PENGARUH MODEL PELATIHAN TENIS MINI DAN TENIS Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui, pengaruh model pelatihan tenis mini dan tenis lapangan biasa terhadap peningkatkan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan. Penelitian dilakukan dengan rancangan randomized pre test-post test control group design yang melibatkan dua kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Perlakuan diberikan kepada kelompok eksperimen berupa pelatihan sebanyak 3 kali seminggu selama 8 minggu. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan dengan model pelatihan tenis mini, kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan dengan model pelatihan tenis lapangan biasa sedangkan kelompok kontrol berlatih tenis lapangan secara konvensional. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes keterampilan dasar bermain tenis lapangan yang sudah standar yang meliputi: service, drive dan rally. Data dianalisis dengan bantuan program SPSS versi 6,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa F hitung = 14,6138 dengan batas penolakan p = 0,0000 dan = 0,05. Oleh karena > p, maka Ho : 1 = 2 = 3 ditolak
lebih baik dari pada model pelatihan tenis lapangan biasa dalam meningkatkan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan. Kata kunci : model pelatihan, tenis, hasil belajar
ABSTRACT
This research purposed to know the effect of training models of “mini tennis” and lawn tennis towards the improvement of achievement in lawn tennis basic skills. This research was conducted using randomized pre test-post test control group design involving two experimental groups and one control group. Each experimental group was given three times training per week during an eight week period. The first experimental group was given “mini tennis” training models, the second experimental group was trained using normal lawn tennis training models, and the third group, the control group, was trained conventionally. The data were collected by using standard test for tennis basic skills consisted of service, drive, and rally. Then, the data was analyzed by using SPSS programs version 6.0. The result revealed that the value of F = 14.6138 with p = 0.0000 and = 0.05. Because > p, then Ho : 1 = 2 = 3 was rejected, or the results
obtained from each training models were different. This means that the mini tennis training models and the normal lawn tennis training models can be used to improve tennis basic skills. However, HSD analysis with 5 % significance level showed that the “mini tennis” training models is better than the normal lawn tennis training models. Based on these results it can be concluded that the “mini tennis” training model is more effective than the normal lawn tennis training model in improving the achievement of lawn tennis basic skills.
1. Pendahuluan
Dalam proses pembelajaran tenis lapangan, tidak jarang guru/pelatih menggunakan berbagai cara agar apa yang diajarkan lebih cepat dapat dikuasai baik oleh pemula maupun yunior, misalnya, melalui inovasi model pembelajaran. Hal ini dapat diamati dari makin banyaknya model mengajar yang tertuang dalam buku-buku tenis lapangan. Salah satu diantaranya adalah model pelatihan dengan tenis mini.
Model pembelajaran tenis lapangan dengan tenis mini ini mulai dikembangkan sekitar 3 (tiga) dasa warsa yang lalu. Model ini sangat sederhana, mudah dikuasai, dapat dimainkan oleh siapa saja dari usia termuda 3-4 tahun hingga usia dewasa dan dapat dimainkan di mana saja, kapan saja asal lapangan itu datar dan dapat menggunakan raket yang sederhana. Dalam buku Panduan Kejuaraan Tenis Mini KTKG I (1990: 4) dituliskan bahwa,” Dengan tenis mini, di mana saja, kapan saja dan siapa saja dapat bermain tenis dengan menggembirakan”.
Bila disimak lebih jauh, permainan tenis mini sebenarnya bukan hanya untuk mendapatkan kesenangan saja, akan tetapi untuk mempermudah penguasaan keterampilan dasar bermain tenis lapangan. Hal ini dinyatakan oleh Van der Meer’s (1982: 10) bahwa: “A game of mini tennis not only can be fun, but also can provide the fundamentals of tennis for both young and older first-timers within short period of time”
strategi dan taktik permainan yang bermuara pada peningkatan keterampilan bermain tenis lapangan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, untuk pembinaan tenis lapangan bagi anak-anak pemula, para pelatih sudah mulai menggunakan model pelatihan dengan tenis mini walaupun penggunaannya belum begitu banyak. Bila model ini dapat diterapkan, diharapkan akan dapat mendukung perkembangan tenis lapangan di Indonesia. Namun demikian, belum diketahui secara empirik seberapa besar keunggulan model pelatihan tenis mini ini dibandingkan dengan model pelatihan dengan tenis lapangan biasa dalam meningkatkan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan.
