1 1.1. Latar Belakang Masalah
Pengertian penilaian karyawan, pada dasarnya adalah upaya penilaian terhadap kinerja karyawan, secara umum dapat diartikan sebagai upaya guna mengadakan pengukuran atas kinerja dari setiap karyawan perusahaan (Budihardjo, 2015) . Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang memiliki karyawan yang dapat bekerja dengan baik dan maksimal atau berhasil
Adapun pendapat para ahli mengenai pengertian kinerja, sebagai berikut : Menurut (Bodroastuti, 2011)mengungkapkan bahwa :
“Kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti Hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan).”
Berdasarkan (Pemerintah, Indonesia, Disiplin, & Negeri, 2019) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil yaitu kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk mentaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. Disiplin sendiri merupakan satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai, karena tanpa adanya disiplin, segala kegiatan yang akan dilakukan akan mendatangkan hasil yang kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan harapan. Hal ini
2
dapat mengakibatkan kurangnya pencapaian sasaran dan tujuan organisasi serta dapat juga menghambat jalannya program organisasi yang dibuat.
Pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab. Tasikmalaya dalam sebuah pekerjaan akan dilihat kinerja setiap karyawan berdasarkan tingkat absensi, kedisiplinan, dan target kerja dengan begitu proses penilaian terhadap karyawan masih menggunakan penilaian langsung dari kepala bagian BPN (Badan Pertanahan Nasional). Kondisi seperti ini, diperlukan suatu sistem yang bisa memberikan alternatif berupa solusi untuk penilaian karyawan yang kerjanya sangat bagus yang tepat untuk diberikan bonus atau sertifikat sesuai dengan kriteria pada dinas Badan Pertanahan Nasional tersebut.
Sebuah pengambilan keputusan maka harus sesuai dengan kinerja karyawan , jika penilaian tersebut salah maka akan mengakibatkan karyawan kerjanya menurun atau tidak baik sehingga harapan perusahaan untuk mencapai target tidak akan tercapai dengan baik.
Merancang sistem informasi pengukuran penilaian pegawai dibutuhkan model yang mampu menilai kinerja keseluruhan karyawan dari Badan Pertanhan Nasional Kab. Tasikmalaya dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) suatu metode pengambilan keputusan dengan melakukan perbandingan berpasangan antara kriteria pilihan dan juga perbandingan berpasangan antara pilihan yang ada.
Berdasarkan masalah di atas penulis akan merancang sebuah sistem keputusan yang lebih tepat dan efektif untuk membantu proses Penilaian Kinerja karyawan pada kantor BPN (Badaan Pertanahan Nasional) Kab. Tasikmalaya dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) metode ini penulis pilih karena sangat menunjang untuk penilaian kerja di kantor tersebut.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini, adalah :
1. Mempermudah manager untuk mengetahui peningkatan kinerja karyawan 2. Mempermudah cara menghitung kinerja karyawan
3. Mengetahui bagaimana sistem penilaian yang sedang berjalan Manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini, adalah :
1. Sebagai salah satu syarat kelulusan Tugas Akhir program Diploma Tiga (III) Program Studi Sistem Informasi Kampus Kota Tasikmalaya di Universitas Bina Sarana Informatika.
2. Meningkatkan kreatifitas pola pikir dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat 3. Melatih kemampuan mahasiswa dalam mengumpulkan dan mengelola data menjadi
informasi yang di butuhkan
1.3. Metode Penelitian
A. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan pengumpulan data untuk pembuatan Tugas Akhir adalah :
1. Metode Observasi/Pengamatan
Observasi yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung bagaimana proses penilaian kinerja di Badan Pertanahan Nasional Kab.Tasikmalaya dan juga mempelajari permasalahan atau hambatan apa saja yang terjadi saat penilaian pegawai.
4
2. Metode Wawancara
Penulis dapat mengumpulkan data menggunkan teknik wawancara yang dilakukan secara langsung dan sistematis kepada kepala bagian di Badan Pertanhan Nasional Kab.Tasikmalaya dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperoleh keterangan tujuan penelitian yang bersangkutan dengan prosedur system penilaian pegawai.
3. Metode Studi Pustaka
Untuk memperkuat landasan teori yang berhubungan dengan pembahasan yang di angkat, penulis mempelajari dan membaca dari buku-buku di perpustakaan , jurnal dan mengunjungi situs-situs yang ada di internet untuk mencari sumber yang di perlukan untuk pembuatan Tugas Akhir ini.
B. Metode Pengambilan Keputusan 1. Metode Analitical Hierarchy Procces
Metode Analitical Hierarchy Procces merupakan suatu model pengambil keputusan yang komprehensif dengan menghitungkan hal-hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif, dalam model pengambilan keputusan dengan AHP (Analitical
Hierarchy Procces) pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari
Langkah langkah metode Analitical Hierarchy Procces adalah sebagai berikut :
GambarI.1 Sumber: (Saaty 1988)
1. Memdefinisikan permasalahan dan penentuan tujuan. Jika AHP digunakan untuk memilih alternatif atau menyusun prioriras alternatif, pada tahap ini dilakukan pengembangan alternatif.
2. Menyusun masalah kedalam hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat di tinjau dari sisi yang detail dan terukur.
3. Penyusunan prioritas tiap elemen masalah pada hierarki, Proses ini menghasilkan bobot atau kontribusi elemen terhadap pencapaian tujuan sehingga elemen dengan bobot tertinggi memiliki prioritas penanganan. Prioritas dihasilkan dari suatu matriks perbandingan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama.
4. Melakukan pengujian konsitensi terhadap perbandingan antar elemen yang didapatkan pada tingkat hierarki
6
1.4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penulisan Tugas Akhir ini Meliputi sistem penilaian pegawai, sistem pendukung keputusan menggunakan metode Analitical Hierarchy Procces dalam menentukan hasil kinerja pegawai. Dalam penelitian ini meliputi :
1. Proses absensi pegawai
2. Penilaian kedisiplinan pegawai 3. Pencapaian target kerja
Demikian ruang lingkup penelitian ini jelas dan tidak keluar dari masalah dari batasan masalah.
