• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pembe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pembe"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

GURU GEOGRA

U Jurusan Pendidikan

FAKULTAS

UNIVER

GEOGRAFI PADA SMA NEGERI PALANGKA

TAHUN AJARAN 2014/2015

SK RI PSI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (Strata-1) an Ilmu Pengetahuan Sosial Program Studi Pendidi

Oleh :

SUTYA DEVI

NPM: 10.87202.031

LTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDID

IVERSITAS PGRI PALANGKA RAYA

PALANGKA RAYA

2015

NGKA RAYA

ndidikan Geografi

(2)
(3)
(4)
(5)

ix

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pendidikan Terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015 adalah benar hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Palangka Raya, November 2015

Sutya Devi

(6)

v

SUTYA DEVI. Correlation of school climate and learning technology to geography teachers learning quality at state senior high school in Palangka Raya at 2014/2015 academic year. Under direction of DEDY NORSANDI and TEGUH PRIBADI.

The teachers are main component on educational system and educational quality determinant. Teachers Professionalisme indicated by learning quality enhancement with utilization and optimise of learning technologies. Learning quality supported by the conducived school climate besides learning technologies. This study reported the results of study which investigated correlation of school climate and learning technologies utilization with learning quality. Sixteen participants, the geographical teachers, from state senior high school in Palangka Raya responded to a questionnaire which recorded their working school climate, learning technologies utilization, and learning quality perceived. Spearman correlation analysis was used to test their correlation. This study revealed positive correlation among learning technologies utilization and learning quality. Nevertheless, school climate not correlated with geography learning quality on state senior high school in Palangka Raya. Learning quality enhancement implemented by increase teacher technology literacy and applies them on their learning activities in the classroom.

(7)

v

i

SUTYA DEVI. Hubungan Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015. Dibimbing oleh DEDY NURSANDI dan TEGUH PRIBADI.

Guru merupakan komponen penting pendidikan sekaligus penentu kualitas pendidikan. Profesionalisme guru ditandai dengan peningkatan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan dan pengoptimalan teknologi pembelajaran. Di samping itu, kualitas pembelajaran juga didukung oleh kondisi iklim kerja yang kondusif di sekolah. Penelitian ini melaporkan hasil penelitian yang menyelidiki hubungan antara iklim kerja guru dan pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran. Enam belas responden yang berasal dari guru-guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri di Palangka Raya yang telah memberikan tanggapan terhadap angket dan mencatat persepsi mereka tentang iklim kerja di sekolah, pemanfaatan teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran. Analisis uang di gunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Spearman yang digunakan untuk menguji hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaranguru geografi SMA Negeri di kota palangkaraya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hanya pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran yang memiliki hubungan positif dan bermakna. Sedangkan untuk iklim kerja tidak memberikan pengaruh pada kualitas pembelajaran geografi pada SMA Negeri di Palangka Raya. Sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi pembelajaran dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

(8)
(9)

vii

SUTYA DEVI. Pengaruh Iklim Kerja dan Teknologi Penmbelajaran Terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015. Dibimbing oleh DEDY NORSANDI dan TEGUH PRIBADI.

Meningkatnya kualitas ilmu pendidikan siswa meningkat tidak lepas dari suasana sekolah yang bersahabat dengan penghuni sekolah dan juga fasilitas sekolah yang memadai, terutama fasilitas multimedia. Suasana sekolah yang kondusif dapat membuat siswa-siswa yang bersekolah dapat lebih menikmati sekolahnya dan menyerap ilmu yang mereka dapatkan di sekolah. Terutama suasana yang berada dalam lingkungan guru-guru sekolah. Pastinya tingkah atau tindakan yang guru lakukan di sekolah dapat di tiru siswa-siswamya. Karena itu iklim kerja yang baik, yang di lakukan guru dengan kesadaran sendiri, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun dapat menghasilkan hubungan yang baik antara guru dengan semua penghuni sekolah. Begitu juga dengan fasilitas sekolah yang baik dan dapat menunjang pengetahuan siswa. Terutama bagi siswa ialah untuk mencari tugas mereka, menjelajahi situs-situs internet yang bias menambah wawasan siswa, dan juga dapat menunjang kekreatifitasan mereka.

Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran guru geogarafi di SMA Negeri Palangka raya. Rancangan penelitian ini adalah rancangan pendugaan atau rancangan korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di seluruh SMA Negeri di Palangka raya pada bulan Juni sampai September 2015, dengan subyek penelitian 7 SMA Negeri di Palangka Raya, sedangkan 16 guru dipilih sebagai sampel. Pengambilan sampel yaitu dengan teknik sampel sensus. Pengumpulan data iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran menggunakan angket sebagai instrumen penelitian. Uji statistika menggunakan analisis korelasi dengan menggunakan bantuan program SPSS 18.0 for windows, korelasi Pearson-product

moment, korelasi Spearman rho, korelasi point-biserial, koefisien Phi, dan

korelasi rasio/Eta (Lodico et al. 2010).

Tingkat pengaruh iklim kerja yang di persepsikan oleh responden memiliki nilai yang rendah (62,5%).). Dengan nilai umur >45 paling tinggi hanya 60%, gender perempuan dan laki-laki bernilai sama, untuk pendidikan nilai yang dominan hanya di S1 dan S2, dan di lama mengajar nilai tertingginya berada di umur 15-20 tahun dengan nilai 25% sedangkan nilai terendah di angka > 5% adalah lama mengajar 0-5 tahun. Nilai iklim kerja dengan kualitas pembelajaran ada (r=0,467 p=0,068), sedangkan antara teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran searah dan lebih erat (r=0.600 p=0.009)

Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor guru yang merupakan guru senior dan fasilitas sekolah). Di mana hampir separuh dari responden penelitian ini adalah guru yang berasal dari sekolah unggulan dan lama. Pemanfaatan teknologi pembelajaran dapat mendukung keberhasilan atau mutu pembelajaran.

(10)

v

iii

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dipilih dan dilaksanakannya sejak Juni sampai Agustus 2015 ini ialah Pengaruh Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran terhadap Kualitas Pembelajaran Guru Geografi Pada SMA Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/2015.Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Geografi, Universitas PGRI Palangka Raya.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dedy Norsandy, S.Pd.,M.S. sebagai pembimbing I dan Bapak Teguh Pribadi, M.Si. selaku pembimbing II yang telah memberikan pengarahan, petunjuk, dan saran-saran dengan sabar dan bijaksana dalam penyusunan skripsi ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palangka Raya yang telah memberikan ijin dan rekomendasi penelitian kepada penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh Bapak/Ibu Kepala Sekolah SMA Negeri Palangka Raya yang telah memberikan kesempatan dan membantu penulis dalam mengumpulkan data penelitian dan seluruh guru mata pelajaran Geografi SMA Negeri Palangka Raya yang telah membantu penyebaran kuesioner. Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada Semua keluarga yang telah membantu dan memberikan kesempatan, dorongan dan kesabarannya dan rekan-rekan mahasiswa Program Studi Geografi Angkatan 2011 Universitas PGRI Palangka Raya atas kebersamaanya.

Penulis menyadari karya ini masih jauh dari sempurna, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat, khususnya bagi pengembangan pendidikan geografi.