Dari uraian di atas, secara eksplisit dapat dibuat rumusan masalah berikut ini. Manakah yang lebih berpengaruh antara model pelatihan tenis mini dengan model pelatihan tenis lapangan biasa terhadap hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan?
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model mana yang lebih berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan antara pembelajaran dengan model pelatihan tenis mini dan model pelatihan tenis lapangan biasa.
minat masyarakat dalam bermain tenis lapangan dan meningkatkan mutu permainan tenis lapangan di Indonesia.
Ketidakberhasilan proses pembelajaran tenis lapangan sering disebabkan oleh penggunaan model yang kurang tepat. Umumnya, pelatih mengajar atau melatih tidak berdasarkan pada program latihan yang jelas, tidak memperhatikan tahapan-tahapan pelatihan. Dosen/pelatih cenderung mengajar atau melatih semaunya/tanpa perencanaan (program) dan tiba di lapangan cenderung langsung mengajak peserta bermain tanpa penekanan pada penguasaan teknik-teknik dasar lebih dahulu. Oleh karena itu, dosen/guru atau pun pelatih harus memahami dan dapat menerapkan model pembelajaran dengan baik serta mampu memilih model pembelajaran yang tepat.
Perbedaan pembelajaran tenis lapangan dengan model tenis lapangan biasa maupun tenis mini terletak dalam hal peralatan, ukuran lapangan, maupun cara pembelajarannya, namun bentuk pelatihannya sama. Pembelajaran dengan model tenis lapangan biasa dimaksudkan sebagai model pembelajaran tenis lapangan yang menggunakan alat-alat seperti raket, bola, dan ukuran lapangan yang normal. Ukuran lapangan untuk permainan tunggal adalah panjang 23,77 m, lebar 8,23 m, sedangkan untuk ganda adalah panjang 23,77 m dan lebar 10,97m. Pelatihan/pembelajaran tenis lapangan pada pemula dan junior masih didominasi dengan model tenis lapangan biasa. Model ini sudah populer dilakukan di Indonesia dengan anggapan bahwa model ini mudah dilaksanakan.
untuk anak-anak, jenis bola dan ukuran raketnya pun dapat dimodifikasi. Dalam penelitian ini digunakan bola dan raket ukuran normal, sedangkan ukuran lapangannya hanya seluas daerah service . Bentuk lapangan tenis mini dapat dilihat pada gambar 1 berikut.
Gambar 1 Bentuk Lapangan Tenis Mini ( Kraft, 1987 : 18) Keterangan:
Panjang garis tunggal : 12,8 meter Panjang garis service : 8,23 meter Tinggi net : 0,91 meter
Daerah yang diarsir : daerah lapangan tenis mini
A adalah : pemain A
B adalah : pemain B
Berbagai keterampilan dasar pukulan dalam permainan tenis lapangan dapat dilatihkan melalui model pembelajaran tenis mini sebelum menuju permainan tenis lapangan yang sebenarnya. Dalam permainan tenis mini, yang dipentingkan adalah pemain berusaha untuk melewatkan bola di atas jaring ke daerah lawan dengan pelan tetapi harus tepat jatuh di daerah lapangan lawan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Van der Meer’s (1982:
174) bahwa: “Most important, through out the mini tennis progression keep the ball under control by hitting gently and directing it carefully”. Dengan kata lain, pemain harus dapat mengontrol agar bola tidak jatuh di luar lapangan (batas). Yang dimaksud dengan ball kontrol adalah: (1) mengusahakan supaya bola tidak ke luar batas, (2) mengarahkan bola atau menahan bola” (Yudoprasetio, 1981: 15). Dengan kemampuan mengontrol bola, pemain akan dapat menempatkan bola secara cermat di suatu tempat yang dikehendaki.
