• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Pemikiran Pendidikan Pada M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Pemikiran Pendidikan Pada M"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BIODATA

Nama : Fatmawati Karso

Alamat : Modayag, BOL-TIM

TTL : Kotamobagu, 20 Juni 1996

Fakultas : Tarbiyah

Prodi : Pendidikan Agama Islam (PAI-3)

Semester : 5

NIM : 15.2.3.088

(2)

Perbandingan Pemikiran

Pendidikan Pada Masa Orde

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu negara. Bila visi pendidikan tidak jelas, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Visi

pendidikan harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa. Karena itu, perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dengan lahirnya orde baru dan tumpasnya pemberontakan PKI, maka mulailah suatu era baru dalam usaha menempatkan pendidikan sebagai suatu usaha untuk menegakkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. Banyak usaha-usaha yang memerlukan kerja keras dalam rangka untuk mewujudkan suatu sistem pendidikan yang betul-betul sesuai dengan tekad orde baru sebagai orde pembangunan. Namun pada masa ini pun pendidikan belum dikatakan berhasil sepenuhnya, maka pada masa berikutnya yaitu masa reformasi diperlukan adanya pembenahan, baik dalam bidang kurikulum, dimana kurikulum harus ditinjau paling sedikit lima tahun.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pendidikan pada masa masa orde baru ? 2. Bagaimana pendidikan pada masa reformasi?

3. Kurikulum-kurikulum apa saja yang digunakan pada masa orde baru dan reformasi?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui bagaimana pendidikan masa orde baru.

2. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan pada masa reformasi.

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendidikan Pada Masa Orde Baru

Sekilas tentang sejarah orde baru. Orde baru (orba) adalah sebutan bagi masa pemerintahan (rezim) Soeharto yang menggantikan Soekarno sebagai presiden RI ke-2 yang

dimulai pada tahun 1966. Arti orde baru adalah sebuah tata tertib atas kehidupan rakyat, bangsa, dan negara Indonesia yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen dan murni.

Pemerintahan Indonesia sempat terancam digantikan dengan paham komunis pada peristiwa pemberontakan G30S / PKI, dan pemerintahan orde baru menitikberatkan pengembalian Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi dasar negara Indonesia.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab runtuhnya orde baru antara lain:

1. Krisis Moneter

Pada waktu krisis melanda Thailand, keadaan Indonesia masih baik. Inflasi rendah, ekspor masih surplus sebesar US$ 900 juta dan cadangan devisa masih besar, lebih dari US$ 20 B. Tapi banyak perusahaan besar menggunakan hutang dalam US Dollar. Ini merupakan

cara yang menguntungkan ketika Rupiah masih kuat. Hutang dan bunga tidak jadi masalah karena diimbangi kekuatan penghasilan Rupiah. Tapi begitu Thailand melepaskan kaitan Baht pada US Dollar di bulan Juli 1997, Rupiah kena serangan bertubi-tubi, dijual untuk membeli US Dollar yang menjadi murah. Waktu Indonesia melepaskan Rupiah dari US Dollar, serangan meningkat makin menjatuhkan nilai Rupiah. IMF maju dengan paket bantuan US$ 20B, tapi Rupiah jatuh terus dengan kekuatiran akan hutang perusahaan, pelepasan Rupiah besar-besaran. Bursa Efek Jakarta juga jatuh. Dalam setengah tahun, Rupiah jatuh dari 2,000 dampai 18,000 per US Dollar.1

2. Tragedi “TRISAKTI”

Tragedi 12 mei 1998 yang menewaskan 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti. Tragedi yang sampai saat ini masih dikenang oleh para mahasiswa di seluruh Indonesia belum

jelas penyelesaiannya hingga sekarang. Tahun demi tahun kasus ini selalu timbul tenggelam.

(5)

Setiap 12 Mei mahasiswa pun berdemo menuntut diselesaikannya kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Namun semua itu seperti hanya suatu kisah yang tidak ada masalah apapun. Seperti suatu hal yang biasa saja. Pemerintah pun tidak ada suatu pernyataan yang tegas dan jelas terhadap kasus ini. Paling tidak perhatian terhadap kasus ini pun tidak ada.

