1 BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Kemiskinan merupakan masalah utama dalam pembangunan setiap negara, tak terkecuali di Indonesia. Segala upaya dilakukan pemerintah untuk menekan angka kemiskinan. Beberapa diantaranya dengan meluncurkan berbagai program penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh berbagai kementrian dan lembaga. Program – program penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat tersebut antara lain : Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri, Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang dilaksanakan Departemen Pekerjaan Umum, Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) yang dilaksanakan Departemen Pertanian, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) yang dilaksanakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanani, dll. Program tersebut berjalan sendiri-sendiri menurut kebijakan Departemen yang bersangkutan dan tidak terintegrasi, parsial, dan sektoral.
Sebagai upaya serius dalam meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan, pemerintah mengonsepkan sebuah program dimana masyarakat sebagai subjek penanggulangan kemiskinan bukan objek. Program yang diresmikan pada tanggal 1 Mei 2007 oleh Presiden Susilo Bambang
2 Yudhoyono ini bernama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri). Program ini terdiri dari beberapa program penanggulangan kemiskinan salah satunya ialah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan).
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan) merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di perkotaan. Program ini dilakukan untuk mendorong upaya peningkatan kualitas hidup, kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat perkotaan.
PNPM Mandiri Perkotaan ini disalurkan kepada masyarakat dalam komponen program Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). BLM merupakan dana stimulan keswadayaan yang diberikan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk membiayai sebagian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Bantuan ini biasanya diberikan dalam bentuk dana bergulir dan pengelolaannya sesuai dengan SOP yang berlaku pada setiap Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
Berdasarkan pedoman pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan, keberhasilan dan keberlanjutan upaya pemberdayaan masyarakat dengan instrumen dana bergulir ditentukan oleh tiga hal. Pertama, efektivitas pendampingan Kelompok Swadaya Masyrakat (KSM). Kedua, efektivitas
3 pendampingan kelompok dan yang terakhir ialah kesiapan lembaga pelayanan Unit Pengelola Keuangan (UPK) untuk bermitra.
Efektivitas penyelenggaraan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dapat diperhitungkan oleh Rasio profitabilitas. Dimana rasio profotabilitas merupakan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu rasio profitabilitas juga menunjukan kombinasi efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil operasi (Brigham dan Houston, 2006). Kemudian dilakukan perbandingan sebelum dan sesudah mendapat bantuan dana bergulir.
Untuk efektivitas prosedur mekanisme perguliran bisa dilihat dengan membagikan kuesioner mengenai efektivitas proses penyaluran dan penerimaan dana bergulir kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mendapat bantuan berupa dana bergulir ini.
Hal terakhir yang mempengaruhi pengelolaan dana bergulir adalah Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Indikator yang bisa digunakan adalah instrument pengukur kinerja yang baru diperkenalkan pada tahun 2007 oleh PNPM Mandiri sendiri yaitu berupa rasio keuangan CCr, RR, ROI, LAR, dan PAR atau sering disebut dengan analisis rasio Si ROI LAPAR (istilah dari PNPM Mandiri) yang ditujukan untuk mengukur kesehatan UPK dan kaitannya dengan kesiapan warga dalam menerima intervensi lanjutan dari pemerintah untuk tahun berikutnya. (PNPM Mandiri Perkotaan, 2010).
Berdasarkan studi kasus BKM Bina Budi Mulyadi Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok yang mengkaji tentang
4 efektivitas proses penyaluran dan penerimaan dana bergulir dan dampak program bantuan terhadap penciptaan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan potensi pengembangan usaha. Dimana hasilnya adalah persepsi KSM terhadap kinerja BKM dengan program P2KP yang berkaitan dengan proses seleksi, proses penyaluran dan pencairan dana serta proses pendampingan cukup efektif. Rata – rata KSM merasa efektif dengan kinerja BKM di kelurahan mereka. Dengan uji Wilcoxon hasilnya terdapat perbedaan signifikan sesudah penerimaan dana pinjaman bergulir (Susiana, 2009).
Penggunaan dana bergulir diperuntukkan untuk masyarakat miskin yang terhimpun dalam sebuah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan dampingan fasilitator. Penggunaan dana bergulir yang tidak tepat dapat mengkibatkan kerugian bagi si penerima kredit. Selain mereka mengalami kerugian dalam usahanya, mereka juga harus menanggung pengembalian dana tersebut. Secara garis besar, hal ini terjadi karena tidak ada pengawasan penyaluran dana bergulir tersebut atau dapat juga karena rendahnya jiwa entrepreneurship yang dimiliki masyarakat. Oleh karena itu efektivitas dari penggunaan dana pinjaman bergulir sangat dibutuhkan dalam setiap Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
Di Kabupaten Bantul terdapat 50 Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) PNPM Mandiri Perkotaan dangan instrumen Unit Pengelola Keuangan (UPK) sebagai pelayanan pengelola pinjaman dana bergulir. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) tersebut tersebar dalam 12 kecamatan,
5 salah satunya adalah kecamatan Banguntapan. Banguntapan merupakan kecamatan di Kabupaten Bantul dengan jumlah BKM terbanyak, salah satunya ialah BKM Jambidan Binangun. Penulis telah melihat fakta di lapangan bahwa banyak dampak dari adanya PNPM mandiri perkotaan. Contohnya pengadaan sumur peresapan air hujan, listrik, dan tempat MCK yang layak sebagai bentuk fisik sarana dan prasarana, kegiatan pelatihan – pelatihan seperti boga, menjahit, menganyam, dll sebagai bentuk sosial PNPM Mandiri, serta permodalan usaha yang diberikan dalam bentuk dana pinjaman bergulir. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui efektivitas dari pengelolaan penggunaan dana pinjaman bergulir yang dikelola Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) tersebut, sehingga penulis mengangkat judul “Efektivitas Penggunaan Dana Pinjaman Bergulir Pada Unit Pengelola Keuangan Sebagai Tolok Ukur Kinerja Badan Keswadayaan Masyarakat Jambidan Binangun Di Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul Tahun 2014 .”
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimanakah efektivitas penggunaan dana bergulir di Unit Pengelola Keuangan BKM Jambidan Binangun dilihat dari rasio keuangan pada tahun 2014 ?
6 1.3Batasan Masalah
Untuk menghindari kerancuan atau penggandaan permasalahan pada penelitian ini, maka penulis membatasi masalah yang akan menjadi bahan penelitian. Pada penelitian ini, peneliti hanya akan meneliti tentang efektivitas penggunaan dana bergulir yang diberikan pada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Jambidan Binangun tahun 2014, yang mana tingkat efektivitas penggunaan dana itu akan dianalisis dengan rasio keuangan. Adapun rasio keuangan yang dimaksudkan disini adalah rasio CCr atau Cost Coverage Ratio, RR atau Repayment Rate, ROI atau Return on Investment, PAR atau Portofolio At Risk, dan LAR atau Loan At Risk.
1.4Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan yang ingin dicapai dari penelitian Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan dana pinjaman bergulir yang ada di BKM Jamidan Binangun yang dihitung menggunakan rasio CCr, RR, ROI, LAR dan PAR sebagai bentuk kesiapan dalam memperoleh dana pinjaman bergulir di tahun berikutnya.
1.5Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
7 Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai rasio efektivitas, khususnya rasio Si ROI LAPAR pada penggunaan dana bergulir.
b. Bagi Civitas Akademik
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti tentang efektivitas penggunaan dana bergulir.
c. Bagi Universitas
Dapat digunakan dalam kajian ilmiah bagi mahasiswa dan sebagai bahan bacaan (maksudnya bahan penelitian dan bahan referensi) di perpustakaan Universitas Gadjah Mada.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak – pihak yang membutuhkan dan dapat digunakan sebagai bahan masukkan informasi, khususnya kepada Unit Pengelola Keuangan (UPK) Badan Keswadayaan Masyarakat Jambidan Binangun dalam mengelola dana bergulir kedepannya.
1.6Sistematika Penulisan
Dalam Penulisan ini dibagi dalam empat bagian yaitu: BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
8 BAB II GAMBARAN UMUM PENULISAN
Pada pembahasan ini akan menguraikan tentang landasan teori yang berkaitan dengan penelitian, tinjauan pustaka, dan metodologi penelitian yang akan digunakan.
BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai pembahasan dari hasil analisis yang di dapatkan. Dimana analisis dari penelitian ini diharapkan akan memuat unsur analisis deskripsi dan inferensi yang mengacu pada topik Tugas Akhir, sehingga hasil analisis dapat diinterpretasikan secara sistematik.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini berisi kesimpulan dari penulisan yang menjadi pokok dari pembahasan, dan saran yang didapat dari kesimpulan yang diharapkan berguna bagi BKM Jambidan Binangun dan penulisan selanjutnya.