PENYEBARAN DAN JENIS KAPANG NEMATOFAGUS
SEBAGAI PENGENDALI PARASIT CACING TERNAK
DI JAWA BARAT, JAWA TENGAH DAN SUMATERA UTARA
RIZA ZAINUDDIN AHMAD danBERIAJAYA
Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114
ABSTRAK
The Distribution and Kind of Nematophagous Fungi for Controlling Parasites of Husbandry Worm in West Java, Central Java and North Sumatra
The germ plasma of natural Indonesia is given supports and changes to collecting nematophagous fungi. This mold use as one choice for controlling nematode parasites from ruminant’s husbandry. Some of methods have been done both of originals and modification methods to isolate samples from fecal and soil. The identification has confirmed of these literature and clarification with import isolates. The collecting of samples from some location in some district in Indonesia i.e.: West Java (1997, 1999, 2000); Central Java (1999), and North Sumatra (2000). The research succeeded to collect 2025 samples consist of 242 fecal samples and 1783 soil samples. The Observed of isolation from fecal sample give bad results are 0%, and samples from soil give (0,45%) isolates of nematophagous fungi. They are Arthrobotrys oligospora (0,39%) and Duddingtonia flagrans (0,06%), while on the other hand the distribution of these molds are not even.
Key words: Distribution, nematophagous fungi
PENDAHULUAN
Kapang nematofagus adalah kapang yang mempunyai kemampuan mengurangi populasi larva cacing nematoda dengan cara membunuh dan memangsa larva infektif melalui jeratan hifa, sebagai endoparasit, membunuh kista, membunuh telur cacing dan menghasilkan toksin. Pada saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 150 spesies kapang nematofagus di dunia (BARRON, 1977; GRONVOLD et al., 1993).
Nematodiasis adalah penyakit cacingan yang disebabkan oleh cacing golongan nematoda. Penyakit cacing yang dianggap penting pada domba adalah haemonchosis. Tanda klinis yang terlihat adalah anoreksia, oedema, dan kekurusan (SOULSBY, 1986).
Populasi ternak ruminansia kecil di Indonesia diperkirakan berjumlah 7,5 juta domba dan 14,1 juta kambing (ANONIM, 1998) dengan tingkat prevalensi penyakit ini yang cukup tinggi. Di Sumatera Utara diperoleh data 80% di antaranya terinfeksi cacing saluran pencernaan (BERIAJAYA dan NURHADI, 1985), sedang di Jawa Barat diperoleh data persentase infeksi haemonchosis menduduki peringkat tertinggi (RIDWAN
et al., 1996). Kerugian pada ternak ruminansia akibat penyakit ini di Indonesia pada tahun 1985 diperkirakan 4,7 juta US dolar pertahun (RONOHARDJO et al., 1985).
Indonesia yang terletak di daerah tropis ternyata memiliki kekayaan plasma nutfah yang banyak termasuk mikroba (KARDIN et al., 1995), faktor ini mendukung untuk mengeksplorasi mikroba khususnya kapang-kapang nematofagus.
Pengendalian secara biologi terhadap cacing nematoda dengan kapang nematofagus telah dilakukan sejak awal abad ke 19 (GRONVOLD et al., 1993) dan belakangan ini kembali menjadi salah satu pilihan sebagai pengendali infeksi cacing. Pengendalian secara biologi mempunyai prospek cukup cerah (AHMAD, 1998; 2002), karena ada peluang penanggulangan masalah nematodiasis pada ternak ruminansia kecil dengan dukungan kekayaan plasma nutfah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan penyebaran kapang-kapang nematofagus yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.
MATERI DAN METODE
Koleksi sampel tanah dan tinja dilakukan selama 3 tahun yaitu tahun 1997-2000 di beberapa lokasi yang berbeda keadaan geografinya di Indonesia yaitu; 1) Sumatera Utara (Botagus, Pulau Sambas, Timbang Deli, Sei Putih). 2) Jawa Barat (Bogor meliputi Caringin, Ciapus, Ciasmara, Ciwaringin, Cijeruk, Cimande, Cibinong, Darmaga, Jasinga, Karadenan, Kebon raya Bogor, Leuwiliang, Sukaraja, Sukamulya, Taman Kencana; Cirebon meliputi Babadan, Karadenan, Purwarinangun; dan Garut meliputi Cogrek, Cikajang, Cikeris, Cisurupan, Panagan, Penggilingan, Karang Pacitan, Tanjung sari, dan Sukawangi), dan 3) Jawa Tengah (Batang, Brebes, Gresing, Kaligesing, Kendal, Kudus, Pati, Pekalongan, Losari, Magelang, Purworedjo, Semarang, Tegal). Tempat pengambilan
sampel dilakukan secara acak pada tempat-tempat padang penggembalaan, bekas kandang, tanah pertanian yang ada ternak ruminansia. Sampel-sampel tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran ¼ kg kemudian dibawa ke laboratorium Balai Penelitian Veteriner Bogor. Sampel yang berjumlah 2025 terdiri dari 1352 sampel dari Jawa Barat yang dikoleksi pada tahun 1997, 1999 dan 2000; 571 sampel dari Jawa Tengah yang dikoleksi pada tahun 1999; dan 102 sampel dari Sumatera Utara pada tahun 2000. Adapun jenis sampel terdiri atas 242 sampel tinja dan sisanya 1833 sampel tanah. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.
Koleksi sampel tanah
Sampel tanah dari setiap lokasi daerah pertanian, sekitar kandang, padang gembalaan ternak serta tanah yang banyak mengandung bahan organik diambil kurang lebih 3 g dengan sendok, dengan kedalaman 0-5 cm dari permukaan tanah dan jarak pengambilan 3-5 m2. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik (AHMAD, 2001).
Koleksi sampel tinja
Dari setiap lokasi di kandang ternak diambil tinja secara eksplorasi rektal dan tinja yang sudah keluar dari hewan sebanyak 3-5 g secara acak, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik.
Isolasi sampel tinja
Setiap sampel 1-3 g tinja disebarkan dengan membentuk pola bintang pada setiap cawan Petri yang berisi 2% agar cair dan 0,02% tetrasiklin (w/v), kemudian ditambahkan, kurang lebih 2000-4000 L3 H. contortus pada setiap cawan Petri, kemudian diperiksa seminggu sekali selama 3 minggu. (LARSEN et al., 1994).
Isolasi sampel tanah
a) Sampel ditaburkan sebanyak 0,5–1 g pada cawan Petri yang berisi 1,5% agar cair dan tambahkan 500-1000 larva infektif, lalu diinkubasi pada suhu kamar, kemudian di amati 3 hari sekali selama 6 minggu (JANSSON, 1995).
b) 10 g sampel tanah dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 ml yang berisi 15 ml 0,01% sodium-hexametaphosphate, kemudian digoyang-goyang selama 10 menit pada suhu kamar, lalu dibiarkan 5 menit. Setelah itu, diambil 5 contoh supernatan (0,5 ml/petri), kemudian disebar dengan pola bintang pada cawan Petri (diameter 8 cm) yang berisi medium
tetrasiklin agar cair (TCC-WA). Cawan Petri tersebut diberi 1.000 – 2.000 larva3 H. contortus, kemudian
diinkubasi pada suhu kamar Diinkubasikan selama 30 hari dan diperiksa 2 kali setiap minggu (LARSEN et al., 1991).
Identifikasi
Kapang yang ditemukan diidentifikasi menurut BARRON (1977), GRONVOLD et al. (1996) berdasarkan morfologi dan bentuk jeratnya. Untuk kapang A. oligospora dan D. flagrans diklarifikasi dengan isolat impor; CBS. 115.81 A. oligospora , dan D. flagrans pemberian dari DR MICHAEL LARSEN dari Danish Centre for Experimental Parasitology, the Royal Veterinary and Agricultural University, Denmark pada tahun 1999.
LarvaHaemonchus contortus
Larva tersebut dipersiapkan dari 2 ekor domba donor yang terlebih dahulu diberikan ivomex untuk membunuh cacing jenis lain di dalam tubuhnya, selanjutnya diinfeksi larvaH. contortus dengan dosis 5.000 selama tiga kali setiap minggu. Ketika infeksi telah mencapai masa paten yaitu pada minggu ketiga sesudah infeksi, tinja domba donor ditampung dengan kantong penampung tinja. Untuk mendapatkan L3 H. contortus, tinja tersebut dipupuk dengan metode STEFAN et al. (1989), yaitu tinja yang akan diperiksa tersebut dicampur dengan vermikulit dengan perbandingan 1:3. Setelah itu pupukan setiap hari diperiksa dan ditambahkan beberapa tetes aquades untuk menjaga kelembaban, lalu diinkubasi pada suhu 270C selama 7 hari agar semua larva menjadi infektif. Larva kemudian dipanen dan dihitung.
Parameter
Parameter yang diukur adalah jenis kapang nematofagus pengendali cacing nematoda ternak yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data pada Tabel 1, Jawa Barat mempunyai jumlah sampel yang paling banyak yaitu 1352 sampel karena lokasi ini dekat dengan tempat pemeriksaan di laboratorium Balai Penelitian Veteriner Bogor. Secara umum jumlah sampel tanah (1783 sampel) lebih banyak dibandingkan dengan sampel tinja (242 sampel) karena diduga isolasi dari sampel tanah lebih besar kemungkinannya untuk mendapatkan isolat kapang nematofagus dari pada sampel tinja.
Tabel 1.
Lokasi pengambilan sampel dan hasil isolat kapang nematofagus temuan yang efektif pada membunuh nematoda ternakJenis sampel
Propinsi Lokasi
Tanah Tinja Jumlah Jumlah isolat Jawa Barat Bogor Caringin
Ciapus Ciasmara Ciwaringin Cijeruk Cimande Cibinong Darmaga Jasinga
Kebon raya Bogor Leuwiliang Sukaraja Sukamulya Taman kencana 43 50 20 43 31 6 0 37 10 135 41 15 5 20 20 0 0 20 93 110 29 0 10 0 94 5 15 0 63 50 20 63 124 116 29 37 20 135 135 20 20 20 1 2 Jumlah 456 396 852 3 Cirebon Babadan Karadenan Purwarinangun 28 16 5 119 44 35 147 60 40 3 Jumlah 49 198 247 3 Garut Cogrek Cikajang Cikeris Cisurupan Panagan Penggilingan Karang Pacitan Tanjung sari Sukawangi 4 5 5 14 5 10 5 5 5 11 12 18 26 22 27 12 22 45 15 17 23 40 27 37 17 27 50 Jumlah 58 195 253 Jumlah 1352 6
Jawa Tengah Batang
Brebes Gresing Kaligesing Kendal Kudus Pati Pekalongan Losari Magelang Purworedjo Semarang Tegal 45 9 15 150 15 5 5 15 5 46 191 65 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 45 9 15 150 15 5 5 15 5 46 191 65 5 Jumlah 571 571
Sumatera Utara Botagus Pulau Sambas Timbang Deli Sei Putih 15 20 30 37 0 0 0 0 15 20 30 37 2 Jumlah 102 102 2 Jumlah total 2025 8
Isolasi dari tinja tidak memberikan hasil yang baik, diduga karena Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang kaya pada tinja dan lingkungan tanah yang terkena tinja, sehingga banyak sekali tumbuh jenis kapang-kapang yang tak termasuk dalam kapang nematofagus, seperti Pilobolus spp. dan Mucor spp. Seperti sampel-sampel asal Sumatera Utara dan Jawa tengah yang tak dapat dilakukan isolasi karena di dalam perjalanan menuju ke Lab mikologi di Bogor telah terkontaminasi diduga akibat kontaminasi saat penyimpanan tinja selama perjalanan dari tempat koleksi sampai tempat pemeriksaan di Bogor karena hanya disimpan pada boks yang diberi es batu. Untuk isolasi dari sampel tinja sebaiknya dicari tinja yang segar saja karena yang kering dan lama sudah banyak mengandung mikroba lain, sehingga susah untuk mengisolasi dan menemukan kapang nematofagus.
Pada tabel 1 menunjukkan penyebaran jenis kapang nematofagus ternyata tidak merata dari ke tiga (3) daerah di Indonesia; Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara, ternyata hanya dari sampel tanah Sumatera Utara yang berhasil ditemukan isolat A.oligospora yaitu; dari Sei putih. Adapun kondisi habitat kapang yang berhasil diisolasi adalah tanah di dekat kandang-kandang pemeliharaan kambing dan domba, cukup lembab dan teduh tak terkena sinar matahari langsung, kemudian dari daerah Bogor ditemukan pula isolat A. oligospora di daerah Darmaga di tempat pertanian jauh dari kandang ternak, dan di Kebun raya Bogor di temukan D. flagrans, lokasi penemuan terletak di dekat kolam besar di bawah pohon yang sudah lapuk. Kedua lokasi ini juga terlindung dari cahaya matahari langsung, suhu sekitar 250C. Namun berbeda dengan lokasi penemuan A. oligospora asal Cirebon yaitu Karadenan, tempat tersebut merupakan padang gembalaan ternak, dekat pantai, terkena sinar matahari dan suhunya cukup tinggi sekitar 300C. Namun ketiga tempat temuan tersebut mempunyai kesamaan yaitu tanah asal sampel subur berhumus dan sedikit berwarna kehitaman dengan kelembaban yang cukup. Jadi keadaan geografi daerah tersebut tidak terlalu berpengaruh bila daerah asal sampel subur. Hal ini sesuai dengan habitat tumbuhnya kapang-kapang nematofagus (GRONVOLD et al., 1993).
Beberapa metode isolasi kapang nematofagus dapat dipakai untuk mendapatkan isolat dari sampel tanah dan tinja. (JANSSONS, 1985; LARSEN et al., 1991; 1994). Namun karena diduga perbedaan iklim, musim dan keadaan tanah antara Indonesia dengan negara Australia dan Denmark, maka hasil isolat yang dipakai dengan metoda-metoda tersebut adalah bervariasi, Sehubungan dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh
WALLER and LARSEN (1996) yang menyimpulkan bahwa yang efektif untuk pengendalian biologis terhadap nematoda ternak adalah Arthrobotrys spp. dan D. flagrans, maka meski telah ditemukan beberapa isolat Cephalosporium spp., Dactyllela spp., Dactylaria spp., Fusarium spp., Gliocladium spp., Monacrosporium spp. Paecilomyces spp. dan Trichoderma. spp. namun kedelapan kapang tersebut tidak diteliti dan diisolasi lebih lanjut. Kedua kapang A. oligospora dan D. flagrans telah direkomendasikan sebagai salah satu agen kontrol biologis untuk pengendalian nematoda pada ternak melalui proses seleksi in vitro dan in vivo, dan dari hasil analisa kapang tersebut tak berbahaya untuk manusia dan hewan. Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi kapang-kapang nematofagus, isolat temuan yang didapat sedikit sekali yaitu; 8 isolat (tabel 2) bila dipersentasekan dari keseluruhan sampel hanya diperoleh (0,45%) dengan rincian isolat D. flagrans (0,06%); dan A. oligospora (0,39%); dan dari seluruh sampel tanah didapat (0,40%) kapang nematofagus.
Sehubungan dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh WALLER and LARSEN (1996) yang menyimpulkan bahwa yang efektif untuk Isolat–isolat lokal Indonesia A. oligospora telah ditemukan terlebih dahulu (AHMAD, 1998; AHMAD et al., 2001) dan kemudian barulah D. flagrans berhasil ditemukan (AHMAD, 2001). Kapang A. oligospora dan D. flagrans tersebut harus sesuai dengan diskripsi identifikasi, dan bila diklarifikasi dengan isolat impor harus sama. Hasil klarifikasi kedua isolat adalah sama dengan isolat impor yang dibawa oleh Dr. M. Larsen dari Denmark. Kedua isolat tersebut tersaji pada gambar 1 dan 2 pada media Souborouth Dekstrosa Agar (SDA) yang diinkubasi selama 10 hari pada temperatur kamar. Namun isolat D. flagrans isolat lokal pada proses pemindahan dan perbanyakan telah terkontaminasi oleh Fusarium spp., dari hasil pengamatan hal ini diduga karena D. flagrans konidiafornya tumbuh lebih rendah sehingga kalah bersaing untuk hidup dengan kapang Fusarium spp., akibatnya kapang kontaminan lebih dominan tumbuh.
Sehubungan dengan sedikitnya ditemukan kapang nematofagus diduga karena, pertama memang di daerah tersebut tak ada kapang nematofagus dan yang kedua kapang tersebut kalah bersaing dengan kapang kontaminan, namun pada saat tertentu dapat tumbuh kembali bila ada faktor perangsang tumbuhnya kapang tersebut misalnya cacing di sekitar tempat tersebut. Bila ditemukan kapang-kapang nematofagus di daerah peternakan maka dapat diduga daerah tersebut ternaknya ada atau pernah menderita cacingan.
Tabel 2. Isolat kapang nematofagus temuan yang efektif untuk parasit nematoda ternak
Lokasi Jenis No. sampel Tahun temuan Arthrobotrys oligospora Duddingtonia flagrans
Cirebon Tanah 982, 985, 987 1997 3 isolat
Bogor Tanah 1001,7 1997, 2000 2 isolat
101 2000 1 isolat
Sei putih Tanah 8,10 1999 2 isolat
Gambar 1. Kapang Artrobotry oligospora isolat lokal yang diinkubasi selama 10 hari di media SDA pada suhu kamar
KESIMPULAN
Jenis kapang nematofagus temuan dari sampel tanah yang berasal dari daerah Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Tengah adalah Arthrobotrys oligospora (7 isolat) dan Duddingtonia flagrans (1 isolat). Sedangkan penyebarannya di tiga (3) daerah tersebut tidak merata.
DAFTAR PUSTAKA
AHMAD. R.Z. 1997. Potensi kapang sebagai pengendali
biologi terhadap cacing. Majalah Parasitologi Indonesia 10 (2):104-113.
ANONIM. 1998. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal
Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.
AHMAD, R.Z. 1998. Penelitian Penanggulangan Haemonchosis pada ternak domba dengan kontrol biologi. Laporan Penelitian APBN tahun anggaran 1997/1998. Balitvet, Departemen Pertanian.
AHMAD, R.Z, F. SATRIJA, J. RIDWAN dan M. LARSEN. 2001. Isolasi dan Identifikasi kandidat kapang nematofagus Arthrobotrys spp., Endoparasit, Monacrosporium spp., dari beberapa lokasi di daerah Bogor. J. Mikol. Ked. Indon. 2001: 140-144.
AHMAD, R.Z. 2001. Tesis. Isolasi dan Seleksi kapang
nematofagus untuk pengendalian Haemonchosis pada domba. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Program Magister. Institut Pertanian Bogor.
AHMAD, R.Z., BERIAJAYA dan S. HASTIONO. 2002.
Pengendalian infeksi cacing nematoda saluran pencernaan ruminansia kecil dengan kapang nematofagus. Wartazoa.12 (3): 121-126.
BARRON, G.L. 1977. The nematode destroying fungi.In:Tropic
mycobiologi No.1. Canadian Biological Publication Ltd. Guelph, Ontario, Canada.
BERIAJAYA dan A. NURHADI. 1985. Infeksi cacing nematoda
gastro-intestinal pada domba di perkebunan karet. Maj. Parasitol. Ind. 8 (2) : 7-13.
GRONVOLD, J., J. WOLSTRUP, P. NANSEN, S.A.HENRIKSEN, M. LARSEN and J. BRESCIANI. 1993. Biological Control of
nematode parasites in Cattle with nematode trapping fungi: a Survey of Danish Studies. Vet. Parasitol. 48: 311-325.
GRONVOLD, J., P. NANSEN, S.A. HENRIKSEN, M. LARSEN, J. WOLSTRUP, J. BRESCIANI, H. RAWAT and L. FRIBERT. 1996. Induction of traps by Ostertagia ostertagi larvae, chlamydospore production and growth rate in the nematode-trapping fungus Duddingtonia flagrans J. Helminthol. 70: 291-297.
JANSSONS. H.B. 1985. Nematophagous fungi Recovery from
soil in plant nematology. Laboratory Manual. ZUKERMAN B.M, W.I.F. MAI and M.B. HARRISON (Ed.). Published by The university of Massachusets. Agricultural Indepandent Station Amherst Massachusets. 133-140.
KARDIN, MK., S. HASTIONO, D. SUDARMADJI dan S. BROTONEGORO. 1995. Status plasma nutfah mikroba pertanian. Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
LARSEN M, J. WOLSTRUPS, S.A. HENRIKSEN, C. DACKMAN, J. GRONVOLD dan P. NANSEN. 1991 In vitro stress
selection of nematophagous fungi for biocontrol of parasitic nematodes in ruminants. J. Helminthol, (6): 193-200.
LARSEN. M, FAEDO and P.J. WALLER. 1994. The potential of
nematophagous fungi to control the free-living stages of nematode parasites of sheep; survey for presence of fungi in fresh faeces of grazing livestock in Australia. Vet. Parasitol. 53: 275-281.
RONOHARDJO, P, A, A.J. WILSON and R.G. HIRST. 1985. Current livestock disease status in Indonesia. Penyakit Hewan 17 (29): 317-326.
RIDWAN, Y., S. KUSUMAMIHARDJA, P. DORNY and J. VERCRUYSSE. 1996. The Epidemiology of Gastro-intestinal nematodes of sheep in West Java Indonesia. Hemerazoa 78: 8-18.
SOULSBY, E.J.L. 1986. Helminths, Arthropods and protozoa of Domesticated Animals. The English Language Book Society and Bailliere. Tindal. London.
STEFAN, P., S.A.A HENRIKSEN and P. NANEN. 1989. A comparison of two methods and two additives for faecal cultivation of bovine Trichostrongyle. Vet. Parasitol. 31: 269-273.
WALLER P.J and M. LARSEN. 1996. Workshop Summary: Biological control of nematode parasites of livestock. Vet. Parasitol. 64 :135-137.