BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 TINJAUAN TEORI
2.1.1 Manajemen Persediaan
Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang lainnya sehingga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan di lain pihak investasi persediaan material/barang lainnya dapat ditekan secara optimal (Waluyo, 2011).
Salah satu fungsi manajerial dalam operasi suatu perusahaan adalah pengendalian persediaan (inventory control) kerana kebijakan persediaan secarafisik akan berkaitan dengan investasi dalam aktiva lancar di satu sisi dan pelayanan kepadaa pelanggan di sisi lain. Pengaturan persediaan ini berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis (operation, marketing, dan finance). Berkaitan dengan persediaan, terdapat konflik kepentingan di antara fungsi bisnis tersebut. Finance menghendaki tingkat persediaan yang tinggi marketing dan operasi menginginkan tingkat persediaan yang tinggi agar kebutuhan konsumen dan kebutuhan produksi dapat dipenuhi.
Manajemen persediaan berusaha mencapai keseimbangan antara kekurangan dan kelebihan persediaan dalam suatu periode perencanaan yang mengandung risiko ketidakpastian. Manajemen persediaan melibatkan sejumlah kegiatan koordinasi antara persediaan dan produksi serta kegiatan konsumsi pada sejumlah tahapan proses dan lokasi yang berhubungan.
Manajemen persediaan merupakan salah satu materi yang sangat terkait dengan tujuan manajemen operasi, yaitu meminimalkan total biaya dan meningkatkan service level. Hal tersebut dikarenakan, dengan mengelola persediaan yang tepat, perusaahaan akan meraih keduanya sekaligus. Jika rata-rata level persediaan dapat diturunkan, secara tidak langsung salah satu komponen biaya produk dapat ditekan, yang berujung pada peningkatan margin keuntungan. Satu aspek lainnyayang dapat dicapai dengan pengelolaan persediaan yang tepat adalah service level kepada pelanggan meningkat atau minimal tidak menurun.
2.1.2 Pengendalian Persediaan
Pengertian pengendalian persediaan adalah pengawasan persediaan dapatlah dikatakan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan bahan baku dan barang hasil atau produksi, sehingga perusahaan bisa melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien. Untuk dapat mengatur persediaan pada suatu tingkat yang optimum, maka diperlukan suatu system pengawasan persediaan. Fungsi utama pengawasan persediaan yang efektif adalah:
1. Memperoleh barang, yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh barang cukup bagi barang yang diperlukan baik kualitas maupun kuantitas.
2. Menyimpan dan memelihara bahan-bahan persediaan, yaitu mengadakan suatu system penyimpanan untuk melindungi bahan-bahan yang telah dimasukkan sebagai persediaan.
3. Pengeluaran bahan-bahan, yaitu menetapkan suatu pengaturan atas pengeluaran dan penyampaian barang dengan tepat pada saat serta tempat yang dibutuhkan.
4. Mempertahankan dalam jumlah yang optimum setiap waktu.
Pengawasan persediaan dilakukan dengan mengadakan perencanaan yang didukung oleh kebijaksanaan yang berkenaan dengan persediaan barang. Mengenai pemesanan barang itu perlu ditentukan bagaimana cara pemesanannya, beberapa jumlah yang dipesan agar pesanan tersebut ekonomis serta kapan pesanan tersebut dilakukan. Sedangkan dalam persediaan perlu juga ditentukan persediaan penyelamat yang merupakan persediaan yang minimum, besarnya persediaan pada waktu pemesanan kembali dan besarnya persediaan yang maksimium. Untuk dapat mengatur tersedianya suatu tingkat persediaan yang optimum yang memenuhi kebutuhan barang-barang dalam jumlah, mutu dan pada waktu yang tepat serta jumlah biaya yang rendah seperti yang diharapkan, diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
1. Terdapat gudang yang cukup luas dan literature dengan pengaturan tempat bahan atau barang yang tetap, teridentifikasi bahan/barang tertentu.
2. Sentralisasi kekuasaan dan tanggungjawab pada satu orang yang dapat dipercaya, terutama penjaga gudang.
3. Suatu system pencatatan dan pemeriksaan atas penerimaan bahan atau barang. 4. Pengawasan mutlak pada pengeluaran bahan atau barang.
5. Pencatatan yang cukup teliti yang menunjukkan jumlah yang dipesan, yang dibagikan atau dikeluarkan atau tersedia dalam gudang.
