• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Ambon, 26 Mei 2020 Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Nur Muflich Juniyanto, S.Pi, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Ambon, 26 Mei 2020 Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Nur Muflich Juniyanto, S.Pi, M.Si"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta kerjasama dari semua pihak yang terkait lingkup Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, sehingga Laporan Kinerja TW I 2020 Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon ini dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya.

Laporan kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon ini merupakan perwujudan pertanggungjawaban atas kinerja kegiatan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Tahun 2019 yang tertuang dalam pelaksanaan program kerja sebagai upaya pencapaian visi dan misi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Laporan ini mencakup uraian pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan kegiatan lainnya yang mendukung tugas pokok dan fungsi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon melalui program kerja yang telah dilaksanakan pada Triwulan I tahun 2020 oleh setiap seksi dan divisi yang ada di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon.

Laporan kinerja ini diharapkan mampu memberikan informasi secara transparan kepada seluruh pihak yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon sehingga dapat memberikan umpan balik guna peningkatan kinerja pada periode berikutnya. Laporan kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dapat dijadikan sebagai sarana evaluasi atas pencapaian kinerja sehingga dapat menjadi pemicu peningkatan kinerja organisasi dengan melakukan langkah-langkah perbaikan melalui pelayanan yang lebih profesional dan transparan yang berguna bagi masyarakat.

Ambon, 26 Mei 2020

Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR TABEL ... v I. RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1 PENDAHULUAN... 3 1.1. Latar Belakang ... 3

1.2. Maksud dan Tujuan ... 4

1.3. Tugas dan Fungsi ... 4

1.4. Sumberdaya Manusia ... 7

1.5. Permasalahan Utama ... 8

1.6. Sistematika Penyajian Laporan ... 9

II. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA ... 10

2.1 Visi Misi Pembangunan KKP ... 10

2.2 Visi Misi Pembangunan Perikanan Budidaya ... 11

2.3 Sasaran Strategis BPBL Ambon ... 12

2.4 Penetapan Kinerja ... 14

2.5 Pengukuran Kinerja ... 18

III. AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN ... 19

3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama ... 19

3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja ... 21

1. Sasaran Strategis 1, Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Dan Perikanan lingkup BPBL Ambon yang mandiri dan Berkelanjutan . 21

2. Sasaran Strategis 2, Terselenggaranya tata kelola Sumberdaya Kelautan Perikanan lingkup BPBL Ambon yang berkelanjutan ... 32

3. Sasaran Strategis 3, Terwujudnya Aparatur Sipil Negara BPBL Ambon yang Kompeten Profesional, dan Berintegritas ... 38

4. Sasaran strategis 4, Tersedianya Manajemen Pengetahuan BPBL Ambon yang Handal dan Mudah Diakses ... 41

5. Sasaran Strategis 5, Terwujudnya Birokrasi BPBL yang Efektif, Efisien dan Berorientasi Pada Layanan Prima ... 43

6. Sasaran Strategis 6, Terkelolanya Anggaran Pembangunan Secara Efisien dan Akuntabel ... 47

IV. PENUTUP ... 53

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Organisasi BPBL Ambon thn 2019 ... 5

Gambar 2. Komposisi Pegawai BPBL Ambon ... 7

Gambar 3. Pendidikan Pegawai PNS BPBL Ambon ... 7

Gambar 4. Pendidikan Pegawai Kontrak BPBL Ambon ... 8

Gambar 5. Peta Strategis ... 12

Gambar 6. Parasit Cryptocaryon irrintans ... 25

Gambar 7. Kegiatan Penyaluran Bantuan Benih ... 26

Gambar 8. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Pokdakan RL ... 28

Gambar 9. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Pokdakan KBRL... 30

Gambar 10. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Pokdakan Ikan Hias ... 32

Gambar 11. Induk Ikan Konsumsi dan Ikan Hias ... 33

Gambar 12. Kegiatan Pembinaan pembudidaya di wilayah kerja ... 34

Gambar 13. Diagram HPI ... 35

Gambar 14. Pemeriksaan sampel HPI ... 36

Gambar 15. Kriteria Penilaian Indeks Profesionalitas ASN ... 40

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Sasaran strategis dan IKU BPBL Ambon Tahun 2020 ... 12

Tabel 2. Capaian Indikator Kinerja Utama TW I BPBL Ambon Tahun 2020 ... 19

Tabel 3. Capaian IKU “Nilai PNBP BPBL Ambon TW I Tahun 2020” ... 21

Tabel 4. Capaian IKU “Jumlah Tenaga Teknis Binaan BPBL Ambon TW I Tahun 2020” ... 23

Tabel 5. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Benih BPBL Ambon TW I Tahun 2020” ... 23

Tabel 6. Rincian Bantuan Benih ... 24

Tabel 7. Rincian data pembudidaya RL di Maluku ... 27

Tabel 8. Rincian data pembudidaya RL di Maluku Utara ... 27

Tabel 9. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Bibit rumput Laut BPBL Ambon TW I Tahun 2020” 28

Tabel 10. Rincian Bahan bantuan KBRL ... 29

Tabel 11. Capaian IKU “Bantuan Sarana Prasarana Kebun Bibit RL Kuljar BPBL Ambon TW I Tahun 2020” ... 30

Tabel 12. Rincian Bantuan ikan hias laut ... 31

Tabel 13. Capaian IKU “Bantuan Sarana Prasarana Produksi Ikan Hias Laut BPBL Ambon TW I Tahun 2020” ... 31

Tabel 14. Rincian data pembudidaya IH di Maluku ... 31

Tabel 15. Capaian IKU “Jumlah Produksi Calin TW I Tahun 2020” ... 32

Tabel 16. Rincian Produksi Calin Unggul ... 33

Tabel 17. Capaian IKU “Jumlah Sampel yang diuji dalam rangka Pelayanan Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Tahun 2020” ... 35

Tabel 18. Rincian Jumlah sampel uji ... 36

Tabel 19. Capaian IKU “Peningkatan kapasitas sarana produksi ikan hias dan rumput laut Tahun 2020” ... 37

Tabel 20. Capaian IKU “Jumlah Paket Perekayasaan Teknologi Terapan Bidang Perikanan Budidaya Laut 2020” ... 38

Tabel 22. Capaian IKU “Indeks Profesionalitas ASN BPBL Ambon” ... 39

Tabel 23. Sistem Informasi Publik di BPBL Ambon ... 42

Tabel 24. Capaian IKU “Persentase Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang terstandar Tahun 2020” ... 43

Tabel 25. Capaian IKU “Terselenggaranya pengelolaan kinerja sesuai standar akuntabilitas kinerja” ... 44

Tabel 26. Capaian IKU “Terwujudnya zona integritas berpredikat menuju WBK” ... 45

(6)

Tabel 28. Capaian IKU “Nilai Kinerja Pelaksanaan Anggaran BPBL Ambon TW I 2020” ... 48

Tabel 29. Pagu dan Realisasi Anggaran BPBL Ambon TW I 2020 dan 2019 ... 48

Tabel 30. Pagu dan Realisasi Anggaran BPBL Ambon per Jenis Belanja 2020 ... 49

(7)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon (BPBL Ambon) sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam menjalankan tugas dan fungsinya melaksanakan penerapan teknik perbenihan dan pembudidayaan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya induk/benih ikan dan lingkungan perairan disekitarnya. Lingkup wilayah kerja BPBL Ambon meliputi wilayah Maluku, Sulawesi, Papua dan Papua Barat. Cakupan wilayah kerja yang cukup luas yakni mencakup indonesia bagian timur, secara langsung berdampak pada besarnya tanggung jawab yang diemban dengan tugas pokok dalam hal budidaya laut dimana BPBL Ambon dituntut mampu memecahkan berbagai permasalahan dan tantangan di bidang perikanan budidaya laut guna memenuhi kebutuhan masyarakat serta memajukan kegiatan budidaya laut di wilayah kerja melalui peningkatan kinerja dan kebijakan program yang telah ditentukan.

Laporan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Triwulan I tahun 2020 ini merupakan bagian dari informasi pengukuran kinerja dalam melaksanakan Rencana Strategis BPBL Ambon. Laporan Kinerja adalah dokumen evaluasi untuk mendapatkan umpan balik peningkatan kinerja terhadap pelaksanaan berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh BPBL Ambon dengan berorientasi kepada hasil yang ingin dicapai melalui Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis.

