DIKTAT
MATA KULIAH SINTAKSIS
KELAS KATA NOMINA
Disusun oleh:
ERNANDA NIDN 0023038308
FKIP
UNIVERSITAS JAMBI
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karuniaNYA bagi semesta alam. Atas izinNYAlah penulis dapat menyelesaikan Diktat Mata Kuliah Sintaksis yang berjudul “Kelas Kata Nomina”
Untuk terlaksananya penulisan Diktat ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Kepada pihak-pihak yang telah berkonstribusi dalam proses penulisan Diktat ini, penulis mengucapkan terima kasih.
Diktat ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa wawasan mengenai kelas kata nomina dan dapat menjadi sumber bahan ajar untuk Mata Kuliah Sintaksis.
Jambi, 27 November 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Cover ……….. i
Kata Pengantar ……… ii
Daftar Isi ……… iii
Daftar Table ……… v
Daftar Figure ……….. iv
1 Kelas Kata Nomina ……….. 1
2 Peran Semantis Frase Nomina ………. 2
2.1. Agent ………. 2
2.2. Patient ……… 2
2.3. Beneficiary ……… 3
2.4 Experiencer dan Stimulus ………. 3
2.5 Force ……….. 4
2.6 Goal ………... 4
2.7 Measure ………. 5
2.8 Result ………. 5
2.9 Instrument ……….. 5
3 Fungsi sintaksis ……… 10
4 Pewatas (modifier) Nomina ………. 12
4.1 Numeral dan Classifier ……….. 12
4.2 Adjektiva ………... 14
4.3 Possessor ………... 14
4.4 Pewatas (modifier) nomina ……… 16
4.5 Adjective clause ……… 17
4.6 Frase preposisi ……….. 18
4.7 Demonstrativa ………... 19
5 Kata majemuk nomina ………. 22
5.1 Komposisi Nomina + Nomina ………... 22
5.2 Komposisi Nomina + Verba ………... 24
5.3 Komposisi Nomina +Adjektiva ………. 27
5.4 Komposisi Nomina + Numeralia ………... 30
5.5 Komposisi Verba + Nomina ………... 33
5.6 Komposisi Numeralia + Nomina ………... 35
5.7 Komposisi Adjektiva + Nomina ……… 37
5.8 Komposisi Adverbia + Nomina ………. 39
6 Derivasi Morfologi Nomina ………... 42
6.1 Prefiks peN- dengan akar verba ……….. 42
………..
6.3 Prefiks peN- dengan akar kata adjektiva ………... 43
6.4 Prefiks pe- dengan akar kata verba ……… 44
6.5 Prefiks pe- yang mengekspresikan kegiatan olahraga ………... 45
6.6 Sufiks -an dengan akar kata verba ……… 46
6.7 Sufiks -an dengan akar verba dengan makna ‘alat’ ……….. 47
6.8 Sufiks -an dengan proses reduplikasi nomina ………... 48
6.9 Sufiks -an dengan proses reduplikasi nomina bermakna diminutive ……… 49
6.10 Sufiks -an dengan proses reduplikasi parsial ……… 49
6.11 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar adjektiva ……….. 50
6.12 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar verba intransitive ………. 52
6.13 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar nomina ………. 53
6.14 Sirkumfiks peN- …-an dengar akar kata verba ………. 54
6.15 Sirkumfiks per-…-an ……… 56
6.16 Sirkumfiks per-…-an dengan akar nomina ………... 60
6.17 Sirkumfiks pe-…-an ……….. 63
6.18 Sufiks -wan, -wati ………. 64
6.19 Sufiks -anda dan -nda ………... 65
6.20 Prefiks ke- ………... 66
6.21 Prefiks ter- ………. 66
6.22 Prefiks pra- ……… 67
Terminologi ……….. 69
Daftar Pustaka ……….. 70
DAFTAR TABEL
Table 1 Subjek dan Possessor ……….. 15
Table 2 Prefiks peN- dengan akar verba ………... 42
Table 3 Prefiks peN- merujuk pada inanimate object ………... 43
Table 4 Prefiks peN- dengan akar kata adjektiva ……… 43
Table 5 Prefiks pe- dengan akar kata verba ………. 45
Table 6 Prefiks pe- yang mengekspresikan kegiatan olahraga ……… 45
Table 7 Sufiks -an dengan akar kata verba ……….. 46
Table 8 Sufiks -an dengan akar verba dengan makna ‘alat’ ……… 47
Table 9 Sufiks -an dengan proses reduplikasi nomina ……… 48
Table 10 Sufiks -an dengan proses reduplikasi nomina bermakna diminutive ………. 49
Table 11 Sufiks -an dengan proses reduplikasi parsial ………. 50
Table 12 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar adjektiva ………... 50
Table 13 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar adjektiva yang tidak bisa diprediksi maknanya ……… 51
Table 14 Penyisipan negasi tidak dalam sirkumfiks ke-…-an ……….. 52
Table 15 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar verba intransitive ……….. 52
Table 16 Sirkumfiks ke-…-an dengan akar nomina ……….. 53
Table 17 Sirkumfiks ke-…-an dengan nomina ……….. 54
Table 18 Sirkumfiks peN-…-an dengar akar kata verba ………... 55
Table 19 Sirkumfiks peN-…-an dengar akar kata verba dengan makna ‘tempat’ ……. 55
Table 20 Sirkumfiks per-…-an ……….. 56
Table 21 Sirkumfiks per-…-an dengan akar kata verba transitif ……….. 57
Table 22 Sirkumfiks per-…-an dengan akar kata nomina ………. 58
Table 23 Nomina dengan sirkumfiks per-…-an ……… 59
Table 24 Sirkumfiks per-…-an dengan akar nomina ……… 60
Table 25 Sirkumfiks per-…-an dengan akar kata nomina ………. 61
Table 26 Sirkumfiks per-…-an dengan akar kata nomina dengan makna yang sama dengan kata dasar ………... 62
Table 27 Sirkumfiks per-…-an dengan kelas kata numeralia ………... 63
Table 28 Sirkumfiks pe-…-an ………... 63
Table 29 Sufiks -wan, -wati ………... 64
Table 30 Sufiks -anda dan -nda ……… 65
Table 31 Prefiks ke- ………... 66
Table 32 Prefiks ter- ……….. 66
Table 33 Prefiks pra- ………. 67
DAFTAR FIGURE
Figure 1 Hirarki Fitur Semantis Nomina ………. 6
1. Kelas Kata Nomina
Kata adalah unit yang fundamental dalam kalimat. Kata-kata dalam tata bahasa masuk ke dalam beberapa kelas kata. Salah satu kelas kata adalah nomina.
Nomina adalah kelas kata yang digunakan untuk menunjukkan orang, tempat, dan benda (Tallerman, 2015).
Sub kelas kata nomina berdasarkan tata bahasa tradisional dapat dibagi menjadi lima kelompok (Miller, 2002):
1. Nomina konkrit dan nomina abstrak 2. Nomina umum dan nomina khusus
3. Nomina yang dapat dihitung dan nomina yang tidak dapat dihitung 4. Nomina hidup dan nomina mati
5. Nomina manusia dan nomina non-manusia
Pengklasifikasian nomina di atas berlaku untuk semua bahasa di dunia.
Susunan penyajian diktat ini adalah sebagai berikut. Bab 2 membahas tentang peran semantis nomina. Bab 3 membahas fungsi sintaksis nomina. Pewatas (modifier) nomina dijelaskan pada Bab 4. Kata majemuk yang proses pembentukannya melibatkan nomina dijabarkan pada Bab 5. Pembahasan ditutup dengan derivasi morfologi nomina pada Bab 6.
2. Peran Semantis Frase Nomina
Peran semantis adalah hubungan participant dengan verba dalam sebuah klausa (SIL, 2003). Frase nomina secara umum berfungsi sebagai argument dari verba (Tallerman, 2015). Verba menentukan peran semantis dari sebuah argument.
Tidak ada korelasi antara beberapa argument dan fungsi semantis masing-masing argument. SIL (2003) menguraikan beberapa peran semantis dari frase nomina sebagai berikut:
2.1. Agent
Agent adalah orang atau benda yang melakukan suatu kegiatan. Secara prototipe, agent adalah nomina hidup yang secara sengaja melakukan kegiatan fisik dengan efek yang dapat lihat. Agent biasanya adalah subjek dari verba dalam klausa aktif, walaupun tidak selalu begitu. Pada contoh (1), ‘Rino’ adalah agent yang melakukan tindakan fisik yaitu ‘melompat’. Selain sebagai subjek dari verba dalam klausa aktif, agent juga dapat menjadi oblique argument dalam klausa pasif. Pada contoh (2), ‘anjing’ adalah agent yang melakukan kegiatan fisik, yaitu
‘mengejar Rino’ dan dalam klausa ini ‘anjing’ adalah oblique argument untuk klausa pasif.
(1). Rino melompat Agent
(2). Rino dikejar anjing Agent
2.2. Patient
Patient adalah entitas yang terdampak dari tindakan verba. Pada contoh (3),
‘Rino’ adalah patient yang terdampak secara fisik dari verba ‘mengejar’ yang dilakukan oleh anjing. Patient dapat juga berfungsi sebagai subjek seperti pada
contoh (2) di atas. ‘Rino’ adalah entitas yang terdampak secara fisik dari tindakan verba.
(3). Anjing mengejar Rino Patient
2.3. Beneficiary
Beneficiary adalah seseorang atau sesuatu yang pada dasarnya adalah entitas hidup yang diuntungkan dari sebuah aktifitas. Beneficiary terkadang juga disebut recipient. Pada contoh (4), ‘adik’ adalah beneficiary atau pihak yang diuntungkan dari tindakan ibu yang memberi uang.
(4). Ibu memberi uang kepada adik
Beneficiary
2.4. Experiencer dan Stimulus
Experiencer adalah nomina hidup yang menerima, mengalami, dan terkena dampak dari suatu tindakan. Experiencer adalah entitas yang mengalami dampak sensoris dari suatu tindakan. Stimulus adalah sesuatu yang menyebabkan experiencer mengalami suatu peristiwa. Stimulus dapat berupa objek maupun subjek. Pada contoh (5), ‘dia’ berfungsi sebagai experiencer yang mengalami kondisi cemas. Pada contoh (6), ‘dia’ adalah experiencer yang mengalami proses sensoris mencium aroma makanan, sedangkan ‘aroma makanan’ adalah stimulus yang menyebabkan subjek mengalami kondisi yang dijelaskan oleh verba. Pada contoh (7), ‘mereka’ ada entitas yang mengalami aktifitas mendengarkan tembakan sedangkan ‘tembakan itu’ adalah stimulus yang menyebabkan experiencer mengalami apa yang terjadi.
(5). Dia cemas Experiencer
(6). Dia mencium aroma makanan Experiencer Stimulus
(7). Tembakan itu terdengar oleh mereka
Stimulus Experiencer
2.5. Force
Force adalah entitas yang menyebabkan tindakan namun tanpa disadari atau tanpa sengaja. Pada contoh (8), ‘angin’ adalah force yang menyebabkan jemuran terbang. Dalam hal ini, angin bukanlah agent yang dengan sengaja melakukan hal tersebut.
(8). Angin menerbangkan jemuran Force
2.6. Goal
Goal adalah tempat kemana sesuatu berpindah atau mengarah. Goal tidak mendapatkan keuntungan dari tindakan yang dilakukan oleh verba. Pada contoh (9), ‘anjing’ adalah goal dimana adik melemparkan batu. Sementara itu, pada contoh (10), ‘halaman’ adalah goal kemana Lusi berjalan.
(9). Adik melempar batu ke anjing Goal
(10). Lusi berjalan ke halaman Goal
2.7. Measure
Measure adalah peran semantis yang mencatat kuantifikasi sebuah peristiwa atau kegiatan. Pada contoh (11), ‘400.000 rupiah’ adalah kuantifikasi dari harga sepatu.
(11). Sepatu itu harganya Rp. 400.000 Measure
2.8. Result
Result adalah peran semantis yang dihasilkan dari sebuah peristiwa. Pada contoh (12), ‘kue’ adalah hasil dari peristiwa memanggang yang dilakukan oleh ayah.
(12). Ayah memanggang kue Result
2.9. Instrument
Instrument adalah suatu entitas yang digunakan yang menyebabkan tindakan yang dilakukan oleh verba. Pada contoh (13), ‘batu’ adalah instrument yang digunakan untuk menghantam kaca jendela.
(13). Batu menghantam kaca jendela Instrument
Fitur semantis di atas kemudian menghasilkan hirarki dalam pemarkahan.
Figure 1 berikut ini adalah hirarki dari fitur semantis nomina (Givón, 2001).
Figure 1. Hirarki Fitur Semantis Nomina
Hirarki di atas memberikan implikasi kondisional (‘jika … maka …’).
Sebagai contoh, jika suatu entitas itu female maka entitas tersebut haruslah manusia. Jika manusia maka harus animate, jika animate maka harus spatial (kongkrit).
Fitur semantis ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Nomina Kongkrit
Fitur kongkrit ini dapat dianalisis kembali dengan lebih spesifik menjadi dua hirarki, yaitu temporal dan spatial (Givón, 2001). Entitas abstrak seperti kesedihan, pikiran, keselamatan, kebahagiaan, dan lain sebagainya tidak memiliki dimensi waktu maupun ruang. Entitas temporal seperti hari ini, bulan oktober, selasa, tahun lalu, dan lain sebagainya memiliki dimensi waktu namun tidak memiliki dimensi ruang. Sebaliknya, entitas kongkrit seperti rumah, meja, kursi, penghapus, pantai, dan lain sebagainya memiliki dimensi waktu dan ruang.
Hirarki pemarkahan ini adalah bukti bahwa entitas yang memiliki dimensi ruang juga memiliki dimensi waktu. Dimensi waktu lebih umum sifatnya daripada dimensi ruang.
b. Nomina animate (hidup), humanitas, dan gender
Animate (hidup), humanitas, dan gender merupakan spesifikasi dari fitur kongkrit (Givón, 2001). Artinya, nomina kongkrit dapat merupakan nomina hidup ataupun nomina tidak hidup. Klasifikasi fitur animate (hidup) ini memiliki batasan yang memiliki konsekuensi secara gramatikal. Pertama, untuk predikat (verba, adjektiva) yang dapat muncul bersama nomina subjek maupun nomina objek.
Perhatikan contoh berikut ini. Pada contoh (14), orang sukses adalah konstruksi frase yang berterima, namun pada contoh (15) batu sukses secara semantis tidak dapat diterima. Pada contoh (16), konstruksi klausa mahasiswa menulis skripsi dapat berterima, namun pada contoh (17), itik menulis skripsi secara semantis tidak dapat diterima walaupun itik adalah nomina hidup yang kongkrit. Pada contoh (18), klausa dia menanam bunga dapat berterima, namun pada konstruksi (19) dia menanam suara tidak berterima secara semantis karena suara adalah nomina abstrak yang tidak dapat ditanam.
(14). Orang sukses (15). *batu sukses
(16). Mahasiswa menulis skripsi (17). *Itik menulis skripsi
(18). Dia menanam bunga (19). *Dia menanam suara
c. Nomina mati (inanimate)
Nomina mati (inanimate) dapat diklasifikasikan menjadi entitas natural (air, sungai, tanaman, batu, dan lain sebagainya) dan entitas buatan (meja, kursi, motor, buku, dan lain sebagainya).
d. Nomina yang dapat dihitung
Nomina dapat diklasifikasikan menjadi nomina yang dapat dihitung dan nomina yang tidak dapat dihitung seperti pada contoh di bawah ini.
Nomina yang dapat dihitung:
Meja, kursi, orang, kucing, itik
Nomina yang tidak dapat dihitung:
Perasaan, cinta, kesedihan, kebahagiaan
e. Nomina umum dan rujukan
Nomina umum tidak merujuk ke entitas secara individu tapi merujuk kepada suatu kelas entitas tertentu secara spesifik. Berikut ini adalah contoh kedua entitas tersebut. Yang pertama adalah nomina secara umum dan yang kedua adalah nomina berupa nama.
Nomina umum:
Hari, bulan, meja, kucing, hipotesis
Nama:
Sabtu, Januari, Universitas Jambi, Dora
f. Nomina dilihat dari ukuran, bentuk
Nomina kongkrit dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan bentuk. Sebuah entitas dapat dilihat dari ukurannya, misalnya besar, kecil, tinggi, panjang, lebar.
Selain itu, dimensi bentuk juga dapat diklasifikasikan, misalnya bulat, persegi, segitiga, dan lain sebagainya.
g. Nomina berdasarkan klasifikasi budaya
Nomina dapat diklasifikasikan berdasarkan budaya sepert: profesi, kekerabatan, agama, status sosial, usia, dan lain sebagainya.
3. Fungsi sintaksis
Fungsi sintaksis dari nomina dapat dilihat dari relasi gramatikal dari frase nomina dengan verba dimana nomina menjadi argument dalam sebuah konstruksi.
Terdapat dua relasi gramatikal nomina yaitu sebagai subjek dan objek. Menurut Tallerman (2015) ada beberapa karakteristik subjek, yaitu:
• Subjek digunakan untuk mengekspresikan agent, jika ada agent di dalam konstruksi.
• Subjek cenderung muncul di awal konstruksi.
• Subjek tidak muncul dalam konstruksi imperative. Misalnya dalam konstruksi, ‘Tuliskan!’. Subjek sudah dimengerti sebagai pronominal orang ke dua ‘anda, kamu’, sehingga subjek tidak perlu muncul dalam konstruksi tersebut.
• Subjek mengontrol frase nomina reflexive yang merujuk pada ‘diri sendiri’. Dalam konstruksi ‘Dia mencintai dirinya’, frase nomina ‘dirinya’
merujuk kembali kepada subjek ‘dia’.
• Subjek dapat mengontrol properti referensial dari frase nomina pada klausa tambahan. Sebagai contoh, ‘Ray membeli ikan dan memasaknya’.
Dua klausa ini berhubungan satu sama lain. Subjek pada klausa kedua tidak dimunculkan karena co-referential dengan subjek klausa pertama.
Selain itu, terdapat juga objek dalam relasi gramatikal. Contoh untuk objek lebih terbatas dibandingkan dengan subjek. Objek dapat dipasivasi. Pada contoh (1), ‘nasi’ adalah objek dari klausa tersebut. Objek ini kemudian dapat dapat berada di posisi subjek, seperti terlihat pada contoh (2).
(1). Dia memasak nasi Objek
(2). Nasi dimasaknya Subjek
Untuk konstruksi dengan verba seperti ‘beri’, ‘kirim’, yang mengharuskan hadirnya dua objek, maka objek pertama disebut sebagai ‘objek langsung’ dan objek kedua disebut sebagai ‘objek tak langsung’. Pada contoh (3) berikut, dapat dilihat posisi kedua objek tersebut. Objek pertama ‘uang’ adalah objek langsung yang secara semantis berperan sebagai patient yang mendapatkan dampak langsung dari tindakan yang dilakukan oleh verba. Sementara itu, objek tidak langsung adalah ‘adiknya’ yang memiliki peran semantis sebagai recipient.
(3). Dia memberikan uang kepada adiknya
Objek langsung Objek tak langsung
4. Pewatas (modifier) Nomina
Nomina inti atau yang disebut juga head adalah unsur paling penting dalam sebuah frase karena kata tersebut memberikan informasi semantis pokok dan memberikan makna pada keseluruhan konstruksi frase. Perhatikan contoh berikut.
Paku kecil yang tajam adalah tentang entitas paku, bukan tentang adjektiva kecil ataupun tajam. Kelas kata yang menjadi head adalah kelas kata yang menentukan keseluruhan frase. Paku adalah kelas kata nomina yang menjadi head dari konstruksi frase tersebut. Maka, frase tersebut adalah frase nomina.
(1). Paku kecil yang tajam Head
Head adalah kata yang menjadi induk dari sebuah frase. Walaupun tanpa pewatas (modifier), head dapat berdiri sendiri. Perhatikan contoh (2) dan (3) di bawah ini. Head nomina paku dapat berdiri sendiri walaupun tanpa pewatas. Head sendiri tidak dapat dihilangkan seperti pada contoh (3).
(2). Adik terinjak paku kecil yang tajam Head Frase Nomina
(3). Adik terinjak paku
Head Frase Nomina
Nomina sebagai head dapat dikembangkan dengan beberapa pewatas (modifier). Adapun pewatas nomina (modifier) yang secara umum digunakan dalam Bahasa Melayu adalah sebagai berikut.
4.1. Numeral dan Classifier
Numeral yang digunakan sebagai pewatas nomina dapat berupa numeral cardinal (numeral pokok) dan numeral distributif. Posisi numeral sebagai pewatas adalah
mendahului nomina head. Berikut adalah contoh dari nomina beserta pewatas numeral:
Numeral cardinal dan Nomina
(4). Satu rumah
Numeral cardinal Nomina head
(5). Tiga buku
Numeral cardinal Nomina head
Numeral distributif dan Nomina (6). Banyak rumah
Numeral distributif Nomina head
(7). Sedikit uang
Numeral distributif Nomina head
Classifier
Classifier adalah kata atau afiks yang mendeskripsikan klasifikasi dari sebuah nomina (SIL, 2003). Adapun beberapa jenis classifier yang umum digunakan seperti buah, biji, batang, ekor, orang. Posisi classifier adalah setelah numeral dan sebelum nomina head seperti pada contoh berikut.
(8). Lima ekor itik
Numeral Classifier Nomina head
(9). Sepuluh batang pohon
Numeral Classifier Nomina head
4.2. Adjektiva
Adjektiva adalah pewatas (modifier) yang muncul setelah nomina. Adjektiva mendeskripsikan kualitas dari nomina. Berikut ini adalah contoh adjektiva sebagai pewatas (modifier). Pada contoh (10), pewatas adjektiva muncul setelah nomina dan memberikan deskripsi tentang nomina buku yang mendahuluinya, yaitu buku baru. Contoh (11) menunjukkan head nomina pisau yang diikuti oleh adjektiva yang mendeskripsikan karakteristiknya, yaitu tajam.
(10). Buku baru Head ADJ
(11). Pisau tajam Head ADJ
Adjektiva dapat pula muncul dalam konstruksi relative clause dengan perannya mendeskripsikan nomina seperti contoh berikut. Relative clause yang memuat adjektiva memberikan keterangan mengenai head nomina buku pada contoh (12) dan pisau pada contoh (13).
(12). Buku yang baru Nomina REL ADJ
(13). Pisau yang tajam Nomina REL ADJ
4.3. Possessor
Possessor atau kata ganti kepemilikan termasuk elemen pewatas (modifier) yang dapat memberikan informasi tentang head nomina. Table 1 berikut ini adalah bentuk possessor dalam bahasa melayu. Untuk pronominal orang pertama tunggal dan orang kedua tunggal, digunakan bentuk singkat ku dan mu yang penulisannya disatukan dengan head nomina ataupun elemen yang mendahuluinya.
Subjek Possessor Orang pertama tunggal aku ku
Orang pertama jamak kami/kita kami/kita Orang kedua tunggal kamu mu Orang kedua jamak kalian kalian Orang ketiga tunggal dia nya Orang ketiga jamak mereka mereka
Table 1. Subjek dan Possessor
Berikut ini adalah contoh penggunaan possessor dalam frase nomina.
(14). Itu bajuku
DEM Head nomina-POSS
(15). Itu rumah kami DEM Head nomina POSS
(16). Itu keinginanmu
DEM Head nomina-POSS
(17). Itu harta kalian DEM Head nomina POSS
(18). Itu mejanya
DEM Head nomina-POSS
(19). Itu perhiasan mereka DEM Head nomina POSS
Possessor tidak hanya dapat menjadi pewatas yang langsung muncul setelah nomina. Possessor dapat juga muncul setelah elemen lain seperti
adjektiva. Dalam hal ini, possessor tetap berfungsi sebagai pewatas (modifier) yang memberikan keterangan tentang head nomina yang mendahuluinya. Berikut ini adalah contoh penggunaannya.
(20). Rumah besarku Head nomina ADJ-POSS
(21). Baju baru kami Head nomina ADJ POSS
(22). Teman baikmu Head nomina ADJ-POSS
(23). Buku tebal kalian Head nomina ADJ POSS
(24). Selendang ungunya Head nomina ADJ-POSS
(25). Ban kempes mereka Head nomina ADJ POSS
4.4. Pewatas (modifier) nomina
Selain menjadi head, nomina dapat pula menjadi pewatas (modifier) head nomina lainnya. Biasanya nomina yang berfungsi sebagai pewatas ini menerangkan bahan baku dari head nomina. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut ini.
(26). Meja kayu
Head nomina Pewatas nomina
(27). Baju baja
Head nomina Pewatas nomina
(28). Peluru karet
Head nomina Pewatas nomina
(29). Atap seng
Head nomina Pewatas nomina
4.5. Adjective clause
Adjective clause adalah konstruksi yang diawali dengan relative marker ‘yang’
dan diikuti oleh adjektiva yang memiliki fungsi sebagai pewatas untuk head nomina. Perhatikan contoh berikut ini. Adjective clause ‘yang besar’, ‘yang baru’,
‘yang baik’, ‘yang tebal’, ‘yang ungu’, dan ‘yang kempes’ adalah pewatas yang memberikan keterangan tambahan mengenai head nomina yang mendahuluinya.
(30). Rumah yang besar Head nomina REL ADJ
(31). Baju yang baru Head nomina REL ADJ
(32). Teman yang baik Head nomina REL ADJ
(33). Buku yang tebal Head nomina REL ADJ
(34). Selendang yang ungu Head nomina REL ADJ
(35). Ban yang kempes Head nomina REL ADJ
4.6. Frase preposisi
Frase preposisi adalah frase yang headnya ditempati oleh preposisi (misalnya di, pada, dengan, dalam, kepada, terhadap, oleh, dan lain sebagainya). Sebagai head, posisi preposisi mendahului elemen komplemennya. Frase preposisi ini dapat berfungsi sebagai pewatas (modifier) dari sebuah head noun.
(36). Ide dalam kepalanya Head nomina PREP Nomina-POSS
Prepositional phrase Pewatas/modifier
(37). Tanaman di halaman Head nomina PREP nomina
Prepositional phrase Pewatas/modifier
(38). Perhatian terhadap ibunya Head nomina PREP nomina
Prepositional phrase Pewatas/modifier
(39). Hormat pada mereka Head nomina PREP nomina
Prepositional phrase Pewatas/modifier
4.7. Demonstrativa
Demonstrativa adalah kata penunjuk yang membentuk konstruksi bersama dengan nomina ataupun frase nomina. Demonstrativa juga berfungsi sebagai pewatas (modifier) memberikan keterangan tambahan terhadap head nomina.
Demonstrativa selalu menempati posisi di akhir konstruksi. Perhatikan contoh- contoh berikut.
(40). [Meja Itu] dari kayu Head nomina DEM
Frase nomina
(41). Orang itu datang ke rumah Head nomina DEM
Frase nomina
(42). Buku itu baru Head nomina DEM Frase nomina
Demonstrativa dapat muncul dengan kombinasi pewatas (modifier) lainnya. Dengan pewatas (modifier) lainnya, demonstrativa tetap menjadi elemen yang muncul di akhir sebuah konstruksi. Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaan demonstrativa sebagai pewatas (modifier) yang muncul di akhir frase bersama elemen-elemen pewatas (modifier) lainnya.
(43). Pisau itu Head nomina DEM Frase nomina
(44). Pisau tajam itu Head nomina ADJ DEM Frase nomina
(45). Pisau tajamnya itu Head nomina ADJ-POSS DEM Frase nomina
(46). Pisau tajamnya yang mengkilat itu Head nomina ADJ-POSS REL ADJ DEM Frase nomina
(47). Pisau tajamnya yang mengkilat di sarung itu Head nomina ADJ-POSS REL ADJ PREP N DEM Frase nomina
Frase nomina dapat disusun oleh banyak pewatas (modifier). Berikut ini adalah contoh konstruksi frase nomina dengan beberapa pewatas (modifier).
(48). Rumah Head nomina Frase nomina
(49). Rumah baru Head nomina ADJ Frase nomina
(50). Rumah barunya Head nomina ADJ-POSS Frase nomina
(51). Rumah barunya yang mahal Head nomina ADJ-POSS REL ADJ Frase nomina
(52). Rumah barunya yang mahal di puncak Head nomina ADJ-POSS REL ADJ PREP N Frase nomina
(53). Rumah barunya yang mahal di puncak itu Head nomina ADJ-POSS REL ADJ PREP N DEM Frase nomina
5. Kata Majemuk Nomina
Kata majemuk adalah gabungan dua kata yang menghasilkan kata baru dengan makna baru. Kata majemuk terbentuk sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh elemen apapun. Oleh karena itu, kata majemuk berbeda dari frase yang dapat disisipi elemen-elemen lain. Pembahasan mengenai kata majemuk akan dibatasi pada kata majemuk yang mengandung unsur nomina saja.
5.1. Komposisi Nomina + Nomina
Kata majemuk yang merupakan hasil gabungan dari dua nomina yang membentuk satu kesatuan makna baru seperti contoh-contoh berikut. Pada contoh (1), nomina kereta yang menurut KBBI (2020) berarti ‘kendaraan yang beroda dua atau empat (biasanya ditarik oleh kuda)’ dan nomina api yang berarti ‘panas dan cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar’. Kedua nomina ini membentuk kata majemuk yang memiliki arti baru, yaitu ‘kereta yang terdiri atas rangkaian gerbong yang ditarik oleh lokomotif, dijalankan dengan tenaga uap atau listrik, berjalan di atas rel, digunakan untuk kendaraan umum. Kata majemuk kereta api tidak dapat disisipi oleh elemen lainnya seperti yang terdapat pada contoh (2).
(1). Kereta + api = Kereta api
N N Kata majemuk
(2). *Kereta dari api
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Kami menuju Leipzig dengan kereta api
Contoh selanjutnya adalah kata majemuk yang dibentuk dari gabungan nomina anak yang berarti ‘manusia yang masih kecil’ dan nomina kunci yang berarti ‘alat untuk mengunci pintu’. Kedua nomina ini membentuk kata majemuk anak kunci yang berarti ‘alat untuk membuka kunci’ seperti pada contoh (3). Kata majemuk anak kunci ini tidak dapat disisipi elemen lainnya. Pada contoh (4),
terjadi penyisipan elemen dari ke dalam konstruksi kata majemuk anak kunci.
Penyisipan elemen ini membuat konstruksi kata majemuk ini menjadi tidak gramatikal.
(3). Anak + kunci = Anak kunci
N N Kata majemuk
(4). *Anak dari kunci
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Anak kuncinya ketinggalan di dalam rumah.
Contoh pembentukan kata majemuk selanjutnya adalah penggabungan nomina kipas yang berarti ‘alat untuk mengibas-ibas’ dan nomina angin yang berarti ‘gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah’. Kedua nomina ini membentuk kata majemuk kipas angin yang memiliki makna baru, yaitu ‘kipas yang dijalankan dengan listrik atau batu baterai untuk menyejukkan ruangan dan sebagainya’ seperti pada contoh (5). Kata majemuk ini tidak dapat disisipi oleh elemen lain. Pada contoh (6), penyisipan kata dari pada kata majemuk kipas angin menyebabkan konstruksi tersebut menjadi kehilangan makna.
(5). Kipas + angin = Kipas angin
N N Kata majemuk
(6). *Kipas dari angin
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Ketika gerah, ia memakai kipas angin.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan nomina induk yang berarti ‘ibu (terutama tentang binatang’ dan nomina semang yang berarti ‘hubungan khusus
antara orang yang berhutang dan orang yang mengutangi’. Kedua nomina ini membentuk kata majemuk induk semang yang menghasilkan makna yang baru, yaitu ‘orang yang memberi pekerjaan atau majikan’ seperti pada contoh (7). Kata majemuk ini tidak dapat dipisahkan oleh elemen lain. Pada contoh (8), terdapat penyisipan kata dari pada kata majemuk induk semang. Penyisipan kata ini menyebabkan kata majemuk tersebut menjadi tidak gramatikal.
(7). Induk + semang = Induk semang
N N Kata majemuk
(8). *Induk dari semang
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Induk semangnya sangat dermawan dan suka membantu.
5.2. Komposisi Nomina + Verba
Kata majemuk dapat pula dibentuk dengan penggabungan unsur kelas kata nomina dan kelas kata verba untuk membentuk suatu konstruksi kata majemuk yang menghasilkan makna yang baru. Berikut ini adalah proses penggabungan kelas kata nomina dan kelas kata verba dalam pembentukan kata majemuk.
Pada contoh (9), terdapat proses pembentukan kata majemuk yang merupakan penggabungan kelas kata nomina anak yang berarti ‘manusia yang masih kecil’ dan kelas kata verba angkat yang berarti ‘menaikkan, meninggikan’
yang kemudian membentuk kata majemuk anak angkat. Kedua unsur nomina dan verba tersebut menghasilkan makna baru, yaitu ‘anak orang lain yang dipelihara serta disahkan secara hukum sebagai anak sendiri’. Namun, saat ini kata majemuk anak angkat telah mengalami perluasan makna. Seseorang yang dirasa dekat dengan suatu keluarga dapat disebut anak angkat walaupun tidak ada pengesahan secara hukum. Penyisipan unsur lain dalam kata majemuk ini akan menyebabkannya menjadi konstruksi yang tidak gramatikal seperti pada contoh (10).
(9). Anak angkat = Anak angkat
N V Kata majemuk
(10). *Anak dari angkat
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Aku diakui sebagai anak angkat oleh mereka.
Selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina sandal yang berarti
‘alas kaki yang dibuat dari kulit, karet, dan sebagainya’ dan kelas kata verba jepit yang berarti ‘apit tekan’ yang membentuk sebuah kata majemuk sandal jepit seperti pada contoh (11). Kedua unsur kelas kata nomina dan kelas kata verba ini menghasilkan konstruksi kata majemuk dengan makna yang baru, yaitu ‘sandal dengan pautan untuk ibu jari kaki dan jari kaki yang lain’. Penyisipan unsur lain dalam kata majemuk ini membuat konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (12).
(11). Sandal jepit = Sandal jepit
N V Kata majemuk
(12). *Sandal dari jepit
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia ke sekolah memakai sandal jepit.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina air yang berarti ‘cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen’ dan kelas kata verba terjun yang berarti
‘melompat turun’ yang membentuk kata majemuk air terjun. Kedua elemen kelas kata nomina air dan kelas kata verba terjun ini menghasilkan makna baru, yaitu
‘aliran air melewati jeram hingga air jatuh bebas ke dasar sungai’ seperti pada contoh (13). Penyisipan kata lain ke dalam kata majemuk ini menyebabkan konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti ditunjukkan oleh contoh (14).
(13). Air terjun = Air terjun
N V Kata majemuk
(14). *Air dari terjun
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Air terjun itu tidak lagi dikunjungi orang setelah peristiwa itu.
Selanjutnya adalah proses penggabungan kelas kata nomina kamar yang berarti ‘ruang yang bersekat (tertutup) dinding yang menjadi bagian rumah atau bangunan, biasanya disekat atau dibatasi empat dinding’ dan kelas kata verba mandi yang berarti ‘membersihkan tubuh dengan air dan sabun dengan cara menyiramkan, merendam diri dalam air, dan sebagainya’ yang membentuk kata majemuk kamar mandi seperti pada contoh (15). Kata majemuk kamar mandi ini memiliki makna baru, yaitu ‘bilik tempat mandi’. Penyisipan unsur lain dalam konstruksi kata majemuk ini menyebabkan konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (16).
(15). Kamar mandi = Kamar mandi
N V Kata majemuk
(16). *Kamar dari mandi
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Ia merenovasi kamar mandinya.
5.3. Komposisi Nomina +Adjektiva
Kelas kata nomina dapat membentuk kata majemuk dengan kelas kata adjektiva sehingga terbentuk makna baru. Berikut ini adalah contoh penggabungan kelas kata nomina dan kelas kata adjektiva untuk membentuk kata majemuk. Pada contoh (17), kelas kata nomina rumah memiliki arti ‘bangunan tempat tinggal’
dan kelas kata adjektiva sakit yang berarti ‘berasa tidak nyaman di tubuh karena menderita sesuatu, demam, sakit perut, dan sebagainya’ membentuk kata majemuk rumah sakit. Kata majemuk rumah sakit memiliki arti baru, yaitu
‘gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan’. Penyisipan elemen lain dalam konstruksi kata majemuk ini membuat konstruksi tersebut menjadi tidak gramatikal, seperti pada contoh (18).
(17). Rumah sakit = Rumah sakit N ADJ Kata majemuk
(18). *Rumah yang sakit
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Karyawan rumah sakit juga diberikan APD oleh para sukarelawan.
Contoh kata majemuk selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina kambing yang berarti ‘binatang pemamah biak dan pemakan rumput (daun- daunan), berkuku genap, tanduknya bergeronggang, biasanya dipelihara sebagai hewan ternak untuk diambil daging, susu, kadang-kadang bulunya’ dan kelas kata adjektiva hitam yang berarti ‘warna dasar yang serupa dengan warna arang’.
Penggabungan kedua kelas kata nomina dan kelas kata adjektiva ini menghasilkan kata majemuk kambing hitam yang memiliki makna baru, yaitu ‘orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan’ seperti pada contoh (19). Jika disisipi unsur lain, misalnya relative marker ‘yang’ pada contoh (20), konstruksi ini tidak lagi
menjadi konstruksi kata majemuk, tapi konstruksi ini memiliki makna yang sebenarnya, yaitu ‘seekor kambing yang berwarna hitam’.
(19). Kambing hitam = Kambing hitam
N ADJ Kata majemuk
(20). Kambing yang hitam
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Aku dijadikan kambing hitam dalam peristiwa itu.
Contoh selanjutnya adalah pembentukan kata majemuk dari kelas kata nomina meja yang berarti ‘perkakas atau perabot rumah tangga yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki sebagai penyangganya’ dan kelas kata adjektiva hijau yang berarti ‘warna yang serupa warna daun pada umumnya’.
Kedua kata ini membentuk kata majemuk meja hijau yang memiliki arti yang sangat berbeda, yaitu ‘pengadilan’ seperti pada contoh (21). Jika konstruksi kata majemuk ini disisipi oleh relative marker ‘yang’, maka konstruksi ini secara gramatikal dapat diterima seperti pada contoh (22), namun makna yang dimilikinya adalah makna sebenarnya, yaitu ‘meja yang berwarna hijau’.
(21). Meja hijau = Meja hijau N ADJ Kata majemuk
(22). Meja yang hijau
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Nasib pebunuh hakim di Medan berakhir di meja hijau.
Selanjutnya adalah proses penggabungan kelas kata nomina hari yang berarti ‘waktu dari pagi sampai pagi lagi yaitu satu edaran bumi pada sumbunya’
dan kelas kata adjektiva besar yang berarti ‘lebih dari ukuran sedang atau lawan
dari kecil’. Proses pembentukan kata majemuk ini menghasilkan hari besar yang memiliki makna baru, yaitu ‘hari yang dirayakan untuk memperingati suatu peristiwa penting’ seperti pada contoh (23). Penyisipan relative marker ‘yang’
membuat kalimat ini tidak berterima secara semantis seperti pada contoh (24).
(23). Hari besar + Hari besar N ADJ Kata majemuk
(24). *Hari yang besar
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia pulang kampung di saat libur hari besar.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina kursi yang memiliki arti ‘tempat duduk yang memiliki kaki dan bersandaran’ dan kelas kata adjektiva malas yang berarti ‘tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu’.
Penggabungan kedua kata ini membentuk kata majemuk kursi malas yang memiliki makna baru, yaitu ‘kursi panjang untuk istirahat dan tidur-tiduran yang sandarannya landai’ seperti pada contoh (25). Penambahan relative marker ‘yang’
di antara kedua kata ini dapat menyebabkan konstruksi kata majemuk ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (26).
(25). Kursi malas = Kursi malas N ADJ Kata majemuk
(26). *Kursi yang malas
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Kursi malas ini sangat empuk dan nyaman.
Contoh berikutnya adalah pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata nomina macan yang artinya ‘harimau’ dan kelas kata
adjektiva ompong yang artinya ‘tidak bergigi karena giginya sudah ada yang tanggal, dicabut, tidak tumbuh, atau tidak terbentuk’. Hasil penggabungan kedua kata ini adalah macan ompong yang artinya ‘sesuatu yang tampak kuat dan galak tetapi sebenarnya tidak bertenaga dan jinak’ seperti pada contoh (27). Penyisipan elemen relative marker ‘yang’ ke dalam kata majemuk ini menghasilkan konstruksi macan yang ompong yang secara semantis bermakna ‘seekor macan yang tidak memiliki gigi’ seperti pada contoh (28). Konstruksi ini dapat berterima secara semantis, namun menghasilkan makna yang berbeda dan bukan lagi berstatus sebagai kata majemuk.
(27). Macan ompong = Macan ompong
N ADJ Kata majemuk
(28). Macan yang ompong
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Jenderal yang dulunya gagah sekarang seperti macan ompong.
5.4. Komposisi Nomina + Numeralia
Kata majemuk dapat dibentuk dengan komposisi kelas kata nomina yang digabungkan dengan kelas kata numeralia. Berikut ini adalah beberapa contoh kata majemuk hasil penggabungan kelas kata nomina dan kelas kata numeralia.
Pada contoh (29), terdapat penggabungan kelas kata nomina langkah yang berarti
‘gerakan kaki ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan, waktu berjalan’ dan kelas kata numeralia seribu yang berarti ‘bilangan yang dilambangkan dengan angka 1000 (Arab) atau M (Romawi)’. Penggabungan kedua kata ini menghasilkan kata majemuk langkah seribu yang berarti ‘lari cepat karena takut dan sebagainya’.
Penyisipan elemen seperti kata tugas dari membuat konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (30).
(29). Langkah seribu = Langkah seribu N NUM Kata majemuk
(30). *Langkah dari seribu
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Ketika ketahuan, maling itu mengambil langkah seribu.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina roda yang berarti ‘barang bundar berlingkar dan biasanya berjeruji’ dan kelas kata numeralia dua yang berarti ‘bilangan yang dilambangkan dengan angka 2 (Arab) atau II (Romawi)’. Penggabungan kedua kata ini menghasilkan kata majemuk roda dua yang memiliki makna baru, yaitu ‘kendaraan yang memiliki dua roda, seperti sepeda atau sepeda motor’ seperti pada contoh (31). Jika konstruksi kata majemuk ini disisipi oleh elemen seperti relative marker ‘yang’, konstruksi pada contoh (32) ini secara semantis dapat diterima, namun mengekspresikan makna yang berbeda, yaitu menyatakan bahwa terdapat dua buah roda. Makna yang dihasilkan bukan lagi makna baru seperti halnya makna yang dimiliki oleh kata majemuk.
(31). Roda dua = Roda dua N NUM Kata majemuk
(32). Roda yang dua
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Biarlah aku memakai roda dua daripada menumpuk hutang hanya untuk gaya.
Pada contoh (33), terdapat penggabungan kelas kata nomina kaki yang berarti ‘anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan’ dan numeralia seribu yang berarti ‘bilangan yang dilambangkan dengan angka 1000 (Arab) atau M (Romawi)’. Kedua kata ini menghasilkan kata majemuk kaki seribu dengan makna yang baru yaitu ‘luing’. Penyisipan elemen seperti relative marker
dapat membentuk sebuah konstruksi yang berterima secara semantis, yaitu kaki yang seribu seperti pada contoh (34). Namun, makna dari konstruksi berbeda dari makna kata majemuk. Konstruksi ini memiliki makna yang sebenarnya, yaitu terdapat kaki dengan jumlah seribu buah.
(33). Kaki seribu = Kaki seribu N NUM Kata majemuk
(34). Kaki yang seribu
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia melompat begitu melihat kaki seribu.
Pada contoh (35), terdapat penggabungan kelas kata nomina kaki yang berarti ‘anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan’ dan numeralia lima yang berarti ‘bilangan yang dilambangkan dengan angka 5 (Arab) atau V (Romawi)’. Penggabungan kedua kelas kata ini menghasilkan kata majemuk kaki lima yang memiliki makna baru, yaitu ‘serambi muka toko di pinggir jalan, biasanya berukuran lima kaki, biasanya dipakai sebagai tempat berjualan’. Unsur lain seperti relative marker dapat disisipkan ke dalam konstruksi ini, namun akan menghasilkan makna yang berbeda, yaitu ‘terdapat kaki yang jumlahnya lima’ seperti pada contoh (36). Konstruksi ini dapat berterima secara semantis, namun konstruksi ini bukan merupakan kalimat majemuk.
(35). Kaki lima = Kaki lima N NUM Kata majemuk
(36). Kaki yang lima
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Makanan kaki lima ini rasanya bintang lima.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata nomina muka yang berarti ‘bagian depan kepala, dari dahi atas sampai ke dagu dan antara telinga yang satu dengan telinga yang lain dengan kelas kata numeralia dua yang berarti
‘bilangan yang dilambangkan dengan angka 2 (Arab) atau II (Romawi)’.
Penggabungan kedua kelas kata ini menghasilkan kata majemuk muka dua yang berarti ‘tidak jujur, tidak satu pendirian’ seperti pada contoh (37). Penyisipan unsur lain, seperti relative marker ‘yang’ membuat konstruksi ini menjadi tidak berterima secara gramatikal seperti pada contoh (38).
(37). Muka dua = Muka dua N NUM Kata majemuk
(38). *Muka yang dua
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Aku tidak percaya lagi dengan orang bermuka dua.
5.5. Komposisi Verba + Nomina
Kelas kata nomina dapat digabungkan dengan kelas kata verba untuk membentuk kata majemuk dan dalam proses ini, nomina menjadi unsur ke dua dalam konstruksi tersebut. Berikut ini adalah contoh penggabungan kelas kata verba dan kelas kata nomina dalam pembentukan kata majemuk. Pada contoh (39), terdapat penggabungan kelas kata verba tolak yang berarti ‘dorong’ dan kelas kata nomina peluru yang berarti ‘barang tajam dari timah, besi pengisi patrun atau yang dilepaskan dengan senjata api’. Proses pembentukan kata majemuk ini menghasilkan konstruksi tolak peluru yang memiliki arti baru, yaitu ‘olahraga dengan menolakkan peluru, alat yang bundar seperti bola yang terbuat dari besi atau kuningan beratnya untuk putri 4kg, untuk putra 7 ¼ kg’. Penambahan elemen lain diantara kedua kata ini membuat konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (40).
(39). Tolak peluru = Tolak peluru
V N Kata majemuk
(40). *Tolak yang peluru
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Mychelle adalah atlet tolak peluru.
Di bawah ini adalah proses pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata verba masuk yang berarti ‘datang ke dalam ruangan, kamar, lingkungan, dan sebagainya’ dan kelas kata nomina angin yang berarti
‘gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah’. Penggabungan kedua kata ini menjadi kata majemuk masuk angin yang memiliki arti baru, yaitu ‘sakit meriang’ seperti pada contoh (41). Penyisipan unsur lain di antara kedua kata ini menyebabkan konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (42).
(41). Masuk angin = Masuk angin
V N Kata majemuk
(42). *Masuk untuk angin
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia keluar malam hingga masuk angin.
Contoh di bawah ini adalah proses pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata verba adu yang berarti ‘pertemukan, sentuh, benturkan, sabung, hasut, tandingkan, sampaikan, timbang’ dengan kelas kata nomina domba yang berarti ‘kambing yang berbulu tebal, bulunya dipakai bahan membuat wol’.
Konstruksi kata majemuk adu domba ini memiliki arti baru, yaitu ‘menjadikan berselisih di antara pihak yang sepaham, menarungkan kita sama kita’ seperti
pada contoh (43). Adapun penyisipan elemen lain di antara kedua kata ini menyebabkan konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (44).
(43). Adu domba = Adu domba
V N Kata majemuk
(44). *adu untuk domba
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
PKI senang mengadu domba.
Selanjutnya adalah penggabungan kelas kata verba ikat yang berarti ‘tali, benang, kain, dan sebagainya untuk mengebat, menyatukan, menggabungkan’ dan kelas kata nomina pinggang yang berarti ‘bagian tubuh antara perut dan dada di sebelah belakang atau di sisi’. Penggabungan kedua kata ini menghasilkan kata majemuk ikat pinggang yang memiliki arti baru, yaitu ‘kain, kulit dan sebagainya untuk mengebat pinggang, mengencangkan celana, dan sebagainya’ seperti pada contoh (45). Adapun penyisipan unsur lain seperti kata dari membuat konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (46).
(45). Ikat pinggang = Ikat pinggang
V N Kata majemuk
(46). *ikat dari pinggang
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Ibu menghadiahiku sebuah ikat pinggang.
5.6. Komposisi Numeralia + Nomina
Kata majemuk dapat dibentuk dengan penggabungan kelas kata numeralia dan kelas kata nomina. Dalam konstruksi ini, kelas kata nomina tidak menjadi unsur yang muncul di awal konstruksi kata majemuk. Kata majemuk yang dihasilkan
dari proses penggabungan kedua kelas kata ini berfungsi sebagai adverbial atau keterangan di dalam konstruksi klausa atau kalimat. Berikut ini adalah beberapa contoh pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata numeralia dan kelas kata nomina. Pada contoh (47), terdapat penggabungan kelas kata numeralia setengah yang berarti ‘separuh, sebagian’ dan kelas kata nomina hati yang memiliki beberapa makna, yaitu ‘organ badan yang berwarna kemerah- merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian’. Kedua kata ini bergabung dan menjadi kata majemuk yang menghasilkan makna baru, yaitu ‘segan, malu-malu, acuh tak acuh, tidak menaruh perhatian’. Jika konstruksi ini disisipi dengan kata dari, konstruksi ini dapat diterima, namun ia mengandung makna yang sebenarnya, yaitu ‘jumlah dari hati (misalnya hati ayam yang biasa dimasak dan dikonsumsi manusia, dan sebagainya) yaitu setengah kilogram’. Konstruksi dengan sisipan unsur lain seperti ini bukan konstruksi kata majemuk seperti pada contoh (48).
(47). Setengah hati = Setengah hati NUM N Kata majemuk
(48). Setengah dari hati
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Kau mengurusinya setengah hati.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata numeralia sepenuh yang artinya ‘seluruh isi, semuanya’ dan kelas kata nomina yang memiliki beberapa makna, yaitu ‘organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian’. Penggabungan kedua kata ini membentuk kata majemuk sepenuh hati
yang berarti ‘dengan sungguh-sungguh’ seperti pada contoh (49). Sementara itu, penyisipan elemen lain seperti kata dari menjadikan konstruksi ini tidak gramatikal seperti pada contoh (50).
(49). Sepenuh hati = Sepenuh hati NUM N Kata majemuk
(50). *Sepenuh dari hati
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Aku melaksanakan tugasku sepenuh hati.
5.7. Komposisi Adjektiva + Nomina
Kata majemuk dapat dibentuk dari penggabungan kelas kata adjektiva dan kelas kata nomina. Dalam konstruksi ini, kelas kata nomina menjadi elemen kedua.
Fungsi dari kata majemuk ini di dalam sebuah konstruksi adalah sebagai adjektival. Berikut ini adalah beberapa contoh pembentukan kata majemuk yang merupakan penggabungan kelas kata adjektiva dan kelas kata nomina. Pada contoh (51), kelas kata adjektiva panjang yang berarti ‘berjarak jauh dari ujung ke ujung’ dan kelas kata nomina tangan yang berarti ‘anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung kaki’ digabungkan untuk membentuk kata majemuk panjang tangan yang memiliki arti baru, yaitu ‘suka mencuri atau mencopet’. Kata majemuk ini dapat disisipi oleh elemen lain misalnya kata dari, seperti pada contoh (52). Namun konstruksi ini memiliki makna yang sebenarnya, yaitu ‘ukuran dari tangan’ dan konstruksi ini bukan konstruksi kata majemuk.
(51). Panjang tangan = Panjang tangan
ADJ N Kata majemuk
(52). Panjang dari tangan
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia panjang tangan.
Contoh selanjutnya adalah penggabungan kelas kata adjektiva baik yang berarti ‘elok, patut, teratur, apik, rapi, tidak ada celanya, dan sebagainya’ dan kelas kata nomina hati yang memiliki beberapa makna, yaitu ‘organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian’. Penggabungan kedua kelas kata ini menghasilkan kata majemuk baik hati yang memiliki makna baru, yaitu ‘berbudi baik’ seperti pada contoh (53). Adapun penyisipan elemen lain seperti kata untuk menyebabkan konstruksi ini menjadi tidak gramatikal seperti pada contoh (54).
(53). Baik hati = Baik hati ADJ N Kata majemuk
(54). *Baik untuk hati
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Pak Sunu sangat baik hati.
Selanjutnya adalah penggabungan kelas kata adjektiva keras yang berarti
‘pada kuat dan tidak mudah berubah bentuknya atau tidak mudah pecah’ dan kelas kata nomina kepala yang berarti ‘bagian tubuh yang di atas leher pada manusia dan beberapa jenis hewan merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indra’. Proses gramatikalisasi ini menghasilkan kata majemuk keras kepala yang memiliki arti baru, yaitu ‘tidak mau menurut nasihat orang, tegar tengkuk, kepala batu’ seperti pada contoh (55). Penambahan unsur kata lain di antara kedua kelas kata ini menghasilkan konstruksi yang tidak berterima secara semantis seperti pada contoh (56).
(55). Keras kepala = Keras kepala
ADJ N Kata majemuk
(56). *Keras dari kepala
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia terkenal keras kepala.
Contoh (57) di bawah ini adalah pembentukan kata majemuk dari kelas kata adjektiva tinggi yang berarti ‘jauh jaraknya dari posisi sebelah bawah’ dan kelas kata nomina hati yang memiliki beberapa makna, yaitu ‘organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian’. Kedua kata ini bergabung dan membentuk kata majemuk tinggi hati yang memiliki makna baru, yaitu ‘sombong, angkuh’. Penyisipan elemen lain di antara kedua kata ini menghasilkan konstruksi yang tidak gramatikal seperti pada contoh (58).
(57). Tinggi hati = Tinggi hati ADJ N Kata majemuk
(58). *Tinggi dari hati
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Amir adalah orang yang tinggi hati.
5.8. Komposisi Adverbia + Nomina
Kata majemuk selanjutnya dapat juga dihasilkan dari proses penggabungan kelas kata adverbia dan kelas kata nomina sehingga menghasilkan makna baru. Kelas kata nomina pada konstruksi ini berada di posisi kedua. Berikut ini adalah contoh pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata adverbia dan kelas
kata nomina. Pada contoh (59), terjadi penggabungan kelas kata adverbia sekejap yang berarti ‘sebentar saja, sesaat’ dan kelas kata nomina mata yang berarti ‘indra untuk melihat’. Penggabungan kedua kelas kata ini menghasilkan kata majemuk sekejap mata yang memiliki makna baru, yaitu ‘sangat sebentar’. Adanya penyisipan elemen lain di antara kedua kata ini menjadikannya tidak gramatikal seperti pada contoh (60).
(59). Sekejap mata = Sekejap mata
ADV N Kata majemuk
(60). *Sekejap untuk mata
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Tanpa ia sadari, uangnya lenyap sekejap mata.
Contoh selanjutnya adalah pembentukan kata majemuk dengan penggabungan kelas kata adverbia sebelah yang berarti ‘setengah, separuh, bagian dari suatu pasangan’ dan kelas kata nomina mata yang berarti ‘indra untuk melihat’. Kata majemuk sebelah mata ini memiliki arti baru, yaitu ‘memandang rendah orang lain’ seperti pada contoh (61). Penyisipan unsur lain menghasilkan konstruksi yang tidak berterima secara semantis seperti pada contoh (62).
(61). Sebelah mata = Sebelah mata
ADV N Kata majemuk
(62). *Sebelah untuk mata
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Dia memandangku sebelah mata.
Contoh lain adalah penggabungan kelas kata adverbia atas yang berarti
‘bagian atau tempat yang lebih tinggi’ dan kelas kata nomina angin yang berarti
‘gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah’. Hasil penggabungan kedua kata ini adalah kata majemuk atas angin yang memiliki makna baru, yaitu ‘suatu hal yang bersifat sedang terkenal atau termasyur karena mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak’ seperti pada contoh (63). Penambahan leksikal di antara kedua kata ini menghasilkan konstruksi yang tidak gramatikal seperti pada contoh (64).
(63). Atas angin = Atas angin ADV N Kata majemuk
(64). *Atas dari angin = Atas angin
Contoh penggunaan kata majemuk dalam kalimat:
Memang mereka saat ini sedang di atas angin.
6. Morfologi Derivasi Nomina
Kelas kata nomina dapat dibentuk dari proses morfologi derivasi. Morfologi derivasi ini dilakukan dengan proses afiksasi atau penambahan afiks. Proses afiksasi ini dapat mengubah kelas kata lain menjadi kelas kata nomina. Berikut ini adalah penjabaran proses morfologi derivasi kelas kata nomina yang diadopsi dari Sneddon et. al. (2010).
6.1. Prefiks peN- dengan akar verba
Prefiks peN- dapat digabungkan dengan akar verba untuk membentuk kelas kata nomina yang bermakna ‘orang yang melakukan tindakan yang diekspresikan oleh akar kata’. Berikut ini adalah contoh-contohnya.
Verba Derivasi nomina Makna nomina
Mengarang Pengarang Orang yang mengarang Mencuri Pencuri Orang yang mencuri Menipu Penipu Orang yang menipu
Menduduki Penduduk Orang yang menduduki suatu daerah atau tempat Menumpang Penumpang Orang yang yang menumpang (misalnya
kendaraan umum) Membaca Pembaca Orang yang membaca Menyelam Penyelam Orang yang menyelam Menjahit Penjahit Orang yang menjahit Merajut Perajut Orang yang merajut
Table 2. Prefiks peN- dengan akar verba
Berikut ini beberapa contoh penggunaan derivasi nomina di atas dalam kalimat.
• Pengarang buku itu mendapatkan loyalty yang tiada habis-habisnya.
• Penyelam itu menemukan harta karun di dasar lautan.
6.2. Prefiks peN- merujuk pada inanimate object
Proses derivasi prefiks peN- yang merujuk pada inanimate object menjelaskan alat atau instrument yang digunakan untuk melakukan tindakan. Bentuk seperti ini dapat memodifikasi nomina yang mengikutinya. Berikut ini adalah beberapa contoh.
Verba Derivasi nomina Makna nomina
Memantik Pemantik (api) Alat untuk memantik api Memutar Pemutar (film) Alat untuk memutar film Menghapus Penghapus (papan
tulis)
Alat untuk untuk menghapus papan tulis
Memanaskan Pemanas (makanan) Alat untuk memanaskan makanan Membersihkan Pembersih (lantai) Alat untuk membersihkan lantai Menabuh Penabuh (beduk) Alat untuk menabuh beduk Memotong Pemotong (rumput) Alat untuk memotong rumput
Table 3. Prefiks peN- merujuk pada inanimate object
Berikut ini beberapa contoh penggunaan derivasi nomina di atas dalam kalimat.
• Makanan beku itu dimasukkan ke dalam pemanas.
• Rumput di halaman sudah tinggi karena pemotongnya rusak.
6.3. Prefiks peN- dengan akar kata adjektiva
Prefiks PeN- dapat melalui suatu proses derivasi morfologi dengan akar kata adjektiva untuk membentuk kelas kata nomina. Makna yang dihasilkan dari proses derivasi ini adalah ‘nomina yang diasosiasikan dengan adjektiva yang menjadi akar kata’. Berikut ini adalah beberapa contoh proses derivasi tersebut.
Adjektiva Derivasi nomina
Makna nomina
Bebas Pembebas Orang yang membebaskan sesuatu atau seseorang
Adjektiva Derivasi nomina
Makna nomina
Berani Pemberani Orang yang berani
Panjang Pemanjang Alat untuk memanjangkan sesuatu Bulat Pembulat Alat untuk membulatkan sesuatu Dendam Pendendam Orang yang suka menyimpan dendam Dengki Pendengki Orang yang dengki
Dingin Pendingin Alat untuk mendinginkan sesuatu Encer Pengencer Alat untuk mengencerkan sesuatu Halus Penghalus Alat untuk menghaluskan sesuatu
Harum Pengharum Alat untuk mengharumkan sesuatu (misalnya, untuk ruangan)
Kagum Pengagum Orang yang mengagumi sesuatu atau seseorang Keras Pengeras Alat untuk mengeraskan sesuatu
Kering Pengering Alat untuk mengeringkan sesuatu Rekat Perekat Alat untuk merekatkan sesuatu Malas Pemalas Orang yang malas
Table 4. Prefiks peN- dengan akar kata adjektiva
Berikut ini beberapa contoh penggunaan derivasi nomina di atas dalam kalimat.
• Para pendengki tak dapat menerima kenyataan bahwa ia sering mendapatkan penghargaan.
• Sebagai pengagum Rasul, mereka mengikuti sunnahnya.
6.4. Prefiks pe- dengan akar kata verba
Proses derivasi prefiks pe- dengan akar kata verba menghasilkan kelas kata nomina yang memiliki makna ‘seseorang yang melakukan kegiatan seperti yang diekspresikan oleh akar kata’. Berikut ini adalah beberapa contoh proses derivasi kelas kata nomina tersebut.
Verba Derivasi nomina Makna nomina Bekerja Pekerja Orang yang bekerja Belajar Pelajar Orang yang belajar Berdagang Pedagang Orang yang berdagang Berjalan Pejalan Orang yang berjalan kaki
Table 5. Prefiks pe- dengan akar kata verba
Berikut ini beberapa contoh penggunaan derivasi nomina di atas dalam kalimat.
• Banyak pekerja terpaksa diPHK karena pabrik berhenti beroperasi.
• Menjadi pedagang sukses adalah impiannya sedari dulu.
6.5. Prefiks pe- yang mengekspresikan kegiatan olahraga
Kombinasi prefiks pe- dengan cabang olah raga tertentu dapat menghasilkan kelas kata nomina yang bermakna ‘atlit cabang olah raga yang diekspresikan oleh akar kata’. Berikut ini adalah beberapa contoh kombinasi tersebut.
Olahraga Derivasi nomina Makna nomina Gulat Pegulat Atlit gulat Tinju Petinju Atlit tinju Silat Pesilat Atlit silat Lari Pelari Atlit lari Catur Pecatur Atlit catur Renang Perenang Atlit renang Tenis Petenis Atlit tenis Sepak bola Pesepak bola Atlit sepak bola Panahan Pemanah Atlit panahan
Table 6. Prefiks pe- yang mengekspresikan kegiatan olahraga
Berikut ini beberapa contoh penggunaan derivasi nomina di atas dalam kalimat.
• Pegulat itu memutuskan untuk berpindah kewarga negaraan karena ia tidak dihargai di negaranya.
• Ia memutuskan untuk berkarir sebagai petenis.
6.6. Sufiks -an dengan akar kata verba
Proses derivasi suffiks -an dengan akar kata verba dapat menghasilkan nomina yang menjadi objek dari kegiatan yang diekspresikan verba. Verba yang dapat digunakan dalam proses derivasi adalah verba transitif yang mensyaratkan kehadiran objek dalam konstruksinya. Hasil derivasi nomina ini mengandung makna ‘apa yang di-verba’. Berikut ini adalah beberapa contoh proses derivasi tersebut.
Verba Derivasi nomina Antar Antaran
Antre Antrean Masuk Masukan Bayar Bayaran Kumpul Kumpulan Letus Letusan Lipat Lipatan Lompat Lompatan Raih Raihan Ramu Ramuan Rangkum Rangkuman Rembes Rembesan Rintih Rintihan
Table 7. Sufiks -an dengan akar kata verba