7. Perencanaan untuk menggantikan barang yang telah dikeluarkan, barang-barang yang telah lama dalam gudang, dan barang-barang-barang-barang yang sudah usang dan ketinggalan zaman.
8. Pengecekan untuk menjamin dapat efektifnya kegiatan rutin.
2.1.3 Persediaan
Menurut C. Rollin Niswonger, Philip E. Fess, dan Carl. S. Warren (1997), persediaan (inventoris) digunakan untuk mengartikan barang dagang yang disimpan untuk dijual dalam operasi normal perusahaan dan bahan yang terdapat dalam proses produksi yang disimpan untuk tujuan itu.
Persediaan (Inventory) menurut Dra.Tita Deitiana (2011) merupakan salah satu aset yang sangat mahal dalam suatu perusahaan (biasanya sekitar 40% dari total investasi). Pada satu sisi, manajemen menghendaki biaya yang tertanam pada persediaan itu minimum, namun di lain pihak seringkali konsumen mengeluh karena kehabisan persediaan. Manajemen harus mengatur agar perusahaan berada pada suatu kondisi dimana kedua kepentingan tersebut dapat terpuaskan.
Menurut Rusdiana (2014) persediaan adalah sejumlah komoditas untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, setiap perusahaan pasti memilikai persediaan, hanya volumenya yang berbeda. Karena setiap item tadi memiliki nilai (biaya yang sudah dikeluarkan untuk mendapatkannya), nilai persediaan dapat dihitung. Idealnya nilai persediaan ini dapat dikelola dengan tepat agar tidak membebani perusahaan tanpa mengurangi service level kepada pelanggan.
Persediaan meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual kembali atau dikomsumsikan dalam siklus operasi normal perusahaan sebagai barang yang dimiliki untuk dijual atau diasumsikan untuk dimasa yang akan datang, semua barang yang berwujud dapat disebut sebagai persediaan/inventory, tergantung dari sifat dan jenis usaha perusahaan.
- Barang mentah (raw material)
- Barang setengah jadi (work in process) - Barang jadi (finished goods)
2.1.3 Jenis-jenis Persediaan
Berdasarkan fungsinya, persediaan dikelompokkan menjadi :
1. Lot-size-inventory, yaitu persediaan yang diadakan dalam jumlah yag lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Cara ini dilakukan dengan tujuan memperoleh potongan harga karena pembelian dalam julah yang besar dan memperoleh biaya pengangkutan per uit yang rendah.
2. Fluctuation stock, merupakan persediaan yang diadakan untuk menghadapi permintaan yang tidak bisa diramalkan sebelumya, serta untuk mengatasi berbagai kondisi tidak terduga, seperti terjadi kesalahan peramalan dalam penjualan, kesalaha waktu produksi dan kesalahan pengiriman.
3. Anticipation stock, yaitu persediaan yang diadakan utuk menghadapi permintaan fluktuasi yang dapat diramalkan, seperti mengantisipasi pengaruh musim, yaitu ketika permintaan tinggi perusahaan tidak mampu menghasilkan sebanyak jumlah yang dibutuhkan. Disampig itu juga persediaan ini ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan sulitnya memperoleh bahan, sehingga tidak mengganggu operasi perusahaan.
2.1.4 Fungsi persediaan
Persediaan (inventory) dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan. Ada enam penggunaan persediaan, yaitu:
1. Untuk memberikan suatu stok barang-barang agar dapat memenuhi permintaan yang timbul dari konsumen.
2. Untuk menyesuaikan produksi dengan distribusi. Misalnya, bila permintaan produknya
Demikian pula, bila pasokan suatu perusahaan berfluktuasi, persediaan bahan baku ekstra mungkin diperlukan untuk "menyesuaikan" proses produksinya.
3. Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah, karena pembelian dalam jumlah besar dapat secara substansial menurunkan biaya produk.
4. Untuk melakukan hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
5. Untuk menghindari dari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang tidak tepat. "Stok pengaman" misalnya, barang di tangan ekstra, dapat mengurangi risiko kehabisan stok.
6. Untuk menjaga agar operasi dapat berlangsung dengan baik dengan menggunakan "barang-dalam-proses" dalam persediaannya. Hal ini karena perlu waktu untuk memproduksi barang dan karena sepanjang berlangsungnya proses, terkumpul persediaan-persediaan.
