1
Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak Terhadap Kepatuhan Pajak: Dimoderasi oleh Kondisi Keuangan dan Preferensi Risiko Wajib Pajak
(Studi Empiris pada Wajib Pajak Orang Pribadi di Duri) by:
MAULIANI AL-AZIM TAUFENI TAUFIK YESI MUTIA BASRI [email protected]
085376567755 ABSTRACT
This research aimed to determine the effect of tax services quality on taxpayer’s compliance, moderated by taxpayer’s financial condition and risk preference.
This research was a survey by distributing questionnaires directly to the taxpayer (WP OP). The population in this study are all individual taxpayers in Duri. The samples in this study were 100 persons individual taxpayers. Data analysis techniques using Simple Regression Model and Regression analisys Moderated (MRA) with SPSS version 17.00.
From the results of hypothesis testing are performed, showing that the variable tax services quality, the taxpayer's financial condition and risk preferences have a significant impact on tax compliance variables. The magnitude of the effect (coefficient of determination) caused by the quality of service tax, Taxpayer Financial Condition and Risk Preferences is 35.4%, while 64.6% is influenced by other variables not examined in this study, such as the understanding of the tax by the taxpayer, justice taxation, taxpayer awareness, socialization SPT, taxes and other administrative systems.
Keyword: Tax Compliance, Tax Service Quality, Taxpayer’s Financial Condition, Risk Preference I. Pendahuluan
I.1 Latar Belakang Penelitian
Pembangunan nasional merupakan salah satu kegiatan pemerintah yang berlangsung secara berkesinambungan. Usaha bangsa agar bisa mandiri dalam pembiayaan pembangunan adalah dengan cara menggali sumber pendapatan pemerintah. Pajak merupakan sumber pemasukan kas negara yang utama. Pemasukan ini nantinya digunakan untuk pembiayaan pembangunan negara dengan tujuan utamanya adalah mensejahterakan masyarakat. Tanpa pajak akan sangat mustahil sekali negara dapat melaksanakan pembangunan dan perkembangan sosial. Salah satu perwujudan dari pengabdian dan peran serta masyarakat adalah dengan menjadi wajib pajak yang secara langsung melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan ekonomi nasional.
Hammar, Jager dan Norddlow (2005) mengungkapkan apabila semua wajib pajak tidak mempunyai kewajiban membayar pajak maka pemerintahan tidak akan berfungsi secara baik. Oleh sebab itu, untuk memenuhi pembiayaan negara dan pembangunan ekonomi nasional, setiap warga Indonesia yang memiliki penhasilan diatas Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) haruslah patuh dalam memebayar pajak. Kepatuhan perpajakan menurut Keputusan Mentri Keuangan (253/KMK.03/2003) Pasal 1 yaitu wajib pajak dikatakan petuh apabila: (1) benar dalam perhitungan
2
pajak terutang, (2) benar dalam pengisian formulir SPT, (3) tepat waktu, (4) melakukan kewajibannya dengan sukarela sesuai dengan peraturan perpajak yang berlaku di indonesia.
Di Indonesia, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta penduduk dengan tingkat angkatan kerja sebesar 120 juta orang (Biro Pusat Statistik, 2012). Dari 120 juta orang tersebut diperkirakan yang mempunyai penghasilan di atas PTKP sekitar 50 juta orang. Seharusnya bahwa dengan jumlah penduduk sebesar 50 juta orang tersebut, maka potensi penerimaan negara yang berasal dari sektor pajak masih sangat besar untuk diperoleh untuk negara.
Realisasinya, Wajib Pajak yang terdaftar di Indonesia sekitar 22 juta wajib pajak, dan tingkat pelaporan surat pemberitahuan pajak pada semester I/2012 hanya mencapai 45,5% (Ortax Indonesia). Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat kepatuhan pajak di Indonesia. Realita ini menunjukkan penurunan kepatuhan wajib pajak dari tahun 2011 yang mencapai 52,74% (Ortax Indonesia).
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti akan melakukan penelitian tentang Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak Terhadap Kepatuhan Pajak: Dimoderasi oleh Kondisi Keuangan dan Preferensi Risiko Wajib Pajak. Adapun faktor-faktor yang diambil sebagai variabel penelitian adalah Kepatuhan Pajak, Kualitas Pelayanan Pajak, Kondisi Keuangan Wajib Pajak, dan Preferensi Risiko.
I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang ada yaitu, apakah Kualitas Pelayanan Perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Pajak pada WP OP di Duri, apakah Kualitas Pelayanan Perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Pajak dengan kondisi keuangan sebagai variabel moderating pada WP OP di Duri, dan apakah Kualitas Pelayanan Perpajakan Kepatuhan Pajak dengan Preferensi Risiko sebagai variabel moderating pada WP OP di Duri.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh pelayanan perpajakan terhadap kepatuhan pajak pada Wajib Pajak Orang Pribadi di Duri, pengaruh kondisi keuangan terhadap interaksi pelayanan perpajakan dan perilaku kepatuhan pajak pada Wajib Pajak Orang Pribadi di Duri, dan Pengaruh preferensi risiko terhadap interaksi pelayanan perpajakan dan kepatuhan pajak pada Wajib Pajak Orang Pribadi di Duri.
II. Telaah Pustaka
II.1 Kepatuhan Perpajakan
Kepatuhan Wajib Pajak adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memiliki kesadaran untuk patuh terhadap aturan undang-undang perpajakan yang berlaku dan dapat mengimplementasikannya secara nyata (Anggraini : 2012). Menurut keputusan Menteri Keuangan (235/KMK.03/2003) Pasal 1 kepatuhan perpajakan adalah:
1. Tepat waktu dalam menyampaiakan Surat Pemberitahuan Tahunan dalam dua tahun terakhir.
2. Dalam dua tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari tiga masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut.
3. SPT Masa yang terlambat sebagaimana dimaksud dalam nomor 2 telah disampaikan tidak lewat batas waktu penyampaian SPT Masa masa pajak berikutnya.
4. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak
a. Kecuali telah memperoleh izin untuk mengengsur atau menunda pembayaran pajak. b. Tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk dua
3
5. Tidak pernah dijatuhi hukuman kerana melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalm jangka waktu sepuluh tahun terakhir.
6. Dalam hal laporan keuangan siaudit oleh akuntan publik atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan harus dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atau dengan pendapat wajar dengan pengecualian sepanjang tersebut tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.
II.2 Kualitas Pelayanan Pajak
Pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar tercipta kepuasan dan keberhasilan (Boediono, 2003: 60). Pelayanan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan pelanggan. Salah satu cara untuk menempatkan hasil pelayanan yang lebih unggul daripada pesaing adalah dengan memberikan pelayanan yang baik, efesien dan cepat.
Seorang wajib pajak yang pada dasarnya juga berperan sebagai seorang pelanggan berhak mendapatkan pelayanan yang baik ketika melakukan transaksi dengan pihak Dirjen Pajak sebagai pihak penyedia layanan jasa. Dirjen pajak adalah penyedia jasa yang bersifat monopoli karena tidak adanya pesaing yang bergerak pada bidang sejenis. Meskipun begitu ketidakpuasan seorang pelanggan dalam hal ini wajib pajak terhadap layanan yang diberikan akan berakibat pada citra Dirjen Pajak dimata konsumen tersebut.
II.3 Kondisi Keuangan Wajib Pajak
Torgler (2003) berpendapat bahwa seseorang yang mengalami kesulitan keuangan akan merasa tertekan ketika mereka diwajibkan untuk melakukan kewajibannya membayar pajak. Beban keuangan yang dimiliki wajib pajak merupakan salah satu hambatan bagi wajib pajak untuk membayar pajak dan juga wajib pajak orang pribadi yang mempunyai pendapatan yang cukup kemungkinan akan melakukan penghindaran pembayaran pajak jika kondisi keuangan wajib pajak tersebut buruk karena pengeluaran lebih besar dari penghasilannya.
II.4 Preferensi Risiko
Preferensi atau selera adalah sebuah konsep, yang digunakan pada ilmu sosial, khususnya ekonomi. Ini mengasumsikan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif-alternatif dan kemungkinan dari pemeringkatan alternatif tersebut, berdasarkan kesenangan, kepuasan, gratifikasi, pemenuhan, kegunaan yang ada. Lebih luas lagi, bisa dilihat sebagai sumber dari motivasi. Di ilmu kognitif, preferensi individual memungkinkan pemilihan tujuan/goal (Wikipedia Indonesia).
Torgler (2003) menyampaikan bahwa keputusan seorang wajib pajak dapat dipengaruhi oleh perilakunya terhadap risiko yang dihadapi. Preferensi risiko seseorang merupakan salah satu komponen dari beberapa teori yang berhubungan dengan pengambil keputusan termasuk teori kepatuhan pajak seperti teori rasionalitas dan teori prospek. Dasar teori yang digunakan preferensi risiko dalam mempengaruhi kepatuhan wajib pajak pajak adalah teori prospek. Penelitian dari Alabede (2011) menggunakan teori prospek untuk meneliti pengaruh preferensi risiko terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil penelitian Alabede (2011) menunjukkan bahwa preferensi risiko berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pibadi.
II.5 Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai kepatuhan wajib pajak pernah dilakukan oleh Alabede, Affrin dan Idris (2011) dengan judul penelitian Tax Service Quality and Compliance Behaviour in Nigeria: Do Taxpayer’s Financial Condition and Risk Preference Play Any Moderating Role?. Hasilnya adalah persepsi wajib pajak terhadap kualitas pelayanan pajak tidak berpengaruh signifikan. Kualitas pelayanan pajak yang dirasakan memiliki hubungan signifikan positif dengan perilaku kepatuhan
4
pajak. Preferensi risiko wajib pajak juga memiliki hasil negatif dan tidak berpengaruh dalam memoderasi hubungan antara kualitas pelayanan pajak yang dirasakan dan kepatuhan perilaku wajib pajak. Moderasi pengaruh kondisi keuangan pada hubungan antara kualitas pelayanan pajak yang dirasakan dan perilaku kepatuhan pajak diharapkan positif tapi tidak signifikan. Kondisi keuangan dan preferensi risiko memiliki hasil positif dan signifikan berpengaruh dalam memoderasi hubungan antara kualitas pelayanan yang dirasakan pajak dan pajak kepatuhan perilaku.
Penelitian mengenai kulitas pelayanan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak juga pernah dilakukan oleh Yulia (2008) yang hasilnya Tingkat kepuasan pelayanan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang diperkuat dengan penelitian Marpaung (2009) yang hasilnya juga kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib pajak.
Penelitian mengenai Preferensi Risiko dilakukan oleh Alm & Torgler (2006) yang mengungkapkan bahwa perilaku wajib pajak dalam menghadapi risiko tidak dapat diartikan bahwa wajib pajak tersebut tidak akan memenuhi kewajiban pajaknya. Hal ini pemperkuat Penelitian dari Alabede, Affrin dan Idris (2011) menggunakan teori prospek untuk meneliti pengaruh preferensi risiko terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa preferensi risiko berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pibadi.
Penelitian mengenai Kondisi keuangan wajib pajak dilakukan oleh Torgler (2003) yang berpendapat bahwa seseorang yang mengalami kesulitan keuangan akan merasa tertekan ketika mereka diwajibkan untuk melakukan kewajibannya membayar pajak. Pada realitanya, seseorang yang mengalami kesulitan dalam keuangan akan lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dari pada harus membayar pajak dan menambah beban pengeluaran dalam ekonominya.
II.6 Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis
II.6.1 Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak terhadap Kepatuhan Pajak
Menurut Caro dan Gracia (2007) Kualitas pelayanan ditentukan oleh tiga faktor yaitu kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, hasil kualitas pelayanan. Yang dimaksud dari kualitas interaksi di atas yaitu bagaimana cara fiskus dalam mengkomunikasikan pelayanan pajak kepada wajib pajak sehingga wajib pajak puas terhadap pelayanannya. Kualitas lingkungan fisik yang dimaksud adalah bagaimana peranan kualitas lingkungan dari kantor pajak sendiri dalam melayani wajib pajak. Hasil kualitas pelayanan yang dimaksud adalah apabila pelayanan dari fiskus dapat memberikan kepuasan terhadap wajib pajak maka persepsi wajib pajak terhadap fiskus akan baik sehingga dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
H1 : Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak terhadap Kepatuhan Pajak
II.6.2 Pengaruh kondisi keuangan wajib pajak terhadap hubungan antara kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak
Torgler (2003) berpendapat bahwa seseorang yang mengalami kesulitan keuangan akan merasa tertekan ketika mereka diwajibkan untuk melakukan kewajibannya membayar pajak. Bloomqist (2003) mengungkapkan bahwa beban keuangan yang dimiliki wajib pajak merupakan salah satu hambatan bagi wajib pajak untuk membayar pajak dan juga wajib pajak orang pribadi yang mempunyai pendapatan yang cukup kemungkinan akan melakukan penghindaran pembayaran pajak jika kondisi keuangan wajib pajak tersebut buruk karena pengeluaran lebih besar dari penghasilannya.
H2: Kondisi keuangan wajib pajak memoderasi hubungan antara kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP).
5
II.6.3 Pengaruh preferensi risiko terhadap hubungan antara persepsi wajib pajak tentang kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak
Torgler (2003) menyampaikan bahwa keputusan seorang wajib pajak dapat dipengaruhi oleh perilakunya terhadap risiko yang dihadapi. Preferensi risiko seseorang merupakan salah satu komponen dari beberapa teori yang berhubungan dengan pengambil keputusan termasuk teori kepatuhan pajak seperti teori rasionalitas dan teori prospek. Dasar teori yang digunakan preferensi risiko dalam mempengaruhi kepatuhan wajib pajak pajak adalah teori prospek. Penelitian dari Alabede (2011) menggunakan teori prospek untuk meneliti pengaruh preferensi risiko terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil penelitian Alabede (2011) menunjukkan bahwa preferensi risiko berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pibadi
H3: Preferensi Risiko memoderasi hubungan antara kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WPOP)
III. Metode Penelitian III.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini di lakukan di Kawasan Duri yang terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir. Penelitian ini akan fokus pada kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi yang ada di daerah Duri.
III.2 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah Wajib Pajak di Kawasan Duri yang statusnya masih aktif yang berjumlah sekitar 37.000 wajib pajak. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 orang wajib pajak orang pribadi.
III.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data utama yang dipakai untuk menjawab masalah yaitu data mengenai prilaku Wajib Pajak Orang Pribadi Kawasan Duri. Data ini di peroleh dengan cara menyebarkan Kuesioner.
Data sekunder adalah data yang menunjang penelitian ini. Dalam penelitian ini data sekunder terdiri dari data mengenai jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang terdaftar di KPP Pratama Bengkalis.
III.4 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 point dan dummy.
