A. Latar Belakang Masalah
Setiap desa pasti memiliki sejarahnya sendiri-sendiri yang unik dan
menarik, karena mereka mempunyai karakteristik yang menarik berdasarkan
latar belakang historisnya. Demikian dengan kepemimpinan yang dilakukan
kepala desa atau orang yang memimpin desa di seluruh penjuru di Indonesia.
Kepemimpinan selalu menciptakan sebuah sejarah atau cerita di masa depan,
tentunya sejarah bagi masyarakat desa tersebut pada khususnya. Peraturan
mengenai kepemimpinan desa atau kepala desa dan pemerintahan desa yang
pernah ada dan berlaku di Indonesia selalu bertransformasi dan menyesuaikan
dengan politik pemerintahan Indonesia yang sedang dijalankan atau yang
sedang terjadi.
Tema mengenai desa dan kepemimpinan desa yang pernah dilakukan
selalu berhubungan erat dengan sejarah, karena setiap kepemimpinan yang
pernah dilakukan selalu meninggalkan cerita atau membuat cerita sejarah.
Cerita sejarah suatu daerah sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat
yang berasal dari daerah tersebut, karena sejarah suatu daerah atau sejarah
lokal dari suatu daerah memiliki sumbangan bagi sejarah nasional dari bangsa
tersebut. Sejarah nasional adalah sejarah yang membahas atau menceritakan
mengenai kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam cakupan
cerita perjalanan dari sebelum negara tersebut berdiri sampai negara tersebut
telah berdiri. Sejarah Nasional adalah kumpulan peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada beberapa daerah-daerah yang berada dalam cakupan wilayah
negara, hal ini berarti sejarah nasional dapat berupa sebagai
kumpulan-kumpulan dari beberapa kisah dari beberapa daerah yang disatukan yang
tentunya harus memiliki sutu kecocokan satu dengan lainnya. Pada
prinsipnya, semua peristiwa pada SNI (Sejarah Nasional Indonesia) adalah
peristiwa sejarah lokal (Priyadi, 2011:30). Maksudnya adalah, Sejarah
Nasional tentu mengungkap tentang sejarah dari suatu daerah yang
dikumpulkan dan dimuat dalam cakupan wilayah nasional. SNI (Sejarah
Nasional Indonesia) sering mengangkat peristiwa-peristiwa lokal menjadi
peristiwa-peristiwa nasional (Pryadi, 2011:31). Hal ini menunjukan mengenai
pentingnya sejarah lokal atau peristiwa penting yang terjadi pada daerah demi
mendukung kelengkapan dari sejarah nasional.
Sejarah lokal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia sendiri
terkadang masih kurang dimengerti atau diketahui oleh warga dari daerahnya
masing-masing. Hal ini menunjukan bahwa sejarah lokal masih dianggap
sebagai ilmu atau pengetahuan yang kurang penting dikalangan masyarakat
Indonesia.
Berbicara mengenai kepemimpinan desa, desa, dan sejarah lokal,
peneliti menyoroti pada sejarah dinamika kepemimpinan desa yang pernah
tepatnya yaitu ada di Kecamatan Rakit Kabupatan Banjarnegara Provinsi
Jawa Tengah. Dalam sejarahnya, pemimpin di desa Gelang dipilih melalui
Pilkades atau Pemilihan Kepala Desa yang dilakukan di Desa Gelang
Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara. Dalam sejarahnya pula, pilkades
atau Pemilihan Kepala Desa Gelang pernah dilakukan sebanyak 6 (enam) kali
dari masa ke masa, yaitu dari Pilkades atau Pemilihan Kepala Desa yang
pertama pada tahun 1959 sampai dengan Pilkades atau Pemilihan Kepala
Desa yang yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2013. Hal tersebut dapat
kita lihat dari daftar nama yang pernah dan sedang menjabat sebagai Kepala
Desa dari tahun 1959 sampai dengan tahun 2013. Desa Gelang Kecamatan
Rakit Kabupaten Banjarnegara memiliki teori yang sangat menarik untuk
dikaji mengenai sejarah yang pernah terjadi pada masa lalu yaitu mengenai
7. Sumber : Arsip Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara.
Dimulai dari tahun setelah Indonesia merdeka yaitu tahun 1945,
yang pernah memimpin Desa Gelang adalah Madrokhim. Madrokhim
memimpin Desa Gelang dari tahun 1945 hingga tahun 1959 yang kemudian
pada periode selanjutnya yang dimulai tahun 1959 sampai dengan tahun
1966, Kepala Desa yang pernah menjabat adalah Anwari yang menjabat
Kepala Desa Gelang. Desa Gelang selanjutnya dipimpin oleh Siswo Miharjo
yang memenangkan Pemilihan Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1966. Siswo Miharjo memimpin Desa
Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara selama tiga tahun dan
menyelesaikan jabatannya sebagai Kepala Desa pada tahun 1969 atau Dengan
kata lain Siswo Miharjo menjabat sebagai Kepala Desa Gelang hanya selama
3 tahun.
Kepala desa yang menjabat pada tahun 1969 adalah Akhmad
Adrongi yang selesai jabatannya sebagai Kepala Desa Gelang Kecamatan
Rakit Kabupaten Banjarnegara sampai dengan tahun 1990, dengan kata lain
Akhmad Adrongi pernah menjabat sebagai Kepala Desa Gelang selama 20
tahun, sebab pada tahun 1966 sampai dengan tahun 1990 adalah masih masa
pemerintahan Orde Baru, dimana Presiden Indonesia saja dijabat oleh
Soeharto selama 32 tahun dari tahun 1966 hingga tahun 1998. Jabatan yang
ketika Akhmad Adrongi menjabat sebagai kepala Desa Gelang yang menjabat
selama 20 tahun yang mengawali jabatannya sebagai Kepala Desa Gelang
pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1989. Jabatan yang begitu lama
tersebut, dipengaruhi oleh pemerintahan yang sedang berlangsung di
Republik Indonesia yang membuat peraturan mengenai pemimpin desa yang
dapat memimpin hingga dapat memimpin desa selama 20 tahun.
Sampai masa jabatan Akhmad Adrongi selesai di Desa Gelang yaitu
pada tahun 1989, kemudian diadakan pemilihan Kepala Desa Gelang kembali
untuk memilih kepala desa yang akan memimpin desa diperiode
kepemimpinan desa yang selanjutnya, yang akhirnya dimenangkan oleh
Supardi. Supardi menjabat sebagai kepala desa selama 8 tahun hingga tahun
1998.
Pada tahun 1999 diadakan pemilihan kepala desa kembali untuk
memilih kepala desa yang akan memimpin Desa Gelang periode berikutnya
yaitu periode kepemimpinan tahun 2000 hingga tahun 2007. Dan yang
memenangkan pemungutan suara dalam rangka pemilihan kepela desa
tersebut adalah Iksanudin, yang menjabat sebagai kepala desa Gelang hingga
tahun 2007.
Selanjutnya Kepala Desa Gelang yang menjabat adalah Edie
Wibowo yang menjabat sebagai kepala desa dari tahun 2008 hingga tahun
2013. Karena Edi Wibowo dapat memenangkan pilkades yang diadakan pada
yaitu pada tahun 2013, Supardi dapat menjabat kembali sebagai Kepala Desa
Gelang setelah periode yang pertama yaitu pada tahun 1990 dan berakhir
tahun 1998, Imam supardi dapat terpilih kembali menjadi Kepala Desa
Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara periode tahun 2013 hingga
sekarang.
Apabila dilihat secara berurutan dari masa ke masa, kepemimpinan
Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara memiliki keunikan
mengenai kepemimpinan kepala desanya yang mungkin sangat khas dan
mungkin berbeda dengan desa-desa lain yang ada di dunia. Setiap periode
kepemimpin yang pernah terjadi di Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara akan memiliki certa yang berbeda antara periode kepemimpinan
yang satu dengan periode kepemimpinan yang lain. Berdasarkan latar
belakang tersebut di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti
dinamika kepemimpinan yang pernah terjadi di Desa Gelang Kabupaten
Banjarnera sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat
peneliti kemukakan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara?
Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013?
3. Bagaimana peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara dalam pembangunan di Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2013?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas penelitian ini memiliki
beberpa tujuan, diantaranya adalah :
1. Mengetahui kondisi umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara.
2. Mengetahui dinamika kepemimpinan yang pernah terjadi di Desa
Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1990
sampai dengan tahun 2013.
3. Mengetahui peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara dalam pembangunan sejak tahun 1990 sampai dengan
tahun 2013.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian merupakan cara dalam mencapai hubungan kesulitan dari
suatu ilmu pengetahuan dengan cara menggunakan metode ilmiah, karena
dalam melakukan penelitian sosial pasti diperlukan subyek yaitu peneliti itu
dan obyek yaitu masyarakat. Sedangkan untuk menghubungkan antara
pengetahuan tentu memiliki manfaat bagi kehidupan manusia.
Dalam penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang diantaranya
adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis. Adapun manfaat-manfaat
tersebut adalah :
1. Manfaat Teoretis
Dengan adanya penelitian ilmiah ini maka diharapkan akan
menemukan masalah-masalah baru serta cara pemecahannya yang dapat
berguna bagi ilmu pengetahuan antara lain :
a) Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang sejarah desa
dan di bidang sejarah politik pada umumnya serta ilmu
pengetahuan sosial pada khususnya dalam pendidikan
masyarakat.
b) Sebagai langkah dari kegiatan penelitian untuk meningkatkan
wawasan penulis.
c) Untuk mengumpulkan data-data dan untuk memperoleh informasi
tentang fenomena-fenomena yang ada dalam masyarakat, dalam
rangka penyusunan skripsi ini sehingga dapat digunakan sebagai
referensi yang dapat dibaca oleh mahasiswa pada khususnya atau
pembaca lainnya pada umumnya.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Pejabat Desa
diketahui dengan pasti sejarah kepemimpinan Desa Gelang
Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang pernah terjadi
dan sedang terjadi, sehingga akan diketahui akibat-akibat atau
pengaruh-pengaruhnya di Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara sehingga hasil dari penelitian ini dapat
digunakan sebagai rujukan atau pedoman dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan Pemerintahan Desa Gelang Kecamatan
Rakit Kabupaten Banjarnegara pada khususnya dan desa lain pada
umumnya.
b) Bagi Masyarakat
Dengan melalui penelitian ilmiah ini, maka dapat
diketahui dengan pasti kisah-kisah yang ada dalam sejarah
kepemimpinan Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara yang pernah terjadi dan sedang terjadi di Desa
Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang berguna
bagi seluruh masyarakat Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara pada khususnya dan berguna bagi
masyarakat desa lain pada umumnya, sehingga akan diketahui
akibat-akibat atau pengaruh-pengaruhnya. Selain itu hasil
penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referansi masyarakat
c) Bagi Pemerintah Daerah
Dengan melalui penelitian ilmiah ini, maka dapat
diketahui dengan pasti sejarah dalam kepemimpinan Desa Gelang
Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang pernah terjadi
sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan mengenai pemerintahan desa, dan
masyarakat desa bagi pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara
pada khususnya dan pemerintah daerah kabupaten lain pada
umumnya.
E. Tinjauan Pustaka
1. Dinamika Kepemimpinan
Dinamika dapat diartikan sebuah gerakan atau kekuatan yang
dimilki oleh sekumpulan orang di masyarakat yang dapat menimbulkan
perubahan dalan tata hidup masyarakat yang bersangkutan. Menurut
Hollander (dalam www.wikipedia.org yang diakses pada tanggal 28
Februari 2014), kata "dinamika" menunjuk pada keadaan yang
berubah-ubah yang menggambarkan fluktuasi atau pasang surut, sekaligus
melukiskan aktivitas dan sistem sosial yang tidak statis yang bergerak
menuju perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dinamika adalah
keadaan yang berubah-ubah atau naik turunnya suatu keadaan.
Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan
yang pasti. Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan
kelompok, oleh karena itu jabatan sebagai pemimpin tidak dapat
dipisahkan dari suatu kelompok akan tetapi dapat dikatakan dan dapat
dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi yang ada di
lapangan. Dalam Bahasa Indonesia, pemimpin sering disebut sebagai
penghulu, pemuka, pelopor, pembina, penutan, pembimbing, atau
pengurus.
Kepemimpinan sering kali menjadi bahan pembicaraan banyak
sekali orang dengan latar belakang dan kepentingan politis yang
berbeda-beda. Orang-orang yang selalu mengkaitkan beberapa hal dengan
kepemimpinan yang sedang dan akan terjadi, apalagi pada saat akan
adanya pemilu entah itu pemilu presiden, pilkada, pilkades, dan lain-lain.
Terdapat banyak sekali tokoh atau ilmuan yang mendefinisikan mengenai
arti dari kata kepemimpinan.
Menurut Tod, Terry, Hoyt (“kepemimpinan” dalam
http//www.wikipedeia.org diakses pada tanggal 17 November 2013),
bahwa kepemimpinan sebagai kegiatan atau seni mempengaruhi orang
lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang
tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan
yang diinginkan kelompok.
Gelombang kepemimpinan dari beberapa pemimpin yang pernah
wilayah dan dalam kurun waktu tertentu itulah yang disebut dengan
dinamika kepemimpinan. Masing-masing wilayah tentu saja memiliki
dinamika kepemimpinan yang hampir berbeda anatara wilayah yang satu
dengan wilayah lainnya menurut atau sesuai dengan karakter pemimpin
yang pernah memipin di wilayah tersebut yang pernah memimpin
padaperiodenya masing-masing.
2. Pemerintahan Desa
Desa sering diartikan sebagai wilayah yang letaknya jauh dari
keramaian kota, wilayahnya masih alami, dan sebagian besar arealnya
dimanfaatkan untuk persawahan, ladang, perumahan, atau kebun
penduduk. Sebagian besar penduduk desa bekerja di sektor pertanian.
Istilah desa di berbagai daerah berbeda-beda. Di Jawa Tengah desa
dinamakan Dusun, di daerah Sunda disebut Kampung, sedangkan di
Padang dinamakan Nagari, di Aceh dinamakan Gampong, masyarakat
Batak di Sumatra Utara menyebutnya dengan Huta, dan di Sulawesi
Utara masyarakat menyebutnya Wanus, serta di beberapa daerah
lainnya yang memiliki sebutan yang berbeda-beda antara daerah yang
satu dengan daerah yang lain (“Desa” dalam www.wikipedeia.org yang
diakses pada tanggal 15 November 2013).
Sementara itu, suatu daerah dapat dikatakan desa jika masih
memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan daerah lain
Pembangunan Desa atau yang lebih kita kenal dengan Dirjen Bangdes
(yang dikutip dari http//www.dirjenbangdes.com di akses pada tanggal
20 Oktober 2013), desa memiliki empat ciri:
a) Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar.
b) Lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian (agraris).
c) Hubungan antar warga desa masih sangat akrab.
d) Sifat-sifat masyarakatnya masih memegang teguh tradisi yang
berlaku.
Desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1979
Tentang Pemerintahan Desa (http//www.kemendagri.com yang diakses
pada tanggal 17 November 2013) adalah suatu wilyah yang ditempati
sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan
terrendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan
rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik
Indonsia.
Desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1999
Tentang Pemerintahan Daerah (http//www.kemendagri.com yang
diakses pada tanggal 17 November 2013) adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul adat istiadat
daerah kabupaten.
Sementara desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72
tahun 2005 Tentang Desa (http//www.kemendagri.com yang diakses
pada tanggal 17 November 2013) menegaskan desa atau yang disebut
dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan
asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, selain itu
juga terdapat tiga unsur desa, yaitu :
a) Penduduk
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami suatu
desa, yang kaitannya dengan penduduk antara lain adalah jumlah
tingkat kelahiran, tingkat kematian, persebaran penduduk,
kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, perbandingan jenis
kelamin, mata pencaharian dan struktur penduduk.
Menurut Bintarto (“Desa” dalam www.wikipedeia.org
yang diakses pada tanggal 15 November 2013), masyarakat desa
atau penduduk desa adalah sekumpulan orang yang hidup bersama
pada suatu tempat yang disebut sebagai desa dengan ikatan aturan
yang berlaku di desa tersebut, atau bisa dikatakan pula sebagai
Menurut Bintarto (“Desa” dalam www.wikipedeia.org
yang diakses pada tanggal 15 November 2013) jika dilihat dari
jenis mata pencaharian masyarakatnya, masyarakat desa dapat
digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu desa agraris, desa industri,
dan desa nelayan.
1) Desa Agraris
Desa Agraris adalah desa yang mayoritas mata pencaharian
penduduknya berasal dari sektor agraris atau pertanian. Faktor
yang menentukan terbentuknya desa agraris adalah iklim yang
berpengaruh pada kesuburan tanah.
2) Desa Industri
Desa Industri terbentuk karena sebagian besar penduduk desa
tersebut melakukan kegiatan industri kecil, terutama yang
berhubungan dengan kegiatan pertanian.
3) Desa Nelayan
Desa nelayan terbentuk dari kondisi geografis dari desa
tersebut yang berada memanjang di sepanjang pantai.
Sehingga penduduknya sebagian besar memiliki mata
pencaharian sebagai nelayan atau mereka hidup dari melaut
atau dari hasil budidaya laut dan rumput laut.
b) Wilayah
diakses pada tanggal 28 Februari 2014) wilayah diartikan sebagai
suatu permukaan yang luas yang dihuni oleh manusia yang
melakukan interaksi kegiatan dengan sumberdaya alam,
sumberdaya modal, sumberdaya teknologi, sumberdaya
kelembagaan dan sumberdaya pembangunan lainnya, untuk
mencapai tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi
masyarakat yang mempunyai batas dan ditetapkan oleh peraturan
pemerintah. Hal ini berarti suatu wilayah pedesaan memiliki
wilayah tersendiri dengan berbagai aspeknya seperti lokasi, luasan,
bentuk lahan, keadaan tanah, keadaan tata air, dan sebagainya.
Dengan kata lain wilayah pedesaan selalu berhubungan dengan
kondisi geografis suatu desa.
c) Tata Kehidupan
Tata kehidupan berkaitan dengan adat istiadat,
norma-norma yang berlaku di desa tersebut, pengaturan sistem pergaulan
warga masyarakat, dan pola-pola budaya desa tersebut (Bintarto,
“Desa” dalam www.wikipedeia.org yang diakses pada tanggal 15
November 2013).
Sejak adanya otonomi daerah di Indonesia desa memiliki
pemerintahan sendiri, artinya bahwa desa bukanlah bawahan dari
kecamatan, karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah
Hal ini berbeda dengan Kelurahan, Desa memiliki hak mengatur
wilayahnya lebih luas. Selain itu, dalam perkembangannya sebuah desa
dapat menjadi kelurahan.
Peraturan Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa
(http//www.kemendagri.com yang diakses pada tanggal 16 November
2013) mejelaskan, Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa
dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Adapun kewenangan yang dimiliki oleh Desa itu sendiri
adalah :
1) Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada
berdasarkah hak asal-usul desa.
2) Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan kabupaten atau kota yang diserahkan pengaturannya
kepada desa, yakni urusan pemerintahan yang secara langsung
dapat meningkatkan pelayanan masyarakat.
3) Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten atau kota.
4) Urusan pemerintah lainnya yang diserahkan kepada desa.
Sementara susunan pemerintah desa menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa di atas berbeda dengan
susunan pemerintah menurut Undang-undang nomor 32 tahun 2004
Tentang Pemerintahan Daerah (http//www.kemendagri.com yang
diakses pada tanggal 16 November 2013), yang menyatakan Pemerintah
desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa ( pasal 202 ayat 1).
Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya
(pasal 202 ayat 2). Dalam Undang-undang nomer 32 tahun 2004
Pemerintahan Desa, Badan permusyawaratan Desa atau sering disingkat
menjadi BPD tidak dimasukan ke dalam pemerintahan desa walaupun
memiliki fungsi yang sama yaitu menetapkan peraturan desa bersama
kepala desa dan menyalurkan aspirasi rakyat.
Kepala Desa atau Pemimpin Desa adalah pemimpin
pemerintahan tingkat terkecil di Indonesia yang memiliki masa jabatan
selama 6 tahun setelah dan mendapat satu kali perpanjangan masa
jabatan berikutnya sesuai dengan yang ada pada Peraturan Pemerintah
Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa dan Undang-undang nomer 32
tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Artinya, di dalam
pemerintahannya Kepala Desa tidak memiliki tanggung jawab terhadap
pemimpin pemerintahan tingkat kecamatan yaitu Camat, melainkan
Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 Tentang Desa
(http//www.kemendagri.com yang diakses pada tanggal 16 November
2013) menegaskan Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama
lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan desa. Kepala Desa dipilih langsung
melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) oleh penduduk desa
setempat. Adapun Syarat-syarat menjadi calon kepala desa sebagai
berikut :
1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2) Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-undang
1945 dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
3) Berpendidikan paling rendah SLTP atau sederajat.
4) Berusia paling rendah 25 tahun.
5) Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa.
6) Penduduk desa setempat.
7) Tidak pernah dihukum karena melakukan tindakan pidana
kejahatan dengan hukuman paling singkat 5 tahun.
8) Tidak dicabut hak pilihnya.
9) Belum pernah menjabat Kepala Desa paling lama 10 tahun atau
dua kali masa jabatan.
10) Memenuhi syarat lain yang diatur Peraturan Daerah atau
Kemudian wewenang yang dimiliki oleh seorang yang sedang
menjabat sebagai Kepala Desa tertulis di dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa (http//www.kemendagri.com yang
diakses pada tanggal 16 November 2013), yaitu :
1) Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa
atau disingkat BPD.
2) Mengajukan rencana peraturan desa.
3) Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan
bersama BPD.
4) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai
Anggaran pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) untuk
dibahas dan ditetapkan bersama BPD.
Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa desa adalah suatu
wilayah dalam negara Indonesia yang memiliki batas dan memiliki
masyarakat yang dilindungi oleh hukum dan terdapat adat istiadat serta
pemerintahan yang di dalamnya dipimpin oleh Kepala Desa dan dibantu
oleh Perangkat Desa serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
3. Penelitian Yang Relevan
Menurut Triasti Anggrayanti (1998:7) dalam skripsinya yang
berjudul “Perbandingan Antara Sikap Masyarakat Yang Berpendidikan
Terhadap Pemilihan Kepala Desa Buayan Kecamatan Buayan
Kabupaten Kebumen Tahun 1997” mengatakan, kepala desa adalah
kepala atau pemimpin yang diangkat oleh Bupati atau Walikota Madya
kepala daerah tingkat II atas nama Gubernur kepala daerah tinkat I dari
calon terpilih sebagai administrator pembangunan dan administrator
tingkat desa.
Menurut Triasti Anggrayanti (1998:7)“Pola Kepemimpinan
Kepala Desa Pakuncen Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga
Dalam pelaksanaan Pembangunan Periode 1994-2002”, dalam
pemilihan kepala desa, sikap masyarakat yang berpendidikan dasar
masih berpedoman pada keturunan. Mereka mengesampingkan
pendidikan si calon, sikap si calon, apalagi visi dan misi si calon, tetapi
lebih memandang siapa pendahulu si calon. Apabila pendahulunya
pernah menjadi/menjabat maka masyarakat desa yang berpendidikan
dasar akan lebih condong untuk memilihnya.
Calon Kepala desa yang diprediksi akan terpilih menjadi
kepala desa juga dapat dilihat dari rata-rata pendidikan terakhir
masyarakat desa yang memiliki hak pilih dalam pemilihan kepala desa
atau pilkades tersebut. Masyarakat dengan desa yang mayoritas
penduduknya berpendidikan rendah akan cenderung melihat calon dari
segi sejarah keluarga atau pohon keluarga dari calon kepala desa
akan pilih ketika telah terpilih menjadi Kepala Desa.
Menurut Ririn Puspitasari (2013:11) dalam skripsinya yang
berjudul Persaingan Elite Politik Dalam Pemilihan Kepala Desa (Studi
Kasus Pemilihan Kepala Desa di Desa Klapagading Wangon
Kabupaten Banyamas Tahun 2007 dan 2013) mengemukakan,
persaingan elite politik dalam pemilihan kepala desa lebih pada
persaingan kedudukan dan peran. Para calon kepala desa biasanya dari
kelas menengah keatas, sehingga persaingan elite politik tidak
berhubungan dengan persaingan ekonomi para calon kepala desa. Para
calon kepala desa tidak mengandalkan jabatan kepala desa untuk
memenuhi kebutuhan ekonominya, tetapi calon kepala desa
mencalonkan diri sebagai kepala desa untuk mendapat pengakuan dari
masyarakat sebagai orang yang memiliki kedudukan serta peranan yang
terpandang.
Penelitian yang pernah dilakukan mengenai desa dan
kepemimpinan telah banyak dilkukan dalam berbagai karya tulis dan
skripsi, tetapi penelitian yang di lakukan hanya meneliti tentang
kepemimpinan suatu wilayah dalam satu periode kepemimpinan saja, Di
dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam skripsi ini memiliki
perbedaan dari penelitian dan karya ilmiah yang pernah ada, karena
dalam skripsi ini penulis tidak hanya meneliti tentang kepemimpinan
meneliti kepemimpinan suatu wilayah dalam beberapa periode.
F. Landasan Teori dan Pendekatan
1. Teori Kepemimpinan
Pengertian kepemimpinan menurut Young (“kepemimpinan”
dalam http//www.wikipedeia.org diakses pada tanggal 17 November
2013) adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi
yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat
sesuatu yang berdasarkan penerimaan kelompoknya, dan memiliki
keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Sri Wintala Achmad (2013:23) dalam bukunya yang berjudul
“Falsafah Kepemimpinan Jawa”, Swansburg mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi aktivitas suatu
kelompok yang terorganisir dalam usaha mencapai penetapan dan
pencapaian tujuan.
Kepemimpinan yang baik itu sendiri memiliki nilai dan pola
relatif dalam persepsi masyarakat. Seperti contohnya pemimpin yang
baik menurut Orang Jawa belum tentu cocok atau baik dirasakan bagi
Orang Bali, Orang Papua, Orang Batak/Suamatra Utara dan orang dari
daerah lain diluar dari daerah Jawa. Dalam Studi kasus ini, pemimpin
yang baik adalah pemimpin yang dinilai baik oleh Orang Jawa karena
Kepemimpinan itu sendiri selalu dihubungkan dengan
falsafah-falsafah kepemimpinan. Sri Winatala Achmad (2013:67) mengemukakan
Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional adalah pencetus dari
slogan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri
handayani. Adapun penjabarannya atau pengertiannya adalah sebagai
berikut :
a) Ing ngarsa sung tuladha
Ing ngarsa sung tuladha mengandung makna bahwa seorang
pemimpin yang baik adalah selalu tampil di depan dan harus
memberikan tauladan yang baik bagi rakyatnya atau yang
dipimpinnya. Seorang pemimpin yang melakukan korupsi dan
nepotisme atau tindakan-tindakan yang tidak terpuji bakal dihujat
oleh seluruh rakyatnya atau yang dipimpinnya. Pada akhirnya,
kewibawaannya sebagai pemimpin akan hacur berantakan.
b) Ing madya mangun karsa
Memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus berada di
tengah-tengah rakyatnya untuk memberikan spirit serta motifasi agar hidup
menjadi lebih sejahtera melalui perjuangan nyata.
Disamping itu, Seorang pemimpin harus mampu memberikan
inspirasi pada seluruh rakyatnya agar termotifasi untuk
mencanangkan cita-citanya ke langit, belajar lebih giat, bekerja lebih
demikian, cita-cita bangsa didalam mewujudkan kesejahteraan di
dalam negaranya akan dapat terealisasi dengan segera.
c) Tutwuri handayani
Bermakna bahwa seorang pemimpin harus mengikuti pendapat atau
tujuan yang telah disepakati bersama. Apabila terdapat suatu kendala
yang mnghambat tujuan tersebut, maka seorang pemimpin dalam
memberikan jalan keluar atau solusi harus berdasarkan msyawarah
bersama.
Dalam Sri Winatala Achmad (2013:64), Falsafah kepemimpinan
dari Gajah Mada yang merupakan seorang patih dari kerajaan Majapahit
juga memiliki falsafah kepemimpinan, yaitu Tri Dharma yang terdiri dari
tiga dimensi (dimensi spiritual, dimensi moral, dan dimensi menejerial),
penjelasan dari Tri Dharma di atas adalah :
a) Dimensi Spiritual
Dalam dimensi spiritual, seorang pemimpin harus memiliki beberapa
prinsip utama, yaitu tenang, sabar, bijaksana, mencintai alam
semesta dan, hidup dan bersikap sederhana.
b) Dimensi Moral
Dalam dimensi moral, seorang pemimpin harus memiliki beberapa
prinsip utama, yaitu berani membela dan menegakan kebenaran serta
keadilan, memiliki sikap rendah hati, tidak pilih kasih, bersikap
mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi,
golongan, dan keluarga.
c) Dimensi Manajerial
Dalam dimensi manajerial seorang pemimpin harus memiliki
sembilan prinsip utama, yaitu Mendapat dan menjaga kepercayaan
masyarakat, setia kepada nusa dan bangsa, pandai berbicara dengan
sopan, pandai dalam berdiplomasi, strategi, dan siasat, tekun bekerja
dan mengabdi pada kepentingan umum, lapang dada dan bersedia
menerima pendapat orang lain, menguasai musuh dari dalam dan
luar, pandai menentukan prioritas utama, serta waspada dan
instrospeksi untuk melakukan perbaikan.
Seseorang akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :
a) Seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat
kepemimpinan.
b) Bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui
kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya.
c) Ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui
pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
menyangkut teori kepemimpinan.
Soerjono Soekamto (1987:267) dalam bukunya yang berjudul
“Sosiologi Suatu Pengantar Edisi Baru Ketiga” menyatakan,
Indra-brata, yama-brata, surya-brata, caci-brata, bayu-brata,
dhana-brata, paca-dhana-brata, dan agni-brata. Adapun pengertianya adalah sebagai
berikut:
a) Indra-brata, berarti dapat memberi kesenangan dalam jasmani.
b) Yama-brata, berarti dapat menunjuk pada keahlian dan kepastiah
hukum.
c) Surya-brata, berarti dapat menggerakan bawahan dengan mengajak
mereka untuk bekerja persuasion.
d) Caci-brata, berarti dapat memberi kesenangan rohaniah.
e) Bayu-brata, berarti dapat menunjukan keteguhan pendidikan dan
rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran
dari pengikut-pengikutnya.
f) Dhana-brata, berarti dapat menunjukan pada suatu sikap yang
patut untuk dihormati.
g) Paca-brata, berarti dapat menunjukan kelebihan dalam ilmu
pengetahuan, kepandaian, dan ketrampilan.
h) Agni-brata, berarti dapat sifat memberikan semangat pada anak
buah.
Kepemimpinan terbagi dalam beberapa jenis yang berbeda.
Menurut Kartini Kartono (1982:69) membagi tipe kepemimpinan
menjadi 8 (delapan) tipe, yaitu tipe kharismatis, tipe paternalistis, tipe
administratif atau eksekutif, dan tipe demokratik. Masing-masing dari
tipe pemimpin tersebut memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang
berbeda-beda antara satu tipe dengan tipe yang lain, yaitu:
a) Tipe Kharismatis
Tipe pemimpin kharismatis ini memiliki kekuatan energi,
daya-tarik dan pembawaan luar biasa untuk mempengaruhi orang
lain, sehingga ia memiliki pengikut yang sangat besar jumlahnya dan
pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang orang
tidak mengetahui sebab-sebabnya, mengapa seorang itu memiliki
jumlah pengikut yang besar. Dia dianggap memiliki kekuatan
supernatural, dan kemampuan-kemampuan superhuman, yang
diperolehnya sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Banyak
memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada
pendiriaan diri sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu
memancarkan pengaruh dan daya-tarik yang teramat besar.
b) Tipe Paternalistis
Tipe pemimpin paternalistis hanya terdapat di lingkungan
masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya adalah di masyarakat
agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional adalah rasa
hormat yang tinggi yang ditunjukan oleh para anggota masyarakat
kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini
tokoh-tokoh adat, para ulama, dan guru. Pemimpin ini sangat
mengembangkan dan mengedepankan sikap kebersamaan. Sifat-sifat
pemimpin bertipe paternalistis yaitu :
1) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum
dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
2) Bersikap terlalu melindungi.
3) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengambil keputusan sendiri.
4) Hampir tidak pernah memberi kesempatan pada bawahan untuk
berinisiatif.
5) Tidak memberikan atau hampir tidak pernah memberikan
kesempatan kepada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan kreatifitas mereka sendiri.
6) Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
c) Tipe Militeristis
Pemimpin dengan tipe ini gaya luarnya mencontoh militer. Adapun
sifat-sifat pemimpin yang militeristis yaitu :
1) Lebih banyak menggunakan sistem komando/perintah terhadap
bawahannya.
2) Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahannya.
3) Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan
4) Menuntut adanya disiplin keras dari bawahan-bawahannya.
5) Tidak menghendaki saran, usul, sugesti-sugesti, dan
kritikan-kritikan dari bawahannya.
6) Komunikasi hanya berlangsung satu arah saja.
d) Tipe Otokratis
Banyak orang memahami segi kepemimpinan otokratis
adalah pemimpin yang tergolong atau dipandang pemimpin yang
memiliki karakteristik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang
pemimpin yang otokratis adalah seseorang yang sangat egois.
Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang
menonjolkan keakuhannya, antara lain dalam bentuk:
1) Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan
alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan
demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian
tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan
kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
3) Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan
keputusan.
Karakteristik gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin
yang otokratis antara lain:
2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuhannya.
3) Bernada keras dalam memberi perintah atau instruksi.
4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya
penyimpangan oleh bawahan.
e) Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi
akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota
organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang
mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa
yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh
masing-masing anggota, dan pemimpin dengan tipe gaya kepemimpinan ini
tidak terlalu sering intervensi. Adapun karakteristik dan gaya
kepemimpinan tipe ini adalah :
1) Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif.
2) Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat
pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional,
kecuali dalam hal-hal tertentu yang menuntut keterlibatannya
langsung.
3) Status quo organisasional tidak terganggu.
4) Penumbuhkembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang
inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang
organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang
memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada
tingkat yang minimum.
f) Tipe Populistis
Tipe kepemimpinan ini selalu berpegang teguh pada
nilai-nilai masyarakat yang tradisional dankurang mempercayai dukungan
serta bantuan dari luar. Kepemimpinan jenis ini selalu
mengutamakan penghidupan (kembali) nasionalisme. Tipe
kepemimpinan ini sering dikaitkan dengan modernitas tradisional.
g) Tipe Administratif atau eksekutif
Tipe kepemimpinan ini mampu menyelenggarakan
tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya terdiri dari teknokrat
dan administratur-administratur yang yang mampu menggerakan
dinamika modernisasi dan pembangunan.
h) Tipe Demokratik
1) Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya
selaku kordinator dan integrator dari berbagai unsur dan
komponen organisasi.
2) Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun
sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka
ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa dan tidak harus
3) Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai
dengan tingkatnya.
4) Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan
menjunjung harkat dan martabat manusia.
5) Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
Setiap jabatan dan peran pasti memiliki peran yang penting
dalam organisasi, badan hukum, kelompok, dan lain-lain, begitu pula
dengan pemimpin. Pemimpin memiliki peran yang penting dalam
instansinya masing-masing. Adapun peranan seorang pemimpin yaitu :
a) Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai
pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor
konsultasi.
b) Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru
bicara.
c) Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan
gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.
Setelah membaca teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa
setiap individu/seorang pemimpin atau pimpinan dalam melaksanakan
jabatannya sebagai seorang pemimpin, kepemipinanya dapat dicirikan
dan dikategorikan berdasarkan karakter kepemimpinan yang sedang dan
atau telah dijalankannya. Hal ini dapat dibuktikan pada pemerintahan
negara memiliki karakteristik dan cerita sejarah politik yang
berbeda-beda antara suatu periode dengan periode lainnya tergantung pada
pemimpin yang sedang berkuasa. Demikian pula yang dialami oleh
wilayah yang lebih kecil dari sebuah negara yaitu pada wilayah pedesaan
pada khususnya adalah yang terjadi di Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara yang memiliki cerita sejarah pada dinamika
kepemimpinannya.
Perbedaan karakteristik dan pola kepemimpinan dari beberapa
pemimpin yang pernah memimpin atau memiliki kedudukan sebagai
pemimpin/ketua/kepala pada suatu wilayah tertentu pada periodenya
masing-masing inilah yang disebut dengan dinamika kepemimpinan.
2. Pendekatan
Pendekatan dalam suatu penelitian akan memberikan
karakteristik yang ilmiah kepada sejarah dan penggunaan berbagai
konsep disiplin ilmu yang memungkinkan dapat dilihat dari berbagai
dimensi sehingga pemahaman tantang suatu masalah baik keluasan
maupun kedalamannya akan semakin jelas. Dalam Penelitian ini, peneliti
menggunakan beberapa pendekatan dengan ilmu lain diantaranya adalah
ilmu politik dan ilmu sosiologi.
a) Ilmu Politik
Sejarah selalu dekat dengan politik, karena didalam sejarah
cara dalam setiap interaksi yang dilakukan. Sartono kartodirdjo
(148 ;1993) mengatakan “Politik adalah sejarah masa kini dan
sejarah adalah politik masa lampu.”. Dalam penelitian ini, akan
menyajikan masalah kepemimpinan, dimana kepemimpinan itu
sendiri merupakan salah satu unsur utama dalam sebuah politik,
karena ada beberapa unsur utama yang selalu dijumpai dalam
politik, yaitu otoritas, ideologi, organisasi, kepemimpinan dan
lain-lain. Penelitian ini menyajikan dinamika kepemimpinan di suatu
wilayah pada tahun 1990 hingga tahun 2013.
b) Ilmu Sosiologi
Pendekatan ilmu sosiologi digunakan karena dalam
penelitian ini mencakup konsep dan teori sosiologis yang antara lain
menyajikan mengenai struktur sosial dalam masyarakat, kelas sosial,
pola kelakuan masyarakat atau idividu dan atau interaksi sosial.
G. Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan oleh peneliti
adalah metode historis. Metode historis atau metode sejarah adalah proses
menguji dan menganalisis secara kirtis terhadap rekaman serta peninggalan
masa lampau dan menuliskan hasilnya berdasarkan fakta yang telah diperoleh
Dalam penyusunan skripsi ini, Peneliti menggunakan metode historis
yang dibagi menjadi empat kelompok kegiatan yang dilakukan yakni
heuristik, kritik atau analisis, interpretasi, dan historiografi (A. Daliman,
2012: 28-29).
1. Heuristik, yaitu kegiatan untuk mencari, menemukan dan mengumpulkan
data serta fakta. Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan beberapa sumber
dan data yang relevan, baik sumber primer maupun sekunder yang dapat
digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas. Sumber
sejarah yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sumber tertulis
dan sumber lisan. Sumber tertulis terdiri buku arsip, artikel, jurnal,
makalah, buku dan lain sebagainya yang terdapat di Kantor Desa Gelang,
Perpustakaan Desa Gelang, Perpustakaan Daerah Kabupaten
Banjarnegara serta Arsip Daerah Kabupaten Banjarnegara. Selain
menggunakan sumber tertulis, peneliti juga menggunakan sumber yang
didapat dari hasil wawancra dengan tokoh-tokoh mayarakat seperti
Kepala Desa Gelang, Mantan Kepala Desa Gelang, Perangkat Desa
Gelang, Mantan Perangkat Desa Gelang, Ulama Desa Gelang, dan
tokoh-tokoh lainnya di Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara
yang merupakan saksi hidup dan akan digunakan sebagai sumber primer.
2. Kritik atau analisis, yaitu menganalisis secara kritis sumber-sumber yang
telah diperoleh dengan menyelidiki serta menilai apakah sumber-sumber
bentuknya. Semua sumber dipilih melalui dua tahap yaitu :
a) Kritik ekstern, yaitu kritik terhadap keaslian atau otentisitas sumber
yang didapat. Kritik ini dimaksudkan untuk memperoleh kepastian
apakah sumber-sumber yang didapat memenuhi syarat-syarat untuk
digunakan sebagai sumber.
b) Kritik intern yaitu kritik terhadap sumber lisan maupun dokomen,
untuk memperoleh kredibilitas dari pernyataan-pernyataan yang
dikemukakan oleh sumber-sumber tersebut.
Kedua hal tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
apakah sumber-sumber yang telah diperoleh tersebut asli atau tiruan dan
relevan atau tidak dengan permasalahan yang peneliti kaji. Sehingga,
dapat diperoleh fakta sejarah yang otentik.
3. Interpretasi, yaitu untuk menafsirkan keterangan-keterangan sumber
secara logis dan rasional. Penafsiran atau interpretasi tidak lain dari
pencarian pengertian yang lebih luas tentang sumber yang telah
ditemukan. Tahapan penafsiran ini dilakukan dengan cara mengolah
beberapa fakta yang telah dikritisi dan merujuk kepada beberapa
referensi. Dengan menggunakan pemahaman tersebut, maka peneliti
dapat menjelaskan atau menginterpretasikan fakta sehingga menjadi
suatu rangkaian yang utuh. Setelah melalui proses yang selektif, maka
fakta-fakta tersebut dijadikan pokok pikiran sebagai kerangka dasar
4. Historiografi atau penelitian sejarah, yaitu proses penyusunan hasil
penelitian yang telah diperoleh sehingga menjadi satu kesatuan yang
utuh. Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dari metode penelitian
sejarah. Setelah sumber-sumber ditemukan, dianalisis, ditafsirkan,
kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang ilmiah sesuai dengan
kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.
H. Sistematika Penulisan
Penulisan karya skripsi ini dibagi dalam beberapa bab/sub materi
untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci agar memudahkan para
pembaca dalam memahami mengenai permasalahan yang diteliti.
Bab I , Pendahuluan. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka,
landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan pada karya
ilmiah ini.
Bab II, Kondisi Umum Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara. Bab ini berisi tentang gambaran secara garis besar dan keadaan
nyata dari Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang
meliputi keadaan geografis Desa Gelang, keadaan demografi Desa Gelang,
keadaan sosial ekonomi masyarakat Desa Gelang, sejarah Desa Gelang,
dinamika kepemimpinan Desa Gelang sebelum tahun 1990, dan pemerintahan
Bab III, Dinamika Kepemimpinan Di Desa Gelang Kecamatan Rakit
Kabupaten Banjarnegara Tahun 1990 - 2013. Dalam bab ini berisi
kepemimpinan Desa Gelang Periode 1990 - 1998, kepemimpinan Desa
Gelang 1999 - 2007, dan kepemimpinan Desa Gelang Periode 2007 - 2013.
Bab IV, Peran Kepala Desa Gelang Kecamatan Rakit Kabupaten
Banjarnegara Dalam Pembangunan Desa Tahun 1990 Sampai Tahun 2013.
Dalam bab ini berisi pembangunan Desa Gelang Periode 1990 - 1998,
pembangunan Desa Gelang Periode 1999 - 2007, dan pembangunan Desa
Gelang Periode 2007 - 2013. Selain itu, bab ini juga menyajikan analisis dari
pembangunan yang pernah dilakukan terhadap kepemimpinan di Desa Gelang
pada masing-masing periode kepamimpinan dari tahun 1990 hingga tehun
2013.
Bab V, Penutup. Merupakan bab terakhir dari semua bab yang ada
dalam skripsi ini. Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari