DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN KUNJUNGAN KERJA RESES KOMISI II DPR RI
KE PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN, KPU PROVINSI SUMATERA SELATAN, BAWASLU PROVINSI SUMATERA SELATAN DAN
KANTOR WILAYAH PERTANAHAN PROVINSI SUMATERA SELATAN PADA RESES MASA PERSIDANGAN II TAHUN SIDANG 2020-2021
TANGGAL 14-18 DESEMBER 2020
I. PENDAHULUAN
A. DASAR KUNJUNGAN KERJA
Dalam rangka menjalankan fungsi dan peran legislatif, anggota Komisi II DPR RI berupaya untuk terus menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat. Oleh karena itu dalam menjalankan fungsi dan peran tersebut, anggota DPR RI akan melakukan kunjungan Kerja Reses di Masa Sidang II Tahun 2020-2021 ke Provinsi Sumatera Selatan untuk meminta penjelasan terkait beberapa persoalan yang menjadi pembidangan kerja Komisi II DPR RI.
Kunjungan Kerja Reses Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera Selatan, KPUD Provinsi Sumatera Selatan, Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan dan Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan menjadi sangat penting bagi anggota DPR RI Komisi II, mengingat ada persoalan strategis yang harus jadi perhatian utama, yaitu terkait evaluasi penyelenggaraan Pilkada serentak lanjutan tahun 2020 yang pelaksanaannya dilakukan dimasa bencana non-alam pandemi Covid-19, evaluasi reformasi birokrasi di Provinsi Sumatera Selatan, dan evaluasi penyelesaian persoalan sengketan pertanahan dan tata ruang wilayah di Provinsi Sumatera Selatan. Oleh karena itu, tanpa mengesampingkan persoalan lain, Komisi II DPR RI akan banyak meminta penjelasan terkait evaluasi beberapa persoalan tersebut dalam rangka mewujudkan perbaikan tata kelola pemerintahan di Provinsi Sumatera Selatan. .
Beberapa hal yang akan didalami oleh Komisi II DPR terkait evaluasi persoalan dalam penyelenggaraan Pilkada serentak lanjutan tahun 2020, persoalan reformasi birokrasi serta reforma agraria dan tata ruang wilayah dalam Kunjungan Reses saat ini diantaranya:
1. Dalam pelaksanaan Pilkada serentak lanjutan Tahun 2020 yang dilakukan ditengah pandemi Covid-19, Komisi II DPR RI memberikan perhatian kepada KPU, Bawaslu dan Pemerintah daerah (Gugus Tugas Covid-19 daerah) dalam menjamin penyelenggaraan Pilkada sesuai dengan protokol kesehatan, guna memastikan keselamatan serta keamanan penyelenggara, pemilih, dan peserta Pilkada.
2. Komisi II DPR RI memberikan perhatian kepada penyelenggaara Pilkada baik KPUD maupun Bawaslu untuk tetap menjaga integritas dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2020, guna menjamin kepercayaan masyarakat dalam penyelenggaraan demokrasi di daerahnya.
3. Komisi II DPR RI memberikan perhatian terkait Tingkat partisipasi pemilih masyarakat dalam pelaksanaan Pemilu serentak lanjutan tahun 2020 mengingat pelaksanaannya dilakukan dimasa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, evaluasi penyelenggara Pilkada dimasa pandemi Covid-19 sangat penting dalam mengukur tingkat partisipasi masyarakat dan diharapkan pencapaian sesuai target.
4. Pencapaian Target dan realisasi kegiatan-kegiatan strategis BPN untuk tahun anggaran 2019 dan tahun 2020, terkait beberapa sebagai berikut diantaranya :
a. PTSL
b. Redistribusi, Pensertifikatan BMN, IP4T c. Pensertifikatan lintas sektor
5. Penyelasain persoalan sengketa pertanahan dan persoalan Tata Ruang Wilayah di daerah.
6. Penyelesaian persoalan status honorer K-2 yang masih belum tuntas dibeberapa daerah di Indonesia
Tim Kunjungan Reses Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera Selatan, KPU dan Bawaslu Sumatera Selatan, serta Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan ini berjumlah 18 orang anggota yang dipimpin oleh Yth. Bpk. Dr. H. Syamsurizal, SE., MM dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) dan anggota Tim terdiri dari:
NO. NO.
