• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Terkait dalam komitmen negara pada UUD 1945 yang mengacu pada pasal 27 ayat (2) yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan perlindungan yang layak bagi kemanusiaan, maka dibentuklah Undang-Udang Keselamatan Kerja yang bertujuan untuk pembentukan UUKK, yaitu bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah program yang dibuat oleh perusahaan maupun pekerja sebagai upaya pencegahan timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi panyakit dan kecelakaan akibat kerja, dengan tujuan untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan dan penyakit akibat kerja (T. & Trisyulianti, 2007, hal. 1). Definisi K3 menurut OHSAS 18001:2007 dalam terms and definitions yaitu “kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang berdampak, atau dapat berdampak pada kesehatan dan keselamatan karyawan atau pekerja lain (termasuk pekerja kontrak dan personel kontraktor, atau orang lain di tempat kerja)” (Miftah, 2012, hal. 5). Dimana definisi K3 yang dirumuskan oleh ILO/WHO Joint Safety and Health Comittee, yaitu:

“Occupational Health and Safety is the promotion and maintenance of the highest degree of physical, mental and social well-being of all occupation; the prevention among workers of departures from health caused by their working conditions; the protection of workers in their employment from risk resulting from factors adverse to health; the placing and maintenance of the worker in an occupational environment adapted to his physiological and psychological equipment and to summarize the adaptation of work to man and each man to his job.”

2.2 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

Berdasarkan Undang-undang No.1 tahun 1970, pasal 3 (Simanjuntak, 2010, hal. 2) “pihak manajemen berkewajiban menerapkan syarat-syarat keselamatan kerja yang beberapa diantaranya adalah mencegah dan mengurangi kecelakaan, memberi pertolongan pada kecelakaan, dan syarat lain yang fungsinya adalah untuk melindungi tenaga kerja atau karyawan, serta orang lain yang ada di tempat kerja.” Ditambahkan pula dari Permenaker 04/MEN/1987, pasal 2 (Simanjuntak, 2010, hal. 2) bahwa “kebijakan dan komitmen ini akan dilaksanakan oleh seluruh elemen dalam sistem manajemen tersebut, termasuk diantaranya adalah P2K3 yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri.” Selain daripada itu pada tahun 1999 BSI dengan badan-badan sertifikasi dunia telah meluncurkan pula sebuah standar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang diberi nama Occupational Health and Safety Management System (OHSAS 18001), sehingga struktur

(2)

yang dimiliki THE ILO/OSH 2001 pun memiliki kesamaan dengan OHSAS 18001 (Simanjuntak, 2010, hal. 6-7).

Sekiranya perlu pula memberikan edukasi dan pelatihan kepada pekerja mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk memiliki behavioral safety. Behavioral safety lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja, walaupun sulit untuk di kontrol secara tepat karena 80-90% dari seluruh kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh unsafe behavior (Luckyta & Partiwi, 2012, hal. 1). Menurut Luckyta & Pratiwi (2012, hal. 1) unsafe behavior adalah tipe perilaku yang mengarah pada kecelakaan seperti bekerja tanpa menghiraukan keselamatan, melakukan pekerjaan tanpa ijin, menyingkirkan peralatan keselamatan, operasi pekerjaan pada kecepatan yang berbahaya, menggunakan peralatan tidak standar, bertindak kasar, kurang pengetahuan, cacat tubuh atau keadaan emosi yang terganggu. Dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja maka manfaat yang didapatkan oleh perusahaan maupun pekerja ialah sebagai berikut (Simanjuntak, 2010, hal. 9-12):

1. Perlindungan karyawan

Tujuan penerapan SMK3 adalah memberi perlindungan kepada pekerja, yaitu asset perusahaan yang harus dipelihara dan dijaga keselamatannya. Dengan adanya jaminan K3 maka pekerja akan lebih optimal dalam bekerja, memberikan kepuasan, dan loyal pada perusahaan dibandingkan dengan pekerja yang terancam keselamatan dan kesehatan kerjanya. 2. Memperlihatkan kepatuhan pada peraturan dan undang-undang

Perusahaan yang melakukan pembangkangan terhadap peraturan dan undang-undang seperti citra yang buruk, tuntutan hukum dari badan pemerintah, seringnya menghadapi permasalahan dengan tenaga kerjanya tentunya akan mengakibatkan kebangkrutan. Perusahaan yang telah menunjukkan itikad baiknya dalam mematuhi peraturan perundangan, membuat mereka dapat beroperasi secara normal dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

3. Mengurangi biaya

Penerapkan SMK3 dapat mencegah terjadinya kecelakaan, kerusakan atau sakit akibat kerja, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang ditimbulkan akibat kejadian tesebut. Memang diperlukan biaya cukup besar dalam jangka untuk menerapkan SMK3, seperti sertifikasi setiap enam bulan yang memerlukan audit, tetapi penerapan SMK3 yang dilaksanakan secara efektif dan penuh komitmen membuat nilai uang yang dikeluarkan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan akibat kecelakaan kerja.

4. Membuat sistem manajemen yang efektif

Keuntungan perusahaan yang sebesar-besarnya akan dicapai dengan adanya sistem manajemen perusahaan yang efektif. Banyak variabel yang ikut membantu pencapaian sebuah sistem manajemen yang efektif, yaitu mutu, lingkungan, keuangan, teknologi informasi dan K3.

(3)

5. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan

Karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya akan bekerja lebih optimal dan tentu akan meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dibandingkan sebelum dilakukan penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerta. Citra organisasi terhadap kinerjanya akan semakin meningkat yang akan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

2.3 Efek Domino

Metode yang diciptakan oleh Heinrich, Petersen, dan Roos (1980) untuk mengidentifikasi masalah dalam memberikan pemahaman mengenai penyebab dari kecelakaan kerja dan urutan langkah-langkah dalam kecelakaan itu sendiri disebut efek domino yang merupakan akibat dari kurangnya implementasi sistem keselamatan kerja sehingga harus ditambahkan elemen-elemen yang dapat mengidentifikasi dan mengukur aktivitas kerja, menetapkan prosedur standar kerja, mengukur kinerja pekerja dan kinerja yang tepat (Freivalds, 2009, p. 320). Teori domino memberikan gambaran mengenai kesalahan yang disebabkan oleh satu faktor yang dapat menyebabkan faktor lain ikut berperan dalam kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan korban jiwa (Goetsch, 2011, hal. 32-33).

Gambar 2.1 The Domino Theory of an Accident Sequence

Faktor-faktor yang mengakibatkan kecelakaan kerja dikelompokkan dalam lima kategori oleh Heinrich dengan menggunakan teori domino sebagai berikut (Goetsch, 2011, hal. 33):

1. Faktor keturunan dan lingkungan sosial

Salah satu ciri pembawaan negatif yang membuat seseorang berperilaku tidak aman karena keturunan atau oleh lingkungan sosial sekitar.

2. Kesalahan dari individu

Merupakan ciri negatif yang disebabkan oleh kebiasaan atau pengetahuan yang disalah artikan, dimana mengakibatkan seseorang berperilaku tidak aman dan menyebabkan terjadinya bahaya.

3. Tindakan tidak aman atau bahaya kimia dan fisik

Tindakan tidak aman yang dilakukan individu dengan bahan kimia dan benda fisik yang dapat menyebabkan kecelakaan secara langsung.

4. Kecelakaan

Kecelakaan dapat mengakibatkan cedera yang disebabkan oleh terjatuh atau terkena pukulan dari objek yang bergerak.

(4)

5. Cedera

Disebabkan oleh kecelakaan termasuk cedera berupa robekan atau bersifat patahan seperti patah tulang.

2.4 Plan, Do, Check, and Action (PDCA)

Plan, Do, Check, and Action (PDCA) merupakan suatu proses perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan yang biasanya digunakan untuk mengendalikan kualitas yang bukan hanya sebagai alat pemecah masalah (Sokovic, 2010, hal. 477-478). PDCA dapat dijelaskan sebagai berikut (Journalamme, 1995, hal. 3):

1. Plan (rencana)

Perencanaan yang melibatkan penentuan batasan, menentukan kebutuhan data, bagaimana cara pengolahan data serta memikirkan analisis kedepan dan pencarian alternatif.

2. Do (tindakan)

Pelaksanaan rencana dan memeriksa pelaksanaan. 3. Check (periksa)

Memantau dan menilai hasil perubahan atau pelaksanaan rencana. 4. Action (reaksi)

Menindaklanjuti hasil untuk membuat perbaikan dan pemilihan alternatif terbaik untuk diimplementasikan.

Sumber: (Journalamme, 1995, p. 2)

Gambar 2.2 Siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act)

2.5 Penerapan SMK3 Berdasarkan Permenaker 05/Men/1996

Peraturan menteri tenaga kerja no 05/MEN/1996 merupakan sebuah pedoman yang dapat digunakan untuk menyusun sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dalam sebuah perusahaan yang mengatakan bahwa tempat kerja yang berisi 100 orang atau lebih memiliki potensi bahaya yang yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi atau

(5)

dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dan kerugian wajib menerapkan SMK3 (Per 05/MEN/1996, pasal 3). Peraturan menteri (Simanjuntak, 2010, hal. 12) menetapkan bahwa: “tujuan dan sasaran sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.”

Perusahaan wajib melaksanakan ketentuan sebagai berikut (Simanjuntak, 2010, hal. 12-13):

a. Menetapkan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3. b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3. c. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan

kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran K3.

d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan perbaikan dan pencegahan.

e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3.

2.6 Identifikasi Bahaya

2.6.1 Hazard and Operability Study (HAZOPS)

HAZOPS merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan bahaya pada lingkungan (Ferdiansyah, 2011, hal. 46).

2.6.2 Failure Modes and Effects Analysis (FMEA)

FMEA adalah metode analisis yang mendalam akibat kegagalan peralatan dan pengaruhnya pada sistem (Ferdiansyah, 2011, hal. 46).

2.6.3 Fault Tree Analysis (FTA)

FTA adalah metode analisa desain, prosedur dan kesalahan pada faktor manusia (Ferdiansyah, 2011, hal. 46).

2.6.4 Job Safety Analysis (JSA)

Job Safety Analysis adalah cara untuk memeriksa metode kerja dan menentukan bahaya yang sebelumnya telah diabaikan dalam merencanakan pabrik atau gedung dan di dalam rancangan bangunan, masin-mesin, alat-alat kerja, material, lingkungan tempat kerja, dan proses kerja yang langkah pembuatanya adalah sebagai berikut (Ferdiandsyah, 2011, hal. 47-48): 1. Memilih pekerjaan yang akan dianalisa karena tidak dapat dipilih secara

acak, dimana pekerjaan dengan pengalaman kecelakaan terburuk seharusnya dianalisis terlebih dahulu. Dalam memilih pekerjaan untuk dianalisis dan dalam menyusun tata cara analisis, pengawasan utama yang harus diikuti adalah:

a. Banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam sebuah pekerjaan. b. Kecelakaan yang menghasilkan luka berat.

(6)

d. Pekerjaan baru dengan perubahan di dalam peralatan kerja atau proses.

2. Membagi pekerjaan ke dalam beberapa langkah atau kegiatan. Sebelum penelitian terhadap bahaya dimulai, pekerjaan harus di bagi ke dalam beberapa langkah yang menggambarkan apa yang telah selesai dikerjakan. Untuk menghindari 2 kesalahan umum, yaitu:

a. Membagi pekerjaan menjadi terlalu rinci yang seharusnya tidak perlu menghasilkan sejumlah banyak langkah.

b. Membuat rincian kerja yang terlalu umum, sehingga langkah dasar tidak tertulis.

3. Melakukan identifikasi terhadap bahaya dan kecelakaan yang potensial. 4. Mengembangkan prosedur kerja yang aman untuk menghilangkan bahaya

dan mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Mengembangkan suatu prosedur kerja yang aman untuk :

a. Mencegah timbulnya kecelakaan.

b. Mencari data baru untuk melakukan pekerjaan itu. c. Merubah kondisi fisik yang menimbulkan risiko.

d. Mehilangkan bahaya yang masih ada dan mengganti prosedur. e. Mengurangi frekuensi melaksanakan tugas.

JSA berisikan beberapa informasi yang berkaitan dengan suatu proses pekerjaan, yaitu (Ferdiandsyah, 2011, hal. 49):

a. Job (Pekerjaan)

Jenis pekerjaan yang dilakukan dalam unit produksi untuk diidentifikasi risikonya.

b. Task (Rincian Kegiatan)

Menjelaskan rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak.

c. Hazard (Bahaya)

Cara untuk mengetahui jenis bahaya apa yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan.

d. Probability (Kemungkinan)

Kemungkinan pekerja untuk terkena cedera dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan pekerjaan.

e. Consequency (Konsekuensi)

Dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan kerja.

2.7 Fishbone Diagram

Fishbone diagram dapat disebut juga dengan cause and effect diagram merupakan alat untuk mengetahui akar permasalahan dengan menunjukkan variasi penyebab (Ibrahim, 2000, hal. 83). Cara penyusunan fishbone menurut Ibrahim (2000, 83) ialah dengan menggambarkan efek dan penyebab terbesar pada ujung kanan dan efek digambarkan pada sisi kiri, pada sisi atas dan bawah garis horizontal, dimana efek tersebut masih memiliki sub-efek dan seterusnya sampai yang terkecil. Contoh gambar fishbone terdapat pada gambar 2.3 di bawah ini (Imai, 1996, hal. 64):

(7)

Orang Mesin

Material Metode

Penimbangan tara

Posos alat untuk membaca ukuran

Penimbangan tara

Nonvarias

Tidak sesuai Tentukan jumlah yang

akan diekstraksi

Rasio penambahan

Volume terekstrasi pada proses kedua

Volume bahan A yang dimasukkan

Penimbangan tara Penanganan traksi

dinaikkan

diturunkan Menyulitkan, karena makan banyak waktu Pemasangan

tidak tepat

Lain-lain

Viskositas Tongkat mengenai tutup

Kotor Metode penanganan Viskositas yang tepat

untuk mesin Ada perbedaan Mulut pipa menyinggung drum Bervariasi Proses pertama Damar Proses ketiga Rasio penambahan Residu damar Penyumbatan Lot Volume Tinggi Viskositas Rendah V ar ia si d al am k el u ar an d am ar

Sumber: (Imai, 1996, hal. 64)

Gambar 2.3 Fishbone Diagram

2.8 Cahaya

Pengukuran tingkat pencahayaan diperlukan untuk memperkirakaan ketajaman penglihatan yang dihasilkan pada suatu pekerjaan. Satuan internasional yang digunakan untuk mengukur tingkat penerangan adalah lux, yakni rasio flux yang berpendar (lumens) pada suatu luas permukaan (m2) (Nurmianto, 1996, hal. 224). Nilai kebutuhan pencahayaan pada suatu tempat dibedakan berdasarkan tingkat kesulitan kegiatan yang dilakukan. Berikut ini adalah rekomendasi pencahaan berdasarkan beban pekerjaannya (Nurmianto, 1996, hal. 225):

Tabel 2.1 Rekomendasi Pencahayaan

Pengelompokan Tugas dari yang Kelihatan

Rekomendasi Pencahayaan

(Lux)

Contoh Pekerjaan

Tugas yang membutuhkan ketelitian 2400 lebih

Membuat perhiasan dan jam tangan (Menginspeksi benda yang sangat kecil dalam waktu lama)

Rasio normal berdasarkan pekerjaan dan kesulitannya Sangat sulit 1600 Menggunakan mesin, peralatan dan cetakan untuk produksi, serta menginspeksi benda yang kecil

Sulit 1200 Pekerjaan garmen, untuk menginspeksi dan membandingkan warna

Rasio normal berdasarkan pekerjaan dan

kesulitannya

Sulit 800 Pewarnaan dengan spray, finishing dan pengecekan warna produk

Cukup sulit 600

Menggambar, pekerjaan kantor, membaca, dan memanufaktur komponen kendaraan

(8)

Tabel 2.1 Rekomendasi Pencahayaan (Lanjutan)

Pengelompokan Tugas dari yang Kelihatan Rekomendasi Pencahayaan (Lux) Contoh Pekerjaan Rasio normal berdasarkan pekerjaan dan kesulitannya Biasa saja

400 Kegiatan rutin di kantor dan merakit

300

Ruang kelas, memanufaktur kayu dengan mesin, dan pekerjaan dapur

Sederhana

200

Pekerjaan kasar, inspeksi stok, ruangan umum, dan packing

100 Ruang ganti, loker, dan storage

Kegiatan yang dilakukan sebentar 50 Koridor yang ramai, tempat istirahat, dan parkir mobil

Tempat lalu lalang 20 Koridor dengan lanpu

jalanan

Sumber: (Nurmianto, 1996, hal. 225)

2.9 Bising

Manusia memiliki toleransi dalam menanggulangi kebisingan, terbatas pada durasi dan tingkat kebisingan tersebut yang dijelaskan pada tabel 2.2 dibawah ini (Freivalds, 2009, p. 245):

Tabel 2.2 Batas Toleransi Kebisingan

Durasi (jam) Level Suara (dB)

8 90 6 92 4 95 3 97 2 100 1,5 102 1 105 0,5 110 0,25 atau kurang 115 Sumber: (Freivalds, 2009, p. 245)