Mereka yang telah pergi adalah :

1. Elang Mulia Lesmana

2. Heri Hertanto

3. Hafidin Royan

4. Hendriawan Sie

Mereka merupakan Pahlawan Reformasi selain mahasiswa lainnya yg ikut berjuang pada saat itu.

3. Penjarahan

Pada tanggal 14 Mei 1998, Jakarta seperti membara. Semua orang tumpah di jalanan. Mereka merusak dan menjarah toko dan gedung milik swasta maupun pemerintah. Masa pada saat itu sudah kehilangan kendali dan brutal akibat kondisi yang terjadi di tanah air pada saat itu.

Tak hanya itu, massa juga memburu warga keturunan Cina. Tarakhir, banyak warga keturunan Cina mengungsi ke luar negeri. Sebagian lainnya bertahan dalam ketakutan dan munculah isyu-isyu gak tidak jelas bahwa pada hari itu terjadi perkosaan masal warga keturunan tiong Hoa.

4. Mahasiswa Menduduki Gedung MPR

18 Mei Pukul 15.20 WIB, Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko di Gedung DPR, yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko saat itu didampingi seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad.

Pukul 21.30 WIB, empat orang menko (Menteri Koordinator) diterima Presiden

(6)

kesempatan itu untuk menyarankan agar Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle. Tujuannya, agar mereka yang tidak terpilih lagi dalam kabinet reformasi tidak terlalu “malu”. Namun, niat itu tampaknya sudah diketahui oleh Presiden Soeharto. Ia langsung mengatakan, “Urusan kabinet adalah urusan saya.” Akibatnya, usul agar kabinet dibubarkan tidak jadi disampaikan. Pembicaraan beralih pada soal-soal yang berkembang di masyarakat.

Pukul 23.00 WIB Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat individual, meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif. Wiranto mengusulkan pembentukan “Dewan Reformasi”.

Gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ dan Forum Kota memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR.

5. Soeharto Meletakkan Jabatannya.

Pada tanggal 21 Mei pada pukul 01.30 WIB, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais dan cendekiawan Nurcholish Madjid (almarhum) pagi dini hari menyatakan, “Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang pemerintahan baru”.2

Pada pukul 9.00 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 9.00

WIB. Soeharto kemudian mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat dan meninggalkan halaman Istana Merdeka didampingi ajudannya, Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto (kemudian menjadi Kepala Polri). Mercedes hitam yang ditumpanginya tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR.

Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia.

Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-mantan presiden, “ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan-mantan presiden/mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga.”

Terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah satu yang pertama mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah sah dan konstitusional.

(7)

Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar. Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian inpres ini hanya

berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas. Yang terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa

memperhatikan kualitas pengajaran dan hasil didikan.

Pelaksanaan pendidikan pada masa orde baru ternyata banyak menemukan kendala, karena pendidikan orde baru mengusung ideologi “keseragaman” sehingga memampatkan kemajuan dalam bidang pendidikan. EBTANAS, UMPTN, menjadi seleksi penyeragaman intelektualitas peserta didik.

Pada pendidikan orde baru kesetaraan dalam pendidikan tidak dapat diciptakan karena unsur dominatif dan submisif masih sangat kental dalam pola pendidikan orde baru. Pada masa ini, peserta didik diberikan beban materi pelajaran yang banyak dan berat tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-faktor kurikulum yang lain untuk menjadi peka terhadap lingkungan. Beberapa hal negatif lain yang tercipta pada masa ini adalah:

1. Produk-produk pendidikan diarahkan untuk menjadi pekerja. Sehingga, berimplikasi pada hilangnya eksistensi manusia yang hidup dengan akal pikirannya (tidak memanusiakan manusia).

2. Lahirnya kaum terdidik yang tumpul akan kepekaan sosial, dan banyaknya anak muda yang berpikiran positivistic.

3. Hilangnya kebebasan berpendapat.

(8)

Pendidikan bukan ditujukan untuk mempertahankan eksistensi manusia, namun untuk mengeksploitasi intelektualitas mereka demi hasrat kepentingan penguasa.3

Pidarta (2007 : 142) lalu mengemukakan bahwa paradigma dan pelaksanaan pendidikan pada masa orde baru adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah belum menunjukkan Political Will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan. 2. Tanggung jawab bersama antarkeluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam pendidikan

belum terealisasi secara menyeluruh.

