ii Skripsi ini telah disetujui pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 04 Februari 2009
Semarang, 05 – 02 – 2009. Pemohon,
Widagdo Eko Wartono.
NIM : 6101907133
Mengesahkan :
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Tri Rustiadi, M.Kes. Drs. Bambang Priyono, M.Pd. NIP : 131 876 221 NIP : 131 571 552
Mengetahui : Ketua Jurusan PJKR
iii
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang pada :
Hari : Sabtu
Tanggal : 21 Maret 2009
Pukul : 10.00 WIB
Tempat : Laboratorium FIK UNNES
Panitia Ujian :
Ketua, Sekretaris,
Drs. M. Nasution, M.Kes. Dra. Henny Setyawati, M.Si. NIP : 131 876 219 NIP : 132 003 071
Dewan Penguji :
1. Drs. Hermawan Pamot Rahardjo, M.Pd. ( Ketua ) NIP. 131 961 216
2. Drs. Tri Rustiadi, M.Kes. ( Anggauta ) NIP. 131 876 221
iv
MOTTO :
• Rumahku adalah surgaku • Keluargaku adalah hartaku
PERSEMBAHAN :
* Kepada Istri, anak dan kedua orang tua tercinta, * Mahasiswa PJKR PGSM 2007,
v
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya atas ijin dan petunjuk-Nya saja maka skripsi ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan skripsi ini, saya banyak menerima bantuan dari beberapa pihak. Untuk itu saya menyampaikan terima kasih kepada :
1. Dekan Fakultas ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Bapak Drs . Harry Pramono M. Si. , yang telah memberikan ijin penelitian,
2. Ketua Jurusan Pendidikan Jasmani , Kesehatan dan Rekreasi , Bapak Drs. Hermawan Pamot Rahardjo, M.Pd. , yang telah memberikan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini,
3. Dosen Pembimbing , Bapak Drs. Tri Rustiadi M. Kes. dan Bapak Drs. Bambang Priyono , M. Pd. yang telah memberikan penjelasan, bimbingan dan pengarahan dalam pembuatan skripsi ini,
4. Dosen – dosen PJKR , yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan, 5. Kepala SMP Negeri I Semarang , selaku atasan , yang telah memberikan ijin belajar dan fasilitas – fasilitas pendukungnya,
6. Kepala Sekolah dan Guru – guru SMP non Pendidikan Jasmani di Kecamatan Semarang utara,
7. Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati, saya siap menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, Februari 2009.
vi
PENDIDIKAN JASMANI SMP DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG ”.
Bagaimana persepsi Guru-guru non Pendidikan Jasmani SMP di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang terhadap kinerja Guru-guru Pendidikan Jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang ?
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti persepsi Guru-guru non Pendidikan Jasmani terhadap kinerja Guru-guru Pendidikan Jasmani.
Metode penelitian ini yaitu dengan menggunakan angket atau kuesioner. Populasinya adalah seluruh Guru non Pendidikan Jasmani SMP di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang sejumlah 150 orang. Data dalam penelitian ini berupa jawaban angket atau kuesioner. Variable dalam penelitian ini yaitu persepsi Guru-guru non Pendidikan Jasmani terhadap kinerja Guru-guru Pendidikan Jasmani. Data dianalisa dengan menggunakan tekhnik deskriptif kualitatif dengan analisa statistik prosentasi, dimana data yang diperfoleh dihitung dan divisualisasikan.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa persepsi Guru-guru non Pendidikan Jasmani terhadap kinerja Guru-guru Pendidikan jasmani mencapai 83,91 % yang termasuk kategori baik. Aspek kepribadian 93,50 % dengan kategori baik, Aspek paedagogik 82,67 % dengan kategori baik, Aspek profesional 78,83 % dengan kategori baik, dan Aspek sosial 82,07 % dengan kategori baik.
vii
Halaman
JUDUL ... i
PERSETUJUAN ... ii
PENGESAHAN ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
SARI ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR LAMPIRAN 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 11
1.3.Tujuan Penelitian ... 11
1.4.Manfaat Penelitian ... 12
1.5.Penegasan Istilah ... 12
1.5.1. Persepsi ... 12
1.5.2. Guru – guru non Pendidikan Jasmani ... 13
1.5.3. Kinerja ... 14
1.5.4. Guru – guru Pendidikan Jasmani ... 14
viii
2.3. Kepribadian Guru ... 22
2.4. Pendidikan Jasmani ... 23
2.4.1. Pengertian Pendidikan Jasmani ... 23
2.4.2. Tujuan Pendidikan Jasmani ... 24
2.5. Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani ... 25
2.6. Analisis Tugas ... 27
3. METODE PENELITIAN ……… 32
3.1.Populasi ………. 32
3.2.Sampel ……… 32
3.3.Variabel Penelitian ………. 33
3.4.Tekhnik Pengumpulan Data ……… 33
3.5.Analisis Uji Instrumen ……… 34
3.5.1. Validitas Data ………. . 34
3.5.2. Reliabilitas Data ……….. . 35
3.6.Tekhnik Analisis Data ……… 35
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. 38
4.1.Hasil Penelitian ……… 38
4.1.1. Validitas ………. 38
ix
4.1.3.1.Analisa Deskriptif per Aspek ... 38
4.1.3.2.Analisa Deskriptif per Indidkator ... 40
4.1.3.3.Analisa Deskriptif per Responden ... 42
4.2. Pembahasan ... 43
4.2.1. Kepribadian ... 43
4.2.2. Kompetensi Pedagogik ... 45
4.2.3. Kompetensi Profesional ... 45
4.2.4. Kompetensi Sosial ... 47
5. PENUTUP ... 48
5.1.Kesimpulan ... 48
5.2.Saran ... 49
x
1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Penelitian ……….. 51
2. Perhitungan Validitas Angket ……….. 53
3. Perhitungan Reliabilitas Angket ……… 54
4. Kisi – kisi Kuesioner ………. … 55
5. Kuesioner ………... 59
6. Tabel Data Persepsi ……….. 64
7. Penentuan Kriteria Deskriptif per item ... 68
8. Penentuan Kriteria Deskriptif per Responden ... 69
9. Tabel rekapitulasi hasil analisa deskriptif per aspek ... 70
10. Tabel rekapitulasi hasil analisa deskriptif per indikator ... 71
11. Diagram rekapitulasi hasil analisa deskriptif per indikator ... 72
12. Tabel dan Diagram rekapitulasi hasil analisa deskriptif per responden .. 73
13. Hasil analisis deskriptif per responden ... 74
14. Surat usul penetapan Dosen Pembimbing ... 78
15. Surat penetapan Dosen Pembimbing ... 79
16. Surat permohonan ijin penelitian ... 80
17. Surat Keterangan dari SMP Negeri 25 Semarang ... 81
18. Surat Keterangan dari SMP Hasanudin I Semarang ... 82
19. Surat Keterangan dari SMP Muhammadiyah 5 Semarang ... 83
1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.
Masalah guru merupakan topik yang tidak habis-habisnya dibahas dalam berbagai seminar, diskusi, dan workshop untuk mencari berbagai alternatif pemecahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dilingkungan sekolah. Hal ini disebabkan karena guru , berdasarkan sejumlah penelitian pendidikan, diyakini sebagai salah satu faktor yang dominan dalam menentukan tingkat keberhasilan anak didik dalam melakukan proses transformasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta internalisasi etika dan moral. Karena itu, tidaklah berlebihan apabila masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan selalu mengarahkan perhatianya pada aspek yang berkaitan dengan guru dan keguruan.
lakukan adalah menyiapkan sosok guru masa depan yang sesuai dengan tuntutan reformasi pendidikan yang sekarang ini tengah bergulir.
Selain dihadapkan dengan berbagai persoalan internal, guru juga mendapat dua tantangan eksternal, yaitu pertama, krisis etika dan moral anak bangsa, dan kedua, tantangan masyarakat global. Krisis etika dan moral yang berpuncak pada kerusuhan bulan mei 1998 telah memporakporandakan tata nilai agama dan masyarakat. Etika dan tata karma yang dijunjung tinggi selama ini telah berubah menjadi bahan retorika belaka, sedangkan dalam dunia nyata, nilai-nilai tersebut telah berganti dengan budaya-budaya anarkhis, kekerasan, dan amoral.
Era globalisasi yang sebentar lagi kita masuki akan ditandai dengan berbagai kata kunci seperti kompetisi, transparansi, efisiensi, kualitas tinggi, dan profesionalisasi. Disamping itu, masyarakat global akan menjadi sangat peka dan peduli terhadap masalah-masalah demokrasi, hak asazi manusia, dan isu lingkungan hidup. Karena itu, peran guru masa depan harus diarahkan untuk mengembangkan tiga intelegensi dasar anak didik, yaitu intelektual, emosional, dan moral. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut, maka sosok guru masa depan harus mampu bekerja secara profesional.
( continuous improvement ) melalui organisasi-organisasi profesi, internet, buku, seminar dan semacamnya. Dengan persyaratan semacam ini, maka tugas guru bukan lagi knowledge based, seperti yang sekarang dilakukan, tetapi lebih bersifat
competicy based, yang menekankan pada penguasaan secara optimal konsep keilmuan dan perekayasaan yang berdasarkan nilai-nilai etika dan moral. Konsekwensinya, seorang guru tidak lagi menggunakan komunikasi satu arah seperti yang selama ini dilakukan, melainkan menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga terjadi komunikasi dua arah secara demokratis antara guru dan murid. Kondisi ini diharapkan dapat menggali potensi kreatifitas anak didik.
Dengan profesionalisasi guru, maka guru masa depan tidak lagi hanya tampil sebagai pengajar ( teacher ) , seperti fungsinya yang menonjol selama ini, namun juga harus bisa berperan sebagai Pembimbing ( conselor ), dan manager belajar ( learning manager ).
1. Sebagai pembimbing / konselor, guru akan berperan sebagai sahabat siswa, menjadi teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa.
2. Sebagai manager belajar, guru akan membimbing siswanya untuk belajar, mengambil prakarsa, dan mengeluarkan ide-ide baik yang dimilikinya.
Kurikulum pendidikan nasional masa depan dikembangkan berdasarkan kompetensi dasar ( competency – based curriculum ). Dalam konsep ini, kurikulum disusun berdasarkan kemampuan dasar minimal yang harus dikuasai seorang peserta didik setelah yang bersangkutan menyelesaikan satu unit pelajaran, satu satuan waktu, dan atau satuan pendidikan.
Materi kurikulum pendidikan masa depan harus ditekankan pada mata pelajaran yang sanggup menjawab tantangan global dan perkembangan iptek yang sangat cepat. Karena itu, pelajaran ilmu – ilmu dasar, yaitu matematika dan IPA
menjadi inti pengembangan kurikulum disetiap jenis jenjang pendidikan. Sejalan dengan itu, mata pelajaran yang menjadi dasar keseluruhan perkembangan kepribadian peserta didik, yaitu olahraga dan kesenian juga perlu mendapatkan penekanan yang berimbang dalam kurikulum pendidikan nasional. Kedua mata pelajaran ini akan membentuk fisik yang kuat, jiwa sportif dan demokratis, sifat kreatif dan inovatif, serta jiwa apresiatif terhadap karya – karya besar bangsa yang merupakan landasan bagi pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas. Tentu saja kesemua materi kurikulum yang dikembangkan harus berlandaskan pendidikan moral dan etika, yang dikembangkan dalam mata pelajaran pendidikan agama, serta mata pelajaran yamg relevan.
Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut dan atas dasar isue – isue yang berkembang, yang menyatakan kurang baiknya kinerja guru – guru pendidikan jasmani , maka kami akan melakukan penelitian untuk memperoleh kebenaran tentang isue – isue tersebut melalui penelitian tentang persepsi guru - guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru pendidikan jasmani di kecamatan Semarang utara, kota Semarang yaitu di SMP Negeri 25 Semarang, SMP Theresiana Tanah Mas, SMP Hasanudin I Semarang dan SMP Muhammadiyah 5 Semarang.
Hasil survey pendahuluan secara acak ( random ) di 2 sekolah yaitu di SMP. Negeri 25 Semarang dan di SMP Theresia Tanah Mas, Semarang menunjukkan hasil sebagai berikut :
Jawaban
Pertanyaan 1. Baik Baik Sedang kurang sekali
Menurut Bapak / Ibu, bagaimanakah kinerja guru penjas yang Bapak / Ibu
ketahui ? 3 25 - 2
Pertanyaan 2 Jawaban Ya Tidak
Bagaimanakah pendapat Bapak / ibu mengenai pelajaran pendidikan jasmani.
. Apakah penting bagi anak didik ? 26 4
Jumlah 30
Pertanyaan 3. Jawaban
Sudah Belum Menurut penilaian Bapak / Ibu, apakah Guru
pendidikan jasmani sudah menunjukkan
kinerja yang profesional ? 27 3
Jumlah 30
Dari hasil angket tersebut, didapat prosentasi sebagai berikut : 1. Pertanyaan 1 :
Dari data tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja guru pendidikan jasmani SMP di kecamatan Semarang Utara dalam kategori baik.
2. Pertanyaan 2 :
Dari 30 responden, guru non pendidikan jasmani yang berpendapat bahwa mata pelajaran pendidikan jasmani penting bagi anak didik sebanyak 26 orang ( 86,66 % ), tidak penting 4 orang ( 13,33 % ) .
Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran pendidikan jasmani masih penting bagi anak didik.
3 .Pertanyaan 3 :
Dari 30 responden, guru non pendidikan jasmani yang berpendapat bahwa Guru pendidikan jasmani yang sudah profesional sebanyak 27 orang ( 90,00 % ) , sedangkan yang belum profesional sebanyak 3 orang ( 10,00 % ).
Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja guru pendidikan jasmani SMP di kecamatan Semarang utara sudah profesional.
