• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN INTERIOR MUSEUM FILM INDONESIA DI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DESAIN INTERIOR MUSEUM FILM INDONESIA DI JAKARTA"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

DESAIN INTERIOR

MUSEUM FILM INDONESIA

DI JAKARTA

(Dengan Pendekatan Tema Kontemporer)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan

Guna Melengkapi Gelar Sarjana Seni Jurusan Desain Interior

Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh :

DINA KRISTIYANI

C0808019

JURUSAN DESAIN INTERIOR

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Tugas Akhir ini kupersembahkan kepada :

1. Tuhan YME, atas segala rahmat dan

karunia kepada hamba-Nya.

2. Kedua orangtua dan seluruh keluarga

besar yang senantiasa memberikan do’a,

dukungan dan semangat yang tidak

pernah putus kepada penulis.

3. Dosen pembimbing dan seluruh jajaran

dosen Jurusan Desain Interior Fakultas

Sastra dan Seni Rupa UNS.

4. Teman-temanku dan para sahabat yang

(6)

commit to user

vi

MOTTO

A dream you dream alone

is only a dream.

A dream you dream together

is reality.

-

John Lennon

-

Work hard and achieve anything.

Aim higher. Dream bigger.

Fear less. Love more.

Look after yourself.

Be grateful. Stay blessed.

Trust your struggle.

It’s now or never.

-

Inspiration

-

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas

segala rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penyusunan konsep “Desain Interior Museum Film Indonesia di Jakarta Dengan Pendekatan Tema Kontemporer”.

Penyusunan penulisan ini diajukan untuk melengkapi laporan Tugas Akhir

sebagai persyaratan menempuh gelar Sarjana di Jurusan Desain Interior, Fakultas

Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

pihak-pihak yang telah memberikan penjelasan, pengarahan, serta memberikan

motivasi dan do’a demi kelancaran proses pengerjaan dan penyelesaian penulisan

laporan TA ini. Tidak lupa pula penulis juga ingin mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Kedua Orang Tua saya, yang telah memberikan dukungan baik dari segi moril

maupun materiil.

2. Anung B Studyanto, S.Sn, M.T selaku Ketua Jurusan Desain Interior UNS.

3. Iik Endang S.W, S.Sn, M.Des selaku koordinator tugas akhir

4. Drs. Soepono Sasongko, M.Sn, dan Silfia M. Aryani, ST.M.Arch selaku dosen

pembimbing tugas akhir yang selalu memberikan pengarahan.

5. Seluruh dosen, staff dan rekan-rekan di Jurusan Desain Interior UNS,

Terimakasih atas ilmu, pengalaman dan nasihatnya yang sangat berguna bagi

saya.

6. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah banyak

memberikan dukungan, semangat dan perhatiannya terhadap penulis.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan penulisan ini,

namun dengan penuh harapan semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis

maupun pembaca.

Surakarta, 20 Juli 2012

(8)

commit to user

viii

DESAIN INTERIOR MUSEUM FILM INDONESIA DI JAKARTA Dengan Pendekatan Tema Kontemporer

Dina Kristiyani1

Drs.Soepono Sasongko,M.Sn2 Silfia M. Aryani, ST.M.Arch3

ABSTRAK

2012. Desain Interior Museum Film Indonesia di Jakarta dengan Pendekatan Tema Kontemporer. Laporan Tugas Akhir : Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Senirupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Permasalahan dalam perancangan ini adalah : (1) Bagaimana merancang interior Museum Film Indonesia sebagai pusat perfilman Indonesia yang informatif, edukatif dan rekreatif? (2) Bagaimana merancang interior Museum Film Indonesia yang sesuai dengan kaidah-kaidah desain? (3) Bagaimana merancang tema Kontemporer ke dalam interior Museum Film Indonesia?

Tujuan perancangan ini adalah : (1) Merancang interior Museum Film Indonesia sebagai pusat perfilman Indonesia yang informatif, edukatif dan rekreatif. (2) Merancang interior Museum Film Indonesia yang sesuai dengan kaidah-kaidah desain. (3) Merancang Museum Film Indonesia dengan tema Kontemporer sebagai atmosfer interior ruangan.

Metode yang digunakan dalam pemecahan masalah desain adalah metode pembahasan analisa interaktif. Proses dimulai dengan perumusan masalah. Langkah selanjutnya berupa pengkajian literatur dan kunjungan ke obyek sejenis untuk menentukan pendekatan penyelesaian permasalahan desain yang sesuai. Dari proses perancangan disimpulkan bahwa: (1) Perancangan Interior Museum Film Indonesia sebagai pusat perfilman Indonesia yang informatif, edukatif dan rekreatif dibangun dengan estetis tinggi agar banyak menarik pengunjung. (2) Penggunaan warna dan bentuk yang sesuai dengan tema akan membangun suasana para pengunjung. (3) Karakter ruang sangat membantu dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung.

1 Mahasiswa Jurusan Desain Interior dengan NIM C 0808019 2 Dosen Pembimbing 1

(9)

commit to user

ix

INTERIOR DESIGN OF INDONESIAN MOVIE MUSEUM IN JAKARTA Contemporary Theme Approach

Dina Kristiyani1

Drs.Soepono Sasongko,M.Sn2 Silfia M. Aryani, ST.M.Arch3

ABSTRACT

2012. Interior Design of Indonesian Movie Museum in Jakarta; Contemporary Theme Approach. Final Studio Report : Interior Design Department, Letters and Fine Arts Faculty Sebelas Maret University Surakarta

Problems this designing are: (1) How to design the interior of Indonesian Movie Museum as an informative, educative and entertaining centre of Indonesian Movie?. (2) How to design the interior of the Indonesian Movie Museum in accordance with norms of design? (3) How to design with applying contemporary themes into the interior of the Indonesian Movie Museum?

The design is purposed to: (1) Design the interior of Indonesian Movie Museum as an informative, educative and entertaining centre of Indonesian Movie. (2) Design the interior of the Indonesian Movie Museum in accordance with norms of design. (3) Design with applying contemporary themes into the interior of the Indonesian Movie Museum.

The method used during design problem solving is started by formulating main design problems. The next steps are literature study and similar objects observation. Based on their result, it can be determine the appropriate approach to solve the problems.

From this analysis can be concluded that : (1) Interior design of the Indonesian Movie Museum as an informative, educative and entertaining centre for Indonesian Cinema must be created with high aesthetic high for interesting visitors. (2) The use of colors and shapes that correspond to the theme will create intended atmosphere. (3) The character space might give significant support in accomodating visitors’ comfort and safety.

1 Interior Design Students with NIM C 0808019 2 First Supervisor

(10)

commit to user

x

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

PERSEMBAHAN ... v

MOTTO ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAKSI ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR SKEMA ... xix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Perancangan ... 1

B. Batasan Perancangan ... 2

C. Rumusan Perancangan ... 3

D. Tujuan Perancangan ... 3

E. Sasaran Perancangan ... 3

F. Manfaat Perancangan ... 4

G. Metode Desain ... 4

H. Sistematika Penulisan ... 6

I. Skema Pola Pikir Perancangan ... 8

BAB II. KAJIAN TEORI ... 9

A. Pengertian Judul ... 9

1. Judul ... 9

(11)

commit to user

xi

B. Tinjauan UmumTentang Museum ... 11

1. Pengertian Museum ... 11

2. Sejarah dan Perkembangan Museum ... 12

3. Fungsi, Tujuan, dan Tugas Museum ... 14

4. Jenis Museum ... 16

5. Persyaratan Museum ... 18

6. Koleksi Museum ... 20

7. Metode Penyajian Koleksi ... 26

8. Peralatan Museum ... 26

9. Struktur Organisasi Museum... 27

10. Pengunjung Museum ... 29

C. Tinjauan Khusus Museum (Lobby dan Ruang Pamer) ... 31

1. Tinjauan Ruang Museum ... 31

a. Lobby... 31

b. Ruang Pamer ... 32

2. Tinjauan Sirkulasi ... 35

3. Tinjauan Organisasi Ruang ... 54

4. Komponen Pembentuk Ruang... 56

5. Sistem Interior ... 57

6. Sistem Keamanan ... 63

7. Sistem Display Pameran ... 68

8. Furniture ... 78

9. Pertimbangan Desain ... 79

D. Tinjauan Film ... 84

1. Pengertian Film ... 84

2. Sejarah Film ... 85

3. Teori Film ... 89

4. Bahasa Film ... 89

5. Montage... 90

6. Industri Film ... 90

7. Film untuk Pendidikan dan Propaganda ... 91

(12)

commit to user

xii

9. Kru Film ... 93

10.Film Independen... 93

11.Distribusi Film ... 95

E. Tinjauan Kota Jakarta ... 96

1. Keadaan Geografi ... 97

2. Iklim ... 97

3. Keadaan Lingkungan ... 98

4. Pemerintahan ... 99

BAB III. STUDI LAPANGAN ... 100

A. Museum Ullen Sentalu ... 100

B. Museum Film London ... 102

BAB IV. ANALISA DESAIN ... 105

A. Analisa Existing ... 105

1. Asumsi Lokasi ... 105

2. Potensi Lingkungan ... 105

3. Denah Existing ... 106

B. Programming ... 106

1. Status Kelembagaan ... 106

2. Struktur Organisasi ... 106

3. Sistem Operasional... 106

4. Program Kegiatan... 107

5. Analisa Kebutuhan Ruang... 110

6. Fasilitas Ruang ... 111

7. Besaran Ruang ... 111

8. Sistem Organisasi Ruang ... 113

a. Pertimbangan ... 113

b. Alternatif Pengorganisasian Ruang ... 113

9. Sistem Sirkulasi ... 115

10. Hubungan Antar Ruang... 116

(13)

commit to user

xiii

C. Konsep Desain ... 118

1. Ide Gagasan Perancangan ... 118

2. Tema Perancangan ... 119

3. Atmosfer Desain Interior... 120

4. Pola Penataan Layout ... 120

5. Desain Pembentuk Ruang ... 122

6. Desain Interior Sistem ... 125

7. Desain Furniture ... 128

8. Desain Elemen Estetis ... 128

9. Skema Bentuk dan Warna ... 129

10. Sistem Keamanan ... 131

11. Aksesbilitas ... 133

BAB V. PENUTUP ... 134

A. Kesimpulan ... 134

B. Saran ... 135

DAFTAR PUSTAKA ... 136

LAMPIRAN ... 138

Skema Pola Pikir ... 139

Denah Asli ... 140

Denah Perubahan ... 141

Denah Interior ... 142

Layout ... 143

Floor Plan ... 144

Ceiling Plan ... 145

Potongan AA’ ... 146

Potongan BB’ ... 146

Potongan CC’ ... 147

Potongan DD’ ... 147

(14)

commit to user

xiv

Potongan FF’ ... 149

Detail Konstruksi 1 ... 150

Detail Konstruksi 2 ... 150

Detail Konstruksi 3 ... 151

Detail Konstruksi 4 ... 151

Proyeksi Furniture 1 ... 152

Proyeksi Furniture 2 ... 153

Proyeksi Furniture 3 ... 154

Proyeksi Furniture 4 ... 155

Aksonometri ... 156

Skema Bahan dan Warna ... 157

Perspektif 1 ... 158

Perspektif 2 ... 158

Perspektif 3 ... 159

Perspektif 4 ... 159

(15)

commit to user

xv

DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 2.1 Sirkulasi Pengunjung ... 43

Gambar 2.2 Tipe Dasar dari Orientasi Pengunjung di Ruang Pamer ... 46

Gambar 2.3 Petunjuk tentang Ruangan di Ruang Pamer ... 46

Gambar 2.4 Obyek dari Petunjuk Arah di Ruang Pamer ... 47

Gambar 2.5 Pencahayaan Khusus pada Ambalan ... 59

Gambar 2.6 Pencahayaan Khusus pada Ambalan di Bidang Horisontal ... 59

Gambar 2.7 Daerah Refleksi Pencahayaan pada Bidang Vertikal ... 60

Gambar 2.8 Letak Sumber Pencahayaan terhadap Benda Pamer 3D ... 60

Gambar 2.9 Penempatan Kisi-kisi dibawah Lampu ... 61

Gambar 2.10 Refleksi Pencahayaan pada Bidang Kaca (Vertikal) ... 62

Gambar 2.11 Refleksi Pencahayaan pada Bidang Kaca (Horisontal) ... 62

Gambar 2.12 Jarak dan Sudut Pandang yang Baik ... 69

Gambar 2.13 Daerah Visual Manusia dalam Bidang Horizontal dan Vertikal 70 Gambar 2.14 Gerakan Kepala Manusia Horizontal dan Vertical ... 70

Gambar 2.15 Penyajian untuk Benda 2D ... 71

Gambar 2.16 Penyajian untuk Benda 2D dan 3D ... 72

Gambar 2.17 Penyajian untuk Benda 3D ... 72

Gambar 2.18 Penyajian Benda 3D ... 72

Gambar 2.19 Penyajian untuk Benda 3D : Diorama ... 73

Gambar 2.20 Penyajian untuk Benda 3D dengan Split Level ... 73

Gambar 2.21 Penyajian untuk Benda 3D dengan Sistem Mezanin ... 74

Gambar 2.22 Penyajian untuk Benda 3D dengan Dekoratif Mural ... 74

Gambar 2.23 Penyajian untuk Benda 3D dengan Penurunan Ceiling ... 75

Gambar 2.24 penyajian berupa Teater Film/Multimedia ... 75

Gambar 2.25 Penyajian menggunakan Program Komputer ... 76

Gambar 2.26 Penyajian Materi dapat berupa Materi Koleksi 2D ... 76

Gambar 2.27 Penyajian berupa Materi 3D dengan Ukuran Kecil dan Sedang 76 Gambar 2.28 BOLEX “H16” ... 85

(16)

commit to user

xvi

Gambar 2.30 Sebuah Clip dari Charlie Chaplin Film Bisu Obligasi (1918) 87

Gambar 2.31 Lumière Bersaudara ... 94

Gambar 2.32 Peta Kota Jakarta ... 97

Gambar 3.1 Main Entrance berupa Taman ... 101

Gambar 3.2 Display dalam Ruang Pamer ... 102

Gambar 3.3 Fasad depan Museum London ... 104

Gambar 3.4 Display Benda Pamer dalam Museum ... 104

Gambar 4.1 Site plan Museum Film Indonesia ... 105

Gambar 4.2 Hubungan Antar Ruang – Museum Film Indonesia ... 116

Gambar 4.3 Zoning Museum Film Indonesia ... 117

(17)

commit to user

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Level Cahaya yang Dianjurkan ... 25

Tabel 2.2 Alternatif Lay-out dalam Ruang Pamer ... 35

Tabel 2.3 Pola Sirkulasi dalam Museum ... 41

Tabel 2.4 Pola Hubungan antara Sirkulasi dan Ruang Pamer ... 42

Tabel 2.5 Pencarian Orientasi oleh Pengunjung ... 45

Tabel 2.6 Pola Pengunjung dalam Pemilihan Rute ... 48

Tabel 2.7 Pola Pengunjung dalam Peralihan Rute ... 49

Tabel 2.8 Kejenuhan Pengunjung terhadap Obyek dan Ruang Pamer ... 51

Tabel 2.9 Luas Area Ruang Pamer yang dilalui Pengunjung ... 53

Tabel 2.10 Penarik dan Pengalih Perhatian dalam Ruang Pamer ... 54

Tabel 2.11 Bentuk Organisasi Ruang ... 56

Tabel 2.12 Ukuran Penggunaan Iluminasi Cahaya ... 58

Tabel 2.13 Data Iklim Jakarta ... 98

Tabel 2.14 Pembagian Daerah Jakarta ... 99

Tabel 4.1 Analisa Kebutuhan Ruang Pengunjung ... 110

Tabel 4.2 Analisa Kebutuhan Ruang Staff Pengelola ... 110

Tabel 4.3 Fasilitas Ruang Museum Film Indonesia di Jakarta ... 111

Tabel 4.4 Besaran Ruang pada Lobby Museum Film Indonesia ... 111

Tabel 4.5 Besaran Ruang pada Ruang Pamer Museum Film Indonesia ... 113

Tabel 4.6 Alternatif Organisasi Ruang ... 114

Tabel 4.7 Hasil Analisa Organisasi Ruang ... 114

Tabel 4.8 Analisa Tipe Sirkulasi Pengunjung ... 116

Tabel 4.9 Analisa Sistem Penyajian Koleksi ... 122

Tabel 4.10 Komponen Pembentuk Ruang (Lantai)... 124

Tabel 4.11 Komponen Pembentuk Ruang (Dinding) ... 124

Tabel 4.12 Komponen Pembentuk Ruang (Ceiling) ... 125

Tabel 4.13 Sistem Interior ... 127

Tabel 4.14 Analisa Bentuk ... 130

(18)

commit to user

xviii

Tabel 4.16 Sistem Keamanan Museum ... 132

(19)

commit to user

xix

DAFTAR SKEMA

halaman

Skema 1.1 Pola Pikir Perancangan ... 8

Skema 2.1 Struktur Permuseuman di Indonesia ... 27

Skema 2.2 Struktur Organisasi Museum Swasta ... 28

Skema 2.3 Struktur Organisasi Museum Pemerintah ... 28

Skema 2.4 Struktur Organisasi Museum secara Umum ... 28

Skema 2.5 Arus dan Sirkulasi Koleksi didalam Museum ... 38

Skema 2.6 Arus dan Sirkulasi Pengunjung didalam Museum ... 39

Skema 4.1 Struktur Organisasi Museum Film Indonesia ... 106

Skema 4.2 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Administrasi ... 107

Skema 4.3 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Perawatan dan Dokumentasi 108

Skema 4.4 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Bimbingan dan Edukasi ... 108

Skema 4.5 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Persiapan Pameran ... 108

Skema 4.6 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Service ... 109

Skema 4.7 Pola Kegiatan Pengunjung/Wisatawan Umum ... 109

(20)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dunia perfilman di Indonesia saat ini mulai bangkit dari tidur

panjangnya. Sejak produksi film pertama Lotoeng Kasaroeng di tahun 1926,

perfilman Indonesia perlahan tapi pasti mulai meningkat baik dari kualitas

sampai kuantitasnya, dan mencapai puncaknya pada tahun 1970-an dimana

produksi film Indonesia kala itu mencapai 100 judul dalam setahun. Namun

memasuki era 1980-an, yang ditandai dengan berkembangnya jaringan

bioskop 21 yang kala itu banyak menayangkan film-film luar, film-film local

mulai ditinggalkan.

Namun dimulai sejak produksi film bintang Bintang Jatuh diakhir

tahun 90-an dan meledaknya film Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan

Cinta ? secara bertahap perfilman Indonesia mulai bangkit. Produksi film

lokal mulai deras mengalir hingga akhirnya even perfilman seperti Festival

Film Indonesia yang turut mati suri, mulai diadakan lagi sebagai suatu sarana

apresiasi terhadap film Indonesia yang semakin berkualitas. Tidak hanya film

dengan produksi berskala besar tapi, film-film independent yang dikerjakan

sekelompok orang maupun perseorangan dengan budget yang minimum pun

banyak diproduksi, hal ini terlihat dengan banyaknya animo peserta dalam

Festival Film Independen Indonesia. Pengembalian piala Citra yang terakhir

dilakukan oleh masyarakat film Indonesia pun menunjukkan bahwa film telah

berkembang demikian pesat sehingga membutuhkan pengaturan yang lebih

baik dan apresiasi yang lebih mendalam terhadap dunia perfilman nasional.

Sebuah museum yang memuat aneka informasi dan kebudayaan yang

berkaitan dengan perfilman Indonesia dapat menjadi sarana yang tepat untuk

mengapresiasi film-film Indonesia, dimana sampai saat ini belum ada

penghargaan semacam ini terhadap dunia film Indonesia. Selain itu

peningkatan film Indonesia saat ini juga harus dipandang sebagai peningkatan

dalam kebudayaan Indonesia, sehingga perlu ada mata rantai yang menjaga

(21)

commit to user

museum beserta fasilitas-fasilitas pendukungnya yang menyimpan segala

informasi dan benda perfilman ini diharapkan dapat menjadi mata rantai yang

terus menjaga rantai perfilman Indonesia.

Dari prestasi tersebut digagaslah sebuah Museum Film Indonesia.

Museum sebagai pusat rekreasi informasi dengan fasilitas dan sarana yang

kompleks meliputi Ruang Pamer Tetap, Ruang Pamer Tidak Tetap, Souvenir

Store, Cafe dan Ruang Auditorium bagi para penikmat film Indonesia yang

dibalut nuansa interior kontemporer dengan memunculkan atmosfer dengan

konsep kontemporer.

Site plan Museum Film Indonesia akan diasumsikan di Jakarta

tepatnya di Jl. Mh. Thamrin, Jakarta. Selain itu ditinjau dari aspek regional,

Jakarta Pusat memiliki siklus peluang bisnis yang tinggi, terdapat banyak

pelaku industri film dan artis yang memungkinkan akan memanfaatkan

Museum Film Indonesia sebagai referensi rekreasi mengenai film.

B. BATASAN PERANCANGAN

Sebagai pusat informasi, edukasi dan rekreasi bagi para penggemar

film Indonesia, dengan ketentuan luas 1200 m² sampai 1500 m² yang

menyediakan fasilitas dan sarana yang kompleks meliputi :

1. Area informasi dan edukasi

a. Lobby

b. Temporer Exhibition

c. Permanent Exhibition

2. Area Komersial

a. Gift shop

b. Café/Resto

3. Fasilitas Operasional

a. Lavatory

(22)

commit to user

C. RUMUSAN PERANCANGAN

Ditinjau dari latar belakang dan batasan perancangan maka desain

interior Museum Film Indonesia akan ditekankan pada:

1. Bagaimana merancang interior Musuem Film Indonesia sebagai pusat

perfilman Indonesia yang informatif, edukatif dan rekreatif ?

2. Bagaimana merancang interior Museum Film Indonesia yang sesuai

dengan kaidah-kaidah desain ?

3. Bagaimana merancang tema Kontemporer ke dalam interior Museum Film

Indonesia ?

D. TUJUAN PERANCANGAN

1. Merancang interior Musuem Film Indonesia sebagai pusat perfilman

Indonesia yang informatif, edukatif dan rekreatif.

2. Merancang interior Museum Film Indonesia yang sesuai dengan

kaidah-kaidah desain.

3. Merancang Museum Film Indonesia dengan tema Kontemporer sebagai

atmosfer interior ruangan.

E. SASARAN PERANCANGAN

1. Sasaran Pengunjung

a. Kalangan penggemar Film Indonesia.

b. Pelaku industri film langsung (pelaku perusahaan perfilman, produser

dll)

c. Pelaku industri film tidak langsung (aktor, aktris dll)

d. Seluruh masyarakat umum Indonesia dan dunia.

2. Sasaran Desain

a. Merancang Museum Film Indonesia sebagai sebuah bangunan

kompleks dengan organisasi ruang, sirkulasi dan interior system yang

fungsional dan efisien.

b. Merancang Museum Film Indonesia sebagai fasilitas untuk

(23)

commit to user

secara menarik dan fasilitas yang dapat mewadahi segala kegiatan dan

kebutuhan tentang perfilman.

c. Merancang Museum Film Indonesia dapat menghadirkan atmosfer

interior kontemporer yang informatif, edukatif dan rekreatif.

F. MANFAAT PERANCANGAN

1. Bagi Penulis/ Desainer

a. Mengenal dan menambah wawasan mengenai desain interior dan film

Indonesia.

b. Mengembangkan daya imajinatif, ide dan gagasan mengenai system

interior yang berkaitan dengan bangunan kompleks informatif,

edukatif dan rekreatif.

c. Mengembangkan kreatifitas dalam perancangan interior bangunan,

desain furniture, pemanfaatan ruang kosong, dan mengolah landscape

menjadi kesatuan yang estetis dan sesuai fungsinya.

2. Bagi Dunia Akademik

a. Memberikan informasi mengenai pentingnya melestarikan film

Indonesia.

b. Memberikan referensi baru dalam rancangan sebuah desain.

3. Bagi Masyarakat

a. Memberikan solusi tempat informatif, edukatif rekreatif baru dengan

memunculkan sebuah museum film Indonesia.

b. Sebagai sarana edukatif dan tempat berkumpul bagi para penggemar

film Indonesia.

G. METODE DESAIN

1. Lokasi Survey

Demi mendapatkan suatu keakuratan data, perlu dilakukan penelitian

(24)

commit to user

2. Bentuk Perancangan

Berdasarkan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini lebih

menekankan pada proses dan makna serta pengungkapan informasi yang

kualitatif dan tidak menekankan pada bentuk data berupa angka maka

digunakan bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini akan

mampu menangkap berbagai informasi dengan deskriptif yang penuh nuansa. “Deskriptif mempersyaratkan suatu usaha dengan keterbukaan pikiran yang menentukan obyek yang sedang dipelajari” (H. B. Sutopo,

2002 ; 110)

3. Sumber Data

Sumber data yang diperlukan dalam perancangan ini sebagai acuan

desain, sebagai berikut:

a. Informan

Dalam permasalahan ini yang menjadi nara sumber adalah selaku

pengurus dari organisasi yang dilakukan observasi tersebut.

b. Jadwal/ susunan kegiatan-kegiatan yang terjadi pada tempat tersebut.

c. Tempat dan peristiwa yang ada pada lokasi penelitian tersebut.

4. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif, maka sumber data

diperoleh melalui teknik :

a. Observasi

Mengadakan pengamatan secara langsung tentang berbagai hal

yang ada kaitannya dengan obyek penelitian. Observasi dalam

penelitian kualitatif sering disebut sebagai observasi berperan pasif

(Spandley, 1980). Observasi ini dilakukan secara formal dan informal

untuk mengamati berbagai kegiatan di lokasi penelitian yang sesuai

dengan daftar masalah. Observasi ini juga menggunakan alat bantu

observasi seperti alat pencatat, alat perekam (recorder), kamera serta

alat pendukung lainnya.

b. Wawancara

Wawancara ini bersifat open ended dan mendalam yang dilakukan

(25)

commit to user

yang tepat, Metode ini untuk memperoleh data atau hal yang sifatnya

tidak terungkap secara fisik (Sutresno Hadi, 1985;31). Wawancara ini dilakukan dengan struktur yang lentur tetapi dengan “pertanyaan yang semakin memfokus sehingga informasi yang dikumpulkan cukup mendalam”.(H.B.Sutopo,1989;31)

c. Konteks Analisa (Analisa Dokumen)

Teknik ini akan dilakukan untuk mengumpulkan data yang

bersumber dari dokumen dan arsip yang terdapat pada lokasi

penelitian.

H. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan dalam Desain Interior Museum Film Indonesia ini

adalah :

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang masalah , batasan masalah,

rumusan masalah, tujuan, sasaran perancangan, manfaat,

metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI

Kajian Teori berisi tentang uraian tentang prinsip teori/

kajian teoritis mengenai proyek Desain Interior Museum

Film Indonesia yang meliputi pembahasan teori tentang

Film Indonesia secara umum yang mencakup di dalamnya

pengertian, sejarah perkembangan, manfaat, pengertian

besaran ruang, jenis ruang, pola organisasi ruang,

komponen pembentuk ruang, sistem interior, serta

pertimbangan desain.

BAB III KAJIAN LAPANGAN

Studi Lapangan berisi tentang hasil observasi di lapangan,

sebagai dasar atau acuan untuk mangkaji desain yang sesuai

untuk sebuah public space yang akan didesain. Segala

keadaan yang berada di lapangan memberi gambaran

(26)

commit to user

penggunanya. Data observasi yang diperoleh dari lapangan

mampu menjadi masukan dalam perencanaan maupun

sebagai bahan pembanding dan pengayakan bagi proses

analisa dari konsep Desain Interior Museum Film

Indonesia.

BAB IV ANALISA DESAIN

Berisi analisa perencanaan dan perancangan yang diperoleh

dari kajian teoritis dan hasil observasi lapangan yang

merupakan dasar konsep perencanaan dan perancangan.

Disini diuraikan tentang ide/gagasan yang melatarbelakangi

terciptanya perancangan desain interior.

BAB V KESIMPULAN

Berisi tentang kesimpulan dari hasil analisa data , evaluasi

konsep perencanaan dan perancangan serta keputusan

desain dari konsep perencanaan.

DAFTAR PUSTAKA

(27)

commit to user

Data Informasi Proyek

Desain Terpilih

Evaluasi Desain

DESAIN Alternatif Desain

Sketsa Desain Konsep Desain

Rumusan Masalah

Studi Lapangan Studi

Literatur

Proyek Perancangan

Human Faktor

Aspek Ekonomi

Interior System

Aspek Tema

Norma Desain Aspek Lingkungan

Aspek Budaya Aspek Politik

Aspek Sosial Aspek Keamanan

I. SKEMA POLA PIKIR PERANCANGAN

Skema 1.1

(28)

commit to user

9

BAB II

KAJIAN TEORI

A. PENGERTIAN JUDUL

1. Judul

“Desain Interior Museum Film Indonesia di Jakarta Dengan Pendekatan Tema Kontemporer”

2. Definisi Judul

Desain : a. Rancangan, rencana suatu bentuk dan sebaginya.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993 : 138)

b. Suatu sistem yang berlaku untuk segala macam

jenis perancangan dimanan titik beratnya adalah

melihat sesuatu persoalan tidak secara tepisah atau

tersendiri melainkan sebagi suatu kesatuan dimana

satu masalah dengan lainnya saling kait mengkait.

(Desain Interior Pengantar Merencana Interior

Untuk Mahasiswa Desain dan Arsitektur, 1999 :

12)

Interior : a. Ruang dalam suatu bangunan, yang

mengungkapkan tata kehidupan manusia melalui

media ruang. (Ensiklopedi Nasional Indonesia,

1991 : 197)

b. Bagian dalam gedung (ruang, dsb), tatanan

perabot (hiasan, dsb) di ruang dalam gedung.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia,1993 : 483).

Desain Interior : Adalah karya arsitek atau desainer yang khusus

menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan.

(Desain Interior Pengantar Merencana Interior

Untuk Mahasiswa Desain dan Arsitektur, 1999 : 11)

Museum : a. Gedung yang digunakan sebagai tempat untuk

(29)

commit to user

perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni,

dan ilmu.

b. Tempat menyimpan barang kuno. (Tim Penyusun

Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa, 1999)

Film : a. Selaput tipis yang terbuat dari seluloid untuk

tempat gambar negative (yang akan dibuat potret)

atau untuk tempat gambar positif (yang akan

dimainkan di bioskop).

b. Lakon (cerita) gambar hidup. (Tim Penyusun

Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa, 1999)

Indonesia : Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia

adalah Negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis

khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan

Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra

Hindia. (www.wikipedia.org/wiki/Indonesia, 30 April

2012)

Jakarta : Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta

Raya) adalah ibukota Negara Indonesia. Jakarta

merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang

memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak

dibagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah

dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527),

Jayakarta (1527-1619), Batavia/Batauia, atau Jaccatra

(1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).

(www.wikipedia.org/wiki/Jakarta, 30 April 2012)

Kontemporer : Kontemporerbiasanya merujuk pada sesuatu yang

"terkini", "baru", dan sebagainya.

(30)

commit to user

Jadi, “Desain Interior Museum Film di Jakarta dengan Pendekatan

Tema Kontemporer” adalah perancangan sebuah bangunan pusat rekreasi

informasi dengan fasilitas dan sarana yang kompleks bagi para penikmat

film Indonesia yang dibalut nuansa interior kontemporer dengan

memunculkan atmosfer dengan tema kontemporer. Terdapat banyak

pelaku industri film dan artis yang memungkinkan akan memanfaatkan

Museum Film Indonesia sebagai referensi dan rekreasi mengenai film.

B. TINJAUAN UMUM TENTANG MUSEUM

1. Pengertian Museum

a. Museum berasal dari kata “Mouseion” yang merupakan kuil klasik

tempat pemujaan Dewi Muse dalam mitologi Yunani, yang dipercaya

sebagai lambang cabang ilmu pengetahuan dan kesenian. (Moh. Amir

Sutaarga, 1989:7)

b. Museum adalah suatu lembaga yang bersifat badan hukum yang tetap,

tidak mencari keuntungan dalam pelaksanaannya kepada masyarakat,

tetapi untuk memajukan masyarakat lingkungannya, serta terbuka

untuk umum. Museum mengadakan kegiatan pengadaan, pengawetan,

riset, komunikasi dan pameran segala macam benda bahan pembuktian

tentang kehadiran umat manusia dan lingkungannya untuk tujuan

tertentu, pengkajian dan pendidikan maupun kesenangan. (Moh. Amir

Sutaarga, 1989 : 23)

c. Merupakan gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran

tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum seperti

peninggalan sejarah, seni dan ilmu, tempat penyimpanan

barang-barang kuno. (Kamus Bahasa Indonesia: 675)

d. Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan,

melayani rakyat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang

memperoleh, merawat, menghubungkan, dan memamerkan, untuk

tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang

pembuktian manusia dan lingkungannnya. (Silalahi, Robert P Drs,

(31)

commit to user

2. Sejarah dan Perkembangan Museum

Sejarah Museum diawali dengan munculnya naluri ilmiah manusia,

yaitu naluri untuk melakukan pengumpulan (collecting instinct). Sejak

85.000 tahun silam sudah merupakan tukang himpun, terbukti dari oleh

hasil penelitian para arkeolog dalam gua-gua di Eropa dimana berdiam

manusia Neanderthal. Dimana didalam gua ini ditemukan

kepingan-kepingan batu yang disebut juga oker, fosil aneka bentuk, serta bebatuan

lainnya. Koleksi ini merupakan penyajian pertama yang disebut

Curiokabinet dan merupakan yang tertua dan nama ini merupakan

museum pertama dalam sejarah dunia.

Pada akhir abad 18 di Eropa Barat, banyak muncul kegiatan –

kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Eropa dalam bidang – bidang

ilmiah, hingga banyak pula berdiri perkumpulan atau lembaga ilmiah.

Salah satunya berdiri sejenis museum yang disebut dengan Institutional

Museum. Diawali dengan pecahnya revolusi Perancis, yang kemudian

melahirkan semboyan Liberte, Egalite et Fraternite (merdeka, persamaan

dan persaudaraan), membawa perubahan pada sendi – sendi kehidupan

yang lama dengan lahirnya bibit – bibit demokrasi barat yang menjadi

sebuah tatanan kehidupan baru bagi bangsa Eropa. Perubahan tatanan

kehidupan ini menyebabkan disitanya banyak istana milik raja maupun

para bangasawan oleh negara dan semua koleksi yang awalnya hanya

diperuntukkan khusus bagi keluarga raja beserta kerabatnya dan para

bangsawan, menjadi terbuka untuk umum atau rakyat. Sebagai contoh

adalah museum Le Louvre di Paris, Perancis, yang berasal dari koleksi

Raja Frans I yang selanjutnya diperluas oleh Raja Louis XIV dari

Fotainebleau ke istana Louvre sekarang. Sejak saat itulah kemudian

museum menjadi salah satu lambang bagi kedaulatan rakyat khususnya

dibidang ilmu pengetahuan, kebudayaan maupun seni dan tidak lagi hanya

menjadi monopoli kaum bangsawan dan kaum cendikiawan saja, tetapi

telah menjadi milik umum dan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam perkembangan berikutnya museum lebih menonjolkan fungsi

(32)

commit to user

negara yang sadar bahwa kehidupan cultural, seperti halnya dunia

pendidikan dipandang perlu untuk dimasukkan dalam jangkauan strategis

kebudayaan dan dikelola oleh sistem adminstrasi kebudayaan. Secara

internasional perlu adanya kerjasama di bidang kebudayaan dan tugas ini

kemudian dipercayakan pada UNESCO, sebagai salah satu badan PBB

yang mengurusi masalah pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya dibidang permuseuman, UNESCO membenuk suatu lembaga

yang mengurusi masalah permuseuman secara internasional, yang disebut

dengan International Council of Museum, disingkat ICOM. Pada tahun

1981, ICOM memiliki anggota kurang lebih 7000 anggota dari semua

negara anggota PBB.

Di Indonesia sendiri mempunyai sejarah ilmu dan kesenian yang

paling tua diantara Negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini

dikaitkan dengan sejarah jaman kolonialisme dan Imperialisme. Pada

tanggal 24 April 1778, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en

Wetenschappen, badan usaha yang bertujuan memajukan penelitian dalam

bidang seni, ilmu, khususnya bidang ilmu sejarah, arkeologi, etnografi,

dan fisika serta menerbitkan berbagai penelitian, mendirikan suatu

lembaga ilmu pengetahuan. JCM. Radermacher, sebagai pendiri

menyumbangkan sebuah rumah berikut koleksi budaya sebagai cikal bakal

museum di Indonesia.

Dan dengan bertambahnya jumlah koleksi, pada awal abad ke 19, Sir

Thomas Stamford Raffles membangun gedung baru di Jalan Majapahit

nomor 3, yang diberi nama Literary Society. Dan pada tahun 1862,

pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung

museum baru yang dapat digunakan sebagai kantor sekaligus untuk

memamerkan koleksi. Gedung itu terletak di Jalan Medan Merdeka Barat

nomor 12, Jakarta Pusat. Diresmikan pada tahun 1868, yang kemudian

dikenal dengan nama Museum Gajah, karena terdapat patung Gajah yang

terbuat dari perunggu, yang merupakan hadiah dari raja Culalongkorn,

(33)

commit to user

tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai kurun

waktu.

Pada tanggal 29 Febuari 1950. Lembaga tersebut menjadi Lembaga

Kebudayaan Indonesia, dan pada tanggal 17 September 1962 diserahkan

kepada pemerintah Indonesia dan menjadi Museum Pusat, dan pada

tanggal 28 Mei 1979 berubah nama menjadi Museum Nasional yang

merupakan museum tertua di Indonesia. Pada abad 20 didirikan Museum

Aceh pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan ole

Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jendral HMA Swart pad atanggal 31 Juli

1915. Museum ini dkembangkan menjadi Museum Negri Provinsi Aceh.

Tahun 1922 Von Faber, warga Surabaya keturunan Jerman menderkan

Museum Steelijk Historish Museum Surabaya, yang saat ini berubah

namanya menjadi Museum Negeri Mpu Tantular.

Di Bali pada tanggal 8 September 1932 diresmikan sebuah museum

dengan nama Bali museum, yang kemudian pada tahun 1965 diserahkan

kepada pemerintah, dan saat ini namanya menjadi Museum Negeri Proinsi

Bali. Di Yogyakarta sejak tahun 1924 dirintas sebuah museum oleh Java

Institut yang pada tahun 1935 diresmikan menjadi Museum Sonobudoyo,

kemudian setelah proklamasi museum ini dikelola oleh pemerintah

daerah, dan akhirnya pada tahun 1974 museum ini diserahkan ke

pemerintah pusat. Setelah tahun 1945 Museum-Museum di Indonesia terus

bermunculan baik yang didirikan oleh pihak pemerintah maupun swasta.

Sampai saat ini telah berdiri sekitar 140 buah museum di Indonesia.

3. Fungsi, tujuan dan tugas museum

a. Fungsi

Menurut IOCM, fungsi Museum dengan praktek pengelolaan

museum sehari-hari, sebagai berikut:

1) Pengumpulan dan pengamatan warisan dan budaya

2) Dokumentasi, informasi, dan penelitian alam

(34)

commit to user

4) Penyebaran dan pemerataan ilmu pengetahuan untuk masyarakat

umum

5) Pengenalan dan penghayatan kesenian

6) Pengenalan kebudayaan lintas daerah dan lintas bangsa

7) Visualisasi warisan budaya alam dan budaya

8) Cerminan tumbuhnya dan berkembangnya peradaban umat

manusia

9) Pembangkit rasa bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang

Maha Esa

10)Rekreasi dan berbagai aktivitas masyarakat.

b. Tujuan Museum

Tujuan museum menurut Sampurno Kadarsan, dapat dibagi

menjadi dua tujuan, yaitu tujuan institutional dan tujuan fungsional.

1) Tujuan Institusional : Memberikan pengertian kepada Bangsa

Indonesia, khususnya generasi muda tentang kebudayaan yang

pernah ada, hal ini merupakan watak dan kesadaran bangsa, bahwa

kebudayaan yang dimiliki Indonesia khususnya, sangat agung, juga

sebagai pelindung dan pemelihara dari pengaruh budaya asing

yang tidak sesuai.

2) Tujuan Fungsional : Sebagai wadah tujuan fungsional agar dapat

berlaku secara efektif terhadap dua kepentingan yang saling

berpengaruh, yaitu :

a) Kepentingan Obyek : memberikan wadah atau tempat untuk

menyimpan serta melindungi benda – benda koleksi yang

mempunyai nilai budaya, dari kerusakan atau kemusnahan

yang disebabkan, antara lain pengaruh iklim, alam, biologis

maupun manusia.

b) Kepentingan Umum : menyimpulkan penemuan – penemuan

benda, pemeliharaan dari kerusakan, penyajian benda – benda

koleksi kepada masyarakat umum agar dapat : menarik

sehingga menimbulkan rasa bangga dan bertanggung jawab

(35)

commit to user

c. Tugas museum

Tugas museum disamping sebagai koleksi, preparasi, edukasi

maupun rekreasi, tugas pokok museum dapat diterangkan sebagai

berikut:

1) Melaksanakan pengumpulan, perawatan dan penyajian benda yang

bernilai budaya dan bernilai historis

2) Melaksanakan dan menyebarluaskan hasil penelitian kebudayaan

daerah dan bangsa berdasarkan koleksi

3) Melaksanakan perpustakaan, dokumentasi, dan penelitian ilmiah

4) Membuat reproduksi karya kebudayaan nasional

5) Melaksanakan tata usaha

Selain seperti diuraikan di atas, terdapat pula tugas museum

dibidang tourisme sebagai usaha untuk memperkenalkan harta budaya

bangsa kepada para wisatawan asing.

4. Jenis Museum

Muhammad Amir Sutaarga (1975) dalam buku Persoalan Museum di

Indonesia, membagi – bagi jenis museum yang ada dewasa ini berdasarkan

macam – macam ilmu pengetahuan. Adanya perbedaan materi yang

dipelajari dalam setiap ilmu pengetahuan dengan sendirinya membawa

pengaruh dalam segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan

tersebut, seperti halnya teori, obyek – obyek yang dipelajari dan

sebagainya.

Pembagian museum berdasarkan perbedaan dalam ilmu

pengetahuan adalah sebagai berikut :

a. Museum ilmu pengetahuan alam dan teknologi, yang termasuk

museum ini adalah museum zoologi, museum botani, museum industri,

museum kesehatan, museum pertanian, museum lalu lintas dan lain –

lain.

b. Museum sejarah dan kebudayaan, termasuk di dalamnya adalah

(36)

commit to user

kesenian, museum antropologi, museum perjuangan, museum

pendidikan jasmani dan lain – lain.

