GURU GEOGRA
U Jurusan Pendidikan
FAKULTAS
UNIVER
GEOGRAFI PADA SMA NEGERI PALANGKA
TAHUN AJARAN 2014/2015
SK RI PSI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (Strata-1) an Ilmu Pengetahuan Sosial Program Studi Pendidi
Oleh :
SUTYA DEVI
NPM: 10.87202.031
LTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDID
IVERSITAS PGRI PALANGKA RAYA
PALANGKA RAYA
2015
NGKA RAYA
ndidikan Geografi
ix
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pendidikan Terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015 adalah benar hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Palangka Raya, November 2015
Sutya Devi
v
SUTYA DEVI. Correlation of school climate and learning technology to geography teachers learning quality at state senior high school in Palangka Raya at 2014/2015 academic year. Under direction of DEDY NORSANDI and TEGUH PRIBADI.
The teachers are main component on educational system and educational quality determinant. Teachers Professionalisme indicated by learning quality enhancement with utilization and optimise of learning technologies. Learning quality supported by the conducived school climate besides learning technologies. This study reported the results of study which investigated correlation of school climate and learning technologies utilization with learning quality. Sixteen participants, the geographical teachers, from state senior high school in Palangka Raya responded to a questionnaire which recorded their working school climate, learning technologies utilization, and learning quality perceived. Spearman correlation analysis was used to test their correlation. This study revealed positive correlation among learning technologies utilization and learning quality. Nevertheless, school climate not correlated with geography learning quality on state senior high school in Palangka Raya. Learning quality enhancement implemented by increase teacher technology literacy and applies them on their learning activities in the classroom.
v
i
SUTYA DEVI. Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015. Dibimbing oleh DEDY NURSANDI dan TEGUH PRIBADI.
Guru merupakan komponen penting pendidikan sekaligus penentu kualitas pendidikan. Profesionalisme guru ditandai dengan peningkatan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan dan pengoptimalan teknologi pembelajaran. Di samping itu, kualitas pembelajaran juga didukung oleh kondisi iklim kerja yang kondusif di sekolah. Penelitian ini melaporkan hasil penelitian yang menyelidiki hubungan antara iklim kerja guru dan pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran. Enam belas responden yang berasal dari guru-guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri di Palangka Raya yang telah memberikan tanggapan terhadap angket dan mencatat persepsi mereka tentang iklim kerja di sekolah, pemanfaatan teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran. Analisis uang di gunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Spearman yang digunakan untuk menguji hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaranguru geografi SMA Negeri di kota palangkaraya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hanya pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran yang memiliki hubungan positif dan bermakna. Sedangkan untuk iklim kerja tidak memberikan pengaruh pada kualitas pembelajaran geografi pada SMA Negeri di Palangka Raya. Sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi pembelajaran dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
vii
SUTYA DEVI. Pengaruh Iklim Kerja dan Teknologi Penmbelajaran Terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015. Dibimbing oleh DEDY NORSANDI dan TEGUH PRIBADI.
Meningkatnya kualitas ilmu pendidikan siswa meningkat tidak lepas dari suasana sekolah yang bersahabat dengan penghuni sekolah dan juga fasilitas sekolah yang memadai, terutama fasilitas multimedia. Suasana sekolah yang kondusif dapat membuat siswa-siswa yang bersekolah dapat lebih menikmati sekolahnya dan menyerap ilmu yang mereka dapatkan di sekolah. Terutama suasana yang berada dalam lingkungan guru-guru sekolah. Pastinya tingkah atau tindakan yang guru lakukan di sekolah dapat di tiru siswa-siswamya. Karena itu iklim kerja yang baik, yang di lakukan guru dengan kesadaran sendiri, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun dapat menghasilkan hubungan yang baik antara guru dengan semua penghuni sekolah. Begitu juga dengan fasilitas sekolah yang baik dan dapat menunjang pengetahuan siswa. Terutama bagi siswa ialah untuk mencari tugas mereka, menjelajahi situs-situs internet yang bias menambah wawasan siswa, dan juga dapat menunjang kekreatifitasan mereka.
Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran guru geogarafi di SMA Negeri Palangka raya. Rancangan penelitian ini adalah rancangan pendugaan atau rancangan korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di seluruh SMA Negeri di Palangka raya pada bulan Juni sampai September 2015, dengan subyek penelitian 7 SMA Negeri di Palangka Raya, sedangkan 16 guru dipilih sebagai sampel. Pengambilan sampel yaitu dengan teknik sampel sensus. Pengumpulan data iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran menggunakan angket sebagai instrumen penelitian. Uji statistika menggunakan analisis korelasi dengan menggunakan bantuan program SPSS 18.0 for windows, korelasi Pearson-product
moment, korelasi Spearman rho, korelasi point-biserial, koefisien Phi, dan
korelasi rasio/Eta (Lodico et al. 2010).
Tingkat pengaruh iklim kerja yang di persepsikan oleh responden memiliki nilai yang rendah (62,5%).). Dengan nilai umur >45 paling tinggi hanya 60%, gender perempuan dan laki-laki bernilai sama, untuk pendidikan nilai yang dominan hanya di S1 dan S2, dan di lama mengajar nilai tertingginya berada di umur 15-20 tahun dengan nilai 25% sedangkan nilai terendah di angka > 5% adalah lama mengajar 0-5 tahun. Nilai iklim kerja dengan kualitas pembelajaran ada (r=0,467 p=0,068), sedangkan antara teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran searah dan lebih erat (r=0.600 p=0.009)
Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor guru yang merupakan guru senior dan fasilitas sekolah). Di mana hampir separuh dari responden penelitian ini adalah guru yang berasal dari sekolah unggulan dan lama. Pemanfaatan teknologi pembelajaran dapat mendukung keberhasilan atau mutu pembelajaran.
v
iii
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dipilih dan dilaksanakannya sejak Juni sampai Agustus 2015 ini ialah Pengaruh Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015.Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Geografi, Universitas PGRI Palangka Raya.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dedy Norsandy, S.Pd.,M.S. sebagai pembimbing I dan Bapak Teguh Pribadi, M.Si. selaku pembimbing II yang telah memberikan pengarahan, petunjuk, dan saran-saran dengan sabar dan bijaksana dalam penyusunan skripsi ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palangka Raya yang telah memberikan ijin dan rekomendasi penelitian kepada penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh Bapak/Ibu Kepala Sekolah SMA Negeri Palangka Raya yang telah memberikan kesempatan dan membantu penulis dalam mengumpulkan data penelitian dan seluruh guru mata pelajaran Geografi SMA Negeri Palangka Raya yang telah membantu penyebaran kuesioner. Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada Semua keluarga yang telah membantu dan memberikan kesempatan, dorongan dan kesabarannya dan rekan-rekan mahasiswa Program Studi Geografi Angkatan 2011 Universitas PGRI Palangka Raya atas kebersamaanya.
Penulis menyadari karya ini masih jauh dari sempurna, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat, khususnya bagi pengembangan pendidikan geografi.
Palangka Raya, November 2015
x
BAB 2. TINJAUAN TEORI ... 6
A.Iklim Kerja ... 6
B.Teknologi Pendidikan ... 7
C.KualitasPembelajaran...8
D.Guru Profesional ... 10
E.Hubungan antar iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap F. kualitas pembelajaran ... 13
G. Kerangka Berpikir... 14
H. Hipotesis ... 14
BAB 3.METODE PENELITIAN... 16
A.Waktu dan Responden Penelitian ... 16
B.Alat dan Bahan ... 16
C.Desain Penelitian... 16
E.Prosedur dan Pengumpulan Data ... 28
F.Defenisi Pengubah dan Pengukuran Pengubah……… 19
G.Uji Coba Instrumen... 24
H.Teknis Analisis Data ... 24
BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil ... 28
1.Pengujian Instrumen... 28
2.Deskripsi Data ... 28
3.Hubungan Antar Pengubah ... 32
B.Pembahasan... 33
1.Guru Sebagai Komponen Utama Kualitas Pembelajaran... 33
2.Hubungan Antara Iklim Kerja dengan Kualitas Pembelajaran ... 36
3.Hubungan Antara Teknologi Pembelajaran dengan Kualitas Pembelajaran... 38
4.Implikasi Hasil Penelitian ... 39
5.Keterbatasan Penelitian ... 40
BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan... 42
Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Nama Sekolah contoh dan Peubah Responden Penelitian... 16
2. Kisi–kisi instrumen angket iklim kerja guru... 23
3. Kisi–kisi instrumen angket teknologi pembelajaran... 23
4. Kisi–kisi instrumen angket kualitas pembelajaran ... 23
5 Ringkasan Hasil Pengujian Konsistensi Internal Dengan Analisis Alpha ... 29
6. Ringkasan deskripsi kategori iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran... 31
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka konsep hubungan antara iklim kerja guru dan teknologi
pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran ... 15
2. Persebaran umur responden penelitian ... 29
3. Persebaran gender responden penelitian ... 30
4. Persebaran tingkst pendidikan responden Penelitian... 30
5. Persebaran pengalaman atau lama mengajar responden Penelitian ... 31
6. Diagram pencar antara iklim kerja dengan kualitas pembelajran ... 32
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Angket penelitian ... 43
2. Hasil análisis rehabilitas instrument ... 54
3. Identitas responden ... 53
4. Rekapitulasi hasil pengisian angket Iklim Kerja ... 56
5. Rekapitulasi hasil pengisian angket Teknologi Pendidikan ... 57
6. Rekapitulasi hasil pengisian angket Kualitas Pembelajaran ... 58
7. Hasil análisis korelasi Spearman ... 59
8. Perhitungan Manual ... 60
9. Surat rekomendasi penelitian ... 61
1 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya
melalui proses pembelajaran formal di sekolah. Pendidikan formal adalah jalur
pendidikan yang terstruktur dan terjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. Proses pendidikan berlangsung sejak lahir sampai ke
liang lahat, dan pendidikan perlu dilakukan sedini mungkin terhadap generasi muda,
karena mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah,
dan masyarakat.
Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan
kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir,
karsa, rasa, cipta dan budi nurani) dan jasmani (pancaindra serta
ketrampilan-ketrampilan). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
tanggung jawab.
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar.
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik,
mengajar, dan membimbing peserta didik. Salah satu tugas guru yaitu menyampaikan
memahami dan mengerti apa yang disampaikan guru, dan kemudian siswa dapat
menguraikan dengan ucapan atau tulisan. Di sini guru berperan dalam keberhasilan
pembelajaran di sekolah. Guru juga berperan dalam membantu perkembangan peserta
didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Secara umum guru berperan
dalam usaha pembentukaan sumber daya manusia yang berpotensial di bidang
pembangunan. Oleh karena itu, guru merupakan kompenen penting dalam proses
belajar-mengajar dan penentu kualitas pendidikan, selain mutu sekolahan dan manajemen
pendidikan (Triyatmo, 2010).
Untuk meningkatkan kinerja guru harus memiliki sikap yang baik terhadap
profesi guru. Sikap selalu berkenaan dengan objek, dan sikapnya terhadap objek ini
disertai dengan perasaan positif dan negatif.. Iklim kerja yang kondusif akan memberikan
peluang dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi dari para anggota organisasi untuk
berinovasi lebih, lebih bebas untuk mencari cara-cara baru dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan. Iklim kerja guru juga harus di perhatikan sebagai salah satu indikator dalam
peningkatan kualitas guru. Iklim kerja sekolah tempat guru melakukan tugas meliputi
lingkungan fisik,sosial, intilektual, dan nilai-nilai. Kondisi lingkungan ini akan
mempengaruhi perilaku warga sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya.
Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan atau AECT (Association
Education Communication and Technology) mendefinisikan teknologi intruksional
sebagai teori dan praktik dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola,
mengevaluasi proses dan sumber dalam pengajarannya. Teknologi pendidikan terkait
Teknologi pendidikan dapat menciptakan suatu pembelajaran yang berkualitas. Kualitas
pembelajaran dapat di artikan sebagai intensitas keterkaitan sistemik dan sinergis guru,
siswa, kurikulum, dan bahan belajar, media, fasilitas dan system pembelajaran dalam
menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal.dapat diraih dengan teknologi
penunjang pembelajaran yang optimal.
Kualitas pembelajaran merupakan tingkat keberhasilan kegiatan belajar-mengajar
yang berjalan secara sistematik dan sinergis antara guru, siswa, kurikulum, bahan ajar,
media, fasilitas dan system pembelajaran sesuai dengan tuntunan kurikulum. Kualitas
pembelajaran di sekolahan ditentukan oleh beberapa komponen, antara lain: 1)
keterampilan guru dalam menyampaikan pembelajaran; 2) aktivitas siswa dalam kegiatan
belajar mengajar; 3) hasil belajar siswa; 4) metode pembelajaran yang digunakan; 5)
media pembelajaran yang digunakan; 6) materi pembelajaran; dan 7) iklim atau suasana
belajar (Mutho’i, 2013; Arifah, 2014). Kemajuan dan peranan tekonolgi sudah demikian meningkat, sehingga penggunaan alat-alat, perlengkapan pendidikan, media pendidikan,
dan pengajaran di sekolah-sekolah mulai disesuaikan dengan kemajuan penggunaan
alat-alat bantu mengajar, alat-alat-alat-alat bantu peraga pendidikan, audio-visual serta perlengkapan
peralatan kerja lainnya. Kemajuan teknologi memberikan banyak tawaran dan pilihan
bagi dunia pendidikan guna menunjang proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih
efektif dan efisien begi siswa. Keuntungan yang di tawarkan dalam kemajuan teknologi
bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga
fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif.
Agar proses pendidikan berjalan dengan baik, maka kita perlu mendaya gunakan berbagai
pembelajaran. Penerapan teknologi pembelajaran merupakan salah satu cara yang dapat
di lakukan untuk mengatasi kelemahan pendidikan selama ini yang di lakukan secara
klasikal. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran bukan hanya dapat menunjang ke
kretivitasan siswa, tetapi juga dapat menunjang ke kualitasan guru dalam pengajaran.
Profesionalisme guru dan kinerja kepala sekolah memiliki andil yang besar
terhadap kualitas pembelajaran di SDN 4 Girimerto, Surakarta (Triyatmo, 2010).
Sedangkan pemanfaatan strategi belajar dengan memadukan teknologi pembelajaran
berupa media video mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah (Mutho’i,
2013; Arifah, 2014). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012)
membuktikan bahwa iklim sekolah (kerja) memiliki peranan positif dan bermakna
terhadap profesionalisme guru yang nantinya berdampak pada peningkatan kualitas
pembelajaran.
A. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah iklim kerja guru memiliki hubungan positif dan bermakna terhadap
kualitas pembelajaran geografi di SMA Negeri sekota Palangka Raya?
2. Apakah teknologi pembelajaran memiliki hubungan positif dan bermakna
terhadap kualitas pembelajaran geografi SMA Negeri sekota Palangka Raya?
B. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengukur hubungan dan kebermaknaan iklim kerja terhadap kualitas
pembelajaran geografi siswa SMA di kota Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/
2. Mengukur hubungan dan kebermaknaan teknologi pembelajaran terhadap kualitas
pembelajaran geografi siswa SMA di Kota Palangka Raya Tahun Ajaran
2014/2015.