Selain kemampuan mengontrol bola, keberhasilan pembelajaran juga didukung oleh program pembelajaran serta sistematika pembelajaran. Sistematika berarti pemberian pembelajaran keterampilan permainan tenis lapangan yang harus dimulai dari yang mudah atau yang sederhana menuju ke yang sukar atau kompleks, sehingga bila model pelatihan tenis mini dilakukan secara sistematis dengan program yang terencana maka akan lebih efektif atau lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan model pelatihan tenis lapangan biasa.
2. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan 2 (dua) variabel bebas, yaitu: (1) model pelatihan tenis mini dan (2) model pelatihan tenis lapangan biasa, dan 1 (satu) variabel terikat yaitu hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan. Rancangan penelitian adalah the randomized control group pretest - post test design, seperti gambar 2 berikut.
P --- R ---S ---T1
Gambar 2 The Randomized Control Group PreTest - Post Test Design (Moh. Nazir, 1988:289)
Keterangan: P = Populasi R = Random S = Sampel
T1 = pre-test untuk kelompok 1,2 dan 3
X1 = perlakuan dengan model pelatihan tenis mini
X2 = perlakuan dengan model pelatihan tenis lapangan biasa
O = kelompok kontrol, belajar tenis lapangan secara konvensional T2 = post-test untuk kelompok 1,2 dan 3
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa tes keterampilan dasar bermain tenis yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1977: 1-16). Tes ini meliputi keterampilan dasar forehand dan backhand drive, service serta rally selama 3 menit. Pelaksanaan tes mengacu pada prosedur pengumpulan data yang terdiri dari prosedur pelaksanaan tes dan cara penilaian hasil tes untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaannya.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis varians, dengan syarat populasi berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, sedangkan untuk memudahkan analisis, perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS versi 6,0.
3. Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1 Hasil Penelitian
Hasil perhitungan nilai rata-rata pretest keterampilan dasar bermain tenis lapangan ketiga kelompok, termasuk kategori sangat kurang. K1 = 68,00, K2 = 68,27, K3 = 68,73. Pada tes akhir terlihat ada perbedaan nilai rata-rata dari ketiga kelompok yaitu: K1 = 100,20, K2 = 87,20, dan K3 = 73,27. Bila dikonversikan ke pedoman penilaian keterampilan bermain tenis lapangan, nilai tersebut masih termasuk kategori sangat kurang.
perorang sebesar 1,26 poin. Sedangkan kelompok 3 (K3) respon pelatihan dari pretest ke post test juga mengalami peningkatan sebesar 4,54 poin dengan rata-rata peningkatan perorang 0,30 poin.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran sampel yang mewakili populasi berdistribusi normal atau tidak. Data yang diuji normalitasnya adalah hasil pretest, post test dan gain skor keterampilan dasar bermain tenis lapangan untuk kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kelompok kontrol. Uji ini dilakukan terhadap hipotesis statistik:
Ho: F(x) = Ft (x) melawan Ha: F(x) Ft (x)
Hasil analisis dengan taraf signifikansi (), menunjukkan bahwa untuk data dari kelompok 1, 2, dan 3 baik hasil pretest, post tes maupun gain, nilai batas penolakan p semuanya lebih besar dari , oleh karena < p maka Ho
diterima. Ini berarti bahwa populasi asal sampel berdistribusi normal. Untuk mengetahui apakah data keterampilan dasar bermain tenis lapangan homogen atau tidak dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji statistik berikut.
Ho: 12 = 22 melawan Ha : 12 22
Hasil perhitungan menunjukkan besarnya batas penolakan p untuk data pretest, post test, dan gain semuanya menunjukkan lebih besar dari = 0,05. Oleh karena <p, maka hipotesis nol (Ho) diterima. Ini berarti semua varians yang digunakan dalam penelitian ini adalah homogen.
Untuk menguji hipotesis penelitian diperlukan pengujian dengan analisis varians satu arah (Anava) yang menguji kesamaan beberapa rata-rata. Hipotesis statistik yang akan diuji dirumuskan berikut ini.
