KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta kerjasama dari semua pihak yang terkait lingkup Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, sehingga Laporan Kinerja (LKj) Triwulan II tahun 2017 Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon ini dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya.
Laporan Kinerja (LKj) Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon ini merupakan perwujudan pertanggungjawaban atas kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Tahun 2017 yang tertuang dalam pelaksanaan program dan kegiatan dalam upaya pencapaian visi dan misi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Laporan kinerja Triwulan II ini mencakup uraian pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon melalui serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 oleh setiap divisi yang ada di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon.
Laporan Kinerja ini diharapkan mampu memberikan informasi secara transparan kepada seluruh pihak yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon sehingga dapat memberikan umpan balik guna peningkatan kinerja pada periode berikutnya. Laporan kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dapat dijadikan sebagai sarana evaluasi atas pencapaian kinerja sehingga dapat menjadi pemicu peningkatan kinerja organisasi dengan melakukan langkah-langkah perbaikan melalui pelayanan yang lebih profesional dan transparan yang berguna bagi masyarakat.
Ambon, 5 Juli 2017
Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
IKHTISAR EKSEKUTIF ... 1
I. PENDAHULUAN ... 2
1.1. Latar Belakang ... 2
1.2. Maksud dan Tujuan ... 3
1.3. Tugas dan Fungsi ... 3
1.4. Permasalahan Utama ... 6
1.5. Sistematika Penyajian Laporan ... 6
II. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA ... 8
2.1 Visi Misi Pembangunan KKP ... 8
2.2 Visi Misi Pembangunan Perikanan Budidaya ... 9
2.3 Visi Misi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon ... 9
2.4 Tujuan BPBL Ambon ... 10
2.5 Sasaran Strategis BPBL Ambon ... 10
2.6 Pengukuran Kinerja ... 15
III. AKUNTABILITAS KINERJA DAN KEUANGAN ... 17
3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama ... 17
3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja ... 18
1. Sasaran Strategis 1, Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan ... 18
2. Sasaran Strategis 2, Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya yang Partisipatif, Bertanggungjawab dan Berkelanjutan ... 21
3. Sasaran Strategis 3, Terselenggaranya Tata Kelola Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan yang Adil, Berdaya Saing dan Bekelanjutan 28
4. Sasaran Strategis 4, Terselenggaranya Pengendalian dan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang Profesional dan Partisipatif . 33
5. Sasaran Strategis 5, Terwujudnya Aparatur Sipil Negara BPBL Ambon yang Kompeten Profesional, dan Berkepribadian ... 34
6. Sasaran strategis 6, Tersedianya Manajemen Pengetahuan BPBL Ambon yang Handal dan Mudah Diakses ... 35
7. Sasaran Strategis 7, Terwujudnya Birokrasi BPBL yang Efektif, Efisien dan Berorientasi Pada Layanan Prima ... 37
8. Sasaran Strategis 8, Terkelolanya Anggaran Pembangunan Secara Efisien dan Akuntabel ... 38
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Struktur Organisasi BPBL Ambon thn 2017 ... 4
Gambar 2. Produksi benih ikan konsumsi dan ikan hias ... 22
Gambar 3. Kegiatan div produksi BPBL Ambon ... 23
Gambar 4. Produksi induk ikan konsumsi ... 24
Gambar 5. Kegiatan induk ikan hias ... 24
Gambar 6. Kegiatan monitoring kawasan di wilayah kerja ... 26
Gambar 7. Kegiatan monitoring kualitas perairan TAD ... 27
Gambar 8. Kegiatan Bantuan Benih BPBL Ambon ... 30
Gambar 9. Kegiatan restocking BPBL Ambon ... 32
Gambar 10. Kegiatan pelayanan penerimaan sampel lab BPBL Ambon ... 33
Gambar 11. Media Informasi Publik twitter BPBL Ambon ... 36
Gambar 12. Media Informasi Publik website BPBL Ambon ... 36
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sasaran strategis BPBL Ambon ... 10
Tabel 2. Capaian Indikator Kinerja BPBL Ambon Tahun 2017 ... 17
Tabel 3. Capaian IKU “Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 2016” ... 19
Tabel 4. Capaian IKU “Rata-rata pendapatan Pembudidaya Ikan 2017” ... 21
Tabel 5. Capaian IKU “Jumlah Benih dengan Mutu Terjamin Tahun 2017” ... 21
Tabel 6. Capaian IKU “Jumlah Produksi Induk dengan Mutu Terjamin Tahun 2017” 24
Tabel 7. Capaian IKU “Persentase Peningkatan PNBP Tahun 2017” ... 25
Tabel 8. Capaian IKU “Jumlah Kawasan Budidaya yang Penyakit Ikan Pentingnya Dilakukan Survaillance atau dimonitoring Tahun 2017” ... 26
Tabel 9. Capaian IKU “Jumlah Kawasan Budidaya yang mendapat penanganan Mutu lingkungan (kab/kota) Tahun 2017” ... 28
Tabel 10. Capaian IKU “Jumlah Unit Pembenihan yg siap disertifikasi CPIB Tahun 2016” ... 28
Tabel 11. Capaian IKU “Jumlah Pembudidaya yg siap disertifikasi CBIB Tahun 2016 ... 29
Tabel 12. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Benih Ikan Triwulan II 2017” ... 29
Tabel 13. Capaian IKU “Jumlah Laboratorium Penyakit Ikan, Kualitas Air, Pakan Dan Residu yang Memenuhi Standar Teknis Tahun 2017” ... 31
Tabel 14. Capaian IKU “Jumlah Hasil Perekayasaan Teknologi Terapan Bidang Perikanan Budidaya Tahun 2017” ... 32
Tabel 15. Capaian IKU “Jumlah lokasi restocking Ikan Triwulan II 2017”... 33
Tabel 16. Capaian IKU “Jumlah Pelayanan Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan triwulan II Tahun 2017” ... 34
Tabel 17. Capaian IKU “Indeks Kompetensi dan Integritas Tahun 2017” ... 35
Tabel 18. Sistem Informasi Publik di BPBL Ambon ... 35
Tabel 19. Capaian IKU “Persentase Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang terstandar triwulan II Tahun 2017” ... 37
Tabel 20. Capaian IKU “Nilai Kerja Reformasi Birokrasi triwulan II Tahun 2017” ... 38
Tabel 21. Capaian IKU “Tingkat maturitas SPIP triwulan II Tahun 2017” ... 38
Tabel 22. Capaian IKU “Persentase tindak lanjut direktif pimpinan triwulan II Tahun 2017” ... 38
Tabel 23. Capaian IKU “Nilai AKIP lingkup DJPB Tahun 2017” ... 38
Tabel 24. Realisasi anggaran BPBL Ambon triwulan II Tahun 2017” ... 39
Tabel 25. Capaian IKU “Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon Tahun 2017” ... 39
RINGKASAN EKSEKUTIF
Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon (BPBL Ambon) sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam menjalankan tugas dan fungsinya melaksanakan penerapan teknik perbenihan dan pembudidayaan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya induk/benih ikan dan lingkungan perairan disekitarnya. Lingkup wilayah kerja BPBL Ambon meliputi wilayah Maluku, Sulawesi dan Papua. Cakupan wilayah kerja yang cukup luas yakni mencakup indonesia bagian timur, secara langsung berdampak pada besarnya tanggung jawab yang diemban dengan tugas pokok dalam hal budidaya laut dimana BPBL Ambon dituntut mampu memecahkan berbagai permasalahan dan tantangan di bidang budidaya laut guna memenuhi kebutuhan masyarakat serta memajukan kegiatan budidaya laut di wilayah kerja melalui peningkatan kinerja dan kebijakan program yang telah ditentukan.
Laporan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Triwulan II tahun 2017 ini merupakan bagian dari informasi pengukuran kinerja dalam melaksanakan Rencana Strategis BPBL Ambon Tahun 2015-2019. Laporan Kinerja adalah dokumen evaluasi untuk mendapatkan umpan balik peningkatan kinerja terhadap pelaksanaan berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh BPBL Ambon dengan berorientasi kepada hasil yang ingin dicapai melalui Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis.
Pada tahun 2017, BPBL Ambon menetapkan 9 sasaran strategis dan 23 indikator kinerja. Masing-masing sasaran strategis dan indikator kinerja tersebut didukung oleh kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi balai. Proses pencapaian Indikator kinerja pada triwulan II berjalan dengan cukup baik, dimana beberapa IKU utama telah dicapai dan dilaksanakan sesuai target yang telah ditetapkan.
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penetapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) III Tahun 2015 –2019 melalui Perpres No. 2 Tahun 2015, telah mengamanatkan agar melakukan pembangunan berbagai bidang secara berkelanjutan. Fokus RPJMN 2015 – 2019, yaitu memantapkan pembangunan keunggulan kompetitif berbasis SDA, SDM Berkualitas, dan Kemampuan IPTEK sehingga diharapkan dapat terwujud : (i) ketahanan ekosistem (resilient
ecosystem); (ii) ketahanan dan kedaulatan perikanan; (iii) daya saing ekonomi melalui
pengembangan Inovasi dan IPTEK; dan (iv) kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan arahan RPJMN tersebut, selama kurun waktu tahun 2015-2019, fokus kebijakan pembangunan perikanan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya adalah sebagai berikut : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Meningkatkan kelestararian dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya. Arah kebijakan perikanan budidaya tersebut dengan potensi dan keunggulan karakteristik yang ada, diyakini mampu memberi kontribusi pada 9 (sembilan) agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), serta memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing dan berkelanjutan. Adapun strategi yang ditempuh untuk mewujudkan arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Pelestarian dan keberlanjutan sumberdaya perikanan budidaya.
Dengan ditetapkannya arah kebijakan dan strategi pembangunan perikanan budidaya, maka sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya berdasarkan tujuan yang akan dicapai telah dijabarkan dalam empat perspektif dengan masing-masing IKU seperti yang tercantum pada Renstra dan Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mengatasi tantangan global dan permasalahan yang menuntut perubahan paradigma dan desain percepatan pembangunan perikanan budidaya.
Berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Perpres No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), dan Permen PAN dan RB No. 53 Tahun 2014 setiap kementerian berkewajiban menyusun Laporan Kinerja (LKj) sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun Maksud dan tujuan Penyusunan L a p o r a n K i n e r j a ( LKj) i n i , a n t a r a l a i n :
1. sebagai sarana pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon kepada seluruh stakeholders;
2. sebagai sarana evaluasi atas pencapaian kinerja Balai Perikanan Budididaya Laut Ambon pada triwulan kedua tahun 2017 dalam upaya perbaikan kinerja pada tahun berikutnya; dan 3. sebagai bahan inputan dalam penyempurnaan dokumen perencanaan, pelaksanaan
program dan kegiatan yang akan datang.
1.3. Tugas dan Fungsi
Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan uji terap teknik dan kerjasama, produksi, pengujian laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor : 6/PERMEN-KP/2014 yang diuraikan lebih rinci dalam fungsi sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana kegiatan teknis dan anggaran, pemantauan dan evaluasi serta laporan;
2. Pelaksanaan uji terap teknik perikanan budidaya laut;
3. Pelaksanaan penyiapan bahan standarisasi perikanan budidaya laut; 4. Pelaksanaan sertifikasi system perikanan budidaya laut;
5. Pelaksanaan kerjasama teknis budidaya laut;
6. Pengelolaan dan pelayanan system informasi dan publikasi perikanan budidaya laut; 7. Pelaksanaan layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan teknis perikanan
budidaya laut;
8. Pelaksanaan pengujian kesehatan ikan dan lingkungan budidaya laut;
9. Pelaksanaan produksi induk unggul, benih bermutu dan sarana produksi perikanan budidaya laut;
10. Pelaksanaan bimbingan teknis perikanan budidaya laut; dan 11. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/PERMEN-KP/2014, BalaiPerikanan Budidaya Laut Ambon telah menjadi Eselon IIIa dengan struktur organisasi terdiri atas:
1. Kepala Balai
2. Subbagian Tata Usaha
3. Seksi Uji Terap Teknik dan Kerja Sama 4. Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis 5. Kelompok Jabatan Fungsional.
Susunan organisasi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, tersaji pada gambar dibawah ini :
Gambar 1. Struktur Organisasi BPBL Ambon Th. 2017
Dalam menjalankan tugasnya, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dipimpin oleh seorang Kepala dan dibantu oleh Kepala sub bagian, Kepala seksi, kelompok jabatan fungsional dan seluruh pegawai yang berjumlah 58 orang dengan kompetensi yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu mewujudkan tercapainya visi dan misi BPBL Ambon.
Adapun tugas masing-masing bagian dalam struktur organisasi BPBL Ambon adalah sebagai berikut:
1. Subbagian Tata Usaha
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pelaporan keuangan, kegiatan teknis, anggaran, pengelolaan kepegawaian, tata laksana, barang milik negara, rumah tangga dan ketatausahaan.
2. Seksi Uji Terap Teknik dan Kerja Sama
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan uji terap teknik, standardisasi, sertifikasi, kerja sama teknis, pengelolaan dan pelayanan sistem informasi, serta publikasi perikanan budidaya laut.
3. Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan teknis, kesehatan ikan dan lingkungan, produksi induk unggul, benih bermutu, dan sarana produksi, serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut.
4. Kelompok Jabatan Fungsional
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kerekayasaan, pengujian, pendampingan, penerapan standar/sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan ikan air laut, pengendalian hama dan penyakit ikan, pengawasan benih/budidaya serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari : Perekayasa, Teknisi Litkayasa, Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan, Pengendali Hama Penyakit Ikan, dan Statistisi.Pegawai Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon pada tahun anggaran 2017 terdiri dari 58 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS).
1.4. Permasalahan Utama
Secara umum, permasalahan/kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi perikanan budidaya adalah :
1. Penyediaan dan distribusi induk unggl dan benih berkualitas masih terbatas; 2. Efisiensi pakan masih rendah;
3. Biaya produksi yang masih tinggi;
4. Penurunan kualitas lingkungan perairan sebagai akibat dari limbah rumah tangga dan sedimentasi di perairan Teluk Ambon Dalam;
5. Ancaman penyakit;
6. keterbatasan sarana dan prasarana perikanan budidaya, terutama terkait dengan kondisi saluran air, jalan produksi, jaringan listrik dan lainnya;
7. Pemahaman informasi sumber daya manusia pelaku usaha perikanan budidaya yang masih kurang sehingga agak sulit untuk dilakukan perubahan; dan
8. sistem pendataan dan pelaporan yang belum optimal sehingga berakibat terjadinya keterlambatan penyampaian data dukung.
1.5. Sistematika Penyajian Laporan
Penyusunan Laporan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Tw I mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Adapun sistematika penyajian laporan adalah sebagai berikut:
Pejabat struktural Perekaya sa PHPI Pengawas Perikanan Statistisi Pranata
Humas Litkayasa Arsiparis
Fungsion al Umum Series1 4 11 3 11 1 1 14 1 12 0 2 4 6 8 10 12 14 16
Ringkasan Eksekutif, pada bagian ini disajikan ringkasan mengenai tujuan, sasaran, capaian kinerja, permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian kinerja dan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, serta antisipasi untuk menanggulangi permasalahan yang mungkin terjadi pada tahun mendatang.
Bab I Pendahuluan, pada bab ini disajikan hal-hal umum tentang Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon serta uraian singkat tentang tugas pokok dan fungsi dari Balai Perikanan Perikanan Budidaya Laut Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya, termasuk latar belakang, maksud dan tujuan penulisan Laporan kinerja.
Bab II Perencanaan dan Penetapan Kinerja, pada bab ini disajikan rencana strategis, visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan dan program Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon pada tahun 2010-2015. Rencana kinerja tahun 2015 dan indikator keberhasilan pencapaian penetapan kinerja berupa target-target.
Bab III Akuntabilitas Kinerja dan Keuangan, pada bab ini disajikan hasil pengukuran kinerja yang diperjanjikan dalam Penetapan Kinerja (PK), evaluasi dan analisis capaian kinerja termasuk didalamnya keberhasilan dan kegagalan pencapaian target serta hambatan/kendala yang dihadapi dan langkah antisipatif yang akan diambil untuk perbaikan di tahun sebelumnya. Disajikan pula akuntabilitas keuangan yang mencakup alokasi dan realisasi anggaran dengan pencapaian sasaran termasuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu dijelaskan tentang capaian teknologi yang diperoleh dan adanya perjanjian kerja sama dengan instansi lain.
Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan tinjauan secara umum tentang keberhasilan, kegagalan, permasalahan dan kendala serta upaya tindak lanjut untuk perbaikan tahun mendatang.
Lampiran, pada bab ini berisi data dukung yang diperlukan dalam penjelasan/pembahasan dari Bab I sampai dengan Bab IV.
BAB II. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) III Tahun 2015 – 2019, telah mengamanatkan untuk terus melakukan pembangunan perikanan budidaya secara berkelanjutan, karena diyakini dengan potensi dan kekuatan yang ada, perikanan budidaya mampu memberi kontribusi pada 9 (sembilan) agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), dan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya. Penjabaran pelaksanaan pembangunan perikanan budidaya, lebih lanjut dituangkan dalam buku Rencana Strategi (RENSTRA) Perikanan Budidaya 2015 - 2019.
Kebijakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2015 – 2019 adalah mengembangkan program dan kegiatan untuk tercapainya sasaran strategis perikanan budidaya. Arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya tahun 2015-2019 adalah : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Meningkatkan kelestarian dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya.
Oleh karena itu, guna mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih terarah, terukur, konsisten dan akuntabel diperlukan visi dan misi yang dapat menggambarkan harapan dan kenyataan yang akan diperoleh melalui kebijakan dan program serta kegiatannya, maka Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon menetapkan visi, misi dan tujuan pengembangan perikanan budidaya sebagai berikut :
2.1. Visi Misi Pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan
Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2015 – 2019 adalah : “Mewujudkan sector kelautan dan perikanan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasis kepentingan nasional”. Sedangkan misi yang akan dilaksanakan KKP guna mewujudkan visi tersebut adalah :
1. Kedaulatan (sovereignty), yakni mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berdaulat guna menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Keberlanjutan (Sustainability) yakni mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
3. Kesejahteraan (Prosperity) yakni mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri, serta berkepribadian dalam kebudayaan.
2.2. Visi Misi Pembangunan Perikanan Budidaya
Visi pembangunan perikanan budidaya adalah “Mewujudkan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, berbasiskan kepentingan nasional”. Sementara misi pembangunan budidaya dalam mewujudkan visinya adalah :
1. Mewujudkan kemandirian perikanan pembudidaya melalui pemanfaatan sumberdaya berbasis pemberdayaan masyarakat.
2. Mewujudkan produk perikanan budidaya berdaya saing melalui peningkatan teknologi inovatif.
3. Memanfaatkan sumberdaya perikanan budidaya secara berkelanjutan.
2.3. Visi Misi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon
Sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon bertanggung jawab untuk membantu dalam penyelenggaraan pembangunan perikanan budidaya laut di lingkup wilayah kerjanya adapun visi dan misi yang ingin diwujudkan oleh BPBL Ambon dalam periode 2015 – 2019 adalah sebagai berikut :
Visi BPBL Ambon tahun 2015 – 2019 yakni “Mewujudkan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon sebagai institusi pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan system budidaya laut yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.” Sedangkan misi yang diemban oleh BPBL Ambon guna mewujudkan visi tersebut adalah :
1. Mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha.
2. Meningkatkan kapasitas kelembagaan.
3. Memfasilistasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan. gamababa ga
2.4. Tujuan BPBL Ambon
Rumusan rencana strategis ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi BPBL Ambon. Penetapan tujuan adalah hal yang penting sebagai dasar penentuan arah strategis dan perubahan serta perbaikan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang, yaitu mewujudkan misi BPBL Ambon yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka tujuan BPBL Ambon ditetapkan sebagai berikut : 1. Tersedianya paket teknologi budidaya laut yang adaptif;
2. Terwujudnya BPBL Ambon sebagai institusi yang produktif;
3. Terselenggaranya kegiatan pengendalian hama dan penyakit ikan dalam menunjang pengembangan kawasan budidaya laut yang menerapkan system usaha yang berdaya saing berkelanjutan dan berkeadilan.
2.5. Sasaran Strategis BPBL Ambon
Mengacu pada sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya 2015 – 2019 sebagai penjabaran visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan ditetapkan melalui tahapan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dana rah kebijakan yang terbagi menjadi empat perspektif dalam bentuk peta sasaran strategis BPBL Ambon.
Tabel 1. Sasaran strategis BPBL Ambon
PERSPECTIVE SASARAN STRATEGIS
STAKEHOLDER PERSPECTIVE Terwujudnya kesejahteraan
masyarakat perikanan budidaya. COSTUMER PERSPECTIVE Terwujudnya pengelolaan sumberdaya
perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan. INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE Terselenggaranya tata kelola
pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan.
Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan yang professional dan partisipatif.
LEARN & GROWTH PERSPECTIVE Terwujudnya aparatur sipil negara (ASN) BPBL Ambon yang kompeten, professional dan berkepribadian.
Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses. Terwujudnya birokrasi yang efektif,
efisien dan berorientasi pada layanan prima.
Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel.
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
STAKEHOLDER PERSPEKTIVE
1. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Perikanan Budidaya
1. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 102,5 2. Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 8 3. Rata-rata Pendapatan Pembudidaya (Rp) 3.050.000
CUSTOMER PERSPEKTIVE
2. Terwujudnya pengelolaan sumber perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan
4. Jumlah produksi benih (ekor) 460.000 5. Jumlah Produksi Induk unggul di UPT/UPTD (ekor) 2.000 6. Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) 750.350.000 7.
Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dapat dikendalikan
melalui surveilance (kawasan) 8 8. Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu
lingkungannya (kab/kota)
8
INTERNAL PROCESS PERSPEKTIVE
3.
Terselenggaranya tata kelola
pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan
9. Jumlah unit pembenihan yang siap disertifikasi CPIB (unit) 1 10. Jumlah unit pembudidaya yang siap disertifikasi CBIB (unit) 2 11. Jumlah bantuan benih ikan (ekor) 155.000 12.
