PENGARUH PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING TERHADAP
MOTIVASI BELAJAR SISWA ILMU PENGETAHUAN ALAM DI KELAS IV SD INPRES MALENGKERI II
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Makassar
OLEH SITTI HIJRAH
10531211314
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEPTEMBER 2020
PENGARUH PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING TERHADAP
MOTIVASI BELAJAR SISWA ILMU PENGETAHUAN ALAM DI KELAS IV SD INPRES MALENGKERI II
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Makassar
OLEH SITTI HIJRAH
10531211314
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEPTEMBER 2020
ABSTRAK
Sitti Hijrah. 2019. Pengaruh Penerapan Model Quantum Teaching Terhadap Motivasi belajar Siswa IPA diKelas IV SD Inpres Malengkeri II. Skripsi. Prodi Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hj. Siti Fatimah Tola dan pembimbing II Hj. Maryati Z.
Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui adanya pengaruh motivasi belajar siswa IPA di SD Inpres Malengkeri pada kelas IV setelah diterapkan model pembelajaran Quantum Teaching.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain One-Shot Case Study. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Inpres Malengkeri yang berjumlah 25 orang yang ditentukan dengan cara simpel random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah Angket motivasi belajar IPA dan lembar observasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pengisian Angket motivasi belajar oleh siswa. perlakuan yang diberikan sebanyak empat kali dengan teknik analisis data yang digunakan adalah membandingkan rat-rata skor motivasi belajar siswa yang di peroleh dari angket motivassi belajar IPA yang didukung dengan hasil observasi selama diberi perlakuan.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah Angket motivasi belajar siswa, Hasil pnelitian menunjukan bahwa skor rata-rata hasil angket motivasi belajar siswa sebesar 110.56. hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Quantum Teaching terhadap motivasi belajar IPA siswa kelas IV SD Inpres Malengkeri II
Kata Kunci: Model Pembelajaran Quantum Teaching, Motivasi belajar IPA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh penerapan Model Quantum Teaching terhadap Motivasi Belajar Siswa Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SD Inpres Malengkeri II”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh penulis untuk melaksanakan ujian akhir demi mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Mengingat kemampuan penulis dan keterbatasan penulis sebagai manusia biasa, maka penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat diselesaikan seperti dalam keadaan sekarang tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini dengan penuh rendah hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan pernyataan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1).Teruntuk orang-orang yang teramat berarti selama penulis menjadi mahasiswa.
Untuk Ayahanda Abdul Gani dan Ibunda Maemunah, yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu selama ini. Tidak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih kepada: 2).Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE.,MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar beserta jajarannya. 3).Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., PhD., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
beserta jajarannya. 4).Dr. Muhammad Nawir, M.Pd., Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan. 5).Nasir, S.Pd.,M.Pd., Sekretaris Jurusan Teknologi Pendidikan`
6).Drs. H.Hamsah HS, MM. Penasehat Akademik. 7).Drs. Hj. Siti Fatimah Tola.M.Si. Dra.Hj. Maryati Z,M.Si. Pembimbing I dan Pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 8).Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan ilmunya kepada penulis di berbagai mata kuliah dari awal hingga akhir studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar; 9).Seluruh pegawai akademik Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar kakanda Nasir, S.Pd.,M.Pd., Akram, S.Pd.,M.Pd., dan yang selalu memberikan pelayanan terbaiknya. 10).Kakakku tersayang Sitti Hajar S.Pd, dan keluarga serta sepupu Salwiah S.Pd, Husniati Amd.,Kep Yuspi Amd.,Farm, Salawati, Dewi Indra Sari S.Sos, Ayu Seila, S.Pd, dan Ratna yang selama ini hadir memberi inspirasi, keceriaan dan kebahagiaan bagi penulis. 11).Teruntuk Rekan- rekan Mahasiswa Teknologi Pendidikan A 2014. 12).Kepada Kepala sekolah, guru, dan staf SD Inpres Malengkeri yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. 13).Seluruh warga Kabupaten Kepulauan Selayar yang tak dapat penulis sebutkan namanya yang telah membantu penulis beserta pihak-pihak yang ikut andil dalam membantu sehingga skripsi tersebut dapat terselesaikan.
Meskipun ucapan itu tidak akan cukup untuk membalas semua yang telah diberikan kepada penulis, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalasnya, Amin.
Makassar, 2020 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 7
1. Pengertian Pembelajaran ... 7
2. Pembelajaran IPA ... 8
3. Tujuan Pembelajaran IPA ... 11
4. Model Quantum Teaching ... 14
5. Motivasi Belajar ... 19
6. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar ... 20
B. Kerangka Pikir... 25
C. Hipotesis ... 28
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 29
B. Populasi dan Sampel ... 30
C. Definisi Operasional Vriabel... 31
D. Instrumen Penelitian ... 32
E. Teknik Pengumpulan Data ... 33
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil Penelitian ... 37
B. Pembahasan ... 44
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 48
B. Saran ... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 50 LAMPIRAN - LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Populasi Siswa ... 30
3.2 Sampel Siswa ... 31
3.3 alternatif Pilihan tiap-tiap Pertanyaan ... 33
3.4 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar Siswa ... 34
4.1 Distribusi Penggunaan Model Quantum Teaching ... 38
4.2 Rangkuman data Penggunaan Model Quantum Teaching ... 40
4.3 Skor rata-rata observasi siswa ... 44
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Kerangka Pikir ... 27
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Halaman 1.1: Hasil Analisis Data Penggunaan Model Quantum Teaching ... ...53 Lampiran II
2.1: Angket Penerapan Model Quantum Teaching... ...57 B.2: Kisi- Kisi Instrumen ...58 Lampiran III
3.1: Observasi siswa penerapan Model Quantum Teaching ...60 3.2: Dokumentasi ...61 3.3: Persuratan ...64
xiv
BABI PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang sistem pendidikan nasional dipandang sebagai daya paham dan terencana untuk mewujudkan motivasi belajar dan proses pembelajaran supaya siswa secara aktif mengembangkan kemampuan dirinya untuk mempunyai kemampuan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keahlian yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Pendidikan sebagai daya dalam menumbuhkan potensi siswa selepas itu diatur dalam kurikulum. Strategi pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan pembelajaran, sebab kemajuan suatu negara dapat dilihat dari perkembangan teknologi dan kondisi pendidikannya, maka perlu diupayakan agar kualitas pendidikan terus meningkat. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah adalah dengan memperbaiki dan mengembangkan proses pembelajaran di sekolah.
