commit to user
ANALISIS FLUK TUASI KURS RUPIAH TERHADAP
DOLLAR AMERIKA PERIODE JANUARI 2005 – JUNI 2010
Skripsi
Dimaksudkan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Disusun oleh :
CHARISMA NANDA
F0105008
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
MOTTO
Bahwa Meskipun Takut Kita Jalan
Terus, dan Berani Melompati Pagar Batas Ketakutan Tadi, Mungkin Disitu Harga Kita Ditetapkan
(GusDur)
Lebih Baik Bertempur dan Kalah Daripada Tidak Pernah Bertempur Sama Sekali
(Arthur Hugh)
Tidak Ada Orang Yang Lebih Mengenal Tentang Keberhasilan, Kecuali Orang Yang Memulai
commit to user
PERSEMBAHAN
1. Allah SW T yang telah memberikan semua nikmatNya.
2. Bapak dan Ibu, terima kasih atas doa dan pengorbanannya.
3. Semua Keluargaku terimakasih atas segalanya.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala karuniaNya sehinggapenulis selalu diberikan petunjuk, kesabaran dan ketekunan dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul ANALISIS FLUKTUASI KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA PERIODE JANUARI 2005 – JUNI 2010.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan skripsi ini dapat selesai berkat bantuan dari banyak pihak, maka pada kesempatan ini dengan rendah hatipenulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Izza Mafruhah, SE, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan ilmu dan bimbingan dengan sabar kepada penulis.
2. Bapak Drs. Wisnu Untoro, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
3. Bapak Drs.Supriyono, M.Si selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
commit to user
5. Ibu dan ayah yang telah memberikan perhatian dan dukungan baik berupa semangat dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Universitas Sebelas Maret.
6. Untuk kedua kakak dan seorang adik yang tak henti-hentinya memberikan semangat.
7. Buat semua temen-temen EP 2005 yang telah memberikan persahabatan dan bantuan selama penulis menjalankan studi di Fakultas Ekonomi.
8. Teman-teman kos Anur dan Morogebug yang memberikan kesan indah selama penulis menjalankan studi di Fakultas Ekonomi.
9. Para sahabat seperjuangan yang selalu ada dalam suka dan duka, Dimas, Rangga, Primanda, Syafik, Hafied, Hafis, Heru, Danang, Didi. 10.Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh
penulis ”TERIMA KASIH”.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis mengharapkan kritik dan saran demi kebaikan dan kesempurnaan dalam skripsi ini. Akhir kata penulis mohon maaf atas semua kesalahan baik disengaja maupun tidak dan semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat.
Surakarta, Desember 2012
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
ABSTRAK ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ...iv
HALAMAN MOTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II LANDASAN TEORI ... 7
A. Pengertian Perdagangan Internasional... ...7
B. Teori Perdagangan Internasional... 8
1. Teori Klasik...8
a. Teori Keunggulan Absolut... 8
b. Teori Keunggulan Komeperatif...8
2. Teori Modern...9
C. Faktor Faktor Pendorong Terjadinya Perdagangan Internasional... 10
commit to user
3. Siklus Produk...12
D. Nilai Tukar (kurs) ... 12
1. Sistem Nilai Tukar atau Kurs...15
a. Sistem Kurs Berubah-ubah...16
b. Sistem Kurs Bebas...17
c. Pengawasan Devisa...17
d. Keseimbangan Kurs Valuta Asing...17
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar...18
a. Faktor Pembayaran Impor...19
b. Faktor Aliran Modal Keluar...19
c. Kegiatan Spekulasi...19
3. Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar Di Indonesia...20
E. Veriabel-variabel yang Mempengaruhi Nilai Tukar (kurs)...21
1. Inflasi...21
3. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)...36
4. Impor...40
F. Penelitian Terdahulu...43
G. Kerangka Pem ikiran...44
H. Hipotesis...46
BAB III METODE PENELITIAN ... 47
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 47
B. Jenis dan Sumber Data ... 47
C. Teknik Pengumpulan Data ... 47
D. Defin isi Operasional Variabel... 48
2. Suku Bunga SBI (SBI)... 48
3. Inflasi (INF)...48
4. Nilai Impor (IMPOR)...49
5. Jumlah Uang Beredar (JUB)...49
E. Metode Analisis Data... 49
1. Uji Pem ilihan Model...49
2. Uji Statistik...53
3. Uji Asumsi Klasik...57
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN... 61
A. Deskripsi Data Variabel yang Diteliti... 61
1. Perkembangan Suku Bunga SBI... 62
2. Perkembangan Kurs... 64
3. Perkembangan Jumlah Uang Beredar... .66
4. Perkembangan Inflasi ... 68
5. Perkembangan Impor... 70
B. Analisis Data dan Pembahasan ... 71
1. Metode Analisis Data ... 71
2. Interpretasi Hasil Analisis Regresi... 79
BAB V PENUTUP ... 82
A. Kesimpulan ... 82
B. Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 85
commit to user
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4.1 Perkembangan Suku Bunga SBI Tahun 2005 - 2010... 62
4.2 Perkembangan Kurs Rupiah Tahun 2005 - 2010 ... 64
4.3 Perkembangan JUB Tahun 2005 - 2010 ... 66
4.4 Perkembangan Inflasi Tahun 2005 - 2010 ... 68
4.5 Perkembangan Impor Tahun 2005 - 2010 ... 70
4.6 Hasil Uji MWD Linier ... 72
4.7 Hasil Uji MWD Log-Linier ... 73
4.8 Hasil Regresi Persamaan OLS ... 74
4.9 Hasil Uji Multikolinieritas ... 76
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Mekanisme Transmisi Nilai Tukar ke Inflasi ... 14
2.2 Hubungan Antara Uang Inti, Uang Kartal, Uang Giral, Cadangan Bank, dan JUB ... 36
2.3 Kerangka Pem ikiran ... 46
1.1 Daerah Kritis Uji t ... 54
1.2 Daerah Kritis Uji f ... 56
4.1 Grafik Suku Bunga SBI Tahun 2005 -2010 ... 63
4.2 Grafik Perkembangan Kurs Tahun 2005 – 2010 ... 66
4.3 Grafik Perkembangan JUB Tahun 2005 – 2010 ... 68
4.4 Grafik Perkembangan Inflasi Tahun 2005 – 2010 ... 69
ABSTRAKSI
Charisma Nanda
F0105008
ANALISIS FLUKTUASI KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA PERIODE JANUARI 2005 – JUNI 2010.
Dampak melemahnya kurs rupiah menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah dan dilanda krisis ekonomi dan kepercayaan terhadap mata uang dalam negeri. Mengingat besarnya dampak dari fluktuasi kurs terhadap perekonomian ini maka jelas diperlukan suatu manajemen kurs yang baik sehingga kurs menjadi stabil dan fluktuasinya dapat diprediksi. Kegagalan pada manajemen kurs akan berakibat gangguan terhadap ketidakstabilan perekonomian yang akan berdampak luas pada proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Dilatar belakangi kondisi tersebut penulis mengadakan penelitian yang bertujuan untuk megetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar Amerika. Variabel-variabel yang diteliti diantaranya jumlah uang yang beredar, suku bunga SBI, inflasi serta impor dan seberapa besar pengaruh variabel tersebut terhadap kurs rupiah.
Untuk ketepatan analisis selanjutnya dilakukan uji MWD, uji asumsi klasik, dan uji statistik. Data-data yang dimaksudkan adalah data nilai tukar rupiah terhadap dollar (kurs) sebagai variabel dependen, sedangkan untuk variabel independennya adalah suku bunga SBI, jumlah uang beredar, inflasi, dan impor.
