BAB II SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK

Teks penuh

(1)

BAB II

SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK

2.1 Pendahuluan

Sistem komunikasi pada serat optik didasarkan pada sebuah pemahaman atau prinsip bahwa cahaya pada medium kaca dapat menghantarkan informasi untuk jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan sinyal elektrik yang dihantarkan oleh medium transmisi yang berupa kabel tembaga ataupun medium transmisi yang berupa gelombang radio pada sistem komunikasi wireless (nirkabel). Bahkan pada saat sekarang ini, serat optik digabungkan atau dikombinasikan dengan perangkat elektronik yang canggih dapat membuat kabel serat optik mengirimkan sinyal gelombang cahaya yang sudah didigitalisasi sejauh ratusan kilometer tanpa harus mengalami proses penguatan, dan dengan beberapa loss transmisi, interferensi yang kecil dan potensibel bandwidth yang lebar, serat optik hampir merupakan sebuah media transmisi ideal. Standar rugi-rugi yang diperbolehkan dalam penyambungan adalah 1,5 dB [1].

2.2 Gelombang Elektromagnetik

Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dihasilkan dari perubahan medan magnet dan medan listrik secara berurutan, dimana arah getaran vektor medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus. Terjadinya gelombang eletromagnetik yaitu pertama, arus listrik dapat menghasilkan (menginduksi) medan magnet ini dikenal sebagai gejala induksi magnet. Peletak dasar konsep ini adalah Oersted yang telah menemukan gejala ini secara eksperimen dan dirumuskan secara lengkap oleh Ampere. Gejala induksi magnet dikenal sebagai hukum Ampere. Kedua medan magnet yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan (meginduksi) medan listrik dalam bentuk arus listrik. Gejala ini dikenal sebagai gejala induksi elektromagnetik. Konsep induksi elektromagnet ditemukan secara eksperimen oleh Michael Faraday dan dirumuskan secara lengkap oleh Joseph Hendry. Hukum induksi elektromagnet sendiri kemudian dikenal sebagai hukum faraday Hendry [2].

Dari kedua prinsip dasar magnet tersebut, dengan mempertimbangkan konsep simetri yang berlaku dalam hukum alam, James Clerk Maxwell mengajukan suatu usulan yaitu bahwa jika medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat

(2)

menghasilkan medan listrik maka hal sebaliknya boleh jadi dapat terjadi. Dengan demikian Maxwell mengusahakan bahwa medan listrik yang berubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan magnet. Prinsip ketiga adalah medan listrik yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan magnet. Prinsip ketiga ini yang dikemukankan oleh Maxwell pada dasarnya merupakan pengembangan dari rumusan hukum Ampere-Maxwell [2].

Dari ketiga prinsip dasar kelistrikan dan kemagnetan tersebut, Maxweell melihat adanya suatu pola dasar. Medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat membangkitkan medan listrik yang juga berubah-ubah terhadap waktu, medan listrik yang berubah terhadap waktu juga dapat menghasilkan medan magnet. Jika proses ini berlangsung secara kontinu maka akan dihasilkan medan magnet dan medan listrik secara kontinu. Jika medan magnet dan medan listrik ini secara serempak merambat (menyebar) di dalam ruang ke segala arah maka ini merupakan gejala gelombang. Gelombang semacam ini disebut gelombang elektomagnetik karena terdiri dari medan listrik dan medan magnet yang merambat dalam ruang [2].

Setiap muatan listrik yang memiliki percepatan memancarkan radiasi elektromagnetik . Radiasi elektromagnetik dirambatkan pada frekuensi yang sama dengan arus listrik. Bergantung pada situasi, gelombang elektromagnetik dapat bersifat seperti gelombang atau seperti partikel. Sebagai gelombang, dicirikan oleh kecepatan (kecepatan cahaya, panjang gelombang, dan frekuensi). Propagasi gelombang elektromagnetik biasanya terdiri dari frekuensi, panjang gelombang dan cepat rambat gelombang [2].

Secara teori, Hertz menyadari bahwa gelombang elektomagnetik yang dinyatakan Maxwell merupakan gabungan dari gelombang listrik dan gelombang magnetik secara saling tegak lurus. Begitu pula dengan arah geraknya, karena gelombang tersebut menggantungkan gelombang listrik, maka Hertz mencoba membuktikan keberadaan gelombang elektormagnetik tersebut melalui keberadaan gelombang listriknya yang diradiasikan oleh rangkaian pemancar [2].

Hertz mencoba membuat rangkaian pemancar sederhana dengan bantuan trafo untuk memperkuat tegangan dan kapasitor sebagai penampung muantannya. Karena ada arus pergeseran pada gap pemancar, diharapkan ada radiasi gelombang elektromagnetik yang akan dipancarkan. Karena secara teori dari percikan yang muncul akan dihasilkan gelombang elektromagnetik, tetapi pada rangkaian loop

(3)

penerima yang hanya berupa kawat berbentuk lingkaran yang tanpa diberikan sumber tegangan apapun, ternyata muncul percikan listrik pada gapnya. Ini membukt ikan bahwa ada listrik yang mengalir melalui radiasi suatu benda yang akhirnya terhantarkan ke loop. Karena merasa belum puas Hertz mencoba untuk menghitung frekuensi pada loop. Frekuensi yang dihasilkan sama dengan frekuensi pancar. Ini artinya lisrtik pada loop berasal dari pemancar itu sendiri. Dengan demikian terbuktilah adanya radiasi grlombang elektromagnetik Maxwell. Percobaan Hertz ini juga memicu penemu telegram kabel dan radio oleh Marconi. Rangkaian ini ada dalam kaca quartz untuk menghindari sinar UV [3].

2.3 Spektrum Gelombang Elektromagnetik

Susunan semua bentuk gelombang elektromagnrtik berdasarkan panjang gelombang dan frekuensinya disebut spektrum elektromagnetik. Spektrum elektromagnetik disusun berdasarkan panjang gelombang (diukur dalam satuan meter) mencakup kisaran energi yang sangat rendah, dengan panjang gelombang tinggi dan rendah dan frekuensi rendah, seperti gelombang radio sampai ke energi yang sangat tinggi, dengan panjang gelombang rendah dan frekuensi tinggi seperti radiasi X-ray dan Gamma Ray. Contoh spektrum gelombang elektromagnetik ditunjukkan pada Gambar 2.1 [3].