2.1.5 Biaya Persediaan 1. Biaya Pemesanan
Biaya pemesanan adalah semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang. Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi tergantung dari berapa kali pesanan dilakukan, sehingga tidak dipengaruhui oleh kuantitas barang yang dipesan. Biaya-biaya yang termasuk biaya pemesanan adalah biaya administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor (pemasok), biaya pengangkutan, biaya penerimaan barang. Biaya Pemesanan dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu sebagai persentasi dari nilai rata-rata persediaan per-tahun dan dalam bentuk rupiah per-tahun per-unit barang.
2. Biaya Pemeliharaan
2.1.6 Economic Order Quantity (EOQ)
Economic Order Quantity (EOQ) pertama kali dikembangkan oleh F. W. Haris pada tahun 1915 dengan mengembangkan formula kuantitas pesanan ekonomis. Ini adalah salah satu model tertua penjadwalan produksi klasik. Kerangka kerja yang digunakan untuk menentukan kuantitas pesananini juga dikenal sebagai Wilson EOQ Model atau Wilson Formula.
Menurut Prof. Dr. Bambang Rianto Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biayaminimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Menurut Drs. Agus Ahyadi Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah pembelian bahan baku yang dapat memberikan minimalnya biaya persediaan. Sedangkan menurut Haryadi Sarjono (2010), Economi Order Quantity (EOQ) adalah sebuah metode manajemen persediaan yang menentukan berpa banyak jumlah barang yang harus dipesan agar biaya total menjadi minimum.
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa EOQ merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan pembelian bahan baku yang dapat menekan biaya-biaya persediaan sehingga efisiensi persediaan dalam perusahaan dapat berjalan dengan baik. Tujuan dari model EOQ adalah untuk meminimalkan total biaya persediaan.
Setiap perusahaan industri pasti memerlukan bahan baku demi kelancaran proses bisnisnya, bahan baku tersebut diperoleh dari supplier dengan suatu perhitungan tertentu. Dengan menggunakan perhitungan yang ekonomis tentunya suatu perusahaan dapat menentukan secara teratur bagaimana dan berapa jumlah material yang harus disediakan. Ketidakteraturan penjadwalan akan memberikan dampak pada biaya persediaan karena menumpuknya persediaan. Dengan demikian pengelolahan atau pengaturan bahan baku merupakan salah satu hal penting dan dapat memberikan keuntungan pada perusahaan.
Dalam kegiatan normal Model Economic Order Quantity memiliki beberapa karakteristik antara lain :
a. Jumlah barang yang dipesan pada setiap pemesanan selalu konstan,
c. Harga per unit barang adalah konstan dan tidak mempengaruhi jumlah barang yang akan dipesan nantinya, dengan asumsi ini maka harga beli menjadi tidak relevan untuk menghitung EOQ, karena ditakutkan pada nantinya harga barang akan ikut dipertimbangkan dalam pemesanan barang,
d. Pada saat pemesanan barang, tidak terjadi kehabisan barang atau back order yang menyebabkan perhitungan menjadi tidak tepat. Oleh karena itu, manajemen harus menjaga jumlah pemesanan agar tidak terjadi kehabisan barang,
e. Pada saat penentuan jumlah pemesanan barang kita tidak boleh mempertimbangkan biaya kualitas barang,
f. Biaya penyimpanan per unit pertahun konstan.
Model EOQ adalah suatu rumusan untuk menentukan kuantitas pesanan yang akan meminimumkan biaya persediaan. Berikut ini adalah model EOQ :
EOQ = Q*=
√
2.Co . DChDimana :
EOQ = kuantitas pembelian optimal (m³)
Co = biaya per pesanan
D = kuantitas per penggunaan per periode
Ch = biaya penyimpanan per unit per periode
Model EOQ ini sangat mudah dan sederhana, namun ada beberapa asumsi yang harus diperhatikan,yaitu:
a. Jumlah kebutuhan barang per periode stabil
b. Hanya ada dua macam biaya yang relevan, yaitu biaya pemesanan dan biaya pemeliharaan
c. Biaya pemesanan selalu sama
d. Biaya pemeliharaan per unit selalu sama e. Usia barang relatif lama, tidak cepat rusak. f. Harga barang tetap
g. Barang tersedia tak terbatas.
pemesanan. ROP dilakukan bila persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi selama tenggang waktu atau lead time (LT) pemesanan. ROP menghendaki pengecekan fisik/kartu catatan secara teratur.
