• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT TESIS. Oleh MUSLIM MARPAUNG /EP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT TESIS. Oleh MUSLIM MARPAUNG /EP"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR

AMERIKA SERIKAT

TESIS

Oleh

MUSLIM MARPAUNG 087018056/EP

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2011

SE K O L A H PA

SCA S AR JANA

id8157718 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com

(2)

ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR

AMERIKA SERIKAT

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ekonomi Pembangunan pada

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

MUSLIM MARPAUNG 087018056/EP

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2011

(3)

Judul Tesis : ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS

RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR

AMERIKA SERIKAT Nama Mahasiswa : Muslim Marpaung Nomor Pokok : 087018056

Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Murni Daulay, M.Si) Ketua

(Dr. Rahmanta, M.Si) Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec) (Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)

Tanggal lulus: 10 Februari 2011

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 10 Februari 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Murni Daulay, M.Si Anggota : 1. Dr. Rahmanta, M.Si

2. Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec 3. Dr. Jonni Manurung, M.Si 4. Drs. Rahmat Sumanjaya, M.Si

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan tesis yang berjudul:

“ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA

TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT”.

Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.

Medan, 10 Februari 2011 Yang membuat pernyataan

(Muslim Marpaung)

(6)

ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT

Muslim Marpaung, Dr. Murni Daulay, M.Si dan Dr. Rahmanta, M.Si

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kontribusi inflasi Indonesia, inflasi Amerika, jumlah uang beredar Indonesia, jumlah uang beredar Amerika, GDP Indonesia, GDP Amerika, cadangan devisa Indonesia terhadap Kurs. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari www.bi.go.id dan Bureau of Economic Analysis (BEA). Data yang digunakan adalah data kwartal dalam kurun waktu 1997-2010.

Metode analisis yang dipergunakan adalah metode Vector Autoregression (VAR), dengan terlebih dahulu menggunakan uji unit root dan kointegrasi dan pada akhirnya akan menghasilkan Impulse Response Function (IRF) dan Forecast Error Variance Decomposition (FEVD).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain dari kurs itu sendiri terdapat tiga variabel penelitian yang mempunyai pengaruh besar terhadap kurs. Variabel tersebut adalah cadangan devisa Indonesia, JUB Indonesia dan GDP Indonesia.

Kata Kunci: Kurs, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika, GDP Indonesia, GDP Amerika, Cadangan Devisa Indonesia.

(7)

ANALYSIS PURCHASING POWER PARITY (PPP) INDONESIA RUPIAH EXCHANGE OF UNITED STATES DOLLARS

Muslim Marpaung, Dr. Murni Daulay, M.Si and Dr. Rahmanta, M.Si

ABSTRACT

The purpose of this study was to analyze the contribution of inflation in Indonesia, the U.S. inflation, money supply Indonesia, the U.S. money supply, the GDP of Indonesia, America's GDP, Indonesian’s foreign reserves of the Exchange.

Data used in this research is secondary data obtained from Bank Indonesia and the Bureau of Economic Analysis. The data used are quarterly data in the period 1997- 2010.

The analytical method used is the method of Vector Autoregression (VAR), by first using the unit root and cointegration test and will ultimately result in the Impulse Response Function (IRF) and Forecast error variance decomposition (FEVD).

The results showed that apart from the exchange rate itself, there are three variables that have a major influence on the exchange. These variables are Indonesian’s foreign exchange reserves, JUB Indonesia and Indonesia's GDP.

Keywords: Exchange Rates, Inflation in Indonesia, the U.S. Inflation, Money Supply Indonesia, the U.S. Money Supply, the GDP of Indonesia, America's GDP, Indonesian’s Foreign Reserves.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Penelitian ini merupakan tugas akhir pada Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Judul penelitian yang dilaksanakan penulis adalah “Analisis Paritas Daya Beli (PPP) Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat”.

Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis telah memperoleh banyak bantuan dan dorongan baik moril dan materil serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec., selaku Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Murni Daulay, MSi, sebagai Pembimbing I yang banyak memberikan arahan, bimbingan dan dorongan pemikiran hingga tesis ini dapat selesai.

(9)

5. Alm. Bapak Drs. Iskandar Syarif, MA, sebagai Pembimbing II, yang banyak memberikan arahan, bimbingan dan dorongan pemikiran hingga tesis ini dapat selesai, mudah-mudah Allah memberikan tempat yang sebaik-baiknya.

6. Dr. Rahmanta, M.Si, sebagai Pembimbing II, yang banyak memberikan arahan, bimbingan dan dorongan pemikiran hingga tesis ini dapat selesai.

7. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec, Bapak Dr. Jonni Manurung, M.Si, Bapak Drs. Rahmat Sumanjaya, M.Si, selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan untuk perbaikan tesis ini.

8. Seluruh Staf Pengajar dan Pegawai pada Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang banyak membantu semasa perkuliahan.

9. Semua teman-teman Kelas Paralel XVI yang begitu kompak dan saling perhatian serta membantu sehingga mendorong penulis dapat menyelesaikan perkuliahan.

10. Ayahanda H. Ahmad Marpaung, S.Ag dan Ibunda Asmah Manurung (almh) yang mengasihiku dengan setulus-tulusnya, yang tak pernah berhenti untuk tetap memberikan semangat dan doa dengan penuh kecintaan dan kasih sayang yang berlimpah. Semoga kiranya Allah memberikan surgaNya sebagai balasan bagi kebaikan dan pengorbanan yang telah Ayahanda dan Ibunda lakukan buat ananda. Amin.

11. Irma Suryani Lubis, istriku, Ahdika Hakam Marpaung dan Hira Arham Marpaung anak-anakku. Terima kasih untuk semua doa dan motivasinya.

(10)

Semoga kita semua menjadi hamba yang senantiasa beriman dan pandai bersyukur serta mampu memelihara semua karunia yang telah dilimpahkan Allah SWT, Amin.

12. Keluarga Besar Alm. Machmud Banas Lubis (Mertua) yang telah banyak memberikan dorongan dan kasih sayang kepada kami sekeluarga.

13. Adinda Maulidiyah Marpaung sekeluarga mudah-mudahan menjadi keluarga yang sakinah.

14. Akhirnya semua pihak yang membantu penyusunan tesis ini yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu.

Semoga Allah SWT memberikan rahmad dan hidayahNya kepada semua yang telah membantu dan mendorong penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Amin.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa isi maupun cara penyajian tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini terutama disebabkan terbatasnya pengalaman, pengetahuan, serta waktu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.

Akhirnya penulis berharap kiranya tesis yang sederhana ini dapat bermanfaat untuk semua pihak yang berkepentingan.

Medan, Januari 2011 Penulis

Muslim Marpaung

(11)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Muslim Marpaung

Tempat dan Tanggal Lahir : Kp. Lalang, 26 Juli 1964 Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Status : Menikah

Istri : Irma Suryani Lubis

Anak : Ahdika Hakam Marpaung

Hira Arham Marpaung Nama Orang Tua

Ayah : H. Ahmad Marpaung, S.Ag

Ibu : Asmah Manurung (Almh)

Alamat Rumah : Jalan Deli Sari No. 25 Villa Malina Indah Ringrod Tanjung Sari Medan

Pendidikan

1. Tahun 1971-1976 : SDN Negeri No. 2 Kp. Lalang 2. Tahun 1977-1980 : SMP Negeri 3 Binjai

3. Tahun 1980-1983 : SMA Negeri 1 Binjai 4. Tahun 1983-1988 : Universitas Sumatera Utara

Jurusan Ekonomi Pembangunan

5. Tahun 2009-2011 : Sekolah Pascasarjana Program Studi Ekonomi Pembangunan USU-Medan.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR... ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 10

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1. Pengertian Kurs Valuta Asing ... 13

2.2. Keseimbangan Kurs Mata Uang ... 15

2.3. Manifestasi Berlakunya Hukum Satu Harga ... 16

2.4. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory) ... 17

2.4.1. Versi Absolut ... 18

2.4.2. Versi Relatif ... 19

2.5. Inflasi ... 22

2.5.1. Pengertian Inflasi ... 22

2.5.2. Hubungan Nilai Kurs, Tingkat Harga Relatif (Inflasi), dan Paritas Daya Beli (PPP) ... 27

2.6. Penawaran Uang... 31

2.6.1. Pengertian Penawaran uang ... 31

(13)

2.6.2. Pengaruh Pengenaan Pajak di dalam Negeri terhadap

Jumlah Penawaran Uang ... 34

2.7. Pasar Uang ... 36

2.7.1. Karakteristik Pasar Uang... 37

2.7.2. Partisipan di Pasar Uang ... 39

2.7.3. Pasar Mata Uang Luar Negeri (Mata Uang Asing) ... 40

2.8. Gross Domestic Product ... 41

2.8.1. Tipe-tipe GDP ... 45

2.8.2. Perhitungan GDP ... 46

2.8.2.1. GDP berdasarkan pendekatan pengeluaran. ... 46

2.8.2.2. GDP berdasarkan pendekatan pendapatan. ... 48

2.9. Cadangan Devisa ... 50

2.9.1. Pengertian Cadangan Devisa ... 50

2.9.2. Teori Cadangan Devisa ... 54

2.9.3. Cadangan Devisa dalam Makro Ekonomi... 55

2.9.3.1. Makro ekonomi ... 55

2.9.3.2. Pengaruh perekonomian terbuka terhadap cadangan devisa ... 57

2.10. Penelitian Terdahulu ... 58

2.11. Kerangka Pemikiran ... 63

2.12. Hipotesis Penelitian ... 65

BAB III METODE PENELITIAN ... 67

3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 67

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 67

3.3. Uji Asumsi ... 68

3.3.1. Uji Unit Root Test ... 68

3.3.2. Uji Kointegrasi ... 70

3.4. Model Analisis ... 73

(14)

3.4.1 Vector Autoregression (VAR)... 73

3.4.2 Impulse Response Function (IRF) ... 75

3.4.3 Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) ... 76

3.5. Definisi Operasional... 76

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 78

4.1. Perkembangan Variabel yang Diteliti ... 78

4.1.1. Perkembangan Kurs ... 78

4.1.2. Perkembangan Inflasi Indonesia ... 80

4.1.3. Perkembangan Inflasi Amerika Serikat ... 81

4.1.4. Perkembangan Jumlah Uang Beredar Indonesia ... 83

4.1.5. Perkembangan Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat.... .... 84

4.1.6. Perkembangan Gross Domestic Product Indonesia ... 86

4.1.7. Perkembangan Gross Domestic Product Amerika Serikat ... 87

4.1.8. Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia ... 89

4.2. Hasil Uji Akar-akar Unit dan Derajat Integrasi ... 90

4.3. Uji Kointegrasi ... 93

4.4. Vector Autoregression ... 94

4.5. Impulse Response Function (IRF) ... 104

4.5.1. Impulse Response Function Kurs.... ... 105

4.5.2. Impulse Response Function Inflasi Indonesia ... 107

4.5.3. Impulse Response Function Inflasi Amerika Serikat ... 109

4.5.4. Impulse Response Function Jumlah Uang Beredar Indonesia.... ... 111

4.5.5. Impulse Response Function Jumlah Uang Beredar AS... 113

4.5.6. Impulse Response Function GDP Indonesia ... 115

4.5.7. Impulse Response Function GDP Amerika Serikat ... 117

4.5.8. Impulse Response Function Cadangan Devisa Indonesia ... 119

4.6. Analisis Variance Decomposition ... 121

4.6.1. Analisis Variance Decomposition Kurs ... 122

(15)

4.6.2. Analisis Variance Decomposition Inflasi Indonesia ... 123

4.6.3. Analisis Variance Decomposition Inflasi Amerika Serikat... 125

4.6.4. Analisis Variance Decomposition JUB Indonesia ... 126

4.6.5. Analisis Variance Decomposition JUB Amerika Serikat.... . 128

4.6.6. Analisis Variance Decomposition GDP Indonesia ... 130

4.6.7. Analisis Variance Decomposition GDP Amerika Serikat.... 133

4.6.8. Analisis Variance Decomposition Cadangan Devisa Indonesia ... 134

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 137

5.1. Kesimpulan ... 137

5.2. Saran ... 138

DAFTAR PUSTAKA ... 139

(16)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1. Perkembangan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat

(dalam Rupiah) ... 4

2.1. Sumber Cadangan Devisa Indonesia ... 52

4.1. Perkembangan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika (dalam Rupiah) ... 78

4.2. Perkembangan Inflasi Indonesia (dalam Persen) ... 80

4.3. Perkembangan Inflasi Amerika Serikat (dalam Persen) ... 82

4.4. Perkembangan Jumlah Uang Beredar (JUB) Indonesia (dalam Rp Miliar) ... 83

4.5. Perkembangan Jumlah Uang Beredar (JUB) Amerika Serikat (dalam Juta Dollar)... 85

4.6. Perkembangan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia (dalam Miliar Rupiah)……… 86

4.7. Perkembangan Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat (dalam Juta Dollar) ... 88

4.8. Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia (dalam Juta Dollar).. 89

4.9. Hasil Pengujian Akar-akar Unit dengan Level ... 91

4.10. Hasil Pengujian Akar-akar Unit dengan 1st Difference ... 92

4.11. Hasil Pengujian Akar-akar Unit dengan 2nd Difference ... 92

4.12. Uji Kointegrasi Johansen ... 93

4.13. Nilai AIC dan SIC pada Beberapa Lag ... 94

4.14. Nilai Modulus Seluruh Akar Unit.. ... 95

4.15. Hasil Estimasi VAR dengan Dasar Lag 2 ... 97

4.16. Hasil Analisa VAR .. ... 104

4.17. Impulse Response Function Kurs.. ... 106

4.18. Impulse Response Function Inflasi Indonesia ... 108

4.19. Impulse Response Function INF-AS ... 110

4.20. Impulse Response Function Jumlah Uang Beredar Indonesia ... 112

(17)

4.21. Impulse Response Function JUB AS.. ... 114

4.22. Impulse Response Function GDP Indonesia ... 116

4.23. Impulse Response Function GDP AS.. ... 118

4.24. Impulse Response Function Cadangan Devisa Indonesia ... 120

4.25. Variance Decomposition KURS ... 122

4.26. Variance Decomposition INF-IND ... 124

4.27. Variance Decomposition INF-AS. ... 125

4.28. Variance Decomposition JUB Indonesia ... 128

4.29. Variance Decomposition JUB-AS ... 130

4.30. Variance Decomposition GDP Indonesia ... 132

4.31. Variance Decomposition GDP-AS……….. ... 133

4.32. Variance Decomposition Cadangan Devisa Indonesia ... 136

(18)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1.1. Perkembangan Kurs Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1

Tahun 2010 ... 5 2.1. Kurva Permintaan dan Penawaran Kurs Rp/USD. ... 16 2.3. Peningkatan Penawaran Rupiah ... 35 2.4. Kerangka Berpikir Analisis Paritas Daya Beli (PPP) Rupiah

Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat ... 64 4.1. Perkembangan Kurs Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1

Tahun 2010 ... 79 4.2. Perkembangan Inflasi Indonesia Kuartal 1 tahun 1997 Sampai

dengan Kuartal 1 Tahun 2010 ... 81 4.3. Perkembangan Inflasi AS Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1 Tahun 2010... 82 4.4. Perkembangan JUB Indonesia Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai

Kuartal 1 Tahun 2010... 84 4.5. Perkembangan JUB AS Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1

Tahun 2010 ... 85 4.6. Perkembangan GDP Indonesia Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai

Kuartal 1 Tahun 2010... 87 4.7. Perkembangan GDP AS Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1

Tahun 2010 ... 88 4.8. Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1 Tahun 2010 ... 90 4.9. Nilai Modulus Seluruh Akar Unit ... 96 4.10. Respon Variabel Kurs pada Perubahan Variabel Lain ... 107 4.11. Respon Variabel Inflasi Indonesia pada Perubahan Variabel Lain ... 109 4.12. Respon Variabel Inflasi Amerika Serikat (INF-AS) pada

Perubahan Variabel Lain ... 111 4.13. Respon JUB Indonesia pada Perubahan Variabel Lain... 113 4.14. Respon Variabel JUB Amerika pada Perubahan Variabel Lain ... 115

(19)

4.15. Respon Variabel GDP Indonesia pada Perubahan Variabel Lain ... 117 4.16. Respon Variabel GDP Indonesia pada Perubahan Variabel Lain ... 119 4.17. Respon Variabel CADEV Indonesia pada Perubahan Variabel Lain 121

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Data Variabel ... 141

2. Uji Stasioneritas pada Level... 142

3. Uji Stasioneritas 1st Difference... 143

4. Uji Stasioneritas 2nd Difference ... 147

5. Uji Kointegrasi Johansen ... 148

6. Stabilitas Lag Struktur ... 149

7. Hasil Estimasi VAR ... 150

8. VAR Model ... 152

9. Impulse Response Function... 154

10. Variance Decomposition ... 197

11. Grafik Perkembangan Variabel ... 240

(21)

ANALISIS PARITAS DAYA BELI (PPP) KURS RUPIAH INDONESIA TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT

Muslim Marpaung, Dr. Murni Daulay, M.Si dan Dr. Rahmanta, M.Si

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kontribusi inflasi Indonesia, inflasi Amerika, jumlah uang beredar Indonesia, jumlah uang beredar Amerika, GDP Indonesia, GDP Amerika, cadangan devisa Indonesia terhadap Kurs. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari www.bi.go.id dan Bureau of Economic Analysis (BEA). Data yang digunakan adalah data kwartal dalam kurun waktu 1997-2010.

Metode analisis yang dipergunakan adalah metode Vector Autoregression (VAR), dengan terlebih dahulu menggunakan uji unit root dan kointegrasi dan pada akhirnya akan menghasilkan Impulse Response Function (IRF) dan Forecast Error Variance Decomposition (FEVD).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain dari kurs itu sendiri terdapat tiga variabel penelitian yang mempunyai pengaruh besar terhadap kurs. Variabel tersebut adalah cadangan devisa Indonesia, JUB Indonesia dan GDP Indonesia.

Kata Kunci: Kurs, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika, GDP Indonesia, GDP Amerika, Cadangan Devisa Indonesia.

(22)

ANALYSIS PURCHASING POWER PARITY (PPP) INDONESIA RUPIAH EXCHANGE OF UNITED STATES DOLLARS

Muslim Marpaung, Dr. Murni Daulay, M.Si and Dr. Rahmanta, M.Si

ABSTRACT

The purpose of this study was to analyze the contribution of inflation in Indonesia, the U.S. inflation, money supply Indonesia, the U.S. money supply, the GDP of Indonesia, America's GDP, Indonesian’s foreign reserves of the Exchange.

Data used in this research is secondary data obtained from Bank Indonesia and the Bureau of Economic Analysis. The data used are quarterly data in the period 1997- 2010.

The analytical method used is the method of Vector Autoregression (VAR), by first using the unit root and cointegration test and will ultimately result in the Impulse Response Function (IRF) and Forecast error variance decomposition (FEVD).

The results showed that apart from the exchange rate itself, there are three variables that have a major influence on the exchange. These variables are Indonesian’s foreign exchange reserves, JUB Indonesia and Indonesia's GDP.

Keywords: Exchange Rates, Inflation in Indonesia, the U.S. Inflation, Money Supply Indonesia, the U.S. Money Supply, the GDP of Indonesia, America's GDP, Indonesian’s Foreign Reserves.

(23)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan manusia sangat tidak terbatas sedangkan alat pemenuh kebutuhan tersebut sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap manusia tidak dapat memproduksinya sendiri tetapi memerlukan pihak lain. Salah satu satu aktivitas yang tak pernah lepas dari kegiatan pemenuhan kebutuhan tersebut adalah kegiatan perdagangan. Kegiatan perdagangan merupakan proses pertukaran yang memerlukan alat tukar yang bernama uang. Jika perdagangan dilakukan dalam satu negara tentu saja dapat dilakukan melalui mata uang negara yang bersangkutan, tetapi jika dalam perekonomian terbuka atau perdagangan antar negara tentu saja terdapat dua mata uang yang berbeda. Seandainya ada mata uang tunggal internasional tidak akan ditemukan masalah dalam penetapan harga, namun karena mata uang tersebut belum ada maka terdapat kebutuhan mengkonversikan mata uang yang satu menjadi mata uang yang lain.

Perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara (kurs) pada prinsipnya ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran mata uang tersebut (Levi, 1996).

Kurs merupakan salah satu harga yang lebih penting dalam perekonomian terbuka, karena ditentukan oleh adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar, mengingat pengaruhnya yang besar bagi neraca transaksi berjalan maupun bagi variabel-variabel makro ekonomi lainnya. Kurs dapat dijadikan alat

(24)

untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara. Pertumbuhan nilai mata uang yang stabil menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kondisi ekonomi yang relatif baik atau stabil (Salvator, 1997). Ketidakstabilan nilai tukar ini mempengaruhi arus modal atau investasi dan pedagangan Internasional. Indonesia sebagai negara yang banyak mengimpor bahan baku industri mengalami dampak dari ketidakstabilan kurs ini, yang dapat dilihat dari melonjaknya biaya produksi sehingga menyebabkan harga barang-barang milik Indonesia mengalami peningkatan. Dengan melemahnya rupiah menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah dan dilanda krisis ekonomi dan kepercayaan terhadap mata uang dalam negeri menurun.

Menurut pendekatan perdagangan kurs equilibrium (trade approach) kurs equilibrium adalah kurs yang akan menyeimbangkan nilai ekspor dan impor dari suatu negara. Jika nilai impor negara tersebut lebih besar ketimbang nilai ekspornya (artinya negara yang bersangkutan mengalami defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami peningkatan (artinya mata uangnya mengalami depresiasi atau penurunan nilai tukar), dan hal itu akan berlangsung secara cepat dalam sistem kurs mengambang yang berlaku pada saat ini. Peningkatan kurs (nilai nominalnya) atau penurunan nilai tukar mata uang tersebut akan membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih murah bagi para importir atau pihak asing sedangkan berbagai produk barang dan jasa impor menjadi lebih mahal bagi penduduk domestik. Akibatnya, lambat laun ekspor negara tersebut akan mengalami kenaikan sedangkan impornya akan terus menurun sampai pada akhirnya nilai perdagangan internasionalnya benar-benar seimbang (impor sama dengan ekspor)

(25)

(Salvatore, 1997). Pergerakan ekspor dan impor suatu negara dapat dilihat dari Neraca Perdagangan, jika ekspor barang lebih kecil dari impor maka neraca perdagangan disebut defisit dan sebaliknya jika ekspor barang lebih besar maka neraca perdagangan disebut surplus. Neraca Perdagangan merupakan bagian dari Neraca Pembayaran Internasional suatu negara. Defisit Neraca Pembayaran Internasional berarti penurunan cadangan internasional dan surplus berarti peningkatan cadangan internasional. Pergerakan cadangan internasional bank sentral mempunyai dampak penting terhadap penawaran uang dan nilai tukar uang (Manurung, 2008).