Palangka Raya, November 2015

(11)

x

BAB 2. TINJAUAN TEORI ... 6

A.Iklim Kerja ... 6

B.Teknologi Pendidikan ... 7

C.KualitasPembelajaran...8

D.Guru Profesional ... 10

E.Hubungan antar iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap F. kualitas pembelajaran ... 13

G. Kerangka Berpikir... 14

H. Hipotesis ... 14

BAB 3.METODE PENELITIAN... 16

A.Waktu dan Responden Penelitian ... 16

B.Alat dan Bahan ... 16

C.Desain Penelitian... 16

(12)

E.Prosedur dan Pengumpulan Data ... 28

F.Defenisi Pengubah dan Pengukuran Pengubah……… 19

G.Uji Coba Instrumen... 24

H.Teknis Analisis Data ... 24

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil ... 28

1.Pengujian Instrumen... 28

2.Deskripsi Data ... 28

3.Hubungan Antar Pengubah ... 32

B.Pembahasan... 33

1.Guru Sebagai Komponen Utama Kualitas Pembelajaran... 33

2.Hubungan Antara Iklim Kerja dengan Kualitas Pembelajaran ... 36

3.Hubungan Antara Teknologi Pembelajaran dengan Kualitas Pembelajaran... 38

4.Implikasi Hasil Penelitian ... 39

5.Keterbatasan Penelitian ... 40

BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan... 42

Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Nama Sekolah contoh dan Peubah Responden Penelitian... 16

2. Kisi–kisi instrumen angket iklim kerja guru... 23

3. Kisi–kisi instrumen angket teknologi pembelajaran... 23

4. Kisi–kisi instrumen angket kualitas pembelajaran ... 23

5 Ringkasan Hasil Pengujian Konsistensi Internal Dengan Analisis Alpha ... 29

6. Ringkasan deskripsi kategori iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran... 31

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka konsep hubungan antara iklim kerja guru dan teknologi

pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran ... 15

2. Persebaran umur responden penelitian ... 29

3. Persebaran gender responden penelitian ... 30

4. Persebaran tingkst pendidikan responden Penelitian... 30

5. Persebaran pengalaman atau lama mengajar responden Penelitian ... 31

6. Diagram pencar antara iklim kerja dengan kualitas pembelajran ... 32

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Angket penelitian ... 43

2. Hasil análisis rehabilitas instrument ... 54

3. Identitas responden ... 53

4. Rekapitulasi hasil pengisian angket Iklim Kerja ... 56

5. Rekapitulasi hasil pengisian angket Teknologi Pendidikan ... 57

6. Rekapitulasi hasil pengisian angket Kualitas Pembelajaran ... 58

7. Hasil análisis korelasi Spearman ... 59

8. Perhitungan Manual ... 60

9. Surat rekomendasi penelitian ... 61

(16)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya

melalui proses pembelajaran formal di sekolah. Pendidikan formal adalah jalur

pendidikan yang terstruktur dan terjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan

menengah, dan pendidikan tinggi. Proses pendidikan berlangsung sejak lahir sampai ke

liang lahat, dan pendidikan perlu dilakukan sedini mungkin terhadap generasi muda,

karena mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah,

dan masyarakat.

Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan

kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir,

karsa, rasa, cipta dan budi nurani) dan jasmani (pancaindra serta

ketrampilan-ketrampilan). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi

manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

tanggung jawab.

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar.

Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik,

mengajar, dan membimbing peserta didik. Salah satu tugas guru yaitu menyampaikan

(17)

memahami dan mengerti apa yang disampaikan guru, dan kemudian siswa dapat

menguraikan dengan ucapan atau tulisan. Di sini guru berperan dalam keberhasilan

pembelajaran di sekolah. Guru juga berperan dalam membantu perkembangan peserta

didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Secara umum guru berperan

dalam usaha pembentukaan sumber daya manusia yang berpotensial di bidang

pembangunan. Oleh karena itu, guru merupakan kompenen penting dalam proses

belajar-mengajar dan penentu kualitas pendidikan, selain mutu sekolahan dan manajemen

pendidikan (Triyatmo, 2010).

Untuk meningkatkan kinerja guru harus memiliki sikap yang baik terhadap

profesi guru. Sikap selalu berkenaan dengan objek, dan sikapnya terhadap objek ini

disertai dengan perasaan positif dan negatif.. Iklim kerja yang kondusif akan memberikan

peluang dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi dari para anggota organisasi untuk

berinovasi lebih, lebih bebas untuk mencari cara-cara baru dalam menyelesaikan suatu

pekerjaan. Iklim kerja guru juga harus di perhatikan sebagai salah satu indikator dalam

peningkatan kualitas guru. Iklim kerja sekolah tempat guru melakukan tugas meliputi

lingkungan fisik,sosial, intilektual, dan nilai-nilai. Kondisi lingkungan ini akan

mempengaruhi perilaku warga sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya.

Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan atau AECT (Association

Education Communication and Technology) mendefinisikan teknologi intruksional

sebagai teori dan praktik dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola,

mengevaluasi proses dan sumber dalam pengajarannya. Teknologi pendidikan terkait

(18)

Teknologi pendidikan dapat menciptakan suatu pembelajaran yang berkualitas. Kualitas

pembelajaran dapat di artikan sebagai intensitas keterkaitan sistemik dan sinergis guru,

siswa, kurikulum, dan bahan belajar, media, fasilitas dan system pembelajaran dalam

menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal.dapat diraih dengan teknologi

penunjang pembelajaran yang optimal.

Kualitas pembelajaran merupakan tingkat keberhasilan kegiatan belajar-mengajar

yang berjalan secara sistematik dan sinergis antara guru, siswa, kurikulum, bahan ajar,

media, fasilitas dan system pembelajaran sesuai dengan tuntunan kurikulum. Kualitas

pembelajaran di sekolahan ditentukan oleh beberapa komponen, antara lain: 1)

keterampilan guru dalam menyampaikan pembelajaran; 2) aktivitas siswa dalam kegiatan

belajar mengajar; 3) hasil belajar siswa; 4) metode pembelajaran yang digunakan; 5)

media pembelajaran yang digunakan; 6) materi pembelajaran; dan 7) iklim atau suasana

belajar (Mutho’i, 2013; Arifah, 2014). Kemajuan dan peranan tekonolgi sudah demikian meningkat, sehingga penggunaan alat-alat, perlengkapan pendidikan, media pendidikan,

dan pengajaran di sekolah-sekolah mulai disesuaikan dengan kemajuan penggunaan

alat-alat bantu mengajar, alat-alat-alat-alat bantu peraga pendidikan, audio-visual serta perlengkapan

peralatan kerja lainnya. Kemajuan teknologi memberikan banyak tawaran dan pilihan

bagi dunia pendidikan guna menunjang proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih

efektif dan efisien begi siswa. Keuntungan yang di tawarkan dalam kemajuan teknologi

bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga

fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif.

Agar proses pendidikan berjalan dengan baik, maka kita perlu mendaya gunakan berbagai

(19)

pembelajaran. Penerapan teknologi pembelajaran merupakan salah satu cara yang dapat

di lakukan untuk mengatasi kelemahan pendidikan selama ini yang di lakukan secara

klasikal. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran bukan hanya dapat menunjang ke

kretivitasan siswa, tetapi juga dapat menunjang ke kualitasan guru dalam pengajaran.

Profesionalisme guru dan kinerja kepala sekolah memiliki andil yang besar

terhadap kualitas pembelajaran di SDN 4 Girimerto, Surakarta (Triyatmo, 2010).

Sedangkan pemanfaatan strategi belajar dengan memadukan teknologi pembelajaran

berupa media video mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah (Mutho’i,

2013; Arifah, 2014). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012)

membuktikan bahwa iklim sekolah (kerja) memiliki peranan positif dan bermakna

terhadap profesionalisme guru yang nantinya berdampak pada peningkatan kualitas

pembelajaran.

A. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah iklim kerja guru memiliki hubungan positif dan bermakna terhadap

kualitas pembelajaran geografi di SMA Negeri sekota Palangka Raya?

2. Apakah teknologi pembelajaran memiliki hubungan positif dan bermakna

terhadap kualitas pembelajaran geografi SMA Negeri sekota Palangka Raya?

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengukur hubungan dan kebermaknaan iklim kerja terhadap kualitas

pembelajaran geografi siswa SMA di kota Palangka Raya Tahun Ajaran 2014/

(20)

2. Mengukur hubungan dan kebermaknaan teknologi pembelajaran terhadap kualitas

pembelajaran geografi siswa SMA di Kota Palangka Raya Tahun Ajaran

2014/2015.