2.1.7 Reorder Point (ROP)
Reoder point (ROP) adalah saat atau waktu tertentu perusahaan harus mengadakan pemesanan bahan dasar kembali, sehingga datangnya pesanan tersebut tepat dengan habisnya bahan dasar yang dibeli, khususnya dengan metode EOQ.
Perhitungan ROP adalah sebagai berikut:
ROP = Safety Stock + (Lead Time x Q)
Dimana:
ROP = Titik pemesanan kembali
Lead time= Waktu tunggu (Hari)
Safety stock= Persediaan pengaman (m³)
Q = Penggunaan bahan baku rata-rata per hari (m³/hari).
2.1.8 Safety Stock atau Persediaan Pengaman
Pengertian persediaan pengaman (safety stock) adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (Stock Out). Untuk memesan suatu barang sampai barang itu dating, diperlukan jangka waktu yang bervariasi. Perbedaan waktu antara saat memesan sampai saat barang datang dikenal dengan istilah waktu tenggang (lead time). Waktu tenggang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dari barang itu sendiri dan jarak lokasi antara pembeli dan pemasok berada. Karena adanya waktu tenggang, maka dibutuhkan adanya persediaan yang dicadangkan untuk kebutuhan selama menunggu barang datang yang disebut sebagai persediaan pengaman atau safety stock.
persediaan pengaman juga dimaksudkan untuk menjamin pelayanan kepada pelanggan terhadap ketidakpastian dalam pengadaan barang.
Tujuan safety stock adalah untuk meminimalkan terjadinya stock out dan mengurangi penambahan biaya penyimpanan dan biaya stock out total, biaya penyimpanan disini akan bertambah seiring dengan adanya penambahan yang berasal dari reorder point oleh karena adanya safety stock. Keuntungan adanya safety stock adalah pada saat jumlah permintaan mengalami lonjakan, maka persediaan pengaman dapat digunakan untuk menutup permintaan tersebut.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan perusahaan melakukan safety stock. Faktor pendorong safety stock yaitu sebagai berikut:
1. Biaya atau kerugian yang disebabkan oleh stock out tinggi. Apabila bahan yang digunakan untuk proses produksi tidak tersedia, maka aktivitas perusahaan akan terhenti yang menyebakan terjadinya idle tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang pada akhirnya perusahaan akan kehilangan penjualannya.
2. Variasi atau ketidakpastian permintaan yang meningkat. Adanya jumlah permintaan yang meningkat atau tidak sesuai dengan peramalan yang ada diperusahaan menyebabkan tingkat kebutuhan persediaan yang meningkat pula, oleh karena itu perlu dilakukan antisipasi terhadap safety stock agar semua permintaan dapat terpenuhi.
3. Resiko stock out meningkat. Keterbatasan jumlah persediaan yang ada dipasar dan kesulitan yang dihadapi perusahaan mendapatkan persediaan akan berdampak pada sulitnya terpenuhi persediaan yang ada diperusahaan, kesulitan ini akan menyebabkan perusahaan mengalami stock out.
4. Biaya penyimpanan safety stock yang murah. Apabila perusahaan memiliki gudang yang memadai dan memungkinkan, maka biaya penyimpanan tidaklah terlalu besar hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya stock out.
2.1.9 Lead Time (LT)
yang sudah ditentukan. Semakin kecil nilai Lead Time (LT), berarti produk bisa diproduksi dengan waktu lebih cepat, dan ini semakin bagus tentunya.
Lead Time (LT) menjadi indicator bagi :
a. Volume atau capasitas actual produksi untuk setiap Item b. Ketepatan Waktu Proses
c. Performance Engineering d. Kemampuan Control Proses
2.1.10 Quantity Method (QM) for Windows
QM for Windows merupakan software yang dirancang untuk melakukan perhitungan yang diperlukan pihak manajemen unutk mengambil keputusan di bidang produksi dan pemasaran. Software ini dirancang oleh Howard J. Weiss tahun 1996 untuk membantu menyusun prakiraan anggaran untuk produksi bahan baku menjadi produk jadi atau setengah jadi pada produk pabrikasi. Aplikasi bagi dunia peternakan software ini, dapat kita gunakan untuk memaksimalkan keuntungan, manajemen waktu produksi, maupun efisiensi biaya.
