SKRIPSI
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA YANG
DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA
(Studi Kasus Putusan No. 1959/ Pid. B/ 2016/ Pn. Mks)
OLEH
MUH. IRIANSYAH. T. TJOTENG B 111 12 252
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2018
i HALAMAN JUDUL
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA YANG
DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA
(Studi Kasus Putusan No. 1959/ Pid. B/ 2016/ Pn. Mks)
OLEH:
MUH IRIANSYAH T TJOTENG B111 12 252
SKRIPSI
Diajukan sebagai Tugas Akhir dalam Rangka Penyelesaian Studi Sarjana Dalam program Kekhususan Hukum Pidana
Program Studi Ilmu Hukum
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2018
ii Sekretaris
Dr. Amir Ilyas, S.H.,M.H NIP. 19800712006 041 00111 Ketua
Prof. Dr. H. M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si NIP. 19620711 198703 1 001 An.Dekan
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan,
Prof. Dr. Ahmadi Miru, S.H.,M.H NIP. 19610607 198601 1 003
PENGESAHAN SKRIPSI
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA
(Studi Kasus Putusan No.1959/Pid.B/2016/Pn.Mks)
Disusun dan diajukan oleh
MUH IRIANSYAH T TJOTENG B111 12 252
Telah Dipertahankan di Hadapan Panitia Ujian Skripsi yang Dibentuk dalam Rangka Penyelesaian Studi Program Sarjana
Departemen Hukum Pidana Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Pada Hari Rabu, 9 Mei 2018
Dan Dinyatakan Diterima
Panitia Ujian
iii PERSETUJUAN PEMBIMBING
iv Diterangkan bahwa proposal skripsi mahasiswa:
Nama : MUH. IRIANSYAH. T. TJOTENG NIM : B 111 12 252
Prodi : Ilmu Hukum
Judul : TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA (Studi Kasus Putusan no.
1959/ Pid. B/ 2016/ Pn. Mks)
Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi .
Makassar, November 2017 Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. H. M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H.
NIP. 19620711 198703 1 001 NIP. 19800712006 041 00111
v
vi ABSTRAK
Muh Iriansyah T Tjoteng (B111 12 252), Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Bebas (Vrijspraak) Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama (Studi Kasus Putusan No. 1959/Pid. B/2016/Pn.Mks), dibawah bimbingan M Said Karim selaku pembimbing I dan Amir Ilyas selaku pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui faktor- faktor penyebab yang mempengaruhi sehingga lahirnya putusan bebas pada perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama yang berdasarkan pada keilmuan hukum dan penerapan hukum pidana materil pada putusan perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama pada putusan nomor : 1959/Pid.B/2016/PN.Mks.
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan dengan memilih instansi yang terkait dengan perkara ini yakni di Pengadilan Negeri Makassar. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kepustakaan dan metode wawancara kemudian data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif sehingga mengungkapkan hasil yang diharapkan dan kesimpulan atas permasalahan.
Berdasarkan analisis data tersebut diperoleh hasil sebagai berikut:
(1) faktor yang mempengaruhi lahirnya putusan bebas pada perkara aquo yaitu terdapat pada fakta persidangan ternyata terdakwa tidak melakukan penikaman atau ikutserta dan bersama-sama membunuh si korban, terdakwa bahkan tidak tahu menahu mengenai kejadian penikaman terhadap diri korban, ketika kejadian korban ditikam dalam fakta dipersidangan ternyata terdakwa sedang berada dibelakang rumah saksi sedang membersihkan mobilnya, terdakwa mengetahuinya pada saat korban mengalami luka dan berdarah ketika korban datang dan minta tolong kepada terdakwa agar korban diantar ke Rumah Sakit, sehingga dari fakta persidangan tersebut Majelis Hakim memberikan putusan bebas kepada terdakwa. (2) penerapan hukum pidana materil dalam perkara aquo berdasarkan keterangan saksi,alat bukti surat, petunjuk dan keterangan terdakwa dipersidangan serta keyakinan hakim dalam membuktikan unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa, dakwaan yang ditujukan kepada terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama.
vii KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Tinjaauan Yuridis Terhadap Putusan Bebas (Vrijspraak) Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana yang dilakukan secara bersama-sama”.
Shalawat serta salam juga terhaturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. rahmat bagi semesta alam.
Pertama-tama, dengan rasa rendah hati dan rasa hormat yang sangat tinggi penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, Taufiq, S.H dan Hj. Suaeni. S.E yang selama ini telah banyak berkorban baik materi maupun energi, dan kepada adik perempuan penulis, Andi Aulia Indah Sari T Tjoteng. .S.H yang selalu memberikan semangat dan bantuan. Serta keluarga besar penulis yang selalu mendukung dan berdoa yang terbaik buat penulis.
Terima kasih atas semuanya dan semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan melindungi mereka.
Dalam proses penyelesaian Skripsi ini, Penulis mendapat banyak hal hambatan dan kesulitan, akan tetapi kesulitan-kesulitan tersebut dapat dilalui berkat banyaknya pihak yang membantu, oleh karena itu Penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
viii 1. Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. selaku Rektor Universitas Hasanuddin dan para Wakil Rektor beserta jajarannya.
2. Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
3. Prof. Dr. Ahmadi Miru, S.H., M.H. , Dr. Syamsuddin Muchtar, S.H.,M.H. , Dr. Hamzah Halim, S.H.,M.H. selaku Wakil Dekan I, Wakil Dekan II dan Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
4. Prof. Dr. Andi Muhammad Sofyan, S.H., M.H. dan Dr. Hj.
Haeranah, S.H., M.H. selaku Ketua dan Sekretaris Bagian Pidana Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
5. Prof. Dr. H. M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si selaku Pembimbing I dan Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H. selaku pembimbing II yang tak pernah lelah meluangkan waktu dan pikiran di sela-sela kesibukannya untuk membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Prof. Dr. Andi Muhammad Sofyan, S.H., M.H.,Prof. Dr. Andi Muhammad Sofyan,S.H.,M.H., Dr. Haeranah, S.H.,M.H selaku tim Penguji Penulis yang telah memberikan masukannya dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, terkhusus kepada Prof.Dr. Anwar Borahima, S.H., M.Hum.
ix 8. Seluruh Staf Akademik dan Pegawai Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang telah membantu penulis selama berada di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Terkhusus kepada Bapak Usman, S.T. dan pak ramalang
9. Keluarga besar UKM ALSA LC UNHAS yang telah memberi begitu banyak pelajaran dan kenangan manis dalam hal apapun kepada penulis. Alsa, Always be one
10. Saudara-saudara BOD-BPH ALSA LC UNHAS periode 2013- 2014,
11. Pengurus BEM FH-UH periode 2015-2016, pengurus DPM FH-UH 2015-2016, Pengurus MKM FH-UH 2015-2016, yang telah menemani penulis berkarya mewujudkan cita-cita Tri dharma Perguruan Tinggi.
12. Keluarga besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi penulis
13. Keluarga besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Se Kota Makassar yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi penulis
14. Keluarga besar PETITUM 2012 yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi penulis
15. Teman ngopi bareng tercinta di coffee place, bujang dan pakopi 16. Keluar besar Alsa E-Sport yang telah memberikan banyak hiburan
pada setiap hari-hari penulis.
x 17. Keluar besar KC Project yang telah memberikan banyak hiburan
pada setiap hari-hari penulis.
18. Seluruh Senior ALSA LC UNHAS yang telah memberikan dukungan moril selama berproses di ALSA.
19. Seluruh Angkatan 16, 17, 18, 19, 20 ,21, 22, 23 yang telah turut membantu dan menjaga keutuhan ALSA LC UNHAS yang bagi penulis merupakan Lembaga yang sangat di cintai.
