• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. ACHMAD MAHDI. Pengawetan Kayu Karet (Havea brasiliensis) Menggunakan Trusi dengan Metode Vakum Tekan (di bawah bimbingan H.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK. ACHMAD MAHDI. Pengawetan Kayu Karet (Havea brasiliensis) Menggunakan Trusi dengan Metode Vakum Tekan (di bawah bimbingan H."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

ACHMAD MAHDI. Pengawetan Kayu Karet (Havea brasiliensis) Menggunakan Trusi dengan Metode Vakum Tekan (di bawah bimbingan H.Taman Alex)

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui retensi bahan pengawet pada kayu karet yang dilakukan dengan metode tekanan sel penuh dengan konsentrasi yang berbeda.

Penelitian dilakukan selama ± 3 bulan yang dilaksanakan di Laboratorium Hasil Hutan Non Kayu dan Laboratorium Sifat-sifat Kayu dan Pengujian, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Dari hasil perhitungan retensi kayu karet (Havea brasiliensis) dengan konsentrasi 1% diperoleh rata-rata 4,23 kg/m3 dan 2% diperoleh rata-rata 8,26 kg/m3.

(6)

RIWAYAT HIDUP

ACHMAD MAHDI. Lahir pada tangal 21 April 1988 di Palu, Sulawesi Tengah. Merupakan putra ke VI (Enam) dari X (Sepuluh) bersaudara, pasangan Bapak Syahruza dan Ibu Sumarni.

Tahun 2000 menyelesaikan pendidikan di SDN No 2 Senter dan mendapatkan ijazah SLTP pada tahun 2003. Menyelesaikan pendidikan di SMUN 7 Palu pada tahun 2006, pada tahun yang sama memulai pendidikan tinggi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Jurusan Pengolahan Hasil Hutan, Program Studi Pengolahan Hasil Hutan.

Tanggal 16 Maret sampai 02 Mei 2009 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT WANAJAYA NAGAPUSPA Kelurahan Baiya Kecamatan Palu Utara Kota Madya Palu Sulawesi Tengah.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan Rahmat, Karunia dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyele saikan penulisan laporan karya ilmiah ini.

Laporan ini disusun dengan maksud untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Ahli Madya Diploma III (D3) Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Laporan ini disusun tidak lepas dari bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Ir. Wartomo, MP. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 2. Bapak M. Fikri Hernandi, S Hut. MP. selaku Ketua Program Studi Pengolahan

Hasil Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

3. Bapak H. Taman Alex, MP. selaku dosen pembimbing penelitian. 4. Bapak Ir. H. Saini, MP, selaku dosen penguji penelitian.

5. Para staf pengajar, administrasi dan teknisi jurusan Pengolahan Hasil Hutan. 6. Ayah dan Ibu tercinta, serta seluruh keluarga yang telah banyak memberikan

bantuan baik berupa materil maupun moril dan semua limpahan kasih sayang, dukungan serta doa yang tulus.

(8)

7. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda khususnya angkatan 2006, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu

Semoga bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan yang sesuai dari ALLAH SWT.

Akhir kata, Penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan laporan karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

I. PENDAHULUAN ... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Manfaat dan Tujuan Pengawetan Kayu ... 3

B. Metode Pengawetan Kayu... 3

C. Metode Pengawetan (proses sel penuh) ... 4

D. Bahan Pengawet... ... 6

E. Risalah Kayu Karet (Hevea brasiliensis)... 7

F. Retensi ... ... 8

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Te mpat Penelitian... 10

B. Bahan dan Alat Penelitian ... 10

C. Prosedur Penelitian ... 11

D. Pengolahan Data ... 12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ... ... 13

B. Pembahasan ... 14

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 15

(10)

B. Saran ... ... 15

DAFTAR PUSTAKA... 16 LAMPIRAN... 17

(11)

DAFTAR TABEL

Tubuh Utama

No Halaman 1. Retensi Rata-Rata Bahan Pengawet Trusi pada Kayu Karet (Hevea brasiliensis)

Berdasarkan Konsentrasi yang Berbeda (kg/m3)... 13

Lampiran

No Halaman

1. Hasil Pengukuran Retensi Trusi Pada Konsentrasi 1%... 18 2. Hasil Pengukuran Retensi Trusi Pada Konsentrasi 2%... 19

(12)

I. PENDAHULUAN

Kayu merupakan salah satu bahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bahan tersebut banyak digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk bangunan, alat-alat rumah tangga maupun keperluan lainnya. Dengan demikian meningkatnya kebutuhan akan kayu, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap penggunaan dari kayu tersebut, karena itu kayu harus dibuat sedemikian rupa agar mekanisme pemakaiannya menjadi lebih lama.