Pendidikan pada dasarnya berlangsung dalam bentuk proses belajar mengajar yang melibatkan dua pihak yaitu guru dengan tujuan yang sama dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa. Guru sebagai mediator, guru menjadi media untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan sehingga memudahkan siswa memahami suatu konsep. Selain peranan dan fungsi tersebut, terkhusus pada jenjang Sekolah Dasar guru sebagai guru kelas memiliki tuntutan yang cukup rumit karena harus pemahaman beberapa konsep
bidang ilmu sehingga tantangan guru sekolah dasar lebih berat. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan aktivitas seluas-luasnya dalam belajar. Perancangan kegiatan pembelajaran yang baik diperlukan dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, salah satu caranya adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Pembelajaran IPA di sekolah dasar tidak lepas dari berbagai permasalahan, dimana banyak siswa menganggap IPA sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kurang disukai. Pada saat ini banyak siswa yang menaruh perhatian dan tidak tertarik pada pelajaran IPA. Salah satu hal yang menyebabkan siswa kurang menyukai IPA adalah karena pembelajaran IPA yang diajarkan belum bermakna bagi siswa, di mana banyak siswa yang belum mampu menemukan benang merah antara mata pelajaran IPA dengan kegunaanya di dalam kehidupan nyata siswa. Banyak guru yang menemukan masalah rendahnya motivasi siswa dalam belajar, khususnya dalam pelajaran IPA, dimana siswa menganggap IPA merupakan pelajaran yang membosankan.
Permasalahan siswa ini juga terjadi pada pembelajaran IPA di kelas IV SD Inpres Malengkeri II. Berdasarkan temuan dilapangan terkait pembelajaran IPA pada hasil pengamatan di lapangan diperoleh informasi bahwa saat proses pembelajaran berlangsung siswa kurang memperhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh guru, masih ada yang mengganggu temanya dan siswa kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru hal ini mengindikasikan rendahnya motivasi siswa pada pelajaran IPA.
Anitah Menyatakan bahwa kesuksesan dalam belajar sangat dipengaruhi oleh sebagian aspek. Aspek-aspek tersebut bisa dikelompokkan menjadi 2 kelompok yakni aspek di dalam diri siswa (intern) serta aspek dari luar diri siswa (ekstern). Aspek yang mempengaruhi atas keberhasilan siswa dalam belajar antara lain ialah kemampuan, talenta, usaha, motivasi, hasrat, keletihan, kesehatan, dan kerutinan siswa. Semangat belajar ialah perihal yang penting yang patut dicermati dalam aktivitas belajar mengajar. Semangat belajar inilah yang mesti dimunculkan lebih dini di dalam diri siswa.
Motivasi dapat dikatakan sebagai totalitas daya intern siswa yang memunculkan aktivitas belajar, yang bisa menjamin kelangsungan dari aktivitas belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga misi yang diinginkan oleh pokok belajar itu bisa tercapai.
Dalam hal ini pemilihan model yang tepat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. pembelajaran IPA sangat diperlukan keterampilan dari seorang guru agar siswa mudah memahami materi yang diberikan oleh guru, karena sulit membuat pengajaran yang bisa diterima oleh semua siswa. Kebanyakan proses pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton, artinya disin guru yang lebih aktif sedangkan siswa hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru.
Melihat permasalahan yang ada, maka model pembelajaran yang sesuai adalah model Quantum Teaching. Menurut (DePorter dkk, 2012), menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching di kelas, seorang guru dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga berpengaruh pada peningkatan
motivasi belajar siswa. Sa’ud (2014:126) ”mengatakan bahwa model Quantum Teaching adalah bentuk inovasi sebuah pencipaan beragam interaksi, Hal ini mencakup seluruh yang berada dalam dan di seputar momen belajar”.
Berdasarkan tinjauan tersebut menggambarkan bahwa model pembelajaran Quantum Teaching di dalam metode pembelajaran lebih banyak memanfaatkan alam sekitar. Hal ini sinkron dengan pelajaran IPA yan bersifat ilmiah.
Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini didukung berdasarkan pendapat Sa’ud (2015:130)”menyatakan bahwa tujuan pokok dalam pembelajaran Quantum Teaching yakni meningkatkan kerja sama siswa pengalihan bentuk, menambah motivasi dan keinginan belajar, menambah daya ingat, meluaskan solidaritas solidaritas, dan meningkatkan daya dengar”.
Berdasarkan uraian, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Penerapan Model Quantum Teaching Terhadap Motivasi belajar siswa IPA di SD Inpres Malengkeri”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalahnya yaitu: ”Apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran Quantum Teaching terhadap motivasi belajar Siswa IPA di SD Inpres Malengkeri II?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh motivasi belajar siswa IPA di SD Inpres Malengkeri setelah diterapkan model pembelajaran Quantum Teaching.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis manfaat penelitian ini adalah mendukung teori yang telah ada, menambah dan memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya tentang model Quantum Teaching dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam(IPA).
Selain itu hasil penelitian ini juga membuka peluang bagi peneliti berikutnya untuk dapat mengembangkan model Quantum Teaching dari sudut pandang yang berbeda agar semakin berkembang khazanah pengetahuan tentang Quantum Teaching.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis manfaat penelitian ini adalah:
a. Bagi peserta didik
Diharapkan agar motivasi belajar siswa dapat meningkat,dan dapat mengatasi kesulitan peserta didik dalam belajar IPA.
b. Bagi pendidik
Dapat menjadi rujukan untuk Mengembangkan kreativitas Guru dalam melakukan variasi pada proses pembelajaran
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan andil yang positif, minimal sebagai informasi dan perbaikan pengembangan pembelajaran dalam memenuhi metode pembelajaran yang lebih efektif.
d. Bagi peneliti
Setelah penelitian ini,diharapkan kepada peneliti sebagai calon pendidik dapat menjadi gambaran untuk menjadi acuan dalam penggunaan model-model pembelajaran yang efektif.
BAB II Kajian Pustaka
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Pembelajaran
Huda (2013: 2) menyatakan “Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil dari memori,kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman. hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang”.
Wenger (1998: 227;2006: 1) menyatakan, “pembelajaran bukanlah aktivitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika ia tidak melakukan aktivitas yang lain. Pembelajaran juga bukanlah sesuatu yang berhenti dilakukan oleh seseorang. Lebih dari itu, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan pada level yang berbeda-beda, secara individual, kolektif, maupun sosial”.
Menurut Aqib (2012: 66) “Pembelajaran adalah upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi ”. Dalam proses belajar mengajar, guru menyampaikan suatu materi pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pengajaran, sementara peserta didik berkewajiban mempelajari materi pelajaran tersebut dengan maksud agar terjadi transfer pengetahuan.