Jumlah Laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang
memenuhi standar teknis (unit) 1 13. Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya
(paket) 5
14 Jumlah lokasi restocking (lokasi) 1 4.
Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif
15. Pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan (sampel) 990
LEARNING AND GROWTH PERSPEKTIVE
5. Terwujudnya ASN BPBL Ambon yang kompeten, profesional dan berintegritas 16. Indeks kompetensi dan integritas BPBL Ambon 80 6. Tersedianya manajemen pengetahuan BPBL Ambon yang handal dan mudah
diakses 17.
Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang
terstandar (%) 65
7. Terwujudnya birokrasi BPBL Ambon yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima
18. Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi DJPB A (80) 19. Tingkat Maturitas SPIP (level) 2 20. Persentase tindak lanjut direktif pimpinan (%) 100 21. Nilai AKIP Lingkup DJPB 85 8. Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel
22. Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon (%) 85 23. Persentase Kepatuhan terhadap SAP
2.6. Pengukuran Kinerja
Dalam rangka mengukur capaian indikator kinerja tahun 2015, BPBL Ambonmenerapkan pengelolaan kinerja berbasis Balanced Scorecard (BSC). Pengukuran capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
1. Data yang dimasukkan sebagai pencapaian kinerja merupakan data yang telah diverifikasi oleh tim Strategic Management Office (Tim Pengelola Kinerja BPBL Ambon) sebagai data mutakhir yang diambil dari sumber data yang tepat;
2. Status capaian IKU yang ditunjukkan dengan warna merah/kuning/hijau, ditentukan oleh Indeks Capaian IKU.
3. Angka maksimum indeks capaian setiap IKU ditetapkan sebesar 120%.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase pencapaian target indikator kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:
1. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Maximize. Indeks Capaian = realisasi
target x 100%
IKU yang memiliki polarisasi maximize merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja lebih tinggi dari nilai target yang ditetapkan. 2. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Minimize.
Indeks Capaian = [1 + (1 - realisasi
target )] x 100%
IKU yang memiliki polarisasi minimize merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja lebih rendah dari nilai target yang ditetapkan. 3. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Stabilize.
I = In+
(In+1 - In) (Cn+1 - Cn)
(C - Cn) Keterangan :
I = indeks capaian C = capaian, dengan ketentuan: In = indeks capaian di bawahnya apabila realisasi > target, maka:
In+1 = indeks capaian di atasnya C = 100 – (Ca – 100)
Ca = capaian awal = realisasi/target x
100%
dimana Ca maksimum adalah
200% apabila realisasi<target, maka C = Ca
Cn+1 = capaian di atasnya
IKU yang memiliki polarisasi stabilize, merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja diharapkan berada dalam suatu rentangtarget tertentu.Apabila hasil perhitungan nilai capaian IKU melampaui target, akan menghasilkan nilai maksimal 110%. Karena IKU stabilize mengharapkan capaian dalam rentang tertentu di sekitar target, maka capaian yang dianggap paling baik adalah capaian yang tepat sesuai dengan target.
BAB. III AKUNTABILITAS DAN KEUANGAN
3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
Pengukuran capaian IKU, bab ini menguraikan tentang indikator kinerja kegiatan, penjelasan tentang capaiannya, kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja kegiatan dan permasalahan yang dihadapi serta upaya penyelesaiannya termasuk langkah antisipasi yang dilakukan pada tahun berjalan.
Tabel 2.Capaian IKU dalam Penetapan Kinerja Berbasis BSC (Balance Score Card) Tahun 2017
SASARAN STRATEGIS URAIAN INDIKATOR KINERJA TARGET TAHUN 2017 REALISASI TRIWULAN II 2017 REALISASI TRIWULAN II 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN Stakeholder Perspective 1 Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya
1 Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 102,25 - - - NonKumulatif, dihitung bulanan. 2 Pertumbuhan PDB Perikanan (persen) 8 - - - NonKumulatif, dihitung triwulanan. 3. Rata-rata Pendapatan Pembudidaya (Rp) 3.050.000 - - - NonKumulatif, dihitung triwulanan. Customer Perspective 2 Terwujudnya pengelolaan sumber perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan
4 Jumlah Produksi benih yang dihasilkan di UPT/UPTD (Ekor)
460.000 195.100 170.256 20.67 Non Kumulatif, dihitung triwulanan 5 Jumlah Produksi induk
unggul yang dihasilkan UPT/UPTD (Ekor) 2.000 1400 1.203 65 Kumulatif, dihitung triwulanan. 6 Persentase peningkatan PNBP BPBL Ambon (%) 750.350.000 331.225.200 341.558.500 44.14 Kumulatif, dihitung triwulanan. 7 Jumlah kawasan budidaya
yang disurvailan dan atau dimonitoring penyakit ikannya (Kab/kota)
8 7 3 87.5 Kumulatif, dihitung triwulanan.
8 Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungannya (kab/kota)
8 5 0 62.5 Kumulatif, dihitung triwulanan.
Internal Process Perspective
3 Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkeadilan, berdaya saing dan berkelanjutan
11 Jumlah Bantuan Benih Ikan (Ekor)
155.000 151.300 108.000 97.61 Non Kumulatif, dihitung triwulanan. 12 Jumlah Laboratorium
penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis (unit) 1 0 1 0 Kumulatif, dihitung di akhir tahun 13 Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya (Paket) 5 0 1 0 Non Kumulatif, dihitung triwulanan. - Bidang Keskanling 1 0 0 - Non Kumulatif, dihitung triwulanan. - Bidang Perbenihan 2 2 0 100 Non Kumulatif, dihitung triwulanan. - Bidang Pakan 1 0 0 - Non Kumulatif, dihitung triwulanan.
SASARAN STRATEGIS URAIAN INDIKATOR KINERJA TARGET TAHUN 2017 REALISASI TRIWULAN II 2017 REALISASI TRIWULAN II 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN - Bidang Pembesaran ikan 1 0 1 - Non Kumulatif, dihitung triwulanan. 14 Jumlah lokasi restocking
1 2 0 200 Non Kumulatif, dihitung triwulanan. 4 Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif.
15 Jumlah Sampel yang diuji dalam rangka pelayanan leboratorium kesehatan ikan dan lingkungan
(Sampel) 990 704 801 71.11
Non Kumulatif, dihitung triwulanan.
Learning and Growth Perspective
5 Terwujudnya ASN BPBL Ambon yang kompeten, profesional dan berintegritas
16 Indeks Kompetensi dan integritas BPBL Ambon 80 - - - Non Kumulatif, dihitung di akhir tahun. 6 Tersedianya manajemen pengetahuan BPBL Ambon yang handal dan mudah diakses
17 Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan terstandar (%)
65 - - -
7 Terwujudnya birokrasi BPBL Ambon yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima
18 Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BPBL Ambon
A (80) - - -
19 Tingkat Maturitas SPIP (level)
2 - - -
20 Persentase tindak lanjut direktif pimpinan (%)
100 - - -
21 Nilai AKIP lingkup DJPB
85 - - - 9 Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel
22 Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon (%)
85 - - -
23 Persentase kepatuhan terhadap SAP lingkup
BPBL Ambon (%) 100 - - -
3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja
Bagian berikut menguraikan tentang evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan dan analisis capaian kinerja dari sasaran strategis.
SASARAN STRATEGIS 1: TERWUJUDNYA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN
Pencapaian sasaran strategis tersebut dilakukan dengan IKU (1) Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) dan (2) Pertumbuhan PDB Perikanan, dan (3) Rata-rata pendapatan pembudidaya (Tabel 3).
SASARAN STRATEGIS URAIAN INDIKATOR KINERJA TARGET TAHUN 2017 REALISASI TRIWULAN II 2017 REALISASI TRIWULAN II 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN Stakeholder Perspective 1 Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya 1 Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 102,25 - - - Non Kumulatif, dihitung bulanan. 2 Pertumbuhan PDB Perikanan (persen) 8 - - - Non Kumulatif, dihitung triwulanan. 3. Rata-rata Pendapatan Pembudidaya (Rp) 3.050.000 - - - Non Kumulatif, dihitung triwulanan.
IKU 1 : Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan (It) terhadap indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan (Ib). NTPi merupakan indikator tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya ikan, sehingga dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan/daya keluarga pembudidaya ikan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya. Semakin tinggi NTPi, maka akan semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya. Beberapa kendala dalam pencapaian target NTPi diantaranya adalah biaya pakan yang tinggi dan fluktuatif. Pakan merupakan komponen paling besar dalam suatu kegiatan budidaya ikan (40 – 70%), hal ini menunjukan bahwa pakan mempengaruhi tinggi rendahnya produksi ikan. Sebagian besar bahan baku pakan pada saat ini masih mengandalkan impor, trend permintaan bahan baku pakan akan mengalami kenaikan seiring dengan peningkatan aktivitas atau kebutuhan budidaya ikan. Hal ini lambat laun akan berpengaruh dalam kegiatan produksi, dimana akan terjadi competitor harga di pasaran. Diperlukan alternative cara guna menekan biaya produksi pakan dalam kegiatan budidaya, saat ini pemanfaatan pakan berbahan baku local terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan budidaya dengan harga yang relative lebih murah sehingga pembudidaya dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dari kegiatan budidaya ikan.
IKU 2 : Pertumbuhan PDB Perikanan (persen)
PDB perikanan diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa perikanan yang diproduksi dalam jangka waktu tertentu (per tahun). Angka persentase pertumbuhan PDB Perikanan diperoleh dengan membandingkan nilai PDB Perikanan (berdasarkan harga konstan) tahun berjalan dibandingkan dengan nilai PDB Perikanan tahun sebelumnya. Pertumbuhan PDB merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan termasuk di dalamnya perikanan budidaya. Capaian konstribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional, diantaranya berasal dari kegiatan perikanan budidaya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan turut memegang peranan untuk mendorong pertumbuhan PDB nasional.Untuk meningkatkan PDB perikanan ini salah satu langkah yang dilakukan adalah peningkatan produksi perikanan budidaya melalui industrialisasi perikanan budidaya, pengembangan kawasan minapolitan perikanan budidaya dan penerapan blue economy perikanan budidaya.
IKU 3 : Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp)
Pendapatan (Stice, Skousen, 2004, 230), didefinisikan sebagai berikut : “Pendapatan adalah sebagai arus masuk atau kenaikan-kenaikan lainnya dari nilai harta suatu satuan usaha atau penghentian hutang- hutangnya atau kombinasi dari keduanya dalam suatu periode akibat dari penyerahan atau produksi barang-barang, penyerahan jasa-jasa, atau pelaksanaan aktivitas-aktivitas lainnya yang membentuk operasi utama atau sentral yang berlanjut terus dari satuan usaha tersebut.”
Pendapatan masyarakat nelayan pembudidaya bergantung terhadap pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang terdapat di lautan. Pendapatan masyarakat nelayan secara langsung maupun tidak akan sangat mempengaruhi kualitas hidup mereka, karena pendapatan dari hasil berlayar merupakan sumber pemasukan utama atau bahkan satu-satunya bagi mereka, sehingga besar kecilnya pendapatan akan sangat memberikan pengaruh terhadap kehidupan mereka, terutama terhadap kemampuan mereka dalam mengelola lingkungan tempat hidup mereka.
Menurut Sitorus (1994) pendapatan adalah jumlah kegunaan yang dapat dihasilkan melalui suatu usaha. Pada hakikatnya jumlah uang yang diterima oleh seseorang produsen (nelayan/petani ikan) untuk produksi yang dijualnya tergantung dari:
1. Jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen 2. Jumlah produk yang dipasarkan
Tabel 4. Capaian IKU “Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp) Triwulan II tahun 2017”.
IKU 2017 IKU 2016 Ket
Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp) Nilai Adopsi
- Target Tahunan 3.050.0000
- Realisasi Triwulan II 0
- Persentase capaian
tahunan (%)
0
SASARAN STRATEGIS 2 : TERWUJUDNYA PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BUDIDAYA YANG PARTISIPATIF, BERTANGGUNG JAWAB DAN BERKELANJUTAN
IKU 4 : Jumlah Benih dengan Mutu Terjamin (ekor)
Target jumlah benih yang harus diproduksi oleh BPBL Ambon tahun 2017 sebesar 460.000 ekor. Capaian dari indikator pada triwulan II ini adalah sebesar 195.100 ekor atau 42,41% dari target yang telah ditetapkan. Benih yang dihasilkan terdiri atas benih ikan konsumsi dan benih ikan hias laut.
Tabel 5. Capaian IKU “Produksi Benih dengan Mutu Terjamin Triwulan II tahun 2017”. Produksi Benih dengan Mutu Terjamin (Ekor) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 460.000 415.000
- Target Triwulan II 124.400 82.500
- Realisasi Triwulan II 195.100 42.200
- Persentase capaian tahunan (%) 42,41 10,7
Penganggaran kegiatan produksi benih pada tahun 2017 ini dipaparkan menjadi beberapa point kegiatan yakni :
Operasional Pengelolaan Induk, senilai Rp. 370.320.000,- Operasional produksi benih ikan laut, senilai Rp. 342.000.000,- Operasional produksi benih ikan hias laut, senilai Rp. 418.275.000,- Operasional produksi pakan alami, senilai Rp. 188.500.000,-
Pengadaan peralatan dan mesin produksi benih, senilai Rp. 675.700.000,-
Beberapa kendala dalam produksi benih bermutu antara lain pertama adalah penanganan induk yang tepat, penanganan induk memiliki peranan penting dalam keberhasilan suatu kegiatan pembenihan. Induk yang stress akibat handling biasanya akan gagal memijah atau bahkan mati. Penanganan dapat dilakukan dengan pemilihan sarana pembenihan yang tepat disesuaikan dengan kebiasaan setiap species ikan, karena setiap ikan
tinggi pada stadia larva dan benih. Pada ikan konsumsi, serangan penyakit virus VNN (viral
nervous necrocis) banyak menyerang ikan konsumsi pada stadia ini. Gejala klinis berupa
kehilangan keseimbangan karena virus ini menyerang bagian otak dan mata. Infeksi VNN dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam kegiatan pemeliharaan. Upaya yang dilakukan adalah pemberian antibiotic, vitamin dan imunostimulan dalam pakan, sesuai dosis yang dianjurkan, dan Ketiga adalah penanganan parameter kualitas media pemeliharaan, hal yang mungkin dilakukan adalah dengan menjaga suhu media hidup tetap optimal, suhu merupakan factor pembatas yang penting bagi kegiatan produksi benih upaya seperti penggunaan heater atau pemanas dalam menjaga suhu selalu terjaga. Kemampuan ikan dalam beradaftasi terhadap suhu bervariasi tergantung jenis ikan dan ukurannya, secara umum suhu tidak selalu mematikan akan tetapi mampu mempengaruhi gangguan kesehatan ikan dalam jangka panjang, misalnya stress yang ditandai abnormalitas tubuh dan gerakan, benih ikan memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap fluktuasi perubahan parameter lingkungan.
Rencana aksi yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan produksi dan penjaminan kualitas benih yang dihasilkan antara lain melalui penerapan biosecurity di lingkungan hatchery secara ketat, melakukan manajemen pemberian pakan induk dan benih yang tepat, pakan yang diberikan harus memiliki standar kualitas yang baik, terutama dalam kandungan nutrisi pakan yang terkandung didalamnya. Pakan induk dan benih tepat secara ukuran, jumlah, frekuensi pemberian sehingga berdampak pada peningkatan survival rate induk dan benih, dan secara umum optimalkan implementasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) di instalasi produksi.
Gambar 3. Kegiatan Divisi Produksi BPBL Ambon
IKU 5 : Jumlah Produksi Induk dengan Mutu Terjamin (ekor)
Target jumlah produksi induk/calon induk unggul pada tahun 2017 yaitu 2000 ekor. Sampai akhir Triwulan II capaian produksi calon induk unggul 1400 ekor ekor, sebagian ukuran bobot tubuh ikan belum mencapai standar calon induk dan sampai saat ini masih dilakukan pemeliharan. Komoditas induk yang diproduksi oleh BPBL Ambon meliputi jenis ikan konsumsi dan ikan hias. Produksi induk unggul ikan konsumsi yaitu kerapu macan, kakap putih dan bubara. Sedangkan produksi induk unggul ikan hias yaitu ikan hias clownfish dengan berbagai varian.
Penganggaran kegiatan produksi induk unggul pada tahun 2017 ini dipaparkan menjadi beberapa point kegiatan yakni :
Operasional Pengelolaan produksi calon induk, senilai Rp. 380.000.000,- Operasional produksi benih ikan hias di KJA, senilai Rp. 58.000.000,-
Kendala yang terjadi dalam produksi induk unggul, terutama penyediaan induk unggul ikan konsumsi adalah fluktuasi kualitas air di perairan Teluk Ambon Dalam akibat tingginya curah hujan mengakibatkan kerentanan stress calon induk ikan meningkat dan memicu tingginya tingkat serangan penyakit iridovirus pada ukuran tertentu. Sedangkan kendala pemenuhan calon induk ikan hias adalah dalam upayanya menghasilkan induk varian unggul seperti
picasso, black photon, frostbite belum dapat dilakukan secara massal.
Rekomendasi terhadap terhadap kegiatan produksi induk unggul adalah meningkatkan laju pertumbuhan dengan menggunakan pakan ikan berkualitas yang didukung dengan menjaga kualitas media pemeliharaan, sarana dan prasarana pendukung budidaya agar tetap dalam kondisi optimal. Salah satu langkah yang dapat dilakukan antara lain penambahan multivitamin pada pakan yang diberikan secara rutin pada ikan untuk merangsang pertumbuhan dan meningkatan kemampuan imunitas ikan terhadap infeksi suatu penyakit, serta menerapkan konsep biosecurity dengan baik dan benar di lingkungan budidaya.
Tabel 6. Capaian IKU “Produksi Induk dengan Mutu Terjamin Triwulan II tahun 2017”. Produksi Induk dengan Mutu Terjamin (Ekor) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 2.000 1.500
- Target Triwulan II 474 375
- Realisasi Triwulan II 1400 306
- Persentase capaian tahunan (%) 70 20,40
Gambar 4. Kegiatan Produksi Induk Ikan Konsumsi BPBL Ambon
Gambar 5. Kegiatan Produksi Induk Ikan Hias BPBL Ambon
IKU 6 : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp)
Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BPBL Ambon Tahun 2017 adalah sebesar Rp 750.350.000. Sedangkan realisasi PNBP hingga akhir Triwulan II tahun 2017 adalah sebesar Rp 111.360.950 atau 14,84%. Capaian PNBP tersebut diperoleh dari penjualan hasil perikanan, pendapatan jasa lainnya.
Tabel 7. Capaian IKU “Nilai PNBP BPBL Ambon Triwulan II Tahun 2017”.
Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 750.350.000 750.350.000
- Target Triwulan II 187.587.000 -
- Realisasi Triwulan II 331.225.200 238.879.300
- Persentase capaian tahunan (%) 44.14 44,17
IKU 7 : Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dilakukan survaillance dan atau monitoring (kawasan)
Timbulnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah akibat berbagai stressor, patogen yang virulen dan kualitas lingkungan yang memburuk. Ilustrasi ketiga komponen tersebut dalam bentuk lingkaran yang akan saling berinteraksi satu sama lain Penyakit ikan merupakan kendala utama dan penyebab kegagalan dalam kegiatan industri akuakultur. Tingkat serangan penyakit dari intesitas rendah hingga tinggi menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi pembudidaya.
Sakit pada ikan adalah suatu keadaan abnormal yang ditandai dengan penurunan kemampuan ikan secara gradual dalam mempertahankan fungsi fisiologi normal, (irianto, 2005)
IKU jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dapat dikendalikan melalui survailan mulai ditetapkan pada tahun 2017, dimana indikator ini didefinisikan sebagai banyaknya kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya disurveillance pada kurun waktu tertentu yang disertai tindakan pengendalian guna menekan tingkat prevalensi terhadap kejadian suatu serangan penyakit ikan. Keberhasilan atas indikator kinerja ini ditunjukkan dengan menurunnya tingkat prevalensi penyakit ikan pada suatu kawasan budidaya sebagai dampak dari penerapan tindakan pengendalian.
Penetapan target Indikator Kinerja Jumlah Kawasan Budidaya Yang Penyakit Ikan Pentingnya Dapat Dikendalikan melalui Surveillance (Kawasan) pada tahun 2017 adalah 8. Sampai akhir triwulan II baru tercapai 6 kawasan yang menjadi sasaran surveillance yakni Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Buru, Kabupaten Halmahera Selatan, Kota Tual, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tenggara. Kegiatan ini mencakup perjalanan monitoring, pengawasan HPI dan obat ikan senilai Rp. 60.000.000,-.
Target penyakit yang dilakukan surveillance adalah penyakit bakterial dan virus. Jenis penyakit potensial pada system budidaya meliputi penyakit viral, yang terutama bersumber dari infeksi vertikal dari induk. Kemungkinan lain infeksi berasal dari infeksi horisontal melalui air,
pakan, dan kontaminasi dari manusia (penanganan budidaya). Pemberlakuan sistem biosekuriti dan kontrol yang ketat akan memberikan kualitas benih yang memenuhi persyaratan mutu, seperti tidak mengandung virus yang berbahaya (SPF) dan memiliki ketahanan tubuh yang baik.
Gambar 6. Kegiatan Monitoring Kawasan di berbagai wilayah kerja
Tabel 8. Capaian IKU “Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dilakukan survaillance dan atau monitoring (kawasan) Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dilakukan survaillance dan atau monitoring (kawasan)
Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 8 5
- Target Triwulan II 2 1
- Realisasi Triwulan II 6 1
- Persentase capaian tahunan (%) 87.5 20
IKU 8 : Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungan (Kabupaten/Kota)
Timbulnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah akibat berbagai stressor, patogen yang virulen dan kualitas lingkungan yang memburuk. Ilustrasi ketiga komponen tersebut dalam bentuk lingkaran yang akan saling berinteraksi satu sama lain Penyakit ikan merupakan kendala utama dan penyebab kegagalan dalam kegiatan industri
akuakultur. Tingkat serangan penyakit dari intesitas rendah hingga tinggi menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi pembudidaya.
