DITINJAU DARI BEKERJA ATAU TIDAKNYAISTRI
Disusun Oleh :
Nama : Teddy S Hartanto No.Mhs : 97320101
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS PSIKOLOGI
YOGYAKARTA 2003
Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Ujian Akhir
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Jenjang Strata 1
Program Study Psikologi Pada
Fakuttas p'sikologi Ull
Dewan Penguji
1. Drs. Haryanto Sentot. M.Si
2, Drs.Koentioro. M.BSc.Ph.D.
3. Sonny Andnanto S.Psi
Pada tanggal :
Mengesahkan :
FAKlLTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
/:>
V '"': .Dr. jbukarti
/
/ / /
Kupersembahlian Karya sederhana ku ini untuk :
*> Allah SWTdengan ridho-Nya
*> Ayahanda dan Ibunda dengan tetes air mata dan keringatnya
yang abadi didalam menemaniku di medan pendidikanku
♦♦♦ Kakak-kakaku tercinta dalam Sahara penanlian
•:• Yulie dengan kasih tulusnya didalam kebimbangan hariku
V30T70
^rja adalab cinta yang mengejawantab
dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta,
banya dengan enggan maka lebib baiklab jika engkau
meninggalkannya
CKahlil <=§ibran)
Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
Al-hamdulillahirobbilalamin Peneliti panjatkan puja dan puji syukur yang
sedalam-dalamnya kehadirat Allah SWT atas limpalian berkah, rahmat, taufik dan hidayah-Nya. Hanya dengan perkenan-Nya jualah akhirnya peneliti dapat merampungkan tugas penelitian yang sederhana ini.
Demikian pula sholawat dan salam semoga tetap dilimpahkan-Nya kepada
junjungan Nabi besar Muhammad Saw. Beliaulah yang membuka jalan bagi umat
manusia dari samudra yang penuh kedhaliman menuju pantai yang syarat kedamaian. Setapak demi setapak saat-saat yang melelahkan akhirnya membuahkan hasil sebagai pertanda jerih payah dalam penelitian ini terwujud. Sungguh nikmat tiada tara atas karunia Allah SWT, yang karena ijin-Nya, dari awal hingga akhir penelitian ini ini terwujud. Oleh karena itu peneliti patut mensyukuri atas semua yang
dilimpahkan-Nya.
Semenjak usulan penelitian ini diajukan sampai berakhirnya penelitian ini tidak sedikit bantuan serta dorongan yang penulis terima dari berbagai fihak, akan tetapi tentu tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu dalam kolom yang sempit ini. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang
Secara khusus penulis juga harus menghaturkan terima kasih , kepada :
1. Ibu Dr.Sukarti, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.
2. Bapak Drs.Haryanto, MSi selaku dosen pembimbing I yang banyak kesabaran memberikan masukan, kelancaran, serta bimbingannya dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Mbak Mira S.Psi selaku Dosen pembimbing 11 yang rela rnengorbankan
banyak waktunya untuk membicarakan isi skripsi ini.
4. Bapak Fuad Nashori, MSi selaku Dosen pembimbing akademik
5.
Bapak dan Ibu yang senantisa selalu rnengorbankan harta dan menyerukan
doa serta kasih sayangnya yang tiada tara.
6. Kakak-kakakku tercinta abang Budy, mbak Lis dan mas Harjo, mas Heri, mas
Ardi yang selalu setia mensuportku untuk selalu tegar dalam menghadapi
cobaan dan kegagalan, serta keponakanku Risky, Nadya, Nandar dengan
keluguannya mampu membuatku selalu tersadar untuk menyelesaikan skripsi
ini.7. Yulie dengan kesabarannya dan suportnya serta sebagai teman penunjuk arah
bagi langkah ku untuk semakin tahu makna aku beragama.8. Warno sekeluarga yang telah bermurah hati meminjamkan komputemya
sampai terselesaikannya skripsi ku9. Teman-teman Emboen yang selalu merindukan embun sesungguhnya, Sani,
just Opick, Alex cuper, Ian, Hamli, merson, Boby atas kebaikan dalam
menuntun arah skripsiku dan P.S nyaHeni, Mayla, Uni, Ari Wijayanti,Devi risma,Uus, Reyna, danNuna.
11. Segenap dosen dan Karyawan dan seluruh keluarga besar fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia yang telah banyak memberikan bantuan.
Akhirnya kepada Allah semuanya saya kembalikan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna sehingga saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin ya
robbal Alamiin.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PERSEMBAHAN iii
MOTTO iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB I . PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan penelitian 10
C. Manfaat Penelitian 10
BAB II. LANDASAN TEORI 11
A. Kepuasan Perkawinan 11
1. Pengertian Perkawinan 11
2. Faktor-Faktor dalam Perkawinan 12
3. Macam-Macam Bentuk Perkawinan 14
5.Aspek-Aspek dalam Kepuasan perkawinan Suami 17 6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan
dalam Perkawinan Suami 18
B. Istri Bekerja dan Istri Tidak Bekerja 21
1. Pengertian Bekerja 21
2. Pengertian Istri Bekerja 23
3. Aspek-aspek Istri Bekerja 24
4. Faktor-faktor Istri Bekerja 26
5. Pengertian Istri Tidak Bekerja 28
6. Aspek-aspek Istri Tidak Bekerja 28
7. Faktor-faktor Istri Tidak Bekerja 30
C. Kepuasan Perkawinan berdasarkan Status
Bekerja atau tidaknya Istri 31
D. Hipotesis 36
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian 37
B. Definisi Operasional Penelitian 37
C. Subyek Penelitian 38
D. Metode Pengumpulan Data 38
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 40
F. Metode Analisis Data 41
BAB IV. LAPORAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 42
A. Persiapan Penelitian 42
1. Orientasi Kancah Penelitian 42
2. Perizinan Penelitian 43
3. Perangkat Pengumpulan Data 43
4. Uji Coba Alat Ukur 44
5. Hasil Uji Coba Alat Ukur 45
B. Pelaksanaan Penelitian 48
C. Hasil Analisis Data 49
D. Pembahasan 52 BAB V. PENUTUP 58 A.Kesimpulan 58 B.Saran-saran 59 DAFTAR PUSTAKA 60 LAMPIRAN 65
Halaman
TABEL
1. Bagan Dinamika Kepuasan perkawinan Suami 35
2. Kisi-kisi Kepuasan Perkawinan 40
3. Jenjang Pangkat berdasarkan instansi 43
4. Distribusi Nomer Aitem Sahih Angket
Kepuasan Terhadap Perkawinan 47
5. Jumlah Subjek Menurut Usia, Usia Perkawinan, dan
Tingkat Pendidikan 49
6. Deskripsi data Hipotetik Kepuasan Perkawinan 51
7. Deskripsi data Kepuasan perkawinan suami
ditinjau dari Istri bekerja dan Istri Tidak bekerja 51
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN Halaman
1. Data kasar 66
2. Perhitungan jumlah Sampel 68
3. Perhitungan Validitas dan Reliabilitas
Kepuasan Perkawinan 69
4. Data Kategori Mean Hipotetik 72
5. Data Kategori Mean Empirik 73
6. Perhitungan dan hasil Analisis Uji-t 74
7. Angket Kepuasan Perkawinan 76
8. Surat Bukti Penelitian 80
DITINJAU DARI BEKERJA ATAU TID AKNYA
ISTRI
SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Ujian Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Jenjang Strata 1
Program Study Psikologi Pada Fakultas Psikologi UII
Yogyakarta
Disusun Oleh:
Nama
: Teddy S Hartanto
No. Mhs : 97320101
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS PSIKOLOGI YOGYAKARTA
Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Ujian Akhir
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Jenjang Strata 1
Program Study Psikologi Pada
Fakultas Psikologi till
Dewan Penguji
i. Drs.Haryanto Sentot. M.Si
2. Drs.Koentioro. M.BSc.Ph.D.
J. Sonny Andnanto S.Psi
Pada tanggal:
Mengesahkan :
FAKULTAS PSIKOLOGI
I MVERSITAS ISLAM INDONESIA
fi :••• Dekarf I V v \ ' Dr. jSukarti ;.y / i
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Era globalisasi saat ini telah menimbulkan berbagai perubahan pada kehidupan masyarakat yang lazim disebut perubahan sosial (Suyono, 1996). Perubahan dan pola pembaharuan kehidupan yang berlangsung di sekitar kita terus inenerus juga akan membawa akibat tertentu pula diantaranya timbul rangsangan-rangsangan terhadap tata nilai yang menopang kehidupan budaya
masyarakat termasuk di dalamnya nilai-nilai perilaku ataupun sikap-sikap dalam
masyarakat.
Manusia diharapkan untuk dapat mengantisipasi segala kemungkinan dampak perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena dengan demikian
manusia akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan segala perubahan yang akan terjadi akibat dari perubahan sosial tersebut.
Perubahan dan pola pembaharuan kehidupan yang sedang berlangsung di sekitar kita secara terus menerus juga akan membawa akibat sosial tertentu pula. Di antaranya timbul rangsangan-rangsangan terhadap tata nilai yang menopang kehidupan budaya masyarakat, contoh yang paling kongkrit adalah perkawinan.
Perkawinan adalah suatu akad atau pernikahan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang
kepuasaan dalam perkawinan adalah dambaan suami istri. Kepuasaan perkawinan
adalah persepsi seseorang terhadap kehidupan perkawinan yang dijalamnya
diukur dari besar kecilnya kebahagiaan yang diperoleh pada waktu tertentu
(Thibout dan Khelley, 1978)Hurlock (1980) menyatakan berbagai macam penyesuaian yang hams
dilakukan oleh suami istri agar dapat tercapai kepuasan dalam perkawinan yaitu
(1) penyesuaian terhadap perubahan peran, yaitu kecenderungan yang akan
membentuk
sikap dan
penlaku
individu
terutama
bennteraksi
dengan
pasangannya. (2) penyesuaian terhadap pasangan, yaitu persahabatan dalam
pernikahan berupa pergaulan yang menyenangkan antara suami dan istri. (3)
penyesuaian dalam hubungan seksual, yaitu keintiman dalam pernikahan yang
meliputi ekspresi kasih sayang. (4) penyesuaian secara potensial maupun aktual
dalam ketidakstabilan perkawinan yaitu kerjasama, penyatuan perbedaan dan
penyelesaian konflik yang dialami individu. (5) penyesuaian dalam masalah
keuangan, dan (6) penyesuaian dalam keluarga pasangan, yaitu kemampuan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan dalam hubungannya dengan keluarga pasangannya.
Pada dua dekade lalu seorang ibu rumah tangga jarang "keluar rumah", rnereka lebih banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan mengurus suami, anak-anak dan urusan rumah tangga lainnya. Sekarang im baik pna maupun wanita dituntut untuk turut serta berperan dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa. Bukan kaum pria saja yang berhak bekerja di luar rumah, kaum wanita pun
pria.
Al Qur'an tidak pernah menegaskan bahwa wanita harus berada di dalam
rumah dan pria berada di luar rumah. Tugas pna sebagai suami adalah mencari
nafkah untuk keluarga, menyediakan segala kebutuhannya dan melindungi
anggota-angotanya. Kewajiban wanita sebagai istri adalah untuk mengatur rumah
tangga dengan apa yang di dapat oleh suami dan menyediakan faktor-faktor
kesenangan bagi suami dan anak-anaknya yang sebanyak-banyaknya dan
memperhatikan pendidikan anak-anaknya (Ahnan dan Rozi, 1997)Adapun dalam Al Qur'an surat Annisa ayat 34 menyatakan, yang artinya:
Laki-laki adalahpemimpin atasperempuan -perempuan karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(perempuan) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dan harta-hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh lalah yang taat kepada Allah lagi memelihara din dibalik belakang
suaminya sebagaimana Allah telah memeliharakan dirinya. Dan
perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka maka nasehatilah mereka pisahkanlah (dirimu) dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka jika mereka telah taat kepadamu maka janganlah kamu
mencari-cari jalan (untuk menyusahkanya) sesungguhnya Allah lagi Malta
Tinggi dan lagi Maha Besar.
Maksud ayat di atas menurut Ahnan dan Rozi (1997) dapat diartikan sebagai berikut:
1.Tugas regenerasi manusia oleh wanita 2. Tugas memimpin oleh pna
3. Tugas mendidik anak oleh pria dan wanita
Jadi peran wanita dalam kehidupan sehan-hari ada berbagai macam,
n segala urusan rumah tangga serta dapat membimbing anak-anaknya
dengan baik. Sehingga emansipasi wanita haras ditempatKan paua suatu pekerjaan
yang benar dan tidak menyirnpang dan kodratnya sebagai seorang wanita.
Saat ini tidak sedikit ibu ruffian tangga yang harus keluar seharian untuk ikut rnenarnbah penghasilan bahkan sebagian istri bukan seKCuar memuantu suami
tetapi untuk mengembangkan kanr. Berdasarkan kenyataan yang seperti ini, maka
peran wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga tetapi sebagai wanita pencan
nafkah atau wanita kanr (Mosse, 1996).
Wanita sebagai pekerja adalah wanita yang melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dan wanita yang tidak bekerja adalah wanita yang tidak mempunyai kegiatan atau mempunyai kegiatan tapi bukan untuk rnenambah penghasilan keluarga (Ihromi, 1990/ Pandangan dari sisi pertama wanita memiliki peranan dalam rumah tangga sebagai pencan nafkah disamping suami dan sebagai hasil pokok dari pekerjaannya yang pada dasarnya untuk
kelangsungan hidup dan kesejahteraan serta kehannomsan keluarga.
Istri yang tidak bekerja adalah wanita yang yang tidak pernah lepas dari
kodratnya yaitu menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga (Rahayu, 1992), sehingga mampu menciptakan kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangganya dengan cinta kasih yang tulus ikhlas dan setia serta mampu mendampingi suaminya baik suka maupun duka, dapat menyediakan atau menyelenggarakan tugas-tugasnya dengan baik, dalam rumah tangga, mengatasi
kerumahtanggaan.
Seiring dengan perubahan jaman dunana fungsi wanita tidak hanya
sebagai ibu rumah tangga yang hanya melayani suami namun juga adanya kesempatan bagi wanita untuk bekerja dan mengembangkan karir di luar rumah. Peran ganda wanita mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dan alasan ekonomi, mengisi waktu atau mengembangkan karir. Hal ini tidak terlepas dan
tuntutan ekonomi yang makin tinggi dan kesempatan perempuan untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih baik. Catatan Biro Pusat Statistik (1994) didapati
peningkatan angka partisipasi kerja wanita 32,4% ditahun 1980 menjadi 45,4%
pada tahun 1993. Laju pertumbuhan angkatan kerja wanita juga lebih tinggi dan
pria yaitu sebesar 4,4% pada wanita sedang pria hanya 3,1% dalam kurun waktu 1980-1990.
Wanita dalam dunia kerja khususnya yang telah bekeluarga perannya
dalam pembangunan bukan hanya sekedar masalah hak asasi melainkan menyangkut masalah pertumbuhan ekonomi (Suratiyah, 1994), sehingga emansipasi wanita harus dapat ditempatkan pada suatu pekerjaan yang benar dan tidak menyimpang dan kodratnya sebagai seorang wanita.
Keinginan bekerja dari kaum wanita saat ini merupakan suatu keinginan
yang wajar, dimana-mana dapat kita jumpai wanita yang bekerja di luar rumah di berbagai lapangan pekerjaan, bagi wanita yang belum menikah hal tersebut tidak menjadi masalah akan tetapi bagi wanita yang telah menikah dan telah menjadi
ibu dari beberapa anak tidaklah jarang muncul hal-hal yang tidak dikehendaki pada diri anak ataupun rumah tangganya.
Contoh yang dapat diambil adalah di Daerah Istimewa Yogyakarta dimana banyak menghasilkan wanita pekerja atau tenaga kerja wanita, angka perceraian dalam tahun 2000 sampai dengan tahun 2001 meningkat dari 5,4% menjadi 5,9% Faktor perceraian ini di dominasi oleh masalah ekonomi (BP 4, 2001). Tuntutan ekonomi yang tinggi menyebabkan istri ingin bekerja membantu suami. Bekerjanya istri disatu sisi mengangkat perekonomian keluarga namun disisi lain suami merasa tidak puas karena rumah akan berantakan dan anak-anak terlantar (Barnhouse, 1988). Sebagai contoh wanita yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri biasanya anak-anak mereka diasuh oleh kakek ataupun neneknya karena ayahnya juga sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Tidaklah aneh jika seorang anak kecil tumbuh dewasa tanpa kehadiran orang tuanya setiap saat. Hendaknya jangan dilupakan jika kehadiran ibu sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya (Dagun, 1990). Heins dan Martin (Ewen dan Barling, 1991) menyatakan anak-anak dari ibu bekerja lebih sering sakit dibandingkan dengan anak-anak dari ibu tidak bekerja.
Selain fakta yang disebutkan di atas masalah yang dapat mengurangi kepuasan perkawinan suami sehingga memicu terjadinya perceraian dalam keluarga berkaitan dengan istri bekerja (Terbit, 1995) adalah (1) masalah uang, melalui penghasilan yang diperoleh dapat membeli atau melakukan apa saja yang disukainya sehingga kadang-kadang ada kecenderungan istri untuk merendahkan pria dalam berbagai hal karena rasa sudah mapan dan mampu. Akibatnya suami
dalam dunia kerja menyebabkan waktu yang dipergunakan untuk mengurus keluarga menjadi sempit, sehingga tidak jarang ada keluhan dari suami karena
merasa kurang mendapat perhatian dari istri. (3) Masalah kemandirian istri, suami merasa tidak lagi dibutuhkan atau sudah tidak lagi dibutuhkan atau sudah tidak lagi menjadi orang utama dalam kehidupan seorang istri karena seorang istri yang bekerja lebih mampu mengambil keputusan sendiri. (4) pembagian kerja (Wirutomo, 1994) pembagian kerja dapat menyebabkan pertengkaran suami istri.