III.5 Definisi Operasionalisasi Variabel dan Pengukurannya III.5.1 Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Pajak. Kepatuhan Wajib Pajak adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memiliki kesadaran untuk patuh terhadap aturan undang-undang perpajakan yang berlaku dan dapat mengimplementasikannya secara nyata (Anggraini : 2012).
Variabel kepatuhan wajib pajak diukur dengan bagaimana wajib pajak dalam mematuhi hukum dan peraturan pajak yang berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan (253/KMK.03/2003) pasal 1 yaitu wajib pajak dikatakan patuh apabila: Benar dalam perhitungan pajak terutang, Benar dalam pengisian formulir SPT , Tepat waktu, dan Melakukan kewajibannya dengan sukarela sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia.
6
Indikator – indikator tersebut diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin mulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Instrumen ini di adopsi dari penelitian Angella (2006) yang sudah pernah juga di gunakan oleh Yulia (2008).
III.5.2 Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Kualitas Pelayanan Pajak. Pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar tercipta kepuasan dan keberhasilan (Boediono, 2003: 60). Variabel persepsi wajib pajak tentang kualitas pelayanan fiskus diukur dengan menggunakan pertanyaan dalam bentuk kuesioner dimana responden diberikan pertanyaan – pertanyaan mengenai : Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, Empati dan Bukti Langsung.
Indikator – indikator tersebut diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin mulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Indikator pertanyaan tersebut di adaptasi dari Anggraeni (2007) yang sudah pernah di teliti juga oleh Marpaung (2009).
III.5.3 Variabel Moderasi
III.5.3.1 Kondisi Keuangan Wajib Pajak
Torgler (2003) berpendapat bahwa seseorang yang mengalami kesulitan keuangan akan merasa tertekan ketika mereka diwajibkan untuk melakukan kewajibannya membayar pajak. Variabel kondisi keuangan wajib pajak diukur dengan menggunakan pilihan: “puas” dengan nilai “1” atau “tidak puas” dengan nilai “0”.
Dimana nilai 0 artinya wajib pajak puas terhadap kondisin keuangan wajib pajak itu sendiri, sedangkan nilai 1 artinya wajib pajak itu tidak puas terhadap kondisi keuangan wajib pajak itu sendiri. Indikator pertanyaan di adaptasi dari penelitian yang dilakukan oleh James O. Olabede (2011).
III.5.3.2 Preferensi Risiko
Torgler (2003) menyampaikan bahwa keputusan seorang wajib pajak dapat dipengaruhi oleh perilakunya terhadap risiko yang dihadapi.
Variabel preferensi risiko diukur dengan menggunakan preferensi umum wajib pajak dengan mengambil: Risiko keuangan, Risiko kesehatan, Risiko sosial, Risiko Karir dan Risiko keselamatan.
Indikator – indikator tersebut diukur dengan menggunakan skali likert 5 poin mulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Indikator pertanyaan di adaptasi dari penelitian yang dilakukan oleh James O. Alabede (2011) yang dikembangkan dari kuesiner penelitian Nicholson, Soane, Fenton-O’Creevy, & William (2005)
III.6 Metode Analisis Data
III.6.1 Analisis Regresi Sederhana
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi Sederhana dengan bantuan komputer melalui program SPSS 17.0 for Windows. Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak terhadap Kepatuhan Pajak ( Hipotesis I ). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
Keterangan :
Y = Kepatuhan Pajak
a = Konstanta
b1 = Koefisien Arah Regresi
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
e = Variabel penggangu ( Error)
7
III.6.2 Model Regresi MRA (Moderated Regression Analysis)
Menurut Liana (2009) Moderated Regression Analysis (MRA) atau uji interaksi merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen). Analisis ini digunakan untuk :
a. Menguji pengaruh Kondisi keuangan wajib pajak terhadap pengaruh hubungan antara Kualitas Pelayanan Pajak dengan Kepatuhan Pajak (Hipotesis II). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Y = Kepatuhan Pajak
a = Konstanta
b1,b2,b3 = Koefisien Arah Regresi
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
X2 = Kondisi Keuangan Wajib Pajak
X1.X2 = Interaksi Kualitas Pelayanan Pajak dengan Kondisi Keuangan Wajib Pajak
e = Variabel penggangu ( Error)
b. Menguji pengaruh Preferensi Resiko terhadap pengaruh hubungan antara Kualitas Pelayanan Pajak dengan Kepatuhan Pajak (Hipotesis III). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Y = Kepatuhan Pajak
a = Konstanta
b1,b2,b3 = Koefisien Arah Regresi
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
X3 = Preferensi Resiko
X1.X3 = Interaksi Kualitas Pelayanan Pajak dengan Preferensi Risiko
e = Variabel penggangu ( Error)
III.7 Pengujian Kualitas Data III.7.1 Pengujian Validitas Data
Validitas data ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat. Penentuan validitas data menggunakan korelasi pearson (Indrianto dan Supomo, 2002).
