• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini merupakan sebuah referensi bagi peneliti yang melakukan penelitian agar peneliti dapat menentukan novelty ataupun gap research, sehingga dapat diperhitungkan sebagai dukungan tambahan pada saat

mengkaji pokok permasalahan yang akan diteliti. Pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh (Rhama, 2020) yang menyatakan bahwa strategi yang dilakukan oleh pemerintah setempat dalam mengembangkan kawasan pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Sebangau berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dengan cara melakukan sosialisasi dibidang pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial. Selain itu, pemerintah juga melakukan pembangunan pada sumber daya alam dengan membangun sarana prasarana tanpa mengubah kemurnian alam sebelumnya. Akan tetapi, strategi yang dijalankan tersebut terhambat oleh beberapa hal seperti kekurangan anggaran hingga kurangnya kesadaran akan potensi pariwisata yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Selanjutnya, adalah penelitian yang dilakukan oleh (Kawatak et al., 2020) menyatakan bahwa dalam mengembangkan kawasan pariwisata di Danau Mooat Sulawesi Utara, Pemerintah setempat melakukan peningkatan fasilitas dan aksebilitas, melakukan promosi dengan mengadakan acara tahunan bertajuk Festival Danau Mooat, serta mengajak masyarakat setempat dengan membentuk kelompok sadar wisata dalam pengelolaan lingkungan kawasan pariwisata. Hasil penelitian tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh (Setiono et al., 2021) yang menyatakan bahwa Pemerintah Kota Semarang dalam mengembangkan kawasan pariwisata adalah dengan memaksimalkan kebijakan yang ada yaitu Perda No 5 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kota Semarang. Beberapa strategi yang dijalankan yaitu dengan membentuk program Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar masyarakat dapat

(2)

16 terlibat secara langsung dalam menciptakan kawasan pariwisata berkelanjutan.

Selain itu, Pemerintah Kota Semarang juga bekerja sama dengan Association of The Indonesian Tours and Travel sebagai bagian dari promosi pariwisata yang ada di Kota Semarang.

Penelitian yang dilakukan oleh (Pratama et al., 2021) mengungkapkan bahwa kawasan Kampung Adat Cireundeu telah memiliki potensi dari beberapa aspek seperti keindahan alam dan budaya yang dimiliki. Akan tetapi, kawasan tersebut masih belum bisa dikatakan sebagai pariwisata yang berkelanjutan karena belum memenuhi beberapa prinsip dari pariwisata berkelanjutan itu sendiri. Maka dari itu diperlukan adanya pembenahan dari segi sumber daya manusia baik itu dari sisi pelayanan, program, promosi dan yang lainnya. Hasil penelitian tersebut hampir sama dengan apa yang diteliti oleh (Junaid et al., 2019) yang mengungkapkan bahwa Pulau Maratua telah memberikan keuntungan pada masyarakat setempat yang ada dikawasan tersebut. Akan tetapi, kondisi pulau maratua pada saat ini cukup memprihatinkan dikarenakan masih terdapat penyelewangan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah tidak pada tempatnya dan yang lainnya. Sehingga diperlukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar Pulau Maratua terkait dengan makna dan arti pariwisata berkelanjutan yang nantinya akan memberikan kesejahteraan pada masyarakat itu sendiri. (Budiani et al., 2018) mengutarakan bahwa Desa Sambungan memiliki beberapa potensi pariwisata seperti wisata alam dan wisata buatan.

Selain memiliki potensi akan objek wisata, masyarakat sekitar kawasan pariwisata mempunyai sifat yang ramah dengan budaya yang masih cukup kental yang bisa menambah nilai plus objek wisata. Akan tetapi, seluruh objek wisata tersebut masih memerlukan beberapa aspek dalam pengelolaan pariwisata agar dapat menciptakan pariwisata berkelanjutan terutama dalam hal mengembangan SDM yang ada agar mampu berpartisipasi dalam pengelolaan pariwisata yang sudah ada dengan maksimal. Hasil penelitian tersebut memiliki

(3)

17 perbedaan dengan apa yang diteliti oleh (Wijaya & Sudarmawan, 2019) yang mengemukakan bahwa Kawasan Wisata Ceking dikelola oleh desa adat sebagai pemimpin utama dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut dari tanggal 10 Maret 2012, sedangkan pemerintah berperan sebagai mitra dalam pengelolaannya.