Di dalam bisnis, pengambilan keputusan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian seorang manajer. Pendekatan dalam pengambilan keputusan bisnis secara sederhana dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan dengan menggunakan pengalaman, intuisi, perkiraan, emosi dalam pengambilan keputusan. Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan ilmiah menggunakan proses matematis untuk menentukan keputusan terbaik. Keputusan terbaik tentu saja adalah keputusan yang dapat menggabungkan kedua pendekatan tersebut secara harmonis. Pendekatan kuantitatif pada mulanya berasal dalam dunia militer. Militer pada saat Perang Dunia II mengembangkan cara optimasi untuk memenangkan peperangan dengan sumber daya yang terbatas. Setelah PD II usai, cara-cara optimasi ini kemudian dikembangkan dan diterapkan dalam dunia bisnis. Dalam tataran akademik, ada banyak nama yang menggambarkan topik ini antara lain : metode kuantitatif, riset operasi, manajemen kuantitatif, manajemen sains, analisa kuantitatif untuk bisnis, dan nama lainnya yang berisikan obyek yang sama.
dan QM for Windows. Perangkat-perangkat lunak ini user friendly dalam penggunaannya untuk membantu proses perhitungan secara teknis pengambilan keputusan secara kuantitatif. POM for Windows ialah paket yang diperuntukkan untuk manajemen operasi QM for Windows ialah paket yang diperuntukkan untuk metode kuantitatif untuk bisnis dan DS for Windows berisi gabungan dari kedua paket sebelumnya.
QM for Windows menyediakan modul-modul dalam area pengambilan keputusan bisnis. Modul yang tersedia pada QM for Windows adalah:
a. Assignment
b. Breakeven/Cost-Volume Analysis c. Decision Analysis
d. Forecasting e. Game Theory f. Goal Programming g. Integer Programming h. Inventory
i. Linear Programming j. Markov Analysis
k. Material Requirements Planning l. Mixed Integer Programming m. Networks
n. Project Management (PERT/CPM) o. Quality Control
p. Simulation q. Statistics r. Transportation s. Waiting Lines
2.2 KAJIAN-KAJIAN TERDAHULU
(Ekconomic Order Quantity) lebih kecil dibanding denngan metode yang sudah digunakkan perusahaannya.
2. Ahmad Taufiq (2014), dalam penelitian pengendalian persediaan bahan baku dengan metode Economic Order Quantity (EOQ) di Salsa Bakery Jepara, lebih efisien dibanding dengan metode konvensional yang digunakan perusahaan. Persediaan bahan baku tepung terigu pada triwulan 4 tahun 2012 sebanyak 112 karung frekuensi 7 kali, persediaan pengaman 19 karung, melakukan pemesanan ulang (ROP) ketika persediaan di gudang tersisa 39 karung, total biaya sebesar Rp 2.308.133.
2.3 LATAR BELAKANG INSTITUSI
Bakso Otot Mas Suhirman (BOMS) adalah usaha yang bergerak di bidang boga khususnya bakso. Usaha ini berada di Jakarta dimulai sejak Januari 2006 dan di dirikan oleh Suhirman dengan berjalannya waktu dan menimba ilmu akhirnya pada tahun 2012 Mas Suhirman malakukan inovasi rasa produk bakso dengan pengalaman yang dimiliki serta kemauan dan impian yang luar biasa akhirnya mengembangkan bakso dari usaha bakso keliling, kaki lima sampai membuka kedai bakso BOMS di Grand Depok City berlanjut membuat produk bakso BOMS kemasan frozen. Berawal dari hobi berjualan kuliner Indonesia di berbagai tempat serta ingin membuka peluang usaha yang kreatif dan mandiri. Semoga BOMS kedepannya bisa memberikan manfaat yang sebesar besarnya, membuka lapangan kerjadan menjadi brand nasional yang akan mendunia.
Perhatian kami tertuju pada bakso di mana hampir seluruh masyarakat menyukai makanan yang satu ini. Selain menjadi jajanan populer di masyarakat Indonesia, bakso juga dipilih sebagai usaha kuliner yang tak lekang oleh waktu. Bakso Otot Mas Suhirman dibuat dengan menggunakan bumbu-bumbu rempah-rempah asli ciri khas boms, Tanpa bahan pengawet dan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan, menggunakan daging sapi segar untuk menjaga kualitas rasa dan bahan baku yang original.
Bakso BOMS adalah perpaduan varian rasa bakso ciri khas nusantara selera dunia. ada Bakso Otot, Bakso Original, Bakso Mercon, Bakso Tahu, Bakso Telor, Bakso Sosis, Bakso Keju, Bakso Kentang dan Bakso BOMS Spesial rasa dan ciri khas bumbu rempah-rempah bakso dan kuahnya yang menggugah selera, dari pengalaman berjualan keliling selama 10 tahun dan mengembangkan ilmu yang di dapat terus berkreasi dan berinovasi rasa dalam racikan bumbu khas BOMS. Bakso BOMS mempunyai produk Bakso Siap Saji dan Bakso Kemasan Frozen. Jika anda ingin menikmati makan ditempat bersama sahabat, kelurga dan handai taulan anda bisa datang di Kedai BOMS di Jalan Boulevard Raya Kota Kembang no.4 Depok Fantasi Water Park Aladin Grand Depok City.
Visi dan Misi Kedai BOMS
Visi : Menjadikan pelopor bakso BOMS cita rasa khas nusantara selera dunia.
Misi :
Menjadikan Bakso BOMS sebagai usaha makanan siap saji yang sehat, praktis, higienis, disukai dan dikenal oleh masyarakat.
Memberikan kualitas pelayanan yang baik terhadap konsumen, mitra usaha dan masyarakat lingkungan sekitar
KERANGKA PIKIR
Gambar 2.1
Kerangka Pikir Penelitian
Pengendalian Persediaan tidak dapat ditentukan dengan tepat. Perhitungan
Tradisional
Menerapkan QM For Windows dengan
metode EOQ
Terjadi Efisiensi total biaya persediaan
Pengendalian Persediaan dapat ditentukan dengan
cepat dan tepat Keuntungan
Fungsi dan Tujuan Pengendalian Persediaan
Fungsi pengendalian persediaan antara perusahaan yang satu dengan lainnya berbeda, tetapi umumnya fungsi pengendalian persediaan yang penting adalah:
1. Memberikan informasi bagi manajemen mengenai keadaan persediaan.
2. Menyediakan persediaan dalam jumlah secukupnya untuk menghindari kegiatan produksi terhenti dan tidak mampu menyerahkan persediaan tepat waktu.
3. Menjaga tingkat persediaan yang ekonomis.
4. Mengalokasikan ruangan penyimpanan untuk barang yang sedang diproses atau barang jadi.
5. Merencanakan penyediaan persediaan dengan kontak jangka panjang berdasarkan rencana penjualan.
6. Menghubungkan pemakaian bahan dengan keuangan perusahaan. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persediaan
Dalam merumuskan kebijaksanaan persediaan barang, maka sudah selayaknya apabila faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan itu sendiri diperhitungkan terlebih dahulu. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan barang itu ada beberapa macam dan saling berkaitan, sehingga secara bersama-sama akan mempengaruhi persediaan barang. Faktorfaktor
yang dimaksud adalah 1. Perkiraan pemakaian 2. Harga dan barang
Harga barang ini merupakan dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan yang harus disediakan untuk persediaan.
3. Biaya-biaya persediaan
Pengendalian persediaan ini diselenggarakan oleh suatu perusahaan tidak akan terlepas dari biaya-biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan tersebut.
4. Kebijaksanaan Pembelanjaan
Besar dana yang dialokasikan kedalam perusahaan tergantung kebijaksanaan
pembelanjaan perusahaan tersebut, persediaan barang merupakan fasilitas utama dalam alokasi dana.
5. Pemakaian senyatanya
6. Waktu tunggu
Adalah tenggang waktu yang diperlukan antara saat pemesanan barang dengan
datangnya barang itu sendiri, yang berhubungan erat dengan saat pemesanan kembali. 7. Persediaan pengaman.
Persediaan pengaman diadakan dengan maksud menjaga kehabisan bahan, sehingga proses produksi dapat berjalan lancar.
8. Model pembelian
Dalam penyelenggaraan pengadaan persediaan, manajemen harus dapat menentukan model pembelian yang tepat dengan situasi dan kondisi yang dibeli.
308 JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 2, Nomor 2, September 2011
Adapun hubungan dari masing-masing faktor tersebut terlihat pada gambar beikut ini. Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan barang
Sumber : Agus Ahyari (1995)
Biaya-biaya Yang Timbul Dengan Adanya Persediaan
Unsur-unsur yang terdapat dalam persediaan digolongkan menjadi empat jenis yaitu: 1. Biaya Pemesanan
Merupakan biaya yang berkenaan dengan pemesanan barang atau bahan-bahan, sejak dari pesanan dibuat dan dikirim ke penjual sampai barang itu diperiksa di gudang atau daerah pengolahan. Sifat biaya ini tidak tergantung pada besarnya barang yang dipesan, yang termasuk biaya pemesanan adalah:
a. Biaya persiapan faktur dan pembelian. b. Biaya ekspedisi dan administrasi.
c. Biaya bongkar bahan yang diperhitungkan setiap kalo pesan. d. Biaya-biaya pesan lain yang terkait dengan frekuensi pembelian. 2. Biaya yang terjadi dari adanya persediaan (Inventory Carrying Cost)
Biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan adanya persediaan yang dilakukan perusahaan dan besarnya biaya bervariasi, tergantung pada besarnya rata-rata persediaan. Yang termasuk biaya ini adalah:
a. Biaya penggunaan atau sewa gedung. b. Biaya pemeliharaan barang.
c. Biaya asuransi pembelian.
g. Biaya keusangan barang dan kemerosotan nilainya. 3. Biaya kekurangan persediaan
Biaya yang timbul akibat kecilnya persediaan barang yang dimiliki oleh perusahaan, disamping biaya yang timbul akibat pengiriman barang yang rusak.
Biaya-biaya Persediaan Harga barang Kebijaksanaan Pembelanjaan Perkiraan Pemakaian EOQ Pemakaian Senyatanya Persediaan Penyelamat Persediaan Barang Waktu Tunggu Pembelian Kembali Produksi
Analisis Perhitungan Economic… (Afrizal Nilwan, Yunita Sofyandy dan Goenawan) 309 4. Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (Capacity Associated Cost)
Biaya yang terjadi akibat penambahan atau pengurangan kapasitas yang digunakan. Biaya ini terdiri dari:
a. Biaya pengangguran atau idle time cost. b. Biaya penyimpanan ekstra.
c. Biaya kerja lembur.
Economic Order Quantity (EOQ)
ekonomis ini, kita harus berusaha memperkecil biaya pemesanan (Ordering Cost) dan biayabiaya
penyimpanan (Carrying Cost). Dalam usaha ini kita berhadapan dengan dua sifat biaya yang agak bertentangan, sifat yang satu menekankan agar jumlah pemesanan sangat kecil sehingga “Carrying Cost” menjadi kecil, tetapi sebaliknya “Ordering Cost” menjadi sangat besar selama satu tahun. Dengan memperhatikan kedua sifat biaya tersebut diatas, maka dapatlah kita lihat bahwa jumlah pesanan yang ekonomis ini terletak antara dua perbatasan ekstrim tersebut, yaitu: dimana jumlah “Ordering Cost” adalah sama dengan jumlah “Carrying Cost”, atau jumlah “Ordering Cost” dan “Carrying Cost” adalah yang paling minimal selama satu tahun. Jadi jumlah pesanan yang ekonomis (EOQ) merupakan jumlah atau besarnya pesanan yang dimiliki jumlah “Ordering Cost” dan ”Carrying Cost” per tahun yang paling minimal. Oleh karena itu dapat menentukan pesanan yang ekonomis, perlu dilihat pertambahan “Ordering Cost” dan “Carrying Cost” serta besarnya persediaan rata-rata yang ditentukan. Dalam menetapkan pesanan yang ekonomis dapat dilakukan dengan
menggunakan formula approach (dengan memakai rumus) sebagai berikut: EOQ =
KU (2PR)
EOQ = Jumlah pembelian yang ekonomis P = Biaya setiap kali pesan
R = Jumlah kebutuhan selama satu kurun waktu
K = Biaya penyimpanan yang ditunjukan dalam prosentase U = Harga beli per unit
Hubungan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) Dengan Pengendalian Persediaan Barang Dagangan
Dengan menggunakan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) maka
perusahaan dapat menentukan persediaan barang dagangan secara optimal. Pengertian dari persediaan barang dagangan secara optimal adalah bahwa:
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan penjualan.