C. Manfaat

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat akademis dan

praktis: 1) secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat di

bidang kajian manajemen pendidikan, khususnya yang terkait dengan hubungan antara

iklim kerja guru, teknologi pembelajaran dengan kualitas pembelajaran. Sedangkan 2)

secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa

informasi kepada pihak sekolah untuk meningkatkan iklim kerja guru dan pemanfaatan

teknologi pembelajaran dalam rangka peningkataan kualitas pembelajaran, khususnya

(21)

6

TINJAUAN TEORI

A. Iklim Kerja Guru

Pendidikan adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan sumber

daya manusia. Sejalan dengan perkembangan jaman, tantangan yang dihadapi sistem

pendidikan semakin meningkat baik kualitas, kuantitas, maupun relevannya. Guru

merupakan faktor sentral di dalam sistem pembelajaran terutama di sekolah. Peranan

guru sangat penting dalam mentransformasikan input-input pendidikan Sehingga

dapat dipastikan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas

tanpa adanya perubahan peningkatan kualitas guru, Hal ini berarti pendidikan yang

baik dan unggul tetap akan bergantung pada kondisi mutu guru.

Iklim kerja yang menggambarkan suasana dan hubungan kerja antara sesama

pendidik, antara pendidik dengan kepala sekolah, antara pendidik dengan tenaga

kependidikan lainnya serta antar dinas di lingkungannya merupakan wujud dari

lingkungan kerja yang kondusif. Suasana seperti ini sangat dibutuhkan pendidik dan

kepala sekolah untuk melaksanakan pekerjaannya dengan lebih efektif. Iklim kerja

sekolah dapat digambarkan melalui sikap saling mendukung (supportive), tingkat

persahabatan (colegial), tingkat keintiman (intimate), serta kerja sama (cooperative)

(Hasanah, 2008). Kondisi yang terjadi atas keempat dimensi budaya sekolah/iklim

kerja sekolah tersebut berpotensi meningkatkan kinerja pendidik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam rangka

peningkatan kinerjanya adalah a) faktor psikologi. Faktor ini berhubungan dengan

berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketenteraman dalam

kerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan keterampilan; b) Faktor sosial, yaitu faktor

(22)

maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya; c) Faktor fisik. Faktor ini erat

hubungannya dengan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik

karyawan, meliputi Jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat,

perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu penerangan, pertukaran udara, kondisi

kesehatan karyawan, umur, dan sebagainya; d) Faktor finansial, faktor ini merupakan

faktor-fakor yang terkait dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi

system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang

diberikan, promosi.

B. Teknologi Pembelajaran

Pendidikan merupakan proses yang komplet yang dipengaruhi oleh berbagai

factor dalam pencapian tujuannya. Terganggunya salah satu komponen sistem akan

berpengaruh pada komponen lain, sehingga sistem tersebut tidak akan dapat mencapai

tujuannya baik. Agar proses pendidikan berjalan dengan baik, maka kita perlu

mendaya gunakan berbagai disiplin ilmu pendidikan, diantaranya penerapan teknologi

pendidikan dalam system pendidikan. Dampak teknologi yang utama akan terjadi

pada guru, yang mana dengan penerapan teknologi pendidikan tersebut akan sangat

berpengaruh terhadap guru dalam proses belajar mengajar, misalnya untuk mengatasi

kekurangan guru guna memenuhi aspirasi belajar penduduk yang cepat

pertumbuhannya atau untuk membantu pelajar membantu menguasai pengetaahuan

yang sangat pesat berkembang, sehingga disebut eksplosi pengetahuan untuk

membantu siswa belajar secara individual dengan lebuh efektif dan efisien (Nasution,

2005).

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penerapan teknologi pendidikan adalah:

a) Mengefektifkan sistem pendidikan dari yang bersifat tradisional secara klasikal

(23)

Dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Dengan penerapan teknologi

pendidikan maka siswa dapat mengikuti pendidikan tidak terbatas tempat dan waktu

untuk mengikuti pendidikan; c) Mempunyai kelayakan dalam kelompok kecil, besar

atau secara individual. Dengan berperannya teknologi pendidikan maka belajar itu

dapat dilaksanakan secara klasikal, kelompok kecil, besar ataupun dengan individual

tergantung dengan peralatan dan materi yang akan dipelajari; d) Mempermudah

dalam penyampaian informasi baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan

berperannya teknologi pendidikan dalam dunia pendidikan, maka dapat memacu

semangat para ilmuan untuk menciptakan berbagai alat atau teknologi tepat guna

dalam proses pendidikan (Nasution, 2005).

C. Kualitas Pembelajaran.

Kualitas pembelajaran adalah suatu tujuan yang telah di capai dan bentuk

pembelajaran yang ingin di capai siswa melalaui proses pembelajaran yang di capai

(Hakim, 2007). Sedangkan, kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga

keefektifan. UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural

Organization) menetapkan empat pilar pendidikan, meliputi: a) Learning to know.

Guru hendaknya berperan aktif sebagai teman sejawat untuk berdialog dengan siswa,

mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.; b) Learning to do.

Sekolah hendaknya memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan,

bakat, minatnya. Keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang,

bahkan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung

keberhasilan kehidupan siswa; c) Learning to live together. Salah satu fungsi lembaga

pendidikan adalah mempersiapkan siswa hidup bermasyarakat. Kebiasaan hidup

bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu ditumbuh

(24)

secara maksimal memungkinkan siswa mengembangkan diri pada tingkat lebih tinggi

(Hakim, 2007).

Kompetensi guru mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah satu proses yang

terjadinya interaksi antara pendidik dan siswa, salah satu yang mempengaruhi kualitas

pembelajaran adalah guru (dalam hal ini adalah kompetensi yang dimilikinya). Guru

adalah sutradara dan sekaligus aktor dalam proses pembelajaran. Ini tidaklah berarti

mengesampingkan variabel lain, yaitu seperti media pembelajaran (Hakim, 2007).

Dalam hal pembelajaran harus di tunjang dengan sebaik-baiknya dan

selengkap-lengkapnya agar proses pembelajaran menjadi lancar. Adapun hal-hal yang dapat

menunjang proses pembelajaran tersebut di antarnya adalah a) Pengetahuan; b)

kemampuan membuat perencanaan pembelajaran; c) kemampuan menggunakan

media atau alat bantu pelajaran; d) kemampuan menggunakan metode; e) kemampuan

mengelola kelas; dan f) kemampuan mengevaluasi (Hakim, 2007).

Sanjaya (2008) menjelaskan kualitas pembelajaran dapat dilihat dari proses dan

hasil. Proses pembelajaran dikatakan berhasil atau berkualitas apabila seluruh atau

sebagian besar siswa terlibat aktif, menunjukkan motivasi, dan semangat belajar, serta

rasa percaya diri tinggi dalam proses pembelajaran. Sedangkan, proses pembelajaran

dikatakan apabila terjadi perubahan perilaku positif pada seluruh atau sebagian besar

siswa. Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil, berkualitas apabila input

menghasilkan banyak output, bermutu tinggi, sesuai kebutuhan, perkembangan

masyarakat dan pembangunan. Hakim (2008) menjelaskan lebih lanjut bahwa kualitas

pembelajaran adalah tingkat keberhasilan yang melibatkan guru, siswa, kurikulum

bahan belajar, media, fasilitas, system untuk menghasilkan proses perubahan tingkah

(25)

D. Guru Profesional

Kata profesional berasal dari bahasa Inggris yang berarti ahli, pakar, mampu

dalam bidang yang digeluti. Menjadi profesional berarti menjadi ahli dalam

bidangnya. Dan seorang ahli tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya.

Akan tetapi, tidak semua ahli dapat menjadi berkualitas karena menjadi berkualitas

bukan hanya menjadi persoalan ahli. Tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan

personaliti. Sebagai seorang yang professional, khususnya guru dapat dibedakan dari

seorang teknisi, karena disamping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerja

tertentu, seorsng pekeja professional juga dutandai dengan adanya informed

responsiveness terhadap implikasi masyarakat dari objek kerjanya.

Profesionalisme guru tidak sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen

namun lebih merupakan sikap dan pengembangan profesionalisme, lebih dari seorang

teknisi tidak hanya mempunyai keterampilan yang tinggi namun mempunyai tingkah

laku sesuai dengan yang disyaratkan. Dalam hal ini disamping kecermatan untuk

menentukan langkah, guru juga harus sabar, ulet dan “talaten” serta tanggap terhadap setiap kondisi, sehingga di akhir pekerjaannya akan membuahkan hasil yang

memuaskan (Sardiman, 2014). Jika guru di Indonesia sudah memenuhi standar

profesional guru seperti yang berlaku di negara lain yang lebih maju maka kualitas

sumber daya manusia Indonesia akan semakin meningkat.

Guru adalah salah satu unsur penting yang harus ada sesudah siswa. Apabila

seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk

tumbuh dan berkembang dengan baik (Sardiman, 2014). Guru profesional harus

memiliki beberapa peranan penting dalam hal belajar-mengajar.contohnya sebagai

berikut: a) Informator. Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium,

(26)

Organisator. Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus,

workshop, jadwal, pelajaran yang lain-lain; c) Motivator. Peranan guru sebagai

motivator ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan

pengembangan kegiatan belajar siswa; d) Pengarah. Guru dalam hal ini harus dapat

membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang

dicita-citakan Guru juga harus “handayani”. e) Inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide dalam proses belajar. Sudah barang tentu ide itu merupakan

ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya; f) Transmitter. Dalam kegiatan

belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan

pengetahuan; g) Fasilitator. Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan

memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar, misalkan saja

dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan

perkembangan siswa sehingga interksi belajar-mengajar akan berlangsung secara

efektif; h) Mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam

kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberikan jalan keluar kemacatan

dalam kegiatan diskusi siswa; i) Evaluator. Ada kecenderungan bahwa peran sebagai

evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang

akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana

anak didiknya berhasil atau tidak. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat dari bias

atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu adanya

pertimbangan-pertimbangan ysng sangat unik dan kompleks, terutama yang

menyangkut prilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran

(Sardiman, 2014).

Guru dikatakan sebagai pendidik dan pembimbing. Guru sebagai pendidik,

(27)

menanamkan nilai-nilai dan sikap mental serta melatih beerbagai ketrampilan dalam

upaya mengatar anak didik kearah kedewasaan. Oleh karena itu, guru harus seorang

yang berpribdian yang baik, dapat sebagai panutan, sehungga nantinya dapt

memanusiakan manusia. Karena guru juga harus melakukan kegiatan membimbing,

yakni menuntun anak didik dan memberikan lingkungan yang sesuai dangan arah dan

tujuan yang dicita-citakan (Sardiman, 2014).

Peraturan Pemerintah No. 16/2007 tentang standar Kompotensi Guru

menjelaskan bahwa kompotensi yang diperlukan oleh seorang guru terbagi atas 4

katagori (Sardiman,2014), yaitu:

a) Kompotensi Pedagogik (akademik)

Kompotensi pedagogik atau akademik ini merujuk kepada kemampuan guru

yang mengelola proses belajar mengajr, termasuk didalamnya perencanan dan

pelaksaananya, evaluasi hasil belajar belajar dana pengembangan siswa sebagai

individu-individu.

b) Kompotensi sosial

Kompotensi ini merujuk pada kemampuan guru untuk menjadi bagian dari

masyarakat, berkomunikasi dan berinterkasi secara efektif dengan para siswa,

para guru lain dan staf pendidikan lainnya dan pada orang tua/wali siswa serta

masyarakat.

c) Kompotensi Profesional

Kompotensi ini merujuk pada kemampuan guru untuk menguasai materi

pembelajaran guru. Guru harus memiiiki pengetahuan yang baik mengenai

subyek yang diajarkan, mampu mengikuti kode etik professional dan menjaga

(28)

d) Kompotensi pribadi

Kompotensi ini mengkaji dedikasi dan loyalitas guru. Mereka harus tegar,

dewasa, bijak, tegas, dapat menjadikan contoh bagi para siswa dan memiliki

kepribadian mulia.

E. Hubungan antara Iklim Kerja dan Teknologi Pembelajaran dengan Kualitas Pembelajaran.

Pada dasarnya iklim kerja seorang guru mencerminkan kinerja seorang guru

dalam hal kemampuan mengajar. Iklim kerja guru juga harus diperhatikan sebagai

salah satu indikator dalam peningkatan kualitas guru. Iklim kerja sekolah tempat guru

melaksanakan tugas meliputi lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai.

Kondisi lingkungan ini akan mempengaruhi prilaku warga sekolah dalam

melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Teknologi pembelajaran merupakan usaha sistematis dalam merancang,

melaksanakan dan mengevakuasi keseluaruhan proses belajar dan mengajar untuk

suatu tujuan khusus. Teknologi pembelajaran dapat menunjang kinerja guru dalam

mengajar, mempermudah dalam penyampaian materi dan meningkatkan pemahaman

peserta didik dalam memamhami materi yang di samapaikan. Sehingga kualitas dalam

pembelajaran juga akan semakin membaik dan dan meningkatkan kinerja guru dalam

penguasaan bahana pengajaran.

Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran dengan kualitas

pembelajaran bersifat positif. Hal ini disebabkan oleh adanya iklim kerja yang baik

untuk mengukur kualitas kinerja guru dan ditunjangnya teknologi pembelajaran yang

(29)

F. Kerangka Berpikir

Kualitas pembelajaran geografi berhubungan oleh faktor internal yang berasal

dari individu tersebut seperti iklim kerja guru, sedangkan faktor eksternal yang

berhubungan kualitas pembelajaran adalah iklim kerja atau kinerja guru tersebut.

Kualitas pembelajaran guru geografi akan meningkat jika guru tersebut memiliki

iklim kerja yang tinggi dan akan semakin meningkat lagi apabila guru tersebut

memiliki kemampuan dan memanfaatkan teknologi pendidikan yang ada. Tahapan

analisis ini sebagai berikut: 1) mengidentifikasi guru berdasarkan data sravadai

berikut: (umur, pendidikan terakhir, pengalaman mengajar, gender, langkah

selanjutnya: 2) mengukur tingkat Iklim kerja berdasarkan indikator-indikator sebagai

berikut; (keterdukungan, persahabatan, keintiman, kooperatif/kerja sama); selanjutnya

3) mengukur tingkat teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan diukur berdasarkan

indikator-indikator sebagai berikut: (ICT, media pembelajaran, alat bantu audio

visual); langkah terakhir 4) mengukur kualitas pembelajaran. Indikator-indikator yang

digunakan adalah proses belajar dan hasil belajar). Semua variabel tersebut

digolongkan dengan kategori tinggi, sedang dan rendah, sehingga diperoleh tingkatan

masing-masing variabel (Gambar 1).

G. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dari penelitian ini adalah

1. Iklim kerja guru memiliki hubungan yang erat dan bermakna dengan kualitas

pembelajaran guru geografi SMA Negeri kota Palangka Raya.

H0: b1= 0. Artinya kerja guru tidak berhubungan dengan kualitas

pembelajaran.

H1: b1≠ 0. Artinya iklim kerja guru memiliki hubungan yang kuat dan

(30)

2. Teknologi pembelajaran memiliki hubungan yang erat dan bermakna dengan

kualitas pembelajaran geografi di SMA Negeri di Kota Palangka Raya.

H0: b2= 0; Artinya teknologi pembelajaran tidak berhubungan kualitas

pembelajaran

H1: b2≠ 0 Artinya teknologi pembelajaran memiliki hubungan yang

kuat dan bermakna dengan kualitas pembelajaran geografi.

.

Gambar 1. Kerangka konsep hubungan antara iklim kerja guru dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran.

Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran

geografi di SMAN sekota Palangka Raya

Karakteristik

geografi di SMAN sekota Palangka Raya Hubungan iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran

geografi di SMAN sekota Palangka Raya

(31)

16

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Responden Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di tujuh SMA Negeri di Kota Palangkaraya, dari

Bulan Juni sampai Bulan September 2015. Responden penelitian ini adalah guru-guru

mata pelajaran geografi di SMA Negeri yang berjumlah 16 guru (Tabel 1).

