Gala Panuga Aziz 0717247530007
Sosiologi Pasca Sarjana Teori Sosial Kontemporer I
Struktur Sosial, Kepentingan Kelompok, dan
Kelompok-kelompok yang Bertentangan – Ralf Dahrendorf
Setelah berkutat dengan buku tulisan dari Ralf Dahrendorf “Konflik dan Konflik Dalam Masyarakat Industri” dan George Ritzer “Teori Sosiologi- dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern” saya menyimpulkan bahwa Dahrendorf adalah seseorang yang meneliti kembali Teori-teori yang ada dan menganut Critical Theory. Pada bacaan BAB V mengenai
Struktur Sosial Kepentingan Kelompok dan Kelompok-kelompok yang bertentangan, ia membandingkan dan mengkritik pemikiran-pemikiran dari beberapa filsafat sosiologi. Teori kelas Marx menjadi alasan yang memberikan latar belakang dari terbentuknya argumen Darendorf. Pengertian kelas sendiri adalah kekuatan yang mempersatukan orang ke dalam berbagai kelompok yang berbeda satu sama lain,dengan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan di antara mereka[CITATION Dah86 \p 91 \l 1033 ]. Saya juga menganggap banyaknya pemikiran mengenai pertentangan antara kaum borjuis dan proletar adalah salah satu landasan dasar baginya guna memulai kegiatan penilitannya.
Menurut Dahrendorf, terdapat dua pandangan tentang masyarakat yang saling bertentangan. Pertama, pemikiran khusus yang luas pengaruhnya berpendirian, bahwa struktur masyarakat berasal dari hasil persetujuan bersama konsensus umum (a consensus omnium) atau penentuan dari perbedaan pendapat dan kepentingan nyata yang disebut persetujuan bersama (volonte generate). Sedangkan, pandangan ke-dua menyatakan bahwa struktur masyarakat terbentuk asal dasar kekuasaan dan paksaan [CITATION Dah86 \p 191 \l 1033 ]. Pandangan pertama menganut aliran Utopia1 hasil karya Drucker dan Mayo, sedangkan
pemikiran ke-dua menganut aliran Rasional2 yang digunakan oleh Marx untuk
memandang masyarakat. Dalam buku ini menjelaskan, masing-masing pemikiran diatas sama-sama menemukan sebuah konflik dalam menjalankan tata masyarakat karena kebiasaan melihat secara satu sisi. Oleh karena itu, Menurut Dahrendorf kedua metateori tersebut harus dibedakan di dalam teori kontemporer [CITATION Dah86 \p 195 \l 1033 ].
Metateori yang satu, yakni Teori Integrasi mewakili pemikiran pertama ‘persetujuan bersama konsensus umum’, membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang terintegrasi secara fungsional, yang dibentuk atas dasar proses yang berulang-ulang. Dan metateori selanjutnya adalah Teori Penggunaan Paksaan (Conflict Theory) mewakili pemikiran ke-dua ‘kekuasaan dan paksaan’, melihat struktur sosial sebagai sebuah bentuk organisasi yang berjalan berdasarkan penggunaan kekuasaan dan paksaan, dan secara terus-menerus. Dengan kata lain pemilik kekuasaan akan mengakuisisi struktur sosial dalam suatu proses perubahan yang tiada berakhir. Secara intinya menurut saya, banyak pemikir-pemikir yang telah berpendapat bahwa kelas akan mempengaruhi peradaban manusia. Tetapi, dalam penjelasannya memiliki kata-kata atau gaya yang berbeda-beda dengan tujuan yang sama. Seperti yang dikatakan Lupset dan Bendix ‘perdebatan akademis mengenai perbedaan teori kelas sering menggantikan pertentangan yang sebenarnya dalam pandangan politik’.
1 Aliran Utopia menerangkan bahwa masyarakat itu terstruktur.
Untuk menerangkan masalah ini, penyederhanaan antara kedua teori tersebut diperlukan [CITATION Dah86 \p 196-198 \l 1033 ]. Teori Integrasi dan karya penganutnya yaitu Teori Struktural-Fungsional didasarkan atas sejumlah asumsi,
1. (Stabilitas) Masyarakat secara relatif adalah tetap, struktur unsurnya relatif stabil,
2. (Integrasi) Masyarakat terintegrasi secara baik,
3. (Fungsi Kordinasi) Masyarakat memiliki fungsi untuk pemeliharaan sistem unsurnya,
4. (Konsensus) Setiap Fungsinya berdasarkan konsensus dari setiap anggotanya.
Sedangkan, teori penggunaan paksaan tentang masyarakat disederhanakan atas sejumlah asumsi,
1. Masyarakat harus tunduk kepada proses perubahan sosial,
2. Masyarakat harus memperlihatkan pertentangan dan pertikaian sosial, 3. Setiap masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan
perubahannya,
4. Masyarakat didasarkan oleh penggunaan kekuasaan untuk mengatur antar anggota
Darendorf menyatakan bahwa dalam konteks sosiologis, kedua model teoritis tersebut tidak bisa berjalan sendiri, keduanya lebih bersifat saling melengkapi daripada bersifat alternatif.
Darendorf membentuk sebuah Teori berdasarkan atas banyaknya perdebatan yang ada yaitu Teori Tentang Kelas-kelas Sosial dan Pertentangan Kelas.
Pokok-pokok pemikiran Dahrendorf mengenai Teori Tentang
Kelas-kelas Sosial dan Pertentangan Sosial [CITATION Dah86 \p
297-299 \l 1033 ]
Pendekatan studi harus difahami berdasarkan dua premis formal dan substantif, bersifat metodologis, serta menyediakan kerangka referensi bagi unsur-unsur yang diperlukan. Untuk itu, kajian Heuristik3 pendekatan dibutuhkan
bertujuan untuk menerangkan perubahan-perubahan struktur hasil dari pertentangan kelompok tersebut, agar berlaku adil heuristik perlu digambarkan menurut teori penggunaan kekuasaan. Setelah itu, teori kelas-kelas sosial dan pertentangan kelas mencakup sejumlah konsep harus dirumuskan. Kelas sosial dapat diartikan sebagai kolektivitas individu yang terorganisir/tersadarkan atau tak terorganisi/tak tersadarkan yang mempunyai kepentingan tersembunyi atau kepentingan nyata bersama dengan struktur wewenang perserikatan yang dikordinasi secara memaksa. Maka, kelas sosial adalah kelompok yang selalu mengalami pertentangan.
Pertentangan kelas akan menimbulkan penyimpangan nilai-nilai dan keradikalan pada saat menuntut kewenangannya demi mendapatkan posisi. Dalam setiap perserikatan yang dikordinasi secara memaksa, hanya dibedakan menjadi posisi dan posisi yang ditundukkan [ CITATION Dah86 \l 1033 ]. Menurut pandangan saya, dalam kasus ini adalah terdapat kaum buruh yang bisa memiliki wewenang agar bisa mengakomodir kaum buruh yang tidak tersadarkan, istilah lainnya mereka yang tersadarkan akan mendapatkan posisi dari kaum borjuis yang khawatir akan kekuasaannya.
Menurut Dahrendorf, tugas dari analisis konflik ialah guna mengenali peran-peran berbagai otoritas4 di dalam masyarakat. Ia menentang orang-orang
yang berfokus pada level individual [CITATION Rit12 \p 452 \l 1033 ].
Masyarakat terdiri dari sejumlah unit-unit yang sebutanya asosiasi-asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif. Otoritas level dibagi menjadi dua yaitu superordinat dan subordinat, orang-orang yang berada ditingkatan superordinat diharapkan bisa mengendalikan subordinat. Otoritas juga tidak bisa dipergunakan bagi perorangan karena terletak dalam posisi-posisi, bukan secara individual. bisa saja seseorang yang berada di salah satu asosiasi menempati kedudukan sebagai superordinat. Tetapi, orang tersebut bisa juga menduduki kedudukan sebagai subordinat di asosiasi lainnya.
Perumusan Pemikiran Dahrendorf
Conflict Theory
Segera setelah melakukan pengelompokan kelompok yang bertentangan sejenis dengan kelas. Mereka ditempatkan ditengah-tengah antara kelas yang bertentangan dan bertujuan untuk menjadi penghubung agar bisa meminimalisir bentrokan dari kelas menurun/buruh. Kehebatan pertentangan kaum menurun dengan kelas menurunlah yang membentuk struktur sosial dengan sendirinnya. Pertentangan kelas menurun memiliki faktor-faktor yang berbeda. Keradikalan perubahan struktur dan perubahan struktur secara tiba-tiba berhubungan erat dengan kehebatan pertentangan kelas. Berikut adalah bagan yang saya buat untuk memudahkan pengertian dari penjelasan Teori ini.
Gambar 1
4 Otoritas menurut KBBI adalah kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya
Pertentangan Kelas bawah
Kelas atas
Pengambaran ini saya buat berdasarkan pemikiran saya atas Teori Tentang Kelas-kelas Sosial dan Pertentangan Sosial. Pengertian singkatnya adalah kelas bawah dan kelas atas mengalami pertentangan dimana kelas bawah bisa melakukan pertentangan atas faktor-faktor yang mempengaruhi, bisa saja mereka melakukan pertentangan dengan kekerasan, aksi demo, aksi mogok kerja seperti yang dilakukan para buruh komunis Jerman Timur pada 17 Juni 1953 [CITATION Dah86 \p 197 \l 1033 ]. Mereka melakukan pemberontakan dengan meletakan perlengkapan kerja mereka dan melakukan pemogokan kerja. Dari situlah, posisi manajer personalia sebagai kelas menengah diperkenalkan dengan memiliki otoritas posisi sebagi pengatur kelas bawah, demi menanggulangi persoalan-persoalan upah dan pemecatan, pemberian nasihat dan job description lainnya.
Dalam kasus ini seorang manajer personalia adalah seseorang yang memiliki kewenangan serta kekuasaan untuk melakukan perbaikan terhadap salah satu industri. Ini adalah cara efektif untuk menyelesaikan pertentangan antara kelas atas dan kelas bawah biasanya juga mereka disebut sebagai kelas semu. Penyelesaian ini bisa disebut sebagai Arbitrasi5. Begitu pula dalam hal bernegara
bisa menggunakan teori ini untuk melakukan perbaikan strukturnya.
Tetapi perlu lagi dikatakan, bahwa tak ada masyarakat yang dapat disamakan dalam segala hal dengan gambaran tipe ideal seperti ini [CITATION Dah86 \p 399 \l 1033 ]. Menurut pandangan saya manusia itu diciptakan dan telah memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Walaupun, sudah ada pemikiran yang ideal untuk memecahkan masalah tetap saja terdapat oknum-oknum yang memiliki sifat menentang akan adanya kebenaran tersebut.
Kesimpulan
Dahrendorf adalah pemikir yang teliri dalam melakukan penilitiannya. Ia mengambil pemikiran Karl Marx sebagai teori yang mendasari pemikirannya. Dengan membuat skema mengenai kelas menengah/ kelas semu/ Arbritasi, ia berhasil membentuk suatu gagasan yang ideal dalam menyelesaikan persoalan pertentangan antara kelas bawah dan kelas atas. Kelas menengah berfungsi sebagai kelas yang memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk mengatur kelas bawah/ kelas yang tidak tersadarkan untuk memperbaiki sebuah sistem sosial dalam perindustrian. Sayangnya, saya menganggap ia terlalu meremehkan pemikiran filsuf sosiolog dari Uni-Soviet, salah satunya adalah Nemchinov. Terlihat dari pengutaraan mengenai tanggapan terhadap pemikir Uni-Soviet di dalam bukunya hal. 99.
“di mana saja ahli ilmu sosial Uni-Soviet membicarakan masyarakat Barat, hampir tanpa kecuali, selalu tidak meyakinkan bahkan sering dengan penyajian yang kelewat bersemangat tetapi menggelikan [CITATION Dah86 \p 99 \l 1033 ]”
Daftar Pustaka
Dahrendorf, R. (1986). Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industrii. Jakarta: CV. Rajawali.
Marshall. (1986). A Note on Status. In R. Dahrendorf, Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri (p. 91). Jakarta: CV Rajawali.
Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi "Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern". New York: Pustaka Pelajar.
www.wikipedia.org. pengertian heuristik dan arbitrasi, 2018.
www.youtube.com. Conflict theory | Society and Culture | MCAT | Khan Academy. 2018. https://www.youtube.com/watch?v=LPYTndFFTko