III.7.2 Pengujian Reliabilitas Data
Untuk melihat reliabilitas dari instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dilihat dari Cronbatch Alpha. Variabel tersebut akan dikatakan reliable jika Cronbatch Alpha nya memiliki nilai lebih besar dari 0,6. Sebaliknya jika koofisien alpha instrumen lebih rendah dari 0,6 maka instrumen tersebut tidak reliable untuk digunakan (Indrianto dan Supomo, 2002).
III.7.3 Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik adalah asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam menyusun regresi berganda, sehingga hasilnya tidak bias. Uji asumsi untuk analisis regresi dalam penelitian terdiri dari:
III.7.3.1 Pengujian Normalitas Data
Y = a + b1X1 +b2X2+b3X1.X2+ e
8
Pengujian normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali, 2006). Untuk melihat normalitas data digunakan grafik probability plot.
III.7.3.2 Pengujian Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2006). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dalam penelitian ini dilihat dari Variance Inflation Factor ( VIF).
III.7.3.3 Pengujian Heterokedastisitas
Pengujian heteroskedastistas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan antara varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali, 2006). Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastistas adalah dengan melihat scatter plot.
III.7.3.4 Pengujian Autokorelasi
Pengujian autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode sebelumnya (Ghozali,2006). Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dilihat dari nilai Durbin Waston.
III.8 Pengujian Hipotesis
Untuk melakukan pengujian hipotesis digunakan Uji t untuk melihat atau menguji apakah tiap-tiap variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Uji hipotesis dengan t-test digunakan untuk mengetahui variabel bebas memiliki hubungan signifikan/tidak dengan variabel terikat secara individual untuk setiap variabel. Uji t yang dilakukan adalah uji 2 arah maka dibaca t ½ (0,05) atau t = 0,025. Dasar pengambilan keputusan pengujian adalah :
Jika t hitung ≥ t tabel maka H0 diterima, dan Ha ditolak (tidak ada pengaruh yang signifikan).
Jika t hitung ≤ t tabel maka H0 ditolak, dan Ha diterima ( ada pengaruh yang signifikan).
T tabel dilihat dengan derajat bebas = n – k III.8.1 Pengujian Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama dari penelitin ini adalah apakah Kualitas pelayanan perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat pengaruh antara kualitas pelayanan pajak dengan kepatuhan WP OP. Ha: Terdapat pengaruh antara kualitas pelayanan pajak dengan kepatuhan WP OP. III.8.2 Pengujian Hipotesis Kedua
Hipotesis pertama dari penelitin ini adalah apakah Kondisi keuangan wajib pajak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut:
H0: Kondisi keuangan wajib pajak tidak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP)
Ha: Kondisi keuangan wajib pajak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP)
9 III.8.3 Pengujian Hipotesis Ketiga
Hipotesis pertama dari penelitin ini adalah apakah Preferensi risiko wajib pajak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut:
H0: Preferensi Risiko wajib pajak tidak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP)
Ha: Preferensi Risiko wajib pajak memoderasi hubungan antara Kualitas pelayanan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi (WP OP)
III.9 Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi adalah sebuah koefisien yang menunjukkan persentase pengaruh semua variabel independen dan moderasi terhadap variabel dependen. Persentase tersebut menunjukkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependennya (Imam Ghozali, 2006).
IV. Hasil Penelitian Dan Pembahasan IV.1 Hasil Penelitian
IV.1.1 Kuesioner Dan Demografi
Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk pengumpulan data. Kuesioner disebarkan pada WPOP di daerah Duri secara langsung. Dari 100 kuesioner yang disebarkan, kuesioner yang kembali sebanyak 100 kuesioner (100 %), artinya semua kuesioner yang disebarkan kembali semua.
IV.1.2 Deskriptif Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Pajak. Untuk menilai Kepatuhan Pajak digunakan 9 pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh total skor jawaban responden diperoleh sebesar 2.872 dengan nilai minimal sebesar 900, nilai maksimal sebesar 4.500, rata-rata skor sebesar 3,19 dan standar deviasi sebesar 1.423. Sehingga dapat diartikan bahwa Wajib Pajak Orang Pribadi cukup patuh dalam pelaksanaan pembayaran pajak.
IV.1.3 Deskriptif Variabel Independen
Dalam penelitian ini untuk menilai Kualitas Pelayanan Pajak digunakan 17 pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh total skor jawaban responden diperoleh sebesar 5.997 dengan nilai minimal sebesar 1.700, nilai maksimal sebesar 8.500, dan rata-rata skor sebesar 3,53. Sehingga dapat diartikan bahwa Kualitas Layanan Perpajakan Baik, sehingga memungkinkan untuk mempengaruhi kepatuhan perpajakan.
IV.1.4 Deskriptif Variabel Moderating IV.1.4.1 Kondisi Keuangan Wajib Pajak
Dalam penelitian ini untuk menilai kondisi keuangan wajib pajak digunakan 1 pertanyaan. Dari jawaban responden dapat dilihat bahwa 66 orang wajib pajak orang pribadi Puas dengan kondisi keuangannya saat ini. Sedangkan 34 orang responden lainnya merasa Tidak Puas dengan kondisi keuangannya saat ini.