Ho: 1 = 2 = 3 (tidak ada perbedaan rata-rata dari populasi)
melawan
Tabel 1. Hasil Analisis Varians
Sumber Varians DF SS MS F ratio P
Antar Kelompok 2 5475,6 2737,8000 14,6138 0,000 Dalam Kelompok 42 7868,4 187,3429
Total 44 13344,0
Keterangan:
DF = degree of freedom (derajat kebebasan) SS = sumsquare ( jumlah kuadrat)
MS = meansquare (kuadrat rata-rata) p = probablity (batas penolakan)
Dari tabel di atas terlihat bahwa F hitung = 14,6138 dengan batas penolakan p = 0,000. Oleh karena = 0,05 > p = 0,000, maka Ho ditolak
atau rata-rata dari ketiga kelompok berbeda nyata. Jadi, terdapat perbedaan rata-rata peningkatan skor keterampilan dasar bermain tenis antara K1 dengan K2, K1 dengan K3 dan K2 dengan K3 secara signifikan.
Untuk mengetahui berapa besar derajat beda rata-rata antarkelompok, dilakukan uji HSD (Highly Significance Diference). Uji HSD dianalisis dengan program Tukey dengan taraf signifikansi 5 %.
Tabel 2.
Uji Signifikansi Beda Rata-rata Antarkelompok
Beda Rata-rataAntara
Beda Rata-rata HSD0,05 Kesimpulan
K1 – K2 31,53 – 18,93 = 12,6 12,12 Beda Signifikan K1 - K3 31,53 – 4,53 = 27,0 12,12 Beda Signifikan K2 – K3 18,93 – 4,53 = 14,4 12,12 Beda Signifikan
K1= kelompok eksperimen 1 K2 =kelompok eksperimen 2 K3 = kelompok kontrol
Berdasarkan hasil uji signifikansi antarkelompok di atas, ternyata besar beda antara kelompok eksperimen 1 dengan kelompok eksperimen 2 adalah 12,6 > HSD0,05 = 12,12, yang berarti bahwa besar beda antara K1
dan K2 signifikan pada taraf signifikansi 5 %. Beda antara kelompok eksperimen 1 dengan kelompok kontrol sebesar 27,0 > HSD0,05 = 12,12,
yang berarti bahwa besar beda antara K1 dan K3, berbeda secara signifikan pada taraf signifikansi 5 %. Beda antara kelompok eksperimen 2 dengan kelompok kontrol sebesar 14,4 > HSD0,05 = 12,12, yang berarti bahwa besar
beda antara K2 dengan K3 signifikan pada taraf signifikansi 5 %.
Hasil analisis varians dan uji derajat beda di atas, selanjutnya digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yang diajukan, yaitu: “Terdapat perbedaan pengaruh antara model pelatihan tenis mini dan model pelatihan tenis lapangan biasa terhadap peningkatan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan. Pengaruh model pelatihan tenis mini lebih besar dibandingkan dengan pengaruh model pelatihan dengan tenis lapangan biasa”.
beda rata-rata antarketiga kelompok berbeda secara signifikan dengan = 0,05. Ini berarti bahwa hipotesis penelitian di atas dapat diterima. Artinya terdapat perbedaan pengaruh antara model pelatihan tenis mini dan tenis lapangan biasa terhadap peningkatan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan.
Perbandingan pengaruh pelatihan antarkelompok secara lebih rinci dapat dicermati dari data respon siswa terhadap pelatihan yang diberikan. Respon pelatihan untuk kelompok eksperimen 1 (K1) sebesar 2,10, respon pelatihan untuk kelompok eksperimen 2 (K2) sebesar 1,26, dan respon pelatihan untuk kelompok kontrol (K3) sebesar 0,30. Ternyata, hasil tes ketiga kelompok menunjukkan adanya peningkatan. Walaupun demikian, terlihat bahwa respon kelompok 1 lebih besar daripada respon K2 serta lebih besar daripada respon K3.
3.2 Pembahasan
dengan kemampuan mengontrol bola pemain akan dapat menempatkan bola secara cermat disuatu tempat yang dikehendaki.