IKU Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungan (Kabupaten/Kota) mulai ditetapkan pada tahun 2017, dimana indikator ini didefinisikan sebagai banyaknya Kabupaten/Kota (kawasan) budidaya yang perlu mendapat penanganan mutu lingkungan, hal ini terkait dengan timbulnya penyakit ikan akibat dari menurunnya kualitas parameter lingkungan pada kurun waktu tertentu yang disertai tindakan pengendalian guna menekan tingkat prevalensi terhadap kejadian suatu serangan penyakit ikan. Capaian kegiatan ini pada triwulan II mencapai 5 Kab/Kota dari 8 Kab/Kota yang ditargetkan, 5 Kab/Kota itu adalah Kabupaten Buru, Kabupaten Malteng, Kota Tual, Kabupaten Halmahera Selatan dan Kota Ambon. Keberhasilan atas indikator kinerja ini ditunjukkan dengan menurunnya tingkat prevalensi penyakit ikan pada suatu kawasan budidaya sebagai dampak dari penerapan tindakan pengendalian.
Penetapan target Indikator Kinerja Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungan (Kabupaten/Kota) pada tahun 2017 adalah 8 Kabupaten/Kota. Sampai akhir triwulan II belum tercapai target kabupaten/kota yang menjadi sasaran penanganan mutu lingkungan.
Tabel 9. Capaian IKU Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungan (Kabupaten/Kota) Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungan (Kabupaten/Kota)
Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 8 0
- Target Triwulan II 2 0
- Realisasi Triwulan II 5 0
- Persentase capaian tahunan (%) 62.5 0
SASARAN STRATEGIS 3 : TERSELENGGARANYA TATA KELOLA PEMANFAATAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG ADIL, BERDAYA SAING DAN BERKELANJUTAN
IKU 9 : Jumlah unit pembenihan yang siap disertifikasi CPIB (unit)
Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CBIB) merupakan standar wajib digunakan oleh pelaku usaha pembenihan perikanan. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak pembudidaya yang belum belum menerapkannya. Hal itu menjadi salah satu tujuan BPBL Ambon yaitu meningkatkan Pembinaan sistem Pembenihan ikan Laut yang baik dan benar dan meningkat. Diharapkan dengan penerapan CPIB secara menyeluruh dapat meningkatkan produksi, kualitas, nilai tambah dan daya saing produk perikanan budidaya secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha budidaya perikanan. Pada tahun 2017, BPBL menargetkan satu unit hatchery perbenihan yang siap disertifikasi CPIB. Tabel 10. Capaian IKU “Jumlah unit pembenihan yang siap disertifikasi CPIB (unit) Triwulan II
tahun 2017”.
Jumlah unit pembenihan yang siap disertifikasi CPIB (unit) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 1 0
- Target Triwulan II 0 0
- Realisasi Triwulan II 0 0
- Persentase capaian tahunan (%) 0 0
IKU 10 : Jumlah pembudidaya yang siap disertifikasi CBIB (unit)
Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan standar wajib digunakan oleh pelaku usaha perikanan budidaya. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak pembudidaya yang
belum belum menerapkannya. Hal itu menjadi salah satu tujuan BPBL Ambon yaitu meningkatkan pembinaan dan sosialisasi kegiatan budidaya Laut yang baik dan benar. Diharapkan dengan penerapan CBIB secara menyeluruh pada kegiatan budidaya laut mampu meningkatkan produksi, kualitas, nilai tambah dan daya saing produk perikanan budidaya secara berkelanjutan terutama dalam menjamin kualitas mutu produk budidaya yang dihasilkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha budidaya perikanan. Kegiatan ini mencakup perjalanan monitoring, dalam rangka pendampingan kawasan dan penerapan CBIB, senilai Rp. 84.000.000,-.
Pada tahun 2017, BPBL menargetkan dua unit pembudidaya yang siap disertifikasi CBIB. Pada triwulan II ini pelaksanaan pendampingan kawasan dan penerapan CBIB telah dilakukan di dua (2) Kabupaten yakni Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupaten Maluku Tengah. Tabel 11. Capaian IKU “Jumlah pembudidaya yang siap disertifikasi CBIB (unit) Triwulan II
tahun 2017”.
Jumlah pembudidaya yang siap disertifikasi CBIB (unit) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 2 0
- Target Triwulan II 0 0
- Realisasi Triwulan II 0 0
- Persentase capaian tahunan (%) 0 0
IKU 11 : Jumlah bantuan benih ikan (ekor)
Program bantuan benih dan restocking merupakan program prioritas Ditjen Perikanan Budidaya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Program ini adalah IKU baru Ditjen Perikanan Budidaya yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan budidaya. Target atas bantuan benih adalah 155.000 ekor benih dan pada triwulan II telah tersalurkan 151.300 ekor benih atau 97.6%. Komoditas yang diberikan kepada pembudidaya yaitu ikan konsumsi (kakap putih) dan ikan hias clownfish. Pelaksanaan kegiatan bantuan benih diberikan kepada pembudidaya di Provinsi Maluku, yakni Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat. Kegiatan ini mencakup bahan kegiatan distribusi benih (paket) senilai Rp. 103.900.000,-
Tabel 12. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Benih Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah Bantuan Benih (ekor) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 155.000 330.000
- Target Triwulan II 45.000 0
- Realisasi Triwulan II 151.300 0
Gambar 8. Kegiatan Bantuan Benih Ikan BPBL Ambon
IKU 12 : Jumlah laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis (unit)
Laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan berperan penting dalam melakukan pengujian dan menganalisa sampel untuk pemeriksaan penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu. Validitas hasil uji ditentukan oleh kemampuan SDM yang handal serta sarana dan prasarana yang layak. Ketepatan dan keakuratan hasil uji dari laboratorium itulah yang dibutuhkan untuk menentukan kebijakan dan langkah selanjutnya dalam mengantisipasi serangan penyakit.
Capaian terhadap indikator kinerja ini dilakukan berdasarkan pemenuhan terhadap unsure dasar yang dimuat di dalam cara berlaboratorium yang baik (good laboratory
kompetensi); (iii) ketersediaan / kecukupan peralatan yang mendukung operasional pengujian; dan (iv) metode uji yang digunakan.
Dalam pencapaian IKU ini mencakup kegiatan :
Pengadaan peralatan laboratorium (validasi metode uji) senilai Rp. 1.000.000,- Pengadaan bahan uji laboratorium senilai Rp. 151.400.000,-
Pada Indikator Kinerja jumlah laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis di tahun 2017 ditargetkan 1 (satu) unit. Kinerja di bidang ini dapat terealisasi 1 (satu) unit laboratorium penguji bidang kualitas air yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan standar ISO/SNI 17025 mengenai jaminan mutu laboratorium pengujian. Pencapaian target dari point IKU ini direncanakan pada Triwulan IIII tahun berjalan.
Tabel 13. Capaian IKU “Jumlah laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis (unit)Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis (unit)
Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 1 0
- Target Triwulan II 0 0
- Realisasi Triwulan II 0 0
- Persentase capaian tahunan (%) 0 0
IKU 13 : Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya
(paket)
Perekayasaan yang dilakukan pada tahun 2017 difokuskan pada bidang utama peningkatan produksi ikan dan rumput laut mencakup kegiatan pembenihan berbagai komoditas serta pemanfaatan bahan baku local dalm pembuatan pakan ikan. Secara lengkap dikategorikan menjadi 5 bagian yakni :
Perekayasaan bidang perbenihan (2) senilai Rp. 155.000.000,- Perekayasaan bidang keskanling (1) senilai Rp. 20.000.000,- Perekayasaan bidang sarpras (1) senilai Rp. 25.000.000,- Perekayasaan bidang pembesaran (1) Rp. 110.025.000,-
Dalam pelaksanaannya, perekayasaan ini menggunakan 1 tipe organisasi yaitu tipe A. Tipe A terdiri dari 1 Kepala Program, 1 Program Manager, 1 Chief Engineering, 5 WBS (Work
Breakdown Structure) dan 11 WP (Work Page) serta 39 ES (Engineering Staf) dan 36 TS (Technical Staf). Dalam waktu 3 bulan (triwulan pertama) tipe organisasi perekayasa mengalami
perubahan menjadi tipe B dan tipe C. Hal ini disebabkan oleh adanya efisiensi anggaran pada awal tahun sehingga membutuhkan revisi dan penyesuaian kegiatan (terlampir),
Tabel 14. Capaian IKU “Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya (paket) Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya (paket)
Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 5 0
- Target Triwulan II 0 0
- Realisasi Triwulan II 2 0
- Persentase capaian tahunan (%) 0 0
IKU 14 : Jumlah lokasi Restocking (Lokasi)
Program bantuan benih dan restocking menjadi program prioritas Ditjen Perikanan Budidaya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Program ini adalah IKU Ditjen Perikanan Budidaya yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan budidaya. Target atas bantuan benih adalah 155.000 ekor benih dan pada triwulan II tersalurkan 151.300 ekor benih atau 97.6% termasuk benih untuk kegiatan program penebaran kembali (restocking) di perairan umum. Komoditas yang di restocking di perairan antara lain ikan konsumsi (kakap putih), ikan hias clownfish, dan Banggai cardinal fish. Pelaksanaan kegiatan restocking dilakukan di beberapa lokasi perairan di Provinsi Maluku, yakni Kabupaten Maluku Tengah (Perairan Pulau Pombo) dan Kabupaten Seram Bagian Barat (Perairan Teluk Kotania).
Tabel 15. Capaian IKU “Jumlah Lokasi Restocking Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah Lokasi Restocking (Lokasi) Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 1 0
- Target Triwulan II 0 0
- Realisasi Triwulan II 2 0
- Persentase capaian tahunan (%) 200 0
SASARAN STRATEGIS 4 : TERSELENGGARANYA PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG PROFESIONAL DAN PARTISIPATIF
IKU 15 : Jumlah pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan (sampel)
Hingga akhir Triwulan II tahun 2017, capaian kinerja pada sasaran strategis jumlah pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan mampu melebihi target yang ditetapkan pada triwulan pertama. Capaian realisasi terhadap jumlah sampel yang dilayani pada laboratorium penguji kesehatan ikan dan lingkungan BPBL Ambon mencapai 704 sampel dari target 990 sampel. Laboratorium Penguji BPBL Ambon telah terakreditasi oleh KAN dan memenuhi standar teknis sebagai laboratorium penguji. Cakupan ruang lingkup pengujian meliputi pengujian parasit, mikrobiologi, virus, kualitas air, histologi, pengujian logam berat dan analisa residu antibiotik.
Gambar 10. Kegiatan pelayanan penerimaan sampel di Lab Keskanling Pencapaian IKU ini didasarkan pada kegiatan :
Uji banding Laboratorium senilai Rp. 10.000.000,- Kalibrasi alat Laboratorium uji senilai Rp. 10.000.000,-
Tabel 16. Capaian IKU “Jumlah pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan (sampel) Triwulan II tahun 2017”.
Jumlah pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan (sampel)
Keterangan
IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif,
dihitung di triwulanan.
- Target Tahunan 990 920
- Target Triwulan II 195 231
- Realisasi Triwulan II 704 442
- Persentase capaian tahunan (%) 71.1 48,04
SASARAN STRATEGIS 5: TERWUJUDNYA APARATUR SIPIL NEGARA BPBL AMBON YANG KOMPETEN, PROFESIONAL DAN BERINTEGRITAS
IKU 16 : Indeks kompetensi dan integritas (persen)
Dalam rangka mendukung tercapainya tujuan pembangunan perikanan budidaya, salah satu pendorong utamanya adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan professional. Di samping itu, SDM juga merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi, yaitu bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas, kompeten, serta memiliki daya saing tinggi dalam era globalisasi. Oleh sebab itu, salah satu sasaran strategis yang ditetapkan oleh Ditjen Perikanan Budidaya adalah tersedianya SDM Ditjen Perikanan Budidaya yang kompeten dan profesional.
SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi adalah SDM yang memiliki sikap (attitude) dan kapasitas (skill) yang memadai dalam meningkatkan kinerja organisasi. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan SDM yang memiliki komitmen yang tercermin pada integritasnya. Pengangkatan seorang pegawai di dalam jabatan struktural diharapkan sesuai dengan kompetensinya sehingga prinsip the right man and the right place dapat terpenuhi.
Hal ini dapat dicapai apabila pengangkatan dalam jabatan struktural berpedoman pada Standar Kompetensi Manajerial (SKM), dimana SKM menggambarkan jenis dan level kompetensi yang diperlukan bagi suatu jabatan, sehingga pelaksanaan tugas suatu jabatan dapat dilaksanakan dengan baik. Sementara itu indeks kompetensi dan integritas merupakan angka yang menunjukkan agregasi dari indeks kompetensi (membandingkan kompetensi hasil rekomendasi penilaian kompetensi/assessment dari asesor dengan jenis standar kompetensi yang dipersyaratkan sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 3A/KEPMEN-SJ/2014), persentase capaian output SKP, persentase tingkat kehadiran dan kepatuhan pejabat terhadap LHKPN/LHKASN.
Tabel 17. Capaian IKU “Indeks kompetensi dan integritas (persen) Triwulan II tahun 2017”.
IKU 2017 IKU 2016 Ket
Indeks kompetensi dan integritas (persen) Nilai Adopsi
- Target Tahunan 80
- Realisasi Triwulan II 0
- Persentase capaian
tahunan (%)
0
SASARAN STRATEGIS 6: TERSEDIANYA MANAJEMEN PENGETAHUAN BPBL AMBON YANG HANDAL DAN MUDAH DIAKSES
IKU 17 : Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan terstandar (persen)
Manajemen pengetahuan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang digunakan Ditjen Perikanan Budidaya untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui dan dipelajari baik oleh masyarakat maupun unit kerja lingkup Ditjen Perikanan Budidaya dalam menetapkan kebijakan untuk mencapai visi dan misi Ditjen Perikanan Budidaya. Konsep manajemen pengetahuan ini meliputi pengelolaan sumber daya manusia dan teknologi informasi.
BPBL Ambon telah memiliki sistem informasi dalam bentuk website dan media sosial lainnya seperti facebook dan twitter untuk penyampaian informasi diseminasi publik. Kendala dalam sistem informasi publik ini adalah keterbatasan jaringan internet serta pemutakhiran data-data kegiatan untuk dipublikasikan ke masyarakat.
Tabel 18. Sistem informasi di BPBL Ambon No Jenis Sistem
Informasi URL Jenis Ket
1 Website http://bpblambon-kkp.org Diseminasi
publiK Laman UPT BPBL Ambon 2 Facebook https://www.facebook.com/humas.b pbla?hc_ref=NEWSFEED Diseminasi publiK Media informasi
3 Twitter @bpbl_ambon Diseminasi
publiK
Media informasi
Gambar 11. Media Sosial Twitter
Gambar 12. Media Publikasi Website