KATA PENGANTAR. Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas

111  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

4

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan keadaan studi tentang konversi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali kecamatan kinali kabupaten pasaman barat di tinjau dari pendapatan, gaya hidup, dan pengelolaan.

Jenis penelitian kualitatif dan informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat serta informan kunci dalam penelitian ini Dinas Pertanian. Penelitian ini di lakukan menggunakan teknik snow ball ( bola salju ).

Hasil penelitian penelitian menunjukan bahwa : 1) Pendapatan lahan pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi yaitu setelah melakukan konversi lahan masyarakat di Desa didodadi pendapatannya mengalami peningkatan sehingga masyarakat sidodadi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan pokok, pendidikan dan lain sebagainya. 2) Gaya hidup masyarakat Desa Sidodadi setelah melakukan konversi lahan yaitu gaya hidup masyarakat Desa Sidodadi setelah konversi lahan mengalami peningkatan karna bisa di lihat dari bentuk rumahnya, yang dulu permanen dan sekarang sudah permanen, kemudian sudah memiliki kendaraan lebih dari satu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. 3) Pengelolaan lahan yang di lakukan petani melakukan konversi lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi, Pengelolaan kebun sawit sama dengan pengelolaan kebun sawit pada umumnya, yang dipergunakan alat-alat seperti parang, cangkul, sinsaw dan lain-lain, dengan menggunakan tenaga kerja 2 sampai 3 orang dengan biaya yang di keluarkan ± Rp. 300.000 perhari

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Studi Tentang Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit Di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat”. Yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu Program Studi Pendidikan geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Penulis menyadari penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi materi maupun teknik penulisan, berkat doa Kedua orang tua, saudara dan semua keluarga saya yang telah memberikan dukungan semangat baik secara moril dan ssecara materi. Kemudian tidak lupa pula penulis ucapakan terima kasih yang terhormat kepada :

1. Bapak Drs. Edi Suarto, M.Pd sebagai Dosen Pembimbing I dan Bapak Yuherman, S.P., M.Pd selaku Pembimbing II.

2. Tim dosen penguji, Ibu Rozana Eka Putri, S.Pd., M.Si, Ibu Farida, S.Si., M.Sc, dan Momon Dt Tanamir, M.Pd.

3. Bapak Slamet Rianto, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat Padang dan Ibu erna Juita, M.Si selaku Sekretaris beserta staf pengajar yang memberikan bantuan, dorongan, dan bimbingan serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.

(6)

5. UPT Perpustakaan dan kepala Perpustakaan STKIP PGRI Sumatera Barat beserta staf dan karyawan.

6. Bapak Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman Barat dan Wali Nagari Sidodadi serta staf yang telah memberikan data.

7. Teman-teman mahasiswa/mahasiswi Program studi pendidikan geografi 2011/A serta saudara dan sahabat-sahabatku (Hermanto, Medi, Al, Intan, Wilza, Sinta, dan Weri) yang terbaik yang telah memberikan masukan dan semangat dalam penulisan skripsi.

Semoga segala bimbingan dan bantuan yang telah di berikan mendapatkan balasan yang baik dari Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pembaca dan yang membutuhkan.

Padang, Oktober 2015

(7)

DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah ... 5

C. Pertanyaan Penelitian ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 8 1. Konversi Lahan ... 8 2. Pendapatan ... 11 3. Gaya Hidup ... 13 4. Pengelolaan Lahan ... 14 B. Kajian Relevan ... 15 C. Alur Berfikir... 17

BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 18

(8)

C. Informan penelitian ... 18

D. Jenis Data, Sumber Data, dan Alat Pengumpulan Data ... 19

a. Jenis Data ... 19

b. Sumber Data... 19

c. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 20

E. Teknik Analisa Data ... 22

F. Teknik Menguji Keabsahan ... 24

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 26

B. Temuan khusus penelitian ... 28

C. Pembahasan ... 44

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 49

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Jumlah penduduk dan mata pencaharian di Kenagarian Kinali

Kecamatan Kinali ... 27 2. Jumlah sekolah kenagarian Kinali ... 28

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Alur berfikir ... 17

2. Wawancara dengan Ibu TN tanggal 28 Agustus 2015 ... 29

3. Wawancara dengan bapak ZN tanggal 28 Agustus 2015 ... 30

4. Wawancara dengan Bapak CR tanggal 28 Agustus 2015 ... 31

5. Wawancara dengan bapak SW tanggal 28 Agustus 2015 ... 32

6. Wawancara dengan bapakWH tanggal 29 Agustus 2015 ... 33

7. Wawancara dengan bapak MR tanggal 29 Agustus 2015 ... 34

8. Wawancara dengan bapak MD tanggal 29 Agustus 2015 ... 35

9. Wawancara dengan bapak YN tanggal 30 Agustus 2015 ... 36

10. Wawancara dengan bapak NM tanggal 30 Agustus 2015 ... 37

11. Wawancara dengan Ibu TR tanggal 30 Agustus 2015... 38

12. Wawancara dengan bapak SK tanggal 31 Agustus 2015 ... 39

13. Wawancara dengan bapak SN tanggal 31 Agustus 2015 ... 40

14. Wawancara dengan bapak AL dan bapak ZL serta bapak MZ tanggal 31 Agustus 2015 ... 41

15. Wawancara dengan bapak TN dan bapak SN tanggal 31 Agustus 2015 ... 42

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Pedoman Wawancara ... 52

2. Tabel Reduksi wawancara ... 57

3. Tabel Rekapitulasi Data ... 69

4. Tabel Informan Penelitian ... 56

(12)

1

Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar penduduk Indonesia berdomisili di daerah pedesaan dan memiliki mata pencaharian disektor pertanian. Sampai saat ini, sektor pertanian merupakan sektor yang strategis dan berperan penting dalam perekonomian nasional dan kelangsungan hidup masyarakat, terutama dalam sumbangan terhadap pendapatan masyarakat, penyedia lapangan kerja, dan penyediaan pangan dalam negeri.

Kesadaran terhadap peran tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat masih tetap memelihara kegiatan pertanian mereka. ”Berbagai data menunjukkan bahwa di beberapa negara yang sedang berkembang lebih 75% dari penduduk berada di sektor pertanian dan lebih 50% dari pendapatan nasional dihasilkan dari sektor pertanian serta hampir seluruh ekspornya merupakan bahan pertanian” (Ario dalam Bhaskara dkk : 2005).

Beberapa tahun belakangan ini konversi lahan pertanian sawah menjadi lahan perkebunan menjadi tren belakangan ini. Hal ini tidak bisa di pungkiri, kerena menjadi petani perkebunan, khususnya kelapa sawit lebih menjanjikan sekali. Setiap saat harga Tandan Buah Segar (TBS) terus naik, kondisi ini tentunya sangat menguntungkan petani. Persoalannya tidak hanya di situ, mahalnya harga pupuk dan banyaknya serangan hama penyakit terhadap

(13)

sawah petani juga menjadi pemicu semakin sengsaranya masyarakat petani. Serta pada saat panen harga di pasaran rendah (Suswandi dalam Silvia 2014).

Usaha di bidang pertanian terutama tanaman padi seharusnya memberikan pemasukan yang sangat besar, karena komoditi padi merupakan bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Akan tetapi kenyataan yang ada banyak petani mengalami kerugian jika menanam padi karena modal yang dikeluarkan (bibit, pupuk, tenaga kerja) tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. Hal ini berakibat banyak petani yang memilih untuk beralih ke komoditi lain selain padi.

Luas areal panen merupakan salah satu determinan utama peningkatan produksi padi nasional di samping tingkat produktifitas tanaman. Pertumbuhan luas areal menjadi masalah yang sangat serius karena bersaing dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi, indusrialisasi dan pembanguan infrastruktur publik. Hal ini yang telah mendorong terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian.

Faktor-faktor yang menentukan transformasi lahan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu faktor ekonomi,faktor sosial, dan peraturan pertanahan yang ada menunjukkan bahwa selain faktor teknis dan kelembagaan, faktor ekonomi yang menetukan alih fungsi lahan sawah ke pertanian dan non pertanian adalah : (1) nilai kompetitif padi terhadap komoditas lain menurun; (2) respon petani terhadap dinamika pasar, lingkungan, dan daya saing usaha tani meningkat.