Dari hasil survey sementara tersebut diatas, didapati perbedaan yang cukup signinifikan antara opini yang berkembang di masyarakat maupun dikalangan dunia pendidikan , yang menyatakan bahwa kinerja guru-guru pendidikan jasmani kurang / tidak baik serta kurang / tidak profesional, karena hasil survey menyatakan yang sebaliknya.
sehingga dengan hasil penelitian tersebut, yang merupakan bukti faktual, LPTK, khususnya dunia kependidikan (olahraga) dapat menentukan langkah-langkah dan kebijakan-kebijakan yang diperlukan
Sebelumnya akan kami paparkan tentang kondisi riil wujud keberadaan mata pelajaran pendidikan jasmani di Kecamatan Semarang utara ini, baik dilihat dari karakteristik wilayah, karakteristik siswanya, orang tua siswa, gurunya , kondisi sekolah secara keseluruhan maupun kondisi sosial ekonomi penduduk di kecamatan Semarang utara.
Karakteristik Wilayah
Kecamatan Semarang utara terletak dipesisir utara kota Semarang. Seperti karakter daerah pesisir pada umumnya, yaitu berhawa panas dan adanya pelabuhan yang beraktifitas sepanjang 24 jam penuh dengan irama kompetisi yang ”keras”, yang ditunjukkan dengan banyaknya cukong-cukong, makelar-makelar maupun preman-preman yang bekerja dan hidup bertempat tinggal di daerah kecamatan Semarang utara, yang kesemuanya itu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi dan membentuk sikap maupun temperamen penduduk di kecamatan Semarang utara yaitu keras dan temperamental.
Karakteristik Siswa
kecamatan Semarang utara selalu berdekatan bahkan bersentuhan dengan kehidupan yang ”keras” pula. Hal tersebut sangat mempengaruhi pembentukan sikap dan mental anak-anak menjadi liar, keras, dan temperamental yang dibawa pula saat mereka menempuh pendidikan di lingkungan sekolah, sehingga dalam menempuh pendidikan, mereka cenderung tergolong siswa yang ”bermasalah”, yaitu sering bolos, sering berkelahi, suka membantah dan membangkang perintah guru.
Karakteristik Orang Tua Siswa.
Orang tua siswa SMP di wilayah kecamatan Semarang utara mayoritas sosial ekonominya dari golongan menengah kebawah dengan latar pendidikan yang rendah pula. Seperti dalam uraian karakteristik wilayah tersebut diatas, maka sebagian besar orang tua siswa bekerja di sektor jasa pelabuhan, seperti jasa angkutan, jasa keamanan dan lain-lain yang kesemuanya itu identik dengan ”dunia kekerasan”.
Kondisi Guru Pendidikan Jasmani
Seperti kami sebutkan seperti tersebut diatas, bahwa kami akan melakukan penelitian di SMP Negeri 25 Semarang, SMP Theresiana Tanah Mas, SMP Hasanudin I Semarang dan SMP Muhammadiyah 5 Semarang maka kami akan memaparkan kondisi guru Pendidikan Jasmani di 4 sekolah tersebut.
Dari 4 sekolah tersebut, 3 orang Guru Pendidikan Jasmani sudah merupakan guru tetap dan 1 orang masih berstatus guru tidak tetap namun akan segera diangkat menjadi guru tetap yaitu guru pendidikan jasmani di SMP Muhammadiyah 5 Semarang sehingga secara psikologis rekan-rekan guru di 4 sekolah tersebut bertanggung jawab penuh atas proses pendidikan di sekolahnya masing-masing.
Kondisi Sekolah
Dari 4 sekolah tersebut diatas, 2 sekolah dalam kondisi ”survive” , maksudnya jumlah siswanya ideal (banyak), yaitu SMP Negeri 25 Semarang dan SMP Theresiana Tanah Mas Semarang, sedangkan 2 sekolah yang lain yaitu SMP Hasanudin I Semarang dan SMP Muhammadiyah 5 Semarang kondisinya memprihatinkan, dalam arti jumlah siswanya kurang dari jumlah ideal sebuah sekolah sehingga hanya 2 sekolah yang bisa menyediakan sarana dan prasarana yang ideal untuk kebutuhan aktifitas pelajaran pendidikan jasmani di sekolah yakni di SMP Negeri 25 Semarang dan SMP Theresiana Tanah Mas, Semarang.
Kondisi sosial ekonomi penduduk di kecamatan Semarang utara mayoritas dari golongan ekonomi menengah kebawah. Hal ini disebabkab oleh karena sebagian besar penduduk di kecamatan Semarang utara sebagian besar adalah pendatang yang bekerja sebagai buruh dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainya, antara lain makelar,.PKL, sopir dan lainya.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah : Bagaimanakah persepsi guru-guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru-guru pendidikan jasmani ?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui persepsi Guru – guru non Pendidikan jasmani terhadap kinerja Guru – guru Pendidikan Jasmani di kecamatan Semarang utara.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
1.5. PENEGASAN ISTILAH
Sesuai dengan judul diatas, dan untuk menghindari terjadinya salah tafsir terhadap permasalahan yang dibahas, maka peneliti membatasi istilah sebagai berikut :
1.5.1 Persepsi
Menurut Mar`at ,1981, Persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang terhadap suatu benda atau seseorang secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkunganya.
Pendapat lain, yaitu pendapat D.Sasanti,2003, menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima individu sangat bergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berfikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam individu.
Rahmat, Aryanti, 1995, juga menyatakan bahwa persepsi juga ditentukan oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara lain yaitu kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain yaitu lingkungan keluarga, hukum yang berlaku, dan nilai-nilai/norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan faktor struktural.
1. Person, yaitu orang yang menilai orang lain,
2. Situasional, yaitu urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk untuk menilai sesuatu,
3. Behaviour, yaitu sesuatu yang dilakukan oleh orang lain.
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus sebagai makhluk individu mempunyai perbedaan-perbedaan. Adanya perbedaan inilah yang menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana individu tersebut menanggapi suatu obyek dengan persepsinya.
Menurut Polak, 1976, Dalam proses persepsi individu, dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang bersifat negatif / positif, senang / tidak senang, dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu dan dalam situasi yang tertentu pula.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses aktif timbulnya penilaian terhadap suatu obyek, meliputi keberadaan obyek, kejadian dan perilaku obyek. Menurut Bartol & Bartol, 1994, Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari bahkan dihilangkan oleh penginderaan manusia, sehingga mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi.
1.5.2 Guru – guru non Pendidikan Jasmani
tugas utama menyampaikan materi pelajaran non pendidikan jasmani, sesuai dengan bidang ilmunya masing–masing kepada peserta didik pada suatu jenjang pendidikan tertentu, dengan tujuan membina generasi bangsa di era globalisasi ini, agar mempunyai akhlak yang mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara serta Tuhan-nya.
1.5.3 Kinerja
Kinerja merupakan penampilan hasil kerja seseorang baik secara kuantitas maupun kualitas. Kinerja dapat berupa penampilan kerja perorangan maupun kelompok. Kinerja organisasi merupakan hasil interaksi yang kompleks dari kinerja sejumlah individu dalam sebuah organisasi.