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah suatu proses alamiah yang bisa dilakukan dimana saja pada level yang berbeda-beda, secara individual, kolektif, maupun sosial yang dihasilkan dari memori, kognisi,dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman seseorang.
2. Pembelajaran IPA a. Pengertian IPA
IPA merupakan singkatan dari”ilmu pengetahuan alam” yang merupakan terjemahan dari bahasa inggris “Natural science”.Natural berarti alamiah atau berhubungan dengan alam. Science berarti ilmu pengetahuan. Jadi menurut asal katanya, IPA berarti ilmu tentang alam yang mempelajari peristiwa-peristiwa di alam (Srini M.Iskandar, 1996:2).
IPA adalah pengetahuan yang rasional objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Hendro Darmodjo, 1992:3). Nash 1963”Mengatakan IPA adalah metode untuk mengamati alam yang sifatnya analisis, lengkap, cemat serta mengaitkan antara gejala alam yang satu dengan gejala alam yang lainya”. Sedangkan menurut powler (dalam Wina putra, 1992: 122) IPA Merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur dan berlaku umum berupa kumpulan hasil observasi dan eksperimen.
Usman Samatowa, (2010:3)”mengatakan bahwa ilmu pengetahuan alam merupakan arti kata dalam bahasa inggris yaitu natural science, aetinya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Berhubungan dengan alam atau
bersangkut paut dengan alam, science artinya ilmu pengetahuan alam. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini”.
Patta Bundu (2006: 9) juga “menjelaskan bahwa sains atau IPA adalah metode kegiatan yang dilakukan para saintis dalam mendapat pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiatan tersebut. Sains secara garis besar memiliki tiga bagian, yaitu 1) proses ilmiah, misalnya mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melakukan eksperimen, 2) produk ilmiah, misalnya prinsip, konsep, hukum, teori, dan 3) sikap ilmiah, misalnya ingin tahu, objektif, hati-hati dan jujur”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya IPA terdiri atas 3 unsur utama. Ketiga unsur tersebut yaitu produk, proses ilmiah, dan pemupukan sikap. IPA bukan hanya pengetahuan tentang alam yang disajikan dalam bentuk fakta,konsep, prinsip atau hukum(IPA sebagai produk) tetapi sekaligus cara atau metode untuk mengetahui dan memahami gejala-gejala alam IPA sebagai proses ilmiah serta upaya pemupukan sikap ilmiah, IPA sebagai sikap.karena IPA memiliki beberapa manfaat bila diajarkan di sekolah dasar, yaitu : IPA dapat melatih anak untuk selalu berpikir kritis, IPA mengajarkan anak untuk memecahkan segala masalah dengan cara berpikir kritis, IPA mempunyai nilai-nilai pendidikan yang dapat membentuk kepribadian
anak secara menyeluruh, ipa juga diajarkan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik bagi siswa.
b. Prinsip pembelajaran IPA
Mengajar dan belajar merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan.
Suatu proses pembelajaran akan berhasil apabila terjadi proses mengajar dan proses belajar yang harmonis.“Menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis (1992:12) terdapat tujuh prinsip dalam proses belajar mengajar agar pembelajaran IPA dapat berhasil”.
Ketujuh prinsip itu meliputi.
a) Yang dimaksud keterlibatan siswa secara aktif menurut Richardson adalah “learning by doing”. Jadi siswa harus ikut berbuat sesuatu untuk memperoleh ilmu yang mereka cari. Pendidik dapat mengajak peserta didik untuk melakukan kegiatan agar mendapatkan ilmu dari tangan pertama yaitu alam itu sendiri.
b) Prinsip belajar berkesinambungan
Yang dimaksud dengan prinsip belajar berkesinambungan adalah proses belajar yang selalu dimulai dari apa-apa yang telah dimiliki oleh siswa.
Dalam hal ini pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa merupakan jalan bagi siswa untuk mendapatkan pengetahuan baru. Oleh sebab itu, guru harus mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan siswa sebelum ia memulai suatu proses pembelajaran.
c) Prinsip motivasi
Dalam proses belajar IPA, motivasi dimaksudkan sebagai keinginan untuk mau belajar IPA. Keinginan itu dapat bersumber dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik) maupun dari luar diri siswa (motivasi ekstrinsik).
d) Prinsip multi saluran
Dari masing-masing siswa daya tangkapnya berbeda-beda semuanya tidaklah sama, ada siswa yang mudah belajar melalui membaca, namun ada pula yang baru mengerti kalau ia ikut aktif dalam suatu percobaan. Oleh sebab itu penggunaan multi saluran dalam proses belajar IPA sangat diperlukan supaya semua siswa dengan berbagai kemampuan daya tangkap dapat menerima pelajaran dengan baik.
e) Prinsip penemuan
Prinsip penemuan yang dimaksud dalam hal ini bahwa untuk memahami suatu konsep atau simbol-simbol, siswa tidak diberi tahu oleh guru, tapi guru memberi peluang agar siswa bisa memperoleh sendiri pengertian-pengertian itu melalui pengalamannya.
3. Tujuan Pembelajaran IPA
Tujuan dalam pembelajaran IPA untuk memberikan kesempatan kepada seluruh siswa agarPembelajaran IPA di SD ditujukan untuk memberikan kesempatan siswa mengembangkan kemampuan mereka, dan rasa ingin tahu secara alamiah mengembangkan kemampuanya bertanya
dan mencari jawaban atas gejala alam berdassarkan kenyataan alam, serta mengembangkan bakat secara alami Tujuan mata pelajaran IPA adalah 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-nya.
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, teknologi dan masyarakat.
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturan sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan.
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih penting (Mulya, 2006:111).
4. Pembelajaran IPA di SD a. Pengertian IPA
Usman Samatowa (2013:3 )” berpendapat bahwa ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa inggris yaitu natural science, artinya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, science artinya ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini”.
Patta Bundu (2006: 9) juga “menjelaskan bahwa sains atau IPA adalah proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam memperoleh pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiatan tersebut. Sains secara garis besar memiliki tiga komponen, yaitu 1) proses ilmiah, misalnya mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, 2) produk ilmiah, misalnya prinsip, konsep, hukum, teori, dan 3) sikap ilmiah, misalnya ingin tahu, objektif, hati- hati dan jujur”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam semesta dan isinya melalui proses ilmiah, produk ilmiah dan sikap ilmiah. Apabila siswa mempelajari tentang IPA, itu berarti siswa mempelajari proses ilmiah juga.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran dan hakikat IPA, bahwa IPA dapat dipandang sebagai produk, proses dan sikap, maka dalam pembelajaran IPA di SD harus memuat 3 dimensi IPA tersebut.
