• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II.

LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai kemitraan pemerintah-swasta atau public private partnership (PPP) telah banyak dilakukan oleh banyak peneliti di berbagai negara.

Teori-teori maupun hasil penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai dasar dan acuan dalam penelitian, maupun dapat digunakan sebagai data pendukung.

Penelitian terdahulu dipandang oleh penulis dapat dijadikan dasar dan data pendukung, oleh karena itu peneliti melakukan kajian terhadap penelitian terdahulu berupa jurna-jurnal penelitian yang berasal dari jurnal elektronik.

Salah satu penelitian mengenai kemitraan pemerintah-swasta atau public private partnership (PPP) telah dilakukan oleh Ismowati (2016) dengan judul Kajian Urgensi Public private partnerships Di Kota Bandung. Dalam penelitian tersebut penulis membahas mengenai public private partnership (PPP) di kota Bandung dalam mewujudkan “Program Bandung Juara”. Public private partnership (PPP) dilakukan karena keterbatasan sumber dana, sumberdaya manusia, kemampuan teknologi dan lain sebagainya. Public private partnership (PPP) bertujuan agar pemerintah mendapat hasil terbaik, rakyat juga memperoleh hasil sepadan, yakni kesejahteraan. Dengan demikian spirit Public-Privat Partnership adalah untuk memperkuat pemerintah atau meningkatkan pelayanan publik yang selama ini dinilai belum efisien. Penelitian tersebut menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif .

Penelitian mengenai Public private partnership (PPP) terjadi di berbagai belahan dunia, salah satunya dilakukan oleh Alinaitwe & Ayesiga (2013) yang berjudul Success Factors for the Implementation of Public–Private Partnerships in the Construction Industry in Uganda. Dalam jurnal tersebut membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi Public–

Private Partnerships dalam bidang konstruksi di Uganda. Dalam penelitian tersebut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan adalah dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi commit to user commit to user

(2)

proyek PPP. Faktor yang mempengaruhi anatar lain memusatkan perhatian dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya pada masalah yang muncul, pemangku kepentingan dapat memprioritaskan penanganan masalah, informasi yang akurat juga penring dalam pelaksanaan PPP

Islam,dkk (2012) menyajikan penelitian yang berjudul Public private partnership In Education: Experience Of Pakistan And Bangladesh. Jurnal tersebut membahas sistem kemitraan publik swasta (public private partnership / PPP) dalam bidang pendidikan di Pakistan dan Bangladesh. Kedua negara tersebut telah mengadopsi sistem PPP agar bisa lebih sukses dalam memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat. Pakistan memiliki lima model PPP dalam pendidikan: adopsi sekolah, konsesi ke sekolah swasta, gradasi sekolah melalui proyek partisipasi masyarakat, pelatihan badan-badan sekolah tingkat lokal dan tawana atau program gizi. Analisis komparatif mengenai situasi pendidikan di negara-negara setelah diperkenalkannya PPP menunjukkan bahwa Bangladesh memiliki prestasi pendidikan yang lebih tinggi kemungkinan hasil eksperimen PPP di kedua negara tersebut.

Uhlik (2007) dalam artikelnya membahas mengenai pengembangan teori kemitraan. Dalam artikel tersebut, mengembangkan teori partnership yang cocok digunakan pada bidang pariwisata, serta prinsip yang menuntun jalannya sebuah kemitraan agar dapat berhasil. Uhlik mengembangkan indikator yang mempengaruhi kemitraan yaitu, relationships, resources, networks dan organizations.

Selanjutnya penulis membuat skema hasil penelitian terdahulu dalam sebuah tabel. Unuk mempermudah pemahaman, dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini,

commit to user commit to user

(3)

16

No Artikel Metode Isi Singkat

Persamaan Perbedaan

1

Ismowati,Mary.

“Kajian Urgensi Public Private Partnerships Di Kota Bandung”.

Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi

Transparansi Volume VIII, Nomor 02, September 2016 Hal 143-151.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif dengan studi deskriptif

Penelitian yang dilakukan oleh Ismowati menganalisis bentuk kerjasama public private partnership pemerintah kota Bandung dengan pihak swasta dan hal-hal agar kerjasama ini berhasil ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti yang dikemukakan Pengaturan harus secara institusi yang dapat

menunjukkan identitas dan posisi yang jelas.

Penelitian yang dilakukan Ismowati (2016) sama-sama membahas mengenai public private

partnership.

Peneliti menggunakan prinsip partnership yaitu relationships, resources,

organizations (Uhlik,2007), Commitment (Jakki,1994) dan interdependence (Pramono,2004) sedangkan Ismowati menggunakan determinan kunci kesusksesan yang dikemukakan oleh Kanter (2001).

2

Alinaitwe, Henry and Robert Ayesiga.

“Success Factors for the Implementation of Public–Private

Partnerships in the Construction Industry

Metode yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan data diperoleh melalui survei kuesioner

Temuan penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam berbagai cara.

Pertama, dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi proyek KPS, pemangku kepentingan yang

Penelitian yang dilakukan oleh Alinaitwe dan Robert (2013) sama-sama membahas mengenai pelaksanaan public private partnership.

Penelitian yang

dilakukan oleh peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan metode yang digunakan Alinaitwe dan Robert (2013)

commit to user commit to user

(4)

Penerbit Universiti Sains Malaysia.

3

Islam, Md. Saiful,Md.

Harun-Ar-Rashid and Kalsoom Fatima.

“Public private partnership in

Education: Experience of Pakistan and

Bangladesh”. Rajagiri Journal of Social Development 2012 Volume 4, PP.32-48

Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan metode studi literatur.

Analisis dilakukan dengan melihat dampak PPP pada aspek

pengeluaran untuk pendidikan, pendaftaran sekolah, rasio murid- guru dan guru terlatih, tingkat melek huruf dan angka DO siswa.

Bangladesh tampaknya memiliki keberhasilan yang relatif lebih baik dengan eksperimen PPP daripada Pakistan.

Penelitian yang dilakukan oleh Islam,dkk sama-sama membahas mengenai public private

partnership dalam layanan pendidikan.

Yang dilakukan peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan literatur hanya sebagai data pendukung, sedangkan yang dilakukan

Islam,dkk menggunakan metode literatur review.

4

Woldetsadik,

Demessew Alemu and Mutendwahothe Walter Lumadi. “Missing Link: Partnership of Technical Vocational Education and Training (TVET) Colleges and Industries in Addis Ababa”. J Economics, 2015, 6(1)PP : 74-78.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kuantitatif, dengan teknik penarikan sampel menggunakan purposive sampling.

