• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI TINGKAT PELAYANAN JALUR PEJALAN KAKI (STUDI KASUS: JALAN BRAGA BANDUNG)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI TINGKAT PELAYANAN JALUR PEJALAN KAKI (STUDI KASUS: JALAN BRAGA BANDUNG)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

289

EVALUASI TINGKAT PELAYANAN JALUR PEJALAN KAKI (STUDI KASUS: JALAN BRAGA BANDUNG)

Antono Damayanto Dosen Teknik Sipil Universitas Jenderal Achmad

Yani

Jl. Ters. Jend. Sudirman - Cimahi Indonesia

[email protected]

Gilang Rahmat Alumni Teknik Sipil Universitas Jenderal Achmad

Yani

Jl. Ters. Jend. Sudirman - Cimahi Indonesia

[email protected]

Reza Ramdhan Alumni Teknik Sipil Universitas Jenderal Achmad

Yani

Jl. Ters. Jend. Sudirman - Cimahi Indonesia

[email protected]

Abstract

One of the facilities related to human travel is a sidewalk or pedestrian path. The pedestrian path is an important facility because in addition to walking from one place to another, it's also useful for social functions, such as a meeting place and others. The research objectives were to determine the characteristics of pedestrians (current, speed, density) and to evaluate the level of service (LOS) of pedestrian path. The research method used is the Greenshields and Greenberg method. The analysis results, the Greenshields method are Qm:16.92pedestrians/m/min, Sm:1.85m2/pedestrians, Vm:31.57m/min. The Greenberg method is Qm:3.29pedestrians/m/min, Sm:3.85m2/pedestrian, Vm:12.68m/min. The level of service is based on flow and space varies between "A" to "C". While based on speed is included in the LOS "E" and "F". Considering that Jalan Braga is an area for sightseeing (speed is not a priority), it is included in the LOS category “C”.

Keywords: flow, density, speed, level of service

Abstrak

Salah satu fasilitas terkait perjalanan manusia adalah trotoar atau jalur pejalan kaki. Jalur pejalan kaki merupakan fasilitas penting karena selain untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga bermanfaat untuk fungsi sosial yaitu tempat pertemuan individu dan lainnya. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik pejalan kaki (arus, kecepatan, kepadatan), dan mengevaluasi tingkat pelayanan jalur pejalan kaki.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode Greenshields dan Greenberg. Hasil analisis menurut metode Greenshields adalah Qm: 16,92 pejalan kaki/m/min, Sm: 1,85 m2/pejalan kaki, Vm: 31,57 m/menit.

Berdasarkan metode Greenberg adalah Qm: 3,29 pejalan kaki/m/min, Sm: 3,85 m2/pejalan kaki, Vm: 12,68 m/menit. Tingkat pelayanan berdasarkan arus (flow) dan ruang (space) bervariasi antara "A" sampai "C".

Sedangkan berdasarkan kecepatan (speed) termasuk dalam tingkat pelayanan "E" dan "F". Mengingat Jalan Braga adalah kawasan untuk berjalan-jalan/ wisata (kecepatan bukan prioritas), maka termasuk kategori tingkat pelayanan “C”.

Kata Kunci: arus, kepadatan, kecepatan, tingkat pelayanan

PENDAHULUAN

Salah satu fasilitas terkait dengan perjalan manusia adalah trotoar atau jalur untuk pejalan kaki. Fasilitas ini merupakan fasilitas penting karena selain untuk orang berjalan dari satu area ke area lain, tetapi juga bermanfaat untuk fungsi sosial yaitu sebagai tempat pertemuan individu.

(2)

290

Menurut Preiser, Wolfgang, F.E. et al (1991) karakteristik pejalan kaki memiliki kesamaan dengan karakteristik pergerakan kendaraan yang saling berhubungan yaitu arus, kecepatan, dan kepadatan. Bila arus meningkat, maka laju kecepatan akan menurun. Bila lewat dari tingkat arus tertinggi (kapasitas), maka kepadatan bertambah sampai mencapai kepadatan maksimum, sehingga tidak akan ada kecepatan yang terjadi. Karakteristik pejalan kaki tersebut dipengaruhi oleh orang atau manusia. Salah satu aspek keinginan manusia merupakan aspek utama yang membentuk pola pergerakan arus pejalan kaki, dapat berjalan dengan perlahan / santai atau cepat / tergesa-gesa, atau dapat berjalan seorang diri atau berkelompok.

Jalan Braga adalah salah satu jalan yang ramai dikunjungi orang karena merupakan objek wisata kota Bandung. Berdasarkan hal ini peneliti ingin mengetahui karakteristik dan tingkat pelayanan jalur pejalan kaki di jalan tersebut dengan di evaluasi menggunakan dua metoda yaitu metode Greenshields dan metoda Greenberg.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian diharapkan dapat diselesaikan dengan baik, oleh karena itu disusun metodologi pada bagan alir berikut:

Gambar 1. Metodologi Penelitian

(3)

291

PEMBAHASAN

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Jl Braga di Kota Bandung.

Gambar 2. Lokasi Penelitian

Potongan Melintang Jalur Pejalan Kaki

Di Jalan Braga terdapat dua jenis potongan melintang jalur pejalan kaki sebagai berikut:

Gambar 3. Potongan Melintang Jalur Pejalan Kaki

Arus, Kecepatan, dan Tingkat Kepadatan Pejalan kaki 1. Arus (flow) pejalan kaki

Berdasarkan hasil survey dan berdasarkan pengolahan data, maka jumlah pejalan kaki dari dua arah pada lebar efektif jalur pejalan kaki yang terkecil (1,3 meter) pada waktu puncak adalah 32 pejalan kaki dalam interval waktu 5 menit. Sehingga di dapat arus pejalan kaki rata-rata adalah: 4,92 pejalan kaki/m/menit

2. Kecepatan (speed) pejalan kaki

Kecepatan pejalan kaki pada jam puncak dihitung dengan menggunakan rumus

Ruas studi

(4)

292

𝑣 =𝑙

𝑡= 600

𝑡 (1)

Dengan, l: Jarak (m) dan t: Waktu (menit)

di dapat kecepatan pejalan kaki rata-rata adalah 61,33 m/menit

3. Tingkat Kepadatan (density) pejalan kaki

Tingkat kepadatan pejalan kaki dihitung menggunakan rumus:

D

= 𝑄

𝑉𝑠 (2)

Dengan, Vs: kecepatan rata-rata pejalan kaki ; Q: arus pejalan kaki (flow) Didapat 0,08 pejalan kaki/m2.

4. Ruang (space) untuk pejalan kaki

Nilai ruang pejalan kaki dihitung dengan rumus:

𝑆 = 𝑉𝑠

𝑄 = 1

𝐷

(3)

Dengan, D: kepadatan (pejalan kaki/m2); S: ruang pejalan kaki (m2/pejalan kaki) Dan didapat nilai ruang adalah 12,46 m2 / pejalan kaki

Metoda Greenshields

1. Hubungan Kecepatan (Vs) dengan Kepadatan (D)

Gambar 4 berikut menunjukkan bila kepadatan semakin tinggi, maka semakin rendah kecepatannya artinya pejalan kaki memiliki ruang yang semakin kecil / sempit.

Demikian juga sebaliknya.

Persamaan: Vs = 63,15 – 58,94 D (4)

Gambar 4. Hubungan Kecepatan (Vs) dengan Kepadatan (D)

(5)

293

2. Hubungan Arus (Q) dengan Kepadatan (D)

Gambar 5. Hubungan Arus (Q) dengan Kepadatan (D)

Gambar 5 menunjukkan hubungan arus dengan kepadatan pejalan kaki. Terlihat peningkatan arus pejalan kaki akan menyebabkan kepadatan bertambah. Tetapi pada suatu tingkat arus tertentu kepadatan tidak bertambah, tetapi akan menurun, karena ruang gerak semakin sempit.

Persamaan: Q = 63,15 D – 58,94 D2 (5)

3. Hubungan Arus (Q) dengan Kecepatan (Vs)

Gambar 6. Hubungan Arus (Q) dengan Kecepatan (Vs)

Gambar 6 menunjukkan hubungan arus dengan kecepatan. Bila terjadi peningkatan arus pejalan kaki, maka menyebabkan kecepatan semakin berkurang sampai titik maksimum.

Selanjutnya penambahan pejalan kaki akan menyebabkan kecepatan semakin turun sampai satu titik tidak terjadi pergerakan (kondisi macet total).

Persamaan: Q = 1,071Vs – 0.017 Vs2 ≈ X = 1,071 Y – 0.017 Y2 (6)

(6)

294

4. Berdasarkan metoda Greenshields karakteristik jalur pejalan kaki pada kondisi maksimum adalah:

 Kecepatan maksimum (Vm) adalah 31,57 m/min

 Arus maksimum (Qm) adalah 16,92 pejalan kaki/m/min

 Kepadatan maksimum (D) adalah 0,54 pejalan kaki/m2

 Ruang maksimum (Sm) adalah 1,85 m2/pejalan kaki

Metoda Greenberg

1. Hubungan Kecepatan (Vs) dengan Kepadatan (D)

Gambar 7. Hubungan Kecepatan (Vs) dengan Kepadatan (D)

Gambar 7 menunjukkan bila kepadatan semakin tinggi maka semakin rendah kecepatan artinya pejalan kaki memiliki ruang yang semakin kecil / sempit. Demikian juga sebaliknya.

Persamaan: Vs = 44,44 – 12.68 lnD (8)

2. Hubungan Arus (Q) dengan Kepadatan (D)

Gambar 8. Hubungan Arus (Q) dengan Kepadatan (D)

Gambar 8 menunjukkan hubungan arus dengan kepadatan pejalan kaki. Terlihat peningkatan arus pejalan kaki akan menyebabkan kepadatan bertambah. Tetapi pada

(7)

295

suatu tingkat arus tertentu kepadatan tidak bertambah, tetapi akan menurun, karena ruang gerak semakin sempit.

Persamaan: Q = 44,44 D – 12,68 lnD2 (9)

3. Hubungan Arus (Q) dengan Kecepatan (Vs)

Gambar 9. Hubungan Arus (Q) dengan Kecepatan (Vs)

Gambar 9 menunjukkan hubungan arus dengan kecepatan. Bila terjadi peningkatan arus pejalan kaki, maka menyebabkan kecepatan semakin berkurang sampai titik maksimum.

Selanjutnya penambahan pejalan kaki akan menyebabkan kecepatan semakin turun sampai satu titik tidak terjadi pergerakan (kondisi macet total).

Persamaan: 𝐶 = 0,7043Vs.e-Vs/0,079 (10)

4. Berdasarkan metoda Greenberg karakteristik jalur pejalan kaki pada kondisi maksimum adalah:

 Kecepatan maksimum (Vm) adalah 12,68 m/min

 Arus Maksimum Qmax adalah 3,29 pejalan kaki/m/min

 Kepadatan maksimum (D) adalah 0,26 pejalan kaki/m2

 Ruang Maksimum (Sm) adalah 3,85 m2/pejalan kaki Tingkat Pelayanan Jalur Pejalan Kaki

Standar tingkat pelayanan jalur pejalan kaki di lihat pada tabel 1 berikut. Standar tingkat layanan ini menunjukkan keterkaitan tingkat pelayanan dengan nilai yang didapat dari ruang, kecepatan dan arus pejalan kaki di Jalan Braga. Semakin tinggi tingkat pelayanan maka dapat dikatakan semakin baik jalur pejalan kaki tersebut. Standar tingkat pelayanan jalur pejalan kaki dapat dilihat pada tabel 1.

Hasil analisis tingkat pelayanan dengan menggunakan pendekatan rata-rata terlihat pada tabel 2 dan hasil analisis tingkat pelayanan dengan metoda Greenshields dan Greenberg terlihat pada pada tabel 3.

(8)

296

Tabel 1. Standar Tingkat Pelayanan Jalur Pejalan Kaki

Sumber : Third Edition 1994 Highway Capacity Manual Special Report 209

Tabel 2. Hasil Evaluasi Berdasarkan Nilai Rata-rata Uraian Tingkat Pelayanan

Kecepatan rata-rata (V) E

Arus rata-rata (Q) A

Ruang rata-rata (S) A

Tabel 3. Hasil Evaluasi Berdasarkan Metoda Greenshields dan Greenberg

Uraian Tingkat Pelayanan

Greenshields Greenberg

Kecepatan maksimum (Vm) E F

Arus Maksimum (Qm) B A

Ruang maksimum (Sm) C B

Tabel 3 diatas menunjukan berdasarkan metoda Greenshields dan Metoda Greenberg, tingkat pelayanan jalur pejalan kaki di Jl. Braga pada waktu puncak adalah “C”. Kecepatan tidak menjadi prioritas penilaian, karena meskipun kecepatan mendapat nilai rendah, tetapi jalan Braga merupakan daerah untuk orang berjalan-jalan / wisata, sehingga pejalan kaki cenderung tidak berjalan dengan cepat.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan:

a. Kondisi existing Jalan Braga – Bandung :

 Lebar jalur pejalan kaki, yaitu 2,5 – 3 m

 Pada jalur pejalan kaki terdapat pot tanaman, tiang listrik, kursi taman, pohon, lampu penerangan, bollard serta barang toko dan pedagang kaki lima setempat yang mengambil lahan jalur pejalan kaki.

 Jalur efektif yang terkecil adalah 1,3 m

b. Karakteristik pejalan kaki di jalur pejalan kaki di Jalan Braga Kota Bandung sebagai berikut :

1) Berdasarkan metoda Greenshields

 Kepadatan maksimum (Dm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 0,54 pejalan kaki/m2

(9)

297

 Kecepatan maksimum (Vm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 31,57 m/min

 Arus maksimum (Qm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 16,92 pejalan kaki/menit/m

 Ruang (Sm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 1,85 m2/pejalan kaki 2) Berdasarkan Greenberg

 Kepadatan maksimum (Dm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 0,26 pejalan kaki/m2

 Kecepatan maksimum (Vm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 12,68 m/min

 Arus maksimum (Qm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 3,29 pejalan kaki/menit/m

 Ruang (Sm) pada jalur pejalan kaki Jalan Braga adalah 3,85 m2/pejalan kaki.

c. Tingkat pelayanan (LOS) jalur pejalan kaki pada waktu puncak adalah:

Berdasarkan kecepatan, jalur pejalan kaki termasuk kategori ”E” dan ”F”, tetapi berdasarkan arus, dan ruang kategori bervariasi. Mengingat Jalan Braga merupakan kawasan objek wisata kota Bandung, maka kecepatan tidak sebagai prioritas penilaian dan dapat dikatakan berdasarkan metoda Greenshiels dan metoda Greenberg bahwa tingkat pelayanan jalur pejalan kaki di Jl Braga adalah termasuk kategori ”C”

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pekerjaan Umum. 1991. Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki

Departemen Pekerjaan Umum. 1990. Petunjuk Perencanaan Trotoar No.007/T/BNKT.

Jakarta

Gumelar, Rendy. 2011. Studi Evaluasi Pelayanan Pedestrian Pada Jalan Urip Sumuharjo – Panglima Sudirman.Tugas Akhir, Universitas Pembangunan Nasional. Surabaya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. 2014. Pedoman Perencanaan, Penyediaan, Dan

Pemanfaatan Prasarana Dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan No.03/PRT/M/2014. Jakarta

Nugroho, Julianto Eko. 2010. Hubungan Antara Kecepatan, Volume Dan Kepadatan Lalu Lintas Ruas Jalan Siliwangi Semarang

National Research Council. Third Edition 1994. Highway Capacity Manual Special Report 209. Washington D.C

Suryawan, I Kadek Edy Wira. Negara, I. N. Widana. Wikrama, A.A.N.A Jaya. 2010.

Pemilihan Model Hubungan Antara Volume, Kecepatan, Dan Kerapatan Jalan Dalam Kota. Universitas Udayana. Bali

Mannering. Fred L. Washburn. Scott S. 2013. Princple Of Highway Engineering And Traffic Analysis Fifth Edition. Australia

Preiser, Wolfgang F.E et.al. 1991. Design Intervention, Toward a More Humane Architecture. New York: Van Nostrand Reinhold.

Gambar

Gambar 1. Metodologi Penelitian
Gambar 2. Lokasi Penelitian
Gambar 4 berikut menunjukkan bila kepadatan semakin tinggi, maka semakin rendah  kecepatannya  artinya  pejalan  kaki  memiliki  ruang  yang  semakin  kecil  /  sempit
Gambar 5. Hubungan Arus (Q) dengan Kepadatan (D)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting jalur pejalan kaki, mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pejalan kaki tidak bersedia menggunakan

Penulisan Laporan Tugas Akhir dengan judul “Evaluasi Pelayanan Fasilitas Pejalan Kaki (Studi Kasus : Trotoar Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta)” disusun guna melengkapi

Tingkat kenyamanan intrinsik jalur pejalan kaki di Jalan Slamet Riyadi Surakarta dapat dilakukan dengan analisis pemodelan spasial metode berjenjang, yang

Tingkat pelayanan jalur pejalan kaki pada Jalan MT Haryono memiliki nilai rata-rata 0,104 yang berada pada kategorikan LOS B, dimana tingkat pelayanan tertinggi

pejalan kaki yang memotong jalur lalu lintas berupa penyeberangan ( zebra cross ), marka jalan dengan lampu pengatur lalu lintas ( pelican cross ), jembatan penyeberangan

Terlepas dari barang dagangan yang didagangkan, kondisi lingkungan sekitar jalur pejalan kaki juga akan mempengaruhi pejalan kaki untuk tetap melewati jalur tersebut seperti

Tingkat kenyamanan intrinsik jalur pejalan kaki di Jalan Slamet Riyadi Surakarta dapat dilakukan dengan analisis pemodelan spasial metode berjenjang, yang

Untuk karakteristik jalur pejalan kaki, lebar jalur pejalan kaki yang ada tidak sesuai dengan lebar minimal yang ditetapkan, dan banyaknya pedagang kaki lima yang menggunakan