Gambar 2.1 Spektrum Gelombang Elektromagnetik

1. Gelombang Radio

Gelombang radio dikelompokkan menurut panjang gelombang atau frekuensinya. Jika panjang gelombang tinggi, maka pasti frekuensinya rendah atau sebaliknya. Frekuensi gelombang radio mulai 30 kHz ke atas dan dikelompokkan berdasarkan lebar frekuensinya. Gelombang radio dihasilkan oleh muatan-muatan listrik yang dipercepat melalui kawat-kawat penghantar. Muatan-muatan ini

(4)

dibangkitkan oleh rangkain elektronika yang disebut osilator. Gelombang radio ini dipancarkan dari antena dan diterima oleh antena pula. Kita tidak dapat mendengar radio secara langsung, tetapi penerima radio akan mengubah terlebih dahulu energi gelombang menjadi energi bunyi [3].

2. Gelombang Mikro

Gelombang mikro (microwaves) adalah gelombang radio dengan frekuensi paling tinggi yaitu diatas 3 GHz. Jika mikro diserap oleh sebuah benda, maka akan muncul efek pemanasan pada benda itu. Jika makanan menyerap radiasi gelombang mikro, maka makanan menjadi panas dalam selang waktu yang sangat singkat. Proses inilah yang dimanfaatkan dalam microwave oven untuk memasak makanan dengan cepat dan ekonomis. Gelombang mikro juga dimanfaatkan pada pesawat RADAR (Radio Detection and Ranging). RADAR berarti mencari dan menetukan jejak sebuah benda dengan menggunakan gelombang mikro. Karena cepat rambat gelombang elektromagnetik = c dalam satuan m/s, maka dengan mengamati selang waktu antara pemancar dengan penerima [3].

3. Sinar Inframerah

Sinar inframerah meliputi daerah frekuensi 1011Hz sampai 1014 Hz. Jika diperiksa spektrum yang dihasilakn oleh sebuah lampu pijar dengan detektor yang dihubungkan pada miliamperemeter, maka jarum amperemeter sedikit diatas ujung spektrum merah. Sinar yang tidak dilihat tetapi dapat dideteksi di atas spektrum merah itu disebut radiasi inframerah. Sinar inframerah di hasilkan oleh elektron dalam molekul-molekul yang bergetar karena benda dipanaskan. Jadi setiap benda panas pasti memancarkan sinar inrfamerah. Jumlah sinar inframerah yang dipancarkan bergantung pada suhu dan warna benda [3].

4. Cahaya Tampak

Cahaya tampak sebagai radiasi elekromagnetik yang paling dikenal oleh kita dapat didefinisikan sebagai bagian dari spektrum gelombang ektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata manusia. Panjang gelombang tampak nervariasi tergantung warnanya mulai dari panjang gelombang 0.000004m cahaya violet (ungu) sampai 0.000007m untuk cahaya merah. Kegunaan cahaya salah satunya adalah penggunaan laser dalam serat optik pada bidang telekomunikasi dan kedokteran [3].

(5)

5. Sinar Ultraviolet

Sinar ultaraviolet mempunyai frekuensi dalam daerah 1015 Hz sampai 1016 Hz atau dalam daerah panjang gelombang 0.0000001m-0.000001m gelombang ini dihasilkan oleh atom dan molekul dalam nyala listrik. Matahari adalah sumber utama yang memancarkan sinar uktraviolet dipermukaan bumi, lapisan ozon yang ada dalam lapisan atas atmosferlah yang berfungsi menyerap sinar ultraviolet dan meneruskan sinar ultraviolet yang tidak membahayakannya kehidupan mahluk hidup di bumi [3].

6. Sinar X

Sinar X mempunyai frekuensi antara 10 Hz samapai 20 Hz, panjang gelombangnya sangat pendek yaitu 10 cm. Meski seperti itu tetapi sinar X mempunyai daya tembus kuat, dapat menembus buku tebal, kayu tebal beberapa centimeter dan pelat aluminium setebal 1 cm [3].

7. Sinar Gamma

Sinar gamma mempunyai frekuensi 10 Hz atau panjang gelombang 10 cm. Daya tembus paling besar yang menyebabkan efek yang serius jika diserap oleh jaringan tubuh [3].

2.4 Spektrum Elektromagnetik

Spektrum optik cahaya adalah bagian dari spekrtum elektromagnetik yang tampak oleh manusia. Radiasi elektromagnetik dalam rentang panjang gelombang ini disebut sebagai cahaya tampak atau cahaya saja. Tidak ada batasan yang tepat dari spektrum optik, mata normal manusia akan dapat menerima panjang gelombang dari 400 sampai 700 nm, meskipun beberapa orang dapat menerima panjang gelombang dari 380 sampai 780 nm. Mata yang telah beradaptasi dengan cahaya biasanya memiliki sensitivitas maksimum di sekitar 555 nm, di wilayah hijau dari spektrum optik. Warna percampuran seperti pink atau ungu didapat jika mencampurkan beberapa panjang gelombang.

Meskipun spektrum optik adalah spektrum yang kontinu sehingga tidak ada batas yang jelas antara satu warna dengan warna lainnya. Tabel 2.1 menunjukkan batas kira-kira warna-warna spektrum [4].

(6)

Tabel 2.1 Spektrum dan Panjang Gelombang

No Warna Panjang Gelombang

1 Ungu 380-450 nm 2 Biru 450-495 nm 3 Hijau 495-570 nm 4 Kuning 570-590 nm 5 Jingga 590-620 nm 6 Merah 620-750 nm 2.5 Panjang Gelombang

Panjang gelombang adalah sebuah jarak antara satuan berulang dari sebuah pola gelombang. Biasanya memiliki denotasi huruf Yunani lambda. Dalam sebuah gelombang sinus, panjang gelombang adalah jarak antara puncak ke puncak. Axisx mewakilkan panjang gelombang, dan I mewakilkan kuantitas yang bervariasi (misalnya tekanan udara untuk sebuah gelombang suara atau kekuatan listrik atau medan magnet untuk cahaya), pada suatu titik dalam fungsi waktu x. Panjang gelombang memiliki hubungan inverse terhadap waktu, jumlah puncak untuk melewati sebuah titik dalam sebuah waktu yang di berikan [4].

Panjang gelombang sama dengan kecepatan jenis gelombang dibagi oleh frekuensi gelombang. Ketika berhadapan dengan radiasi elektromagnetik dalam ruang hampa, kecepatan ini adalah kecepatan cahaya c, untuk sinyal (gelombang) di udara, ini merupakan kecepatan suara di udara, panjang gelombang ditunjukkan pada Gambar 2.2 [5].