3. Sulit menemukan tokoh pemikir dalam bidang pendidikan yang konsep-konsep tidak sejalan dengan keinginan para penguasa.

4. Konsep-konsep inovasi pendidikan bersumber dari dunia Barat, sehingga banyak sekali gagal.

5. Kebijakan link and match untuk membentuk pelayan pabrik, perdagangan, dan jasa. 6. Penanaman nilai budaya dan agama tidak cukup melalui bidang studi tertentu, melainkan

harus terintegrasi dalam semua bidang studi.

7. Sekolah menengah umum, lebih banyak daripada sekolah kejuruan, hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan hidup di masyarakat.

8. Pendidikan belum berintikan pada kemajuan ilmu dan teknologi sebagai sumber budaya zaman global.

9. Masih banyak sekali orang Indonesia yang belum berwawasan pada abad ke-21.

10. Masyarakat lamban melakukan transformasi sosial untuk beradaptasi dengan era global. 11. Pendidikan secara kuantitatif cukup berhasil.

12. Pendidikan secara kualitatif masih jauh tertinggal.

13. Muncul perilaku-perilaku negatif seperti kenakalan remaja, kolusi, dan nepotisme. 14. Hasil-hasil pembangunan yang menonjol ialah kesadaran beragama, persatuan dan

kesatuan, serta pertumbuhan ekonomi.

Kemudian kelemahan dari masa orde baru seperti kurangnya memperhatikan pembangunan pada aspek kualitasnya harus dijadikan pelajaran agar masa masa sekarang ini kita bisa memperhatikan pembangunan pendidikan dari segi kualitasnya. Kalau kami melakukan analisis pembangunan pendidikan sebaiknya seimbang antara kualitas dan kuantitasnya. Hal ini disebabkan jika bisa menyeimbangkan antara pembangunan pendidikan dari aspek kuantitas dan kualitas maka pendidikan di Indonesia akan mengalami kemajuan. Oleh karena itu kita dapat belajar dari pembangunan pendidikan pada masa orde baru dengan mengambil hal-hal yang positif dari pembangunan pendidikan pada masa orde baru dan meninggalkan hal-hal yang negatif dari masa era orde baru.4

Kurikulum-kurikulum yang digunakan pada masa orde baru yaitu sebagai berikut:

(9)

1. Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.

Pada masa ini siswa hanya berperan sebagai pribadi yang masif, dengan hanya menghapal teori-teori yang ada, tanpa ada pengaplikasian dari teori tersebut. Aspek afektif

dan psikomotorik tidak ditonjolkan pada kurikulum ini. Praktis, kurikulum ini hanya menekankan pembentukkan peserta didik hanya dari segi intelektualnya saja.5

2. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien berdasar MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.

Pada kurikulum ini peran guru menjadi lebih penting, karena setiap guru wajib untuk membuat rincian tujuan yang ingin dicapai selama proses belajar-mengajar berlangsung. Tiap guru harus detail dalam perencanaan pelaksanaan program belajar mengajar. Setiap tatap muka telah di atur dan dijadwalkan sedari awal. Dengan kurikulum ini semua proses belajar mengajar menjadi sistematis dan bertahap.

3. Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 mengusung “process skill approach”. Proses menjadi lebih penting dalam pelaksanaan pendidikan. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator, sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam kurikulum ini. Pada

(10)

kurikulum ini siswa diposisikan sebagai subjek dalam proses belajar mengajar. Siswa juga diperankan dalam pembentukkan suatu pengetahuan dengan diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, bertanya, dan mendiskusikan sesuatu.6

4. Kurilukum 1994

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Pada kurikulum ini bentuk opresi kepada

siswa mulai terjadi dengan beratnya beban belajar siswa, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.

Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Siswa dihadapkan dengan banyaknya beban belajar yang harus mereka tuntaskan, dan mereka tidak memiliki pilihan untuk menerima atau tidak terhadap banyaknya beban belajar yang harus mereka hadapi.

B. Pendidikan Pada Masa Reformasi

Krisis finalsial Asia yang terjadi sejak tahun 1997 menyebabkan ekonomi Indonesia melemah. Keadaan memburuk. Adanya sistem monopoli di bidang perdagangan, jasa, dan usaha. Pada masa orde baru, orang-orang dekat dengan pemerintah akan mudah mendapatkan fasilitas dan kesempatan bahkan mampu berbuat apa saja demi keberhasilan usahanya.Terjadi krisis moneter. Krisis tersebut membawa dampak yang luas bagi kehidupan manusia dan bidang usaha. Banyak perusahaan yang ditutup sehimgga terjadi PHK dimana-mana dan menyebabkan amgka pengangguran meningkat tajam serta muncul kemiskinan dimana-mana dan krisis perbankan. KKN semakin merajarela, ketidak adilan dalam bidang hukum,

pemerintahan orde baru yang otoriter (tidak demokrasi) dan tertutup, besarnya peranan militer dalam orde baru, adanya 5 paket UU serta memunculkan demonstrasi yang digerakkan oleh mahsiswa. Tuntutan utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi total. Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu meninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti akibat

6 Dr. Asfianti,M.Pd Pendekatan Humanis Dalam Pengembangan Kurikulum (Medan:Perdana Publishing,

(11)

bentrok dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan. Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai “ Pahlawan reformasi”. Menanggapi aksi reformasi tersebut, presiden soeharto berjanji akan mereshuffle cabinet pembangunan VII menjadi Kabinet

Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU

Antikorupsi. Dalam perkembangannya, komite reformasi belum bisa terbentuk karenan empat belas menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai dimulainya orde reformasi.

Faktor-faktor yang Mendorong Munculnya Reformasi

Ada beberapa hal yang yang menjadi faktor munculnya era reformasi, antara lain :

1. Adanya ketidakadilan di bidang perekonomian dan hukum selama pemerintahan orde baru selama 32 tahun.

2. Krisis Politik.

Pembaharuan yang dituntut terutama ditukukan pada terbitnya lima paket undang-undang politik yang dianggap menjadi sumber ketidakadilan yaitu:

- UU No. 1 tahun 1985 tentang pemilihan umum

- UU No. 2 tahun 1985 tentang susunan, kedudukan, tugas dan wewenang DPR/MPR - UU No. 3 tahun 1985 tentang Parpoil dan golongan karya

- UU No. 5 tahun 1985 tentang referendum - UU No. 8 tahun 1985 tentang organisasi massa

3. Krisis Hukum Pelaksanaan hukum pada masa orde baru terdapat banyak ketidakadilan terutama yang menyangkut hukum bagi keluarga pejabat. Bahkan hkum dijadikan sebagai pembenaran atas tindakan dan kebijakan pemerintah atau sering terjadi rkayasa dalam proses peradilan.

4. Krisis Ekonomi Faktor penyebab krisis ekonomi yang melanda Indonesia antara lain : - Utang Luar Negeri Indonesia.

(12)

- Pola pemerintahan sentralistis

5. Krisis Kepercayaan Krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia telah mengurangi kepercayaan rakyat kepada kepemimpinan Soeharto. Puncak dari ketidakpercayaan rakyat adalah terjadinya berbagai aksi demonstrasi menentang pemerintah karena mengeluarkan

kebijakan yang melukai hati rakyat misal kenaikan BBM dan ongkos angkutan pada 4 Mei 1998. puncak aksi rakyat dan mahasiswa terjadi pada 12 Mei 1998 dimana terjadi peristiwa

penembakan terhadap Mahasiswa Trisakti oleh aparat yaitu : - Elang Mulia Lesmana

- Heri Hertanto

- Hendriawan Lesmana - Hafidhin Royan

Yang akhirnya mendorong timbulnya aksi massa lebih besar pada 13 dan 14 Mei 1998 sehingga terjadi aksi anarkis terutama ditujukan pada etnis Cina. Tuntutan mundur kepada Soeharto semakin menguat setelah munculnya tokoh-tokoh masyarakat yang ikut menuntut Soeharto mundur diantaranya :

- Gus Dur - Amien Rais - Megawati

- Sri Sultan Hemengkubuwono X ( Yang dikenal dengan Tokoh Deklarasi Ciganjur) pada tanggal 21 Mei 1998 kemudian menyerahkan kekuasaan pada BJ. Habibie.7

Era reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Bentuk kurikulum menjadi berbasis kompetensi. Begitu pula bentuk pelaksanaan pendidikan berubah dari sentralistik (orde lama) menjadi desentralistik. Pada masa ini pemerintah menjalankan amanat

UUD 1945 dengan memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan belanja negara.

“Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20%) dari anggaran pendapatan dan belanja negara, serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

7 Syamsuddin Haris Masalah-Masalah Demokrasi dan Kebangasaan di Era Reformasi (Jakarta:Buku

(13)

Dengan didasarkan oleh UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, yang diperkuat dengan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, maka pendidikan digiring pada pengembangan lokalitas, di mana keberagaman sangat diperhatikan. Masyarakat dapat berperan aktif dalam pelaksanaan satuan pendidikan.

Pendidikan di era reformasi 1999 mengubah wajah sistem pendidikan Indonesia melalui UU No 22 tahun 1999, dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Pemerintah memperkenalkan model “Manajemen Berbasis Sekolah”. Sementara untuk mengimbangi kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibuat sistem “Kurikulum Berbasis Kompetensi”.

Memasuki tahun 2003 pemerintah membuat UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menggantikan UU No 2 tahun 1989., dan sejak saat itu pendidikan dipahami sebagai:

“usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan di masa reformasi juga belum sepenuhnya dikatakan berhasil. Karena, pemerintah belum memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mendesain pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan lokal, misalnya penentuan kelulusan siswa masih diatur dan ditentukan oleh pemerintah. Walaupun telah ada aturan yang mengatur posisi siswa sebagai subjek yang setara dengan guru, namun dalam pengaplikasiannya, guru masih menjadi pihak yang dominan dan mendominasi siswanya, sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan proses pendidikan Indonesia masih jauh dari dikatakan untuk memperjuangkan hak-hak siswa.

Ada beberapa kesalahan dalam pengelolaan pendidikan pada masa ini, telah melahirkan hasilnya yang pahit yakni:

1. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global. 2. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.

(14)

6. Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.

Adapun kurikulum-kurikulum yang dipakai pada masa reformasi yaitu sebagai berikut:

1. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Pada pelaksanaan kurikulum ini, posisi siswa kembali ditempatkan sebagai subjek

dalam proses pendidikan dengan terbukanya ruang diskusi untuk memperoleh suatu pengetahuan. Siswa justru dituntut untuk aktif dalam memperoleh informasi. Kembali peran guru diposisikan sebagai fasilitator dalam perolehan suatu informasi.

Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Hal ini mutlak diperlukan mengingat KBK juga memiliki visi untuk memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik siswa sebagai subjek pendidikan. Berikut karakteristik utama KBK8, yaitu:

a. Menekankan pencapaian kompetensi siswa, bukan tuntasnya materi.

b. Kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan potensi siswa (normal, sedang, dan tinggi).

c. Berpusat pada siswa.

d. Orientasi pada proses dan hasil.

e. Pendekatan dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual. f. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.

g. Buku pelajaran bukan satu-satunya sumber belajar. h. Belajar sepanjang hayat;

i. Belajar mengetahui (learning how to know),

j. Belajar melakukan (learning how to do),

k. Belajar menjadi diri sendiri (learning how to be),

l. Belajar hidup dalam keberagaman (learning how to live together).

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006

8 E. Muliyasa Kompetensi berbasis Kompetensi karakter, konsep dan implementasi (bandung:PT. Remaja

(15)

Secara umum KTSP tidak jauh berbeda dengan KBK namun perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada desentralisasi sistem pendidikan. Pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk

silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya.

Jadi pada kurikulum ini sekolah sebagai satuan pendidikan berhak untuk menyusun

dan membuat silabus pendidikan sesuai dengan kepentingan siswa dan kepentingan lingkungan. KTSP lebih mendorong pada lokalitas pendidikan. Karena KTSP berdasar pada pelaksanaan KBK, maka siswa juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan secara terbuka berdasarkan sistem ataupun silabus yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah.

Dalam kurikulum ini, unsur pendidikan dikembalikan kepada tempatnya semula yaitu unsur teoritis dan praksis. Namun, dalam kurikulum ini unsur praksis lebih ditekankan dari pada unsur teoritis. Setiap kebijakan yang dibuat oleh satuan terkecil pendidikan dalam menentukan metode pembelajaran dan jenis mata ajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan lingkungan sekitar.9

9 E. Muliyasa Kompetensi berbasis Kompetensi karakter, konsep dan implementasi (Bandung:PT. Remaja

(16)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan, bahwa pada masa orde baru pendidikan hanya berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan

kualitas. Yang terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa menghasilkan kualitas pengajaran dan hasil didikan. Adapun kurikulum yang digunakan pada masa ini yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984 dan kurikulum 1994. Namun pendidikan pada masa berikutnya pada masa orde baru belum dikatakan berhasil sepenuhnya, maka pada masa berikutnya masa reformasi diperlukan adanya pembenahan-pembenahan, baik dalam bidang kurikulum maupun dari segi tenaga pengajarnya. Kurikulum yang dipakai pada era reformasi ini yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

B. Saran

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Wanandi,Jusuf. Menyibak tabir orde baru, (Jakarta:PT.Kompas Media Nusantara,2014)

Yamin, Moh. Menggugat Pendidikan Indonesia, (Jogjakarta:Ar Ruz,2009)

Santoso,Anang. Bahasa Politik Pasca Orde Baru (Jakarta:Wedatama Widia Sastra,2003)

Pradiptyo,Dedi Y. Belajar Sejati versus Kurikulum Nasional (Yogyakarta:Kanisius,2007)

Asfianti, Pendekatan Humanis Dalam Pengembangan Kurikulum (Medan:Perdana Publishing,

2016)

Syamsuddin, Haris. Masalah-Masalah Demokrasi dan Kebangasaan di Era Reformasi

(Jakarta:Buku Obor,2014)

Muliyasa,E. Kompetensi berbasis Kompetensi karakter, konsep dan implementasi (Bandung:PT.

Remaja Rosdakarya,2003)

Nugroho, Rianti. Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi, dan Strategi (Jogjakarta: Pustaka Pelajar,

2008)

Djaelani, A. Timur. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Agama (Jakarta: CV. Darmaga, 1980)

Djumhur, dan H. Danasuprata. Sejarah Pendidikan (Bandung; Jakarta pen Cerdas, 1961), cet. Ke-2

Djumhur, I. Sejarah Pendidikan (Bandung; CV. Ilmu, 1979)

Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1996), cet.

Ke-2

Nata, Abuddin. Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), cet. Ke-1

Nizar, Syamsul. Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), cet.

(18)

Zuhairini. Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta; Bumi Aksara, 2006), cet. Ke-8

https://mpiuika.wordpress.com/2009/12/13/makalah-diskusi-analisis-kebijakan-pendidikan-islam-kelompok-5/

http://madyrezan.blogspot.co.id/2015/01/pendidikan-masa-orde-lama-masa-orde.html

https://www.slideshare.net/nandatasia/orde-lama-orde-baru-dan-reformasi?next_slideshow=2

Referensi

Dokumen terkait

Cooperative Script ini belum sepenuhnya berhasil sehingga perlu diperbaiki pada siklus berikutnya. Secara produk, peningkatan keterampilan menyimak berita siswa dapat dilihat

fenomena golput tidak terjadi hanya pada masa Orde Baru saja yang disebutkan.. terjadi kecurangan dalam pemilu, pada tahun 1955 dan era Reformasi

1.2 Merekonstruksi perkembangan masyarakat pada masa reformasi Reformasi dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru  Melalui diskusi kelompok siswa menganalisis gambar dokumentasi

1) Peserta didik menyusun bahan paparan tentang landasan politik luar negeri politik luar negeri pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan masa Reformasi... 2) Peserta didik

Ketiga , wacana militer yang dimunculkan dalam novel-novel era reformasi adalah wacana militer masa lalu (Orde Baru), sampai penelitian ini berakhir belum

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Indonesia Reformasi politik telah terjadi kurang lebih 22 tahun, dimana pada saat itu 1998 gerakan reformasi berhasil menjatuhkan rezim Orde Baru

Sejak pembangunan Orde Baru hingga masa Reformasi problem yng dihadapi dunia pendidikan adalah besarnya jumlah pengangguran terdidik yang berakses pada problem ketenagakerjaan dan

Pendidikan pada Pemerintahan Masa Orde Baru Perubahan pendidikan dari masa ke masa mengalami peningktan yang sangat baik pada Orde Baru juga perubahan itu terlihat mulai dari