkan keberhasilan usaha juga akuntabilitasnya. Dapat juga mewujudkan nilai pemegang saham tanpa
mengabaikan kepentingan pihak lainnya.
Pajak dan Corporate Governance dapat berinteraksi dalam berbagai
2008: 5). Pada tingkat internasional ada interaksi yang sudah mulai di observasi
dari corporate governance, misalnya peraturan coroporate governance yang telah
dijadikan alat oleh pemerintah untuk memerangi usaha penghindaran pajak yang
kerap kali dilakukan oleh perusahaan (Schon, 2008 dalam Sari dan Martani,
2010:6). Begitu pula di Indonesia, peraturan perpajakan yang mempengaruhi
governance perusahaan adalah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 43/PMK.03/2008 9 (DJP 2008) yang menyatakan wajib pajak (WP) dapat
menggunakan nilai buku dalam pemekaran usaha jika wajib pajak pribadi atau
badan hasil pemekaran tersebut akan melakukan penawaran umum perdana. Isi
peraturan pemerintah ini terdapat dorongan untuk perusahaan melakukan
transparansi dengan menjadikan perusahaan itu go public. Dengan keterbukaan
informasi, perusahaan akan cenderung mengambil tindakan perpajakan yang tidak
berisiko. Prinsip keterbukaan dan transparansi inilah yang termasuk dalam contoh
prinsip corporate governance yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan
perpajakan bagi perusahaan.
Menurut Pedoman Umum GCG Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite
Nasional Kebijakan Governance (KNKG), good corporate governance awalnya
diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan
konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu penerapan GCG
perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan
perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat
dilaksanakan oleh masing-masing pilar menurut Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG) dalam Pedoman Pelaksanaan GCG Indonesia, adalah:
1. Negara dan perangkatnya menciiptakan peraturan perundang-undangan yang menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten (consistent law enforcement).
2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar pelaksanaan usaha.
3. Masyarakat sebagai pengguna porduk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan melakukan kontrol usaha (social control) secara objektif dan bertanggung jawab.
Prinsip dari GCG tertulis dalam Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor
KEP 01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance) yaitu lima prinsip yang dikemukakan oleh perusahaan
tersebut, yaitu transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability),
pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency) dan kewajaran
(fairness). Prinsip inilah yang diperlukan dalam penerapan GCG karena berkaitan
dengan penyajian laporan keuangan perusahaan yang akan di tampilkan kepada
publik.
Dalam perusahaan, terdapat organ-organ yang menjalankan fungsinya sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ
perusahaan tersebut mempunyai independensi dalam melaksanakan tugas, fungsi
dan tanggung jawabnya semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Organ
perusahaan dalam Pedoman Umum GCG Indonesia oleh KNKG terdiri dari:
A. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
modal yang ditanam dalam perusahaan, dengan memperhatikan ketentuan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan. Keputusan yang diambil dalam RUPS harus didasarkan pada kepentingan usaha perusahaan dalam jangka panjang. RUPS atau pemegang saham tidak dapat melakukan intervensi terhadap tugas, fungsi dan wewenang Dewan Komisaris dan Direksi dengan tidak mengurangi wewenang RUPS untuk menjalankan haknya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, termasuk untuk melakukan penggantian atau pemberhentian anggota Dewan Komisaris dan atau Direksi. Penyelenggaraan RUPS merupakan tanggung jawab Direksi.
B. Dewan Komisaris
Dewan komisaris sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggung jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi serta memastikan bahwa Perusahaan melaksanakan GCG walaupun Dewan Komisaris tidak boleh ikut serta dalam mengambil keputusan operasional.
C. Direksi
Direksi sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggungjawab secara kolegial dalam mengelola perusahaan. Masing-masing anggota Direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai dengan pembagian tugas dan wewenangnya.