Dari sebagian responden yang merasa puas atas penghasilan mereka adalah WPOP yang memang memiliki usaha yang maju dan memiliki omset yang baik. Mereka merasa beban yang harus mereka keluarkan tidak terlalu besar dibandingkan dengan penghasilan yang mereka terima sehari-hari. Sedangkan 34 WPOP yang merasa tidak puas sebagian besar adalah WPOP yang penghasilannya tidak menentu seperti pengusaha warnet yang penghasilannya tergantung dari biaya listrik dan jaringan internet yang terkadang bermasalah.
10 IV.1.4.2 Preferensi Risiko
Dalam penelitian ini untuk menilai preferensi risiko digunakan 5 pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh total skor jawaban responden diperoleh sebesar 1.712 dengan nilai minimal sebesar 500, nilai maksimal sebesar 2.500, rata-rata skor sebesar 3,42. Sehingga dapat diartikan bahwa Preferensi Resiko menjadi salah satu hal yang diwaspadai oleh Wajib Pajak.
IV.1.5 Hasil Pengujian Kualitas Data IV.1.5.1 Hasil Pengujian Validitas Data IV.1.5.1.1 Kepatuhan Pajak
Dalam penelitian ini variabel Kepatuhan Pajak digunakan 9 pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil korelasi pearson mendekati angka 1 (0,462, 0,336, 0,535, 0,377, 0,480, 0,606, 0,642, 0,689, dan 0,555). yang berarti bahwa data valid.
IV.1.5.1.2 Kualitas Pelayanan Pajak
Dalam penelitian ini untuk variabel kualitas pelayanan pajak digunakan 17 item pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil korelasi pearson mendekati angka 1 (0,528, 0,545, 0,570, 0,647, 0,666, 0,579, 0,579, 0,630, 0,480, 0,518, 0,714, 0,632, 0,536, 0,750, 0,567, 0,618, dan 0,704) yang berarti bahwa data valid.
IV.1.5.1.3 Preferensi Risiko
Dalam penelitian ini untuk variabel preferensi risiko digunakan 5 item pertanyaan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil korelasi pearson mendekati angka 1 (0,883, 0,869, 0,663, 0,851, dan 0,808) yang berarti bahwa data valid.
IV.1.5.2 Pengujian Reliabilitas Data
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas data untuk setiap variabel independen dan moderasi (kepatuhan pajak, kualitas pelayanan pajak dan preferensi risiko) diperoleh hasil cronbatch alpha lebih besar dari 0.6 (0,659, 0,911, dan 0,876) yang berarti bahwa data tersebut reliabel.
IV.1.6 Hasil Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian Asumsi klasik terdiri dari pengujian Multikolinearitas, pengujian Heterokedastisitas dan pengujian Autokorelasi.
IV.1.6.1 Hasil Pengujian Normalitas Data
Untuk melihat apakah normalitas rata-rata jawaban responden yang menjadi data dalam penelitian ini dapat dilihat dari normal probability plot. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, ,maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya, jika data menyebar secara acak dan tidak berada disekitar garis diagonal, maka asumsi normalitas data tidak terpenuhi. Normal probability plot dari penelitian ini terlihat pada Gambar IV.1.
11 Gambar IV.1 Hasil Pengujian Normalitas Data
Dari Gambar IV.1 dapat dilihat bahwa data tersebar disekitar garis diagonal. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa persyaratan normalitas data dapat terpenuhi.
IV.1.6.2 Hasil Pengujian Multikolinearitas
Berdasarkan hasil pengujian multikolinearitas, diperoleh nilai tolerance untuk setiap variabel independen dan moderasi (kepatuhan pajak, kualitas pelayanan pajak dan preferensi risiko) sebesar 0,633, 0,751, 0,642 dan nilai VIF sebesar 1,58, 1,331, 1,559. yang menunjukkan bahwa < 5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen tidak mengalami gangguan multikolinearitas.
IV.1.6.3 Hasil Pengujian Heterokedastisitas
Pengujian heteroskedastistas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan antara varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain (Imam Ghozali, 2006). Pada penelitian ini menguji ada tidaknya heteroskedastistas adalah dengan melihat scatter plot. Jika pada scatter plot memiliki titik-titik yang menyebar dan tidak membentuk pola tertentu, maka tidak terjadi adanya heteroskedastistas. Sebaliknya, jika membentuk pola tertentu, maka terjadi heteroskedastistas. Grafik Scatterplot dari penelitian ini terlihat pada gambar IV.2
Gambar IV.2 Scatterplot
Dari gambar IV.2 terlihat bahwa scatterplot memiliki titik-titik yang menyebar dan tidak membentuk pola tertentu. Dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastistas.
12 IV.1.6.4 Hasil Pengujian Autokorelasi
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai durbin waston sebesar 1,985 (berada diantara angka -2 sampai +2). Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bebas dari autokorelasi. IV.1.7 Hasil Analisis Data
Analisis data dalam penelitian menggunakan analisis regresi sederhana dan analisis regresi moderat.
