• Tidak ada hasil yang ditemukan

SYAMSURIADI Nomor Stambuk :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SYAMSURIADI Nomor Stambuk :"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

KINERJA PEMERINTAH DESA DALAM MENGAWASI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN PETANI DI DESA MALAKA KECAMATAN

TONDONG TALLASA KABUPATEN PANGKEP

SYAMSURIADI

Nomor Stambuk : 10564 358 09

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(2)

KINERJA PEMERINTAH DESA DALAM MENGAWASIPELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN PETANI DI DESA MALAKA KECAMATAN

TONDONG TALLASA KABUPATEN PANGKEP

Skripsi

Sebagai Salah Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh SYAMSURIADI

Nomor Stambuk : 10564 358 09

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Judul Skripsi : Kinerja Pemerintah Desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan Jalan Petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep

Nama Mahasiswa : SYAMSURIADI Nomor Stambu : 10564 358 09 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Hj. St.Nurmaeta, MM Adnan Ma’ruf, S. Sos, M. Si

Mengetahui :

Dr. H. Muhlis Madani M.Si A.Luhur Prianto S. IP,M.Si Dekan

Fisipol Unismuh Makassar

Ketua Jurusan Ilmu pemerintahan

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Telah diterima oleh TIM Penguji Skripsi Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor: 326/FSP/A.1-VIII/II/35/2014 sebagai salah satu syarat untuk mempreoleh gelar sarjana (S.1) dalam program studi Ilmu Pemerintahan di Makassar pada hari Sabtu tanggal 14 November tahun 2014.

TIM PENILAI

Ketua Seketaris

Dr. H. Muhlis Madani, M.Si Drs. H. Muhammad Idris, M.Si

Dosen Penguji:

1. Drs. H.Parakkasi Tjaija, M.Si (Ketua) (……….)

2. Dra. Musliha Karim, M.Si (……….)

3. Dra. Andi Rosdianti Razak, M.Si (……….)

4. Adnan Ma’ruf, S.Sos, M.Si (……….)

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Mahasiswa : Syamsuriadi Nomor Stambuk : 10564 358 09 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagien. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku.

Makassar, 11 Mei 2014 Yang Menyatakan,

Syamsuriadi

(6)

ABSTRAK

SYAMSURIADI 2014.

Kinerja Pemerintah Desa Dalam Mengawasi Pelaksanaan Pembangunan Jalan Petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.(di bimbing oleh St. Nurmeta dan Adnan Ma’ruf)

Penlitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Kinerja Pemerintah Desa Dalam Mengawasi Pelaksanaan Pembangunan Jalan Petani dan faktor pendukung dan penghambat pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep. Jenis penelitian yang digunakan dua macam data yaitu data primer dan sekunder. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu menganalisis semua data yang berhasil dikumpulkan penulis dari 9 tanggapan informan yang di peroleh dari hasil wawancara dan tipe penelitian fenomenologis.

Hasil penelitian ini menunjukkan proses kinerja pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani, serta faktor penghambat dan faktor pendukung, karena masih adanya faktor penghambat maka kinerja pemerintah desa belum dapat dikatakan maksimal atau sempurna, karena masih banyak jalan petani yang belum di selesaikan dan ada pula yang selesai tapi hasilnya kurang memuaskan karena kurang lebih satu tahun di pakai sudah mulai retak dan berlubang. Pembangunan jalan petani ini belum maksimal karena pengawasan pemerintah masih kurang dan adanya kecurangan kontraktor.

Kata kunci: Kinerja, Mengawasi, Pembangunan Jalan Petani.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini yang berjudul “Kinerja Pemerintah Desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan Jalan Petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong

Tallasa Kabupaten Pangkep.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari Ibu Dra. Hj. St.Nurmaeta, MM selaku Pembimbing I dan Bapak Adnan Ma’ruf, S.Sos, M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

2. Bapak A. Luhur Prianto, S.Ip, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Bapak dan Ibu Dosen yang turut memberikan kontribusi pemikirannya terhadap perkembangan pemikiran penulis.

vii

(8)

4. Bapak Hasriadi,S.Sos. Selaku Kepala Desa Di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep yang selalu memberikan dukungan, semangat dan izin guna terselesainya skripsi ini.

5. Terimah kasih juga teriring kepada teman-teman seperjuangan saya di IPPM PANGKEP KOORDINATOR UNISMUH MAKASSAR. Terutama kak Bennu (Sekjen Perindo), Kak Resmi GV Token, Bang Ichal (Halika Net), Asrul Gamajaya, Abdullah Haris, Sri Mutmainnah (Donat), Afrisal Return, Anty Dg Jabea, Cebbaq, Aldhy Karaaeng Caddia, Daya Dg Diet, Olleng Bongkahan, Faisal Bacang, Nhyta Dg gegere, Nhaya Imuet, Acep Ardiansyah, Dll.

6. Semua kerabat saya atas nama Laode Sumitro,S.Ip, Anasrun Nurdin,S.Ip, Samsul Bahri,Sp. serta teman dan rekan–rekan seperjuangan yang selalu memberikan semangat dan membantu dalam pennyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat selesai. Semoga Allah SWT memberikan balasan dan limpahan rahmat dan keridhaan-Nya.

7. Teristimewa Ayahanda Saibu Dg Massenga dan Ibunda Samsia Dg Tarring segenap keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan bantuan, baik moril maupun materil.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 14 November 2014

Syamsuriadi

(9)

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman pengesahan... ... ... iv

Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... v

Abstrak ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi... ix

Daftar Tabel ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kinerja ... 9

B. Tugas dan Fungsi Pemerintah Desa... 10

C. Konsep Pengawasan ... 15

D. Konsep Pembangunan ... 19

E. Konsep Jalan Pertanian ... 25

F. Kerangka Pikir ... 33

G. Fokus Penelitian ... 34

ix

(10)

H. Definisi Fokus Penelitian ... 35

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan waktu Penelitian ... 36

B. Jenis Dan Tipe Penelitian... 36

C. Sumber Data... 36

D. Informan Penelitian ... 37

E. Fokus Penelitian ... 37

F. Teknik Pengumpulan Data ... 38

G. Teknik Analisis Data... 38

H. Keabsahan Data ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian ... 40

B. Kinerja Pemerintah Desa Dalam Mengawasi Pelaksanaan Pembangunan Jalan Petani ... 46

C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat ... 63

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 78 DOKUMEN-DOKUMEN

RIWAYAT HIDUP

x

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Informan Penelitian di Desa Malaka Kecamatan Tondong

Tallasa Kabupaten Pangkep ... 37

Tabel 2. Batas Wilayah Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep ... 40

Tabel 3. Klasifikasi Penduduk di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep ... 42

Tabel 4. Jenis Kelamin Informan ... 44

Tabel 5. Umur Informan ... 44

Tabel 6. Pendidikan Informan ... 45

Tabel 7 Pendidikan Informan ... 46

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hasil sensus penduduk 2010 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa dengan laju pertimbuhan 1,49% pertahun, laju pertumbuhan ini meningkat di banding laju pertumbuhan 10 tahun sebelumnya yang mencapai 1,4% per tahun. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk Indonesia menandakan bahwa program pengendalian angka kelahiran di Indonesia mulai kedodoran dalam 10 tahun terakhir (sumber: Alvara Research Center tahun 2014). Fakta yang ada memberikan satu informasi bahwa sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia, yakni sebanyak 143 juta jiwa masih bermukim di daerah pedesaan. Mayoritas penduduk mempunyai mata pencaharian pada sektor pertanian dalam arti luas yang meliputi sub-sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

Wilayah pedesaan umumnya sangat luas dengan rata-rata penduduk yang padat pada. Hal ini pula dipertegas dengan rendahnya tingkat pendapatan, pendidikan dan derajat kesehatan. Disamping itu aksesibilitas terhadap faktor- faktor produktif, modal usaha dan investasi dan memperoleh informasi masih terbilang minim akses, sehingga kemajuan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan terbilang tertinggal dibandingkan masyarakat perkotaan pada umumnya.