(7)

2.6 Prinsip Dasar Komunikasi Serat Optik

Serat optik bekerja berdasarkan hukum snellius tentang pemantulan sempurna. Pemantulan cahaya atau pembiasaan cahaya yang terjadi sangat bergantung pada saat cahaya menyentuh permukaan atau masuk ke inti serat fiber optic. Salah satu contoh tentang adanya pembiasaan cahaya ini, misalnya pada saat kita sedang berada di tepi danau ketika kita melihat ikan dan mahluk hidup lainnya berada di bawah permukaan air. Sekilas akan terlihat bahwa danau tersebut sepertinya dangkal dan air tenang, namun apa yang kita lihat tentang kedalaman air danau tersebut berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Begitu juga tentang keberadaan ikan dan mahluk hidup lainnya, pada saat kita melihat, belum tentu mahluk hidup tersebut berada pada posisi sebenarnya. Hal ini terjadi karena adanya pembiasaan cahaya, dimana menurut ilmu fisika tentang cahaya, jika cahaya jatuh pada medium yang berbeda indeks biasnya, cahaya tersebut akan dibiaskan dan sudut datang dari sinar laser yang dikirimkan pada serat optik dapat memungkinkan untuk mengatur seberapa efisiensi sinar laser tersebut sampai pada tujuan. Gelombang cahaya di arahkan melalui inti dari fiber optic tersebut, sama seperti gelombang radio yang diarahkan melalui kabel koaksial. Sinar laser pada serat optik di arahkan hingga ke ujung dari fiber optic tersebut dengan memanfaatkan prinsip dari pemantulan cahaya di dalam inti serat optik [5].

Perkembangan teknologi telekomunikasi memungkinkan penyediaan sarana telekomunikasi dalam biaya relatif rendah, mutu pelayanan tinggi, cepat, aman, dan juga kapasitas besar dalam menyalurkan informasi. Seiring dengan perkembangan telekomunikasi yang cepat maka kemampuan sistem transmisi dengan menggunakan teknologi serat optik semakin dikembangkan, sehingga dapat menggeser penggunaan sistem transmisi konvensional dimasa mendatang, terutama untuk transmisi jarak jauh. Dampak dari perkembangan teknologi ini adalah perubahan jaringan analog menjadi jaringan digital baik dalam sistem switching maupun dalam sistem transmisinya. Hal ini akan meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi yang dikirim, serta biaya operasi dan pemeliharaan lebih ekonomis. Sebagai sarana transmisi dalam jaringan digital, serat optik berperan sebagai pemandu gelombang cahaya. Serat optik dari bahan gelas atau silika dengan ukuran kecil dan sangat ringan dapat mengirimkan informasi dalam jumlah besar dengan rugi-rugi relatif rendah. Dalam sistem komunikasi serat optik, informasi diubah menjadi sinyal optik (cahaya) dengan menggunakan sumber cahaya LED atau Diode Laser. Kemudian

(8)

dengan dasar hukum pemantulan sempurna, sinyal optik yang berisi informasi dilewatkan sepanjang serat sampai pada penerima, selanjutnya detektor optik akan mengubah sinyal optik tersebut menjadi sinyal listrik kembali [5].

2.6.1 Pemantulan Sempurna

Pematulan dalam sistem komunikasi serat optik yang digunakan adalah pemantulan sempurna. Perambatan cahaya dalam serat optik dapat merambat dalam medium dengan tiga cara yaitu :

a. Merambat Lurus b. Dibiaskan c. Pemantulan

Pemantulan cahaya dalam serat optik ditunjukkan pada Gambar 2.3, yaitu pada saat refraksi, sudut kritis dan pemantulan sempurna [6].

Gambar 2.3 Pemantulan dan Pembiasan Cahaya

Pemantulan (refraksi) secara umumnya dapat ditunjukkan pada Gambar 2.4. Pada refraksi ini medium yang digunakan adalah cermin. Cahaya yang dipantulkan melalui cermin dapat dilihat pada sudut datang dan sudut refraksi seperti pada gambar.

(9)

Gambar 2.4 Pemantulan (Refleksi) Pada Cermin

Cahaya yang bergerak dari materi dengan indeks bias lebih besar (padat) ke materi dengan indeks bias lebih kecil (tipis) maka akan bergerak menjauhi sumbu tegak lurus (garis normal). Sudut datang lebih kecil daripada sudut bias. Cahaya yang bergerak dari materi dengan indeks bias lebih kecil (tipis) ke materi dengan indeks bias lebih besar (padat) maka akan bergerak mendekati sumbu tegak lurus (garis normal). Sudut datang lebih besar daripada sudut bias. Pembiasan pada cahaya ditunjukkan pada Gambar 2.5 [6].

(10)

Refractive Index (Indeks bias)

Bila gelombang cahaya merambat melalui material, tidak dalam vacum, maka kecepatannya lebih kecil dibandingkan dalam vacum.

V = c/n...(2.1) atau

n = c/V...(2.2) Dimana:

c = kecepatan cahaya dalam vacum (3 x 108 m/s).

n = refractive index (index of refraction) atau indeks bias. V = kecepatan rambat cahaya dalam material.

Indeks bias tidak pernah lebih kecil dari 1 dan nilainya untuk beberapa zat ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Indeks Bias Medium

Medium N = c/v Udara Hampa 1.0000 Udara pada STP 1.0003 Air 1.333 Es 1.31 Alkohol 1.36 Gliserol 1.48 Benzena 1.50

Kaca Kuarsa Lebur 1.46

Kaca Korona 1.52

Api cahaya/kaca flintana 1.58

Lucite atau plexiglass 1.51

Garam dapur/ Natrium Klorida 1.53

(11)

2.6.2 Hukum Snnelius

Hukum Snnelius digunakan sebagai hukum dasar dari prinsip pembiasaan cahaya atau optik. Hal ini dapat ditunjukkan pada Gambar 2.4. Pada gambar ini tampak bahwa nilai-nilai dari indeks. Pada hukun Snnelius ini dapat disampaikan tiga bagian penting dari pengertian hukum Snnelius yaitu [7]:

a. Cahaya merambat lurus dalam suatu medium

b. Cahaya dapat dirubah arahnya dengan menggunakan kaca atau permukaan licin

c. Cahaya yang dipantulkan ke cermin membentuk sudut datang yang sama dengan sudut pantul.

Gambar 2.6 Hukum Snnelius

n = c/v

Dimana : n : Indeks bias

v : Kecepatan perambatan cahaya di medium c : Kecepatan perambatan cahaya diruang hampa Ada dua kondisi dalam pembiasan yaitu :

(12)

1. Bila sinar datang dari medium tipis kemedium lebih padat, maka sinar akan di biaskan mendekati garis normal. Dalam hal ini sudut bias lebih kecil dari sudut datang.

2. Bila sinar datang dari medium padat kemedium lebih tipis, maka sinar akan

dibiaskan menjauhi garis normal. Dalam hal ini sudut bias lebih besar dari sudut datang.

Sudut kritis dalam pembiasaan adalah sudut datang cahaya dengan kondisi dimana harga diperbesar samapai suatu nilai tertentu sehingga seluruh cahaya datang dipantulkan secara total, hal demikian merupakan kondisi ideal untuk mentransmisikan cahaya dalam serat optik [7].

2.6.3. Perambatan Cahaya

Perambatan cahaya terdiri dari beberapa mode dalam medium yang sama yaitu ;

a. Cahaya dapat merambat dalam serat optik melalui sejumlah lintasan yang berbeda.

b. Lintasan cahaya yang berbeda-beda ini disebut mode dari suatu serat optik.

c. Ukuruan diameter core menentukan jumlah mode yang ada dalam suatu serat optik.

d. Serat optik yang memiliki lebih dari satu mode disebut serat optik multimode.

e. Serat optik yang mempunyai hanya satu mode saja diesbut serat optik single mode. Serat optik single mode memiliki ukuran core lebih kecil.

(13)

Gambar 2.7 Propagasi Cahaya Pada Serat Optik

Perambatan cahaya pada komunikasi serat optik ditunjukkan pada Gambar 2.7. Perambatan cahaya atau propgasi cahaya dapat dilakukan dalam beberapa bentuk bagian. Pada Gambar 2.7 ini ditunjukkan bahwa propagasi cahaya dibiasakan dan dipantulkan pada sebuah bentuk kerucut [7].

2.6.4. Konfigurasi Dasar Serat Optik

Konfigurasi dasar serat optik dapat ditunjukkan pada Gambar 2.8 .

(14)

Prinsip instalasi kabel serat optik tidak berbeda dengan instalasi kabel tembaga, namun ada hal-hal khusus dalam instalasinya, antara lain;

1. Penyediaan slack kabel. 2. hati-hatian dalam penarikan 3. Alat sambung dan toolkit khusus 4. Diperlukan kabel rol (cable reel) 5. Gunakan kabel otpik sesuai spesifikasi

2.7 Struktur dan Jenis Serat Optik

Struktur dasar serat optik terdiri dari beberapa bagian yaitu, core, cladding dan coating atau buffer. Setiap bagian memiliki fungsinya masing-masing.

1. Core

Core merupakan inti dari serat optik yang terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas sangat tinggi. Merupakan bagian utama dari serat optik karena perambatan cahaya sebenarnya terjadi pada bagian ini. Memiliki diameter 10 mm-50 mm, dan ukuran core sangat mempengaruhi karateristik serat optik [8].

2. Cladding

Cladding ini terbuat dari bahan gelas dengan indeks bias lebih kecil dari core dan merupakan selubung dari core. Hubungan indeks bias cladding dan core akan mempengaruhi perambatan cahaya pada core (mempengaruhi besarnya sudut kritis) [8].

3. Coating

Coating terbuat dari bahan plastik dan berfungsi untuk melindungi serat optik dari kerusakan. Struktur dasar serat optic dapat ditunjukkan pada Gambar 2.9 [8].

(15)

Jenis-jenis serat optik dapat dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya adalah [8]:

a. Step Index Multimode - Index core konstan

- Ukuran core besar dan dilapisi cladding yang sangat tipis

- Penyabungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar - Terjadi disperse

- Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah

Pada gambar di bawah ini dapat dilihat bahwa index core yang digunakan adalah tetap atau konstan dengan ukuran core besar, kemudian penyambungan untuk jenis optik ini terbilang mudah. Jenis Serat optik step index dapat ditunjukkan pada Gambar 2.10 [8].

Gambar 2.10 Serat Optik Step Indeks[12]

b. Graded Indeks Multimode

Cahaya merambat karena difraksi yang terajdi pada core sehingga rambatan cahaya sejajar dengan sumbu serat [8].

(16)

Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas yang memiliki indeks bias yang berbeda, indeks bias tertinggi terdapat pada pusat core dan berangsur-angsur turun sampai kebatas core cladding dan dispersi dalam jenis serat optik ini minimum. Jenis serat optik gradded indeks multimode ditunjukkan pada Gambar 2.11 [8].

c. Step Indeks Multimode

Serat optik SI Singlemode memiliki diameter core yang sangat kecil dibandingkan ukuran claddingnya. Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan sumbu serat optik. Digunakan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi. Jenis serat optik Step Indeks Multimode ditunjukkan pada Gambar 2.12 [8].

Gambar 2.12 Jenis Serat Optik Step Indeks Multimode

2.8 Penyambungan Serat Optik

Penyambungan serat optik pada dasarnya dilakukan berdasarkan standar dari setiap perudahaan yang menggunakannya. Pada Tugas Akhir ini penulis membuat penelitian penyambungan serat optik berdasarkan standar perusahaan PT.TELKOM [8].

Penyambungan yang dilakukan sesuai standar perusahan adalah per tiga kilometer atau satu span. Setiap satu span maka terjadi sambungan dan kotak penyambungan di namakan handhold [8].

Jika terjadi sambungan di luar satu span hal tersebut diakibatkan adanya kerusakan pada kabel optik. Kerusakan tersebut dapat disebabkan karena penggalian atau karena ketahanan kabel tersebut [8].

(17)

2.8.1 Sistem Penyambungan Serat Optik

Pada dasarnya sistem penyambungan serat optik dilakukan sesuai standart diatas. Selain hal tersebut penyambungan juga terjadi karena adanya kerusakan pada serat optik tersebut. Sistem penyambungan serat optik ini perlu memperhatikan beberapa hal penting. Penyambungan fiber optic harus dilakukan dengan extra hati-hati, karena bentuk serat-serat optik yang sangat halus sehingga dibutuhkan ketelitian. Terminasi kabel optik adalah menghubungkan serat optik dari ujung kabel dengan pach panel, melalui elemen pigtail dan konektor. Cara terminasi kabel serat optik dengan menggunakan End closure, pig dan konektor. Sambungan serat optik dengan pigtail disimpan di dalam end closur. Bila konektor yang terpasang didalam Cabinet adalah 96 buah, maka jumlah sambungan serat optik juga 96 buah. Metoda terminasi ini mempunyai kapasitas besar, tetapi harganya lebih mahal dibandingkan dengan cara terminasi yang lainnya. Prosedur terminasi kabel serat optik meliputi hal-hal yang harus diperhatikan dalam pekerjaan terminasi Kabel Optik [9].

a. Penanganan kabel optik pada saat membuat lengkungan tidak boleh melebihi bending radius kabel yang diijinkan.

b. Jaga kebersihan adaptor dan konektor dari kotoran dan debu.

c. Hati-hati jangan mengganggu kabel dan peralatan transmisi yang sedang operasi.

Perangkat ini digunakan untuk melindungi serat optik saat ditanam dibawah tanah. Dalam sistem penyambungan peralatan ini digunakan setelah penyambungan fiber terlaksana dengan baik. Jika hasil penyambungan baik, maka dapat diberikan pengaman seperti closure. Bentuk Closure ditunjukkan pada Gambar 2.13.