Tabel 1. Nama sekolah contoh dan jumlah responden penelitian.

Nama sekolah Jumlah Responden SMAN 1 Palangka Raya 4 guru SMAN 2 Palangka Raya 2 guru SMAN 3 Palangka Raya 4 guru SMAN 4 Palangka Raya 2 guru SMAN 5 Palangka Raya 1 guru SMAN 6 Palangka Raya 2 guru SMAN 8 Palangka Raya 1 guru SMAN 10 Palangka Raya 1 guru

Jumlah 16 guru

B. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop, pensil, kamera,

buku. Sedangkan bahan yang di gunakan antara lain adalah angket kertas.

C. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bertujuan

mempelajari tentang beberapa konsep spesifik (yang biasa disebut dengan

peubah/variable atau faktor-faktor), mengumpulan data dalam bentuk angka,dan

menganalisis angka-angka tersebut menggunakan pendekatan statistika (Clark &

Cresswell, 2015). Lebih lanjut dijelaskan oleh Clark & Cresswell (2015) penelitian

(32)

melaporkan data numerik untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji

hipotesis tentang peubah tertentu.

Rancangan pendugaan (predictive design) atau rancangan korelasional

digunakan dalam penelitian. Rancangan penelitian korelasional adalah penelitian

kuantitatif bukan percobaan yang dirancang untuk mengukur tingkat

hubungan/asosiasi antara dua atau lebih peubah menggunakan analisis statistika

korelasi (Clark & Cresswell, 2015). Penelitian tidak menjelaskan atau menjawab

pertanyaan sebab-akibat, melainkan hanya menjelaskan ada atau tidaknya hubungan

antar peubah-peubah yang diteliti. Walaupun hubungan sebab-akibat belum diketahui

tetapi adanya hubungan yang kuat di antara peubah memungkinkan adanya

penyusunan pendugaan (Kuncoro, 2009). Asosiasi antar peubah dapat dihitung

dengan teknik analisis korelasi. Teknik-teknik korelasi yang dapat digunakan antara

lain: korelasi bivariat, korelasi berganda, korelasi kanonikal (Kuncoro, 2009). Uji

statistika yang umum digunanakan dalam pengujian hubungan antara peubah antara

lain: korelasi Pearson-product moment, korelasi Spearman rho, korelasi

point-biserial, koefisien Phi, dan korelasi rasio/Eta (Lodico et al. 2010).

D. Populasi dan Contoh Penelitian

Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang,

obyek, transaksi atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau

menjadikannya obyek penelitian. Sedangkan, contoh adalah suatu himpunan bagian

dari unit populasi (Kuncoro, 2009). Adapun populasi penelitian ini adalah seluruh

guru mata pelajaran geografi yang berjumlah 16 orang.

Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

pengambilan contoh sensus. Metode contoh sensus digunakan dalam penelitian ini

(33)

menjelaskan bahwa pengambilan contoh secara sensus dilakukan apabila jumlah

elemen populasi < 50 unit. Oleh karena itu, seluruh elemen bagian dari populasi

diambil sebagai sampel, yaitu sebanyak tujuh SMA Negeri di Kota Palangkaraya.

Metode penarikan contoh sensus dilakukan agar diperoleh informasi lengkap tentang

iklim kerja guru, teknologi pendidikan dan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh

guru-guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri se-Kota Palangkaraya.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah tahapan yang dilakukan untuk memperoleh dan

mengumpulkan data penelitian yang dilakukan secara teratur, tertib, dan baku (Utama

& Mahadewi, 2012). Tiga hal pokok dalam teknik pengumpulan data , yaitu: 1) jenis

data yang digunakan; 2) cara pengumpulan data; dan 3) sumber data (Riense & Abdi,

2009). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis data

Jenis data yang diambil dalam penelitian merupakan hal penting dalam

pelaksanaan penelitian. Hal ini terkait dengan jaminan akan keterbukaan dalam

memperoleh data dan berkaitan dengan kemungkinan adanya pengujian ulang

oleh peneliti lain sehingga mudah dilakukan pengulangan penelitian (Riense &

Abdi, 2009). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: a)

Data primer, data ini merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau

sumber asli. Data ini adalah data mentah yang nantinya akan diproses untuk

mencapai tujuan penelitian yang telah disusun (Rianse & Abdi, 2009). Sumber

data primer adalah dari yang diperoleh dari hasil pengukuran melalui angket; b)

Data sekunder, data ini merupakan data yang diambil dari sumber kedua atau

bukan dari sumber aslinya. Data ini bisa berbentuk data yang tersaji dalam

(34)

2. Cara pengumpulan data

Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data atau

keterangan yang benar, dapat dipercaya dalam penelitian. Untuk menjamin data yang

obyektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Pengumpulan data dalam penelitian ini

ada tiga, yaitu: a) Metode observasi (pengamatan). Observasi adalah alat pengumpul

data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik

gejala-gejala yang diselidiki (Rianse & Abdi, 2009). Observasi dilakukan oleh pengamat

dengan menggunakan alat mekanis berupa kamera dan alat perekam suara.; b) Metode

kuesioner (angket). Angket adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pernyataan

mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti (Rianse & Abdi, 2009).

Metode ini digunakan mengukur iklim kerja guru, pemanfaatan teknologi dan kualitas

pembelajaran.

3. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang

diperoleh dari hasil pengisiaan angket dan data sekunder yang berasal dari informasi

sekolah yang bersangkutan dan Dinas Pendidikan Kota Palangka raya.

F. Definisi Peubah dan Pengukuran Peubah

Peubah penelitian adalah kondisi-kondisi yang oleh peneliti dimanipulasi,

dikontrol, atau diamati dalam suatu penelitian atau segala sesuatu yang dijadikan

sebagai obyek pengamatan penelitian (Rianse & Abdi, 2009). Sedangkan, Kuncoro

(2009) menjelaskan peubah penelitian sebagai suatu konsep yang dapat diasumsikan

(35)

Peubah berdasarkan konsepnya dikelompokan menjadi empat, yaitu 1) peubah

terikat (dependent variables) adalah peubah yang menjadi perhatian utama dalam

sebuah pengamatan; 2) peubah bebas (independent variables) adalah peubah yang

peubah-peubah yang dapat mempengaruhi perubahan dalam peubah terikat dan

mempunyai hubungan yang positif ataupun negatif bagi peubah terikat nantinya; 3)

peubah moderasi (moderating variables) adalah peubah yang mempunyai dampak

kontijensi (contingent effects) yang kuat pada hubungan peubah bebas dan peubah

terikat; dan 4) peubah sela/intervensi (intervening variables) adalah faktor-faktor yang

secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat,

diukur, atau dimanipulasi tetapi dampaknya dapat disimpulkan berdasarkan dampak

peubah terikat dan peubah moderasi terhadap fenomena yang diamati (Kuncoro,

2009). Pada penelitian ini peubah terikat atau peubah yang menjadi pusat perhatian

adalah kualitas pembelajaran. Namun, peubah bebasnya terdiri dari dua peubah, yaitu

iklim kerja dan teknologi pendidikan.

1. Iklim kerja (X1)

Iklim kerja yang di maksud dalam penelitian ini merupakan hal yang perlu

mendapatkan perhatian dari seorang manager pendidikan karena faktor tersebut

setidaknya ikut mempengaruhi tingkah laku guru, pegawai dan peserta didik.

2. Teknologi Pembelajaran (X2)

Teknologi pembelajaran merupakan upaya guru untuk meningkatkan kualitas

pembelajarannya dalam menggunakan teknologi ada pemahaman materi yang

dimaksudkan untuk peserta didik dapat tercapai dengan baik,

(36)

Kualitas Pembelajaran adalah nilai yang diberikan kepada seorang guru atas

hasil pembelajaranan yang diberikannya kepada siswa berdasarkan hasil

pembelajarannya selama mengajar.