IV.1.7.1 Hasil Analisis Regresi Sederhana
Berdasarkan hasil persamaan regresi sederhana diperoleh hasil sebagai berikut : Keterangan:
Y = Kepatuhan Pajak
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
e = Variabel penggangu ( Error)
Dari model persamaan regresi diatas dapat dijelaskan bahwa :
1. Nilai konstanta yang terbentuk adalah 17,066. Hal ini menunjukkan bahwa jika nilai Kualitas pelayanan pajak konstan maka kepatuhan pajak akan meningkat sebesar 17,066%.
2. Variabel independen yang digunakan dalam model penelitian ini adalah kualitas pelayanan pajak. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel kualitas pelayanan pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar 0,184 yang berarti jika diasumsikan kualitas pelayanan pajak meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka kepatuhan pajak meningkat sebesar 0,184%.
IV.1.7.2 Hasil Analisis Regresi Moderasi (MRA)
a. Menguji pengaruh Kondisi keuangan wajib pajak terhadap pengaruh hubungan antara Kualitas Pelayanan Pajak dengan Kepatuhan Pajak (Hipotesis II).
Hasil persamaan Moderated Regression Analysis (MRA) dapat ditentukan sebagai berikut :
Keterangan:
Y = Kepatuhan Pajak
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
X2 = Kondisi Keuangan Wajib Pajak
X1.X2 = Interaksi Kualitas Pelayanan Pajak dengan Kondisi Keuangan Wajib Pajak
e = Variabel penggangu ( Error)
Dari model persamaan regresi pada Tabel IV.14 dapat dijelaskan bahwa :
1. Nilai konstanta yang terbentuk adalah 16,327. Hal ini menunjukkan bahwa jika nilai kualitas pelayanan pajak dan kondisi keuangan wajib pajak sebagai moderator konstan maka kepatuhan pajak akan meningkat sebesar 16,327%.
2. Variabel Independen yang digunakan adalah kualitas pelayanan pajak. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel kualitas pelayanan pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar 0,120 yang berarti jika diasumsikan kualitas pelayanan pajak meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka kepatuhan pajak meningkat sebesar 0,120%.
3. Variabel moderasi yang digunakan adalah kondisi keuangan wajib pajak. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel kondisi keuangan wajib pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi
13
sebesar -2,147 yang berarti jika diasumsikan kondisi keuangan wajib pajak meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka kepatuhan pajak menurun sebesar 2,147%.
4. Variabel independen yang digunakan dalam model penelitian ini adalah kualitas pelayanan pajak dan variabel moderasinya adalah kondisi keuangan wajib pajak. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel kondisi keuangan mempengaruhi hubungan antara kualitas pelayanan pajak dan kepatuhan pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar 1,886 yang berarti jika diasumsikan kondisi keuangan wajib pajak meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka pengaruh kualitas pelayanan pajak terhadap kepatuhan pajak meningkat sebesar 1,886%. b. Menguji pengaruh Preferensi Resiko terhadap pengaruh hubungan antara Kualitas Pelayanan
Pajak dengan Kepatuhan Pajak (Hipotesis III).
Hasil persamaan Moderated Regression Analysis (MRA) dapat ditentukan sebagai berikut :
Keterangan:
Y = Kepatuhan Pajak
X1 = Kualitas Pelayanan Perpajakan
X3 = Preferensi Resiko
X1.X3 = Interaksi Kualitas Pelayanan Pajak dengan Preferensi Risiko
e = Variabel penggangu ( Error)
Dari model persamaan regresi pada Tabel IV.14 dapat dijelaskan bahwa :
1. Nilai konstanta yang terbentuk adalah 21,193. Hal ini menunjukkan bahwa jika nilai kualitas pelayanan pajak dan Preferensi Resiko sebagai moderator konstan maka kepatuhan pajak akan meningkat sebesar 21,193%.
2. Variabel Independen yang digunakan adalah kualitas pelayanan pajak. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel kualitas pelayanan pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar 0,130 yang berarti jika diasumsikan kualitas pelayanan pajak meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka kepatuhan pajak meningkat sebesar 0,130%.
3. Variabel moderasi yang digunakan adalah Preferensi resiko. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel preferensi resiko memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar -0,224 yang berarti jika diasumsikan preferensi resiko meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka kepatuhan pajak menurun sebesar 0,224%.
4. Variabel independen yang digunakan dalam model penelitian ini adalah kualitas pelayanan pajak dan variabel moderasinya adalah preferensi resiko. Dari tahapan pengujian diketahui bahwa variabel preferensi risiko mempengaruhi hubungan antara kualitas pelayanan pajak dan kepatuhan pajak memiliki arah dan slop koefisien regresi sebesar 0,324 yang berarti jika diasumsikan preferensi resiko meningkat 1% dan variabel lainnya dianggap konstan, maka pengaruh kualitas pelayanan pajak terhadap kepatuhan pajak meningkat sebesar 0,324%.
IV.1.8 Hasil Pengujian Koefisien Determinasi
Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,354. Angka ini menjelaskan bahwa 35,4% Kepatuhan Pajak dipengaruhi oleh Kualitas layanan pajak, kondisi keuangan wajib pajak, dan preferensi resiko wajib pajak. Dari persentase tersebut dapat dikatakan bahwa 64,6% Kepatuhan Pajak dijelaskan oleh variabel lainnya, seperti pemahaman perpajakan oleh wajib pajak, keadilan perpajakan, kesadaran wajib pajak, sosialisasi SPT, sistem administrasi pajak dan lainnya.
14 IV.2 Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan IV.2.1 Hasil Pengujian Hipotesis Pertama
Pengaruh Kualitas Layanan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pajak
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh thitung > ttabel yaitu 5,885 > 1,157 dengan nilai signifikan sebesar 0.000 dan tingkat kesalahan (alpha) sebesar 0.05. Dari hasil pengujian terlihat, maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kualitas layanan perpajakan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Kepatuhan pajak. Jadi, semakin tinggi tingkat kualitas pelayanan perpajakan maka akan semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pajak.
IV.2.2 Hasil Pengujian Hipotesis Kedua
Pengaruh Kondisi Keuangan Terhadap Hubungan antara Kualitas Layanan Perpajakan dengan Kepatuhan Pajak
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh thitung > ttabel yaitu 4,421 > 1,157, dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan tingkat kesalahan (alpha) sebesar 0,05. Dari hasil pengujian terlihat, maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara kualitas layanan perpajakan dengan kepatuhan perpajakan.
IV.2.3 Hasil Pengujian Hipotesis Ketiga
Pengaruh Preferensi Resiko Terhadap Hubungan antara Kualitas Layanan Perpajakan dengan Kepatuhan Pajak
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh thitung > ttabel yaitu 3,406> 1,157 dengan nilai signifikan sebesar 0,001 dan tingkat kesalahan (alpha) sebesar 0.05. Dari hasil pengujian maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa preferensi resiko wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara kualitas layanan perpajakan dengan kepatuhan perpajakan.
V Kesimpulan dan Saran V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengujian hipotesis pertama menemukan bahwa variabel kualitas layanan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pajak.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua menemukan bahwa kondisi keuangan berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara kualitas layanan pajak dengan kepatuhan pajak.
3. Hasil pengujian hipotesis ketiga menemukan bahwa preferensi resiko berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara kualitas layanan perpajakan dengan kepatuhan pajak.
4. Hasil pengujian koefisien determinasi sebesar 0,354 memberi pengertian bahwa 35,4% kepatuhan pajak dipengaruhi oleh kualitas pelayanan pajak, kondisi keuangan wajib pajak dan preferensi resiko. Dari persentase tersebut dapat dikatakan bahwa 64,6% Kepatuhan Pajak dijelaskan oleh variabel lainnya.
V.2 Saran
Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas area penelitian dan dapat menambahkan variabel lain yang juga mempengaruhi kepatuhan pajak. Hal ini diperlukan agar penelitian dimasa yang akan datang dapat lebih sempurna dari penelitian ini.
15 Daftar Pustaka
Alabade, Affrin dan Idris. 2011. Tax Service Quality and Compliance Behaviour in Nigeria: Do Taxpayer’s Financial Condition and Risk Preference Play Any Moderating Role?. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences.
Alabade, Affrin dan Idris. 2011. Public Governance Quality and Tax Compliance Behavior in Nigeria: The Moderating Role Of Financial Condition and Risk Preference. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences.
Alm, J. & Torgler, B. 2006. Culture differences and Tax Morale in United States and Europe. Journal of Economic Psychology, 27, 224 – 246.
Bloomquist, K. M. (2003). Income inequality and tax evasion: A sysnthesis. Tax Notes International , 31(4),347-367
Boediono B.2003. Pelayanan Prima Perpajakan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Mulitivariate Dengan Program SPSS, Edisi Tiga, Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Hammar, H., Jagers, S. C., & Nordblom, K. (2005). Tax evasion and the importance of trust. Working paper,Goteborg University, Goteborg.
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis. untuk Akuntansi dan Manajemen. BPFE. Yogyakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008. Balai Pustaka. Jakarta
Marpaung, Hamza. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi Wajib Pajak Orang Pribadi tidak mengisi sendiri SPT Tahunannya pada KPP Tampan-Kota Pekanbaru. Skripsi Akuntansi Universitas Riau.
Persentase Kepatuhan Wajib Pajak di Negara Indonesia pada tahun 2012
http://www.ortax.org/ortax/?mod=berita&page=show&id=12450&q=&hlm=18 Pengertian Preferensi http://id.wikipedia.org/wiki/Preferensi
Torgler, B. 2003. Tax morale: Theory and analysis of tax compliance. Unpublished doctoral dissertion, University of Zurich,Switzerland
Yulia, Hanna. 2008. Pengaruh tingkat kepuasaan pelayanan perpajakan, pemahaman perpajakan, keadilan perpajakan terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi pada KPP Tampan-Pekanbaru. Skripsi Akuntansi Universitas Riau.