2.1.3.1 Asas Good Corporate Governance
Menurut KNKG, setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG
diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas GCG
terdiri dari transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta
kewajaran dan kesetaraan diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha
(sustainability) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan
(stakeholders). Pedoman Umum GCG Indonesia yang dikeluarkan oleh KNKG
menjabarkan asas GCG sebagai berikut:
pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
2. Akuntabilitas (Accountability) maksudnya adalah perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3. Responsibilitas (Responsibility) maksudnya adalah perusahaan harus memenuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
4. Independensi (Independency) gunanya untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, maka perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness) yaitu dalam pelaksanaan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Dari asas tersebut bisa diteladani beberapa pedoman perilaku yang dapat
menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua karyawan dalam menerapkan
nilai-nilai (values) dan etika bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya
perusahaan. Karena itu, prinsip tersebut haruslah diimbangi dengan Good Faith
atau bertindak atas itikad baik dan kode etik perusahaan serta pedoman Corporate
Governance yang dibuat oleh Komite Nasional Corporate Governance. Pedoman ini juga dapat dijadikan acuan atau dasar dari sikap yang akan di gunakan
2.1.4 Corporate Social Responsibility
Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang
berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan
menitikberatakan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi,
sosial dan lingkungan (Untung, 2009: 1).
CSR melakukan kegiatan-kegiatan dalam segala aspek dengan berdasarkan
UU No. 40 tahun 2007 Pasal 74 Tentang Perseroan Terbatas yang berbunyi:
“Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan.” Dan semakin berkembangnya kegiatan perusahaan, maka dalam
Pasal 15 huruf (b) UU No. 2007 Tentang Penanaman Modal telah mengatur
kewajiban dalam kegiatan CSR bagi perusahaan. Isi pasal ini adalah “Setiap
penanaman modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial
perusahaan” Perusahaan yang melaksanakan kegiatan usahanya akan diwajibkan
oleh Undang-Undang agar kegiatan usaha tersebut dapat berlangsung dengan
baik. CSR sudah di tetapkan oleh Pemerintah menjadi suatu keharusan pada PP
No. 47 Tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan
Terbatas.
Di dalam suatu perusahaan, akan terdapat beberapa kompleksitas
permasalahan sosial (social problems) yang semakin rumit dalam dekade terakhir
dapat memberikan alternative terobosan baru dalam pemberdayaan masyarakat
miskin. Latar belakang social problems ini berasal dari sejarah pembangunan
ekonomi di Indonesia yang diyakini telah mencapai tingkat pertumbuhan yang
cuukup tinggi, ternyata masih menyisakan permasalahan sosial yang cukup serius.
Masalah yang dapat diambil sebagai contoh adalah tahun 1993-1996
pemerintahan Indonesia telah mampu menekan angka kemiskinan dari 25,32%
menjadi 17,44% (Untung, 2009: 2). Oleh karena itu, peranan negara dalam
menyelesaikan permasalahan sosial ini adalah dengan desentralisasi sebagai
wujud pengakuan pada peranan sektor privat yang telah memberikan peluang
besar bagi sektor ini untuk menyumbangkan resources yang dimilikinya guna
menyelesaikan masalah sosial ini. Dengan kata lain, CSR sebagai wujud
keterlibatan sektor privat dalam memberdayakan masyarakat miskin yang
berakibatkan terbebasnya warga dari permasalahan sosial.
Tetapi program CSR di Indonesia masih terbatas pada realisasi program
charity yang belum mampu memberdayakan masyarakat miskin. Keterbatasan
kontribusi tersebut disebabkan motif realisasi program CSR untuk meredam
konflik dengan masyarakat sekitar dan karena program tersebut belum melibatkan
masyarakat pada setiap tahapan pelaksanaan program. Banyak perusahaan yang
telah beroprasi di Indonesia tetapi belum merealisasikan program CSR. Walaupun
pada periode sekarang dan mendatang telah ada keterbukaan sistem politik yang
memberikan peluang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya termasuk
menuntut realisasi program CSR. Perusahaan yang takut terjadi konflik dengan
Pada saat yang bersamaan, pendekatan yang digunakan oleh perusahaan belum
mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam memberdayakan masyarakat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi CSR bidang lingkungan
di Indonesia antara lain dalam Petunjuk Pelaksanaan CSR Bidang Lingkungan
(2012: 11) adalah:
1. Komitmen pimpinan perusahaan. Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan, kecil kemungkinan akan mempedulikan aktifitas-aktifitas sosial dan lingkungan.