Dalam analisis terjadi multiko linearitas antara variabel inflasi dan suku bunga SBI karena mempunyai korelasi lebih besar dari 0,800, maka salah satu harus dihilangkan, dan yang dihilangkan adalah suku bunga SBI, sehingga suku bunga SBI tidak masuk dalam variabel independen yang akan diteliti lagi. Dari hasil analisis dapat disimpulkan terjadi pengaruh yang cukup signifikan antara jumlah uang yang beredar, inflasi, dan impor terhadap kurs rupiah terhadap dollar Amerika.
commit to user
ii
ABSTRACT
Charisma Nanda
F0105008
THE ANALYSIS OF THE FLUCTUATION OF RUPIAH EXCHANGE RATE TO U.S . DOLLAR ON JANUARY 2005 – JUNE 2010 PERIOD
As rupiah exchange rate weakened, the impacts are for instances Indonesian economy becomes unsteady, and Indonesia is stricken by economic crisis and trust crisis of domestic currency. Based on the big effect of fluctuation of the exchange, a good exchange management is badly needed in order to make the exchange stable and the fluctuation predictable. Unsuccessful exchange management will make national economy unsteady because of which will effect whole economical developments.
Hence, the writer conducted a research to know certain factors result in the fluctuation of rupiah exchange rate to U.S. dollar. The variables being observed are the amount of money circulating, interest rate (BI rate), inflation, and import. The writer observed on how much the variables effect rupiah exchange rate. For making sure that his analysis is precise, the writer conducted WMD test, classic assumption test, and statistical test. The data which is tested are the rupiah exchange to U.S. dollar as dependent variable, and the amount of money circulating, interest rate (BI rate), inflation, and import as independent variables. In analysis, the writer finds that there is multicollinearity between inflation variable and BI rate because the correlation is bigger than 0,800. Because of that, there must be one variable of the two has to be excluded from the observation. The writer exclude BI rate, so it is out of the observed independent variables in this research. From the analysis, it can be concluded that there is significant influence of the amount of money circulating, inflation and import to the rupiah exchange rate to U.S. dollar.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
commit to user
krisis nilai tukar, merupakan suatu fenomena yang dapat diijadikan contoh yang kongkrit bagaimana krisis pada sektor finansial dapat menjadi pemicu krisis ekonomi secara keseluruhan. Setelah krisis terjadi, nilai rupiah mengalami penurunan yang sangat drastis yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia melemah. Nilai tukar rupiah secara simultan mendapat tekanan yang cukup berat karena besarnya capital out flow akibat hilangnya kepercayaan investor asing terhadap prospek perekonomian Indonesia. Fluktuasi nilai tukar ini bagi sebagian orang dianggap sebagai salah satu penyebab terjadi krisis ekonomi di Indonesia. Ketidakstabilan nilai tukar ini mempengaruhi arus modal atau investasi dan perdagangan internasional.
gangguan terhadap ketidakstabilan perekonomian yang akan berdampak luas pada proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Salah satu dampak terhebat krisis moneter adalah terjadinya tekanan laju inflasi yang mengganggu kestabilan perekonomian negara yang terkena krisis tersebut. Demikian pada halnya dengan krisis moneter yang terjadi di Asia pada tahun 1997 yang lalu. Indonesia, Korea, Malaysia, Philipina, dan Thailand, lima negara di kawasan Asia yang terkena imbas paling parah dari krisis moneter, telah mengalam i peningkatan harga-harga umum dalam negeri yang cukup tajam. Pada puncak krisis ditahun 1998, tingkat inflasi d i negara-negara tersebut menigkat setidaknya 4-5 persen lebih tinggi dari tingkat rata-ratanya ditahun 1996, kecuali di Indonesia dan Philipina yang lebih tinggi dari angka tersebut.
commit to user
tahun 1998 adalah inflasi yang paling buruk yang dialami Indonesia pada 30 tahun terakhir.
Secara umum inflasi menyebabkan timbulnya sejumlah biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat. Pertama, inflasi menimbulkan dampak negatif pada distribusi pendapatan. Masyarakat golongan bawah dan berpendapatan tetap akan menanggung beban inflasi dengan turunya daya beli mereka. Sebaliknya, masyarakat menengah dan atas yang memiliki aset-aset finansial seperti tabungan atau deposito dapat melindungi kekayaannya dari inflasi, sehingga daya beli mereka relatif tetap. Kedua, inflasi yang tinggi berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi yang tinggi sering diikuti oleh tingkat inflasi yang berfluktuasi, yang dalam jangka panjangh memberikan dampak negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat terjadi karena ketidakpastian tingkat inflasi yang menyebabkan investor cenderung untuk melakuan investasi finansial jangka pendek yang bersifat spekulatif daripada melakukan investasi proyek riil yang bersifat produktif.
Berdasarkan uraian diatas penulis ingin menganalisa lebih jauh mengenai fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika, sehingga penelitian ini berjudul
“Analisis Fluktuasi Rupiah Terhadap Dollar Amerika Periode Januari
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan untuk memberikan arah penelitian yang jelas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh Jumlah Uang Beredar (JUB) terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
2. Bagaimana pengaruh suku bunga SBI terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
3. Bagaimana pengaruh Inflasi terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
4. Bagaimana pengaruih nilai Impor terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh Jumlah Uang Beredar (JUB) terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
2. Untuk mengetahui pengaruh suku bunga SBI terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
3. Untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap kurs Rupiah terhadap mata uang Dollar AS?
commit to user
D. Manffat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi : 1. Bank Indonesia maupun lembaga lainya sebagai referensi dalam
merumuskan dan menetapkan kebijakan yang mampu meningkatkan kestabilan perekonomian Indonesia.
2. Untuk digunakan sebagai salah satu referensi yang berguna meningkatkan kualitas penelitian selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan selera atau pola konsumsi antar negara, dan timbulnya perdagangan internasional terutama sekali karena suatu negara bisa menghasilkan barang tertentu secara lebih efisien dari pada negara lain (Boediono, 1993:19). Ekspor adalah upaya melakukan penjualan komoditi yang kita miliki kepada bangsa lain atau negara lain, dengan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Sebaliknya kegiatan impor adalah melakukan pembelian komoditi yang lebih berdaya guna dari negara lain, dengan bersedia membayar harganya dalam valuta asing juga (Amir, Ms,2004:1)
commit to user
B. Teori Perdagangan Internasional
Teori perdagangan internasional dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu teori klasik dan teori modern. Teori klasik dimotori oleh dua tokoh besar yaitu Adam smith yang terkenal dengan teori keunggulan absolut dan David Ricardo yang terkenal dengan teori keunggulan komparatifnya. Sedangkan teori modern disebut juga sebagai teori proporsi yang dikemukakan oleh Heckscher dan Ohlin.
1. Teori Klasik
a. Teori keunggulan Absolut /Absolut Adventage
Menurut teori ini suatu negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional (gain from trade) jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi, mengekspor produk yang mempunyai keunggulan mutlak dan mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan mutlak. Jadi menurut Adam Smith suatu negara akan mendapat gain from trade jika negara tersebut mengekspor barang-barang dimana barang tersebut dapat diproduksi lebih efektif dan efisien atau lebih murah dibandingkan dengan memproduksi barang lain.
b. Teori Keunggulan Komperatif / Comperatif Adventage
barang asalkan negara tersebut mempunyai keunggulan komperatif, perdagangan internasional masih bisa dilakukan.
Teori yang dicetuskan oleh David Ricardo didasarkan pada efisiensi tenaga kerja dalam menghasilkan suatu barang yang menyatakan bahwa nilai atau barang harga produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional jika negara tersebut mengekspor produk yang mempunyai keunggulan komperatif dimanan barang tersebut diproduksi relatif lebih efisien.
2. Teori Modern
Teori modern dalam perdagangan internasional pertama kali dikemukakan oleh Eli Hecksher dan Bertil Oh lin dalam bukunya
Interregional and International Trade. Karena teori ini menekankan pada saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antar negara dan perbedaan proporsi penggunaan dalam memproduksi barang-barang, teori ini juga dinamakan teori proporsi faktor.
commit to user
fungsi produksinya dimana saja sama, namun proporsi masing-masing produksi dapatlah berlainan karena adanya kemungkinan pergantian atau substitusi faktor yang satu dan faktor yang lainya dalam batas-batas tertentu.
Dari teori yang dikemukakan oleh H-O maka, dapat disimpulkan bahwa harga biaya produksi suatu barang ditentukan oleh jumlah kombinasi dari faktor produksi yang dimiliki oleh masing-masing negara,
comperative advantage dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh masing-masing negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi dari masing-masing faktor produksi yang dimiliki serta masing-masing negara yang cenderung melakukan spesialisasi produk yang relatif leb ih banyak dan murah (Hamdy Hady,2004:42).
C. Faktor-faktor Pendorong Terjadinya Perdagangan Internasional
besar dan menjadi lebih efisien, jika dibandingkan kalau negara tersebut memproduksi segala jenis barang.
Perdagangan internasional merupakan suatu kegiatan serta kebutuhan setiap negara di dunia, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri negara tersebut, karena kebutuhan akan suatu produk yang diinginkan tidak dapat dipenuhi dengan produk-produk yang dihasilkan dalam negeri. Perdagangan internasional antar negara dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perdagangan internasional antara lain.
1. Teori Permintaan dan Penawaran
Terjadinya perdagangan internasional antar dua negara adalah karena adanya perbedaan tingkat permintaan dan penawaran. Permintaan adalah barabg dan jasa yang diminta dipasar dengan berbagai tingkat harga dan disertai kekuatan untuk membayar. Misalnya di Indonesia permintaan akan mebel sedikit, sedangkan di Eropa permintaan akan mebel tinggi, maka Indonesia akan menjual mebel tersebut ke Eropa setelah dikurangi dengan permintaan dalam negeri. Sedangkan penawaran adalah sejumlah barang yang ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu. Misalnya Indonesia menjual barang-barang mebel ke negara Eropa karena di Indonesia terjadi surplus produksi.
2. Vent For Surplus
commit to user
sedang berkembang. Perdagangan luar negeri terjadi karena adanya kelebihan stok yang dikarenakan berbagai hal, antara lain: pendapatan yang menurun, terjadinya panen besar, dan lain-lain.
3. Siklus Produk (product cycle)
Dasar pemikiran ini adalah mengikuti perubahan waktu setiap produk atau industri akan melalui proses dari tahap pengembangan (inovasi) hingga tahap kejenuhan (meturity) dan tahap penurunan produksi (decreasing)
D. Nilai Tukar (Kurs)
Q = S P/P*
di mana Q adalah dilai tukar riil, S adalah nilai tukar nominal, P adalah tingkat harga di dalam negeri dan P* adalah tingkat harga d i luar negeri.
Hubungan nilai tukar dengan inflasi dapat dijelaskan dengan the law of one price atau hukum satu harga. Dalam perekonomian tertutup hukum tersebut mengemukakan bahwa harga barang-barang yang sama jika dijual di dua tempat yang berbeda akan sama harganya. Hukum ini memang banyak diperdebatkan karena untuk mengangkut suatu barang dari suatu tempat ke tempat lain diperlukan biaya transportasi. Selain itu, kebijakan suatu daerah akan berbeda dengan daerah lain. Dalam perkembangannya terjadi modifikasi dari hukum ini, dan pada akhirnya hukum the law of one price lebih menitikberatkan pada pergerakan yang sama dari satu barang yang sejenis di dua tempat.
Dalam perekonomian terbuka, atau negara yang melakukan transaksi ekonomi dengan pihak luar negeri, the law of one price diartikan tingkat harga-harga umum barang-barang yang sejenis akan sama di setiap negara apabila dikonversikan dalam mata uang lokal dari masing-masing negara. Pengertian ini sering disebut dengan konsep absolute purchasing power parity
(PPP), yang dapat diformulasikan sebagai berikut (Khalwaty, 2000):
P = S P*
commit to user
Dengan mengacu konsep PPP di atas dapat dijelaskan hubungan antara nilai tukar dan inflasi pada suatu negara (Gambar 2.1). Harga barang-barang impor dipengaruhi oleh harga di luar negeri dan nilai tukar. Apabila harga di luar negeri meningkat, maka harga barang di dalam negeri yang berasal dari impor juga meningkat. Dalam kaitannya dengan nilai tukar, apabila terjadi penurunan nilai tukar lokal terhadap mata uang asing atau depresiasi maka harga barang-barang yang diimpor juga meningkat.
Gambar 2.1. Mekanisme Transmisi Nilai Tukar ke Inflasi Sumber : Simorangkir dan Suseno, 2004: 29
Penjelasan di atas leb ih menitikberatkan hubungan langsung antara nilai tukar dengan harga. Selain hubungan langsung, dikenal juga hubungan tidak langsung antara nilai tukar dengan harga (Gambar 2.1). Hubungan tidak langsung nilai tukar dengan harga ditransmisikan melalu i permintaan
domestik dan permintaan eksternal bersih atau ekspor dan impor. Mekanisme transmisi permintaan domestik dapat terjadi melalui perubahan harga relatif antara harga barang domestik dengan harga barang impor. Kenaikan harga barang impor relatif terhadap harga barang di dalam negeri akibat depresiasi mengakibatkan kecenderungan masyarakat untuk membeli lebih banyak barang di dalam negeri. Kenaikan tersebut dapat mendorong peningkatan harga barang-barang di dalam negeri. Sementara itu, transmisi tidak langsung melalui perm intaan eksternal bersih terjadi melalui mekanisme perubahan harga barang-barang impor dan ekspor. Devaluasi nilai tukar mengakibatkan harga barang impor lebih mahal dan harga barang ekspor lebih murah. Kenaikan harga barang impor dapat mendorong penurunan jumlah barang impor, sementara penurunan harga barang ekspor dapat meningkatkan ekspor. Secara keseluruhan kedua faktor ini akan meningkatkan permintaan eksternal bersih dan pada lanjutannya meningkatkan total permintaan agregat dan pada akhirnya meningkatkan laju inflasi.
Efektivitas kebijakan moneter dalam perekonomian terbuka sangat dipengaruhi oleh sistem nilai tukar yang digunakan. Dalam perekonomian terbuka dengan tingkat mobilitas modal yang tinggi, kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar mengambang akan lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem nilai tukar tetap.
1. Sistem Nilai Tukar atau Kurs
commit to user
valuta asing akan berubah-ubah sesuai dengan penawaran dan permintaan. Macam-macam kurs valuta asing adalah (Nopirin, 1995: 147-56):
a. Sistem Kurs Berubah-ubah
Dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan. Faktor valuta asing merupakan debit dalam neraca pembayaran internasional. Faktor-faktor yang berasal baik dalam negeri maupun luar negeri termasuk pendapatan, impor periode lalu, tingkat bunga dan harga (harga barang dalam negeri dan suku bunga dalam penelitian ini tidak dibahas) akan mempengaruhi penawaran dan permintaan kurs valuta asing. Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar pula perm intaan valuta asing. Kurs valuta asing cenderung naik (harga mata uang sendiri turun). Inflasi akan menyebabkan kurs valuta asing naik, kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung naik, kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung menarik modal masuk luar negeri. Kurs valuta asing akan turun (mata uang sendiri nilainya naik relatif terhadap valuta asing). Semua kegiatan ekonomi dan kebijakan pemerintah (fiskal dan moneter) yang mempengaruhi pendapatan, harga dan tingkat bunga, juga akan berpengaruh terhadap kurs valuta asing.
permintaan valuta asing, akibatnya selanjutnya kurs valuta asing akan naik (terdepresiasi mata uang sendiri). Di samping faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi perubahan kurs valuta asing akan naik. Faktor psikologis juga akan dapat mempengaruhi pergeseran kurva perm intaan dan penawaran valuta asing.
b. Sistem Kurs Bebas
Sistem kurs bebas sering menimbulkan adanya tindakan spekulasi sebagai akibat ketidaktentuan didalam kurs valuta asing karena itu banyak negara yang kemudian menjalankan politik untuk menstabilkan kurs.
c. Pengawasan Devisa
Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta asing, kurs valuta asing sudah tidak dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Tujuan untuk mencegah adanya aliran modal keluar dan menghindari pengaruh depresiasi dari negara lain, terutama dalam menghadapi keterbatasan cadangan valuta asing dibanding dengan permintaannya sehingga pemerintah perlu mengadakan alokasi di dalam penggunaannya yaitu, untuk tujuan yang sesuai dengan program pemerintah. Alokasi biasanya dilakukan dengan menggunakan lisensi impor.
d. Keseimbangan Kurs Valuta Asing
commit to user
asing tersebut. Permintaan untuk mata uang asing timbul terutama bila kita mengimpor barang-barang dan jasa atau menerima investasi dan pinjaman dari luar negeri. Penawaran mata uang asing timbul apabila kita mengekspor barang-barang dan jasa atau menerima investasi dan pinjaman luar negeri.
Suatu mata uang akan cenderung mengalami spesialisasi di pasar valuta asing jika terjadi pergeseran kurva permintaan ke kanan atau kurva penawaran kekiri atas mata uang ini. Pergeseran kearah sebaliknya akan cenderung mendepresiasi mata uang ini. Pergeseran demikian disebabkan oleh beberapa hal seperti harga, impor, dan ekspor, laju inflasi di berbagai negara, perp indahan modal, perubahan struktural, perkiraan masa depan tentang kecenderungan pendapatan nilai tukar serta kepercayaan terhadap mata uang.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukat (kurs)
maka nilai mata uang domestik akan meningkat. Sementara itu, jika penawaran valuta asing meningkat relatif terhadap mata uang domestik, maka nilai tukar mata uang domestik meningkat. Sebaliknya jika penawaran menurun, maka nilai mata uang domestik menurun (Perry Wariyo, 2004:100).
Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi permintaan valuta asing, yaitu:
a. Faktor pembayaran impor
Semakin tinggi impor barang dan jasa, maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga nilai tukar mata uang akan cenderung melemah. Sebaliknya, jika impor menurun, maka permintaan valuta asing menurun sehingga mendorong menguatnya nilai tukar. b. Faktor aliran modal keluar (Capital outflow)
Semakin besar modal keluar, maka semakin besar permintaan valuta asing dan pada selanjutnya akan memperlemah nilai tukar. Aliran modal keluar meliputi pembayaran hutang penduduk Indonesia (baik swasta dan pemerintah) kepada pihak dan penempatan dana penduduk Indonesia ke luar negeri.
c. Kegiatan spekulasi
commit to user
3. Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia
Tujuan utama kebijakan nilai tukar di Indonesia adalah menunjang efektifitas moneter dalam rangka memelihara kestabilan harga. Stabilitas nilai tukar dapat mendorong stabilitas harga khusunya stabilitas harga barang-barang yang berasal dari impor. Depresiasi nilai tukar yang terlalu besar dapat mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih mahal dan secara laju inflasi dapat menjadi lebih mahal dan secara keseluruhan laju inflasi dapat meningkat. Selanjutnya, inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menurunkan kegiatan ekonomi.
Tujuan kebijaksanaan nilai tukar lainya adalah mendukung kesinambungan pelaksanaan pembangunan khususnya yang terkait dengan neraca perdagangan. Menjaga kesinambungan nilai tukar dalam rangka mendukung neraca perdagangan perlu dipelihara karena nilai tukar yang over valued dapat mengakibatkan neraca perdagangan menjadi memburuk dan merugikan perekonomian nasional.
E. Variabel-variabel yang Mempengaruhi Nilai Tukar (Kurs)
1. Inflasi
a. Pengertian Inflasi
Boediono (1994: 161) mendefinisikan inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali jika kenaikan tersebut mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan harga-harga yang disebabkan, seperti musiman, menjelang hari raya, atau yang terjadi sekali saja dan tidak berdampak terhadap kenaikan sebagian besar harga barang-barang lain tidak d isebut inflasi.
Kenaikan harga-harga yang terjadi tersebut akan diukur dengan menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain (Muana Nanga. 2001: 224):
1) Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index)
Adalah suatu indeks harga yang mengukur biaya sekolompok barang-barang dan jasa-jasa di pasar, yang dibeli untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.
2) Indeks Harga Produsen (Producer Price I ndex)
commit to user
3) GNP Deflator
Adalah suatu indeks yang merupakan perbandingan atau rasio antara GNP nominal dan GNP riil dikalikan dengan 100 (Muana Nanga. 2001: 224). Jadi, GNP deflator merupakan suatu ukuran tentang tingkat harga, dan indeks ini merupakan indeks harga yang secara luas digunakan sebagai basis untuk mengukur inflasi.
b. Jenis-Jenis Inflasi
Laju inflasi dapat berbeda dari negara satu dengan negara lain atau dalam satu negara dengan waktu yang berbeda. Sehubungan dengan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap inflasi, maka dapat dilakukan pengelompokan jenis-jenis inflasi berdasarkan sudut pandang sebagai berikut:
1) Inflasi berdasarkan intensitasnya
Apabila d itinjau dari intensitasnya, inflasi dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu (Nopirin, 2000: 27):
a) Inflasi Merayap (Creeping Inflation)
Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar, dan kadang kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Di negara-negara berkembang tingkat inflasi ini tidak mudah dikendalikan. Negara-negara tersebut tidak menghadapi masalah hiperinflasi, akan tetapi juga tidak mampu menurunkan inflasi pada tingkat yang sangat rendah. Secara rata-rata di sebagian negara tingkat inflasi ini mencapai angka antara 5 hingga 10 persen.
c) Inflasi Tinggi (HiperI nflation)
Adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam masa yang singkat. Jenis inflasi ini memiliki akibat paling parah (laju inflasinya di atas 100 persen). Nilai uang merosot dengan tajam sehingga ingin ditukarkan dengan barang. Perputaran uang makin cepat dan harga naik secara akselerasi. Atau dengan kata lain, inflasi ini timbul sebagai akibat adanya kenaikan harga-harga umum yang berlangsung sangat cepat. 2) Inflasi berdasarkan sebabnya
Adapun jenis-jenis inflasi menurut sebabnya adalah (Nopirin, 2000: 28):
a) Inflasi Tarikan Permintaan (Demand-Pull Inflation)
commit to user
inflasi terjadi sebagai akibat dari adanya kondisi permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat yang akhirnya ada kecenderungan untuk output naik secara bersama-sama dengan kenaikan harga umum.
Inflasi ini bermula dari adanya permintaan total (agregat demand), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan seperti ini, kenaikan permintaan total disamping menaikkan harga dapat juga menaikkan hasil produksi atau output. Apabila kesempatan kerja penuh (full employment) telah tercapai, maka penambahan permintaan hanya akan menaikkan harga saja. Apabila kenaikan permintaan ini menyebabkan keseimbangan GNP pada kesempatan kerja penuh maka akan terdapat “inflationary gap” yang akhirnya akan dapat menimbulkan masalah inflasi.
b) Inflasi Dorongan Biaya (Cost-Push Inflation)
Adalah inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya produksi yang mengakibatkan adanya penurunan penawaran. Kenaikan biaya produksi ini ditimbulkan oleh beberapa faktor diantaranya: 1. Persatuan serikat buruh dalam menuntut kenaikan upah. 2. Industri yang bersifat monopolistis, sehingga dapat
3. Kenaikan harga bahan baku industri. c)Inflasi Struktural (Structural Inflation)
Adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat dari adanya berbagai kekuatan struktural yang menyebabkan penawaran di dalam perekonomian menjadi kurang atau tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat.
d)Inflasi Sebagai Akibat Kebijakan (Policy Induced Inflation) Adalah inflasi yang disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga dapat merefleksikan defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaan.
e)Inflasi Dasar (core Inflation) atau Inertial Inflation
Adalah inflasi yang cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian ekonomi yang mengakibatkan berubah. Jika inflasi terus bertahan dan tingkat inflasi ini diantisipasi dalam bentuk kontrak finansial dan upah, kenaikan inflasi akan terus berlanjut.
3) Inflasi berdasarkan asal terjadinya
Sementara itu,. jenis inflasi dapat digolongkan lagi berdasarkan asal dari inflasi tersebut antara lain (Tajul Khalwaty, 2000: 31):
a)Domestic Inflation
commit to user
perilaku masyarakat maupun perilaku pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang secara psikologis berdampak inflatoar. Kenaikan harga-harga terjadi secara absolut. Akibatnya terjadilah inflasi atau semakin meningkatnya angka (laju) inflasi.
b) Imported Inflation
Inflasi yang terjadi di dalam negeri sebagai akibat karena kenaikan harga-harga di luar negeri atau di negara-negara yang menjadi langganan berdagang. Kenaikan harga d i dalam negeri terutama terjadi pada barang-barang impor atau bahan baku industri yang masih belum bisa diproduksi di dalam negeri. Kenaikan harga barang-barang impor ini akan berakibat (Boediono, 1994: 164):
1. Secara langsung akan terjadi kenaikan indeks biaya hidup. 2. Secara tidak langsung akan terjadi kenaikan indeks harga
melalui kenaikan biaya produksi dari berbagai barang yang menggunakan bahan mentah atau mesin-mesin yang harus diimpor.
4) Inflasi berdasarkan bobotnya
Inflasi jika ditinjau dari sudut bobotnya, dapat dibedakan menjadi 4 (empat) macam, yaitu (Tajul Khalwaty, 2000: 34): a)Inflasi Ringan
Inflasi ringan (creeping inflation) adalah inflasi dengan laju pertumbuhan yang berlangsung secara perlahan dan berada pada posisi satu digit atau di bawah 10 persen per tahun.
b)Inflasi Sedang
Inflasi sedang (moderat) adalah inflasi dengan tingkat laju pertumbuhan berada diantara 10–30 persen per tahun atau melebihi dua digit dan sangat mengancam kestabilan ekonomi suatu negara.
c)Inflasi Berat
Inflasi berat merupakan inflasi dengan laju pertumbuhan berada diantara 30–100 persen per tahun. Pada kondisi demikian, sektor-sektor produksi hampir lumpuh total kecuali yang dikuasai oleh negara.
d)Inflasi Sangat Berat
commit to user
c. Teori Inflasi
Secara garis besar ada tiga kelompok teori inflasi yang masing-masing membicarakan aspek-aspek tertentu dari proses inflasi antara lain (Boediono, 1994: 167):
1) Teori Kuantitas
Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang beredar dan psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga (expectations). Inti dari teori ini adalah inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar, baik uang kartal maupun uang giral. Selain itu laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa yang akan datang.
2) Teori Keynes
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya, sehingga permintaan masyarakat akan barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Penyebab terjadinya kenaikan permintaanini, menurut Keynes adalah akibat dari kenaikan ekspansi jumlah uang beredar, peningkatan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, atau ekspor netto.
Teori ini memberikan tekanan pada adanya ketegaran dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang. Faktor-faktor strukural dari perekonomian itu hanya dapat berubah secara gradual dan dalam jangka panjang. Menurut teori ini, ketegaran utama dalam perekonomian negara-negara sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi adalah (Boediono, 1994: 174): a) Ketidakelastisan dari penerimaan ekspor, artinya laju
pertumbuhan nilai ekspor lebih lamban dibanding dengan laju pertumbuhan sektor-sektor lainnya. Kelambanan tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu: Pertama, harga dari barang-barang ekspor di pasaran dunia makin tidak menguntungkan. Kedua, supply atau produksi barang-barang ekspor yang tidak responsif terhadap kenaikan harga (supply barang-barang ekspor yang tidak elastis).
b) Ketidakelastisan dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri, artinya laju pertumbuhan produksi bahan makanan di dalam negeri lebih lamban dibandingkan dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita, sehingga harga bahan makanan di dalam negeri cenderung meningkat meleb ihi kenaikan harga barang-barang lain.
d. Dampak Inflasi
commit to user
menimbulkan akibat buruk kepada setiap individu, masyarakat, dan kegiatan perekonomian secara keseluruhan. Salah satu akibat yang ditimbulkan inflasi adalah akan menurunkan taraf kemakmuran segolongan besar masyarakat.
Menurut Sadono Sukirno (2006: 339), inflasi akan menimbulkan dampak-dampak kepada individu dan masyarakat sebagai berikut: 1) Inflasi dapat menurunkan pendapatan riil bagi masyarakat yang
berpendapatan tetap. Karena pada umumya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga.
2) Inflasi dapat mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang, simpanan di bank, simpanan tunai, dan simpanan dalam institusi-istitusi keuangan lain yang merupakan simpanan keuangan. Akibatnya nilai riilnya akan menurun apabila inflasi berlaku.
3) Inflasi dapat memperburuk pembagian kekayaan. Akibatnya menyebabkan pembagian pendapatan diantara golongan berpendapatan tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual atau pedagang akan menjadi semakin tidak merata.
terhadap alokasi faktor produksi dan produk nasional disebut efficiency effect.
1) Equity Effect
Equity Effect adalah dampak inflasi terhadap pendapatan. Dampak inflasi ini bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian terutama yang bepenghasilan tetap, dan ada pula yang mengalami keuntungan dengan adanya inflasi tersebut. Mereka yang berpenghasilan tetap akan mengalami penurunan nilai riil dari penghasilannya sehingga daya belinya menjadi lemah. Sebaliknya yang terjadi dengan kelompok-kelompok yang mengalami keuntungan adalah mereka yang memperoleh kenaikan tingkat pendapatan yang lebih besar daripada inflasi, atau mereka yang memiliki kekayaan, namun kekayaan tersebut tidak dalam bentuk uang tunai.
commit to user
2) Efficiency Effect
Inflasi juga berpengaruh terhadap biaya produksi. Harga-harga faktor produksi akan terus meningkat, sehingga merubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan tersebut dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang selanjutnya mendorong perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi, permintaan barang-barang tertentu akan mendorong peningkatan produksi barang-barang tersebut. Kenaikan produksi yang demikian akan mengubah pola alokasi faktor produksi barang-barang tersebut menjadi lebih efisien yang disebut dengan efficiency effect.
3) Output Effect
Analisis terhadap equity effect dan efficiency effect berdasarkan pada asumsi bahwa output dalam keadaan tetap (cateris paribus). Berbeda dengan analisis output effect, yaitu analisis tentang inflasi terhadap keluaran (output), dimana output diasumsikan sebagai variabel terikat.
produksi juga akan naik, akibatnya keuntungan yang diterima produsen menjadi berkurang. Karena terus berkurang sementara biaya produksi terus mengalami peningkatan, menyebabkan produsen mengurangi produksinya hingga batas tertentu yang dianggap masih memungkinkan untuk terus melanjutkan usahanya. Jika dinilai sudah tidak menguntungkan lagi, keputusan yang terbaik adalah menghentikan produksi atau usaha tersebut. Pengurangan ataupun penghentian produksi akan berimbas pada meningkatnya jumlah pengangguran.
2. Jumlah Uang Beredar
Jumlah uang beredar adalah seluruh uang kartal ditambah dengan uang giral yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat. Uang kartal adalah uang tunai yang dikeluarkan pemerintah atau bank sentral (di Indonesia melalui Bank Indonesia) yang langsung di bawah kekuasaan masyarakat (umum) untuk menggunakannya. Sedangkan uang giral adalah seluruh nilai saldo rekening koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum (Boediono, 1993 : 86).
Jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) dapat diformulasikan sebagai berikut (Boediono, 1993):
M1 = K + D
Di mana :
M1 = Uang beredar dalam arti sempit
K = Uang kartal (currency)
commit to user
Pengertian lain mengenai jumlah uang beredar didasarkan atas anggapan bahwa bukan hanya uang tunai dan saldo giro (cek) saja yang dapat digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Uang milik masyarakat yang disimpan di bank dalam bentuk deposito berjangka (time deposits) atau tabungan juga mempunyai ciri yang mendekati uang tunai yang disebut quasy money atau near money. Sedangkan uang beredar dalam arti luas (broad money) adalah uang beredar dalam arti sempit ditambah dengan uang kuasi (quasy money), yang dirumuskan (Boediono, 1993):
M*s = M1 + T
Di mana :
M*s = uang beredar dalam arti luas (broad money)
M1 = uang beredar dalam arti sempit (narrow money)
T = saldo deposito berjangka dan tabungan milik masyarakat pada
Bank.
Dalam keadaan normal, narrow money dan broad money berkembang sejalan satu sama lain sehingga salah satu dapat digunakan untuk melakukan analisa moneter. Namun dalam keadaan tertentu narrow money
mungkin tidak berkembang sejaln dengan perkembangan broad money
kenaikan yang mencolok dari deposito berjangka di bank-bank. Hal ini disebabkan beberapa faktor, seperti adanya aliran uang masuk dari luar negeri karena tingkat bunga deposito di Indonesia sangat tinggi. Perubahan kepercayaan masyarakat terhadap nilai uang dapat juga mempengaruhi masing-masing konsep uang beredar secara berbeda.
Salah satu faktor penting yang menentukan jumlah uang kartal dan uang giral adalah uang inti atau reserve money. Uang inti atau base money
atau high powered money adalah saldo rekening koran (giro) milik bank-bank umum atau masyarakt pada Bank Indonesia ditambah dengan uang tunai yang dipegang baik bank-bank umum maupun masyarakat umum. Uang inti dirumuskan sebagai berikut (Boediono, 1993)
B = K + R
Di mana :
B = uang inti
K = uang kartal
R = cadangan (reserve) bank-bank umum berupa uang tunai dan saldo rekening koran pada Bank Indonesia
commit to user
Gambar 2.2. Hubungan antara uang inti, uang kartal, uang giral, cadangan bank dan JUB
Sumber: Boediono, 1993
3. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang jangka pendek dengan menggunakan sistem diskonto (Sugiyono,
Uang Inti
Uang yang dikeluarkan Oleh Bank Sentral
Uang giral Milik Masyarakat Cadangan bank Di bank-bank Milik bank-bank
Saldo Rek. Koran (giro) Pada Bank Sentral
Saldo Rek. Koran (giro) Pada bank-bank Di tangan masyarakat
Umum
Uang Kartal
2003: 30). SBI ini merupakan salah satu instrumen operasi pasar terbuka (OP T) yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia dalam rangka mengendalikan jumlah uang yang beredar dan atau suku bunga.
Sebagai instrumen OPT pada dasarnya penerbitan SBI oleh Bank Indonesia dapat dilakukan baik melalui lelang maupun non lelang. SBI dapat dimiliki oleh bank atau pihak lain yang d itetapkan oleh Bank Indonesia melalui pembelian SBI di pasar perdana. Selain itu, SBI dapat pula diperdagangkan di pasar sekunder dan dipergunakan sebagai agunan.
SBI diterbitkan oleh Bank Indonesia pertama kali pada bulan April 1970. Pada saat itu SBI diterb itkan tanpa melalui lelang dan dimaksudkan untuk mendorong usaha pengerahan dana, sekaligus mendorong perkembangan pasar uang dan pasar modal di Indonesia. SBI yang diterbitkan oleh Bank Indonesia tersebut disalurkan melalui bank pemerintah, bank swasta nasional, dan cabang bank asing serta lembaga non bank. Namun dengan pertimbangan bahwa beberapa bank telah mengeluarkan sertifikat deposito, maka pada bulan September 1971 penerbitan SBI dihentikan.
Pada 1 Februari 1984 Bank Indonesia kembali menerbitkan SBI dengan tujuan yang lebih luas, yaitu:
a. Untuk mendorong perkembangan pasar uang dan pasar modal
commit to user
c. Sebagai alternatif penanaman kelebihan sementara likuiditas yang dimiliki bank.
Sejak mulai diterbitkan kembali pada tahun 1984, penentuan tingkat diskonto atau suku bunga didasarkan pada sistem cut-off rate (COR), yaitu tingkat suku bunga SBI yang ditentukan oleh Bank Indonesia sesuai dengan sasaran moneter yang ingin dicapai. Dalam kaitan ini, penerbitan SBI yang saat itu sudah menggunakan sistem lelang hanya ditujukan kepada bank peserta lelang yang d iputuskan memenangkan lelang SBI, yaitu bank-bank yang melakukan penawaran dengan tingkat bunga sesuai atau lebih rendah daripada tingkat bunga yang diinginkan Bank Indonesia. Dalam sistem COR, suku bunga SBI yang ingin dicapai oleh Bank Indonesia tidak diumumkan dan bank-bank bebas untuk melakukan penawaran sesuai dengan perhitungan bank-bank.
dengan memperhatikan kondisi likuid itas di pasar. Sistem lelang dengan SOR ini adalah penentuan pemenang lelang dengan memperhitungkan tingkat diskonto tertinggi yang dihasilkan dari lelang dalam rangka mencapai sasaran kuantitas SBI yang akan dijual oleh Bank Indonesia.
Dalam perhitungan diskonto SBI dipergunakan perhitungan murni (true discount) dan pemberian atau pembebanan diskonto diperhitungkan di muka, yaitu pada saat transaksi dilakukan. Rumus perhitungan dilai diskonto murni yang digunakan oleh Bank Indonesia adalah (FX. Sugiyono, 2004):
Nilai diskonto = nilai nominal – nilai tunai
(nilai nominal) x 360
360 + (tingkat diskonto x jangka waktu) Peserta lelang SBI terdiri dari peserta langsung, yaitu bank untuk kepentingannya sendiri dan pialang untuk kepentingan pihak lain, serta peserta tidak langsung, yaitu bank yang mengajukan penawaran melalui pialang. Secara umum tata cara penerbitan SBI melalui lelang tidak mengalami perubahan, kecuali antara lain untuk penetapan jangka waktu, penetapan satuan unit, dan penatausahaannya.
Untuk saat ini, SBI mempunyai 5 (lima) karakteristik utama, yaitu: a. mempunyai satuan unit tertentu,
b. berjangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia,
commit to user
d. diterbitkan tanpa warkat, artinya bukti kepemilikan hanya pencatatan secara elektronis (scripless),
e. dapat diperdagangkan atau dipindahtangankan (negotiable) di pasar sekunder.