Kesenjangan dan ketimpangan sosial dan ekonomi antar daerah perkotaan dengan daerah menandai perlunya perhatian khusus dalam hal pemerataan sosial.hal ini karena daerah pedesaan memiliki potensi dan peranan yang sangat penting dalam

1

(13)

membangun dan menghasilkan pangan nasional (beras, hasil perkebunan dan lainnya).

Menghadapi pelaksanakan pembangunan di daerah pedesaan, perlu memperhatikan hambatan dan kendala seperti aspek geografis, topografis, demografis, ketersediaan prasarana dan sarana, kelemahan dalam akses terhadap modal dan informasi pasar, kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang lemah, partisipasi masyarakat masih belum proaktif, kemampuan kelembagaan pedesaan masih lemah, dan masih banyak kelemahan operasioanal dan fungsional lainnya. Memperhatikan berbagai hambatan, kendala dan kelemahan-kelemahan diatas, salah satu upaya yang dianggap sangat penting yaitu mendorong, meningkatkan, mengembangkan dan mengaktualisasikan kekuatan dan kemampuan yang bersumber di dalam masyarakat pedesaan itu sendiri. Hal ini mengingat Pembangunan pedesaan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan merupakan usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia pedesaan dan masyarakat secara keseluruhan yang dilakukan secara berkelanjutan dengan berlandaskan pada potensi dan kemampuan pedesaan.

Pelaksanaan pembangunan pedesaan seharusnya mengacu pada pencapaian tujuan pembangunan yaitu mewujudkan kehidupan mayarakat pedesaan yang mandiri, maju, sejahtera, dan berkeadilan. Mengingat pembangunan pedesaan sebelumnya ternyata lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan kurang diimbangi kehidupan sosial yang demokratis dan berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi pedesaan lebih banyak terfokus pada sektor pertanian pedesaan.

Akibatnya struktur ekonomi pedesaan belum seimbang antara sektor pertanian dan

(14)

sektor industri. Struktur ekonomi yang timpang pada sektor pertanian inilah yang membuat posisi daerah pedesaan lemah terhadap kompetisi ekonomi yang ditinjau dari perspektif luas.

Penurunan harga komoditas pedesaan di pasar nasional dan internasioanl akan menimbulkan pengaruh yang menyebabkan kesulitan dan kelesuan pada sektor ekonomi pedesaan. Rujukan utamanya karena penduduk pedesaan umumnya masih diselimuti wajah kemiskinan dan perhatian yang minim, oleh karena itu masyarakat pedesaan perlu pembinaan khusus untuk sebuah harapan akan kesejahteraan layaknya sandangan kesejahteraan yang dilekatkan pada sejahtera secara idealnya.

Pembangunan pedesaan memiliki peranan vital dalam kontestasi pembanguanan nasional sebagai soko guru pembangunan nasional. Sekitar 65%

(sumber: data statistik) penduduk Indonesia bertempat tinggal di daerah pedesaan, oleh karena itu pembangunan masyarakat pedesaan harus terus di tingkatkan melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia yang ada di pedesaan sehingga kreativitas dan aktivitasnya dapat semakin berkembang serta kesadaran lingkungannya semakin tinggi.Menyadari pentingnya pembangunan kesejahteraan masyarakat desa maka dipandang perlu suatu agenda khusus yang berwawasan kedepan. Dalam hal ini diperlukan suatu proses penyusunan perencanaan pembangunan desa berupa pertimbangan dengan melibatkan elemen masyarakat secara langsung pada setiap tahapan pembangunan di desa. Proses pelibatannya meliputi dari proses penyusunan rencana, pelaksanaan dan tindak lanjut

(15)

pembangunan adalah merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan itu sendiri.

Konsentrasi penelitian ini adalah kinerja pemerintahan desa dalam mengwasai pelaksanaan pembangunan jalan di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep. Hal ini sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusanyang ada yang dianggap belum maksimal dalam pelaksanaanya. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu menstimulasi kinerjasitas untuk menumbuhkan kesadaran para birokrat desa khusunya. Pendekatan yang menjadi pusat penelitian ini adalah top-down, khususnya dalam meneropong program-program pembangunan yang sifatnya vital atau yang terkait dengan kepentingan orang banyak yang merupakan pelayanan antar wilayah misalnya pembanguanan jalan tani, perumahan rakyat, Puskesmas dan lainnya.

Pembangunan pedesaan dipandang harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka pendekatan pembangunan desa seharusnya bersifat bottom-up yang diperkuat dengan pendekatan partisipatif. Dalam pembangunan desa, Pemerintah Desa mempunyai peranan yang sangat berpengaruh terutama dalam upaya untuk menciptakan iklim yang mendorong tumbuhnya swakarsa dan swadaya masyarakat di pedesaan pengarahan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan penyaluran aspirasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat desa diwujudkan dalam bentuk pengarahan dan pemanfaatan dana dan daya yang ada dalam masyarakat untuk meningkatkan kegiatan pembangunan di daerah pedesaan. Dilakukan peningkatan kemampuan

(16)

keswadayaan desa dari desa swadaya mencapai desa swasembada dengan memperkuat unsur-unsur kemampuan berkembangnya dari masing-masing desa.

Desa-desa terisolasi baik yang berlokasi di wilayah pantai maupun di daerah pedalaman agar ditingkatkan pembangunannya melalui perluasan jangkauan berbagai pelayanan dan kegiatan kegiatan, selain itu pemindahan penduduk dari desa-desa padat ke desa-desa kurang penduduknya agar terus diupayakan.

Pembangunan daerah pedesaan diarahkan untuk pembangunan desa yang bersangkutan dengan memanfaatkan sumber daya pembangunan yang dimiliki (SDA dan SDM). Disamping itu hal ini pula untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan antar sektor (perdagangan, pertanian, dan industri) dalam skala desa, desa dan perkotaan serta memperkuat pembangunan naasional secara menyeluruh. Desa dengan otonomi aslinya memiliki beranekaragam corak kehidupannya seperti halnya di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep yang memiliki banyak kekayaan dan potensi alamnya yang sangat membantu pemerintahan desa atau masyarakat desa itu sendiri untuk bisa meningkatkan taraf hidupnya dan menuju ke arah yang lebih sejahtera.

Desa Malaka dengan potensi sumber daya alamnya yang besar seperti persawahan padi, perkebunan jagung, tambak ikan, dan beberapa sumber daya alam lainnya yang sangat potensial. Kesemuanya itu menjadi mata pencaharian masyarakat desa serta termasuk di dalam khas desa. Karena begitu banyak potensi yang akan dikelolah dan dikembangkan di desa Malaka dan menjadi sorotan tersendiri oleh pemerintah Kabupaten Pangkep sehingga banyak dana yang masuk di Desa Malaka untuk pembangunan di desa tersebut. Sudah menjadi sewajarnya

(17)

pengelolahan secara mandiri sumber daya yang ada dalam hal ini sumber-sumber kekayaan yang ada pada desa. Sebagai daerah otonom tingkat bawah, desa memperoleh dana dari berbagai sumber diantaranya adalah pendapatan asli desa (PAD desa), bantuan dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten dan hibah serta bantuan-bantuan lain yang sah. Dana-dana yang masuk ke desa yang mencapai angka ratusan juta akan menjadi kas desa yang dimuat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD Desa) yang nantinya akan dibagi kepada kelompok-kelompok kerja desa yang akan mengelola kekayaan desa sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing.

