• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Hanung Dimas Prahara BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Hanung Dimas Prahara BAB I"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Setiap desa pasti memiliki sejarahnya sendiri-sendiri yang unik dan

menarik, karena mereka mempunyai karakteristik yang menarik berdasarkan

latar belakang historisnya. Demikian dengan kepemimpinan yang dilakukan

kepala desa atau orang yang memimpin desa di seluruh penjuru di Indonesia.

Kepemimpinan selalu menciptakan sebuah sejarah atau cerita di masa depan,

tentunya sejarah bagi masyarakat desa tersebut pada khususnya. Peraturan

mengenai kepemimpinan desa atau kepala desa dan pemerintahan desa yang

pernah ada dan berlaku di Indonesia selalu bertransformasi dan menyesuaikan

dengan politik pemerintahan Indonesia yang sedang dijalankan atau yang

sedang terjadi.

Tema mengenai desa dan kepemimpinan desa yang pernah dilakukan

selalu berhubungan erat dengan sejarah, karena setiap kepemimpinan yang

pernah dilakukan selalu meninggalkan cerita atau membuat cerita sejarah.

Cerita sejarah suatu daerah sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat

yang berasal dari daerah tersebut, karena sejarah suatu daerah atau sejarah

lokal dari suatu daerah memiliki sumbangan bagi sejarah nasional dari bangsa

tersebut. Sejarah nasional adalah sejarah yang membahas atau menceritakan

mengenai kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam cakupan

(2)

cerita perjalanan dari sebelum negara tersebut berdiri sampai negara tersebut

telah berdiri. Sejarah Nasional adalah kumpulan peristiwa-peristiwa yang

terjadi pada beberapa daerah-daerah yang berada dalam cakupan wilayah

negara, hal ini berarti sejarah nasional dapat berupa sebagai

kumpulan-kumpulan dari beberapa kisah dari beberapa daerah yang disatukan yang

tentunya harus memiliki sutu kecocokan satu dengan lainnya. Pada

prinsipnya, semua peristiwa pada SNI (Sejarah Nasional Indonesia) adalah

peristiwa sejarah lokal (Priyadi, 2011:30). Maksudnya adalah, Sejarah

Nasional tentu mengungkap tentang sejarah dari suatu daerah yang

dikumpulkan dan dimuat dalam cakupan wilayah nasional. SNI (Sejarah

Nasional Indonesia) sering mengangkat peristiwa-peristiwa lokal menjadi

peristiwa-peristiwa nasional (Pryadi, 2011:31). Hal ini menunjukan mengenai

pentingnya sejarah lokal atau peristiwa penting yang terjadi pada daerah demi

mendukung kelengkapan dari sejarah nasional.

Sejarah lokal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia sendiri

terkadang masih kurang dimengerti atau diketahui oleh warga dari daerahnya

masing-masing. Hal ini menunjukan bahwa sejarah lokal masih dianggap

sebagai ilmu atau pengetahuan yang kurang penting dikalangan masyarakat

Indonesia.

Berbicara mengenai kepemimpinan desa, desa, dan sejarah lokal,

peneliti menyoroti pada sejarah dinamika kepemimpinan desa yang pernah

(3)

tepatnya yaitu ada di Kecamatan Rakit Kabupatan Banjarnegara Provinsi

Jawa Tengah. Dalam sejarahnya, pemimpin di desa Gelang dipilih melalui

Pilkades atau Pemilihan Kepala Desa yang dilakukan di Desa Gelang

Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara. Dalam sejarahnya pula, pilkades

atau Pemilihan Kepala Desa Gelang pernah dilakukan sebanyak 6 (enam) kali

dari masa ke masa, yaitu dari Pilkades atau Pemilihan Kepala Desa yang

pertama pada tahun 1959 sampai dengan Pilkades atau Pemilihan Kepala

Desa yang yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2013. Hal tersebut dapat

kita lihat dari daftar nama yang pernah dan sedang menjabat sebagai Kepala

Desa dari tahun 1959 sampai dengan tahun 2013. Desa Gelang Kecamatan

Rakit Kabupaten Banjarnegara memiliki teori yang sangat menarik untuk

dikaji mengenai sejarah yang pernah terjadi pada masa lalu yaitu mengenai

(4)

7. Sumber : Arsip Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara.

Dimulai dari tahun setelah Indonesia merdeka yaitu tahun 1945,

yang pernah memimpin Desa Gelang adalah Madrokhim. Madrokhim

memimpin Desa Gelang dari tahun 1945 hingga tahun 1959 yang kemudian

pada periode selanjutnya yang dimulai tahun 1959 sampai dengan tahun

1966, Kepala Desa yang pernah menjabat adalah Anwari yang menjabat

Kepala Desa Gelang. Desa Gelang selanjutnya dipimpin oleh Siswo Miharjo

yang memenangkan Pemilihan Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1966. Siswo Miharjo memimpin Desa

Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara selama tiga tahun dan

menyelesaikan jabatannya sebagai Kepala Desa pada tahun 1969 atau Dengan

kata lain Siswo Miharjo menjabat sebagai Kepala Desa Gelang hanya selama

3 tahun.

Kepala desa yang menjabat pada tahun 1969 adalah Akhmad

Adrongi yang selesai jabatannya sebagai Kepala Desa Gelang Kecamatan

Rakit Kabupaten Banjarnegara sampai dengan tahun 1990, dengan kata lain

Akhmad Adrongi pernah menjabat sebagai Kepala Desa Gelang selama 20

tahun, sebab pada tahun 1966 sampai dengan tahun 1990 adalah masih masa

pemerintahan Orde Baru, dimana Presiden Indonesia saja dijabat oleh

Soeharto selama 32 tahun dari tahun 1966 hingga tahun 1998. Jabatan yang

(5)

ketika Akhmad Adrongi menjabat sebagai kepala Desa Gelang yang menjabat

selama 20 tahun yang mengawali jabatannya sebagai Kepala Desa Gelang

pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1989. Jabatan yang begitu lama

tersebut, dipengaruhi oleh pemerintahan yang sedang berlangsung di

Republik Indonesia yang membuat peraturan mengenai pemimpin desa yang

dapat memimpin hingga dapat memimpin desa selama 20 tahun.

