BAB II
TELAAH PUSTAKA A. Manajemen Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum
pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisasi dengan baik.
Berdasarkan beberapa pandangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum bukan hanya sebatas jadwal mata pelajaran yang telah tersusun rapi oleh pihak sekolah tetapi secara luas kurikulum merupakan rangkaian upaya pembelajaran yang dirancang oleh sekolah menyangkut dengan tujuan, isi bahan pembelajaran yang nantinya akan dialami oleh anak didik secara berkelanjutan dan pada akhirnya dapat menjawab tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dalam visi dan misi sekolah.
Sukmadinata (1997) dalam Veithzal (2010) mengemukakan bahwa dalam pengembangan kurikulum ada empat landasan utama yaitu (1) Filosofis; (2) Psikologis; (3) Sosial-Budaya; (4) Ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis memilih dua poin yang dianggap mendukung tulisan ini yaitu psikologi dan sosial-budaya.
1. Landasan Psikologis
berkenan dengan perkembangannya. Yang dikaji adalah tentang perkembangan, pemahaman perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan perkembangan individu, yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.
Jadi menurut penulis psikologi perkembangan menekankan pada perkembangan anak sejauh mana anak berkembang dalam pemahaman dan pengetahuannya dengan model kurikulum yang dipakai dalam pembelajaran. Dan kemudian juga akan menjadi bahan pertimbangan bagi perkembangan kurikulum kedepan.
Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar, serta sebagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar yang semuanya dapat dijadikan sebagai pertimbangan sekaligus mendasari perkembangan kurikulum.
kedepannya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perkembangan kurikulum 2. Landasan Sosial-Budaya
Sukmadimata (1997) dalam Veithzal (2010) mengemukakan landasan kurikulum ini dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan mulai menentukan pelaksanaan sampai pada hasil pendidikan. Dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
karakteristik dan perkembangan yang ada di masyarakat.
Melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian kurikulum yang dikembangkan seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal nasional maupun global.
2. Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Manajemen Kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komperhensif, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum Rusman (2011)
Menurut Oemar Hamalik (2006) Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai sampai dimana perubahan-perubahan telah terjadi pada diri siswa.
Jadi menurut penulis perencanaan kurikulum adalah susunan kesempatan belajar yang dirancang oleh pihak sekolah dengan tujuan membina siswa kearah perubahan tingkah laku dan melalui perencanaan itu juga guru dapat menilai sampai dimana perubahan yang terjadi pada diri siswa berdasarkan standar yang telah ditentukan sebelumnya.
pelaksanaan pembelajaran yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan sumber belajar.
Silabus merupakan garis-garis haluan secara umum yang digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan RPP. RPP merupakan program pelaksanaan pembelajaran secara periodik, bisa untuk sekali pertemuan bahkan lebih tergantung pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Sedangkan PPI merupakan program yang dibuat oleh guru diperuntukkan bagi siswa yang memiliki hambatan atau permasalahan dalam suatu hal yang bersifat individual.
Identitas mata pelajaran meliputi satuan pendidikan, kelas, semester/program keahlian, mata pelajaran atau tema pembelajaran, jumlah pertemuan. Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal perserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan dapat dicapai setiap kelas dan atau semester pada suatu mata pelajaran.
pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusun indikator kompetensi dalam suatu pembelajaran. Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
Jadi menurut penulis perencanaan kurikulum, merupakan penyusunan tahapan-tahapan pembelajaran oleh pendidik dalam rangka membingkai proses pembelajaran yang akan dialami oleh siswa. Diharapkan melalui rancangan pembelajaran akan berdampak pada perubahan mencakup aspek afektif dan kognitif anak ke arah yang lebih baik.
Rusman (2011) menyatakan bahwa organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Organisasi kurikulum sangat terkait dengan bahan pelajaran dan sumber bahan pembelajaran. Sumber belajar dari kurikulum adalah nilai budaya, nilai sosial, aspek siswa dan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa faktor yang diperhatikan dalam organisasi kurikulum yaitu berkaitan dengan ruang lingkup (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan dan kerterpaduan (integrated).
1. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (isolated subjects). Kurikulum terdiri dari sejumlah mata ajaran yang terpisah-pisah, seperti: Sejarah, Ilmu pasti, Bahasa Indonesia. Tiap mata ajaran disampaikan sendiri-sendiri tanpa ada hubungannya dengan mata ajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat kebutuhan dan kemampuan siswa. Semua materi diberikan semua. 2. Mata pelajaran berkorelasi (correlated). Kolerasi
diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata ajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkolerasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
3. Bidang studi (broad field). Organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran.
5. Inti masalah yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah yang diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya.
6. Ecletic program yaitu suatu program yang mencari kesinambungan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Melalui pengertian di atas penulis merumuskan bahwa organisasi kurikulum merupakan rangkaian desain bahan pembelajaran yang diatur oleh pihak sekolah dalam rangka mempermudah siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata. Perwujudan ini semua terletak pada kemampuan guru sebagai sarana dan keberhasilan penerapan kurikulum. Implementasi kurikulum seharusnya menempatkan pengembangan kreativitas siswa lebih dari penguasaan materi. Dalam kaitan ini siswa diposisikan sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Mengimplementasikan kurikulum yang sesuai dengan rancangan, dibutuhkan kesiapan yang matang dari pelaksana, sebab sebagus apapun desain kurikulum yang dimiliki keberhasilan penerapannya tergantung pada kopetensi guru.
Melalui Permen No 41 Tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, pelaksanaan proses pembelajaran terbagi atas persiaratan pelaksanaan proses pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran. Yang termasuk persiaratan pelaksanaan proses pembelajaran yaitu jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar, beban kerja minimal guru, buku teks pelajaran, pengelolaan kelas.
meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Kegiatan pembelajaran terdiri atas tiga tahapan yaitu
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan pendahuluan guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumya dengan materi yang dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang dicapai. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian untuk kegiatan sesuai silabus.
b. Inti
secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi
subjek pembelajaran. Sehingga, dari pelaksanaan kurikulum siswa dapat berkembang dan menjawab tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Evaluasi kurikulum merupakan suatu proses pengumpulan dan penggunaan informasi untuk membuat keputusan dan penilaian tentang kurikulum yang meliputi kurikulum sebagai ide, kurikulum sebagai rencana tertulis, kurikulum sebagai proses dan kurikulum sebagai hasil.
pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
Dari pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa tahap evaluasi kurikum merupakan bagian penting dari proses pelaksanaan kurikulum. Dengan adanya proses evaluasi guru dapat mengetahui sejauh mana perkembangan siswa dengan proses pembelajaran yang sudah berlangsung. Dan sejauh mana tingkat keberhasilan pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah.
Isi dari kurikulum menurut Alexander (1966) dalam Rusman (2011) berisikan fakta-fakta, presepsi, ketajaman, desain, dan solusi yang tergambarkan dari apa yang dipikirkan. Secara keseluruhan semua itu diperoleh dari pengalaman dan semua itu merupakan komponen yang menyusun pikiran yang menyusun kembali hasil pengalaman tersebut ke dalam adat dan pengetahuan, ide, konsep, generalisasi, prinsip, rencana dan solusi.
sebagai upaya meningkatkan makna dan kedalaman arti.
Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih isi kurikulum yaitu isi kurikulum harus sesuai dan tepat serta bermakna bagi perkembangan siswa atau sejalan dengan tahap perkembangan anak didik. Isi dari kurikulum yang hendak diterapkan juga harus dapat menjawab tujuan yang komperhensif. Artinya, mengandung aspek intelektual, moral, sosial secara seimbang.
Isi kurikulum juga harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari. Mengandung bahan pelajaran yang jelas menyangkut dengan, teori, prinsip, konsep yang tepat bukan hanya sekedar informasi. Yang terpenting adalah isi kurikulum harus menunjang tercapainya tujuan pendidikan Rany (2011).