2. Ukuran dan kematangan perusahaan. Perusahaan besar dan mapan lebih mempunyai potensi memberikan kontribusi ketimbang perusahaan kecil dan belum mapan. Namun, bukan berarti perusahaan mengengah, kecil, dan belum mapan tersebut tidak dapat menerapkan CSR bidang lingkungan.
3. Regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah. Semakin banyak regulasi dan penetapan pajak yang membebani perusahaan akan mengurangi ketertarikan perusahaan dalam mengalokasikan dana CSR nya. Sebaliknya, semakin kondusif regulasi atau semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkontribusi lebih kepada masyarakat dan lingkungan melalui penerapan CSR.
Besarnya pendanaan untuk melaksanakan CSR bisa diukur berdasarkan
kesepakatan dengan warga setempat ataupun juga dana yang diambil dari
sebagian margin keuntungan. Naiknya jumlah dana CSR disebabkan oleh semakin
terbukanya perusahaan melaporkan dana yang disisihkan untuk CSR.
Pelaksanaannya pun harus disesuaikan dengan Pedoman Penerapan CSR.
Menurut Untung (2009: 22), kewajiban untuk melakukan CSR dalam UU
Perseroan sebaiknya diimbangi insentif berupa pengurangan pajak. Jika tidak ada
insentif pajak perusahaan bisa menempuh berbagai cara agar kewajiban tersebut
jika ada insentif sebagai imbangan, CSR tersebut tentunya akan dilaksanakan
dengna baik dan benar.
Tanggung jawab sosial umumnya bermanfaat untuk memberdayakan
masyarakat yang dilihat dari sisi perusahaan. Tetapi alasan yang lain dari
pelaksanaan CSR adalah agar kedepannya operasional perusahaan berjalan lancer
tanpa gangguan. Hubungan antara perusahaan dan masyarakat harus dibina
dengan baik agar tidak ada masalah yang timbul di kemudian hari. Pelaksanaan
program CSR belum benar-benar diterima oleh masyarakat maka masih banyak
perusahaan yang tidak terlalu memperhatikan program CSR.
Menurut Untung (2009: 6) manfaat CSR bagi perusahaan, sebagai berikut:
a. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan
b. Mendapatkan lisensi untuk beroprasi secara sosial c. Mereduksi risiko bisnis perusahaan
d. Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha e. Membuka peluang pasar yang lebih luas
f. Mereduski biaya (misalnya terkait dampak pembuangan limbah) g. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders
h. Memperbaiki hubungan dengan regulator
i. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan j. Peluang mendapatkan penghargaan
Dilihat dari permasalahan ini, CSR dikaitkan dengan hal corporate
citizenship atau keberlanjutan perusahaan juga triple bottom line. Istilah ini menggambarkan keterlibatan perusahaan dengan stakeholder dari pada hanya keterlibatan pemegang saham saja. Lanjutnya perusahaan ke masa depan mengacu
pada perilaku perusahaan yang mungkin akan mempengaruhi keberlangsungan
berkelanjutan. Dengan sisi lain, triple bottom line menurut Bichta (2003: 7)
mengacu pada keseimbangan dan kenaikan yang sama dalam kepentingan
ekonomi, sosial dan lingkungan dari sebuah bisnis.
Dengan Triple bottom line, perusahaan jaman sekarang telah
memperhatikan catatan keuangan perusahaan uang termasuk sosial dan aspek
lingkungannya. Sinergi ketiga elemen ini merupakan kunci dari konsep
pembangunan berkelanjutan menurut Siregar (2007) dalam Yoehana (2013: 35).
2.1.5 Perpajakan di Indonesia
Definisi atau pengertian pajak menurut Soemitro (dalam Mardiasmo,
2009: 1) pajak adalah iuran rakyat kepada kas negar berdasarkan undang-undang
(yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran
umum. Menurut Departemen Keuangan Republik Indonesia, pajak adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Yoehana (2013: 46) menyatakan bahwa perusahaan
merupakan salah satu subjek pajak penyumbang terbesar dalam penerimaan
negara melalui pajak penghasilan pajak.
Perusahaan sebagai subjek pajak melakukan kegiatan yang menjadi tax
deductible. Kegiatan tersebut adalah kegiatan CSR, walaupun tax deductible
No. 36 tahun 2008 yang berisi beberapa aturan terkait biaya-biaya yang bisa
dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan yaitu yang berkaitan dengan isu
konsumen, pengembangan masyarakat, lingkungan, ketenagakerjaan, dan hak
asasi manusia. Biaya yang dapat dikurangi dari penghasilan bruto perusahaan
yaitu biaya promosi, beasiswa, magang dan pelatihan, kupon makanan dan
minuman bagi pegawai kriteria dan daerah tertentu beban pengolahan limbah,
cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan, cadangan biaya
penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industry untuk usaha
pengolahan limbah industri dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha
pertambangan.
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tindakan pajak agresif telah di teliti oleh beberapa peneliti terdahulu yang
menghasilkan temuan yang beragam dan dengan memakai berbagai variabel yang
berbeda. Penelitian terdahulu dengan tindakan pajak agresif sebagai variabel
dependennya terdapat banyak perbedaan dari variabel-variabel independennya.
Penelitan Yoehana (2013) yang berjudul Analisis Pengaruh Corporate
Social Responsibility Terhadap Agresivitas Pajak (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2011),
mereplikasi penelitian dari Lanis dan Richardson (2012) dengan meneliti
pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Agresivitas Pajak mendapatkan hasil bahwa semakin tinggi pengungkapan CSR pada suatu
ini menggunakan 98 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun
2010-2011 sebagai populasi penelitiannya. Sampel penelitian ini dipilih dengan
metode purposive sampling dan memperoleh 49 perusahaan per tahun yang memenuhi kriteria sampel. Data penelitian ini dianalisis menggunakan model
analisis regresi ordinary least square. Hasil penelitian Yoehana menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR suatu perusahaan, semakin
rendah tingkat agresivitas pajaknya.
Penelitian lainnya mengambil judul Pengaruh Antara Kepemilikan
Keluarga dan Corporate Governance Terhadap Tindakan Pajak Agresif oleh
Hidayanti (2013). Penelitian ini mengambil populasi perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI pada periode tahun 2008 sampai tahun 2011. Data sampel
penelitian dikumpulkan dengan metode purposive sampling, dan dianalisis dengan
analisis regresi. Hasil yang di dapat dari penelitian ini adalah bahwa kepemilikan
keluarga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tindakan pajak agresif.
Sedangkan corporate governance memiliki pengaruh signifikan terhadap tindakan
pajak agresif. Penelitian ini mengukur tindakan pajak agresif dengan pengukuran
yang ada pada penelitian Yoehana (2013) sebelumnya yang mengukur tindakan
pajak agresif dengan dua ukuran effective tax rates dan satu ukuran book tax
differences.
Penelitian Winarsih, Prasetyono, dan Kusufi (2014) berjudul Pengaruh
Good Corporate Governance dan Corporate Social Responsibility Terhadap
Tindakan Pajak Agresif (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI
CSR terhadap tindakan pajak agresif. Penelitian ini mengajukan hipotesis: (1)
Ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif perusahaan
(2) Ukuran dewan direksi berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif perusahaan
(3) Ukuran komite audit berpengaruh terhadap tindakan pajak agreisf perusahaan
(4) Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif perusahaan. Populasi penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2012. Sampel penelitiannya telah
dipilih sebanyak 80 perusahaan dengan metode purposive sampling. Metode
analisis penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil dari
penelitian ini adalah ukuran dewan komisaris berpengaruh pada tindakan pajak
agresif perusahaan. Sedangkan ukuran dewan direksi, ukuran komite audit, dan
Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh pada tindakan pajak agresif
perusahaan.
Tabel 2.1
2.3 Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teori dan beberapa hasil penelitan terdahulu yang
sudah di jabarkan, penelitian ini menguji kembali pengaruh GCG dan CSR
terhadap tindakan pajak agresif dengan kerangka konseptual dari penelitian ini
pada gambar 2.1.
Good Corporate Governance (X1)
Gambar 2.1
Kerangka konseptual
Penelitian ini akan menjadikan Tindakan Pajak Agresif menjadi variabel
yang dipengaruhi oleh variabel independen (X) karena dengan menjadikan
Tindakan Pajak Agresif menjadi variabel dependen akan dapat diketahui apakah
konsep Tindakan Pajak Agresif ini dapat dipengaruhi dengan beberapa variabel
independen yang sudah disebutkan pada perusahaan yang akan diteliti. Dewan Komisaris (X1.1)
Dewan Direksi (X1.2)
Komite Audit (X1.3)
Corporate Social Responsibility (X2)
Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen di penelitian ini
di jelaskan sebagai berikut:
1. Dewan komisaris terhadap pajak agresif
Dewan komisaris adalah salah satu organ perusahaan yang mempunyai
tugas juga tanggung jawab yang secara kolektif dalam perusahaan untuk
mengawasi dan memberikan nasihat pada direksi. Dewan komisaris juga harus
memastikan bahwa perusahaan tersebut sudah memenuhi standar GCG apa tidak.
Semakin besar ukuran dewan komisaris yang bekerja dalam perusahaan, maka
semakin besarlah kemungkinan akan terjadi tindakan pajak agresif yang dilakukan
oleh perusahaan tersebut.
2. Dewan direksi terhadap tindakan pajak agresif
Dewan direksi mempunyai tanggung jawab dalam perusahaan yaitu untuk
mengelola manajemen perusahaan agar manajemen itu bekerja secara efektif dan
efisien. Dengan tugas direksi, manajemen perusahaan tersebut akan menjadi lebih
baik lagi dalam menyusun laporan tahunan dan juga laporan kegiatan perusahaan
yang memuat laporan pelaksanaan GCG. Dalam melaksanakan tugasnya, direksi
akan menemukan benturan kepentingan antara perusahaan dengan pemerintah.
Benturan kepentingan ini terjadi karena perusahaan ingin memiliki laba yang
tinggi sedangkan pemerintah memandang kenaikan laba sebagai kenaikan objek
pajak yang nantinya akan ditagih. Maka direksi perlu mengurangi benturan
3. Komite audit terhadap tindakan pajak agresif
Komite audit bertugas membantu komisaris dalam pengawasan laporan
keuangan agar disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip yang berlaku umum
(KNKG, 2006). Peraturan BAPEPAM menyatakan komite audit minimal
beranggotakan tiga orang yang sudah diketuai oleh seorang dewan komisaris
independen yang menjabat sebagai ketua komite audit. Maka untuk perilaku
komite audit akan dilihat dari segi perilaku manajemen dalam mengawasi laporan
keuangan dengan pajak, yaitu perusahaan akan cenderung mengharapkan komite
audit untuk dapat meminimalkan tindakan pajak agresif yang ada di perusahaan.