Tidak jarang suami merasa malu bila istrinya bekerja diluar rumah karena hal itu dianggap melanggar kodrat atau menyalahi aturan yang ada.
Senada dengan pendapat ini Staines dkk, (1986) mengemukan bahwa bekerjanya istri mempunyai dampak positif bagi kesehatan mental istri dan sebaliknya mempunyai dampak negatif bagi kesehatan mental suami yang masih berpegang pada peran tradisional. Suami yang berpegang pada peran tradisional menganggap bahwa kesuksesan istri sebagai kegagalan diri khususnya bila
kesuksesan tersebut menyebabkan pekerjaan yang lebih besar pada pekerjaan di
luar rumah dan mengurangi waktu untuk keluarga sehingga suami merasa
tersisihkan (Shaevitz, 1989/ Berdasarkan penelitian Ariwibowo (1993)
mengungkapkan bahwa suami yang berpegang pada peran tradisional dalam rumah tangga ganda memiliki tingkat stres yang tinggi dibanding suami berperan modern. Tingkat stres yang tinggi tersebut disebabkan oleh peran yang kaku dan
tidak bervariasi. Suami yang istrinya tidak bekerja merasa lebih sukses dalam
8
masyarakat tradisional suami adalah satu-satunya sumber daya perekonomian keluarga, ini menyebabkan suami merasa keberatan jika istrinya bekerja diluar rumah. Alasan yang dikemukakan para suami ialah berkurangnya waktu yang seharusnya diperuntukkan bagi suami dan anak-anak sehingga suami lebih serius untuk memikirkan mengenai kehidupan dan kebahagiaan keluarga (Bisnis Indonesia, 1995) Kerugian terbesar bagi suami memiliki istri bekerja dalam pandangan suami yang umum adalah bukan pada anak-anaknya tetapi pada dirinya sendiri, suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan urusan-urusan rumah yang tidak disukainya (Bernbach dalam Dowling, 1992).
Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan di atas Laswell dan Laswell (1987) menyimpulkan bahwa suami dengan istri bekerja mempunyai kepuasan perkawinan yang lebih tinggi dari istri tidak bekerja, hal ini ditunjukkan dengan adanya dampak stres yang lebih rendah dibanding suami dengan istri tidak bekerja. Booth (Laswell dan Laswell, 1987) menyatakan bahwa hasil tambahan dari istri mengurangi stres mereka. Selanjutnya Laswell dan Laswell menyatakan bahwa suami dengan istri bekerja memiliki usia perkawinan yang lebih baik dibandingkan dengan suami dengan istri tidak bekerja. Richardson, Kessler dan Mc Rae (Laswell dan Laswell, 1987) menyatakan sebanyak 12% laki-laki dengan penghasilan dibawah istrinya merasa tidak ada masalah (data didapat dari
Michigan Institut For Social Reseach), alasan utama para suami adalah pekerjaan istri pada bidang wanita sehingga tidak mengganggu self esteem para suami.
suami merasa bahwa istri yang bekerja justru membawa dampak positif bagi keluarga.
ditentukan oleh seberapa banyak suami dan istri dapat memenuhi kebutuhan masing-masing pasangannya dan seberapa banyak kebebasan dalam hubungan tersebut untuk membiarkan setiap anggotanya dalam mendapatkan kebutuhan mereka dengan kata lain kebutuhan pasangan maupun kebutuhan diri sendiri. Kepuasan bukan hanya dari hasil upaya dari orang lain terhadap diri seseorang namun apa yang dilakukan seseorang terhadap orang lain juga dapat mendatangkan kepuasan bagi orang tersebut (Staub, 1978/
Melihat perbedaan yang demikian yaitu istri yang bekerja di luar rumah dan istri yang tidak bekerja akan mempengaruhi tingkat kepuasan dalam rumah tangga penulis ingin menuangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul
"Perbedaan Kepuasan Perkawinan Suami Berdasarkan Status Bekerja atau Tidaknya Istri".
B. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris apakah ada perbedaan kepuasan perkawinan suami ditinjau dari istri yang bekerja dan istri yang tidak bekerja.
C. Manfaat Penelitian
10
1. Secara teoritis:
Sebagai pengembangan khasanah ilmu pengetahuan Psikologi Perkembangan pada umumnya, serta pengembangan Psikologi Sosial pada khususnya.
2. Secara praktis:
Sebagai bahan informasi yang penting bagi masyarakat dalam memahami dan mengerti tentang berbagai hal yang menyangkut masalah perkawinan, agar didapat gambaran yang jelas mengenai bagaimana membina rumah tangga yang yang baik, sehingga nantinya dapat menciptakan suatu keharmonisan di
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kepuasan Perkawinan Suami
I. Pengertian Perkawinan
Manusia
adalah
makhluk
sosial
yang
dalam
kehidupannya
pasti
membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Interaksi yang dilakukan orang per
orang tersebut pada akhirnya akan melahirkan kelompok-kelompok kecil yang
terbentuk karena adanya tujuan yang sama, motivasi yang sama dan adanya norma
yang disepakati bersama, dalam konteks ini adalah perkawinan yang sah.
Perkawinan yang sah maka dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan akan
terjadi secara terhormat, sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang
berkehormatan Karena itu tempatnyalah apabila Islam mengatur masalah
perkawinan dengan amat teliti dan terpennci, untuk membawa umat manusia
hidup berkehormatan sesuai kodratnya yang mempunyai kedudukan yang amat
mulia ditengah-tengah makhluk Allah yang lain. Seperti tercantum dalam Al
Qur'an Surat An-Nur ayat 32 yang artmya:
" Dan kawmkanlah orang-orang yang sendinan, laki-laki yang tidak
benstri dan perempuan yang tidak bersuami dtantara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dart hamba-hamba sahayamu yang laki-laki
maupun perempuan; bila mereka miskin Allah akn memberi kecukupan
dengan karuniaNya dan dia maha mengetahui pen keadaan
hamba-hambaNya ".Basyir (2000) menyatakan pekawinan adalah suatu akad atau pernikahan
untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam
12
rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman
serta kasih sayang dengan cara yang diridhoi Allah SWT. Menurut Landis dan
Landis (1963) perkawinan adalah komitmen antara sepasang manusia untuk hidup
bersama. Sepasang manusia yang dimaksud adalah laki-laki dan perempuan memiliki keterikatan untuk hidup bersama dan mereka memiliki kesepakatan
tertentu yang mereka inginkan. Senada dengan pendapat ini Hoult (Laswell dan
Laswell, 1987) Perkawinan adalah proses pelembagaan suatu hubungan antara
seorang laki-laki dan seorang wanita dengan tujuan membentuk sebuah keluarga,
yang diawali dengan suatu upacara tertentu dan pada umumnya ikatan tersebut
akan dipertahankan.
Uraian di atas menunjuk pada suatu kesunpulan yaitu pernikahan adalah Suatu akad yang menghalalkan hubungan kelamm antara wanita dan pria dan
mereka memiliki keterikatan untuk hidup bersama dengan tujuan membentuk suatu keluarga.
2. Faktor-faktor dalam Perkawinan
Ada dua faktor yang mempengaruhi seseorang memasuki institusi perkawinan (Clayton dalam Anggraini 1995) yaitu faktor pendukung dan faktor penarik. Faktor pendukung me\ip\xt\:
1. Kelaziman
Bentuk kehidupan bersama dalam wadah perkawinan merupakan hal yang lazim dalam masyarakat sosial, karena manusia diciptakan berpasangan.
2. Cinta
Cinta masih menempati urutan pertama mengapa seseorang menikah karena itu cinta merupakan salah satu faktor pentmg mengapa seseorang menikah, dengan adanya cinta seseorang mau melakukan pernikahan.
3. Legitimasi Seksual
Masyarakat secara formal mengharamkan hubungan seksual di luar
pernikahan. Hubungan seks dianggap legal jika dilakukan pasangan yang
terikat daiam wadah perkawinan yang sah. 4. Legitimasi anak
Merupakan faktor pendorong karena anak hasil perkawinan akan mewarisi sifat orang tuanya dan akan meneruskan garis keturunan orang tuanya.
Faktor pendukung di atas adalah faktor yang menunjang perkawinan suami dan istri. Selain itu faktor kedua setelah faktor pendukung yang mempengaruhi
perkawinan adalah faktor penank yaitu: 1. Faktor Persahabatan
Persahabatan dimasukkan dalam faktor penarik karena di dalam memasuki kehidupan perkawinan orang akan mendapatkan situasi yang mampu
membenkan kedekatan hati maupun kedekatan fisik. Suami dan istri dapat
2. Berbagi pendapat dalam berbagai hal dengan pasangan
Kehidupan perkawinan suami dan istn akan berbagi rasa pendapat
kepemilikan, tugas dan tanggung jawab serta berbagi dalam hal-hal lain.
3. Komumkasi
Dengan adanya komunikasi, Masalah-masalah yang dihadapi mampu diselesaikan secara bersama
Faktor pendukung dan penank yang telah disebutkan di atas merupakan hal yang memicu mengapa seseorang menikah, namun dalam suatu perkawinan
setiap pasangan harus saling memahami pasangan mereka.
3. Macam - Macam Bentuk Perkawinan
Menurut Unger dan Crawford (1992) berdasarkan otoritas terhadap bagaimana peran pasangan, kedekatan hubungan dan pembagian aktifitas dalam
perkawinan meliputi dua macam bentuk yaitu: 1. Perkawinan tradisional
Salah satu ciri yang mencolok dari perkawinan tradisional adalah suami mciiicgaiig otontas icrtiiiggi, semngga SuaHu uerperan uaiaffi memimpin
keluarga. Istri hanya sebagai pembuat keputusan dalam hal penyelesaian
masalah rumah tangga terutama tentang belanja keperluan rumah tangga. Suami masih memiliki otoritas untuk menolak atau menerima keputusan yang telah diambil oleh istri. Perkawinan tradisional membagi hubungan suami
istri memiliki waktu penuh untuk berada di rumah karena istri tidak bekerja di
luar rumah.
2. Perkawinan Modern
Hubungan suami istri pada perkawinan modern bersifat sebagai hubungan antar sahabat. Seorang istri dalam keluarga modern boleh bekerja di luar rumah dengan syarat adanya persetujuan dan suami, walaupun bekerjanya istri di luar rumah hanya memilki kepentingan yang lebih sedikit dibandingkan suami. Suami masih tetap sebagai tulang punggung keluarga dalam hal mencari
nafkah sedangkan istri bekerja untuk membantu penghasilan suami bagi keperluan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Pekerjaan istri dalam hal ini diharapkan tidak menggangu pekerjaan utama sebagai ibu rumah tangga. Pasangan keluarga modern menekankan pada bentuk kebersamaan, adanya diskusi, berbagi aktifitas pada saat senggang antara suami dan istri (Clayton dalam Anggraini 1995).
Suami dan istri dalam suatu perkawinan memiliki bentuk aturan tersendin sehingga menimbulkan dua macam bentuk perkawinan yaitu perkawinan
tradisional dan perkawinan modern.
4. Kepuasan Perkawinan Suami
Menurut Clayton (Anggraini, 1995) Kepuasan perkawinan adalah evaluasi secara keseluruhan tentang segala hal yang behubungan dengan kondisi
perkawinan. Evaluasi tersebut bersifat dari dalam diri orang (subyektif) dan
16
perkawinan. Senada dengan pendapat ini Snyder (1979) mengemukakan bahwa
kepuasan perkawinan adalah evaluasi suami istri terhadap seluruh kualitas
kehidupan perkawinan.Roach, Frazier dan Bowden (1981) menyatakan bahwa kepuasan
perkawinan merupakan persepsi terhadap kehidupan perkawinan seseorang yang
diukur berdasarkan besar kecilnya kehangatan yang dirasakan dalam jangka waktu
tertentu. Kepuasan dalam perkawinan menyangkut terpenuhinya harapan dan
keinginan suami dan istri dalam perkawinan ini berisi evaluasi yang subyektif
tentang kualitas perkawinan secara keseluruhan (Bahr, Chappel, dan leigh, 1983). Uraian di atas menunjukkan bahwa kepuasan perkawinan adalah kualitas perkawinan yang dievaluasi secara subyektif, secara keseluruhan oleh suami dan istri. Untung dan rugi dalam kehidupan perkawian tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan perkawinan. Pendapat yang dikemukakan oleh Thibout dan Kelley
(1978/ tentang teon pertukaran sosial: bahwa setiap individu akan menyeleksi aktivitas ataupun relasi yang dilakukan agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, sebaliknya jika hubungan tidak memuaskan individu enggan
meneruskan hubungan tersebut.
Kesimpulan dan uraian diatas bahwa kepuasan perkawinan suami adalah evaluasi secara keseluruhan yang berhubungan dengan kondisi perkawinan yang
di ukur berdasarkan besar kecilnya kehangatan yang dirasakan dalam jangka waktu tertentu sehingga terpenuhinya harapan dan keinginan suami.
5. Aspek-aspek Kepuasan dalam Perkawinan Suami
Kepuasan perkawinan tidak terlepas dan berbagai aspek yang harus
dievaluasi pasngan dalam kehidupan rumah tangganya, sehingga perkawinan
dapat berjalan lancar sesuai harapan mereka. Aspek-aspek yang dievaluasi
pasangan suami istri untuk menentukan kepuasan perkawinan menurut Clayton
(Anggraini 1995) adalah sebagai benkut:
1. Marriage Sociability, yaitu kemampuan sosial suami istn meliputi
persahabatan dengan orang lain selain keluarga, pergaulan dengan masyarakat
sekitar, Berbagai permasalahan yang dialami suami dan istn dapat terjadi
karena mereka kurang mampu dalam bersosialisasi dengan lingkungan mereka
sehingga terjadi problem dalam kehidupan mereka.
2. Marriage Companionship, yaitu hal-hal yang tennasuk dalam persahabatan
suami dan istri meliuti perbincangan yang menyenangkan suami istn cara
merasakan kegembiraan bersama dan pergaulan yang menyenagkan diantara
keduanya.3. Economic Affair, yaitu penggunaan uang untuk kebutuhan keluarga dan
pribadi meliputi rekreasi, pekerjaan suami maupun istri.
4. Marriage Power, yaitu kekuatan perkawinan yang meliputi sikap terhadap
perkawinan yang dijalankan dengan adanya salmg tertank dan ekspresi,
penghargaan antara suami dan istri. Perkawinan yang memuaskan adalah
perkawinan yang kuat, suami dan istri merasa bahwa keduanya memiliki dasar
yang dan pandangan bahwa dinnya dan pasangannya saling berperan dalam
pembentukan perkawinan yang kuat tersebut sehingga sikap dan perilaku yang
ditampakkan tersebut sesuai dengan harapan yang sudah mereka sepakati
bersama yaitu untuk membentuk perkawinan yang kuat dengan jalan
menumpuk ketertarikan, saling menghargai dan sebagamya.
5. Family Relationship, yaitu hubungan dengan keluarga besar diluar keluarga
inti. Hubungan ini sangat berpengaruh karena berbagai masalah dalam perkawinan dapat dipengaruhi oleh hal tersebut.
6. Ideological Congruity, yaitu kesamaan ideologi yang mencakup kesamaan
pandangan hidup kesamaan pandangan tentang perilaku yang benar dan baik.
7. Marriage Intimacy, yaitu keintiman pernikahan mencakup ekspresi kasih sayang dan hubungan seksual. Ini merupakan salah satu faktor mengapa seseorang menikah yaitu pasangan mampu memenuhi kebutuhan seksual dan kasih sayang.
8. Interaction Tactics, yaitu taktik dalam berinteraksi yang didalamnya menyangkut kerjasama, penyatuan perbedaan dan penyelesaian konflik.
Aspek-aspek yang telah disebutkan di atas merupakan aspek yang perlu dievaluasi pasangan dalam kehidupan rumah tangga sehingga tercapai kepuasan dalam perkawinan.
6. Faktor faktor yang mempengaruhi Kepuasan Perkawinan
Kepuasan perkawinan tidak begitu saja diperoleh suami dan istri, kepuasan
Faktor komunikasi yng bersifat dua arah dan seimbang dan terus dibina
sehingga apapun yang dialami oleh suami dan istn dapat dipecahkan secara
bersama-sama.
2.
Keberadaan Anak (Ryder dalam Laswell dan Laswell, 1987).
Suami dan istri yang menikah mempunyai tujuan yaitu mempunyai anak
karena dengan kehadiran anak maka ada penerus keturunan dalam keluarga
tersebut.3.
Tahap Perkembangan keluarga (Clayton, dalam Anggraini 1995).
Perkembangan keluarga terjadi masa surut yaitu ketika anak masuk sekolah
sampai anak berusia tujuh belas tahun. Ketika masa ini terjadi problem dalam
kehidupan rumah tangga akan bertambah sehingga im disebut sebagai masa
surut dalam perkembangan keluarga.
4. Usia Perkawinan (La' rose dalam Anggraini 1995).
Usia perkawinan yang bertambah maka permasalahan yang muncul juga akan
bertambah sehingga untuk mengatasinya setiap pasangan harus mampu
mengadakan penyesuaian. Penyesuaian ini sangat berguna untuk menghadapi
masa kritis atau masa rawan dalam perkawinan. Masa kntis dalam
perkawinan terbagi menjadi:
a. Masa Kritis Pertama, yaitu masa yang terjadi pada tahun pertama
perkawinan
dimana masing-masing pihak (suami dan istri mulai tampil
apa adanya sehingga mereka menghadapi kenyataan bahwa pasangannya tidak seperti yang dibayangkan dan diharapkannya)20
b. Masa kritis kedua, yaitu masa yang menggelitik di tahun tujuh perkawinan
yang sering disebut the seven year itch. Pada masa ini seseorang tiba-tiba
merindukan sesuatu yang baru sehingga dapat mengakibatkan kehadiran
orang ketiga. Hal ini dapat diatasi jika dalam proses berjalannya
perkawinan seseorang telah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.
c. Masa kritis ketiga, yaitu ini terjadi pada masa dua puluh tahun
perkawinan.
Pada saat pasangan sudah mengenai begitu baik tidak ada
lagi misteri dan perkawinan menjadi menjemukan5. Aktifitas Istri bekerja ( Laswell dan Laswell, 1987)
Freud ( Laswell dan Laswell) menyatakan dua hal terpenting dalam kehidupan orang dewasa adalah kerja dan cinta. Hal-hal yang berhubungan dengan
pasangan dan pekerjaan keduanya merupakan sumber kepuasan sekahgus
sumber stres yang dominan dalam kehidupan seseorang.Uraian di atas menimbulkan kesimpulan bahwa dengan komunikasi yang
seimbang antara suami dan istri maka permasalahan yang berkaitan dengan bekerja atau tidaknya istn dapat diselesaikan. Istri bekerja mempunyai kesibukan yang lebih di bandingkan istri tidak bekerja sehingga adanya komunikasai
permasalahan yang di rasakan oleh pasangan dapat diselesaikan. Adanya anak
khususnya istn bekerja berpengaruh dalam konflik rumah tangga. Duxbury dan
Higgins (1991) menyatakan anak yang lebih dari dua mempengaruhi konflik
dalam rumah tangga. Anak yang masuk sekolah otomatis memerlukan biaya sehingga suami istri dituntut sanggup untuk mengatasi permasalahan ini dengan bekerjanya istri merupakan salah satu faktor yang membantu suami menngankan
biaya untuk anak. Selain itu Kepuasan perkawinan suami dapat tercapai ketika
suami dan istri telah melewati masa rawan dalam perkawinan sehingga pekerjaan istn bukan menjadi suatu permasalahan bagi suami. Laswell dan Laswell (1987) menyatakan bekerjanya istri dalam kurun waktu kurang dan satu tahun membuat suami memiliki tingkat stres yang lebih tinggi di banding suami dengan istri tidak bekerja.
B. Istri Bekerja dan Istri Tidak Bekerja
1. Pengertian Bekerja
Ihromi (1990) menyatakan yang dimaksud bekerja adalah kegiatan memperoleh penghasilan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memenuhi ekonomi keluarga. Bekerja adalah bentuk aktifitas sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan seseorang akan harga din dan uang (Blume, dalam Sumarto,
1989). Bekerja yaitu bentuk kegiatan yang memberi kepuasan tersendiri bagi orang yang bersangkutan memberi status dan mengikat seseorang pada orang yang lain (Kartono, 1981). Istn yang bekerja tidak dapat dilepaskan dan pengertian karir (Handoko,1998) yaitu:
a. Karir sebagai suatu urutan promosi atau pemindahan (transfer) lateral jabatan-jabatan yang lebih menuntut tanggung jawab atau lokasi-lokasi yang lebih
22
b. Karir sebagai penunjuk pekerjaan-pekerjaan yang membentuk pola yang
sistematikdan jelas yang biasa disabut jalur karir.
c.
Karir sebagi sejarah pekerjaan seseorang atau serangkaian posisi yang
dipegangnya selama kehidupan kerjanya.Natsir (1983) mengatakan pekerjaan yang bersifat karir mempunyai empat ciri khusus yaitu:
a. Adanya pendidikan khusus. Kanr yang dijalani seseorang harus ditunjang oleh
pendidikan yang ia peroleh.b. Merupakan suatu panggilan mengandung arti bahwa seseorang yang
menganggap pekerjaan sebagai suatu karir akan mencurahkan seluruh tenaga,
pikiran dan waktunya untuk pekerjaan itu agar ia dapat mencapai kemajuan
dalam karirnya.
c. Dilakukan sepanjang orang bekerja dengan jenjang-jenjang kenaikan pangkat
(jabatan).
d. Bersifat full time, pekerjaan tersebut berjangka waktu panjang oleh karena itu
diharapkan adanya pemngkatan jabatan.
Ciri dari istri yang bekerja (Dahri,1993) adalah:
a. Ia bertugas pada bidang pekerjaan laki-laki misalnya menjadi eksekutif militer direrktur dan bidang lainnya.
b. Tugas-tugas yang harus diselesaikannya memerlukan perhatian serius
sehingga memerlukan waktu tersendiri.Kesimpuian dari uraian di atas bekerja adalah
kegiatan memperoleh
penghasilan berupa uang yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memenuhi
ekonomi keluarga serta menmgkatnya harga din melalui status yang mengikatnya
serta tidak terlepas dari cin-cin ia mempunyai tugas pada bidang pekerjaan
tertentu, membutuhkan perhatian serius, sehingga membutuhkan waktu tersendiri
dan lokasi bekerjanya adalah di luar rumah.2. Pengertian istri bekerja
Anoraga (1992) menyatakan bahwa istri bekerja dalam arti sempit adalah
istri yang berupaya mencari nafkah, mengembangkan profesi dan meningkatkan kedudukan keluarga. Secara luas merupakan langkah maju sepanjang hidup atau mengukir kehidupan wanita. Flippo (1987) mengartikan istri bekerja adaiah istn yang mempunyai kegiatan terpisah tapi berkaitan yang memberikan
kesinambungan ketentraman dalam hidupnya. Ihromi (1990) menyatakan istn bekerja adalah istri yang mempunyai kegiatan sebagai usaha untuk meningkatkan kedudukan keluarga dengan bekerja. Istri bekerja adalah seorang istri yang
mempunyai pekerjaan di luar rumah dalam suatu instansi yang mempunyai jam
kerja dalam satu hari 7 sampai 8 jam dan tidak lebih dari 50 jam dalam satu minggu (Depnaker RJ).
Dapat di simpulkan bahwa istri bekerja adalah istri yang mempunyai
kegiatan dalam usaha untuk meningkatkan kedudukan keluarga dengan cara
mencari nafkah serta mengembangkan profesi di luar rumah dalam suatu instansi yang mempunyai jam kerja yang tetap dalam satu hari yaitu 7 sampai 8 jam.
24
3. Aspek-aspek istri bekerja
Keputusan untuk bekerja selalu mehbatkan berbagai motivasi dan pasti
mempertimbangkan aspek fasilitas. Mempelajan motivasi individu dapat
digunakan untuk memperkirakan akibat yang akan terjadi pada pekerjaan rumah
tangga dimasa depan. Hal ini tidak terlepas dan faktor komitmen untuk bekerja.
Komitmen untuk bekerja dapat dirangking berdasarkan dan urutan tertinggi
sampai urutan tertinggi sampai urutan terendah (Hoffman dan Nye, 1975) yaitu:
1. Bekerja untuk menyalurkan bakat2. Bekerja untuk bertemu banyak orang atau mengisi waktu 3. Membantu bisnis keluarga
4. Bekerja karena kebutuhan pendapatan keluarga
5. Bekerja untuk memperoleh atau mendapat aktivitas
Sobol (Hoffman dan Nye, 1975) menemukan bahwa vanabel penting yang
berkaitan dengan komitmen kerja masa depan yaitu pengalaman penting selama
menikah.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan wanita bekerja adalah aspek motivasi dan aspek fasilitas (Hoffman dan Nye, 1975).
Aspek motivasi meliputi:
1. Uang
Wanita menjadikan uang sebagai alasan utama untuk bekerja. Wanita lebih
suka untuk bekerja ketika pendapatan keluarga mulai menurun dari
Disamping besarnya pendapatan,keungan keluarga dan kepuasan pendapatan
yang dirasakan merupakan hal yang penting.
2. Peranan sebagai istri dan ibu
Seorang wanita yang mengambil keputusan untuk bekerja akan mempunyai
kesibukan yang lebih dibandingkan istn yang tidak bekerja sehingga istn
bekerja diharapkan mampu membagi waktu bagi pekerjaannya dan
keluarganya.3. Faktor karakter
Faktor kepnbadian yang mempengaruhi adalah faktor karakter dan faktor
bakat. Wanita bekerja mempunyai karakter untuk berkuasa sehingga sifat ini
perlu diimbangi dengan bakat sehingga pekerjaan yang dilakukan mampu
diselesaikannya.Aspek kedua setelah motivasi adalah aspek fasilitator (Hoffman dan
Nye, 1975), yang meliputi:
1. Tuntutan keluarga
Suami yang membantu pekerjaan rumah tangga dan adanya kesepakatan
untuk memutuskan pekerjaan yang tepat bagi istn adalah aspek yang
mendukung seorang wanita untuk bekerja.
2. Sikap
Sikap yang dimaksud disini adalah sikap masyarakat dan suami terhadap
keputusan istn untuk bekerja, jika lingkungan memandang positif terhadap
keputusan yang mereka ambil maka mereka akan menerima pekerjaan
26
3. Kern ungk inan Pekerj aan
Pekerjaan yang sesuai dengan posisi wanita sebagai istri dan ibu rumah
tangga merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan. Tersedianya
pekerjaan paruh waktu merupakan pekerjaan yang sesuai bagi ibu rumah
tangga apalagi jika mi didukung dengan lokasi yang nyaman.