C. Manfaat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat akademis dan
praktis: 1) secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat di
bidang kajian manajemen pendidikan, khususnya yang terkait dengan hubungan antara
iklim kerja guru, teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran. Sedangkan 2)
secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa
informasi kepada pihak sekolah untuk meningkatkan iklim kerja guru dan pemanfaatan
teknologi pembelajaran dalam rangka peningkataan kualitas pembelajaran, khususnya
6
TINJAUAN TEORI
A. Iklim Kerja Guru
Pendidikan adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan sumber
daya manusia. Sejalan dengan perkembangan jaman, tantangan yang dihadapi sistem
pendidikan semakin meningkat baik kualitas, kuantitas, maupun relevannya. Guru
merupakan faktor sentral di dalam sistem pembelajaran terutama di sekolah. Peranan
guru sangat penting dalam mentransformasikan input-input pendidikan Sehingga
dapat dipastikan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas
tanpa adanya perubahan peningkatan kualitas guru, Hal ini berarti pendidikan yang
baik dan unggul tetap akan bergantung pada kondisi mutu guru.
Iklim kerja yang menggambarkan suasana dan hubungan kerja antara sesama
pendidik, antara pendidik dengan kepala sekolah, antara pendidik dengan tenaga
kependidikan lainnya serta antar dinas di lingkungannya merupakan wujud dari
lingkungan kerja yang kondusif. Suasana seperti ini sangat dibutuhkan pendidik dan
kepala sekolah untuk melaksanakan pekerjaannya dengan lebih efektif. Iklim kerja
sekolah dapat digambarkan melalui sikap saling mendukung (supportive), tingkat
persahabatan (colegial), tingkat keintiman (intimate), serta kerja sama (cooperative)
(Hasanah, 2008). Kondisi yang terjadi atas keempat dimensi budaya sekolah/iklim
kerja sekolah tersebut berpotensi meningkatkan kinerja pendidik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam rangka
peningkatan kinerjanya adalah a) faktor psikologi. Faktor ini berhubungan dengan
berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketenteraman dalam
kerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan keterampilan; b) Faktor sosial, yaitu faktor
maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya; c) Faktor fisik. Faktor ini erat
hubungannya dengan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik
karyawan, meliputi Jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat,
perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu penerangan, pertukaran udara, kondisi
kesehatan karyawan, umur, dan sebagainya; d) Faktor finansial, faktor ini merupakan
faktor-fakor yang terkait dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi
system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang
diberikan, promosi.
B. Teknologi Pembelajaran
Pendidikan merupakan proses yang komplet yang dipengaruhi oleh berbagai
factor dalam pencapian tujuannya. Terganggunya salah satu komponen sistem akan
berpengaruh pada komponen lain, sehingga sistem tersebut tidak akan dapat mencapai
tujuannya baik. Agar proses pendidikan berjalan dengan baik, maka kita perlu
mendaya gunakan berbagai disiplin ilmu pendidikan, diantaranya penerapan teknologi
pendidikan dalam system pendidikan. Dampak teknologi yang utama akan terjadi
pada guru, yang mana dengan penerapan teknologi pendidikan tersebut akan sangat
berpengaruh terhadap guru dalam proses belajar mengajar, misalnya untuk mengatasi
kekurangan guru guna memenuhi aspirasi belajar penduduk yang cepat
pertumbuhannya atau untuk membantu pelajar membantu menguasai pengetaahuan
yang sangat pesat berkembang, sehingga disebut eksplosi pengetahuan untuk
membantu siswa belajar secara individual dengan lebuh efektif dan efisien (Nasution,
2005).
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penerapan teknologi pendidikan adalah:
a) Mengefektifkan sistem pendidikan dari yang bersifat tradisional secara klasikal
Dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Dengan penerapan teknologi
pendidikan maka siswa dapat mengikuti pendidikan tidak terbatas tempat dan waktu
untuk mengikuti pendidikan; c) Mempunyai kelayakan dalam kelompok kecil, besar
atau secara individual. Dengan berperannya teknologi pendidikan maka belajar itu
dapat dilaksanakan secara klasikal, kelompok kecil, besar ataupun dengan individual
tergantung dengan peralatan dan materi yang akan dipelajari; d) Mempermudah
dalam penyampaian informasi baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan
berperannya teknologi pendidikan dalam dunia pendidikan, maka dapat memacu
semangat para ilmuan untuk menciptakan berbagai alat atau teknologi tepat guna
dalam proses pendidikan (Nasution, 2005).
C. Kualitas Pembelajaran.
Kualitas pembelajaran adalah suatu tujuan yang telah di capai dan bentuk
pembelajaran yang ingin di capai siswa melalaui proses pembelajaran yang di capai
(Hakim, 2007). Sedangkan, kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga
keefektifan. UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural
Organization) menetapkan empat pilar pendidikan, meliputi: a) Learning to know.
Guru hendaknya berperan aktif sebagai teman sejawat untuk berdialog dengan siswa,
mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.; b) Learning to do.
Sekolah hendaknya memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan,
bakat, minatnya. Keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang,
bahkan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung
keberhasilan kehidupan siswa; c) Learning to live together. Salah satu fungsi lembaga
pendidikan adalah mempersiapkan siswa hidup bermasyarakat. Kebiasaan hidup
bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu ditumbuh
secara maksimal memungkinkan siswa mengembangkan diri pada tingkat lebih tinggi
(Hakim, 2007).
Kompetensi guru mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah satu proses yang
terjadinya interaksi antara pendidik dan siswa, salah satu yang mempengaruhi kualitas
pembelajaran adalah guru (dalam hal ini adalah kompetensi yang dimilikinya). Guru
adalah sutradara dan sekaligus aktor dalam proses pembelajaran. Ini tidaklah berarti
mengesampingkan variabel lain, yaitu seperti media pembelajaran (Hakim, 2007).
Dalam hal pembelajaran harus di tunjang dengan sebaik-baiknya dan
selengkap-lengkapnya agar proses pembelajaran menjadi lancar. Adapun hal-hal yang dapat
menunjang proses pembelajaran tersebut di antarnya adalah a) Pengetahuan; b)
kemampuan membuat perencanaan pembelajaran; c) kemampuan menggunakan
media atau alat bantu pelajaran; d) kemampuan menggunakan metode; e) kemampuan
mengelola kelas; dan f) kemampuan mengevaluasi (Hakim, 2007).
Sanjaya (2008) menjelaskan kualitas pembelajaran dapat dilihat dari proses dan
hasil. Proses pembelajaran dikatakan berhasil atau berkualitas apabila seluruh atau
sebagian besar siswa terlibat aktif, menunjukkan motivasi, dan semangat belajar, serta
rasa percaya diri tinggi dalam proses pembelajaran. Sedangkan, proses pembelajaran
dikatakan apabila terjadi perubahan perilaku positif pada seluruh atau sebagian besar
siswa. Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil, berkualitas apabila input
menghasilkan banyak output, bermutu tinggi, sesuai kebutuhan, perkembangan
masyarakat dan pembangunan. Hakim (2008) menjelaskan lebih lanjut bahwa kualitas
pembelajaran adalah tingkat keberhasilan yang melibatkan guru, siswa, kurikulum
bahan belajar, media, fasilitas, system untuk menghasilkan proses perubahan tingkah
D. Guru Profesional
Kata profesional berasal dari bahasa Inggris yang berarti ahli, pakar, mampu
dalam bidang yang digeluti. Menjadi profesional berarti menjadi ahli dalam
bidangnya. Dan seorang ahli tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya.