1.5.4 Guru – guru Pendidikan Jasmani
15
LANDASAN TEORI
2.1. PERSEPSI
Menurut Mar`at ,1981, Persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang terhadap suatu benda atau seseorang secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkunganya.
Pendapat lain, yaitu pendapat D.Sasanti,2003, menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima individu sangat bergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berfikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam individu.
Cara kita mempersepsi situasi sekarang tidak bisa terlepas dari adanya pengalaman sensorik terdahulu. Kalau pengalaman terdahulu itu sering muncul, maka reaksi kita lalu menjadi salah satu kebiasaan. Pernyataan populer bahwa ” manusia itu adalah korban kebiasaan ” secara ilmiah memang benar, mengingat
respons-respons perseptual yang ditunjukkanya. Menurut M.Dimyati Mahmud, 1989 : 44, mungkin 90 % dari pengalaman-pengalaman sensoris kita sehari-hari dipersepsi dengan kebiasaan yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman terdahulu yang diulang-ulang.
lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain yaitu lingkungan keluarga, hukum yang berlaku, dan nilai-nilai/norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan faktor struktural.
Bremsdan Kassin, Lestari, 1999, menyatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen yaitu :
1. Person, yaitu orang yang menilai orang lain,
2. Situasional, yaitu urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk untuk menilai sesuatu,
3. Behaviour, yaitu sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Ada 2 pandangan mengenai proses persepsi yaitu :
1. Persepsi sosial yang berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan, hanya berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas, 2. dan persepsi sosial yang prosesnya sangat kompleks yaitu mengamati
perilaku orang lain dengan teliti sehingga diperoleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour oarng yang diamati tersebut.
Menurut Polak,1976, Dalam proses persepsi individu, dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang bersifat negatif / positif, senang / tidak senang, dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu dan dalam situasi yang tertentu pula.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses aktif timbulnya penilaian terhadap suatu obyek, meliputi keberadaan obyek, kejadian dan perilaku obyek. Menurut Bartol & Bartol, 1994, Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari bahkan dihilangkan oleh penginderaan manusia, sehingga mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi.
Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi yaitu : 1. Obyek
Obyek menimbulkan stimulus yang diterima panca indera atau reseptor. Sebagian terbesar Stimulus datang dari luar individu yang
bersangkutan, yang langsung mengenai syaraf penerima, yang bekerja sebagai reseptor.
2. Reseptor
Reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, disamping itu, juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran.
` Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi, diperlukan adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama untuk persiapan dalam rangka mengadakan persepasi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan obyek. Menurut Bimo Walgito, 1992 : 70, perhatian merupakan syarat psikologis.
Proses terjadinya persepsi dapat dijelaskan sebagai berikut yaitu : Obyek menimbulkan stimulus stimulus mengena ke alat indera / reseptor .
Perlu dikemukakan bahwa antara obyek dan stimulus itu merupakan hal yang berbeda, tetapi adakalanya obyek dan stimulus menjadi satu / sama , misalnya dalam hal tekanan, benda sebagai obyek langsung mengena ke kulit, sehingga akan terasa tekanan tersebut.
Proses stimulus mengena ke alat indera merupakan proses alam atau proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh syaraf sensorik ke otak. Proses ini disebut proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai proses kesadaran, sehingga individu tersebut menyadari apa yang dilihat, didengar, dan apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut sebagai proses psikologis.
Meskipun demikian, tidak semua stimulus mendapatkan respon oleh individu tersebut untuk dipersepsi. Secara skematis hal tersebut dikemukakan sebagai berikut :
St St St St
SP RESPON
Fi Fi Fi Fi
Keterangan : St = Stimulus ( faktor luar )
Fi = Faktor intern ( faktor dalam, termasuk perhatian ) SP = Struktur Pribadi Individu
Skema tersebut diatas memberikan gambaran bahwa walaupun individu menerima berbagai macam stimulus yang datang dari lingkunganya, namun tidak semua stimulus mendapatkan respon dari individu tersebut. Individu akan menyeleksi terhadap stimulus yang mengenainya, dan disinilah berperanya sebuah perhatian. Skema tersebut diatas dapat dilanjutkan menjadi sebagai berikut :
L S O R L
Namun demikian masih ada pendapat atau teori lain yang tidak melihat kaitan antara lingkungan atau stimulus dengan respon individu. Bentuk skemanya berbentuk lain yaitu :
L S R L
Keterangan : L = Lingkungan
S = Stimulus
R = Respon
Dalam skema tersebut terlihat bahwa organisme atau individu tidak berperan dalam memberi respon terhadap stimulus yang mengenainya.
Hubungan antara stimulus dengan respon bersifat mekanistis, dan stimulus atau lingkungan akan sangat berperan dalam menentukan respon atau perilaku organisme / individu. Pandangan yang demikian merupakan pandangan yang
behavioristik, dan hanya mementingkan peranan lingkungan terhadap perilaku atau respon organisme / individu. Pandangan ini berbeda dengan pandangan yang bersifat kognitif, yang menurut Bimo Walgito, 1980 : 72, memandang berperanya organisme / individu dalam menentukan perilaku / responya.
tergantung oleh berbagai macam faktor, salah satu faktornya adalah perhatian individu itu sendiri, yang merupakan aspek psikologis individu dalammelakukan persepsi.
2.2. KINERJA
Kinerja merupakan penampilan hasil kerja seseorang baik secara kuntitas maupun kualitas. Kinerja dapat berupa penampilan kerja perorangan maupun kelompok. Menurut Ilyas, 1993, Kinerja organisasi merupakan hasil interaksi yang kompleks dari kinerja sejumlah individu dalam sebuah organisasi.
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kinerja individu, perlu dilakukan pengkajian terhadap teori kinerja. Berbagai kondisi lingkungan fisik sangat mempengaruhi kondisi seseorang dalam bekerja. Selain itu, kondisi lingkungan fisik juga akan mempengaruhi berfungsinya faktor lingkungan non fisik.
Kinerja seseorang akan baik jika orang tersebut mempunyai keahlian yang tinggi, kesediaan untuk bekerja, adanya imbalan / upah yang layak, serta mempunyai harapan masa depan. Pandangan
Secara teoritis, ada 3 kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu yaitu :
2.3. KEPRIBADIAN GURU
Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda sesuai ciri –ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri – ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan guru lainya. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat melalui ucapan, penampilan dan tindakan sehari – hari maupun tindakan dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan. Prof.DR. Zakiah Darajat, 1980.
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan phisik. Dengan demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan gambaran dari kepribadian orang tersebut. Seseorang berbuat baik sering dikatakan bahwa orang tersebut mempunyai kepribadian yang baik atau berakhlak mulia, sebaliknya, bila seseorang melakukan suatu sikap atau tindakan yang tidak baik, maka dikatakan orang tersebut berkepribadian jelek atau tidak berakhlak. Oleh karena itu, masalah kepribadian merupakan hal yang menentukan dalam soal tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru dihadapan siswa, rekan guru maupun masyarakat.
kewibawaanya. Karena itu, kepribadian adalah masalah yang sangat sensitif sekali. Penyatuan kata dan perbuatan dituntut dari figur seorang guru .
Profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan dirinya berdasarkan panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah. Guru yang ideal selalu ingin bersama anak didiknya didalam dan diluar lingkungan sekolah. Oleh karena itu, dalam benak guru hanya ada satu kiat, bagaimana cara mendidik siswanya agar kelak menjadi manusia yang berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarga, agama, nusa dan bangsanya.
Sebagai sesama guru dalam organisasi pendidikan, guru pendidikan jasmani wajib untuk menjaga hubungan baik dengan sesama rekan guru yang lain, baik dengan sesama guru pendidikan jasmani maupun rekan – rekan guru non pendidikan jasmani. Satu hal yang menurut guru – guru non pendidikan jasmani merupakan kelemahan guru–guru pendidikan jasmani yaitu kurang mampunya para guru – guru pendidikan jasmani dalam mengelola emosi saat menyelesaikan masalah–masalah tertentu, baik permasalahan dengan pimpinan sekolah, rekan – rekan guru maupun pada saat melaksanakan proses belajar – mengajar. Selain itu, guru–guru pendidikan jasmani , menurut isue– isue yang berkembang , dipandang lemah dalam segi keadministrasian proses belajar – mengajar .
Pedidikan Jasmani adalah suatu bagian dari pendidikan secara keseluruhan yang mengemukakan aktifitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk oertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial, emosional yang serasi, selaras dan seimbang. ( Depdikbud, 1994:1 ).
Pendapat lain, yaitu pendapat Suningdjo, 1969 : 7, mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah salah satu fase atau tahap dari pendidikan total dengan menggunakan aktifitas yang terarah, yang berguna bagi setiap individu untuk perkembangan organ tubuh, intelektual dan emosional.
2.4.2.Tujuan Pendidikan Jasmani.
2.4.2.1.Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas olahraga,
2.4.2.2.Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan phsikis yang lebih baik,
2.4.2.3.Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dasar,
2.4.2.4.Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Pendidikan Jasmani yaitu sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis. 2.4.2.5.Mengembangkan ketrampilan untuk manjaga keselamatan diri maupun
2.4.2.6.Memahami konsep aktifitas jasmani dan olahraga untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna yaitu sehat, bugar dan terampil, serta memiliki pandangan hidup yang positif.
2.5. KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN JASMANI
Menyiapkan tenaga guru pendidikan jasmani di Indonesia, seperti yang diterapkan sejak tradisi Akademi Pendidikan Jasmani di Bandung, yang didirikan pada tahun 1954 adalah model konkuren yang ditandai dengan sebuah proses kebersamaan antara pembekalan ilmu–ilmu pengantar dan pendukung dengan penguasaan kompetensi sebagai pendidik dalam bidang pendidikan jasmani yang ”dibulatkan” dengan pengalaman praktik lapangan. Dengan struktur kurikulum yang sangat ramping dan pembekalan kompetensi yang bersifat generik, hampir – hampir tidak ada pemilahan dan penjurusan hingga berubah menjadi Sekolah Tinggi Olahraga pada tahun 1964. tetapi proses pengakraban dengan situasi pembinaan yang riil dalam kehidupan nyata berlangsung, terutama melalui tuntutan untuk mendapatkan pengalaman langsung ( misalnya, sebagai wasit, administrator penyelenggara pertandingan, dan bertanding sebagai pemain atau atlet ) yang nyata – nyata membekali ketrampilan sosial ( misalnya, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi ).
Integrasi STO dengan IKIP pada tahun 1978 membawa implikasi yang amat mendalam terutama terhadap beban kurikulum yang tergolong sangat sarat. Banyaknya ilmu-ilmu pengantar yang berorientasi pada pembekalan ilmu kependidikan, sementara yang paling merosot adalah kompetensi dalam kecabangan olahraga secara pukul rata, terutama mahasiswa yang dijaring melalui UMPTN. Administrasi akademis mengalami kemajuan dan semakin tertib setelah berubah dari situasi yang amat liberal. Persoalan umum berkisar pada kesenjangan antara teori dan praktik maupun keasingan mahasiswa dengan lingkungan pendidikan, meskipun ada pengalaman yang menjembataninya, yaitu melalui KKN dan PPL. Proses pematangan profesi dalam fase jabatan, hampir-hampir hanya mengandalkan deposit pengetahuan selama kuliah, sehingga ada bukti-bukti kuat, kian lama guru kian merosot pengetahuanya dan terpencil dari inovasi. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan program pembinaan bagi guru-guru pendidikan jasmani, ditambah dengan kondisi lingkungan yang tidak ikut serta membangun moral dan semangat bekerja.
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan melalui program pelatihan dengan dana yang didukung oleh sekolah yang bersangkutan.
2.6. ANALISIS TUGAS
Keunikan tugas guru pendidikan jasmani terletak pada misi yang diemban untuk mencapai tujuan pendidikan yang bersifat menyeluruh. Meskipun keterjadian proses belajar ditandai dengan aneka aktifitas jasmani sebagai pengalaman belajar, tetapi seluruh adegan pendidikan,juga tertuju pada peningkatan kemampuan penalaran dan pengembangan sifat-sifat kepribadian. Tugas Guru Pendidikan Jasmani, menurut Tousignant dan Siedentop, 1982, diklarifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Tugas Managerial yaitu tugas yang mencakup pengecekan kehadiran dan kelengkapan pakaian,
2.Tugas Instruksionalyaitu tugas yang difokuskan pada fase transisi, mencakup pengorganisasian kelompok dan penempatan serta pengaturan perlengkapan.
Tugas yang diemban guru pendidikan jasmani untuk mencapai taraf efektifitas pengajaran yang memuaskan mencakup beberapa dimensi management, meliputi :
1. Management tugas-tugas ajar, 2. Management perilaku, dan
Para guru tersebut bukan hanya merencanakan unit-unit dan pelajaran, tetapi juga bekerja bersama dengan guru lainnya di sekolah. Mereka juga perlu merencanakan penempatan perlengkapan dan pemanfaatanya, dan bahkan untuk kasus Indonesia, guru pendidikan jasmani mengadakan sendiri alat-alat dan kelengkapan yang diperlukan. Mereka tidak hanya perlu memiliki ketrampilan untuk mengelola perilaku siswa dalam konteks pengajaranya, tetapi juga memanfaatkan dukungan sumber-sumber daya dari luar ( misalnya guru bantu, relawan, pelatih klub dll. ) Sebagai guru di sebuah sekolah, ia juga perlu memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan koleganya sesama satu sekolah dan bahkan dengan guru-guru sekolah lainnya.
Guru pendidikan jasmani juga sering dipercaya untuk menangani anak-anak bermasalah. Sebagai guru, Dia perlu memiliki ketrampilan sebagai konselor dengan beberapa sifat yakni hangat, tulus, dan penyayang terhadap siswanya dengan niat untuk membantu mengatasi masalah di sekolah dan diluar sekolah. Guru juga memiliki citra sebagai wakil dari sekolah, sehingga kemanapun dia pergi dan berada, masyarakat akan memandang dan memanfaatkanya sebagai guru.
Isu sentral dalam pengajaran pendidikan jasmani adalah bagaimana meningkatkan efektifitas pengajaran, disamping penelaahan tentang indikator efektifitas itu sendiri. Dalam kaitan ini maka, upaya meningkatkan jumlah waktu aktif berlatih, dipandang sebagai predictor yang paling dapat diandalkan untuk memahami masalah efektifitas pengajaran. Rink, 1985, misalnya, menulis tentang strategi pengajaran untuk penciptaan keterjadian belajar ( teaching for learning ) dengan menurunkan konsep-konsep teoritis hasil kajian dalam subdisiplin motor learning.
Seperti halnya tulisan Siedentop, 1991, yaitu bahwa Tema central dari pengajaran adalah penciptaan kondisi bagi pengajaran yang efektif dalam pendidikan jasmani, melalui penciptaan ekologi pengajaran yang terkait dengan management atmosfir dan management perilaku yang erat kaitanya dengan pembinaan disiplin dan ketrampilan interpersonal. Landasan etika pengajaran merupakan masalah yang amat esensial, karena bukan saja menyangkut pemberian layanan, tetapi juga perkara kontak badan antara guru dan siswa, misalnya, pada waktu memberikan bantuan dalam senam dan renang. Pada tataran praktis, aspek perencanaan unit pengajaran dan strategi pengajaran yang bersifat umum, menjadi titik tolak bagi pengajaran yang sukses.
Secara keseluruhan, keberhasilan tugas itu perlu didukung oleh seperangkat kompetensi dasar, yang selanjutnya digunakan untuk merancang strategi pengembangan pendidikan tenaga guru pendidikan jasmani.
1. Pemahaman dan penghayatan etika dan tindakan moral yang melandasi profesi dalam Pendidikan Jasmani, utamanya dalam pemberian perlakuan ( misalnya memberikan instruksi, mengoreksi dan lain-lain ) yang dapat dipertanggungjawabkan secara etika , termasuk nilai-nilai agama. 2. Penguasaan ketrampilan gerak dan dasar-dasar ketrampilan beberapa
cabang olahraga, termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan cabang atau aktivitas jasmani yang bersangkutan (misalnya, peraturan dan ketentuan khusus dalam suatu cabang olahraga).
3. Penguasaan konsep dan teori dalam beberapa subdisiplin ilmu keolahragaan yang bersifat integratif sebagai landasan ilmiah pendidikan jasmani dan olahraga, guna memfasilitasi proses pembelajaran, terutama disesuaikan dengan azas pentahapan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
4. Kompetensi dalam menerapkan kurikulum dalam konteks metoda dan strategi umum atau khusus dalam pembelajaran, termasuk kompetensi alam melaksanakan asesmen hasil belajar.
5. Kompetensi sosial yang melibatkan ketrampilan sosial, seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, maupun kemampuan kerjasama dalam tim.
Banyak kritik yang mengungkapkan kekurangan para guru pendidikan jasmani yang cenderung tampil sebagai ”tukang” dan lemah dalam kemampuan bernegosiasi atau menjual ide kepada pihak lain di sekitarnya.
32 3.1. POPULASI
Menurut Suharsimi Arikunto (1996:115), populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah guru – guru non pendidikan jasmani se-kecamatan Semarang utara. Jumlah yang akan kami teliti yaitu 150 orang guru non pendidikan jasmani di kecamatan Semarang utara.
3.2. SAMPLE
Sample adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto,1993:104 ). Apabila populasi dibawah 100 dapat menggunakan total sample, sedangkan terhadap populasi diatas 100 digunakan sample 15 % dari populasi. ( Winarno Surahmmad, 1990 : 180 ).
Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, maka dalam pengambilan sample digunakan beberapa tahap langkah kerja yaitu sebagai berikut :
Tahap 2 : Peneliti datang kembali ke sekolah tempat penelitian untuk mengambil lembar-lembar kuesioner yang telah diisi oleh responden , sekaligus minta surat keterangan dari sekolah sebagai bukti fisik bahwa peneliti telah melaksanakan penelitian disekolah tersebut.
Tahap 3 : Peneliti mengolah data kuesioner, kemudian menyimpulkan.
3.3. VARIABEL PENELITIAN
Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah persepsi guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru – guru pendidikan jasmani. Yang dimaksud dalam hal ini adalah pendapat atau keyakinan guru non pendidikan jasmani terhadap obyek, yang dalam hal ini adalah kinerja guru pendidikan jasmani .
3.4. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Faktor penting dalam penelitian yang berhubungan dengan data adalah metode pengumpulan data. Dan untuk dapat mengumpulkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, Peneliti terlebih dahulu harus memilih metode pengumpulan data yang tepat. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner.
Metode kuesioner ini digunakan sebagai alat pungumpulan data tentang persepsi guru-guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru-guru pendidikan jasmani di Kecamatan Semarang utara Kota Semarang.
Kuesioner di susun dengan menyediakan pilihan jawaban yang lengkap, sehingga responden hanya memberi tanda silang ( X ) pada jawaban yang dipilih, sedangkan alternatif jawabannya berupa ”ya”, ”tidak”, ”tidak tahu” .
3.5. ANALISIS UJI INSTRUMEN 3.5.1 Validitas Data
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kualitas atau kesahihan suatu instrumen (suharsimi arikunto, 2002: 146).
Untuk mengukur validitas digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson sebagai berikut:
}
r = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y
X = nilai faktor tertentu Y = nilai faktor total N = jumlah peserta
Hasil perhitungan rxy dikonsultasikan dengan harga r kritik product
moment dengan taraf nyata 5% adalah validitas 0.361. jika harga rxy hitung lebih besar dari r tabel maka dikatakan item soal atau instrumen tersebut valid.
3.5.2 Reliabilitas
Reliabilitas menunjukan pada suatu pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Suharsimi Arikunto, 2002 : 154)
Dalam penelitian ini untuk mencari reliabilitas alat ukur digunakan teknik dengan menggunakan rumus alpha:
⎥
Keterangan = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal 2 (Suharsimi Arikunto, 2002 : 171)
Hasil perhitungan dikkonsultasikan engan harga tabel r kritik product moment dengan taraf nyata 5 % adalah reliabilitas 0,361. jika harga r11 lebih besar dari rtabel maka dikatakan instrumen tersebut reliable.
3.6. TEKHNIK ANALISIS DATA
3.6.1. Dari data angket yang didapat berupa data kualitatif diubah menjadi data kuantitatif ( Suharsimi Arikunto, 2002 : 96 ). Menguantitatifkan jawaban item pertanyaan dengan memberikan tingkat-tingkat skor untuk masing-masing jawaban sebagai berikut :
Jawaban ”ya” diberi skor 3 Jawaban ”tidak” diberi skor 2 Jawaban ”tidak tahu” diberi skor 1
3.6.2. Menghitung frekwensi untuk tiap-tiap kategori jawaban yang ada pada masing-masing variabel atau sub variabel.
3.6.3. Dari hasil perhitungan dalam rumus, akan dihasilkan angka dalam bentuk prosentase. Adapun rumus untuk analisis Deskriptif Prosentase ( DP ) adalah :
n
DP = ---- x 100 %
N
Keterangan :
DP : Skor yang diharapkan N : Jumlah skor maksimum N : Jumlah skor yang diperoleh
( sutrisno Hadi, 1980 : 164 ).
Langkah-langkah perhitungannya yaitu sebagai berikut : 1.Menetapkan skor tertinggi
2.Menetapkan skor terendah
3.Menetapkan presentase tertinggi = 100% 4.Menetapkan presentase terendah = 25%
5.Menetapkan rentang persentase = 100%-25% = 75% 6.Menetapkan interval = 75%:4 = 18.75%
Interval Keterangan 81.25% - 100%
62.50% - 81.25% 47.35% - 62.50% 25.00% - 43.75%
Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali
38 4.1. HASIL PENELITIAN
4.1.1. Validitas
Dari hasil uji coba diperoleh nilai product moment dengan menggunakan taraf signifikan 5% = 0,361 dengan N = 30. maka dari perhitungan validitas diperoleh
r
xy >r
tabel yaitu 0,731 > 0,361, maka instrument dinyatakan valid.Selanjutnya kuesioner dapat dipakai dalam penelitian dan digunakan untuk pengambilan data.
4.1.2. Reliabilitas
Berdasarkan data uji coba, yang kemudian dihitung dengan rumus alpha, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa
r
11 = 0,918. untuk taraf signifikan 5% = 0,361 dengan N = 30, dari perhitungan reliabilitas persepsi guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru pendidikan jasmani diperoleh 0,918 > 0,361, maka dinyatakan reliable.4.1.3 Hasil Analisa Data
4.1.3.1.Analisa Deskriptif per aspek
Tabel 1. Rekapitulasi hasil analisa deskriptif per aspek
Aspek N N Dalam Prosen
Kepribadian 3366 3600 93,50%
Pedagogik 2976 3600 82,67%
Profesional 3902 4950 78,83%
Sosial 2216 2700 82,07%
Diagram 1. Rekapitulasi hasil analisa deskriptif per aspek
93,5
PERSEPSI GURU NON PENJAS
Keterangan 1. Aspek kepribadian 2. Pedagogik 3. Profesional 4. Sosial
Dari tabel dan gambar grafik dapat diketahui bahwa dari keempat aspek dalam penelitian tersebut menunjukkan :
2. 82,67 % Guru Pendidikan Jasmani telah memiliki kompetensi pedagogik sesuai bidangnya, masuk kategori baik.
3. 78,83 % Guru Pendidikan Jasmani telah profesional sebagai seorang pendidik, masuk kategori baik.
4. 82,07 % Guru Pendidikan Jasmani telah baik kompetensi sosialnya, masuk kategori baik.
4.1.3.2.Analisa Deskriptif per Indikator
Dari data hasil penelitian per aspek kemudian dirinci lagi menjadi tiga belas indikator yang dapat dilihat dalam tabel dan diagram sebagai berikut :
Tabel 2. Rekapitulasi Análisis Deskriptif per Indikator
Persepsi Guru non Pendidikan jasmani n N dalam persen Kategori
Indikator 10
Diagram 2. Rekapitulasi Análisis Deskriptif per Indikator
Persepsi Guru Non Penjas
Keterangan 1. Memiliki kepribadian yang jujur 1. Memiliki kepribadian dewasa 2. Memiliki kepribadian arif
3. Memiliki kepribadian yang berwibawa
4. Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan 5. Memahami peserta didik
10.Mengembangkan peserta didik
11.Menguasai bidang studi secara luas dan mendalam 12.Berkomunikasi secara efektif
13.Begaul secara efektif
4.1.3.3. Analisa Deskriptif per Responden
Selain dilihat dari aspek-aspek penelitian, kemudian dirinci dalam indikator-indikator, juga dilihat dari tiap responden. Jumlah responden keseluruhan adalah 150 responden, hasil deskripsinya di gambarkan pada tabel dan diagram sebagai berikut:
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Analisa Deskriptif Responden
Kriteria Jumlah Dalam prosen
Persepsi Guru
Diagram 3. Rekapitulasi Hasil Analisa Deskriptif Responden
81,33
PERSEPSI
GURU
NON
PENJAS
4.2. PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil secara umum , bahwa kinerja guru non Pendidikan Jasmai terhadap kinerja guru-guru Pendidikan Jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang dalam kategori baik dengan presentase 83,91%. Empat aspek kenerja guru-guru pendidikan jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang yang dinilai terdiri dari aspek kompetensi kepribadian, aspek kompetensi pedagogik, aspek kompetensi profesional dan aspek kompetensi sosial diperoleh hasil dalam kategori baik. Nilai prosentase terletak antara 77,8%-100% dalam kategori baik.
Terkait dengan temuan yang diperoleh dari hasil penelitian ini maka dapat dibahas hal-hal sebagai berikut :
4.2.1. Kepribadian
Sebagai seorang pendidik, guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik, dimana dalam segala hal tindakannya harus sesuai norma-norma yang ada di masyarakat, dan dalam segala penampilannya harus mencerminkan pribadi yang jujur, berahlak mulia, dewasa, arif dan berwibawa sehingga dapat menjadi teladan bagi para siswa.
Secara umum berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepribadian guru- guru Pendidikan Jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang sudah baik.
Dengan telah baiknya kepribadian guru-guru Pendidikan Jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang, memungkinkan mereka dapat membimbing dan mengarahkan anak didik saat proses belajar mengajar dengan baik pula. .Lebih dari itu, mereka dapat menjadi teladan yang baik bagi siswa terkait dalam berperilaku dan bertutur kata.
Unsur kepribadian guru yang dewasa, arif, dan berwibawa serta memiliki akhlak mulia, yang dapat menjadi teladan bagi para siswanya, sangatlah penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, sebab tanpa adanya kepribadian yang baik dari guru, maka proses pembelajaran tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Lebih lanjut dalam peraturan Mentri Pendidikan Nasional no. 16 tahun 2007 tanggal 4 mei tahun 2007 ditegaskan bahwa setiap guru dituntut untuk dapat bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia, menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan dalam kehidupan bermasyarakat, menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa, menunjukan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, mempunyai rasa percaya diri, dan menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
Kompetensi pedagogik dari seorang guru berkaitan langsung terhadap kualitas pembelajaran yang dilaksanakan, sebab tanpa dimilikinya kompetensi pedagogik yang baik dari setiap guru yang mencakup kemampuan guru dalam memahami perserta didik, merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan evaluasi belajar, dan mengembangkan kemampuan peserta didik secara optimal tidaklah mungkin proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dapat mencapai hasil yang optimal.
Sebagian besar guru pendidikan jasmani yang sudah sepenuhnya memiliki kompetensi pedagogik yang baik. Dari pernyataan 150 guru non pendidikan jasmani yang menjadi sampel dalam penelitian ini 82,67% menyatakan kompetensi pedagogik guru pendidikan jasmani sudah baik.
4.2.3. Kompetensi Profesional
Profesional guru dapat tercermin dari penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran / bidang yang diampu, kemampuan mengembangkan keprofesionalannya secara berkelanjutan dengan melakukan tidakan reflektif untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi guna mengembangkan diri sehingga pada akhirnya guru tersebut mampu melanjutkan tugasnya secara profesional.
karena itu jabatan sebagai seorang guru menuntut penguasaan materi secara luas dan menyeluruh.
Berdasarkan hasil penelitian ini ternyata guru-guru pendidikan jasmani di kecamatan semarang utara kota semarang sudah sepenuhnya memiliki kompetensi prefesional yang baik. Menurut pernyataan guru-guru non pendidikan jasmani yang menjadi responden dalam penelitian ini, 78,83% menyatakan bahwa kompetensi profesioanl guru-guru pendidikan jasmani sudah baik.
Kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada tercapainya pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi yang profesional yang pada akhirnya berimbas pada pencapaian hasil belajar yang akan dicapai siswa. Sebab sebagaimana digariskan dalam peraturan mentri pendidikan nasional no 16 tahun 2007 tanggal 4 mei tahun 2007, bahwa guru sebagai tenaga profesi dituntut untuk mampu menguasai materi, sturktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung dasar mata pelajaran / bidang pengembangan yang diampu, mampu mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, dan mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dan mengembangkan diri.
4.2.4. Kompetensi Sosial
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial dari guru-guru pendidikan jasmani di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang sudah baik.
mempunyai hubungan yang baik, hal ini ditunjukkan dengan diberikannya kepercayaan untuk menangani urusan kesiswaan, sarana – prasarana, humas dan lain sebagainya. Dengan rekan sejawat juga dapat berhubungan dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan jawaban – jawaban dari rekan – rekan guru non pendidikan jasmani di lembar kuesioner. Dengan siswa juga mampu memosisikan diri dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan dekatnya mereka dengan para siswa namun tetap dalam koridor hubungan antara guru dengan murid, orang – tua dengan anak. Dalam kehidupan bermasyarakat juga dapat memosisikan dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan dipercayanya sebagian besar dari mereka untuk menjadi ketua Rt dilingkunganya masing – masing.
48 5.1 Kesimpulan
Kesimpulan hasil penelitian persepsi guru-guru non pendidikan jasmani terhadap guru –guru pendidikan jasmani di kecamatan semarang utara kota semarang, yaitu bahwa kinerja guru-guru pendidikan jasmani SMP di kecamatan Semarang utara sudah di kategorikan baik.
Dalam melaksanakan tugasnya guru-guru pendidikan sudah memiliki aspek kepribadian yang baik, telah memiliki kompetensi pedagogik sesuai bidangnya, telah bekerja secara profesional dan mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya, baik itu dilingkungan kedinasan maupun dilingkungan kemasyarakatan, sehingga guru – guru pendidikan jasmani di kecamatan Semarang utara telah mampu dan dapat dijadikan suri tauladan oleh siswa-siswinya.
Guru pendidikan jasmani juga selalu menyiapkan perangkat bahkan mengembangkannya dalam proses belajar mengajar, mampu memotivasi siswa untuk berprestasi dan menyalurkan minat dan bakat anak sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing, terutama dalam cabang olahraga melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah maupun mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada diluar sekolah.
profesional tidak terbukti, karena hasil dari penelitian menyatakan hal yang sebaliknya.
Meskipun demikian, harus diakui bahwa memang ada oknum-oknum guru pendidikan jasmani yang kinerjanya kurang / tidak baik, yang tidak mampu menjaga nama baik rekan-rekan guru pendidikan jasmani yang lain, namun hal itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dari sekian banyak guru-guru pendidikan jasmani yang kinerjanya sudah baik. Ibarat pepatah “ karena nila setitik, rusak susu sebelanga “.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut ;
1. Meskipun secara umum kinerja guru-guru pendidikan jasmani sudah dalam kategori baik, namun mereka harus selalu mengembangkan diri, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang selalu berkembang setiap saat.
2. Rekan – rekan Guru pendidikan jasmani sangat perlu selalu meningkatkan kualitas dan kreativitas diri agar dalam pencapaian tujuan pembelajaran mata pelajaran pendidikan jasmani dapat tercapai secara optimal.
50
Bimo Walgito, 1983, Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset, Yogyakarta Depdiknas, 1994. Kurikulum SMP, Jakarta
Drs. Slamet S.R. 1994. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Penerbit P.T. Tiga Serangkai , Solo
.
Drs. Syaiful B. Djamarah dan Drs. Aswan Zain, 2000. Strategi Belajar Mengajar Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono Belajar dan Pembelajaran. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
H.Hamzah B., 2007,Profesi Kependidikan, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta. Jalaludin Rahmat, 2003, Psikologi Komunikasi. Bandung.
M. Dimyati Mahmud, 1990, Pengantar Psikologi. Penerbit BPFE, Yogyakarta. Mar`at, 1981, Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Ghalia Indonesia, Bandung.
Nadisah, 1992, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Dirjen. Dikti., Bandung.
Prof. Dr Rusli Lutan dkk. Supervisi Pendidikan Jasmani, 2002 Direktorat Jenderal Olahraga, Jakarta.
Purwodarminto WJS, 1976, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no : 16 tahun 2007.
Suharsimi Arikunto 1996. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis, Penerbit Rineka cipta, Jakarta.
Penerbit Tarsito, Bandung.
1 Persen (%) 83, 91
Kriteria B
Tabel . Rekapitulasi hasil analisa deskriptif per aspek
Aspek N N Dalam Prosen
Kepribadian 3366 3600 93,50%
Pedagogik 2976 3600 82,67%
Profesional 3902 4950 78,83%
Sosial 2216 2700 82,07%
Diagram . Rekapitulasi hasil analisa deskriptif per aspek
93.5
82.67 78.83 82.07
70 75 80 85 90 95
PROS
E
N
TASE
1 2 3 4
ASPEK
PERSEPSI GURU NON PENJAS
2. Pedagogik
3. Profesional
4. Sosial
Rekapitulasi Análisis Deskriptif per Indikator
Persepsi Guru non Pendidikan jasmani n N dalam persen Kategori
Diagram. Rekapitulasi Análisis Deskriptif per Indikator
Persepsi Guru Non Penjas
Keterangan 1. Memiliki kepribadian yang jujur 2.Memiliki kepribadian dewasa
1. Memiliki kepribadian arif
2. Memiliki kepribadian yang berwibawa
3. Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan 4. Memahami peserta didik
10.Mengembangkan peserta didik
11.Menguasai bidang studi secara luas dan mendalam 12.Berkomunikasi secara efektif
13.Begaul secara efektif
Tabel . Rekapitulasi Hasil Analisa Deskriptif Responden
Kriteria Jumlah Dalam prosen
Persepsi Guru
Diagram 3. Rekapitulasi Hasil Analisa Deskriptif Responden
0
HASIL ANALISIS DESKRIPTIF PER RESPONDEN
Fotho-fotho.