1
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN PENGUSAHA NAHDLIYIN (HPN)
MUKADIMAH
Bahwa umat Islam Ahlusunnah Waljama’ah umumnya dan kaum Nahdliyin khususnya, berpandangan: “berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi dan berpartisipasi proaktif membangun dunia usaha yang tangguh, sehat dan dinamis, merupakan kewajiban yang diperintahkan ALLAH Subhaanahu Wata’aala dan Rosul-NYA, bernilai jihad dalam rangka menempat dan manfaat gunakan sumber daya alam dan manusia secara beradab, memberantas kemiskinan, meningkatkan kemakmuran yang berkeadilan dan keadilan yang berkemakmuran, mengokohkan persatuan dan, memantapkan Ketahanan Nasional dalam antisipasi percaturan dan perubahan ekonomi di tingkat regional dan Internasional yang sangat dinamis”;
Bahwa pengusaha Nahdliyin berkedudukan strategis sebagai motor penggerak ekonomi kaum Nahdliyin, umat Islam Ahlusunnah Waljama’ah dan, bangsa Indonesia, belum cukup optimal memainkan peranannya dalam melaksanan kewajiban dimaksud, dikarnakan walau secara kuantitatif berjumlah sangat besar, namun secara kualitatif masih banyak yang tergolong mikro, kecil dan menengah dengan segala kelemahan dan keterbatasannya dalam mengantisipasi perubahan, peluang dan masalah yang kian kompelek;
Bahwa dalam mengoptimalkan perannya sebagai motor penggerak dimaksud, pengusaha Nahdliyin secara proaktif berkehendak kuat untuk terus berbenah diri dan menggalang kerja sama sinergis, sistematis, terstruktur dan, masif antar sesamanya dan dengan pengusaha umumnya disegala aspek, sektor dan tingkatan usaha, ditingkat lokal, nasional, regional dan, Internasional;
2 Bahwa untuk mewujudkan kehendak kuat dimaksud, pengusaha Nahdliyin membutuhkan wadah, wahana dan sarana komunikasi, koordinasi, konsolidasi, konsultasi, fasilitasi, advokasi, artikulasi, agregasi dan reprensetasi, serta inkubasi bagi lahirnya pengusaha baru dan pembinaan khusus bagi pengusaha Nahdliyin dan pengusaha Indonesia umumnya dalam rangka lompatan kuantum wujudkan dunia usaha Indonesia yang berkarakter kuat, bermartabat dan berdaya saing tinggi dengan tetap bertumpu pada keunggulan sumber daya kaum Nahdliyin, Bangsa dan Negara Indonesia;
Bahwa untuk memenuhi kebutuhan dimaksud, dengan berkat rahmat dan petunjuk ALLAH Subhaanahu Wata’aala serta niat luhur mengharapkan ridho-NYA, maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginisiasi dan memfasilitasi berdirinya HIMPUNAN PENGUSAHA NAHDLIYIN (HPN) dengan Anggaran Dasar sebagai berikut :
BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Perkumpulan ini bernama Himpunan Pengusaha Nahdliyin yang selanjutnya disingkat HPN; Himpunan Pengusaha Nahdliyin didirikan pada tanggal empat belas Juli dua ribu sebelas Masehi (14-07-2011 M) bertepatan dengan tanggal dua belas Rajab seribu empat ratus tiga puluh dua Hijriyah (12-Rajab-1432H) untuk jangka waktu yang tidak terbatas; Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia;
BAB II KEDAULATAN
Pasal 2
Kedaulatan HPN berada ditangan anggota yang pelaksanaannya tercermin sepenuhnya dalam Konferensi Nasional HPN;
3 BAB III
ASAS DAN PRINSIP PERJUANGAN
Pasal 3
HPN berasaskan PANCASILA: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
Pasal 4
Prinsip perjuangan HPN adalah pengabdian kepada Allah Subhaanahu Wata’aala;
menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran; menegakan keadilan sosial, menjaga kelestarian alam dan persatuan bangsa; menumbuhkan kembangkan kewirausahaan;
meningkatkan keadilan yang berkemakmuran dan kemakmuran yang berkeadilan;
mengokohkan ketahanan ekonomi Umat dan ketahanan Nasional sesuai dengan nilai- nilai dan norma-norma Islam Ahlusunnah Waljama’ah;
BAB IV
SIFAT DAN FUNGSI
Pasal 5
HPN bersifat Kebangsaan, Kekeluargaan, Kebesamaan, Kemandirian, Keterbuka, Proaktif dan Progresif;
Pasal 6 HPN berfungsi:
a. Sebagai wadah berhimpun bagi setiap pengusaha Mikro, Kecil, Menengah dan Besar yang menyetujui asas dan prinsip perjuangan HPN;
b. Sebagai wahana meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha serta memperkokoh dan memperluas jaringan usaha anggotanya;
c. Sebagai sarana representasi pengusaha Nahdliyin; artikulasi dan agregasi kepentingan kewirausahaan; advokasi terhadap anggotanya dan pelaku usaha
4 umumnya; inkubasi bagi lahirnya pengusaha baru; serta pembinaan khusus bagi pengusaha Nahdliyin dan Indonesia;
BAB V
MAKSUD, TUJUAN DAN USAHA
Pasal 7
HPN bermaksud mendata, menghimpun dan mengembangkan kualitas, kapasitas dan jaringan usaha Pengusaha Nahdliyin;
Pasal 8
HPN bertujuan terwujudnya Pengusaha Nahdliyin yang berkarakter kuat, bermartabat, berdaya cipta, dan berdaya saing tinggi serta Beretika Bisnis Islami dalam wadah HPN yang profesional dalam rangka terwujudnya kemakmuran yang berkeadilan dan keadilan yang berkemakmuran bagi seluruh rakyat/umat dan meningkatnya Ketahanan Nasional Indonesia di tengah percaturan ekonomi regional dan Internasional;
Pasal 9
Untuk mewujudkan Tujuan dimaksud pada Pasal 8, HPN melakukan usaha-usaha:
a. Menghimpun dan mengelola data serta memberikan layanan informasi kewirausahaan di masing-masing tingkatan struktur organisasi secara sistematis, komprehensif, veripikatif, terkini, dan professional;
b. Mendorong, membina dan mengembangkan kemampuan, kegiatan dan kemitraan antar anggota dan kemitraan anggota dengan pengusaha/pihak lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan sumber daya;
c. Memprakarsai pendirian dan pengelolaan badan-badan usaha terutama Koperasi sesuai dengan kebutuhan peningkatan kualitas, kapasitas dan kesenergian usaha anggotanya;
d. Menyelenggarakan kegiatan dalam rangka meningkatkan daya kreasi, inovasi, dan daya saing serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha anggotanya dan pengusaha pada umumnya;
e. Mendorong tumbuh kembangnya wirausahawan Nahdliyin dan wirausahawan baru;
5 f. Membudayakan Etika Bisnis Islami dan tata kelola perusahaan profesional;
g. Menumbuh kembangkan fungsi sosial dan ekologi (sosioekoprenershif) pengusaha dan perusahaan;
h. Memberikan masukan-masukan kepada pemerintah disetiap tingkatannya dalam proses pembuatan kebijakan umum terutama yang berkenaan dengan Peraturan Perundang-undangan dan pembangunan ekonomi sesuai dengan aspirasi anggotanya dan dunia kewirausahaan;
i. Bekerjasama dengan pemerintah disetiap tingkatan dalam rangka menegakan Peraturan Perundang-undangan dan melaksanakan program-program pembangunan dibidang ekonomi dan kewirausahaan;
j. Melakukan advokasi terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban anggotanya dan pengusaha pada umumnya serta mewakili kepentingan anggotanya dalam berbagai forum dan kegiatan di pengadilan maupun di luar pengadilan, di dalam maupun di luar negeri;
BAB VI ETIKA BISNIS
Pasal 10
HPN memiliki Etika Bisnis Islam sebagai tuntunan moral dan perilaku yang mengikat bagi para anggotanya yang digali, dirumuskan, dan ditetapkan secara khusus dengan ketentuan-ketentuan diatur dalam Peraturan HPN;
BAB VII LAMBANG
Pasal 11
Lambang HPN terdiri dari Bola Dunia yang dipangku dan dibentengi formasi jalinan sinergis sembilan bintang yang tampak sebagai satu bintang dan logo HPN sebagai satu kesatuan dengan kombinasi warna putih, kuning sampai hijau tua;
6 BAB VIII
KEANGGOTAAN
Pasal 12
Setiap pengusaha yang telah memenuhi ketentuan tentang keanggotaan serta menyetujui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dapat diterima menjadi anggota HPN;
Pasal 13
Ketentuan mengenai keanggotaan serta hak dan kewajibannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
BAB IX
STRUKTUR ORGANISASI HPN
Pasal 14 (1) Struktur Organisasi HPN terdiri dari:
a. Di tingkat Pusat, dipimpin oleh Pengurus Pusat, disingkat PP;
b. Di tingkat propinsi, dipimpin oleh Pengurus Wilayah, disingkat PW;
c. Di tingkat kabupaten/kota, dipimpin oleh Pengurus Cabang, disingkat PC;
(2) Perwakilan HPN di Luar Negeri, dapat dibentuk struktur organisasi setingkat Pengurus Cabang, yaitu Pengurus Cabang Perwakilan, disingkat PCP;
Pasal 15
Ketentuan mengenai struktur organisasi HPN diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
BAB X
SUSUNAN KEPENGURUSAN HPN
Pasal 16
Susunan kepengurusan pada masing-masing tingkatan struktur organisasi HPN sebagaimana dimaksud pada pasal 14 Anggaran Dasar ini terdiri dari:
a. Dewan Kehormatan;
b. Dewan Pembina;
7 c. Dewan Pakar;
d. Dewan Pengurus;
Pasal 17
(1) Dewan Kehormatan adalah penegak kehormatan dan nama baik organisasi HPN serta mendorong diterapkan dan dilaksanakannya Asas, Prinsip Perjuangan, Sifat, Tujuan, Usaha dan Etika Bisnis Islami pada masing-masing tingkatan struktur organisasi HPN;
(2) Dewan Pembina adalah Pembina HPN agar berjalan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta mentaati nilai-nilai dan norma- norma Islam berhaluan Ahlusunnah Waljama’ah serta Peraturan Perundang- undangan yang berlaku pada masing-masing tingkatan struktur organisasi HPN;
(3) Dewan Pakar adalah dewan yang terdiri dari pakar-pakar berbagai disiplin keilmuan terkait yang memberikan masukan-masukan bersifat ilmiah dalam pengambilan dan pelaksanaan berbagai kebijakan HPN;
(4) Dewan Pengurus adalah Pimpinan Eksekutif HPN yang membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan strategis HPN;
Pasal 18 Kelengkapan Dewan Pegurus terdiri dari:
a; Di tingkat pusat disebut Departemen;
b; Di tingkat wilayah disebut Divisi;
c; Di tingkat cabang disebut Biro;
Pasal 19
Perangkat Dewan Pengurus dapat terdiri dari lembaga-lembaga dan badan-badan usaha yang bersifat mandiri, dan dikelola secara profesional disetiap tingkatan struktur organisasi HPN;
Pasal 20
Ketentuan mengenai kedudukan, tugas, dan kewenangan Dewan Kehormatan, Dewan Pembina, Dewan Pakar, dan Dewan Pengurus diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
8 BAB XI
PERMUSYAWARATAN
Pasal 21
(1) Jenis permusyawaratan HPN berdasarkan tingkatan struktur organisasi meliputi : a. Konferensi Nasional;
b. Konferensi Nasional Luar Biasa;
c. Musyawarah Kerja Nasional;
d. Musyawarah Pimpinan Nasional;
e. Konferensi Wilayah;
f. Konferensi Wilayah Luar Biasa;
g. Musyawarah Kerja Wilayah;
h. Musyarah Pimpinan Wilayah;
i. Konferensi Cabang;
j. Konferensi Cabang Luar Biasa;
k. Musyawarah Kerja Cabang;
l. Musyawarah Pimpinan Cabang;
(2) Ketentuan mengenai masing-masing jenis permusyawaratan HPN diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
BAB XII
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 22
(1) Pengambilan keputusan ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat;
(2) Dalam hal tidak dapat dicapai mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak;
Pasal 23
(1) Komposisi jumlah hak suara Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Pusat pada setiap tingkatan Konferensi ditetapkan secara proporsional;
(2) Pada Konferensi Nasional, proporsi jumlah hak suara:
9 a. Masing-masing Pengurus Cabang secara kolektif memiliki jumlah hak suara dihitung berdasarkan jumlah anggota yang berdomisili di kabupaten/kota asalnya dengan ketentuan : 50-100 anggota memiliki 1 (satu) hak suara; 101-200 anggota memiliki 2 (dua) hak suara; 201-300 anggota memiliki 3 (tiga) hak suara; dan seterusnya dengan jumlah maksimal memiliki 100 (seratus) hak suara;
b. Masing-masing Pengurus Wilayah secara kolektif memiliki hak suara setara dengan 3/5 (tiga perlima) dari jumlah keseluruhan hak suara Pengurus Cabang yang sah dan hadir dari wilayahnya masing-masing;
c. Pengurus Pusat secara kolektif memiliki hak suara setara dengan 2/5 (dua perlima) dari jumlah keseluruhan hak suara Pengurus Cabang yang sah dan hadir;
(3) Pada Konferensi Wilayah, proporsi jumlah hak suara :
a. Masing-masing Pengurus Cabang secara kolektif dihitung berdasarkan jumlah anggota yang berdomisili di kabupaten/kota bersangkutan dengan ketentuan sama dengan yang dimaksud pada poin a ayat (2) Pasal ini;
b. Pengurus Wilayah secara kolektif memiliki hak suara setara dengan 4/6 (empat perenam) dari jumlah keseluruhan hak suara Pengurus Cabang yang sah dan hadir;
(4) Pada Konferensi Cabang, proporsi jumlah hak suara:
a. Masing-masing Anggota memiliki 1 (satu) hak suara dengan batasan maksimal 250 hak suara anggota;
b. Bila lebih dari 250 hak suara anggota sebagaimana dimaksud pada poin a ayat ini, maka diberlakukan sistem perwakilan anggota dengan jumlah maksimal 250 hak suara dengan ketentuan diatur dalam Peraturan HPN;
c. Pengurus Cabang secara kolektif memiliki hak suara setara 3/7 (tiga per tujuh) dari jumlah keseluruhan hak suara anggota yang sah dan hadir;
(5) Perhitungan komposisi suara yang dimaksud pasal ini, diberlakukan pembulatan ke atas tanpa desimal;
10 BAB XIII
HIRARKI TATA URUTAN ATURAN HPN
Pasal 24
(1) Hirarki Tata Urutan Aturan HPN sebagai berikut:
a. Anggaran Dasar;
b. Anggaran Rumah Tangga;
c. Keputusan Permusyawaratan di tingkat nasional;
d. Peraturan HPN;
e. Kebijakan Pengurus Pusat;
f. Keputusan permusyawaratan di tingkat wilayah;
g. Kebijakan Pengurus Wilayah;
h. Keputusan Permusyawaratan di tingkat cabang;
i. Kebijakan Pengurus Cabang;
(2) Berdasarkan hirarki tata urutan aturan HPN dimaksud pasal ini, maka peraturan bawah harus mengacu dan tidak boleh bertentangan dengan peraturan diatasnya;
(3) Bila peraturan tingkat bawah ditetapkan dengan tidak mengacu serta bertentangan dengan peraturan-peraturan diatasnya maka peraturan dimaksud dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diberlakukan;
BAB XIV
KEUANGAN DAN KEKAYAAN
Pasal 25 Keuangan dan Kekayaan HPN diperoleh dari : a. Iuran dan sumbangan anggota;
b. Bagian dari keuntungan lembaga-lembaga dan badan-badan usaha yang dibentuk dan dikelola HPN sebagai perangkat organisasi;
c. Usaha lain yang dilakukan oleh HPN;
d. Sumbangan yang halal dan tidak mengikat;
e. Peralihan hak untuk dan atas nama HPN;
11 BAB XV
PEMBUBARAN
Pasal 26
(1) HPN hanya dapat dibubarkan oleh Konferensi Nasional yang diselenggarakan khusus untuk itu;
(2) Konferensi Nasional tersebut dalam ayat (1) pasal ini dinyatakan sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah Pengurus Wilayah dan dua pertiga dari jumlah Pengurus Cabang; dan putusan yang dihasilkan itu dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang-kurang dua pertiga suara yang hadir dalam Konferensi Nasional;
(3) Apabila terjadi pembubaran HPN, maka segala hak milik HPN diserahkan kepada organisasi kemasyarakatan yang sehaluan dan ditetapkan oleh Konferensi Nasional;
BAB XVI
ATURAN PERALIHAN
Pasal 27
Untuk pertama kali, Pengurus Pusat dibentuk oleh Pendiri HPN, Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Perwakilan dibentuk oleh Pengurus Pusat, Pengurus Cabang dibentuk oleh Pengurus Wilayah;
Pasal 28
Agar terbentuk kepengurusan yang definitif dan aspiratif, Pengurus Pusat Harus memenuhi kelengkapan dan struktur organisasi HPN sekurang-kurangnya disetengah plus satu dari jumlah Propinsi dan Kabupaten/Kota dan harus mengadakan Konferensi Nasional dalam tempo selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak tanggal pendirian HPN, demikian pula Pengurus Wilayah dan Cabang berkewajiban menyelengarakan Konferensi disetiap tingkatan masing-masing selambat-lambatnya 2 (dua) tahun setelah pembentukannya;
12 Pasal 29
Untuk pertama kali Anggaran Dasar HPN mulai berlaku sejak tanggal didirikannya HPN;
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 30
(1) Hal-hal yang belum diatur di dalam Anggaran Dasar ini diatur didalam Anggaran Rumah Tangga;
(2) Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah oleh Konferensi Nasional atau Konferensi Nasional Luar Biasa;
(3) Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan : Di Jakarta Pada tanggal : 9 Agustus 2016
Konferensi Nasional
Himpunan Pengusaha Nahdliyin I Jakarta Tahun 2016 Pimpinan Sidang Pleno III
Ketua Sekretaris
GSCB; Reza Fahlipi Bakhtiar, Ph;D Agung Syahputra