Dalam pemakaian sebagai bahan bangunan, kayu tidak lepas dari cacat yang dapat mengurangi keteguhannya. Cacat tersebut yaitu mudahnya diserang organisme perusak kayu misalnya serangga, jamur dan cacing laut. Kayu yang diserang organisme perusak ini akan mengalami kerusakan berupa lubang, lapuk atau tanda-tanda yang dapat mengurangi kekuatan dan nilai estetika kayu.

Tujuan umum pengamatan ini yaitu untuk mengatasi serangan organisme perusak kayu ini, maka dilakukan pengawetan kayu dengan cara memberikan bahan kimia yang bersifat racun, sehingga dapat menolak serangan tadi. Dengan pemberian bahan pengawet ini, diharapkan umur pemakaian kayu akan bertambah, sehingga dapat menghemat biaya pemeliharaan dan menaikan nilai keawetan agar penggunaan kayu karet lebih lama.

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini, nantinya dapat memberikan informasi tentang retensi bahan pengawet trusi pada kayu karet dengan metode tekanan sel penuh, dan dapat dijadikan perbandingan untuk penelitian berikutnya dengan konsentrasi yang berbeda maupun bahan pengawet yang berbeda.

(13)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Manfaat dan Tujuan Pengawetan Kayu

Pengawetan kayu sebagai usaha untuk menambah daya tahan kayu terhadap faktor- faktor perusak kayu, dengan tujuan agar umur pakai kayu dapat bertambah beberapa kali lipat, atau dengan kata lain agar keawetannya bertambah baik, sehingga secara ekonomis menguntungkan.

Pengawetan kayu secara umum berarti usaha manusia untuk menaikan keawetan kayu dan umur pakainya sehingga keperluan akan kayu lebih terpenuhi. (Dumanauw JF, 1982).

Tindakan pengawetan yang bertujuan untuk mempertahankan mutu kayu sebagai bahan baku, dilakukan terhadap kayu yang karena sifatnya pada keadaan tertentu sangat mudah rusak baik fisik maupun performancenya akibat binatang penggerek, atau terjadi pewarnaan (staining) karena jamur. Sedangkan tindakan pengawetan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kayu biasanya dilakukan setelah kayu selesai dikerjakan, misalnya bahan kayu untuk bantalan kereta api, untuk tiang listrik, pagar dan sebagainya.

B. Metode Pengawetan Kayu

Metode pengawetan yang berbeda akan memberikan retensi yang berbeda. Sejak timbulnya pengawetan kayu, berbagai metode pengawetan telah ditemukan dan secara garis besarnya dapat dibagi menjadi 4 golongan (Tawakal, 1987) :

(14)

1. Metode tanpa tekanan, dimana kayu-kayu diawetkan dengan cara : a. Pencelupan/penyemprotan.

b. Pencelupan c. Rendaman

d. Rendaman dingin/panas e. Rendaman dingin dan panas

2. Metode dengan tekanan, kayu-kayu diawetkan dalam silinder tertutup dan diberi tekanan, dalam metode ini dapat dibagi dalam 2 kelompok utama yaitu :

a. Proses sel penuh b. Proses sel kosong

3. Metode difusi, kayu-kayu basah dan segar diawetkan dalam bahan-bahan pengawet yang berkonsentrasi tinggi.

4. Sap Replacemen Methode, cara ini digunakan hanya untuk kayu balok yang baru ditebang.

C. Metode Pengawetan (proses sel penuh)

Metode pengamatan proses sel penuh ini bertujuan untuk mempertahankan sebanyak mungkin cairan yang telah didorong masuk .ke dalam kayu selama periode tekanan, dengan demikian meninggalkan konsentrasi maksimum dari bahan pengawet dalam bagian kayu yang diawetkan. Proses sel penuh ini mempunyai sifat yang sangat mencolok yaitu adanya vakum pendahuluan yang bertujuan untuk mengeluarkan sebagian kadar air dan sebagian udara dari lapisan kayu terluar. Ini

(15)

bukan saja mempermudah pemasukan bahan pengawet ke dalam kayu, melainkan juga meniadakan efek tentangan dari udara dalam kayu yang mungkin akan mendorong ke luar sebagian dari bahan pengawet apabila tekanannya dikendorkan.

D. Bahan Pengawet

Bahan pengawet kayu adalah zat kimia yang dimasukkan ke dalam kayu yang membuat kayu menjadi tahan terhadap serangan cendawan, serangga dan cacing laut. Efek pencegahan atau perlindungan dicapai dengan membuat kayu menjadi bersifat racun yang kurang disukai oleh organisme perusak kayu (Yusran, 1992).

Menurut Hunt dan Garratt, (1986) bahwa bahan pengawet kayu adalah bahan-bahan kimia yang apabila diterapkan secara baik pada kayu akan membuat kayu itu tahan terhadap serangan cendawan, serangga atau cacing-cacing kapal.

Berdasarkan sifat bahan pengawet kayu, maka dapat dibagi menjadi dalam tiga golongan, yaitu :

1. Bahan pengawet yang berupa minyak, contohnya creasot, carbolenieum dan lain-lain.

2. Bahan pengawet larut minyak, contohnya pentaclorophenol, copperanarhtenate dan lain- lain.

3. Bahan pengawet larut air, contohnya trusi, anti biru dan lain- lain.

Selanjutnya bahan-bahan pengawet tersebut harus mempunyai sya rat-syarat sebagai bahan pengawet yang baik, syarat-syarat pengawet yang baik menurut Dumanauw, (1982), yaitu:

(16)

1. Bersifat racun terhadap makhluk perusak kayu. 2. Mudah masuk dan tetap tinggal di dalam kayu.

3. Bersifat permanen dan tidak mudah luntur atau menguap.

4. Bersifat toleran terhadap bahan-bahan lain misalnya : logam perekat, dan cat/finishing.

5. Tidak mempengaruhi kembang susut kayu.

6. Tidak merusak sifat-sifat kayu : sifat fisik, mekanik, dan kimia. 7. Tidak mudah terbakar maupun mempertinggi bahaya kebakaran. 8. Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan peliharaan.

9. Mudah dikerjakan, diangkut serta mudah didapat dan murah.

E. Risalah Kayu Karet (Hevea brasiliensis)

Karet mulanya dikenal di Indonesia sejak zaman Belanda. Awalnya karet ditanam di kebun raya Bogor sebagai tanaman baru untuk koleksi. Selanjutnya dikembangkan sebagai tanaman perkebunan dan tanaman HTI ( Hutan Tanaman Industri).

Pada umumnya tanaman karet di Indonesia pertama kalinya ditanam di Sumatra Utara pada tahun 1903 sedangkan di Jawa pertama kali di sekitar Garut pada tahun 1906 menyebabkan tanaman karet dikembangkan penduduk secara besar-besaran, lama kelamaan meluas mulai dari Jawa, Sumatra sampai Kalimantan (Yusuf dan Sulaiman, 1983).

(17)

Menurut Satyamidjaja (1993), bahwa tanaman karet tergolong dalam family euforbiaceae dan merupakan tanaman dengan kemampuan tumbuh dan berkembang dengan cepat, khususnya di Asia Tenggara, Asia Selatan, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Sri Langka.

Sifat dasar lainnya yang menonjol dari kayu karet, kayunya mudah digergaji dan permukaan gergajinya cukup halus, serta mudah dibubut dengan menghasilkan permukaan yang rata dan halus. Kayu karet juga mudah dipaku, dan mempunyai karakteristik pelekatan yang baik dengan semua jenis perekat. Sifa t yang khas dari kayu karet adalah warnanya yang putih kekuningan ketika baru dipotong, dan akan menjadi kuning pucat seperti warna jerami setelah kering, selain warna yang menarik dan tekstur yang mirip dengan kayu tamin dan perupuk yaitu halus dan rata.

F. Retensi

Retensi adalah jumlah bahan pengawet yang masuk dan terkandung di dalam kayu yang dinyatakan dalam kilo gram per meter kubik (kg/m3). Retensi dapat diketahui dengan cara menghitung berdasarkan selisih berat kayu sebelum dan sesudah diawetkan diba gi dengan volume kayu dan dikalikan dengan konsentrasi larutan yang digunakan untuk mengawetkan kayu.

Hunt dan Garrat (1986) menyebutkan bahwa retensi bahan pengawet merupakan faktor penting sebagai indikator keberhasilan pengawetan karena besarnya retensi dapat mempengaruhi keefektifan sistem pengawetan dalam memperpanjang umur penggunaan kayu yang diawetkan. Selanjutnya dikatakan

(18)

bahwa besarnya retensi dapat ditingkatkan dengan menambah atau memperbesar konsentrasi bahan pengawet. Dengan kata lain hubunga n retensi dan konsentrasi bahan pengawet adalah linier.

(19)

III.

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan, yang terdiri dari persiapan sampel dan proses vacum 2 bulan dan 1 bulan pengambilan data.

Penelitian dilaksanakan di Lab. Hasil Hutan Non Kayu dan pengujian di Lab. Pengawetan Kayu.

B. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan:

a) Kayu Karet

b) Trusi sebagai bahan pengawetnya yaitu konsentrasi 1% dan 2%. c) Air sebagai pelarut

2. Alat:

a) Perlengkapan Pengawetan (proses sel penuh) b) Timbangan

c) Kaliper elektik d) Cross Cut

e) Kapur dan Spidol f) Alat tulis

(20)

C. Prosedur Penelitian

1. Pembuatan contoh uji, yang meliputi penebangan pohon karet di areal sekitar kampus, pemotongan dan pembuatan balok berukuran 6 x 8 x 130 cm, kemudian pembuatan sampel berukuran 2 x 3 x 40 cm sebanyak 60 sampel dengan rincian 30 sampel untuk konsentrasi 1% dan 30 sampel untuk konsentrasi 2% cara pengukuran sampel dilakukan dengan mengukur bagian panjang dengan menggunakan mistar, bagian lebar dan tebal diukur menggunakan kalifer, penimbangan sampel satu per satu menggunakan timbangan manual, pengukuran volume dengan mengalihkan ukuran panjang lebar dan tebal tiap sample.

2. Pembuatan larutan dilakukan dengan cara menimbang trusi 100 gr dan 200 gr kemudian melarutkan trusi 100 gr ke dalam baskom dengan air 10 L untuk konsentrasi 1% dan trusi 200 gr dengan air 10 L untuk konsentrasi 2%.

3. Proses pengawetan dengan tekanan dilakukan dengan sel penuh, dengan tahapan yaitu sampel dikering udarakan dan kemudian mengukur panjang, tebal, dan lebar untuk menghitung volume kayu karet, menimbang sampel satu persatu sebelum dimasukan ke tabung silinder untuk mendapatkan berat sebelum pengawetan, lalu menyusun sampel kayu di dalam tabung silinder kemudian ditutup dan proses pengawetan mulai dilaksanakan yang diawali dengan memberikan vakum awal sebesar 60 cm/hg dan dipertahankan selama kurang lebih 20 menit saat vakum dilepas, selanjutnya memasukan bahan larutan trusi dan diikuti dengan pemberian tekanan sebesar 10 atm selama 1

(21)

jam. Setelah pemberian tekanan selesai, larutan bahan pengawet dialirkan kembali ke dalam tangki persediaan dan diikuti dengan vakum akhir sebesar 60 cm/hg selama kurang lebih 20 menit, setelah proses pengawetan kayu selesai lalu sampel dikeluarkan dari tabung silinder dan dilap, selanjutnya ditimbang kembali untuk mendapatkan nilai berat sesudah proses pengawetan, tujuannya untuk menghitung bahan pengawet yang terkandung di dalam kayu tersebut.

D. Pengolahan Data

Berdasarkan hasil pengukuran contoh uji sebelum dan sesudah proses pengawetan dicari nilai retensinya dengan menggunakan rumus sebagai berikut : 1. Retensi

Data retensi digunakan rumus: K x Bo Bp R V ? ? Keterangan:

R = Retensi yang dinyatakan dalam kg/m3 Bp = Berat contoh uji setelah diawetkan Bo = Berat contoh uji sebelum diawetkan V = Volume contoh uji sebelum diawetkan K = Konsentrasi larutan trusi

(22)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Retensi rata-rata bahan pengawet trusi pada kayu karet (Hevea brasiliensis) berdasarkan konsentrasi yang berbeda (kg/m3)

No Perlakuan Retensi 1 K 1 4,23 2 K 2 8,26 Retensi (kg/m3) 8,26 8 7 Keterangan : 6 = Konsentrasi 1% 5 = Konsentrasi 2% 4,23 4 3 2 1 Konsentrasi 1 2

(23)

B. Pembahasan

Dari hasil perhitungan retensi kayu karet (Hevea brasiliensis) dengan konsentrasi 1% diperoleh rata-rata 4,23 kg/m3 dan 2% diperoleh rata-rata 8,26 kg/m3. Tinggi rendahnya retensi sangat dipengaruhi oleh konsentrasi larutan yang digunakan, dari penelitian ini dapat dilihat bahwa konsentrasi 2% ternyata menghasilkan nilai retensi yang lebih besar dari konsentarsi 1%, hal ini sesuai dengan pernyataan Hunt dan Garratt (1986), bahwa konsentrasi yang tinggi akan menghasilkan retensi yang tinggi pula.

Kayu yang digunakan untuk uji retensi adalah kayu gergajian dengan ukuran 2 x 3 x 40 cm. Sedangkan cara pengawetannya adalah proses vakum tekan dengan metode sel penuh yaitu perlakuan vakum awal sebesar 60 cm/hg dan vakum akhir sebesar 60 cm/hg dengan waktu 20 menit dengan tekanan sebesar 10 atmosfer selama 1 jam.

Kayu yang diawetkan adalah kayu yang telah kering udara. Diantara kondisi kadar air yang bervariasi, tentu akan didapatkan peresapan bahan pengawet yang lebih baik apabila persentase kadar air tidak terlalu besar, karena jika kadar air kayu masih tinggi berarti masih adanya air bebas dalam rongga sel sehingga dapat menyebabkan masuknya bahan menjadi terhambat. Namun kadar air kayu yang baik tidak dapat ditentukan karena ini tergantung dari bahan pengawet dan metode pengawetan yang digunakan. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kekeringan kayu adalah cukup baik apabila telah mencapai kadar air di bawah titik jenuh serat.

(24)

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pengamatan uji retensi pada kayu karet, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet semakin tinggi nilai retensinya. 2. Trusi dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet kayu karet dengan nilai retensi

rata-rata 4,23 kg/m3 untuk konsentrasi 1% dan 8,26 kg/m3 untuk konsentrasi 2%.

B. Saran

1. Dalam proses pengawetan, kayu yang diawetkan hendaknya kayu yang telah diolah misalnya berupa produk moulding, karena jika kayu yang diawetkan masih berupa kayu gergajian, bahan pengawet yang masuk sebagian akan hilang karena adanya proses lanjutan seperti pemotongan, penyerutan, pengampelasan, da n lain-lain, maka ini berarti biaya pengawetan yang dipakai terbuang percuma.

2. Untuk lanjutan pengujian retensi ini, sebaiknya menggunakan waktu dan tekanan yang berbeda, sehingga dapat dilihat berapa besar retensi yang diperoleh.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

DUM ANAUW, JF, 1982. Mengenal Kayu. Pendidikan Industri Kayu Atas. Kanisius. Yogyakarta.

HUNT and GARRAT, 1986. Pengawetan Kayu. Ahli Bahasa Indonesia Penerbit UGM – PRESS Yogyakarta.

SATYAMIDJAJA, D. 1993. Budidaya dan Pengolahan Karet. Yayasan Kanisius. Yogyakarta.

TAWAKAL, M. IMAM, 1987. Teknologi Hasil Hutan Proyek Pembangunan Kehutanan Daerah Dengan Dana IHH. Pusdiklat Departemen Kehutanan. YUSRAN, KADIR, 1992. Diklat Pengawetan Kayu. Politeknik Pertanian Bidang

Studi Kehutanan Universitas Mulawarma n. Samarinda.

YUSUF dan SULAIMAN, 1983. Penyuluhan Lembaran Karet Menjadi Bahan Bakar Minyak Karet. Genap Jaya Baru. Jakarta.

(26)
(27)

Gambar 1. Sampel Kering udara sebelum diawetkan

(28)

Gambar 3. Sampel diukur

(29)

Gambar

Tabel 1.  Retensi rata-rata bahan pengawet trusi pada kayu  karet (Hevea brasiliensis)  berdasarkan konsentrasi yang berbeda (kg/m 3 )
Gambar 2. Sampel ditimbang sebelum diawetkan
Gambar 3. Sampel diukur
Gambar 5. Sampel setelah diawetkan

Referensi

Dokumen terkait

みたいだ 2.反論・弁解:~「よう / みたい」+逆接表現、相手と違う意見、反論、 主張、言い訳など) かもしれない

Tetapi, secara menyedihkan, Billy Elliot juga masuk ke dalam kategori subordinat karena apa yang diperjuangkannya (laki-laki menari balet), dinilai oleh lingkungannya sebagai

Proses komputasi pengurutan data acak dengan metode mergesort yang dijalankan secara paralel dengan menggunakan virtual komputer dari layanan IAAS cloud dapat

Berisikan tentang hasil eksplorasi terhadap literatur – literatur (buku atau jurnal ilmiah) yang akan dibahas berdasarkan topik pembahasan dan ruang lingkup pembahasan.

Salah satu usaha pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan dilaksanakan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, yang menyatakan

(2006) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan

cenderung diterjemahkan ke dalam QCs subyektif, kualitatif, dan cara nonteknis, yang harus dinyatakan dalam ketentuan yang lebih kuantitatif dan teknis. 2000), (3)

Apabila persembahan Bapak, Ibu, Saudara/i, tidak / belum tercantum dalam Warta Jemaat atau tidak sesuai dengan jumlah pemberian, kami mohon segera menghubungi