20. Keluarga KKN Reguler Bantaeng angkatan 93 khusus posko kabupaten
21. Rekan-rekan yang tak sempat penulis sebutkan satu persatu baik yang penulis kenal ataupun yang mengenali penulis.
Semoga apa yang mereka lakukan akan dibalas lebih oleh Allah Swt. Oleh karena itu, Penulis sangat berterima kasih dan mengharapkan kritik dan saran terhadap isi dari Skripsi ini. Semoga bermanfaat, Wassalam
Makassar, 2 Mei 2018
Penulis
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Tindak Pidana ... 8
1. Pengertian Tindak Pidana ... 8
2. Unsur-unsur Tindak Pidana ... 9
3. Jenis-jenis Tindak Pidana ... 18
B. Tindak Pidana Pembunuhan ... 21
1. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan ... 21
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Pembunuhan ... 23
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Pembunuhan ... 32
C. Penyertaan (Deelneming) ... 33
1. Pengertian Penyertaan ... 33
2. Orang Yang Melakukan (Pleger) ... 36
3. Orang Yang Menyuruh Melakukan (Doenpleger) ... 37
xii
4. Orang Yang Turut Serta Melakukan (Medepleger) ... 42
5. Penganjur (Uitlokker) ... 43
6. Pembantu Melakukan tindak pidana (Medeplichtige) ... 46
D. Jenis-jenis Putusan ... 47
1. Putusan Yang Memuat Pembebasan Si Terdakwa (Vrijspraak) ... 48
2. Putusan Yang Memuat Pelepasan Terdakwa Dari Segala Tuntutan (Onslag Van Rechtsvercolging) ... 54
3. Putusan yang memuat suatu penghukuman terdakwa (veroordeling) atau pemidanaan ... 56
BAB III METODE PENELITIAN ... 59
A. Lokasi Penelitian ... 59
B. Jenis dan Sumber Data ... 59
C. Teknik Pengumpulan Data ... 60
D. Analis Data ... 60
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 62
A. Faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi sehingga lahirnya putusan bebas pada perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama yang berdasarkan pada keilmuan hukum pada putusan nomor: 1959/ Pid.B/ 2016/ PN.Mks ... 62
1. Posisi kasus dalam dakwaan jaksa penuntut umum ... 62
2. Fakta-fakta dalam persidangan ... 67
xiii
3. Pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan ... 69
4. Analisis penulis ... 74
B. penerapan hukum pidana materil pada putusan perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama- sama pada putusan nomor: 1959/ Pid.B/ 2016/ PN.Mks. ... 77
1. Dakwaan jaksa penuntut umum ... 79
2. Tuntutan jaksa penunut umum ... 89
3. Amar putusan ... 89
4. Analisis penulis ... 90
BAB V PENUTUP ... 94
A. kesimpulan ... 94
B. saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 96
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat), bukan berdasarkan atas kekuasaaan (machtstaat).
Hal ini secara jelas disebutkan dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang rumasannya “Negara Indonesia adalah Negara hukum”.1
Negara Republik Indonesia juga melindungi hak-hak asasi manusia dalam bidang hukum bagi setiap warga Negara yang menyatakan bahwa tidak seorangpun dapat dihadapkan di Pengadilan selain ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hal ini mengandung arti bahwa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, hukum merupakan instrument atau sarana dalam melakukan aktivitas pada segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dari itu konsekuensi dari sebuah negara hukum adalah seluruh aktivitas masyarakat tanpa terkecuali tidak boleh bertentangan dengan norma- norma hukum yang berlaku dan setiap tindakan yang melanggar hukum akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan hukum.
1 Lihat pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2 Hukum dibuat dengan tujuan untuk menjaga ketertiban serta kesejahteraan masyarakat. Hukum hidup dan berkembang di dalam masyarakat karena hukum telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Sehingga muncul sebuah adagium ubi societas ibi ius, yang diterjemahkan secara bebas yang kurang lebih artinya, dimana ada masyarakat disitu ada hukum. Bahwa keberadaan hukum sangatlah diperlukan oleh masyarakat, sehingga masyarakat tanpa hukum akan menjadi liar.
Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di masyarakat atau dalam suatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilarang yang disertai ancaman berupa nestapa atau penderitaan bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.2 Aturan-aturan tesebut mengatur tentang pelanggaran dan kejahatan terhadap kepentingan umum. Pelanggaran dan kejahatan tersebut disertai dengan ancaman berupa pidana atau penderitaan bagi mereka yang melanggar aturan tersebut.
Kejahatan yang berkembang di masyarakat terdiri dari berbagai macam bentuk dan jenis. Di Indonesia kejahatan secara umum diatur dalam buku kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), salah satu bentuknya adalah pembunuhan. Dalam KUHP pembunuhan
2 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Bina Aksara , 1983), hlm.
1.
3 tergolong sebagai kejahatan terhadap nyawa yang pengaturannya secara khusus diatur dalam Bab XIX KUHP yang terdiri dari 13 pasal yakni Pasal 338 sampai dengan Pasal 350.
Pembunuhan berencana atau moord merupakan salah satu bentuk dari kejahatan terhadap nyawa yang diatur dalam Pasal 340 KUHP. Delik pembunuhan berencana merupakan delik yang berdiri sendiri sebagaimana dengan delik pembunuhan biasa yang diatur dalam Pasal 338 KUHP. Rumusan yang terdapat dalam delik pembunuhan berencana merupakan pengulangan dari delik pembunuhan dalam Pasal 338 KUHP, kemudian ditambah satu unsur lagi yakni “dengan rencana lebih dahulu”.
Hal ini berbeda dengan pembunuhan dengan pemberatan sebagaimana diatur dalam Pasal 339 KUHP yang menggunakan pengertian dari pembunuhan secara langsung dari delik pembunuhan.3
Pada umumnya delik-delik yang dimuat dalam KUHP ditujukan pada subjek hukum “orang”, sebagai contoh subjek delik dalam Pasal 340 KUHP yakni “barangsiapa”. Telah jelas yang dimaksud “barangsiapa”
adalah orang dan orang ini hanya satu.4 Pada kenyataannya kejahatan tidak selalu dilakukan oleh satu orang. Terkadang, suatu kejahatan juga dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk menyelesaikan suatu delik.
Dalam ajaran hukum pidana dimana suatu delik dilakukan oleh satu orang
3 Adami Cazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh & Nyawa, (Jakarta : Rajawali Pers,2013) hlm. 82.
4 Adami Cazawi, Pelajran Hukum Pidana Bagian 3 : Percobaan dan Penyertaan, (Jakarta : Rajawali pers, 2014) hlm 69-70.
4 atau lebih yang setiap orang melakukan wujud-wujud perbuatan tertentu, dan dari tingkah laku-tingkah laku itulah lahirlah suatu tindak pidana yang disebut dengan penyertaan atau deelneming.5
Dalam ajaran penyertaan terdapat macam-macam bentuk yang diantaranya orang yang melakukan, orang menyuruh melakukan, orang yang turut serta melakukan, orang yang menganjurkan, dan orang yang memberikan bantuan dalam tindak pidana. Masing-masing bentuk dalam ajaran penyertaan tersebut memiliki perbedaan satu sama lain, akan tetapi jelas dalam ajaran tersebut bahwa suatu tindak pidana dilakukan lebih dari satu orang baik orang yang terlibat secara fisik maupun secara psikis.6 Sejatinya penyertaan menuntut pertanggungjawaban pidana bagi pelaku-pelaku yang terlibat baik secara fisik maupun secara psikis, baik secara langsung maupun yang tidak langsung.
Sebagai salah satu dari pelaksanaan hukum yaitu hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk menerima, memeriksa dan memutuskan suatu perkara pidana. Oleh karena itu, hakim dalam menangani suatu perkara harus berbuat adil. Sehingga, dalam memberikan putusan kemungkinan dipengaruhi oleh hal yang ada pada dirinya dan sekitarnya karena pengaruh agama, kebudayaan, pendidikan, nilai, norma, dan sebagainya sehingga dapat dimungkinkan adanya
5 Ibid. hlm. 71.
6 Ibid., hlm 73.
5 perbedaan cara pandang sehingga mempengaruhi pertimbangan dalam memberikan putusan.7
Dalam hukum acara pidana dikenal tiga jenis putusan hakim, salah satunya tercantum dalam pasal 191 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yaitu putusan bebas Vrijspraak. Sesorang terdakwa dapat diputus bebas dengan alasan tidak cukup terbukti menurut hakim atas dasar pembuktian dengan menggunakan alat bukti menurut ketentuan hukum acara pidana. Hakim harus jeli dan cermat dalam melihat argumentasi Jaksa Penuntut Umum baik mengenai kesalahan terdakwa, perbuatan yang didakwakan terhadap terdakwa, dan alat bukti yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum, serta argumentasi Penasihat Hukum dalam membela terdakwa dan alat bukti yang dihadirkan oleh terdakwa atau Penasihat Hukumnya. Sehingga sebelum putusan dijatuhkan, pertimbangan hakim betul-betul meyakinkan menurut hukum.
Putusan bebas juga bisa didasarkan atas penilaian bahwa kesalahan yang cukup terbukti itu lalu tidak diikuti oleh keyakinan hakim sehingga nailai pembuktian yang cukup ini akan lumpuh dan terdakwa harus diputus bebas.
Maka atas uraian diatas penulis tertarik untuk mengkaji serta menganalisa sebuah Putusan bebas terhadap tindak pidana pembunuhan berencana dalam suatu karya ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul :
“Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Bebas (Vrijspraak) Dalam
7 Oemar Seno Aji, Hukum Hakim Pidana, (Jakarta: Bumi Aksara, 1984), hlm 12.
6 Tindak Pidana Pembunuhan Berencana yang dilakukan secara bersama-sama”(Studi Kasus putusan Nomor 1959/Pid.B/2016/PN.Mks)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1. Apakah faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi sehingga lahirnya putusan bebas pada perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama yang berdasarkan pada keilmuan hukum pada putusan nomor:
1959/ Pid.B/ 2016/ PN.Mks?
2. Bagaimana penerapan hukum pidana materil pada putusan perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama pada putusan nomor: 1959/ Pid.B/ 2016/
PN.Mks?
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi sehingga lahirnya putusan bebas pada perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama yang berdasarkan pada keilmuan hukum pada putusan nomor:
1959/ Pid.B/ 2016/ PN.Mks
7 2. Untuk mengetahui penerapan hukum pidana materil pada putusan perkara tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama pada putusan nomor : 1959/Pid.B/2016/PN.Mks
D. Manfaat penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan hukum khususnya hukum pidana, dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi para akademisi yang berminat pada masalah-masalah hukum pidana.
2. Memberikan masukan kepada masyarakat dan aparat penegakan hukum dalam upaya melakukan tindakan preventif terhadap kejahatan khususnya tindak pidana pembunuhan khususnya pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana
1. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari isitilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu strafbaar feit.8 Strafbaar feit, terdiri dari tiga kata, yakni straf, baar dan feit. Dari istilah yang dikemukakan sebagai terjemahan dari strafbaar feit itu, ternyata straf diterjemahkan dengan pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan dapat dan boleh. Sementara itu, untuk kata feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan.9 Maka dari itu terhadap maksud dan tujuan mengenai strafbaar feit tersebut sering digunakan oleh pakar hukum pidana dengan istilah tindak pidana, perbuatan pidana, peristiwa pidana, serta delik.
Berikut ini beberapa pengertian straftbaar feit yang dikemukakan oleh para ahli:
a. Pompe
Pompe merumuskan bahwa suatu straftbaar feit itu sebenarnya adalah tidak lain daripada suatu tindakan yang menurut sesuatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.10
8 Adami chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 1, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2011), hlm 67.
9 Ibid., hlm 69.
10 Ibid., hlm 72.
9 b. Vos
Vos merumuskan bahwa straftbaar feit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan.11
c. Van Hamel
Kelakuan orang (menselijke gedraging) yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat melawan hukum, yang patut dipidana (strafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan.12
d. Moeljatno
perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut.13
2. Unsur-unsur tindak pidana
a. Unsur-Unsur Tindak Pidana Menurut Beberapa Teoritisi
Unsur-unsur yang ada dalam tindak pidana adalah melihat bagaimana bunyi rumusan yang dibuatnya. Beberapa contoh, diambil dari batasan tindak pidana oleh teoretisi yakni: Moeljatno, R.Tresna, Vos, Jonkers, Schravendijck.14
Menurut Moeljatno unsur-unsur tindak pidana sebagai berikut:15
a. Perbuatan itu harus merupakan perbuatan manusia;
b. Perbuatan itu harus dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang;
c. Perbuatan itu bertentangan dengan hukum (melawan hukum);
d. Harus dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggung- jawabkan;
11 Ibid.
12 Moeljatno, Op.Cit., hlm 61.
13 Ibid., hlm 54.
14 Adami chazawi,Pelajaran hukum pidana 1, Op.Cit., hlm 79.
15 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia, (bandung: PT. Refika Aditama,2011), hlm 98
10 e. Perbuatan itu harus dipersalahkan kepada si pembuat.
Menurut R.Tresna, tindak pidana terdiri dari unsur-unsur, yakni:16
a) Perbuatan/rangkaian perbuatan (manusia);
b) Yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan; dan c) Diadakan tindakan penghukuman.
Dari unsur ketiga, kalimat diadakan tindakan penghukuman, terdapat pengertian bahwa seolah-olah setiap perbuatan yang dilarang itu selalu diikuti dengan penghukuman (pemidanaan). Berbeda dengan Moeljatno, karena kalimat diancam pidana berarti perbuatan itu tidak selalu dan tidak dengan demikian dijatuhi pidana.
Walaupun mempunyai kesan bahwa setiap perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang selalu diikuti dengan pidana, namun dalam unsur-unsur itu tidak terdapat kesan perihal syarat-syarat (subjektif) yang melekat pada orangnya untuk dapat dijatuhkannya pidana.
Menurut bunyi batasan yang dibuat Vos, dapat ditarik unsur-unsur tindak pidana sebagai berikut:17
a) Kelakuan manusia;
b) Diancam dengan pidana; dan
c) Dalam peraturan perundang-undangan.
Dapat dilihat bahwa pada unsur-unsur dari tiga batasan penganut paham dualistis tersebut, tidak ada perbedaan, yaitu bahwa tindak pidana
16 Adami chazawi, Pelajaran hukum pidana 1, Op.Cit., hlm 80
17 Ibid.
11 itu adalah perbuatan manusia yang dilarang, dimuat dalam undang- undang, dan diancam dipidana bagi yang melakukannya. Dari unsur-unsur yang ada jelas terlihat bahwa unsur-unsur tersebut tidak menyangkut diri si pembuat atau dipidananya pembuat, semata-mata mengenai perbuatannya.
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan pendapat penganut paham monistis, memang tampak berbeda. Ada dua rumusan yang dikemukakan oleh para ahli penganut paham monistis, yaitu Jonkers dan Schravendijk.
Dari batasan yang dibuat Jonkers (penganut paham monistis) dapat dirinci unsur-unsur tindak pidana yaitu:18
a) Perbuatan (yang);
b) Melawan hukum (yang berhubungan dengan);
c) Kesalahan (yang dilakukan oleh orang yang dapat); dan d) Dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Schravendijk dalam batasan yang dibuatnya secara panjang lebar itu, jika dirinci terdapat unsur-unsur sebagai berikut:19
a) Kelakuan (orang yang);
b) Bertentangan dengan keinsyafan hukum;
c) Diancam dengan hukuman;
d) Dilakukan oleh orang (yang dapat); dan e) Dipersalahkan/kesalahan.
18 Ibid.
19 Ibid.,hlm 81
12 Walaupun rincian dari tiga rumusan di atas tampak berbeda-beda, namun pada hakikatnya ada persamaannya, yaitu tidak memisahkan antara unsur-unsur mengenai perbuatannya dengan unsur yang mengenai diri orangnya. Dari beberapa pandangan ahli diatas yang berpandangan monistis dan dualistis, penulis dapat memberikan kesimpulan atas beberapa penafsiran oleh ahli tersebut.
Adapun perbedaan diantara kedua pandangan tersebut adalah pandangan monistis merupakan suatu pandangan yang melihat syarat, untuk adanya pidana harus mencakup dua hal yakni sifat dan perbuatan.
Pandangan ini memberikan prinsip-prinsip pemahaman, bahwa di dalam pengertian perbuatan atau tindak pidana sudah tercakup didalamnya perbuatan yang dilarang (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana atau kesalahan (criminal responsibility).20
Lain halnya dengan pandangan dualistis yang memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana. Pandangan ini memiliki prinsip bahwa dalam tindak pidana hanya mencakup criminal act dan criminal responsibility tidak menjadi unsur tindak pidana. Oleh karena itu, untuk menyatakan sebuah perbuatan sebagai tindak pidana cukup dengan adanya perbuatan yang dirumuskan oleh undang-undang yang memiliki sifat melawan hukum tanpa adanya suatu dasar pembenar.21
20 Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, (Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia, 2012) hlm 38
21 Ibid., hlm 40.
13 b. Unsur Rumusan Tindak Pidana Dalam UU
Buku II KUHP memuat rumusan-rumusan perihal tindak pidana tertentu yang masuk dalam kelompok kejahatan, dan buku III memuat pelanggaran. Ternyata ada unsur yang selalu disebutkan dalam setiap rumusan, yaitu mengenai tingkah laku/perbuatan walaupun ada pengecualian. Unsur kesahalan dan melawan hukum kadang-kadang dicantumkan; sama sekali tidak dicantumkan mengenai unsur kemampuan bertanggung jawab. Di samping itu, banyak mencantumkan unsur-unsur lain baik sekitar atau mengenai objek kejahatan maupun perbuatan secara khusus untuk rumusan tertentu.22
Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP itu, dapat diketahui adanya 11 unsur tindak pidana, yaitu:23
a) Unsur tingkah laku
Tindak pidana adalah mengenai larangan berbuat. Oleh karena itu, perbuatan atau tingkah laku harus disebutkan dalam rumusan. Jika ada rumusan tindak pidana yang tidak mencantumkan unsur tingkah laku, cara perumusan seperti itu merupakan suatu pengecualian belaka dengan alasan tertentu, dan tidak berarti tindak pidana itu tidak terdapat unsur perbuatan.
22 Adami Chazawi, Pelajaran hukum pidana 1, Op.cit., hlm 81
23 Ibid., hlm 82-115
14 b) Unsur sifat melawan hukum
Melawan hukum merupakan suatu sifat tercelahnya atau terlarangnya dari suatu perbuatan, di mana sifat tercela tersebut dapat bersumber pada undang-undang (melawan hukum formil/formelle wederrechtelijck) dan dapat bersumber pada masyarakat (melawan hukum materil/materiel wederrechtelijck). Berpegang pada pendirian ini, setiap perbuatan yang ditetapkan sebagai dilarang dengan mencantumkannya dalam peraturan perundang-undangan (menjadi tindak pidana), tanpa melihat apakah unsur melawan hukum itu dicantumkan ataukah tidak dalam rumusan, maka rumusan tindak pidana itu sudah mempunyai sifat melawan hukum.
c) Unsur kesalahan
Kesalahan (schuld) adalah unsur mengenai keadaan atau gambaran batin orang sebelum atau pada saat memulai perbuatan. Oleh karena itu, unsur ini selalu melekat pada diri pelaku dan bersifat subjektif.
Unsur kesalahan yang mengenai keadaan batin pelaku adalah unsur yang menghubungkan antara perbuatan dan akibat serta sifat melawan hukum perbuatan dengan si pelaku. Hanya dengan adanya hubungan antara ketiga unsur tadi dengan keadaan batin pembuatnya inilah, pertanggung jawab dapat dibebankan pada orang itu. Dengan demikian, terhadap pelaku dapat dijatuhi pidana. Unsur kesalahan dalam hukum pidana berhubungan dengan pertanggung jawaban, atau mengandung beban
15 pertanggungjawaban pidana yang terdiri atas kesengajaan (dolus) dan kelalaian (culpa).
d) Unsur akibat konstitutif
Unsur akibat konstitutif ini terdapat pada:
1) Tindak pidana materil (materieel delicten) atau tindak pidana di mana akibat menjadi syarat selesainya tindak pidana;
2) Tindak pidana yang mengandung unsur akibat sebagai syarat sebagai pemberat pidana; dan
3) Tindak pidana di mana akibat merupakan syarat dipidananya pembuat.
e) Unsur keadaan yang menyertai
Unsur keadaan yang menyertai adalah unsur tindak pidana berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan.
Unsur keadaan yang menyertai ini dalam kenyataan rumusan tindak pidana dapat berupa sebagai berikut:
1) Unsur keadaan yang menyertai mengenai cara melakukan perbuatan;
2) Unsur cara untuk dapat dilakukannya perbuatan;
3) Unsur keadaan menyertai mengenai objek tindak pidana;
4) Unsur keadaan yang menyertai mengenai subjek tindak pidana;
5) Keadaan yang menyertai mengenai tempat dilakukannya tindak pidana;
16 6) Keadaan yang menyertai mengenai waktu dilakukannya tindak pidana.
f) unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana
Unsur ini hanya terdapat pada tindak pidana aduan. Tindak pidana aduan adalah tindak pidana yang hanya dapat dituntut pidana jika ada pengaduan dari yang berhak mengadu. Pengaduan memiliki substansi yang sama dengan laporan, yaitu keterangan atau informasi mengenai telah terjadinya tindak pidana yang disampaikan kepada pejabat penyelidik atau penyidik yakni kepolisian, atau dalam hal tindak pidana khusus ke kantor Kejaksaan Negeri setempat.
g) Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana
Unsur ini berupa alasan untuk diperberatnya pidana, dan bukan unsur syarat untuk terjadinya atau syarat selesainya tindak pidana sebagaimana pada tindak pidana materil. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana bukan merupakan unsur pokok tindak pidana yang bersangkutan, artinya tindak pidana tersebut dapat terjadi tanpa adanya unsur ini.
h) Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana
Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana adalah unsur keadaan-keadaan tertentu yang timbul setelah perbuatan dilakukan, yang menentukan untuk dapat dipidananya perbuatan. Artinya, bila setelah perbuatan dilakukan keadaan ini tidak timbul, maka terhadap perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum dan karenanya si pembuat tidak dapat
17 dipidana. Sifat melawan hukumnya dan patutnya dipidana perbuatan itu sepenuhnya digantungkan pada timbulnya unsur ini. Nilai bahayanya bagi kepentingan hukum dari perbuatan itu terletak pada timbulnya unsur syarat tambahan, bukan semata-mata pada perbuatan. Walaupun unsur ini sama dengan unsur akibat konstitutif dalam hal timbulnya setelah dilakukan perbuatan, tetapi berbeda secara prinsip.
i) Unsur objek hukum tindak pidana
Unsur mengenai objek pada dasarnya adalah unsur kepentingan hukum (rechtsbelang) yang harus dilindungi dan dipertahankan oleh rumusan tindak pidana. Dalam setiap rumusan tindak pidana selalu ada kepentingan hukum yang dilindungi. Memang di dalam rumusan tindak pidana terkandung dua hal yang saling bertolak belakang, seperti pedang bermata dua. Mata pedang yang satu melindungi kepentingan hukum orang yakni korban, dan mata pedang yang satu menyerang kepentingan hukum orang yakni si pembuat tindak pidana.
j) Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana
Dibentuknya rumusan tindak pidana pada umumnya ditujukan pada setiap orang, artinya dibuat untuk diberlakukan paa semua orang.
Rumusan tindak pidana seperti ini dimulai dengan kata “barangsiapa” (hij die), atau pada tindak pidana khusus kadang dengan merumuskan “setiap orang”. Tetapi ada beberapa tindak pidana dirumuskan dengan tujuan hanya diberlakukan pada orang tertentu saja. Dalam tindak pidana yang dimaksudkan terakhir ini, dalam rumusannya secara tegas kepada siapa
18 norma hukum tindak pidana diberlakukan. Kepada orang-orang tertentu yang mempunyai kualitas atau yang memenuhi kualitas tertentu itulah yang dapat diberlakukan rumusan tindak pidana. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana adalah unsur kepada siapa rumusan tindak pidana itu ditujukan tersebut. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana selalu merupakan unsur tindak pidana yang bersifat objektif.
k) Unsur syarat tambahan memperingan pidana
Unsur ini bukan berupa unsur pokok yang membentuk tindak pidana, sama dengan unsur syarat tambahan lainnya, seperti unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana. Unsur ini diletakkan pada rumusan suatu tindak pidana tertentu yang sebelumnya telah dirumuskan. Ada dua macam unsur syarat tambahan untuk memperingan pidana, yaitu unsur syarat tambahan yang bersifat objektif dan unsur syarat tambahan yang bersifat subjektif.
Besifat objektif, misalnya terletak pada nilai atau harga objek kejahatan secara ekonomis pada pencurian ringan,penggelapan ringan, penipuan ringan, atau perusakan benda ringan. Bersifat subjektif, artinya faktor yang meringankan terletak pada sikap batin si pembuatnya, ialah apabila tindak pidana dilakukan karena ketidaksengajaan atau culpa.
3. Jenis-Jenis Tindak Pidana
KUHP sendiri telah mengklasifikasikan tindak pidana atau delik ke dalam dua kelompok besar yaitu dalam Buku Kedua dan Buku Ketiga
19 masing-masing menjadi kelompok kejahatan dan pelanggaran. Kemudian bab-babnya dikelompokkan menurut sasaran yang hendak dilindungi oleh KUHP terhadap tindak pidana tersebut. Misalnya Bab I Buku Kedua adalah Kejahatan Terhadap Keamanan Negara, dengan demikian ini merupakan kelompok tindak pidana yang sasaranya adalah keamanan negara.24
1) Kejahatan dan pelanggaran
Kejahatan merupakan rechtsdelict atau delik hukum dan pelanggaran merupakan wetsdelict atau delik undang-undang. Delik hukum adalah pelanggaran hukum yang dirasa melanggar rasa keadilan.
Sedangkan delik undang-undang melanggar apa yang ditentukan oleh undang-undang. Disamping itu dari sudut pandang yang lain kejahatan ialah delik yang melanggar kepentingan hukum dan juga membahayaka secara konkret sedangkan pelanggaran hanya membahayakan secara in abstracto saja.25
2) Delik formal dan delik materil
Delik formil adalah delik yang dianggap selesai dengan dilakukannya perbuatan itu, atau dengan perkataan lain titik beratya pada perbuatan itu sendiri. sedangkan akibatnya hanya merupakan aksidential (hal yang kebetulan). Contoh delik formal adalah Pasal 362 (pencurian), Pasal 160 (peghasutan) dan Pasal 209,210 (penyuapan). Jika seseorang
24 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm 58
25 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm 98-99
20 telah melakukan perbuatan mengambil dan seterusnya, dalam delik pencurian sudah cukup. Juga jika penghasutan sudah dilakukan, tidak peduli apakah yang dihasut benar-benar mengikuti hasutan itu.
Sebaliknya dalam delik materil titik beratnya pada akibat yang dilarang, delik itu dianggap selesai jika akibatnya sudah terjadi, bagaimana cara melakukan perbuatan itu tidak menjadi masalah. Contohnya Pasal 338 (pembunuhan), yang terpenting adalah matinya seseorang. Caranya boleh dengan mencekik, menembak dan sebagainya.
3) Delik dolus dan delik culpa
Delik dolus adalah delik yang memuat unsur kesengajaan, rumusan kesengajaan itu mungkin dengan kata-kata yang tegas dengan sengaja, tetapi mungkin dengan kata-kata yang senada, seperti diketahuinya, dan sebagainya. Contohnya adalah Pasal-pasal 162, 197, 310, 338, dan lebih banyak lagi. Delik culpa di dalam rumusannya memuat unsur kealpaan, dengan kata karena kealpaannya, misalnya padal Pasal 359, 360, 195. Di dalam beberapa terjemahan kadang-kadang dipakai istilah karena kesalahanya.
4) Delik Commissionis dan Delik Omissionis
Delik commissionis barangkali tidak terlalu sulit dipahami, misalnya berbuat mengambil, menganiaya, menembak, mengancam, dan sebagainya. Delik omissionis dapat kita jumpai pada Pasal 522 (tidak datang menghadap ke pengadilan sebagai saksi), Pasal 164 (tidak melaporkan adanya pemufakatan jahat). Disamping itu, ada yang disebut
21 dengan delik commissionis per omissionen commisa. Misalnya seorang ibu yang sengaja tidak memberikan air susu kepada anaknya yang masih bayi dengan maksud agar anak itu meninggal (Pasal 338), tetapi dengan cara tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Keharusan menyusui bayi tidak terdapat di dalam hukum pidana. Juga seseorang menjaga pintu lintasan kereta api yang tidak menutup pintu itu sehingga terjadi kecelakaan (Pasal 164).26
5) Delik aduan dan delik biasa
Delik aduan (klacht delicten) adalah suatu delik yang dapat dituntut dengan membutuhkan atau disyaratkan adanya pengaduan dari orang yang dirugikan, artinya apabila tidak ada pengaduan maka delik itu tidak dapat dituntut. Berbeda dengan halnya delik biasa (gewone delicten) adalah suatu delik yang dapat dituntut tanpa membutuhkan adanya pengaduan.27
B. Tindak Pidana Pembunuhan
1. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan
Tindak pidana pembunuhan dalam KUHP termasuk dalam kejahatan terhadap jiwa orang, yang diatur dalam Bab XIX yang terdiri dari 13 pasal, yakni Pasal 338 sampai dengan Pasal 350. Secara terminologis pembunuhan adalah perbuatan menghilangkan nyawa, atau mematikan.
Sedangkan dalam KUHP istilah pembunuhan adalah suatu kesengajaan
26 Teguh Prasetyo, Op.Cit., hlm 60.
27 Roni Wiyanto, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: mandar maju, 2012), hlm 170
22 menghilangkan nyawa orang lain. Menurut Lamintang untuk menghilangkan nyawa orang lain seorang pelaku harus melakukan sesuatu atau suatu rangkaian tindakan yang berakibat dengan meninggalnya orang lain dengan catatan bahwa kesengajaan opzet dari pelaku itu harus ditujukan pada akibat berupa meninggalnya orang lain.
Dengan kata lain berdasarkan pada pengertian yang dikemukakan oleh Lamintang bahwa delik pembunuhan termasuk dalam delik materil (materieel delict), yang merupakan suatu delik yang dirumuskan secara materil, yakni delik yang baru dapat dianggap telah selesai dilakukan oleh pelakunya apabila timbul akibat yang dilarang (akibat konstitutif atau constitutief-gevolg) yang tidak dikehendaki oleh Undang-Undang.28
Menurut Adami Chazawi perbuatan menghilangkan nyawa orang lain terdapat 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu:29
1. Adanya wujud perbuatan;
2. Adanya suatu kematian (orang lain); dan
3. Adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara perbuatan dan akibat yang ditimbulkan.
Ketiga syarat tersebut merupakan satu kesatuan yang bulat, meskipun dapat dibedakan akan tetapi apabila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi maka delik pembunuhan dianggap tidak terjadi. Maka
28 P.A.F, Lamintang, Theo Lamintang, Kejahatan Terhadap Nyawa, Tubuh, dan Kesehatan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012) hlm 1
29 Adami chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh & Nyawa, Op.Cit., hlm 57
23 dapat disimpulkan bahwa delik pembunuhan dapat terjadi apabila adanya wujud perbuatan serta adanya kematian (orang lain) dan keduanya ada hubungan sebab akibat antara perbuatan dan akibat yang ditimbulkan yakni kematian. Bahwa akibat dari kematian haruslah disebabkan dari perbuatan itu apabila tidak ada causal verband antara keduanya yakni suatu perbuatan dengan akibat yang ditimbulkan yakni matinya orang lain maka delik pembunuhan dianggap tidak terjadi.
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Pembunuhan a) Pembunuhan Dalam Bentuk Pokok
delik pembunuhan dalam bentuk pokok atau doodslag diatur dalam Pasal 338 Bab XIX KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa. Adapun rumusan dalam Pasal 338 KUHP adalah sebagai berikut:
Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Adapun rumusan dalam Pasal 338 KUHP diatas terdapat unsur- unsur tindak pidana yang diantaranya sebagai berikut:
a. Unsur subjektif: Opezettelijk atau dengan sengaja b. Unsur objektif: 1. Beroven atau menghilangkan
2. Leven atau nyawa
3. Een ander atau orang lain
24 1) Opezettelijk atau dengan sengaja
Menurut memori penjelasan atau Memorie van Toelichting (MvT) menyatakan bahwa pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang siapa melakukan perbuatan yang dilarang dengan dikehendaki. Maka kesengajaan sebagai wiilen en wetten adalah orang yang menghendaki perbuatan dan akibatnya dan mengetahui, mengerti atau insyaf akan akibat yang timbul serta unsur-unsur lain yang ada disekitar perbuatannya itu. Lebih lanjut, memori penjelasan menyatakan bahwa apabila kata/unsur opzettelijk dicantumkan dalam rumusan suatu tindak pidana, maka harus diartikan bahwa kesengajaan itu harus ditujukan pada semua unsur yang ada dibelakang unsur opzettelijk. Oleh karena unsur sengaja dirumuskan dalam Pasal 338 KUHP dengan mendahului unsur perbuatan menghilangkan orang lain, maka sengaja di sini harus diartikan bahwa pelaku menghendaki untuk mewujudkan perbuatan, dan ia menghendaki terhadap akibat matinya orang lain.
Kehendak dan apa yang diketahui harus sudah terbentuk dalam batinnya sebelum akibat timbul, dengan kata lain sebelum mewujudkan perbuatan atau setidak-tidaknya pada saat memulai perbuatan, kehendak dan pengetahuan seperti itu telah terbentuk dalam alam batin pelaku.30
Menurut ajaran dalam hukum pidana terdapat tiga jenis kesengajaan yang diantaranya adalah sebagai berikut:
30 Ibid., hlm 65-68
25 a. Sengaja sebagai maksud (opzet als ogmerk)
Bahwa yang dimaksud dengan sengaja sebagai maksud adalah apabila pelaku menghendaki akibat perbuatannya. Ia tidak pernah melakukan perbuatannya apabila pelaku tersebut tidak mengetahui bahwa akibat dari perbuatannya tidak akan terjadi.31
b. Sengaja dengan kesadaran tentang kepastian (opzet me bewustheid van zekerheid of noodzakelijkheid)
Sengaja dengan kesadaran tentang kepastian terjadi yakni pelaku yakin bahwa akibat yang dimaksudkannya tidak akan tercapai tanpa terjadinya akibat yang tidak dimaksud.32
c. Sengaja dengan kesadaran akan kemungkinan (opzet met mogelijkheidsbewustzijn)
Menurut Hezewinkel-Suringa sengaja akan kemungkinan, terjadi jika pembuat tetap melakukan yang dikehendakinya walaupun ada kemungkinan akibat lain (yang sama sekali tidak diinginkan) itu diinginkan daripada menghentikan perbuatannya, maka terjadi pula kesengajaan.33 2) menghilangkan nyawa orang lain
Dalam Pasal 338 KUHP unsur menghilangkan nyawa dirumuskan een ander van het leven beroven yang artinya “menghilangkan nyawa orang lain”. Karena dalam tindakan atau perilaku menghilangkan nyawa orang lain itu tidak selalu terdapat unsur kekerasan, sedangkan jika kata beroven diterjemahkan dengan kata merampas maka tindak tersebut
31 Andi Hamzah, Op.Cit., hlm 116
32 Ibid., hlm 117
33 Ibid., hlm 119
26 harus dilakukan dengan kekerasan. Dalam Bab kejahatan terhadap nyawa terdapat beberapa delik yang tindakan menghilangkan nyawa orang lain tilakukan tanda menggunakan kekerasan, semisal dalam Pasal 344 KUHP tindakan menghilangkan nyawa orang lain dapat dilakukan atas permintaan korban sendiri, dan Pasal 348 ayat (1) KUHP dimana perbuatan menyebabkan gugu atau meninggalnya anak dalam kandungan.34
Maka apabila dikaitkan dengan kesengajaan opzettelijk pelaku harus menghendaki dilakukannya tindakan menghilangkan nyawa tersebut ia pun harus mengetahui bahwa tindakannya atau perilakunya adalah tindakan atau perilaku menghilangkan (nyawa orang lain).35
b) Pembunuhan Dengan Direncanakan Lebih Dulu
Pembunuhan dengan direncanakan lebih dahulu yang oleh pembentuk undang-undang disebut sebagai moord dan diatur dalam Pasal 340 KUHP yang rumusannya sebagai berikut:
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dulu menghilangkan nyawa orang lain, karena telah melakukan suatu pembunuhan dengan direncanakan lebih dulu, dipidana dengan pidana mati atau dipidana penjara seumur hidup atau dengan pidana penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
34 P.A.F, Lamintang, Theo Lamintang, Kejahatan Terhadap Nyawa, Tubuh, dan Kesehatan, Op.Cit., hlm 37
35 Ibid., hlm 36.
27 Bahwa tindak pidana pembunuhan berencana sebagaimana di atur dalam pasal 340 KUHP yang telah diuraikan di atas terdapat unsur-unsur delik yang diantaranya:36
a. Unsur subjektif: 1. Opezettelijk atau dengan sengaja
2. Voorbedachte raad atau direncanakan lebih dulu
b. Unsur objektif: 1. Beroven atau menghilangkan 2. Leven atau nyawa
3. Een ander atau orang lain
Apabila diperhatikan rumusan dalam Pasal 340 KUHP merupakan pengulangan kembali dari Pasal 338 KUHP, hanya saja dalam Pasal 340 KUHP ditambahkan unsur voorbedachte raad atau direncanakan lebih dulu. Oleh karena itu dalam Pasal 340 mengulang lagi seluruh unsur dalam Pasal 338, maka pembunuhan berencana dapat sebagai pembunuhan yang berdiri sendiri (een zelfstanding misdrijf) lepas dan lain dari pembunuhan dalam bentuk pokok (doodslag).37 Adapun penjelasan tentang unsur-unsur di atas akan diuraikan dibawah ini:
1) opzetilijk atau dengan sengaja
sebelumnya telah diuraikan unsur kesengajaan dalam pembunuhan dalam bentuk pokok, atau doodslag. Maka dalam hal ini hanya disinggung mengenai sifat pada unsur kesengajaan dalam delik pembunuhan
36 Ibid., hlm 52
37 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh & Nyawa, Op.Cit., hlm 81
28 berencana. Dipandang dari sifatnya opzet atau dolus sebagaimana dimaksud oleh pembentuk undang-undang bahwa didalam rumusan pasal 340 KUHP merupakan dolus premeditatus yakni merupakan opzet yang terbentuk karena telah direncanakan terlebih dahulu. Berbeda hal dengan ketentuan dalam Pasal 338 KUHP, bahwa opzet atau dolus yang terdapat dalam rumusan Pasal 338 KUHP merupakan dolus impetus, yakni opzet yang telah terbentuk secara tiba-tiba. Sehingga yang menjadi pembeda antara pembunuhan (biasa) atau doodslag dengan pembunuhan berencana atau moord terletak pada sifat dari opzet atau dolus. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa jika opzet atau dolus untuk menghilangkan nyawa orang lain merupakan suatu dolus impetus, maka opzet untuk menghilangkan nyawa orang lain tersebut akan menghasilkan doodslag seperti yang diatur dalam Pasal 338 KUHP, sedangkan jika opzet atau dolus untuk menghilangkan nyawa orang lain itu merupakan suatu dolus premeditatus, maka opzet untuk menghilangkan nyawa orang lain tersebut akan menghasilkan moord seperti yang diatur dalam Pasal 340 KUHP.38
Delik pembunuhan merupakan delik materiil, sehingga dikatakan telah selesai apabila perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku, menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang. Lebih lanjut, Adami Chazawi berpendapat bahwa perbuatan menghilangkan nyawa dirumuskan dalam bentuk aktif dan abstrak. Bentuk aktif artinya mewujudkan perbuatan dengan gerakan dari sebagian anggota tubuh
38 P.A.F, Lamintang, Theo Lamintang, Kejahatan Terhadap Nyawa, Tubuh, dan Kesehatan, Op.Cit., hlm 36
29 tidak diam atau pasif walau sekecil apapun. Walaupun dirumuskan dalam bentuk aktif, tetapi dalam keadaan tertentu di mana seseorang ada kewajiban hukum untuk berbuat, maka perbuatan diam atau pasif dapat masuk pada perbuatan menghilangkan nyawa, dan apabila ada maksud membunuh. Misalnya, seorang ibu dengan maksud untuk membunuh bayinya, sengaja tidak menyusui bayinya itu sehingga kelaparan dan mati.39
2) Direncanakan terlebih dahulu (voorbedachte raad)
Unsur voorbedachte raad atau direncanakan terlebih dulu pasal 340 KUHP unsur yang membedakan dengan pembunuhan dalam bentuk pokok atau doodslag sebagaimana diatur dalam pasa 338 KUHP. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa pasal 340 KUHP merupakan tindak pidana pembunuhan yang berdiri sendiri. Dalam Memorie van Toelichting atau memori penjelasan memberikan batasan-batasan terhadap “unsur direncanakan lebih dulu” yakni een tijdstip van kalm overleg van bedaard nadenken yang artinya suatu jangka waktu untuk mempertimbangkan secara tenang dan untuk mempertimbangkan kembali suatu rencana.
Menurut Mr. Modderman perbedaan antara doodslag dan moord bukan terletak pada jangka waktu tertentu antara waktu pengambilan keputusan dengan waktu pelaksanaan, melaikan pada sikap kejiwaan (gemoedstoestand) atau pemikiran tentang perilaku selanjutnya dari pelaku setelah pada dirinya timbul maksud untuk melakukan sesuatu.
39 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh & Nyawa, Op.Cit., hlm 58-59
30 Sebagai lawan dari voorbedachte raad adalah bertindak in impetu, dalam hal mana pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusannya itu sendiri telah dilakukan oleh pelaku dalam pemikiran mengenai perilaku yang tidak terputus, dan yang menutup kemungkinan bagi dirinya untuk bertindak secara tenang dalam mengambil keputusan.40
Menurut Adami Chazawi, unsur direncanakan lebih dulu terdapat tiga unsur yang diantaranya:41
a) Memutuskan kehendak dalam suasana tenang;
b) Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan pelaksaan kehendak;
c) Pelaksanaan kehendak dalam suasana tenang.
Memutuskan kehendak dalam suasana tenang, adalah pada saat memutuskan kehendak untuk membunuh itu dilakukan dalam suasana (batin) yang tenang. Suasana (batin) yang tenang adalah susana yang tidak tergesa-gesa atau tiba-tiba, tidak dalam keadaan terpaksa dan emosional yang tinggi. Indikatornya ialah sebelum memutuskan kehendak untuk membunuh itu, telah dipikirnya dan dipertimbangkannya, telah dikaji untung dan ruginya. Pemikiran dan pertimbangan seperti ini hanya dapat dilakukan jika dalam suasana tenang, kemudian akhirnya memutuskan kehendak untuk berbuat dan perbuatannya tidak diwujudkan ketika itu.42
Ada tenggang waktu yang cukup antara sejak timbulnya niat atau kehendak sampai pelaksanaan keputusan kehendak itu. Waktu yang
40 P.A.F, Lamintang, Theo Lamintang, Kejahatan Terhadap Nyawa, Tubuh, dan Kesehatan, Op.Cit., hlm 56
41 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh & Nyawa, Op.Cit., hlm 82
42 Ibid., hlm 82
31 cukup ini adalah relatif, dalam arti tidak diukur dari lama waktu tertentu, melainkan bergantung pada keadaan atau kejadian konkret yang berlaku.
Waktu yang digunakan tidak terlalu singkat. Jika demikian pelaku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berpikir-pikir. Begitu pula waktu yang digunakan tidak boleh terlalu lama. Bila terlalu lama sudah tidak menggambarkan lagi ada hubungan antara pengambilan keputusan kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaan pembunuhan.43
Dalam tenggang waktu itu masih tampak adanya hubungan pengambilan putusan kehendak dengan pelaksanaan pembunuhan.
Adanya hubungan itu, dapat dilihat dari indikatornya sebagai berikut:
a) Pelaku masih sempat menarik kehendaknya untuk membunuh;
b) Bila kehendaknya bulat, ada waktu yang cukup untuk memikirkan misal, cara atau alat yang digunakan untuk melaksanakan tujuannya, cara menghilangkan jejak, cara menghindari pertanggung jawaban, dan lain-lain.
Mengenai pelaksanaan pembunuhan yang dilakukan dalam suasana batin yang tenang. Maksdunya suasana hati saat melaksanakan pembunuhan itu tidak dalam suasana yang tergesa-gesa, amarah yang tinggi, rasa takut yang berlebihan dan lain sebagainya. Tiga unsur/syarat yang telah dikemukakan diatas, bersifat kumulatif dan saling berhubungan, suatu kebetulan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab jika
43 Ibid., hlm 82-83.
32 terpisahkan/terputuskan maka sudah tidak dapat disebut sebagai direncanakan lebih dulu.44
3. Jenis-Jenis Tindak Pidana Pembunuhan
Dalam Kitab Undang- undang Hukum Pidana, ketentuan-ketentuan pidana tentang kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja dimuat dalam Bab XIX KUHP yang terdiri dari tiga belas Pasal, yaitu dari Pasal 338 sampai dengan Pasal 350 KUHP. Lanjut dalam pengelompokannya kejahatan terhadap nyawa dibedakan berdasarkan dua kelompok yakni (1) atas dasar unsur kesalahannya, dan (2) atas dasar objeknya (nyawa). Atas dasar kesalahannya ada dua kelompok kejahatan terhadap nyawa, ialah:
a) Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (dolus misdrijven), adalah kejahatan yang dimuat dalam BAB XIX KUHP, Pasal 338 sampai dengan Pasal 350.
b) Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan tidak dengan sengaja (culpose misdrijven), yang dimuat dalam Bab XXI (khusus pada Pasal 359)
Sedangkan atas dasar objeknya (kepentingan hukum yang dilindungi), maka kejahatan terhadap nyawa dengan sengaja dibedakan dalam tiga macam:45
a) Kejahatan terhadap nyawa orang pada umumnya, dimuat dalam Pasal 338, 339, 340, 344, dan 345.
b) Kejahatan terhadap nyawa bayi pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, dimuat dalam Pasal 341, 342, dan 343.
44 Ibid., hlm 83-84.
45 Ibid., hlm 55-56
33 c) Kejahatan terhadap nyawa bayi yang masih berada di dalam kandungan ibu (janin), dimuat dalam pasal 346, 347, 348 dan 349.
C. Penyertaan (Deelneming) 1. Pengertian Penyertaan
Pada umumnya subjek hukum dalam delik-delik sebagaimana terdapat dalam KUHP dirumuskan dengan “barangsiapa”. Tentunya istilah
“barangsiapa” atau hij die ditujukan pada subjek hukum “orang”46 Maka telah jelas bahwa yang dimaksud dengan “barangsiapa” adalah orang dan orang hanya satu. Namun kejahatan tidak melulu dilakukan oleh seorang pelaku, namun dapat juga dilakukan oleh dua atau lebih orang yang dilakukan secara bersekutu dan masing-masing pelaku diikat oleh suatu ikatan kerjasama.
Sehubungan dengan penyertaan ini, Utrecht mengatakan bahwa pelajaran umum turut serta ini justru dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang memungkinkan pembuat melakukan peristiwa pidana, biarpun perbuatan mereka itu sendiri tidak memuat semua anasir peristiwa pidana tersebut. Biarpun mereka bukan pembuat - yaitu perbuatan mereka tidak memuat semua anasir-anasir peristiwa pidana, masih juga mereka bertanggungjawab atas dilakukannya peristiwa
46 Adami chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3 : Percobaan dan Penyertaan, Op.cit., hlm 67-69
34 pidana, karena tanpa turut sertanya mereka sudah tentu peristiwa pidana itu tidak pernah terjadi.47
Penyertaan (deelneming) adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta/terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana. Orang-orang yang terlibat dalam kerjasama yang mewujudkan tindak pidana, perbuatan masing-masing mereka berbeda satu dengan yang lain, demikian juga tidak bisa sama apa yang ada dalam batin mereka terhadap tindak pidana maupun terhadap peserta yang lain. Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalinlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya, dimana perbuatan yang satu menunjang perbuatan yang lainnya, yang semuanya mengarah pada satu yakni terwujudnya tindak pidana.48
Penyertaan atau deelneming oleh pembentuk undang-undang telah diatur dalam Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP. Bahwa bila berbicara tentang Pasal 55 dan Pasal 56 tidak hanya berbicara tentang penyertaan atau deelneming semata melainkan juga berbicara tentang dader atau pelaku.49 Adapun dalam Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dirumuskan sebagai berikut:
47 Ibid., hlm 71
48 Ibid., hlm 73
49 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013), hlm 583
35 Pasal 55 KUHP :
1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana
(1) Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan;
(2) Mereka yang memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.
2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.
Pasal 56
Dipidana sebagai pembantu kejahatan:
1) Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan;
2) Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.
Berdasarkan Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, dapatlah diketahui bahwa menurut KUHP itu dibedakan dalam dua kelompok yaitu:
1) Pertama, kelompok orang-orang yang perbuatannya disebabkan oleh Pasal 55 ayat (1), yang dalam hal ini disebut dengan para pembuat (mededader), adalah mereka:50
a. Yang melakukan (plegen), orangnya disebut dengan pelaku atau pleger;
b. Yang menyuruh melakukan (doen plegen), orangnya disebut dengan penyuruh atau doen pleger;
50 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3 : Percobaan dan Penyertaan, Op.cit., hlm 81-82
36 c. Yang turut serta melakukan (medeplegen), orangnya disebut
dengan pelaku turut serta atau medepleger
d. Yang sengaja menganjurkan (uitlokken), orangnya disebut dengan penganjur atau uitlokker
2) Kedua, yakni orang yang disebut dengan pembantu (medeplichtige) kejahatan, yang dibedakan menjadi dua:
a. Pemberian bantuan pada saat pelaksanaan kejahatan; dan b. Pemberian bantuan sebelum pelaksanaan kejahatan.
2. Orang Yang Melakukan (Pleger)
Plegen dalam Pasal 55 ayat (1) KUHP dirumuskan dengan zij die het feit plegen yang artinya “mereka yang melakukan”. Pleger atau orang yang telah melakukan pada dasarnya orang yang karena perbuatannya melahirkan tindak pidana, tanpa adanya perbuatan dari pembuat pelaksana tindak pidana itu tidak akan terwujud.51
Pelaku atau petindak adalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi perumusan delik dan dipandang paling bertanggung jawab atas kejahatan. Ia melakukan dengan tangannya sendiri atas sesuatu yang terjadi. Inilah yang tepat digambarkan dengan istilah tangan mencincang bahu memikul. Dapat saja ia menggunakan alat, tetapi alat itu hanyalah merupakan benda yang sepenuhnya dalam
51 Ibid., hlm 85
37 kendalinya. Termasuk binatang sekalipun, yang secara normal berada dibawah kendalinya.52
3. Orang Yang Menyuruh Melakukan (Doenpleger)
Di dalam doktrin hukum pidana, orang yang menyuruh orang lain melakukan suatu tindak pidana biasanya disebut sebagai seorang middelijke dader atau seorang mittelbare tater yang artinya seorang pelaku tidak langsung. Ia disebut sebagai pelaku tidak langsung karena ia memang tidak secara langsung melakukan sendiri tindak pidananya, melainkan dengan perantaraan orang lain. Sedangkan orang lain yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu, biasanya disebut sebagai seorang materieele dader atau seorang pelaku material.53
Dalam Memorie van Toelichting atau memori penjelasan KUHP Belanda, menyatakan bahwa yang menyuruh melakukan adalah juga dia yang melakukan tindak pidana akan tetapi tidak secara pribadi, melainkan dengan perantara orang lain sebagai alat dalam tangannya, apabila orang lain itu berbuat tanpa kesengajaan, kealpaan atau tanpa tanggung jawab karena keadaan yang tidak diketahui, disesatkan atau tunduk pada kekerasan.
52 Erdianto Effendi, Op.Cit., hlm 176
53 P.A.F Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Di Indonesia, Op.Cit., hlm 609