Mishkin (2004) menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar dalam jangka panjang. Pertama adalah tingkat harga domestik. Dalam jangka panjang, peningkatan harga domestik menyebabkan nilai mata uang domestik terdepresiasi, sebaliknya penurunan harga domestik menyebabkan nilai mata uang domestik terapresiasi. Kedua adalah tarif dan kuota.

Dalam jangka panjang, tarif dan kuota menyebabkan nilai uang domestik terapresiasi.

Ketiga adalah produktivitas (tercermin dalam GDP/PDB). Dalam jangka panjang, suatu negara menjadi lebih produktif menyebabkan nilai uang domestik terdepresiasi.

Keempat, preferensi antara barang domestik dan luar negeri; dalam jangka panjang, permintaan yang meningkat terhadap barang-barang domestik (ekspor meningkat) menyebabkan nilai uang domestik terapresiasi, sebaliknya permintaan yang meningkat terhadap barang-barang luar negeri (impor meningkat) menyebabkan nilai uang domestik terdepresiasi.

(26)

Sistem devisa bebas dan ditambah dengan penerapan sistem floating exchange rate di Indonesia sejak tahun 1997, menyebabkan pergerakan nilai tukar di pasar menjadi sangat rentan oleh pengaruh faktor-faktor ekonomi maupun non ekonomi.

Sebagai contoh pertumbuhan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS pada era sebelum krisis melanda Indonesia dan kawasan Asia lainnya masih relatif stabil. Jika dibandingkan dengan masa sebelum krisis, semenjak krisis ini terjadi lonjakan kurs

dolar AS berada diantara Rp.6.700 – Rp.9.530 sedangkan periode 1981-1996 di bawah Rp.2.500 (Bank Indonesia, 2000). Sedangkan data tahun 2010 kurs berada

kisaran Rp. 9.000 – 9.500.

Tabel 1.1. Perkembangan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (dalam Rupiah)

Kuartal Kurs Rp.

Kuartal Kurs Rp.

Kuartal Kurs Rp.

97/1 2419.00 01/3 9675.00 06/1 9075.00 97/2 2450.00 01/4 10400.00 06/2 9300.00 97/3 3275.00 02/1 9655.00 06/3 9235.00 97/4 4650.00 02/2 8730.00 06/4 9020.00 98/1 8325.00 02/3 9015.00 07/1 9118.00 98/2 14900.00 02/4 8940.00 07/2 9054.00 98/3 10700.00 03/1 8908.00 07/3 9137.00 98/4 8025.00 03/2 8285.00 07/4 9419.00 99/1 8685.00 03/3 8389.00 08/1 9217.00 99/2 6726.00 03/4 8465.00 08/2 9225.00 99/3 8386.00 04/1 8587.00 08/3 9378.00 99/4 7100.00 04/2 9415.00 08/4 10950.00 00/1 7590.00 04/3 9170.00 09/1 11575.00 00/2 8735.00 04/4 9290.00 09/2 10225.00 00/3 8780.00 05/1 9480.00 09/3 9681.00 00/4 9595.00 05/2 9713.00 09/4 9400.00 01/1 10400.00 05/3 10310.00 10/1 9115.00 01/2 11440.00 05/4 9830.00

Sumber: www.bi.go.id (2010)

(27)

Sumber: Data diolah dengan Eviews

Gambar 1.1. Perkembangan Kurs Kuartal 1 Tahun 1997 Sampai Kuartal 1 Tahun 2010

Dua hal yang paling menonjol sebagai akibat dari pengaruh krisis ekonomi yang melanda negara kita adalah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang sangat fluktuatif dan laju inflasi yang harus dikendalikan oleh otoritas moneter maupun pemerintah. Pencapaian nilai tukar yang kompetitif dan laju inflasi yang terkendali disadari sangat diperlukan untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi kegiatan ekonomi dalam negeri. Dalam Undang-Undang No. 3, Tahun 2004, dua hal ini ditetapkan sebagai tujuan Bank Indonesia. Namun, karena nilai tukar dalam sistem nilai tukar mengambang bebas lebih ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar maka pemerintah melalui Bank Indonesia menetapkan laju inflasi yang rendah dan terkendali sebagai suatu sasaran akhir.

Rp.

(28)

Dalam hubungannya dengan nilai tukar, tingkat inflasi yang tinggi di suatu negara akan menyebabkan harga barang-barang produksi dalam negeri menjadi lebih mahal, sehingga barang-barang tersebut kurang kompetitif di pasar internasional.

Dengan tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dari luar negeri maka akan lebih menguntungkan untuk mengimpor barang dari luar negeri yang lebih murah.

Sementara itu, jika dilihat dalam perspektif pendekatan moneter, tingkat inflasi yang tinggi juga diikuti oleh pertumbuhan jumlah uang beredar yang tinggi akibat diperlukannya lebih banyak uang untuk kepentingan transaksi. Pertumbuhan jumlah uang beredar yang berlebihan. Ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam pasar uang dan memicu depresiasi nilai tukar. Jadi, secara singkat dapat dikatakan bahwa perbedaan tingkat inflasi antar negara dapat mempengaruhi nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang asing.

Memahami perilaku nilai tukar tidak saja penting bagi para spekulan valuta asing atau peminat keuangan internasional, tetapi juga merupakan indikator kuat tidaknya (soundness) fundamental makro ekonomi. Nilai tukar, sebagaimana halnya tingkat harga agregat (atau inflasi), suku bunga, dan indeks harga saham, adalah ibarat permukaan gunung es (iceberg) yang mencerminkan kokoh tidaknya fundamental makro ekonomi. Rupiah Indonesia adalah mata uang yang paling besar gejolaknya (volatile) di Asia Tenggara selama krisis (Nor, et.al, 2000).

Salah satu teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat harga atau inflasi dengan pergerakan nilai tukar adalah teori paritas daya beli atau Purchasing Power Parity Theory (PPP). Teori paritas daya beli ini merupakan salah satu teori yang

(29)

paling sering diuji validitasnya. Dalam teori paritas daya beli ini dikatakan bahwa

nilai tukar antara dua negara seharusnya sama dengan rasio dari tingkat harga di kedua negara tersebut. Sehingga jatuhnya daya beli domestik pada suatu mata uang

(meningkatnya tingkat harga domestik atau meningkatnya inflasi) akan diikuti oleh depresiasi pada mata uang negara tersebut di pasar uang luar negeri. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya yaitu daya beli domestik mengalami kenaikan (tingkat inflasi turun/terjadi deflasi) maka akan diikuti pula oleh apresiasi pada mata uangnya.

Teori PPP ini terbagi menjadi dua yaitu versi absolut dan versi relatif. Teori PPP versi absolut sering dikaitkan dengan teori Law of One Price walaupun sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Teori Law of One Price lebih diterapkan pada satu jenis barang saja sedangkan teori PPP diterapkan pada tingkat harga secara keseluruhan yaitu dengan menggunakan sekeranjang barang dan jasa. Sementara versi relatif dari teori PPP muncul karena banyaknya kelemahan dalam versi absolut yaitu berupa asumsi-asumsi yang tidak realistis yaitu tidak adanya biaya transportasi dan bebas dari hambatan perdagangan. Dalam kenyataannya, biaya transportasi maupun hambatan perdagangan tidaklah dapat diabaikan. Dalam versi relatifnya, teori PPP mengubah pernyataan tingkat harga dan tingkat kurs keseimbangan menjadi

"perubahan harga" dan "perubahan" kurs keseimbangan (Salvatore, 1997).

