MENDIDIK DENGAN KASIH: Membentuk Anak Cerdas dan Berkarakter
Yang terhormat,
1. Bapak Koordinator Kopertis Wilayah VIII
2. Para pendiri IKIP PGRI Bali, tanpa beliau kami tak akan pernah ada;
3. Pembina, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan seluruh pengurus YPLP PT IKIP PGRI Bali; 4. Rektor dan pembantu rektor IKIP PGRI Bali; 5. Para dekan, pembantu dekan, ketua dan sekretaris
program studi di lingkungan IKIP PGRI Bali; 6. Para kepala biro, kepala bagian, ketua lembaga,
dan kepala unit di lingkungan IKIP PGRI Bali; 7. Para dosen, civitas akademika, dan keluarga besar
IKIP PGRI Bali yang terkasih.
ucapan terima kasih saya sampaikan kepada para pemimpin IKIP PGRI Bali yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah pada acara dan forum terhormat ini. Semoga pikiran baik datang dari berbagai penjuru.
1. Rasionel
Bapak / Ibu, dan hadirin yang saya hormati,
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen kini telah memasuki usia yang ke-7. Salah satu amanat terpenting dalam undang-undang itu adalah adanya pengakuan guru dan dosen sebagai jabatan
ini. Diharapkan, peningkatan kesejahteraan itu berimplikasi kepada peningkatan layanan edukasi yang diberikannya.
Terlepas dari program sertifikasi, yang lebih ditekankan pada aspek administratif tersebut, kiranya perlu dipikirkan aspek kehumanioraan dalam menentukan ‘kadar’ keprofesionalan guru dan dosen. Hal ini dirasakan sangat mendasar dan penting kerena hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia untuk mencapai harkat kemanusiaannya (Joni, 1984). Tanpa pemahaman nilai-nilai humaniora, harkat kemanusiaan tampaknya sulit dicapai. Untuk itulah diperlukan
kegiatan mendidik dengan kasih sebagai refleksi nilai-nilai humaniora. Guru seharusnya sadar dan menyadari bahwa kecintaannya pada profesi yang digeluti, ketika bersama-sama dengan siswa, adalah melayani, mengajar, dan mendidik dalam bingkai nilai kenanusiaan (Sriyanto, 2012:20).
Bapak/Ibu dan hadirin yang saya hormati,
Motto guru patut digugu dan ditiru mencerminkan sosok guru merupakan pribadi yang baik. Tanpa disadari,
2. Pentingnya Mendidik dengan Kasih Bapak/Ibu dan hadirin yang saya hormati,
pendekatan ini, diharapkan tumbuh keyakinan yang kuat akan keberhasilan pendidikan. Keyakinan itu terpateri dalam hati para siswa sehingga mereka berucap “Kutemukan cinta pada guruku”
Dilihat dari latar perjalanan sejarah, selama beberapa dekade, pendidikan di negara kita lebih banyak berorientasi pada aspek kognitif (the cognitive oriented). Orientasi pendidikan seperti itu menghasilkan insan-insan yang cerdas tetapi relatif gagal membangun peradaban baru yang lebih maju; yakni peradaban yang menjadikan sebuah negara memiliki kemandirian yang tinggi dan mampu berkembang serta menyediakan
Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu kepada siswa. Guru tidak hanya menjalankan program pengajaran secara kaku, tetapi juga menanamkan nilai-nilai hakiki cinta kasih. Saat mendidik, kasih seorang guru wajib hadir. Dengan kasih seorang guru akan tercipta pembelajar yang memiliki kasih pada sesama manusia yang akan mengerti dan dimengerti.
Siswa merupakan insan yang diusahakan guru dalam lingkungan yang dirancangnya untuk mencapai harkatnya secara optimal. Pengusahaan itu bermakna adanya kesadaran pada insan-insan pendidik untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya. Kesadaran
menghasilkan suasana pembelajaran yang tegang, kaku, dan mekanistik. Pengajaran seperti itu akan menjadikan pembelajaran sebagai beban dan momok menakutkan bagi para siswa. Itulah sebabnya, sering pembelajaran dirasakan sebagai ‘penjinakan’ dan bukan sebagai kenikmatan yang mendatangkan rasa senang dan kagum. Mendidik dengan kasih berangkat dari filsafat tat twam asi, yakni menempatkan diri pada orang lain dan tidak menuntut simbolik kepatuhan. Mendidik dengan kasih tetap menjamin keperibadian dan individualitas yang kompetetif. Mendidik dengan kasih menghadirkan dimensi kemanusiaan dalam praksis pendidikan yang
abadi. Ketiga, harus ada kerja sama antara pendidik dengan peserta didik dalam teori dan praktek. Dengan berlandaskan pada ketiga prinsip tersebut diharapkan pembelajaran yang dilakukan menyentuh hati dan sisi kemanusiaan peserta didik. Apapun akan lebih mudah dilakukan peserta didik jika hati dan batinnya tersentuh. Inilah pendidikan sesungguhnya, menyentuh hati dan batin peserta didik. Setiap guru dapat membawa semua siswa ke dalam kelas, tetapi tidak setiap guru berhasil membuatnya belajar. Agar hal ini berhasil perlu disentuh aspek batiniah para siswa. Sentuhan batiniah inilah yang menjadikan interaksi edukasional-fungsional lebih
bermakna.
Bapak / Ibu yang saya hormati,
3. Pentingnya Pendidikan Karakter pada Pendidikan Guru
Bapak/Ibu dan hadirin yang saya hormati,
Pendidikan kogintif di Indonesia dikatakan berada dipersimpangan jalan. Indikator makro yang digunakan mendukung pernyataan itu adalah (1) fenomena menurunnya jiwa dan posisi daya saing bangsa saat ini;
Motivasi Internal: Niat yang lurus Berpikir positif
Ikhlas
Sistem Keyakinan: Kemantapan hati
Ingin sukses
Inspirasi: Banyak ide Langkah implementatif
Implementasi Belajar Mandiri: Pendekatan, metodik
(2) belum terciptanya peradaban maju yang menjadikan negara kita memiliki kemandirian yang tinggi dan mampu berkembang menyediakan kebutuhan masyarakat, dan (3) tidak banyak terjadi peningkatan produktivitas kerja. Indikator makro tersebut tampaknya masih berparadoks dengan komitmen pembangunan millineum yang menetapkan bahwa tambahan rata-rata lama pendidikan dapat dijadikan komponen penting perbaikan pembangunan manusia. Untuk itu perlu dikembangkan penanaman sikap yang benar dalam proses pembelajaran sehingga tumbuh pemahaman akan pentingnya pengetahuan kognitif dan soft skills secara
watak. Dari kedua pendapat itu, dapat ditarik satu keparalelan konsep, bahwa karakter itu merupakan aspek keperibadian yang berpangkal pada etika dan moral yang relatif permanen. Etika dan moral tidak cukup ‘dialirkan’ karena hanya akan menghasilkan pengetahuan tentang etika dan moral; tetapi harus ditanamkan dan dipupuk sehingga dihayati oleh para siswa. Penghayatan yang saksama membuat etika dan moral menjadi bagian dari individu. Penanaman dan pemupukan karakter ini tidaklah bersifat instan tetapi terjadi dalam proses longitudinal dalam dinamika kelompok yang dibingkai dengan cinta kasih. Oleh karena itu perlu dibangun
kelompok-kelompok produktif untuk mengembangkan pendidikan karakter. Salah satu agen kelompok produktif itu adalah guru sehingga kepadanya diberikan tanggung jawab ini. Dengan kata lain, agar bisa menjalankan peran sebagai agen kelompok produktif, guru seharusnya telah menghayati nilai-nilai pendidikan karakter. Untuk itu melalaui kesempatan ini, perlu dipertimbangkan dimasukkan pendidikan karakter dan karakter pendidik
pendidik diharapkan dapat menghasilkan guru yang memiliki profil kerja berikut ini.
1. Berkomitmen dengan sungguh-sungguh dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan. 2. Menjunjung tinggi martabat dan profesi guru. 3. Melakukan yang terbaik dalam
mengembangkan potensi peserta didik. 4. Bekerja keras dengan penuh ‘pengabdian’. Gagasan pencatuman pendidikan karakter dan karakter pendidik dalam kurikulum LPTK, menurut hemat saya, bukanlah sesuatu yang berlebihan karena karakter pendidik merupakan bagian dari kompetensi
keperibadian guru seperti yang diamanatkan pada pasal 10 Undang-Undang Nomor 14 / 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi keperibadian mencakup sikap (attitude), nilai (value) yang tercermin dalam tingkah laku (behavior) yang diharapkan mendukung
berhasil adalah yang dapat membangun insan cerdas dan berkarakter. Hidayatullah (2010) mengatakan kecerdasan dibangun melalui aspek intelektual, emosional, dan spiritual. Karakter dibangun melalui sikap yang amanah dan keteladanan. Sikap amanah meliputi : komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten; serta keteladanan mencakup kesederhanaan, kedekatan, layanan maksimal.
4. Simpulan
Bapak/Ibu dan hadirin yang saya hormati,
Semua guru pasti bisa membawa siswa ke dalam kelas, tetapi tidak setiap guru berhasil
membelajarkan-nya. Untuk bisa membelajarkannya perlu dikemas melalui pendekatan kasih sayang. Kasih sayang merupakan salah satu kebutuhan esensial manusia. Kasih sayang itu harus dimunculkan di ruang kelas sehingga siswa menghayati nilai humaniora ini.
perlu disiapkan tenaga pendidikan yang selain menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni juga memiliki karakter positif sebagai representasi kompetensi keperibadian.
5. Penutup
Bapak/Ibu dan hadirin yang saya hormati,
Demikianlah orasi ilmiah yang dapat saya sampaikan pada hari ini. Saya menyadari, banyak kelemahan dan kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu masukan dan saran sangat saya harapkan untuk penyempurnaan orasi ini, teriring doa dan harapan
semoga IKIP PGRI Bali bisa menjadi salah satu barometer pendidikan nasional.
Denpasar, 25 Agustus 2012 Penulis,
Daftar Rujukan
Crider, Andrew B. 1983. Psychology. London : Scott, Foresman and Company.
Elfindri, dkk. 2012. Pendidikan Karakter : Kerangka, Metode dan Aplikasi untuk Pendidik dan profesional. Jakarta : Baduose Media.
Gichara, Jenny. 2012. Kelas Sehat Prestasi Hebat. Jakarta: Gramedia.
Hidayatullah, Furqon M. 2010. Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas. Surakarta : Yuma Pustaka.
Indrayani. 2012. Pendidikan Karakter. Jakarta : Baduose Media.
Joni, T. Raka. 1984. Wawasan kependidikan Guru. Jakarta : P2LPTK.
Kamisa. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Kartika.
Satori, Djam’an. 2007. Profesi Keguruan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Sriyanto, Hj. 2012. Sekolah Itu Surga. Nglarang : Selingkar Rumah Ide Pustaka.