Dalam manajemen kurikulum terdapat prinsip-prinsip dalam proses pelaksanaannya. Seperti yang dikemukakan oleh Rusman (2011), bahwa prinsip-prinsip manajemen kurikulum meliputi:
dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam manajemen kurikulum;
Demokratisasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berdasarkan demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana dan subjek didik pada posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai tujuan kurikulum;
Kooperatif, untuk memporoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai pihak yang terlibat;
Efektivitas dan efisiensi rangkaian kegiatan
manajemen kurikulum harus
mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi untuk mencapai tujuan kurikulum sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut memberikan hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relatif singkat;
kesulitan dalam memahami bahan yang disajikan oleh guru.
B. Konsep Community Dalam Pendidikan Berbasis Komunitas
1. Konsep community
Keterampilan atau partipasi masyarakat dalam kebijakan pendidikan di Indonesia, menurut Suyata dalam Suharto (2011) bukanlah hal yang baru. Partisipasi masyarakat telah dilaksanakan oleh yayasan-yayasan swasta, kelompok, sukarelawan, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan perseorangan. Secara khusus Azara menyebutkan dikalangan masyarakat Muslim Indonesia, partisipasi masyarakat dalam rangka pendidikan berbasis masyarakat telah dilaksanakan sejak lama.
Smucker (1955) dalam Suharto (2011) mencoba mendekati pendidikan dengan prefektif masyarakat. Ia mendefinisikan Community sebagai suatu kumpulan populasi yang tinggal pada suatu wilayah yang berdekatan terintegrasi melalui pengalaman umum, memiliki sejumlah situasi pelayanan dasar, menyadari akan kesatuan lokalnya dan mampu bertindak dalam kapasitasnya sebagai suatu korporasi.
Pengertian di atas menerangkan bahwa community biasanya dimaknai sebagai kelompok manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu dengan segala ikatan dan norma di dalmnya. Dan memahami potensi-potensi yang ada di dalam wilayah dan kemudian berupaya untuk membangun wilayahnya itu dengan potensi yang dimiliki.
2. Pendidikan berbasis komunitas
Pendidikan kemudian harus beradaptasi dan harus dikelola secara desentralisasi dengan memberikan tempat seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat, Sudjana (2000). Sedangkan, menurut Sihombing (2001) pendidikan berbasis masyarakat merupakan pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada di lingkungan masyarakat tertentu dan berorientasi pada masa depan.
Secara konsep, pendidikan berbasis komunitas adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan.
mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam untuk dan oleh masyarakat sendiri. Galbraith (1992) dalam Ardiego (2009) menjelaskan bahwa
community-based education could be defined as an educational proces by which individuals (in this case adults) become more competent in their skills, attitudes, and concepts in an effort to live in and gain more control over local aspects of their communities through
democratic participation . (Pendidikan berbasis komunitas
dapat diartikan sebagai proses pendidikan dimana individu-individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompeten dalam keterampilan, sikap, dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan mengontrol aspek-aspek lokal masyarakatnya melalui partisipasi demokratis).
Pendapat yang lebih luas tentang pendidikan berbasis komunitas dikemukakan oleh Smith (2008) dalam Ardiego (2009) sebagai community-besed education defined as a process designed to enrich the lives of individuals and groups by enganging with people living with in a geographical area, or sharing a common interest, to develop voluntary-ilya range of learning, action, and reflection opportumities, determined by their
personal, social, economic and political need (pendidikan
umum, untuk mengembangkan dengan sukarela tempat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan tefleksi yang ditentukan oleh pribadi, sosial, ekonomi dan kebutuhan politik mereka)
Surakhmad (2000) dalam Suharto (2012) menegaskan bahwa yang dimaksud pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang dengan sadar menjadikan masyarakat sebagai akar dari perkembangan. Konsep pendidikan berbasis masyarakat merupakan usaha peningkatan rasa kesadaran, kepedulian, kepemilikan, keterlibatan, dan tangungjawab masyarakat. Enam kondisi yang dapat menentukan terlaksananya konsep pendidikan berbasis masyarakat.