7 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Konsep Dasar Sistem A. Pengertian Sistem
Sistem adalah rangkaian dari dua atau lebih komponen-komponen yang saling berhubungan, yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.Sebagian besar sistem terdiridari subsistem yang lebih kecil yang mendukung sistem yang lebih besar.(Ii & Pustaka, 2016)
Menurut (Sutopo, Cahyadi, & Arifin, 2018) Secara umum sistem adalah kumpulan dari beberapa bagian tertentu yang saling berhubungan secara harmonis untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Elemen-elemen yang mewakili suatu sistem secara umum adalah masukan (input) pengolahan (processing) dan keluaran (output).
Sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama - sama untuk melakukan suatu kegiatan atau tujuan tertentu”. Sedangkan pendekatan sistem pada komponen atau elemennya mendefenisikan sistem sebagai berikut: “Sistem merupakan bagian-bagian elemen yang saling berinteraksi dan saling berhubungan untuk mencapai membentuk satu kesatuan”.(Agus dkk, 2018)
B. Pengertian Informasi
Informasi adalah data yang telah dirangkum atau di manipulasi dalam bentuk lain untuk tujuan pengambilan keputusan, Sedangkan data itu sendiri merupakan fakta-fakta
8
dan gambar mentahan yang akan di proses menjadi informasi. (Fauzan, Latifah, Informasi, Teknik, & Indonesia, 2015)
Menurut (Sitohang, 2018) Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerima.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Informasi mengandung arti penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang sesuatu, (Hakim & Ali, 2018) menjelaskan arti kata informasi sebagai data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu kata informasi diartikan sebagai data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
C. Pengertian Sistem Informasi
Sistem informasi merupakan suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.(Iswandy, Sekolah, Manajemen, Komputer, & Balantai, 2015)
Menurut (Sitohang, 2018) Sistem Informasi adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan untuk mengintegrasikan data, memproses dan menyimpan serta mendistribusikan informasi.
Menurut (Wahyuni, Jasticia, & Nugraha, 2018) Sistem Informasi merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen didalam pengambilan keputusan. Sistem ini
memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen, dan basis data.
2.2. Teori Pendukung
A. ERD (Entity Relationship Diagram)
ERD adalah gambar atau diagram yang menunjukan informasi dibuat, disimpan, dan digunakan dalam sistem bisnis. Entitas biasanya menggunakan antar entitas sekaligus menunjukan hubungan antar data. Pada akhirnya ERD juga bias digunakan yang menunjukan aturan-aturan bisnis yang ada pada sistem informasi yang akan dibangun. (Fatta & Amikom, 2017)
Menurut (Lestari & Irawan, 2017) ERD adalah representasi grafis dari sistem informasi yang menunjukkan hubungan antara orang, objek, tempat, konsep atau kejadian di dalam sebuah sistem. ERD adalah teknik pemodelan data yang dapat membantu mendefinisikan proses bisnis dan dapat digunakan sebagai relasional database Menurut Fathansyah dalam (Yuniva & Anshori, 2017). “Entity Relationship Diagram adalah diagram yang berisi komponen- komponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang kita tinjau”. Dapat digambarkan dengan lebih sistematis dengan menggunakan Diagram Entity-Relationship (Diagram E-R).
B. LRS (Logical Relational Structure)
Menurut (Hasugian & Salma, 2017) LRS adalah sebuah model representasi dari struktur record-record pada tabel-tabel yang terbentuk dari hasil antar himpunan entitas :
10
Setiap entitas akan diubah ke dalam bentuk kotak dengan nama entitas berada diluar kotak dan atribut berada didalam kotak. Sebuah relationship terkadang dipisahkan kedalam sebuah kotak tersendiri dan terkadang sisatukan dalam sebuah kotak bersama entitas.
Menurut (Muzakki, Syamsiah, & Fara, 2017), “LRS merupakan hasil dari pemodelan
Entity Relationship (ER) beserta atributnya sehingga terlihat hubungan-hubungan antara
entitas”.
Menurut (Diah Puspitasari, 2016) LRS (Logical Record Structure) adalah sebuah model sistem yang di gambarkan dengan sebuah diagram-ER akan mengikuti pola/aturan pemodelan tertentu dalam kaitannya dengan konversi ke LRS, maka aturan yang terjadi adalah mengikuti aturan-aturan berikut ini : Setiap entitas akan di rubah kebentuk kotak , sebuah atribut relasi di satukan dalam sebuah kotak bersama entitas jika hubungan yang terjadi pada diagram-ER 1:M (relasi bersatu dengan cardinality M)
C. UML (Unified Modelling Language)
Menurut (Sitohang, 2018) UML (Unified Modeling Languege) memiliki sintaks dan semantic”. Ketika kita membuat model menggunakan konsep UML (Unified
Modeling Languege) ada aturan-aturan yang harus diikuti. Bagaimana elemen pada
model-modelyang kita buat berhubungan satu dengan lainnya harus mengikuti standar yang ada.
Menurut (Diah Puspitasari, 2016) UML adalah standar bahasa yang banyak digunakan di dunia industri untuk mendefinisikan requirement membuat analisis dan desain, serta menggambarkan arsitektuk dalam pemograman berorientasi.
Menurut (Novicha & Naja, 2018) Unified Modeling Language (UML) adalah sebuah bahasa yang berdasarkan gambar untuk menvisualisasikan, menspesifikasikan, membangun dan pendokumentasian dari sebuah sistem pengembangan perangkat lunak berbasis Objek. Unified Modeling Language (UML) bukanlah merupakan bahasa pemprograman tetapi model-model yang tercipta berhubungan langsung dengan berbagai macam bahasa pemprograman, sehingga memungkinkan melakukan pemetaan
(mapping) langsung dari model-model yang dibuat dengan Unified Modeling Language (UML) dengan bahasa-bahasa pemprograman berorientasi obyek, seperti Java. UML
tersusun atas sejumlah elemen grafis membentuk 9 diagram-diagram. Dalam penelitian ini melakukan desain hanya 4 diagram yaitu Use Case Diagram, Activity Diagram,
Class Diagram dan Sequence Diagram.
1. Use Case Diagram
Diagram ini menunjukkan fungsionalitas suatu sistem atau kelas dan bagaimana sistem ini berinteraksi dengan dunia luar, misalnya menyusun sebuah daftar layanan kesehatan. Use case diagram dapat digunakan untuk memperoleh kebutuhan sistem dan memahami bagaimana sistem seharusnya bekerja. Komponen yang terdapat pada sebuah use case diagram terdiri dari : a. Actor : pengguna perangkat lunak aplikasi, bisa berupa manusia, perangkat keras atau sistem informasi yang lain. Actor dapat memasukan informasi ke dalam sistem, menerima informasi dari sistem, atau keduanya.
12
b. Use case : perilaku atau apa yang dikerjakan pengguna sistem aplikasi, termasuk interaksi antar actor dengan perangkat lunak aplikasi tersebut.
2. Activity diagram
Activity diagrams menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang
sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, keputusan yang mungkin terjadi, dan bagaimana suatu aktivitas berakhir. Diagram aktivitas atau activity diagram menggambarkan workflow (aliran kerja) atau aktivitas dari sebuah system atau proses bisnis atau menu yang ada pada perangkat lunak .
3. Sequence diagram
Sequence diagram menggambarkan interaksi antar objek berupa pesan
(message) yang digambarkan terhadap waktu. Sequence diagram terdiri antar dimensi vertikal (waktu) dan dimensi horizontal (objek-objek yang terkait). Message digambarkan sebagai garis berpanah dari satu objek ke objek lainnya. Pada fase desain berikutnya, message akan dipetakan menjadi operasi/metoda dari class. Activation bar menunjukkan lamanya eksekusi sebuah proses.
4. Class Diagram
Class diagram adalah visualisasi kelas-kelas dari suatu sistem dan
merupakan tipe diagram yang paling banyak dipakai. Diagram ini memperlihatkan hubungan antar kelas dan penjelasan detail tiap-tiap kelas di dalam model desain (dalam logical view) dari suatu sistem. Kelas memiliki 3
area utama yaitu : nama, atribut, dan operasi. Nama berfungsi untuk member identitas pada sebuah kelas, atribut fungsinya adalah untuk menunjukkan karakteristik pada data yang dimiliki suatu objek di dalam kelas, sedangkan operasi fungsinya adalah memberikan sebuah fungsi ke sebuah objek .
D. Metode AHP (Analytical Hierarchy Process)
Menurut (Suryadi & Harahap, 2017) AHP (Analytical Hierarchy Process) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi-level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan Ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis. AHP (Analytical Hierarchy
Process) sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan
metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhierarki, sebagai konsukuensi dari kriteria yang di pilih sampai pada subkriteria yang paling dalam
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkontensi berbagai kriteria dan alternative yang di pilih oleh pengambil keputusan
14
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
Berikut ini langkah-langkah perhitungan metode Analytical Hierarchy Process :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang di inginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi.
2. Menentukan prioritas elemen :
a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang di berikan.
b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relative dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya.
3. Sintesis
a. Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas .
b. menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks
c. membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks
d. menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata
4. Mengukur konsistensi
Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan pertimbangan dalam langkah ini sebagai berikut :
a. Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relative elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatife elemen kedua dan seterusnya
b. Jumlahkan setiap baris
c. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatife dengan yang bersangkutan.
d. Jumlah hasil dibagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya disebut λ maks
5. Hitung consistency index (CI) dengan rumus : CI = (λmax – n) /n
Dimana n = banyaknya elemen.
6. Hitung rasio konsistensi/consistency ratio (CR) dengan rumus : CR= CI/RC
Dimana CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index
Universitas Sumatera Utara IR = Indeks Random Consistency
16
7. Memeriksa konsistensi hierarki, jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki, namun jika rasio konsistensi (CI/CR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar.
2.3. Studi Literatur
TABEL II.I Peneliti Terdahulu
No Nama penulis, Tahun, Judul Pembahasan Pokok 1. (Adhawiyah, Kumaladewi,
& Caturutami, 2017) Rancang Bangun Sistem Informasi Penilaian Kinerja Pegawai Menggunakan Metode Psycological Appraisal
Sistem dapat menampilkan deskripsi hasil penilaian kepribadian yang dilakukan, saran pengembangan bagi pegawai yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi pegawai. Terdapat pula saran partner yang cocok sebagai bahan pertimbangan atasan dalam memilihkan tim atau partner yang pas bagi pegawainya
2. (Utomo & Tulili, 2015) Perancangan Sistem
Informasi Penilaian Kinerja Pegawai Berdasarkan Sasaran Kerja Individu di
1. Sistem penilaian prestasi pegawai yang saat ini sedang berjalan sudah tidak sesuai lagi, karena dasar penilaian adalah pengamatan yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan yang model
Politeknik Samarinda penilaiannya tidak disertai data yang didasari oleh sebuah data yang terukur. Suatu pengamatan sangat rawan terjadinya kesalahan dan juga unsure subyektif.
2. Rancangan Sistem Informasi Penilaian kinerja pegawai yang dihasilkan telah sesuai dengan kebutuhan Politeknik Negeri Samarinda yang berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 46 tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Pegawai Negeri Sipil serta Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara nomor 1 tahun 2013 yang diterbitkan pada tanggal 3 januari 2013
3. (Pradipta, 2016)
Rancang Bangun Sistem Informasi Penilaian Kinerja Pegawai Pada PT.BANK
BPR TANAH MAS
Semarang
Dari penyusunan penelitian yang bertujuan
untuk membantu Kepala Oprasional Bank PT. BPR Arta Tanah Mas dalam melakukan penilaian kinerja karyawan dengan merancang sebuah sistem informasi berbasis website yang dapat
18
diperoleh kesimpulan bahwa :
Tersedianya sistem informasi berbasis
website untuk melakukan penilaian
kinerja 4. (Anto, Mustafidah, &
Suyadi, 2015) Sistem Pendukung
Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Menggunakan Metode SAW (Simple
Additive Weighting)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat diambil kesimuplan sebagai berikut:
1. Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan berbasis desktop berhasil Dibangun sesuai dengan rancangan/desainnya..
2. Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan dapat digunakan oleh Lembaga Penjaminan 5. (Tangkuman, Tewal, 2015)
Penilaian Kinerja, Reward, dan Punishment Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT.PERTMINA
(PERSERO) CABANG PEMASARAN
SULUTTENGGO
Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara Penilaian Kinerja, Reward dan Punishment
terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Pertamina (Persero) Manado.
2. Penilaian Kinerja secara parsial mempunyai hubungan yang positif dan
berpengaruh secara signifikan
terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Pertamina (Persero) Manado.
3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan Reward terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Pertamina (Persero) Manado.
4. Hasil uji secara parsial menunjukan bahwa Punishment berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Pertamina (Persero) Manado.
Perancangan sistem informasi penilaian kinerja karyawan menggunakan metode
Analytical Hierarchy Process, penulis melakukan penelitian di BPN (Badan Pertanahan
Nasional) Kab. Tasikmalaya, karena BPN proses penilaian kinerja karyawan nya masih di lakukan secara langsung oleh kepala intansi atau bagian, perbedaan dengan 5 jurnal di atas yaitu pertama ada yang menggunakan metode SAW dan ada juga yang memiliki objektivitas berbeda untuk meneliti penilaian kinerja karyawan maka penulis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process, dengan itu untuk mempermudah kepala intansi atau bagian dalam melakukan pengambilan keputusan saat proses penilain kinerja karyawan.
20 BAB III
ANALISIS SISTEM BERJALAN
3.1. Tinjauan Institusi
Pada tinjauan institusi ini penulis akan menjelaskan sejarah perusahaan berikut dengan struktur organisasi dan fungsi bagian masing-masing bagian yang ada di perusahaan tersebut.
3.1.1. Sejarah Institusi
Badan Pertanahan Nasional (BPN) awalnya adalah Akademi Agraria yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1964, kemudian didirikan lagi di Semarang,pada tahun 1964. Yang di Yogyakarta dengan jurusan Agraria, sedangkan yang di semarang dengan jurusan Pendaftaran Tanah. Pada tahun 1966, diterbitkan status akademi Agraria. sampai akhirnya pada tahun 1971, dibuka jurusan Tata Guna Tanah pada Akademi Agraria di Yogyakarta. Tahun 1988 merupakan tonggak bersejarah karena saat itu terbit keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. Sejalan dengan meningkatnya pembangunan nasional yang menjadi tema sentralproyek ekonomi-politik Orde Baru, kebutuhan akan tanah semakin meningkat. Persoalan yang dihadapi Direktorat Jendral Agraria bertambah berat dan rumit. Untuk mengatasi hal tersebut, status Direktorat Jendral Agraria ditingkatkan menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen dengan nama Badan Pertanahan Nasional. Dengan lahirnya keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 tersebut, Badan Pertanahan Nasional bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
3.1.2. Struktur Organisasi dan Fungsi
Gambar III.2 Struktur Organisasi Fungsi dari setiap bidang adalah
1. Kepala kantor
mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional dalam wilayah provinsi yang bersangkutan.
KEPALA KANTOR
ACHDIAR P ASMARA, A.Ptnh, MM. NIP. 19630414 198303 1 004
SUB BAGIAN TATA USAHA
Drs. H. SlametRiyadi, MH. NIP. 19620405 198503 1 009
KAUR UMUM & KEPEGAWAIAN
NASUHA
NIP. 19621114 198203 1 001
KAUR KEUANGAN & BMN
SANTI LUSIANI, SH
NIP. 19780913 200003 2 001
SEKSI PENANGANAN MASALAH DAN PENGENDALIAN PERTANAHAN
HeruPramono, S.Kom, SH,CN.
NIP. 19690512 199703 1 004
KASUBSI PENANGANAN SENGKETA KONFLIK DAN PERKARA PERTANAHAN
H. A. NURSAID, S.SoS. NIP. 19641014 198903 1 002 KASUBSI PENGENDALIAN PERTANAHAN Drs. HERO DIANTORO TAUFIEK NIP. 19640516 198908 1 001 SEKSI PENGADAAN TANAH
ASEP HARYADI SETIAWAN, ST.
NIP. 19720903 199903 1 002 ;
KASUBSI PEMANFAATAN TANAH PEMERINTAH DAN
PENILAIAN TANAH
EMPAT FATIMAH P. S.SoS.
NIP. 19700506 199503 2 002 KASUBSI FASILITASI PENGADAAN DAN PENETAPAN TANAH PEMERINTA YUSEP, SH. NIP. 19670514 199103 1 006 SEKSI INFRASTRUKTUR PERTANAHAN ROSADA, ST. NIP. 19640913 198503 1 002 IR.BUDI SUMASTO KASUBSI PENGUKURAN & PEMETAAN DASAR & TEMATIK
APIP KARTIWA, A.Ptnh.
NIP. 19640908 198903 1 005
KASUBSI PENGUKURAN & PEMETAAN KADASTRAL
BUDIMAN, S.SiT.
NIP. 19691011 199303 1 004
SEKSI HUBUNGAN HUKUM PERTANAHAN
DENI AGUSTIN, S.SiT.
NIP. 19720808 199503 1 001
KASUBSI PENETAPAN HAK TANAH & PEMBERDAYAAN HAK TANAH MASYARAKAT
AS. MARYANTO, SH. NIP. 19640717 198603 1 003 KASUBSI PENDAFTARAN HAK TANAH HASAN SODIKIN, S.SiT.,M.Si. NIP. 19702505 199403 1 004 KASUBSI PEMELIHARAAN DATA FISIK TANAH &
PEMBINAAN PPAT
DENI SETIAWAN, SH.
NIP. 19641228 198903 1 004
SEKSI PENATAAN PERTANAHAN
IPUT VARERA, A.Ptnh.
NIP. 19641121 198603 1 004
KASUBSI PENATAAN TANAH & KAWASAN
TERTENTU
IWA KUSTIWA, S.SiT.
NIP. 19711028 199303 1 003 KASUBSI LANDREFORM& KONSOLIDASI TANAH KHAIRA MUSTAQIMAH, SH NIP. 19701004 199403 2 003 KAUR PERENCANAAN,
EVALUASI & PELAPORAN
LILIS SUMARNI, SH.
NIP. 19770615 199803 2 002
22
2. Sub Bagian Tata Usaha
Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di lingkungan Kantor Wilayah.
3. Kaur Keuangan Dan BMN
mempunyai tugas melakukan penyiapan pengelolaan urusan keuangan dan administrasi barang milik negara.
4. Kaur Umum dan Kepegawain
Mempunyai tugas melakukan penyiapan pelaksanaan urusan organisasi, ketatalaksanaan, analisis jabatan, dan pengelolaan urusan kepegawaian serta pengoordinasian dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi di Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan.
5. Kaur Umum dan Evaluasi
mempunyai tugas melakukan penyiapan penyusunan rencana, program, anggaran dan pelaporan, pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan program strategis pertanahan, dan kegiatan pertanahan serta pengoordinasian penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pengawasan di Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan.
6. Seksi Infrastuktur Pertanahan
mempunyai tugas melaksanakan pengoordinasian, pembinaan, dan pelaksanaan pengukuran dan pemetaan dasar, pengukuran dan pemetaan kadastral, serta survei dan pemetaan tematik.
7. Seksi Hubungan Hukum Pertanahan
mempunyai tugas melaksanakan pengoordinasian, pembinaan, dan pelaksanaan penetapan hak tanah dan pemberdayaan hak tanah masyarakat, pendaftaran hak tanah, dan pemeliharaan data hak tanah serta pembinaan PPAT.
8. Seksi Penataan Pertanahan
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pemberian penetapan, perpanjangan, dan penetapan kembali hak perseorangan dan badan hukum swasta, serta hak atas ruang dan hak komunal, penyiapan bahan pemberian izin dan penetapan hak atas tanah badan sosial/keagamaan serta penegasan sebagai tanah wakaf, tanah bekas milik Belanda, dan bekas tanah asing lainnya
9. Seksi Pegadaian Tanah
mempunyai tugas melaksanakan pengoordinasian, pembinaan, dan pelaksanaan pemanfaatan tanah pemerintah, bina pengadaan dan penetapan tanah pemerintah, serta penilaian tanah.
10. Seksi Penanganan Masalah dan Pengadilan Pertanahan
mempunyai tugas melaksanakan pengoordinasian, pembinaan, dan pelaksanaan penanganan sengketa dan konflik pertanahan, penanganan perkara pertanahan, serta pengendalian pertanahan.
11. Pengukuran dan Pemetaan
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pengukuran dan pemetaan dasar, pelaksanaan
24
pengukuran batas administrasi, kawasan dan wilayah tertentu, pelaksanaan pembinaan tenaga teknis.
12. Penetapan Hak Tanah
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pemberian penetapan, perpanjangan dan penetapan kembali hak perseorangan dan badan hukum swasta, serta hak atas ruang dan hak komunal, penyiapan bahan pemberian izin dan penetapan hak atas tanah badan sosial/keagamaan.
13. Penataan Hak Tanah
mempunyai tugas melakukan pengoordinasian dan pelaksanaan penatagunaan tanah dan kawasan tertentu, landreform dan konsolidasi tanah.
14. Pemanfaatan Hak Tanah
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pemberian perizinan kerjasama pemanfaatan tanah pemerintah, perpanjangan perizinan kerjasama pemanfaatan tanah pemerintah, pemberian rekomendasi pencatatan peralihan dan penghapusan tanah.
15. Penanganan Sengketa Konflik
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pencegahan, penanganan dan penyelesaian sengketa/konflik dan perkara pertanahan, serta analisis dan penyiapan usulan pembatalan hak atas tanah berdasarkan putusan pengadilan atau hasil perdamaian, serta evaluasi dan pelaporan.
3.2. Prosedur Sistem Berjalan
Suatu prosedur atau tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan disebut prosedur sistem. Sesuai dengan yang dibahas dalam Tugas Akhir ini, maka prosedur sistem berjalan yang diambil dari BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kab.Tasikmalaya yaitu perancangan sistem penilaian kinerja karyawan yang selama ini melewati beberapa proses.
1. Prosedur Proses Penilaian
Kepala bagian kantor memberikan pekerjaan mengukur tanah, Pegawai menerima pekerjaan mengukur tanah kemudian pegawai menyelesaikan pekerjaan dan di laporkan ke kepala bagian kantor bahwa pekerjaan selesai, dan kepala bagian kantor memberikan laporan hasil pekerjaan pegawai kepada kepala urusan umum dan kepegawain setelah itu pegawai akan menerima nilai kerja oleh kepala urusan umum dan kepegawaian.
2. Prosedur Kenaikan Pangkat
Kepala urusan umum dan kepegawaian menilai hasil kerja pegawai, setelah itu di bentuk dokumen untuk di laporkan ke kepala bagian umum untuk di setejui bahwa pegawai memenuhi syarat untuk naik pangkat kemudian kepala bagian umum memberikan dokumen pegawai kepada kepala bagian pusat BPN untuk di resmikan pegawai naik pangkat , setelah itu pegawai menerima hasil laporan naik pangkat yang sudah di setujui.
26
3.3 Activity Diagram
1. Activity Diagram Prosedur Proses Penilaian
2. Activity diagram proses kenaikan jabatan
Gambar III.4 Activity diagram prosedur kenaikan jabatan
3.4. Spesifikasi Dokumen Masukan
Dokumen masukan merupakan suatu dokumen yang berbasis data-data pada suatu sistem yang dihasilkan dari proses masukan data, bentuk dokumen masukan yang di gunakan pada sistem penilaian kinerja pegawai adalah sebagai berikut :
1. Nama Dokumen : Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negri Sipil 2. Fungsi : Untuk menilai kerja pegawai
3. Sumber : Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Tasikmalaya 4. Tujuan : Menilai setiap pekerjaan yang di berikan
28
6. Jumlah : 6 lembar
7. Frekuensi : Setiap kenaikan pangkat 8. Bentuk : Lampiran A.1
3.5. Spesipikasi Dokumen Keluaran
Dokumen keluaran adalah suatu dokumen yang berisi data-data pada suatu sistem yang dihasilkan dalam sistem penilaian kinerja karyawan adalah sebagai berikut : 1. Nama Dokumen : Usul Kenaikan Pangkat
2. Fungsi : Kenaikan pangkat
3. Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kantor Wilayah Provinsi Jawa Barat
4. Tujuan : Mengubah Jabatan pegawai
5. Media : Kertas
6. Jumlah : 2 lembar
7. Frekuensi : 4 Tahun 8. Bentuk : Lampiran A.2
3.6. Permasalahan Pokok
Dari hasil penelitian di BPN ( Badan Pertanahan Nasional ) Kab. Tasikmalaya mengemukan permasalahan pokok yang khususnya terjadi pada sistem penilaian kinerja karyawan yaitu :
2. Data penilaian pegawai yang digunakan di BPN masih secara manual sehingga penilaian tidak tepat sasaran dan perlu di tinjau kembali.
3. Dalam proses penilaian pegawai di BPN ( Badan Pertanahan Nasional ) Kabupaten Tasikmalaya hanya di lakukan secara langsung atau manual dan akan menimbulkan efek tidak professional dalam bekerja.
3.7. Pemecahan Masalah
Dari permasalahan-permasalahan diatas maka penulis mengusulkan alternatif pemecahan masalahan yaitu :
1. Di buatkan sebuah sistem untuk meningkatkan penilaian kinerja pegawai yang dimaksudkan untuk tidak terjadinya kesalah pahaman antar pegawai
2. Merancang sebuah program aplikasi berbasis web sistem informasi penilaian kinerja pegawai di maksudkan untuk penilaian yang tepat sasaran dan jelas 3. Penyusun menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) dalam
proses penilaian kinerja pegawai yang di harapkan benar-benar sesuai dengan kinerja pegawai.
30 BAB IV
PERANCANGAN SISTEM USULAN
4.1 Tahapan Perancangan Sistem 4.1.1 Analisis Kebutuhan
Kebutuhan fungsional adalah deskripsi tentang aktivitas dan layanan yang harus disediakan oleh aplikasi yang akan dibuat. Dalam rancangan sistem informasi penilaian kinerja pegawai hanya terdapat dua pengguna yaitu admin dan user, Admin (Kepala Urusan Umum dan kepegawaian) tersebut memiliki peran menilai dan User (Pegawai) tersebut memiliki peran dinilai oleh admin :
A. Skenario Kebutuhan Admin 1. Admin melakukan login
2. Admin dapat mengelola data pegawai
3. Admin dapat menginput nilai dalam perhitungan AHP 4. Admin dapat mencetak hasil laporan nilai pegawai B. Skenario Kebutuhan User
1. Dapat melakukan login
2. Dapat melihat hasil penilaian laporan C. Skenario Kebutuhan Sistem
1. Sistem memiliki 2 hak akses login antara lain admin dan user
2. Sistem mampu mengelola perhitungan nilai menggunakan metode AHP
4.1.2 Rancangan Diagram Use Case 1. Use case Diagram Admin Login
Gambar IV.5 use case diagram admin login
Gamba IV.2 tabel admin login
Use Case Name Admin Login
Requirements Untuk login ke menu utama admin
Goal Admin berhasil melakukan login dan
mengakses menu utama
Pre-Conditions Admin memasukan username dan
password
Post-Conditions Admin berhasil melakukan login dan
mengakses menu utama admin
Failed End Condition Admin tidak melakukan login dan admin
32
Actors Admin
Main Flow/Basic path Admin melakukan login sebelum
mengakses menu utama admin
Alternate Flow/Invariant A A1. Actor membuka aplikasi
A2. Actor melakukan login kemudian masuk ke menu utama admin
Invarian B B1. Actor memasukan username dan
password
B2. Actor dapat mengakses menu utama admin
2. Usecase Diagram Menu Admin
Gambar IV.6 usecase diagram menu admin Gamba IV.3 tabel menu admin
Use Case Name Menu Admin
Requirements Untuk mengelola penilaian pegawai
Goal Admin dapat mengelola penilaian
pegawai, menambah data pegawai, mengubah data pegawai, menghapus data pegawai
Pre-Conditions Admin memilih menu utama
Post-Conditions Admin mengelola penilaian pegawai, bisa
menambahkan, mengubah dan menghapus data pegawai
Failed end Conditions Admin tidak memilih menu utama
admin tidak bisa mengelola penilaian pegawai
Actors Admin
Main Flow/Basic path 1. Admin memilih menu utama
2. Admin mengelola penilaian pegawai
Alternate Flow/Intervariant A A1. Admin memilih menu utama
A2. Sistem menampilkan menu penilaian pegawai
Invarian B B1. Admin memilih menu utama
B2. Admin menambahkan data pegawai B3. Admin mengubah data pegawai
34
B4. Admin menghapus data pegawai
3. Usecase Diagram Menu Laporan
Gambar IV.7 usecase menu laporan Gamba IV.4 tabel menu laporan
Use Case Name Menu Laporan
Requirements Untuk mendapatkan data laporan
Goal Admin dapat melihat data dan mencetak
data laporan
Pre-Conditions Admin memilih menu laporan
Post-Conditions Admin mencetak data laporan
Failed end Conditions 1. Admin tidak memilih menu laporan
2. Admin tidak bisa mencetak data laporan
Actors Admin
2. Admin mencetak Data Laporan
Alternate Flow/Invariant A A1. Admin memilih menu laporan
A2. Sistem menampilkan data laporan
Invarian B B1. Admin memilih menu laporan
B2. Admin mencetak data laporan
4. Rancangan Usecase Diagram menu Login User
Gambar IV.8 usecase diagram menu login user Gamba IV.5 tabel menu login user
Usecase Name L ogin User
Requerements Untuk Login ke menu utama User
Goal User berhasil melakukan login dan
mengakses menu utama user.
Pre-Conditions User memasukan username dan password
36
mengakses menu utama user
Failed end Condition User tidak melakukan login dan User tidak
berhasil login
Actors User
Man Flow/Basic path User melakukan login sebelum mengakses
menu utama user
Alternate Flow/Intervariant A A1. Actor membuka aplikasi
A2. Actor melakukan login kemudian masuk ke menu utama user
Invarian B B1. Actor memasukan Username dan
Password
B2. Actor dapat mengakses menu utama user
5. Rancangan Usecase Diagram menu laporan nilai data
Gambar IV.9 Rancangan Usecase Diagram menu laporan nilai data Gamba IV.6 tabel menu laporan nilai data
Usecase Laporan data nilai user
Requirement Untuk mendapatkan Laporan data nilai
Goal User berhassil mendapatkan hasil laporan
nilai
Pre-Conditions User memilih menu data nilai
Post-Conditions System menampilkan hasil laporan data
nilai
Failed end conditions 1. User tidak memilih menu data nilai
2. User tidak dapat menampilkan hasil Laporan data nilai
38
Main Flow/Basic Path User sebelum mendapat hasil laporan data
nilai
Alternate Flow/Invariant A A1. . User memilih menu laporan data
nilai
A2. User dapat menampilkan hasil laporan data nilai
Invarian B B1. User memilih menu laporan data nilai
B2. User dapat menampilkan hasil laporan data nilai
4.1.3. Rancangan Diagram Aktivitas 1. Diagram Aktivitas Admin Login
2. Diagram Aktivitas Menu admin
Gambar IV.11 activity diagram menu admin 3. Aktiviti diagram menu laporan
40
4. Aktiviti diagram user login
Gambar IV.13 activity diagram user login 5. Ativiti menu laporan nilai
4.1.4. Rancangan Dokumen Sistem Usulan
4.1.4.1. Rancangan Dokumen Masukan Sistem Usulan
1. Nama Dokumen : Form penilaian secara online Fungsi : Untuk menilai kinerja pegawai
Sumber : Pegawai
Tujuan : System
Media : Tampilan Layar
Jumlah : Sesuai kebutuhan
Frekuensi : Saat melakukan penilaian
Bentuk : Lihat Lampiran B.1
4.1.4.2. Rancangan Dokumen Keluaran Sistem Usulan 1. Nama Dokumen : Laporan Penilaian
Fungsi : Pemberitahuan telah ternilai
Sumber : Pegawai
Tujuan : Dokumen PDF
Media : 1 lembar
Frekuensi : Saat berhasil di nilai
42
4.1.5. Rancangan Prototype
1. Rancangan Prototype Admin Login
Gambar IV.15 Rancangan prototype Admin Login 2. Rancangan Prototype Menu Admin
3. Rancangan Prototype Mengelola Data pegawai
Gambar IV.17 Rancangan prototype Mengelola data pegawai
4. Rancangan Prototype Laporan kinerja pegawai
44
5. Rancangan prototype Menu perhitungan nilai pegawai
Gambar IV.19 Rancangan prototype Menu perhitungan nilai pegawai
6. Rancangan Prototype Menu login user
7. Rancangan prototype menu user
Gambar IV.21 Rancangan prototype Menu User
8. Rancangan prototype hasil keseluruhan kinerja pegawai
46
4.1.6. Pengolahan data menggunakan AHP
Analytical Hierarcy Process (AHP) adalah suatu metode analisis dan sintesis yang dapat membantu proses pengambilan keputusan. AHP merupakan alat pengambil keputusan yang powerfull dan akurat karena adanya skala atau bobot yang telah ditentukan dan menggunakan hirarki yang terdiri dari tiga level yaitu tujuan atau goal, kriteria dan alternatif. Hirarki yang digunakan adalah :
GambarIV.23 Sumber: (Saaty 1988)
Langkah Penyeleksian : 1. Tetapkan Permasalahan
Penilaian Kinerja Pegawai
2. Menentukan Kriteria dan Sub kriteria - Kriteria : Target kerja
Sangat baik : 100-80 Baik : 79-60 Cukup : 59-30
- Sub kriteria : Absensi dan kedisiplinan Sangat baik : A
Baik : B Cukup : C
3. Melakukan penilaian perbandingan kriteria
a. Target kerja 5 kali lebih penting dari absensi dan 7 kali lebih penting dari kedisiplinan
b. Absensi 9 kali lebih penting dari kedisiplinan
4. Membentuk matriks pairwise comparsion (Matriks perbandingan kriteria) Gambar tabel IV.7 Matriks Kriteria
Kriteria Target kerja Absensi Kedisiplinan
Target kerja 1 5 7
Absensi 1/5 1 9
Kedisiplinan 1/7 1/9 1
5. Menentukan rangking kriteria dalam bentuk vector prioritas (disebut juga eigen vector ternomalisasi)
A. Ubah matriks Pairwise Comparison ke bentuk desimal dan jumlahkan tiap kolom tersebut.
Gambar tabel IV.8 Matriks Pairwise
Kriteria Target kerja Absensi Kedisiplinan
48
Absensi 0,20 1 ,00 9,00
Kedisiplinan 0,14 0,11 1,00
Jumlah 1,34 6,11 17
B. Bagi elemen-elemen tiap kolom dengan jumah kolom yang bersangkutan. Gambar tabel IV.9 Elemen-elemen Kolom
Kriteria Target kerja Absensi Kedisiplinan
Target kerja 0,74 0,81 0,41
Absensi 0,14 0,16 0,52
Kedisiplinan 0,10 0,01 0,05
Jumlah 1 1 1
*Jumlah tiap kolom Kriteria harus berjumlah 1. Kalau penjumlahan tidak 1, maka ulangi Normalisasi
C. Hitung eigen vektor normalisasi dengan cara : Jumlahkan tiap baris dibagi dengan jumlah kriteria.
Jumlah kriteria (n) dalam kasus ini adalah 3
Gambar tabel IV.10 Hitung eign vektor
Kriteria Target Kerja Absensi Kedisiplinan Jumlah baris Eigen vektor normalisasi
Target kerja 0,74 0,81 0,41 1,96 0,65
Kedisiplinan 0,10 0,01 0,05 0,16 0,05
Jumlah 1
Nilai 0,65 di dapat dari 1,96/3
*Jumlah kolom Eigen vektor normalisasi harus berjumlah = 1
D. Menghitung konsistensi untuk mengetahui apakah perbandingan kriteria bersifat konsisten
1) Menentukan Nilai λmaks (Lamda Maks)
* λmaks diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom matrik Pairwise Comparison ke bentuk desimal dengan vector eigen normalisasi. Λmaks = (1,34*0,65)+(6,11*0,27)+(17*0,05)
Λmaks = 3,36
2) Menghitung indeks konsistensi (CI) CI = (λmaks-n)/(n-1)
(3,36-3)/(3-1) = 0,36/2 = 0,18 3) Rasio konsistensi = CI/RI
Daftar indeks random konsistensi (RI)
Gambar tabel IV.11 Indeks random
N 1 2 3 4 5 6 7 8
RI 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41
50
RI 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56 1,57 1,59
Nilai RI untuk n = 3 adalah 0,58 (lihat daftar indeks random konsistensi (RI)) CR = CI/CR
CR = 0,18/0,58 = 0,31
Karena CR>0,31 Berarti preferensi pembobotan nilai adalah Cukup
6. Berikut adalah batasan nilai dari penilaian kinerja pegawai untuk menentukan hasil berdasarkan kategorinya :
Gambar tabel IV.12 Kategori Penilaian
Sangat Baik 0,75-1,00
Baik 0,31-0,75
Cukup 0,5-0,31
Berdsarkan hasil perhitungan bobot kriteria maka berikut adalah tabel nilai alternatife
Gambar tabel IV.13 Bobot kriteria Nama
Pegaawai
Target
Kerja Absensi Kedesiplinan
Total
Nilai Keterangan Kriteria
Ujang 0,12 0,4 0,4 0,92 Sangat Baik A
Uus 0,2 0,264 0,4 0,86 Sangat Baik A
Staven 0,12 0,1 0,3 0,52 Baik B
Ronaldo 0,8 0,4 0,308 0,78 Sangat Baik B
4..2. Perancangan perangkat lunak
Perancangan perangkat lunak imi difokuskan pada enam atribut yaitu ERD, LRS, Spesifikasi file, Class Diagram, Squence Diagram dan Spesifikasi Hardware serta Software.
4.2.1. Entity Relationship Diagram (ERD)
52
4.2.2. Logical Record Structure (LRS)
4.2.3. Spesifikasi File
1. Spefikasi File Admin
Nama : Admin
Akronim : Admin
Fungsi : Untuk menyimpan data admin Tipe File : File Master
Organisasi File : Indexed Sequential Akses File : Random
Media : Harddisk
Panjang record : 457 Kunci Field : Nip
Software : Mysql
Gambar tabel IV.14 Spesifikasi File Admin
No Elemen data Nama Field Type Size Ket
1 Id Admin Nip int 15 Primary Key
2 Username Nama Varchar 50 Md5
3 Password Password Varchar 255
4 Nama Nama Varchar 100
2. Spesipikasi File Nilai Nama File : Nilai
54
Akronim : Nilai
Fungsi : Untuk menyimpan data nilai Organisasi File : Indexed Sequential
Akses File : Random
Media : Harddisk
Panjang record : 241 Kunci Field : Ida
Software : Mysql
Gambar tabel IV.15 Spesifikasi File Nilai
No Elemen data Nama Field Type Size Ket
1 Id nilai Nip Int 11 Primary Key
2 Nama Kriteria Varchar 50
3 Alternatif Alternatif Varchar 25
3. Spesipikasi file user Nama File : User
Akronim : User
Fungsi : Untuk menyimpan data user Organisasi File : Indexed Sequential
Akses File : Random
Media : Harddisk
Panjang record : 457 Kunci Field : Nip
Software : Mysql
Gambar tabel IV.16 Spesifikasi File User
No Elemen data Nama Field Type Size Ket
1 Id User Nip int 15 Primary Key
2 Username Nama Varchar 50 Md5
3 Password Password Varchar 255
4 Nama Nama Varchar 100
4. Spesipikasi File Laporan Nama File : Laporan Akronim : Laporan
Fungsi : Untuk menyimpan data Laporan Organisasi File : Indexed Sequential
Akses File : Random
Media : Harddisk
Panjang record : 61 Kunci Field : Nip
Software : Mysql
Gambar tabel IV.17 Spesifikasi File Laporan
No Elemen data Nama Field Type Size Ket
56
2 Nama Laporan Laporan Varchar 50
4.2.4 Class Model/Class Diagram
4.2.5. Squence Diagram
GambarIV.27 Rancangan Squence Diagram
4.2.6. Spesifikasi Hardware dan Software 1. Spesifikasi Hardware
a. Processor Intel Pentium Dual-core 2.0 GHz. b. RAM 2 GB DDR 3.
58
d. Display 16 inch dengan resolusi layar 1024x768 pixel. e. Keyboard .
f. Mouse.
g. Koneksi internet dengan kecepatan 3 Mbps. 2. Spesifikasi Software
Berikut spesifikasi software yang dibutuhkan dalam sistem usulan ini : a. Sistem Operasi yang digunakan seperti: Microsoft Windows.
b. Aplikasi bundle web server : Xampp yang terdiri dari beberapa komponen, diantaranya:
1. Aplikasi Apache Server v2.4.3. 2. Aplikasi PHP server v5.4.7. 3. Aplikasi MySQL Server v5.5.27. 4. Aplikasi phpMyAdmin v3.5.2.2.
c. Aplikasi Web seperti: Mozilla Firefox, Opera, Safari, Internet Explorer, dan Google Chrome.
4.3. Jadwal Implementasi
Gambar tabel IV.18 Jadwal Implementasi
No. KEGIATAN
WAKTU
BULAN I BULAN II BULAN III 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Persiapan data awal
2. Analisa 3. Desain Sistem
4. Desain Perangkat Lunak 5. Pembuatan & Tes Program 6. Tes Sistem
7. Pelatihan
8. Pembuatan Buku Petunjuk 9. Evaluasi & Operasional
60 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang telah penulis uraikan pada bab sebelumnya maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Admin bisa melakukan penilaian kinerja pegawai dengan mudah melalui
website yang telah di buatkan oleh penulis
2. Pegawai bisa melihat hasil kinerja mereka dari tahun ke tahun, sebagai tolak ukur untuk memperbaiki pekerjaan ditahun berikutnya.
3. Dengan adanya website ini akan sangat membantu bagian kepegawaian dalam menambahkan pegawai, mengedit data pegawai dan menyimpan data pegawai. 4. Dengan adanya website ini bagian kepegawaian juga akan sangat dimudahkan
dalam menyeleksi pegawai yang mempunyai rating nilai tinggi dan rendah sebagai bahan acuan perpanjang kontrak kerja maupun pemutus kontrak kerja 5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan beberapa saran yaitu : 1. Sistem yang dibuat oleh penulis masih jauh dari kata sempurna, penulis berharap rancangan yang sudah dibuat dapat di kembangkan kembali ke tahap implementasi dengan metode yang sama ataupun berbeda, Sehingga sistem ini dapat dipergunakan dengan baik di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kab.Tasikmalaya
2. Perlu adanya backup data agar data yang sudah terinput terjaga dari kerusakan yang berhubungan dengan elektronik