Pada tahun 2020, BPBL Ambon menetapkan 6 sasaran strategis dan 16 indikator kinerja utama. Masing-masing sasaran strategis dan indikator kinerja tersebut didukung oleh kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi balai. Proses pencapaian Indikator kinerja utama pada Triwulan I berjalan dengan baik, dimana beberapa IKU utama telah dicapai dan dilaksanakan sesuai target yang telah ditetapkan.

Dari 16 IKU yang telah ditetapkan sebelumnya, 6 IKU telah mencapai target terhadap target triwulan yang telah ditetapkan, dan 10 IKU belum memenuhi target yang ditetapkan. Berikut adalah penjabaran persentase capaian IKU pada triwulan I tahun 2020 :

1. IKU Nilai PNBP lingkup BPBL Ambon tercapai 136.574.003,- target triwulan I senilai Rp. 125.000.000 atau sebesar 109,17% dan target tahunan sebesar Rp. 934.250.000 atau sebesar 14,61%

2. IKU Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon tercapai 834 orang target triwulan I sebanyak 187 orang atau 445,98% dan target tahunan sebanyak 750 orang atau 111,2%

(8)

3. IKU Jumlah Produksi Calon Induk lingkup BPBL Ambon tercapai 1200 ekor target triwulan I sebanyak 900 ekor atau 133,33% dan target tahunan 3.400 Ekor atau 35,29% 4. IKU Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut Lingkup BPBL Ambon tercapai 431.000 Ekor target

triwulann I sebanyak 415.000 ekor atau 103,85% dan target tahunan 1.495.000 Ekor atau 28,83%

5. IKU Jumlah sampel yang diuji dalam rangka pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan lingkup BPBL Ambon tercapai 592 sampel, target triwulan I sebanyak 553 sampel atau 107,05% dan target tahunan 1.950 sampel atau 30,36%

6. IKU Jumlah Bantuan sarana dan prasarana kebun bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon sebanyak 20 paket belum terealisasi.

7. IKU Jumlah Bantuan bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon sebanyak 40.000 Kg belum terealisasi.

8. IKU Jumlah Bantuan sarana dan prasarana produksi ikan hias laut lingkup BPBL Ambon sebanyak 15 paket belum terealisasi.

9. IKU Jumlah paket Perekayasaan Teknologi Terapan Bidang Budidaya Laut lingkup BPBL Ambon sebanyak 1 paket belum terealisasi.

10. IKU Peningkatan kapasitas sarana prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut lingkup BPBL Ambon sebanyak 35% belum terealisasi.

11. IKU IKU Indeks Profesionalitas ASN lingkup BPBL Ambon belum terealisasi (nilai adopsi pusat) target tahunan sebesar 72

12. IKU Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar target tahunan 82%

13. IKU Terselenggaranya pengelolaan kinerja lingkup BPBL Ambon sesuai standar akuntabilitas kinerja sebesar 100%

14. IKU Unit Kerja lingkup BPBL Ambon berpredikat menuju WBK telah tercapai dan memperoleh predikat WBK pada tahun 2017. Pada triwulan ini progress kegiatan pada pemenuhan kebutuhan kelengkapan administrasi penunjang, dan target nilai 76 akan direalisasikan pada triwulan IV

15. IKU Persentase jumlah rekomendasi hasil pengawasan lingkup BPBL Ambon yang dokumen tindak lanjutnya telah tuntas target tahunan 60% pada triwulan I telah tuntas 100% yaitu semua rekomendasi telah tuntas dokumen tindak lanjutnya.

(9)

1.1. Latar Belakang

Penetapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV Tahun 2015 –2019 melalui Perpres No. 2 Tahun 2015, telah mengamanatkan agar melakukan pembangunan berbagai bidang secara berkelanjutan. Fokus RPJMN 2015 – 2019, yaitu memantapkan pembangunan keunggulan kompetitif berbasis SDA, SDM Berkualitas, dan Kemampuan IPTEK sehingga diharapkan dapat terwujud : (i) ketahanan ekosistem (resilient ecosystem); (ii) ketahanan dan kedaulatan perikanan; (iii) daya saing ekonomi melalui pengembangan Inovasi dan IPTEK; dan (iv) kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan arahan RPJMN tersebut, selama kurun waktu tahun 2015-2019, fokus kebijakan pembangunan perikanan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya adalah sebagai berikut : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Meningkatkan kelestararian dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya. Arah kebijakan perikanan budidaya tersebut dengan potensi dan keunggulan karakteristik yang ada, diyakini mampu memberi kontribusi pada 9 (sembilan) agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), serta memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing dan berkelanjutan. Adapun strategi yang ditempuh untuk mewujudkan arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Pelestarian dan keberlanjutan sumberdaya perikanan budidaya.

Dengan ditetapkannya arah kebijakan dan strategi pembangunan perikanan budidaya, maka sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya berdasarkan tujuan yang akan dicapai telah dijabarkan dalam empat perspektif dengan masing-masing IKU seperti yang tercantum pada Renstra dan Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mengatasi tantangan global dan permasalahan yang menuntut perubahan paradigma dan desain percepatan pembangunan perikanan budidaya.

(10)

Berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Perpres No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), dan Permen PAN dan RB No. 53 Tahun 2014 setiap kementerian berkewajiban menyusun Laporan Kinerja (LKj) sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan

1.2. Maksud dan Tujuan

Adapun Maksud dan tujuan penyusunan laporan kinerja antara lain :

1. sebagai sarana pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon kepada seluruh stakeholders;

2. sebagai sarana evaluasi atas pencapaian kinerja Balai Perikanan Budididaya Laut Ambon pada triwulan pertama tahun 2020 dalam upaya perbaikan kinerja pada tahun sebelumnya; dan sebagai bahan inputan dalam penyempurnaan dokumen perencanaan, pelaksanaan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan.

1.3. Tugas dan Fungsi

Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan uji terap teknik dan kerjasama, produksi, pengujian laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor : 6/PERMEN-KP/2014 yang diuraikan lebih rinci dalam fungsi sebagai berikut :

1. Penyusunan rencana kegiatan teknis dan anggaran, pemantauan dan evaluasi serta laporan;

2. Pelaksanaan uji terap teknik perikanan budidaya laut;

3. Pelaksanaan penyiapan bahan standarisasi perikanan budidaya laut; 4. Pelaksanaan sertifikasi system perikanan budidaya laut;

5. Pelaksanaan kerjasama teknis budidaya laut;

6. Pengelolaan dan pelayanan system informasi dan publikasi perikanan budidaya laut; 7. Pelaksanaan layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan teknis perikanan

budidaya laut;

8. Pelaksanaan pengujian kesehatan ikan dan lingkungan budidaya laut;

9. Pelaksanaan produksi induk unggul, benih bermutu dan sarana produksi perikanan budidaya laut;

(11)

11. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/PERMEN-KP/2014, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon telah menjadi Eselon IIIa dengan struktur organisasi terdiri atas:

1. Kepala Balai

2. Subbagian Tata Usaha

3. Seksi Uji Terap Teknik dan Kerja Sama 4. Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis 5. Kelompok Jabatan Fungsional.

Susunan organisasi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, tersaji pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. Struktur Organisasi BPBL Ambon Th. 2020

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13/MEN-SJ/KP.430/XII/2019 Tanggal 18 Desember 2019 Tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan Administrator Setara Eselon III lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada surat keputusan tersebut terdapat penggantian Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dari pejabat sebelumnya Tinggal Hermawan, S.Pi, M.Si kepada Pejabat baru, Nur Muflich Juniyanto, S.Pi, M.Si. Dalam menjalankan tugasnya, Balai Perikanan

Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon

(Nur Muflich Juniyanto, S.Pi, M.Si)

Kepala Seksi Uji Terap Teknik dan Kerjasama (Robianta Nurhadi, S.St.Pi)

Kepala Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis (Ir. Doortje A Horhoruw, M.Si

Kepala sub Bagian Tata Usaha

(Lutfi Hardian Murtiono, S.Pi, M.Si)

Kelompok Jabatan Fungsional

(12)

Budidaya Laut Ambon dipimpin oleh seorang Kepala dan dibantu oleh Kepala sub bagian, Kepala seksi, kelompok jabatan fungsional dan seluruh pegawai yang berjumlah 55 orang dengan kompetensi yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu mewujudkan tercapainya visi dan misi BPBL Ambon.

Adapun tugas masing-masing bagian dalam struktur organisasi BPBL Ambon adalah sebagai berikut:

1. Subbagian Tata Usaha

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pelaporan keuangan, kegiatan teknis, anggaran, pengelolaan kepegawaian, tata laksana, barang milik negara, rumah tangga dan ketatausahaan.

2. Seksi Uji Terap Teknik dan Kerja Sama

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan uji terap teknik, standardisasi, sertifikasi, kerja sama teknis, pengelolaan dan pelayanan sistem informasi, serta publikasi perikanan budidaya laut.

3. Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan teknis, kesehatan ikan dan lingkungan, produksi induk unggul, benih bermutu, dan sarana produksi, serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut.

4. Kelompok Jabatan Fungsional

Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kerekayasaan, pengujian, pendampingan, penerapan standar/sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan ikan air laut, pengendalian hama dan penyakit ikan, pengawasan benih/budidaya serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari : Perekayasa, Teknisi Litkayasa, Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan, Pengendali Hama Penyakit Ikan, Statistisi, Arsiparis dan Pranata Humas. Pegawai Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon pada tahun anggaran 2019 terdiri dari 55 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Selain 4 bagian utama yang telah diuraikan sebelumnya, berdasarkan SK Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon No. 09/BPBLA/OT.210/I/2020 tentang Struktur Organisasi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon 2019 terdiri dari 4 divisi yakni :

(13)

1. Divisi Produksi Benih Ikan Konsumsi

2. Divisi Produksi Calon Induk dan Rumput Laut 3. Divisi Produksi Benih Ikan Hias Laut

4. Divisi Pengelolaan Laboratorium

1.4. Sumberdaya Manusia

Jumlah Pegawai BPBL Ambon pada tahun 2019 terdiri dari 55 orang PNS dan 37 Tenaga Kontrak dengan komposisi sebagai berikut :

Grafik 2. Komposisi Pegawai Lingkup BPBL Ambon 2020

Grafik 3. Pendidikan Pegawai (PNS) Lingkup BPBL Ambon 2020 2 4 6 8 10 12 10 5 4 11 6 8 8 11 1 1 11 11 2 2

Data Pegawai BPBL Ambon 2020

PNS Kontrak SD 6% SMP 0% SMA 33% D3 7% D4/S1 27% S2 27%

(14)

Grafik 4. Pendidikan Pegawai (Kontrak) Lingkup BPBL Ambon 2020

1.5. Permasalahan Utama

Secara umum, permasalahan/kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi perikanan budidaya adalah :

1. Penyediaan dan distribusi induk unggul dan benih berkualitas masih terbatas; 2. Efisiensi pakan masih rendah;

3. Biaya produksi yang masih tinggi;

4. Penurunan kualitas lingkungan perairan sebagai akibat sedimentasi di perairan Teluk Ambon Dalam;

5. Ancaman infeksi penyakit;

6. Belum terverifikasinya induk dan benih yang SPF maupun SPR;

7. Belum terpenuhinya kebutuhan pakan alami seperti rotifer untuk menunjang kebutuhan pakan awal benih ikan budidaya;

8. Keterbatasan sarana dan prasarana perikanan budidaya, terutama terkait dengan kondisi saluran air, system filtrasi media budidaya, dan lainnya;

9. Implementasi konsep biosecurity yang belum memadai sehingga intensitas infeksi penyakit pada ikan budidaya masih terus terjadi;

10. Pemahaman informasi sumber daya manusia pelaku usaha perikanan budidaya yang masih kurang sehingga agak sulit untuk dilakukan perubahan; dan

11. sistem pendataan dan pelaporan yang belum optimal sehingga berakibat terjadinya keterlambatan penyampaian data dukung.

SD 3% SMP 3% SMA 70% D3 3% D4/S1 21%

DATA PENDIDIKAN TENAGA KONTRAK

BPBL AMBON

SD SMP SMA D3 D4/S1

(15)

1.6. Sistematika Penyajian Laporan

Penyusunan Laporan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Triwulan I mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Adapun sistematika penyajian laporan adalah sebagai berikut:

Ringkasan Eksekutif, pada bagian ini disajikan ringkasan mengenai tujuan, sasaran,

capaian kinerja, permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian kinerja dan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, serta antisipasi untuk menanggulangi permasalahan yang mungkin terjadi pada tahun mendatang.

Bab I Pendahuluan, pada bab ini disajikan hal-hal umum tentang Balai Perikanan

Budidaya Laut Ambon serta uraian singkat tentang tugas pokok dan fungsi dari Balai Perikanan Perikanan Budidaya Laut Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya, termasuk latar belakang, maksud dan tujuan penulisan Laporan kinerja.

Bab II Perencanaan dan Penetapan Kinerja, pada bab ini disajikan rencana strategis,

visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan dan program Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon pada tahun 2010-2015. Rencana kinerja tahun 2015 dan indikator keberhasilan pencapaian penetapan kinerja berupa target program prioritas.

Bab III Akuntabilitas Kinerja dan Akuntabilitas Keuangan, pada bab ini disajikan

hasil pengukuran kinerja yang diperjanjikan dalam Penetapan Kinerja (PK), evaluasi dan analisis capaian kinerja termasuk didalamnya keberhasilan dan kegagalan pencapaian target serta hambatan/kendala yang dihadapi dan langkah antisipatif yang akan diambil untuk perbaikan di tahun sebelumnya. Serta akuntabilitas keuangan yang mencakup alokasi dan realisasi anggaran termasuk pula penjelasan tentang kinerja anggaran.

Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan tinjauan secara umum tentang keberhasilan,

kegagalan, permasalahan dan kendala serta upaya tindak lanjut untuk perbaikan tahun mendatang.

Lampiran, pada bab ini berisi data dukung yang diperlukan dalam

(16)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV Tahun 2015 – 2019, telah mengamanatkan untuk terus melakukan pembangunan perikanan budidaya secara berkelanjutan, karena diyakini dengan potensi dan kekuatan yang ada, perikanan budidaya mampu memberi kontribusi pada 9 (sembilan) agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), dan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya. Penjabaran pelaksanaan pembangunan perikanan budidaya, lebih lanjut dituangkan dalam buku Rencana Strategi (RENSTRA) Perikanan Budidaya 2015 - 2019.

Kebijakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2015 – 2019 adalah mengembangkan program dan kegiatan untuk tercapainya sasaran strategis perikanan budidaya. Arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya tahun 2015-2019 adalah : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Meningkatkan kelestarian dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya.

Oleh karena itu, guna mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih terarah, terukur, konsisten dan akuntabel diperlukan visi dan misi yang dapat menggambarkan harapan dan kenyataan yang akan diperoleh melalui kebijakan dan program serta kegiatannya, maka Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon menetapkan visi, misi dan tujuan pengembangan perikanan budidaya sebagai berikut :

2.1. Visi Misi Pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2015 – 2019 adalah :

“Mewujudkan sector kelautan dan perikanan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasis kepentingan nasional”. Sedangkan misi yang akan dilaksanakan KKP guna mewujudkan visi

tersebut adalah :

1. Kedaulatan (sovereignty), yakni mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berdaulat guna menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan

(17)

sumberdaya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Keberlanjutan (Sustainability) yakni mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

3. Kesejahteraan (Prosperity) yakni mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri, serta berkepribadian dalam kebudayaan.

2.2. Visi Misi Pembangunan Perikanan Budidaya

Visi pembangunan perikanan budidaya adalah “Mewujudkan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, berbasiskan kepentingan nasional”. Sementara misi pembangunan budidaya dalam mewujudkan visinya adalah :

1. Mewujudkan kemandirian perikanan pembudidaya melalui pemanfaatan sumberdaya berbasis pemberdayaan masyarakat.

2. Mewujudkan produk perikanan budidaya berdaya saing melalui peningkatan teknologi inovatif.

Memanfaatkan sumberdaya perikanan budidaya secara berkelanjutan rumusan rencana strategis ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi BPBL Ambon. Penetapan tujuan adalah hal yang penting sebagai dasar penentuan arah strategis dan perubahan serta perbaikan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang, yaitu mewujudkan visi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan BPBL Ambon adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan, khususnya di wilayah kerja BPBL Ambon, mencakup kegiatan produksi calon induk, benih dan rumput laut kultur jaringan unggul.

2. Tersedianya paket teknologi budidaya laut yang mampu diterapkan oleh masyarakat pembudidaya;

3. Terselenggaranya kegiatan pengendalian hama dan penyakit ikan dalam menunjang pengembangan kawasan budidaya laut yang menerapkan system usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan.

(18)

Gambar 5. Peta Strategis BPBL Ambon

2.3. Sasaran Strategis dan IKU BPBL Ambon

Mengacu pada sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya 2015 – 2019 sebagai penjabaran visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan ditetapkan melalui tahapan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan arah kebijakan yang terbagi menjadi empat perspektif dalam bentuk peta sasaran strategis BPBL Ambon.

Tabel 1. Sasaran strategis dan IKU BPBL Ambon

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA

 Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

 Nilai PNBP Lingkup BPBL Ambon

 Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon

 Jumlah bantuan benih ikan laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Ekor)

 Jumlah bantuan bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Kg)

 Jumlah bantuan sarana prasarana kebun bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket)

(19)

 Jumlah Bantuan sarana prasarana produksi ikan hias laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket)

 Terselenggaranya Tata Kelola Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Berkelanjutan

 Jumlah produksi calon induk ikan yang dihasilkan BPBL Ambon sesuai standar (Ekor)  Terselenggaranya pelayanan Laboratorium

Kesehatan Ikan dan Lingkungan lingkup BPBL Ambon yang sesuai standar (Sampel)

 Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon (%)

 Jumlah Paket Teknologi Perekayasaan Bidang Budidaya Laut lingkup BPBL Ambon (Paket)  Terwujudnya aparatur sipil

negara (ASN) BPBL Ambon yang kompeten, professional dan berintegritas

 Indeks Profesionalitas ASN lingkup BPBL Ambon

 Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses.

 Persentase unit kerja yang menerapkan system manajemen pengetahuan yang terstandar (%)

 Terwujudnya birokrasi BPBL Ambon yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

 Terselenggaranya pengelolaan kinerja lingkup BPBL Ambon sesuai dengan standar akuntabilitas kinerja (%)

 Terwujudnya Zona Integritas berpredikat menuju WBK lingkup BPBL Ambon (Nilai)  Persentase jumlah rekomendasi hasil

pengawasan lingkup BPBL Ambon yang dokumen tindak lanjutnya telah tuntas (%)  Terkelolanya anggaran

pembangunan BPBL Ambon secara efisien dan akuntabel

 Nilai kinerja pelaksanaan anggaran lingkup BPBL Ambon (%)

(20)

2.4. Penetapan Kinerja (PK)

Perjanjian Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu, dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelola. Tujuan khusus perjanjian kinerja adalah untuk:

 Meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan pemberi amanah;

 Sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi;

 Menciptakan tolak ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja. Penetapan kinerja pada tahun 2020 masih dalam tahap proses penyesuaian sehingga sampai akhir triwulan I, penetapan kinerja yang digunakan masih bersifat draft. Penetapan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon tahun 2020, secara rinci sabagai berikut:

(21)
(22)
(23)
(24)

2.5. Pengukuran Kinerja

Dalam rangka mengukur capaian indikator kinerja tahun 2020, BPBL Ambon menerapkan pengelolaan kinerja berbasis Balanced Scorecard (BSC). Pengukuran capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

1. Data yang dimasukkan sebagai pencapaian kinerja merupakan data yang telah diverifikasi oleh tim Strategic Management Office (Tim Pengelola Kinerja BPBL Ambon) sebagai data mutakhir yang diambil dari sumber data yang tepat;

2. Status capaian IKU yang ditunjukkan dengan warna merah/kuning/hijau, ditentukan oleh Indeks Capaian IKU.

3. Angka maksimum indeks capaian setiap IKU ditetapkan sebesar 120%.

Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase pencapaian target indikator kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:

1. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Maximize.

Indeks Capaian = realisasi

target x 100%

IKU yang memiliki polarisasi stabilize, merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja diharapkan berada dalam suatu rentangtarget tertentu.Apabila hasil perhitungan nilai capaian IKU melampaui target, akan menghasilkan nilai maksimal 110%. Karena IKU stabilize mengharapkan capaian dalam rentang tertentu di sekitar target, maka capaian yang dianggap paling baik adalah capaian yang tepat sesuai dengan target.

(25)

3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

Pengukuran capaian IKU, bab ini menguraikan tentang indikator kinerja kegiatan, penjelasan tentang capaiannya, kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja kegiatan dan permasalahan yang dihadapi serta upaya penyelesaiannya termasuk langkah antisipasi yang dilakukan pada tahun berjalan.

Tabel 2. Capaian Indikator Kinerja Utama TW I Tahun 2020 No. Sasaran Strategis Indikator

Kinerja (IKU) Target Tahunan Target TW I Realisasi s.d TW I % Realisasi Capaian IKU (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1. Terwujudnya pengelolaan SDKP lingkup BPBL Ambon yang mandiri dan Bertanggungjawab 1. Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) 934.250.000 125.000.000 136.574.003 14,61 2. Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon (Orang) 750 187 834 111,2 3. Jumlah bantuan benih ikan laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Ekor)

1.4950.000 415.000 431.000 28,83

4. Jumlah bantuan bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Kg) 40.000 0 0 0 5. Jumlah bantuan sarana prasarana kebun bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket) 20 0 0 0 6. Jumlah Bantuan sarana prasarana produksi ikan hias laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket) 15 0 0 0 2. Terselenggaranya Tata Kelola Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Berkelanjutan 7. Jumlah produksi calon induk ikan yang dihasilkan BPBL Ambon sesuai standar (Ekor) 3.400 900 1200 35,29 8. Terselenggaranya pelayanan Laboratorium Kesehatan Ikan 1.950 553 592 30,36

(26)

lingkup BPBL Ambon yang sesuai standar (Sampel) 9. Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon (%) 35 0 0 0 10. Jumlah Paket Teknologi Perekayasaan Bidang Budidaya Laut lingkup BPBL Ambon (Paket) 1 0 0 0 3. Terwujudnya ASN BPBL Ambon yang kompeten, profesional dan berintegritas 11. Indeks Profesionalitas ASN lingkup BPBL Ambon 72 0 0 0 4. Tersedianya manajemen pengetahuan BPBL Ambon yang handal dan mudah diakses

12. Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan terstandar (%) 82 0 0 0 5. Terwujudnya Birokrasi BPBL Ambon yang Efektif, Efisien dan Berorientasi pada Layanan Prima 13. Terselenggaranya pengelolaan kinerja lingkup BPBL Ambon sesuai dengan standar akuntabilitas kinerja (%) 85 0 0 0 14. Terwujudnya Zona Integritas berpredikat menuju WBK lingkup BPBL Ambon (Nilai) 76 0 0 0 15. Persentase jumlah rekomendasi hasil pengawasan lingkup BPBL Ambon yang dokumen tindak lanjutnya telah tuntas (%) 60 0 0 0 6. Terkelolanya anggaran pembangunan BPBL Ambon secara efisien dan akuntabel

16. Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon (%)

(27)

3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja

Bagian berikut menguraikan tentang evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan dan analisis capaian kinerja dari sasaran strategis.

SASARAN STRATEGIS 1 : TERWUJUDNYA PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN

DAN PERIKANAN LINGKUP BPBL AMBON YANG MANDIRI DAN

BERTANGGUNGJAWAB

IKU 1 : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp)

PNBP merupakan lingkup keuangan negara yang dikelola dan dipertanggungjawabkan. Kelompok penerimaan negara bukan pajak meliputi :

 Penerimaaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah  Penerimaan dari pemanfaatan sumberdaya alam

 Penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan;  Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah;

 Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi;

 Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah;  Penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang tersendiri. Tabel 3. Capaian IKU “Nilai PNBP BPBL Ambon s.d Triwulan I Tahun 2020”.

Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

Nama Indikator : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

125.000.000 136.574.003 109,25 49.440.604 276,03 934.250.000 14,61 Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BPBL Ambon Tahun 2020 adalah sebesar Rp 934.250.000. Target PNBP s.d Triwulan I tahun 2020 adalah sebesar Rp 125.000.000 dan terealisasi sebesar Rp. 136.574.003 atau sebesar 14,61% terhadap target tahun 2020. Capaian PNBP tersebut diperoleh dari penjualan hasil perikanan, pendapatan jasa lainnya dengan rincian sebagai berikut :

1. Penjualan Hasil Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Budidaya Rp. 126.878.000,- 2. Pendapatan Penggunaan Sarana dan Prasarana sesuai TUSI Rp. 0,-

3. Pendapatan Pengujian Sertifikasi, Kalibrasi dan Standarisasi lainnya Rp. 2.594.000,- 4. Sewa Rumah Dinas Rp. 6.177.003,-

(28)

5. Pendapatan Non Anggaran, Penerimaan Kembali Belanja Pegawai Tahun Anggaran yang lalu Rp. 925.000,-

Kendala yang sering ditemui dalam proses pencapaian target PNBP adalah menurunnya daya serap pasar terhadap beberapa komoditas budidaya, baik itu benih maupun ikan konsumsi, kurangnya kesadaran masyarakat pembudidaya di wilayah kerja dalam melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel ikan maupun kualitas air yang terindikasi HPI, dalam segi pendapatan non SDA Umum menurunnya jumlah stakeholder yang memakai fasilitas asrama/sewa juga turut menyebabkan menurunnya nilai PNBP yang dihasilkan. Rekomendasi yang dilakukan antara lain melakukan pengawasan dan koordinasi secara periodik terhadap target capaian yang harus terealisasi khususnya bidang produksi.

IKU 2 : Jumlah Tenaga Teknis Binaan Lingkup BPBL Ambon

Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak, lintas pelaku, atau

pihak-pihak yang terkait dengan suatu issu atau suatu rencana.

Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan program.

Didalam Kepmen KP No. 14 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan, disebutkan bahwa Kelembagaan pelaku utama perikanan adalah kumpulan para pelaku utama yang terdiri dari nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan yang terikat secara informal atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta di dalam lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang ketua kelompok pelaku utama kelautan dan perikanan.

Secara umum kelembagaan pelaku utama perikanan memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut :

 Kelompok Perikanan

- Memiliki jumlah anggota kelompok 10 – 25 orang;

- Pelaku utama yang berada di dalam lingkungan pengaruh seorang ketua kelompok;

- Memiliki tujuan, minat dan kepentingan yang sama terutama dam bidang usaha perikanan;

- Memiliki kesamaan tradisi/kebiasaan, domisili lokasi usaha, status ekonomi dan Bahasa;

(29)

- Mandiri dan Pertisipatif;

- Memiliki aturan atau norma yang disepakati bersama; dan - Memiliki administrasi yang rapih.

Magang bagi siswa siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) merupakan program belajar guna memberikan pemahaman dan pengalaman bagi peserta didik untuk mengenal dunia kerja. Manfaat dari kegiatan magang ini antara lain :

 Siswa mampu beradaftasi dengan dunia kerja;  Siswa ditempa dengan mental yang kuat;

 Siswa mampu meningkatkan interaksi sosial dalam lingkup pekerjaan;

 Siswa mampu menerapkan kerjasama tim maupun kualitas kerja individu secara lebih baik;

 Siswa mendapatkan keilmuan teknis.

Tabel 4. Capaian IKU “Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon s.d Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

Nama Indikator : Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon (Orang) S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

187 834 445,98 322 259 750 111,2

IKU 3 : Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (ekor) Target jumlah bantuan benih yang harus disalurkan oleh BPBL Ambon tahun 2020 sebesar 1.495.000 ekor. Capaian Bantuan Benih sampai dengan Triwulan I ini adalah sebesar 431.000 ekor atau 28,83 % dari target yang telah ditetapkan. Bantuan Benih yang disalurkan terdiri atas benih ikan konsumsi dan benih ikan hias laut.

Tabel 5. Capaian IKU “ Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon s.d Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

Nama Indikator : Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Ekor) S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2019 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

415.000 431.000 103,85 161.500 266,87 1.495.000 28.83

Telah disalurkan sebanyak 431.000 Ekor kepada Bantuan di 3 Provinsi, 7 Kabupaten/Kota dengan rincian : Bantuan Benih Ikan Konsumsi sebanyak 413.000 Ekor dan Bantuan Benih Ikan

(30)

aplikasi Bantuan Pemerintah KKP, Realisasi Bantuan Benih pada s.d Triwulan I 2020 melebihi target yang telah direncanakan, hal ini disebabkan jumlah produksi benih cukup baik, pada komoditas tertentu seperti kakap putih. Jumlah produksi Benih Januari - Maret 2020 sebanyak 559.438 Ekor. Berikut adalah rincian Bantuan benih ikan laut s.d triwulan I, tersaji pada tabel 10 berikut :

Tabel 6. Rincian Bantuan Benih Ikan Laut

No. Bantuan Benih Ikan Jumlah Bantuan

(Ekor)

Jenis Bantuan Sebaran Lokasi Bantuan 1. Bantuan Benih 413.000 Benih Ikan Konsumsi (Benih Kakap Putih)

Provinsi Maluku (Kota Ambon) Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Pinrang, Kabupaten Jeneponto) Provinsi Sulawesi Tenggara (Kota Bau-Bau, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Kota Kendari ) 18.000

Benih Ikan Hias (Benih

Clownfish)

Tujuan dan sasaran disalurkannya bantuan pemerintah ini adalah untuk mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya.

Pelaksanaan kegiatan bantuan benih pada triwulan I diberikan kepada beberapa pembudidaya di Provinsi Maluku, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara yakni Kota Ambon, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Jeneponto, Kota Bau Bau, Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, dan Kabupaten Konawe Selatan. Beberapa kendala dalam distribusi bantuan benih antara lain masih kurangnya informasi data kelembagaan dan administrasi pokdakan calon penerima dalam proposal pengajuan bantuan yang diterima BPBL Ambon serta jarak lokasi calon penerima bantuan yang cukup jauh sehingga beberapa lokasi pembudidaya, bantuan benih belum dapat didistribusikan. Secara teknis kendala utama adalah terkait produksi benih balai, di mulai pada tahapan pengelolaan induk adanya induk yang berperan sebagai carier terhadap penyakit tertentu, seperti penyakit yang disebabkan oleh virus. Salah satu virus yang sering teridentifikasi menginfeksi larva dan juvenile ikan laut adalah VNN atau Viral Nervous Necrosis.

Pada ikan konsumsi, serangan penyakit virus VNN (viral nervous necrocis) banyak menyerang ikan laut pada stadia larva dan juvenil. Gejala klinis infeksi penyakit ini pada larva ikan dibawah D20 adalah menurunnya nafsu makan, sedangkan pada larva D20 – D40 menunjukan gejala berenang yang abnormal dan cenderung dipermukaan berupa kehilangan

(31)

kecenderungan ikan berdiam diri didasar bak budidaya. Infeksi VNN dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam kegiatan pemeliharaan. Upaya yang dilakukan adalah pemberian antibiotic, vitamin dan imunostimulan dalam pakan, sesuai dosis yang dianjurkan, dan Ketiga adalah penanganan parameter kualitas media pemeliharaan, hal yang mungkin dilakukan adalah dengan menjaga suhu media hidup tetap optimal. Suhu merupakan factor pembatas yang penting bagi kegiatan produksi benih upaya seperti penggunaan heater atau pemanas dalam menjaga suhu selalu terjaga pada 300C. Kemampuan ikan dalam beradaftasi terhadap

suhu bervariasi tergantung jenis ikan dan ukurannya, secara umum suhu tidak selalu mematikan akan tetapi mampu mempengaruhi gangguan kesehatan ikan dalam jangka panjang, misalnya stress yang ditandai abnormalitas tubuh dan gerakan, benih ikan memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap fluktuasi perubahan parameter lingkungan.

Pada benih kakap putih dan bubara juga ditemukan infeksi Cryptocaryon irritans. Protozoa ini mengakibatkan kerusakan kulit dan insang ikan. Ikan yang terinfeksi Cryptocaryon irritans memperlihatkan penurunan nafsu makan sehingga tubuhnya menjadi kurus dan warna tubuh cenderung lebih gelap. Ikan terlihat lemah, lesu, dan berenang secara abnormal sambal menggosokan badan pada wadah pemeliharaan, serta frekuensi pernapasan meningkat.

(32)

Rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan produksi dan penjaminan kualitas benih yang dihasilkan antara lain melalui penerapan biosecurity di lingkungan hatchery secara optimal, melakukan manajemen pemberian pakan induk dan benih yang tepat, pakan yang diberikan harus memiliki standar kualitas yang baik, terutama dalam kandungan nutrisi pakan yang terkandung didalamnya. Pakan induk dan benih tepat secara ukuran, jumlah, frekuensi pemberian sehingga berdampak pada peningkatan survival rate induk dan benih, dan secara umum optimalkan implementasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) di instalasi produksi budidaya. Dalam manajemen kesehatan ikan, khususnya penanganan infeksi Cryptocaryon irritans dapat dilakukan dengan menjaga suhu lingkungan budidaya selalu diatas 290C, perendaman denga peroksida dengan dosis 150 ppm selama 30

menit juga dapat dilakukan, apabila infeksi sudah terlalu parah maka eradikasi (Pemusnahan Ikan sakit) bisa menjadi alternative cara guna menekan penyebaran penyakit dan memutus siklus hidup pathogen.

Gambar 7. Kegiatan penyaluran bantuan benih ikan

IKU 4 : Jumlah Bantuan Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Kg)

Program bantuan bibit rumput laut kultur jaringan menjadi salah satu program prioritas Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon yang langsung bersentuhan dengan masyarakat khususnya pembudidaya rumput laut. Program ini adalah salah satu IKU Ditjen Perikanan Budidaya yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan budidaya khususnya produksi rumput laut. Target atas IKU ini adalah 40.000 Kg. Progress kegiatan penyaluran bantuan pada Triwulan I sebatas pada pelaksaksanaan identifikasi dan verifikasi calon lokasi dan calon penerima bantuan. Kegiatan identifikasi dan verifikasi pembudidaya rumput laut dilakukan di 3 Provinsi yakni Provinsi Maluku, Maluku Utara dan Papua.

(33)

Hasil kegiatan identifikasi kelompok pembudidaya rumput laut, tersaji pada tabel berikut ini :

Tabel 7 . Data Kelompok Pembudidaya Rumput Laut di Provinsi Maluku

No. Nama Kelompok Alamat Keterangan

Kabupaten/Kota Provinsi

1. Kelompok Mangon Jaya Kota Tual Maluku Aktif

2. Kelompok Fiditan Permai Kota Tual Maluku Aktif

3. Kelompok Kiomstar Kota Tual Maluku Aktif

4. Kelompok Neru 2 Maluku Tenggara Maluku Aktif

5. Kelompok Ohoi Evu Maluku Tenggara Maluku Aktif

6. Kelompok Kelvik Kota Tual Maluku Aktif

7. Kelompok Arfa Maluku Tenggara Maluku Aktif

8. Kelompok Usaha Maju Maluku Tenggara Maluku Aktif 9. Kelompok Mutiara Anugerah Kepulauan Tanimbar Maluku Aktif 10. Kelompok Eliasa-1 Kepulauan Tanimbar Maluku Aktif 11. Kelompok Yawan Kepulauan Tanimbar Maluku Aktif 12. Kelompok Abobmean Kepulauan Tanimbar Maluku Aktif 13. Kelompok Koperasi Lende

Jaya

Kepulauan

Tanimbar Maluku

Aktif

14. Kelompok Cahaya Bahari Buru Maluku Aktif

15. Kelompok Cahaya Teluk

Gemilang Buru Maluku

Aktif

16. Kelompok Saliong Jaya Buru Maluku Aktif

Tabel 8 . Data Kelompok Pembudidaya Rumput Laut di Provinsi Maluku Utara

No. Nama Kelompok Alamat Keterangan

Kabupaten/Kota Provinsi

1. Kelompok Pulau Tunggal Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 2. Kelompok Pastur Karang Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 3. Kelompok Karang Jaya Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 4. Kelompok Mutiara Laut Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 5. Kelompok Sapa Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 6. Kelompok Sinar Abalon Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 7. Kelompok Jatuh Bangun Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 8. Kelompok Selat Selatan Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 9. Kelompok Sambua Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 10. Kelompok Totobu Pulau Taliabu Maluku Utara Aktif 11. Kelompok Bajo Indah Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 12. Kelompok Citra Mandir Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 13. Kelompok Santosa Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 14. Kelompok Telaga Indah Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 15. Kelompok Agar Makmur Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 16. Kelompok Sania Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 17. Kelompok Mekar Indah Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif

(34)

18. Kelompok Permata Bajo Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 19. Kelompok Pasir Putih Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 20. Kelompok Wakapet 02 Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 21. Kelompok Pas Gatel Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 22. Kelompok Mekar Jaya Kepulauan Sula Maluku Utara Aktif 23. Kelompok Dorolamo Halmahera Barat Maluku Utara Aktif 24. Kelompok Plen Mandiri Halmahera Timur Maluku Utara Aktif 25. Kelompok Faisiling Fafi Halmahera Timur Maluku Utara Aktif 26. Kelompok Alga Gurua Halmahera Timur Maluku Utara Aktif

Sementara itu, kegiatan identifikasi dan verifikasi kelompok pembudidaya rumput laut di Provinsi Papua Barat tepatnya di Kabupaten Raja Ampat tidak menunjukan hasil yang diharapkan, sebagian besar kegiatan budidaya rumput laut di daerah tersebut dalam kondisi tidak aktif.

Tabel 9. Capaian IKU “ Jumlah Bantuan Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon s.d Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

Nama Indikator : Jumlah Bantuan Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Kg) S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

0 0 0 - - 40.000 -

Gambar 8. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Kelompok pembudidaya rumput laut

IKU 5 : Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Kebun Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket)

Program bantuan sarana dan prasarana kebun bibit rumput laut kultur jaringan menjadi salah satu program prioritas Ditjen Perikanan Budidaya yang langsung bersentuhan dengan

(35)

meningkatkan produktivitas perikanan budidaya khususnya produksi rumput laut. Target atas IKU ini adalah 20 Paket bantuan sampai dengan akhir Triwulan I belum terealisasi.

Perkembangan usaha budidaya rumput laut harus diimbangi dengan adanya ketersediaan bibit yang cukup dan berkualitas baik. Peningkatan produksi rumput laut memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya merupakan suatu komitmen yang menjadi faktor penting dalam menentukan arah dan kebijakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Jenis dan jumlah bantuan yang diberikan berupa unit kebun bibit rumput laut kultur jaringan lengkap dengan bibit, tali dan pelampung. Adapun rincian bahan untuk 1 unit konstruksi kebun bibit rumput laut minimal seperti tertera pada Tabel 11.

Tabel 10. Rincian Bahan Konstruksi 1 (satu) Unit Kebun Bibit Rumput Laut

SPESIFIKASI A. Sarana Utama

1. Bibit Rumput laut harus memenuhi kualifikasi sebagai bibit kultur jaringan dengan spesifikasi sebagai berikut :

- Strain : Kappaphycus alvarezii/Euchema cottoni

- Bibit hasil perbanyakan kultur jaringan yang dihasilkan oleh UPT DJPB atau kelompok pembibit rumput laut binaan UPT DJPB (Pada saat penyerahan barang dilengkapi dengan surat keterangan asal “ASLI” yang diterbitkan oleh UPT DJPB.

- Bibit starter Euchema cottoni (sakul/maumere/tambalang) dari kelompok pembibit RL

- Kesegaran : Thalus tidak berlendir dan patah - Thalus bercabang banyak

- Warna : Hijau/coklat/jingga

- Bersih : tidak ditempeli lumut dan organisme lainnya

B. Peralatan

1. Tali Utama (minimal PE 12 mm) 2. Tali Jangkar (minimal PE 12 mm) 3. Tali Ris (PE 4-5 mm)

4. Tali Pengikat Pelampung (tali rafia atau minimal tali PE 3 mm) 5. Tali Pengikat Bibit (Tali Rafia/Tali Nylon/Tali PE 1 mm)

(36)

7. Pelampung Utama (Styrofoam volume min 125 cm3 atau bola berbahan PE dengan

diameter min 30 cm)

8. Pelampung jalur (Botol HDPE 1 L atau bola dimeter minimal 10 cm

Tabel 11. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Kebun Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket) Triwulan I tahun 2020”. Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan

Bertanggungjawab

Nama Indikator : Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Kebun Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket)

S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

0 0 0 6 - 20 0

Gambar 9. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Kelompok pembudidaya rumput laut

IKU 6 : Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Produksi Ikan Hias Laut lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket)

Ikan hias merupakan salah satu komoditas utama sektor perikanan. Memberikan kontribusi yang cukup baik yaitu dengan jumlah produksi ikan hias nasional pada tahun 2018 sebesar 1,22 Milyar Ekor. Teknologi budidaya ikan hias saat ini telah dikuasai dengan baik oleh unit pelaksana teknis DJPB maupun oleh masyarakat khususnya pembudidaya ikan hias.

Bantuan pemerintah budidaya ikan hias tahun 2020 terdiri dari paket bantuan budidaya ikan hias air tawar dan ikan hias air laut. Spesifikasi teknis serta jumlah bantuan menyesuaikan dengan alokasi anggaran serta kebutuhan calon penerima bantuan budidaya ikan hias di lapangan sesuai dengan hasil identifikasi dari UPT pelaksana.

(37)

Tabel 12. Jenis bantuan ikan hias laut

No. Jenis Bantuan Ikan Hias Laut

Keterangan

1. Benih Antara lain, benih ikan clownfish ukuran ≥ 1,5 cm. 2. Pakan Antara lain, pakan ikan protein, ≥ 50%

3. Wadah Budidaya Antara lain : container plastic dan/atau akuarium 4. Obat- obatan Antara lain Kupri sulfat (CuSO4)

5. Peralatan Perikanan Antara lain :

- Protein skimmer - Serok

- Ember dan/atau - Baskom

6. Sarana Budidaya Antara lain :

- Instalasi listrik - Instalasi air dan/atau - Instalasi aerasi

Tabel 13. Capaian IKU “Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Produksi Ikan Hias Laut lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket) Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Mandiri dan Bertanggungjawab

Nama Indikator : Jumlah Bantuan Sarana Prasarana Produksi Ikan Hias Laut lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Paket)

S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

0 0 0 0 - 15 0

Progress kegiatan penyaluran bantuan pada Triwulan I sebatas pada pelaksaksanaan identifikasi dan verifikasi calon lokasi dan calon penerima bantuan. Kegiatan identifikasi dan verifikasi pembudidaya ikan hias dilakukan di Provinsi Maluku.

Hasil kegiatan identifikasi kelompok pembudidaya ikan hias laut, tersaji pada tabel berikut ini :

Tabel 14. Data Kelompok Pembudidaya Ikan Hias Laut di Provinsi Maluku

No. Nama Kelompok Alamat Keterangan

Kabupaten/Kota Provinsi

1. Kelompok Besarkan Kami Kota Ambon Maluku Aktif

2. Kelompok Berkah Kota Ambon Maluku Aktif

3. Kelompok Mujur Kota Ambon Maluku Aktif

(38)

5. Kelompok Lalosi Kota Ambon Maluku Aktif 6. Kelompok Pesantren

Hidayatullah Maluku Tengah Maluku

Aktif

7. Kelompok Nemo Maluku Tengah Maluku Aktif

I

Gambar 10. Kegiatan Identifikasi dan Verifikasi Kelompok pembudidaya Ikan Hias

SASARAN STRATEGIS 2 : TERWUJUDNYA PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN LINGKUP BPBL AMBON YANG MANDIRI DAN

BERTANGGUNGJAWAB

KU 7 : Jumlah Produksi Calon Induk lingkup BPBL Ambon sesuai standar (ekor)

Target jumlah produksi induk/calon induk unggul pada tahun 2020 yaitu 3.400 ekor. Sampai akhir Triwulan I capaian produksi calon induk teralisasi 1.200 Ekor, produksi calon Komoditas induk yang diproduksi oleh BPBL Ambon meliputi jenis ikan konsumsi dan ikan hias. Produksi induk unggul ikan konsumsi yaitu kakap putih dan bubara. Sedangkan produksi induk unggul ikan hias yaitu ikan hias clownfish dengan berbagai varian.

Tabel 15. Capaian IKU “Produksi Calon Induk lingkup BPBL Ambon s.d Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terselenggaranya Tata Kelola Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Berkelanjutan Nama Indikator : Jumlah Produksi Calon Induk lingkup BPBL Ambon sesuai standar (Ekor)

S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW IV 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

900 1200 133,33 0 - 3.400 35,29

(39)

(TAD) mengakibatkan kerentanan stress calon induk ikan meningkat dan memicu tingginya tingkat serangan penyakit iridovirus dan infeksi bakteri seperti vibrio pada stadia ukuran tertentu. Sedangkan kendala pemenuhan calon induk ikan hias adalah infeksi Criptocaryon irritans, serta menurunnya kualitas perairan seperti fluktuasi suhu, salinitas, pH, kandungan nitrit, amoniak yang dapat mengakibatkan ikan menjadi mudah stress dan jika tidak ditangani dengan baik mampu meningkatkan mortalitas.

Rekomendasi terhadap terhadap kegiatan produksi induk unggul adalah meningkatkan laju pertumbuhan dengan menggunakan pakan ikan berkualitas yang didukung dengan menjaga kualitas media pemeliharaan, sarana dan prasarana pendukung budidaya agar tetap dalam kondisi optimal. Salah satu langkah yang dapat dilakukan antara lain penambahan multivitamin pada pakan yang diberikan secara rutin pada ikan untuk merangsang pertumbuhan dan meningkatan kemampuan imunitas ikan terhadap infeksi suatu penyakit, pemberian pakan alternative seperti sisa olahan ikan (kepala ikan) dapat dilakukan sebagai pakan tambahan selain untuk memacu pertumbuhan juga menekan biaya operasional pakan, menerapkan konsep biosecurity dengan baik dan benar di lingkungan budidaya, serta melakukan pemeliharaan sarana budidaya yang baik dan benar sesuai SOP teknis yang telah dibuat.

Berikut adalah rincian produksi calon induk yang dihasilkan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon sampai dengan triwulan I, dapat dilihat pada tabel 7 berikut :

Tabel 16. Rincian Produksi Calon Induk Unggul

No. Komoditas Jumlah Komoditas

1. Kakap Putih 800 ekor dengan bobot tubuh minimal 500 gr/ekor 2. Clownfish 400 Ekor dengan ukuran minimal 4 cm.

(40)

Gambar 12. Kegiatan Pembinaan Pembudidaya di wilayah kerja

IKU 8: Terselenggaranya pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan lingkup BPBL Ambon yang sesuai standar (sampel)

Salah satu factor penyebab gagalnya usaha budidaya ikan adalah terjadinya kejadian penyakit pada ikan budidaya, penyakit ikan dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar dengan mortalitas tinggi. Penyakit ikan adalah segala bentuk penyimpangan yang dapat menyebabkan ikan merasa terganggu kehidupanya. Atau dapat diartikan sebagai suatu keadaan fisik, kimia, biologis, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal yang disebabkan factor internal atau eksternal.

Penyebab penyakit dapat berasal dari dalam tubuh ikan maupun luar. Factor internal antara lain akibat keturunan (genetic), seksresi internal, imunodefisiensi, kelainan saraf atau gangguan metabolic. Sedangkan factor eksternal antara lain : serangan pathogen, hama, lingkungan atau malnutrisi.

Upaya pengendalian hama dan penyakit ikan yang biasa dilakukan oleh pembudidaya adalah upaya preventif dan kuratif. Upaya preventif adalah tindakan yang sebaiknya dilakukan pembudidaya untuk mengatasi serangan penyakit. Upaya kuratif atau pengobatan adalah upaya yang dilakukan pembudidaya untuk mengatasi penyakit ikan dengan menggunakan obat baik yang bersifat alami maupun sintetis. Pengobatan diberikan berdasarkan jenis penyakit, pathogen dan dosis tertentu.

(41)

Gambar 13. Diagram Kejadian Penyakit Ikan

Hingga akhir Triwulan I tahun 2020, capaian kinerja pada IKU pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan mampu melebihi target yang ditetapkan. Capaian realisasi terhadap jumlah sampel yang di uji pada laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan BPBL Ambon mencapai 592 sampel dari target pada Triwulan I sebanya 553 sampel.

Tabel 17. Capaian IKU “Jumlah sampel yang diuji dalam rangka pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan (sampel) Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terselenggaranya Tata Kelola Sumberdaya KP lingkup BPBL Ambon yang Berkelanjutan Nama Indikator : Terselenggaranya pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan lingkup BPBL Ambon yang sesuai standar (sampel)

S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

553 592 107,05 407 145,45 1.950 30,35

Hasil identifikasi menunjukan terjadi kejadian serangan penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri dan virus pada beberapa komoditas yang dibudidayakan seperti ikan Bubara, Kakap putih dan Kerapu Cantang. Pemeriksaan laboratorium menunjukan ikan terinfeksi parasite Cryptocaryon irritans. Parasite ini banyak menyerang ikan laut dan menyebabkan kerusakan pada kulit dan insang ikan. Kondisi dapat menjadi lebih parah jika terjadi serangan infeksi sekunder oleh bakteri yang menyebabkan ulcer pada kulit.

Gejala klinis menunjukan ikan memiliki bintik putih kecoklatan, menjadi kehilangan nafsu makan, exopthalmia, sisik lepas. Infeksi pada bagian kepala dapat menyebabkan mengelupasnya operculum. Sampai saat ini serangan Cryptocaryon irritans belum dapat ditangani secara optimal, yang dilakukan saat ini adalah melakukan upaya pemisahan ikan yang terinfeksi. Menjaga suhu lingkungan budidaya diatas 290C dan juga dapat menggunakan

metode perendaman dengan hydrogen peroksida dosis 150 ppm selama 30 menit dan diulang setiap dua hari.

(42)

Benedenia sp dan Haliotrema sp merupakan salah satu ektoparasit yang banyak menginfeksi ikan budidaya di Karamba Jaring Apung BPBL Ambon, biasanya terdapat pada kulit dan insang ikan. Memiliki siklus hidup 4-7 hari, dan jika terjadi infeksi parasite ini ikan menunjukan gejala klinis seperti nafsu makan berkurang, luka pada permukaan kulit, dan kerusakan epitel insang.

Vibriosis merupakan penyakit yang potensial menyerang ikan laut baik ikan budidaya maupun ikan liar. Dalam keadaan normal bakteri vibriosis spp merupakan microflora yang hidup pada usus ikan air laut. Kematian yang diakibatkan mencapai 50% terutama jika menginfeksi ikan stadia muda. Gejala klinis menunjukan ikan anorexia, warna tubuh menjadi lebih gelap, warna insang menjadi pucat. Pada infeksi akut bagian pectoral membengkak luka pada kulit dan bernanah. Penanggulangan infeksi ini dapat dilakukan dengan vaksinasi ikan untuk menambah ketahanan tubuh terhadap serangan infeksi ini.

Berikut adalah rincian pemeriksaan sampel yang diuji laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon sampai triwulan I,

Tabel 18. Jumlah Sampel Uji

No. Bulan Pengujian Jumlah Sampel

1. Januari 181 Sampel, yang terdiri dari sampel mikrobiologi 2, parasite 2 sampel virus 5 dan sampel kualitas air 172. 2. Februari 222 Sampel, yang terdiri dari sampel parasite 8, sampel

mikrobiologi 6, sampel virus 7 dan sampel kualitas air 201. 3. Maret 189 Sampel, yang terdiri dari sampel parasite 7, sampel mikrobiologi 4, sampel virus 7 dan sampel kualitas air 171.

(43)

IKU 9 : Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon (UPT)

Pembangunan adalah proses perubahan system yang direncanakan kearah perbaikan yang orientasinya pada modernis pembangunan dan kemajuan social ekonomi. Konsep pembangunan itu merupakan kunci pembuka, pembangunan dapat berjalan dengan baik jika didukung dengan administrasi yang baik.

Tabel 19. Capaian IKU “Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon Triwulan I tahun 2020”.

Nama SS : Terselenggaranya Tata Kelola Pemanfaatan SDKP yang berdayasaing dan Berkelanjutan

Nama Indikator : Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana produksi ikan hias laut dan rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon (%)

S.D Triwulan I 2020 Realisasi s.d TW I 2019 Perbandingan TW I 2020 dengan TW I 2019 (%) Target 2020 Realisasi Terhadap Target Tahunan (%) Target Realisasi Capaian

0 0 0 0 0 35 0

Pembangunan fisik adalah pembangunan yang dapat dirasakan dampaknya secara langsung oleh masyarakat. Pembangunan fisik dalam rangka rehabilitasi kawasan dalam rangka upgrade kapasitas BPBL Ambon dalam Tahun Anggaran 2020 adalah pembangunan fasilitas produksi ikan hias laut dengan sarana penunjang, perluasan green house laboratorium kultur jariangan rumput laut dan sarana penunjang lainnya. Progress kegiatan pembangunan pada triwulan I pada tahap perencanaan kegiatan.

IKU 10 : Jumlah paket teknologi perekayasaan bidang budidaya laut lingkup BPBL Ambon (paket)

Perekayasaan yang dilakukan pada tahun 2020 difokuskan pada bidang utama peningkatan produksi ikan dan rumput laut mencakup kegiatan pembenihan dan pembesaran. Secara umum dikategorikan menjadi 4 bagian yakni :

Kegiatan perekayasaan yang berjudul Manajemen Budidaya Ikan Laut Berbasis Komoditas Unggulan secara Berkelanjutan ini bertujuan untuk memperoleh teknologi:

- Produksi Massal Benih Ikan Bubara - Produksi Masal Benih ikan kakap putih - Produksi Ikan Hias Laut.

- Pengelolaan Faktor Pertumbuhan Fitoplankton Untuk Peningkatan Produksi

Dalam pelaksanaannya, perekayasaan ini menggunakan 2 tipe organisasi yaitu tipe B dan tipe C.

Gambar

Gambar 1. Struktur Organisasi BPBL Ambon Th. 2020
Grafik 2. Komposisi Pegawai Lingkup BPBL Ambon 2020
Grafik 4. Pendidikan Pegawai (Kontrak) Lingkup BPBL Ambon 2020
Gambar 5. Peta Strategis BPBL Ambon
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tahun 2001 BKPI Ambon diubah nama menjadi Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Ambon dan merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan berdasarkan Surat Keputusan

Ringkasan penjelasan pencapaian IKU dalam setiap Sasaran Strategis sebagaimana berikut : Sasaran Strategis 1, yaitu : “Terwujudnya pengelolaan SDKP Budidaya Laut Lingkup

Pada tahun 2015, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon berperan aktif dalam pameran Indonesia Aquaculture 2015.Indonesian Aquaculture 2015 adalah INDOAQUA ke-8, yang

Selanjutnya Renstra DJPB harus mampu diterjemahkan oleh unit pelaksana teknis lingkup DJPB termasuk oleh Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok yang dituangkan dalam

Pedoman Umum Pengukuran Indikator Kinerja Utama Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Mandiangin Tahun 2020 ini menyajikan cara-cara yang dilakukan dalam melakukan

Pedoman Umum Pengukuran Indikator Kinerja Utama Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok Tahun 2021 ini menyajikan cara-cara yang dilakukan dalam melakukan

Sebagai dukungan atas program Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Budidaya tahun 2021, terdapat 5 sasaran strategis dengan 24 indikator kinerja yang telah ditetapkan guna

Untuk kegiatan proyek perubahan yang akan dilakukan adalah Peningkatan Produktivitas Produksi Benih ikan Hias Clown Fish di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, melalui