Akan tetapi, tidak semua ahli dapat menjadi berkualitas karena menjadi berkualitas
bukan hanya menjadi persoalan ahli. Tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan
personaliti. Sebagai seorang yang professional, khususnya guru dapat dibedakan dari
seorang teknisi, karena disamping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerja
tertentu, seorsng pekeja professional juga dutandai dengan adanya informed
responsiveness terhadap implikasi masyarakat dari objek kerjanya.
Profesionalisme guru tidak sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen
namun lebih merupakan sikap dan pengembangan profesionalisme, lebih dari seorang
teknisi tidak hanya mempunyai keterampilan yang tinggi namun mempunyai tingkah
laku sesuai dengan yang disyaratkan. Dalam hal ini disamping kecermatan untuk
menentukan langkah, guru juga harus sabar, ulet dan “talaten” serta tanggap terhadap setiap kondisi, sehingga di akhir pekerjaannya akan membuahkan hasil yang
memuaskan (Sardiman, 2014). Jika guru di Indonesia sudah memenuhi standar
profesional guru seperti yang berlaku di negara lain yang lebih maju maka kualitas
sumber daya manusia Indonesia akan semakin meningkat.
Guru adalah salah satu unsur penting yang harus ada sesudah siswa. Apabila
seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk
tumbuh dan berkembang dengan baik (Sardiman, 2014). Guru profesional harus
memiliki beberapa peranan penting dalam hal belajar-mengajar.contohnya sebagai
berikut: a) Informator. Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium,
Organisator. Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus,
workshop, jadwal, pelajaran yang lain-lain; c) Motivator. Peranan guru sebagai
motivator ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan
pengembangan kegiatan belajar siswa; d) Pengarah. Guru dalam hal ini harus dapat
membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang
dicita-citakan Guru juga harus “handayani”. e) Inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide dalam proses belajar. Sudah barang tentu ide itu merupakan
ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya; f) Transmitter. Dalam kegiatan
belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan
pengetahuan; g) Fasilitator. Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan
memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar, misalkan saja
dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan
perkembangan siswa sehingga interksi belajar-mengajar akan berlangsung secara
efektif; h) Mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam
kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberikan jalan keluar kemacatan
dalam kegiatan diskusi siswa; i) Evaluator. Ada kecenderungan bahwa peran sebagai
evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang
akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana
anak didiknya berhasil atau tidak. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat dari bias
atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu adanya
pertimbangan-pertimbangan ysng sangat unik dan kompleks, terutama yang
menyangkut prilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran
(Sardiman, 2014).
Guru dikatakan sebagai pendidik dan pembimbing. Guru sebagai pendidik,
menanamkan nilai-nilai dan sikap mental serta melatih beerbagai ketrampilan dalam
upaya mengatar anak didik kearah kedewasaan. Oleh karena itu, guru harus seorang
yang berpribdian yang baik, dapat sebagai panutan, sehungga nantinya dapt
memanusiakan manusia. Karena guru juga harus melakukan kegiatan membimbing,
yakni menuntun anak didik dan memberikan lingkungan yang sesuai dangan arah dan
tujuan yang dicita-citakan (Sardiman, 2014).
Peraturan Pemerintah No. 16/2007 tentang standar Kompotensi Guru
menjelaskan bahwa kompotensi yang diperlukan oleh seorang guru terbagi atas 4
katagori (Sardiman,2014), yaitu:
a) Kompotensi Pedagogik (akademik)
Kompotensi pedagogik atau akademik ini merujuk kepada kemampuan guru
yang mengelola proses belajar mengajr, termasuk didalamnya perencanan dan
pelaksaananya, evaluasi hasil belajar belajar dana pengembangan siswa sebagai
individu-individu.
b) Kompotensi sosial
Kompotensi ini merujuk pada kemampuan guru untuk menjadi bagian dari
masyarakat, berkomunikasi dan berinterkasi secara efektif dengan para siswa,
para guru lain dan staf pendidikan lainnya dan pada orang tua/wali siswa serta
masyarakat.
c) Kompotensi Profesional
Kompotensi ini merujuk pada kemampuan guru untuk menguasai materi
pembelajaran guru. Guru harus memiiiki pengetahuan yang baik mengenai
subyek yang diajarkan, mampu mengikuti kode etik professional dan menjaga
d) Kompotensi pribadi
Kompotensi ini mengkaji dedikasi dan loyalitas guru. Mereka harus tegar,
dewasa, bijak, tegas, dapat menjadikan contoh bagi para siswa dan memiliki
kepribadian mulia.
E. Hubungan antara Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran dengan Kualitas Pembelajaran.
Pada dasarnya iklim kerja seorang guru mencerminkan kinerja seorang guru
dalam hal kemampuan mengajar. Iklim kerja guru juga harus diperhatikan sebagai
salah satu indikator dalam peningkatan kualitas guru. Iklim kerja sekolah tempat guru
melaksanakan tugas meliputi lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai.
Kondisi lingkungan ini akan mempengaruhi prilaku warga sekolah dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Teknologi pembelajaran merupakan usaha sistematis dalam merancang,
melaksanakan dan mengevakuasi keseluaruhan proses belajar dan mengajar untuk
suatu tujuan khusus. Teknologi pembelajaran dapat menunjang kinerja guru dalam
mengajar, mempermudah dalam penyampaian materi dan meningkatkan pemahaman
peserta didik dalam memamhami materi yang di samapaikan. Sehingga kualitas dalam
pembelajaran juga akan semakin membaik dan dan meningkatkan kinerja guru dalam
penguasaan bahana pengajaran.
Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran dengan kualitas
pembelajaran bersifat positif. Hal ini disebabkan oleh adanya iklim kerja yang baik
untuk mengukur kualitas kinerja guru dan ditunjangnya teknologi pembelajaran yang
F. Kerangka Berpikir
Kualitas pembelajaran geografi berhubungan oleh faktor internal yang berasal
dari individu tersebut seperti iklim kerja guru, sedangkan faktor eksternal yang
berhubungan kualitas pembelajaran adalah iklim kerja atau kinerja guru tersebut.
Kualitas pembelajaran guru geografi akan meningkat jika guru tersebut memiliki
iklim kerja yang tinggi dan akan semakin meningkat lagi apabila guru tersebut
memiliki kemampuan dan memanfaatkan teknologi pendidikan yang ada. Tahapan
analisis ini sebagai berikut: 1) mengidentifikasi guru berdasarkan data sravadai
berikut: (umur, pendidikan terakhir, pengalaman mengajar, gender, langkah
selanjutnya: 2) mengukur tingkat Iklim kerja berdasarkan indikator-indikator sebagai
berikut; (keterdukungan, persahabatan, keintiman, kooperatif/kerja sama); selanjutnya
3) mengukur tingkat teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan diukur berdasarkan
indikator-indikator sebagai berikut: (ICT, media pembelajaran, alat bantu audio
visual); langkah terakhir 4) mengukur kualitas pembelajaran. Indikator-indikator yang
digunakan adalah proses belajar dan hasil belajar). Semua variabel tersebut
digolongkan dengan kategori tinggi, sedang dan rendah, sehingga diperoleh tingkatan
masing-masing variabel (Gambar 1).
G. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dari penelitian ini adalah
1. Iklim kerja guru memiliki hubungan yang erat dan bermakna dengan kualitas
pembelajaran guru geografi SMA Negeri kota Palangka Raya.
H0: b1= 0. Artinya kerja guru tidak berhubungan dengan kualitas
pembelajaran.
H1: b1≠ 0. Artinya iklim kerja guru memiliki hubungan yang kuat dan
2. Teknologi pembelajaran memiliki hubungan yang erat dan bermakna dengan
kualitas pembelajaran geografi di SMA Negeri di Kota Palangka Raya.
H0: b2= 0; Artinya teknologi pembelajaran tidak berhubungan kualitas
pembelajaran
H1: b2≠ 0 Artinya teknologi pembelajaran memiliki hubungan yang
kuat dan bermakna dengan kualitas pembelajaran geografi.
.
Gambar 1. Kerangka konsep hubungan antara iklim kerja guru dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran.
Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran
geografi di SMAN sekota Palangka Raya
Karakteristik
geografi di SMAN sekota Palangka Raya Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran
geografi di SMAN sekota Palangka Raya
16
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Responden Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di tujuh SMA Negeri di Kota Palangkaraya, dari
Bulan Juni sampai Bulan September 2015. Responden penelitian ini adalah guru-guru
mata pelajaran geografi di SMA Negeri yang berjumlah 16 guru (Tabel 1).
Tabel 1. Nama sekolah contoh dan jumlah responden penelitian.
Nama sekolah Jumlah Responden SMAN 1 Palangka Raya 4 guru SMAN 2 Palangka Raya 2 guru SMAN 3 Palangka Raya 4 guru SMAN 4 Palangka Raya 2 guru SMAN 5 Palangka Raya 1 guru SMAN 6 Palangka Raya 2 guru SMAN 8 Palangka Raya 1 guru SMAN 10 Palangka Raya 1 guru
Jumlah 16 guru
B. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop, pensil, kamera,
buku. Sedangkan bahan yang di gunakan antara lain adalah angket kertas.
C. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bertujuan
mempelajari tentang beberapa konsep spesifik (yang biasa disebut dengan
peubah/variable atau faktor-faktor), mengumpulan data dalam bentuk angka,dan
menganalisis angka-angka tersebut menggunakan pendekatan statistika (Clark &
Cresswell, 2015). Lebih lanjut dijelaskan oleh Clark & Cresswell (2015) penelitian
melaporkan data numerik untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji
hipotesis tentang peubah tertentu.
Rancangan pendugaan (predictive design) atau rancangan korelasional
digunakan dalam penelitian. Rancangan penelitian korelasional adalah penelitian
kuantitatif bukan percobaan yang dirancang untuk mengukur tingkat
hubungan/asosiasi antara dua atau lebih peubah menggunakan analisis statistika
korelasi (Clark & Cresswell, 2015). Penelitian tidak menjelaskan atau menjawab
pertanyaan sebab-akibat, melainkan hanya menjelaskan ada atau tidaknya hubungan
antar peubah-peubah yang diteliti. Walaupun hubungan sebab-akibat belum diketahui
tetapi adanya hubungan yang kuat di antara peubah memungkinkan adanya
penyusunan pendugaan (Kuncoro, 2009). Asosiasi antar peubah dapat dihitung
dengan teknik analisis korelasi. Teknik-teknik korelasi yang dapat digunakan antara
lain: korelasi bivariat, korelasi berganda, korelasi kanonikal (Kuncoro, 2009). Uji
statistika yang umum digunanakan dalam pengujian hubungan antara peubah antara
lain: korelasi Pearson-product moment, korelasi Spearman rho, korelasi
point-biserial, koefisien Phi, dan korelasi rasio/Eta (Lodico et al. 2010).
D. Populasi dan Contoh Penelitian
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang,
obyek, transaksi atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau
menjadikannya obyek penelitian. Sedangkan, contoh adalah suatu himpunan bagian
dari unit populasi (Kuncoro, 2009). Adapun populasi penelitian ini adalah seluruh
guru mata pelajaran geografi yang berjumlah 16 orang.
Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
pengambilan contoh sensus. Metode contoh sensus digunakan dalam penelitian ini
menjelaskan bahwa pengambilan contoh secara sensus dilakukan apabila jumlah
elemen populasi < 50 unit. Oleh karena itu, seluruh elemen bagian dari populasi
diambil sebagai sampel, yaitu sebanyak tujuh SMA Negeri di Kota Palangkaraya.
Metode penarikan contoh sensus dilakukan agar diperoleh informasi lengkap tentang
iklim kerja guru, teknologi pendidikan dan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh
guru-guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri se-Kota Palangkaraya.
E. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah tahapan yang dilakukan untuk memperoleh dan
mengumpulkan data penelitian yang dilakukan secara teratur, tertib, dan baku (Utama
& Mahadewi, 2012). Tiga hal pokok dalam teknik pengumpulan data , yaitu: 1) jenis
data yang digunakan; 2) cara pengumpulan data; dan 3) sumber data (Riense & Abdi,
2009). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis data
Jenis data yang diambil dalam penelitian merupakan hal penting dalam
pelaksanaan penelitian. Hal ini terkait dengan jaminan akan keterbukaan dalam
memperoleh data dan berkaitan dengan kemungkinan adanya pengujian ulang
oleh peneliti lain sehingga mudah dilakukan pengulangan penelitian (Riense &
Abdi, 2009). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: a)
Data primer, data ini merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau
sumber asli. Data ini adalah data mentah yang nantinya akan diproses untuk
mencapai tujuan penelitian yang telah disusun (Rianse & Abdi, 2009). Sumber
data primer adalah dari yang diperoleh dari hasil pengukuran melalui angket; b)
Data sekunder, data ini merupakan data yang diambil dari sumber kedua atau
bukan dari sumber aslinya. Data ini bisa berbentuk data yang tersaji dalam
2. Cara pengumpulan data
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data atau
keterangan yang benar, dapat dipercaya dalam penelitian. Untuk menjamin data yang
obyektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Pengumpulan data dalam penelitian ini
ada tiga, yaitu: a) Metode observasi (pengamatan). Observasi adalah alat pengumpul
data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik
gejala-gejala yang diselidiki (Rianse & Abdi, 2009). Observasi dilakukan oleh pengamat
dengan menggunakan alat mekanis berupa kamera dan alat perekam suara.; b) Metode
kuesioner (angket). Angket adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pernyataan
mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti (Rianse & Abdi, 2009).
Metode ini digunakan mengukur iklim kerja guru, pemanfaatan teknologi dan kualitas
pembelajaran.
3. Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang
diperoleh dari hasil pengisiaan angket dan data sekunder yang berasal dari informasi
sekolah yang bersangkutan dan Dinas Pendidikan Kota Palangka raya.
F. Definisi Peubah dan Pengukuran Peubah
Peubah penelitian adalah kondisi-kondisi yang oleh peneliti dimanipulasi,
dikontrol, atau diamati dalam suatu penelitian atau segala sesuatu yang dijadikan
sebagai obyek pengamatan penelitian (Rianse & Abdi, 2009). Sedangkan, Kuncoro
(2009) menjelaskan peubah penelitian sebagai suatu konsep yang dapat diasumsikan
Peubah berdasarkan konsepnya dikelompokan menjadi empat, yaitu 1) peubah
terikat (dependent variables) adalah peubah yang menjadi perhatian utama dalam
sebuah pengamatan; 2) peubah bebas (independent variables) adalah peubah yang
peubah-peubah yang dapat mempengaruhi perubahan dalam peubah terikat dan
mempunyai hubungan yang positif ataupun negatif bagi peubah terikat nantinya; 3)
peubah moderasi (moderating variables) adalah peubah yang mempunyai dampak
kontijensi (contingent effects) yang kuat pada hubungan peubah bebas dan peubah
terikat; dan 4) peubah sela/intervensi (intervening variables) adalah faktor-faktor yang
secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat,
diukur, atau dimanipulasi tetapi dampaknya dapat disimpulkan berdasarkan dampak
peubah terikat dan peubah moderasi terhadap fenomena yang diamati (Kuncoro,
2009). Pada penelitian ini peubah terikat atau peubah yang menjadi pusat perhatian
adalah kualitas pembelajaran. Namun, peubah bebasnya terdiri dari dua peubah, yaitu
iklim kerja dan teknologi pendidikan.