Sistem pengaturan yang menjadi moralitas kinerja program dan keteraturan elemen didalamnya menjadi sangat diperlukan. Hal ini penting dalam mengatur tata kelolah dan kinerja Pemerintahan Desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan khususnya jalan petani. Peran sentral dan fokus pelaksana program yang dikendalikan langsung oleh pemerintah desa setempat sangat berarti demi kelancaran mekanisme infrastruktur. Disamping bertindak sebagai eksekutor program pemerintah juga harus meningkatkan sistem pengawasannya terhadap pembangunan jalan petani tersebut. Hal ini akan meningkatkan mutu dan aksebilitas kepercayaaan publik terhadap pemerintahan.

Pemaparan singkat diatas secara umum tergambarkan dalam latar belakang, mengantarkan penulis memilih judul “Kinerja Pemerintah Desa Dalam Mengawasi Pelaksanaan Pembangunan Jalan Petani Di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep”.

(18)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Kinerja Pemerintah Desa dalam mengawasi pelaksanaan

pembangunan jalan petani?

2. Faktor pendukung dan penghambat kinerja pemerintah desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani Di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kinerja pemerintah desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

2. Untuk mengetahui Faktor pendukung dan penghambat kinerja pemerintah desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan berguna sebagai salah satu referensi dalam proses pengawasan pemerintah desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

(19)

2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di bidang kinerja pemerintah desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kinerja

Menurut Mangkunegara ( 2000 : 164 ), Kinerja diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sedangkan menurut Bernardin dan Russel (Sulistiyani, 2003 : 223-224) menyatakan bahwa kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Menurut Sulistiyani (2003: 223), kinerja merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.

Sedangkan menurut Bernardin dan Russel (Sulistiyani, 2003: 223-224) menyatakan bahwa kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kinerja merupakan suatu proses yang berkenaan dengan aktivitas sumber daya manusia dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan.

Mengingat kinerja adalah aktivitas yang berkaitan dengan unsur yang terlibat dalam suatu proses untuk menghasilkan sesuatu maka penilaian diperlukan sebagai dasar untuk memproduksi atau pengembangan. Penilaian adalah proses penaksiran atau penentuan nilai, kualitas, atau status dari beberapa objek, orang ataupun sesuatu. Penilaian pegawai merupakan evaluasi yang sistematis dari

9

(21)

pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan. Penilaian kinerja merupakan suatu sistem penilaian secara berkala terhadap kinerja pegawai yang mendukung kesuksesan organisasi atau yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya.

Proses penilaian dilakukan dengan membandingkan kinerja pegawai terhadap standar yang telah ditetapkan atau memperbandingkan kinerja antar pegawai yang memiliki kesamaan tugas. Dengan melakukan penilaian terhadap kinerja, maka upaya untuk memperbaiki kinerja bisa dilakukan secara lebih terarah dan sistematis.

Fungsi Penilaian Kinerja antara lain: (1) meningkatkan objektivitas kinerja pegawai, (2) meningkatkan keefektifan kinerja pegawai, meningkatkan kinerja pegawai, dan (3) mendapatkan bahan-bahan pertimbangan yang objektif dalam pembinaan pegawai tersebut baik berdasarkan sistem karir maupun prestasi.

T.R. Mitchell sebagaimana dikutip (Mangkunegara, Anwar Prabu), mengatakan bahwa ukuran kinerja dapat dilihat dari lima hal, yaitu: (1) Quality of work (kualitas hasil kerja), (2) Promptness (ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan), (3) Initiative (prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan), (4) Capability (kemampuan menyelesaikan pekerjaan), ( 5 ) Comunication (kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain).

B. Tugas dan Fungsi Pemerintah Desa

Sebelum kita membahas mengenai tata pemerintahan desa, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian desa. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, disebut bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan

(22)

mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 atas perubahan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 pasal 26 ayat 1(b), bahwa pemerintah desa membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup.

Desa bukanlah bawahan kecamatan, karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah Kabupaten/Kota, dan Desa bukan merupakan bagian dari perangkat daerah. Berbeda dengan Kelurahan, Desa memiliki hak mengatur wilayahnya lebih luas. Namun dalam perkembangannya, sebuah desa dapat dirubah statusnya menjadi kelurahan. Dengan mengacu pada ketentuan PP No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa, Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan

Desa sebagai organisasi pemerintah terendah merupakan tumpuan segenap pelaksana urusan pemerintahan dan pembangunan. Dengan berbagai potensi sumber daya yang dimilikinya, maka pemerintah desa perlu ditingkatkan kemampuannya supaya lebih mampu dalam menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan penyelenggaraan administrasi desa yang

(23)

makin bertambah luas dan efektif. Keberhasilan penyelenggara urusan pemerintah dan pembangunan di desa sangat ditentukan oleh terwujudnya pemerintah desa yang berdaya guna dan berhasil guna. Desa, sebagai suatu lembaga pemerintah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri telah mendapat pengakuan dari pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan bala tentara Jepang, tidak tardapat perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.

Pembentukan desa bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penyelenggara pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna dan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemajuannya. Asumsi dan penjelasan diatas tidak serta merta menjadi pikiran pokok dalam pembentukan desa. Dibutuhkan pedoman dan persyaratan untuk melakukan pembentukan desa sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Adapun pertimbangan pokok dan ketentuan persyaratan pembentukan desa sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 adalah sebagai berikut :

a. Faktor Penduduk, yaitu jumlah penduduk suatu desa baru sekitar 2,500 jiwa

atau 500 kepala keluarga;

b. Faktor Luas Wilayah, yaitu luas wilayah yang terjangkau secara berdaya guna dalam rangka pemberian pelayanan dan pembinaan masyarakat;

(24)

c. Faktor Letak, yaitu wilayah yang memiliki jaringan transportasi dan komunikasi antar dusun-dusun yang letaknya memungkinkan terpenuhinya faktor-faktor luas wilayah;

d. Faktor Prasarana dan Sarana, yaitu tersedianya atau kemungkinan tersedianya sarana dan prasarana perhubungan, pemasaran, sosial, dan saran pemerintahan desa;

e. Faktor Sosial Budaya, yaitu suasana yang memberikan kemungkinan terciptanya kerukunan hidup beragama dan kerukunan hidup bermasyarakat dalam hubungannya dengan adat istiadat;

f. Faktor Kehidupan masyarakat, yaitu tersedianya tempat untuk mata pencaharian masyarakat ;

g. Perlu pedoman pada pola tata desa yang memungkinkan kelancaran perkembangan desa yang selaras dan sesuai dengan tata pemerintahan desa, tata masyarakat dan tata ruang fisik desa guna mempertahankan keseimbangan lingkungan yang lestari.

Pembentukan desa biasanya terjadi di wilayah baru yang pada awalnya bahkan mungkin belum ada penduduknya, merupakan pemukiman baru seperti karena adanya transmigrasi atau proyek pemukiman kembali penduduk.

Pemerintah desa terdiri dari kepala desa, dan Lembaga Masyarakat Desa (LMD).