4. Corporate Social Responsibility terhadap tindakan pajak agresif.
Motif pelaksanaan CSR oleh perusahaan sulit dibedakan motifnya antara
CSR yang dilakukan dengan motif altruistic dengan CSR yang dilakukan untuk
menguntungkan reputasi perusahaan (William, 2007 dalam Lanis dan Richardson,
2012). Dengan motif yang berbeda ini pula, penting untuk mempertimbangkan
bagaimana CSR dapat mempengaruhi agresifnya pajak suatu perusahaan tanpa
membuat adanya upaya untuk membedakan tindakan yang diambil perusahaan
jika perusahaan tersebut memang ingin mempertanggungjawabkan usahanya
dengan alasan tertentu. Jika semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR, maka
akan semakin tinggi reputasi perusahaan di lingkungan sekitarnya. Jika
pengungkapan tersebut dikaitkan dengan pajak yang dibayarkan, reputasi baik
akan diperoleh perusahaan yang membayarkan pajak perusahaan kepada negara
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah di jabarkan,
maka diajukan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Dewan komisaris terhadap pajak agresif
Dewan komisaris adalah salah satu organ perusahaan yang mempunyai tugas
juga tanggung jawab yang secara kolektif dalam perusahaan untuk mengawasi dan
memberikan nasihat pada direksi. Dewan komisaris juga harus memastikan bahwa
perusahaan tersebut sudah memenuhi standar GCG apa belum. Semakin besar
ukuran dewan komisaris yang bekerja dalam perusahaan, maka semakin besarlah
kemungkinan akan terjadi tindakan pajak agresif yang dilakukan oleh perusahaan
tersebut (Annisa dan Kurniasih, 2012).
Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1.1: Good Corporate Governance (diproksikan dewan komisaris) berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.
2. Dewan direksi terhadap tindakan pajak agresif
Dewan direksi mempunyai tanggung jawab dalam perusahaan yaitu untuk
mengelola manajemen perusahaan agar manajemen itu bekerja secara efektif dan
efisien. Dengan tugas direksi, manajemen perusahaan tersebut akan menjadi lebih
baik lagi dalam menyusun laporan tahunan dan juga laporan kegiatan perusahaan
yang memuat laporan pelaksanaan GCG. Dalam melaksanakan tugasnya, direksi
Benturan kepentingan ini terjadi karena perusahaan ingin memiliki laba yang
tinggi sedangkan pemerintah memandang kenaikan laba sebagai kenaikan objek
pajak yang nantinya akan ditagih. Maka direksi perlu mengurangi benturan
kepentingan yang terjadi di perusahaan (Winarsih, Prasetyono dan Kusufi, 2014).
Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1.2: Good Corporate Governance (diproksikan dewan direksi) berpengaruh terhadap tindakan pajak agresif.
3. Komite audit terhadap tindakan pajak agresif
Komite audit bertugas membantu komisaris dalam pengawasan laporan
keuangan agar disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip yang berlaku umum
(KNKG, 2006). Peraturan BAPEPAM menyatakan komite audit minimal
beranggotakan tiga orang yang sudah diketuai oleh seorang dewan komisaris
independen yang menjabat sebagai ketua komite audit. Maka untuk perilaku
komite audit akan dilihat dari segi perilaku manajemen dalam mengawasi laporan
keuangan dengan pajak, yaitu perusahaan akan cenderung mengharapkan komite
audit untuk dapat meminimalkan tindakan pajak agresif yang ada di perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis sebagai berikut:
4. Corporate Social Responsibility terhadap tindakan pajak agresif.
Motif pelaksanaan CSR oleh perusahaan sulit dibedakan motifnya antara CSR
yang dilakukan dengan motif altruistic dengan CSR yang dilakukan untuk
menguntungkan reputasi perusahaan (William, 2007 dalam Lanis dan Richardson,
2012). Dengan motif yang berbeda ini pula, penting untuk mempertimbangkan
bagaimana CSR dapat mempengaruhi agresifnya pajak suatu perusahaan tanpa
membuat adanyaupaya untuk membedakan tindakan yang diambil perusahaan jika
perusahaan tersebut memang ingin mempertanggungjawabkan usahanya dengan
alasan tertentu. Jika semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR, maka akan
semakin tinggi reputasi perusahaan di lingkungan sekitarnya. Jika pengungkapan
tersebut dikaitkan dengan pajak yang dibayarkan, reputasi baik akan diperoleh
jika perusahaan membayarkan pajak perusahaan kepada negara dengan benar.
Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis kedua sebagai berikut:
H2: Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap tindakan pajak
agresif.
Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis ketiga sebagai berikut:
H3: Good Corporate Governance (diproksikan pada dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit) dan Corporate Social Responsibility secara