Dalam penelitian ini, penulis mencoba meneliti dengan judul: “Analisis Paritas Daya Beli Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat”.

(30)

1.2. Perumusan Masalah

Kestabilan nilai kurs bagi suatu negara tentu saja sangat penting. Untuk itu perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi nilai kurs rupiah terhadap dollar dengan pendekatan Paritas Daya Beli.

Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat sebelumnya, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia berkontribusi terhadap Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat.

2. Apakah Inflasi Indonesia sebelumnya, Inflasi Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat berkontribusi terhadap Inflasi Indonesia.

3. Apakah Inflasi Amerika Serikat sebelumnya, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Inflasi Indonesia, berkontribusi terhadap Inflasi Amerika Serikat.

(31)

4. Apakah Jumlah Uang Beredar Indonesia sebelumnya, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat berkontribusi terhadap Jumlah Uang Beredar Indonesia.

5. Apakah Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat sebelumnya, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat berkontribusi terhadap Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat.

6. Apakah Gross Domestic Product Indonesia sebelumnya, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat berkontribusi terhadap Jumlah Gross Domestic Product Indonesia.

7. Apakah Gross Domestic Product Amerika Serikat sebelumnya, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia berkontribusi terhadap Jumlah Gross Domestic Product Amerika Serikat.

8. Apakah Cadangan Devisa Indonesia sebelumnya, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi

(32)

Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat berkontribusi terhadap Jumlah Cadangan Devisa Indonesia.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:

1. Kontribusi Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat sebelumnya, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia terhadap Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat.

2. Kontribusi Inflasi Indonesia sebelumnya, Inflasi Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat terhadap Inflasi Indonesia.

3. Kontribusi Inflasi Amerika Serikat sebelumnya, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Inflasi Indonesia, terhadap Inflasi Amerika Serikat.

(33)

4. Kontribusi Jumlah Uang Beredar Indonesia sebelumnya, Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat terhadap Jumlah Uang Beredar Indonesia.

5. Kontribusi Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat sebelumnya, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat terhadap Jumlah Uang Beredar Amerika Serikat.

6. Kontribusi Gross Domestic Product Indonesia sebelumnya, Gross Domestic Product Amerika Serikat, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat terhadap Jumlah Gross Domestic Product Indonesia.

7. Kontribusi Gross Domestic Product Amerika Serikat sebelumnya, Cadangan Devisa Indonesia, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia terhadap Jumlah Gross Domestic Product Amerika Serikat.

8. Kontribusi Cadangan Devisa Indonesia sebelumnya, Kurs Rupiah Indonesia terhadap Dollar Amerika Serikat, Jumlah Uang Beredar Indonesia, Inflasi

(34)

Indonesia, Inflasi Amerika Serikat, Gross Domestic Product Indonesia, Gross Domestic Product Amerika Serikat terhadap Jumlah Cadangan Devisa Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Sedangkan hasil penelitian ini diharapkan dapat

1. Memberikan masukan dan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukan perkembangan nilai kurs Rupiah terhadap dollar AS.

2. Menambah wawasan bagi penulis, mahasiswa agar berfikir secara ilmiah pada bidang Ekonomi Moneter dan Ekonomi Internasional khususnya nilai kurs.

3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lainnya untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan nilai kurs.

(35)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Kurs Valuta Asing

Pertukaran suatu mata uang dengan mata uang lainnya disebut transaksi valas, foreign exchange transaction (Kuncoro, 1996). Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya disebut kurs atau nilai tukar mata uang/exchange rate (Salvatore, 1997).

Kurs valuta asing juga dapat didefinisikan sebagai harga mata uang suatu negara dalam suatu negara dalam unit komoditas (seperti mata uang dapat diartikan sebagai perbandingan nilai mata uang. Kurs menunjukkan harga suatu mata uang, jika dipertukarkan dengan mata uang lain. Sebagai contoh, nilai kurs Rp/USD sebesar 8000, berarti bahwa untuk membeli 1 USD diperlukan Rp.8000 (Yulianti dan Prasetyo, 1998).

Penurunan kurs antara Rupiah dan USD (misalnya, dari Rp.8000/USD menjadi Rp.9000/USD) berarti Dollar menjadi lebih mahal dalam nilai Rupiah. Ini mencerminkan bahwa nilai Dollar naik karena jumlah Rupiah yang diperlukan untuk membeli Dollar meningkat. Dengan kata lain, Dollar mengalami apresiasi terhadap Rupiah. Dari sisi lain, Rupiah menjadi lebih murah dinilai dalam Dollar, artinya Rupiah mengalami depresiasi terhadap Dollar. Untuk menghindari kebingungan, harus diingat bahwa kurs antara mata uang domestik dan mata uang asing diartikan sebagai jumlah mata uang domestik yang diperlukan untuk membeli mata uang asing.

Bila kurs meningkat berarti mata uang domestik mengalami depresiasi dan mata uang

(36)

asing mengalami apresiasi. Sebaliknya penurunan kurs mencerminkan terjadinya apresiasi mata uang domestik dan depresiasi mata uang asing (Kuncoro, 1996).

Kebijakan kurs tukar di mana pemerintah suatu negara mengatur nilai tukar mata uangnya, maka diklasifikasikan sebagai kurs tetap (fixed exchange rate).

Sedangkan jika besarnya nilai kurs tukar diserahkan kepada mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah, diklasifikasikan sebagai sebagai sistem kurs mengambang, floating exchange rate (Yuliati dan Prasetyo, 1998).

Suatu mata uang dikatakan konvertibel (convertible currency) apabila mata uang tersebut bisa dipertukarkan secara bebas dengan mata uang negara lain. Tidak adanya mata uang yang konvertibel akan menyulitkan perdagangan antar negara, karena masing-masing tidak akan mau menerima mata uang mitra dagangnya. Dalam keadaan seperti ini yang terjadi adalah perdagangan barter, yaitu menukar barang secara langsung, tetapi jika mata uang semua negara konvertibel maka perdagangan multinasional yang terjadi akan lebih efektif (Yuliati dan Prasetyo, 1998).

Konvertibilitas penuh dari suatu mata uang yang dihambat, akan memunculkan pasar gelap (black market) dan beroperasi di luar kontrol pemerintah. Pada dasarnya pasar gelap adalah suatu pasar bebas yang berdampingan dengan pasar resmi dan menawarkan konversi penuh dalam mata uang lokal kendati ditambah premi yang cukup substansial di atas tarif resmi (Kuncoro, 1996).

(37)

2.2. Keseimbangan Kurs Mata Uang

Kurs mata uang dapat diibaratkan sebagai harga dari mata uang itu. Sama seperti harga produk, harga suatu mata uang juga ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Kurs terbentuk pada saat jumlah dan harga mata uang yang diminta sama dengan jumlah dan harga mata uang yang ditawarkan. Kondisi ini tersebut sebagai kondisi keseimbangan atau ekuilibrium (Yuliati dan Prastyo, 1998).

Kondisi keseimbangan dapat berubah setiap saat, jika faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan/atau penawaran berubah. Permintaan terhadap suatu mata uang terbalik dengan harganya. Semakin tinggi nilai USD (misalnya terhadap Rupiah), maka keinginan untuk menukarkan Rupiah dengan USD akan semakin berkurang, dan begitu pula sebaliknya (Yuliati dan Prastyo, 1998).

Penawaran terhadap USD berbanding lurus dengan USD tersebut. Sebagai contoh ilustrasi, apabila USD terapresiasi Rupiah (berarti USD semakin mahal), maka harga produk-produk yang diimpor dari Indonesia menjadi lebih murah (di mata konsumen di Amerika Serikat). Konsumen di Amerika Serikat lebih suka membeli produk Indonesia karena lebih murah. Akibatnya penawaran USD akan meningkat (Yuliati dan Prastyo, 1998).

(38)

Nilai US $ relatif Terhadap Rupiah RP 10.000 Rp 9.000 Rp 8.000

Sumber: Yulianti dan Prasetyo, 1998

Gambar 2.1. Kurva Permintaan dan Penawaran Kurs Rp/US $

Kondisi keseimbangan terjadi saat garis permintaan dan penawaran berpotongan. Titik keseimbangan (titik E) pada perpotongan kedua garis tersebut menunjukkan persamaan jumlah dan harga mata uang yang diminta dan ditawarkan.

Pada titik keseimbangan itulah tercipta kurs suatu mata uang.

2.3. Manifestasi Berlakunya Hukum Satu Harga

Hukum satu harga menjelaskan hubungan antara kurs tukar dan harga komoditas. Hukum ini menyatakan bahwa komoditas yang sama akan memiliki harga yang (relatif) sama pula, meskipun dijual di tempat yang berbeda. Adanya perbedaan harga komoditas akan menciptakan peluang untuk melakukan arbitrase. Arbitrase dilakukan dengan membeli komoditas di tempat yang lebih murah dan menjualnya di tempat yang lebih mahal. Adanya arbitrase pada akhirnya akan menaikkan harga komoditas di tempat yang lebih murah dan menurunkan harga di tempat yang lebih mahal. Pada akhirnya, harga-harga di berbagai tempat akan relatif sama. Setiap

D

S

D S

E

(39)

perbedaan harga komoditas hanya disebabkan oleh adanya biaya transportasi, proteksi, dan biaya biaya transaksi lainnya (Yulianti dan Prasetyo, 1998).

Dua pasar dalam unit mata uang yang berbeda, tetapi harga produk yang sama pada barang dalam unit mata uang yang berbeda dan kedua pasar yang berbeda tersebut akan sama. Dengan kata lain, unit mata uang domestik setiap negara akan mempunyai daya beli yang sama. Karena itu juga satu Dollar dapat dipakai untuk membeli satu bungkus roti di Amerika Serikat, maka satu Dollar tersebut harus dapat dipakai untuk membeli satu bungkus roti yang sama di Indonesia. Berdasarkan peristiwa tersebut, valuta asing akan berubah berdasarkan perbedaan inflasi domestik dan luar negeri. Hubungan ini dikenal dengan istilah Purcahsing Power Parity (PPP).

Salah satu contoh penggunaan hukum satu harga adalah ‘hamburger standard’ yang digunakan oleh Big Mac. Sebagai contoh, harga Big Mac di Thailand bath 48, dan harga Big Mac yang sama di Amerika Serikat adalah 2,3 USD. Kondisi ini menunjukkan kurs paratis daya beli besar.

Bath 48/2,3 USD = bath 20,87/USD

Jika kurs bath terhdap USD yang terjadi adalah bath 25,3/USD (lebih besar dari kurs paratis daya beli), maka bath Thailand mengalami undervalued (Yuliati dan Prasetyo, 1996).

(40)

2.4. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory)

Gagasan dasar teori PPP lahir dari tulisan-tulisan para ekonom Inggris di abad ke 19, antara lain David Ricardo (penemu teori keuntungan komparatif). Gustav Cassel, seorang ekonom Swedia yang aktif di awal abad 20, mempopulerkan PPP dengan menjadikannya sebagai intisari dari suatu teori kurs. PPP menyatakan bahwa semua tingkat harga dari seluruh negara sama besarnya bila diukur dalam satuan mata uang yang sama. Penjelasan teori PPP ini erat kaitannya dengan dalil satu harga (Law of One Price), yang menyatakan bahwa dalam pasar kompetitif yang bebas dari biaya transportasi dan hambatan-hambatan resmi perdagangan (misalnya tarif), barang barang yang identik (sama jenisnya) pasti dijual di berbagai negara dengan harga yang sama (apabila harganya dinyatakan dalam satuan mata uang yang sama). Dalil satu harga dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

P

i Rp=(E

Rp/$)x(Pi

$) ...(1) Diumpamakan Pi

Rp adalah harga Rupiah barang i, bila dijual di Indonesia, dan Pi

$

adalah harga Dollar barang yang sama bila dijual di Amerika Serikat. Berdasarkan rumus di atas maka kurs Rp/$ merupakan nisbah hasil harga mata uang Indonesia dan uang Amerika atas barang i adalah:

ERp/$=P

i Rp/P

i

$ ...(2) Teori PPP ini dapat dibedakan menjadi dua versi yaitu: absolut dan relatif.

(41)

2.4.1. Versi Absolut

Untuk menyatakan PPP absolut, misalnya Pi

Rp adalah harga Rupiah dari serangkaian komoditi yang dijual di Indonesia dan Pi

$ adalah harga Dollar dari serangkaian komoditi yang dijual di Amerika. Maka PPP memprediksikan kurs Rp/$

senilai:

ERp/$ = Pi

Rp/Pi

$

atau Pi

Rp = (E

Rp/$ ) x (Pi

$ )

Sisi kiri persamaan itu melambangkan harga Rupiah komoditi di lndonesia, sedangkan sisi kanan adalah harga Dollar komoditi yang sama di Amerika (yaitu hasil kali perkalian antara harga Dollar dari komoditi yang bersangkutan dan harga Rupiah dari Amerika).

Sisi kanan persamaan di atas mengukur daya beli setiap unit Rupiah terhadap Dollar maupun terhadap barang-barang yang dijual di Amerika. Dengan demikian PPP absolut rnenyatakan bahwa pada kurs yang tengah berlaku daya beli domestik terhadap setiap mata uang selalu sama dengan daya beli mata uang negara lain.

2.4.2. Versi Relatif

PPP relatif menyatakan bahwa perubahan persentase dalam kurs antara dua mata uang selama periode tertentu sama dengan selisih antara persentase perubahan atas tingkat harga berbagai negara. Dengan kalimat lain, PPP relatif menerangkan

(42)

bahwa harga-harga dan kurs mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga nisbah daya beli domestik dan luar negeri dari setiap negara tetap bertahan. Rumusan PPP relatif antara Indonesia dan Amerika dapat dinyatakan sebagai berikut:

(ERp/$ - E

Rp/$ t-1)/E

Rp/$ t-1 = ðRp - ð$, atau (ERp/$ - E

Rp/$ t-1) = (P

Rp/P

Rp t-1)/(P

$/P

$ t-1)

ðt menunjukkan tingkat inflasi (nilainya sama dengan perubahan persentase suatu tingkat harga dalam periode antara t dan (t-1), secara simbolis dapat dirumuskan bahwa:

ð = (PRp/P

Rp t-1)/(P

$/P

$ t-1)

PPP relatif ini penting karena ia dapat diterapkan sementara PPP absolut tidak asalkan faktor-faktor penyebab deviasi PPP absolut dari waktu ke waktu cukup stabil, perubahan-perubahan persentase tingkat-tingkat harga relatif rnasih dapat memperkirakan perubahan persentase kurs. Selain itu, bentuk relatif teori paritas daya beli ini merupakan versi alternatif yang memperhitungkan kemungkinan ketidak- sempurnaan pasar seperti biaya transportasi, tarif, dan kuota, sehingga produk yang sama di negara yang berbeda tidak perlu menjadi sama bila diukur dengan mata uang yang sama. Dengan demikian, versi ini menyatakan bahwa tingkat perubahan dalam harga-harga produk seharusnya agak sama bila diukur dengan mata uang yang sama (Madura, 2000).

Madura (2000) mengatakan bahwa: “Country with high inflation rates have depreciating currencies, and over the long run, the rate of depreciation of the

(43)

exchange rate is approximately equal to the differential in national inflation rates”.

Perubahan kurs valuta asing menurut versi relatif ini juga dapat diformulasikan sebagai berikut:

) 1 1 (

) 1

(  

If

Ef Ih

E

f

= l

h

- I

f

Di mana:

Ef = persentase (%) perubahan kurs Ih = tingkat inflasi domestik If = tingkat inflasi luar negeri

Sehingga dari persamaan di atas, jika tingkat inflasi domestik (Ih) lebih besar daripada tingkat inflasi luar negeri (If) maka Ef akan positif atau dengan kata lain kurs valuta asing meningkat (mata uang domestik mengalami depresiasi). Bila tingkat inflasi domestik (Ih) lebih kecil dari tingkat inflasi luar negeri (If) maka Ef akan negatif atau dengan kata lain kurs valuta asing menurun (mata uang domestik mengalami apresiasi). Perkiraan akan apresiasi mata uang luar negeri (Dollar AS) terhadap mata uang domestik (Rupiah Indonesia) dapat pula dipersingkat dengan cara menghitung selisih tingkat inflasi antara Indonesia dan Amerika dengan menggunakan rumus: Ef= Ih – If

Berdasarkan semua pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menurut teori paritas daya beli, kurs antara dua mata uang akan berubah sebagai reaksi terhadap perbedaan inflasi antara dua negara. Akibatnya, daya beli mata uang

(44)

tersebut akan sama. Kurs valuta asing akan cenderung bergerak menuju rasio daya beli antara dua mata uang dalam jangka panjang.

Menurut Lindert dan Kindleberger (1988), dalam jangka panjang dapat diperkirakan bahwa ada hubungan antara tingkat harga dan nilai tukar yang didukung

oleh kenyataan bahwa barang-barang dan jasa dapat dibeli di suatu negara atau di negara lainnya sehingga hipotesis PPP lebih relevan jika diaplikasikan untuk

mengamati pergerakan atau fluktuasi nilai tukar dalam jangka panjang daripada jangka pendek. Untuk menunjukkan terjadinya konflik antara stabilisasi harga dalam negeri dengan stabilisasi nilai tukar, PPP merupakan suatu temuan yang sangat berharga.

2.5. Inflasi

2.5.1. Pengertian Inflasi

Salah satu fenomena moneter yang sangat penting dan yang sering dijumpai di hampir semua negara di dunia adalah inflasi, secara ringkas definisi inflasi adalah kecenderungan dari meningkatnya harga-harga yang terus menerus (Budiono, 1985).

Adapun pengertian inflasi adalah suatu proses ketidakseimbangan yang dinamis yaitu, tingkat harga yang terus-menerus mengalami kenaikan selama periode tertentu (Nasution, 1997).

Pakar ekonomi Milton Friedman menyatakan bahwa inflasi merupakan bagian dari ekonomi moneter, seperti dijelaskannya dalam tulisan bahwa “inflasi selalu dan di manapun merupakan fenomena moneter” (Mankiw, 2000).

(45)

Inflasi merupakan suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum secara terus-menerus sepanjang waktu (Venieris dan Sebold; 1978 dalam Nanga.

2001). Berhubungan dengan pengertian inflasi ini, mereka membedakan tingkat inflasi dan indeks harga. Tingkat inflasi adalah persentase perubahan di dalam tingkat harga, sedangkan indeks harga itu sendiri adalah mengukur biaya dari sekelompok barang tertentu sebagai persentasi dari kelompok yang sama pada periode awal.

Secara umum, dikenal ada tiga indeks harga (Nanga, 2001), yaitu:

1. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index atau CPI)

Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah suatu indeks harga yang mengukur biaya sekelompok barang-barang dan jasa di pasar.

2. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index atau PPI)

Indeks Harga produsen (IHP) adalah suatu indeks dari harga bahan-bahan baku (raw material), produk antara (intermediate products), dan peralatan modal dan mesin yang dibeli oleh sektor bisnis atau perusahaan.

3. GNP Deflator

GNP deflator adalah suatu indeks yang merupakan perbandingan antara GNP nominal dan GNP riil dikaitkan dengan 100. GNP riil adalah nilai barang- barang dan jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian, yang diperoleh ketika output dinilai dengan menggunakan harga tahun dasar. Oleh karena itu, GNP riil juga sering disebut GNP berdasarkan tahun dasar, sedangkan GNP nominal adalah GNP yang dihitung berdasarkan harga pasar yang berlaku.

(46)

Analisis ekonomi dan kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun 1970-an dapat dibedakan menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris, (Prawirohardjo, 1988). Meskipun demikian dalam beberapa literatur juga disebutkan versi yang berbeda, di mana aliran inflasi dibagi menjadi; Klasik, Keynesian, Monetaris, dan Ekspektasi.

Teori Inflasi Klasik berpendapat bahwa tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai mata uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, Inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi (Gilarso, 1986). Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut:

Inflasi = f (Jumlah uang beredar, Kredit)

b ay r y r P L

M  ( ,, )

y b r a P

M ln ln ln

ln    

lnPlnMalnrblny

Teori Klasik mengenai inflasi dapat dianalisis dalam kerangka teoritis kuantitas uang dengan menggunakan persamaan pertukaran (aquation of exchange), MV = PY. Kaum Klasik mengasumsikan bahwa perekonomian berada dalam tingkat kesempatan kerja penuh (full employment), yang berarti variabel Y dalam persamaan pertukaran adalah tetap. Selain itu, kaum klasik juga mengasumsikan variabel V

(47)

adalah konstan. Dengan asumsi V dan Y yang tetap, maka kaum Klasik lebih jauh mengatakan bahwa kenaikan di dalam jumlah uang beredar (Ms) akan menyebabkan perubahan yang proposional dalam variabel tingkat harga (P). Dengan demikian penyebab timbulnya inflasi atau kenaikan harga menurut kaum Klasik adalah karena kenaikan atau pertumbuhan jumlah uang beredar. Dengan kata lain, inflasi menurut mereka gejala atau fenomena moneter.

Hal yang serupa juga dikemukakan oleh kaum Monetaris yang mengklaim inflasi itu sebagai fenomena moneter dan bahkan variabel kecepatan perputaran uang (V) itu adalah stabil dan konstant. Tetapi kaum monetaris berbeda dengan kaum Klasik di mana mereka mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar (Ms) tersebut juga berpengaruh terhadap output dan kesempatan kerja. Jadi tidak berpengaruh terhadap tingkat harga (P) sebagaimana dikemukakan oleh kaum Klasik (Nanga, 2001).

Teori inflasi Keynes menyatakan bahwa kecepatan perputaran uang (V), merupakan sesuatu yang bersifat dapat berubah-ubah. Hal ini berbeda dengan kaum Klasik dan Monetaris yang menyatakan konstan. Karena V dapat berubah-ubah, maka apabila terjadi kenaikan jumlah uang yang beredar (Ms) tidak akan menyebabkan perubahan di dalam tingkat harga (P). Penekanan Keynes variabilitas output dan jangka pendek juga memberi kontribusi terhadap pandangan bahwa inflasi bukanlah murni sebagai fenomena moneter.

Berbeda dengan kaum Klasik yang mengasumsikan perekonomian selalu dalam kondisi full employment. Keynes sebaliknya mengatakan bahwa pengangguran

(48)

dapat saja terjadi pada jangka panjang. Dengan adanya pengangguran, maka kenaikan dalam jumlah uang yang beredar (Ms) kecuali dalam kasus ekstrim akan menyebabkan tingkat harga maupun tingkat output mengalami kenaikan. Dengan kenaikan output tersebut, kenaikan tingkat harga akan menjadi lebih kecil dari kenaikan di dalam jumlah uang beredar, meskipun kecepatan perputaran uang beredar itu konstan.

Di dalam model Keynesian, jumlah uang yang beredar (Ms) hanyalah salah satu faktor penentu tingkat harga. Namun di dalam jangka pendek, terdapat banyak faktor lain menurut Keynesian yang mempengaruhi tingkat harga seperti pengeluaran konsumsi rumah tangga (C), pengeluaran pemerintah (G), pengeluaran investasi (I), dan pajak (T) menurut Edgman (1987).

Seperti halnya dengan kaum Klasik dan Monetaris, para ahli ekonomi Keynesian kontemporer percaya bahwa inflasi merupakan fenomena moneter sehingga mereka menempatkan pengurangan laju pertumbuhan jumlah uang beredar sebagai salah satu cara untuk mengurangi tingkat inflasi.

Teori ekspektasi, menurut Dornbusch (1994) bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Aliran Ekspektasi Rasional (Rational Expectation atau Ratex) adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah satu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada, artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi:

(49)

Inflasi = f (ekspektasi rational)

Inflasi sendiri didefinisikan sebagai kondisi apabila tingkat harga-harga dan biaya-biaya umum naik, harga bahan bakar minyak, dan sebagainya. Kebalikannya, adalah deflasi di mana harga-harga dan biaya-biaya secara umum menurun (Samuelson, 1989).

Sedangkan Lerner (Gunawan, 1991) mendefinisikan inflasi sebagai suatu keadaan di mana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang- barang dalam perekonomian, secara keseluruhan dan terus-menerus. Kelebihan permintaan tersebut dapat diartikan ganda yaitu, pengeluaran yang diharapkan terlalu banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, atau barang-barang yang tersedia terlalu sedikit bila dibandingkan dengan tingkat pengeluaran yang diharapkan.

Aliran Ekspektasi Rasional (Rational Expectation atau Ratex) juga memandang inflasi sebagai fenomena moneter. Namun mereka juga percaya bahwa perubahan yang bersifat antisipasi di dalam jumlah uang beredar hanya akan membawa dampak terhadap tingkat harga (P), dan tidak mempunyai pengaruh terhadap output (Y) dan kesempatan kerja. Pandangan kaum Ratex tentang inflasi, nampaknya lebih dekat dengan pandangan kaum Klasik daripada kaum Monetaris dan Keynesian. Karena teori Ratex percaya bahwa inflasi merupakan fenomena moneter, maka mereka juga mengatakan bahwa jumlah uang beredar merupakan kunci untuk mencapai stabilitas harga (Nanga, 2001).

(50)

2.5.2. Hubungan Nilai Kurs, Tingkat Harga Relatif (Inflasi), dan Paritas Daya Beli (PPP)

Negara-negara dengan inflasi tinggi tidak dapat menetapkan nilai mata uang karena kerugian pada persaingan eksternal (external competitiveness) yang akan membawa kepada satu defisit-defisit eksternal eksesif (excessive external deficits) dan pengangguran besar (large unemployment). Jika kurs berfluktuasi dibiarkan secara bebas, ini juga dapat dianggap tidak stabil, jawaban kebijakan yang selalu

digunakan dalam memperbaiki pengaruh disparitas daya beli seperti disebutkan di atas adalah satu crawling peg (sandaran tetap). Pada satu sistem crawling peg,

depresiasi nilai kurs mengikut satu garis edar PPP hingga nilai kurs pertukaran konstan selamanya (lihat Williamson, 1965, 1982). Kebijakan tersebut adalah instrumen yang dapat bersaing jika dibandingkan dengan menggunakan instrumen lain yang ditujukan untuk satu devaluasi bertahap, namun bukan merupakan kebijakan yang tanpa mempunyai resiko, yakni karena dua alasan. Pertama, penetapan nilai mata uang mungkin menjadi satu kebijakan yang buruk ketika gangguan-gangguan menyebabkan depresiasi. Kedua, terdapat satu trade off/tukar ganti diantara stabilitas nilai kurs pertukaran dengan kestabilan harga. Satu kebijakan yang diakomodasikan untuk memperbaiki gangguan biaya (cost disturbance) dan gangguan harga (price disturbance) dengan satu instrumen untuk mengimbangi depresiasi mungkin dapat mengeser kestabilan harga (Dornbusch, 1982).

Isu-isu paritas daya beli juga termasuk pada pembahasan kebijakan nilai mata uang ketika satu negara berusaha memperoleh manfaat dan keuntungan-keuntungan

(51)

makroekonomi dengan melaksanakan satu kebijakan yang ditujukan untuk mengeluarkan nilai mata uang dari PPP. Perhatikan uraian berikut: Satu depresiasi menggambarkan tanggapan untuk mendapatkan keuntungan persaingan internasional dan mengalihkan atau menggerakkan tingkat pekerjaan ke negara yang mengalami depresiasi itu. Pada dekade 1930an, ia dikenal dengan satu istilah kebijakan “beggar- thy-neighbour”, dan pasca PD II, ia menjadi “export-led growth”. Sebaliknya, satu kebijakan apresiasi, memperlihatkan cara-cara untuk mengurangkan tekanan-tekanan inflasi ketika tingkat kenaikan harga barang dagangan (industri) sengaja didorong di bawah tingkat inflasi yang berlaku.

Pengaruh disparitas daya beli tersebut dapat dilihat melalui dana segar (easy money), pada jangka pendek dan menengah. Digunakan untuk mendepresiasikan nilai kurs mata uang dan oleh karena itu, dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Kebijaksanaan ini lebih efektif dan lebih tahan lama; semakin kaku (sticky) terhadap upah dan semakin kecil hubungan antara upah, harga, dan kurs pertukaran.

Sebaliknya, dalam satu ekonomi yang kuat dan khususnya, dengan mengandaikan wujudnya pengaruh nilai kurs pertukaran pada indeksasi satu cobaan untuk memberi peluang pekerjaan melalui dana segar akan gagal karena depresiasi pertukaran mempercepat neraca upah dan inflasi harga.

Deviasi PPP juga telah digunakan sebagai satu disinflation policy (Fisher, 1984). Penetapan nilai mata uang atau kurs pra umum depresiasi (preannounced rates of depreciation) di bawah tingkat inflasi yang berlaku telah diberlakukan di beberapa

Referensi

Dokumen terkait

(4) Bagan Susunan Organisasi Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Perempuan dan Keluarga Berencana sebagaimana tercantum dalam Lampiran IVB yang

People simply don’t seem to think that you can get a muscle relaxant, even a simple one, without having a prescription in hand.. This may be linked to marketing and distribution,

Sehingga berdasarkan hasil tanggapan responden pegawai dan masyarakat melalui kuisioner, hasil wawancara dengan Camat Kapur IX, dan hasil observasi peneliti

Berganti judul dengan desain penelitian yang serupa , sehingga judul menjadi HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III. DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT

Materi pembelajaran matematika pada satuan pendidikan Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB) dalam kurikulum (2013) diantaranya adalah mengenal bangun datar

Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara program latihan dan fungsi paru atlet renang yakni pada kapasitas vital (KV), kapasitas

060.01.01 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Polri 3072 Pelayanan Kesehatan Polri. 521119 Belanja Barang Operasional Lainnya(RM) Catatan ALOKASI

Dalam penelitian ini terdapat teori-teori yang digunakan seperti Business Process Modeling Notation (BPMN), Object Oriented Analysis and Design (OOAD), Consistency