• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA KEBUTUHAN MANUSIA tentang kebutuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "AGAMA KEBUTUHAN MANUSIA tentang kebutuhan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah ini disusun dalam rangka mencoba menyelesaikan tugas Mahasiswa IAIN Sumatera Utara Fakultas Syariah khusunya PHM ( Perbandingan Hukum dan Mazhab) semester III (Tiga). Agar mengetahui kekurangan maupun kelebihan para mahasiswa dan pembuat makalah

tentunya.

Makalah ini isinya mengenai Pengertian Agama, Latar Belakang, Peranan Manusia Terhadap Agama. Bahwa manusia itu memerlukan pondasi untuk hidup dikalangan masyarakat terdapat kesan bahwa agama bersifat sempit. Kesan ini timbul dari syarah pengertian tentang hakekat agama. Kekeliruan paham ini bukan hanya dikalangan umat bukan islam tapi juga dikalangan umat islam sendiri.

Kekeliruan masalah itu terjadi karena kurikulum pendidikan agama islam yang banyak di pakai di masyarakat ditekankan kepada pengajaran fiqh, bahasan Arab dan Ibadat. Hal ini memberi pengetahuan yang sempit tentang agama islam.

Dalam dasar agama sebenarnya terdapat aspek-aspek selain yang tersebut diatas, seperti aspek teologi, aspek ajaran spisikual dan moral. Aspek ilmu pengetahuan, Aspek Tarekat, Aspek Falsafah dan Aspek Pemikiran serta usaha-usaha pembaharuan dalam islam.

Dan karena itu pula yang perlu kita bicarakan dalam makalah ini hanyalah kesimpang siuran pengertian agama itu saja. Tetapi, barang kali uraian akan memakan banyak tempaty, sebab masalahnya cukup luas juga, dan sungguhpun makalah ini disusun terutama untuk

menyelesaikan tugas Metedologi Studi Islam sebagai bahan pelajaran semester III (Tiga) Jursan PHM (Perbandingan Hukum dan Mazhab). Mungkin juga ada faedahnya bagi pembaca-pembaca diluar lingkungan semester III (Tiga) yang ingin memperluas pengetahuannya tentang agama.

A. KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA 1. Pengertian

Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama dikenal pula kata din ( ) dari bahasa Arab dan dari kata religi dari bahasa Eropa satu pendapat menyatakan bahwa agama itu tersusun dari dua kata, tidak dang am = pergi, jadi tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun-temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian, adalagi pendapat yang menyatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agam memang mempunyai kitab-kitab suci, selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntutan. Memang agama mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya.

Din dalam bahasa semik berarti undang-undang atau hukum, dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Agama lebih lanjut lagi membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi hutang baginya. Paham kewajiban dan kepatuhan membawa pula kepada paham batasan baik dari Tuhan yang tidak menjalankan kewajiban dan tidak patuh akan mendapat balasan yang tidak baik.

(2)

menurut pendapat lain, kata itu berasal dari kata religere yang berarti mengikat ajaran-ajaran agama memang mengikat manusia dengan Tuhan.

Dari beberapa defenisi tersebut, akhirnya Harun Nasution mengumpulkan bahwa inti sari yang terkandung dalam istilah-istilah diatas ialah ikatan agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupannya sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, ikatan ghaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra.

Adapun pengertian agaa segi istilah dikemukakan sebagai berikut Elizabet K. Nottinghan dalam bukunya agama dan masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gesjala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk menjual abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Noktingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna ari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama kerah menimbulkan khayalan yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat

membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga merasakan takut dan ngeri. Sementara itu Durkheim mengatakan bahwa agama adalah patulan dari solidaritas sosial. Sementara itu Elizabet K. Nottingham yang pendapatnya tersebut tampak menunjukkan pada realitas bahwa dia melihat pada dasarnya agama itu bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cara memberikan suasana batin yang nyaman dan menyejukkan, tapi juga agama terkadang disalah gunakan oleh penganutnya untuk tujuan-tujuan yang merugikan orang lain. Misalnya, dengan cara memutar balikkan interpretasi agama secara keliru dan berujung pada tercapainya tujuan yang bersangkutan.

Selanjutnya karena demikian banyaknya defenisi sekarang agama yang demikian para ahli. Harun Nasution mengatakan dapat diberi defenisi sebagai berikut :

1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatruhi. 2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.

3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

4. Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. 5. Suatu system tingkah laku (code of conduct) yang berasal di kekuatan ghaib.

6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib.

7. Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dan perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.