ANGGOTA N A M A KETERANGAN
1. A-142 Dr. Junimart Girsang, SH., MBA.,MH
Anggota/F- PDIP
2. A-152 Ir. H. Endro Suswantoro Yahman, M.Sc
Anggota/F- PDIP
3. A-259 Ir. Hugua Anggota/F- PDIP
4. A-310 H. Agung Widyantoro, SH., M.Si Anggota/F-PG 5. A-284 Bambang Patijaya, SE., MM Anggota/F-PG
6. A-75 H. Ahmad Muzani Anggota/F- Gerindra
7. A-80 Dr. Ir. Sodik Mudjahid, M.Sc Anggota/F- Gerindra
8. A-358 Hj. Sri Kustina Anggota/F- Nasdem
9. A-22 Lukman Hakim, S.Ag Anggota/F- PKB
10. A-534 H. Zulkifli Anwar Anggota/F- PD
11. A-538 H. Agung Budi Santoso, SH., MM Anggota/F- PD 12. A-533 H. Wahyu Sanjaya, SE Anggota/F- PD 13. A-417 Drs. H. Chairul Anwar, Apt Anggota/F- PKS 14. A-410 H. Muhammad Nasir Djamil, M.Si Anggota/F- PKS 15. A-484 Drs. H. Guspardi Gaus, M.Si Anggota/F- PAN
16. A-520 John Siffy Mirin Anggota/F- PAN
17. A-465 Hj. Nurhayati Anggota/F- PPP
Tim Kunjungan Spesifik Komisi II DPR RI ini juga didampingi oleh Sekretariat Komisi II DPR RI, Tenaga Ahli Komisi II DPR RI dan TV Parlemen.
B. WAKTU KUNJUNGAN SPESIFIK
Kunjungan Kerja ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Desember 2020 dan telah mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan, KPUD dan Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan, serta Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan.
C. HASIL KUNJUNGAN
I. KPUD Provinsi Sumatera Selatan
1. Untuk 7 (tujuh) Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang melaksanakan Pilkada Serentak Tahun 2020 Tidak Terdapat Kendala dalam proses pencairan NPHD. Dari 7
Sumatera Selatan terdapat 3 (tiga) Kabupaten yang terjadi Refocussing dan Realokasi anggaran yang bersumber dari NPHD dalam penyesuaian kegiatan untuk memenuhi standar Protokol Kesehatan yaitu:
a. . KPU Kabupaten Ogan Ilir terjadi refocusing dan realokasi dalam penyesuaian kegiatan untuk memenuhi standar protocol kesehatan sebesar Rp.
188.551.000,- karena belum tersediannya anggaran untuk memenuhi protokol kesehatan yang bersumber dari APBN.
b. KPU Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir terjadi refocusing dan realokasi dalam penyesuaian kegiatan untuk memenuhi standar protocol kesehatan sebesar Rp. 41.026.131,- karena belum tersediannya anggaran untuk memenuhi protokol kesehatan yang bersumber dari APBN. Belanja tersebut pada bulan Maret 2020.
c. Untuk KPU Kabupaten Musi Rawas terjadi refocusing dan realokasi dalam penyesuaian kegiatan untuk memenuhi standar protocol kesehatan sebesar Rp.
207.700.000,- karena belum tersedianya anggaran untuk memenuhi protokol kesehatan yang bersumber dari APBN.
2. Adapun Anggaran tambahan dari KPU Pusat yang bersumber dari APBN untuk menjalankan tahapan Pilkada lanjutan 2020 pada 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan menerapkan Protokol Kesehatan, diantaranya:
3. Permasalahan yang muncul pada saat tahapan pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih, mulai dari diterimanya hasil sinkronisasi DP4 & DPT terakhir hingga penetapan DPT antara lain:
a. Masih ada data pemilih yang tidak memenuhi syarat(meninggal, mutasi,status TNI/POLRI) pada DP4.
b. Pemilih Ganda :
- Ganda antar Desa antar Kecamatan dan antar Kabupaten - Ganda NIK
c. Kurangnya pemahaman tentang pemutakhiran sehingga perlu ditingkatkan dan diperbanyak Bimtek di semua tingkatan.
d. Masih terdapat pemilih yang belum memiliki KTP-EL di dalam DPT dikarenakan status sebagai pemilih pemula dan pemilih yang belum rekam pada hari-H.
e. Dari hasil coklit PPDP ditemukan warga yang tidak memiliki identitas diri dan tidak masuk dalam Daftar pemilih.
4. Tingkat partisipasi pemilih dalam pelaksanaan Pilkada pada 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan rata-rata mencapai 80,13% dengan rincian sebagai berikut diantaranya:
5. Data Penyelenggara pemilih yang terkonfirmasi Covid-19 terdapat 19 (Sembilan belas ) orang dari KPU Kabupaten Musi Rawas Utara yang terdiri dari 2 Komisioner serta Staf Sekretariat terpapar covid-19. Setelah isolasi mandiri dan pengobatan, seluruh anggota dan staf Sekretariat KPU Kabupaten Musi Rawas Utara yang terpapar Covid-19 dinyatakan negatif dan sehat.
6. Ketersediaan jaringan internet di tps dalam menunjang penggunaan aplikasi Sirekap pada 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah keseluruhan TPS 5.477 dengan rincian dimana 3.371 TPS (61,55%) memiliki sinyal kuat, 1.795 TPS (32,78%) memiliki sinyal lemah, dan 311 TPS (5,78%) tidak memiliki sinyal. Adapun rincian kesiapan infrastruktur penggunaan Sirekap pada 7 Kabuapten di Provinsi Sumatera Utara dapat digambarkan sebagai berikut:
II. Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan
1. Dalam hal anggaran Bawaslu pada 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang bersumber dari NPHD terjadi Refocussing dan Realokasi dalam penyesuaian kegiatan untuk memenuhi standar Protokol Kesehatan, dapat disampaikan bahwa untuk Refocussing dan Realokasi anggaran yang bersumber dari NPHD terjadi di Bawaslu Kabupaten PALI dengan nilai sebesar Rp 281 305 000 Dua ratus delapan puluh satu juta tiga ratus lima ribu rupiah).
Jumlah anggaran tambahan dari Bawaslu Pusat yang bersumber dari APBN untuk menjalankan tahapan Pilkada lanjutan 2020 dalam menerapkan Protokol Kesehatan pada 7 Kabupatan di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar Rp. 6 257 030 000 (Enam milyar dua ratus lima puluh tujuh juta tiga puluh ribu rupiah).
2. Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan dalam melihat Permasalahan dan Dinamika yang ada dalam Pelaksanaan Tahapan Pemuktahiran Data dan Daftar Pemilih pada 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan diantaranya:
a. masih adanya Pemilih yang memenuhi syarat namun belum terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
b. Walaupun Coklit telah dilakukan oleh PPDP, pada saat diumumkannya Daftar Pemilih Sementara (DPS) masih terdapat adanya pemilih ganda, pemilih yang tidak memenuhi masih masuk dalam DPS.
3. Kendala dalam penuangan hasil pengawasan secara online oleh Bawaslu khusunya pada 7 Kabuapaten di Provinsi Sumatera Selatan yaitu kondisi kesulitan memperoleh sinyal yang stabil bagi jajaran pengawas yang kesulitan dalam mengakses internet. Di sisi lain, sistem Form A Daring beberapa kali masih dalam status perbaikan atau maintenance, sehingga tidak dapat diakses oleh users Solusi yang dilakukan oleh jajaran pengawas yaitu hasil pengawasan dituangkan dalam bentuk Form A konvensional .
4. Terkait dengan data jumlah penduduk yang menggunakan hak pilih yang menggunakan KTP el tanpa ada undangan pencoblosan C 6 saat ini sudah ada 3 Kabupaten yang menyampaikan update, dengan data sebagai berikut:
1. OKU 2 079 Pemilih 2. PALI 943 Pemilih 3. OI Tidak Ada 0 Pemilih
Untuk 4 Kabupaten Pilkada lainnya saat ini masih dilakukan sinkronisasi dan klarifikasi terkait klasifikasi dan validitas data pemilih hingga ke jajaran pengawas di tingkat kecamatan kelurahan desa dan TPS.
5. Terkait dengan dugaan pelanggaran Netralitas ASN pada Pilkada 7 (tujuh) Kabupaten di Sumatera Selatan, telah terjadi 6 (enam) Dugaan pelanggaran Netralitas ASN di
beberapa Kabupaten/Kota penyelenggara Pilkada di Provinsi Sumatera Selatan, antara lain:
No Kabupaten Jumlah Kasus Keterangan
1. OKU Timur 1 Sekretaris daerah melakukan mutasi Jabatan dilingkungan Pemda OKU Timur.
2. Ogan Ilir 2 1. Camat mendukung salah satu pasangan calon petahana.
2. Kepala Biro Pemprov Sumsel yang melakukan pendekatan ke beberapa partai politik.
3. Musi Rawas 2 ASN yang diduga mendukung salah satu pasangan calon bupati
4. Musi Rawas Utara 1 ASN dan Camat di duga mendukung salah satu pasangan calon
Total 6
Sumber: data berasal dari Bagian Penanganan Pelanggaran Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan
III. Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan
1. Beberapa aspek yang menonjol terutama terkait Pilkada di 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan secara pelaksanaan dapat dikatakan berjalan kondusif dan protocol kesehatan diterapkan dengan baik. Setiap persoalan terkait Pilkada dapat diselesaikan dengan baik dan konflik dapat diatasi. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, wewenang dan kewajiban Penyelenggara Pemilu/Pilkada, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan beserta Pemda terkait memberikan bantuan dan fasilitas sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Bantuan dan fasilitas dimaksud antara lain berupa pelaksanaan Sosialisasi terhadap peraturan perundang-undangan, pelaksanaan Pendidikan politik bagi pemilih untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, mempersiapkan kelancaran transportasi pengiriman logistik, dan melakukan pemantauan kelancaran penyelenggaraan Pilkada, serta kegiatan lain yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan Pilkada.
2. Persoalan kepegawaian di Daerah Provinsi Sumatera Selatan terutama terkait pengaturan jenjang yang harus dilalui dalam bidang kepegawaian khususnya tentang mutasi pegawai. Ada peraturan BKN yang membingungkan terkait penempatan ASN, terutama untuk mengisi daerah pemekaran. Kesulitan daerah pemekaran untuk mendapatkan pegawai, berdampak kepada tindakan mengangkat tenaga honorer.
Meminta kepada Komisi II DPR RI agar memberikan dukungan untuk pengangkatan PPPK khususnya tenaga Guru honorer yang dapat diangkat seluruhnya sesuai program kemendikbud untuk pengangkatan 1 juta Guru PPPK di seluruh Indonesia pada tahun 2021.
Khusus Provinsi Sumatera Selatan sesuai data Dapondik Kemendikbud kebutuhan Guru sebanyak 8.238 orang.
3. Terkait pemekaran Desa di Provinsi Sumatera Selatan perlu mendapatkan perhatian.
Hal ini mengingat daerah Provinsi Sumatera Selatan memiliki luas desanya besar-besar, sehingga perlu untuk dimekarkan. Namun, ketika dilakukan pemekaran pada beberapa desa yang terlanjur dimekarkan tersebut dalam perjalannya terkedala UU Desa, sehingga beberapa Desa tersebut tidak bisa didefinitifkan. Kondisi ini berdampak pada ketidakjelasan status desa yang terlanjur dimekarkan. Persoalannya Kemendagri sulit mendefinifkan Desa tersebut karena konsekuensi Dana Desa. Oleh karena diperlukan pleksibilitas untuk beberapa Desa yang belum definitif, sehingga dapat diperjelas status desanya..Beberapa persoalan yang muncul akibat hal tersebut, terutama dalam status data kependudukan yang masih menggunakan alamat desa lama, padahal alamatnya sudah berubah akibat pemekaran.
4. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tahun 2019 idak membuka penerimaan CPNS karena keberatan Gubernur hanya sebagai pembina,tidak dilibatkan dalam rekrutmen, assesmen dll. Namun beberapa Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan telah melakukan proses seleksi penerimaan CPNS. Untuk tahun 2021 usul kebutuhan ASN 2021 (CPNS & PPPK) di Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Jumlah Usul CPNS Tahun 2021 sebanyak 233 orang dan Jumlah Usul PPPK Tahun 2021 sebanyak 420 orang
5. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menginginkan adanya pendelegasian wewenang pusat kepada daerah. Walaupun banyak perijinan telah diambil pusat tetapi untuk pengawasan diharapkan tetap diberikan kepada daerah. Hal ini karena dalam Undang- Undang Cipta Kerja yang banyak mengambil kewenangan daerah, dianggap melemahkan peran pemerintah daerah, sehingga perlu ada kejelasan mengingat dalam sosialisasi Rancangan Peraturan Pemerintah belum dijelaskan secara jelas.
6. Penghapusan eselon diharapkan hanya dilakukan di jenjang perkejaan pelayanan, tidak disemua tingkatan struktur pemerintah. Khusus di Provinsi Sumatera Selatan persoalan eselenoring bukan sekedar efisiensi anggaran, tetapi secara psikologis berdampak kepada menghilangkan harga diri ASN.
