• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS CPUE DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN PROVINSI SUMATERA UTARA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS CPUE DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN PROVINSI SUMATERA UTARA SKRIPSI"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

BELAWAN PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

DESNITA AYU 150302009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(2)

BELAWAN PROVINSI SUMATERA UTARA

DESNITA AYU 150302009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(3)

BELAWAN PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

DESNITA AYU 150302009

Skripsi sebagai Salah Satu diantara Beberapa Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas

Pertanian, Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(4)
(5)

Saya yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Desnita Ayu

NIM : 150302009

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis CPUE dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Provinsi Sumatera Utara” adalah benar merupakan hasil karya

saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.

Medan, Oktober 2019

Desnita Ayu 150302009

(6)

DESNITA AYU. Analisis CPUE dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Provinsi Sumatera Utara. Dibawah bimbingan AMANATUL FADHILAH, S.Pi., M.Si.

Salah satu hasil perikanan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan adalah Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis). Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan diminati oleh masyarakat. Dengan banyaknya peminat ikan tersebut mengakibatkan penambahan jumlah upaya penangkapan yang dianggap dapat mengurangi populasi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di perairan Belawan, terutama jika penangkapan dilakukan setiap saat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai Catch Per Unit Effort (CPUE), tingkat pemanfaatan dan pengupayaan, serta menentukan status keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2019. Metode yang digunakan adalah metode surplus produksi dan metode MDS (Multi Dimensional Scaling) . Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata CPUE pada alat tangkap pukat cincin sebesar 0,0863 ton/trip, alat tangkap jaring insang sebesar 0,11 ton/trip, alat tangkap pancing sebesar 0,07 ton/trip. Pendugaan potensi dengan model Schaefer menunjukkan MSY sebesar 535,009 ton/tahun dan effort optimum 5102,66 trip/tahun. Rata-rata tingkat pemanfaatan sebesar 95,50 % dan rata-rata tingkat pengupayaan sebesar 107,94 %, sedangkan tangkapan yang diperbolehkan 428,007 ton/tahun. Status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dimensi ekologi dan kelembagaan berada dalam kategori cukup berkelanjutan, dimensi sosial berada dalam kategori kurang berkelanjutan, dimensi ekonomi dan teknologi berada dalam kategori tidak berkelanjutan.

Kata Kunci : Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis), Catch Per Unit Effort (CPUE), tingkat pemanfaatan, analisis keberlanjutan, PPS Belawan.

(7)

DESNITA AYU. CPUE Analysis and Utilization Rate of Komo Tuna (Euthynnus affinis) at Belawan Ocean Fisheries Port, North Sumatra Province. Under the guidance of AMANATUL FADHILAH, S.Pi., M.Si.

One of the fishery products in the Belawan Ocean Fisheries Port is the Komo Tuna (Euthynnus affinis). Komo Tuna (Euthynnus affinis) is a type of consumption fish that has high economic value and is in demand by the community.

With the large number of fish enthusiasts resulting in an increase in the number of fishing efforts that are considered to be able to reduce the population of Komo Tuna (Euthynnus affinis) in Belawan waters, especially while catching is done at any time. The purpose of this study was to determine the value of Catch Per Unit Effort (CPUE), the level of utilization and effort, and the sustainability status of Komo Tuna (Euthynnus affinis) fish resources in Belawan Ocean Fisheries Port. This study was conducted in May to June 2019. This study used the production surplus method and the MDS (Multi Dimensional Scaling) method. The results showed the average value of CPUE in trawl gear was 0.0863 tons/trip, gill net was 0.11 tons/trip, fishing gear was 0.07 tons/trip. Estimating the potential with the Schaefer model shows MSY of 535,009 tons/year and optimum effort 5102.66 trips/year.

The average utilization rate is 95.50 % and the average utilization rate is 107.94 %, while the allowable catch is 428,007 tons/year. Sustainability status of Komo (Euthynnus affinis) Tuna Fish ecological and institutional dimensions are in the moderately sustainable category, the social dimension is in the less sustainable category, the economic and technological dimensions are in the unsustainable category.

Keywords : Komo Tuna (Euthynnus affinis), Catch Per Unit Effort (CPUE), utilization rate, sustainability analysis, Belawan PPS.

(8)

Penulis bernama Desnita Ayu lahir di Sigli pada tanggal 05 Desember 1997 yang merupakan putri dari Bapak Hariyanto dan Ibu Eliana. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Pendidikan formal penulis ditempuh di SD N 064959 Medan (2003-2009), SMP N 3 Medan (2009- 2012), SMA N 6 Medan (2012-2015). Pada tahun 2015 penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universutas Sumatera Utara melalui Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.

Selama menjalankan perkuliahan, penulis aktif sebagai Asisten Laboratorium Biologi Perikanan (2017). Penulis juga melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Tematik pada tahun 2018 yang ditempatkan di Desa Silalahi I Kecamatan Silahisabungan Kabupaten Dairi. Kemudian pada tahun 2019 penulis mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di UPT. Pusat Pembenihan Ikan (Puspik) Kerasaan Provinsi Sumatera Utara.

(9)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis CPUE dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Provinsi Sumatera Utara”, yang merupakan tugas akhir dalam menyelesaikan studi S1 pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada kedua orangtua saya yaitu Bapak Hariyanto dan Ibu Eliana yang penuh pengorbanan dalam membesarkan dan mendidik dengan curahan kasih sayang, serta memberikan do’a yang tak henti kepada penulis selama mengikuti pendidikan hingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta saudara saya Ricky Ardiyanto dan Muhammad Azie terima kasih atas do’a, dukungan moril maupun material yang diberikan selama ini.

Penyelesaian skripsi ini tidak mungkin tercapai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada Ibu Amanatul Fadhilah, S.Pi, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, dukungan dan ilmu yang berharga bagi penulis. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Bapak Rizky Febriansyah, S.Pi., M.Si selaku sekretaris Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan kepada

(10)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara. Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yang telah memberikan kesempatan dan izin kepada penulis untuk pengambilan data dalam melakukan penelitian.

Terimakasih juga kepada seluruh teman-teman MSP 2015 yang selalu memberikan dukungan dan bantuannya. Teman-teman seperjuangan yang setia baik suka maupun duka Tia Angraini, Loventia, Nathania Sitompul, Nina Puspita Sari, Satria, M. Bayu Prastama Manurung, Ronald Prayogo, Vicky Sya’Aidil, Dwiki Utama, dan Khairunnisa Sembiring, Dina Juniyanti yang turut serta dalam membantu penyelesaian skripsi.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Sumberdaya Perairan.

Medan, Oktober 2019

Penulis

(11)

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Rumusan Masalah ... 3

Kerangka Pemikiran ... 3

Tujuan Penelitian ... 6

Manfaat Penelitian ... 6

TINJAUAN PUSTAKA Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 7

Habitat dan Distribusi Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 9

Purse Seine ... 9

Gill Net (Jaring Insang) ... 11

Pancing Ulur ... 13

Model Surplus Produksi ... 15

Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan... 16

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berkelanjutan ... 18

Aspek Ekologi ... 19

Aspek Ekonomi ... 20

Aspek Sosial... 21

Aspek Teknologi ... 22

Aspek Kelembagaan ... 23

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 25

Alat dan Bahan Penelitian ... 25

Prosedur Penelitian ... 26

Pengumpulan Data .. ... 26

Analisis Data ... 27

a. Hasil Tangkapan per Upaya Penangkapan (CPUE) .. ... 27

(12)

e. Analisis Status Keberlanjutan... 31 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ... 35 Pembahasan ... 60 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 83 Saran ... 83 DAFTAR PUSTAKA

(13)

No. Teks Halaman

1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 5

2. Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 7

3. Hubungan antar Komponen dalam Segitiga Keberlanjutan ... 18

4. Peta Lokasi Penelitian... 25

5. Ilustrasi Indeks Keberlanjutan Setiap Dimensi Sumberdaya Ikan Tongkol Komo ... 34

6. Grafik Produksi Sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 35

7. Grafik Produksi Setiap Alat Tangkap Sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 36

8. Effort Sumberdaya Ikan Tongkol Komo tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 36

9. Regresi Linier antara Effort dengan CPUE Ikan Tongkol Komo (Model Schaefer) ... 38

10. Regresi Linier antara Effort dengan CPUE Ikan Tongkol Komo (Model Fox) ... 39

11. Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Effort Optimum Ikan Tongkol Komo (Model Schaefer) ... 40

12. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 43

13. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo . 47

14. Hasil Analisis Laverage Dimensi Ekologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 48

15. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo . 50

(14)

17. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan

berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo ... 52 18. Hasil Analisis Laverage Dimensi Sosial Ikan Tongkol Komo

(Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 53 19. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Teknologi Ikan Tongkol

Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera

Belawan berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo . 55 20. Hasil Analisis Laverage Dimensi Teknologi Ikan Tongkol

Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera

Belawan ... 56 21. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan Ikan Tongkol

Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera

Belawan berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo . 57 22. Hasil Analisis Laverage Dimensi Kelembagaan Ikan Tongkol

Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera

Belawan ... 58 23. Analisis Multidimensi Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan

Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan

Samudera Belawan ... 59

(15)

No. Teks Halaman 1. Kategori status keberlanjutan ikan Tongkol Komo

(Euthynnus affinis) ... 34 2. Nilai CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan

di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan... 37 3. Pendugaan Potensi Lestari dengan Metode Surplus Produksi ... 40 4. Kondisi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 42 5. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Ikan Tongkol

Komo (Euthynnus affinis) ... 43 6. Total Allowble Catch Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 43 7. Hasil Uji Ketepatan MDS pada Setiap Dimensi Sumberdaya Ikan

Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 45 8. Perbandingan Nilai Indeks Keberlanjutan Analisis MDS dengan

Analisis Monte Carlo ... 46

(16)

No. Teks Halaman

1. Kuisioner... 90

2. Atribut Rapfish... 97

3. Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dari Tahun 2014-2018 ... 102

4. Jumlah Trip dari Tahun 2014-2018 ... 102

5. Pendugaan Potensi dengan Metode Surplus Produksi menggunakan model Schaefer ... 102

6. Alat Penelitian ... 103

7. Bahan Penelitian ... 104

8. Peralatan Operasi Penangkapan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ... 105

9. Kondisi Kegiatan di PPS Belawan ... 106

10. Wawancara ... 107

11. Data Responden Nelayan ... 108

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor perikanan, khususnya perikanan tangkap, memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan nasional. Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berbasiskan pada sumberdaya alam dan termasuk sumberdaya yang dapat terbarukan (renewable resources). Dalam faktanya eksploitasi terhadap sumberdaya perikanan dalam kegiatan perikanan tangkap sangat tinggi, sehingga menyebabkan pemulihan akan sumberdaya perikanan mengalami kendala selain dari faktor biologis ikan itu sendiri. Sifat dari sumberdaya perikanan yang merupakan common property dan open access dapat menyebabkan stok sumberdaya perikanan di Indonesia terancam eksploitasi yang berlebihan karena siapa pun dapat memanfaatkannya, serta dapat menyebabkan stok sumberdaya ikan berkurang drastis dalam jangka pendek bahkan mungkin bisa habis (Cahyono, 2014).

Salah satu basis perikanan tangkap di Indonesia terutama di wilayah Sumatera Utara ialah Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. PPS Belawan merupakan pelabuhan dengan standar sebagai Pelabuhan Perikanan Samudera, menjadi pelabuhan yang cukup ramai dikunjungi kapal-kapal perikanan yang akan mendaratkan ikan di daerah Timur Sumatera Utara. Kapal yang mendaratkan ikan di PPS Belawan biasanya melakukan penangkapan di daerah Selat Malaka dan sekitarnya (Oliveira, 2016).

Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan merupakan pelabuhan terbesar di Sumatera Utara, dimana pelabuhan ini sebagai tempat bagi nelayan untuk mendaratkan hasil perikanan. Salah satu hasil perikanan di PPS Belawan adalah

(18)

Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis). Ikan tersebut adalah salah satu komoditas yang jumlah produksinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yaitu pada tahun 2017 jumlah produksinya sebesar 461,6 ton dan pada tahun 2018 jumlah produksinya meningkat sebesar 544,33 ton dengan menggunakan alat tangkap purse seine, gill net dan pancing. Semakin meningkatnya jumlah produksi sumberdaya ikan tersebut, mengakibatkan semakin meningkatnya pemanfaatan terhadap Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis).

Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan diminati oleh masyarakat. Dengan banyaknya peminat ikan tersebut, maka permintaan pasar semakin tinggi yang akan mengakibatkan upaya penangkapan meningkat. Penambahan jumlah upaya penangkapan akan menimbulkan penangkapan lebih (overfishing). Apabila terus terjadi peningkatan jumlah penangkapan maka pada suatu saat akan terjadi penurunan stok di perairan. Oleh karena itu, perlu adanya kajian tentang tingkat pemanfaatan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dan status keberlanjutan dalam dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan yang terdapat di wilayah PPS Belawan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan pelagis khususnya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis), serta perlu dilakukan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan sesuai informasi dan kondisi yang ada di PPS Belawan. Pengelolaan perikanan berkelanjutan bermanfaat untuk menjamin ketersediaan stok dan kelestarian sumberdaya Ikan Tongkol Komo di perairan sehingga dapat dimanfaatkan di masa yang akan datang.

(19)

Rumusan Masalah

Ikan Tongkol Komo adalah salah satu ikan dominan yang tertangkap di PPS Belawan dan hasil produksi ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di PPS Belawan semakin meningkat dari tahun ke tahunnya. Apabila produksi tersebut terus meningkat tanpa adanya aturan penangkapan akan mengakibatkan penurunan stok ikan di perairan. Hal yang perlu dilakukan untuk menjaga sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) agar tetap lestari yaitu perlu dilakukan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan tersebut. Oleh karena itu, untuk

melakukan upaya pengelolaan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) perlu dilakukan dugaan Catch Per Unit Effoert (CPUE)

sumberdaya perikanan yang dapat memberi gambaran mengenai tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan disuatu wilayah dan dapat dilakukan secara berkelanjutan baik secara ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah yang dapat diambil adalah :

1. Bagaimana nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan?

2. Bagaimana tingkat pemanfaatan dan pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan?

3. Bagaimana status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan?

Kerangka Pemikiran

Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan merupakan pelabuhan terbesar di Sumatera Utara, dimana pelabuhan ini sebagai tempat bagi nelayan untuk

(20)

mendaratkan hasil perikanan. Salah satu hasil perikanan yang didaratkan adalah Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis). Usaha penangkapan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) menggunakan beberapa alat tangkap, diantaranya purse seine, gill net, dan pancing.

Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) termasuk ikan pelagis yang diminati oleh masyarakat. Dengan banyaknya peminat ikan tersebut, maka permintaan pasar semakin tinggi yang akan mengakibatkan upaya penangkapan meningkat. Oleh karena itu, perlu dilakukan Analisis CPUE dan Tingkat Pemanfaatan yang akan menunjukkan apakah penangkapan Ikan Tongkol Komo berada pada status Overfishing atau Underfishing. Dari hasil tangkapan Ikan Tongkol Komo yang telah diperoleh, diolah menggunakan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dengan cara melakukan wawancara langsung dengan masyarakat nelayan dengan panduan kuisioner, dari data kuisioner dilakukan analisis keberlanjutan berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berupa keadaan umum Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, hasil tangkapan, upaya penangkapan dan data produksi tahunan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) diambil selama periode 5 tahun terakhir (2014-2018). Dari data tersebut, kemudian dilakukan analisis penangkapan berupa CPUE, MSY, TPC, TAC.

Dari hasil analisis yang diperoleh, maka dapat diketahui tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang digunakan untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) bagi seluruh masyarakat dengan memperhatikan kelestarian

(21)

dan keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tersebut baik secara ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Penelitian Alat Penangkapan Ikan (Purse seine, Gill net, Pancing)

Data Sekunder

 Keadaan Umum PPS Belawan

 Hasil Tangkapan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

 Upaya Penangkapan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Data Primer

 Wawancara Langsung dengan panduan Kuisioner

Hasil Tangkapan

Pengelolaan Berkelanjutan Ikan Tongkol Komo

(Euthynnus affinis)

Analisis Keberlanjutan

 Dimensi Ekologi

 Dimensi Ekonomi

 Dimensi Sosial

 Dimensi Teknologi

 Dimensi Kelembagaan

Analisis Produksi

 Analisis CPUE

 Analisis MSY

 Analisis TPC

 Analisis TAC

(22)

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.

2. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan dan pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.

3. Untuk mengetahui status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera

Belawan.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai rekomendasi pengelolaan penangkapan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan serta sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(23)

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Gambar 2. Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) Sumber : Putri (2015)

Klasifikasi ikan Tongkol Komo menurut Saanin (1984), adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Teleostei Ordo : Perciformes Family : Scrombidae Genus : Euthynnus Spesies : Euthynnus affinis

Ikan tongkol (Euthynnus affinis) adalah ikan pelagis yang membentuk gerombolan, perenang cepat, dan pemakan daging (carnivore). Nama ikan tongkol dalam perdagangan internasional dikenal dengan kawakawa atau Eastern little tuna yang termasuk ke dalam family Scombridae (Chodrijah et al., 2013).

(24)

Ikan tongkol mempunyai ciri-ciri yakni tubuh berukuran sedang, memanjang seperti torpedo, mempunyai dua sirip punggung yang dipisahkan oleh celah sempit. Sirip punggung pertama diikuti oleh celah sempit, sirip punggung kedua diikuti oleh 8-10 sirip tambahan. Ikan tongkol tidak memiliki gelembung renang. Warna tubuh pada bagian punggung ikan ini adalah gelap kebiruan dan pada sisi badan dan perut berwarna putih keperakan (Oktaviani, 2008).

Ikan tongkol merupakan ikan pelagis yang mendiami perairan neritik dengan temperatur berkisar 18-29°C yang cenderung membentuk gerombolan multispesies berdasarkan ukurannya, yaitu dengan Thunnus albacares, Katsuwonus pelamis, Auxis sp., dan Megalaspis cordyla (Carangidae), yang terdiri dari 100 sampai lebih dari 5000 spesies. Ikan Tongkol yang ditemukan sepanjang tahun secara seksual mengalami matang gonad, tetapi ada puncak pemijahan musiman yang bervariasi. Puncak pemijahan ikan Tongkol di Indonesia terjadi pada bulan Agustus-Oktober. Ikan Tongkol bermigrasi luas di perairan tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasitif. Bagian Barat Samudera Pasifik, spesies ini didistribusikan di sepanjang benua Asia dari Malaysia Timur

Laut melalui daratan Cina, Taiwan dan ke Selatan Jepang (Khuldiyati, 2017).

Ikan Tongkol Komo jenis ikan pelagis yang hidup di perairan dengan kedalaman <200 m. Ikan ini umumnya ditemukan di perairan dekat pulau dan banyak ditemukan di perairan sekitar pulau-pulau oseanik bersuhu hangat.

Keberadaan sumberdaya ikan pelagis sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan (kondisi oseanografi dan ketersediaan makanan) sehingga kelimpahan sangat berfluktuasi di suatu perairan. Perubahan suhu perairan yang sangat kecil

(25)

(0,02°C) dapat menyebabkan perubahan densitas populasi ikan di perairan tersebut (Amri et al., 2018).

Habitat dan Distribusi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Ikan Tongkol mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas yaitu pada perairan pantai dan oseanik. Kondisi oseanografi yang mempengaruhi migrasi ikan tongkol yaitu suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut dan ketersediaan makanan. Ikan Tongkol pada umumnya menyenangi perairan panas dan hidup di lapisan permukaan sampai pada kedalaman 40 m dengan kisaran optimum antara 20-28°C (Oktaviani, 2008).

Ikan tongkol banyak dijumpai, terutama di perairan yang terhubung langsung dengan laut terbuka, yaitu lautan Pasifik dan Hindia. Selama bulan Juni sampai Agustus dalam setahun, ikan tongkol dewasa berkumpul didekat pantai di perairan yang memiliki salinitas 20%-26% untuk melakukan proses pemijahan.

Ikan tongkol memakan ikan-ikan yang berukuran kecil, seperti ikan pelagis, teri, dan cumi-cumi (Suwamba, 2008).

Purse Seine

Purse seine atau pukat cincin merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan pelagis yang memiliki tingkah laku hidup berkelompok dalam ukuran besar, baik di daerah perairan pantai maupun lepas pantai. Pukat cincin adalah alat tangkap berbentuk empat persegi panjang, yang keseluruhan bagian utamanya terbuat dari bahan jaring, di mana terbentuknya kantong terjadi pada saat dioperasikan. Pengoperasian alat tangkap ini dengan cara melingkarkan gerombolan ikan dengan jaring dan setelah ikan terkurung jaring kemudian ditarik. Dalam operasinya posisi pelampung dan tali ris atas berada di permukaan,

(26)

sementara pemberat, cincin menggantung di bagian bawah jaring, dan berada di dalam laut. Melalui cincin-cincin ini terpasang tali kolor (purse line) yang bila ditarik menjadikan bagian bawah jaring menutup, sehingga bentuk jaring secara keseluruhan menyerupai mangkuk besar. Rancang bangun dan konstruksi dari pukat cincin secara teknis mempengaruhi kecepatan tenggelam badan jaring,

kecepatan melingkarkan jaring serta kecepatan penarikan tali kolor (Ismy et al., 2013).

Konstruksi purse seine menggunakan jaring yang terbuat dari bahan polyamide (PA) multifilament dengan ukuran panjang jaring 420 meter dan lebar 45 meter dengan ukuran mesh size sebesar 1 inci. Menggunakan 3 jenis pelampung yang digunakan pada alat tangkap purse seine. Pelampung pertama merupakan pelampung tanda yang di turunkan pertama kali setting dilakukan.

Pelampung tersebut berbentuk bola terbuat dari bahan sintetis agar dapat bertahan lama. Pelampung kedua terbuat dari bahan plastik berbentuk bola. Pelampung ketiga terbuat dari plastik, ditutupi dengan gabus, dan berbentuk elips. Perbedaan pelampung disebabkan pelampung berbentuk bola yang terbuat dari bahan plastik cenderung mudah rusak atau pecah ketika terbentur oleh dinding kapal saat pengoperasian purse seine. Pemberat yang digunakan pada alat tangkap purse seine terbuat dari bahan timah berbentuk cincin. Pada umumnya penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine dilakukan pada malam hari, akan tetapi ada juga purse seine yang dioperasikan pada siang hari (Mirnawati et al., 2019).

Purse seine (jaring cincin, jaring kolor) digolongkan dalam jenis jarang lingkar yang cara operasinya adalah dengan melingkarkan jaring pada suatu kelompok ikan di suatu perairan, kemudian ditarik ke kapal. Alat ini merupakan

(27)

jaring lingkar yang telah mengalami perkembangan setelah beach seine (jaring tarik pantai) dan ring net. Disebut pukat cincin, karena alat ini dilengkapi dengan cincin dan juga termasuk didalamnya tali cincin dan tali kerut/tali kotor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada saat akhir penangkapan. Penangkapan dengan purse seine memperlihatkan beberapa faktor yaitu pencarian kelompok ikan, pengepungan gerombolan ikan, dan pengoperaisan jaring. Apabila kelompok ikan telah ditemukan maka kapal segera melakukan pengejaran. Pada saat melakukan pengejaran diusahakan agar kelompok ikan berada di sebelah kanan kapal. Sebelum jaring diturunkan harus diperhitungkan juga arah angin, arah arus dan arah renang kelompok ikan. Hal yang sangat menguntungkan bila pada waktu penebaran jaring arah angin dan arus saling berlawanan (Genisa, 1998).

Gill Net (Jaring Insang)

Jaring insang merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh para nelayan, mulai dari jaring insang lingkar, jaring insang dasar, dan jaring insang permukaan yang dioperasikan di rumpon pada waktu malam hari dengan bantuan cahaya lampu. Usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang sudah bukan merupakan teknologi yang baru bagi para nelayan, hal ini disebabkan karena bahannya lebih mudah diperoleh, secara teknis mudah dioperasikan, secara ekonomis bisa dijangkau oleh nelayan, dan lebih selektif terhadap ukuran ikan yang tertangkap (Tawari, 2013).

Satu unit jaring insang hanyut terdiri dari jaring, pelampung, pemberat, tali ris atas (tali pelampung), tali ris bawah (tali pemberat), pemberat (batu) dan

(28)

pelampung tanda yang dilengkapi dengan lampu. Jaring yang digunakan pada alat tangkap setiap piece memiliki panjang 32 meter dan lebar 2 meter dengan mesh size 1 1/4 dan 1,5 inci (Lisdawati et al., 2016).

Jaring ini terdiri dari satuan-satuan jaring yang biasa disebut tint-ing (piece). Dalam operasi penangkapannya biasanya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu perangkat (unit) yang panjang (300- 500 m), tergantung dari banyaknya tinting yang akan dioperasikan.

Jaring insang termasuk alat tangkap selektif, besar mata jaring dapat disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Dilihat dari cara pengoperasiannya alat tangkap ini biasa dihanyutkan (drift gill-net), dilabuh (set gill-net) dan dilingkarkan (encir-cling gill-net) (Genisa, 1998).

Pengoperasian jaring insang hanyut dilakukan pada malam hari. Nelayan berangkat dari fishing base pada sore hari menuju fishing ground. Setelah sampai di fishing ground, pertama yang dilakukan adalah menurunkan pelampung tanda yang diikuti dengan penurunan jaring (setting) yang memakan waktu 15 – 30 menit. Setelah semua jaring diturunkan, maka dalam rentang waktu 30 menit dilakukan pemeriksaan jaring dan mengambil ikan hasil tangkapan jika ada yang terjerat (hauling). Daerah pengoperasian jaring insang hanyut berada pada jarak tempuh dari fishing base ke fishing ground 15-30 menit dengan kedalaman perairan antara 18 – 25 meter (Lisdawati et al., 2016).

Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap Jaring Insang Hanyut umumnya dilakukan pada waktu malam hari terutama pada saat gelap bulan. Dalam satu malam bila bulan gelap penuh operasi penangkapan atau penurunan alat dapat dilakukan sampai dua kali karena dalam sekali penurunan

(29)

alat, gill net didiamkan terpasang dalam perairan sampai kira-kira selam 3-5 jam.

Syarat-syarat daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net adalah bukan daerah alur pelayaran umum,arus arahnya beraturan dan paling kuat sekitar 4 knots serta dasar perairan tidak berkarang (Murniati, 2011).

Pancing Ulur

Pancing Ulur merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang sering digunakan oleh nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pancing ulur (hand line) adalah alat penangkap ikan jenis pancing yang paling sederhana.

Struktur utamanya terdiri dari pancing, tali pancing dan pemberat atau umpan.

Daerah penangkapan ikan (fishing ground) untuk mengoperasikan pancing ulur cukup terbuka dan bervariasi karena pancing ulur dapat dioperasikan disekitar permukaan sampai dengan di dasar perairan, disekitar perairan pantai maupun di laut dalam (Shiddiq, 2018).

Pancing ulur memiliki tujuh komponen yaitu penggulung, tali utama, tali cabang, pemberat, swivel, mata pancing dan umpan. Penggulung terbuat dari bahan kayu atau plastik berbentuk bulat atau persegi panjang. Tali utama terbuat dari bahan senar bernomor 100-150, sedangkan tali cabang terbuat dari senar bernomor 50-90. Pemberat terbuat dari bahan timah yang memiliki berat antara 0,5-2 kilogram. Swivel terbuat dari bahan stainless steel dan berfungsi agar tali pancing tidak terbelit saat dioperasikan. Mata pancing terbuat dari bahan alumunium, untuk ukuran nomor mata pancing disesuiakan dengan ikan sasaran.

Umpan yang digunakan terbuat dari serat kain sutra dan pecahan compact disk (Wahyuningrum et al., 2012).

(30)

Sebelum melakukan pengoperasian abk terlebih dahulu mencari umpan hidup untuk melakukan penangkapan pancing ulur umpan sangat mempengaruhi pengoperasian, pengoperasian akan terganggu jika umpan susah untuk dicari adapun jenis-jenis umpan yang digunakan ialah. Dalam melakukan penurunan tidak sembarangan melemparkan alat tangkap saja, terlebih dahulu kita melihat pancing yang berada disekitar kita agar tidak terjadinya kawin pancing atau terbelit,sesudah itu barulah kita melemparkan alat tangkap pancing ulur dengan melemparkan pemberat terlebih dahulu hingga kejauhan 10 meter dari kapal hingga menunggu pemberat tenggelam jauh, barulah kita lepaskan umpan, semua ini bertujuan agar umpan tidak mati setibanya kedalam yang diinginkan, panjang alat tangkap yang diturunkan yaitu 60-80 meter tergantung informasi dari kapal sekitar yang sudah dapat, sesudah dilemparkan tali alat tangkap diikatkan ditepi kapal dengan tali rapia halus, agar kita tau ikan sudah tertangkap atau belum, jika ikan sudah tertangkap maka tali rapia itu akan putus karena sentakkan ikan-ikan target, penurunan alat dilakukan pada pukul 19.00-06.00, alat tangkap yang sudah di turunkan akan dinaikan untuk mengecek umpan, pengecekan biasanya di lakukan 1-2 jam sesudah alat diturunkan (Mulyadi et al., 2014).

Menurut Guntara (2017), hasil tangkapan pada alat tangkap pancing ulur yaitu ikan selar (Selaroides leptolepis), serai (Caranx rotteri), layur (Trichiurus lepturus), kembung jantan (Rastrelliger kanagurta), kembung betina (Rastrelliger branchysoma), barakuda (Sphyraena barracuda), tuna sirip kuning (Thunnus albacares), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kakap (Lutjanus campechannus), dan pepetek (leiognathus equulus).

(31)

Model Surplus Produksi

Model Produksi Surplus adalah untuk menentukan tingkat upaya optimum, yaitu suatu upaya yang dapat menghasilkan suatu hasil tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi produktivitas stok secara jangka panjang yaitu hasil tangkapan maksimum lestar” (Maximum Sustainable Yield/MSY). Teori yang mendasari model produksi surplus telah dikaji ulang oleh banyak penulis, misalnya Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983), dan Pauly (1984) (Nurhayati, 2013).

Metode ini digunakan dalam perhitungan potensi lestari maksimum (MSY) dan upaya penangkapan optimum dengan cara menganalisa hubungan upaya penangkapan (E) dengan hasil tangkap per satuan upaya (CPUE). Metode ini menggambarkan stok ikan (sediaan) sebelumnya dan dapat juga meramalkan yang akan datang beradasarkan data hasil tangkapan ikan dan unit upaya penangkapan. Suatu stoke diamggap sebuah gumpalan besar biomassa dan sama sekali tidak berpedoman atas umur dan ukuran panjang ikan dengan pertimbangan bahwa jumlah biomassa stok tetap dan adanya aktivitas usaha perikanan, maka dapat diduga bahwa semakin banyak jumlah kapal (effort) akan semakin kecil bagian masing-masing kapal (Sultan, 2004).

Pada Model Surplus Produksi, digunakan analisa regresi linier dengan dua variabel, yaitu variabel bebas (jumlah alat) dan variabel tak bebas adalah CPUE.

Secara alamiah hubungan antara hasil tangkapan (Catch = C) dengan upaya penangkapan (Effort = E) merupakan persamaan parabola (Sandria et al., 2014).

Analisis surplus produksi juga dapat menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch/TAC) dan tingkat pemanfaatan

(32)

sumberdaya ikan (TP). Besarnya TAC biasanya dihitung berdasarkan nilai tangkapan maksimum lestari atau MSY (Maximum Sustainable Yield) suatu sumberdaya perikanan yang perhitungannya didasarkan atas berbagai pendekatan atau metode (Perdanamihardja, 2011).

Studi potensi lestari dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan disuatu perairan sangat penting untuk mengontrol dan memantau tingkat eksploitasi penangkapan ikan yang dilakukan terhadap sumberdaya diperairan tersebut. Hal ini ditempuh sebagai tindakan guna mencegah terjadinya kepunahan sumberdaya akibat tingkat eksploitasi yang berlebih serta mendorong terciptanya kegiatan operasi penangkapan ikan dengan tingkat efektifitas yang tinggi tanpa merusak kelestarian sumberdaya ikan tersebut (Nugraha et al., 2012).

Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Suastra (2018), pengelolaan perikanan dapat dilakukan dengan mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan terlebih dahulu. Tingkat pemanfaatan adalah persentase dari jumlah ikan yang ditangkap terhadap estimasi potensi sumberdaya ikan tersebut. Tingkat pemanfaatan dikatakan rendah apabila proporsi kurang dari 50%. Apabila proporsi tingkat pemanfaatan lebih dari 50% dan hampir mendekati 100% maka tingkat pemanfaatan dikatakan penuh. Sedangkan bila proporsi tingkat pemanfaatan lebih dari 100% disebut dengan tingkat pemanfaatan lebih.

Pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan (lestari) harus segera diterapkan pada sumberdaya yang statusnya sudah fully exploited. Apabila hal ini diabaikan, sumberdaya perikanan akan menjadi lebih tangkap (over exploited) bahkan turun drastis karena tidak terkontrolnya tingkat eksploitasi yang

(33)

melebihi daya dukung sumberdaya perikanan tersebut. Jika aktivitas penangkapan dilakukan dengan tidak hati-hati dan walaupun jumlahnya tidak melebihi daya dukung suatu sumberdaya perikanan, maka aktivitas penangkapan tersebut akan membahayakan kemampuan sumberdaya perikanan dalam memperbaharui diri (Simbolon et al., 2011).

Konsep yang mendasari upaya pengelolaan adalah bahwa pemanfaatan sumberdaya harus didasarkan pada sistem dan kapasitas daya dukung (carrying capacity) alamiahnya. Besar kecilnya hasil tangkapan tergantung pada jumlah stok alami yang tersedia di perairan dan kemampuan alamiah dari habitat untuk menghasilkan biomass ikan. Oleh karena itu, upaya pengelolaan diawali dengan pengkajian stok, agar potensi stok alaminya dapat diketahui. Pada saat yang sama juga dilakukan pemantauan terhadap upaya penangkapan, terutama untuk memantau apakah sudah terjadi eksploitasi yang berlebih, dengan melihat hasil tangkapan per upaya (CPUE) dan ukuran yang tertangkap pada alat tangkap yang digunakan (Hariyanto et al., 2008).

Adanya penambahan upaya penangkapan yang tidak diikuti oleh peningkatan jumlah hasil tangkapan akan mengakibatkan penurunan CPUE.

Menurunnya CPUE tersebut merupakan indikator bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan ini sudah tinggi. Faktor dominan yang menyebabkan tidak stabilnya upaya penangkapan antara lain permintaan dan harga ikan di

pasaran, faktor cuaca, modal, kondisi nelayan, dan kapal itu sendiri (Nugraha et al., 2012).

(34)

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berkelanjutan

Pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan adalah pengelolaan yang mengarah kepada bagaimana sumberdaya ikan yang ada saat ini mampu memenuhi kebutuhan sekarang dan kebutuhan generasi yang akan datang, dimana aspek keberlanjutan harus meliputi aspek ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan institusi (Amna, 2014).

Hubungan berbagai komponen keberlanjutan dapat digambarkan dalam bentuk segitiga keberlanjutan yang meliputi keberlanjutan ekologi, sosio- ekonomi, dan komunitas sebagai komponen dasar, dan komponen kelembagaan yang berinteraksi dengan ketiganya serta menopang tingkat keberlanjutan ketiga komponen dasar tersebut (Nur, 2011).

Gambar 3. Hubungan antar komponen dalam segitiga keberlanjutan.

(Sumber : Nur, 2011)

Pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan tidak melarang aktifitas penangkapan yang bersifat ekonomi/komersial, tetapi menganjurkan dengan persyaratan bahwa tingkat pemanfaatan tidak melampaui daya dukung (carrying

(35)

capacity) lingkungan perairan atau kemampuan pulih sumberdaya ikan, sehingga generasi mendatang tetap memiliki aset sumberdaya alam yang sama atau lebih banyak dari generasi saat ini. Suatu pengelolaan dikatakan berkelanjutan apabila kegiatan tersebut dapat mencapai tiga tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu berkelanjutan secara ekologi, sosial-budaya dan ekonomi (Amna, 2014).

Menurut Mulyana et al (2012), salah satu alternatif pendekatan sederhana yang dapat digunakan untuk evaluasi status keberlanjutan perikanan adalah RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries), yaitu suatu teknik multi-diciplinary rapid appraisal terbaru untuk mengevaluasi comparative sustainability dari perikanan berdasarkan sejumlah besar atribut yang mudah diskoring. RAPFISH adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability perikanan secara multidisipliner.

Dimensi Ekologi

Keberlanjutan perikanan tangkap berdasarkan aspek ekologi merupakan bagian penting dari pembangunan perikanan tangkap. Status keberlanjutan perikanan tangkap secara ekologi diperlukan upaya agar dalam pengelolaannya tidak terjadi pemanfaatan yang melebihi ketersediaan dan daya dukung sumberdaya ikan yang ada di suatu perairan (Abdullah et al., 2011).

Atribut dalam dimensi ekologi merupakan perpaduan antara jaminan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dalam arti mencegah terjadinya pengurasan stok, perhatian yang lebih luas terhadap upaya memelihara basis sumberdaya, spesies non komersil dan biodiversitas secara keseluruhan sebagai

(36)

pilihan masa depan, dan tugas mendasar untuk memelihara resiliensi dan kesehatan ekosistem (Nur, 2011).

Pengukuran keberlanjutan perikanan tangkap pada dimensi ekologi menurut analisis RAPFISH ditentukan menurut beberapa indikator keberlanjutan secara ekologi yang menurut RAPFISH Group UBC (2005) disebut sebagai atribut. Penentuan atribut pada dimensi ekologi ini dilakukan dengan mengacu pada indikator yang digunakan dalam RAPFISH pada dimensi ekologi dan disesuaikan dengan kondisi aktual kegiatan perikanan tangkap di lokasi penelitian (Abdullah et al., 2011).

Dimensi Ekonomi

Dimensi ekonomi merupakan cerminan dapat atau tidaknya suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap memperoleh hasil yang secara

ekonomis dapat berjalan dalam jangka panjang dan berkelanjutan (Hartono et al., 2005).

Keberlanjutan ekonomi yaitu suatu kondisi dimana sistem usaha perikanan tangkap mampu memelihara atau meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, yaitu (nelayan dan mereka yang terlibat dalam kegiatan industri perikanan tangkap), secara adil dan berkelanjutan. Atribut dalam dimensi ekonomi merupakan ukuran seberapa baik kesejahteraan ekonomi dipelihara dan ditingkatkan berdasarkan perpaduan indikator sosial dan ekonomi yang relevan, yang meliputi aspek keuntungan yang berkelanjutan. Dalam dimensi ini setiap atribut biasanya diukur pada tingkat individu yang kemudian diagregatkan dalam sistem perikanan (Nur, 2011).

(37)

Aspek keberlanjutan ekonomi ini dapat dijadikan salah satu dasar untuk melihat status keberlanjutan suatu kawasan perairan sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan atau keberlanjutan perikanan tangkap di kawasan tersebut (Nababan et al., 2008).

Dimensi Sosial

Dirnensi sosial merupakan cerminan dari bagairnana sistern sosial rnanusia (rnasyarakat perikanan tangkap) yang terjadi dan berlangsung dapat/tidak dapat rnendukung berlangsungnya pembangunan perikanan tangkap dalarn jangka panjang dan secara berkelanjutan (Hartono et al., 2005).

Dukungan LSM merupakan suatu potensi yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan dengan melakukan kegiatan positif seperti membentuk kelompok tani dalam rangka pengelolaan waduk. Kelompok tersebut dapat berupa kelompok tani nelayan, kelompok pemerhati lingkungan yang bisa diajak untuk melaksanakan reboisasi hutan, dan lain-lain. Selanjutnya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan, pembinaan, pembentukan kelompok/paguyuban, pembuatan kerja sama, pendampingan, dan memberikan bantuan dalam pengelolaan (Widiyati dan Bengen, 2012).

Tingkat pendidikan menjadi isu dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Indonesia, karena tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan. Pencapaian pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk menilai kemajuan suatu masyarakat. Masyarakat yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap informasi-informasi kemajuan peradaban, sehingga dapat menigkatkan kualitas penduduk daerah yang bersangkutan. Pendidikan juga mempunyai korelasi yang kuat dengan berbagai

(38)

aspek social ekonomi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang kuat dengan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Partisipasi keluarga perlu ditingkatkan agar para nelayan tidak hanya mengandalkan sumber pendapatan keluarga dari tangkapan ikan namun dari bentuk lainnya, misalnya nilai tambah dari produk perikanan (Nababan et al., 2007).

Dimensi Teknologi

Dimensi teknologi merupakan cerminan dari derajat pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dengan menggunakan suatu teknologi. Teknologi yang baik adalah teknologi yang semakin dapat mendukung dalam jangka panjang dan seeara berkesinambungan setiap kegiatan ekonomi dalam sektor perikanan tangkap (Hartono et al., 2005).

Atribut penggunaan alat bantu penangkapan (FADS) dan selektifitas alat tangkap merupakan atribut yang paling dominan berpengaruh terhadap nili atau status kebrlanjutan kegiatan perikanan skala kecil dari dimensi teknologi. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan alat bantu penangkapan (FADS) menjadi isu internasional yang dianggap dapat mengancam kelestarian sumberdaya ikan di perairan yang berkembang sejak konferensi internasional tentang FADS di Martinique, Prancis pada tahun 1999 dan berdasarkan pada ketentuan perikanan

yang bertanggung jawab (CCRF) yang dikeluarkan FAO pada tahun 1995 (Nababan et al., 2007).

(39)

Dimensi Kelembagaan

Atribut kelembagan merupakan ukuran seberapa tepat kebutuhan finansial teralokasikan, serta seberapa baik kapasitas administrasi dan organisasi dalam jangka waktu yang panjang. Kedua hal tersebut merupakan prasyarat bagi terwujudnya keberlanjutan pada dimensi lainnya, dimana atribut ini diarahkan untuk mengukur kemampuan manajemen dan kemampuan penegakan aturan (Charles, 2001).

Keberlanjutan kelembagaan adalah suatu kondisi dimana semua pranata kelembagaan (institutional arrangements) yang terkait dengan sistem perikanan tangkap (seperti pelabuhan perikanan, pemasok sarana produksi, pengolah dan pemasar hasil tangkapan, dan lembaga keuangan) dapat berfungsi secara baik dan benar serta berkelanjutan. Pengambilan kebijakan terhadap pengelolaan sumberdaya, dengan prinsip keberpihakan terhadap masyarakat (nelayan) adalah hal yang utama. Pengaturan dan pengalokasian sumber daya secara efisien dan merata akan sangat menentukan keberhasilan program (Nur, 2011).

Kelembagaan lokal seperti koperasi dan kelompok masyarakat/nelayan mesti terus diberdayakan dan ditingkatkan peranannya agar mampu memberikan daya guna bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Lembaga ini merupakan lembaga ekonomi yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat lokal dan disesuaikan dengan kearifan lokal (Adam, 2012).

Ketersediaan personil pemerintah yang menentukan namun penegak hukum dan pengawas lokal menjadi masyarakat nelayan ikut terlibat dengan salah satu faktor kunci agar pengelolaan mengetahui permasalahan yang sedang sumberdaya perikanan dapat berjalan dari sisi dimensi hukum-kelembagaan.

(40)

Selain itu, diperoleh ukuran ikan sesuai dengan kebijakan untuk dapat menjaga keberlanjutan usaha perikanan dari dimensi hukum-kelembagaan diarahkan untuk melibatkan para nelayan dalam penentuan kebijakan dan meningkatkan peran dari keberadaan tokoh masyarakat lokal. Demokrasi dalam penentuan kebijakan sangat diperlukan yaitu keterlibatan para nelayan sebagai salah satu stakeholder agar kebijakan-kebijakan yang telah dibuat tidak lagi menyimpang terhadap pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Efektifitas kebijakan yang dibuat oleh pemerintah bagaimanapun juga tergantung pada responsif dukungan dari masyarakat, dimana dukungan terhadap kebijakan muncul dari bawah yaitu nelayan itu sendiri (bottom up). Sehingga keberlanjutan perikanan tangkap bukan semuanya lagi pemerintah yang menentukan namun masyarakat nelayan ikut terlibat (Nababan et al., 2007).

Keberhasilan sistem perikanan ditinjau dari keberhasilannya mengelola sifat dari pemanfaatan sektor perikanan yang open access, pengawasan atas- bawah, dan kemampuan masyarakat miskin untuk ikut memantau dan menerapkan peraturan, atau kepatuhan pada konsensus. Kesuksesan sistem berkisar dari kerja sama antar kelompok masyarakat, pengawasan pemerintah yang kuat terhadap berbagai bentuk perizinan, dan juga sistem kelembagaan yang memberikan insetif untuk masing-masing pelaku (Adam, 2016).

Upaya untuk meningkatkan status keberlanjutan secara keseluruhan tidak akan dicapai tanpa memberi perhatian pada pemeliharaan dan peningkatan kebutuhan finansial, serta kapasitas administrasi dan organisasi dalam jangka panjang. Namun demikian aspek ini seringkali diabaikan dan lebih berfokus pada aspek biologi, sosial dan ekonomi (Nur, 2011).

(41)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2019 di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, Jalan Gabion No. 20 Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis terletak pada posisi koordinat 03º 47’ 00” LU dan 98” 42” BT. Peta lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta administrasi kawasan Medan Belawan, data kuisioner, laptop, kamera digital, alat tulis, Ms.

Excel dan Aplikasi Rapfish.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series hasil tangkapan, upaya penangkapan dan alat tangkap tahun 2014-2018.

(42)

Prosedur Penelitian Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung ke nelayan, pihak pemerintah, LSM dan pakar perikanan dengan bantuan kuisioner. Penentuan banyaknya jumlah responden nelayan dilakukan dengan metode Stratified Random Sampling.

Untuk menentukan besarnya jumlah responden, peneliti menggunakan rumus Slovin (Setiawan, 2007) adalah sebagai berikut :

n = N 1 + N e2 Dimana:

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

e = tingkat kesalahan yang ditolerir dalam pengambilan sample sebesar 10%

Dengan rumus tersebut, jumlah populasi yaitu sebesar 334 nelayan maka jumlah sampel yang akan dijadikan responden penelitian adalah:

n = 1975

1 + 1975 (0,1)2 n = 95 responden

Jumlah responden yang digunakan sebanyak 95 nelayan, dan dilakukan wawancara mendalam terhadap 5 responden yang berasal dari 2 pihak pemerintah, 1 LSM dan 2 pakar perikanan. Data yang dihasilkan dari kuisioner tersebut kemudian diolah menggunakan aplikasi Rapfish.

(43)

Data sekunder meliputi data yang diperoleh dari buku statistik perikanan dan kelautan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Sumatera Utara yaitu data hasil tangkapan dan upaya tangkap Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) 5 tahun terakhir dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Data sekunder diolah dengan menggunakan Microsoft Excel.

Analisis Data

Pengolahan data primer menggunakan aplikasi Rapfish untuk mengetahui status keberlanjutan sumberdaya ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.

Status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo dilihat dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan.

Pengolahan data sekunder menggunakan Microsoft Excel dengan model Schaefer dan Fox. Model Schaefer dan Fox merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah effort, untuk mengetahui potensi lestari dan effort optimum terhadap sumberdaya ikan pelagis di PPS Belawan, kemudian dilihat tingkat pemanfaatan, pengupayaan dan tangkapan yang diperbolehkan.

Hasil Tangkapan per Upaya Tangkapan (Catch per Unit Effort)

Produktivitas suatu alat tangkap dapat diduga dengan melihat hubungan antara hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan (effort) disebut dengan CPUE. Dalam penelitian ini data catch adalah data hasil tangkapan ikan Tongkol Komo dari alat tangkap dan upaya penangkapan (effort) berupa jumlah trip.

Persamaan untuk mencari nilai CPUE adalah sebagai berikut (Gulland, 1983) :

(44)

CPUE = Ct

ft

Keterangan :

CPUE = Catch per Unit Effort

Ct = Hasil tangkapan pada tahun ke-i (ton) ft = Upaya penangkapan pada tahun ke-i (trip)

Selanjutnya dilakukan pengolahan data melalui pendekatan Model schaefer dan model fox. Model ini merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah effort. Untuk mengetahui potensi maksimum Lestari (MSY) dan Effot optimum (Fopt) terhadap ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Analisa dilakukan menggunakan Microsoft Excel 2010.

Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (Fopt)

Menurut Suastra (2018), Penggunaan model produksi surplus bertujuan untuk mengetahui hasil tangkapan maksimum lestari yang biasa disebut dengan Maximum Sustainable Yield (MSY) dan upaya optimum penangkapan ikan.

Model produksi surplus yang digunakan pada penelitian ini adalah model Schaefer (1954) dan model Fox (1970).

Model Schaefer

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah :

Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah :

C = af + b(f)2 …………..

(45)

Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah :

Model Fox

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah

Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah

Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah :

Keterangan :

C : Jumlah hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (ton/trip) a : Intercept

b : Slope

f : Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i fopt : Upaya penangkapan optimal (trip)

MSY : Nilai potensi maksimum lestari (ton/tahun)

Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Pendugaan tingkat pemanfaatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Tongkol Komo di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Menurut Taeran (2007), untuk menentukan tingkat

C = f exp (a + b (f))………

Fopt = exp a-1

MSY = MSY =

(46)

pemanfaatan setiap jenis ikan pelagis ekonomis penting dihitung dengan cara mempresentasikan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (MSY).

Rumus dari tingkat pemanfaatan adalah :

Keterangan :

TPc : Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) Ci : Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i (ton) MSY : Maximum Sustainable Yield (ton)

Pendugaan tingkat pengupayaan dilakukan untuk mengetahui tingkat upaya tangkap sumberdaya ikan Tongkol Komo di PPS Belawan. Pendugaan dilakukan dengan mempresentasikan effort standar pada tahun tertentu dengan nilai effort optimal (fopt).

Persamaan dari tingkat pengupayaan adalah :

Keterangan :

TPf : Tingkat pengupayaan pada tahun ke-i (%) fs : effort standar pada tahun ke-i (trip) fopt : Upaya penangkapan optimum (ton/tahun) Tangkapan yang Diperbolehkan (TAC)

Jumlah Tangkapan yang Diperboleh (JTB) atau Total Allowabel Catch (TAC) sebesar 80 % dari jumlah hasil tangkapan masksimum berkelanjutan (Maximum Sustainable Yield), jika JTB<MSY berarti upaya penangkapan ikan

TPc =

TPf =

(47)

belum melebihi batas stok lestari yang ada pada perairan, sehingga upaya penangkapan ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal tetapi tetap berdasar pada batas MSY yang telah diperhitungkan, sedangkan JTB>MSY berarti sudah terjadi over fishing, sehingga perlu adanya pengurangan terhadap

upaya penangkapan untuk mengembalikan stok lestari ikan di perairan (Fitriana et al., 2016).

Menurut Budiasih dan Dewi (2015), Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dapat dilihat dari jumlah produksi ikan pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai TAC (Total Allowable Catch) atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan.

TAC (Total Allowable Catch) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestarinya (CMSY). Rumus jumlah tangkapan yang diperbolehkan yaitu :

TAC = 80% x MSY Keterangan :

TAC : Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (kg/thn) MSY : Maximum Suistainable Yield (kg)

Analisis Status Keberlanjutan

Mulyana et al (2012), bahwa salah satu alternatif pendekatan sederhana yang dapat digunakan untuk evaluasi status keberlanjutan perikanan adalah RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries), yaitu suatu teknik multi-diciplinary rapid appraisal terbaru untuk mengevaluasi comparative sustainability dari perikanan berdasarkan sejumlah besar atribut yang mudah diskoring. RAPFISH adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability perikanan secara multidisipliner.

(48)

Analisis keberlanjutan dengan teknik RAPFISH ini dimulai dengan me- review yaitu dengan melihat referensi dari jurnal kemudian mendiskusikan kembali bersama pakar bidang perikanan, mengidentifikasi dan mendefinisikan atribut perikanan yang digunakan. Setelah itu dilakukan penilaian (scoring) perikanan yang dianalisis. Penilaian (scoring) didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan dalam teknik RAPFISH. Data hasil scoring diproses dengan Software RAPFISH yang dipautkan (add-ins) pada MS-Excel. Sesuai masukan hasil skor atribut yang tersusun dalam matriks 'RapScores’ dalam bentuk lembaran kerja perangkat lunak MS-Excel (Mulyana et al., 2012).

Identifikasi dan Penentuan Atribut 5 Dimensi

Mulyana et al (2012), bahwa dimensi dalam RAPFISH menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial, dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan sustainability.

Menurut Abdullah (2011), bahwa pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung di lokasi penelitian dan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) terstuktur. Daftar pertanyaan yang diajukan mengarah pada seluruh data dan informasi mengenai kegiatan usaha perikanan.

Proses Ordinasi Multidimensional Scaling (MDS)

Rapfish merupakan salah satu metode dalam menganalisis keberlanjutan perikanan dan termasuk baru dalam penerapan multidimentional scaling di bidang perikanan. Metode Rapfish pada dasarnya menggunakan pendekatan Multi Dimentional Scaling (MDS). Analisis multidimensi ini untuk menentukan titik- titik dalam Rapfish yang dikaji relatif terhadap dua titik yang menjadi acuan. Titik yang menjadi acuan tersebut adalah baik (good) dan buruk (bad), dimana ada titik

(49)

ekstrem good dan titik ekstrem bad. Metode MDS merupakan salah satu metode ordinasi pada ruang (dimensi) yang diperkecil. Ordinasi suatu obyek pengamatan yang diukur dengan menggunakan banyak variabel sulit dilihat secara visual mengingat bahwa posisi obyek di dalam ruang berdimensi lebih dari 3 tidak mungkin digambarkan (Nababan et al., 2007).

Analisis Monte Carlo

Prosedur dalam ordinasi Rapfish yang terakhir adalah analisis Monte Carlo. Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), bahwa tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut; b) Pengaruh variasi pemberian skor; 3) Stabilitas proses analisis MDS yang dilakukan berulang; dan d) Kesalahan pemasukan atau hilangnya data (missing data). Nilai stress yang dapat diperbolehkan adalah apabila berada dibawah nilai 0,25 (menunjukan analisis sudah cukup baik). Sedangkan nilai R² di harapkan mendekati nilai 1 (100%) yang berarti bahwa atibut-atribut yang terpilih saat ini dapat menjelaskan mendekati 100% dari model yang ada.

Analisis Sensitivitas

Nababan et al (2008), bahwa analisis sensitivitas atau analisis leverage dilakukan terhadap atribut-atribut pada masing-masing dimensi. Perhitungan dilakukan dengan metode stepwise yaitu dengan membuang setiap atribut secara berurutan satu persatu kemudian menghitung berapa nilai error atau Root Mean Square (RMS) tersebut dibandingkan dengan RMS yang dihasilkan pada saat seluruh atribut dimasukkan.

Skala Indeks Keberlanjutan

Nilai indeks kebertanjutan perikanan skala kecil pada metode Rapfish diketahui mempunyai nilai bad (buruk) sampai good (baik) dalam selang 0-100.

(50)

Penentuan status kebertanjutan perikanan tangkap skala kecil dibagi menjadi beberapa kategori atau status, yaitu dengan membagi empat selang 0-100 tersebut.

Selang indeks keberlanjutan tersebut yaitu selang 0-25 dalam status buruk, selang 26-50 dalam status kurang, selang 51-75 dalam status cukup dan selang 76-100 dalam status baik (Nababan et al., 2008).

Tabel 1. Kategori status keberlanjutan ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Nilai Indeks Kategori

0 – 25 Buruk (Bad)

26 – 50 Kurang

51 – 75 Cukup

76 – 100 Baik (Good)

Sumber : Amna, 2014

Menurut Amna (2014), bahwa analisis ordinasi ini juga dapat digunakan hanya untuk satu dimensi saja dengan memasukkan semua atribut dari dimensi yang dimaksud. Hasil analisis akan mencerminkan seberapa jauh status keberlanjutan antar dimensi dapat dilakukan dan divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram) seperti dalam gambar 5.

Gambar 5. Ilustrasi indeks keberlanjutan setiap dimensi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Sumber : Amna, 2014).

(51)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Pendugaan potensi sumberdaya ikan yang diolah dengan menggunakan data produksi dan upaya penangkapan yang dilakukan setiap tahunnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2014-2018). Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tahun 2014-2018 dan produksi dari setiap alat tangkap tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat pada Gambar 6 dan Gambar 7.

Gambar 6. Grafik Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) Tahun 2014- 2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan jumlah produksi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) pada tahun 2014-2018, produksi tertinggi terdapat pada tahun 2016 yaitu sebesar 619,8 ton dan produksi terendah terdapat pada tahun 2014 yaitu sebesar 366 ton.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Penelitian Alat Penangkapan Ikan (Purse seine, Gill net, Pancing)
Gambar 2. Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)  Sumber : Putri (2015)
Gambar 3. Hubungan antar komponen dalam segitiga keberlanjutan.
Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini diperkuat oleh Anjani (2010), yang menyatakan bahwa Analisis hubungan panjang berat ikan tongkol (A. thazard) yang pernah dilakukan di Cilauteureun Jawa Barat

tahun 1994 - 1998 diperoleh dari Pelabuhan Perilca~lali Nusantara Cilacap. Nilai potensi leslari (khxinittn~ Su.s/crinc/hle I'ield. IMSI')

Laju mortalitas total (Z) ikan Kembung 2,564 per tahun dengan laju mortalitas alami (M) 1,249 per tahun dan laju mortalitas penangkapan (F) 1,315 per tahun sehingga diperoleh

Perkiraan laju kematian alami (M) tongkol komo di Perairan Barat Sumatera sebesar 1,07 cenderung lebih tinggi dari pada lokasi lainnya di Samudera Hindia, kecuali di

Hasil analisis mennjukkan bahwa rata-rata ukuran pertama kali matang gonad (Lm) tongkol komo jantan yang tertangkap jaring insang hanyut di Laut Jawa adalah 45,8 cm FL (Gambar

Analisis leverage attributs Gambar 2b menunjukan tiga atribut sensitif terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi yakni; 1 Hak kepemilikan sumberdaya , kegiatan penangkapan ikan