(18)

2.8.2 Alat dan Bahan Penyambungan Serat Optik

Penyambungan fiber optic dilakukan dengan menggunakan beberapa perangkat penting, yaitu :

a. Stripper (Pemotong manual)

b. Holder (pemotong lebih akurat, dapat menetapkan standar redaman yang terkecil)

c. Fusion Splicing (penyambung) d. Alkohol (pembersih)

e. Closure (wadah penyambungan kabel)

2.8.3 Cara Penyambungan Serat Optik

Penyambungan fiber optik harus dilakukan dengan extra hati-hati, karena bentuk serat-serat optik yang sangat halus sehingga dibutuhkan ketelitian. Untuk melakukan penyambungan harus mengikuti tahap-tahap berikut ini [9]:

1. Fiber optic disusun secara rapi sesuai dengan urutan pewarnaan. 2. Kemudian fiber optic diukur sesuai dengan pajang yang dibutuhkan

3. Selanjutnya fiber dibersihkan menggunakan Alkohol guna menghindari debu yang menempel pada fiber ketika melakukan pengukuran atau penyusunan fiber sesuai urutan warna.

4. Setelah fiber bersih maka dilakukan penyambungan menggunakan alat yang telah disediakan.

5. Hasil penyambungan yang baik dapat dilihat dari alat yang digunakan pada saat penyambungan, pada umumnya standar rugi-rugi penyambungan yang baik adalah 0.15 dB, jika hasil redaman penyambungan diperoleh di bawah nilai standart maka penyambungan yang dilakukan dapat dikatakan dalam kondisi baik.

6. Jika hasil penyambungan baik, maka dapat diberikan pengaman seperti closure.

Cara penyambungan serat optik yang lebih jelas dapat ditunjukkan pada Gambar 2.14. Gambar ini menjelaskan secara langsung sistem dan cara yang benar dalam melakukan penyambungan FO.

(19)

Gambar 2.14 Penyabungan Serat Optik

2.9 Pengukuran Redaman Serat Optik

Pada sistem transmisi serat optik seperti ditunjukkan pada Gambar 2.15 cahaya yang merambat sepanjang serat optik akan mengalami peredaman, sehingga di ujung jauh (sisi penerima) kekuatan cahaya akan menjadi lemah. Disisi lain kekuatan cahaya dari dioda laser terbatas dan foto dioda memiliki sensitifitas tertentu untuk dapat mendeteksi sinyal optik. Oleh karena itu untuk dapat mengoperasikan sistem telekomunikasi, rugi-rugi optik (total loss) harus dibuat pada level yang lebih rendah dari level total loss yang diperbolehkan [10].

(20)

Level rugi-rugi optik yang diperbolehkan sudah ditentukan untuk masing-masing sistem telekomunikasi, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.3 [10].

Tabel 2.3 STM-4 Loss Limit

Rugi-rugi transmisi atau Transmission loss terlihat pada Gambar 2.14 Transmission loss = Intra OfficeLoss + Line Loss

Intra Office loss = Margin sistem + FDP Loss

FDP loss = Optik Jumper Cord + Connector Loss

Line loss = Cable Loss + Splicing Loss + Maintenance Margin

Dalam pelaksanaan uji akhir kabel optik dimaksudkan untuk mengukur besarnya line loss, yaitu total loss cable link yang merupakan penjumlahan dari cable loss, splicing loss dan connector loss. Demikian juga setiap sambungan harus diukur nilai lossnya apakah masih di bawah standar nilai splicing loss yang diperbolehkan ditunjukkan pada Gambar 2.16 [11].

Gambar 2.16 Transmission Loss

1310 nm 1550 nm 1. Transmission loss 29,5 db 29,5 db 2. Sistem margin 3,0 db 3,0 db 3. FDP loss 1,0 db 1,0 db 4. Line loss 1-2-3 25,5 db 1-2-3 25,5 db 5. Pemeliharaan margin * 2,5 db * 2,5 db 6. Line loss yang diperbolehkan 23 db 23 db

(21)

2.9.1 Sistem Pengukuran Redaman Serat Optik

Pengukuran redaman fiber optic menggunakan alat ukur OTDR (Optical Time Domain Reflectometer). Sebelum melakukan pengukuran terlebih dahulu dilakukan pengaturan pada OTDR. OTDR merupakan salah satu peralatan utama yang digunakan dalam uji akhir kabel serat optik. Dengan OTDR memungkinkan sebuah link bisa diukur dari satu ujung. OTDR dipakai untuk mendapatkan gambaran visual dari redaman serat optik sepanjang sebuah link yang diplot pada sebuah layar dengan jarak digambarkan pada sumbu X dan redaman pada sumbu Y. Bentuk grafik hasil pengukuran dapat ditunjukkan seperti Gambar 2.17 [11].

Gambar 2.17 Tampilan Redaman Optik

OTDR memancarkan pulsa-pulsa cahaya dari sebuah sumber dioda laser ke dalam serat optik, sebagian sinyal dibalikan ke OTDR, sinyal diarahkan melalui sebuah coupler ke detektor optik dimana sinyal tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan ditampilkan pada layar CRT. OTDR mengukur sinyal balik terhadap waktu. Waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan cahaya dalam serat digunakan untuk menghitung jarak atau l = (v x t) / 2. Tampilan OTDR menggambarkan daya relatif dari sinyal balik terhadap jarak [11].

(22)

2.9.2 Cara Mengukur Redaman Serat Optik

Karakteristik penting dari link yang diukur adalah: a. Jarak, yaitu jarak kabel optik yang selesai diinstalasi. b. Lokasi retak pada link, ujung link atau patahan. c. Loss tiap sambungan dan loss total antara dua titik.

Gambar dibawah ini merupakan contoh hasil pengukuran menggunakan OTDR dan dapat ditunjukan setiap sambungan yang terjadi dan patahan optik juga dapat ditunjukkan pada Gambar 2.18.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mempergunakan OTDR adalah sebagai berikut [11]:

a. Jangan melihat laser secara langsung, karena berbahaya bagi mata. b. Konektor harus bersih, agar diperoleh hasil yang benar.

c. Tegangan catuan yang diijinkan. d. Penanganan kabel konektor. e. Kondisi lingkungan alat.

f. Kemampuan spesifik dari peralatan.

Gambar 2.18 Alat Pemotong FO

Agar OTDR dapat bekerja dengan baik, harus dihindari hal-hal sebagai berikut: 1. Vibrasi yang kuat.

2. Kelembaman yang tinggi atau kotor (debu). 3. Dihadapkan langsung ke matahari.

4. Daerah gas reaktif.

Dalam mengoperasikan OTDR, sebelum pengukuran perlu dilakukan setting beberapa parameter meliputi:

(23)

a. Setting IOR (indeks bias).

b. Pemilihan panjang gelombang laser. c. Pemilihan rentang jarak (distance range). d. Pemilihan lebar pulsa.

e. Setting Attenuation. f. On/Off laser.

Urutan Operasi Pengukuran Rugi-rugi (Loss) Serat Optik:: a. Tekan priview

b. Ubah rentang jarak (Distance Range), bila ujung jauh serat optik yang diukur tidak tampak.

c. Tekan (start/stop) , memulai proses averaging. d. Pengukuran loss antara dua titik.

e. Pengukuran loss sambungan.

Sebelum melakukan pengukuran dengan OTDR, maka perlu dilakukan setting sebagai berikut:

a. Rentang jarak (Distance range) b. Lebar Pulsa (Pulse Width) c. Indeks bias (IOR)

d. Gain (Att) e. Panjang gelombang 2 2..1100 MMuullttiipplleexxiinngg M Muullttiipplleexxiinng g aaddaallaahh tetekknniikk memennggggaabbuunnggkkaann bebebbeerraappaa ssiinnyyaall sseeccaarraa b beerrssaammaaaann papaddaa ssuuaattuu sasalluurraann trtraannssmmiissii.. DiDi ssiissi i pepenneerriimmaa,, pepemmiissaahhaann gagabbuunnggaann s siinnyyaall teterrsseebbuutt sseessuuaaii ddeennggaann ttuujjuuanan mamassiinngg--mamassiinngg didisseebbuutt ddeemmuullttiipplleexxiinng.g. DDaallaam m m muullttiipplleexxiinng,g, ppeerraannggkkaatt yyaanngg ddiigguunnaakkaann ddiisseebbuutt mmuullttiipplleexxeer r aattaauu ddiisseebbuutt jjuuggaa ddeennggaann i issttililaahh TTrraannsscceeiivveerr//MMuux.x. RReecceeiivveer r atataauu ppeerraannggkkaatt yyaanngg memellaakkuukkaann ddeemmuullttiipplleexxiinng g d diisseebbuutt ddeemmuullttiippllxxeer r aattaauu ddiisseebbuutt jjuuggaa ddeennggaann iissttiillaahh DDeemmuuxx [[1122]]..

(24)

G Gaammbbaarr 22..1199 MMuultltipiplleexxiinngg F Fuunnggssii MMuullttiippllxxeer r sseeccaarraa uummuumm mmeennggkkoombmbiinnaassiikkaann ((meme--mmuullttiipplleexx)) ddaattaa ddaarrii nn iinnppuut t d daann memennttrraannssmmiissiikkaann mmeellaalluuii kkaappaassiittaass ddaattaa lliinnk k yyaanngg ttininggggi.i. DDeemmuullttiippllxxerer bbeerrffuunnggssi i m meenneerrimimaa alaliirraann dadattaa yayanngg ddi-i-mmuullttiipplleex x (p(peemmiissaahh / / dedemmuullttiipplleexx dadarrii dadattaa teterrsseebbuutt t teerrggaannttuunngg papaddaa sasalluurraann)) dadann mmeennggiirriimmnnyyaa keke lliinnee oouut t yayanngg ddimimiinnttaa.. PrProoeessee kkeerrjjaa m muullttipiplleexxiinngg ddiittuunjnjuukkkkaann ppaaddaa GGaammbbaarr 22..1199.. MMuullttiipplleexxiinng g tteerrddiirrii ddaarrii bbeebbeerraappaa jjeenniiss,, a annttararaa llaaiinn sseebbaaggaaii bbeerriikkuutt [[1122]]:: 1 1. . TTiimmeeDDiivviissiioonnMMuullttiipplleexxiinngg((TTDDMM)) 2 2. . FFrreeqquueennccyyDDiivviissiioonnMMuullttiippxxiinngg((FFDDMM)) 3 3. . WWaavveelleennggtthhDDiivviissiioonnMMuullttiipplleeiinngg((WWDDMM)) 2 2..1100..11 TTiimmeeDDiivviissiioonnMMuullttiipplleexxiinngg T Tiimmee DDiivviissiioonn MMuullttiipplleexxiinng g mmeerruuppaakkaann sesebbuuaahh prproosesess pepennttrraannssmmiissiiaann b beebbeerraappaa sisinnyyaall iinnffoorrmamassii yayanngg hahannyyaa memellaalluui isasattuu kakannaall ttrraannssmmiissii dedennggaann mmaassiinngg- -m maassiinngg ssiinnyyaall ddiittrraannssmmiissiikkaann ppaaddaa ppeerriioodde e wwaakkttuu tteerrtteennttuu.. A Akkaann adadaa bebebbeerraappaa sisinnyyaall ininffoorrmamassii yyaanngg akakaann mamassuukk kekeddaallaamm MMuullttiipplleexxeer r d daarrii TTDDMM,, ssiinnyyaall--ssiinnyyaall tteerrsseebbuutt mmeemmiilliikkii bbiittrraatte e yyaanngg rreennddaahh ddeennggaann ssuummbbeerr ssiinnyyaal l y yaanngg beberrbbeeddaa--bebeddaa.. KeKettiikkaa sisinnyyaall teterrsseebbuutt mmeemmaassuukkii MMuullttiipplleexxeer,r, mamakkaa sisinnyyaall akakaann m meellaalluuii sseebbuuaahh sswwiicctthh rroottaarry y yayanngg memennyyeebbaabbkkaann ssiinnyyaall iinnffoorrmamassii yyaanngg sesebbeelluummnnyyaa t teellaahh ddiissaammpplliinng g itituu akakaann ddibibuuaatt bbeerruubbaahh--uubbaahh titiaapp dedettikiknnyyaa.. HaHassiill OOuuttppuutt dadarrii s swwiittcchh iinnii mmeerruuppaakkaann ggeelloombmbaanngg PPAAMM yyaanngg mmeennggaanndduunngg ssaammppllee--ssaammpplle e ddaarrii ssiinnyyaal l i innffoorrmmaassii yyaanngg ppeerriiooddiikk tteerrhhaaddaapp wwaakkttuu.. S Seetteellaahh mmeellaauuii mmuullttiipplleexx,, sisinnyyaall kekemmuuddiiaann ddiittrraannssmmiissii ddeennggaann mmeemmbbaaggii--bbaaggi i s saammppllee ininffoorrmmaassii beberrddaassaarrkkaann ((HHoolldd TTiimmee/J/Juummllaahh kakannaall)).. KaKannaall trtraannssmmiissii iinni i m meerruuppaakkaann sseebbuuaahh kkaannaall ddeennggaann rraannggkkaaiiaann yyaanngg ddiissiinnkkrroonniissaassiikkaann.. KKaannaall ssiinnkkrroon n iinni i d diibbuuttuuhhkkaann ununttukuk mememmbbaanngguunn ttiaiapp kekelloompmpookk ssaammpplle e ddaann mememmbbaaggii ssaammppllee--ssaammpplle e

(25)

t teeppaatt kekeddaallaamm ffrraamme.e. KeKettiikkaa ssiinnyayall trtraannssmmiissii mememmaassuukkii dedemmuullttiipplleexxeerr,, gagabbuunnggaann s siinnyyaall yyaanngg beberr--bbiitt--rraatte etitinnggggii ((ssiinnyyaall ttrraannssmmiissii)) didibbaaggii--bbaaggii kekemmbbaallii memennjjaaddii ssiinnyyaall i innffoorrmmaassii seseppeerrttii ssiinnyyaall iinnffoorrmmaassii awawaall yyaanngg beberr--bbiitt--rraattee rerennddaahh.. KKeemmuuddiiaann akakaann ddi i r roottaarryy sswwiittcch h ppuullaa didissaannaa yayanngg akakaann memennggaarraahhkkaann sisinnyyaall--ssiinnyyaall keke tutujjuunnaa mmaassiinngg- -m maassiinngg dadarrii sisinnyyaall itituu.. PPaaddaa mmuullttiippllxxeerr teterrddaappaatt fifilltterer yayanngg beberrfufunnggssii memelleewwaattkkaann s siinnyyaall ddeennggaann frfreekkuueennssii rerennddaahh,, dadann papaddaa ddeemmuullttiipplleexxeer r akakaann teterrddaappaatt fifilltteerr yyaanngg b beerrttuujjuuaann ununttuukk mmeennddaappaattkkaann sisinnyyaall kekelluuaarraann yayanngg akakaann sasammaa dedennggaann sisinnyyaall i innffoorrmmaassii iinnppuutntnyyaa [[1122]].. G Geelloombmbaanngg susuaarraa ddaarri i peperrccaakkaappaann tteelleeppoonn didi ssaammppllee sesekkaallii 121255mmsseecc,, ddaann s seettiiaapp ssaammpplele ddiiccoonnvveerrt tmemennjjaaddii 8 8bibitt ddaattaa ddiiggiittaall. .DeDennggaann memenngggguunnaakkaann tetekknniikk ininii,, k keecceeppaattaann ttrraannssmmiissii 6464000000 bbiitt//sseecc didibbuuttuuhhkkaann ununttuukk memennttrraannssmmiissiikkaann ssuuaarraa tteerrsseebbuutt.. T T11 lliinne esesebbeennaarrnnyyaa memerruuppaakkaann sesebbuuaahh cchhaannnneel l yayanngg mamammppuu mmeennttrraannssmmiissiikkaann papaddaa k keecceeppaattaann 1,1,554444 MbMbiitt//sseecc.. KeKecceeppaattaann trtraannssmmiissii ininii lelebbiihh lleebbaarr didi babannddiinnggkkaann kakabbeel l t teelleeppoon n ppaaddaa uummuummnnyyaa,, sseehhiinnggggaa TTDDMM ddiigguunnaakkaann uunnttuukk mmeennggiijjiinnkkaann sseebbuuaahh TT11 lliinnee u unnttuukk mememmbbaawwaa 2424 sisinnyyaall ssuuaarraa yyaanngg beberrbbeeddaa.. DeDennggaann ssaattu uffrraammee teterrddiirrii dadarrii 191933 b biitt,, sseehhiinnggggaa kkeecceeppaattaa ttiiaapp ffrraammenenyyaa 112255µµs s [[1122]].. T Tiippaa ffrraamme e tteerrsseebbuutt kekemmuuddiiaann ddiibbaaggi imemennjjaaddii 2424 sslloot t ssiinnyyaall susuaarraa dadann 88 bbiitt d diiggiittaall ccooddee.. TDTDMM ddiigguunnaakkaann kkaarreennaa aallaassaann bbiiaayyaa,, sesemmaakkiinn sseeddiikkiitt kakabbeell yyaanngg d diigguunnaakkaann dadann sseemmaakkiinn ssiimmpplle e rreecceeiivveerr yayanngg ddapapaatt didippaakkaaii ututnnuukk memennttrarannssmmiissiikkaann d daattaa ddaarrii babannyyaakk susummbbeerr ununttuukk babannyyaakk ttujujuuaann mememmbbuuaatt TDTDMM lelebbiihh mmuurraahh d diibbaannddiinnggkkaann yyaanngg lalaiinn.. TDTDMM iinnii jujuggaa memenngggguunnaakkaann bbaannddwwiiddthth yayanngg lelebbiihh seseddiikkiitt d daarriippaaddaa FFrreeqquueennccyy DDiivviissiioonn MMuullttiippxxiinng g ((FFDDMM)).. DeDennggaann lelebbaarr bbaannddwwiiddtth h yyaanngg k keecciill,, mememmbbuuaatt bbiittrraatte e sesemmaakkiinn ceceppaatt,, nnaammuunn ddaayyaa yyaanngg didigguunnaakkaann sesemmaakkiinn bebessaarr [ [1122]].. 2 2..1100..22 FFrreeqquueennccyyDDiivviissiioonnMMuullttiipplleexxiinngg((FFDDMM)) F Frreeqquueennccyy DDiivviissiioonn MMuullttiipplleexxiinng g adadaallaahh mmeennggggaabbuunnggkkaann bbaannyyaakk sasalluurraann i innppuutt mmeennjjaaddii sseebbuuahah ssaalluurraann oouuttppuutt bbeerrddaassaarrkkaann ffrreekkuueennssii.. JJaaddii ttoottalal bbaannddwwiiddtth h ddaarri i k keesseelluurruuhhaann sasalluurraann didibbaaggii memennjjaaddii ssuubb--ssuubb ssaalluurraann oolelehh frfreekkuueennssii.. TiTiaapp sisinnyyaall m moodduullaassii mememmeerrlluukkaann bbaannddwwiiddtthh cceenntteer r teterrtteennttuu sesekkiittaarr ffrreekkuueennssii ccaarrrriieernrnyyaa,, d diinnyyaattaakkaann sesebbaaggaaii susuaattuu sasalluurraann.. SSiinnyyaall iinnppuut t babaiikk aannaalloog g mamauuppuunn ddiiggiittaall akakaann d diittrraannssmmiissiikkaann mmeellaalluuii mmeeddiiuumm ddeennggaann ssiinnyyaall aannaalloog.g. PPaaddaa ssiisstteemm FFDDMM,, uummuummnnyyaa

(26)

t teerrddiirrii dadarrii duduaa peperraallaattaann tteerrmmiinnaall dadann ppeenngguuaatt ululaanngg sasalluurraann ttrraannssmmiissii ((rreeppeeaatteerr t trraannssmmiissssiioonnlliinne)e) [[1122]].. 1 1.. PePerraallaattaann TTeerrmmiinnaall ((TTeerrmmiinnaallEEqquuiiiippmmeennt)t) P Peerraallaattaann teterrmmiinnaall teterrddiirri iddaarrii bbaaggiiaann yayanngg memennggiirrimimkkaann ssiinnyayall frfreekkuueennssii keke r reeppeeaatteerr dadann bbaaggiiaann ppeenneerrimimaa yayanngg memenneerrimimaa sisinnyyaall teterrsseebbuutt dadann memenngguubbaahhnnyyaa k keemmbbaallii mmeennjjaaddii ffrreekkuueennssii sseemmuullaa [[1122]].. 2 2.. PePerraallaattaann PPeenngguuaatt UUllaanngg ((RReeppeeaatteerrEEqquuiippmmeenntt)) R Reeppeeaatteer r eeqquuiippmmeennt t teterrddiirrii dadarrii ppeenngguuaatt dadann eeqquuaalliizzeer r yyaanngg fufunnggssiinnyyaa m maassiinngg--mamassiinngg ununttuukk mmeennggkkoommppeennssii rreeddaammaann ddaann kekecceeppaattaann rereddaammaann sseewwaakkttuu t trraannssmmiissii mmeelleewwaattii ssaalluurraann aannttaarraa kkeedduuaa rreeppeeaatteer r mmaassiinngg--mamassiinngg.. [[1122]] 2 2..1100..33 WWaavveelleennggtthhDDiivviissiioonnMMuullttiippllxxiinngg((WWDDMM)) D Daallaamm kokomumunniikkaassii seserraatt opopttiikk,, WDWDMM adadaallaahh tetekknnoollooggii yayanngg mmuullttiipplleexxiinngg m muulltti i ccaarrrriierer opopttiikk ssiinnyyaall papaddaa ssaattuu seserraatt ooppttiikk dedennggaann memenngggguunnaakkaann bbeerrbbaaggaaii p paannjjaanngg ggeelloommbbaanngg (w(waarrnnaa)) dadarrii sisinnaarr lalasseerr ununttuukk mememmbbaawwaa ssiinnyyaall yayanngg beberrbbeeddaa.. H Haall ininii mememmuunnggkkiinnkkaann ununttuukk mmeemmuullttiipplleexxiinng,g, ddii sasammppiinngg mmeemmuunnggkkiinnkkaann k koommuunniikkaassii ddiirreeccttiioonnaal l lelebbiihh ddaarrii sasattuu ssaalluurraann,, ininii bibiaassaannyyaa didisseebbuutt WWaavveellnnggtthh D DiivviissiioonnMMuullttiipplleexxiinngg ((WWDDMM)).. W WaavveelleennggtthhDDiivviissiioonnMMuullttiipplleexxiinng g aaddaallaahh iissttiillaahh uummuumm yayanngg ddiitteerraappkkaann ppaaddaa s seebbuuaahh ccaarrrriieerr opopttiikk yyaaiittuu papannjjaanngg ggeelloombmbaanngg,, seseddaannggkkaann ffrreeqquueennccyy ddiivviissiioon n m muullttiipplleexxiinng g bbiiaassaannyyaa diditteerraappkkaann kkee opopeerraattoorr raraddiioo.. DaDallaamm hahall ininii papannjjaanngg g geelloommbbaanngg dadann ffrreekkuueennssii bbeerrbbaannddiinngg tteerrbbaalliikk,, sseerrtta a raraddiioo cacahhaayyaa adadaallaahh kekedduuaa b beennttukuk rraaddiiaassii eelleekkttrroommaaggnneettikik [[1133]]..

Figur

Gambar 2.2 Panjang Gelombang

Gambar 2.2

Panjang Gelombang p.6
Tabel 2.1 Spektrum dan Panjang Gelombang

Tabel 2.1

Spektrum dan Panjang Gelombang p.6
Gambar 2.3 Pemantulan dan Pembiasan Cahaya

Gambar 2.3

Pemantulan dan Pembiasan Cahaya p.8
Gambar 2.5 Pembiasan (Refraksi)

Gambar 2.5

Pembiasan (Refraksi) p.9
Gambar 2.4 Pemantulan (Refleksi) Pada Cermin

Gambar 2.4

Pemantulan (Refleksi) Pada Cermin p.9
Tabel 2.2 Indeks Bias Medium

Tabel 2.2

Indeks Bias Medium p.10
Gambar 2.6 Hukum Snnelius

Gambar 2.6

Hukum Snnelius p.11
Gambar 2.8 Konfigurasi Dasar Serat Optik

Gambar 2.8

Konfigurasi Dasar Serat Optik p.13
Gambar 2.7 Propagasi Cahaya Pada Serat Optik

Gambar 2.7

Propagasi Cahaya Pada Serat Optik p.13
Gambar 2.9 Struktur Dasar Serat Optik

Gambar 2.9

Struktur Dasar Serat Optik p.14
Gambar 2.11 Jenis Serat Optik Graded Indeks Multimode

Gambar 2.11

Jenis Serat Optik Graded Indeks Multimode p.15
Gambar  2.10 Serat Optik Step Indeks [12]

Gambar 2.10

Serat Optik Step Indeks [12] p.15
Gambar 2.12 Jenis Serat Optik Step Indeks Multimode

Gambar 2.12

Jenis Serat Optik Step Indeks Multimode p.16
Gambar 2.13 Closure Serat Optik

Gambar 2.13

Closure Serat Optik p.17
Gambar 2.14 Penyabungan Serat Optik

Gambar 2.14

Penyabungan Serat Optik p.19
Gambar 2.15 Sistem Transmisi Serat Optik

Gambar 2.15

Sistem Transmisi Serat Optik p.19
Gambar 2.16 Transmission Loss

Gambar 2.16

Transmission Loss p.20
Tabel 2.3 STM-4 Loss Limit

Tabel 2.3

STM-4 Loss Limit p.20
Gambar 2.17 Tampilan Redaman Optik

Gambar 2.17

Tampilan Redaman Optik p.21
Gambar dibawah ini merupakan contoh hasil pengukuran menggunakan  OTDR dan dapat ditunjukan setiap sambungan yang terjadi dan patahan optik juga  dapat ditunjukkan pada Gambar 2.18

Gambar dibawah

ini merupakan contoh hasil pengukuran menggunakan OTDR dan dapat ditunjukan setiap sambungan yang terjadi dan patahan optik juga dapat ditunjukkan pada Gambar 2.18 p.22

Referensi

Memperbarui...