Proses pengukuran peubah dapat digambarkan sebagai sederetan tahapan yang

saling berkaitan tentang bagaimana mengukur peubah yang diteliti yang dimulai

dengan 1) mengisolasi kejadian empiris; 2) mengembangkan konsep kepentingan

(concept of interest); 3) mendefinisikan konsep secara konstitutif dan operasional; 4)

mengembangkan skala pengukuran; 5) mengevaluasi skala pengukuran berdasarkan

reliabilitas dan validitasnya; dan 6) penggunan skala pengukuran (Kuncoro, 2007).

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan bagaimana kita mengukur

Peubah. Pengukuran tersebut dapat berupa angka-angka atau sesuatu yang diamati

dari sesuatu yang didefinisikan (Nursalam, 2010). Definisi operasional memperinci

aturan pemetaan dan alat dimana peubah akan diukur dalam kenyataan (Kuncoro,

2009). Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Umur adalah rentang usia semenjak yang bersangkutan dilahirkan (tahun yang

disusun menjadi enam katagorik/skala ordinal);

2. Jenis kelamin adalah klasifikasi gender yang dikelompokan menjadi laki-laki

dan perempuan (skala katagorik);

3. Pendidikan terakhir adalah pendidikan yang diperoleh saat terakhir ditempuh

selama ini (skala ordinal dengan tiga pilihan jawaban);

4. Lama mengajar adalah lama mengajar diukur berdasarkan rentang tahun sejak

pertama kali mengajar (tahun yang diklasifikasikan menjadi enam

(37)

5. Dukungan adalah persepsi guru terhadap kepala sekolah terkait dengan

penghargaan prestasi, empati dan pemberian dorongan untuk selalu berkembang

(Skala linkert dengan 5 skala);

6. Persahabatan adalah persepsi guru terhadap rekan sejawatnya tentang saling

berbagi pendapat (Skala linkert dengan 5 skala);

7. Keintiman adalah perasaan saling berbagi, menghormati, dan toleransi semasa

kolega (Skala linkert dengan 5 skala);

8. Kooperatif adalah rasa saling membantu, rasa kebersamaan, dan kerjasama

antara kolega (Skala linkert dengan 5 skala);

9. ICT adalah penggunaan media computer, telepon dan fasimel untuk mendukung

kegiatan belajar-mengajar (Skala linkert dengan 5 skala);

10. Media cetak adalah penggunaan media cetak baik berupa buku ajar, modul,

koran, majalah, cerpen, foto, poster, grafik untuk mendukung kegiatan belajar

mengajar (Skala linkert dengan 5 skala);

11. Audio-visual adalah penggunaan media pembelajarn berupa radio, tape, slide

OHP, film, video dan television untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar

(Skala linkert dengan 5 skala);

12. Proses belajar adalah penilaian guru terhadap proses belajar di kelas beruapa

interkasi, kreativitas, pengalaman yang bervariasi dalam melaksanakan kegiatan

belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa (Skala linkert dengan 5 skala);

13. Hasil belajar adalah yang diukur berdasarkan prestasi akademik, sikap dan

kemandirian siswa siswa (Skala linkert dengan 5 skala);

Definisi operasional diejawantahkan dalam dimensi serta indikator-indikator

yang membatasi istilah Peubah yang digunakan dalam penelitian ini. Indikator

(38)

digunakan dalam penelitian ini merupakan dasar pembuatan instrumen penelitian

akan tetapi intrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan instrument

yang diadopsi dari instrumen yang dikembangkan oleh Riduwan (2009).

Tabel 2. Kisi-kisi instrument angket iklim kerja guru

Dimensi Indikator Item Jenis

1. Menghargai prestasi 1-2 Primer Guru

2. Berempati 3

1. Saling berbagi pendapat 5 Primer Guru

2. Saling mempercayai 6

4. Kooperatif 1. Saling membantu 10 Primer Guru

2. Kebersamaan 11

3. Kerja sama 12

Tabel 3. Kisi-kisi instrument angket teknologi pembelajaran

Dimensi Indikator Item Jenis

1. Buku teks 5 Primer &

sekunder

c. audio visual 1. Radio, tape, slide, OHP

9 Primer &

sekunder

Guru

(39)

Tabel 4. Kisi-kisi instrument angket kualitas pembelajaran

Dimensi Indikator Item Jenis

data

Sumber data

a. Proses belajar 1. Interaksi 1-2 Primer Guru

2. Kreativitas 3-4

3. Pengalaman bervariasi

5-6

b. Hasil belajar 1. Prestasi akademik 7-8 Primer &

sekunder

Guru

2. Sikap (perilaku) 9-10

3. Kemandirian 11

G. Uji Coba Instrumen

Sebelum instrumen digunakan, maka instrumen tersebut diuji cobakan terlebih

dahulu untuk mengukur reliabilitasnya. Uji coba dilakukan kepada beberapa guru

geografi di SMA Negeri yang ada di Kota Palangka Raya. Uji coba instrumen ini

dilakukan di SMA Negeri 3 tetapi pada uji sesungguhnya guru-guru geografi di SMA

Negeri 3 juga diambil kembali sebagai subyek penelitian.Reliabilitas adalah alat

pengukur (Rianse & Abdi, 2009). Persamaan Alpha Cronbach digunakan untuk

menguji reliabilitas instrumen berupa angket:

= 1 1

Keterangan:

r11 = Nilai reliabilitas

si = Varians skor tiap item pertanyaan

st = Varians total

k = Jumlah item pertanyaan

Nilai koefisien reliabilitas ini kemudian dibandingkan dengan nilai nilai rtabel

pada taraf kepercayaan (α = 5%) pada derajat bebas (db = N-1). Instrumen tes

dikatakan reliabel jika r11> rtabel,pada taraf kepercayaan 5% pada (db = N-1) (Rianse

(40)

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah rancangan untuk menganalisis data yang telah

dikumpulkan dari sumbernya, baik pengamatan di lapangan atau

sumber-sumber lainnya (Sugiyono, 2010). Teknik analisis data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah 1). Analisis deskriptif presentase, dan 2) analisis korelasi

Spearman-Rho.

1. Uji statistik deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau

memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel dan populasi

sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang

berlaku (Sugiyono, 2010). Pada statistika deskriptif ini digunakan untuk menghitung

persentase iklim kerja guru, teknologi pembelajaran, dan kualitas pembelajaran.

Langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung statistik deskriptif adalah:

a. Menghitung persentase

= × 100%

Keterangan:

DP = deskriptif persentase

n = jumlah nilai yang diperoleh

N = jumlah nilai ideal

% = tingkat keberhasilan yang dicapai (Riduan, 2004).

b. Nilai interval

=

Keterangan:

I = interval

NT = nilai tertinggi

NR = nilai Terendah

(41)

2. Analisis Korelasi Spearman-Rho

Dalam upaya menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka digunakan

analisis korelasi. Analisis korelasi yang digunakan adalah analisis korelasi

Spearman-rho. Analisis statistika ini mengukur asosiasi antara dua peubah diukur dengan skala

ordinal sehingga obyek yang sedang di teliti dapat di rangking dalam dua seri urutan

ranking (Ghozali, 2006). Persamaan untuk menghitung nilai korelasi dari asosiasi ini

adalah

= 1 6( 1)

Keterangan:

N = jumlah pengamatan.

d = perbedaan antar-ranking dalam dua distribusi ranking (Ghozali, 2006).

Kadang-kadang terjadi dua atau lebih subyek mendapatkan skor yang sama

untuk peubah yang sama (tied score). Apabila terjadi tied score seperti ini, maka

setiap subyek diberi nilai rata-rata dari rank seandainya tidak terjadi tied score. Jika

proporsi observasi tied score tidak begitu besar, maka pengaruhnya terhadap nilai

korelasi spearman rs bisa diabaikan dengan persamaan di atas masih dapat digunakan.