(14)

Menurut Witjaksono (dalam Bhaskara, 2012) ada lima faktor sosial yang mempengaruhi alih fungsi lahan, yaitu: perubahan perilaku, hubungan pemilik dengan lahan, pemecahan lahan, pengambilan keputusan, dan apresiasi pemerintah terhadap aspirasi masyarakat.

Pembangunan sektor perkebunan di Kabupaten Pasaman Barat khususnya komoditas tanaman kelapa sawit merupakan suatu bagian integral dari pembangunan nasional, yang bertujuan mewujudkan peningkatan pendapatan petani, selanjutnya usaha pembangunan perkebunan diarahkan pada pemerataan pembangunan. Pembangunan sektor perkebunan terkait dengan upaya membuka kesempatan kerja, peningkatan ekspor, pemenuhan industri dalam negeri, pertumbuhan pembangunan, dan penciptaan pusat pertumbuhan wilayah ekonomi baru (Devung dalam Bhakara 2005).

Sektor pertanian merupakan sektor andalan dalam membentuk perekonomian di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Sektor ini memberikan peranan yang sangat besar dalam pembentukan Pendapatan, kini peranannya semakin berkurang disebabkan karena menyusutnya lahan pertanian. Berdasarkan observasi awal peneliti pada tanggal 03 Juni 2015 dalam kurun waktu tahun 2007-2011 terjadi penyusutan lahan sawah, penyusutan luas lahan pertanian berbanding terbalik dengan peningkatan luas lahan sektor perkebunan yang meningkat. Transformasi lahan ini berdampak pada perubahan tingkat kesejahteraan petani yang melakukan transformasi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit. Adanya perkebunan kelapa sawit yang terdapat Di Desa

(15)

Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat ternyata mengakibatkan sebagian petani mengalihfungsikan lahan pertanian yang mereka miliki. Berdasarkan hal tersebut diduga ada beberapa alasan petani melakukan alih fungsi lahan, antara lain: kebijaksanaan pemerintah daerah, latar belakang pendidikan, pendapatan rendah, menyempitnya luas areal, biaya produksi, dan nilai jual. Selain itu, tingkat pendapatan antara petani padi dan petani kelapa sawit di Kecamatan Kinali relatif berbeda.

Beralihnya mata pencaharian masyarakat dari yang semula petani padi menjadi petani kelapa sawit merubah pola kehidupan para petani. Salah satu contoh yang ada pada masyarakat petani Di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat yaitu meningkatnya gaya hidup para petani. Peningkatan jumlah petani tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah keluarga sejahtera, justru sebaliknya mengalami penurunan. Terkait dengan adanya perubahan mata pencaharian dari petani padi menjadi petani kelapa sawit menyebabkan pendapatan masyarakat menjadi ikut berubah, akan tetapi perubahan pendapatan yang diperoleh tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan keluarga petani.

Kondisi umum masyarakat Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat relatif sama di mana mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah sebagai petani tanaman padi. Namun beberapa tahun terakhir akibat terjadi transformasi lahan berubah menjadi petani kebun kelapa sawit. Hal ini membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Studi Tentang Konversi Lahan Pertanian

(16)

Padi Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat”.

B. Fokos Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis memfokuskan pada konversi lahan pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan fokus masalah yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pendapatan petani padi setelah mengkonversikan lahannya keperkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat?

2. Bagaimana gaya hidup petani padi setelah mengkonversikan lahan pertanian padi keperkebunan kelapa sawit Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat?

3. Bagaimana cara pengelolaan lahan yang dilakukan petani padi dalam mengkonversikan lahan pertanian padi keperkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat?

(17)

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan sebelumnya, peneliti ini bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi dan menganalisis data secara mendalam tentang:

1. Pendapatan petani padi setelah mengkonversikan lahannya perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat

2. Bagaimana gaya hidup petani padi setelah mengkonversikan lahan pertanian padi keperkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat

3. Pengelolaan yang dilakukan petani padi dalam mengkonversikan lahan pertanian padi keperkebunan kelapa sawit di Nagari Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi peneliti sendiri sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana SI di program studi pendidikan Geografi di STKIP PGRI Sumatera Barat. 2. Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang transformasi lahan

pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit.

3. Sebagai salah satu referensi bagi pemerintah dan swasta dalam mengambil kebijakan dan pembangunan masyarakat di Desa Sidodadi Kenagarian

(18)

Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat Sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi peneliti serta membuka peluang bagi peneliti yang lain untuk menindak lanjuti penelitian ini.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Konversi Lahan

Menurut Syailendra dalam Pina (2013) konversi lahan adalah perubahan lahan dari lahan pertanian ke non pertanian ke pertanian lain. Sedangkan menurut Fahmudin (2004) konversi lahan suatu proses yang di sengaja oleh manusia (anthropogenic) bukan proses alami. Konversi lahan terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik dari segi pendapatan maupun biaya yang di keluarkan.

Semua fungsi utama lahan ialah untuk bercocok tanam padi, palawija, atau holtikultural. Kini dengan gencarnya industrialisasi, lahan-lahan pruduktif pertanian berubah menjadi pabrik-pabrik, jalan tol, pemukiman, perkotaan, dan lain-lain. Jika dalam setahun alih fungsi laahn terdata sekitar 4.000 hektar, dalam lima tahun kedepan lahan produktif yang beralih fungsi mencapai 20.000 hektar (Suardi 2002 dalam Silvia 2014).

Konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagaian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang di rencanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan dalam artian perubahan/penyesuaian peruntukan pangunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi

(20)

kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik Menurut Utomo dkk (1992) dalam kolokiumkpmipb.wordpress.com (2012).

Menurut Agus (2004) konversi lahan sawah adalah suatu proses yang di sengaja oleh manusia (anthropogenic), bukan suatu proses alami. Kita ketahui bahwa percetakan sawah di lakukan dengan biaya tinggi, namun ironisnya konversi lahan tersebut sulit di hindari dan terjadi sistem produksi pada lahan sawah tersebut berjalan dengan baik. Konversi lahan merupakan konsekuensi logis dari peningkatan aktifitas dan jumlah penduduk serta proses pembangunan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif.

Menurut Irawan (2005) Konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan pertanian dengan non pertanian. Sedangkan persaingan dalam pemanfaatan lahan tersebut muncul akibat adanya tiga fenomena ekonomi dan sosial yaitu:

a) Keterbatasan sumberdaya lahan

b) Pertumbuhan penduduk, dan

(21)

Sihaloho (2004) dalam kolokiumkpmipb.wordpress.com, membagi konversi lahan kedalam tujuan pola atau tipologi, antara lain:

1. Konversi gradual berpola sporadis di pengaruhi oleh dua faktor utama yaitu lahan yang kurang/tidak produktif dan keterdesakan ekonomi pelaku konversi.

2. Konversi sistematik berpola „enclave‟; dikarenakan lahan kurang produktif, sehingga konversi dilakukan secara serempak untuk meningkatkan nilai tambah.

3. Konversi lahan sebagai respon atas pertumbuhan penduduk (population growth driven land conversion); lebih lanjut disebut konversi adaptasi demografi, dimana dengan meningkatkan pertumbuhan penduduk, lahan terkonversi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal.

4. Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial (social problem driven land conversion); disebabkan oleh dua faktor yakni keterdesakan ekonomi dan perubahan kesejahteraan.

5. Konversi tanpa beban; dipengaruhi oleh faktor keinginan untuk smengubah hidup yang lebih baik dari keadaan saat ini dan ingin keluar dari kampung.

6. Konversi adaptasi agraris; disebabkan karena keterdesakan ekonomi dan keinginan untuk berubah dari masyarakat dengan tujuan meningkatkan hasil pertanian.

(22)

7. Konversi multi bentuk atau tanpa bentuk ; konversi dipengaruhi oleh berbagai faktor, khususnya faktor peruntukan untuk perkantoran, sekolah, koperasi, perdagangan, termasuk sistem waris yang tidak jelas dijelaskan dalam konversi demografi.

Berdasarkan fakta impiris penelitian,yaitu penelitian ini tergolong pada konversi lahan multi karena proses perubahan konversi lahan pertanian menjadi institusi lembaga pendidikan.

2. Pendapatan

Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan penerimaan bersih. Pendaptan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi ( Rahim, dkk :2007).

Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh Milton Friedman yang menyatakan bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pengertian dari pendapatan permanen adalah pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah dan pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (yang menciptakan kekayaan). Milton Friedman dengan teori pendapatan permanennya mengemukakan bahwa orang menyesuaikan perilaku konsumsi mereka

(23)

dengan kesempatan konsumsi permanen atau jangka panjang, dan bukan dengan tingkat pendapatan mereka yang sekarang (Dornbusch and Fisher, dalam Arsad Ragandhi 2004). Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yangh dapat di konsumsi oleh seorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluartan terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang di peroleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi (Rustam dalam Irwan,2013).

Menurut Rosjidi dalam Irawan (2013) menyatakan bahwa pendapatan adalah peningkatan jumlah aktiva atau penurunan jumlah kewajiban perusahaan, yang timbul dari transaksi penyerahan barang dan jasa atau aktivitas usaha lainnya, dalam suatu periode yang dapat diakui dan diukur berdasarkan prinsip akuntansi berlaku umum. Pengertian yang dikemukakan oleh Rosjidi bermaksud bahwa, penyerahan barang atau jasa atau aktivitas usaha lainnya itu adalah yang berhubungan secara langsung dengan kegiatan untuk memperoleh laba usaha yang dapat mempengaruhi terhadap jumlah pemilik.

Pendapatan adalah gambaran yang lebih tepat tentang kondisi ekonomi keluarga yang merupakan jumlah keseluruhan pendapatan atau kekayaan keluarga dan dipakai dalam membagi pendapatan dalam tiga

(24)

kelompok yaitu; pendapatan tinggi, pendapatan sedang, dan pendapatan rendah. Pendapatan berupa uang adalah segala pendapatan yang diterima biasanya sebagai balas jasa dari majikan (Bastian,2011).

3. Gaya Hidup

Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan penerimaan bersih. Pendaptan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi ( Rahim, dkk :2007).

Gaya hidup adalah konsep yang lebih baru dan lebih mudah terukur dibandingkan dibandingkan dengan kepribadian Untuk memahami bagaimana gaya hidup, sekelompok masyarakat diperlukan program atau instrumen untuk mengukur gaya hidup yang berkembang (Listyorini, 2012).

Istilah gaya hidup (lifestyle) sekarang ini kabur. Sementara istilah ini memiliki arti sosiologis yang lebih terbatas dengan merujuk pada gaya hidup khas dari berbagai kelompok status tertentu, dalam budaya konsumen kontemporer istilah ini mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu. Tubuh, busana, bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaraan dan pilihan hiburan, dan seterusnya dipandang sebagai indikator dari individualitas selera serta rasa gaya dari pemilik atau konsumen (Fatherstone dalam Sudarwati, 2007)

Weber dalam Hastuti (2007) mengemukakan bahwa persamaan status dinyatakan melalui persamaan gaya hidup. Di bidang pergaulan gaya hidup ini

(25)

dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber dalam Hastuti (2007) kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Kelompok status dibeda-bedakan atas dasar gaya hidup yang tercermin dalam gaya konsumsi. Weber mengemukakan bahwa kelompok status merupakan pendukung adat, yang menciptakan dan melestarikan semua adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat.

4. Pengelolaan Lahan

Pengertian pengelolaan

menurut soekanto adalah suatu proses yang dimulai dari proses perencanaan, pengaturan, pengawasan, pergerakan sampai dengan proses terwujudnya tujuan. Pengertian pengelolaan menurut prajudi ialah pengedalian dan pemanfaatan semua faktor sumber daya yang menurut suatu perencanaan di perlukan untuk penyelesaian suatu tujuan kerja tertentu. Pengertian penggelolaan menurut balderton yaitu menggerakan, mengorganisasikan dan mengarahkan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektif material dan faselitas untuk mencapai suatu tujuan.

Pengolahan lahan dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis, perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung (Redyprasdianata : 2013).

(26)

Menurut Hermon (2006) pengolahan tanah pada dasarnya adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang bertujuan untuk menciptakan kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Disamping untuk menggemburkan tanah, pengolahan lahan juga dimaksudkan pula untuk membalik tanah agar sisa-sisa tanaman terbenam sehingga tidak menimbulkan kompetisi terhadap tanaman yang dibudidayakan, namun dapat bermanfaat sebagai pupuk.

Suripin (2004), pengolahan tanah adalah setiap manipulasi terhadap tanah dengan tujuan menyiapkan tempat tumbuh bagi benih, menggemburkan tanah pada daerah perakaran, membalikkan tanah sehingga tanaman terbenam kedalam tanah dan memberantas gulma.

Bila ditinjau dari sudut fisik tanah, pengolahan lahan bertujuan untuk mengurangi kekuatan tanah serta mendapatkan struktur tata yang baik sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Pengolahan tanah yang dimaksud disini adalah pengolahan tanah kering. Kita ketahui bahwa tanah yang gembur pada umumnya terbuka bagi erosi, sedangkan penggemburan tanah terjadi akibat pengolahan-pengolahan yang kurang memakai pertimbangan.

B. Kajian Relevan

Kajian penelitian yang relevan ini merupakan bagian penguraian tentang beberapa pendapat atau hasil penelitian yang terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang di teliti. Di bawah ini akan di kemukakan hasil-hasil studi yang yang di rasa perlu dan relevan dalam penelitian antara lain:

(27)

Pina (2013) meneliti tentang “Konversi lahan tanaman ke kelapa sawit di Kenagarian Inderapura Timur Kecamatan Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan. Berdasarkan penelitian tersebut dapat di simpulkan bahwa: (1) Biaya produksi penyebab terjadinya konversi lahan tanaman karet ke tanaman sawit, karena luas lahan tanaman karet lebih kecil di bandingkan tanaman sawit tetapi dari segi daya produksi, tanaman karet lebihkecil di bandingkan tanaman sawit, (2) Produksi menyebab terjadinya konversi lahan tanman karet menjadi tanman kelapa sawit di kenagarian indrapura timur. Produksi yang di tinggi menyebabkan terjadinya perbedaan pendapatan dan (3) Pemasaran tidak menyebabkan terjadinya konversi lahan tanaman karet menjdai tanaman sawit di kenagarian indrapura timur, dilihat dari cara memasarkan dan pembeli.

Adhi Yudha Bhaskara, Marhadi Slamet Kistiyanto, Juarti (2012). Meneliti tentang pengaruh transformasi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit terhadap tingkat kesejahteraan petani di Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur, dengan hasil penelitian dapat dilihat bahwa luas lahan pertanian responden mengalami peningkatan, hal ini terbukti setelah transformasi lahan responden yang memiliki lahan kurang dari 2500 m2 dari 23% menjadi 10% serta setelah transformasi lahan sebagian besar responden memiliki luas lahan antara 5000 m2 - < 7500 m2 sebesar 31% meningkat dari awalnya sebesar 27% sebelum adanya transformasi lahan, selain itu juga terjadi peningkatan rata-rata luas lahan yang dimiliki yaitu dari rata-rata 5412,5 m2 meningkat menjadi 9750

(28)

m2. Sejalan dengan temuan dari Baiq (2008:65) yang menemukan bahwa setelah alih fungsi lahan hutan, responden yang tidak memiliki lahan dari 62% turun menjadi 6%.

C. Alur Berpikir

Berdasarkan alur berpikir ini peneliti menggambarkan bagaimana proses penelitian yang akan dilaksanakan, seperti tergambar sebagai berikut:

Gambar.II.I. Alur Berpikir Studi Tentang Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi

Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Sidodadi.

Pendapatan Petani

Gaya Hidup Pengelolaan lahan

(29)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang di teliti maka penelitian ini digolongkan kedalam jenis penelitian kualitatif. Menurut Kuswana (2002), penelitian kualitatif adalah metode jenis penelitian yang di gunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trangulasi (gabungan), data analisis data bersifat induktif.

B. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat dan waktu penelitian ini bulan agustus

C. Informan Penelitian

Sesuai dengan masalah penelitian maka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat dan yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Dinas pertanian. Penelitian ini di lakukan menggunakan teknik snow ball Sampling adalah teknik pengambilan sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini di lakukan karna dari jumlah sumber data yang sedikit belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka

(30)

mencari orang lain lagi yang dapat di gunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sumber data akan semakin besar seperti bola salju yang mengelinding lama-lama menjadi besar yang berlangsung secara terus menerus sampai peneliti memperoleh data yang cukup sesuai dengan kebutuhan ( Sugiono ; 2011).

D. Jenis Data, Sumber Data, Teknik dan Alat pengumpulan data 1. Jenis Data

Data merupakan sejumlah keterangan informasi yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Sesuai dengan tujuan penelitian hendak di capai maka yang akan dikumpulkan adalah berupa data primer dan data sekunder. 2. Sumber Data

Sesuai dengan tujuan yang akan di capai dalam penelitian ini, maka data di peroleh dari:

a. Data Primer

Data primer merupakan data utama yang di peroleh langsung dari informan melalui wawancara yang peneliti lakukan terhadap petani yang melakukan konversi lahan pertanian pada pertani padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Adapun sumber data primer adalah informan penelitian dimana diperoleh melalui wawancara dan observasi di lapangan terhadap petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke

(31)

perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang di peroleh penelitian secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan di catat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalan arsip ( data dokumenter) data sekunder pada penelitian ini adalah data yang di peroleh dari kantor kenagian kinali dan kecamatan kinali kabupaten pasaman barat.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan data a. Teknik Pengumpulan Data

Untuk pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Wawancara

Wanwancara pada penelitian kualitatif merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dan informasi (Patilina,2007). Wawancara yang dilakukan berjutuan untuk memperoleh data yang tidak didapatkan melalui pengamatan, yaitu berupa data verbal yang di peroleh secara lasung dari subjeknya. Wawancara yang dipakai adalah wawancara bebas tanpa struktur tapi terfokus. Untuk itu wawancara di perlukan pedoman wawancara untuk pemandu jalanya wawancara.

(32)

Tujuan dilakukan wawancara agar peneliti mengertahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati informan serta hal-hal yang luput dari pengamatan, yaitu dengan bertanya lasung (Bungin,2002).

Wawancara pada penelitian ini terjadi antara wawancara dan narasumber. Pewawancara yaitu penelitian sendiri yang menanyakan tentang cara pengelolaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.sedangkan narasumber pada penelitian ini adalah beberapa orang petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

2. Pengamatan (observasi)

Observasi yang dilakukan untuk penelitian ini adalah observasi langsung maksudnya penelitian sendiri mengadakan pengamatan langsung terhadap objek penelitian yaitu petani ang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

(33)

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dan informasi melalui pencarian dan penemuan bukti-bukti. Dokumentasi pada penelitian ini adalah berupa foto petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Yang di ambil dengan menggunakan kamera digital. Foto merupakan salah satu bahan dokumentasi. Foto-foto bermanfaat sebagai sumber informasi karena foto mampu mengambarkan peristiwa yang terjadi.

b. Alat Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah pedoman wawancara berupa rumusan-rumusan pertanyaan untuk mencari informasi yang dibutuhkan lembaran observasi, catatan dan kamera digital.

E. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data merupakan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Tersebut sampai diperoleh suatu kesimpulan. Analisi data penelitian ini dilakukan secara dan dilakukan sepanjang penelitian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif model Miles and Huberman dalam Sugiono (2011).

(34)

1. Proses Pengumpulan Data

Dalam penelitian kuantitatif, proses pengumpulan data bergerak dari lapangan empiris dalam upaya membangun teori dan data. Proses pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan men cari informasi tentang petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat di kantor terkait seperti wali nagari dan camat.

2. Reduksi Data

Setelah proses melakukan pengumpulan data, data yang di peroleh akan di kumpulkan dan jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit jika peneliti sering melakukan pengumpulan data ke lapangan. Reduksi data bertujuan untuk memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Sehingga penelitian tentang petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat akan lebih berfokus sehingga jawaban atas pertanyaan penelitian bisa terjawab.

3. Penyajian Data

Setelah data penelitian direduksi, dilakukan penyajian data. Penyajian data dalam penelitian ini dapat disajikan dalam bentuk uraian teks yang bersifat. Dalam penyajian data dapat menggambarkan keseluruhan dari sekelompok data di peroleh agar mudah dibaca secara

(35)

menyeluruh. Dengan adanya penyajian data, maka dengan adanya penelitian ini, pembaca dapat mengetahui tentang konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit terhadap tinggkat kesejahteraan petani di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

4. Penarikan Kesimpulan

Data yang di peroleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi terhadap petani yang melakukan konversi lahan pertanian padi ke perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat lalu di olah dan di simpulkan. Kesimpulan pada awalnya masih longgar namun kemudian meningkat lebih rinci dan mendalam dengan bertambahnya data yang akhirnya kesimpulan merupakan suatu konfiguasi yang utuh.

F. Teknik Menguji Keabsahan

Menurut Maleong (2010:326) keabsahan data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan Teknik menguji keabsahan data yang diperoleh dilakukan dengan beberapa cara antara lain:

1. Perpanjangan Keikutsertaan

Dalam penelitian ini, penelitian berfungsi sebagai instrument artinya kaitan serta penelitian pada objek yang ditelitinya. Hal ini dimaksudnya supaya data di peroleh betul-betul dapat di percaya karena sudah berulang kali diamati.

(36)

2. Ketekunan Pengamatan.

Ketekunan pengamatan bertujuan menumukan cirri-ciri dalam situasi yang sedang dicari dan kemudian memusat dari pada masalah penelitian.

3. Triangulasi

Triangulasi adalah untuk memeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu keabsahan data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data yang di peroleh.

a. Triangulasi Sumber

Dilakukan pengecekan dan berdasarkan sumber-sumber tertentu.

b. Triangulasi Teknik

Mengecek data pada sumber data yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan wawancara kemudian dicetak dengan observasi dan dokumentasi.

4. Pemeriksaan Teman Sejawat Dengan Diskusi

Teknik ini di lakukan dengan cara mengekspor hasil sementara atau hasil akhir yang di peroleh dalam bentuk diskusi rekan-rekan sejawat.

(37)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Temuan umum daerah penelitian ini dapat dilihat melalui kondisi fisik dan kondisi sosial.

1. Kondisi Geografis

a. Letak Astronomis dan Batas-Batas Wilayah Penelitian

Jika ditinjau dari jaraknya dengan pusat kota kabupaten Pasaman Barat ditempuh dengan motor lebih kurang 15 menit. Kenagarian Kinali terletak pada Astronomis berada diantara garis 99°44‟39”BT - 100°2‟38”BT dan 0°3‟29” LS - 0°10‟17”LS.

Adapun daerah-daerah yang berbatasan dengan Nagari Kinali adalah:

1. Utara berbatas dengan Kecamatan Luhak Nan Tigo Dan Sasak 2. Selatan berbatas dengan Kabupaten Agam

3. Barat berbatas dengan Nagari Katiagan

4. Timur berbatas dengan Kabupaten Pasaman Timur. b. Luas

Secara keseluruhan luas Nagari Kinali adalah 48.978,97 Ha. c. Bentangan Alam

Kanagarian Kinali merupakan wilayah yang termasuk dataran tinggi dan terdapat beberapa sungai yang berhulu di Gunung Pasaman dan Daerah dataran rendah dan rawa-rawa, Daerah pemukiman, Daerah

(38)

perbukitan, dan pegunungan.beberapa sungai yang berhulu dari Gunung Pasaman.

d. Air Bersih

Ketersediaan air di Kecamatan Kinali cukup banyak. Sumber air bersih di Nagari Kinali adalah air PDAM, mata air, sungai, sumur, danau, bendungan, PAMSIMAS, PAM Perdesaan.

e. Transportasi

Sarana dan prasarana tranportasi yang ada di Nagari Kinali di nilai baik, karena sudah banyak bus umum, truck umum, angkutan perdesaan, ojek, dan becak.

2. Kondisi Demografi a. Penduduk

Jumlah penduduk di Nagari Kinali tercatat 63.389 jiwa. Lebih jelas dapat di lihat pada tabel IV. 1. Dibwah ini.

Tabel IV.1 jumlah penduduk dan mata pencarian Jumlah Penduduk Jenis Kelamin Mata Pencarian Laki-laki Perempuan 63.489 31.593 31.796 Petani Wiraswasta Sumber : kantor Wali Nagari Kinali (2014)

b. Pendidikan

Faktor pendidikan masih memegang peranan penting untuk menghasilkan manusia yang cerdas dan berkualitas. Untuk itu penduduk perlu dibekali dengan modal pendidikan yang memadai, sehingga menghasilkan kualitas SDM yang mampu mempercepat proses laju

(39)

pembangunan khususnya di Nagari Kinali. Pada saat ini di Nagari Kinali telah terdapat beberapa sekolah, seperti yang di jelaskan pada tabel di bawah ini. (Kantor Wali Nagari Kinali)

Tabel IV.2 Jumlah sekolah di Kenagarian Kinali

Nama sekolah Jumlah Status kepemilikan Pemerintah Swasta Play Group 3 - 3 TK 4 - 4 SD 42 42 - SMP 9 9 - SMA 4 4 -

Sumber : Kantor Wali Nagari Kinali,2014 B. Temuan Khusus Penelitian

1. Pendapatan Petani Padi Setelah Mengkonversikan Lahanya Keperkebunan Kelapa Sawit Di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan maka dapatlah hasil pengolahan data tentang persepsi masyarakat tentang proses pembangunan pabrik sebagai berikut :

Wawancara dengan Ibu TN (48 Tahun) pada tanggal 28 Agustus 2015 tentang pendapatan petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit adalah sebagai berikut :

(40)

Gambar IV.1 : wawancara dengan ibu TN 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015)

” Kalau untuak panghasilan nan ibuk dapek sasudah pindah lahan kakabun sawit tantunyo maningkek, tagantuang laweh kabun sawit tu. Alhamdulillah ibuk punyo kabun sawit kurang labiah 2 Ha. Kalau dari hasil kabun sawit, alhamdulillah cukuik untuik hiduik sahari-hari, tapi ado juo biaya untuak kabutuhan lain bantuak biaya panen, biaya pupuak paliang biaya yang dikaluan untuak sakali panen tagantuang jo hasil panen biasonyo. Biaya nan diparaluan sabanyak Rp 300.000/ton sawit. Kalau untuak biaya pandidikan anak, alhamdulillah cukuik karano biaya pandidikan anak ibuk alun mambutuhan biaya banyak, kalau dibandingan jo hasil padi sawah memang hasil kabun sawit labiah gadang”.

Artinya :

“Kalau masalah pendapatan yang ibu peroleh setelah melakukan konversi ke perkebunan kelapa sawit tentunya meningkat, itu pun tergantung kepada luas perkebunan kelapa sawit. Alhamdulillah ibu memiliki kebun sawit kurang lebih 2 Ha. Kalau dari hasil perkebunan kelapa sawit alhamdulillah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, namun ada juga untuk kebutuhan lainnya seperti biaya panen, biaya pupuk, palingan biaya yang dikeluarkan untuk sekali panen tergantung kepada hasil panen biasanya di bayar Rp 300.000/ton sawit. Kalau untuk biaya pendidikan anak alhamdulillah tercukupi, karena pendidikan anak ibu masih belum mengeluarkan biaya yang banyak. Kalau dibandingkan dengan hasil padi sawah memang hasil perkebunan kelapa sawit lebih besar.”

(41)

Selanjutnya wawancara dengan Bapak Zn (42 Tahun) padang tanggal 28 Agustus 2015 menyatakan sebagai berikut :

Gambar IV.2 : wawancara dengan bapak ZN 42 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015)

” Untuak panghasilan sasudah mamindahan lahan padi menjadi kabun sawit, alhamdulillah dapek maningkekan panghasilan bapak untuak mamanuhi kabutuhan keluarga walaupun ado kabutuhan lain nan harus dikaluan salain kebutuhan keluarga. Palingan ado biaya khusus nan bapak sadioan untuak biaya parawatan sawit dan biaya panen. Biaso biaya nan bapak kaluan untuk parawatan dan skali panen labiah kurang Rp 1juta. Kalau biaya pandidikan anak pasti di nomor satuan walau baa caronyo”

Artinya :

“Untuk pendapatan setelah melakukan konversi lahan padi menjadi sawit alhamdulillah dapat meningkatkan penghasilan bapak yang pastinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sudah terpenuhi walaupun ada kebutuhan lain yang harus dikeluarkan selain untuk kebutuhan keluarga. Palingan ada biaya khusus yang bapak sediakan untuk biaya perawatan sawit dan biaya panen. Biasanya biaya yang bapak keluarkan untuk perawatan dan sekali panen lebih kurang 1.000.000. Kalau biaya pendidikan anak pasti dinomor 1 kan walau bagaimanapun”.

(42)

Selanjutnya wawancara dengan Bapak CR (46 Tahun), Ibu SR (40 Tahun), dan Ibu ST (32 Tahun) pada tanggal 28 Agustus 2015 juga mengungkapkan hal yang serupa tentang pendapatan petani setelah melakukan konversi lahan padi sawah menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.3 : wawancara dengan bapak CR 46 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015)

“Nek teko segi penghasilan yo uwes di omongke rodok apeklah, nek karo-karo seng urong-uronge, pas urong pindah teko pari tros tak dakdekne sawet ki, nek go keluerga yo iso di omongke cukoplah go kebuth sedino-dino ne, bapk yo due sawet gor 1 ha, nek pak yo ora ngetokne upah panen ne, lawong bapak iki sawet te di panen dewe, paleng yo seng pak etone gor biaya gopupue ae, gor sekitar Rp. 500.000 kurango yo Rp. 600.000, nek go sekolah anake yo uwes cukuplah”

Artinya

“Kalau segi pendapatan sudah bisa dikatakan baik jika dibandingkan sebelum melakukan perpindahan lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit. Kalau untuk kebutuhan keluarga sudah bisa dikatakan cukup untuk kebutuhan sehari-sehari karena lahan sawit yang miliki hanya 1 Ha, Bapak tidak ada mengeluarkan biaya panen karena bapak panen sendiri

(43)

sawit yang bapak miliki palingan biaya lain yang harus dikeluarkan adalah biaya pupuknya saja, itu berkisar kira-kira Rp 500.000-600.000. untuk biaya pendidikan anak sudah terpenuhi.

Selanjutnya wawancara dengan Bapak SW ( 55 Tahun) pada tanggal 28 Agustus 2015

Gambar IV.4 : wawancara dengan bapak SW 55 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015)

“Uwes no wes cukop pas bar pindah lahan pari tak pindah ke neg sawet ki, pas wes pindah lahan yo wes lumayan meningkatlah, karo sak durung-durunge pas urong di pindah ne ki, nek pak yo panen sawet go wong kerjo ngono upahne ngono, yo gor wong loro paleng, di gajeh sekitar Rp 250.000,, tros go bayar utangan mobel, yowes alhamdulilak sapek sakiki yo ijek tercukupilah, yo utung sawet no hasil le,

Artinya :

“Sudah bisa mencukupi semenjak lahan kami di pindahkan ke sawit, setelah melakukan perpindahan lahan sudah meningkat dari pada pendapatan sebelum melakukan perpindahan, kalau bapak untuk memanen sawit menggunakan tenaga kerja paling tidak 2 orang itu di gajih sekitar Rp 250.000, untuk membayar cicilan mobil, sudah sampek sekang masih terpenuhi dengan baik, oh lebih besar tanaman sawit

(44)

Selanjutnya wawancara dengan Bapak WH ( 43 Tahun) pada tanggal 30 Agustus 2015 sebagai berikut :

Gambar IV.5 : wawancara dengan bapak WH 43 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015)

“Yo mendenglah wes meningkat pirang persen yo paleng yo gor 50%lah teko biasanelah, uwes yo neg ngolah sawet ki gampang nek di padaken pari ki, dadi yo saya panene dewe waelah, dadi saya ora metu duek opo biaya ngonolah, ora enek yo jek go kebutuhan keluargane, nek go sekolah anak yo alahmdulilah teko sak iki lebih meningkatlah di abndeng sedurung-durunge, nek go pendapatan yo lebih naek sawt ke timbange pariki”

Artinya :

“Ya lumayan meningkat sekitar 50% dari biasanya, sudah karana pengelolaan sawit ini lebih mudah dari pada padi, jadi saya bisa melakukan kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya panen sendiri jadi saya tidak mengeluarga biaya terlalu banyak, gak ada jadi masih memenuhi kebutuhan keluarga saja masih belum maksimal, untuk biaya pendidikan anak-anak saya sampai sekarang alhamdulilah masih terpenuhi, untuk pendapatan lebih meningkat kelapa sawit dari pada sawah”

(45)

2. Gaya Hidup Petani Padi Setelah Mengkonversikan Lahanya Pertanian Padi Keperkebunan Kelapa Sawit Di Nagari Sidodadi Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Wawancara dengan Bapak MR (53 Tahun) pada tanggal 29 Agustus 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.6 : wawancara dengan bapak MR 53 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015)

“Yo kalau dipiki-pikian kahidupan kaluarga apak sasudah malakuan pamindahan lahan padi manjadi kabun sawit ko alah samakin maningkek walaupun saketek. Kalau sabalum malkukan pamindahan rumah apaak semi permanennyo, kini bisa dicaliak surang kondisi rumah apak sadang dibangun walaupun alun salasai tapi alah permanen, walaupun saketek demi saketek kalau untuk baju indak terlalu ado parubahannyo doh tapi nan pantiang satiok rayo harus bali baju tarutamo untuak anak-anak. Kalau untuak makanan sabalum dan sasudah malakuan pamindahan lahan masih samo jo nan dulu yang pantiang dalam saminggu tu ado makan lauak atou ayam. Kalau kendaraan nan apak punyo dulu yo honda bakeh tapi itu alah dipakai pulo untuak panen, kini apak lah bisa mambali honda baru untuak pae.” Artinya :

“Ya kalau dipikir-pikir kehidupan keluarga bapak setelah melakukan pemindahan lahan padi menjadi kelapa sawit sudah mengalami peningkatan walaupun sedikit. Kalau sebelum melakukan pemindahan

(46)

rumah yang bapak miliki masih semi permanen, sekarang bisa dilihat sendiri kondisi rumah bapak yang sedang dibangun walaupun belum selesai tapi jenis rumah sudah permanen, meskipun hanya bisa merubahnya sedikit demi sedikit. Kalau untuk pakaian tidak terlalu ada perubahan yang penting setiap lebaran harus beli baju terutama untuk anak-anak. Kalau untuk makanan sebelum dan sesudah melakukan pemindahan lahan, untuk makanan masih sama, yang jelas dalam 1x seminggu masih makan ikan atau ayam. Kendaraan yang bapak miliki awalnya hanya motor bekas tapi sudah dipakai untuk panen sekarang bapak sudah bisa membeli motor baru untuk bepergian sehari-sehari.

Wawancara dengan Bapak MD (48 Tahun) pada tanggal 29 Agustus 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.7 : wawancara dengan bapak MD 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015)

“Go urep nek sak iki yo pas ladang saya tak pindahne ladang pari teko sawet uwes titi sennenglah, yo omah e bapak yo biyen rodok cilik ngonolah, nek sak iki yo uwes tak dandani trus tak gawe kamar mandi, nek biyen yo pas due pari yo gor 1 tahun sekalilah, tapi nek sak iki pas bapak wes pindah ladang yo, iso di omong serenglah kadang-kadang, nek biyek sak durunge bapak pindah pari neg saqwet yo jarang mangan sehat-sehat ngonolah, tapi nek sak iki yo uwes eneklah mangan seng sehat-sehat ngono, nek onda seng bapak due yo podolah karo biyen kae, tapi yo nek sak iki yo due onda lorolah”

(47)

Artinya :

“Untuk hidup sekarang setelah melakukan konversi lahan padi menjadi kelapa sawit sudah sedikit senang. Rumah bapak dulunya kecil, sekarang sudah diperbasar dan dilengkapi dengan kamar mandi. Dulu ketika ada sawah membeli baju hanya 1x setahun sekarang semenjak sudah mengkonversikan lahan padi ke kelapa sawit bisa dikatakan sering untuk membeli pakaian. Dulu ketika masih mimiliki sawah jarang kami yang memakan makanan empat sehat sempurna tapi sekarang setelah melakukan pemindahan lahan kami sudah bisa untuk mencukupi kebutuhan empat sehat lima sempurna. Kendaraan yang bapak miliki masih sama dari dulu sampai sekarang yaitu motor, paling tidak sekarang bapak sudah memiliki dua motor dirumah”.

Wawancara dengan Ibuk YN (44 Tahun) pada tanggal 29 September 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.8 : wawancara dengan bapak YN 44 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015)

“Kalau untuak kahidupan samo se nyo nak, cuman ado lah saketek parubahan kalau untuak umah tu masih samo jo nan dulunyo masih semi parmanen cuman dulu ndak punyo kamar mandi jo wc doh. Sabalum pindah lahan ka kabun sawit untuak mambali baju tu paliang 6

(48)

bulan sakali, kalau alah malkuan pamindahan ko lai lah sakali 3 bulan. Kalau sawit maha kabutuhan makan bisa tapanuhi cuman kalau sawit murah tu apo ado nyo se nyo. Kalau kendaraan daulu lai ado duo kini alah ado tambahnyo ”

Artinya :

“Ya kalau untuk kehidupan itu sama saja cuma ada sedikit mengalami peningkatan. Kalau untuk rumah masih semi parmanen, rumah yang dulunya belum memiliki kamar mandi dan WC sekarang sudah ada kamar mandi dan WC dalam rumah. Sebelum berpindah lahan dari ke kelapa sawit untuk membeli pakaian hanya 6 bulan sekali, setelah melakukan pemindahan lahan ini 3 bulan sekali bisa untuk membeli pakaian. Kalau sawit mahal kebutuhan makan bisa terpenuhi dan kalau sawit murah Cuma makan seadanya. Sebelumnya kendaraan Ibuk Cuma dua tapi sekarang sudah bertambah.

Wawancara dengan Bapak NM (43 Tahun) pada tanggal 29 September 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.9 : wawancara dengan bapak NM 43 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015)

“Nek keluarga saya urong terpenuhilah pas urong pindah ladang sawet iki, tapi yo pas tak pindah ladang alhamdulialhlah urep saya uwes apiklah toko sak durung-durunge kae, nek oamh yo teko biyen sampek sak iki yo podo waelah, nek go tuku kelambi yo pas urong pindah ladang yo go 1 tahun 1 kalilah, tapi sak iki yo rodo gayalah 2 x kadang yo 3 x

(49)

lah teko seminggu kui, nek teko panganan yo podo wae kek saya due pari karo sawet ki, yo nek butuh makanan yo pas biyek karo sak iki yo alhmdulilah cukuplah, nek onda yo biyen due siji, nek sak iki yo nambah siji meneh no”

Artinya :

“Kehidupan keluarga saya masih kurang terpenuhi sebelum melakukan perpindahan lahan sawit, setelah melakukan perpindahan alhamdulilah kehidupan saya lebih baik dari sebelumnya, kalau segi rumah sebelum dan sesudah melakukan perpindahan masih sama, kalau untuk mebeli baju biasanya sebelum melakukan perpindahan lahan 1 tahun 1 x, tapi sekarang setelah melakukan pindah lahan bisa 2 x atau 3 x dalam 1 tahun, ya kalau untuk kebutuhan makan sebelum dan sesudah selalu terpenuhi 4 sehat 5 sempurna, motor sebelum pindah ke lahan sawit saya mempunyai 1 motor, tapi setelah pindah ke lahan sawit nambah 1 motor lagi”

Wawancara dengan Ibuk TR (40 Tahun) pada tanggal 30 September 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.10 : wawancara dengan ibu TR 40 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015)

“Nek go urep keluarga saya sebelum pindah sawet yo biasa-biasa ae no, tapi nek wes tak pindah neg ladang sawet yo lebih sejahterahlah teko sedurung-durunge, nek omah yo ket biyen pas uwes opo urong pindah ladang sawet yo uwes permanen lah, yo biasane go 2 x setahun nek tuku kelabi nek pas urong pindah ladang, neh pas wes pindah ladang yo 4 x

(50)

setahunhlah, nek go butuh e makann yo selalu cukoplah 4 sehat 5 sempurna kui ne, biyen yo due onda tapi nek sak iki yo lagi cicil mobel” Artinya :

“Untuk kehidupan keluarga saya sebelum melakukan perpindahan masih biasa-biasa saja, dan setelah melakukan perpindahan lebih terpenuhi dan tergolong sejahtera, rumah saya sebelum dan sesudah melakukan pindah lahan memang sudah permanen, biasanya membeli pakaian sebelum melakukan pindah lahan cuman 2 x setahun, dan setelah pindah lahan ke sawit saya bisa membeli sekitar 4 x setahun, untuk kebutuhan makanan selalu memenuhi standar kesehatan 4 sehat 5 sempurna, sebelumnya saya punya motor sekarang saya sudah bisa mencicil mobil”

2. Cara pengolaan lahan yang dilakukan petani padi dalam mengkonversikan lahan pertanian padi keperkebunan kelapa sawit di Nagari Sidodadi Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat ?

Wawancara dengan Bapak SK (65 Tahun) pada tanggal 30 september 2015 tentang gaya hidup petani setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :

Gambar IV.11 : wawancara dengan bapak SK 65 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

“Nek go ngolah ladang sawet podo karo ngolah ladang sawet lione opo umumme ngonolah,nek ngolah ladang sawet yo di olah karo dewe wae tros yo karo nganggo alat tradisional, alesanne yo urong due alat-alat seng apek opo canggihlah, nek keluhan karo kendalaya yo alhamdulilah

(51)

teko sak iki yo ora eneklah, nek duek seng tak tokke yo ngolah sawet palengan gor lebeh kurange yo go Rp. 200.000 kro luase gor loro hektar”

Artinya :

“Untuk pengelolaan kebun sawit sama dengan pengelolaan kebun sawit pada umumnya, ada pembibitan, pembuatan lobang, membuat saluran irigasi. Dalam pengelolaan kebun sawit bapak sendiri yang ngelola dan masih menggunakan alat yang tradisional karena bapak belum mempunyai alat modern. Kalau masalah kendala dalam pengelolaan kebun sawit itu sudah pasti ada, karena dalam pengelolaan bapak masih menggunakan alat yang tradisional dan itu membutuhkan waktu yang lama. Masalah biaya yang dikeluarkan tergantung luas lahan sawit yang dimiliki”.

Wawancara dengan Bapak SN (50 Tahun) pada tanggal 30 september 2015 tentang cara pengelolaan perkebunan sawit :

Gambar IV.12 : wawancara dengan Bapak SN 50 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

”Kalau pangolahan sawit nan apak karajoan mambuek lubang sawit jarak 8-9 meter, sudah mambuek lubang baru bisa ditanam bibit sawit, dalam pangolahan apak mangarajoan surang paliang ado urang karajo agak duo urang. Kalau alaik nan apak pakai masih manggunoan alaik tradisonalnyo. Kalau kendalanyo palingan dalam mambuek lubang sabaok dalam mabuek lubang tu kadang-kadang tanahnyo ado batu payah untuak digali. Kalau masalah biaya nan apak kaluan indaklah banyak do. Kiro-”

(52)

Artinya :

“Kalau pengelolaan perkebunan sawit yang bapak lakukan itu membuat lobang sawit dengan jarak 8-9 M, setelah pembuatan lubang kemudian pemberian pupuk pada lubang setelah itu baru bisa di tanam bibit sawit. Dalam pengelolaan bapak mengelola sendiri di bantu dengan tenaga kerja 2 orang. Kalau masalah alat yang digunakan bapak masih menggunakan alat yang tradisional, kendala yang ditemukan palingan dalam pembuatan lobang, karena dalam pembuatan lobang kadang-kadang tanahnya berbatu sehingga sulit untuk digali. Kalau soal biaya yang bapak keluarkan tidak terlalu banyak, sekitar Rp. ± 300.000, itu udah termasuk upah 2 orang tenaga kerjanya”.

Selanjutnya wawancara dengan Bapak AL (48 Tahun), Bapak ZL (58 Tahun), dan Bapak MZ (44 Tahun), juga menuturkan hal yang serupa mengenai pengolahan lahan sawit sebagai berikut :

Gambar IV.13 : wawancara dengan bapak AL, 48 tahun ZL 58 tahun dan MZ 44 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

“Nek seng bapak olah yokaro carane di resek-resek disek panggone seng uwes enek kui sek, tro di kei jara go nandor sawet kui sekitar 9 x 10 m, yo pasti enek tujanne la nek ini sawet wes gede yo ora di ganggu ureppe, la nek kebunne bapak iki ra terlalu luas, dadi bapak ngerjanek dewe wae, alat seng bapak gunakne ngango alat singso, ladan kebun ne bapak ki neg rawa makakne bapak jugakl kanggo alat tradisional go cangkol

(53)

jugakl go gawe irigasi opo kalenan ngono, yoben tanduran sawetki iso cepet kembangn ngono, panglingan kendala sek bapak temui gor hama, la sak iki rego pupok yo lumayan larang sak iki, biasane bapk apek ngona yo jileh duek karo toke sawet, tapi sak iki kan rego sawet anjlok mrdok, dadi ra wani jeleh koyo biasane”

Artinya :

“Pengelolaan sawit yang bapak lakukan dengan cara membersihkan lahan yang sudah ada terlebih dahulu, jarak tanam antar pohon 9 x 10m tujuannya supaya nanti setelah sawit ini besar tidak terganggu pertumbuhannya. Perkebunan sawit yang bapak miliki tidak terlalu luas dan bapak memutuskan untuk mengelola sendiri kebun sawit bapak. Untuk pengelolaan sawit bapak sudah menggunakan sinso, lahan perkebunan sawit terdapat didaerah rawa maka jadi bapak juga menggunakan alat tradisional seperti cangkul untuk pembuatan irigasi agar tanaman sawit mudah berkembang dengan cepat. Kendala yang sering bapak temui dalam pengelolaan sawit yaitu banyaknya hama, harga pupuk mahal. Biasanya untuk keperluan pengelolaan sawit bapak meminjam uang kepada pembeli sawit tetapi karena harga sawit yang murah saat ini, pembeli sawit tidak bisa meminjamkan uang seperti biasanya”.

Selanjutnya wawancara dengan Bapak TN (40 Tahun), Bapak SN (40 Tahun), juga menuturkan hal yang serupa mengenai pengolahan lahan sawit sebagai berikut :

Gambar IV.14 : wawancara dengan bapak TN 40 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

“Pangolahan lahan nan apak karajoan biasonyo pambibitan sawit, mambuek lubang tu baru ditanam. Sawit nan apak punyo labiah dari duo tumpak tu apak ndak talok mangalolanyo surang makonyo apak

(54)

mangarajoan urang untuak pangolahannyo. Waktu pengolahan sawit tu alaik nan apaak pakai masin babat untuak manabang rumpuik supayo sawit ko ndak taganggu dalam partumbuhannyo. Kalau kendala dalam pengelolaan sawit ko palingan mancari urang untuak namuach karajo tu nan payah. Karano urang tu alah banyak karajo ka pabrik, nyo ingin karajo nan tatap supao bisa manuhi kabutuhan hidupnyo, kalau harago tu tagantuang bibit sawit nan apak punyo.

Artinya :

“Pengelolaan lahan yang bapak lakukan biasanya terlebih dahulu dilakukan dengan cara pembibitan sawit, pembuatan lobang dan baru menanami bibit yang sudah layak ditanami. Karena sawit yang bapak miliki melebihi dua titik jadi bapak tidak sanggup untuk mengelolanya sendiri maka dari itu bapak butuh karyawan untuk pengelolaannya. Dalam pengelolaan sawit bapak menggunakan mesin babat untuk membabat rumput agar tanaman sawit tidak terganggu pertumbuhannya dan. Kendala yang bapak temui dalam pengelolaan sawit diantaranya sulitnya mencari tenaga kerja untuk menggelola sawit, dengan bannyaknya masyarakat yang sudah beralih pekerjaannya ke Perusahaan karena masyarakat tersebut ingin mencari pekerjaan yang tetap agar kebutuhannya terpenuhinya. Kalau untuk biaya pengelolaan sawit tergantung harga bibit sawit yang bapak inginkan,”.

Selanjutnya wawancara dengan Ibuk SS (48 Tahun), menuturkan hal tentang pengolahan lahan sawit sebagai berikut :

Gambar IV.14 : wawancara dengan Ibuk SS 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

“Nek go pengelolaan seng bapak lakukne yo teko mulai pembibitan sawet te, tros ngeresik e ladange kui, tros di tandor, tros gek dipopok, nek pengolahan iki bapak dewe seng ngolah e, teko mulai nandur sampek panen kui bpak dewe, yo tapi kadang-kadang bapak golek wong kerjo,alat seng

(55)

bapak enggo yo berupa sabet, cangkul, parang teng go nyemprot hama, nek masalh yo palengan go kurang modal opo duek ngonolah dan ijek karo alat seng sederhana wae”

Artinya :

“Pengelolaan lahan yang bapak lakukan dimulai dari pembibitan sawit, pembersihan lahan, penanaman, pemupukan. Untuk pengelolaan sawit, bapak lakukan sendiri mulai dari perawatan sampai panen tapi kadang-kadang bapak upahkan kepada orang lain sebagai pekerja di kebun sawit bapak. Alat yang bapak gunakan berupa sabit, cangkul, parang, teng untuk pemberantasan hama. Kendala yang yang ditemukan dalam pengelolaan sawit kurangnya modal, dan masih dengan alat yang sederhana”.

3. Pembahasan

Pada pembahasan ini akan dibahas hasil penelitian Studi Tentang Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Sidodadi Kenagarian Kinali Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat

Pertama, Pendapatan petani padi sawah setelah melakukan konversi lahan padi menjadi perkebunan kelapa sawit di Desa Sidodadi yaitu setelah melakukan konversi lahan masyarakat Sidodadi pendapatannya mengalami peningkatan sehingga masyarakat sidodadi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan pokok, pendidikan dan lain sebagainya. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan penerimaan bersih. Pendaptan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi ( Rahim, dkk :2007).

Menurut Rosjidi dalam Irawan (2013) menyatakan bahwa pendapatan adalah peningkatan jumlah aktiva atau penurunan jumlah

(56)

kewajiban perusahaan, yang timbul dari transaksi penyerahan barang dan jasa atau aktivitas usaha lainnya, dalam suatu periode yang dapat diakui dan diukur berdasarkan prinsip akuntansi berlaku umum. Pengertian yang dikemukakan oleh Rosjidi bermaksud bahwa, penyerahan barang atau jasa atau aktivitas usaha lainnya itu adalah yang berhubungan secara langsung dengan kegiatan untuk memperoleh laba usaha yang dapat mempengaruhi terhadap jumlah pemilik.

Kedua, Gaya hidup masyarakat sidodadi setelah melakukan konversi lahan yaitu gaya hidup masyarakat sidodadi setelah konversi lahan mengalami peningkatan karna bisa di lihat dari bentuk rumahnya, yang dulu permanen dan sekarang sudah permanen, kemudian sudah memiliki kendaraan lebih dari satu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan penerimaan bersih. Pendaptan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi ( Rahim, dkk :2007).

Istilah gaya hidup (lifestyle) sekarang ini kabur. Sementara istilah ini memiliki arti sosiologis yang lebih terbatas dengan merujuk pada gaya hidup khas dari berbagai kelompok status tertentu, dalam budaya konsumen kontemporer istilah ini mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu. Tubuh, busana, bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaraan dan pilihan hiburan, dan seterusnya dipandang

Figur

Tabel IV.1 jumlah penduduk dan mata pencarian  Jumlah  Penduduk  Jenis Kelamin  Mata Pencarian  Laki-laki  Perempuan  63.489  31.593  31.796  Petani   Wiraswasta   Sumber : kantor Wali Nagari Kinali (2014)

Tabel IV.1

jumlah penduduk dan mata pencarian Jumlah Penduduk Jenis Kelamin Mata Pencarian Laki-laki Perempuan 63.489 31.593 31.796 Petani Wiraswasta Sumber : kantor Wali Nagari Kinali (2014) p.38
Gambar IV.1 : wawancara dengan ibu TN 48 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 28 Agustus 2015)

Gambar IV.1 :

wawancara dengan ibu TN 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015) p.40
Gambar  IV.2  :  wawancara  dengan  bapak  ZN  42  tahun  (Dokumentasi  pada tanggal 28 Agustus 2015)

Gambar IV.2 :

wawancara dengan bapak ZN 42 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015) p.41
Gambar IV.3 : wawancara dengan bapak  CR 46 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 28 Agustus 2015)

Gambar IV.3 :

wawancara dengan bapak CR 46 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015) p.42
Gambar  IV.4  :  wawancara  dengan  bapak  SW  55  tahun  (Dokumentasi  pada tanggal 28 Agustus 2015)

Gambar IV.4 :

wawancara dengan bapak SW 55 tahun (Dokumentasi pada tanggal 28 Agustus 2015) p.43
Gambar IV.5 : wawancara dengan bapak WH 43 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 29 Agustus 2015)

Gambar IV.5 :

wawancara dengan bapak WH 43 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015) p.44
Gambar  IV.6  :  wawancara  dengan  bapak  MR    53  tahun  (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015)

Gambar IV.6 :

wawancara dengan bapak MR 53 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015) p.45
Gambar  IV.7  : wawancara dengan bapak MD  48 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 29 Agustus 2015)

Gambar IV.7 :

wawancara dengan bapak MD 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 29 Agustus 2015) p.46
Gambar  IV.8  :  wawancara  dengan  bapak  YN  44  tahun  (Dokumentasi  pada tanggal 30 Agustus 2015)

Gambar IV.8 :

wawancara dengan bapak YN 44 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015) p.47
Gambar  IV.9  : wawancara dengan bapak NM  43  tahun (Dokumentasi  pada tanggal 30 Agustus 2015)

Gambar IV.9 :

wawancara dengan bapak NM 43 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015) p.48
Gambar  IV.10  :  wawancara  dengan  ibu  TR  40  tahun  (Dokumentasi  pada tanggal 30 Agustus 2015)

Gambar IV.10 :

wawancara dengan ibu TR 40 tahun (Dokumentasi pada tanggal 30 Agustus 2015) p.49
Gambar IV.11 : wawancara dengan bapak SK 65 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 31 Agustus 2015)

Gambar IV.11 :

wawancara dengan bapak SK 65 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015) p.50
Gambar IV.12 : wawancara dengan Bapak SN  50 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 31 Agustus 2015)

Gambar IV.12 :

wawancara dengan Bapak SN 50 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015) p.51
Gambar IV.13  : wawancara dengan bapak AL, 48 tahun ZL 58 tahun  dan MZ 44 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015)

Gambar IV.13 :

wawancara dengan bapak AL, 48 tahun ZL 58 tahun dan MZ 44 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015) p.52
Gambar IV.14 : wawancara dengan bapak TN 40 tahun (Dokumentasi  pada tanggal 31 Agustus 2015)

Gambar IV.14 :

wawancara dengan bapak TN 40 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015) p.53
Gambar  IV.14  :  wawancara  dengan  Ibuk  SS  48  tahun  (Dokumentasi  pada tanggal 31 Agustus 2015)

Gambar IV.14 :

wawancara dengan Ibuk SS 48 tahun (Dokumentasi pada tanggal 31 Agustus 2015) p.54
Foto 1. Saat pengambilan data di dinas pertanian kecamatan kinali  kabupaten pasamn barat (dokumen penelitian)

Foto 1.

Saat pengambilan data di dinas pertanian kecamatan kinali kabupaten pasamn barat (dokumen penelitian) p.97
Foto 2.  Foto penelitian denagn bapak misran yang mengkonversikan  lahannya (dokumentasi penelitian)

Foto 2.

Foto penelitian denagn bapak misran yang mengkonversikan lahannya (dokumentasi penelitian) p.98
Foto 3. Foto penelitian dengan ibu yatmi petani yang mengkopnversikan  lahanya (dokumen penelitian)

Foto 3.

Foto penelitian dengan ibu yatmi petani yang mengkopnversikan lahanya (dokumen penelitian) p.99
Foto 4. Foto penelitian Denagn salah satu petani sawit (dokumen penelitian)

Foto 4.

Foto penelitian Denagn salah satu petani sawit (dokumen penelitian) p.100
Foto 5. Dengan petani yang mengkonvesikan lahannya (dokumen penelitian)

Foto 5.

Dengan petani yang mengkonvesikan lahannya (dokumen penelitian) p.101
Foto 6. Foto buah sawit yang  sudah di panen (dokumentasi penelitian)

Foto 6.

Foto buah sawit yang sudah di panen (dokumentasi penelitian) p.102
Foto 7. Foto penelitian  kebun sawit dari kejauh han (dokumentasi  penelitian)

Foto 7.

Foto penelitian kebun sawit dari kejauh han (dokumentasi penelitian) p.103
Foto 8. Foto pengambilan data ke 2 (dokumentasi penelitian)

Foto 8.

Foto pengambilan data ke 2 (dokumentasi penelitian) p.104
Foto 9. Foto kebun sawit dari kejauhan,dari atas (dokumentasi penelitian)

Foto 9.

Foto kebun sawit dari kejauhan,dari atas (dokumentasi penelitian) p.105

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :