Profil Ringkas Industri
Tekstil dan Produk
Tekstil di Indonesia
10/29/2015
Arif Rahman Hakim
ONLINE AVAILABLE :
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |2
ARH/2015
I. Peran Industri Tekstil dan Produk Tekstil terhadap Perekonomian
Industri Tekstil dan Produk Tekstil secara umum menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Selama empat belas tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2013, pertumbuhan Produk Domestik Bruto untuk Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) rata-rata sebesar 2,49%. Nilai PDB Industri Tekstil dan Produk Tekstil atas harga berlaku pada tahun 2013 tercatat sebesar 172422,5 milyar rupiah meningkat dibandingkan tahun 2000 sebesar 45421,6 milyar rupiah (Gambar 1).
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 1. Perkembangan Industri TPT di Indonesia Tahun 2001 sd Tahun 2013
Sepanjang periode 2001 hingga 2013 mencatatkan pertumbuhan rata-rata sebesar 2,49%. Namun sektor ini sempat terpukul sebagai akibat krisis keuangan di tahun 2008. Indikasinya dimulai sejak tahun 2007 yang mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -3.68 persen lalu agak sedikit membaik sebesar -3.64 persen ditahun 2008. Trend positif terjadi pada tahun 2009 sebagai koreksi dua periode sebelumnya yaitu sebesar 0,60 persen sempat mencapai pertumbuhan tertinggi sepanjang periode di tahun 2011 sebesar 7,52 persen hingga mencapai di tahun 2013 sebesar 6,06 persen (Gambar 2).
0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 180000 200000
00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13
Ju
ta
R
up
ia
h
Tahun
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r H a l |3
ARH/2015
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 2. Pertumbuhan Industri TPT di Indonesia Tahun 2001 sd 2013
Dilihat dari struktur perekonomian pada industri pengolahan tanpa migas (Gambar 3), ada empat industri yang secara rata-rata telah memberikan konstribusi terbesar, yaitu (1) makanan, minuman, dan tembakau (32,09 persen); (2) Alat Angkutan, Mesin, dan Peralatan (26,51 persen); (3) Pupuk Kimia dan Barang dari Karet (12,3 persen); dan (4) Tekstil dan Produk Tekstil (11,19 persen). Di awal tahun 2000 hingga 2005, industri tekstil dan produk tekstil sempat menjadi penyumbang ketiga pada struktur perekonomian industri pengolahan tanpa migas, tapi sejak tahun 2006 posisinya digantikan oleh industri pupuk kimia dan barang dari karet.
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 3 Rerata Kontribusi Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Industri Non Migas, Tahun 2000 sd 2013 Barang Kayu & Hasil Hutan Lain Kertas & Barang Cetakan Pupuk. Kimia, & Barang dari Karet Semen & Barang Lain Bukan Logam Logam Dasar Besi & Baja Alat Angkutan, Mesin, & Peralatan Barang Lainnya
t r i T P T . . . H a l |3
ARH/2015
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 2. Pertumbuhan Industri TPT di Indonesia Tahun 2001 sd 2013
Dilihat dari struktur perekonomian pada industri pengolahan tanpa migas (Gambar 3), ada empat industri yang secara rata-rata telah memberikan konstribusi terbesar, yaitu (1) makanan, minuman, dan tembakau (32,09 persen); (2) Alat Angkutan, Mesin, dan Peralatan (26,51 persen); (3) Pupuk Kimia dan Barang dari Karet (12,3 persen); dan (4) Tekstil dan Produk Tekstil (11,19 persen). Di awal tahun 2000 hingga 2005, industri tekstil dan produk tekstil sempat menjadi penyumbang ketiga pada struktur perekonomian industri pengolahan tanpa migas, tapi sejak tahun 2006 posisinya digantikan oleh industri pupuk kimia dan barang dari karet.