Namun demikian, jika proporsi ties besar maka diperlukan faktor koreksi kedalam

perhitungan rumus rs. Jika terjadi ties, maka pengaruh tied ranking terhadap peubah

X akan menurunkan jumlah nilai kaudrat (∑x2) dibawah nilai (N3-N0/12), jadi : x²< N³ N

(42)

Oleh karena itu perlu mengoreksi jumlah kaudrat dengan memasukan nilai ties

score (tied rank tidak berpengaruh terhadap nilai rata-rata atau ∑x yang selalu = 0).

Faktor koreksi tersebut adalah sebagai berikut:

T = (t t )

Keterangan:

g = jumlah grup untuk tied rank yang berbeda

ti = jumlah tied rank dalam grup ith

Tx = faktor koreksi untuk peubah X (Ghozali, 2006).

Ties yang terjadi pada peubah Y juga memerlukan faktor koreksi diberi kode Ty.

Jumlah kaudrat yang telah dikoreksi dengan ties akan menjadi sebagai berikut :

x²< N³ N T 12

Apabila terjadi sejumlah ties pada peubah X maupun Y maka persamaan sebagai

berikut ini dapat digunakan untuk menghitung nilai rs:

= ( ) 6

( + ) 2

( ) [( + )( )] + ( )

Keterangan:

N = jumlah pengamatan

d = perbedaan antar-ranking dalam dua distribusi ranking

Tx = faktor koreksi untuk peubah X

Ty = faktor koreksi untuk peubah Y (Ghozali, 2006).

Perhitungan analisis korelasi Spearman-rho dilakukan dengan bantuan perangkat

(43)

8

HASIL & PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pengujian instrumen

Pengujian validitas instrumen pada penelitian ini tidak dilakukan karena

instrumen yang digunakan merupakan isntrumen yang sudah digunakan pada

penelitian sebelumnya sehingga diperkirakan memiliki keakuratan yang relatif tinggi.

Namun, pengujian konsistensi internal instrumen tetap dilakukan maka pengujian

reliabilitas tetap dilakukan. Instrumen iklim kerja, teknologi pembelajaran , dan

kualitas pembelajaran menunjukan konsistensi/keajagen yang tinggi (r11 > 0,700).

Nilai alpha secara statistika juga menunjukan keberartian (r11 > rtabel; n = 16).

Ringkasan hasil pengujian reliabilitas internal disarikan pada Tabel 1. Data dan

contoh perhitungan direkap pada lampiran 2.

2. Deskriptif Data

Profil responden penelitian ini didominasi oleh responden (guru) yang berumur

lebih 45 tahun (> 60%). Ini menunjukan bahwa guru-guru mata pelajaran geografi di

SMAN di Kota Palangkaraya merupakan guru senior (Gambar 2). Adapun, responden

berdasarkan gender. Komposisi antara guru laki-laki dan guru perempunan memiliki

perimbangan yang sama (Gambar 3). Sedangkan berdasarkan klasifikasi tingkatan

pendidikan maka secara umum responden sudah memenuhi ketentuan

perundang-undangan. Hampir seperempat responden memiliki pendidikan pascasarjana (Gambar

4). Selain itu, secara pengalaman mengajar maka responden penelitian menunjukan

bahwa mereka adalah guru-guru senior (lama mengajar > 15 tahun). Guru muda

(pengalaman mengajar < 5 tahun) jumlahnya tidak banyak (< 10%). Komposisi

(44)

menunjukan bahwa responden penelitian adalah guru-guru yang sudah lama mengajar

atau guru senior. Data dan contoh perhitungan ringkasan karakteristik responden

direkap pada lampiran 3.

Tabel 5. Ringkasan hasil pengujian konsistensi internal dengan analisis alpha

Variabel r11 rtabel Keterangan

Iklim kerja 0.743 0,497 Reliable

Teknologi pembelajaran 0,743 0,497 Reliable

Kualitas pembelajaran 0,736 0,497 Reliable

Keterangan: n = 16

(45)

Gambar 3. Persebaran gender responden penelitian.

(46)

Gambar 5. Persebaran pengalaman atau lama mengajar responden penelitian.

Tabel 6. Ringkasan deskripsi tingkatan iklim kerja, teknologi pembelajaran dan kualitas pembelajaran.

Peubah

Tingkatan

Tinggi Sedang Rendah

Frekuensi (%) Frekuensi (%) Frekuensi (%)

Iklim Kerja 16 (100,0 %) 0 (0,0 %) 0 (0,0 %)

Teknologi pembelajaran 15 (93,8 %) 1 (6,3 %) 0 (0,0 %)

Kualitas Pembelajaran 16 (100,0 %) 0 (0,0 %) 0 (0,0 %)

Keterangan: n = 16

Data deskriptif iklim kerja (skor = 48-58; skala linkert = 5; item = 12) dan data

deskriptif kualitas pembelajaran (skor = 46-59; skala linkert = 5; item = 12) yang

dilakukan oleh responden penelitian menunjukan tingkatan yang tinggi. Sedangkan

teknologi pembelajaran secara umum menunjukan tingkatan yang tinggi (skor =

38-48; skala Linkert = 5; item = 10). Persebaran total nilai instrument iklim kerja,

(47)

3. Hubungan Antara Peubah

Hubungan antara iklim kerja guru, pemanfaatan teknologi pembelajaran dengan

kualitas pembelajaran dianalisis dengan analisis korelasi Spearman-Rho karena

jumlah data tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan analisis statistika

parametriknya (n < 30). Sebaran data untuk peubah iklim kerja, pemanfaatan

teknologi pembelajar, dan kualitas pembelajaran disajikan dalam diagram pencar

(Gambar 2 dan 3).

Ringkasan hasil analisis korelasi tersebut diringkas pada Tabel 8 dan hasil

analisis keseluruhan direkap pada Lampiran 6. Hubungan antara iklim kerja dengan

kualitas pembelajaran menunjukan adanya hubungan positif tetapi kekuatan

hubungannya rendah (r = 0,467) dan kebermaknaan hubungannya tidak penting (p =

0,068). Namun, demikian hubungan antara teknologi pembelajaran dengan kualitas

pembelajaran menunjukan hubungan yang searah dan lebih erat (r > 0,600) dan

hubungan ini secara statistika bermakna atau penting (p = 0,009).

(48)

Gambar 7. Diagram pencar antara antar pemanfaatan teknologi pembelajarn dengan kualitas pembelajaran.

Tabel 7. Korelasi antar iklim kerja dan teknologi pembelajaran terhadap kualitas pembelajaran.

Kualitas Pembelajaran

Iklim Kerja r = 0,467

p = 0,068

Teknologi pembelajaran r = 0,631 p = 0,009

Keterangan: n = 16.

B. PEMBAHASAN

1. Guru sebagai Komponen Utama Kualitas Pembelajaran

Sumber daya dalam organisasi atau lembaga pendidikan antara lain: manusia,

sarana dan prasarana, biaya, teknologi dan informasi. Namun, sumberdaya manusia

merupakan sumber daya organisasi pendidikan yang paling penting dalam mencapai

keberhasilan (Fattah, 2004). Sumber daya manusia utama dalam organisasi atau

(49)

Guru merupakan kunci peningkatan mutu pendidikan. Guru berupa pada titik

sentral setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan ke perubahan-perubahan

kualitatif. Guru bertanggung jawab untuk mengatur dan menciptakan suasana yang

mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di kelas. Peran guru sangat

besar dalam pengelolaan kelas (Triyatmo, 2010; Ismaniarti, 2011; Kompri, 2015a).

Karakteristik guru yang berperan penting dengan kualitas pembelajaran antara lain,

status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan dan pengalaman mengajar (Kompri,

2015a).

Guru-guru yang menjadi responden penelitian merupakan guru-guru senior

yang telah memiliki kematangan usia (> 45 tahun) dan berpengalaman (> 15 tahun).

Karakter yang kuat dan kemampuan mengelola kegiatan belajar-mengajar dibentuk

dari kematangan usia dan pengalaman mengajar. Lebih dari separuh responden

ditempatkan di sekolah-sekolah unggulan dan lama karena kematangan usia dan

pengalaman kerja mereka. Kelompok guru senior umumnya memiliki pengalaman

dan wawasan yang luas sebagai seorang pendidik (Pratiwi, 2012).

Kinerja guru sangat dipengaruhi oleh pengalaman mengajar guru. Pengalaman

mengajar yang diperoleh oleh guru akan membentuk kematangan dan kemantapan

perilaku guru. Guru yang berpengalaman diharapkan akan memiliki kematangan

pribadi dalam menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Guru yang

berhasil menjalankan tugas sebagai guru maka kualitas pembelajaran yang

dilakukannya akan makin meningkat (Suryani, 2012). Suastini (2005) menjelaskan

bahwa pengalaman adalah pekerjaan yang menghasilkan perubahan ke arah

kematangan tingkah laku, pertambahan pengertian dan pengayaan informasi.

(50)

kesuksesan dan kematangan karir guru biasanya diperoleh pada rentang usia 35 tahun

sampai 46 tahun.

Tingkat pendidikan responden juga menunjukan tingkatan yang baik (telah

menyelesaikan pendidikan sarjana), bahkan ada beberapa guru telah menyelesaikan

pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi (pendidikan pascasarjana). Ini

membuktikan bahwa guru-guru yang menjadi responden penelitian merupakan guru

yang berkualitas sehingga keberadaan mereka berperan dalam peningkatan kualitas

pembelajaran. Guru yang unggul ditandai dengan kemampuan intelektual yang tinggi.

Kemampuan intelektual diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan serta pengalaman

kerja. Perilaku profesional guru salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan

(Pratiwi, 2012). Kualifikasi akademik pendidikan yang memadai merupakan sebuah

prasyarat mutlak bagi seorang guru agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kualifikasi akademik akan mempengaruhi bagaimana dia berperilaku dalam

melaksanakan proses pembelajaran. Pendidikan akademik yang tinggi dan terstandard

maka pelaksanaaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas makin baik

(Suyanto et al. 2009 yang dikutip oleh Suhartini, 2011).

Namun demikian, secara umum faktor-faktor yang menentukan kinerja guru

adalah faktor-faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor-faktor dari dalam antara

lain: 1) kemampuan atau kompetensi guru; 2) faktor komitmen kinerja guru; 3) faktor

perilaku guru; 4) faktor sikap; 5) faktor intelegensi guru; dan 6) faktor kecerdasan

emosional guru. Sedangkan, faktor-faktor dari luar, antara lain: 1) gaya

kepemimpinan kepala sekolah; 2) supervisi dan pengawasan; 3) iklim kerja; 4) faktor

sarana dan prasarana; dan 5) faktor budaya kerja (Pratiwi, 2012; Suryani, 2012).

Guru yang baik akan selalu meningkatkan kemampuannya secara profesional.

(51)

dilakukan dengan lima cara, yaitu: 1) peningkatan profesionalitas yang melekat pada

dirinya secara dedikatif dan berkomitmen kepada mutu proses dan hasil belajar; 2)

meningkatkan penguasaan ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan

fungsi dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya atau sekaligus

melakukan transfer ilmu pengetahuan dan internalisasi serta amaliah; 3) mendidik dan

menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, mampu mengatur dan memelihara

hasil kreasinya, serta menjadi model dan panutan atau teladan; 4) memiliki kepekaan

intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keterampilan secara

berkelanjutan sehingga dapat ditransformasikan kepada peserta didiknya; dan 4)

mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa

akan datang (Muhaimin, 2003).

2. Hubungan Antara Iklim kerja dengan Kualitas Pembelajaran

Iklim sekolah yang baik merupakan salah satu dari karakteristik sekolah yang

efektif. Iklim sekolah yang baik adalah iklim atau suasana kondusif yang tercipta di

dalam sekolah akibat pengaruh perilaku komponen sekolah dalam interaksi belajar

mengajar maupun manajerial yang bersifat terbuka, kekeluargaan, komunikatif,

memiliki otonomi, aman, tentram, tertib aturan, dan tertib, serta berkerja dengan

penuh tanggung jawab. Iklim kerja yang kondusif dapat dicapai melalui manajemen

dan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang efektif serta melibatkan dan bekerja

sama dengan semua pemangku kepentingan seperti guru, pegawai, komite sekolah

dan siswa (Kompri, 2015a).

Iklim sekolah merupakan indikator kualitas kehidupan dan perilaku di sekolah.

Iklim sekolah sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kerja personil sekolah, gaya

kepemimpinan kepala sekolah, hubungan edukatif guru dengan siswa, antusias guru

(52)

kedisiplinan, dan sikap guru kepada siswa. Iklim kerja yang sehat (nyaman dan

menyenangkan) akan membuat guru bekerja dengan leluasa dan menumbuhkan

motivasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Sagala, 2008).

Iklim sekolah yang kondusif bagi pembelajaran adalah suasana sekolah yang

bebas dari permasalahan disiplin, memiliki harapan dan prestasi belajar anak yang

tinggi. Iklim sekolah yang kondusif akan meningkatkan kualitas pengajaran,

pemanfaatan sumber belajar dan fasilitas belajar sekolah oleh siswa dan guru secara

optimal, semua kegiatan sekolah diatur secara tertib dan dilaksanakan dengan penuh

tanggung jawab dan merata. Iklim sekolah yang baik akan memberikan kenyamanan

belajar pada yang berkualitas, dinamis, dan aktif serta penuh keterlibatan siswa

(Pratiwi, 2012; Kompri, 2015a).

Namun demikian, dalam penelitian ini iklim kerja menunjukan hubungan yang

tidak bermakna (r = 0,467; p = 0,068). Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor guru

yang merupakan guru senior dan fasilitas sekolah (khususnya sekolah unggulan dan

lama). Di mana hampir separuh dari responden penelitian ini adalah guru yang berasal

dari sekolah unggulan dan lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Triyatmo (2010)

yang menyatakan bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas sekolah,

kapasitas dan kompetensi guru serta manajemen pendidikan. Lebih lanjut, proses

belajar mengajar erat kaitannya dengan lingkungan atau suasana di mana proses

belajar mengajar berlangsung. Iklim kerja bukanlah faktor tunggal yang

mempengaruhi kualitas pembelajaran. Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi

kualitas pembelajar, yaitu gaya belajar peserta didik, kualitas dan kreativitas guru, dan

fasilitas belajar yang tersedia (Hadiyanto, 2004 yang dikutip oleh Permatasari, 2013),

dan kinerja kepala sekolah, serta dukungan orang tua atau lingkungan (Triyatmo,

Gambar

Gambar 1.Kerangka konsep hubungan antara iklim kerja guru dan teknologipembelajaran terhadap kualitas pembelajaran.
Tabel 1.Nama sekolah contoh dan jumlah responden penelitian.
Tabel 2.Kisi-kisi instrument angket iklim kerja guru
Tabel 4.Kisi-kisi instrument angket kualitas pembelajaran
+6

Referensi

Dokumen terkait

sekolah dengan motivasi kerja gwu di SM.A Negeri K2bup2ten Karo. Hubungan positif yang signifikan iklim organisasi dengan motivasi kerja. gwu di SMA Negeri K2bupaten

Hasil penelitian Pengaruh Persepsi Guru tentang Kualitas Kepemimpinan, Komunikasi Antar Pribadi, dan Iklim Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Guru SMA Negeri di Kota

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Pengaruh Kompetensi dan Iklim Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul Pengaruh Iklim Organisasi terhadap Komitmen Organisasi dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel

Dengan ini saya menyatakan bahawa skripsi yang berjudul &#34;Fabrikasi Dan Karakterisasi Sensor Konduktivitas Berbasis Teknologi Film Tebal Untuk Analisis

Have untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi Kalor di kelas X-1.. SMA Negeri-1 Palangka Raya semester II Tahun

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Persepsi Ulama Terhadap Radikalisme Agama (Studi Pada Ulama Kota Palangka Raya) adalah benar karya saya

Anak Agung Nyoman Darma, 2012, Kontribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi, dan Iklim Kerja Sekolah Terhadap Kualitas Profesional Guru di SMA Negeri