Disamping perbedaan berdasarkan kategori ilmu pengetahuan,

pembagian museum dapat diklasifikasikan berdasarkan tipenya, sebagai

berikut ( Moh. Amir Sutaarga, 1975 : 2 ) :

a. Museum ilmu hayat

b. Museum sejarah dan antropologi

c. Museum ilmu pengetahuan dan teknologi

d. Museum seni

Dalam Surat Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan nomor

075/1975, bagian XFVI, pasal 728, dikemukakan bahwa sistem klasifikasi

museum sebenarnya lebih bersifat fleksibel agar dapat menuju kearah

tujuan yang hendak dicapai yaitu pembinaan dan pengembangan –

pengembangan museum di Indonesia. Hal tersebut di atas dikemukakan

lagi dalam seminar pengelolaan dan pendayagunaan museum di Indonesia,

yang selanjutnya diterbitkan dalam buku dengan judul yang sama dengan

tema tersebut di atas. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa, Direktorat

Permuseuman membagi museum menjadi tiga tipe (berdasarkan jenis

koleksinya), sebagai berikut :

a. Museum Umum, yaitu museum yang tidak membatasi jenis

koleksinya. Koleksinya berupa kumpulan bukti material manusia dan

lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu

pengetahuan dan teknologi maupun berbagai cabang – cabang seni.

b. Museum Khusus, yaitu museum yang membatasi jenis koleksinya,

berupa kumpulan bukti material atau lingkungannya yang berkaitan

dengan satu cabang ilmu pengetahuan atau satu cabang seni atau satu

cabang teknologi.

c. Museum Pendidikan, yaitu museum yang jenis koleksinya dikhususkan

pada tingkat pendidikan umum

Museum juga dapat digolongkan menurut kedudukannya (ruang

(37)

commit to user

a. Museum Nasional, adalah museum yang koleksinya terdiri dari

kumpulan benda – benda yang berasal dari, mewakili maupun yang

berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dari

seluruh wilayah Indonesia yang bernilai nasional.

b. Museum Regional Propinsi, adalah museum yang benda koleksinya

merupakan kumpulan benda yang berasal, mewakili, serta berkaitan

dengan bukti material manusia atau lingkungannya dari wilayah

propinsi tertentu.

c. Museum Lokal, adalah museum yang benda koleksinya terdiri

kumpulan benda yang berasal, mewakili, dan berkaitan dengan bukti

material manusia dan lingkungannya dari wilayah lokal setempat,

kabupaten atau kotamadya tertentu.

Sedangkan menurut penyelenggaraannya (berdasarkan status

hukumnya), museum dapat dibagi dalam kategori, sebagai berikut :

a. Museum Pemerintah, yaitu museum yang diselenggarakan serta

dikelola oleh pemerintah. Museum ini dapat dibagi lagi menjadi

museum yang dikelola oleh pemerintah pusat dan museum yang

dikelola oleh pemerintah daerah.

b. Museum swasta, yaitu museum yang diselenggarakan serta dikelola

oleh pihak swasta.

Sedangkan Berdasarkan Bentuk Bangunannya, museum dapat

dibagi dalam kategori, sebagai berikut :

a. Museum Tertutup, museum yang koleksinya berada didalam suatu

bangunan permanen.

b. Museum Terbuka, museum yang sebagian besar koleksinya berada di

luar bangunan permanen.

c. Museum Kombinasi, museum yang koleksinya berada di dalam dan di

luar bangunan permanen.

5. Persyaratan Museum

a. Lingkungan Museum

(38)

commit to user

2) Lokasi museum harus sehat;

a) Tidak terletak di daerah industri yang udaranya sudah tercemar

b) Tidak berada pada daerah berawa, tanah berlumpur, tanah

berpasir, dengan elemen-elemen iklim yang berpengaruh pada

lokasi tersebut.

c) Nilai lingkungan sekitar museum yang bersifat sebagai pusat

rekreasi.

d) Sesuai dengan peruntukkan bangunan umum.

b. Persyaratan Bangunan

1) Persyaratan Umum:

a) Bangunan dikelompokkan dan dipisahkan menurut: fungsi dan

aktivitasnya, ketenangan dan keramaian, serta keamanan

b) Pintu masuk utama (main entrance) adalah untuk pengunjung

museum

c) Pintu masuk khusus (service entrance) untuk bagian pelayanan,

perkantoran, rumah serta ruang-ruang pada bangunan khusus.

d) Area publik (Public Area), terdiri dari bagian:

(1) Bagian utama (Pameran tetap dan pameran temporer)

(2) Auditorium, gift shop, kafetaria, pos jaga, ticket box, dan

penitipan barang, ruang duduk, toilret, dan sebagainya.

e) Area semi publik (Semi Public Area), terdiri dari:Bangunan

administrasi (perpustakaan dan ruang penerangan, ruang rapat,

dan lain-lain)

f) Area privat (Private Area), terdiri dari:

(1) Pelayanan teknis (laboratorium, storage, dan lain-lain)

(2) Kantor pengelola

2) Persyaratan Khusus:

a) Bangunan Utama (pameran tetap dan temporer)

(1) Memuat benda-benda koleksi yang dipamerkan

(39)

commit to user

(3) Merupakan bangunan yang harus memiliki daya tarik

sebagai bangunan pertama yang dikunjungi oleh

pengunjung museum

(4) Mempunyai sistem keamanan yang baik, dari segi

konstruksi, spesifikasi ruang untuk mencegah rusaknya

benda-benda secara alami maupun kriminalitas dan

pencurian.

b) Bangunan Auditorium

(1) Mudah dipakai untuk umum

(2) Dapat dipakai untuk ruang pertemuan, diskusi, dan

ceramah.

c) Bangunan Khusus

(1) Terletak pada ruang tenang

(2) Mempunyai pintu masuk khusus

(3) Memiliki sistem keamanan yang baik (terhadap kerusakan,

kebakaran, kriminalitas) yang menyangkut segi-segi

konstruksi maupun spesifikasi ruang.

d) Bangunan Administrasi;

(1) Terletak strategis baik terhadap pencapaian umum maupun

bangunan-bangunan lain

(2) Mempunyai pintu masuk khusus

6. Koleksi Museum

a. Pengertian koleksi

Pengertian koleksi secara harafiah adalah “kumpulan (gambar,

benda – benda bersejarah, lukisan dan sebagainya) yang sering

dikaitkan dengan minat atau hobby obyek (yang lengkap), berarti pula

sebagai kumpulan segala hal yang berhubungan dengan studi

penelitian. (KBBI,1995: 450)

b. Syarat-syarat koleksi Museum

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh koleksi Museum,

(40)

commit to user

1) Mempunyai nilai sejarah dan ilmiah (termasuk nilai estetika)

2) Dapat diidentifikasikan mengenai wujudnya (morfologi), tipenya

(tipologi), gayanya (style), fungsinya, maknanya, asalnya secara

historis dan geografis, genusnya (dalam orda biologi), atau

periodenya (dalam geologi khususnya benda-benda sejarah alam

dan teknologi).

3) Harus dapat dijadikan dokumen dalam arti sebagai bukti kenyataan

dan kehadirannya realitas dan eksistensinya bagi penelitian ilmiah.

4) Dapat dijadikan suatu monumen atau bakal jadi monumen dalam

sejarah alam atau budaya.

5) Benda asli, replika atau reproduksi yang sah menurut persyaratan

permuseuman.

c. Jenis-jenis Koleksi Museum

Terbagi dalam dua kategori:

1) Koleksi Umum, yang berkaitan dengan berbagai cabang seni,

disiplin ilmu dan teknologi

2) Koleksi Khusus, yang berkaitan dengan satu cabang seni, disiplin

ilmu dan teknologi.

Adapun koleksi dari sebuah museum itu dapat bermacam –

macam bentuknya, yaitu dapat berupa :

1) Etnografika : yaitu kumpulan benda – benda hasil budaya suku

– suku bangsa

2) Prehistorika : yaitu kumpulan benda – benda prasejarah

3) Arkeologika : yaitu kumpulan benda – benda arkeologi

4) Historika : yaitu kumpulan benda – benda bernilai sejarah

5) Numistika dan heraldika, yaitu kumpulan benda – benda alat tukar

dan lambang peninggalan sejarah, misalnya mata uang, cap,

lencana, tanda jasa, dan surat – surat berharga.

6) Naskah – naskah kuno dan bersejarah

7) Keramik asing

8) Buku dan majalah anti kuariat

(41)

commit to user

10)Benda – benda grafika, berupa foto, peta asli, atau setiap

reproduksi yang dapat dijadikan dokumen.

11)Diorama, yaitu gambaran berbentuk tiga dimensi

12)Benda – benda sejarah alam, berupa flora, fauna, benda batuan

maupun mineral

13)Replika yaitu tiruan dari benda sesungguhnya

14)Miniatur yaitu tiruan dari benda sesungguhnya namun berukuran

kecil

15)Koleksi hasil abstraksi

Dalam S. Wittlin (Moh. Amir Sutaarga, 1989 : 77) merumuskan

tentang koleksi museum sebagai berikut :

1) Economic hoard collection(koleksi persediaan ekonomi).

2) Social prestige collection(koleksi kebanggaan sosial).

3) Magic collectioan(koleksi kepercayaan magis).

4) Collection as an expression of group loyalty (koleksi sebagai

sebuah pernyataan kesetiaan kelompok).

5) Collection stimulating curiosity and inguire (koleksi memancing

keingintahuan dan pertanyaan).

6) Collection of art stimulating emotional experience (koleksi seni

yang memancing pengalaman emosional).

Berdasarkan sumber dasar materialnya, terdiri dari dua sumber,

yaitu:

1) In Organik

Merupakan koleksi yang berupa batuan dan kekayaan alam. Seperti

batu alam, metal, keramik, kaca,

2) Organik

Merupakan koleksi yang sumber dasarnya terbuat dari tanaman dan

hewan.

d. Pengadaan

Sebuah museum, untuk melengkapi koleksinya diperlukan adanya

suatu proses pengadaan koleksi museum, yaitu suatu kegiatan

(42)

commit to user

dapat dijadikan suatu koleksi museum dan berguna sebagai bahan

pembuktian sejarah alam dan budaya manusia serta lingkungannya.

Tujuan dari pengadaan koleksi museum ini sendiri adalah untuk

menghimpun, mencatat, melestarikan dan mengkomunikasikan benda

– benda sejarah dan budaya untuk kepentingan studi, pendidikan dan rekreasi yang sehat, sehingga terhimpunnya dan termanfaatkannya

benda – benda sejarah dan budaya tersebut bagi masyarakat.

Adapun pengadaan koleksi dilakukan dengan :

1) Penemuan/penggalian.

2) Pembelian.

3) Hadiah/hibah.

4) Titipan dari perorangan atau badan hukum.

e. Konservasi Koleksi

Pada suatu bangunan museum terdapat beberapa hal yang harus

menjadi perhatian khusus, agar keutuhan koleksi didalamnya dapat

terjaga dengan baik dan aman. Diantaranya hal-hal yang harus

diperhatikan antara lain:

1) Debu dan Sinar

Debu dan sinar cahaya dalam banyak hal dapat masuk dengan

mudah ke ruang-ruang penyimpanan dan ruang pameran. Hal ini

dapat dihindari dengan mengadakan perbaikan-perbaikan pada

bangunan, seperti dengan mengunakan penolak debu, penolak

cahaya pada jendela-jendela, dan sebagainya.

2) Gas

Ada kerusakan yang disebabkan oleh gas-gas yang

merusakkan yang dapat disebabkan oleh bahan vitrin atau

pengyangga koleksi. Hal ini dapat dihindari dengan pemilihan

bahan vitrin yang tidak mengandung asam dan pengutamaan pada

ventilasi.

3) Perlindungan terhadap pencurian.

Di ruang pamer harus terdapat suatu instruksi agar para

(43)

commit to user

4) Ruang penyimpanan

Syarat-syarat pada ruang penyimpanan, antara lain:

a) Tempatkan obyek koleksi pada lemari yang cukup vetilasi.

b) usahakan ruang gerak secukupnya untuk dapat menangani

obyek.

c) Jangan meletakkan obyek di tempat orang-orang berjalan.

d) Kumpulkan bagian obyek di satu tempat.

e) Jangan saling menumpuk obyek.

5) Sinar Cahaya dan Penolakan Sinar Matahari

Cahaya terlihat dan sinar UV dapat merusakkan obyek-obyek,

seperti rapuhnya dan lunturnya warna-warna tekstil, kertas, kayu.

Kerusakan ini dalam kebayakan hal permanent dan kumulatif.

Banyaknya cahaya yang terlihat dinyatakan dalam Lux, banyaknya

sinar UV dengan mikro-Watt per Lumen. Nilai ini diukur dengan

meteran Lux dan UV. Standar yang berlaku adalah 50 Lux dan 75

Mikro Watt per lumen untuk bahan peka cahaya seperti kertas dab

tekstil, maksimal 200 Lux dan 75 Mikro-Watt per Lumen untuk

bahan kurang peka cahaya seperti kayu yang tidak di cat dan

lukisan. Untuk batu tidak berlaku nilai Lux.

Penerangan didalam vitrin mempunyai kerugian tambahan,

yaitu temperature dalam vitrin naik dan kelembaban udara relatif

turun. Tetapi kalau lampu dimatikan yang terjadi kebalikannya.

Didalam ruang-ruang pameran semua museum dipakai

berbagai macam lampu, dengan temperature warna berbeda.

Lampu fluoresen bertemperatur lebih tinggi dari pada lampu pijar,

yang terlihat cahaya putih. Lampu pijar memberi cahaya

(44)

commit to user

Tabel Level Cahaya yang Dianjurkan Berdasarkan Jenis Bahan Koleksi

6) Kutu dan Serangga

Di gedung-gedung banyak digunakan pemakaian bahan kimia,

seperti penyempotan insektisida, dengan memperhatikan cara

pertahanan, pencegahan, dan pensialiran adanya insiden tersebut,

yaitu desebit pendekatan IPM (Integrated Pest Management).

Di gedung-gedung tidak terdapat alat penahan masuknya

insek, pintu dan jendela terbuka untuk waktu yang lama dan

bercelah-celah dibagian sambungan-sambungan dan

ambang-ambang pintu. Inspeksi memang sulit karena ruangan-ruangan

museum tidak teratur secara sistematis.

7) Musibah

Dilengkapi alat pemadam kebakaran CO2 pada tiap ruang dan

disertai penjaga malam pada gedung. Lima menit pertama sangat

(45)

commit to user

7. Metode Penyajian Koleksi

a. Pengertian Metode Penyajian Koleksi

Merupakan sebuah cara yang bertujuan untuk

mengkomunikasikan suatu gagasan yang berhubungan dengan koleksi

terhadap pihak lain.

b. Jenis Jenis Metode Penyajian Koleksi

Metode Penyajian Koleksi terbagi 3, yaitu:

1) Metode Intelektual/ Edukatif

Memamerkan benda-benda beserta segi-segi yang berkaitan

dengan benda tersebut, seperti proses pembuatan, cara penggunaan,

fungsi dan lainnya dalam rangka penyebarluasan informasi tentang

arti, guna dan fungsi koleksi.

2) Artistik/ Estetik

Memamerkan benda-benda yang mengandung unsur keindahan

untuk mengangkat penghayatan terhadap nilai-nilai artistik dari

koleksi tersebut.

3) Romantik/ Evokatif

Benda-benda yang dipamerkan disertai unsur lingkungan

dimana benda tersebut berada untuk menggugah suasana penuh

pengertian dan harmoni pengunjung.

8. Peralatan museum

a. Pengertian Peralatan Museum

Setiap alat atau benda yang dipergunakan untuk melaksanakan

kegiatan-kegiatan administrasi dan teknik permuseuman

b. Jenis-Jenis Peralatan Museum

Peralatan museum terbagi menjadi:

1) Peralatan kantor

Setiap benda bergerak yang dipergunakan untuk melaksanakan

(46)

commit to user

DEPDIKBUD

DIREKTORAT PERMUSEUMAN

DIREKTORAT PURBAKALA

DIREKTORAT KESENIAN

DIREKTORAT PENGHAYATAN KEPERCAYAAN

DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL DIREKTUR JENDRAL

KEBUDAYAAN

DIREKTUR JENDRAL PENDIDIKAN

2) Peralatan teknis

Setiap jenis alat atau benda bergerak yang dipergunakan untuk

melaksanakan kegiatan-kegiatan teknik permuseuman.

9. Struktur Organisasi Museum

Sistem dan Stuktur permuseuman di Indonesia diatur antara lain :

a. Keputusan Presiden RI No. 45 Th. 1974

b. Surat Keputusan Mentri P & K No. 079 / 0 / Th. 1975

Pada dasarnya museum di Indonesia ditangani langsung oleh

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) yang

termasuk di dalamnya adalah Direktorat Museum, Direktorat Sejarah dan

Kepurbakalaan. Sedangkan Derektorat Jendral Kebudayaan akan

menugaskan kepada unit – unit pembina teknis terhadap masing – masing

badan dengan bidangnya.