IV. Kantor Wilayah BPN Provinsi Sumatera Selatan
1. Target dan realisasi kegiatan-kegiatan strategis Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan untuk tahun anggaran 2019 dan tahun 2020, sebagai berikut :
a. Pelaksanaan Program Pendaftaran Tanah Sistemats Lengkap (PTSL) Tahun 2019 di Provinsi Sumatera Selatan, antaralain:
- Target Peta Bidang Tanah pada Tahun 2019 adalah 173.691 Bidang, dari target 173.691 bidang tersebut tercapai realisasi sebanyak 189.826 bidang yang terdiri dari 139.414 bidang tanah belum terdaftar dan 50.412 bidang tanah terdaftar belum terpetakan
- Target Sertipikat Hak Atas Tanah pada Tahun 2019 adalah 120.910 Sertipikat, dari target 120.910 sertipikat terealisasi 92.709 bidang, sedangkan sisa dari target sebanyak 28.201 bidang belum terbit sertipikat karena kendala terhadap masyarakat yang tidak mau mengurus alas hak dan adanya beban BPHTB yang harus di bayar sehingga progress sertipikat hanya sampai pada Kluster K3 baik maupun Kluster K3.1 sebanyak 19.603 bidang dan Kluster K3.3 sebanyak 37.019 bidang.
b. Pelaksanaan Program Pendaftaran Tanah Sistemats Lengkap (PTSL) Tahun 2020 di Sumatera Selatan, antara lain:
- Target Peta Bidang Tanah pada Tahun 2020 adalah 340.000 Bidang, yang terdiri dari 100.000 bidang tanah yang dilaksanakan secara swakelola oleh ASN dan 240.000 bidang tanah yang dilaksanakan oleh Pihak ketiga. Sedangkan target SHAT adalah 272.450 sertipikat yang terdiri dari 90.000 bidang yang
dilaksanakan oleh ASN dan 182.450 bidang yang dilaksanakan ASN dengan Partisipasi Masyarakat
- Pada tanggal 22 April 2020 melalui Surat dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Nomor : PR.02.01/648- 100/IV/2020 perihal Penghematan Anggaran Belanja Kementerian ATR/BPN tahun 2020 sehingga Target Peta Bidang Tanah berkurang menjadi 267.837 Bidang yang terdiri dari 27.837 Bidang yang dilaksanakan oleh ASN dan 240.000 bidang dilaksanakan oleh Pihak Ketiga. Untuk SHAT berkurang menjadi 136.480 bidang yang terdiri dari 27.837 bidang yang dilaksanakan oleh ASN dan 108.643 bidang yang dilaksanakan oleh ASN dengan Partisipasi Masyarakat.
- Realisasi Peta Bidang Tanah per tanggal 14 Desember 2020 adalah sebanyak 49.888 bidang tanah dan untuk SHAT 32.951 sertipikat yang telah terbit.
2. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan PTSL di Provinsi Sumatera Selatan antara lain:
- Kurangnya minat masyarakat dalam mengikuti kegiatan PTSL karena
masyarakat tidak mau mengurus alas hak dan adanya beban BPHTB yang harus dibayar sehingga proses sertipikat hanya sampai pada kluster K3
- Adanya pandemi COVID – 19 mengakibatkan terbatasnya ruang untuk melaksanakan pekerjaan lapangan sehingga pencapaian target SHAT pada tahun 2020 masih rendah.
3. Redistribusi, Pensertipikatan BMN, IP4T di Provinsi Sumatara Selatan dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Terget dan Realisasi Kegiatan Redistribusi
b. Target dan Realisasi IP4T
c. Target dan realisasi BMN Tahun 2020
4. Terkait dengan Kasus Pertanahan di wilayah Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Jumlah Sengketa/Konflik Pertanahan
b. Penanganan Perkara
5. Kasus yang menonjol yang berlarut-larut dan hingga saat ini belum terselesaikan, terdapat kasus mafia tanah di Kabupaten Banyuasin yang ditangani Kanwil Bersama tim mafia tanah (POLDA SUMSEL) saat ini kasus tersebut sudah P21 (saat ini sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Banyuasin.
6. Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan survei pengukuran dan pemetaan antara lain:
a. Sumber Daya Manusia
- Jumlah SDM untuk pelaksaan survei pengukuran dan pemetaan di lingkungan Kantor Pertanahan se- Sumatera Selatan saat ini cukup memadai.
- Bahwa adanya Asisten Surveyor Kadaster Berlisensi (ASKB) cukup membantu, tetapi tidak semua ASKB memiliki kemampuan yang berkompeten (tidak paham juknis, aturan yang berlaku, dan belum familier terhadap aplikasi pertanahan seperti Survey Tanahku dan Sentuh Tanahku, terutama ASKB yang berasal dari lulusan STM yang jurusannya tidak sesuai dengan survei, pengukuran dan pemetaan.
b. Peralatan
Jumlah alat ukur yang ada cukup memadai saat ini, namun untuk pembuatan peta dasar dan peta kerja yang lebih efektif, efisien, dan terupdate dibutuhkan drone / Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan spesifikasi tinggi seperti Drone PUMA atau Vtol Mapping Drone yang belum dimiliki oleh Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan di Sumatera Selatan.
c. Aspek Lain
Belum maksimalnya koordinasi dengan para stakeholder yang seharusnya berperan penting dalam membantu kelancaran pekerjaan Kantor Pertanahan seperti Pemerintah Daerah, Kepolisian, Kejaksaan, Lembaga Swadaya masyarakat, dan sebagainya.
7. Pelayanan terhadap masyarakat yang dilaksanakan oleh Kanwil BPN Provinsi Sumatera Selatan dan Kantor Pertanahan di Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan dalam
a. Melakukan Protokol Kesehatan dengan membatasi jam Pelayanan b. Melakukan Piket agar tidak terjadi penundaan pelayanan
c. Menyiapkan Tempat cuci tangan,sabun, Pengukur suhu tubuh
d. Melakukan koordinasi secara online, melalui zoom meeting agar mempercepat proses koordinasi dan komunikasi.
8. Isu Strategis Masalah Ketataruangan di Provinsi Sumatera Selatan dan Regulasi yang sudah memadai untuk menangani permasalahan-permasalahan tata ruang wilayah dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Isu Strategis Masalah Ketataruangan di Provinsi Sumatera Selatan 1) Alih fungsi Lahan pertanian sebagai akibat pembangunan Fisik
Perubahan pembangunan yang cepat adalah bentuk lain yang akan menyebabkan segera terjadinya alih fungsi lahan, namun kita manusia tidak dapat menolak perkembangan dan kemajuan, kita hanya mampu untuk mengendalikannya. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu lumbung pangan nasional terutama di bagian Timur.
Selain perkembangan pembangunan infrastruktur dan kebutuhann masyarakat akan tanah, perkembangan industri kelapa sawit juga menjadi daya tarik masyarakat baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan menjadi perkebunan. Hal ini juga berpotensi menyebabkan ketidaksesuaian arahan fungsi ruang yang ada pada RTRW dengan penggunaan dan pemanfaatan tanah yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan dan pengawasan terkait alih fungsi lahan pertanian produktif di Provinsi Sumatera Selatan.
2) Perkembangan transportasi darat khususnya jalan lintas
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu perkembangan pembangunan adalah dengan di bukanya jalan-jalan penghubung sebagai bagian dari pelaksanaan dalam mensejahterakan rakyat, Sumatera Selatan, salah satunya yaitu dengan dibangunnya jalan tol yang direncanakan melintasi Pulau Sumatera. Jalan tol yang dibangun melintas tempat-tempat yang semula belum tersentuh dengan akses jalan Negara, sebagai akibatnya terjadi perkembangan dalam bentuk harga tanah, okupasi-okupasi yang dilakukan oleh oknum masyarakat, bergesernya batas kawasan hutan, terpakainya lahan gambut, berubahnya fungsi kawasan dalam tata ruang dan perkembangan sosial ekonomi dan Hankam. Sepanjang jalan tersebut akan tumbuh sentral-sentral ekonomi baru dan tertutupnya sentral ekonomi masyarakat yang lama dengan harus diantisipasi dengan beralihnya kegiatan ekonomi / pekerjaan masyarakat.
3) Pertambangan
Bahan tambang adalah asset bangsa yang dipergunakan untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat namun dalam pengelolaannya pengelolaan terdapat berbagai kepentingan disana, sehingga secara langsung atau tidak langsung menimbulkan gesekan dalam masyarakat. Penambangan minyak bumi (yang mungkin dapat kita katakana illegal) yang berasal dari sumur-sumur tambang sisa dari pertambangan zaman Kolonial Belanda turut menambah gesekan penataruangan di daerah. Lokasi yang menjadi areal penambangan adalah di wilayah Musi Banyuasin.
4) Bencana Alam
Bencana alam dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, namun manusia diberi akal pikiran untuk dapat mengatasi hal tersebut. Provinsi Sumatera Selatan
memiliki potensi bencana seperti banjir, tanah langsor dan kebakaran sehingga penyediaan sarana mitigasi bencana harus dipersiapkan dengan matang baik penyediaan dan pengadaan lahan serta rencana pembangunan sarana prasarananya yang tentunya tertuang dalam RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota.
5) Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Hijau adalah permasalahan yang terkadang terlupakan dalam penyusunan Tata Ruang padahal Ruang Terbuka Hijau memiliki banyak manfaat dan fungsi antara lain berupa fungsi ekologi (menyediakan oksigen, daerah resapan air), menjadi ruang tempat berekreasi, fungsi estetis, fungsi planologi (pembatas antara satu ruang dengan ruang lainnya yang berbeda peruntukannya), fungsi pendidikan dan fungsi ekonomis sehingga perlu diperhitungkan berapa persen penyediaan Ruang Terbuka Hijau pada setiap RTRW yang ada sebagaimana ketentuan perundang-undangan.
6) Kebutuhan akan sarana persampahan, air bersih, sanitasi, pengelolaan limbah, pencemaran udara dan permukiman
Sebagai wilayah yang berkembang, kawasan daerah perkotaan terutama Kota Palembang dan sekitarnya direncanakan akan menjadi Wilayah Metropolitan sehingga kebutuhan untuk penyediaan berbagai sarana-prasarana ini perlu menjadi prioritas dan perlu di rencanakan dengan baik pada setiap penyusunan tata ruang sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
7) Belum tersedianya dan berkembangnya kawasan khusus untuk industri sehingga perlu disusun, direncanakan dan ditetapkan wilayah khusus industri guna menarik investor di wilayah Sumatera Selatan.
8) Belum optimalnya kelembagaan Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD) dalam penyelenggaraan penataan ruang seperti kurangnya kompetensi staf yang ditugaskan baik penguasaan bidang penataan ruang maupun dari segi pemetaannya sehingga diperlukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
9) Ketersediaan dan keterbukaan data pada setiap instansi masih kurang dalam penyusunan RTRW sehingga data dan analisis data kurang maksimal serta kurangnya perhatian DPRD dalam dukungan pembiayaan penyusunan RTRW dan RDTR.
V. Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan
1) Dalam hal keasistenan bidang pemeriksaan laporan oleh ombudsman RI perwakilan Sumatera Selatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Sepanjang Januari-Nopember Tahun 2020 laporan yang masuk ke Keasistenan Pemeriksa Laporan Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan sebanyak 94 laporan dengan persentase yang diselesaikan 30,95 persen.
b. Jumlah distribusi Penerimaan Laporan dari Bidang Penerimaan dan Verifikasi Laporan (PVL) yang masuk ke bidang Keasistenan Pemeriksaan Laporan secara total lebih sedikit dibandingkan dari tahun kemarin, karena salah satu alasannya adalah proses penyelesaian laporan ada sebagian yang telah diselesaikan terlebih dahulu oleh bidang PVL yang dilakukan dengan metode pro-partif (pola penyelesaian yang efektif tanpa masuk ke pemeriksaan substantif) antara pelapor dan terlapor.
Gambaran kinerja Keasistenan Penerimaan dan Verifikasi Laporan Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan antara lain:
No. Kegiatan Target Realisasi Capaian Keterangan 1. PVL on The Spot
dalam Kota
30 Kali 30 Kali 100% - Telah
dilaksanakan di Mall Pelayanan Publik Kota Palembang.
- Sisa target akan dilaksanakan di ruang publik lain.
2. PVL on The Spot luar Kota
2 Kali 3 Kali 100% - Telah
dilaksanakan di Kabupaten Banyuasin.
2) Kendala yang dihadapi oleh Ombudsman RI perwakilan Sumatera Selatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Bidang penerimaan dan verifikasi laporan
Dalam setiap kegiatan bidang penerimaan dan verifikasi Laporan tidak terlepas dari kendala dalam pelaksanaannya. Adapun kendala yang dihadapi oleh bidang keasitenan PVL Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:
1) Jumlah SDM yang belum memadai untuk dapat dilaksanakannya pembagian kerja yang efektif.
2) Kompetensi SDM PVL dalam pelaksanaan PVL belum maksimal dikarenakan belum adanya pelatihan atau bimbingan teknis secara terpusat khususnya untuk bidang PVL, sehingga proses pelaksanaan PVL dipelajari secara mandiri yang belum mendapatkan arahan dari pihak yang lebih mumpuni.
3) Belum dapat dilaksanakannya speciality pembidangan di perwakilan sehingga SDM PVL tetap memiliki beban kerja lain dalam tahap pemeriksaan laporan maupun pencegahan.
b. Bidang Penyelesaian Laporan
1) Terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM) yang tergabung dalam Keasistenan Pemeriksaan Laporan sebanyak 6 orang dengan rincian sebanyak 4 (empat) orang secara efektif dan fokus menangani laporan, sisanya sebanyak 4 orang yang merangkap jabatan 2 (dua) orang selaku Asisten pemeriksa merangkap menjadi Asisten Bidang PVL dan Asisten Bidang Pencegahan dan 2 (dua) orang lagi merangkap menjadi Kepala Keasistenan baik bidang PVL maupun bidang pencegahan.
2) Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai sebagai dukungan bagi Asisten Pemeriksa dalam menangani laporan misalnya komputer yang sudah sangat jadul (ada komputer yang dibeli pada tahun 2012 yang lalu), alat bantu Scaner sebagai proses untuk mengaupdate disampel 3.0.
3) Penggunaan teknologi secara digital oleh Ombudsman RI di Kantor Pusat tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan serta fasilitas yang memadai, sehingga menyulitkan bagi asisten pemeriksa khususnya yang masih gagap teknologi untuk menyesuaikan kondisi ini.
c. Bidang Pencegahan
1) Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga beban kerja bukan hanya pada kegiatan pencegahan, namun dibebankan untuk melakukan penyelesaian laporan masyarakat.
2) Keterbatasan sarana dan prasarana 3) Kurangnya anggaran yang disedikan
4) Kegiatan yang dilakukan bidang pencegahan masih bergantung dengan kegiatan Ombudsman Pusat.
d. Kesekretariatan
1) Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) 2) Keterbatasan anggaran.
VI. Catatan Rapat
1. Komisi II DPR RI meminta agar penyelenggara pemilu KPU dan Bawaslu di Provinsi Sumatera Selatan untuk terus menjaga integritas dan independensinya agar menjamin kredibilitas dan akuntabilitas serta dapat mewujudkan kualitas demokrasi yang berkeadilan.
2. Komisi II DPR RI meminta agar penyelenggara pemilu KPU dan Bawaslu di Provinsi Sumatera Selatan yang telah berhasil menyelenggarakan Pilkada serentak 2020 dengan tinggat partisipasi pemilih rata-rata mencapai 80% agar terus meningkatkan kinerjanya, serta permasalahan yang menjadi isu krusial terutama dalam pelaksanaan Pilkada ditengah pandemi Covid-19 kedepannya dapat diselesaikan, sehingga dapat menjadi bahan perbaikan dalam pelaksanaan Pilkada selanjutnya.
3. Komisi II DPR RI meminta Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan untuk memberikan dukungan terhadap penyelesaian persoalan honorer K3 dan pengakatan PPPK dan manajemen ASN lainnya, sehingga dapat mendukung perwujudan reformasi birokrasi di Indonesia.
4. Komisi II DPR RI berusaha menyerap aspirasi Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan terkait pengaturan kewenangan Pemerintah Daerah akibat dampak disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja, serta akan mendukung upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam merumuskan Peraturan Pemerintah sebagai turunan dari Undang-Undang tersebut, sehingga dapat menjamin tatakelola pemerintahan yang baik dan dapat saling bersinergi.
Penutup
Demikian Laporan Kunjungan Kerja Reses Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera Selatan.
Seluruh masukan yang disampaikan kepada Komisi II DPR RI menjadi masukan dan catatan bagi Komisi II DPR RI dan akan disampaikan kepada Kementerian dan Lembaga yang terkait sesuai kewenangannya. Kepada segenap pihak yang telah membantu terselenggaranya Kunjungan Kerja Reses ini, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, Desember 2020
Ketua Kunjungan Reses Komisi II DPR RI
Dr. H. Syamsurizal, SE., MM A-462
PHOTO-PHOTO KEGIATAN KUNGKER RESES KOMISI II DPR RI