Pembelajaran IPA tidak hanya mengajarkan penguasa ide dan prinsip tentang alam tetapi juga mengajarkan metode memecahkan masalah, melatih kemampuan berpikir kritis dan mengambil kesimpulan melatih
bersikap objektif, bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain.
Model pembelajaran IPA yang sesuai untuk anak sekolah dasar ialah model pembelajaran yang menyesuaikan lingkungan belajar siswa dengan situasi kehidupan nyata di masyarakat. Siswa diberi kesempatan menggunakan alat-alat dan media yang ada di lingkungan dan menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari (Usman Samatowa, 2006:11- 12).
b. Asas Pembelajaran IPA
Mengajar dan belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipisahkan. Suatu proses pembelajaran akan berhasil apabila terjadi proses mengajar dan proses belajar yang harmonis. terdapat tujuh Asas dalam proses belajar mengajar agar pembelajaran IPA dapat berhasil.
Ketujuh Asas itu meliputi:
a. Asas keterlibatan siswa secara aktif
Yang dimaksud keterlibatan siswa secara aktif menurut Richardson yaitu
“learning by doing”. Jadi siswa harus ikut berbuat sesuatu untuk memperoleh ilmu yang mereka cari. Guru dapat mengajak siswa untuk melakukan kegiatan mendapatkan ilmu dari alam itu sendiri.
b. Asas belajar berkesinambungan
Yang dimaksud dengan Asas belajar berkesinambungan ialah proses belajar yang selalu dimulai dari apa yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa merupakan jalan bagi siswa untuk dapat meraih pengetahuan baru. Oleh karena itu, guru harus
mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan siswa sebelum ia memulai suatu proses pembelajaran.
c. Asas motivasi
Dalam proses pembelajaran IPA, motivasi dimaksudkan sebagai anjuran untuk mau belajar IPA. Dorongan itu dapat bersumber dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik) maupun dari luar diri siswa (motivasi ekstrinsik).
5. Model Quantum Teaching a. Model Pembelajaran
Mills (dalam Suprijono, 2009: 45) berpendapat bahwa “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”.
Aqib (2013: 70) menyimpulkan “metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran”
Joyce dan Weill (2009: 7)” mendeskripsikan model pembelajaran sebagai rencana atau pola yang digunakan guru untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi instruksional, dengan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda”.
Berdasarkan pendapat Mills, Aqib, Joyce dan Weill penulis dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mendesain materi-materi instruksional dengan memandu
proses pengajaran di ruang kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.
b. Model Quantum Teaching
Model pembelajaran Quantum Teaching merupakan model pembelajaran yang bisa memudahkan proses belajar dengan cara-cara yang baru yang lebih menyenangkan dan mengutamakan kebebasan siswa dalam hubungan dengan pencapaian-pencapaian yang terarah terhadap apapun mata pelajaran yang diajarkan.
Menurut (DePorter,2010) “Model pembelajaran Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran”. Model pembelajaran Quantum Teaching membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif dengan cara memanfaatkan bagian-bagian yang ada pada siswa dan memudahkan proses pembelajaran sehingga belajar menjadi menyenangkan, misalnya timbulnya rasa ingin tahu siswa dan lingkungan belajar melalui interaksi-interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Model merupakan suatu kerangka ideal yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan (Suandi, 2009). Kata Quantum dalam Quantum Teaching berasal dari rumus fisika yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Interaksi-interaksi ini mencakup bagian- bagian untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa.
Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain, hal ini akan menjadi jalan autentik untuk memasuki dunia siswa, sehingga siswa akan termotivasi untuk terus belajar (DePorter, 2005).
Model pembelajaran Quantum Teaching muncul di Super Camp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum. Learning Forum adalah sebuah institusi pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi. Selama dua belas hari (menginap), siswa-siswi mulai umur 9 tahun sampai 24 tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis berkreatifitas berkomunikasi dan membina hubungan serta kiat-kiat yang meningkatkan kemampuan mereka menguasai hal-hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukan bahwa murid-murid yang mengikuti Supercamp mendapatkan nilai yang baik, lebih banyak berpartisipasi, dan lebih bangga akan diri mereka sendiri.
Quantum Teaching bersandar pada konsep ini; “bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Artinya bahwa pentingnya buat seorang guru memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Alasanya adalah karena tindakan ini akan memberikan izin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan siswa menuju kesabaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Caranya, dengan mengaitkan apa yang guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau
perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, social, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan ini terbentuk, guru dapat membawa mereka ke dalam dunianya serta memberi pemahaman akan isi dunia itu. Sehingga siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunianya dan menerapkan pada situasi baru.
Quantum Teaching mencakup bakat spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang ampuh, merancang kurikulum menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar.
Huda (2016:193-194) Tahapan-tahapan model pembelajaran quantum teaching adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan Ambak
Ambak adalah motivasi yang di dapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi, keinginan untuk belajar selalu ada.
2. Penataan lingkungan belajar
Dalam proses belajar dan mengajar, diperlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa aman dan nyaman. Perasaan semacam ini akan menumbuhkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Penataan lingkungan belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa
3. Memupuk sikap juara
Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu belajar siswa.
Seorang guru hendaknya tidak segan-segan memberi pujian atau hadiah pada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya. Sebaliknya, guru sebaiknya tidak mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi.
Dengan memupuk sikap juara ini, siswa akan merasa lebih dihargai.
4. Membiasakan mencatat
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya bisa menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang diperoleh dengan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri. Simbol-simbol tersebut dapat berupa tulisan.
5. Membebaskan gaya belajar
Ada berbagai macam gaya belajar yang dimiliki siswa. Gaya belajar tersebut antara lain: visual, auditorial, dan kinestetik. Dalam quantum learning, guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswa dan tidak terpaku pada satu gaya belajar saja.
6. Membiasakan membaca
Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah membaca. Dengan membaca, siswa bisa meningkatkan perbendaharaan kata, pemahaman, wawasan, dan daya ingatanya. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain 7. Menjadikan anak lebih kreatif
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, saya mencoba dan suka bermain. Sikap kreatif memungkinkan siswa menghasilkan ide-ide segar dalam belajarnya.
8. Melatih kekuatan memori
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar, sehingga siswa perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik.
3. Motivasi Belajar
Motivasi bermula dari kata “motif”, yang artinya sebagai usaha yang mendorong seseorang untuk sesuatu. Motif dapat diartikan juga sebagai daya penggerak dari dalam subjek untuk melakukan aktivita-aktivitas tertentu demi menjangkau suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” itu Maka motivasi dapat dikatakan sebagai kebiasan penggerak yang telah menjadi aktif. (Sardiman, 2007: 73)
Suprijono (2013: 163) juga “menyatakan bahwa hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan perilaku. Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama”.
Berlandaskan dari pendapat para ahli di atas, maka dinyatakan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan karakter. Dalam proses belajar
IPA, motivasi diartikan sebagai sugesti untuk mau belajar IPA. Sugesti itu dapat berawal dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik) maupun dari luar diri siswa (motivasi ekstrinsik). Motivasi ekstrinsik siswa dapat ditimbulkan melalui kegiatan pembelajaran yang menarik di kelas, salah satun cara dengan menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching.
Perihal ini diperkuat dengan teori Hendro Darmodjo dan Jenny R.E.
Kaligis (1992:12) yang “mengemukakan bahwa salah satu prinsip yang menentukan keberhasilan pembelajaran IPA adalah prinsip motivasi. Semakin tinggi motivasi belajar anak maka akan semakin mudah suatu tujuan pembelajaran tercapai”.
4. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Dalam meningkatkan motivasi yang ada pada diri siswa baik internal maupun eksternal perlu adanya dorongan lebih atau usaha untuk mencapai Nanang Hanafiah (2012: 8) Merumuskan teknik-teknik agar motivasi belajar siswa dapat bertambah sebagai berikut
a. Peserta didik harus memperoleh pemahaman (comprehension) yang jelas mengenai proses pembelajaran.
b. Peserta didik memperoleh keinginan terhadap pembelajaran.
c. Menyesuaikan arah pembelajaran dengan kebutuhan siswa.
d. Memberi sentuhan hangat.
e. Memberikan hadiah.
f. Memberikan apresiasi dan penghargaan.
g. Siswa mengetahui prestasi belajarnya.
h. Adanya iklim belajar yang bersaing secara sehat.
i. Belajar menggunakan media interaktif.
j. Guru yang berpengalamaan dan humoris.
k. lingkungan yang kondusif.
Hamzah B. Uno (2013: 34-37) juga “mengungkapkan bagaimana agar motivasi belajar siswa meningkat, yaitu dengan teknik-teknik berikut”.
a. Pernyataan penghargaan secara lisan.
b. Menggunakan skor ulangan sebagai dorongan keberhasilan.
c. Memicu rasa ingin tahu.
d. Meberikan kejutan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa.
e. Menjadikan fase dini dalam belajar mudah bagi siswa.
f. Menggunakan materi yang tidak asingbagi siswa sebagai contoh dalam belajar.
g. kaitan metode yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu rancangan dan prinsip yang telah dipahami.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa untuk meningkatkan motivasi belajar siswa cara yang dilakukan adalah dengan memberikan contoh yang positif, mengembangkan rasa ingin tahunya, memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan keahlianya di depan umum, menggunakan model pembelajaran yang menyenangkan dan bervariatif, dan lain sebagainya. Hal ini sangat sesuai dengan skema pembelajaran Quantum Teaching yang dikembangkan oleh Bobbi DePorter
yaitu tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.
TANDUR a. Tumbuhkan
Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami.
Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau penasaran tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka,
Pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau Penasaran tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan (persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sifat positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial (komunitas belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu.
b. Alami
Berikanlah data yang tepat saat minat memuncak mengenalkan konsep dari materi pelajaran. Sediakan kata kunci, model, rumus, strategi dan model.
Contoh : guru membimbing siswa dalam menemukan konsep atau prinsip berdasarkan kegiatan yang dialami oleh siswa
c. Demonstrasikan
Berikan kesempatan bagi siswa untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.
Contoh: siswa diajak untuk mengungkapkan apa yang mereka telah peroleh selama pelajaran berlangsung.
d. Ulangi
Beri kesempatan untuk mengulangi apa yang telah dipelajarinya, sehingga setiap siswa merasakan langsung dimana kesulitan. Ini dapat dilakukan melalui penugasan atau membuat ikhtisar hasil belajar.
e. Rayakan.
Jika patut dipelajari, maka patut pula dirayakan. Dimaksudkan sebagai respon pengakuan atas penyelesaian. Guru memberikan pujian pada siswa atas apa yang telah mereka lakukan, Pujian ini bisa berupa tepuk tangan atau poin untuk keaktifan.
Kerangka “TANDUR” dapat membawa siswa lebih terdorong dan termotivasi untuk mempelajari setiap materi yang diajarkan oleh guru. Hall ini juga diperkuat dengan teori Udin Syaefudin Sa’ud (2012:130)” yang menyatakan bahwa salah satu tujuan pokok dari pembelajaran Quantum Teaching adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa”
Kelebihan dan kekurangan Model Quantum Teaching 1. Kelebihan Quantum Teaching adalah
a. Selalu berpusat pada apa yang masuk akal bagi siswa
b. Menumbuhkan dan antusiasme siswa, bisa bikin siswa merasa bahagia dan suka dalam belajar, dikarenakan model yang digunakan menuntut mereka agar selalu aktif dalam pembelajaran.
c. Dalam teknik pembelajaran guru bisa memberikan semangat kepada siswa agar ikut serta dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung.
d. Menawarkan ide dan proses cemerlang dalam bentuk yang enak dipahami siswa.
e. Menciptakan tingkah laku dan sikap kepercayaan dalam diri sendiri.
f. Belajar terasa menyenangkan.
g. Ketenangan psikologi.
h. Motivasi dari dalam.
i. Adanya kebebasan dalam berekspresi.
j. Dapat membuat siswa merasa nyaman dan gembira dalam belajar, karena model ini menuntut setiap siswa untuk selalu aktif dalam proses belajar.
k. Adanya kerja sama.
2. Kekurangan Quantum Teaching
a. Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung
b. Memerlukan fasilitas yang memadai
c. Kurang dapat mengontrol siswa
d. Persoalan yang dihadapi dalam menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching akan terjadi dalam situasi dan kondisi belajar yang kurang nyaman sehingga menuntut penguasaan kelas yang baik.
B. Kerangka Pikir
IPA adalah salah satu mata pelajaran yang selalu dianggap sulit oleh sebagian peserta didik. Berdasarkan hasil riset di lapangan ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan pada mata pelajaran IPA salah satunya dikarenakan motivasi belajar IPA siswa yang tergolong masih rendah karena dalam proses pembelajaran tidak menggunakan model pembelajaran yang tepat. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya ketrlibatan siswa di kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Guru memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan untuk memilih model pembelajaran yang tepat.
Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti menggunakan model Quantum Teaching karena model dalam penelitian ini sangat membantu untuk mencapai keberhasilan dalam belajar mengajar dimana siswa sebagai titik sentral, sedangkan guru hanya sebagai pembimbing, narasumber, pengamat, atau fasilitator dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran ipa dengan menerapkan model Quantum Teaching akan efektif apabila memenuhi ketiga indikator efektivitas.