1. Masyarakat sendiri memiliki kepedulian dan kepekaan mengenai pendidikan;
2. Masyarakat sendiri telah menyadari pentingnya pendidikan bagi kemajuan masyarakat;
3. Masyarakat sendiri telah merasa memiliki pendidikan sebagai potensi kemajuan mereka;
4. Masyarakat sendiri telah mampu menentukan tujuan-tujuan pendidikan yang relevan bagi mereka; 5. Masyarakat sendiri telah aktif berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan;
6. Masyarakat sendiri yang mendukung pembiayaan dan pengadaan sarana pendidikan.
tujuan. Melihat pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih baik. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan yang berbasis komunitas memungkinkan masyarakat dalam tanggungjawab terhadap perencanaan hingga pelaksanaan pendidikan tersebut.
Pendidikan berbasis komunitas berkerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah diberkahi potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Banyak masyarakat kota ataupun desa, telah mengembangkan potensi untuk mengatasi masalah berdasarkan sumber daya yang dimiliki serta dengan memobilitasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang dihadapi, Ardiego (2009).
Salah satu institusi pendidikan yang berbasis pada masyarakat adalah pusat kegiatan belajar masyaraat (PKBM). Lembaga ini merupakan prakarsa pembelajaran masyarakat yang didirikan dari oleh dan untuk masyarakat. Dari masyarakat berarti bahwa PKBM merupakan inisiatif dari masyarakat itu sendiri. Keinginan itu datang dari satu kesadaran akan pentingnya mutu kehidupan melalui proses transformasional dan pembelajaran. Oleh masyarakat,
jawab masyarakat itu sendiri. Untuk masyarakat,
berarti bahwa keberadaan PKBM sepenuhnya untuk kemajuan dan keberdayaan kehidupan masyarakat tempat lembaga itu berada. Eksistensi lembaga didasarkan pada pemilihan program-program yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Pendidikan berbasis masyarakat biasanya menjadikan pendidikan sebagai metodologi pemberdayaan terhadap berbagai kelompok marginal seperti buruh, kaum miskin kota, petani, nelayan dan lain sebagainya. Pendidikan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran peserta dan memungkinkan mereka untuk menjadi lebih sadar tentang bagaimana pengalaman-pengalaman pribadi individu yang terhubung ke masalah sosial yang lebih besar.
Pendidikan berbasis komunitas juga didasarkan pada teori pendidikan yang dikembangkan oleh sejumlah tokoh pendidikan. Diantaranya Francies Parker (1837-1902), John Dewey (1902), Paulo Freire (1970), Johann Pestalozzi, dan Ivan lllich (1970).
informal. Parker mempunyai pandangan bahwa kurikulum harus diorientasikan kepada perkembangan menyeluruh anak. sekolah harus mendorong dan menghormati kreativitas anak. Materi pembelajaran berasal dari pengalaman peserta didik yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Parker mengembangkan sekolah bernama Francis W. Parker School yang berbasis pada komunitas dan kewargaan pada tahun 1901 di Chicago.
pendidikan yang berpusat pada anak (child centered) atau bahan pembelajaran (subject-centered).
Paulo Freire (1970) disunting Mas ud (2007) menyatakan pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri.
Freire melihat bahwa proses pendidikan yang seharusnya bukan memberikan banyak bahan pelajaran kepada anak didik untuk dikuasai dan dihafal. Tetapi memberikan kepada anak didik apa yang sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang merdeka. Merdeka diartikan sebagai kebebasan siswa dalam mengkesplor apa yang mereka inginkan, tidak dibatasi dalam proses pembelajaran. Dengan demikian memperhatikan potensi yang dimiliki oleh anak didik adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam pendidikan yang membebaskan. Proses ini membutuhkan seorang pendidik yang jeli dalam melihat kebutuhan anak didiknya. Dengan demikian seorang pendidik bisa memberikan apa yang menjadi kebutuhan dari anak didik sesuai dengan apa yang dibutuhkannya.
merupakan orang yang harus memiliki kasih sayang dan mantap secara emosional, sehingga akan dipercaya dan disayangi oleh siswa.
Ivan lllich (1970) dalam Hidayat (2013), menyatakan bahwa pendidikan harus dipisahkan dari sekolah, dan sebagai gantinya dibentuk jaringan belajar yang terbuka bagi siapa saja dan merupakan wahana bagi warga masyarakat untuk membebaskan diri dari segala bentuk kungkungan. Jaringan berlajar terdiri atas empat komponen yaitu 1) layanan referensi mengenai objek pendidikan; 2) pasangan sebaya; 3) pertukaran keterampilan; 4) jasa referensi mengenai narasumber pendidikan yang luas.
C. Kurikulum Pendidikan Berbasis Masyarakat
budaya dan adat istiadat setempat dan berusaha mencintai lingkungan hidup.
Tujuan dari kurikulum ini adalah:
a. Memperkenalkan siswa terhadap lingkungannya, ikut melestarikan budaya termasuk kajian, keterampilan yang nilai ekonominya tinggi di daerah tersebut;
b. Mengenali siswa kemampuan dan keterampilan yang menjadi bekal hidup mereka di masyarakat, seandainya mereka tidak dapat melajutan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
c. Membekali siswa agar bisa hidup mandiri, serta dapat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Karakteristik kurikulum berbasis masyarakat adalah suatu bentuk kurikulum yang memadukan antara sekolah dan masyarakat dengan cara membawa sekolah ke dalam masyarakat atau membawa masyarakat ke dalam sekolah guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hamalik (2005) dalam tulisan Ayi Suherman modul UPI, merincikan karakteristik kurikulum berbasis masyarakat:
a. Karakteristik pembelajaran pada kurikulum berbasis masyarakat
2. Disiplin kelas berdasarkan tangungjawab bersama bukan berdasarkan paksaan atau kebebasan;
3. Metode mengajar terutama dititikberatkan pada pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhan perorganisasian dan kebutuhan sosial atau kelompok;
4. Bentuk hubungan atau kerjasama sekolah dan masyarakat adalah memperlajari sumber-sumber masyarakat, menggunakan sumber-sumber tersebut, dan memperbaiki masyarakat tersebut; 5. Strategi pembelajaran meliputi karyawisata,
manusia (narasumber), survey masyarakat, berkemah, kerja lapangan, pengabdian masyarakat, kuliah kerja nyata, proyek perbaikan masyarakat dan sekolah pusat masyarakat.
b. Karaktristik materi pembelajaran
Karakteristik materi pembellajaran antara lain:
1. Validitas, telah teruji kebenaran dan kesahihannya;
2. Tingkat kepentingan yang benar-benar diperlukan oleh siswa;
3. Kebermanfaatan, secara akademik non akademik sebagai pengembangan kecakapan hidup (life skill) dan mandiri;
4. Layak dipelajari, tingkat kesulitan dan kelayakan bahan ajar dan tuntutan kondisi masyarakat sekitar;
5. Menarik minat, dapat memotivasi siswa untuk mempelajari lebih lanjut dengan menumbuhkembangkan rasa ingin tahu;
6. Alokasi waktu terkait dengan keleluasan dan kedalaman materi;
Kegiatan siswa, mestinya mempertimbangkan pemberian peluang bagi siswa untuk mencari, mengelolah dan menemukan sendiri pengetahuan di bahwa bimbingan guru. Juga materi pembelajaran dipilih haruslah yang dapat memberikan pembekalan kemampuan/ kecakapan kepada perserta didik untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan mempunyai kecakapan hidup atau dapat hidup mandiri dengan menggunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah dipelajari.
Guru dalam kurikulum berbasis pada masyarakat berperan sebagai fasilitator, sumber belajar, pembina, konsultan, sebagai mitra kerja yang memfasilitasi siswa dalam pembelajaran.
dan hasil belajar siswa berdasarkan tingkat pencapaian prestasi siswa selama dan setelah kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan karakteristik kurikulum berbasis masyarakat, maka pada hakekatnya karakteristik tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa karakteristik lain sebagai berikut:
1. Kurikulum bersifat realistik, karena hal-hal yang dipelajari bersumber dari kehidupan yang nyata. Para siswa dapat mengamati kenyataan sesungguhnya dalam masyarakat dan kehidupan masyarakat yang bersifat kompleks.
2. Kurikulum menumbuhkan kerjasama dan integrasi antara sekolah dan masyarakat, karena sekolah masuk dalam masyarakat dan masyarakat masuk dalam lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah sebagai barometer kondisi masyarakat.
3. Kurikulum berbasis masyarakat memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk belajar secara aktif. Para siswa merencanakan sendiri, mencari referensi dan sumber informasi sendiri, melakukan kegiatan proyek sendiri dan memecahkan berbagai masalah sendiri, baik melalui belajar individual maupun belajar secara kelompok. 4. Prosedur pembelajaran memberdayakan semua
metode dan teknik pembelajaran. Seperti ceramah, diskusi kerja kelompok, presentasi, pameran baik belajar di dalam kelas maupun di luar kelas. Strategi pembelajaran ditata sedemikian rupa secara vareatif dalam rangka pembelajaran multi sistem seperti ada tatap muka, tugas mandiri, survai dan observasi. 5. Perkembangan kurikulum berbasis masyarakat
dalam menghadapi tantangan hidup massa mendatang dalam masyarakat.
Arlen Wayne Etling (1990) dalam tulisan Mustofa file UPI, telah merinci enam dimensi pendidikan nonformal sebagai sistem pendidikan di luar sistem pendidikan formal, yaitu: a) berpusat pada warga belajar/peserta didik (learner centered), b) Kurikulum kafetaria (cafeteria curriculum), c) hubungan horizontal antara peserta didik dengan tutor, d) berhubungan dengan sumberdaya local (reliance on local resources), e) digunakan dengan segera (immediate usefulness), f) level struktur dibangun dari bawah. Masing-masing dimensi tersebut dijelaskan secara berurutan dalam perspektif berikut:
1) Learner centered; dalam pendidikan nonformal, peserta didik (warga belajar) memiliki dan mengontrol proses pembelajaran. Peserta didik menciptakan suasana pembelajaran sendiri dan bukan ditentukan dari atas (tutor, penyelenggara) atau dari luar. Peserta didik juga menerjemahkan tujuan pembelajarannya sendiri atau sampai ikut merumuskannya.
diminta oleh orang lain dan bahkan mungkin tidak selalu sekuensial.
3) Hubungan horizontal; pendidik (tutor) betindak sebagai fasilitator bukannya guru. Hubungan yang dibangun antara keduanya fasilitator dan peserta didik harus berdasar pada hubungan persahabatan dan informal, dan peserta didik menganggap fasilitator sebagai sumber belajar dan bukan sebagai instruktur. Fasilitator bisa saja datang dari sekolah (formal) tetapi perannya harus berubah ketika masuk pada lingkungan pendidikan nonformal. Fasilitator bisa juga sekelompok pelajar/siswa dari sekolah formal atau dari kelompoknya sendiri yang memiliki kemampuan memimpin serta memiliki beberapa keahlian khusus atau berbagai pengetahuan lainnya yang dapat dijadikan sumber belajar.
4) Reliance on local resources; pengembangan program pendidikan nonformal diutamakan berbasis sumber daya lokal, baik dalam bentuk sumberdaya manusia, sumberdaya material, maupun sumberdaya financial. Oleh karenanya alternative biaya yang murah dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal bisa dilakukan jika sumber daya daerah menjadi pilihan penyelenggaraan program.
dipelajari dengan kebutuhan peserta didik, sehingga hasil belajar dapat cepat dirasakan. Apabila memungkinkan pendidikan nonformal membutuhkan tindakan yang sangat cepat dan apa yang telah dipelajari dapat diaplikasikan secara langsung oleh peserta didik serta dapat meningkatkan tarap hidup yang lebih baik. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan formal dipilih oleh masing-masing peserta didik dianggap sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat.
kemungkinan akan menemukan kegiatan yang cocok dan sesuai rencana belajar dan kebutuhan belajarnya.
