BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori 1. Manajemen
a. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris management dengan kata kerja to manage yang secara umum berarti mengurusi. Pada hakekatnya manajemen adalah suatu kegiatan untuk mencapat tujuan, melalui kerja orang-orang lain. Secara lebih terperinci dapat dinyatakan, bahwa manajemen meliputi perancangan dan sifat-sifat usaha kelompok dalam rangka untuk mencapai tujuan, tetapi dengan penggunaan modal berupa waktu, uang, material dan juga hambatan yang dijumpai, seminim mungkin. Dengan kata lain konsep dasar manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian suatu aktivitas yang bertujuan untuk mengalokasikan sumber daya sehingga mempunyai nilai tambah. Di lingkungan sekolah, misalnya kita saksikan bahwa manajemen lebih memusatkan perhatian kepada upaya penggerakan dan pemberdayaan sumber daya manusia (human resources empowering and motivating), sedangkan administrasi lebih terfokus kepada pelaksanaan aspek-aspek substantif seperti kurikulum, perlengkapan, keuangan sekolah, dan aktivitas rutin lain (Sergiovanni, dalam Burhanuddin, 2002).
Jadi, manajemen dapat diartikan sebagai tindakan untuk mencapai tujuan melalui usaha-usaha orang lain. Dalam kaitannya dengan perpustakaan sekolah, manajemen perpustakaan sekolah pada dasarnya adalah proses mengoptimalkan kontribusi manusia, material, anggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan. Karena perpustakaan sekolah sebagai sub sistem dari sebuah organisasi, dalam hal ini yaitu
sekolah, tentunya tujuan perpustakaan sekolah harus terlebih dahulu didefinisikan secara jelas.
Dalam arti khusus manajemen dipakai bagi pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin. Perkataan manajemen selalu dipakai untuk pimpinan suatu organisasi dan tidak untuk pimpinan kelompok informal, seperti regu sepak bola ataupun keluarga. Oleh karena itu, untuk mengerti manajemen seorang pemimpin harus terlebih dahulu memahami organisasi.
Secara umum pengertian manajemen adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya, yang menurut suatu perencanaan (planning) diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja yang tertentu.
Manajemen dan manajer adalah kebutuhan pokok bagi setiap organisasi/institusi modern dari organisasi yang besar sampai organisasi yang sederhana sekali pun. Pada saat ini, tidak ada organisasi yang berjalan tanpa adanya manajemen dan manajer, baik organisasi bisnis, instansi pemerintah, rumah sakit, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, dan juga perpustakaan. Kebutuhan terhadap manajemen ini bukan karena pekerjaan yang tumbuh menjadi besar untuk dikerjakan seorang diri, tetapi karena menangani organisasi memang berbeda dengan menangani kepemilikan sendiri, seperti praktik dokter, pengacara pekerjaan yang sejenis.
b. Fungsi-fungsi Manajemen
Koontz dan O’Donnell dalam bukunya The Principle of Management :
an Analiysis of Managerial Function menyebutkan fungsi manajemen tersebut ada lima, yaitu planning, organizing, staffing, directing, dan controlling.
1. Planning atau Perencanaan
Perencanaan dapat diartikan sebagai menentukan sasaran yang ingin dicapai, tindakan yang harus dilakukan, bentuk organisasi yang sesuai untuk mencapainya dan personal harus melaksanakan kegiatan tersebut.
2. Organizing atau Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah penetapan struktur peran-peran melalui penentuan-penentuan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, pengelompokan aktivitas, penugasan kelompok aktivitas kepada manajer, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi baik horizontal maupun vertical dalam struktur organisasi. Pengorganisasian ini tidak bisa diterapkan pada pekerjaan yang ditangani sendirian seperti profesi dokter, pengacara, atau bahkan perpustakaan pribadi yang dikelola sendiri oleh perpustakaan tersebut.
3. Staffing atau Pengisian Jabatan
Staffing atau pengisian jabatan dapat didefinisikan sebagai pengisian jabatan dalam struktur organisasi dengan cara mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja, mendaftar tenaga kerja yang ada, merekrut, memilih, menempatkan, promosi, menilai, member imbalan, dan melatih orang yang diperlukan. Fungsi staffing ini juga sangat erat kaitannya dengan fungsi pengorganisasian.
4. Directing atau Pengarahan
Directing dapat diartikan sebagai memimpin atau mengawasi orang-orang bawahan atau subordinat (tidak termasuk manajer atau anggota manajemen). Jadi proses directing tersebut melibatkan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Dengan demikian, seorang manajer harus mempunyai kemampuan untuk memotivasi bawahannya agar bawahan tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan baik dan tidak dengan terpaksa.
5. Controlling atau Pengawasan
Pengawasan adalah upaya yang sistematis untuk menetapkan standar prestasi pada sasaran perencanaan, merancang sistem-sistem umpan balik informasi, membandingkan prestasi aktual dengan standar, menentukan apakah ada penyimpangan serta menetapkan cara memperbaiki penyimpangan tersebut. Fungsi pengawasan ini dilaksanakan oleh setiap pimpinan di semua lini, mulai dari kepala perpustakaan sampai kepada kepala unit terkecil di perpustakaan. Tujuan pengawasan adalah untuk menemukan kelemahan dan kesalahan, kemudian diluruskan serta menjamin bahwa kelemahan dan kesalahan tersebut tidak terulang.
2. Perpustakaan Sekolah
a. Jenis Perpustakaan Sekolah
Pengertian perpustakaanpun berkembang dari waktu ke waktu. Pada abad ke-19 perpustakaan didefinisikan sebagai “suatu gedung, ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik, dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu”. Kemudian ALA (The American Library Association) menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan“. Sedangkan menurut Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional”.
Perpustakaan Sekolah adalah perpustakaan yang berada pada lembaga pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah yang
bersangkutan dan merupakan pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. (Sulistyo Basuki, 2010 : 2.16)
Menurut jenisnya perpustakaan sekolah mencakup perpustakaan seperti berikut :
1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah ibtidaiyah (MI)
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
3. Sekolah Menengah Atas (SMA) termasuk Madrasah Aliyah (MAN), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat.
b. Tujuan Perpustakaan Sekolah
Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra ko-kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.
Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Dengan kedudukan tersebut maka perpustakaan sekolah memiliki tujuan :
1. Membantu dan memperkuat tujuan pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah;
2. Mengembangkan dan meperkuat kebiasaan dan kegemaran kebiasaan dan kegemaran membaca dan belajar pada murid serta penggunaan perpustakaan sepanjang hayat;
3. Memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, imajinasi, dan keceriaan;
4. Membantu murid dalam pembelajaran dan keterampilan menilai serta menggunakan informasi, dengan tidak memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan kepada modus komunikasi dengan komunitas;
5. Menyediakan akses ke sumber informasi lokal, regional, nasional dan global serta kesempatan yang mengekspos murid pada gagasan, pengalaman, dan opini yang beraneka ragam;
6. Mengorganisasi aktivitas yang mendorong kesadaran dan kepekaan kultural dan sosial;
7. Bekerjasama dengan murid, guru, pimpinan sekolah serta orang tua untuk mencapai misi sekolah;
8. Memaklumatkan konsep bahwa kebiasaan intelektual dan akses ke informasi merupakan hal penting bagi terbentuknya warga negara yang bertanggung jawab dan partisipasi dalam alam demokrasi.
Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah: 1. Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.
2. Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan. 3. Memperluas pengetahuan para siswa.
4. Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu. 5. Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan
memelihara bahan pustaka dengan baik.
6. Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.
7. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi. 8. Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan
program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.
c. Fungsi Perpustakaan Sekolah
Berdasarkan tujuan perpustakaan sekolah, maka dapat dirumuskan beberapa fungsi perpustakaan, sebagai berikut :
1) Fungsi Edukatif
Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustkaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional dan kritis serta mampu membimbing dan membina para siswa dalam hal cara menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.
2) Fungsi Informatif
Yang dimaksud dengan fungsi informatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan uptodate yang disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.
3) Fungsi Administratif
Yang dimaksudkan dengan fungsi administratif ialah perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif, dan efisien.
4) Fungsi Rekreatif
Yang dimaksudkan dengan fungsi rekreatif ialah perpustakaan disamping menyediakan buku-buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) dan bermutu, sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktu senggang, baik oleh siswa maupun oleh guru.
5) Fungsi Penelitian
Yang dimaksudkan dengan fungsi penelitian ialah perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber / obyek penelitian sederhana dalam berbagai bidang studi.
2. Konsep Dasar Manajemen Perpustakaan Sekolah
Pada hakekataya manajemen adalah suatu kegiatan untuk mencapai tujuan, melalui kerja orang-orang lain. Secara lebih terperinci dapat dinyatakan, bahwa manajemen meliputi perancangan dan sifat-sifat usaha kelompok dalam rangka untuk mencapai tujuan, tetapi dengan penggunaan modal berupa, waktu, uang, material dan juga hambatan yang dijumpai, seminim mungkin.
Dengan kata lain konsep dasar manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian suatu aktivitas yang bertujuan untuk mengalokasikan sumber daya sehingga mempunyai nilai tambah. Di lingkungan sekolah, misalnya kita saksikan bahwa manajemen lebih memusatkan perhatian kepada upaya penggerakan dan pemberdayaan sumber daya manusia (human resources empowering and motivating), sedangkan administrasi lebih terfokus kepada pelaksanaan aspek-aspek substantif seperti kurikulum, perlengkapan, keuangan sekolah, dan aktivitas rutin lain (Sergiovanni, dalam Burhanuddin, 2002).
Jadi, manajemen dapat diartikan sebagai tindakan untuk mencapai tujuan melalui usaha-usaha orang lain. Dalam kaitannya dengan perpustakaan sekolah, manajemen perpustakaan sekolah pada dasarnya adalah proses mengoptimalkan kontribusi manusia, material, anggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan. Karena perpustakaan sekolah sebagai sub sistem dari sebuah organisasi, dalam hal ini yaitu sekolah, tentunya tujuan perpustakaan sekolah harus terlebih dahulu didefinisikan secara jelas.
Manajemen perpustakaan sekolah pada dasarnya adalah proses mengoptimalkan kontribusi manusia, material, anggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan. Perpustakaan sekolah masih mengalami berbagai hambatan, sehingga belum bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Hambatan tersebut berasal dan dua aspek. Pertama aspek struktural, dalam arti keberadaan perpustakaan sekolah kurang memperoleh perhatian dari pihak manajemen sekolah. Kedua aspek teknis, artinya keberadaan perpustakaan sekolah belum ditunjang aspek-aspek bersifat teknis yang sangat dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah seperti tenaga, dana, serta sarana dan prasarana.
Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan bertindak sebagai selaku penyimpan khasanah hasil pikiran manusia. Hasil pikiran manusia itu dapat dituangkan dalam bentuk cetak maupun non cetak ataupun dalam bentuk elektronik seperti disket. Hasil pikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk buku dalam arti luas (mencakup bentuk cetak atau, grafis, non cetak, bentuk elektronik) ini seringkali diasosiasikan dengan kegiatan belajar.
Buku merupakan alat bantu manusia untuk belajar sejak saat mulai dapat membaca, memasuki bangku sekolah hingga bekerja. Oleh karena, itu, perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku, sedangkan buku dikaitkan dengan kegiatan belajar, maka perpustakaan pun (termasuk dalam hal ini perpustakaan sekolah) selalu dikaitkan dengan kegiatan belajar.
Kegiatan belajar dibagi atas dua macam, yaitu kegiatan belajar di dalam lingkungan sekolah dan kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah. Perpustakaan sebagai pranata yang dikaitkan dengan kegiatan belajar lebih mengarah pada kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah. Dalam kenyataannya, ada juga sekolah yang memiliki perpustakaan sehingga, kegiatan belajar disatukan antara sekolah dengan perpustakaan. Karena itu muncullah jenis perpustakaan di
lingkungan sekolah yang kemudian dikenal dengan sebutan "Perpustakaan Sekolah".
Mendiknas No. 053/U/2001 tanggal 19 April 2001 tentang penyusunan pedoman standar pelayanan minimal penyelenggaraan persekolahan pada tingkat TK, Dasar sampai dengan SMU/SMK, bahwa keberadaan perpustakaan sekolah merupakan syarat dalam standar pelayanan minimal (SPM) tersebut. Sehubungan hal itu agar bahan pustaka, dapat didayagunakan secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsi perpustakaan sekolah, maka tentunya diperlukan suatu manajemen perpustakaan sekolah yang memadai.
3. Minat Baca
Aspek minat baca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca, dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca. Sinambela (1993) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. (Sudarsana Undang, 2011 :4.27)
Berdasar pendapat-pendapat di atas maka minat membaca adalah kekuatan yang mendorong anak untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Secara operasional Lilawati (1988) mengartikan minat membaca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan individu untuk membaca dengan kemampuannya sendiri.
Jadi dapat disimpulkan bahwa minat merupakan suatu sikap batin dari dalam diri seseorang yang merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan perasaan senang yang timbul dari dorongan batin seseorang. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi
seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya.
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang diajarkan di Sekolah Dasar. Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan merupakan satu kesatuan. Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif, suatu bentuk penyerapan yang aktif. Dalam kegiatan membaca, pikiran dan mental dilibatkan secara aktif, tidak hanya aktifitas fisik saja. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang membaca. Berikut ini akan dikemukakan berbagai pendapat mengenai kegiatan membaca.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 83), membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis. Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Dengan kata lain, membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tulis.
Menurut Akhadiah (1991: 22), membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencangkup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh :
1. Anugerah Permana (2010) yang berjudul “Strategi Pustakawan dalam Menumbuhkan Minat Baca Siswa di SD Negeri Glagah Janturan Yogyakarta”, menerangkan bahwa strategi atau upaya pustakawan dalam menumbuhkan minat baca siswa meliputi :
a. Peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan.
b. Menjadikan ruang perpustakaan yang nyaman dan menarik layaknya tempat bermain anak-anak supaya siswa-siswi lebih betah diperpustakaan.
c. Kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas, dan pustakawan. Adapun kendala yang dihadapi pustakawan SD Negeri Inti Glagah Janturan Yogyakarta dalam menumbukan minat baca berasal dari siswa, keterbatasan koleksi, waktu kunjungan yang sangat terbatas, dan kurangnya tenaga pustakawan.
2. Darmawati (2009) yang berjudul “Peran Perpustakaan SMP N 161 Jakarta dalam Meningkatkan Minat Membaca Siswa”, menerangkan bahwa perpustakaan SMP N 161 Jakarta memiliki program yang rutin dilaksanakan, diantaranya :
a. Merubah tata ruang secara berkala, dengan tujuan memberikan inovasi baru dan merangsang siswa untuk selalu datang ke perpustakaan.
b. Pengadaan koleksi buku
c. Melaksanakan program pustakawan junior, adapun tujuannya adalah meningkatkan keterampilan kemampuan berbahasa pada umumnya, pengetahuan dan prestasi siswa dalam hal kepustakaan.
Adapun yang menjadi kendala adalah latar belakang ekonomi keluarga, potensi masing-masing siswa dan semakin maraknya penggunaan handphone sehingga siswa malas untuk membaca buku.
Dari pemaparan kajian penelitian relevan yang diambil dari dua sumber yang berbeda, maka persamaannya adalah sama-sama membahas atau mengkaji tentang upaya meningkatkan minat baca peserta didik. Adapun perbedaannya adalah yaitu tentang tatacara cara, sistem ataupun upaya yang dilakukan.
C. Kerangka Pemikiran
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.
Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.
Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi. Perkembangan tersebut juga membawa dampak kepada “pengelompokan” perpustakaan berdasarkan pola-pola kehidupan, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi tadi. Istilah-istilah perpustakaan “membengkak” menjadi sangat luas namun cenderung mempunyai sebuah spesifikasi tertentu. Dilihat dari perkembangan teknologi informasinya perpustakaan berkembang dari perpustakaan tradisional, semi-tradisional, elektronik, digital hingga perpustakaan “virtual”. Kemudian dilihat dari pola kehidupan masyarakat berkembang mulai perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan pribadi, perpustakaan keliling, dan sebagainya. Kemudian dilihat dari perkembangan kebutuhan dan pengetahuan sekarang ini banyak bermunculan istilah perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan anak-anak, perpustakaan sekolah, perpustakaan akademik (perguruan tinggi), perpustakaan perusahaan, dan lain sebagainya.
Dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, peran perpustakaan sangat strategis karena fungsinya melayani semua lapisan masyarakat untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan tanpa persyaratan dan tanpa membayar.
Untuk menjamin kelangsungan dan pendayagunaan perpustakaan di dalam penyelenggaraannya harus dapat tercapai suasana dan mekanisme kerja yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu perpustakaan harus diorganisasikan dengan sebaik-baiknya dan harmonis. Maksudnya adalah untuk menghindarkan sekecil mungkin terjadinya kepincangan-kepincangan dalam pekerjaan dan masing-masing tanggung jawab tersebut.
Dalam melaksanakan tujuan perpustakaan tersebut, mutlak disusun suatu organisasi yang baik guna mencapai hasil yang semaksimal mungkin, karena dengan adanya organisasi dan manajemen menjadi sarana pendukung untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi perpustakaan dapat digambarkan dalam bentuk bagan yang disebut struktur organisasi. Dengan demikian, struktur organisasi menggambarkan kelompok-kelompok tugas yang harus dilakukan oleh suatu perpustakaan dalam kaitannya dengan sumber daya manusia, sumber dana dan sumber materi yang menjadi syarat agar tugas-tugas perpustakaan terlaksana sesuai dengan program kerja untuk mencapai tujuan perpustakaan.
Wursanto (2007) mengemukakan batasan organisasi sebagai berikut. “Organisasi adalah suatu proses mempersamakan dan mengelompokan suatu pekerjaan untuk dikerjakan, membatasi dan mendelegasikan pertangungjawaban dan kekuasaan, menetapkan hubungan-hubungan untuk memungkinkan orang dapat bekerja bersama-sama dengan lebih efektif dan objektif dalam menyelesaikan tugas itu”.
Hakikat kegiatan organisasi tersebut adalah suatu sistem cara mengelola manusia, perlengkapan, dan aspek-aspeknya secara efektif, efisien, dan produktif agar tercapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hakikat kegiatan organisasi dan administrasi tersebut sama
dengan manajemen.
Dalam penyusunan program kerja, tidak hanya soal susunan atau asal jadi saja, tetapi harus diperhitungkan dan dipertimbangkan dari segala aspeknya. Program kerja adalah suatu schedule atau pentahapan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mencapa sasaran organisasi untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
Adapun skema tentang sistem manajemen perpustakaan dalam upaya meningkatkan minat baca peserta didik, adalah sebagai berikut :
Gambar 1. Alur Pikir Penelitian Organisasi
perpustakaan (sebagai alat)
Program kerja jangka pendek, menengah, dan
panjang (Planning) Penjabaran dan analisis kegiatan (Action) Pencapaian sasaran dan Tujuan (Evaluation) Tujuan perpustakaan (Library goal)
“Meningkatkan minat baca” Pengorganisasian program