Model pembelajaran Quantum Teaching memberikann kesempatan bagi siswa untuk agar bisa belajar dengan senang, menggelora, dan tidak bosan. Selain itu menggunakan desain model QuantumTeaching yang di tahu dengan istilah
“TANDUR” guru dapat bekerja sama dengan siswa untuk meembuat suatu pelajaran yang menyenangkan sehingga motivasi siswa,dalam belajar pun akan mengalami perubahan. Berdasakan hal tersebut, Bisa di katakan bahwa dalam penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching akan berpengaruh terhadap motivasi belajar IPA siswa. Skema kerangka pikirnya sebagai berikut
Gambar 2.1 Skema kerangka pikir Motivasi belajar siswa tergolong
rendah
Model pembelajaran QuantumTeaching:
kekuatan ambak, penataan lingkungan belajar, memupuk sikap juara,
membebaskan gaya belajar, membiasakan mencatat, menjadikan anak lebih kreatif,dan melatih kekuatan
memori
Ada Pengaruh Motivasi belajar siswa
Dengan model Quantum Teaching dapat menimbulkan
dampak terhadap Motivasi belajar siswa dalam belajar IPA
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir, maka hipotesis yang diajukan ini adalah: “Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching terhadap Motivasi Belajar Siswa kelas IV SD Inpres Malengkeri II"
BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini yaitu penelitian pra eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Menurut sugiyono, model penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai “model penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”
(Sugiyono,2015:107).
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah One-Shot Case Study. Pada desain ini dikenakan perlakuan tertentu lalu setelah itu dilakukan pengukuran terhadap variabel tergantung. Penggunaan desain ini sesuai dengan tujuan pada penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh motivasi siswa setelah pemberian model pembelajaran quantum teaching dalam pembelajaran IPA. Berikut adalah desain penelitian One- Shot Case Study:
X O Keterangan:
X : perlakuan dengan model pembelajaran quantum teaching(variabel independen)
O : Angket pada kelas eksperimen( variabel dependen)
Sugiono 2017:74
3. Lokasi Penelitian
Penelitian pra eksperimen dilakukan di SD Inpres Malengkeri jl Muhajirin II B. Populasi dan sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (20015:117) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Adapun Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas Iva dan Ivb SD Inpres Malengkeri yang jumlah keseluruhan siswanya adalah 48 siswa, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.1 Populasi siswa SD Inpres Malengkeri
Kelas
Siswa
Jumlah Laki-Laki Perempuan
IV A 10 Orang 15 Orang 25 Orang
IV B 13 Orang 10 Orang 23 Orang
Jumlah 48 Orang
Sumber SD Inpres Malengkeri Tahun Ajaran 2018/2019 2. Sampel
Menurut sugiyono (2017:81) bahwa ‘’Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut’’. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Teknik ini
dikatakan simple ( sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Sampel dalam penelitian ini adalah 1 kelas, yaitu kelas IVA dengan jumlah rincian siswa sebanyak 25 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.2 Sampel Siswa SD Inpres Malengkeri
Kelas
Siswa
Jumlah Laki-Laki Perempuan
IV A 10 Orang 15 Orang 25 Orang
C. Definisi operasional Variabel
Dalam penelitian ini variabel yang akan diteliti ada 2 yaitu: variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran Quantum Teaching dan variabel terikat penelitian ini adalah motivasi belajar siswa.
1. Model Quantum Teaching adalah desain pembelajaran tatap muka di kelas yang merupakan suatu upaya yang dilakukan guru untuk mengubah potensi yang dimiliki siswa (minat dan bakat alamiah) model Quantum Teaching memberikan waktu kepada siswa agar nyaman dalam belajar, mengalir dan tidak cepat bosan.
2. Motivasi belajar merupakan seluruh daya penggerak psikis yang ada dalam diri individu siswa yang dapat memberikan dorongan untuk belajar demi mencapai tujuan dari belajar tersebut. Dalam penelitian ini motivasi belajar
ditunjukan melalui skor jawaban pada angket. Indikator motivasi belajar meliputi: adanya hasrat keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik. Semakin tinggi skor jawaban maka semakin tinggi pula motivasi belajarnya. Cara yang digunakan untuk mengungkap motivasi belajar adalah dengan menggunakan kuesioner/ angket.
D. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data, instrumen dalam penelitian ini adalah:
1. Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran peserta didik, keaktifan dan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
2. Angket Motivasi Belajar IPA
Angket/kuesioner merupakan sebuah pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden guna memperoleh laporan mengenai pribadinya atau sesuatu yang diketahui (Suharsmi Arikunto,2002:128)
Masing-masing pernyataan disediakan 4(empat) alternatif pilihan yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik.`
Tabel 3.3 alternatif pilihan tiap-tiap pertanyaan
Skor Keterangan
4 Sangat baik
3 Baik
2 Cukup baik
1 Kurang baik
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh informasi yang diperlukan maka peneliti menggunakan lembar observasi dan angket. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu:
1. Angket/kuesioner Motivasi belajar IPA
Angket/kuesioner merupakan sebuah pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden guna memperoleh laporan mengenai pribadinya atau peristiwa yang diketahui diketahui ( Suharsmi Arikunto, 2002:128 ) Kuesioner mengandug pertanyaan untuk diberikan tanggapan oleh subjek peneliti yang disusun berdasarkan konstrksii teoritik yang telah dirangkai sebelumnya, setelah itu di kembangkan ke dalam indikator-indikator berikut: adanya dorongan dan keinginan untuk berhasil, adanya dorongan
dan keinginan dalam belajar, adanya dorongandan adanya cita-cita, memberikan apresiasi dalam belajar, kegiatan menarik dalam belajar dan adanya lingkungan yang mendukung, sehingga memungkinkan seseorang dapat belajar dengan baik. Adapun Kisi-kisi angket motivasi belajar IPA Siswa sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket motivasi belajar
Indikator Nomor pernyataan jumlah
1. Adanya hasrat dan
keinginan berhasil 1, 2, 3, 4, 4 2. Adanya dorongan
dan kebutuhan belajar
5, 6, 7, 8 4
3. Adanya harapan dan cita-cita
9,10, 11, 12, 13, 14,15
7
4. Adanya
penghargaan dalam belajar
16, 17,18,19,20 5 5. Adanya kegiatan
menarik dalam belajar
21, 22, 23, 24 4 6. Adanya lingkungan
yang mendukung sehingga
memungkinkan belajar dengan nyaman
25,26, 27,28, 29, 30 6
jumlah butir 30
D. Teknik Analisis Data
Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dan menggunakan satu kelompok eksperimen. Untuk mengukur pengaruh motivasi belajar siswa dengan menggunakan model quantum teaching dalam pembelajaran IPA, maka analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif satu kelompok sampel independen.
Data yang diperoleh dari kelompok eksperimen dilakukan uji-tes untuk melihat motivasi belajar siswa pada kelompok eksperimen menggunakan model Quantum Teaching. t= 𝑋−𝜇𝜊
𝑆 − √𝑛
dimana :
t : nilai t yang dihitung X : nilai rata-rata
𝜇𝜊 : nilai yang dihipotesiskan 𝑆 :simpangan baku sampel 𝑛 :jumlah anggota sampel
Untuk menghitung persentase dari setiap item pertanyaan angket dalam bentuk penyajian angket. Untuk mendeskripsikan hasil penelitian dengan rumus sebagai berikut:
Analisis frekuensi: 𝜌 = 𝑓
𝑁𝑋100%
Keterangan :
𝑓 : frekuensi yang sedang dicari persentasenya
𝑁: number of cases (jumlah frekuensi/banyak individu) P: angka persentase
Maka dilakukan pengukuran yang dikemukakan oleh Arikunto (2003:246) sebagai berikut:
Tabel 3.5 Pengukuran yang Dikemukakan oleh Arikunto (2003)
Persentase (%) Keterangan
76% - 100% Dikategorikan sangat baik
56% - 75% Dikategorikan baik
40% - 55% Dikategorikan cukup baik
40% Dikategorikan tidak baik
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diperoleh dari Angket tentang penggunaan Model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA di SD Inpres Malengkeri II, untuk mengetahui adanya pengaruh terhadap motivasi belajar siswa dalam penggunaan model Quantum Teaching di sekolah tersebut. Angket diberikan kepada siswa kelas IVa yang menjadi responden. Kelas tersebut dipilih sebagai sampel dikarenakan untuk melihat hasil dari angket Motivasi belajar siswa dengan menggunakan Model pembelajaran Quantum Teaching yang dibagikan.
Selanjutnya hasil angket tersebut dianalisis menggunakan analisis persentase dan dengan tabel frekuensi untuk memudahkan dalam memahami penelitian tersebut dideskripsikan berdasarkan hasil angket dan berdasarkan kenyataan yang ada selama penulis meneliti.
2. Analisis Deskriptif Kuantitatif
Dari peneliti yang telah dilakukan, penulis melakukan analisis data yang merupakan bagian penting dalam metode ilmiah untuk menjawab masalah penelitian. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan model Quantum
Teaching terhadap motivasi belajar siswa yang terdapat pada SD Malengkeri II dapat dilihat pada tabel berikut.
Untuk memperoleh gambar tentang penggunaan model Quantum Teaching terhadap motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada kelas IV maka data dan angka secara frekuensi akan dipresentasikan berdasarkan pernyataan/ pertanyaan responden berikut ini.
1. Penggunaan model Quantum Teaching
Dalam variabel terdiri dari 30 item pernyataan. pernyataan dimana setiap item diberi skor tertinggi 4 dan skor terendah 1 dengan jumlah responden 25 dengan demikian skor yang tertinggi adalah (skor ideal) untuk setiap item pertanyaan berdasarkan sebesar 120 berdasarkan data hasil pengisian kuesioner, distribusi penelitian responden disajikan dalam bentuk tabel berikut:
Tabel 4.1 Distribusi penggunaan model Quantum Teaching
No Item F N Presentase(%)
1 2 3 4
1. 111 120 92
2. 103 120 85
3. 105 120 87
4. 113 120 94
5. 107 120 89
6. 104 120 86
7. 110 120 91
8. 117 120 90
9. 113 120 94
10. 114 120 95
11. 115 120 95
12. 104 120 86
13. 102 120 85
14. 113 120 94
15. 106 120 88
16. 117 120 97
17. 109 120 90
18. 108 120 90
20. 112 120 93
21. 119 120 99
22. 118 120 98
23. 109 120 90
24. 103 120 85
25. 102 120 85
Jumlah 2764 3000 92
Sumber : Hasil Data Penelitian, Tahun 2019
Berdasarkan analisis data dan akumulasi data tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa sesudah diberikan perlakuan pada penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IV termasuk dalam kategori cukup baik dengan skor 92%
3. Analisis data
Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis melakukan analisis data yang merupakan bagian penting dalam metode ilmiah untuk menjawab masalah penelitian. Untuk mengetahui pengaruh penerapan model Quantum Teaching yang terdapat pada SD Inpres Malengkeri II dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 rangkuman data penggunaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA pada kelas IV di SD Inpres Malengkeri
No respon Penggunaan Model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA
1 2
1 113
2 114
3 115
4 106
5 109
6 108
7 112
8 105
9 118
10 111
11 110
12 102
13 104
14 107
15 117
16 119
17 113
18 104
19 114
20 119
21 109
22 117
23 113
24 102
25 114
Jumlah ∑=2764, X=110,56 s=5,43
4. Uji t
Penguji uji t dengan untuk melihat motivasi belajar siswa pada kelompok eksperimen menggunakan proses dengan model Quantum Teaching. hasil perhitungan uji t sebagai berikut:
t=𝑋−𝜇0𝑆
√𝑛 t= 110.56−90
5.43 √25
t= 20.56
5,43_____2,2
t=20,56
2,46
t=8,57
jadi nilai t hitung adalah 8,57 5. Pengujian Hipotesis
Rumus hipotesisnya adalah: Pengaruh Penerapan Model Quantum Teaching Terhadap Motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA Pada siswa kelas IV SD Inpres Malengkeri 75% berpengaruh dari yang diharapkan. Skor ideal untuk penggunaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IV= 4 x 30 x 25= 3000 (4= skor tertinggi tiap item, 30= jumlah item instrumen, 25 responden). Rata-rata= 300: 25= 120
Untuk penggunaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA pada kelas IV yang dihipotesiskan adalah paling tinggi 75%” dari nilai ideal, hal ini berarti 0,75 x 120 = 90. Hipotesisnya dapat dirumuskan sebagai berikut, Ho untuk
memprediksikan 𝜇 lebih rendah atau sama dengan 75% dari nilai skor ideal. Paling tinggi = lebih rendah atau sama dengan (≤). Hasil lebih besar dari 75% dari skor ideal yang diharapkan.
Ho: 𝜇 ≤ 75% ≤ 0,75 x 120 = 90 Ha: 𝜇 ˃ 75% ˃ 0,75 x 120 – 90
Derajat kebebasan (dk) = n-1 = (25-1=24) dan taraf kesalahan 𝛼 = 5%.