8. Ajaran yang dianutnya Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.

Berdasarkan uraian tersebut kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dan Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi kegenerasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang

didalamnya mencakup unsur emosional dan kenyataan bahwa kebahagiaan hidup tersebut bergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan ghaib tersebut.

B. LATAR BELAKANG PERLUNYA MANUSIA TERHADAP AGAMA

(3)

1. Latar Belakang Fitrah Manusia

Dalam bukunya berjudul prospektif manusia dan agama, Murthada Muthahhari mengatakan bahwa disaat berbicara tentang para Nabi Imam Ali as. Menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingat manusia kepada manusia yang telah diikat oleh fitrah manusia, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak dicatat diatas kertas melainkan dengan pena ciptaan Allah dipermukaan terbesar dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nurani serta dikedalaman perasaan batiniah.

Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegaskan kepada agama islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia, sebelumnya, manusia belum mengenal kenyataan ini. Baru dimasa akhir-akhir ini muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitri keagamaan yang ada pada diri manusia inilah yang melatar belakangi perlunya manusia kepada agama, oleh karenanya ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya hal tersebut.

Dalam konteks ini kita misalnya membaca ayat yang berbunyi :

Artinya ; “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu (QS.Al-rum : 30)

Setiap ciptaan Allah mempunyai fitrahnya sendiri-sendiri jangankan Allah sedang manusia saya membuat sesuatu itu dengan fitrahnya sendiri-sendiri .

Kesimpulannya bahwa latar belakang perlunya manusia pada agama adalah karena dalam diri manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi yang beragama ini memerlukan pembinasaan, pengarahan, pengambangan dan seterusnya dengan cara mengenalkan agama kepadanya.

2. Kelemahan dan Kekurangan Manusia.

Faktor lainnya yang melatar belakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan .

Walaupun manusia itu dianggap sebagai makhluk yang terhebat dan tertinggi dari segala

makhluk yang ada di ala mini, akan tetapi mereka mempunyai kelemahan dan kekurangan karena terbatasnya kemampuan M. abdul alim Shaddiqi dalam bukunya “Quesk For True Happines” menyatakan bahwa keterbatasan manusia itu terletak pada pengetahuannya hanyalah tentang apa yang terjadi sekarang dan sedikit tentang apa yang telah izin. Adapun tentang masa depan yang sama sekali tidak tahu, oleh sebab itu kata beliau selanjutnya hukum apa sajapun yang dapat dibuat oleh manusia tentang kehidupan insani adalah berdasarkan pengalaman masa lalu. Selanjutnya dikatakan disamping itu manusia menjadi lemah karena di dalam dirinya ada hawa nafsu yang selain mengajak kepada kejahatan, sesudah itu ada lagi iblis yang selain berusaha menyesatkan manusia dari kebenaran dan kebaikan. Manusia hanya dapat melawan musuh-musuh ini ialah dengan senjata agama.

(4)

Artinya :

“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu (terasuk manusia) telah kami ciptakan dengan ukuran (batas) tertentu (qS. Al-Qomar : 49)

Untuk mengatasi kelemahan-kelemana dirinya itu dan keluar dari kegagalan-kegagalan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan wahyu akan agama .

3. Tantangan Manusia

Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia adalah karena manusia adalah dalam kehidupan senantiasa menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan dari hawa nafsu dan bisikan syetan sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupa ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanipestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari keluhan. Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keininannya, berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obatan terlarang dan sebagainya dibuat dengan sengaja. Untuk itu upaya untuk mengatasinya dan membentengi manusia adalah dengan mengejar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu saat ini semakin meningkat sehingga upaya mengamankan masyarakat menjadi penting . - See more at: http://dinulislami.blogspot.com/2009/10/kebutuhan-manusia-terhadap-agama.html#sthash.WMdbkCfm.dpuf

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Jakarta Fiksiana Freez

Home Humaniora

Filsafat Artikel

Filsafat

Wajiran

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Wajiran, S.S., M.A. adalah dosen Ilmu Budaya di Universitas Ahmad Dahlan

(5)

alumnus Pondok Pesantren Ar-Ruhamaa’ ini mempunyai minat bidang kebijakan politik Amerika Serikat, ideologi dan agama. Aktif di beberapa perkumpulan dan juga latihan ...

0inShare

Masihkah Kita Butuh Agama?

OPINI | 09 July 2012 | 15:23 Dibaca: 921 Komentar: 17 1

Masihkah Kita Butuh Agama?

Oleh

Wajiran, S.S., M.A.

(Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Rumitnya persoalan hidup yang kita hadapi terkadang menimbulkan sebuah pertanyaan akan peranan agama di dalam mengendalikan kehidupan manusia. Saat begitu banyak orang yang menganut agama, tetapi ternyata agama seolah tidak bisa memberikan solusi bagi persoalan hidup manusia. Keculasan, kebohongan dan kerakusan yang sebenarnya dilarang dalam agama, justru menjamur di semua kalangan. Dengan demikian apakah agama masih dibutuhkan?

Pertanyaan itu mungkin saja muncul karena kebingungan kita terhadap peran dan fungsi agama bagi manusia. Negara yang dihuni oleh mayoritas orang-orang beragama ini, ternyata tidak mengurangi kejahatan kemanusiaan yang terjadi di berbagai bidang. Korupsi, manipulasi, pencurian dan perampokan ada di berbagai lapisan negeri ini.

Manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan. Maka dari itu kita tidak bisa menyalahkan begitu saja terhadap agama, ketika orang-orang beragama melakukan kejahatan yang dilarang agama. Manusia itu sendiri yang melanggar ketentuan agama. Karena itulah seolah agama tidak bisa mengendalikan sifat buruk manusia.

Secara alamiah atau dalam bahasa agama secara fitrah, sangat membutuhkan agama. Agama yang dimaksud adalah keyakinan atas sesuatu Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya dari sejak jaman Nabi Adam, Musa, Ibrahim dan Muhammad, manusia ditakdirkan untuk merindukan akan adanya yang Maha Kuasa itu. Hal ini pun terjadi pada mereka-mereka yang belum beragama Islam. Oleh karena itu wajarlah jika lahir aliran-aliran kepercayaan, kepercayaan akan adanya hal-hal ghaib atau pun dewa-dewa dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa agama. Itu sebabnya agama tidak akan pernah mati, meminjam istilah Komaruddin Hidayat(2012) Agama Punya seribu Nyawa. Jadi sampai kapan pun manusia akan tetap membutuhkan sesuatu yang diyakini menguasai segala sesuatu di dunia ini.

(6)

memotivasi kehidupan manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh optimisme. Dengan keyakinan akan agama, manusia akan mencapai sesuatu yang lebih baik dalam hidup ini. Manusia juga tidak akan mudah menyerah dengan segala kesulitan hidup yang dihadapi. Karena dengan selalu bertahan dan menyelesaikan tugas hidup di dunia, manusia beragama akan memiliki keyakinan akan balasan dan pahala setelah kematiannya nanti.

Agama Islam adalah agama rahmatal lil ‘alamin. Ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah itu bersifat universal. Manusia yang menyakini agama (Islam khususnya) harus memberikan pengorbanan dan berjuang bukan hanya untuk kaum muslim saja, tetapi untuk semua orang di muka bumi ini. Oleh karena itu, hukum agama juga harusnya berlaku universal untuk siapapun. Disinilah fungsi agama sebagai pengatur dan pengendali kehidupan manusia. Jika manusia telah dengan kaffah (menyeluruh) mengamalkan ajaran agama, maka agama (Al-Qur’an) akan menjadi sumber peradaban. Sebagai sumber peradaban, agama (Al-(Al-Qur’an) mampu memberikan solusi atas segala persoalan hidup manusia.

Keyakinan atas agama yang diamalkan secara kaffah akan memberikan dampak yang menyeluruh pula. Dengan ajaran moral dan nilai-nilai yang ada di dalam agama akan memberikan ciri tertentu kepada pengikutnya. Oleh karena itu, agama bukan hanya sebuah keyakinan dan pemahaman tanpa tindakan, tetapi beragama harus menyeluruh. Yaitu antara keyakinan dengan tindakan harus lah saling menunjang. Untuk itu kita dituntut untuk memiliki watak dan karakteristik yang berbeda dengan orang yang tidak meyakini agama. Itulah yang disebut dengan akhlaq. Akhlaq inilah yang akan memberi nilai plus bagi setiap muslim untuk melakukan kontribusi di dalam kehidupan ini.

Karena agama adalah penuntun atau pengendali arah hidup manusia, maka agama harus menjadi sumber segala sumber. Untuk itu apapun yang kita lakukan harus dilandasi atas nilai-nilai yang ada di dalam agama itu. Oleh karena itu, segala perbuatan baik itu yang berkaitan dengan pemenuhan diri sendiri maupun sosial kita namakan dengan ibadah. Bagi kita yang bekerja mencari nafkah, usaha dan aktivitas kita adalah ibadah. Kemampuan mengimplementasikan nilai-nilai islam inilah yang disebut oleh Komarudin sebagai internalisasi nilai-nilai Ilahi (Hidayat:2012: 107). Di dalam internalisasi nilai-nilai Ilahi ini, segala aktivitas duniawi diniatkan untuk mencari ridho Ilahi, bukan kepentingan duniawi belaka.

Kepasrahan yang total terhadap Tuhan adalah sebuah keharusan bagi umat Islam. Di dalam kepasrahan ini akan kita temukan sebuah kedamaian. Kedamaian yang dimaksudkan adalah optimisme menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh. Karena kehidupan adalah amanah Allah yang harus dijalani, manusia akan merasa tenang, tentram dan damai di dalam mengemban amanah kehidupan ini.

(7)

Menurut Komarudin Hidayat dinamika keislaman di Indonesia memang sangat heterogen. Oleh karena itu perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan konflik antar sesama muslim. Akulturasi agama dengan budaya lokal sering menimbulkan benturan-benturan yang harusnya tidak perlu diperdebatkan. Karena hanya akan menimbulkan permusuhan bagi sesama umat islam itu sendiri. Perbedaan pandangan dalam agama adalah sebuah keniscayaan, karena Tuhan telah mentakdirkan kita hidup di dalam dinamika perbedaan. Keberagaman itu haruslah tetap bisa saling bahu membahu untuk mencapai kejayaan bersama atas nama islam.

Sampai kapan pun agama tidak akan pernah mati. Karena agama telah menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia sepanjang jaman. Wa Allah A’lam.

Malaysia, 18 mei 20

MENGAPA MANUSIA BUTUH TUHAN

?

Dari semua kitab suci semua agama sudah dijelaskan mengapa manusia perlu Tuhan. Di dasari oleh berbagai macam dalil-dalil yang sudah dibuktikan selama berabad-abad oleh para penganut masing-masing agama. Itupun masih banyak yang menyangkal keberadaan Tuhan, hingga suatu saat si atheis terpojok, dan terancam maut, barulah dia menyeru dan meminta pertolongan kepada Tuhan.

SEBAGAIMANA FIRAUN MENYERU KEPADA TUHAN PADA WAKTU AKAN MATI TENGGELAM DAN MAYATNYA SEKARANG MENJADI SAKSI BISU ATAS KEJADIAN TERSEBUT.

Khususnya di negara-negara barat, saat ini faham atheis sedang berkembang pesat. Mereka menolak keberadaan Tuhan bahkan ada beberapa yang malah mencaci maki Tuhan. Itulah Firaun-Firaun jaman sekarang yang lebih suka bertindak sesuka hatinya, tidak ada larangan apapun dan menolak kewajiban apapun.

Sesungguhnya dia menurutkan hawa nafsunya sendiri dan menjadikan kesenangan hawa nafsu sebagai tujuan hidupnya. Hawa nafsunya dibiarkan mengatur perilakunya yang menghasilkan pilihan hidup sesuka hatinya. Agamanya adalah agama yang mengajarkan sikap dan tindakan sesuka hati. Tuhannya adalah hawa nafsunya.

Perilaku manusia seperti ini dijelaskan di dalam teorinya Sigmund Freud, yaitu ID, EGO & SUPER EGO yang mendasari perilaku manusia. Secara sederhana pengertian ID mewakili kebutuhan biologis dan alam bawah sadar, EGO mewakili rasio dan alam sadar, sedangkan SUPEREGO adalah nilai-nilai yang dianut di suatu kelompok masyarakat tertentu.

Cttn: Bagi pembaca, saya harapkan tidak menggunakan teori ini sebagai acuan utama di dalam memahami perilaku manusia, karena teori ini dirumuskan berdasarkan observasi Sigmund Freud terhadap pasien-pasien penderita gangguan jiwa disebuah rumah sakit jiwa. Namun, teori ini dapat kita gunakan sebatas untuk memahami perilaku menyimpang / abnormal dari

(8)

mungkin di atas normal (istimewa) anda perlu banyak teori perilaku manusia lainnya diluar teori Psikoanalisa ini.

Pada saat belum ada agama, manusia menyeru kepada Sang Pencipta Alam Semesta dan memohon petunjuk dan bimbingan mengenai suatu “metode” yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperbaiki kondisi masyarakat di mana dia tinggal. Setelah

diturunkannya petunjuk, maka “metode dan prosedur” yang dijalankan berdasarkan petunjuk tadi akhirnya disebut sebagai agama. “Metode dan prosedur” tadi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sehari-harinya sehingga agama dikenal pula sebagai suatu cara untuk menjalani

kehidupan (way of life).

Di dalam perkembangan selanjutnya, banyak pemuka agama yang memodifikasi dan merubah ajaran asli agama tersebut dengan berbagai macam pertimbangan, alasan dan kepentingan. Perubahan-perubahan tersebut ada yang merugikan dan menguntungkan bagi masyarakat penganutnya.

Reaksi terhadap perubahan yang dirasakan merugikan adalah dengan memperbaiki agama tersebut dan berjuang mengembalikan ajaran agama tersebut ke bentuk aslinya. Ada juga yang bereaksi dengan pindah agama lain. Dan Ada juga yang malah

meninggalkan ajaran agama tersebut dan mengklaim dirinya tidak percaya Tuhan, sebagai perwujudan pernyataan sikap bahwa dia tidak mau lagi menjalankan “metode dan

prosedur” sebagaimana diatur oleh suatu agama.

Prof Masaru Emoto

Prof Masaru Emoto adalah seorang profesor dari Jepang yang berhasil mendokumentasikan kualitas air di seluruh kota di Jepang.

Dari hasil penelitiannya tersebut kita bisa memetik suatu pelajaran tentang kebutuhan manusia terhadap Tuhan, suka tidak suka, sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau. Artinya secara alamiah kita membutuhkan Tuhan, sebagaimana kita membutuhkan oksigen untuk bernafas.

Secara biology, 80% tubuh manusia terdiri dari air, sehingga kualitas air di dalam diri kita akan menentukan kualitas kesehatan seseorang. Bila “kualitas air” di dalam badan manusia buruk tentunya orang tersebut akan menderita gejala gangguan kesehatan dan atau menderita penyakit tertentu. Tidak ada orang di dunia ini yang mau sakit. Semuanya menginginkan hidup sehat dan panjang umur.

(9)

Gambar sebelah kiri, mirip gambar air di selokan atau dilumpur sedangkan gambar disebelah kanan merefleksikan kejernihan dan kebersihan.

Sangat jelas bahwa dengan berTuhan maka 80% bagian dari badan manusia dalam keadaan bersih. Sesuatu yang bersih tentu membawa pada kesehatan dan kebaikan.

Hal tersebut dapat terwujud jika kita rajin berdoa, dan beribadah kepada Tuhan secara terus menerus.

(10)
(11)

Perhatikan gambar di atas, dimana kristal air yang dibacakan doa-doa membentuk kristal paling indah dan berkilau. Hal ini menunjukkan hasil yang maksimal. Setiap manusia pasti

menginginkan hasil maksimal untuk dirinya. Suatu kebohongan besar jika ada yang menyangkal bahwa dirinya tidak menginginkan sesuatu yang maksimal.

Untuk memilih dan tidak memilih agama adalah Hak Asasi Manusia adalah suatu kebohongan besar. Apakah kita akan menyakini pernyataan bahwa pilihan bernafas atau tidak bernafas tidak ada kaitannya dengan masalah hidup atau mati ?

Jadi, dengan kata lain, untuk membuat air di dalam badan kita membentuk formasi yang maksimal (indah dan berkilau) maka satu hal yang perlu kita lakukan BERDOA KEPADA TUHAN.

(12)

Gambar

Gambar sebelah kiri, mirip gambar air di selokan atau dilumpur sedangkan gambar disebelah kanan merefleksikan kejernihan dan kebersihan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil wawancara terhadap informan dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang melatar belakangi manusia lanjut usia bekerja adalah karena Faktor ekonomi

• Sementara agama Islam dapat di definisikan sebagai suatu system ajaran ketuhanan yang berasal dari Allah swt, yang diturunkan kepada ummat manusia dengan wahyu melalui

Setiap manusia tidak terlepas dari kebutuhan, baik kebutuhan fisik maupun psikis. Hal inilah yang mendorong seorang individu untuk memenuhi kebutuhannya

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diturunkan ke bumi untuk menjadi khalifah, dan pemimpin di atasnya, ketika manusia telah mendapat suatu tugas yang sangat mulia dan

Sifat-sifat keburukan yang ada pada manusia antara lain sombong, inkar, iri, dan lain sebagainya, Karena itu manusia dituntut untuk menjaga kesuciaannya, hal yang dapat dilakukan

Kebutuhan untuk terus menerus menjadi inilah manusia yang khas manuasiawi, dan karenanya pulalah manusia bisa berkarya, biasa mengatur dunia untuk kepentingannya,

Inti dari wahyu Allah yang dipahami Barth adalah anugerah Allah yang datang kepada manusia di dalam Yesus Kristus.. Respon yang tepat dari manusia kepada wahyu ini adalah dengan

Endang Saefuddin Anshari mengemukakan pendapatnya bahwa agama ialah sebuah program keimanan keyakinan tentang sesuatu yang tetap diluar akal sehat manusia dan sebuah cara peribadatan