Dalam hubungannya dengan laju inflasi, SBI yang menggunakan sistem diskonto, tingkat suku bunga SBI merupakan instrumen untuk mengendalikan laju inflasi. Suku bunga SBI yang tinggi akan mendorong bank atau orang untuk menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada sektor produksi atau industri yang resikonya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan menanamkan uangnya di bank, dalam hal ini dalam bentuk SBI. Suku bunga SBI yang tinggi akan menyedot jumlah uang yang beredar di masyarakat.
4. Impor
Pengertian impor adalah proses pemasukan barang dari luar negeri kedalam wilayah pabean dalam negeri dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Proses pemasukan barang impor itu sendiri dapat melalui udara, darat dan laut yang semuanya harus menyertakan dokumen-dokumen impor yang lengkap dan jelas dari negara asal barang tersebut. (Ruddi, 1994:57)
memasukan barang dari luar negeri ke dalam wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. (Hutabarat, 1996:403).
Defin isi impor menurut Undang-Undang No 10 tahun 1995 tentang kepabean pasal 1 ayat 14 yaitu yang dimaksud dengan impor adalah kegiatan memasukan barang baru ke dalam daerah pabean. Dari definisi tersebut maka impor menurut UU berhubungan dengan barang/komoditi dan daerah pabean.
a. Kebijakan Tarif
Kebijakan tarif adalah kebujakan menentukan tarif bea masuk suatu produk.
b. Kebijakan Non Tarif
Kebijakan non tarif adalah segala macam bentuk kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengendalikan impor bukan dengan bea masuk. Contoh: Indonesia pernah melakukan pembatalan khusus melarang impor daging sapi karena adanya isu antrax.
c. Kebijakan Non Tarif dalam bentuk kuota
Kuota adalah batasan jumlah volume yang diperkenankan. Kuota impor adalah pembatasan volume barang yang boleh diimpor. Kuota impor dimaksudkan untuk melindungi konsumen dan kepentingan industri dalam negeri. Ada beberapa macam kuota impor, yaitu:
commit to user
2) Tarif Quota, yaitu impor yang dilakukan dengan mengkombinasikan tarif dengan kuota
3) Bilateral Quota, yaitu penetapan kuota atas kesepakatan negara yang berhubungan.
4) Mixing Quota, yaitu pembatasan impor bahan baku tertentu untuk melindungi industri dalam negeri.
Jadi secara umum impor merupakan proses memasukan barang dan jasa, teknologi, ide dari luar kedalam negeri sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
F. Penelitian Terdahulu
Pada sub bab ini akan dijelaskan beberapa penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini.
1. Adrangi dan Farokh (1996) melakukan tes kausalitas antara nilai tukar dollar dan return saham di Amerika dan luar negeri. Hasilnya menyatakan bahwa ada hubungan timbal balik yang signifikan untuk jangka pendek dan jangka panjang antara kedua pasar keuangan tersebut.
2. Ajayi dan Mbodja (1996) menyelidiki mengenai hubungan antara saham dan nilai tukar. Hasil penelitian mengatakan ada hubungan timbal balik antara harga saham dan nilai tukar.
commit to user
4. Tony Cavoli and Ramkishen S. Rajan (2005) meneliti pengaruh nilai tukar dollar Amerika dan Yen Jepang terhadap nilai tukar Rupiah Indonesia. Penelitian dengan alat analisis Simple OLS Regression ini menyatakan bahwa kontribusi nilai tukar Dollar Amerika dan Yen Jepang hasilnya signifikan terhadap nilai tukar ruoiah Indonesia.
G. Kerangka pemikiran
Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem perekonomian ke arah yang lebih terbuka antar negara. Perekonomian terbuka inilah yang membawa suatu dampak ekonomis yaitu terjadinya perdagangan internasional antar negara-negara di dunia. Dengan adanya perdagangan internasional inilah maka akan dijumpai masalah baru yakni perbedaan mata uang yang digunakan oleh negara-negara yang bersangkutan. Akibat adanya perbedaan mata uang yang digunakan dbaik di negara yang menjadi pengimpor maupun pengekspor maka menimbulkan suatu perbedaan nilai tukar mata uang (kurs), oleh karena itu diperlukan pertukaran mata uang antar negara (Levi, 1996:129).
diijad ikan contoh yang kongkrit bagaimana krisis pada sektor finansial dapat menjadi pemicu krisis ekonomi secara keseluruhan. Setelah krisis terjadi, nilai rupiah mengalami penurunan yang sangat drastis yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia melemah. Nilai tukar rupiah secara simultan mendapat tekanan yang cukup berat karena besarnya
capital out flow akibat hilangnya kepercayaan inversot asing terhadap prospek perekonomian Indonesia. Fluktuasi nilai tukar ini bagi sebagian orang dianggap sebagai salah satu penyebab terjadi krisis ekonomi di Indonesia. Ketidakstabilan nilai tukar ini mempengaruhi arus modal atau investasi dan perdagangan internasional.
commit to user
Gambar 2.3 Kerangka pemikiran
H. Hip otesis
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian in i adalah sebagai berikut : 1. Diduga bahwa suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan
terhadap nilai kurs.
2. Diduga Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai kurs. 3. Diduga bahwa nilai impor berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap nilai kurs.
4. Diduga Jumlah uang beredar berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai kurs.
INFLASI
IMPOR
SUKU BUNGA SBI
JUMLAH UANG BEREDAR
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian “Analisis Fluktuasi Kurs Rupiah Terhadap Dollar AS Periode Januari 2005 – Desember 2010” merupakan penelitian yang bersifat penjelasan (explanatory research) yaitu penelitian yang memfokuskan pada penjelasan hubungan-hubungan antar variabel dan studi kepustakaan. Penelitian yang bersifat kuantitatif dengan mengambil data time series periode Januari – Desember. Dan sifatnya tahunan. Sedangkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (secondary data).
B. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat time series (dari waktu ke waktu). Data tersebut diperoleh dari berbagai sumber diantaranya:
1. Internasional Finansial Statistic, IMF. 2. Laporan Bulanan Bank Indonesia.
3. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, BI
4. Data lain yang bersumber dari referensi studi kepustakaan melalui, jurnal, artikel dan bahan lain dari berbagai situs website yang mendukung.
C. Metode Pengumpulan Data
commit to user
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung variabel-variabel yang berkaitan dengan penelitian skripsi.
2. Metode kepustakaan
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mencari dan membaca literatur yang relevan dan berkaitan dengan penelitian skripsi. Relevansi didasarkan pada data yang telah disajikan oleh institusi yang bersangkutan dan telah teruji secara empiris, misalnya data yang dikeluarkan BPS dan biro statistik Bank Indonesia dan terdapat hubungan secara teoritis.
D. Definisi Operasional Variabel
1. Nilai Tukar (KURS)
Nilai tukar (exchange rate) adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya (Salvatore, 1990), sedangkan menurut Boediono nilai tukar adalah harga (yang dihitung dengan mata uang domestik) dari satu unit mata uang asing atau perbandingan harga antar valuta asing bila terjadi pertukaran.
2. Suku Bunga SBI (SBI)
Suku bunga SBI adalah tingkat bunga yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank umum yang telah menyimpan dananya di Bank Indonesia. Data suku bunga SBI yang digunakan dinyatakan dalam persen dan bersifat bulanan.
Inflasi didenisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Inflasi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan inflasi bulanan (month to month, m-t-m) yaitu perbandingan antara indeks bulan yang bersangkutan dengan indeks pada bulan sebelumnya. Inflasi yang digunakan dalam persen.
4. Nilai Impor (IMPOR)
Pembelian barang dan jasa yang dihasilkan negara lain oleh suatu negara. Nilai impor yang digunakan dinyatakan dalam satuan miliar US dollar.
5. Jumlah Uang Beredar (JUB)
Jumlah uang beredar atau JUB adalah total penjumlahan antara M1
dengan uang kuasi, dimana M1 adalah uang kartal ditambah dengan uang
giral, jumlah uang beredar d ilambangkan dengan M2 yakni uang kartal
ditambah uang giral ditambah uang kuasi, yang kemudian disebut sebagai uang beredar dalam arti luas. Satuan yang digunakan dalam JUB adalah Milyar rupiah.
E. Metode Analisis Data
1. Uji Pem ilihan Model a. Uji MWD
commit to user
Oleh karena itu, dalam melakukan studi empiris sebaiknya model yang akan digunakan diuji dulu, apakah sebaiknya menggunakan bentuk linear ataukah log-linear (Insukindro et al., 2003: 14).
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pemilihan bentuk fungsi model empirik antara lain metode transformasi Box-Cox, metode yang dikembangkan MacKinnon, White, dan Davidson atau lebih dikenal dengan MWD test, metode Bara dan McAleer atau dikenal dengan B-M test dan metode yang dikembangkan Zarembka (Modul Laboratorium Ekonometrika, 2006: 80). Dalam penelitian ini akan menggunakan metode yang dikembangkan Mac Kinnon, White dan Davidson pada tahun 1983 yang lebih dikenal dengan MWD test.
Untuk dapat menerangkan uji MWD, maka langkah pertama adalah membuat dua model regresi dengan asumsi:
Model regresi 1: Linier
KURSt = 0+ 1SBIt + 2JUBt + 3INFt + 4IMPORt + Ut...(3.1)
Model regresi 2: Log-Linear
LKURSt = 0+ 1LSBIt + 2LJUBt + 3LINFt + 4LIMPORt + et...(3.2)
Keterangan :
KURSt = Nilai kurs
SBIt = Suku bunga SBI
JUBt = Jumlah uang beredar
IMPORt = Nilai impor
Ut = Varian Penganggu
0, 0 = Koefisien Intersep
4
1- = Koefiesien Regresi
4
1- = Koefiesien Regresi
Dari persamaan (3.1) dan (3.2) di atas, selanjutnya akan diterapkan
MWD test. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Melakukan regresi terhadap persamaan (3.1) kemudian kita dapatkan nilai fitted dari KURS dan kita namai dengan KURSF.
2) Melakukan regresi terhadap persamaan (3.2) kemudian kita dapatkan nilai fitted dari LKURS dan kita namai dengan LKURSF.
3) Mencari nilai Z1 dengan cara mengurangkan nilai log dari KURSF
dengan LKURSF.
4) Mencari nilai Z2 dengan cara mengurangkan nilai antilog dari
LKURSF dengan KURSF.
5) Melakukan regresi dengan persamaan (3.1) dengan menambahkan variabel Z1 sebagai variabel penjelas.
KURSt = 0+ 1SBIt + 2KJUBt + 3INFt + 4IMPORt + 5Z1 + Ut...(3.3)
Bila Z1 signifikan secara statistik maka kita menolak model yang benar
adalah linear atau dengan kata lain, bila Z1 signifikan, maka model
commit to user
6) Melakukan regresi dengan persamaan (3.2) dengan menambahkan variabel Z2 sebagai variabel penjelas.
LKURS= 0+ 1 LSBI + 2LJUB + 3LINF + 4LIMPOR + 5Z2 + et...(3.4)
Bila Z2 signifikan secara statistik maka kita menolak model yang benar
adalah log-linear atau dengan kata lain, bila Z2 signifikan maka model
yang benar adalah linear.
b. Metode Regresi Linier Berganda (Ordinary Least Square)
Untuk menguji hipotesis mengenai bagaimana pengaruh suku bunga SBI, jumlah uang beredar, inflasi, dan impor, maka digunakan rumus regresi linier berganda sebagai berikut :
0 1 2 3 4IMPOR +Ui... (1.1)
Dimana :
Y = Nilai kurs SBI = Suku bunga SBI JUB = Jumlah uang beredar INF = Inflasi
IMPOR = Nilai impor
0 = Koefisien Intersep
1 = Koefisien suku bunga SBI
2 = Koefisien jumlah uang beredar
4 = Koefisien impor
i
U
= Varian Penganggu2. Uji statistik a. Uji t
Uji t adalah pengujian koefisien regresi secara individual. Pada dasarnya uji ini untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh masing-masing variabel independen dalam mempengaruhi perubahan variabel dependen, dengan beranggapan variabel independen lain tetap atau konstan. Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut: a) Menentukan Hipotesisnya
i. Ho : b1 = 0
Artinya suatu parameter (b1) sama dengan nol atau variabel independen tersebut bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
ii. Ha : b1 ¹ 0
Artinya suatu parameter (b1) tidak sama dengan nol variabel independen tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
b) Melakukan penghitungan nilai t sebagai berikut:
Nilai t tabel = t 2;N-K... (1.2)
commit to user
N = jumlah sampel (banyaknya observasi) K = banyaknya parameter
Gambar 3.1 Daerah Kritis Uji t.
d) Kesimpulan
i. Apabila nilai –t tabel < t hitung < t tabel, maka Ho diterima. Artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan.
ii. Apabila nilai t h itung > t tabel atau t hitung < - t tabel, maka Ho ditolak. Artinya variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
b. Uji F
pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Dengan derajat keyakinan 95% (a = 5%), derajat kebebasan pembilang (numerator) adalah k-1 dan penyebut (denumerator) adalah n-k.
Langkah-langkah pengujian adalah sebagai berikut: a) Menentukan Hipotesis
i. Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = 0
Artinya semua parameter sama dengan nol atau semua variabel independen tersebut bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
ii. Ha : b1 ¹b2 ¹b3 ¹b4 ¹ 0
Artinya semua parameter tidak sama dengan nol atau semua variabel independen tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
b) Melakukan penghitungan nilai F sebagai berikut:
commit to user
Ho diterima Ho ditolak
F (a; K-1; N-K N = jumlah sampel atau data
K = banyaknya parameter
c) Kriteria pengujian
Gambar 3.2 Daerah Kritis Uji F.
d) Kesimpulan
i. Apabila nilai F hitung < F tabel, maka Ho diterima. Artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan.
ii. Apabila nilai F hitung > F tabel, maka Ho ditolak. Artinya variabel independen secara bersama-sama mampu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
c. Uji koefisien determ inasi (R2)
3. Uji asumsi klasik
Dalam pengujian empirik dengan menggunakan data runtut waktu kepastian tidak ada masalah autokorelasi, adanya homoskedastisitas, dan linearnya bentuk fungsi yang digunakan merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Pengujian asumsi klasik ini merupakan salah satu langkah penting dalam rangka menghindari munculnya regresi linear lancung yang mengakibatkan tidak sahihnya hasil estimasi (Insukindro et al., 2003:189). a. Uji Mu ltikolinearitas
Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana terdapat hubungan yang linier diantara variabel-variabel r2xi,xj = 1, adalah koefisien yang
diestimasi tidak dapat ditentukan dan standar error dari koefisien menjadi sangat besar. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas yaitu membandingkan nilai koefisien korelasi setiap variabel penjelas (r2xi,xj), dengan nilai koefisien determinasi (R2xi,xj,… xn). Apabila nilai
(r2xi,xj) lebih kecil daripada nilai (R2xi,xj,… xn) maka tidak terdapat
masalah multikolinearitas didalam model. b. Uji Heteroskedastisitas