Dalam penelitian tersebut, penulis mencari kelemahan dari

pelaksanaan PPP dibidang pendidikan vokasi. Sehingga peneliti mendapatkan kelemahan pelaksanaan PPP yang terjadi antara pergutruan tinggi dan industri di Addis Ababa. Muncul berbagai permasalahan yaitu pengaturan PPP tidak terorganisir dengan baik, pengawasan industri

Penelitian ini sama- sama membahas mengenai hubungan partnership antara pendidikan tinggi vokasi dengan industri.

Woldetsadik dalam penelitianya mencari kelemahan sistem PPP dalam bidang

pendidikan vokasi sedangkan yang dilakukan oleh peneliti adalah mencari faktor- faktor yang

menghambat

`pelaksanaan PPP

commit to user commit to user

(5)

5

Uhlik, Kim S.

"Towards A Theory of Partnership As Context For A Theory of Leisure". Proceedings of the 2007

Northeastern

Recreation Research Symposium PP. 32-37

Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan metode kualitatif

Uhlik dalam artikelnya membahas mengenai pengembangan teori kemitraan. Dalam artikel tersebut, Uhlik (2007) mengembangkan teori partnership dalam bidang rekreasi serta prinsip yang menuntun jalannya sebuah kemitraan.

penelitian ini sama- sama menggunakan pengembangan teori yang dikemukakan oleh Uhlik (2006) yaitu relationship, resources, network, dan

organizations

Peneliti menggunakan indikator yang

dikemukakan oleh Uhlik untuk menganalisis

permasalahan di bidang pendidikan tinggi vokasi namun hanya menggunakan indikator relationship, resources dan organization.

commit to user commit to user

(6)

B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Partnership

a. Definisi Partnership

Good governance merupakan cita-cita yang menjadi dasar visi dalam penyelenggaraan sebuah negara. Good governance dapat didefinisikan sebagai hubungan sinergis dan konstruktif antara negara, swasta dan society (Dwiyanto,2005:82). Dwiyanto (2005:79-81) menyatakan bahwa kekuasaan saat ini tidak lagi semata-mata menjadi urusan pemerintah atau yang lebih dikenal sebagai governance.

Kemitraan dan kerjasama dengan institusi swasta serta masyarakat sipil merupakan salah satu karakteristik governance. Dalam governance, negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor dominan dalam penyelenggaraan urusan publik dan pelayanan publik. Negara memerlukan pihak lain dalam hal ini adalah pihak swasta untuk menyelenggarakan pelayanan publik. Kemitraan atau partnership merupakan sebuah konsep penting dalam paradigma administrasi negara, yaitu paradigma governance.

Terjalinnya sebuah kerjasama antar stakeholders yang berkepentingan sering disebut dengan kemitraan. Kemitraan secara etimologis merupakan sebuah istilah yang diadopsi dari kata partnership yang berasal dari kata partner. Partner dapat diterjemahkan sebagai jodoh, pasangan, sekutu, dan kompanyon, sedangkan partnership diterjemahkan sebagai persekutuan atau kerjasama. Istilah dari kemitraan dapat dinyatakan sebagai hubungan kerjasama antara dua belah pihak atau lebih dalam rangka mencapai sebuah tujuan tertentu.

Kemitraan menurut American Heritage Dictionary (1992) dapat diartikan sebagai hubungan antara beberapa individu atau kelompok yang memiliki kerjasama dan tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan commit to user commit to user

(7)

tertentu. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata mitra adalah teman, kawan kerja, rekan. Sementara kemitraan artinya perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Kemitraan juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk persekutuan antara dua belah pihak atau lebih yang membentuk ikatan kerjasama atas dasar mencapai tujuan bersama (Gupitasari,2015:12).

Kemitraan menurut Muhammad (dalam Mufrita,2016) merupakan sebuah bentuk kerjasama antara dua belah pihak, pihak pertama sekelompok komunitas kuat dan pihak kedua berperan sebagai pendonor baik pemerintah, korporasi, maupun muzaki (donor) kuat. Dapat dikatakan menganut prinsip peran sama kuat (equal role) serta mempertimbangkan besarnya peran masing-masing pihakakan terbangunnya beberapa bentuk kerjasama antara komunitas dan pihak donor. Menurut Sulistiyani (2004:129), partnership diterjemahkan sebagai persekutuan atau perkongsian antara dua pihak atau lebih yang membentuk sebuah ikatan kerjasama dengan dasar kesepakatan dan rasa saling membutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pada suatu bidang untuk mencapai sebuh tujuan.

Pemerintah dengan segala keterbatasan yang dimilikinya mengakibatkan harus bermitra dengan pihak lain, yaitu perusahaan atau badan usaha maupun komunitas yang tentu akan memberikan keuntungan dan manfaat positif terhadap pihak-pihak yang bermitra terutama bagi pihak perusahaan dan komunitas yang mendapatkan asupan tenaga kerja dan dapat meningkatkan produktivitasnya. Menurut Ritonga (dalam Dwi,2013):

“Kemitraan merupakan sebuah kesepakatan hubungan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu, dimana hubungan tersebut dapat berupa hubungan dalam tingkatan yang dinilai lebih

“longgar” seperti koordinasi (coordination) hingga tingkatan yang

“lebih mengikat” seperti kerjasama (cooperation) dan kolaborasi (collaboration).”

Kolaborasi (collaboration) menurut Denise (1999:2) : commit to user commit to user

(8)

“Kolaborasi melibatkan kerja sama dimana pihak tidak terikat kontrak. Ada hubungan, tetapi biasanya kurang formal dari kontrak, mengikat hukum dan tanggung jawab mungkin tidak dibagikan secara merata. Kolaborasi terjadi ketika beberapa orang menyatukan kepentingan bersama mereka, aset dan keterampilan profesional untuk mempromosikan lebih luas minat untuk kepentingan komunitas.”

Denise (1999:1) juga mendefinisikan mengenai koordinasi (coordination) yaitu:

“Koordinasi dimulai dengan perbedaan asumsi dari orang berbeda unit berbeda hingga organisasi yang berbeda. Koordinasi adalah kerangka kerja yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap bagian, unit bahkan organisasibergerak secara berkesinambungan sehingga mencapai sebuah efisisensi.”

Sedangkan Weaver (2011:8) mendefinisikan mengenai kerjasama (cooperation) merupakan sebuah budaya sebuah lembaga. Kerja sama saat ini menjadi ciri khas bagi sebuah lembaga.

Pedoman Teknis Kemitraan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2012 menyebutkan bahwa kemitraaan adalah kesepakatan antara dua pihak atau lebih orang/lembaga untuk melakukan kerjasama dalam kegiatan tertentu dan masing-masing pihak menyetujui hak dan kewajibannya serta menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding), Nota Perjanjian Kerjasama, Surat perjanjian atau sebutan lainnya dengan hukumn perikatan yang berlaku.

Berdasarkan berbagai definisi dari beberapa literatur dapat diambil kesimpulan bahwa kemitraan ialah hubungan kerjasama antara dua pihak atau bahkan lebih dengan menggunakan prinsip saling menguntungkan, saling mendukung, saling membutuhkan sebagai landasan kemitraan dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam kemitraan juga sudah diatur hak dan kewajiban bagi masing- masing pihak. Dengan landasan prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh masing-masing pihak, kemitraan akan berjalan sesuai dengan harapan commit to user commit to user

(9)

serta dapat mncapai tujuan yang telah ditetapkan. Hubungan antara pihak- pihak yang bermitra memiliki kedudukan yang setara. Selain definisi dari kemitraan (partnership), hal-hal mengenai prinsip, tujuan dan model dari kemitraan akan dibahas pada sub bab selanjutnya.

b. Prinsip, Tujuan, Model dan Jenis Kemitraan

Kemitraan yang terjadi antara beberapa pihak pada dasarnya dilandasi oleh kesamaan terhadap tujuan yang akan dicapai. Kemitraan merupakan salah satu alternatif kerjasama antara beberapa pihak yang untuk mencapai tujuannya, saling berbagi sumberdaya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Menciptakan kemitraan bukanlah sesuatu hal yang mudah atau dapat datang sendiri. Kemitraan bertumpu pada kepercayaan, dengan ciri-ciri antara lain;

a) Persamaan dan organisasi yang lebih landai;

b) Hirarki aktualisasi yang luwes ( dimana kekuasaan dipedomani oleh nilai-nilai seperti caring dan caretaking);

c) Spritualitas yang berbasis ilmiah;

d) Tingkat kekacauan yang rendah yang terbentuk dalam sistem;

e) Persamaan dan keadilan.

Dengan beberapa ciri diatas bahwa kemitraan adalah upaya yang sengaja dilakukan oleh beberapa aktor untuk melakukan penyesuaian dan perubahan , agar dapat memperoleh hasil yang maksimal dengan berlandaskan kepercayaan antar aktor.

Kemitraan memiliki prinsip-prinsip dalam pelaksanaannya.

Wibisono (2007) merumuskan tiga prinsip penting dalam kemitraan, yaitu:

1. Kesetaraan atau keseimbangan (equity).

Pendekatannya bukan top down atau bottom up, bukan juga berdasarkan kekuasaan semata, namun hubungan yang saling menghormati, saling menghargai dan saling percaya. Untuk menghindari antagonisme perlu

commit to user commit to user

(10)

dibangun rasa saling percaya. Kesetaraan meliputi adanya penghargaan, kewajiban, dan ikatan.

2. Transparansi.

Transparansi diperlukan untuk menghindari rasa saling curiga antar mitra kerja. Meliputi transparansi pengelolaan informasi dan transparansi pengelolaan keuangan.

3. Saling menguntungkan.

Suatu kemitraan harus membawa manfaat bagi semua pihak yang terlibat.

Pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan adalah “win-win solution partnership”. Kesadaran dan saling menguntungkan disini tidak berarti para partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih dipentingkan adalah adanya posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing.

Berdasarkan pendekatan cultural, kemitraan bertujuan agar mitra usaha dapat mengadopsi nilai-nilai baru dalam berusaha seperti perluasan wawasan, prakarsa, kreativitas, berani mengambil resiko, etos kerja, kemampun aspek-aspek manajerial, bekerja atas dasar perencanaan, dan berwawasan kedepan.

Sedangkan mengenai landasan kemitraan, menurut Rahayu (2006:

124) menyatakan bahwa sebuah kemitraan menekankan pada dua hal yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak yang bermitra, yaitu:

[1] Landasan Kepercayaan (trust)

Landasan kepercayaan dibutuhkan oleh kedua belah pihak, jika menghendaki kemitraan jangka panjang. Landasan kepercayaan dapat diwujudkan dengan adanya prinsip melayani, kejujuran dan win-win agreement atau saling menguntungkan serta saling memperkuat antara kedua belah pihak.

[2] Landasan Kompetensi (core competency) commit to user

commit to user

(11)

Landasan kompetensi mengingatkan kemitraan hendaknya didasari oleh rasa kasihan perusahaan besar terhadap perusahaan kecil, tetapi masing-masing pihak saling membutuhkan.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa konsep kemitraan harus dipahami oleh pihak-pihak yang bermitra. Dalam sebuah hubungan kemitraan perlu adanya sikap saling percaya, saling membutuhkan serta memiliki kesamaan tujuan yang akan dicapai oleh pihak-pihak yang bermitra. Sehingga tercapai tujuan yang telah disepakati sebelumnya.

Pada dasarnya sebuah kemitraan memiliki berbagai prinsip agar tujuan yang telah disepakati dapat tercapai. Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan kesepakatan antar pihak yang bermitra. Secara umum prinsip dasar yang wajib dipenuhi adalah prinsip saling membutuhkan, keterbukaan, saling percaya dan komitmen. Prinsip-prinsip tersebut seharusnya diterapkan dalam sebuah hubungan kemitraan. Prinsip yang terpenting adalah trust atau kepercayaan. Apabila sebuah kemitraan yang berlandasakan kepercayaan dilaksanakan dengan baik, maka kemitraan tersebut akan berhasil. Model Kemitraan (Partnership) memiliki syarat utama yaitu kepercayaan. Disini pemerintah dituntut untuk percaya dan menghargai ide-ide baru yang muncul baik itu dari pihak swasta maupun masyarakat, begitupula dengan pihak swasta dan masyarakat dituntut pula untuk memiliki kepercayaan terhadap pemerintah yang dapat menerima serta melakukan ide-ide baru tentang perubahan yang dikehendaki oleh masyarakat. Dalam model ini masyarakat sipil, masyarakat ekonomi dan masyarakat politik bersama dengan pemerintah dapat membuat sebuah forum bersama merencanakan, melaksanakan, dan memonitoring sebuah program atau kegiatan. Mugasejati (2004:99) mengemukakan bahwa :

“kemitraan akan berhasil selain karena kepercayaan tetapi juga harus ada hasil yang lebih besar yang hanya bisa diperoleh melalui kemitraan, masing-masing pihak harus memiliki visi dan tujuan yang sama, harus ada satu pihak yang menjadi inisiator kemitraan, harus ada jaringan yang menghubungkan pihak-pihak yang memiliki sumberdaya, harus ada pengaturan yang fair mengenai kontribusi masing-masing pihak.” commit to user commit to user

(12)

Konsep kemitraan/ partnership dalam kontek penyelenggaraan pelayanan publik pada hakekatnya merupakan sebuah proses pelayanan publik yang merupakan “tugas bersama” atau merupakan sebuah kemitraan antar pemerintah, pihak swasta dan masyarakat. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, maka birokrasi perlu memasukkan nilai- nilai baru dalam manajemen pelayanan publik yang bertumpu pada pola hubungan kerja antara organisasi pemerintah, swasta dan masyarakat.