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 3 Rerata Kontribusi Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Industri Non Migas, Tahun 2000 sd 2013
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00
Makanan, Minuman. & Tembakau Tekstil dan Produk Tekstil Barang Kayu & Hasil Hutan Lain Kertas & Barang Cetakan Pupuk. Kimia, & Barang dari Karet Semen & Barang Lain Bukan Logam Logam Dasar Besi & Baja
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 2. Pertumbuhan Industri TPT di Indonesia Tahun 2001 sd 2013
Dilihat dari struktur perekonomian pada industri pengolahan tanpa migas (Gambar 3), ada empat industri yang secara rata-rata telah memberikan konstribusi terbesar, yaitu (1) makanan, minuman, dan tembakau (32,09 persen); (2) Alat Angkutan, Mesin, dan Peralatan (26,51 persen); (3) Pupuk Kimia dan Barang dari Karet (12,3 persen); dan (4) Tekstil dan Produk Tekstil (11,19 persen). Di awal tahun 2000 hingga 2005, industri tekstil dan produk tekstil sempat menjadi penyumbang ketiga pada struktur perekonomian industri pengolahan tanpa migas, tapi sejak tahun 2006 posisinya digantikan oleh industri pupuk kimia dan barang dari karet.
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r H a l |4
ARH/2015
Konstribusi industri tekstil dan produk tekstil terhadap industri pengolahan secara keseluruhan cenderung menurun terutama jika dibandingkan tahun 2000 sebesar 11,78 persen dengan tahun 2013 sebesar 8,01 persen. Konstribusi terendah terjadi di tahun 2008 sebagai dampak krisis keuangan global meskipun di tahun berikutnya konstribusi terhadap industri pengolahan relatif membaik dengan trend meningkat setiap tahunnya (Gambar 4).
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 4 Kontribusi Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Industri Pengolahan, Tahun 2000 sd 2013
II. Rantai Pasok dalam Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Secara garis besar, supply chain industri TPT meliputi 3 bagian (a) Sektor hulu, (b) Sektor Intermediate dan (c) Sektor Hilir.
a). Sektor Hulu
Sektor hulu melibatkan beberapa industri termasuk didalamnya industri serta dan benang. Berikut industri yang terlibat di sektor hulu.
• Industri serat alam yang memproduksi serat alam seperti kapas, sutera, rami, wol dan lain
sebagainya.
• Industri serat buatan staple yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi serat pendek seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
• Industri benang filamen yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi benang filamen seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
0.00
Konstribusi industri tekstil dan produk tekstil terhadap industri pengolahan secara keseluruhan cenderung menurun terutama jika dibandingkan tahun 2000 sebesar 11,78 persen dengan tahun 2013 sebesar 8,01 persen. Konstribusi terendah terjadi di tahun 2008 sebagai dampak krisis keuangan global meskipun di tahun berikutnya konstribusi terhadap industri pengolahan relatif membaik dengan trend meningkat setiap tahunnya (Gambar 4).
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 4 Kontribusi Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Industri Pengolahan, Tahun 2000 sd 2013
II. Rantai Pasok dalam Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Secara garis besar, supply chain industri TPT meliputi 3 bagian (a) Sektor hulu, (b) Sektor Intermediate dan (c) Sektor Hilir.
a). Sektor Hulu
Sektor hulu melibatkan beberapa industri termasuk didalamnya industri serta dan benang. Berikut industri yang terlibat di sektor hulu.
Industri serat alam yang memproduksi serat alam seperti kapas, sutera, rami, wol dan lain sebagainya.
Industri serat buatan staple yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi serat pendek seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
Industri benang filamen yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi benang filamen seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
03 04 05 06 07 08 09 10 11
Konstribusi industri tekstil dan produk tekstil terhadap industri pengolahan secara keseluruhan cenderung menurun terutama jika dibandingkan tahun 2000 sebesar 11,78 persen dengan tahun 2013 sebesar 8,01 persen. Konstribusi terendah terjadi di tahun 2008 sebagai dampak krisis keuangan global meskipun di tahun berikutnya konstribusi terhadap industri pengolahan relatif membaik dengan trend meningkat setiap tahunnya (Gambar 4).