Seluruh masyarakat yang berpartisipasi diikutkan dalam program pemberdayaan masyarakat dengan tujuan agar mampu mendapatkan kekuatan dan juga kemampuan dalam mengambil keputusan terkait dengan pengelolaan pariwisata.

Dengan adanya keterlibatan dari seluruh masyarakat, maka akan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih banyak sehingga dapat menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat sebagai subjek utama pengelola kawasan pariwisata.

Pada hasil yang diteliti oleh (Bagasta et al., 2021) menyampaikan bahwa Desa Sumberagung memiliki setidaknya 3 potensi pariwisata diantaranya adalah wisata alam, buatan dan edukasi yang ketiga potensi tersebut dapat menarik kunjungan para wisatawan yang bisa melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Akan tetapi, dalam pengelolaannya masih kurang optimal dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang memilih untuk berprofesi sebagai petani sehingga objek wisata tidak dapat terpelihara dengan baik. Hasil penelitian tersebut hampir sama dengan apa yang diteliti oleh (Ringa, 2020) yang menyampaikan bahwa pembangunan pada sektor pariwisata merupakan satu program yang utama yang diutarakan oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2018 hingga dengan tahun 2023. Akan tetapi, dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan di Kota Kupang masih belum maksimal dikarenakan pemerintah masih sangat berkuasa atas pengelolaan pada sektor pariwisata sehingga dalam hal ini masyarakat belum sepenuhnya ikut berparisipasi. Dari dua kasus diatas, diperlukan pemberdayaan kepada masyarakat akan makna dari pariwisata berkelanjutan sehingga mampu mengelola kawasan wisata dan melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat itu sendiri melalui sektor pariwisata.

Selanjutnya adalah hasil yang diteliti oleh (Priyanto et al., 2018) menyampaikan bahwa Candi Borobudur merupakan satu diantara sekian banyak

(4)

18 pariwisata yang paling diminati oleh para wisatawan. Selain itu objek wisata ini juga menjadi alat pelestarian sejarah agama budha dipulau jawa. Jika melihat berbagai aspek yang ada, objek wisata Candi Borobudur memiliki dampak positifnya seperti dapat melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat, meningkatkan pendapatan dari pemerintah daerah bahkan meningkatkan devisa negara. Namun, dalam pengelolaannya, objek wisata tidak dapat terhindar dari berbagai permasalahan seperti aktivitas para wisatawan yang berkunjung yang membuang sampah sembarangan hingga mencoret-coret salah satu warisan sejarah tersebut.

Dalam menerapkan pariwisata berkelanjutan di objek wisata Candi Borobudur, pengelola objek wisata ini melakukan beberapa hal yang sangat penting untuk dilakukan yang dapat menjadi referensi bagi siapapun yang ingin menerapkan pariwisata berkelanjutan, hal penting tersebut adalah keberlanjutan ekonomi dimana pengelola objek wisata ini mengadakan kerjasama dengan beberapa korporasi seperti pemerintah, perusahaan atau organisasi lainnya, pengelola juga melakukan promosi dengan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata bahkan mengikuti kegiatan internasional dalam sektor kebudayaan dan kepariwisataan. Selanjutnya, pengelola juga melakukan keberlanjutan ekologi dimana para pengelola objek wisata ini meneliti dan mengkaji analisis mengenai dampak lingkungan yang ada di Candi Borobudur. Pengelola meneliti dan mengkaji bagaimana akibat dari seluruh efek kegiatan operasional pariwisata yang ada di objek wisata ini serta bagaimana akibat dari iklim dan lingkungan terhadap objek wisata ini.

Selain yang sudah disebutkan, pengelola juga melakukan keberlanjutan budaya dimana dalam hal ini pengelola melakukan kerjasama dengan masyarakat local berupa program pelatihan seperti seni tari yang kemudian akan ditampilkan dalam pameran kebudayaan yang biasanya dilakukan sebanyak 1 kali dalam kurun waktu 2 tahun. Seluruh kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat wisatawan untuk dapat berkunjung ke objek wisata ini. Selanjutnya, pengelola juga melakukan keberlanjutan masyarakat setempat

(5)

19 seperti pelatihan dan pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat local, dan memberikan insentif keuangan kepada siapapun yang ingin membuka usaha di kawasan wisata Candi Borobudur.