Sampai masa jabatan Akhmad Adrongi selesai di Desa Gelang yaitu

pada tahun 1989, kemudian diadakan pemilihan Kepala Desa Gelang kembali

untuk memilih kepala desa yang akan memimpin desa diperiode

kepemimpinan desa yang selanjutnya, yang akhirnya dimenangkan oleh

Supardi. Supardi menjabat sebagai kepala desa selama 8 tahun hingga tahun

1998.

Pada tahun 1999 diadakan pemilihan kepala desa kembali untuk

memilih kepala desa yang akan memimpin Desa Gelang periode berikutnya

yaitu periode kepemimpinan tahun 2000 hingga tahun 2007. Dan yang

memenangkan pemungutan suara dalam rangka pemilihan kepela desa

tersebut adalah Iksanudin, yang menjabat sebagai kepala desa Gelang hingga

tahun 2007.

Selanjutnya Kepala Desa Gelang yang menjabat adalah Edie

Wibowo yang menjabat sebagai kepala desa dari tahun 2008 hingga tahun

2013. Karena Edi Wibowo dapat memenangkan pilkades yang diadakan pada

(6)

yaitu pada tahun 2013, Supardi dapat menjabat kembali sebagai Kepala Desa

Gelang setelah periode yang pertama yaitu pada tahun 1990 dan berakhir

tahun 1998, Imam supardi dapat terpilih kembali menjadi Kepala Desa

Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara periode tahun 2013 hingga

sekarang.

Apabila dilihat secara berurutan dari masa ke masa, kepemimpinan

Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara memiliki keunikan

mengenai kepemimpinan kepala desanya yang mungkin sangat khas dan

mungkin berbeda dengan desa-desa lain yang ada di dunia. Setiap periode

kepemimpin yang pernah terjadi di Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara akan memiliki certa yang berbeda antara periode kepemimpinan

yang satu dengan periode kepemimpinan yang lain. Berdasarkan latar

belakang tersebut di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti

dinamika kepemimpinan yang pernah terjadi di Desa Gelang Kabupaten

Banjarnera sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat

peneliti kemukakan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kondisi umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara?

(7)

Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013?

3. Bagaimana peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara dalam pembangunan di Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas penelitian ini memiliki

beberpa tujuan, diantaranya adalah :

1. Mengetahui kondisi umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara.

2. Mengetahui dinamika kepemimpinan yang pernah terjadi di Desa

Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990

sampai dengan tahun 2013.

3. Mengetahui peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara dalam pembangunan sejak tahun 1990 sampai dengan

tahun 2013.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian merupakan cara dalam mencapai hubungan kesulitan dari

suatu ilmu pengetahuan dengan cara menggunakan metode ilmiah, karena

dalam melakukan penelitian sosial pasti diperlukan subyek yaitu peneliti itu

dan obyek yaitu masyarakat. Sedangkan untuk menghubungkan antara

(8)

pengetahuan tentu memiliki manfaat bagi kehidupan manusia.

Dalam penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang diantaranya

adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis. Adapun manfaat-manfaat

tersebut adalah :

1. Manfaat Teoretis

Dengan adanya penelitian ilmiah ini maka diharapkan akan

menemukan masalah-masalah baru serta cara pemecahannya yang dapat

berguna bagi ilmu pengetahuan antara lain :

a) Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang sejarah desa

dan di bidang sejarah politik pada umumnya serta ilmu

pengetahuan sosial pada khususnya dalam pendidikan

masyarakat.

b) Sebagai langkah dari kegiatan penelitian untuk meningkatkan

wawasan penulis.

c) Untuk mengumpulkan data-data dan untuk memperoleh informasi

tentang fenomena-fenomena yang ada dalam masyarakat, dalam

rangka penyusunan skripsi ini sehingga dapat digunakan sebagai

referensi yang dapat dibaca oleh mahasiswa pada khususnya atau

pembaca lainnya pada umumnya.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi Pejabat Desa

(9)

diketahui dengan pasti sejarah kepemimpinan Desa Gelang

Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang pernah terjadi

dan sedang terjadi, sehingga akan diketahui akibat-akibat atau

pengaruh-pengaruhnya di Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara sehingga hasil dari penelitian ini dapat

digunakan sebagai rujukan atau pedoman dalam pengambilan

keputusan atau kebijakan Pemerintahan Desa Gelang Kecamatan

Rakit Kabupaten Banjarnegara pada khususnya dan desa lain pada

umumnya.

b) Bagi Masyarakat

Dengan melalui penelitian ilmiah ini, maka dapat

diketahui dengan pasti kisah-kisah yang ada dalam sejarah

kepemimpinan Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara yang pernah terjadi dan sedang terjadi di Desa

Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang berguna

bagi seluruh masyarakat Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara pada khususnya dan berguna bagi

masyarakat desa lain pada umumnya, sehingga akan diketahui

akibat-akibat atau pengaruh-pengaruhnya. Selain itu hasil

penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referansi masyarakat

(10)

c) Bagi Pemerintah Daerah

Dengan melalui penelitian ilmiah ini, maka dapat

diketahui dengan pasti sejarah dalam kepemimpinan Desa Gelang

Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang pernah terjadi

sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam pengambilan

keputusan atau kebijakan mengenai pemerintahan desa, dan

masyarakat desa bagi pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara

pada khususnya dan pemerintah daerah kabupaten lain pada

umumnya.

E. Tinjauan Pustaka

1. Dinamika Kepemimpinan

Dinamika dapat diartikan sebuah gerakan atau kekuatan yang

dimilki oleh sekumpulan orang di masyarakat yang dapat menimbulkan

perubahan dalan tata hidup masyarakat yang bersangkutan. Menurut

Hollander (dalam www.wikipedia.org yang diakses pada tanggal 28

Februari 2014), kata "dinamika" menunjuk pada keadaan yang

berubah-ubah yang menggambarkan fluktuasi atau pasang surut, sekaligus

melukiskan aktivitas dan sistem sosial yang tidak statis yang bergerak

menuju perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dinamika adalah

keadaan yang berubah-ubah atau naik turunnya suatu keadaan.

Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan

(11)

yang pasti. Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan

kelompok, oleh karena itu jabatan sebagai pemimpin tidak dapat

dipisahkan dari suatu kelompok akan tetapi dapat dikatakan dan dapat

dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi yang ada di

lapangan. Dalam Bahasa Indonesia, pemimpin sering disebut sebagai

penghulu, pemuka, pelopor, pembina, penutan, pembimbing, atau

pengurus.

Kepemimpinan sering kali menjadi bahan pembicaraan banyak

sekali orang dengan latar belakang dan kepentingan politis yang

berbeda-beda. Orang-orang yang selalu mengkaitkan beberapa hal dengan

kepemimpinan yang sedang dan akan terjadi, apalagi pada saat akan

adanya pemilu entah itu pemilu presiden, pilkada, pilkades, dan lain-lain.

Terdapat banyak sekali tokoh atau ilmuan yang mendefinisikan mengenai

arti dari kata kepemimpinan.

Menurut Tod, Terry, Hoyt (“kepemimpinan” dalam

http//www.wikipedeia.org diakses pada tanggal 17 November 2013),

bahwa kepemimpinan sebagai kegiatan atau seni mempengaruhi orang

lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang

tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan

yang diinginkan kelompok.

Gelombang kepemimpinan dari beberapa pemimpin yang pernah

(12)

wilayah dan dalam kurun waktu tertentu itulah yang disebut dengan

dinamika kepemimpinan. Masing-masing wilayah tentu saja memiliki

dinamika kepemimpinan yang hampir berbeda anatara wilayah yang satu

dengan wilayah lainnya menurut atau sesuai dengan karakter pemimpin

yang pernah memipin di wilayah tersebut yang pernah memimpin

padaperiodenya masing-masing.

2. Pemerintahan Desa

Desa sering diartikan sebagai wilayah yang letaknya jauh dari

keramaian kota, wilayahnya masih alami, dan sebagian besar arealnya

dimanfaatkan untuk persawahan, ladang, perumahan, atau kebun

penduduk. Sebagian besar penduduk desa bekerja di sektor pertanian.

Istilah desa di berbagai daerah berbeda-beda. Di Jawa Tengah desa

dinamakan Dusun, di daerah Sunda disebut Kampung, sedangkan di

Padang dinamakan Nagari, di Aceh dinamakan Gampong, masyarakat

Batak di Sumatra Utara menyebutnya dengan Huta, dan di Sulawesi

Utara masyarakat menyebutnya Wanus, serta di beberapa daerah

lainnya yang memiliki sebutan yang berbeda-beda antara daerah yang

satu dengan daerah yang lain (“Desa” dalam www.wikipedeia.org yang

diakses pada tanggal 15 November 2013).

Sementara itu, suatu daerah dapat dikatakan desa jika masih

memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan daerah lain

(13)

Pembangunan Desa atau yang lebih kita kenal dengan Dirjen Bangdes

(yang dikutip dari http//www.dirjenbangdes.com di akses pada tanggal

20 Oktober 2013), desa memiliki empat ciri:

a) Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar.

b) Lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian (agraris).

c) Hubungan antar warga desa masih sangat akrab.

d) Sifat-sifat masyarakatnya masih memegang teguh tradisi yang

berlaku.

Desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1979

Tentang Pemerintahan Desa (http//www.kemendagri.com yang diakses

pada tanggal 17 November 2013) adalah suatu wilyah yang ditempati

sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya

kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan

terrendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan

rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik

Indonsia.

Desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1999

Tentang Pemerintahan Daerah (http//www.kemendagri.com yang

diakses pada tanggal 17 November 2013) adalah kesatuan masyarakat

hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul adat istiadat

(14)

daerah kabupaten.

Sementara desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72

tahun 2005 Tentang Desa (http//www.kemendagri.com yang diakses

pada tanggal 17 November 2013) menegaskan desa atau yang disebut

dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat

hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan

asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam

sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, selain itu

juga terdapat tiga unsur desa, yaitu :

a) Penduduk

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami suatu

desa, yang kaitannya dengan penduduk antara lain adalah jumlah

tingkat kelahiran, tingkat kematian, persebaran penduduk,

kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, perbandingan jenis

kelamin, mata pencaharian dan struktur penduduk.

Menurut Bintarto (“Desa” dalam www.wikipedeia.org

yang diakses pada tanggal 15 November 2013), masyarakat desa

atau penduduk desa adalah sekumpulan orang yang hidup bersama

pada suatu tempat yang disebut sebagai desa dengan ikatan aturan

yang berlaku di desa tersebut, atau bisa dikatakan pula sebagai

(15)

Menurut Bintarto (“Desa” dalam www.wikipedeia.org

yang diakses pada tanggal 15 November 2013) jika dilihat dari

jenis mata pencaharian masyarakatnya, masyarakat desa dapat

digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu desa agraris, desa industri,

dan desa nelayan.

1) Desa Agraris

Desa Agraris adalah desa yang mayoritas mata pencaharian

penduduknya berasal dari sektor agraris atau pertanian. Faktor

yang menentukan terbentuknya desa agraris adalah iklim yang

berpengaruh pada kesuburan tanah.

2) Desa Industri

Desa Industri terbentuk karena sebagian besar penduduk desa

tersebut melakukan kegiatan industri kecil, terutama yang

berhubungan dengan kegiatan pertanian.

3) Desa Nelayan

Desa nelayan terbentuk dari kondisi geografis dari desa

tersebut yang berada memanjang di sepanjang pantai.

Sehingga penduduknya sebagian besar memiliki mata

pencaharian sebagai nelayan atau mereka hidup dari melaut

atau dari hasil budidaya laut dan rumput laut.

b) Wilayah

(16)

diakses pada tanggal 28 Februari 2014) wilayah diartikan sebagai

suatu permukaan yang luas yang dihuni oleh manusia yang

melakukan interaksi kegiatan dengan sumberdaya alam,

sumberdaya modal, sumberdaya teknologi, sumberdaya

kelembagaan dan sumberdaya pembangunan lainnya, untuk

mencapai tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi

masyarakat yang mempunyai batas dan ditetapkan oleh peraturan

pemerintah. Hal ini berarti suatu wilayah pedesaan memiliki

wilayah tersendiri dengan berbagai aspeknya seperti lokasi, luasan,

bentuk lahan, keadaan tanah, keadaan tata air, dan sebagainya.

Dengan kata lain wilayah pedesaan selalu berhubungan dengan

kondisi geografis suatu desa.

c) Tata Kehidupan

Tata kehidupan berkaitan dengan adat istiadat,

norma-norma yang berlaku di desa tersebut, pengaturan sistem pergaulan

warga masyarakat, dan pola-pola budaya desa tersebut (Bintarto,

“Desa” dalam www.wikipedeia.org yang diakses pada tanggal 15

November 2013).

Sejak adanya otonomi daerah di Indonesia desa memiliki

pemerintahan sendiri, artinya bahwa desa bukanlah bawahan dari

kecamatan, karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah

(17)

Hal ini berbeda dengan Kelurahan, Desa memiliki hak mengatur

wilayahnya lebih luas. Selain itu, dalam perkembangannya sebuah desa

dapat menjadi kelurahan.

Peraturan Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa

(http//www.kemendagri.com yang diakses pada tanggal 16 November

2013) mejelaskan, Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan

pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa

dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat

berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan

dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Adapun kewenangan yang dimiliki oleh Desa itu sendiri

adalah :

1) Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada

berdasarkah hak asal-usul desa.

2) Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi

kewenangan kabupaten atau kota yang diserahkan pengaturannya

kepada desa, yakni urusan pemerintahan yang secara langsung

dapat meningkatkan pelayanan masyarakat.

3) Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan

pemerintah kabupaten atau kota.

4) Urusan pemerintah lainnya yang diserahkan kepada desa.

(18)

Sementara susunan pemerintah desa menurut Peraturan

Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa di atas berbeda dengan

susunan pemerintah menurut Undang-undang nomor 32 tahun 2004

Tentang Pemerintahan Daerah (http//www.kemendagri.com yang

diakses pada tanggal 16 November 2013), yang menyatakan Pemerintah

desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa ( pasal 202 ayat 1).

Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya

(pasal 202 ayat 2). Dalam Undang-undang nomer 32 tahun 2004

Pemerintahan Desa, Badan permusyawaratan Desa atau sering disingkat

menjadi BPD tidak dimasukan ke dalam pemerintahan desa walaupun

memiliki fungsi yang sama yaitu menetapkan peraturan desa bersama

kepala desa dan menyalurkan aspirasi rakyat.

Kepala Desa atau Pemimpin Desa adalah pemimpin

pemerintahan tingkat terkecil di Indonesia yang memiliki masa jabatan

selama 6 tahun setelah dan mendapat satu kali perpanjangan masa

jabatan berikutnya sesuai dengan yang ada pada Peraturan Pemerintah

Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa dan Undang-undang nomer 32

tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Artinya, di dalam

pemerintahannya Kepala Desa tidak memiliki tanggung jawab terhadap

pemimpin pemerintahan tingkat kecamatan yaitu Camat, melainkan

(19)

Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa

(http//www.kemendagri.com yang diakses pada tanggal 16 November

2013) menegaskan Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama

lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur

penyelenggara pemerintahan desa. Kepala Desa dipilih langsung

melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) oleh penduduk desa

setempat. Adapun Syarat-syarat menjadi calon kepala desa sebagai

berikut :

1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2) Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-undang

1945 dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

3) Berpendidikan paling rendah SLTP atau sederajat.

4) Berusia paling rendah 25 tahun.

5) Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa.

6) Penduduk desa setempat.

7) Tidak pernah dihukum karena melakukan tindakan pidana

kejahatan dengan hukuman paling singkat 5 tahun.

8) Tidak dicabut hak pilihnya.

9) Belum pernah menjabat Kepala Desa paling lama 10 tahun atau

dua kali masa jabatan.

10) Memenuhi syarat lain yang diatur Peraturan Daerah atau

(20)

Kemudian wewenang yang dimiliki oleh seorang yang sedang

menjabat sebagai Kepala Desa tertulis di dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa (http//www.kemendagri.com yang

diakses pada tanggal 16 November 2013), yaitu :

1) Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan

kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa

atau disingkat BPD.

2) Mengajukan rencana peraturan desa.

3) Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan

bersama BPD.

4) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai

Anggaran pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) untuk

dibahas dan ditetapkan bersama BPD.

Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa desa adalah suatu

wilayah dalam negara Indonesia yang memiliki batas dan memiliki

masyarakat yang dilindungi oleh hukum dan terdapat adat istiadat serta

pemerintahan yang di dalamnya dipimpin oleh Kepala Desa dan dibantu

oleh Perangkat Desa serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

3. Penelitian Yang Relevan

Menurut Triasti Anggrayanti (1998:7) dalam skripsinya yang

berjudul “Perbandingan Antara Sikap Masyarakat Yang Berpendidikan

(21)

Terhadap Pemilihan Kepala Desa Buayan Kecamatan Buayan

Kabupaten Kebumen Tahun 1997” mengatakan, kepala desa adalah

kepala atau pemimpin yang diangkat oleh Bupati atau Walikota Madya

kepala daerah tingkat II atas nama Gubernur kepala daerah tinkat I dari

calon terpilih sebagai administrator pembangunan dan administrator

tingkat desa.

Menurut Triasti Anggrayanti (1998:7)“Pola Kepemimpinan

Kepala Desa Pakuncen Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga

Dalam pelaksanaan Pembangunan Periode 1994-2002”, dalam

pemilihan kepala desa, sikap masyarakat yang berpendidikan dasar

masih berpedoman pada keturunan. Mereka mengesampingkan

pendidikan si calon, sikap si calon, apalagi visi dan misi si calon, tetapi

lebih memandang siapa pendahulu si calon. Apabila pendahulunya

pernah menjadi/menjabat maka masyarakat desa yang berpendidikan

dasar akan lebih condong untuk memilihnya.

Calon Kepala desa yang diprediksi akan terpilih menjadi

kepala desa juga dapat dilihat dari rata-rata pendidikan terakhir

masyarakat desa yang memiliki hak pilih dalam pemilihan kepala desa

atau pilkades tersebut. Masyarakat dengan desa yang mayoritas

penduduknya berpendidikan rendah akan cenderung melihat calon dari

segi sejarah keluarga atau pohon keluarga dari calon kepala desa

(22)

akan pilih ketika telah terpilih menjadi Kepala Desa.

Menurut Ririn Puspitasari (2013:11) dalam skripsinya yang

berjudul Persaingan Elite Politik Dalam Pemilihan Kepala Desa (Studi

Kasus Pemilihan Kepala Desa di Desa Klapagading Wangon

Kabupaten Banyamas Tahun 2007 dan 2013) mengemukakan,

persaingan elite politik dalam pemilihan kepala desa lebih pada

persaingan kedudukan dan peran. Para calon kepala desa biasanya dari

kelas menengah keatas, sehingga persaingan elite politik tidak

berhubungan dengan persaingan ekonomi para calon kepala desa. Para

calon kepala desa tidak mengandalkan jabatan kepala desa untuk

memenuhi kebutuhan ekonominya, tetapi calon kepala desa

mencalonkan diri sebagai kepala desa untuk mendapat pengakuan dari

masyarakat sebagai orang yang memiliki kedudukan serta peranan yang

terpandang.

Penelitian yang pernah dilakukan mengenai desa dan

kepemimpinan telah banyak dilkukan dalam berbagai karya tulis dan

skripsi, tetapi penelitian yang di lakukan hanya meneliti tentang

kepemimpinan suatu wilayah dalam satu periode kepemimpinan saja, Di

dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam skripsi ini memiliki

perbedaan dari penelitian dan karya ilmiah yang pernah ada, karena

dalam skripsi ini penulis tidak hanya meneliti tentang kepemimpinan

(23)

meneliti kepemimpinan suatu wilayah dalam beberapa periode.

F. Landasan Teori dan Pendekatan

1. Teori Kepemimpinan

Pengertian kepemimpinan menurut Young (“kepemimpinan”

dalam http//www.wikipedeia.org diakses pada tanggal 17 November

2013) adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi

yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat

sesuatu yang berdasarkan penerimaan kelompoknya, dan memiliki

keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.

Sri Wintala Achmad (2013:23) dalam bukunya yang berjudul

Falsafah Kepemimpinan Jawa”, Swansburg mengemukakan bahwa

kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi aktivitas suatu

kelompok yang terorganisir dalam usaha mencapai penetapan dan

pencapaian tujuan.

Kepemimpinan yang baik itu sendiri memiliki nilai dan pola

relatif dalam persepsi masyarakat. Seperti contohnya pemimpin yang

baik menurut Orang Jawa belum tentu cocok atau baik dirasakan bagi

Orang Bali, Orang Papua, Orang Batak/Suamatra Utara dan orang dari

daerah lain diluar dari daerah Jawa. Dalam Studi kasus ini, pemimpin

yang baik adalah pemimpin yang dinilai baik oleh Orang Jawa karena

(24)

Kepemimpinan itu sendiri selalu dihubungkan dengan

falsafah-falsafah kepemimpinan. Sri Winatala Achmad (2013:67) mengemukakan

Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional adalah pencetus dari

slogan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri

handayani. Adapun penjabarannya atau pengertiannya adalah sebagai

berikut :

a) Ing ngarsa sung tuladha

Ing ngarsa sung tuladha mengandung makna bahwa seorang

pemimpin yang baik adalah selalu tampil di depan dan harus

memberikan tauladan yang baik bagi rakyatnya atau yang

dipimpinnya. Seorang pemimpin yang melakukan korupsi dan

nepotisme atau tindakan-tindakan yang tidak terpuji bakal dihujat

oleh seluruh rakyatnya atau yang dipimpinnya. Pada akhirnya,

kewibawaannya sebagai pemimpin akan hacur berantakan.

b) Ing madya mangun karsa

Memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus berada di

tengah-tengah rakyatnya untuk memberikan spirit serta motifasi agar hidup

menjadi lebih sejahtera melalui perjuangan nyata.

Disamping itu, Seorang pemimpin harus mampu memberikan

inspirasi pada seluruh rakyatnya agar termotifasi untuk

mencanangkan cita-citanya ke langit, belajar lebih giat, bekerja lebih

(25)

demikian, cita-cita bangsa didalam mewujudkan kesejahteraan di

dalam negaranya akan dapat terealisasi dengan segera.

c) Tutwuri handayani

Bermakna bahwa seorang pemimpin harus mengikuti pendapat atau

tujuan yang telah disepakati bersama. Apabila terdapat suatu kendala

yang mnghambat tujuan tersebut, maka seorang pemimpin dalam

memberikan jalan keluar atau solusi harus berdasarkan msyawarah

bersama.

Dalam Sri Winatala Achmad (2013:64), Falsafah kepemimpinan

dari Gajah Mada yang merupakan seorang patih dari kerajaan Majapahit

juga memiliki falsafah kepemimpinan, yaitu Tri Dharma yang terdiri dari

tiga dimensi (dimensi spiritual, dimensi moral, dan dimensi menejerial),

penjelasan dari Tri Dharma di atas adalah :

a) Dimensi Spiritual

Dalam dimensi spiritual, seorang pemimpin harus memiliki beberapa

prinsip utama, yaitu tenang, sabar, bijaksana, mencintai alam

semesta dan, hidup dan bersikap sederhana.

b) Dimensi Moral

Dalam dimensi moral, seorang pemimpin harus memiliki beberapa

prinsip utama, yaitu berani membela dan menegakan kebenaran serta

keadilan, memiliki sikap rendah hati, tidak pilih kasih, bersikap

(26)

mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi,

golongan, dan keluarga.

c) Dimensi Manajerial

Dalam dimensi manajerial seorang pemimpin harus memiliki

sembilan prinsip utama, yaitu Mendapat dan menjaga kepercayaan

masyarakat, setia kepada nusa dan bangsa, pandai berbicara dengan

sopan, pandai dalam berdiplomasi, strategi, dan siasat, tekun bekerja

dan mengabdi pada kepentingan umum, lapang dada dan bersedia

menerima pendapat orang lain, menguasai musuh dari dalam dan

luar, pandai menentukan prioritas utama, serta waspada dan

instrospeksi untuk melakukan perbaikan.

Seseorang akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :

a) Seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat

kepemimpinan.

b) Bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui

kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya.

c) Ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui

pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang

menyangkut teori kepemimpinan.

Soerjono Soekamto (1987:267) dalam bukunya yang berjudul

Sosiologi Suatu Pengantar Edisi Baru Ketiga” menyatakan,

(27)

Indra-brata, yama-brata, surya-brata, caci-brata, bayu-brata,

dhana-brata, paca-dhana-brata, dan agni-brata. Adapun pengertianya adalah sebagai

berikut:

a) Indra-brata, berarti dapat memberi kesenangan dalam jasmani.

b) Yama-brata, berarti dapat menunjuk pada keahlian dan kepastiah

hukum.

c) Surya-brata, berarti dapat menggerakan bawahan dengan mengajak

mereka untuk bekerja persuasion.

d) Caci-brata, berarti dapat memberi kesenangan rohaniah.

e) Bayu-brata, berarti dapat menunjukan keteguhan pendidikan dan

rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran

dari pengikut-pengikutnya.

f) Dhana-brata, berarti dapat menunjukan pada suatu sikap yang

patut untuk dihormati.

g) Paca-brata, berarti dapat menunjukan kelebihan dalam ilmu

pengetahuan, kepandaian, dan ketrampilan.

h) Agni-brata, berarti dapat sifat memberikan semangat pada anak

buah.

Kepemimpinan terbagi dalam beberapa jenis yang berbeda.

Menurut Kartini Kartono (1982:69) membagi tipe kepemimpinan

menjadi 8 (delapan) tipe, yaitu tipe kharismatis, tipe paternalistis, tipe

(28)

administratif atau eksekutif, dan tipe demokratik. Masing-masing dari

tipe pemimpin tersebut memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang

berbeda-beda antara satu tipe dengan tipe yang lain, yaitu:

a) Tipe Kharismatis

Tipe pemimpin kharismatis ini memiliki kekuatan energi,

daya-tarik dan pembawaan luar biasa untuk mempengaruhi orang

lain, sehingga ia memiliki pengikut yang sangat besar jumlahnya dan

pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang orang

tidak mengetahui sebab-sebabnya, mengapa seorang itu memiliki

jumlah pengikut yang besar. Dia dianggap memiliki kekuatan

supernatural, dan kemampuan-kemampuan superhuman, yang

diperolehnya sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Banyak

memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada

pendiriaan diri sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu

memancarkan pengaruh dan daya-tarik yang teramat besar.

b) Tipe Paternalistis

Tipe pemimpin paternalistis hanya terdapat di lingkungan

masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya adalah di masyarakat

agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional adalah rasa

hormat yang tinggi yang ditunjukan oleh para anggota masyarakat

kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini

(29)

tokoh-tokoh adat, para ulama, dan guru. Pemimpin ini sangat

mengembangkan dan mengedepankan sikap kebersamaan. Sifat-sifat

pemimpin bertipe paternalistis yaitu :

1) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum

dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.

2) Bersikap terlalu melindungi.

3) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk

mengambil keputusan sendiri.

4) Hampir tidak pernah memberi kesempatan pada bawahan untuk

berinisiatif.

5) Tidak memberikan atau hampir tidak pernah memberikan

kesempatan kepada pengikut atau bawahan untuk

mengembangkan imajinasi dan kreatifitas mereka sendiri.

6) Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.

c) Tipe Militeristis

Pemimpin dengan tipe ini gaya luarnya mencontoh militer. Adapun

sifat-sifat pemimpin yang militeristis yaitu :

1) Lebih banyak menggunakan sistem komando/perintah terhadap

bawahannya.

2) Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahannya.

3) Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan

(30)

4) Menuntut adanya disiplin keras dari bawahan-bawahannya.

5) Tidak menghendaki saran, usul, sugesti-sugesti, dan

kritikan-kritikan dari bawahannya.

6) Komunikasi hanya berlangsung satu arah saja.

d) Tipe Otokratis

Banyak orang memahami segi kepemimpinan otokratis

adalah pemimpin yang tergolong atau dipandang pemimpin yang

memiliki karakteristik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang

pemimpin yang otokratis adalah seseorang yang sangat egois.

Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang

menonjolkan keakuhannya, antara lain dalam bentuk:

1) Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan

alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan

demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka

2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian

tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan

kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.

3) Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan

keputusan.

Karakteristik gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin

yang otokratis antara lain:

(31)

2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuhannya.

3) Bernada keras dalam memberi perintah atau instruksi.

4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya

penyimpangan oleh bawahan.

e) Tipe Laissez Faire

Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi

akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota

organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang

mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa

yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh

masing-masing anggota, dan pemimpin dengan tipe gaya kepemimpinan ini

tidak terlalu sering intervensi. Adapun karakteristik dan gaya

kepemimpinan tipe ini adalah :

1) Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif.

2) Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat

pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional,

kecuali dalam hal-hal tertentu yang menuntut keterlibatannya

langsung.

3) Status quo organisasional tidak terganggu.

4) Penumbuhkembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang

inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang

(32)

organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang

memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada

tingkat yang minimum.

f) Tipe Populistis

Tipe kepemimpinan ini selalu berpegang teguh pada

nilai-nilai masyarakat yang tradisional dankurang mempercayai dukungan

serta bantuan dari luar. Kepemimpinan jenis ini selalu

mengutamakan penghidupan (kembali) nasionalisme. Tipe

kepemimpinan ini sering dikaitkan dengan modernitas tradisional.

g) Tipe Administratif atau eksekutif

Tipe kepemimpinan ini mampu menyelenggarakan

tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya terdiri dari teknokrat

dan administratur-administratur yang yang mampu menggerakan

dinamika modernisasi dan pembangunan.

h) Tipe Demokratik

1) Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya

selaku kordinator dan integrator dari berbagai unsur dan

komponen organisasi.

2) Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun

sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka

ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa dan tidak harus

(33)

3) Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai

dengan tingkatnya.

4) Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan

menjunjung harkat dan martabat manusia.

5) Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.

Setiap jabatan dan peran pasti memiliki peran yang penting

dalam organisasi, badan hukum, kelompok, dan lain-lain, begitu pula

dengan pemimpin. Pemimpin memiliki peran yang penting dalam

instansinya masing-masing. Adapun peranan seorang pemimpin yaitu :

a) Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai

pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor

konsultasi.

b) Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru

bicara.

c) Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan

gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.

Setelah membaca teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa

setiap individu/seorang pemimpin atau pimpinan dalam melaksanakan

jabatannya sebagai seorang pemimpin, kepemipinanya dapat dicirikan

dan dikategorikan berdasarkan karakter kepemimpinan yang sedang dan

atau telah dijalankannya. Hal ini dapat dibuktikan pada pemerintahan

(34)

negara memiliki karakteristik dan cerita sejarah politik yang

berbeda-beda antara suatu periode dengan periode lainnya tergantung pada

pemimpin yang sedang berkuasa. Demikian pula yang dialami oleh

wilayah yang lebih kecil dari sebuah negara yaitu pada wilayah pedesaan

pada khususnya adalah yang terjadi di Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara yang memiliki cerita sejarah pada dinamika

kepemimpinannya.

Perbedaan karakteristik dan pola kepemimpinan dari beberapa

pemimpin yang pernah memimpin atau memiliki kedudukan sebagai

pemimpin/ketua/kepala pada suatu wilayah tertentu pada periodenya

masing-masing inilah yang disebut dengan dinamika kepemimpinan.

2. Pendekatan

Pendekatan dalam suatu penelitian akan memberikan

karakteristik yang ilmiah kepada sejarah dan penggunaan berbagai

konsep disiplin ilmu yang memungkinkan dapat dilihat dari berbagai

dimensi sehingga pemahaman tantang suatu masalah baik keluasan

maupun kedalamannya akan semakin jelas. Dalam Penelitian ini, peneliti

menggunakan beberapa pendekatan dengan ilmu lain diantaranya adalah

ilmu politik dan ilmu sosiologi.

a) Ilmu Politik

Sejarah selalu dekat dengan politik, karena didalam sejarah

(35)

cara dalam setiap interaksi yang dilakukan. Sartono kartodirdjo

(148 ;1993) mengatakan “Politik adalah sejarah masa kini dan

sejarah adalah politik masa lampu.”. Dalam penelitian ini, akan

menyajikan masalah kepemimpinan, dimana kepemimpinan itu

sendiri merupakan salah satu unsur utama dalam sebuah politik,

karena ada beberapa unsur utama yang selalu dijumpai dalam

politik, yaitu otoritas, ideologi, organisasi, kepemimpinan dan

lain-lain. Penelitian ini menyajikan dinamika kepemimpinan di suatu

wilayah pada tahun 1990 hingga tahun 2013.

b) Ilmu Sosiologi

Pendekatan ilmu sosiologi digunakan karena dalam

penelitian ini mencakup konsep dan teori sosiologis yang antara lain

menyajikan mengenai struktur sosial dalam masyarakat, kelas sosial,

pola kelakuan masyarakat atau idividu dan atau interaksi sosial.

G. Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan oleh peneliti

adalah metode historis. Metode historis atau metode sejarah adalah proses

menguji dan menganalisis secara kirtis terhadap rekaman serta peninggalan

masa lampau dan menuliskan hasilnya berdasarkan fakta yang telah diperoleh

(36)

Dalam penyusunan skripsi ini, Peneliti menggunakan metode historis

yang dibagi menjadi empat kelompok kegiatan yang dilakukan yakni

heuristik, kritik atau analisis, interpretasi, dan historiografi (A. Daliman,

2012: 28-29).

1. Heuristik, yaitu kegiatan untuk mencari, menemukan dan mengumpulkan

data serta fakta. Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan beberapa sumber

dan data yang relevan, baik sumber primer maupun sekunder yang dapat

digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas. Sumber

sejarah yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sumber tertulis

dan sumber lisan. Sumber tertulis terdiri buku arsip, artikel, jurnal,

makalah, buku dan lain sebagainya yang terdapat di Kantor Desa Gelang,

Perpustakaan Desa Gelang, Perpustakaan Daerah Kabupaten

Banjarnegara serta Arsip Daerah Kabupaten Banjarnegara. Selain

menggunakan sumber tertulis, peneliti juga menggunakan sumber yang

didapat dari hasil wawancra dengan tokoh-tokoh mayarakat seperti

Kepala Desa Gelang, Mantan Kepala Desa Gelang, Perangkat Desa

Gelang, Mantan Perangkat Desa Gelang, Ulama Desa Gelang, dan

tokoh-tokoh lainnya di Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara

yang merupakan saksi hidup dan akan digunakan sebagai sumber primer.

2. Kritik atau analisis, yaitu menganalisis secara kritis sumber-sumber yang

telah diperoleh dengan menyelidiki serta menilai apakah sumber-sumber

(37)

bentuknya. Semua sumber dipilih melalui dua tahap yaitu :

a) Kritik ekstern, yaitu kritik terhadap keaslian atau otentisitas sumber

yang didapat. Kritik ini dimaksudkan untuk memperoleh kepastian

apakah sumber-sumber yang didapat memenuhi syarat-syarat untuk

digunakan sebagai sumber.

b) Kritik intern yaitu kritik terhadap sumber lisan maupun dokomen,

untuk memperoleh kredibilitas dari pernyataan-pernyataan yang

dikemukakan oleh sumber-sumber tersebut.

Kedua hal tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui

apakah sumber-sumber yang telah diperoleh tersebut asli atau tiruan dan

relevan atau tidak dengan permasalahan yang peneliti kaji. Sehingga,

dapat diperoleh fakta sejarah yang otentik.

3. Interpretasi, yaitu untuk menafsirkan keterangan-keterangan sumber

secara logis dan rasional. Penafsiran atau interpretasi tidak lain dari

pencarian pengertian yang lebih luas tentang sumber yang telah

ditemukan. Tahapan penafsiran ini dilakukan dengan cara mengolah

beberapa fakta yang telah dikritisi dan merujuk kepada beberapa

referensi. Dengan menggunakan pemahaman tersebut, maka peneliti

dapat menjelaskan atau menginterpretasikan fakta sehingga menjadi

suatu rangkaian yang utuh. Setelah melalui proses yang selektif, maka

fakta-fakta tersebut dijadikan pokok pikiran sebagai kerangka dasar

(38)

4. Historiografi atau penelitian sejarah, yaitu proses penyusunan hasil

penelitian yang telah diperoleh sehingga menjadi satu kesatuan yang

utuh. Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dari metode penelitian

sejarah. Setelah sumber-sumber ditemukan, dianalisis, ditafsirkan,

kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang ilmiah sesuai dengan

kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.

H. Sistematika Penulisan

Penulisan karya skripsi ini dibagi dalam beberapa bab/sub materi

untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci agar memudahkan para

pembaca dalam memahami mengenai permasalahan yang diteliti.

Bab I , Pendahuluan. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka,

landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan pada karya

ilmiah ini.

Bab II, Kondisi Umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara. Bab ini berisi tentang gambaran secara garis besar dan keadaan

nyata dari Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang

meliputi keadaan geografis Desa Gelang, keadaan demografi Desa Gelang,

keadaan sosial ekonomi masyarakat Desa Gelang, sejarah Desa Gelang,

dinamika kepemimpinan Desa Gelang sebelum tahun 1990, dan pemerintahan

(39)

Bab III, Dinamika Kepemimpinan Di Desa Gelang Kecamatan Rakit

Kabupaten Banjarnegara Tahun 1990 - 2013. Dalam bab ini berisi

kepemimpinan Desa Gelang Periode 1990 - 1998, kepemimpinan Desa

Gelang 1999 - 2007, dan kepemimpinan Desa Gelang Periode 2007 - 2013.

Bab IV, Peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten

Banjarnegara Dalam Pembangunan Desa Tahun 1990 Sampai Tahun 2013.

Dalam bab ini berisi pembangunan Desa Gelang Periode 1990 - 1998,

pembangunan Desa Gelang Periode 1999 - 2007, dan pembangunan Desa

Gelang Periode 2007 - 2013. Selain itu, bab ini juga menyajikan analisis dari

pembangunan yang pernah dilakukan terhadap kepemimpinan di Desa Gelang

pada masing-masing periode kepamimpinan dari tahun 1990 hingga tehun

2013.

Bab V, Penutup. Merupakan bab terakhir dari semua bab yang ada

dalam skripsi ini. Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari

Gambar

Tabel 1.1 :

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang diperoleh adalah kasus spondilitis tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien.. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis kelamin dan

[r]

Sistem pakar dapat menyediakan bagi seorang manajer sebagian bantuan yang sama seperti yang diberikan bagi seorang manajer sebagai bantuan yang sama seperti yang diberikan oleh

 Bantuan pengembangan usaha ekonomi bagi ODHA juga memiliki cakupan yang sangat kecil baik dari jumlah ODHA yang memanfaatkan, kualitas pelayanan yang rendah. karena tidak

Kunci pas berfungsi untuk membuka/memasang baut/mur yang tidak terlalu kuat momen pengencangannya dan juga untuk melepas baut yang sudah dikendorkan dengan kunci

1) dividen tunai (cash dividend) merupakan dividen yang diterima oleh investor dalam bentuk kas. Bagi perusahaan, dividen ini mengurangi akun Laba Ditahan dan Kas, sedangkan

Bapak Radit selaku pihak Sekretariat Perwakilan Kementrian Gedung Keuangan Negara Yogyakarta yang pertama kali kami temui dan yang sudah memperkenankan kami untuk

Akan tetapi nomor anak pada anak- bab ditulis dengan satu angka Romawi dan dua angka Arab yang masing-masing dipisahkan oleh sebuah titik, angka Romawi menunjukkan nomor bab, angka