1. Iklim kerja (X1)
Iklim kerja yang di maksud dalam penelitian ini merupakan hal yang perlu
mendapatkan perhatian dari seorang manager pendidikan karena faktor tersebut
setidaknya ikut mempengaruhi tingkah laku guru, pegawai dan peserta didik.
2. Teknologi Pembelajaran (X2)
Teknologi pembelajaran merupakan upaya guru untuk meningkatkan kualitas
pembelajarannya dalam menggunakan teknologi ada pemahaman materi yang
dimaksudkan untuk peserta didik dapat tercapai dengan baik,
Kualitas Pembelajaran adalah nilai yang diberikan kepada seorang guru atas
hasil pembelajaranan yang diberikannya kepada siswa berdasarkan hasil
pembelajarannya selama mengajar.
Proses pengukuran peubah dapat digambarkan sebagai sederetan tahapan yang
saling berkaitan tentang bagaimana mengukur peubah yang diteliti yang dimulai
dengan 1) mengisolasi kejadian empiris; 2) mengembangkan konsep kepentingan
(concept of interest); 3) mendefinisikan konsep secara konstitutif dan operasional; 4)
mengembangkan skala pengukuran; 5) mengevaluasi skala pengukuran berdasarkan
reliabilitas dan validitasnya; dan 6) penggunan skala pengukuran (Kuncoro, 2007).
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan bagaimana kita mengukur
Peubah. Pengukuran tersebut dapat berupa angka-angka atau sesuatu yang diamati
dari sesuatu yang didefinisikan (Nursalam, 2010). Definisi operasional memperinci
aturan pemetaan dan alat dimana peubah akan diukur dalam kenyataan (Kuncoro,
2009). Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Umur adalah rentang usia semenjak yang bersangkutan dilahirkan (tahun yang
disusun menjadi enam katagorik/skala ordinal);
2. Jenis kelamin adalah klasifikasi gender yang dikelompokan menjadi laki-laki
dan perempuan (skala katagorik);
3. Pendidikan terakhir adalah pendidikan yang diperoleh saat terakhir ditempuh
selama ini (skala ordinal dengan tiga pilihan jawaban);
4. Lama mengajar adalah lama mengajar diukur berdasarkan rentang tahun sejak
pertama kali mengajar (tahun yang diklasifikasikan menjadi enam
5. Dukungan adalah persepsi guru terhadap kepala sekolah terkait dengan
penghargaan prestasi, empati dan pemberian dorongan untuk selalu berkembang
(Skala linkert dengan 5 skala);
6. Persahabatan adalah persepsi guru terhadap rekan sejawatnya tentang saling
berbagi pendapat (Skala linkert dengan 5 skala);
7. Keintiman adalah perasaan saling berbagi, menghormati, dan toleransi semasa
kolega (Skala linkert dengan 5 skala);
8. Kooperatif adalah rasa saling membantu, rasa kebersamaan, dan kerjasama
antara kolega (Skala linkert dengan 5 skala);
9. ICT adalah penggunaan media computer, telepon dan fasimel untuk mendukung
kegiatan belajar-mengajar (Skala linkert dengan 5 skala);
10. Media cetak adalah penggunaan media cetak baik berupa buku ajar, modul,
koran, majalah, cerpen, foto, poster, grafik untuk mendukung kegiatan belajar
mengajar (Skala linkert dengan 5 skala);
11. Audio-visual adalah penggunaan media pembelajarn berupa radio, tape, slide
OHP, film, video dan television untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar
(Skala linkert dengan 5 skala);
12. Proses belajar adalah penilaian guru terhadap proses belajar di kelas beruapa
interkasi, kreativitas, pengalaman yang bervariasi dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa (Skala linkert dengan 5 skala);
13. Hasil belajar adalah yang diukur berdasarkan prestasi akademik, sikap dan
kemandirian siswa siswa (Skala linkert dengan 5 skala);
Definisi operasional diejawantahkan dalam dimensi serta indikator-indikator
yang membatasi istilah Peubah yang digunakan dalam penelitian ini. Indikator
digunakan dalam penelitian ini merupakan dasar pembuatan instrumen penelitian
akan tetapi intrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan instrument
yang diadopsi dari instrumen yang dikembangkan oleh Riduwan (2009).
Tabel 2. Kisi-kisi instrument angket iklim kerja guru
Dimensi Indikator Item Jenis
1. Menghargai prestasi 1-2 Primer Guru
2. Berempati 3
1. Saling berbagi pendapat 5 Primer Guru
2. Saling mempercayai 6
4. Kooperatif 1. Saling membantu 10 Primer Guru
2. Kebersamaan 11
3. Kerja sama 12
Tabel 3. Kisi-kisi instrument angket teknologi pembelajaran
Dimensi Indikator Item Jenis
1. Buku teks 5 Primer &
sekunder
c. audio visual 1. Radio, tape, slide, OHP
9 Primer &
sekunder
Guru
Tabel 4. Kisi-kisi instrument angket kualitas pembelajaran
Dimensi Indikator Item Jenis
data
Sumber data
a. Proses belajar 1. Interaksi 1-2 Primer Guru
2. Kreativitas 3-4
3. Pengalaman bervariasi
5-6
b. Hasil belajar 1. Prestasi akademik 7-8 Primer &
sekunder
Guru
2. Sikap (perilaku) 9-10
3. Kemandirian 11
G. Uji Coba Instrumen
Sebelum instrumen digunakan, maka instrumen tersebut diuji cobakan terlebih
dahulu untuk mengukur reliabilitasnya. Uji coba dilakukan kepada beberapa guru
geografi di SMA Negeri yang ada di Kota Palangka Raya. Uji coba instrumen ini
dilakukan di SMA Negeri 3 tetapi pada uji sesungguhnya guru-guru geografi di SMA
Negeri 3 juga diambil kembali sebagai subyek penelitian.Reliabilitas adalah alat
pengukur (Rianse & Abdi, 2009). Persamaan Alpha Cronbach digunakan untuk
menguji reliabilitas instrumen berupa angket:
= 1 1
Keterangan:
r11 = Nilai reliabilitas
si = Varians skor tiap item pertanyaan
st = Varians total
k = Jumlah item pertanyaan
Nilai koefisien reliabilitas ini kemudian dibandingkan dengan nilai nilai rtabel
pada taraf kepercayaan (α = 5%) pada derajat bebas (db = N-1). Instrumen tes
dikatakan reliabel jika r11> rtabel,pada taraf kepercayaan 5% pada (db = N-1) (Rianse
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah rancangan untuk menganalisis data yang telah
dikumpulkan dari sumbernya, baik pengamatan di lapangan atau
sumber-sumber lainnya (Sugiyono, 2010). Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 1). Analisis deskriptif presentase, dan 2) analisis korelasi
Spearman-Rho.
1. Uji statistik deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau
memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel dan populasi
sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang
berlaku (Sugiyono, 2010). Pada statistika deskriptif ini digunakan untuk menghitung
persentase iklim kerja guru, teknologi pembelajaran, dan kualitas pembelajaran.
Langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung statistik deskriptif adalah:
a. Menghitung persentase
= × 100%
Keterangan:
DP = deskriptif persentase
n = jumlah nilai yang diperoleh
N = jumlah nilai ideal
% = tingkat keberhasilan yang dicapai (Riduan, 2004).
b. Nilai interval
=
Keterangan:
I = interval
NT = nilai tertinggi
NR = nilai Terendah
2. Analisis Korelasi Spearman-Rho
Dalam upaya menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka digunakan
analisis korelasi. Analisis korelasi yang digunakan adalah analisis korelasi
Spearman-rho. Analisis statistika ini mengukur asosiasi antara dua peubah diukur dengan skala
ordinal sehingga obyek yang sedang di teliti dapat di rangking dalam dua seri urutan
ranking (Ghozali, 2006). Persamaan untuk menghitung nilai korelasi dari asosiasi ini
adalah
= 1 6( 1)
Keterangan:
N = jumlah pengamatan.
d = perbedaan antar-ranking dalam dua distribusi ranking (Ghozali, 2006).
Kadang-kadang terjadi dua atau lebih subyek mendapatkan skor yang sama
untuk peubah yang sama (tied score). Apabila terjadi tied score seperti ini, maka
setiap subyek diberi nilai rata-rata dari rank seandainya tidak terjadi tied score. Jika
proporsi observasi tied score tidak begitu besar, maka pengaruhnya terhadap nilai
korelasi spearman rs bisa diabaikan dengan persamaan di atas masih dapat digunakan.
Namun demikian, jika proporsi ties besar maka diperlukan faktor koreksi kedalam
perhitungan rumus rs. Jika terjadi ties, maka pengaruh tied ranking terhadap peubah
X akan menurunkan jumlah nilai kaudrat (∑x2) dibawah nilai (N3-N0/12), jadi : x²< N³ N
Oleh karena itu perlu mengoreksi jumlah kaudrat dengan memasukan nilai ties
score (tied rank tidak berpengaruh terhadap nilai rata-rata atau ∑x yang selalu = 0).
Faktor koreksi tersebut adalah sebagai berikut:
T = (t t )
Keterangan:
g = jumlah grup untuk tied rank yang berbeda
ti = jumlah tied rank dalam grup ith
Tx = faktor koreksi untuk peubah X (Ghozali, 2006).
Ties yang terjadi pada peubah Y juga memerlukan faktor koreksi diberi kode Ty.
Jumlah kaudrat yang telah dikoreksi dengan ties akan menjadi sebagai berikut :
x²< N³ N T 12
Apabila terjadi sejumlah ties pada peubah X maupun Y maka persamaan sebagai
berikut ini dapat digunakan untuk menghitung nilai rs:
= ( ) 6
( + ) 2
( ) [( + )( )] + ( )
Keterangan:
N = jumlah pengamatan
d = perbedaan antar-ranking dalam dua distribusi ranking
Tx = faktor koreksi untuk peubah X
Ty = faktor koreksi untuk peubah Y (Ghozali, 2006).
Perhitungan analisis korelasi Spearman-rho dilakukan dengan bantuan perangkat
8
HASIL & PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Pengujian instrumen
Pengujian validitas instrumen pada penelitian ini tidak dilakukan karena
instrumen yang digunakan merupakan isntrumen yang sudah digunakan pada
penelitian sebelumnya sehingga diperkirakan memiliki keakuratan yang relatif tinggi.
Namun, pengujian konsistensi internal instrumen tetap dilakukan maka pengujian
reliabilitas tetap dilakukan. Instrumen iklim kerja, teknologi pembelajaran , dan
kualitas pembelajaran menunjukan konsistensi/keajagen yang tinggi (r11 > 0,700).
Nilai alpha secara statistika juga menunjukan keberartian (r11 > rtabel; n = 16).
Ringkasan hasil pengujian reliabilitas internal disarikan pada Tabel 1. Data dan
contoh perhitungan direkap pada lampiran 2.
2. Deskriptif Data
Profil responden penelitian ini didominasi oleh responden (guru) yang berumur
lebih 45 tahun (> 60%). Ini menunjukan bahwa guru-guru mata pelajaran geografi di
SMAN di Kota Palangkaraya merupakan guru senior (Gambar 2). Adapun, responden
berdasarkan gender. Komposisi antara guru laki-laki dan guru perempunan memiliki
perimbangan yang sama (Gambar 3). Sedangkan berdasarkan klasifikasi tingkatan
pendidikan maka secara umum responden sudah memenuhi ketentuan
perundang-undangan. Hampir seperempat responden memiliki pendidikan pascasarjana (Gambar
4). Selain itu, secara pengalaman mengajar maka responden penelitian menunjukan
bahwa mereka adalah guru-guru senior (lama mengajar > 15 tahun). Guru muda
(pengalaman mengajar < 5 tahun) jumlahnya tidak banyak (< 10%). Komposisi
menunjukan bahwa responden penelitian adalah guru-guru yang sudah lama mengajar
atau guru senior. Data dan contoh perhitungan ringkasan karakteristik responden
direkap pada lampiran 3.
Tabel 5. Ringkasan hasil pengujian konsistensi internal dengan analisis alpha
Variabel r11 rtabel Keterangan
Iklim kerja 0.743 0,497 Reliable
Teknologi pembelajaran 0,743 0,497 Reliable
Kualitas pembelajaran 0,736 0,497 Reliable
Keterangan: n = 16
Gambar 3. Persebaran gender responden penelitian.
Gambar 5. Persebaran pengalaman atau lama mengajar responden penelitian.
Tabel 6. Ringkasan deskripsi tingkatan iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran.
Peubah
Tingkatan
Tinggi Sedang Rendah
Frekuensi (%) Frekuensi (%) Frekuensi (%)
Iklim Kerja 16 (100,0 %) 0 (0,0 %) 0 (0,0 %)
Teknologi pembelajaran 15 (93,8 %) 1 (6,3 %) 0 (0,0 %)
Kualitas Pembelajaran 16 (100,0 %) 0 (0,0 %) 0 (0,0 %)
Keterangan: n = 16
Data deskriptif iklim kerja (skor = 48-58; skala linkert = 5; item = 12) dan data
deskriptif kualitas pembelajaran (skor = 46-59; skala linkert = 5; item = 12) yang
dilakukan oleh responden penelitian menunjukan tingkatan yang tinggi. Sedangkan
teknologi pembelajaran secara umum menunjukan tingkatan yang tinggi (skor =
38-48; skala Linkert = 5; item = 10). Persebaran total nilai instrument iklim kerja,
3. Hubungan Antara Peubah
Hubungan antara iklim kerja guru, pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan
kualitas pembelajaran dianalisis dengan analisis korelasi Spearman-Rho karena
jumlah data tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan analisis statistika
parametriknya (n < 30). Sebaran data untuk peubah iklim kerja, pemanfaatan
teknologi pembelajar, dan kualitas pembelajaran disajikan dalam diagram pencar
(Gambar 2 dan 3).
Ringkasan hasil analisis korelasi tersebut diringkas pada Tabel 8 dan hasil
analisis keseluruhan direkap pada Lampiran 6. Hubungan antara iklim kerja dengan
kualitas pembelajaran menunjukan adanya hubungan positif tetapi kekuatan
hubungannya rendah (r = 0,467) dan kebermaknaan hubungannya tidak penting (p =
0,068). Namun, demikian hubungan antara teknologi pembelajaran dengan kualitas
pembelajaran menunjukan hubungan yang searah dan lebih erat (r > 0,600) dan
hubungan ini secara statistika bermakna atau penting (p = 0,009).
Gambar 7. Diagram pencar antara antar pemanfaatan teknologi pembelajarn dengan kualitas pembelajaran.
Tabel 7. Korelasi antar iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran.
Kualitas Pembelajaran
Iklim Kerja r = 0,467
p = 0,068
Teknologi pembelajaran r = 0,631 p = 0,009
Keterangan: n = 16.
B. PEMBAHASAN
1. Guru sebagai Komponen Utama Kualitas Pembelajaran
Sumber daya dalam organisasi atau lembaga pendidikan antara lain: manusia,
sarana dan prasarana, biaya, teknologi dan informasi. Namun, sumberdaya manusia
merupakan sumber daya organisasi pendidikan yang paling penting dalam mencapai
keberhasilan (Fattah, 2004). Sumber daya manusia utama dalam organisasi atau
Guru merupakan kunci peningkatan mutu pendidikan. Guru berupa pada titik
sentral setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan ke perubahan-perubahan
kualitatif. Guru bertanggung jawab untuk mengatur dan menciptakan suasana yang
mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di kelas. Peran guru sangat
besar dalam pengelolaan kelas (Triyatmo, 2010; Ismaniarti, 2011; Kompri, 2015a).
Karakteristik guru yang berperan penting dengan kualitas pembelajaran antara lain,
status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan dan pengalaman mengajar (Kompri,
2015a).
Guru-guru yang menjadi responden penelitian merupakan guru-guru senior
yang telah memiliki kematangan usia (> 45 tahun) dan berpengalaman (> 15 tahun).
Karakter yang kuat dan kemampuan mengelola kegiatan belajar-mengajar dibentuk
dari kematangan usia dan pengalaman mengajar. Lebih dari separuh responden
ditempatkan di sekolah-sekolah unggulan dan lama karena kematangan usia dan
pengalaman kerja mereka. Kelompok guru senior umumnya memiliki pengalaman
dan wawasan yang luas sebagai seorang pendidik (Pratiwi, 2012).
Kinerja guru sangat dipengaruhi oleh pengalaman mengajar guru. Pengalaman
mengajar yang diperoleh oleh guru akan membentuk kematangan dan kemantapan
perilaku guru. Guru yang berpengalaman diharapkan akan memiliki kematangan
pribadi dalam menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Guru yang
berhasil menjalankan tugas sebagai guru maka kualitas pembelajaran yang
dilakukannya akan makin meningkat (Suryani, 2012). Suastini (2005) menjelaskan
bahwa pengalaman adalah pekerjaan yang menghasilkan perubahan ke arah
kematangan tingkah laku, pertambahan pengertian dan pengayaan informasi.
kesuksesan dan kematangan karir guru biasanya diperoleh pada rentang usia 35 tahun
sampai 46 tahun.
Tingkat pendidikan responden juga menunjukan tingkatan yang baik (telah
menyelesaikan pendidikan sarjana), bahkan ada beberapa guru telah menyelesaikan
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi (pendidikan pascasarjana). Ini
membuktikan bahwa guru-guru yang menjadi responden penelitian merupakan guru
yang berkualitas sehingga keberadaan mereka berperan dalam peningkatan kualitas
pembelajaran. Guru yang unggul ditandai dengan kemampuan intelektual yang tinggi.
Kemampuan intelektual diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan serta pengalaman
kerja. Perilaku profesional guru salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
(Pratiwi, 2012). Kualifikasi akademik pendidikan yang memadai merupakan sebuah
prasyarat mutlak bagi seorang guru agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kualifikasi akademik akan mempengaruhi bagaimana dia berperilaku dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Pendidikan akademik yang tinggi dan terstandard
maka pelaksanaaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas makin baik
(Suyanto et al. 2009 yang dikutip oleh Suhartini, 2011).
Namun demikian, secara umum faktor-faktor yang menentukan kinerja guru
adalah faktor-faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor-faktor dari dalam antara
lain: 1) kemampuan atau kompetensi guru; 2) faktor komitmen kinerja guru; 3) faktor
perilaku guru; 4) faktor sikap; 5) faktor intelegensi guru; dan 6) faktor kecerdasan
emosional guru. Sedangkan, faktor-faktor dari luar, antara lain: 1) gaya
kepemimpinan kepala sekolah; 2) supervisi dan pengawasan; 3) iklim kerja; 4) faktor
sarana dan prasarana; dan 5) faktor budaya kerja (Pratiwi, 2012; Suryani, 2012).
Guru yang baik akan selalu meningkatkan kemampuannya secara profesional.
dilakukan dengan lima cara, yaitu: 1) peningkatan profesionalitas yang melekat pada
dirinya secara dedikatif dan berkomitmen kepada mutu proses dan hasil belajar; 2)
meningkatkan penguasaan ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan
fungsi dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya atau sekaligus
melakukan transfer ilmu pengetahuan dan internalisasi serta amaliah; 3) mendidik dan
menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, mampu mengatur dan memelihara
hasil kreasinya, serta menjadi model dan panutan atau teladan; 4) memiliki kepekaan
intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keterampilan secara
berkelanjutan sehingga dapat ditransformasikan kepada peserta didiknya; dan 4)
mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa
akan datang (Muhaimin, 2003).
2. Hubungan Antara Iklim kerja dengan Kualitas Pembelajaran
Iklim sekolah yang baik merupakan salah satu dari karakteristik sekolah yang
efektif. Iklim sekolah yang baik adalah iklim atau suasana kondusif yang tercipta di
dalam sekolah akibat pengaruh perilaku komponen sekolah dalam interaksi belajar
mengajar maupun manajerial yang bersifat terbuka, kekeluargaan, komunikatif,
memiliki otonomi, aman, tentram, tertib aturan, dan tertib, serta berkerja dengan
penuh tanggung jawab. Iklim kerja yang kondusif dapat dicapai melalui manajemen
dan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang efektif serta melibatkan dan bekerja
sama dengan semua pemangku kepentingan seperti guru, pegawai, komite sekolah
dan siswa (Kompri, 2015a).
Iklim sekolah merupakan indikator kualitas kehidupan dan perilaku di sekolah.
Iklim sekolah sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kerja personil sekolah, gaya
kepemimpinan kepala sekolah, hubungan edukatif guru dengan siswa, antusias guru
kedisiplinan, dan sikap guru kepada siswa. Iklim kerja yang sehat (nyaman dan
menyenangkan) akan membuat guru bekerja dengan leluasa dan menumbuhkan
motivasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Sagala, 2008).
Iklim sekolah yang kondusif bagi pembelajaran adalah suasana sekolah yang
bebas dari permasalahan disiplin, memiliki harapan dan prestasi belajar anak yang
tinggi. Iklim sekolah yang kondusif akan meningkatkan kualitas pengajaran,
pemanfaatan sumber belajar dan fasilitas belajar sekolah oleh siswa dan guru secara
optimal, semua kegiatan sekolah diatur secara tertib dan dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab dan merata. Iklim sekolah yang baik akan memberikan kenyamanan
belajar pada yang berkualitas, dinamis, dan aktif serta penuh keterlibatan siswa
(Pratiwi, 2012; Kompri, 2015a).
Namun demikian, dalam penelitian ini iklim kerja menunjukan hubungan yang
tidak bermakna (r = 0,467; p = 0,068). Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor guru
yang merupakan guru senior dan fasilitas sekolah (khususnya sekolah unggulan dan
lama). Di mana hampir separuh dari responden penelitian ini adalah guru yang berasal
dari sekolah unggulan dan lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Triyatmo (2010)
yang menyatakan bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas sekolah,
kapasitas dan kompetensi guru serta manajemen pendidikan. Lebih lanjut, proses
belajar mengajar erat kaitannya dengan lingkungan atau suasana di mana proses
belajar mengajar berlangsung. Iklim kerja bukanlah faktor tunggal yang
mempengaruhi kualitas pembelajaran. Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi
kualitas pembelajar, yaitu gaya belajar peserta didik, kualitas dan kreativitas guru, dan
fasilitas belajar yang tersedia (Hadiyanto, 2004 yang dikutip oleh Permatasari, 2013),
dan kinerja kepala sekolah, serta dukungan orang tua atau lingkungan (Triyatmo,