B. Kajian Teori 1. Strategi

Menurut Pearce dan Robinson, Strategi merupakan sebuah rencana yang berskala besar dan memiliki orientasi terhadap masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan kepada masa depan agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu instasi atau organisasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, strategi adalah suatu keputusan yang dirumuskan berdasarkan dengan tinjauan terhadap factor internal dan eksternal yang dalam pengimplementasiannya dibutuhkan alokasi sumber daya yang memadai. Hal tersebut agar strategi dapat berjalan efektif untuk mencapai tujuannya (Aprizal, 2018).

Siagian (2004) mengungkapkan bahwa strategi merupakan sebuah keputusan dan juga tindakan yang mendasar yang dari manajemen suatu organisasi yang akan diimplementasikan oleh seluruh sumber daya organisasi supaya mampu mendapatkan tujuan yang telah diputuskan sebelumnya.

Selanjutnya, Hamel dan Prahalad mengungkapkan bahwa strategi merupakan sebuah tindakan yang memiliki sifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus. Strategi dibuat melalui sudut pandang mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh para pelanggan di masa depan (Sutirna, 2021).

Strategi dalam pengembangan sektor pariwisata adalah sebuah rencana yang diselenggarakan oleh pemerintah dibidang pariwisata. Rencana tersebut dibutuhkan sebagai pedoman dalam keberhasilan pelaksanaan pembangunan dilapangan. Rencana Strategi Pembangunan Pariwisata yang

(6)

20 disusun oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan penjabaran dari tugas dan fungsi pemerintah dibidang pariwisata yang didalamnya terdapat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan. Dalam penyusunannya dokumen ini dibahas dan dikoordinasikan bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional serta Kementrian Keuangan dalam suatu forum yang dikenal dengan Trilateral Meeting (Noordiana & Wilsna, 2020).

2. Pengembangan Pariwisata

Sugono dkk (2008:679) mengungkapkan bahwa kata pengembangan memiliki pengertian pembangunan yang dilakukan secara teratur dan bertahap yang menuju pada sasaran yang telah ditetapkan.

Kemudian, Suswantoto (1997:120) mengemukakan bahwa pengembangan memiliki tujuan untuk meningkatkan sebuah produk maupun pelayanan yang lebih seimbang, bertahap dan memiliki kualitas yang lebih baik. Selanjutnya, Poerwadarminta (2002:474) mengatakan bahwa pengembangan merupakan sebuah proses atau alat yang digunakan untuk menjadikan segala sesuatu berubah menjadi lebih baik, lebih maju, dan berguna bagi masyarakat banyak.

Dari definisi tersebut, pengembangan memiliki arti sebagai pembangunan yang dilakukan secara terus menerus hingga mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Paturusi (2001), pengembangan yang dilakukan pada kawasan pariwisata adalah sebuah strategi yang dilakukan untuk membuat kawasan wisata menjadi lebih baik dan lebih maju serta dapat meningkatkan suatu daya tarik wisata sehingga dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Selain itu, pengembangan pada kawasan pariwisata diharapkan mampu memberikan keuntungan dan juga manfaat bagi wisatawan yang berkunung, investor, pemerintah dan masyarakat setempat. Mill (2000;168) mengungkapkan bahwa pada dasarnya pengembangan yang dilakukan pada sektor pariwisata memiliki

(7)

21 tujuan untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal dan mengurangi berbagai permasalahan yang ada (Amerta, 2019)

Selanjutnya (Lee & Jan, 2019) mengutarakan bahwa pengembangan yang dilakukan pada sektor pariwisata telah dipahami sebagai suatu metode yang cukup berhasil untuk penyegaran ekonomi didaerah destinasi pariwisata baik itu yang ada dipedesaan maupun perkotaan. (Atun, 2019) mengungkapkan bahwa pembangunan yang dilakukan untuk mengembangkan sektor pariwisata harus berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan serta sosial budaya agar memiliki efek yang positif kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar pariwisata. (Barkaukas, 2015) mengatakan bahwa pengembangan pada sektor pariwisata dapat dikatakan berhasil apabila menghasilkan manfaat pada sisi ekonomi yaitu dapat mengatasi angka pengangguran masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan ekonomi, keterlibatan masyarakat, serta promosi dan kewirausahan dari masyarakat setempat (Roziqin & Syarafina, 2021).

Pengembangan yang dilakukan pada kawasan wisata mampu untuk meminimalisir peluang urbanisasi pada masyarakat yang berada dipedesaan ke perkotaan. Hal ini dikarenakan pengembangan pariwisata mampu membuka lapangan pekerjaan kepada masyarakar banyak yang akhirnya menciptakan kegiatan ekonomi pada masyarakar itu sendiri. Pengembangan pariwisata dapat dilakukan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia yang nantinya akan menciptakan pembangunan sosial budaya dan ekonomi pada masyarakat kawasan pariwisata (Longkul et al., 2020).

Adapun tujuan pengembangan kepariwisataan yang termaktub dalam Undang-Undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan adalah untuk :

a. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

b. Meningkatkan kesejahteraan rakyat.

c. Menghapus kemiskinan.

(8)

22 d. Mengatasi pengangguran.

e. Melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya.

f. Memajukan kebudayaan.

g. Mengangkat citra bangsa.

h. Memupuk rasa cinta tanah air.

i. Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan j. Mempererat persahabatan antar bangsa.

3. Pariwisata Berkelanjutan

Sharpley (2006) mengemukakan bahwa tujuan dasar dari pariwisata berkelanjutan yaitu untuk mencapai keselarasan antara lingkungan yang ada dikawasan pariwisata dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat dan juga apa yang dibutuhkan oleh wisatawan yang berkunjung.

Dengan kata lain, tujuan dari pencapaian pariwisata berkelanjutan adalah : a. Tujuan Pembangunan

Memiliki fokus terhadap peningkatan ekonomi melalui pendekatan akar rumput untuk pembangunan yang berfokus terhadap kepuasan kebutuhan dasar dari masyarakat.

b. Tujuan lingkungan atau berkelanjutan

Adalah untuk melestarikan dan melindungi lingkungan terutama melestarikan sumber daya yang tak terbarukan.

Prinsip pariwisata berkelanjutan mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan yang didefinisikan oleh The World Tourism Organization (UNWTO) adalah pariwisata yang mempertimbangkan secara

menyeluruh dampak dari ekonomi, social dan lingkungan dimasa ini dan dimasa depan serta menjawab kebutuhan para wisatawan, industri pariwisata, lingkungan, dan masyarakat setempat yang ada di suatu kawasan pariwisata (Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2014). Tujuan dari pariwisata berkelanjutan adalah untuk mengurangi kemisikanan dengan tetap

(9)

23 memberikan penghormatan terhadap social budaya yang nyata dan menggunakan sumber daya lingkungan dengan penuh tanggung jawab serta melakukan pemberdayaan kepada masyarakat setempat agar mampu berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata dan mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan pariwisata (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2012). (Sulistyadi et al., 2019)

Pariwisata berkelanjutan adalah suatu pembangunan yang dilakukan pada sektor pariwisata yang merupakan sebuah upaya terpadu dan tersusun secara matang untuk meningkatkan kualitas hidup dengan mengatur pasokan, pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan sumber daya alam dan budaya yang berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pengembangan pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan sekaligus menunjukkan kelestarian lingkungan dan memberi manfaat baik itu bagi untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Untuk dapat menciptakan kawasan pariwisata berkelanjutan dibutuhkan keterlibatan antara pemerintah sebagai pemangku kebijakan beserta pihak swasta dan masyarakat.

Masyarakat dilibatkan karena memiliki informasi dan pengetahuan yang lebih objektif yang ada di kawasan pariwisata daerahnya. Dengan demikian, pembangunan pariwisata berkelanjutan bukan hanya mengenai isu lingkungan saja melainkan juga terdapat isu demokrasi, hak asasi manusia, dan isu lain yang lebih luas (Sulistyadi et al., 2021)

Chan (2010), Sharpley (2009), Hoppstadius & Sandell (2018) mengemukakan bahwa Konsep pembangunan dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan diresmikan pada tahuin 1990 pada Konferensi Organisasi Pariwisata Dunia. Organisasi Pariwisata Dunia beserta Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa pengembangan pariwisata yang berkelanjutan adalah suatu kegiatan yang didalamnya sangat memprediksi dampak yang akan datang seperti ekonomi, sosial dan juga lingkungan baik itu dimasa sekarang maupun yang akan datang, memenuhi

(10)

24 kebutuhan wisatawan serta masyarakat setempat. Chan (2010), Sharpley &

Ksatria (2009) mengutarakan bahwa Dalam pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan memerlukan rencana yang menyeluruh yang melibatkan seluruh pihak dengan berbagai cara yang dapat melahirkan dampak positif terhadap ekonomi, lingkungan, sosial, budaya, politik dan sektor industry lainnya (Lopes et al., 2020)

Eber (1992) mengutarakan bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan pariwisata dan infrastruktur yang sesuai pada masa yang sekarang dan dimasa yang akan datang yang disajikan sesuai dengan kapasitas alam dengan tujuan untuk regenerasi dan produktivitas sumber daya alam dimasa depan. Pariwisata berkelanjutan mengakui kontribusi yang diberikan oleh masyarakat, adat istiadat, dan gaya hidup untuk pengalaman wisata.

Swartbrooke (1999) pariwisata berkelanjutan hadir lewat penekanan yang datang pada pentingnya elemen ekonomi, alam dan sosial dari system pariwisata. Pariwisata berkelanjutan berarti pariwisata yang layak secara ekonomi namun tidak merusak sumber daya yang sudah ada yang dimana sumber daya tersebut merupakan daya tarik wisata. Sumber daya yang dimaksud adalah lingkungan fisik hingga materi sosial budaya dari masyarakat setempat (Panić et al., 2018)

WTO (1993) mengungkapkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan pada sektor pariwisata harus memperhatikan tiga prinsip dasar keberlanjutan yaitu ekologi, sosial dan budaya, serta ekonomi. Pariwisata berkelanjutan dapat dicapai jika memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya budaya serta sumber daya manusia dengan baik yang akan melahirkan dampak positif bagi ekonomi secara adil dan merata. Selanjutnya, prinsip- prinsip dari pariwisata berkelanjutan diantaranya adalah sebagai berikut : a. Menjaga kualitas lingkungan

b. Memberikan manfaat bagi masyarakat local dan wisatawan c. Menjaga hubungan antara pariwisata dan lingkungan

(11)

25 d. Menjaga keharmonisan antara masyarakat setempat dan lingkungan yang

ada

e. Menciptakan kondisi dinamis yang sesuai dengan daya dukung

f. Semua pemangku kepentingan harus bekerjasama dalam misi yang sama untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan

Pada dasarnya pariwisata berkelanjutan merupakan suatu pembangunan yang dilakukan pada sektor pariwisata dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi pada masyarakat, yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka yang dapat diperoleh dengan meminimalisir dampak negatif dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbarukan (Amerta et al., 2018).

4. Pariwisata Berbasis Masyarakat

Pariwisata berbasis masyarakat adalah salah satu jenis pariwisata yang pada pengelolaan dan pengembangannya dikendalikan oleh masyarakat lokal yang nantinya manfaat dari kegiatan kepariwisataan tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Karakteristik dari pariwisata berbasis masyarakat adalah adanya pendidikan dan interpretasi sebagai bagian dari produk wisata yang dimiliki. Pariwisata berbasis masyarakat memiliki tujuan diantaranya adalah meminimalisir dampak negative terhadap alam dan lingkungan sosial budaya serta mendukung upaya perlindungan terhadap alam (Hausler dan Strasdas, 2002).

Dari definisi yang telah disampaikan bahwa konsep pariwisata berbasis masyarakat memiliki berbagai prinsip diantaranya adalah :

a. Prinsip Partisipasi Masyarakat

Pariwisata berbasis masyarakat menjadikan masyarakat sebagai subjek utama dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan pariwisata yang dimiliki. Hal ini berarti masyarakat dapat berperan secara aktif untuk

(12)

26 menciptakan kawasan wisata yang dimiliki menjadi lebih baik kedepannya melalui program, visi dan misi yang telah ditentukan sebelumnya.

b. Prinsip Pendidikan (Edukasi)

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa pariwisata berbasis masyarakat memiliki karakteristik salah satunya adalah pendidikan sebagai bagian dari produk wisata. Dalam hal ini masyarakat memiliki kemampuan dibidang pendidikan atau edukasi yang nantinya akan diperkenalkan kepada para wisatawan yang berkunjung. Produk pendidikan atau edukasi tersebut dapat menjadi nilai lebih bagi para wisatawan untuk dapat berkunjung ke sebuah kawasan wisata.

c. Prinsip Konservasi Alam

Pariwisata berbasis masyarakat memiliki manfaat terhadap lingkungan diantaranya adalah mendorong pemanfaatan berkelanjutan serta perlindungan terhadap sumber daya alam yang sensitive dan juga mendukung pemanfaatan sumber daya alam secara tidak konsumtif (Tasic, 2013). Dari definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pariwisata berbasis masyarakat dapat mengambil manfaat terhadap alam dengan merawat, menjaga, dan mengelola lingkungan untuk dapat dinikmati oleh masa yang sekarang dan dimasa yang akan datang.

d. Prinsip Konservasi Budaya

Dalam bidang sosial budaya, pariwisata berbasis masyarakat mampu meningkatkan kapasitas SDM lokal lewat upaya pelatihan dan pendidikan, mendukung kelembagaan masyarakat lokal terkait peningkatan kapasitas, membangun relasi dan juga partisipasi mereka dalam pengembangan kawasan wisata yang dimiliki, serta menciptakan tata Kelola kepariwisataan yang baik melalui peran masyarakat dalam perencanaan disemua tingkatan.

e. Prinsip Ekonomi Lokal

(13)

27 Jika dilaksanakan dengan baik, pariwisata berbasis masyarakat mampu memucnulkan manfaat ekonomi diantaranya mengentaskan kemiskinan, memulihkan kondisi ekonomi, dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui keuntungan usaha dan kesempatan kerja untuk masyarakat lokal. Pariwisata berbasis masyarakat juga mampu menciptakan relasi antar sektor yang dapat menciptakan pasar produk kepariwisataan. Selain itu juga pariwisata berbasis masyarakat juga mampu berkontribusi untuk menyeratakan pembangunan, menghapus ketergantungan ekonomi terhadap sektor tertentu, dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan (Arida, 2017).

Referensi

Dokumen terkait

No Judul Jenis Karya Penyelenggara/ Penerbit/Jurnal Tanggal/ Tahun Ketua/ Anggota Tim Sumber Dana Keterangan 1 NA NA NA NA NA NA NA GL. KEGIATAN

dalam rangkaian acara yang digelar hingga 12 Februari ini juga terdapat prosesi pengangkatan jabatan yang dilakukan langsung oleh Dirut Sumber Daya Manusia

Potongan harga merupakan diskon produk atau harga marginal rendah yang diberikan untuk mempengaruhi konsumen dalam berbelanja agar lebih impulsif Iqbal

Penelitian sekarang dilakukan oleh Wisnu Aditya Nurkamal untuk menguji ulang pengaruh dimensi gaya hidup terhadap keputusan pembelian dengan menggunakan objek yang berbeda dengan

Besar kecil profitabilitas yang didapatkan suatu perusahaan akan memengaruhi nilai perusahaan dengan melihat profitabilitas sebagai ukuran dan kinerja perusahaan

Kompensasi individu adalah kemampuan dan keterampilan melakukan kerja.Kompensasi setiap orang mempengaruhi oleh beberapa faktor yang dapa di kelompokkan dalam 6

Sedangkan menurut Handoko (dalam Sutrisno 2009 : 75) “kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para karyawan

a. Asas Likuiditas, asas yang mengharuskan koperasi untuk tetap menjaga tingkat likuiditasnya, karena suatu koperasi yang tidak likuid akibatnya akan sangat parah yaitu