D. Model pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk merancang pembelajaran tatap muka di dalam kelas maupun dalam bentuk tutorial, pemberian materi-materi pembelajaran termasuk buku-buku, program media komputer dan studi jangka panjang Rusman (2011). Jadi menurut penulis model pembelajaran adalah bentuk atau pola perencanaan pembelajaran yang digunakan sebagai fasilitas dalam memediasi anak belajar sehingga anak dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Rusaman (2011) mengatakan model pembelajaran terdiri atas lima model, yaitu model interaksi sosial, model pemrosesan informasi, model personal, model modifikasi tingkahlaku dan model pembelajaran kontekstual. Dalam hal ini, penulis akan membahas tiga model pembelajaran yang dianggap penulis mendukung tulisan ini. yaitu:
bermakna bila materi diberikan secara utuh. Aplikasi Teori Gestlt dalam pembelajaran adalah:
1. Pengalaman insight/ Tilikan. Dalam proses pembelajaran, siswa hendaknya memiliki kemampuan insight, yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek.
2. Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya yang akan datang.
3. Perilaku bertujuan. Pembelajaran terjadi karena siswa memiliki harapan tertentu. Sebab itu pembelajaran akan berhasil bila siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.
4. Prinsip ruang hidup. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan di mana siswa berada.
Model perlengkapan interaksi sosial memiliki enam strategi pembelajaran, namun penulis hanya memaparkan tiga strategi yang menurut penulissejalan dengan tulisan ini yaitu:
masalah sosial bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
Kedua, model pembelajaran personal. Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan diri individu. Perhatian utamannya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan perbadi siswa yang mampu membantuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual dan berperan sebagai pendorong.
siswa untuk memahami hakekat makna dari pengalaman belajarnya dan membimbing siswa dalam mengaplikasi konsep-konsep baru ke situasi nyata serta mengevaluasi proses dan hasil belajar.
Ketiga, yaitu model pembelajaran kontekstual (CTL). Pendekatan CTL adalah keterikatan setiap materi atau pembelajaran dengan kehidupan nyata. Di mana teoritik dan kemampuan aplikatif yang bersifat prakstis berjalan beriringan. Oleh sebab itu pendekatan CTL dalam mengajar bukan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata. Akan tetapi, lebih ditekankan pada memfasilitasi siswa untuk mecari kemampuan untuk hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual ini memiliki 7 komponan pokok yang harus dikembangkan guru Hamurni (2012) yaitu:
1. Konstruksivisme
Konstuksivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasar pada pengalaman.
2. Inkuiri
Inkuiri berarti proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukan sejumlah fakta hasil dari mengingat, tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
Balajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seorang dalam berpikir.
4. Masyarakat belajar
Dalam pembelajaran kontekstual diharapkan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik melalui kelompok belajar secara formal maupun secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok; saling memberi masukan dan berbagi pengalaman.
Masyarakat belajar dalam pendekatan CTL sangat memungkinkan memanfaatkan masyarakat belajar lain di luar kelas.
5. Pemodelan
Modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Serta dapat mengambil makna dari setiap kejadian yang dialami.
7. Penilaian nyata
Penelitian Inra Arfianto (2011) menemukan bahwa pemanfaatan internet telah diterapkan oleh pamong belajar dan siswa SKB. Siswa mulai menggunakan internet secara sehat untuk mencari reverensi tugas, dan bagi para pegewai juga memanfaatkan untuk menunjang pekerjaan mereka.
Hasil penelitian Raharjo dkk (2010) menemukan bahwa kemampuan tutor dalam mengelola pembelajaran berpengaruh terhadap kemampuan peserta didik dalam mencapat standar kompetensi yang diharapkan. Peran tutor dalam pendidikan kesetaraan adalah sangat strategis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.
gunakan akses memperoleh pendidikan bagi masyarakat miskin secara gratis, menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bagi masyarakat akan realitas sosial, politik dan ekonomi dengan melibatkan mereka pada proses pendidikan.