Pemerintah desa dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh perangkat desa, terdiri atas (Adisasmita: 2001):

1. Sekretaris Desa 2. Kepala-kepala dusun

(25)

Kepala Desa mempunyai tugas sebagai berikut (Adisasmita: 2001):

1) Menjalankan urusan rumah tangganya sendiri; 2) Menjalankan urusan pemerintahan, pembangunan baik dari pemerintah maupun dari Pemerintah Daerah dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban di wilayah kerjanya; 3) Menumbuhkan serta mengembangkan semangat gotong royong yang masyarakat sebagai sendi utama pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan desa.

Fungsi Kepala Desa menurut Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah sebagai berikut : 1) melaksanakan kegiatan dalam rangka penyelenggaraan urusan rumah tangga desa; 2) menggerakkan partisipasi masyarakat; 3) melaksanakan tugas dari pemerintah dan pemerintah desa; 4) melaksanakan tugas dalam rangka pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat desa; 5) melaksanakan koordinasi jalannya pembangunan dan pembinaan kehidupan masyarakat; 6) melaksanakan urusan pemerintahan lainnya.

Secara struktural fungsional pemerintahan, keanggotaan LMD terdiri dari:

a. Kepala-kepala dusun

b. Pimpinan Lembaga Kemasyarakatan c. Pemuka masyarakat di Desa bersangkutan

Lembaga Masyarakat Desa LMD memiliki tugas (Kusnadi: 1995) sebagai berikut : 1) membahas Rancangan Keputusan Desa yang disampaikan oleh kepala desa; 2) melaksanakan pencalonan dan pemilihan kepala desa; 3) menampung dan

(26)

menyalurkan aspirasi masyarakat; 4) memberikan pertimbangan Terhadap calon Sekretaris Desa, kepala urusan maupun kepala dusun.

Lembaga Masyarakat Desa LMD mempunyai fungsi melaksanakan kegiatan-kegiatan musyawarah/mufakat dalam rangka penyusunan keputusan desa. Sedangkan Sekretaris desa mempunyai tugas menjalankan administrasi pemerintahn, pembangunan dan kemasyarakatan di desa serta memberikan pelayanan administrasi kepada Kepala Desa. Sekretaris desa mempunyai fungsi sebagai berikut : 1) melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan laporan;

2) melaksanakan urusan keuangan; 3) melaksanakan administrasi pemerintahan, pembanguna, dan kemasyarakatan; 4) melaksanakan tugas dan fungsi kepala desa apabila kepala desa berhalangan melakukan tugasnya.

C. Konsep Pengawasan

Pengawasan dari pelaksanaan seluruh kegiatan dalam sebuah kelembagaan publik maupun kelembagaan privat sangat dibutuhkan.

kehadirannya dalam rangka meningkatkan efisiensi dan profesionalisme pelaksanaan berbagai program pemberdayaan, kinerja pemerintah desa dalam pelaksanaan pembangunan yang efektif, sehingga dapat memberikan hasil sesuai perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan dari hal itu, kata pengawasan berangkat dari dasar “ awas” maknanya mengajak agar seseorang atau beberapa orang dalam melakukan sesuatu kegiatan penuh dengan kehati- hatian, sehingga tidak terjadi kesalahan.

Menurut Siagian (2003:112) pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua

(27)

pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah di tentukan sebelumnya”. Sedangkan menurut Situmorang M. Victor, (Makmur 2011:176) pengawasan adalah: “setiap usaha dan tindakan dalam rangka untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tugas yang dilaksanakan menurut ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai.”

Menurut Makmur (2011: 186-188) ada (sembilan) jenis pengawasan yang dapat kita uraikan sesuai dengan realitas kehidupan sehari-hari:

1. Pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilakukan pada suatu kelembagaan yang bersekala besar, seperti kelembagaan Negara yang sifatnya fungsional dengan menggunakan tenaga manusia yang memiliki pengetahuan khusus dan pekerjaan khusus di bidang pengawasan.

2. Pengawasan masyarakat adalah pengawasan yang langsung diawasi oleh rakyat kepada pemerintah terutama penyelenggaraan urusan pemerintahan agar tidak terjadi manipulasi.

3. Pengawasan administratif adalah penataan pelaksanaan seluruh aktivitas dalam bagi seluruh kelembagaan agar dapat tercipta keteraturan, maka diperlukan suatu bentuk pengawasan yang kita istilahkan pengawasan administratif.

4. Pengawasan teknis adalah suatu keahlian pengawasan berdasarkan bidang yang di awasinya.

5. Pengawasan pimpinan adalah pengawasan seorang pimpinan terhadap unsur yang dipimpin agar pekerjaan berjalan dengan baik.

(28)

6. Pengawasan barang adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk menjamin terhadap keamanan suatu barang maupun akan memberikan manfaat kepada pelaksanaan tugas kelembagaan yang memiliki hak tentang barang tersebut.

7. Pengawasan jasa adalah pengawasan yang dilakukan kepada pemberi jasa dan yang menerima jasa agar dalam proses penyalurannya bisa langsung dapat diterima kepada yang berhak menerimanya tanpa hambatan.

8. Pengawasan internal adalah pengawasan yang dibentuk dalam kelembagaan itu sendiri untuk mengamankan dalam rangka memperlancar penyelenggaraan tugas unit kelembagaan.

9. Pengawasan eksternal adalah pengawasan yang dilakukan secara legalitas oleh lembaga pengawasan di luar sub kelembagaan tertentu.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat diketahui bahwa pada pokoknya tujuan pengawasan adalah :

1. Membandingkan antara pelaksanaan dengan rencana serta instruksi-instruksi telah di buat.

2. Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan, kelemahan atau kegagalan serta efesiensi dan efektivitas kerja.

3. Untuk mencari jalan keluar apabila ada kesulitan, kelemahan dan kegagalan, atau dengan kata lain disebut tindakan korektif.

Maman Ukas (2004:338) menyebutkan tiga unsur pokok atau tahapan-tahapan yang selalu terdapatdalam proses pengawasan, yaitu :

(29)

1. Ukuran-ukuran yang menyajikan bentuk?bentuk yang diminta. Standar ukuran ini bisa nyata, mungkin juga tidak nyata, umum ataupun khusus, tetapi selama seorang masih menganggap bahwa hasilnya adalah seperti yang di harapkan.

2. Perbandingan antara hasil yang nyata dengan ukuran tadi. Evaluasi ini harus dilaporkan kepada khalayak ramai yang dapat berbuat sesuatu akan hal ini.

3. Kegiatan mengadakan koreksi. Pengukuran?pengukuran laporan dalam suatu pengawasan tidak akan berarti tanpa adanya koreksi, jikalau dalam hal ini diketahui bahwa aktivitas umum tidak mengarah ke hasil, hasil yang di inginkan.

Prinsip-prinsip pengawasan yang perlu diperhatikan menurut Massie, terdiri dari :

1. Tertuju kepada strategis sebagai kunci sasaranyang menentukan keberhasilan,

2. Pengawasan harus menjadi umpanbalik sebagai bahan revisi dalam mencapai tujuan

3. Harus fleksibel danresponsif terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan,

4. Cocok dengan organisasi pendidikan, misalnya organisasi sebagai sistem terbuka,

5. Merupakan control diri sendiri,

6. Bersifat langsung yaitupelaksanaan kontrol di tempat kerja,

(30)

7. Memperhatikan hakikat manusia dalam mengontrol para personil pendidikan.

Syarat-syarat Pengawasan umum dapat dipergunakan sebagai berikut:

1. Menentukan standar pengawasan yang baik dan dapat dilaksanakan.

2. Menghindarkan adanya tekanan, paksaan, yang menyebabkan penyimpangan dari tujuan pengawasan itu sendiri.

3. Melakukan koreksi rencana yang dapat digunakan untuk mengadakan per- baikan serta penyempurnaan rencana yang akan datang.

Sesuai dengan keterangan tersebut di atas, maka beberapa cara yang baik dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang diawasi agar memberikan keterangan-keterangan yang jelas dan ikut serta memecahkan hal-hal yang mempengaruhinya.

b. Pengakuan atas hasil/nilai manusia yang telah dilakukannya (hasil karya manusia); artinya penghargaan atas hasil pekerjaannya.

c. Melakukan suatu kerja sama agar diperoleh saling pengertian, saling percaya mempercayai, yang bersifat memberikan pendidikan.

D. Konsep Pembangunan

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial berencan, karena meliputi berbagai dimensi untuk mengusahakan kemajuan dalam kesejahteraan ekonomi, modernisasi, pembangunan bangsa, wawasan lingkungan dan bahkan peningkatan kualitas manusia untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk

(31)

menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004).

Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).

Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai

“Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”. Sedangkan Ginanjar Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”. Dengan demikian pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi.

(32)

Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan transformasi budaya sering dikaitkan, antara lain, dengan bangkitnya semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme.

Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan rasional.

Konsepsi pembangunan sesungguhnya tidak perlu dihubungkan dengan aspek-aspek spasial. Pembangunan yang sering dirumuskan melalui kebijakan ekonomi dalam banyak hal membuktikan keberhasilan. Kebijakan ekonomi di negara-negara tersebut umumnya dirumuskan secara konsepsional dengan melibatkan pertimbangan dari aspek sosial lingkungan serta didukung mekanisme politik yang bertanggung jawab sehingga setiap kebijakan ekonomi dapat diuraikan kembali secara transparan, adil dan memenuhi kaidah-kaidah perencanaan. Dalam aspek sosial, bukan saja aspirasi masyarakat ikut dipertimbangkan tetapi juga keberadaan lembaga-lembaga sosial juga ikut dipelihara bahkan fungsinya ditingkatkan. Sementara dalam aspek lingkungan, aspek fungsi kelestarian (natural capital) juga sangat diperhatikan demi kepentingan umat manusia. Dari semua itu, yang terpenting pengambilan keputusan juga berjalan sangat bersih dari beragam perilaku lobi yang bernuansa kekurangan yang dipenuhi kepentingan tertentu (vested interest) dari keuntungan

(33)

semata. Demikianlah, hasil-hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat secara adil melintasi (menembus) batas ruang dan waktu.

Implikasinya kajian aspek spasial menjadi kurang relevan dalam keadaan empirik yang telah dilukiskan diatas.

1. Ciri-ciri Pembangunan

Pembangunan pada dasarnya memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat dari pengertian pembangunan itu sendiri. Ciri-ciri pembangunan yang dikemukakan disini adalah berdasarkan tujuh ide pokok yang muncul dari definisi pembangunan yang diberikan oleh Siagian (2008), yaitu:

1. Pembangunan merupakan suatu proses. Berarti pembangunan merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan dan terdiri dari tahap-tahap yang disatu pihak independen akan tetapi dipihak lain merupakan “bagian” dari sesuatu yang bersifat tanpa akhir (never ending).

Banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan pentahapan tersebut, seperti berdasarkan jangka waktu, biaya, atau hasil tertentu yang diharapkan akan diperoleh.

2. Pembangunan merupakan upaya yang secara sadar ditetapkan sebagai sesuatu untuk dilaksanakan. Dengan perkataan lain, jika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara terdapat kegiatan yang kelihatannya seperti pembangunan, akan tetapi tidak ditetapkan secara sadar dan hanya terjadi secara sporadis atau insidental, maka kegiatan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pembangunan.

(34)

3. Pembangunan dilakukan secara terencana, baik dalam arti jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Seperti dimaklumi, merencanakan berarti mengambil keputusan sekarang tentang hal-hal yang akan dilakukan pada jangka waktu tertentu di masa depan.

4. Rencana pembangunan mengandung makna pertumbuhan dan perubahan.

Pertumbuhan dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan suatu negara bangsa untuk berkembang dan tidak sekedar mampu mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan, dan eksistensinya. Perubahan mengandung makna bahwa suatu negara bangsa harus bersikap antisipatif dan proaktif dalam menghadapi tuntutan situasi yang berbeda dari jangka waktu tertentu ke jangka waktu yang lain, terlepas apakah situasi yang berbeda itu dapat diprediksikan sebelumnya atau tidak. Dengan perkatan lain, suatu negara bangsa yang sedang membangun tidak akan puas jika hanya mampu mempertahankan status quo yang ada.

5. Pembangunan mengarah pada moderntias. Modernitas di sini diartikan antara lain sebagai cara hidup yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya, cara berpikir yang rasional dan sistem budaya yang kuat tetapi fleksibel.

6. Modernitas yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan pembangunan perdefinisi bersifat multidimensional, artinya modernitas tersebut mencakup seluruh segi kehidupan berbangsa dan bernegara yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahan dan keamanan.

(35)

7. Semua hal yang telah disinggung di atas ditujukan kepada usaha pembinaan bangsa, sehingga negara bangsa yang bersangkutan semakin kokoh fondasinya dan semakin mantap keberadaannya.

2. Tujuan Pembangunan

Tujuan pembangunan di negara manapun tentunya untuk kebaikan masyarakatnya dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Siagian dalam Nawawi (2009), pada umumnya komponen yang dicita-citakan dalam keberhasilan pembangunan adalah bersifat relatif dan sukar membayangkan tercapainya “titik jenuh yang absolut”, dan yang sudah tercapai tidak mungkin ditingkatkan lagi, seperti: keadilan sosial, kemakmuran yang merata, perlakuan yang sama dimata hukum, kesejahteraan material, mental, dan spiritual;

kebahagian untuk semua, ketentraman, serta keamanan. Untuk mencapai tujuan ini, maka masyarakat harus lebih berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan yang meliputi keterlibatan aktif, keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab, serta keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat (Nawawi, 2009).

Pembangunan jalan Usaha Tani sepanjang yang dibangun melalui program PNPM - MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan) tahun 2013 di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

Pembangunan jalan tani tersebut merupakan pembangunan yang sudah di tunggu oleh masyarakat karena jalan usaha tani ini merupakan jalan yang sekaligus menghubungkan semua daerah potensi seperti kawasan sawah yang sudah diolah oleh masyarakat maupun kawasan potensi untuk pembangunan jalan tani yang sedang berjalan diharapkan sudah rampung sesuai dengan target yang diinginkan

(36)

sehingga akan sangat mendukung berbagai aktifitas masyarakat yang ada di daerah ini. Selain itu jalan ini juga nantinya akan menjadi jalan penghubung Desa Bulu Tellue yang berada di arah dalam dari Desa ini.

Terbangunnya jalan usaha tani ini, sangat masyarakat sangat merasa bersyukur sehingga walaupun dengan dana yang sangat minim pembangunan jalan ini dapat sukses dilakukan karena pembangunannya juga di lakukan dengan swadaya masyarakat yang cukup besar. Intinya di sini kita ingin daerah kita maju dan hasil produksi pertanian kita akan dapat dengan mudah kita angkut dan ini juga akan meningkatkan daya saing dalam peningkatan hasil produksi. Dengan demikian dalam pembangunan apapun akan sangat membutuhkan daya dukung dan partisifasi masyarakat sehingga dengan tingginya tingkat keswadayaan masyarakat itulah pembangunan jalan ini dapat rampung dari waktu yang ditetapkan. Oleh karenanya dengan adanya jalan usaha tani yang sudah akan rampung ini maka sangat diharapkan niat masyarakat untuk mengelolah lahan yang dimilikinya akan lebih giat dan kedepan otomatis akan memberikan menfaat terutama Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat.

E. Konsep Jalan Pertanian

Pelaksanaan pengembangan jalan pertanian terdapat pengertian-pengertian atau istilah untuk dipahami bersama, sebagai berikut :

1. Jalan pertanian adalah merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat dan peternakan) untuk memperlancar mobilitas alat mesin pertanian, pengangkutan sarana produksi menuju lahan pertanian dan mengangkut

(37)

hasil produk pertanian dari lahan menuju tempat penyimpanan, tempat pengolahan atau pasar (Pedoman Teknis Pengembangan Jalan Produksi TA. 2012 ).

2. Pengembangan jalan pertanian adalah pembuatan, peningkatan kapasitas dan rehabilitasi jalan pertanian.

3. Pembuatan jalan pertanian adalah membuat jalan baru sesuai kebutuhan.

4. Peningkatan kapasitas jalan pertanian adalah jalan pertanian yang sudah ada ditingkatkan tonase/ kapasitasnya sehingga bisa dilalui oleh kendaraan yang lebih berat/lebih besar.

5. Rehabilitasi jalan pertanian adalah memperbaiki kualitas jalan pertanian yang sudah rusak tanpa ada peningkatan kapasitas, (Pedoman Teknis Pengembangan Jalan Produksi TA. 2012)

1. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan pengembangan jalan pertanian terdiri dari : a. Persiapan

1. Pembuatan Petunjuk Pelaksanaan 2. Pembuatan Petunjuk Teknis

3. Koordinasi dengan Instansi Terkait 4. Sosialisasi

5. Inventarisasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) 6. Penetapan Lokasi dan Petani Pelaksana

7. Pembuatan Rekening Kelompok

8. Musyawarah Kelompok Tani atau Rembug Desa

(38)

9. Pembuatan Desain Sederhana

10. Penyusunan RUKK (Rencana Usulan Kegiatan Kelompok) 11. Transfer dana

b. Pelaksanaan 1. Konstruksi

a. Penyediaan bahan/material b. Pelaksanaan Fisik

c. Pemeliharaan 2. Monitoring 3. Evaluasi 4. Pelaporan

2. Spesifikasi Teknis

Spesifikasi teknis kegiatan jalan pertanian meliputi norma, standar teknis dan kriteria sebagai berikut :

a. Norma

Pengembangan Jalan Pertanian merupakan upaya pembangunan baru, peningkatan kapasitas atau rehabilitasi jalan di kawasan sentra produksi pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat dan peternakan) sebagai akses pengangkutan sarana produksi, alat mesin dan hasil produksi pertanian.

b. Standar Teknis

(39)

1. Panjang jalan pertanian minimal sesuai dengan panjang yang ditetapkan dalam POK dan pada badan jalan dilakukan pengerasan.

2. Dimensi lebar badan jalan pertanian minimal dapat dilalui kendaraan roda 4 dan dapat saling berpapasan atau dibuatkan tempat untuk berpapasan, sedangkan kapasitasnya disesuaikan dengan jenis komoditas yang akan diangkut dan alat angkut yang akan digunakan.

3. Spesifikasi dan dimensi komponen jalan pertanian (bahu jalan, badan jalan, saluran drainase, goronggorong, jembatan dll) disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, dan aspirasi petani melalui musyawarah kelompok tani atau rembug desa dan dituangkan dalam desain sederhana.

4. Standar teknis kegiatan pembangunan baru/ peningkatan kapasitas / rehabilitasi dan penyediaan bahan / material masing-masing lokasi jalan pertanian dijabarkan lebih rinci di dalam Petunjuk Teknis oleh Dinas Lingkup Pertanian Kabupaten/Kota .

3. Kriteria

Kriteria pelaksanaan kegiatan pengembangan jalan pertanian adalah : 1. Pada sentra produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat

dan pada kawasan peternakan.

2. Petani bersedia bekerja dalam kelompok.

3. Petani bersedia melepaskan sebagian lahannya tanpa ganti rugi untuk pengembangan jalan pertanian, apabila diperlukan.

4. Petani/kelompok tani bersedia untuk melakukan perawatan/

pemeliharaan jalan pertanian secara swadaya.

(40)

4. Pelaksanaan Kegiatan a. Cara Pelaksanaan

Pembangunan jalan pertanian diharapkan sebesar-besarnya melibatkan partisipasi masyarakat/petani setempat secara berkelompok. Dengan mekanisme ini diharapkan dapat ditumbuhkan semangat kebersamaan, rasa memiliki dan melestarikan/ memelihara hasil kegiatan. Semua komponen kegiatan pembangunan jalan pertanian direncanakan dan dilaksanakan sepenuhnya memperhatikan aspirasi kelompok tani melalui musyawarah kelompok tani (Rembug Desa).

b. Tahapan Pelaksanaan 1. Persiapan

a. Pembuatan Petunjuk Pelaksanaan

Pedoman Teknis kegiatan pengembangan jalan pertanian dijabarkan lebih lanjut dalam PetunjukPelaksanaan, yang dibuat oleh Dinas Lingkup Pertanian di Propinsi.

b. Pembuatan Petunjuk Teknis

Petunjuk Pelaksanaan dijabarkan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis oleh Dinas Lingkup Pertanian Kabupaten/Kota, sesuai dengan kondisi riil yang dilaksanakan di lapangan pada masing-masing lokasi jalan pertanian.

c. Koordinasi

(41)

Koordinasi dilakukan dengan instansi terkait di Kabupaten/ Kota termasuk aparat desa dan masyarakat luas, untuk memperoleh dukungan dan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan.

d. Sosialisasi

Sosialisasi bertujuan agar masyarakat mengetahui dengan jelas tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga masyarakat bersedia berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

e. Inventarisasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL)

Inventarisasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) dilakukan oleh petugas

Dinas Lingkup Pertanian Kabupaten/ Kota (Tim Teknis) berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memperoleh calon lokasi dan calon petani pelaksana kegiatan pengembangan jalan pertanian.

f. Penetapan Lokasi dan Petani Pelaksana.

Penetapan lokasi dan petani pelaksana berdasarkan hasil inventarisasi CPCL yang memenuhi ketentuan (norma, standar teknis dan kriteria), selanjutnya ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Lingkup Pertanian Kabupaten/Kota.

g. Pembuatan Rekening Kelompok

Rekening kelompok diperlukan untuk menerima transfer dana dalam rangka bantuan sosial ini dari dana Tugas Pembantuan. Rekening kelompok yang dimaksud merupakan rekening bersama antara ketua

(42)

kelompok dengan Kepala Dinas Kabupaten atau Kota selaku KPA, dalam bentuk Rekening

tabungan pada Bank Pemerintah terdekat.

h. Musyawarah Kelompok Tani atau Rembug Desa.

Musyawarah kelompok tani (rembug desa) dimaksudkan untuk menyusun perencanaan secara partisipatif sesuai aspirasi masyarakat, sehingga diharapkan mereka akan merasa memiliki dan bersedia memelihara kelanjutannya. Dalam musyawarah kelompok tani (rembug desa), petugas dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator.

Hasil dari musyawarah kelompok tani menjadi bahan dalam penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK).

i. Pembuatan Desain Sederhana (DS)

Desain sederhana digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan fisik dilapangan dan dibuat dengan memperhatikan kondisi lapangan, kebutuhan lapangan, kecukupan dana, ketersediaan bahan- bahan setempat berdasarkan musyawarah kelompok tani atau rembug desa. Desain sederhana dibuat oleh Dinas lingkup Pertanian Kabupaten/Kota. Hasil desain sederhana terdiri dari :

1. Sket lokasi yang menggambarkan keberadaan calon lokasi pembangunan jalan pertanian dan digambar pada peta administratif desa.

2. Desain sederhana terdiri dari :

a. Peta situasi yang menggambarkan letak jalan pertanian yang akan

(43)

dikembangkan.

b. Gambar desain dan dimensi jalan pertanian yang akan dikembangkan.

c. Jenis pekerjaan yang akan dilakukanserta rincian biaya / RAB (Rencana Anggaran Biaya).

3. Daftar definitif nama petani penerima manfaat yang akan melaksanakan pengembangan jalan pertanian.

j. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK)

Penyusunan RUKK berdasarkan hasil musyawarah kelompok tani dan hasil desain sederhana, dilaksanakan secara bersama-sama antara petani dengan petugas untuk menentukan kegiatan definitif yang akan dilaksanakan. Dalam penyusunan RUKK apabila terdapat penggunaan dana dari APBD atau swadaya petani supaya dicantumkan.

k. Transfer Dana

Mekanisme transfer dana mengacu pada Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Sosial yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

2. Pelaksanaan / Konstruksi a. Penyediaan Bahan/Material

Penyediaan bahan material berupa batu pecah, sirtu atau bahan lainnya yang diperlukan tergantung kebutuhan setempat sesuai Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK).

b. Pelaksanaan Fisik

(44)

1. Pembersihan calon lokasi jalan pertanian yang akan dibangun/ ditingkatkan kapasitasnya/direhabilitasi.

2. Pembuatan baru atau perbaikan badan jalan dilaksanakan dengan cara menimbun, meratakan dan memadatkan agar sesuai dengan standar, dimensi yang telah ditetapkan dalam desain sederhana. Badan jalan dibentuk sedemikian rupa agar air tidak tergenang dibadan jalan.

3. Pembuatan atau perbaikan saluran drainase pada kiri dan atau kanan bahu jalan agar air limpasan dari badan jalan dapat mengalir dengan lancar (tidak tergenang).

4. Pengerasan badan jalan melalui penghamparan batu kerikil dan sirtu atau bahan lain serta pemadatan dan perataan badan jalan sesuai desain sederhana.

5. Pembuatan gorong-gorong dan jembatan yang memotong badan jalan, spesifikasi dan dimensinya sesuai kebutuhan yang dituangkan dalam desain sederhana.

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan hasil pelaksanaan kegiatan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masyarakat secara swadaya, terutama petani yang mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan pembangunan jalan pertanian.

F. Kerangka Pikir

Kinerja Pemerintah Desa dalam mengawasai pelaksanaan pembangunan jalan Petani dilihat dari indikator: 1)Tugas dan Fungsi Pemerintah, 2) Bentuk pengawasan Pemerintah Desa dalam Pembangunan Jalan Petani, 3) Hasil

(45)

pembangunan jalan petani. Kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam melakukan pengawasan pembangunann jalan tani akan menjadi terarah dan masyarakat akan merasa puas dengan pembangunan yang efektif. Adapun faktor pendukung: 1) Koordinasi, 2) Sumber Daya Manusia (SDM). Sementara faktor penghambat: 1) Penetapan Lokasi, 2) Harga Lahan. Untuk lebih jelasnya dapat disimak pada bagan berikut.

Bagan Kerangka Pikir

Kikefireu

G. Fokus Penelitian

Kinerja pemerintah Desa dalam Mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

Instansi Desa memiliki peranan strategis dalam mengawasi pembangunan jalan tani sebagai perpanjangan program pemerintah pusat

Faktor pendukung:

1. Koordinasi 2. Sumber Daya

Manusia(SDM)

Indikator:

1. Tugas dan Fungsi Pemerintah 2. Bentuk pengawasan Pemerintah

Desa dalam Pembangunan Jalan Petani

3. Hasil pembangunan jalan petani

Faktor penghambat:

1. Penetapan Lokasi 2. Harga Lahan

Efektivitas Pengendalian

Kinerja pemerintah desa dalam mengawasi pembangunan jalan petani

(46)

H. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Tugas dan Fungsi Pemerintah Desa: a) mengatur, b) mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi yang seluas-luasnya.

2.

Bentuk Pengawasan Pemerintah Desa Malaka ada dua: a) pengawasan langsung, b) pengawasan tidak langsung.

3. Hasil pembangunan jalan tani memparkan instrumen penelitian dengan fokus pada dua pembangunan yakni: a) Jalan Setapak, b) Jalan Umum tani, sebagai jalur memperlancar pengangkutan hasil pertanian yang ada Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa.

4. Koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.

5. Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu.

6.

Penetapan lokasi dalam fokus penelitian di Desa Malaka, Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep

.

7. Harga lahan yang secara keseluruhan anggaran dipaparkan fokusnya pada bab pembahasan termasuk fenomena pembebasan lahan masyarakat.

8. Efektifitas pengendalian memaparkan pelaksanaan seluruh kegiatan untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan waktu Penelitian

Penelitian ini beralokasi di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep dengan pertimbangan penulis dapat mengetahui Kinerja Pemerintah Desa dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan Jalan Petani di Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep. waktu penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini, menggunakan deskriftif kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati.

2. Tipe Penelitian

Adapun tipe penelitian yang digunakan adalah fenomenologi yaitu menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek-subyek penelitian, berdasarkan fakta-fakta yang nyata atau sebagaimana adanya.

C. Sumber Data

1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh penulis dari hasil wawancara, dan observasi atau pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti.

2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh penulis yang bersumber dari bahan bacaan atau dokumentasi yang berhubungan dengan obyek penelitian

36

(48)

D. Informan Penelitian

Obyek utama penelitian ini ialah pemerintah Desa, kolompok Petani dan masyarakat yang kemudian disebut informan. Informan yang dimaksud adalah orang diharapkan memberikan data secara obyektif, netral dan dapat dipertanggung jawabkan. Sehubungan dengan itu, Peneliti menetapkan Desa Malaka sebagai subyek penelitian.

Tabel 1. Informan yang ditetapkan sebagai sampel.

N

No Informan Jumlah

1

1 Kepala desa 1 Orang

2

2 Aparat desa 2 Orang

3

3 Anggota kolompok tani 3 Orang

4

4 Tokoh masyarakat 3 Orang

Jumlah Keseluruhan Informan 9 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data untuk mengadakan wawancara secara langsung terhadap informan yang dianggap dapat memberikan keterangan-keterangan yang lebih lengkap, serta mampu membahas dengan tuntas tentang permasalahan yang berkaitan erat dengan penelitian ini.

2. Dokumentasi yaitu Melalui teknik ini penulis mengumpulkan dan mencari data dengan melalui dokumen atau catatan yang diperlukan dalam penelitian.