Skema 2.1

(47)

commit to user Skema 2.2

Struktur Organisasi Museum Swasta Sumber : (Moh. Amir Sutaarga, 1989 : 39)

Skema 2.3

Struktur Organisasi Museum Pemerintah Sumber : (Moh. Amir Sutaarga, 1989 : 40)

Skema 2.4

Struktur Organisasi Museum secara Umum Sumber : (Moh. Amir Sutaarga, 1989 : 43)

KEPALA MUSEUM

TATA USAHA DAN PERPUSTAKAAN

KURATOR KOLEKSI

KONSEVATOR

PERPUSTAKAAN PEMBIMBING EDUKATOR EDUKATIF PREPARATOR

STUDIO BADAN PENDIRI

BADAN PENGURUS MUSEUM BADAN

PENASEHAT

BADAN PENGAWAS

BADAN PEMERINTAH

UNIT PEMBINAAN TEKNIS PERMUSEUMAN

(48)

commit to user

Berdasarkan tugas dan fungsi museum, setiap museum mempunyai

struktur organisasi sebagai berikut :

a. Pembidangan Tata Usaha, meliputi kegiatan dalam registrasi

ketertiban/keamanan, kepegawaian dan keuangan.

b. Pembidangan Pengelolaan Koleksi yang meliputi kegiatan yang

berhubungan dengan identifikasi, klasifikasi, katalogisasi koleksi

sesuai dengan jenis koleksi. Menyusun konsepsi dalam kegiatan

presentasi, penelitian/pengkajian koleksi termasuk penulisan ilmiah

dan persiapan bahan koleksi.

c. Pembidangan Pengelola Koleksi yang meliputi konservasi preventif

dan kuratif serta mengendalikan keadaan kelembaban suhu ruang

koleksi dan gudang serta penanganan laboratorium koleksi.

d. Pembidangan Preparasi yang meliputi pelaksanaan restorasi koleksi,

reproduksi, penataan pameran, pengadaan alat untuk menunjang

kegiatan edukatif cultural dan penanganan bengkel reparasi.

e. Pembidangan Bimbingan dan Publikasi yang meliputi kegiatan

bimbingan edukatif cultural dan penerbitan yang bersifat ilmiah dan

popular dan penanganan peralatan audiovisual.

f. Pembidangan Pengelolaan Perpustakaan yang meliputi kegiatan

penanganan kepustakaan/referensi.

Setiap pembidangan tersebut di atas dipimpin oleh kepala yang

bertanggung jawab kepada kepala Museum. Susunan organisasi dan tata

kerja museum, tergantung kepada tingkat kedudukan dan status museum.

10.Pengunjung Museum

a. Pembagian pengunjung museum

Berdasarkan jumlahnya, terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

1) Perorangan

a) Pengunjung perorangan pada umumnya sudah tahu seluk beluk

museum

b) Yang sudah biasa berurusan dengan “orang dalam”

(49)

commit to user

d) Mengisi waktu luang dengan melihat pameran

2) Kelompok

a) Berdasarkan Status Sosial, terbagi atas: Pelajar/ Mahasiswa,

Seniman, dan Tamu Bisnis

b) Berdasarkan Asalnya, terbagi atas:

(1) Pengunjung Lokal, dikunjungi oleh pengunjung pada radius

5 mil dari museum

(2) Pengunjung Regional, mencakup pengunjung pada jarak 2

jam dari sekitar museum,

(3) Pengunjung Nasional, mencakup seluruh penduduk satu

negara

(4) Pengunjung Internasional, untuk dikunjungi oleh

pengunjung dari luar negara pada waktu-waktu tertentu.

b. Motivasi Pengunjung Museum

Ada tiga macam motivasi pengunjung museum:

1) Motivasi Estetik

Publik Museum yang mempnyai motivasi estetik

menghendaki adanya sistem pameran benda-benda koleksi yang

benar-benar terencana baik dengan latar belakang yang netral yang

memberikan tempat artistic bagi koleksi yang dipamerkan, ditata

menurut cara yang seefektif mungkin.

2) Motivasi Romantik

Pengunjung yang mempunyai motivasi romantik menghendaki

suatu pameran yang menampilkan satu seri benda-benda

koleksi yang secara murni menampilkan kepentingan-kepentingan

manusiawi, sedemikian rupa sehingga dengan demikian dapat

mengundang partisipasi dan identifikasi masyarakat yang diwakili

oleh benda-benda koleksi yang dipamerkan.

3) Motivasi Intelektual

Pengunujung dengan motivasi intetelektual terdapat hasrat

untuk menambagh pengetahuan dan untuk itu dipelukan, da untuk

(50)

commit to user

menurut tahap-tahap yang dikehendaki, dari awal hingga akhir,

dari suatu sugesti atau kesimpulan kepada tahap berikutnya.

C. Tinjauan Khusus Museum ( Lobby dan Ruang Pamer )

1. Tinjauan Ruang Museum

a. Lobby

1) Pengertian

Yang dimaksud dengan lobby, pengertiannya secara harafiah

adalah ruang teras dekat dengan pintu masuk yang dilengkapi

dengan beberapa perangkat meja – kursi, yang berfungsi sebagai

ruang duduk atau ruang tunggu.

Penataan lobby yang baik sangat diperlukan dalam

manajemen pengunjung dalam sebuah museum. Lobby merupakan

ruang kontrol yang cukup untuk pengorganisasian ruang,

disamping itu lobby harus cukup lapang, menarik, baik dalam

penerangannya, ventilasinya maupun penataan ruangannya.

2) Fungsi Lobby

a) Sebagai Fungsi Ekonomi, yaitu pengunjung dapat

memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia di lobby dan

tanpa harus pergi ke tempat lain, sehingga menghemat tenaga

dan biaya.

b) Sebagai Fungsi Sosial, yaitu lobby dapat memberikan

informasi kepada pengunjung tentang fasilitas-fasilitas yang

disediakan di lobby agar pengunjung dapat saling berinteraksi

dengan sesama pengunjung lain serta karyawan.

c) Lobby sebagai alat penghubung, yaitu memberikan informasi

serta fasilitas sebagai tujuan pendidikan maupun pariwisata.

3) Fasilitas

Untuk dapat memenuhi kebutuhan aktifitas dalam museum,

maka lobby museum sebaiknya. ( Vail, Coleman Laurence,

1950:155)

(51)

commit to user

b) Tersedianya fasilitas telepon umum

c) Tersedianya counter penjualan (dapat dilakukan di meja

informasi), jika menjual kartu pos dapat disediakan meja untuk

menulis.

d) Tersedia pula display buku dan barang – barang cetakan.

e) Tersedia fasilitas pameran pendahuluan ( memamerkan apa

yang menarik dari museum ).

b. Ruang pamer

1) Pengertian

Ruang pamer dalam bahasa inggrisnya disebut dengan Show

room, yaitu …..” room used for the display of good or merchendise “ ( Ernst Neufert,1987:359). Pengertian tersebut dapat

diterjemahkan sebagai berikut, ruang pamer adalah ruangan yang

digunakan untuk kepentingan pemajangan benda – benda koleksi

atau barang – barang dagangan. Dari pengertian di atas, maka

ruang pamer museum memiliki arti suatu ruangan yang digunakan

untuk menata dan memamerkan benda – benda koleksi agar dapat

dilihat oleh pengunjung .

Sementara, menurut Hadisutjipto (1998 : 34) ruang pamer

merupakan tempat untuk mewujudkan komunikasi antara benda

pamer dan pengunjung. Ruang Pamer dapat dianggap sebagai

kunci pameran yang berbicara tentang kekayaan dari koleksi.

2) Tipe Ruang Pamer

Ruang pamer dapat dibagi ke dalam dua jenis tipe, yaitu :

a) Ruang pamer sementara, digunakan untuk memamerkan materi

pameran seperti lukisan, patung dan materi pameran yang dapat

dipindahkan maupun diganti – ganti. Letaknya diliantai

pameran utama, ataupun lantai bawah dekat dengan lobby

Gambar

Tabel 4.17  Sistem Keamanan  .....................................................................
Tabel Level Cahaya yang Dianjurkan Berdasarkan Jenis Bahan KoleksiTabel 2.1
Gambar 2.1 Sirkulasi Pengunjung yang Diarahkan dengan Sistem Tata Pamernya, untuk
Tabel 2.5 Pencarian Orientasi oleh Pengunjung
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penataan prangko dalam ruang pamer museum disusun dan ditata berdasarkan urutan waktu terbit prangko tersebut, sesuai dengan konsep pergerakan waktu yang

(2) Mewujudkan rancangan system display Museum Batik Solo sebagai tempat yang dapat menyajikan dan melindungi material dalam museum agar tidak rusak.. (3)

 Ruang Pameran Temporer biasanya digunakan pada bangunan museum seni yang mayoritas benda yangv dipamerkan berupa lukisan. Pada museum science dan sejarah, jarang

Perencanaan dan perancangan interior Museum Permen di Pabrik Gula Tasikmadu Karang Anyar Jawa Tengah ini dibatasi pada elemen interior terutama pada segi penataan ruang

Hasil dari berbagai analisa yang telah dijabarkan dalam bab-bab sebelumnya adalah merancang sebuah bangunan arsitektur Museum Seni rupa di Kota Malang yang sesuai

Ruang pameran temporer biasanya digunakan pada bangunan museum seni yang mayoritas benda yang dipamerkan berupa lukisan. Pada museum sejarah tidak memamerkan benda yang

Oleh karena itu, Museum Bank Mandiri yang merupakan salah satu Museum yang memiliki sejarah panjang perusahaan perbankan sangat menarik untuk menjadi bahan

2 PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM KRETEK KABUPATEN KUDUS PERANCANGAN Oleh: Dita Anas Tasya NIM 1912203023 Tugas Akhir diajukan kepada Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia