2. KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini, secara garis besar, hal-hal yang akan dibahas oleh penulis yaitu sebagai berikut.
2.1. Pengertian Falsafah Bisnis
Falsafah bisnis adalah cabang filsafat yang menerapkan kebijaksanaan filsafat di dalam bisnis. Kebijaksanaan filsafat yang dimaksud ialah kebijaksanaan rasional, yakni kebijaksanaan berdasarkan akal budi manusia. Tujuannya adalah supaya bisnis menjadi sarana bagi seseorang untuk memperoleh hidup yang lebih berkualitas.
Makna berkualitas disini bukan hanya perihal materi, namun juga perihal karakter dan kebahagiaan seseorang, terliput analisis perihal kepemimpinan, kreativitas, pertumbuhan, kesadaran, dan sebagainya. (Tan, 2010).
2.2. Prinsip Bisnis Orang Tiongkok
Berdagang adalah salah satu hal yang identik dengan orang Tiongkok. Orang Tiongkok cenderung beranggapan bahwa dengan berdagang, maka status sosial dan kedudukannya dalam masyarakat dapat dipandang lebih tinggi daripada rakyat biasa.
Minat dalam berdagang ini tidak ada keterkaitannya dengan faktor genetik yang diwariskan secara turun-temurun. Namun sebaliknya, faktor lingkungan, persaingan, kepercayaan, dan tuntutan hidup-lah yang mendukung faktor orang Tiongkok dalam menumbuhkan minat dan kecenderungannya terhadap dunia bisnis. Tidak hanya itu, faktor lain yang memegang peranan dominan dalam keberhasilan orang Tiongkok dalam menjalanankan bisnisnya ialah adanya tekanan hidup, khususnya dalam bidang ekonomi, sehingga mereka harus bertahan untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya.
Di samping itu, layaknya yang tertera dalam buku Rahasia Bisnis Orang Cina, Seng (2006), dinyatakan bahwa keberhasilan dan keterampilan orang Tiongkok dalam berdagang, pada dasarnya juga tidak terlepas dari beberapa petuah dagang, dimana
petuah dagang ini menjadi dasar prinsip dan atau panduan bagi orang.
Tiongkok guna memajukan kegiatan perdagangan mereka.
2.2.1 Agresif
Dalam kegiatan dagang, pedagang harus tahu bagaimana membedakan urusan pribadi dan urusan perdagangan. Keduanya tidak dapat dipadukan secara bersamaan.
Dengan kata lain, dalam urusan perdagangan, ketika proses tawar-menawar berlangsung, secara langsung maupun tak langsung, rasa tenggang rasa harus diminimalisir. Namun, saat proses ini berlangsung, janganlah menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak, baik bagi pedagang maupun pelanggan. Dalam proses ini, pedagang harus bersikap tegas dalam mengurus keuangannya. Hasil keuntungan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, dan bukan menimbun utang maupun beban.
2.2.2 Jangan Melepaskan Peluang
Pepatah yang cukup populer tersebut melambangkan kriteria kerja orang Tiongkok. Orang Tiongkok menerapkan prinsip untuk selalu bekerja dengan cepat, dan menempatkan waktu sebagai sesuatu hal yang prioritas. Mereka juga memegang prinsip bahwa peluang hanya datang sekali saja dan tidak untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, apabila bekerja, orang Tiongkok akan mengabaikan hal-hal lain yang tidak bersangkutan dengan dunia bisnisnya. Mereka akan mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan dan memajukan kegiatan perdagangannya. Prinsip mereka adalah Time is Money.
2.2.3 Berani Mengambil Risiko
Berdagang tentunya tidak dapat terhindar dari risiko. Tidak ada jaminan bahwa kegiatan perdagangan akan selalu menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, seorang pedagang tentunya harus berani dan siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin saja muncul secara tidak terduga, baik resiko gagal, rugi, maupun jatuhnya usaha dagang yang dibentuknya. Namun, prinsip untuk terus bangkit kembali
hendaklah selalu dipegang oleh seorang pedagang. Seorang pedagang hendaklah berani untuk menolak rasa takut bersaing, berani menghadapi kegagalan, serta siap untuk terus menggali dan membuka bisnis baru.
2.2.4 Tahan Banting
Dalam menjalankan suatu kegiatan perdagangan, seorang pedagang hendaklah memiliki mental dan jiwa yang kukuh, karena tidak menutup kemungkinan bahwa lebih-lebih disaat suatu kegiatan perdagangan baru saja dibentuk, seorang pedagang harus mengorbankan waktu, tenaga, uang, dan lain sebagainya guna memantapkan kegiatan perdagangannya. Prinsip yang juga selalu ditanamkan dalam pemikiran orang Tionghoa ialah “Bersusah-susah terlebih dahulu, bersenang-senang kemudian”.
2.2.5 Jangan Menyerah Pada Nasib
Secara umum, Tiongkok dan negara-negara lain percaya akan adanya takdir, dimana kehidupan ini bagaikan sebuah roda, terkadang di atas, dan terkadang di bawah. Namun, orang Tiongkok beranggapan bahwa pada dasarnya, nasib seseorang bergantung dalam kendali setiap dari individu kita pribadi. Begitu juga apabila dikaitkan dengan dunia perdagangan. Seorang pedagang hendaklah bersikap terbuka dan berlapang dada apabila menghadapi situasi yang sulit. Hal ini juga akan membantu seorang pedagang untuk dapat berpandangan secara jauh, dan berpandangan secara positif.
2.2.6 Semangat Berjuang
Dalam melakukan kegiatan perdagangan, seorang pedagang haruslah memiliki semangat juang yang tak kunjung padam. Sekalipun di saat seorang pedagang telah memperoleh keuntungan dan mencapai keberhasilan target awal, mereka juga harus tetap bersemangat di dalam melakukan pekerjaannya, dan bukan terlena di zona nyaman tersebut. Keuntungan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh seorang pedagang, hendaklah menjadi motivasi baru bagi mereka untuk mencapai hasil yang lebih memuaskan lagi dibanding titik sukses yang telah tercapai
sebelumnya. Keenam aspek di atas bersifat universal dan dijadikan paduan oleh orang Tiongkok dalam memajukan kegiatan perdagangan mereka.
2.3. Falsafah Bisnis Fan Li
Fan Li adalah seorang Negara Chu yang terlahir miskin, namun ia cerdas dan bijaksana, sehingga pada akhinya ia dikenal sebagai seorang pebisnis handal yang memiliki pemikiran yang tajam dalam berbisnis. Pada awalnya, ia adalah seorang ahli strategi militer pada jaman peperangan musim semi-gugur. Ia pun sukses di dunia militer, namun pada akhirnya ia mengundurkan diri dari kedudukan tinggi seorang perdana menteri, dan beralih menjadi seorang pebisnis.
Dalam dunia bisnis, Fan Li pun membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu pedagang yang sangat sukses di era-nya saat itu. Namun, ia tidak pernah tamak dengan harta yang dimilikinya, dan terus bersikap dermawan terhadap orang-orang yang membutuhkan. Pengetahuan dan pemikiran yang dimiliki oleh Fan Li terhadap bidang bisnis tersebut kemudian disimpulkan dan ditulis dalam buku 12 Rules of Management Effectiveness : Kearifan China Kuno dari Tao Zhu Gong. Dalam buku tersebut, dijabarkan prinsip-prinsip bisnis Fan Li, dimana ada dua belas prinsip mendasar yang mencerminkan pemikiran dan penerapan bisnis Tao Zhu Gong.
Keduabelas prinsip tersebut antara lain adalah sebagai berikut. (Tay, 2014).
2.3.1 Mampu Memahami Orang Lain
Seorang pebisnis hendaklah belajar untuk memahami dan menilai karakter orang lain dengan baik. Dengan menjalin hubungan yang baik dengan mitra kerja yang berkepribadian baik, dan menghindari individu yang memiliki karakter yang buruk, maka hal ini akan membantu memudahkan seorang pebisnis untuk tetap menjaga kegiatan bisnisnya agar tetap kompetitif, serta mencapai hasil bisnis yang memuaskan. Dengan memahami karakter dan nilai diri seseorang pula, maka akan memudahkan pebisnis untuk menggali dan menemukan potensi bisnis dari seseorang, yang tentunya juga akan menunjang hasil akhir dari bisnis yang dikelola pebisnis yang berkaitan.
2.3.2 Mampu Menangani Orang Lain
Dalam menghadapi masalah, tentunya kita perlu menangani segala situasi secara efisien. Terlebih dalam hal berbisnis, seorang pebisnis hendaklah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi permintaan pelanggan. Tidak hanya itu, dalam aspek ini, hendaklah seorang pebisnis dapat melayani pelanggan dengan penuh sikap ramah dan rendah hati. Aspek ini merupakan salah satu kunci untuk menarik minat pelanggan, sehingga mereka dengan senang hati melakukan transaksi bisnis dengan kita secara berkelanjutan.
2.3.3 Mampu Fokus dalam Bisnis
Sikap dan tindakan yang bijaksana sangat berperan penting dalam aspek ini.
Sebagai seorang pebisnis yang professional, hendaklah kita tetap fokus pada inti bisnis yang digeluti. Sikap yang mudah terpengaruh dan mudah terlibat dalam bisnis baru yang sekiranya memberikan kesan awal menggiurkan, akan mengakibatkan dampak lain yang mungkin saja berpengaruh buruk terhadap bisnis yang telah digeluti sebelumnya.
2.3.4 Mampu Mengatur
Penampilan merupakan salah satu faktor lain yang dominan dalam memikat hati dan mata seseorang. Dalam penerapan bisnis, aspek ini juga berlaku. Penampilan sebuah toko atau kantor mencerminkan identitas sebuah perusahaan. Sebuah toko atau kantor yang ditata dengan begitu rapi, teratur, bersih, ditambah pencahayaan ruangan yang cukup akan memanjakan mata pelanggan, sehingga mereka akan tertarik untuk berkunjung ke toko dan mungkin akan berujung untuk menarik pelanggan membeli produk yang kita tawarkan. Sebaliknya, apabila sebuah toko atau kantor yang tidak ditata dengan rapi dan menarik, maka minat pelanggan juga akan sirna. Oleh karena itu, “kemasan” sebuah perusahaan alangkah baiknya yang bersifat menarik perhatian.
2.3.5 Mampu Bersikap Fleksibel dan Gesit
Dalam kehidupan masyarakat yang sangat cepat dan kompetitif ini, seorang pebisnis juga dituntut untuk dapat bersikap fleksibel dan gesit. Dengan kata lain, dalam bertindak, pebisnis hendaklah tidak kaku, dan lambat respon dalam mengambil keputusan dan memberi tanggapan. Keragu-raguan dalam berbisnis hanya akan berujung pada kesia-siaan.
2.3.6 Mampu Menagih Utang
Dalam proses berlangsungnya transaksi bisnis, piutang bisa menjadi masalah besar bagi arus kas suatu perusahaan. Apabila transaksi bisnis sering dilakukan secara kredit tanpa pertimbangan yang matang, maka hal ini dapat merubah laba perusahaan menjadi beban usaha dalam suatu perusahaan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang pemimpin perusahaan yang pandai dalam menagih utang, terutama bagi perusahaan yang memperbolehkan pelanggan membeli produk dengan sistem kredit secara leluasa. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan sikap yang waspada, tekun, dan pantang menyerah agar upaya yang dilakukan membuahkan hasil yang maksimal.
2.3.7 Mampu Mendelegasikan Tugas
Seorang pebisnis hendaklah juga memiliki aspek ini, dimana seorang pebisnis harus memahami cara mengelola serta mendelegasikan tugas kepada bawahan atau karyawannya. Dengan begitu, tentunya akan meningkatkan tingkat keandalan pebisnis dalam bekerja, juga akan meringankan beban pebisnis tersebut. Di sisi yang lain, hal ini juga akan menjadi kesempatan bagi para karyawan untuk mengembangkan kemampuan mereka pribadi.
2.3.8 Mampu Berkomunikasi
Komunikasi yang baik merupakan salah satu poin utama yang menjadi jembatan kegiatan transaksi dalam dunia bisnis. Seorang pebisnis yang komunikatif akan mampu mempromosikan dan meyakinkan para pelanggan terhadap manfaat dari produk yang ditawarkannya. Komunikasi juga harus berlangsung secara efektif,
dalam artian, seorang pebisnis bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan pesan dengan jelas melalui kata-kata, namun juga mampu memahami pihak lain dengan cara mendengarkan dan mengamati.
2.3.9 Mampu Unggul dalam Membeli
Permintaan pasar, potensi penjualan, kualitas barang, dan harga adalah faktor- faktor penting yang perlu diperhatikan oleh seorang pebisnis. Seorang pebisnis haruslah handal dan teliti dalam membeli suatu produk yang akan dipasarkannya kembali. Hal ini berguna untuk meminimalkan kerugian suatu perusahaan. Apabila seorang pebisnis sedikit saja tidak hati-hati dalam proses pembelian suatu produk, maka tidak menutup kemungkinan hal ini akan membawa dampak yang cukup signifikan terhadap suatu perusahaan, dimana suatu perusahaan akan mengalami kerugian yang tidak sedikit pula jumlahnya, serta mengalami kekalahan dalam kompetisi dengan perusahaan lain.
2.3.10 Mampu Memanfaatkan Peluang
Dalam menerapkan bisnis, kemampuan pebisnis dalam memanfaatkan momen penting untuk dijadikan peluang guna mendapatkan profit sangatlah penting. Sikap waspada untuk melihat celah peluang yang paling pas, sangat dibutuhkan oleh seorang pebisnis, untuk menjual produk di harga tertentu. Dengan catatan, seorang pebisnis juga hendaklah mengetahui momen dimana suatu perusahaan harus menyimpan barang terlebih dahulu dan atau menunda penjualan produk tersebut.
2.3.11 Mampu Memimpin dengan Menjadi Teladan
Seorang pebisnis haruslah memiliki standar disiplin diri yang tinggi agar bisa memimpin orang lain. Seorang pemimpin perusahaan haruslah efisien, kompeten, dan berani mengambil inisiatif untuk memimpin. Hal ini akan menunjang serta
membentuk rasa hormat dan kagum dari bawahan terhadap pemimpinnya, sehingga mereka mematuhi pemimpinnya, serta termotivasi untuk bersama-sama meraih visi dan misi suatu perusahaan tersebut. Dengan begitu, tujuan yang ingin diraih oleh suatu perusahaan, akan terwujud lebih cepat dan maksimal dari target yang telah ditentukan.
2.3.12 Mampu Melihat Jauh ke Depan
Perencanaan jangka panjang sangat dibutuhkan oleh seorang pebisnis.
Pebisnis harus mampu membuat rancangan jangka panjang yang dirancang khusus untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Dengan kata lain, seorang pebisnis harus berupaya untuk memenuhi lebih dari sekadar kebbutuhan jangka pendek. Oleh karena itu, para pebisnis juga dituntut untuk selalu memiliki intuisi yang tajam dalam mengamati segala sesuatu, serta mampu dalam menganalisis dan memperkirakan masa depan dengan mengamati tanda-tanda yang terjadi pada masa sekarang. Sikap waspada terhadap lingkungan sekitar juga harus selalu menyertai diri pebisnis agar tetap kompeten dalam mengembangkan usahanya seiring perubahan zaman yang berlangsung.