Pembangunan yang meningkat semakin memberi peluang bagi wanita untuk
bekerja sehingga peran wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga saja.
Masyarakat juga telah menganggap wajar seorang wanita bekerja sehingga wanita
pekerja semakin terbuka lebar kesempatannya untuk mengembangkan kanr mereka.
Aspek-aspek tersebut di atas menunjuk pada kesimpulan yaitu wanita mempunyai motivasi yang sama untuk meningkatkan keadaan ekonomi keluarga
namun tidak terlepas dan kodratnya sebagai seorang wanita pekerjaan tersebut harus mendapat persetujuan dari lingkungan dalam rumah tangganya khususnya suami. Lingkungan sekitar juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan sehingga tidak adanya pandangan yang negatif masyarakat terhadap pekerjaan
wanita.
4. Faktor-Faktor Istri Bekerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita untuk bekerja (Hoffman dan Nye,
1. Rencana Masa Depan
Rencana masa depan berhubungan dengan kondisi yang memungkinkan
(sebagai contoh kasus keluarga), kondisi yang mempermudah (sebagai contoh
kemudahan mendapatkan pekerjaan) dan kondisi tanpa dipikir masak-masak
dulu (contoh berhubungan denganketidakpuasan).
2. Penghargaan dan Keinginan
Keinginan wanita untuk bekerja mempunyai suatu pengharapan dan sudut non
finansial yaitu bukan dari sisi keuangan namun harapan dimasa depan dengan
kerja yang lebih baik. 3. Lingkungan dan Rencana
Faktor lingkungan yang mendukung peran wanita sebagai pekerja akan
memantapkan langkah mereka sesuai dengan rancangan rencana yang telah
mereka susun.
4. Kepatuhan dalam bekerja
Kepatuhan wanita dalam bekerja akan mempengaruhi komimen mereka dalam
bekerja. Wanita dengan komitmen kerja yang tinggi lebih menginginkan
kepuasan perkawinan dibandingkan wanita yang tidak bekerja atau wanita
dengan komitmen kerja yang rendah.
Faktor-faktor tersebut di atas merupakan faktor dominan mengapa seorang
wanita bekerja namun secara keseluruhan semuanya mengacu pada faktor
komitmen.
Wanita yang mempunyai komitmen tinggi akan mempunyai
perencanaan yang matang, karena bekerjanya wanita mempunyai alasan yang
28
perlu dikaji ulang sepertio alasan demografi dan kondisi ekonomi yang
berubah-ubah (Sobol, dalam Hoffman dan Nye, 1975).
5. Pengertian Istri Tidak Bekerja
Istri tidak bekerja adalah istn yang mempunyai kegiatan tetapi bukanlah
untuk menambah penghasilan keluarga (Ihromi,
1990).
Rahayu (1992)
menyatakan Istn yang tidak bekerja adalah istn yang mempunyai lingkungan
yang tidak pernah lepas dan kodratnya sebagai wanita yaitu sebagai ibu yang
melahirkan menyusui membimbing anak, mendidik mengasuh dan mendampingi
suaminya. Dowlmg (1992) mengartikan istn tidak bekerja adalah istri yang
berpusat pada orang lain pasifdan terutama mementingkan keluarga.
Uraian di atas menunjuk pada kesimpulan istri tidak bekerja adalah isstri
yang tidak pernah lepas dan kodratnya sebagai wanita sehingga kegiatan yang
dilakukannya bukan untuk menambah penghasilan keluarga, karena selalu
berpuasat pada orang lain, pasifdan terutama mementingkan keluarga.
6. Aspek-aspek Istri Tidak Bekerja
Manusia selalu menginginkan kehidupan yang memuaskan bagi dirinya sendiri. Namun dalam kehidupan ini sendin manusia senngkah tunduk pada
keinginan-keinginan orang lain dan menyimpan keinginan mereka sendiri dalam
hati. Karena mereka tidak memiliki kendali atas hidup mereka sendiri merekamakin tidak yakin pada diri sendiri (Dowling, 1992). Setiap orang dalam
rintangan maupun aspek fasilitas (Hoffman dan Nye, 1975/ Aspek yang perlu
diperhatikan dalam kaitannya dengan wanita bekerja adalah sebagai berikut:
1. Uang (Hoffman dan Nye, 1975)
Wanita merasa cukup puas dengan keadaan keluarga ketika perekonomian mereka stabil, sehingga mereka hanya ingin menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga.
2. Faktor Kepribadian (Dowling, 1992)
Seluruh wanita yang menikah dan hidup bersama suami mereka separuh
diantaranya lebih suka tinggal di rumah dan menghabiskan waktu mereka didepan perapian dapur.
3. Tuntutan keluarga (Barnhouse, 1988)
Mentaati suami untuk memelihara persatuan keluarga wanita rela meninggalkn pekerjaan mereka jika terjadi konflik dalam rumah tangganya. Seorang istri
yang kewenangannya dihormati dan pandangannya sebagai wanita dihargai akan menimbulkan kepuasan, sehingga keputusan yang diambilnya sebagai seorang wanita yang bekerja di dalam rumah merupakan kepuasan pada dirinya, maka pekerjaan dalam rumah tangganya dapat dilakukan sepenuh hati. uraian di atas menunjuk kesimpulan bahwa wanita menikah yang tidak bekerja bukan karena ia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pekerjaan pada
bidang di luar rumah tangganya namun lebih pada faktor kepuasan yang telah dicapai yaitu keuangan yang stabil, keinginan mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, dan menghindari pertikaian dengan suami.
30
7. Faktor-faktor Istri Tidak Bekerja
Keputusan sebagai ibu rumah tangga tidak semata-mata karena keinginan
pribadi seorang wanita namun banyak pula dipengaruhi oleh faktor diluar individu
tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita tidak bekerja adalah sebagai
berikut:1. Bentuk Perkawinan (Unger dan Crawford, 1992)
Bentuk perkawinan tradisional mempunyai cm suami memegang otoritas
tertinggi sehingga suami berperan dalam memimpin keluarga. Istn sebagi
pembuat keputusan dalam penyelesaian tugas rumah tangga, sehingga
lingkungan akan memandang negatif jika jika seorang wanita lepas dari
kodratnya sebagai ibu rumah tangga. 2. Kepanikan gender (Dowling, 1992)
Adanya ketakutan wanita bahwa perilaku independen adalah tidak feminim sehingga wanita cenderung memilih berperan dalam kehidupan rumah
tangganya yaitu mengasuh anak-anak dan penyelesaian tugas rumah tangga.
3. Mempunyai anak (Dowling, 1992)
Seorang istri yang mempunyai anak lagi akan cenderung bertambah
kesibukannya sehingga tinggal dirumah bersama anak-anak, membersihkan rumah dan merawat suami merupakan hal yang menyenangkan.
4. Penghargaan dan Keinginan (Hoffman dan Nye, 1975)
Wanita sebagai ibu rumah tangga mengharapkan penghargaan dari
5. Perbedaan Ras (Hoffman dan Nye, 1975)
Negara yang melihat faktor ras sebagai faktor kesempatan dalam bekerja mempengaruhi motivasi wanita untuk bekerja, sehingga mereka memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Faktor-faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi wanita
untuk tidak bekerja sehingga dapat ditari kesimpulan bahwa wanita tidak bekerja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam diri (Ketakutan gender, mempunyai anak) dan faktor dari lingkungan (bentuk perkawinan, penghargaan
dan keinginan, perbedaan ras).
C. Kepuasan Perkawinan Suami Berdasarkan Status bekerja atau
Tidaknya Istri
Perkembangan jaman semakin membuka kesempatan wanita untuk bekerja, namun wanita yang telah menikah berarti ia mempunyai dua tanggung jawab
sekaligus yaitu sesuai kodratnya sebagai ibu dan istn dalam keluarga dan sebagai partisipan aktif dalam pembangunan masyarakat (Ihromi, 1990). Sehingga faktor
persetujuan suami menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan oleh istn. Bernadib mengatakan bahwa sikap suami terhadap istri bekerja tidak jarang mendua, yaitu meskipun memben kebebasan kepada istri untuk bekerja tetapi tetap menuntut istri untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga secara penuh (Sumarto, 1989). Suami yang setuju istrinya bekerja masih menuntut pada istri agar tugas-tugas rumah tangga dan pengasuhan anak tetap dikerjakan dengan baik, dan senng tidak ada uluran tangan suami untuk
32
membantu dalam pekerjaan rumah tangga ini (Tan, 1975). Hal ini umumnya disebabkan suami masih beranggapan bahwa urusan rumah tangga adalah tanggung jawab istri dan bila istri menginginkan bekerja, suami tidak berkeberatan asal urusan rumah tangga tidak ditelantarkannya.
Status sebagai istri bekerja mengisyaratkan adanya pribadi yang bebas dan mandiri, sedangkan salah satu ekspresi dari motif berkuasa pada pria adalah keinginan memiliki kekuasaan terhadap wanita (Sumarto, 1989). Karena itu kaum
pria yang mempunyai motif berkuasa cukup tinggi dalam dirinya akan merasa
terancam dengan kesan kemandirian istri sehingga mereka akan merasa cemas
menghadapinya. Tan (1975) menyebutkan bahwa istri yang bekerja dan mendapat upah berarti memasuku pasar kerja dan mempunyai penghasilan sendiri, haliniakan menimbulkan kecemasan bagi suami yang memiliki motif berkuasa
cukup tinggi.
Staines dkk (1986) menyatkan ada beberapa hal yang mengurangi kepuasan perkawinan sehingga suami bersikap negatif terhadap istri yang bekerja, antara
lain: (1) timbulnya kekhawatiran pada diri suami apabila istrinya bekerja maka kedudukan mereka sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah akan goyah. (2)
suami merasa kebingungan terhadap peran yang disandangnya. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan masyarakat sekitar atau karena penyesuaian yang
dilakukannya terhadap istri tidak berhasil.
Kekawatiran yang sering muncul dengan adanya istri bekerja di luar rumah
pada kaum pria adalah otoritasnya dalam kelurga akan terancam, takut tersaingi
kurang mendapatkan perhatian dari ibu, juga apabila terjadi fenomena kehilangan
kontrol pribadi karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, selain itu dampak
negatif yang dapat ditimbulkan oleh istri bekerja di luar rumah adalah meningkatnya perceraian karena ketidak harmonisan keluarga (Hoffman dalam
Annta, 1993).
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi sikap pria atau suami terhadap
istri bekerja di luar rumah (Sumarto, 1989) yaitu (1) emansipasi wanita, pada dasarnya emansipasi wanita menganut prinsip bahwa setiap orang dilahirkan dengan hak-hak yang sama dan setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memajukan dirinya (Budiman, 1985). Dewasa ini sudah ada pria atau suami
yang mengakui adanya kesempatan untuk memajukan diri antara pria dan wanita,
sehingga mereka bersikap terpaksa dengan bekerjanya istri. (2) citra diri sebagai
istri, bekerjanya istri dipandang mempunyai citra diri yang jelek, kurang feminim
dan menantang norma-norma yang ada dalam masyarakat karena masyarakat menganggap bahwa dengan lkut bekerjanya istn maka tanggung jawab istri
sebagai ibu rumah tangga akan terbengkalai (1985), sehingga istri yang ikut
bekerja seperti halnya seorang pna dianggap sebagai suatu hal yang deviant
(Powell, 1983) dan "memalukan" (Mappiare, 1983). Achir mengatakan bahwa wanita yang bekerja juga dianggap mempunyai status sosial yang lebih rendah daripada wanita yang tidak bekerja karena jaman dulu yang harus bekerja dan
keluar rumah setiap hari adalah wanita dari kalangan miskin dan rakyat
terjadinya persaingan antara suami dan istri dengan harapan dapat mempertahankan keutuhan kehidupan keluarga (Budiman, 1985). Pembagian kerja ini muncul sebagai akibat dari adanya dua fungsi dalam keluarga yang harus dikembangkan secara khusus, yaitu mendidik anak dan mencari nafkah. Karena dalam keluarga selalu terdiri dari laki-laki dan wanita maka akan sangat
menguntungkan apabila fungsi mendidik anak diserahkan kepada wanita dan
fungsi mencari nafkah diserahkan kepada pna (Marwell, 1975). Pembagian kerja ini dianggap memperjelas fungsi suami dan istri dalam keluarga, yaitu bahwa
suami berhak mengembangkan karir dan bekerja diluar rumah sedangkan istri
tinggal dirumah. (4) menambah pendapatan, keikutsertaan istn untuk bekerja dapat dimungkinkan apabila keadaan ekonomi keluarga kurang atau tidak mencukupi (Among Praja dalam Munandar,1985) sehingga dalam menghadapi tuntutan ekonomi keluraga yang semakin memngkat maka keikutsertaan istn untuk memasuki dalam berbagai macam lapangan pekerjaan menimbulkan sikap
tertentu dari suami.(5) harga diri suami, istn yang bekerja akan mempunyai penghasilan sendiri yang pada akhirnya dapat mengurangi ketergantungan secara
ekonomi kepada suami dan ada kemungkinan istri dapat memberikan dukungan ekonomi pada keluarga yang lebih besar daripada suami, serta ada kemungkinan istri mempunyai jabatan yang lebih tinggi dan suami keadaan seperti ini dapat membahayakan kedudukan, peran, dan wibawa pria sebagai kepala keluarga (Mappiare, 1983; Staines dkk, 1986), dapat mengurangi peran ekslusif pria sebagai pencari nafkah keluarga (Sears, 1991) sehingga dianggap dapat mengurangi kekuasaan dan pengaruh pria dalam keluarga (Doyle,1989).
Uraian diatas dapat di simpulkan bahwa istri bekerja dapat menimbulkan
kekawatiran pada diri suami sehingga suami mempunyai sikap tertentu pada bekerjanya istri maka hal ini dapat mengurangi kepuasan perkawinan kususnya
suami.
Keseluruhan uraian yang telah dijelaskan mengenai dinamika tentang bekerja dan tidaknya istri dapat di gambarkan seperti bagan di bawah ini
Bagan Dinamika Kepuasan Perkawinan Suami
Kepuasan perkawinan suami
i
Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Kepuasan Perkawinan Suami
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Perkawinan Suami
Istri bekerja Istri Tidak Bekerja
1
Puas Tidak Puas Puas Tidak Puas
36
D. Hipotesis
Berdasarkan teori yang telah diuraikan diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut yaitu:
Ada perbedaan tingkat kepuasaan perkawinan suami berdasarkan status bekerja
atau tidaknya istri. Suami dengan istri tidak bekerja mempunyai kepuasan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan suami dengan istn bekerja.
METODE PENELITIAN
Penggunaan metode yang tepat atau sesuai dengan penelitian merupakan satu
faktor utama yang menentukan kualitas hasil penelitian. Berikut ini merupakan
salah satu faktor yang digunakan dalam penelitian iniA. Identifikasi Variabel penelitian 1. Variabel Bebas : Status Bekerja atau Tidaknya istri
2. Variabel Tergantung : Kepuasan Perkawinan Suami
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Istri Bekerja dan Istri Tidak Bekerja
Istri bekerja adalah bilamana seorang wanita menikah telah bekerja dan
oleh kaienanya dm mendapatkan upah atau imbalan sebagai hasil pekerjaan yang dilakukannya serta adanya kenaikan pangkat serta diperlukannya pendidikan khusus untuk melakukan pekerjaan yang dilakukannya serta adanya standar jam kerja yang telah ditentukan berdasarkan Undang-Undang no 1 tahun 1951 yaitu 7
jam sampai dengan 8 jam dalam satu hari dan tidak lebih dari 50 jam dalam satu
minggu (Depnaker RI). Adapun definisi wanita tidak bekerja adalah wanita yang
tidak melakukan pekerjaan atau melakukan pekerjaan tetapi tidak menerima upah
atas pekerjaannya serta tidak adanya standar jam kerja sehingga pekerjaan yang
dilakukannya tidak diperlukan pendidikan khusus dan tidak adanya kenaikan pangkat.
2 Kepuasan perkawinan Suami
Kepuasan perkawinan dalam penelitian ini adalah perilaku terhadap
kehidupan perkawinan yang diukur berdasarkan besar kecilnya kesenangan yang
dirasakan dalam jangka waktu tertentu oleh suami.C. Subjek Penelitian
Dalam pengambilan subjek penelitian digunakan teknik purposive sampling
yaitu pemilihan subyek berdasarkan kritena-kriteria tertentu (Hadi, 1997).
Adapun subjek penelitian ini adalah laki-laki telah menikah lebih dari dua tahun,.
Pendidikan minimal SLTA. Usia minimal 30 Pegawai negeri sipil karyawan
Pemenntah Kota Daerah Yogyakarta (Staf Badan Pengelolaan Keuangan Daerah
Yogyakarta, StafKantor Kesatuan dan Perlmdungan masyarakat, dan StafDinas
Prasarana Kota)
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang diterapkan pada penelitian ini menggunakan
skala. Skala merupakan daftar pertanyaan yang harus dijawab atau diisi oleh
subjek. Jawaban tersebut digunakan oleh peneliti untuk menyimpulkan keadaan
subjek yang diteliti. Skala akan dibenkan pada subjek yang diteliti secara tertulis.
Asumsi dasar menggunakan metode angket adalah : subjek merupakan orang yang
paling tahu tentang dirinya sendiri, semua jawaban yang diberikan kepada peneliti
adalah benar dan dapat dipercaya, serta ada persamaan antara mterprestasi subjek
Adapun angket Kepuasan Perkawinan modifikasi dari skala kepuasan
perkawinan yang disusun oleh Anggraini (1995) berdasarkan teon kepuasan
perkawinan dan Clayton (1975; yang terdiri dan 8 aspek kepuasan perkawinan
yaitu:1. Marriage Sociability (kemampuan sosial suami istri)
2. Mariagge Companionship (kemampuan bersahabat suami istri)
3. Economic Affair (penggunaan uang)4. Marriage Power (kekuatan dalam perkawinan)
5. Family Relationship (hubungan dengan keluarga besar) 6. Ideological Congruity (persamaan ideologi)
7. Marriage Intimacy (keintiman dalam pernikahan) 8. Interaction Tactics (taktik dalam berinteraksi)
Kategori jawaban terdiri dari enpat kategori yaitu sangat setuju (SS),
setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Penilaian bergerak dan
angka empat sampai angka satu untuk butir Javourabel dan sebaliknya satu
sampai empat untuk butir unfavourable. Angket ini terdiri dari lima puluh (50)
aitem dengan perincian tiga puluh (30) butirfavourable dan dua puluh (20) butir
unfavourable. Kisi-kisi angket kepuasan perkawinan dapat dilihat pada tabel
Tabel 2
Kisi-kisi Kepuasan Perkawinan
Aspek No Butir Jumlah
Favourable Unfavourable I. Marriage Sociability 15,21,34 9,29,31 6 2. Mariagge Companionship 3,16,38,47 45, 46 6 3 Economic Ajfair 1,4,12, 39 17,22,42 7 4 Marriage Power 2,13,18,37,41 36,40,43 8 5 Family Relationship 5,24 26,30 4 6. Ideological (, ongi'uance 6,8,35,48 27,32 6 7. Marriage Intimacy 7, 10, 14 33, 44 5 8. Interaction Tactics 19,22,28,49,50 20,11,25 8 TOTAL 30 20 50 40
E. Validitas dan Realibilitas Alat Ukur
Validitas dan reliabilitas suatu alat ukur merupakan hal yang sangat penting
dalam suatu penelitian ilmiah, sehingga sebelum alat ukur dipergunakan perlu
dikaji lebih dahulu validitas dan reliabilitasnya (Azwar, 1997). Hal ini dilakukan
dengan maksud bahwa suatu alat yang valid dan reliabel akan menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Validitas yang digunakan adalah validitas koefisien alfa. Validitas suatu alat
ukur memiliki arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menjalankan fungsi ukurnya. Alat ukur dikatakan valid apabila alat tersebut
mampu memberikan data atau hasil ukur dengan tepat dan gambaran yang cermat sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran (Azwar, 1997).
Reliabilitas yang digunakan adalah reliabilitas koefisien alfa. Reliabilitas suatu alat ukur berhubungan dengan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukurannya dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama memperoleh hasil
yang relatif sama, selama aspek yang diukur belum berubah (Azwar, 1997).
Uji validitas dan reliabilitas butir angket kepuasan perkawinan berdasarkan program analisis data SPSS version 10
F. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara statistik. Dalam penelitian ini digunakan teknik Uji-t. Program analisis data yang digunakan SPSS version 10.
X.-X-,
th= '
(NA-1)8D2,+(NB-1)SDV>J-+^-vNa
NBy
Xx = Rata- rata Statistik suami dengan wanita menikah bekerja X2 = Rata- rata Statistik suami dengan wanita menikah tidak bekerja SDA = Standar Deviasi suami dengan wanita menikah bekerja SDB = Standar Deviasi suami dengan wanita menikah tidak bekerja NA = Jumlah sampel suami dengan wanita bekerja
BAB IV
LAPORAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan Penelitian
1. Orientasi Kancah Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pemerintahan Kota Yogyakarta dijalan Kenan no
56 yogyakarta. Tepatnya di Staf Badan Pengelolaan keuangan Daerah, Staf
Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, dan Staf Dinas Prasarana
kota.
Badan Pengelolaan Keuangan Daerah mempunyai tugas mengelola keuangan
yang masuk dari pendapatan daerah, Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan
Masyarakat mempunyai tugas perlindungan masyarakat, sedangkan Dinas
Prasarana Kota memiliki tugas penambahan atau perbaikan terhadap sarana-sarana di kota Yogyakarta.
Perincian subyek berdasarkan jenjang pangkat dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel 3
jenjang pangkat berdasarkan instansi
Nama Instansi Jenjang Pangkat Jumlah
BPKD Ill/d 1 111/c 2 Ill/b 4 Ill/a 5 KESBANGLINMAS Ill/d 2 III/c 1 Ill/b 4 11I/a 6
PRASARANA KOTA Ill/d 2
III/c 2
Ill/b 5
Ill/a 6
TOTAL 40
2. Perizinan Penelitian
Surat permohonan ijin penelitian dilakukan melalui dua proses, yang pertama
permohonan ijin dikeluarkan oleh Dekan Fakultas Psikologi UII dengan surat
pengantar untuk Walikotamadya Yogyakarta nomor 254/Dek/VI/2002,dan
selanjutnya surat ijin tersebut kemudian dilanjutkan kepada instansi terkait yaitu
Badan Perencanaan Pembangunan daerah Yogyakarta yang kemudian dilanjutkan
keluarnya surat ijin penelitian dari Walikotamadya Yogyakarta nomor 070/891.
3. Perangkat Pengumpulan Data
Alat ukur yang dipakai untuk pengumpulan data penelitian ini berupa
skala. Alat penelitian yang digunakan adalah skala kepuasan perkawinan. Metode
ini digunakan untuk mengungkap atau mendapatkan data mengenai
44
dimodifikasi berdasarkan skala kepuasan perkawinan yang disusun oleh
Anggraini (1995). Berdasarkan teori kepuasan perkawinan dari Clayton (1975)
yang terdiri dari 8 aspek kepuasan perkawinan yaitu : kemampuan sosial suami
istri, kemampuan bersahabat suami istri, penggunaan uang, kekuatan dalam
perkawinan, hubungan dengan keluarga besar, persamaan ideologi, keintiman
dalam pernikahan.
Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai alat ukur yang digunakan adalah
sebagai berikut : alat yang digunakan dalam pengumpulan data berupa skala,
dalam menjawab aitem-aitem tersebut subjek diharuskan memilih salah satu diantara empat alternatif jawaban yang dirasakan paling sesuai dengan kondisi subjek. Dalam penelitian ini alternatif jawaban tersebut yaitu: Sangat Setuju (SS),
Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Skala ini terdiri 50 aitem di mana penyekoran angket ini dilakukan dengan
menjumlahkan nilai-nilai yang diperoleh subjek pada setiap aitem yang
dinvatakan secarafavorable dan unfavorable. Untuk aitem favorable SS mendapat nilai 4, S mendapat nilai 3, TS mendapat nilai 2 dan STS mendapat nilai 1. Untuk aitem unfavorable jawaban SS mendapat 1, S mendapat nilai 2, TS mendapat nilai
3 dan STS mendapat nilai 4.
4. Uji Coba Alat Ukur
Sebelum penelitian dilaksanakan dilakukan uji coba terlebih dahulu terhadap skala kepuasan terhadap perkawinan. Uji coba dilakukan dengan menyebarkan 50 skala kepuasan perkawinan. Dari lima puluh eksemplar angket
tersebut berhasil dikumpulkan kembali sejumlah 45 eksemplar angket. Hal ini
terjadi karena banyak angket yang tidak kembali. Setelah dipenksa kelayakannya
untuk disertakan dalam analisis aitem, ternyata lima ekslempar angket tidak layak untuk dilakukan analisis karena tidak lengkap dalam menjawab sehingga angketyang layak dilakukan analisis berjumlah 40 eksemplar angket. Penyebaran angket
ini dilaksanakan mulai tanggal 7 juli 2002 - 14 Juli 2002.5. Hasil Uji Coba Alat Ukur
Alat penelitian yang diujicobakan adalah skala kepuasan terhadap
perkawinan. Angket ini diuji validitas dan reliabilitasnya dengan cara try out
terpakai berjumlah 50 aitem, dan disebarkan pada subjek yang memiliki kritena
seperti yang telah ditetapkan, dan hasilnya jumlah subjek yang siap diujicobakan
sebanyak 40 orang.Berdasarkan data yang telah diperoleh melalui uji coba alat ukur,
selanjutnya dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Perhitungan untuk menguji
validitas dan reliabilitas terhadap sikap terhadap kepuasan terhadap perkawinan dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS Windows Version 10 didapatkan hasil:
1. Validitas Angket dan Seleksi Aitem
Seleksi aitem dalam penelitian menggunakan parameter indeks daya beda aitem yang diperoleh dan korelasi skor masing-masing aitem dengan skor total aitem, sehingga dapat diperoleh aitem-aitem yang layak dan aitem-aitem
46
dengan pendapat Azwar (1997) bahwa aitem yang sahih memiliki koefisien
korelasi minimal atau sama dengan 0,30. Aitem yang mempunyai indeks daya
beda lebih besar atau sama dengan 0,30 layak untuk dimasukkan dalam angket
penelitian.50 aitem yang disajikan terpilih 41 aitem yang layak dan 9 aitem yang
gugur, diantaranya aitem nomer : 1, 12, 27, 28, 31, 34, 35, 39, 50. Didapat
korelasi aitem total berkisar antara 0,3407 sampai dengan 0,7740. Ke-43 aitem