2.10 Kenyamanan Suhu dan Faktor Iklim pada Ruang Kerja

Menurut Grandjean (1986) indoor climate adalah kondisi fisik sekeliling yang meliputi temperatur udara, temperatur pemukaan sekeliling, kelembaban udara, dan aliran perpindahan udara (Nurmianto, 1996, hal. 271). Kelembaban udara pada kisaran 40-60% akan menghambat pertumbuhan virus (Anesi, 2013, hal. 1) NIOSH merekomendasikan temperatur ruangan dengan asumsi pria dewasa, berpakaian normal, dan sehat dipetakan pada tabel 2.3 sebagai berikut (Nurmianto, 1996, hal. 283):

(9)

Tabel 2.3 Temperatur Ruangan Kerja yang Direkomendasikan NIOSH

Kegiatan Temperatur (°C)

Pekerjaan ringan (kurang dari 200 Kcal/jam) 30 Pekerjaan sedang (200-199 Kcal/jam) 28 Pekerjaan berat (300-299 Kcal/jam) 26 Pekerjaan sangat berat (lebih dari 400 Kcal/jam) 25

Sumber: (Nurmianto, 1996, hal. 283)

2.11 Iceberg Theory

HW Heinrich melakukan studi komprehensif dari biaya kecelakaan dengan membedakan perbedaan antara biaya kecelakaan tertutup oleh asuransi (yaitu kompensasi dibayarkan kepada terluka atau tanggungan dari almarhum) dan semua biaya lain yang terkait dengan nilai faktor dari 1,2 -10 dalam bentuk gunung es seperti pada gambar di bawah ini (Safety Partening Programe, 2005, hal. 8).

Gambar 2.3 Accident Cost Iceberg

2.12 Interest Factor

Interest factor digunakan untuk melihat secara eksplisit besarnya uang yang harus dikeluarkan atau dapat diterima sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan tempat untuk berinvestasi (Turner, Mize, Case, & Nazemetz, 1993, hal. 337). Formulasi faktor pengkali ditunjukkan pada gambar 2.5 sebagai berikut:

(10)

F P i, n Hal yang dicari Hal yang diberikan Annual interest rate Jumlah annual interest

Sumber: (Turner, Mize, Case, & Nazemetz, 1993, hal. 338)

Gambar 2.5 Faktor Pengkali

Untuk mendapatakan besaran nilai uang yang akan diterima/dikeluarkan pada saat ini dari biaya tahuan di depan, maka jumlah annual interest berdasarkan jumlah tahun yang akan dilakukan pembayaran.

Gambar

Gambar 2.1 The Domino Theory of an Accident Sequence
Gambar 2.2 Siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act)
Gambar 2.3 Fishbone Diagram  2.8  Cahaya
Tabel 2.1 Rekomendasi Pencahayaan (Lanjutan)  Pengelompokan Tugas dari yang
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penurunan percepatan pertumbuhan pada tulang tibia dan femur dimungkinkan pada umur 3 minggu karena bobot ayam broiler semakin meningkat sehingga mengakibatkan broiler

Analisa Pengaruh Relevansi Nilai Informasi Laba, Arus Kas Operasi, Nilai Buku Ekuitas, dan Ukuran Perusahaan terhadap Harga Saham pada Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek

Dalam melakukan analisis struktur suatu bangunan, seorang praktisi teknik sipil perlu melakukan  perhitungan  yang  tidak  bisa  dikatakan  sederhana.  Perhitungan 

Hal ini berarti bahwa awal waktu Asar dimulai ketika bayangan Matahari sama dengan benda tegaknya, artinya apabila pada saat Matahari berkulminasi atas membuat bayangan

Tujuan akhir dari pendampingan berbasis among ini adalah (1) model yang good and fit, (2) model efektif, (3) trend perilaku tenant dalam peningkatan mental wirausaha, (4) uji

Penelitian bertujuan untuk mengetahui: 1) proses pengembangan media pembelajaran menggunakan Adobe Flash, 2) kelayakan produk media pembelajaran Adobe Flash, 3) hasil

Kondisi ini bisa muncul jika kurang benar dalam merawatnya,seperti kurang bersih dan kurang kering. Hal ini juga bisa terjadi bila saat pemotongan tali pusat bayi menggunakan

Hasil yang dicapai dari kegiatan pembersihan bak aerasi adalah pengurasan bak aerasi dari adanya penumpukan lumpur yang terbawa limbah cair akibat dari tidak