Sumber : BPS, Hasil Pengolahan Penulis
Gambar 4 Kontribusi Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Industri Pengolahan, Tahun 2000 sd 2013
II. Rantai Pasok dalam Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Secara garis besar, supply chain industri TPT meliputi 3 bagian (a) Sektor hulu, (b) Sektor Intermediate dan (c) Sektor Hilir.
a). Sektor Hulu
Sektor hulu melibatkan beberapa industri termasuk didalamnya industri serta dan benang. Berikut industri yang terlibat di sektor hulu.
Industri serat alam yang memproduksi serat alam seperti kapas, sutera, rami, wol dan lain sebagainya.
Industri serat buatan staple yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi serat pendek seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
Industri benang filamen yang mengolah PX, PTA, MEG dan pulp kayu menjadi benang filamen seperti polyester, nylon, rayon dan lain sebagainya.
11 12 13
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |5
ARH/2015
• Industri pemintalan yang memproduksi benang dari bahan baku berupa serat buatan maupun serat alam atau campuran keduanya.
• Industri pencelupan Benang untuk memberikan efek warna pada benang.
Karakteristik industri sektor hulu adalah industri yang relatif padat modal; kandungan teknologinya tinggi; berskala besar; menggunakan mesin-mesin otomatis; dan nilai tambahnya paling besar. Sebagai contoh industri serat alam. Serat dapat dihasilkan dari berbagai macam bahan baku yang berasal dari hasil pertanian seperti kapas yang menghasilkan serat katun, rami, goni, dan kepompong yang menghasilkan serat sutra. Selain itu bahan baku serat juga bisa diproduksi dari hasil-hasil hutan seperti pulp rayon. Bahkan bulu domba juga bisa menghasilkan serat wool. Seiring dengan makin mahalnya bahan baku berbasis tumbuh-tumbuhan maupun peternakan, akhir-akhir ini berkembang bahan baku serat yang sifatnya sintetis.
Seperti serat polyester yang dihasilkan dari Terephtalic Acid (TPA) dan Ethylene Glicol
(EG) berbahan baku utama minyak bumi. Polyester bisa digunakan untuk bahan polyester 100% atau dicampur dengan katun atau bisa juga dicampur dengan rayon. Selain polyesther chip juga terdapat nylon chip yang merupakan produk akhir dari caprolactam. Sebagai gambaran, nylon chip ini paling banyak digunakan sebagai bahan baku benang untuk keperluan produk stoking, payung, parasut, air bag, gorden, karpet, conveyor belt, tali, serta jaring ikan.Acrylicdigunakan pada pembuatan sweater, sock, coat dan matyarn. Di Indonesia sendiri untuk pabrikacrylic chipmaupunpolypropulene chipbelum tersedia.
b). Sektor Antara
Termasuk dalam sektor antara adalah industri yang memproduksi kain, diantaranya adalah:
• Industri pertenunan (weaving) yang mengolah benang menjadi kain tenun mentah (grey fabric).
• Industri perajutan (knitting) yang mengolah benang menjadi kain rajut mentah (grey fabric).
• Industri pencelupan (dyeing) yang mengolah kain mentah menjadi kain setengah jadi dengan memberikan efek warna pada kain.
• Industri pencapan (printing) yang mengolah kain mentah menjadi kain setengah jadi
dengan memberikan efek motif warna pada kain.
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |6
ARH/2015
• Industri non-woven yang mengolah serat atau benang menjadi kain selain melalui proses tenun atau rajut.
Karakteristik industri antara adalah industrinya semi pada modal, teknologi madya dan modern berkembang terus dan jumlah tenaga kerjanya lebih besar dari sektor industri hulu. Segmen ini juga padat kapital namun menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan sektor hulu. Di segmen printing sangat menekankan aspek kreativitas sedangkan di segmen
dyeing diperlukan managemen pengelolaan limbah yang memadai yang memerlukan biaya
yang tidak sedikit.
c). Sektor Hilir
Termasuk dalam sektor hilir adalah industri yang memproduksi barang-barang jadi tekstil konsumsi masyarakat, diantaranya adalah:
• Industri pakaian jadi (garmen) yang mengolah kain jadi menjadi pakaian jadi baik kain
rajut maupun kain tenun.
• Industri embroideri yang memberikan efek motif atau corak pada kain jadi ataupun barang jadi tekstil.
• Industri produk tekstil lainnya yang mengolah kain jadi menjadi produk tekstil lainnya selain pakaian jadi.
Industri manufaktur pakaian jadi (garment) termasuk proses cutting, sewing, washing dan finishing yang menghasilkan ready-made garment. Pada sektor inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja sehingga sifat industrinya adalah padat karya. Berikut tersaji pohon industri TPT.
Sumber : Asosiasi Pertekstilan Indonesia
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |7
ARH/2015
III. Aplikasi Rantai Nilai Industri TPT pada Pakaian Jadi
Pakaian Jadi: Pemasok Bahan. Bahan yang diperlukan untuk produksi pakaian jadi bersumber di industri serat, pemintalan, dan penenunan/perajutan. Di Indonesia, ada 28 pabrikan serat skala esar terdaftar, yang mempekerjakan hampir 30.000 orang dan kebanyakan berlokasi di Jawa Barat dan Tengah. Pabrikan-pabrikan ini menghasilkan nilon, poliester dan rayon. Produksi serat memerlukan penanaman modal yang besar untuk peralatan dan, oleh karenanya yang bermain di bidang ini biasanya bukan perusahaan berskala kecil-menengah.
Setelah terjalin, serat biasanya dicampur dengan katun dan dipintal untuk menghasilkan benang. Sama dengan pabrikan serat, pabrik-pabrik pemintalan juga besar dari segi ukuran serta memerlukan penanaman modal yang besar untuk permesinan. Ada 204 pabrik pemintalan terdaftar di Indonesia dengan jumlah keseluruhan pekerja 207.764 orang. Setelah dipintal, benang ditenun/dirajut dan, jika perlu, diwarnai agar bercorak sesuai dengan yang diinginkan. Kebanyakan perusahaan penenunan/perajutan kecil tak memiliki peralatan dan keahlian untuk mewarnai dan merampungkan (finish) benang. Akibatnya, produk mereka dijual ke perusahaan penenunan/perajutan yang lebih besar yang berkemampuan melakukan kedua hal itu. Ada 1.044 perusahaan penenunan/perajutan terdaftar di Indonesia, secara keseluruhan mempekerjakan 343.988 orang.
Syarat pembayaran bagi para pihak dengan sudah mapan berhubungan biasanya net-30 , yang berarti seluruh saldo tagihan harus dilunasi dalam tempo net-30 hari kepada pemasok bahan. Akan tetapi, untuk transaksi perdana, bayar-setelah-antar (cash on delivery) merupakan cara pembayaran yang paling umum. Bahan bagi produksi pakaian jadi biasanya langsung diantarkan ke fasilitas pabrikan oleh pemasok, tempat sebagian kecil di antaranya diperiksa demi memastikan ketaatan pada pesanan. Biasanya, sebagian besar perusahaan menengah-besar menggunakan suatu jenis sistem kendali mutu resmi (misalnya, memeriksa 10% dari semua pasokan yang datang), sementara kebanyakan pabrikan kecil tidak demikian. Jika satu kiriman pada pemeriksaan awal tak memenuhi baku mutu yang disepakati, pemeriksaan yang lebih telaten dilakukan (misalnya, 25% pasokan bahan secara acak dipilih dan diperiksa). Mengirim ulang barang yang dipandang cacat merupakan tanggungjawab pemasok bahan.
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |8
ARH/2015
komisi yang kecil (misalnya, 2,5%). Pabrikan pakaian jadi yang lebih kecil umumnya membeli kain dari pedagang grosir dalam negeri, bertempat di pasar Tanah Abang, Jakarta, di mana 2.000 pedagang grosir beroperasi dari rumah toko yang berfungsi sebagai kantor sekaligus toko. Barang-barang diangkut di pasar Tanah Abang umumnya menggunakan kereta dorong.
Gulungan-gulungan kain diantar ke pabrik untuk dipilah, dipotong, dan dijahit. Pernak-pernik, kancing, seleret/ritsleting, dan benang jahit juga umumnya dibeli dari pedagang lokal di Tanah Abang. Bahan-bahan tak langsung, seperti surfaktan, dan zat-zat penganji dan pewarna, dibeli dari pedagang perantara, yang membeli dari pemasok dalam negeri atau mengimpor dari beragam negara, seperti China, Korea, Taiwan, dan Jepang.
Produksi pakaian jadi dimulai dengan pengembangan rancangan. Ada tiga pendekatan umum perancangan, masing-masing bergantung pada pasar konsumen akhir. Pabrikan yang menjual produknya ke toko pengecer skala kecil di dalam negeri membuat rancangan sendiri berdasarkan pengetahuan tentang kecenderungan pasar saat ini, sementara produsen yang menjual ke toko dalam negeri skala besar (misalnya, Metro) biasanya mendapatkan rincian rancangan produk dari agen pembelian. Untuk ekspor, pabrikan juga diberikan rancangan oleh toko eceran besar bersangkutan (misalnya, Sears, JC Penney).
Setelah suatu rancangan selesai, pabrikan menyiapkan rencana produksi yang menyertakan semua unsur yang diperlukan (misalnya, lengan, kerah, lapisan) untuk membuat sepotong lengkap pakaian.
Perakitan dan penjahitan masing-masing unsur didominasi oleh kerja manual dan hanya sedikit berubah seiring berjalannya waktu. Perbedaan besar di antara produsen pakaian jadi biasanya adalah ukuran tenaga kerja, yang bisa amat mencolok dari usaha mikro dengan kurang dari 50 pekerja ke operasi skala raksasa dengan 8-10 ribu pekerja. Pekerja biasanya dikelompokkan menurut gugus-gugus, dengan tiap gugus berfokus pada penyelesaian satu kegiatan tunggal (misalnya, memotong kain, menjahit kancing, dll.) Walaupun sama dengan sepatu dalam hal industri ini juga padat karya, produksi pakaian jadi tidak mengikuti proses awal-sampai-akhir sejenis yang berujung di pembuatan satu saja produk jadi. Alih-alih, produksi lebih cenderung partaian (batch), di mana kelompok berbeda pekerja bekerja serentak untuk memenuhi beberapa pesanan produksi. Misalnya, bukan tidak biasa (khususnya di kalangan perusahaan besar) memiliki beberapa kelompok pekerja bekerja menghasilkan jenis produk yang amat beragam, seperti jins, kaus oblong, dan gaun terusan, di saat yang sama.
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |9
ARH/2015
kendali mutu ini biasanya dilakukan dengan meminta manajer mutu menelaah produk pada langkah-langkah kunci dalam daur produksi.
Pada saat selesai, pakaian jadi dikemas ke dalam kotak dan digudangkan untuk penyaluran mendatang. Lamanya waktu barang jadi tinggal di gudang bergantung pada baik volume pesanan (pesanan yang lebih besar digudangkan lebih lama karena umumnya tidak dikapalkan hingga seluruh pesanan selesai) dan apakah barang diekspor atau tidak (menunggu volume yang cukup mengisi peti kemas).
Pakaian Jadi. Penyaluran di dalam negeri, pasar busana gaya (fashion) berada pada rentang harga menengah-atas. Toko-toko serba-ada lokal seperti Metro, Millenia dan Matahari memiliki operasi grosir dan logistiknya sendiri, dan pembelian dari perusahaan kecil-menengah ditujukan ke gudang-gudang mereka. Syarat pembayaran maksimumnya adalah net-30. Akan tetapi, dalam kasus tertentu, agen pembelian lokal mungkin membayar 30% saat menyampaikan pesanan pembelian dan sisanya dua minggu setelah pengiriman. Beberapa kantor pembelian lokal memiliki cukup kekuatan pasar untuk meminta syarat konsinyasi dari pabrikan, menghindarkan semua resiko transaksi bagi si agen.
Penjualan volume lebih kecil di pasar dalam negeri biasanya dilakukan atas dasar hanya-tunai. Para pedagang grosir yang berpangkalan di Tanah Abang atau Mangga Dua membeli barang langsung dari pabrikan. Barang-barang ini dikemas dan diangkut dari pasar grosir dengan truk atau, untuk pembelian lebih sedikit, mobil. Bergantung pada volume yang dibeli, pakaian jadi mungkin digudangkan oleh pedagang grosir atau langsung dibawa ke toko eceran untuk dijual ke konsumen akhir.
Pembelian ekspor dikoordinasikan oleh agen pembelian. Pakaian jadi umum dan baku dijual ke toko serba-ada dunia, seperti Wal-Mart dan Carrefour, sementara busana gaya dijual ke importir/penyalur merk dunia. Pembelian oleh konsumen akhir (sell through) itu hampir terjamin, asalkan mutu memenuhi baku minimum dan modelnya tidak mengalami alihrupa yang tajam/radikal. Dalam kasus tertentu, barang-barang yang tak laku dapat dikembalikan kepada pabrikan atau dilempar ke pengecer atau kios kecil, tempat barang-barang itu dijual dengan harga yang jauh lebih rendah.
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |10
ARH/2015
pengiriman barang (misalnya, PT Maersk, PT Forin Antarbuana Flyindo, PT Schenker Petrolog Utama) untuk mengatur jadwal dan semua dokumentasi yang diperlukan bagi pengapalan.
Atas kesepakatan, peti kemas kosong dari perusahaan pengantar barang dibawa ke fasilitas pabrikan dan dimuati dengan barang jadi. Setelah penuh, truk diarahkan ke pelabuhan pengapalan (misalnya, Tanjung Priok) tempat barang dibongkar dan diletakkan di kapal dagang. Ini biasanya titik di mana pembeli menerima tanggungjawab pengapalan, dalam sebuah pengaturan yang umum disebut bebas setelah dimuat (FOB free on board).
Sumber : USAID (2007)
Gambar 5. Rantai Nilai Industri Pakaian Jadi
IV. Pangsa Pasar Industri TPT
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |11
ARH/2015
Di pasar AS, Indonesia merupakan eksportir terbesar ketiga setelah China dan Vietnam dengan kontribusi sebesar 7% untuk produk articles of apparel, accessories, knit or crochet. Sementara China dan Vietnam menguasai pangsa pasar masing-masing sebesar 37% dan 9%. Untuk produk articles of apparel, accessories, not knit or crochetIndonesia hanya menguasai 6% pangsa pasar di AS sisanya dikuasai oleh China (43%), Bangladesh (8%), Vietnam (7%) dan Meksiko (7%).
Eropa Berbeda dengan peranan pasar AS yang meningkat, kontribusi Eropa sebagai negara tujuan ekspor TPT menunjukkan penurunan dalam 10 tahun terakhir. Tahun 2001, pasar Eropa masih menyerap 21% ekspor TPT Indonesia, selanjutnya turun menjadi 19% di tahun 2005-2009 dan di tahun 2010 tinggal 18%. Produk TPT Indonesia yang paling banyak terserap di Eropa adalah kategori garmen baik articles of apparel, accessories, knit or crochet
(22%), maupun articles of apparel, accessories, not knit or crochet (23%). Eropa menjadi andalan pasar untuk produkother made textile articles, sets, worn clothingetc yang menyerap 22% ekspor produk tersebut.
Jepang.Penetrasi pasar TPT Indonesia di Jepang relatif stabil seperti terlihat pada tabel 5.15. Dalam 10 tahun terakhir, kontribusi pasar Jepang terhadap total ekspor TPT sebesar 6%. Produk ekspor TPT yang sangat tergantung pada pasar Jepang antara lain Carpets and other textile floor coverings (25%), Other made textile articles, sets, worn clothing etc (22%),
Impregnated, coated or laminated textile fabric(19%) dancotton(15%).
ASEAN. Pasar ASEAN yang diharapkan mampu menjadi penyangga pasar tradisional TPT (AS dan Eropa), ternyata hanya memberikan kontribusi sebesar 6% terhadap total pendapatan ekspor. Meskipun telah berlaku pasar bersama AFTA (ASEAN Free Trade Area), namun pangsa ekspor TPT ke ASEAN justru melemah dalam 10 tahun terakhir. Di tahun 2002 pasar ini mampu menyerap 8% ekspor TPT Indonesia, namun di tahun 2010 turun menjadi 6%. Produk-produk TPT yang mengandalkan pasar ASEAN antara lain Knitted or crocheted fabric
(38%),Wadding, felt, nonwovens, yarns, twine, cordage, etc(29%), danSpecial woven or tufted
fabric, lace, tapestry etc(23%) danManmade filaments(17%).
Pasar Malaysia memberikan kontribusi terbesar di pasar ASEAN. Di pasar ASEAN ini pasar yang mengalami pertumbuhan cukup agresif adalah pasar Vietnam. Jika di Malaysia, produk yang paling banyak diekspor adalah Manmade filaments (26) dan Articles of apparel,
accessories, not knit or crochet (25%), maka di pasar Vietnam yang paling banyak diekspor
oleh Indonesia adalahManmade filaments(45%), danManmade staple fibres(25%) dancotton
P r o f i l R i n g k a s I n d u s t r i T P T . . . H a l |12
ARH/2015
Secara bilateral, pasar Malaysia memberikan kontribusi terbesar di pasar ASEAN. Di pasar ASEAN ini pasar yang mengalami pertumbuhan cukup agresif adalah pasar Vietnam. Jika di Malaysia, produk yang paling banyak diekspor adalah Manmade filaments (26) dan
Articles of apparel, accessories, not knit or crochet (25%), maka dipasar Vietnam yang paling
banyak diekspor oleh Indonesia adalahManmade filaments(45%), danManmade staple fibres
(25%) dan cotton (15%). Perkembangan industri garmen yang pesat di Vietnam membutuhkan pasokan bahan baku yang salah satunya berasal dari Indonesia.
Non-tradisional. Konsumsi TPT di pasar non-tradisional khususnya Timur Tengah diperkirakan kian meningkat, menyusul tingginya harga minyak mentah berpengaruh pada pertumbuhan daya beli masyarakatnya. Kondisi dipasar non-tradisional lainnya seperti Afrika dan Amerika Latin tidak akan terlalu banyak berubah bahkan cenderung mengalami perlambatan menyusul naiknya harga minyak mentah yang mempengaruhi perekonomian negara berkembang dan menurunkan daya beli masyarakatnya.
Sumber :
BPS, Berbagai Terbitan. [Online] http://www.bps.go.id (6 Maret 2015)
BKPM, 2011. Kajian Pengembangan Tekstil dan Produk Tekstil. [Online]
http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/userfiles/ppi/KAJIAN%20PENGEMBA NGAN%20INDUSTRI%20TEKSTIL%20DAN%20PRODUK%20TEKSTIL%202011.pdf (17 Januari 2015)