Diharapkan ketiga elemen tersebut dapat melakukan peran dan fungsi serta tanggung jawab sehingga menciptakan suatu sinergi. Sinergi atau kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta dan masyarakat haruslah menjadi paradigma baru. Dalam era kompetitif ini, sudah bukan zamannya lagi apabila salah satu pihak arogan, sehingga menolak untuk bekerjasama dengan pihak lain. Ruang sinergi dan kerjasama antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat harus tetap dibuka untuk menjamin bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing pihak bisa berjalan dengan optimal. Setiap aktor memiliki modal dan kemampuan yang spsifik, apabila dikelola bersama, maka akan mendatangkan hasil yang lebih efektif dan efisien, dibandingkan jika dikerjakan sendirian.

Memperoleh hasil yang lebih baik, lebih efisien dan efektif merupakan tujuan dari adanya sebuah kemitraan. Aspek yang terpenting dari sebuah kemitraan andalah masing-masing pihak yang bermitra memiliki komitmen untuk melakukan kolaborasi dan aliansi sehingga tercapai tujuan bersama (Dwiyanto 2010:87).

Agar lebih memahami khususnya mengenai ciri kemitraan, menurut Dwiyanto (2010:264) bahwa terdapat perbedaan antara hubungan kemitraan dan bukan kemitraan (kerjasama, kolaborasi, dll). Berikut tabel 2.2 yang mepaparkan perbedaan tersebut antara kemitraan dan kerjasama non-kemitraan, sebagai berikut:

commit to user commit to user

(13)

Tabel 2.2

Perbedaan antara Kemitraan dan Non Kemitraan (Dwiyanto, 2010:264)

Dapat dilihat bahwa sebuah kemitraan memiliki karakteristik yang berbeda dengan kerjasama non kemitraan, perbedaan tersebut dapat dilihat dari sifat kerjasama hingga pelaksanaan sumber daya. Hubungan kemitraan memiliki karakteristik yang menonjol yaitu hubungan yang bersifat kolaborasi, penggabungan sumberdaya, dan saling berbagi manfaat dan resiko.

Kemitraan yang dilakukan oleh sebuah organisasi pada dasarnya melalui berbagai macam pertimbangan. Pertimbangan tersebut bisa berupa keberhasilan yang mengakibatkan keuntungan, kerugian, dan dampak yang muncul sebagai akibat dari adanya sebuah kemitraaan. Sebuah hubungan kemitraan akan menjadi berhasil, salah satunya apabila dikelola No Ciri-ciri Tipe Kemitraan Pemerintah dan Swasta

Kemitraan Non-Kemitraan 1. Sifat kerjasama Kolaboratif Swastanisasi,

outsorcing

2. Intensitas Tinggi Rendah

3. Jangka waktu Panjang Pendek

4. Kedudukan para pihak

Setara dan otomom Tidak setara, terikat dengan kontrak 5. Manfaat dan

resiko

Saling berbagi manfaat dan resiko

Manfaat dihitung sebagai kompensasi atas prestasi,

sementara resiko ditanggung masing- masing pihak

6. Sumberdaya untuk pelaksanaan kegiatan

Penggabungan sumberdaya

Tidak ada penggabungan sumberdaya

commit to user commit to user

(14)

dengan menerapkan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Jakki (1994) yaitu:

a. Komitmen (Commitment)

Mengacu pada kemauan dari masing-masing pihak yang bermitra.

Pihak yang bermitra berusaha membangun sebuah hubungan yang menunjukkan orientasi jangka panjang. Tingkat komitmen yang tinggi dapat mengakibatkan tujuan dari masing-masing pihak tercapai. Dengan semakin tingginya komitmen yang dimiliki, maka masalah jangka pendek akan dapat terselesaikan dengan baik.

Tingkat komitmen yang tinggi dapat dikaitkan dengan kesuksesan sebuah kemitraan.

b. Koordinasi (Coordination)

Koordinasi antar pihak yang bermitra juga memiliki batas-batas tertentu yang wajib dipatuhi. Narus dan Anderson (dalam Jakki, 1994) mengemukakan bahwa kemitraan kerja yang berhasil ditandai dengan tindakan terkoordinasi yang diarahkan pada tujuan bersama yang konsisten. Terjadinya ketidakstabilan situasi dalam sebuah kemitraan dapat perbaiki melalui koordinasi yang lebih intesive. Tanpa adanya tingkat koordinasi yang lebih intensive, maka akan terjadi kegagalan dalam bermitra, keuntungan yang direncanakan tidak akan tercapai.

c. Saling Ketergantungan (Interdependency)

Interdependensi menghasilkan pihak-pihak yang bermitra menjadi saling bergantung. Pihak-pihak yang bermitra menyadari bahwa keuntungan saling bergantung memberi manfaat yang lebih baik daripada jika dicapai sendiri.

d. Kepercayaan (Trust)

Menurut Pruitt (dalam Jakki, 1994) menunjukkan bahwa kepercayaan terkait dengan keinginan untuk berkolaborasi.

Hubungan kemitraan yang menampilkan kepercayaan akan dapat commit to user commit to user

(15)

mengelola hubungan dengan lebih baik. Zand (dalam Jakki, 1994) berpendapat bahwa kurangnya kepercayaan akan mengganggu pertukaran informasi, pengaruh timbal balik, dan akan mengurangi keefektifan pemecahan masalah bersama. Kemitraan akan lebih berhasil sesuai yang diharapkan ditandai oleh tingkat komitmen, koordinasi, saling ketergantungan dan kepercayaan yang lebih tinggi daripada kemitraan yang kurang berhasil.

Kemitraan akan berhasil apabila variabel-variabel yang mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan kemitraan dapat dilakukan.

Menurut Pramono (2004:139) dalam buku modul “mengelola dinamika politik dan sumberdaya daerah” menyatakan bahwa ada 7 variabel yang mempengaruhi keberhasilan kemitraan, yaitu

1. Transparansi (Transparency)

Dalam sebuah kemitraan adanya transparansi dapat berupa kemudahan proses pengawasan dan penegasan kepatuhan anggotanya. Sebuah kemitraan akan efektif apabila anggotanya mematuhi aturan mengenai hak dan kewajibannya.

2. Kekokohan dan keluwesan (Robustness)

Efektivitas dan keberhasilan kemitraan tergantung pada kekokohan dan keluwesan dalam menyelesaikan segala persoalan yang timbul akibat dari hubungan kemitraan, serta adanya keluwesan dalam mensikapi perkembangan yang terjadi antara anggota dalam sebuah kemitraan. Kemitraan yang terlalu rapuh ataupun terlalu kaku akan menjadi tidak efektif, karena akan menimbulkan berbagai konflik karena tidak ada keluwesan dalam menghadapi masalah yang timbul.

3. Transformasi Aturan (Transformation Rules)

Perubahan aturan yang terlalu sering dilakukan dalam sebuah kemitraan akan menjadikan kemitraan tersebut tidak efektif.

Perubahan aturan yang terlalu sering dapat memberikan celah bagi anggota yang merasa sebuah aturan terlalu memberatkan. Apabila commit to user commit to user

(16)

perubahan sulit dilakukan dapat mendorong anggota untuk mentaati aturan kemitraan.

4. Kapasitas Pemerintahan (Capacity of Goverments)

Sebuah kemitraan tergantung pada kapasitas pihak pemerintah, apabila pemerintah memberikan aturan yang jelas dan mudah untuk ditaati para mitra. Keterbatasan sumberdaya pemerintah dapat menghambat jalannya sebuah kemitraan.

5. Distribusi Kekuasaan (Distribution of Powers)

Ketimpangan dalam distribusi kekuasaan dapat mengakibatkan sebuah kemitraan tidak akan berjalan baik. Apabila ada anggota dalam sebuah kemitraan lebih dominan, biasanya pihak tersebut lebih sering mengabaikan aturan. Keseimbangan dalam pembagian kekuasaan akan mengakibatkan kerjasama lebih efektif.

6. Saling Ketegantungan (Interdependence)

Ketergantungan timbul apabila salah satu pihak berperan mempengaruhi kesejahteraan pihak lainnya. Pihak-pihak yang bermitra akan saling bergantung demi tercapainya tujuan dan kesejahteraan.

7. Ide Intelektual (Intellectual Order)

Keberhasilan sebuah kemitraan dipengaruhi oleh kekuatan ide dan gagasan yang mendasari munculnya kemitraaan tersebut. Apabila ide yang mendasarinya tidak kuat atau roboh, maka jaringan kemitraan akan roboh juga.

Secara lebih jelas, berdasarkan Teori Uhlik (2007) menyebutkan bahwa secara mendasar indikator kemitraan terdapat empat komponen, meliputi :

1. hubungan (relationships) yakni mengacu pada proses interaksi yang terjadi antar organisasi yang bermitra. Dimana unsur hubungan menjelaskan tentang alasan mengapa sebuah kemitraan harus dijalin, bentuk kemitraan seperti apa, dan tujuan yang hendak

commit to user commit to user

(17)

dicapai dan bagaimana keterlibatan masing-masing pihak dalam menjalankan kemitraan tersebut.

2. sumberdaya (resources) yakni ketersediaan sumber daya yang dimiliki masing-masing organisasi yang bermitra baik mencakup sumber daya manusia, sumber daya keuangan, dan lain-lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan kemitraan.

3. jaringan (networks) yakni mengacu pada adanya jaringan pihak- pihak yang terkait (stakeholders) yang terlibat pada proses kemitraan (diluar pihak yang bermitra itu sendiri). Dapat berupa dukungan dan partisipasi dari pihak-pihak terkait untuk mencapai tujuan kemitraan.

4. organisasi (organizations) yakni mengacu pada bagaimana peran dan tanggungjawab masing-masing pihak yang bermitra sesuai dengan kesepakatan bersama untuk mencapai hasil yang diinginkan. Komponen ini juga mengarah pada apakah ada kesepakatan tertulis dalam kemitraan tersebut.

Pergeseran paradigma di tingkat global, telah mempengaruhi perubahan-perubahan paradigma pemerintah baik di tingkat daerah maupun nasional. Pemerintah mulai menyadari bahwasanya tujuan negara untuk memenuhi kebutuhan publik, saat ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja sebagai aktor utama, melainkan membutuhkan pihak swasta dan masyarakat sebagai mitranya. Dalam modul “mengelola dinamika politik dan sumberdaya daerah” (2004) menyatakan bahwa ada beberapa jenis kerjasama yang dilakukan pemerintah, yaitu:

1. Kerjasama pemerintah dengan masyarakat

Dalam kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat, terjadi perubahan paradigma yakni tuntutan perubahan perilaku yang memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat maupun sektor non formal untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan pemenuhan kebutuhan publik. commit to user commit to user

(18)

2. Kemitraan pemerintah dengan swasta

Salah satu strategi untuk mengatasi berbagai keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan publik adalah melakukan kemitraan dengan pihak swasta (KPS) atau yang lebih dikenal dengan public private partnership.

3. Kerjasama antar pemerintah daerah

Kebanyakan daerah memiliki cara pandang yang cenderung ke dalam dirinya sendiri dan selalu memandang wilayahnya bersifat administratif dengan batas yurisdiksi yang jelas dan tegas. Hal tersebut mengakibatkan pemerintah daerah menganggap daerah lain sebagai saingan dalam perebutan potensi daerahnya, namun paradigma tersebut telah bergeser dan berganti dengan kerjasama antar daerah yang akan memperjuangkan kepentingan bersama daerah yang melakukan kerjasama.

4. Kerjasama internasional

Kerjasama internasional dilakukan untuk membangun citra atau image building yang berkaitan dengan kepercayaan negara yang menjadi sasaran investasi. Kerjasama internasional dilakukan untuk meningkatkan investasi yang masuk ke negara tersebut sehingga dapat membantu pembangunan negara tersebut.

2 Public private partnership ( Kemitraan Publik-Swasta)

Public private partnership (PPP) dilatar belakangi oleh kesadaran pemerintah akan keterbatasannya dalam menyediakan pelayanan publik dan mengatasi masalah sosial. Selain itu, dengan adanya konsep good governance diharapkan peran serta aktor masyarakat dan swasta semakin maksimal dalam membantu upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan dengan adanya PPP ini diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator (BAPPENAS, 2011:6). Adapun pengertian Public-Private Partnership menurut World Bank (2014:25) mengatakan bahwa commit to user commit to user

(19)

pemerintah bukan lagi merupakan aktor tunggal yang bertanggungjawab atas permasalahan publik sehingga perlu dilakukannya privatisasi sebagai alternatif reformasi tata kelola pemerintahannya, sehingga kemitraan pemerintah-swasta ini dianggap sebagai strategi untuk melibatkan sektor swasta.

Kemitraan Pemerintah Swasta disingkat KPS atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Public private partnership atau disingkat PPP, yaitu bentuk perjanjian jangka panjang (biasanya lebih dari 20 tahun) antara pemerintah, baik pusat ataupun daerah dengan mitra swasta (Ismowati, 2016). Melalui perjanjian ini, keahlian dari kedua belah pihak (pemerintah dan swasta) bekerjasama dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat. Dalam melakukan kerjasama ini risiko dan manfaat potensial dalam menyediakan pelayanan ataupun fasilitas dipilah/dibagi kepada pemerintah dan swasta. Grimsey dan Lewis (dalam Kakabadse, 2012) menggambarkan PPP sebagai kesepakatan dimana sektor publik mengadakan perjanjian kontrak jangka panjang dengan entitas sektor swasta untuk pembangunan atau pengelolaan sektor publik atau penyediaan layanan sektor publik. Definisi tersebut mencakup dan menyiratkan sifat-sifat utama PPP yaitu kesepakatan antara agen publik dan mitra swasta harus dilakukan kontrak yang mengikat secara hukum, kontrak harus berjangka panjang, PPP biasanya menyediakan layanan di bidang infrastruktur, atau PPP mungkin menyediakan layanan lain atau layanan yang dilihat sebagai tanggung jawab sektor publik. Sedangkan menurut Ismowati (2016), Public private partnership adalah salah satu jenis Privatisasi yang diartikan pengaturan di mana pemerintah memerlukan insentif modal, kebutuhan akan infrastruktur dengan masa pakai jangka panjang, dan kombinasi pembiayaan pembangunan fasilitas yang diinginkan antara pemerintah dengan swasta (sebagian besar biaya biasanya dibiayai oleh swasta). Kemitraan antara pemerintah-swasta tidak bisa hanya diartikan sebagai usaha untuk melakukan privatsisasi, menurut Aque (dalam Kakabadse, 2012) PPP bukan menyerahkan dari identitas commit to user commit to user

(20)

pemerintah, keyakinan, dan nilai masing-masing pasangan dan sileburkan menjadi satu. Pemerintah dan perusahaan swasta memiliki sebuah kontrak tertentu dan telah diatur tugas dan kewajiban yang harus ditaati. Pihak yang terlibat biasanya melaksankan kewajibannya menggunakan prinsip seperti solidaritas, mutualitas. Klijn dan Teisman (dalam Kakabadse, 2012) menekankan fitur PPP yang unik, yaitu berbagi sedikit elemen antar mitra, bahwa sebuah PPP harus dilembagakan pengaturan antara aktor publik dan swasta di mana mereka berbagi tanggung jawab untuk roduk, risiko, biaya, dan manfaat. Vertakova dan Plotnikov (2014) menyatakan bahwa kemitraan yang dilakukan pemerintah yang memerlukan keterlibatan swasta sebagai salah satu cara untuk menemukan solusi efektif mengatasi masalah sosial diluar kepentingan bisnis dan mencari keuntungan. Kemitraan antara pemerintah-swasta yang dianggap paling efektif seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, pengembangan sistem transportasi, dll. Pergeseran paradigma, peralihan ekonomi, pengetahuan dan adanya dorongan inovasi, PPP dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif dalam pemecahan masalah dibidang pendidikan. Adanya PPP dibidang pendidikan, terutama pendidikan vokasi dapat mengurangi pengangguran, karena pendidikan vokasi telah link and match dengan dunia industri. Di negara-negara G7 (Canada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, UK and USA), negara maju serta negara berkembang, PPP di bidang pendidikan merupakan salah satu bidang yang menjadi prioritas.

Kemitraan publik-swasta (PPP) semakin dirasakan sebagai pendekatan kebijakan yang tepat untuk menyediakan pendidikan bagi semua orang dalam berbagai konteks. Untuk alasan ini dan lainnya, banyak pemerintah membangun kerangka kerja PPP dalam sistem pendidikan. Ini terjadi di negara-negara industri dan non-industri, dan di negara-negara dengan situasi administratif, keuangan, dan politik yang sangat berbeda, termasuk yang terkena dampak krisis dan konflik.

commit to user commit to user

(21)

Meskipun demikian, di bidang pendidikan, kerangka kerja PPP mencakup banyak pilihan kebijakan dan mengikuti alasan yang sangat beragam. Dengan demikian, salah satu tujuan utama dari PPP sebagai saran dalam kebijakan pendidikan. Untuk mulai mengungkap konsep PPP, penting untuk diperhatikan bahwa setidaknya ada empat pemahaman utama tentang PPP di bidang pendidikan ini termasuk:

1. PPP Infrastruktur: Kemitraan dengan sektor swasta untuk pembangunan fasilitas sekolah dan infrastruktur terkait. Contoh dari jenis PPP ini dapat ditemukan di UK Public Finance Initiatives (PFIs). Di PFI, swasta mengasumsikan bahwa biaya bangunan perbaikan fasilitas pendidikan, akan dikembalikan oleh pemerintah daerah dengan sistem pinjaman. Sistem PFI tidak hanya diterapkan pada sektor pendidikan, tetapi juga ke sejumlah bidang lainnya, seperti sektor kesehatan, perumahan, dan komunikasi. Banyak Akademi (semacam program sekolah piagam) dibangun di bawah skema PFI di Inggris dan Wales (Gunter, 2010).

2. Kemitraan pendidikan dan industri : Ini adalah jenis PPP yang semakin banyak hadir dalam pelatihan kejuruan (misalnya, sistem ganda TVET) dan di universitas (misalnya, kebijakan transfer pengetahuan dengan sektor swasta). Dalam jenis PPP ini , TVET (Technical and Vocational Education and Training) sistem ganda yang dilakukan di Jerman merupakan sistem yang menonjol. Model ini, yang telah meningkatkan interaksi, menggabungkan magang di perusahaan dan pendidikan kejuruan di sebuah sekolah kejuruan dalam kursus akademis yang sama. Untuk pelaksanaannya, kemitraan antara pemerintah dan perusahaan yang terlibat perlu dibentuk secara formal (Langthaler, 2015).

3. Kemitraan multipihak: Tipologi PPP yang ketiga ini "didefinisikan sebagai penyatuan dan pengelolaan sumber daya, serta mobilisasi kompetensi dan komitmen oleh mitra publik, bisnis dan masyarakat commit to user commit to user

(22)

sipil untuk berkontribusi pada perluasan dan kualitas pendidikan" ( Draxler, 2008, hal 31). Jenis kemitraan ini biasanya terdiri dari inisiatif bersama yang dibentuk antara pemerintah dan organisasi internasional dan sektor swasta, termasuk perusahaan swasta dan yayasan. Kemitraan Global untuk Pendidikan dan Kemitraan Pengetahuan Global adalah beberapa contoh paling paradigmatik dari jenis pengaturan ini secara internasional.

4. PPP untuk penyampaian layanan inti sekolah: Ini adalah kemitraan di mana negara mengkontrak sektor swasta untuk memberikan pendidikan di tingkat yang berbeda. Dalam modalitas keempat ini, sektor swasta dapat dikontrak untuk memberikan pendidikan dengan beberapa format: pendidikan swasta bersubsidi (misalnya di Australia, Argentina, Spanyol), sekolah pemerintah yang dioperasikan swasta (misalnya, sekolah piagam AS, colegios Kolombia en concesión), atau voucher sekolah (misalnya, di Cile, Milwaukee) menjadi skema pembiayaan publik dan swasta yang paling terkenal.

Secara konseptual dan teoritis, Gornley (dalam Yusuf, Wallace dan Hackbart, 2006) mengungkapkan bahwa apabila pemerintah mengembangkan model kemitraan public private partnership harus memperhatikan beberapa aspek :

1. Kemampuan memilih mitra yang tepat sesuai dengan tujuan kemitraan itu sendiri;

2. Kemampuan mengkombinasi sektor publik dan swasta secara kreatif;

3. Kemampuan memonitor dan mengawasi untuk menghindari deskresi yang berlebihan;

commit to user commit to user

(23)

4. Kemampuan mengevalusasi untuk memastikan bahwa program public private partenership telah memberikan hasil yang benar- benar dikehendaki.

Sementara itu menurut Savas (2000) bahwa penerapan model public private partnership untuk mencapai outcome yang diinginkan tergantung pada :

1. Proses yang digunakan untuk memilih mitra dari sektor swasta;

2. Ketersediaan teknologi yang dibutuhkan ; 3. Hubungan antara pemerintah dan swasta.

Sedangkan Yusuf, Wallace dan Hackbart (2006) menyebutkan bahwa ada 3 faktor penting yang digunakan dalam penerapan model public private partnership yaitu,

1. Faktor Proses

Dalam faktor proses yang harus dipertimbangkan pemerintah dalam penerapan kebijakan public private partnerhip antara lain dalam perumusan tujuan dan mengidentifikasi secara jelas kebutuhan-kebutuhan public private partnership. Termasuk didalamnya mengidentifikasi target populasi yang dilayani dari program tersebut, peran dan tanggung jawab dari pemerintah dan sektor swasta. Selain itu dukungan kelembagaan yang kuat terutama yang berasal dari pimpinan, adanya kepemimpinan yang berkelanjutan serta komitmen yang terus menerus.

2. Faktor Mitra

Faktor mitra berkaitan dengan bagaimana memilih mitra yang tepat dan membangun hubungan kerja dengan mitra tersebut.

Membangun hubungan kerja dengan mitra yang terlibat berkaitan dengan masih adanya kontrol dan otoritas dari pemerintah terhadap mitra kerjanya. Dengan adanya kesepakatan antara pemerintah dan commit to user commit to user

(24)

sektor swasta terhadap tujuan-tujuan penting yang ingin dicapai dari kemitraan tersebut termasuk didalamnya tujuan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu penerapan model public private partnership membutuhkan komitmen yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta untuk menjaga keberlngsungan hubungan tersebut.

3. Faktor Struktural

Dalam penerapan model public private partnership, aspek-aspek yang termasuk dalam faktor struktural adalah peran dan tanggung jawab yang jelas dari pihak-pihak yang terlibat. Kejelasan peran dan tanggung jawab pihak yang bermitra itulah kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dapat berjalan efisien dan memberikan kerangka yang jelas dalam mengimplementasikan dan menilai seluruh kegiatan yang dilakukan dalam model kemitraan tersebut.

3 Pembangunan Sumber Daya Manusia Industri Kompeten

Masalah ketenagakerjaan dan sumber daya manusia saat ini terus menerus menjadi perhatian dari berbagai pihak, yaitu pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, pihak swasta serta industri. Pemerintah melihat permasalahan sumber daya manusia sebagai salah satu sentral pembangunan nasional, karena sumber daya manusia merupakan tenaga pembangun terhadap keberhasilan pembangunan bangsa.

Pembangunan SDM diarahkan pada pembentukan tenaga profesional yang mandiri dan beretos kerja serta produktif. Pengembangan tenaga kerja melalui pembangunan sumber daya manusia merupakan upaya menyeluruh dan ditujukan pada peningkatan, pembentukan dan pengembangan tenaga kerja berkualitas, produktif, efisisen dan efektif sehingga mampu mengisi lapangan kerja. Sebagai salah satu upaya untuk commit to user commit to user

(25)

menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional diperlukan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang kerja dan kompetensi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2015 Tentang Pembangunan Sumber Daya Industri, Tenaga Kerja Industri adalah tenaga teknis dan tenaga manajerial yang bekerja pada Perusahaan Industri dan/atau Perusahaan Kawasan Industri yang memiliki kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang telah disesuaikan dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan telah melakukan sertifikasi kompetensi melalui uji kompetensi,

Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan suatu bangsa.

Pendidikan merupakan serangkaian usaha untuk mencapai kemajuan bangsa. Kemajuan bangsa akan dapat terwujud secara nyata dengan usaha menciptakan ketahanan nasional dalam rangka mencapai cita-cita bangsa.

Oleh karena itu, maka pendidikan akan diarahkan kepada perwujudan keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara pengembangan kuantitas dan pengembangan kualitas serta aspek lahiriah dan aspek rohaniah manusia. Kedudukan pendidikan dipandang sebagai salah satu instrumen utama dan penting dalam meningkatkan potensi individu menjadi sosok kekuatan sumberdaya manusia (human resource) yang berkualitas bagi suatu bangsa. Pendidikan juga dapat menjadi instrumen dalam mempersiapkan individu dan kelompok masyarakat untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas dalam memasuki pasar tenaga kerja.

Kementerian Perindustrian melalui pembentukan Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta memfokuskan pengembangan pendidikan vokasi industri yang berbasis kompetensi serta memiliki keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Langkah ini juga ditujukan mengurangi commit to user commit to user

(26)

angka pengangguran yang cukup tinggi. Pendidikan tinggi vokasi mampu menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan di dunia industri saat ini, sehingga tidak ada lagi kesenjangan.

C. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini berawal dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Manusia Industri. Salah satu tujuan dari dikeluarkannya peraturan tersebut adalah untuk menghasilkan tenaga kerja industri teknis yang dihasilkan melalui pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, pelatihan industri berbasis kompetensi; dan/atau pemagangan industri. Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada pembangunan sdm industri melalui pendidikan vokasi berbasis kompetensi. Pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan perusahaan industri dan/atau perusahaan kawasan industri atas tenaga kerja industri. Pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Perindustrian melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 74/M-IND/PER/9/2015 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta membentuk sebuah Akademi Komunitas yang memperhatikan kebutuhan industri dan kawasan industri di daerah Jawa Tengah khususnya di area Surakarta dan sekitarnya.

Penyelenggaraan pendidikan di AK Tekstil Solo membutuhkan kemitraan dengan mitra industri tekstil dan produk teksil karena kurangnya jumlah pengajar berpengalaman di bidang tekstil dan produk tekstil yang dimiliki oleh AK Tekstil Solo masih sangat minim sehingga mengakibatkan, pihak AK Tekstil Solo membutuhkan dukungan tenaga pengajar berpengalaman dari dunia industri.

Salah satu kegiatan dalam proses belajar mengajar adalah kegiatan praktik industri. Kegiatan tersebut membutuhkan industri tekstil dan produk tekstil sebagai lokasi praktik industri dan sebagai tempat kegiatan pembelajaran praktek, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman dan terjun langsung pada kegiatan commit to user commit to user

(27)

produksi. Selain itu mesin-mesin yang saat ini tersedia di workshop AK Tekstil Solo, pada beberapa bagian belum terintegrasi dan belum sesuai dengan yang ada pada proses produksi yang sesungguhnya di industri, sehingga membutuhkan dukungan dan bantuan mitra industri tekstil dan produk tekstil. Salah satu yang menjadi pembeda antara AK Tekstil Solo dengan perguruan tinggi vokasi lain adalah proses belajar mengajar yang link and match dengan industri, hal tersebut menjadi salah satu alasan AK Tekstil Solo bermitra dengan pihak swasta yaitu industri tekstil dan produk tekstil atau yang dikenal dengan public private partnership, sebab mahasiswa dikondisikan untuk bisa melakukan praktek pada produksi di industri tekstil dan produk tekstil.

Secara khusus fokus penelitian ini ada pada pelaksanaan yang akan dianalisis dengan indikator kemitraan yaitu relationships, resources, organizations (Uhlik,2007), commitment (Jakki,1994) dan interdependence (Pramono,2004) dalam rangka pengembangan pendidikan, pemagangan, dan penempatan kerja serta peningkatan keterampilan tenaga kerja industri tekstil dan produk tekstil, dimana dalam menjalan fungsi tersebut mengingat adanya keterbatasan baik dari segi sumberdaya manusia ataupun sumberdaya lainnya menuntut AK Tekstil Solo untuk menjalin kemitraan baik dengan institusi pemerintah maupun dengan sektor swasta. Dalam hal ini dilakukan kemitraan dengan Pemerintah Kota Surakarta, Mitra Industri Tekstil Solo Raya.

Peneliti juga menggunakan faktor-faktor penting yang berpengaruh penerapan model public private partnership yang dikemukakan oleh Yusuf, Wallace dan Hackbart (2006). Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor proses, faktor mitra dan faktor structural. Penulis memasukkan faktor penting yang digunakan dalam penerapan model public private partnership sebagai indikator pelengkap sebagai landasan peneliti dalam mendeskripsikan masalah yang akan diteliti.

Dengan adanya hubungan kemitraan antara AK Tekstil Solo dengan Pemerintah Kota Surakarta, Mitra Industri Tekstil Solo diharapkan akan menghasilkan SDM industri kompeten dibidang tekstil dan produk tekstil commit to user commit to user

(28)

sehingga dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri TPT dan pada akhirnya dapat bersaing di pasar kerja sehingga mampu mengurangi angka pengangguran khususnya di Kota Surakarta. Kerangka berpikir penelitian yang digunakan sebagai acuan dan batasan pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

commit to user commit to user

(29)

Permasalahan

Public Private Partnership antara AK Tekstil Solo, Pemerintah Kota Surakarta dan Mitra Industri Tekstil dan Produk Tekstil

 Kurangnya jumlah pengajar berpengalaman di bidang tekstil dan produk tekstil yang dimiliki oleh AK Tekstil Solo masih sangat minim;

 Mesin-mesin yang tersedia di workshop AK Tekstil Solo, pada beberapa bagian belum terintegrasi dan belum sesuai dengan yang ada pada proses produksi yang sesungguhnya ;

 Proporsi jumlah pendaftar yang berasal dari Kota Surakarta minim.

Faktor-

Faktor yang Berpengaruh :

1. Faktor Proses 2. Faktor Mitra 3. Faktor Struktural Model Kerangka Berpikir Penelitian

Terselenggaranya Public Private Partnership antara AK Tekstil Solo, Pemerintah Kota Surakarta dan

Mitra Industri Tekstil dan Produk Tekstil Dasar Hukum

Pelaksanaan : 1. UU No 3 Tahun

2014 tentang Perindustrian 2. PP No 41 Tahun

2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri

3. PP No 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Pendidikan Tinggi 4. Peraturan

Menteri Perindustrian Republik

Indonesia No.

74/MIND/PER/

9/2015 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Akademi

Komunitas

Menghasilkan Sumber Daya Manusia Industri Kompeten

Komponen Indikator Partnership:

1. Relationships (Uhlik,2007) 2. Resources (Uhlik,2007) 3. Organizations (Uhlik,2007) 4. Commitment (Jakki,1994)

5. Interdependence (Pramono, 2004) Mitra

Industri TPT

AK Tekstil Solo

Pemerintah Kota Surakarta Pelaksanaan Public Private Partnership antara AK Tekstil Solo, Pemerintah Kota Surakarta dan Mitra Industri Tekstil dan

Produk Tekstil

commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Bahan lignoselulosa dicuci dengan menggunakan air, setelah dianggap bersih dari debu kemudian dikeringkan dalam oven bertemperatur 50 o C selama ± 24 jam.. Timbang bahan sebanyak ±

b) Pendidikan non formal adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya

Berdasarkan hasil analisis SWOT, posisi pemasaran kopi robusta di Kabupaten Temanggung berada pada kuadran I yaitu progresif, adapun strategi yang dapat dilakukan

Istilah merek (brand) mempunyai pengertian yang luas. Tujuan dari adanya merek adalah sebagai identitas, alat promosi, membina citra, dan mengendalikan pasar. Merek yang digunakan

Struktur forma merupakan satu bagian dari keseluruhan karya sastra yang mengulas tentang bentuk dalam menampilkan karya sastra itu sendiri, dan memiliki hubungan dengan

Investasi langsung adalah investasi yang di lakukan bagi mereka yang sudah memiliki modal dapat langsung dapat langsung berinvestasi dengan cara membeli asset keuangan

Kapasitas Industri Menurut Kelompok Industri di Kabupaten Garut Tahun 2009 Rincian Industri Argo dan Hasil Hutan Industri

Penelitian yang dilakukan oleh Asih (2012) yang berjudul Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Berdasarkan Activity Based Costing (ABC) Pada Pabrik Roti “Sami