(49)

3. Observasi yaitu pengumpulan data dengan jalan mengamati fenomena secara langsung.

F. Teknik Analisis Data

Analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu:

Reduksi Data, Penyajian Data, Penerikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Tahap Reduksi Data

Pada tahap ini peneliti memusatkan perhatian pada data lapangan yang telah terkumpul. Data lapangan yang demikian banyak tersebut selanjutnya dipilih berdasarkan tema atau variabel yang telah ditetapkan.

2. Tahap Penyiapan Data

Pada tahap ini, data yang telah dibuat ringkasannya dalam bentuk abstraksi dimana peneliti kemudian mengembangkannya melalui bentuk teks naratif.

3. Tahap Kesimpulan

Pada tahap ini, peneliti melakukan uji kebenaran setiap makna yang muncul dari data. Hasil klarifikasi data inilah yang kemudian diinterpretasi dalam bentuk narasi.

G. Keabsahan Data

Setelah menganalisis data, peneliti harus memastikan apakah interpretasi dan temuan penelitian akurat. Validasi temuan bearti bahwa peneliti menentukan keakuratan dan kredibilitas temuan melalui beberapa strategi, antara lain;

Kredibiitas, Transferabilitas, Komfirmabilitas, Defendabilitas.

(50)

1. Kredibilitas, Merupakan penetapan hasil peneltian kualitatif yang kredibel/dapat dipercaya dari perspektif partisipan dalam penelitian tersebut.

2. Transferabilitas, Merujuk pada tingkat kemanpuan hasil penelitian kualitatif untuk dapat di transfer pada konteks/seting yang lain dari sebuah perspektif kualitatif ransferabilitas merupakan tanggung jawab seseorang dalam melakukan generalisasi.

3. Defendabilitas, Perlunya untuk memperhitungkan konteks yang berubah- ubah dalam penelitian yang dilakukan. Peneliti bertanggung jawab menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam seting dan bagaimana perubahan-perubahan tersebut dapat mempengaruhi cara pendekatan peneliti dalam studi tersebut.

4. Komfirmabilitas, Merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian yang dikomfirmasikan kepada orang lain.

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

Desa Malaka merupakan salah satu desa dari sekian banyak desa yang dimiliki oleh Kabupaten Pangkep, dan merupakan salah satu wilayah administratif dalam wilayah Kecamatan Tondong Tallasa, yang terletak dibagian timur dari kota kabupaten.

Sejak berdirinya Desa Malaka telah terjadi empat kali pergantian tampuk pemerintahan dengan jangka waktu yang berbeda-beda.

1. Kondisi Geografis

Desa Malaka terletak dibagian Timur Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep. Desa Malaka mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

Tabel 2. Batas Wilayah Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

N

No Letak Desa Keterangan

1

1 Sebelah Utara Lappattemmu Batas Alam 2

2 Sebelah Selatan KelurahanTonasa Batas Alam 3

3 Sebelah Barat Bulu Tellue Batas Alam 4

4 Sebelah Timur Bantimurung Batas Alam Sumber Data : Data Daftar Isian Dasar Profil Desa Malaka 2014

40

(52)

Menurut pejelasan dari Abdul Haris Sekretaris Desa Malaka berdasarkan data tahun 2012 yang ada di kantor desa, luas wilayah Desa Malaka seluas 713 Ha yang terdiri dari dua dusun yaitu dusun Cole-Cole dan dusun Tompo Malaka dengan jumlah penduduk 953 jiwa.

Selanjutnya, jika dilihat dari orbitasi atau jarak tempuh, maka Desa Malaka dengan Ibu Kotanya Cole-cole, memiliki jarak dengan Ibu Kota Kecamata Tondong Tallasa (Tabora) sejauh 5 km (ditempuh melalui perjalanan darat dengan mengguakan mobil atau motor dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit sedang dengan Ibu Kota Kabupaten sejauh 21 km, waktu tempuh 30 menit dengan menggunakan motor atau mobil.

2. Kondisi Penduduk

Adapun keadaan penduduk berdasarkan rekapitulasi hasil pendataan keluarga tingkat desa dan kelurahan tahun 2012, jumlah penduduk Desa Malaka sementara adalah 953 jiwa, yang terdiri atas 461 laki-laki dan 492 perempuan.

3. Kondisi Sosial keagamaan

Secara garis besar kondisi sosial keagamaan masyarakat di Desa Malaka tidak jauh beda dengan masyarakat desa lain yang ada di Kecamatan Tondong Tallasa khususnya di Kabupaten Pangkep yaitu masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Akan tetapi prilaku keseharian masyarakat tersebut sering menyimpang dari syariat Islam seperti masih kentalnya kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang mistis dan juga kurangnya

(53)

pemahaman terhadap keagamaan sehingga masih banyak masyarakat yang sering melakukan perjudian, minum dan memproduksi minuman keras.

4. Kondisi Sosial Ekonomi

Desa Malakaberdasarkan potensi dan sumber daya yang dimiliki serta letak dan kondisinya mengandalkan sector perikanan pertanian, perkebunan, kehutanan, perdagangan dan sektor jasa dan mempunyai potensi daerah yang bagus, jumlah penduduk yang banyak. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Desa Malaka adalah pertanian dan sisanya adalah pegawai, wiraswasta, petani, dan buruh bangunan.

Penghasilan masyarakat yang ada di Desa Malaka dibawah rata-rata karena dilihat juga dari kondisi pendidikan yang tidak terlalu tinggi, sehingga kehidupan ekonomi masyarakat Desa Malaka juga sangat sederhana. Adapun data yang kami dapatkan mengenai indikator pemetaan sosial masyarakat di Desa Malaka terkait masyarakat yang memiliki mata pencaharian pokok.

Tabel 3. Klasifikasi kondisi sosial ekonomi penduduk di Desa Malaka Kecamatan TondongTallasa Kabupaten Pangkep

No Mata Pencaharian Jumlah

1 Petani 250 Orang

2 Buruh Bangunan 20 Orang

3 Pengusaha Kecil Dan Menengah 15 Orang

4 Pegawai Negeri Sipil 25 Orang

5 Karyawan Perusahaan wiraswasta 95 Orang

Total 405

Sumber Data : Data Daftar Isian Dasar Profil Desa Malaka 2014

Referensi

Dokumen terkait

PIHAK PERTAMA maupun PIHAK KEDUA mengalami kebangkrutan atau tutup usaha atau perubahan/pemindahan hak milik usaha kepada pihak ketiga, yang dapat mempengaruhi

Persoalan kajian yang pertama pula memperolehi min 3.73, yang menyentuh persoalan berkaitan dengan aspek keselamatan di mana ia menunjukkan bahawa dengan menginovasikan

Penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Cash Value Added terhadap Harga Saham Perusahaan Whole Sale and Retail Trade di Bursa Efek Indonesia Tahun 2004-2008”

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar,

Hasil dalam penelitian ini sebagai berikut : Peta digital mengenai sebaran tambang galian golongan C yang ada di Kabupaten Pringsewu dan didalamnya dilengkapi dengan

Suatu perusahaan tentu membutuhkan karyawan sebagai tenaga kerjanya guna meningkatkan produk yang berkualitas. Karyawan merupakan asset penting bagi perusahaan,

Sehubungan dengan karakteristik karya-karya lukisan kaligrafi Arab Hendra Buana, digunakan pendekatan estetik Edmund Burke Feldman dalam menjelaskan empat rumusan yang

Karena proses belajar mengajar pada masa pandemi ini sudah tidak melalui tatap muka lagi, melainkan melalui daring sehingga pengalokasian dana tahun 2020 ini