Melalui penelitian ini juga ditemukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pelatihan tenis lapangan biasa dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam bermain tenis lapangan. Respon pelatihan perorang secara rata-rata dengan metode tenis lapangan biasa meningkat sebesar 1,26. Peningkatan ini ditunjang oleh adanya program pembelajaran yang baik untuk mengatasi hambatan-hambatan yang cenderung muncul pada saat pelatihan. Sebagaimana dinyatakan oleh Soekarman (1989: 11), untuk mengatasi hambatan dalam pelatihan, perlu disusun strategi dan rencana pelatihan yang baik.
Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok kontrol mengalami peningkatan. Peningkatan respon pelatihan perorang secara rata-rata adalah 0,30 poin. Peningkatan yang dialami kelompok kontrol disebabkan oleh orang coba telah mengikuti perkuliahan tenis lapangan secara konvensional (tradisional) yang memang muncul pada semester itu. Tetapi, bila dibandingkan respon pelatihan yang dicapai maka peningkatan respon pelatihan kelompok eksperimen 1 yang paling besar, sedangkan kelompok kontrol peningkatannya paling kecil (hanya 0,30 poin). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen 1 lebih berpengaruh dari pada perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen 2.
daripada pelatihan dengan metode tenis lapangan biasa maupun dengan pembelajaran tenis secara konvensional.
Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata peningkatan skor keterampilan dasar bermain tenis antara ketiga kelompok signifikan, dengan derajat perbedaan rata-rata antarketiga kelompok lebih besar dari HSD0,05. Ini berarti, mahasiswa yang diberikan
dikembangkan untuk meningkatkan mutu permainan tenis lapangan yang sudah memasyarakat.
Walaupun terlihat adanya peningkatan hasil belajar dalam bermain tenis untuk pelatihan dengan kedua perlakuan dalam penelitian ini, sebenarnya peningkatan yang dicapai belum sesuai dengan yang diharapkan. Tingkat keterampilan bermain tenis lapangan sebelum dan sesudah perlakuan masih termasuk kategori sangat kurang. Hal ini mungkin lebih disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa belajar bermain tenis lapangan dari seorang pemula yang betul-betul belum mengenal tenis lapangan relatif lebih sulit dari belajar olahraga permainan yang lain. Walaupun demikian, hasil pengamatan penulis selama penelitian berlangsung menunjukkan, pola-pola gerakan keterampilan bermain tenis lapangan yang mereka tampilkan seperti: footwork, drive yang terdiri dari: back swing, forehand swing, infact dan follow trough, service, lob, dan smash sudah cukup baik. Oleh karena itu, untuk mencapai kemajuan yang lebih baik, pelatihan perlu diteruskan dan diperlukan kesungguhan serta ketekunan dalam berlatih.
4. Penutup
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pelatihan tenis mini berpengaruh lebih efektif dari pada model pelatihan tenis lapangan biasa dalam meningkatkan hasil belajar keterampilan dasar bermain tenis lapangan.
yang sama sekali belum pernah mengenal tenis lapangan, disarankan agar selalu menumbuhkan sikap gembira serta tekun dan memiliki disiplin yang tinggi dalam berlatih; (3) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh peneliti lain yang memfokuskan pada pengembangan model pelatihan tenis lapangan serta menyelidiki variabel lain yang mungkin belum teridentifikasi dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen P dan K. 1977. Bermain Tenis. Jakarta: Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi.
Isaac, Stephen. and William B. Michael. 1982. Hand Book In research and Evaluation. California: EDITS Publishers San Diego.
Kejuaraan Tenis Mini KTKG I. 1990. Jakarta: Komite Pengembangan PB. PELTI
Kraft, Steven. 1987. Tennis Drill. Bonus Majalah Tenis 05. Jakarta Nazir, Moh, PhD. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Soekarman. R. 1989. Dasar-dasar Olahraga Untuk Pembina, Pelatih dan
Atlet. Jakarta: CV. Haji Masagung.
Van der Meer’s, Dennis. 1982. Complete Book of Tennis. New York: Golf Digest/Tennis Inc. New York Time Company.