Berdasarkan dk 24 dan 𝛼 = 5%, ternyata harga t tabel = 1,70 karena harga t hitung lebih besar dari harga t tabelatau jatuh pada daerah penerimaan Ha (8,57˃ 1,70) maka Ho diterima dan Ho ditolak
Uji Hipotesis
Nilai ideal simpangan baku Nilai rata- rata
µ0
α thitung t
tabel
5,43 110,56 0,75 0,05 8,57 1,70
Dari tabel 3.3 Jadi hipotesis yang menyatakan bahwa pengaruh penerapan model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IV di SD Inpres Malengkeri 75% meningkat dari yang diharapkan dapat diterima.
pengamatan motivasi belajar IPA yang dilaksanakan dengan teknik mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan untuk siswa menunjukan bagaimana motivasi belajar IPA siswa pada saat proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching. Pengamat kemudian mencatat hasil pengamatan dalam format poin-poin pada lembar observasi berdasarkan ketentuan yang sudah ada.
Tabel 3.4 Skor Rata-rata observasi siswa
kelas
pertemuan ke-
Rata-Rata kategori
I II III IV
kelas eksperimen
28 28 29 30 29 Sangat baik
Berdasarkan tabel 3.4 bahwa perolehan skor observasi siswa kelas eksperimen pada pertemuan pertama sebayak 28, perrtemuan kedua sebanyak 28, perrtemuan ke tiga sebanyak 29 dan dan pertemuan ke empat sebanyak 30. Rata-rata perolehan skor observasi siswa kelas eksperimen selama 4 kali pertemuan sebanyak 29 dengan kategori sangat baik, rata-rata perolehan skor observasi siswa kelas eksperimen selama 4 kali pertemuann sebanyak 29 dengan kategori sangat baik.
B. Pembahasan
Pada penelitian ini diterapkan pembelajaran dengan menggunakan model Quantum Teaching. Riset ini dimaksudkan untuk melihat adanya pengaruh model Quantum Teaching terhadap motivasi belajar IPA siswa kelas IV SD Inpres Malengkeri II.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 25 subjek penelitian menunjukan bahwa di kelas IVa sebagai kelompok eksperimen, kelas tersebut diberikan treatment/perlakuan dengan menggunakan model Quantum Teaching dalam proses belajar mengajar. Rata-rata perolehan skor angket yaitu sebesar 110,56 dengan kategori sangat baik. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching lebih efisien digunakan untuk mengembangkan motivasi belajar siswa.
Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran IPA berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, ini ditunjukan dengan perhitungan t menunjukan bahwa nilai harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan t tabel dengan derajat kebebasan (dk) = n-1 =( 25-1=24) dan taraf kesalahan 𝛼 = 5%. Berdasarkan dk 24 dan 𝛼 = 5%, ternyata harga t tabel = 1,70 karena harga t hitung lebih besar dari harga t tabel atau jatuh pada daerah penerimaan Ha (8,57) ˃ 1,70) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Penelitian ini dilakukan selama 4 kali pertemuan diterapkan model pembelajaran,Quantum Teaching. Setelah diberikan model pembelajaran Quantum Teacing diperoleh skor rata-rata angket sebanyak 110,56 sedangkan rata-rata hasil observasi sebanyak 29.
Menggunakan model pembelajaran yang bervariasi akan membuat siswa lebiih semangat dan dapat meningkatkan rasa solidaritas antara siswa.
Hal ini sinkron dengann pendapat,Miftahull A’la (2010:61)“Menyatakan bahwasanya pendidikharus menata situasi belajar yang menggembirakan sebab dengan suasan yang menyenangkan dapat meningkatkan partisipasi dan minat siswa pada saat pembelajaran”.
Berdasarkan pembahasan di atas, bahwa bisa dikatakan model iQuantum Teaching saangat berpengaruh terhadap motivasi siswa dalam belajar IPA, yakni hasil pengujian hipotesis.
Berdasarkan penelitian yang relevan yaitu penelitian hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maulia Darma (2017) tentang pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching terhadap hasil belajar siswa mengatakan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Hasil perhitungan presentasi data aktivitas siswa dalam menggunakan model Quantum Teaching sebanyak 88,46% presentasi masuk kedalam kategori sangat baik. Penelitian lainya yang dilakukan oleh Erni Muliawati (2015) tentang pengaruh penerapan model pembelajaran Quantum Teaching terhadap motivasi belajar siswa SD Tukangan Yogyakarta menunjukan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching terjadi peningkatan terhadap motivasi belajar siswa. Berdasarkan penelitian terdahulu ada perbedaan dari skor postest klompok eksperimen dan klompok kontrol.
Berdasarkan Hasil perhitungan menunjukan hasil rata-rata skor pretest kelas
eksperimen sebanyak 81,75 dalam kategorii sangat baik,, sementara pada kelas kontrol, sebanyak 69,92 dalam kategori baik...Ini membuktikan bahwa setelah di beri perlakuan pada kelas eksperimen menunjukan adanya peningkatan secara signifikan sedangkan kelas kontrol, tidak ada peningkatan motivasi belajar secara signifikan..Penelitian lainya yang dilakukan oleh Lidya Simanihuruk (2017) tentang pengaruh Quantum Teaching terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA SD SW. Betani Medan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, hal ini dilihat dari perbedaan hasil pretest siswa dengan menggunakan model Quantum Teaching sebesar 82,70 sedangkan rata-rata hasil belajar IPA dengan menggunakan model pembelajaran konvensional sebesar 67,69. Hal ini berarti ada perbedaan hasil belajar IPA pada kedua kelas sampel yang diberikan perlakuan yang berbeda.
Hal ini menjadi perbandingan dengan menemukan hasil penelitian yang mengalami perubahan secara signifikan dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching pada materi daur ulang yang dilakukan di kelas IV SD Inpres Malengkeri. Perubahan hasil penelitian yang signifikan bukanlah secara kebetulan melainkan usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep IPA dengan perlakuan berbeda yang telah dilakukan peneliti dalam proses belajar mengajar di kelas pada materi daur ulang.
Quantum teaching merupakan model pembelajaran yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif sehingga mengubah kemampuan dan bakat
alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.
Menurut Yatim Rianti,”Model Quantum Teaching hampir sama dengansebuah simfoni, yang terdiri dari dua unsur yaitu konteks dan isi, Dapat disimpulkan model pembelajaran Quantum Teaching yaitu model pembelajaran yang mengubah suasan kelas menjadi meriah dan tidak monoton, dimana selain guru yang menjelaskan materi yang diajarkan akan tetapi siswa berperan penting atau aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas”