• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL"

Copied!
230
0
0

Teks penuh

(1)

,.

·.

(2)

Seri

KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Penyunting Utama:

Drs. H.A. Hafizh Dasuki MA.

(3)

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

Bimbingan Masyarakat Beragama

Penyunting :

Moeslim Abdurrahman.

DEPARTEMEN AGAMA RI.

JAKARTA - 1982

(4)

PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakya tan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

dalam Permusyawaratan/Perwakilan S. Keadilan Sosial bagi seluruh

Rakyat Indonesia.

(5)

w

. ,

.

MENTElll.I ACiAMA 111.EPUILIK INDONESIA

SAKIUTAH KENTERI ACAKA ll. I.

II I SHI LI.AH I RJWiHAH I RRAH IH

A•••lamu'alalkum Wr. Wb.

A1ama merupaltan un•ur pert•ma dan utama dalam kehldup- an peroran1an, bermaayarakac, berban1•• dan berne1ara. Kehl- dupan bani•• Indone•l• yan1 rell1lou.1 perlu dlblna c!An dlk . . - bangkan dalam berba1al ke1tacan kema1yarakacan c!An kene1araan.

Klta berayukur bahwa ke1latan ma1yarakac dalam kehidup- an kea1am.aan •an1ac beaar yan1 cercenaln ct.lam permi ..rtA um.at ber•1•ma dalam pemban1unan tempac-cempat lbac:t.h, lembaga-lem- ba1• kea1amaan, c:t.n lain-lain. Pemerlncah pun •epenuhnya mm•-

bantu kehldupan bera1ama dan pembangunan ••rana perlbac:t.tan.

Hal cer•ebut merupaltan ••l•h ••tu clrl darl kehldupan bangaa dan ne1ara yang berda1arkan Panca•lla, dliuna •1•ma ... nduduki tempac ter•endlrl.

Untuk ltulah, penghayatan dan pen1amalan a1ama perlu dlblna dan dlkembangkan •ehln11• umac beragama mampu . . llbangwi dirinya, . . . ban1un bang•• dan negara •erta •1ama.

Saya menyamhut 1embira terbitnya buku •eri ICehidupan leragama dan Pembangunan Ma•iona'l den1an harapan dapac 1Mtrupa- kan •umban1an pe•iklran yang berm.anfaac dalam pembangunan Yw-

••, negara dan •1•11a.

Saya ... paikan pen1har1aan dan terima ka•lh kepac!A pa- ra penyuntin1 yan1 memprakar•ai c:t.n berha•il membukukan ••rial ini.

Semo1a Allah S.W.T. memberkacl u•ah• klta, dan aalalu dalam karunia dan rldlo-Mya.

We•1alamu'alalk1m1 Wr.

Jakarta, l Januari R. I.

6 Rabi 'ul Awal

lATU PIRWIJWC!GAIA

(6)
(7)

MUKADIMAH

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT kami dapat mewujudkan karya suntingan ini dalam ben- tuk buku serial. Menjadi pendorong untuk karya suntingan ini di antaranya adalah bahwa sejak hari-hari pertama Bapak H. Alamsjah Ratu Perwiranegara diangkat menjadi Menteri Agama R. I, beliau telah meletakkan landasan yang menyang- ku t kebijaksanaan kehidupan beragama yang sifatnya sangat mendasar dan strategis. Dengan mengikuti pernyataan-per- nyataannya, baik yang disampaikan melalui pidato-pidato sambutan, pengarahan pada berbagai kesempatan maupun pikiran-pikiran beliau yang disajikan dalam bentuk uraian, makalah di beberapa pertemuan ilmiah, akan dengan mudah dapat memahami kebijaksanaan beliau.

Landasan tersebut menyangkut beberapa hal penting yang dapat dikemukakan disini, antara lain misalnya, pe-

(8)

negasan beliau mengenai Kepercayaan, Pancasila dan kaitan- nya dengan agama, masalah dakwah, persoalan-persoalan bangsa dan negara, kedudukan serta tugas pokok Departemen Agama dan lain-lain. Dinyatakan bahwa kendatipun dalam sejarah berdirinya Departemen Agama memang secara politis merupakan andil terbesar umat Islam, namun dalam hal ini perlu disadari bal1wa Departemen Agama adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa yang lahir dari tuntutan sejarah bangsa Indonesia. Dengan demikian, aparatur bidang agama merupakan bagian dari aparat pemerintah secara umum. Maka, sudah barang tentu tugas pokok dan fungsinya haruslah selalu sejalan dengan program-program pemerintah, khususnya dalam memenuhi hajat dan keperluan masyarakat dalam bidang kehidupan beragama.

Dengan kata lain, ini berarti bahwa Departemen Agama bukanlah suatu lembaga keagamaan sebagaimana lembaga- lembaga keagamaan yang lain yang didirikan oleh masyarakat, namun Departemen Agama adalah sebuah instansi Peme- rintah sejajar dengan instansi pemerintah lainnya, dengan bidang tugas garapannya yaitu pembinaan kehidupan ber- agama. Dengan demikian menurut Menteri Agama Alamsjah, perlu segera dihilangkan kesan eksklusifisme terhadap Depar- temen Agama, yang selama ini seolah-olah masih ada saja pan- dangan atau anggapan bahwa Departemen Agama adalah me- rupakan "wadah perjuangan" dari aspirasi umat beragama atau golongan tertentu. Hal ini tentunya bukan saja tidak benar tapi seharusnya tidak boleh terjadi, mengingat :

I. Negara kita yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 menempatkan agama dalam keduduk- an yang khas yang sangat terhormat dalam tata keseluruh- an kehidupan bernegara maupun bermasyarakat. Disinilah Ietak eksistensi Departemen Agama;

2. Perlu diingat bahwa Negara kita yang berdasarkan Panca- sila ini adalah milik seluruh umat beragama yang harus di-

(9)

isi bersama se bagai hasil kemerdekaan, dalam rangka me- ninggikan martabat bangsa, di tengah bangsa-bangsa yang lain. Oleh karena itu, adanya sikap eksklusifisme akan me- rugikan tidak saja kepada Pemerintah, namun juga yang lebih jelas adalah bagi umat beragama itu sendiri. Sebab, dengan demikian bisa menimbulkan rasa kurang ikut ber- tanggungjawab terhadap jalannya pemerintahannya sendiri, kendatipun pemerintah itu sebenamya telah dibentuk se- cara demokratis. Oleh karena itu pada dasamya aspirasi umat beragama adalah merupakan aspirasi masyarakat In- donesia secara keseluruhan, yang seharusnya disalurkan ke semua Departemen Pemerintahan yang ada, untuk mem- peroleh perhatian sebagaimana yang diharapkan.

Nampaknya Menteri Agarna Alarnsjah menyadari se- penuhnya akan hal ini, maka sejak menduduki jabatannya, April 1978, dalarn setiap kesempatan beliau selalu berusaha memperjelas kembali kedudukan agarna ini dalarn negara yang berdasarkan Pancasila. Menteri Agama dalarn berbagai kesempatan mengemukakan bahwa : "Pancasila adalah hadiah umat Islam bagi kemerdekaan dan persatuan Indo- nesia". Seluruh umat beragama berkewajiban untuk meng- hayati dan mengamalkan Pancasila. Karena umat Islam me- rupakan mayoritas warga negara kita, dengan sendirinya pe- negasan Menteri Agarna tersebut nampaknya lebih ditekan- kan kepada umat Islam. Dalam pada itu beliau selalu me- negaskan bahwa dalam negara Pancasila, tidak digunakan istilah "mayoritas" dan "minoritas" dari tinjauan jumlah pen- duduk, tetapi lebih mengnidupkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa atau kerukunan antara sesarna bangsa yang berbeda-beda agama. Lebih jauh dalam hal ini, Menteri Agama menghimbau hendaknya dapat segera diakhiri, ang- gapan seolah-olah selarna ini masih ada semacarn pertentang- an antara kepentingan aspirasi umat beragarna di satu pihak dengan kehendak pemerin tah di pihak yang lain. Padahal kedua-duanya dapat dan bahkan harus selalu dapat diper-

(10)

temukan. Di sinilah maka hampir setiap kesempatan, di- nyatakan tentang perlunya menjadi warga negara yang baik dan sekaligus menjadi umat beragama yang taat, atau dalam ungkapan yang berbeda "menjadi umat beragama yang Panca- silais dan menjawi warga negara Pancasilais yang beragarna".

Kedua unsur ini harus menyatu dan menampakkan diri pada setiap warga negara Republik Indonesia atau pada setiap umat beragama, pemilik negara Pancasila ini. Dan itulah sebabnya mengapa Menteri Agama juga meminta agar jangan lagi dibanding-bandingkan apalagi dipertentangkan antara Agama dan Pancasila, sebab antara keduanya tidak ada yang ber- tentangan. Agama dan Pancasila telah memiliki Ietak ke- dudukannya masing-masing secara jelas. Agama adalah me- rupakan pedoman beragama, keyakinan iman dan batin kita untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri Repu blik Indo- nesia dulu adalah merupakan falsafah hidup sebagai pedoman bemegara dan hidup bermasyarakat di antara sesama kita se- bagai satu bangsa Indonesia. Bahkan, beliau menegaskan bahwa umat beragama yang melaksanakan ajaran agamanya berarti telah melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sejalan dengan hal-hal di atas, maka Bapak Menteri Agama Alamsjah melihat betapa urgensinya menggalang persatuan bangsa, demi ketahanan nasional dan terutama lagi untuk lebih mempercepat berpadunya segenap potensi dan kekuatan bangsa dalam rangka mensukseskan usaha- usaha pembangunan nasional. Oleh sebab itu, selalu diseru- kan beliau ten tang perlunya segera terwujud apa yang di- istilahkan dengan Tiga Kerukunan, yakni : ( 1) Kerukunan intern umat beragama, (2) Kerukunan antar Umat Beragama dan (3) Kerukunan antara Umat Beragama dengan Peme- rintah.

Untuk mencapai hal ini, maka dianggap perlu meng-

(11)

ambil langkah-langkah penting, antara lain langkah-langkah kebijaksanaan tentang aliran Kepercayaan, dakwah, penyiaran agama, bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga ke- agamaan, dan lain-lain. Sebagai cerminan kerukunan, maka telah dibentuk Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama dan dikeluarkannya semacam kode etik a tau rule of tile ganzes hubungan umat beragama, baik melalui Surat Keputusan maupun Surat Edaran Menteri Agama dan lain-lain.

Hal-hal di atas, yaitu : ( 1) tentang penegasan kembali Tugas Pokok dan Fungsi Departemen Agama; (2) Agama dan Pancasila; dan (3) Tiga Kerukunan; tampak jelas menjadi bagi- an tugas dan perhatian utama beliau sebagai Menteri Agama.

Oleh sebab itu, ketiga hal ini selalu menjadi tema inti dari kebijaksanaannya selama ini yang juga memberikan corak implikatif secara umum terhadap setiap sektor ke- bijaksanaan dalam mem berikan bim bingan dan pelayanan kehidupan beragama oleh Pemerintah dewasa ini. Sektor itu, misalnya yang menyangkut bimbingan terhadap masyarakat beragama secara umum, pendidikan agama, dan seterusnya, atau juga kebijaksanaan yang bcrkaitan dengan pembinaan interen Departemen Agama sendiri. Tiga Prioritas Nasional yang menjiwai kebijaksanaan Pemerintah melalui kebijaksana- an dan langkah Menteri Agama adalah : (I) memantapkan ideologi Pancasila di kalangan umat beragama (2) memantap- kan stabilitas dan ketahanan nasional dan (3) meningkatkan partisipasi uma t beragama dalam pem bangunan nasional dan mantapnya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Sudah barang ten tu hal ini semua jika dikaji lebih jauh dalam kerangka perspektif yang lebih luas, rasanya tidak berlebih- lebihan bahwa Bapak Menteri Agama Alamsjah telah melaku- kan kebijaksanaan yang sangat idiil, fundamental sifatnya dan strategis, terutama jika ketiga hal tersebut di atas diletakkan dalam konteks dan upaya meletakkan kebijaksanaan kehidup-

an beragama di Indonesia, dalam kerangka beragama dan

(12)

berbangsa, menuju terbinanya masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, terbinanya kesatuan dan persatuan nasional untuk mewujudkan cita-cita masya- rakat Pancasila yang agamis dan masyarakat beragama yang Pancasilais.

Bertitik tolak dari apa yang telah kami kemukakan di atas, maka hasrat untuk menghimpun dan menyebarluaskan kebijaksanaan Bapak Menteri Agama tersebut, ke kalangan yang lebih luas menurut hemat kami merupakan hal yang sangat mendesak. Agar dengan demikian kebijaksanaan atau gagasan-gagasan tersebut yang sifatnya strategis akan lebih dapat dipahami dan juga diharapkan sekaligus lebih cepat terlaksana seperti apa yang diinginkan. Hasrat seperti ini lebih-lebih lagi terdorong, jika kita melihat bahwa agama dalam proses pem bangunan yang terus berlanju t ini tampak- nya akan menempati tempat yang lebih sentral lagi. Sebab,

betapa semakin banyaknya tema-tema kultural dan kemasya- rakatan yang akan muncul akibat pembangunan tersebut, perlu segera memperoleh tanggapan dari agama. Dan agama bukan saja dituntut untuk menggumuli tema-tema kemasya- rakatan terse but, tetapi sekaligus juga harus mampu memberi- kan jalan keluar, mampu menemukan dan memberikan mak- na terhadap setiap perubahan masyarakat, dengan bahasa dan pemecahan yang nyata.

Di sinilah kita melihat relevansinya topik-topik pe- mikiran Menteri Agama Alamsjah, yang dalam kedudukan- nya sebagai Menteri Agama, tidak eksklusif berbicara agama dalam pengertian sempit, tapi beliau telah mencoba meng- kaitkan agama dengan topik permasalahan masyarakat secara nyata, seperti konsep atau pemyataan beliau tentang perlu- nya agama ikut berbicara mengenai masalah-masalah nasional, regional dan intemasional, pembinaan generasi muda, masa- Iah kependudukan, pembinaan keluarga bahkan sampai ma- salah perbaikan gizi. Dalam pandangan beliau, tanpa adanya

(13)

kepekaan agama terhadap pe1necahan masalah-masalah ter- sebut, apalagi justru agama berdiri di luar perubahan sosial yang terjadi, maka tidak mustahil apabila agama akan ke- hilangan inisiatif dan momentumnya, sehingga agama tidak lebih dari gerakan para pengkhotbah yang puas dengan pesan- pesan verbalnya belaka. Di sinilah kekhasan Bapak Menteri menginginkan adanya cakrawala dan nuansa-nuansa yang le- bih luas dari kalangan agama untuk melihat kenyataan-ke- nyataan umat manusia, yang tidak 1nungkin ditinjau dan di- selesaikan hanya dengan pendekatan doktrin sempit belaka, apalagi yang cenderung menekankan benar dan salah dalam dikotomi dosa dan pahala saja. Tanpa mengurangi semangat yang doktriner agama yang memang seharusnya dipegang te- guh. bagaimanapun harus berani melihat kenyataan-kenyata- an nyata masyarakat ini dan ikut berusaha menyelesaikan- nya. Dalam hal ini menurut Bapak Menteri Agama, agama dituntut untuk dappt memberi jawaban dan setidaknya harus memberikan jalan keluar, sekurangnya motivasi ter- hadap pembangunan. Sebab pembangunan lewat jalur aga1na adalah jalur yang paling murah dan akan cepat keberhasilan- nya.

Dalam hubungan ini beliau selalu mengajak untuk me- mahami agama, memahami Al-Qur'an dengan penuh se- mangat. Apabila selama ini ada kesan umat Islam tidak maju atau ketinggalan, maka yang disalahkan adalah umat lslam- nya dan bukan ajaran Islamnya. Umat Islam akan memper- oleh kemajuan karena mengamalkan Al-Qur'an secara benar, dan akan ketinggalan karena meninggalkan ajaran Al-Qur'an atau ajaran Islam.

Masalah lain berkenaan dengan ide penyuntingan ini ialah, bahwa kebijaksanaan ataupun gagasan Bapak Menteri Agama tersebut sebahagian besar tertuang dalam kesempatan menyampaikan sambutan, pengarahan atau dalam menyam- paikan uraian, makalah, yang sangat terbatas baik waktu dan

(14)

forumnya. Sudah tentu kebijaksanaan atau gagasan itu tidak mungkin dapat diketengahkan secara tuntas dalam setiap kesempatan, apalagi dalam suatu pembahasan yang lebih menyeluruh dan utuh sifatnya. Oleh sebab itu dalam hal ini Bapak Menteri tidak bisa lain dalam suatu kesempatan terpaksa harus menyinggung banyak topik, sekalipun hanya pada garis besarnya saja dan selanjutnya dalam kesempatan yang berbeda, beberapa topik tersebut ada kalanya bila dipandang perlu diketengahkan lagi secara lebih luas. Dan begitu pula karena dianggap ada topik-topik tertentu yang dipandang sangat idiil atau mendasar sifatnya, maka sudah barang tentu hal-hal seperti ini harus dinyatakan berkali- kali dalam banyak kesempatan yang berbeda-beda. Inilah antara lain yang juga mendorong kembali perlunya topik- topik pembicaraan tersebut dihimpun dan disajikan dalam rangkaian melalui sistimatika penyajian tertentu, yang lebih mud ah dilihat benang merah a tau alur pem bahasannya.

Dal am hal ini bahwa sampai Desem ber 1981, pidato sambutan, pengarahan, amanat maupun uraian pengarahan Menteri Agama ini telah didokumentasikan dalam suatu himpunan yang Iengkap sesuai dengan aslinya sebanyak 15 jilid, disusun berdasarkan urutan waktu, yang masing-masing jilid berkisar antara 40 judul pidato, sam bu tan, pengarahan, amanat ataupun pokok-pokok uraian. Sebagai himpunan Iengkap sudah tentu nilai dokumentasinya sangat penting, sebab siapapun yang memerlukan naskah aslinya dapat me- lihat ke himpunan tersebut. Namun dari segi lain, yakni ke- pentingan memperoleh dengan cepat pengertian kebijaksana- an-ke bijaksanaan dan gagasan yang tertuang di dalamnya, sudah tentu himpunan ini perlu disistimatisir dalam beberapa persoalan pokok sehingga mudah memahami persoalan-per- soalan pokoknya.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran inilah, maka kami mengambil prakarsa untuk rnenyunting hirnpunan tersebut

(15)

ke dalam serial yang berkaitan secara tematis. Sebenarnya dari keseluruhan topik yang terdapat dalam 15 jilid buku ter- sebut dapat melahirkan berbagai judul, namun karena pertim- bangan banyak hal, maka pada kesempatan ini kami coba me- nyuntingnya dalam enam buku, yang masing-masing merupa- kan suatu rangkaian dalam kesatuan judul serial yang kami sebut : KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL.

Tentu saja, penyuntingan enam buku ini merupakan langkah awal, yang nantinya akan disusul dengan buku ber- ikutnya. Adapun keenam buku tersebut yaitu : I. Pembinaan Kehidupan Beragama di Indonesia; II. Bimbingan Masyarakat Beragama; III. Pembinaan Pendidikan Agama; IV. Kerukunan Hidup Beragama; V. Kehidupan Beragama Dalam Negara Pancasila; dan VI. Wilayah Kajian Agama di Indonesia.

Buku I Pembinaan Kehidupan Beragama di Indonesia yang disunting oleh Drs. H.A. Hafizh Dasuki, M.A. memuat antara Ian tentang : Sekilas ungkapan kebelakang sejarah ke- merdekaan dan masalah pembinaan kehidupan beragama oleh pemerintah, masalah Pembangunan Nasional, Tugas Pokok Departemen Agama dan Program-programnya, Permasalahan um um dan Ke bijaksanaan, Persoalan-persoalan khusus, dan lain-lain.

Buku Pertama ini merupakan edisi ke 2 yang disempur- nakan dari edisi ke 1 ( 1980); gaya penulisannya lebih di- padatkan atau lebih mencerminkan hal-hal yang pokok. Da- lam buku ini didokumentasikan selain pokok-pokok masalah yang terdapat dalam pidato sambutan, pengarahan, amanat maupun uraian Menteri Agama, juga hal-hal yang bersifat petunjuk langsung atau rekaman-rekaman dari berbagai ke- sempatan pembicaraan beliau yang tidak disampaikan secara tertulis. Mengingat sifatnya demikian maka dengan sendiri- nya uraian bersifat pokok-pokok persoalan, disamping yang terperinci, sepanjang diperlukan, namun sedapat-dapatnya

(16)

telah diusahakan semua persoalan yang dibicarakan tercermin atau telah tercakup pokok-pokoknya dalam Buku I.

Buku II Bimbingan Masyarakat Beragama, disunting oleh Moeslim Abdurrahman, membicarakan tentang : fungsi dan peranan Ula.ma, fungsi Masjid dan Dakwah. Keduduk- an dan Pembinaan Badan Peradilan Agama. Pengembangan Zakat dan Masalah Penyelenggaraan Haji, Bimbingan Agama di kalangan Keluarga, termasuk masalah kependudukan dan Program Keluarga Berencana dan Usaha Perbaikan Gizi, serta Pembinaan Generasi Muda.

Dalam buku ini sebenarnya lebih menonjol dibicarakan bimbingan masyarakat Islam. Namun demikian, dalam bagi- an-bagian tertentu konsep bimbingan tersebut juga berlaku secara umum segenap umat beragama selain Islam.

Dari seri ini tergambar bimbingan yang selama ini dilakukan oleh Departemen Agama dan po la ke bijaksanaan, bim bingan dan pelayanan kehidupan beragama yang dianut atau dilaku- kan oleh Pemerintah (dalam hal ini Departemen Agama R.l.).

Buku III Pembinaan Pendidikan Agama, disunting oleh Drs. H.M. Atha Mudzhar, MSPD. Dalam buku ini dibahas : sistem pendidikan Agama sebagai sub-sistem pendidikan na- sional, pembinaan pondok pesantren, madrasah dan pembina- an perguruan tinggi Agama. Dalam buku ini secara terurai dijelaskan dasar dan tujuan pendidikan nasional, sistem pen- didikan Islam yang ada selama ini serta arah kebijaksanaan yang ditempuh oleh Departemen Agama dalam hal Pendidik- an Agarna, baik terhadap pendidikan tingkat dasar, termasuk diniyah dan pondok pesantren sampai tingkat pendidikan tinggi.

Buku IV Kerukunan Hidup Umat Beragama, disunting oleh Drs. Djohan Effendi, pada intinya membicarakan ten- tang : Pembinaan Kehidupan Beragama, kaitannya dengan Ketahanan Nasional, serta Pola Pembinaan Kerukunan Umat heragama. Secara luas dalam bukn ini dihah~., ''nt:i11g Tiga

(17)

Kerukunan, yaitu Kerukunan interen Umat Beragama, Keru- kunan antar Umat Beragama dan Kerukunan antara Umat Beragama dengan Pemerintah. Selain itu juga dijelaskan ten- tang langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah selama ini, dalam rangka mewujudkan kerukunan tersebut.

Buku V Kehidupan Beragama Dalam Negara Pancasila, disunting oleh Drs. Abdullah Sukarta, pada pokoknya men- jelaskan tentang : Kedudukan Agama dalam Negara Pancasila

dan kaitan antara keduanya; Beberapa penegasan tentang Pancasila ~an kaitannya dengan umat Beragama pada umum- nya dan dengan umat Islam pada khususnya; Penghayatan dan pengamalan Pancasila melalui pembudayaan P4 di kalang- an umat beragama.

Dari buku ini diharapkan para pembaca memperoleh penjelasan, bagaimana kehidupan beragama dalam Negara Pancasila serta bagaimana kaitan pemahaman antara kedua- nya. Dengan demikian menjadi jelas bagaimana politik keaga- maan yang selama ini diambil oleh pemerin tah serta bagaima- na seharusnya umat beragama bersikap terhadap negara dan pemerintahannya sendiri.

Buku VI Wilayah Kajian Agama di Indonesia, disunting oleh Dr. Thoyib l.M, membicarakan tentang topik-topik ke- agamaan yang perlu memperoleh penanganan melalu peneliti- an atau kajian, berdasarkan pengamatan Bapak Menteri Agama selama ini. Dalam pembahasan ini tergambar wilayah persoalan penelitian, baik yang berlingkup nasional maupun internasional dan juga di kawasan ASEAN. Tema-tema masa- lah ini penting memperoleh perhatian seperlunya, dalam rangka memperoleh pola pemecahannya secara konsepsional.

Demikianlah selintas gambaran isi masing-masing dari keenam buku ini. Disadari sepenuhnya bahwa karena buku ini merupakan karya sun tingan, terlepas dari materi yang di- sajikan, maka dalam bentuknya sebagai karya suntingan jauh dari sempurna. Kritik membangun untuk penyempumaan buku-buku tersebut sangat dihargai. Seperti telah dikemuka-

(18)

kan, bahwa buku ini adalah hasil suntingan dari himpunan pidato sambutan, pengarahan, dan amanat Menteri Agama R.I. yang telah dilakukan oleh Drs. H.A. Hafizh Dasuki, M.A. (Sekretaris Menteri Agama R. I.) sejak April 1978 sam- pai dengan Desem ber 1981. Dalam hal ini kendatipun telah diusahakan agar dalam proses penyuntingan tersebut secara materiil isinya tidak berubah, apalagi bertentangan dengan maksud aslinya, namun sekiranya ternyata masih saja ada kekhilafannya, maka hal ini adalah merupakan kekurangan dan keterbatasan dari penyunting. Kami memberanikan diri untuk mewujudkan karya suntingan ini dengan harapan dapat menyebarluaskan kebijaksanaan Pemerintah melalui langkah- langkah yang diam bil oleh Menteri Agama R. I. yang ter- cermin dalam berbagai sambutan, pengarahan dan amanat beliau.

Kami penyunting menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Menteri Agama R.I. yang telah berkenan mem- berikan dorongan dan petunjuk dalam usaha penyuntingan bukuini.

Akhirnya, dengan ketulusan hati, lewat kesempatan ini penyunting mengucapkan terima kasih kepada semua pi- hak yang ikut membantu terwujudnya karya penyuntingan ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik.

Kami sampaikan hasil suntingan ini kepada segenap pembaca, semoga bermanfaat adanya dalam ikut serta membangun bangsa, negara dan agama.

Jakarta, 25 Desem ber 1981 Ketua Team Penyunting A.H.

(19)

Serial

KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NA- SIONAL.

Hak cipta : H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA Ketua Team Penyunting

Penyunting

Pencetak

Drs. H.A. Hafizh Dasuki, M.A.

Ors. H.A. Hafizh Dasuki. M.A.;

Moeslirn Ab durrahman;

Ors. H.M. Atho Mudhar, MSPD.;

Drs. Djohan Effendi;

Drs. Abdullah Sukarta;

Dr. Thoyib IM.

: PT Karya Uni press, Jakarta.

Penyuntingan 1n1 dibiayai oleh BadanLitbang Agama dan untuk penerbitan Edisi Pertama (Maret 1982) dibiayai oleh Biro Keuangan Departemen Agama RI.

(20)

DAFTAR ISi.

SAMBUTAN

MUKADIMAH 9

PENDAHULUAN 25

I. FUNGSI DAN PERANAN ULAMA. 35

A. Kedudukan Ulama Dalam Pem bangunan.

B. Fungsi Majlis Ulama.

II. FUNGSI MASJID DAN KEGIATAN DAKWAH. 51 A. Perkembangan Masjid.

B. Segi Perencanaan Fisik.

C. Fungsi Kemasyarakatan.

D. Tugas Da'i dan Khatib.

E. Kebebasan Dakwah.

F. Methoda Dakwah.

G. Peranan Organisasi Dakwah.

H. Peranan Mediamassa.

III. MUSABAQOH TILAWATIL QUR'AN. 79

A. Al-Qur'an dan Usaha Memahaminya.

B. Tujuan M.T.Q.

C. LPTQ dan Pem binaan Dewan Hakim.

IV. PEMBINAAN BADAN PERADILAN AGAMA. 103 A. Kedudukannya Dalam Negara Pancasila.

B. Pembinaan Hakim Agama.

C. Masalah Yang Dihadapi dan Saran Pemecahannya.

v.

PENGEMBANGAN ZAKAT. 115

A. Ide Sosialisme Dalam Islam.

(21)

B. Islam Dan Masalah Sosial.

C. Zakat Dan Usaha Pemecahan Masalah Sosial.

VI. PENYELENGGARAAN HAJI.

A. Kebijaksanaan Pelayanan Haji.

B. Pennasalahan Pelaksanaan Haji.

C. Masalah Ongkos Naik Haji.

D. Team Petugas Haji Indonesia dan Team Kesehatan Haji Indonesia.

E. Sistem Baru.

VII. PEMBINAAN KELUARGA SEJ AHTER ·~

A. Peranan Wanita.

B. Undang-Undang Perkawinan.

C. Peranan BP4.

D. Keluarga Berencana.

E. Usaha Perbaikan Gizi.

VIII. PEMBINAAN GENERASI MUDA.

A. A rah Pem binaan.

B. Potensi Generasi Muda.

C. Generasi Muda dan Masalahnya.

D. Pembinaan Remaja Putri.

Daftar Dokumen.

135

171

205

227

(22)
(23)

PENDAHULUAN

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin kita pada waktu itu dengan penuh bijaksana telah menempatkan aspek ke Tuhan- an dan kerohanian sebagai aspek yang ikut menentukan bagi berhasilnya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itulah dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain disebutkan: "Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan keban~aan yang bebas, maka Rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya". Pemya- taan ini mengandung pengakuan bangsa Indonesia :

(a) Bahwa tercapainya kemerdekaan bukanlah semata-mata usaha manusia belaka, akan tetapi berdasarkan pula atas karunia Tuhan Yang Maha Esa;

(b) Bahwa proklamasi kemerdekaan didorong oleh keingin- an luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas;

(c) Bahwa yang menyatakan kemerdekaan adalah rakyat Indonesia dan yang dinyatakan kemerdekaannya ialah juga rak.yat Indonesia.

(24)

Dalam menetapkan isi Undang-Undang Dasar 1945, para pemimpin kita waktu itu cukup menyadari arti dan posisi kehidupan rohani bangsa Indonesia. Sehingga bukanlah hal yang kebetulan atau suatu kejadian yang mengandung Iatar belakang jika dalam pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 di- sebutkan bahwa :

(a) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa;

(b) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan- nya itu.

Departemen Agama dibentuk bulan 1 anuari 1946. Pada tahap-tahap pennulaan pertumbuhannya, kegiatan Departe- men Agama hampir I 00% mengurusi agama Islam. Hal itu disebabkan :

(I) Secara obyektif, memang volume kegiatan keagamaan berada di sektor Islam;

(2) Secara historis umat Islam merasa memiliki Departemen Agama, karena tokoh-tokoh lslamlah yang memperju- angkan adanya Departemen Agarri1;

(3) Kelompok-kelompok agama lain pada mulanya tidak be- gitu menaruh perhatian kcpada Departemen Agama, se- perti misalnya agama Kristen dan Katolik. Sebab sesuai dengan prinsip agama mereka, kegiatan keagamaan hen- daknya terpisah dari negara. Dengan kata lain negara tidak usah mencampuri urusan agama;

(4) Sarana dan mekanisme organisasi keagamaan di kalangan umat Islam sudah tersusun semenjak zaman kerajaan- kerajaan Islam dan di zaman penjajahan tetap terpeliha- ra. Setelah Departemen Agama terbentuk, organisasi yang mengurus keagamaan yang sudah ada itu dengan mudah saja dialihkan di bawah lingkungan Departemen Agama.

Dewasa ini, sesuai dengIDi perkembangan situasi dan

(25)

kondisi, perkembangan Departemen Agama mulai memperli- hatkan cakrawala yang lebih luas. Kalau dahulu hampir 100%

dari kegiatan Departemen Agama adalah menyangkut agama Islam, maka telah dilakukan restrukturisasi dan refungsiona- lisasi sehingga setiap kelompok agama mendapat tempat yang wajar. Dewasa ini di lingkungan Departemen Agama terdapat lima Direktorat Jenderal yaitu :

( 1) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji;

(2) Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam;

(3) Direktorat Jenderal Birnbingan Masyarakat Agama Ka- tolik;

(4) Direktorat J enderal Bimbingan Masyarakat Kristen Pro- testan, dan

(5) Direktorat J enderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.

Di samping Direktorat Jenderal tersebut, Departemen Agama mempunyai Badan Penelitian dan Pengembangan Aga- ma. Sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, kelima Direktorat J enderal di atas melakukan bimbingan kehidupan agama di lingkungan umatnya masing-masing.

Dalam negara Pancasila, agama pada prinsipnya menda- pat pelayanan yang sama tanpa dibedakan sebagai agama ma- yoritas atau minoritas. Yang ada hanyalah mendahulukan mana yang perlu didahulukan sebagai urutan prioritas. De- ngan demikian kebijaksanaan pimpinan Departemen Agama

adala~ menempatkan pilihan-pilihan prioritas tersebut yang tepat. Tentu saja akibat pemilihan prioritas tersebut sesuai dengan sarana dan prasarana yang ada, kadang-kadang masih dapat menim bulk an ketidakpuasan dari satu pihak. Karena setiap agama itu masing-m asing memiliki watak tersendiri, maka prinsip dan pola pembinaan v~hidupan keagamaan di

(26)

Indonesia harus tetap berpedoman pada Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 dan pasal 29 Undang-Undang Dasar

1945, serta ketentuan-ketentuan dari ketetapan MPR dalam GBHN dan P4. Prinsip-prinsip tersebut pada garis besamya meliputi :

l. Pembin~an kehidupan keagamaan hams ditujukan untuk kelestarian Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan ko- kohnya Negara Republik Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerak- yatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. De- ngan demikian pembinaan kehidupan kerohanian atau ke- agamaan tidak boleh mengendorkan semangat kecintaan kepada negara Republik Indonesia, Pancasila, dan Undang- Undang Dasar 1945.

2. Pembinaan kehidupan keagamaan harus diarahkan untuk terwujudnya masyara.kat, di mana di dalamnya negara benar-benar menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk ber- ibadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Atas dasar ini, pembinaan kehidupan keagamaan dari masing- masing agama tidak boleh diarahkan untuk menekan atau mengekang kebebasan bagi seseorang untuk beribadat me- nurut agamanya masing-masing.

3. Selain itu, dalam pembinaan kehidupan keagamaan harus sejalan dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu terwu- judnya suatu masyarakat adil dan makmur yang merata

materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wa- dah negara Kesatuan Republik Indonesia yan.g merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasa- na perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis, serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang mer-

(27)

deka, bersahabat, tertib dan damai. Pen1erintah akan ikut menjaga dan memberikan bimbingan agar tidak terjadi ke- hidupan keagamaan yang menyimpang dari tujuan pem- bangunan nasional, yaitu agar tetap adanya k~serasian an- tara aspek materiil dan spiritual.

4. Prinsip dan pola pembinaan kehidupan keagamaan sesuai dengan jiwa P4, yaitu :

(a) Perlunya dikembangkan sikap honnat menghonnati dan bekerja sama antara pemeluk-pemcluk agama, se- hingga dapat selalu dibina kerukunan hidup di antara

sesama umat beraga.ma.

(b) Perlunya dikembangkan sikap sating menghonnati ke- bebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama ma- sing-masing;

(c) Perlunya dikembangkan sikap tenggang rasa dan

"tepaselira", serta sikap tidak semena terhadap orang lain dan pemeluk agama yang lain.

Usaha pembinaan kehidupan keagamaan atas dasar prin- sip dan pola yang digariskan oJeh Undang-Undang Dasar

1945, GBHN dan P4 perlu mendapat perhatian yang sungguh- sungguh dan ikhtiar keras dari semua pihak. Pengalaman kita selama ini, bahwa pada umumnya kekacauan-kekacauan yang terjadi di Indonesia seringkali pada dasarnya berpangkal dari masalah politik dan dikaitkan dengan unsur agama yang di- perten tangkan dengan Pancasila. Agama dan Pancasila selama ini seakan-akan diletakkan pada sisi yang berbeda. Sehingga tidak mengherankan kalau golongan beragama mudah di pengaruhi oleh faktor-faktor destru ktif yang mempertentang- kan agama dan Pancasila tersebut. Oleh karena itulah dalam Kabinet Pembangunan III, usaha pembinaan terhadap kehi- dupan beragama diarahkan pad a tiga hal, yaitu :

(I) Bagaimana supaya umat beragama ikut memantapkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara;

(28)

(2) Bagaimana supaya seluruh umat beragama itu ikut ber- tanggung jawab terhadap stabilitas dan Keamanan Na- sional;

(3) Bagaimana supaya seluruh umat beragama itu ikut serta membangun bersama-sama Pemerintah, mensukseskan Pembangunan Nasional.

Oleh karena itu, dalam usaha ke arah terciptanya stabi- litas dan ketahanan nasional perlu diciptakan suasana keru- kunan, yaitu :

( l) Kerukunan interen umat beragama;

(2) Kerukunan an tar umat beragama;

(3) Kerukunan an tar umat beragama dengan Pemerintah.

Dalam hal ini kerukunan yang mantap merupakan syarat terbinanya dan mantapnya stabilitas dan Keamanan Nasio- nal, dan merupakan jaminan bagi kesinam bungan pemba- ngunan Nasional. Usaha untuk menciptakan tiga kerukunan, dan menyadarkan um at beragama untuk mengam bil bagian aktif dalam pembangunan tidak bisa diwujudkan dengan se- ketika. Banyak hambatan psikologis yang harus ditembus ter- iebih dahulu.

Seperti telah diuraikan di muka, di lingkungan Departe- men Agama terdapat beberapa Direktorat Jenderal yang ber- tugas melakukan bimbingan kehidupan beragama. Beberapa sarana dan jalur yang lazim dipergunakan untuk pembinaan kehidupan keagamaan yaitu antara lain berupa rumah iba- dah, seperti masjid, gereja, pura dan wihara. Kedudukan ru- mah-rumah ibadah tersebut adalah milik masyarakat, dan pe- merintah (Departemen Agama) dalam hal ini merasa berke- wajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan bagi ke- makmuran rumah-rumah ibadah tersebut. Sebenarnya, me- lalui pembangunan rumah-rumah ibadah dapat dibina potensi

umat beragarna dan digali kemampuan untuk dapat membi- ayai dirinya. Karena rasa tanggung jawab Pemerintah dalarn

(29)

pembinaan keagamaan maka pembangunan tempat ibadah- pun mendapat ban tu an Pemerin tah.

Bimbingan kehidupan keagamaan di lingkungan Sekolah dilakukan dengan menyelenggarakan pendidikan agama pada sekolah-sekolah umum dari tingkat Sekolah Dasar sampai Per- guruan Tinggi. Untuk menyiapkan tenaga guru agama dalam lingkungan Departemen Agama terdapat Pendidikan Guru Agama Islam, Kristen dan Hindu Budha. Di samping itu ter- dapat pula lembaga-lembaga pendidikan agama swasta yang mempunyai peranan pen ting dalam usaha peningkatan pen- didikan agama dan pembinaan keagamaan di lingkungan se- kolah.

Selain melalui pendidikan aga.tna pada sekolah umum dan perguruan tinggi umum, wadah pembinaan agama yang paling terkenal di lingkungan masyarakat Islam adalah ma- drasah dan pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga yang amat penting di dalam pembinaan umat Islam.

Lembaga ini berdiri sejak agama Islam tersebar di Indonesia dan dewasa ini tetap bertahan dan berkembang luas di selu- ruh pelosok tanah air. Dari dalam pondok pesantren dan ma- drasah ini para santri ditempa dan dilatih selama 24 jam seti- ap hari, hid up bersama-sama se-asrama a tau sepondok. Me- reka dididik untuk berwatak bebas, tidak tergantung kepada orang lain. Dalam pondok pesantren juga para santri dididik untuk berdisiplin karena mereka dibiasakan antara lain patuh pada waktu dan patuh pada peraturan yang mengatur kehi- dupan bersama dengan mendahulukan kepentingan bersama dari pada kcpentingan pribadi. Pendidikan dalam lingkungan pondok pesantren benar-benar merupakan lembaga yang mendidik manusia-manusia teladan dan sifat agamis yang ting-

gi percaya pada diri sendiri. Dalam dunia pondok pesantren dapat dibina dan dikembangkan kewiraswastaan yang meru- pakan dasar dalam men yum bangkan pribadi yang mampu me- nolong diri sendiri.

(30)

Wadah untuk pembinaan kehidupan beragama di kalang- an masyarakat luas selain dapat melalui masjid, gerej~ pura, wihara, juga lewat kelompok-kelompok pengajian, majelis ta 'lim a tau dapat pula melalui keluarga, sekolah, masyarakat.

Di lingkungan Departemen Agama, untuk bimbingan dan pembinaan keagamaan masyarakat Islam misalnya terdapat Direktorat Urusan Agama Islam bertugas mengurus keluarga- keluarga (rumah tangga) dan Direktorat Penerangan Agama Islam yang melakukan bimbingan kehidupan keagamaan di masyarakat luas. Sebagai sarana penunjang bagi kehidupan beragama dalam masyarakat Islam di antaranya melalui BP4, P2A, MTQ dan lain-lain.

Pembinaan kehidupan keagamaan seperti dikemukakan di atas adalah suatu konsep yang luas dan mencakup segala aspek dan aktivitasnya, menjadi kepentingan seluruh manu- sia tanpa mengenal batas umur, dan menyangkut kerjasama dengan semua pihak dan lingkungan. Masalah pembinaan ke- hidupan rohani ini selalu mempunyai hubungan interaksi, fungsi dan pengaruh timbal-balik dengan pranata-pranata la- innya: agama, hukum, ekonomi, pemerintah, keamanan dan sebagainya.

Mengingat fungsi manusia selalu dikaitkan sebagai ma- nusia sosial dan manusia individual, maka usaha-usaha pem- binaan itu hendaknya selalu dikaitkan dengan :

(1) Pada tingkat individual, pembinaan kehidupan keaga- maan adalah suatu proses interaksi yang mencakup pe- ngenalan, pemahaman, penganalisaan, penilaian, pemi- lihan dan penerangan apa yang dipelajari. Proses ini ju.ga adalah merupakan usaha untuk mengembangkan dan mendewasakan kepribadian secara total, sehingga akhir- nya terbina pribadi yang taat beragama (taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa), berjiwa dan bermoral Pancasila, dan bersemangat persatuan dan kesatuan sesuai dengan aspirasi dan jiwa Undang-Undang Dasar 1945.

(31)

(2) Pada tingkat sebagai manusia sosial, pembinaan kehi- dupan keagamaan berfungsi mengkonservasi sistem nilai- nilai lama. dan berfungsi juga se bagai day a kekuatan pe- robahan sosial. Ujud suatu sistem pembinaan tersebut ada kalanya merupakan manifestasi dari keperluan dan perhitungan effisiensi sosial. Namun dalam menelusuri masalah nilai-nilai tersebut, kita hendaknya berpijak pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat In- donesia sendiri, yang pad a kenyataannya bersum ber dari nilai-nilai agama dan kebudayaan bangsa.

Jelas kiranya bahwa topik yang menjadi inti pembinaan kehidupan keagamaan pada akhimya adalah menyangkut ma- salah nilai-nilai yang menyangkut ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan nilai-nilai yang berkaitan dengan peman- tapan Pancasila sebagai jiwa dan falsafah bangsa Indonesia.

Keduanya merupakan hal yang harus diperhatikan oleh para pembina kehidupan beragama. Erat dengan fungsi pengem- bangan kepribadian, di mana sistem nilai-nilai sosial - yang pada hakekatnya bersumber dari agama, juga merupakan lan- dasan, peningkatan ketaqwaan terhadapTuhan Yang Maha Esa sebagai puncak tertinggi dari tujuan pembinaan kehidupan agama, jelas tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama.

Oleh karena itu, sistem pembinaan kehidupan agama pada da- sarnya menempatkan pendidikan agama, sebagai hal yang sa- ngat essensiil dalam usaha pelaksanaaannya.

Dengan demikian, nilai dan kaidah agama dijadikan se- bagai preferensi dan pilihan utama oleh seseorang individu, dan sebagai "prime value of personal ethics". Disamping itu, dapat ditegaskan bahwa pola sistem pembinaan kehidupan agama hendaknya berfungsi mengisi dan menunjang nilai- nilai nasional, sebagaimana telah menjadi konsensus nasional, yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini ber- arti, bahwa usaha pengembangan daya kekuatan naluri, emosi, penalaran, dan spiritualnya, tidak dapat dilepaskan pada

(32)

usaha untuk memahan1i, menghayati, dan mengamalkan nilai- nilai agama, dan nilai-nilai rujukan konsti tusional, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Salah satu kemungkinan esensi dari tujuan pembinaan tersebut adalah peningkatan kualitas manusia yang merupa- kan "pre requisite", baginya untuk memperkokoh "kedu- dukannya" sebagai hamba Allah yang mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kesadaran sesama manusia lainnya, ber- tanggung jawab untuk memelihara nilai-nilai kebudayaan bangsa, yang pada dasarnya bersumber dari agama. Ini adalah salah satu alasan, mengapa agama menduduki posisi sentral dalam pem binaan kepribadian dan segi-segi psikologik menta- listik. Oleh karena itu, laboratoria yang merupakan sarana metodologik mutlak harus ada, baik dalam bentuknya yang sudah maju seperti masjid, gereja, dan sebagainya. Dan itulah sebabnya maka forum-forum yang sekarang ini sudah ber- fungsi, di mana pendidikan agama berlangsung - seperti ke- luarga, masjid, gereja, pura, wihara, tempat bekerja, sekolah dan lain-lainnya, - perlu mendapat perhatian yang khusus da- lam usaha pembinaan kehidupan keagamaan. Hal ini perlu ditumbuhkan dan dikembangkan, di mana jalur keagamaan merupakan jalur yang paling efektif dan terarah dalam pem- bangunan bangsa dan negara.

(33)

I

FUNGSI DAN PERANAN ULAMA

A. KEDUDUKAN ULAMA DALAMPEMBANGUNAN 1

Pembangunan Indonesia adalah bukan hanya pemba- ngunan ekonomi saja, bukan hanya pembangunan sosial saja, bukan pembangunan bidang kerohanian saja, tetapi pemba- ngunan manusia Indonesia seutuhnya, yakni pembangunan lahir dan batin, rohani dan jasmani, materiil dan spiritual.

Pembangunan lahir dan batin, kebaikan dunia dan akhirat, sesuai dengan apa yang kita mohonkan kepada Allah SWT, melalui doa kita setiap kali, sebagaimana dituntunkan dalam Al Qur'an, Surat Al Baqoroh, ayat 201:

.

; ( ~"

' _,,

~

/~

·~~~,.·~ 8:,\~/ ..

~ / ~

'-'\ ~.. 6 /~/(-_ .... ~/~/ /~~., ,, ·.

\ . ' • \u\J-V\:,.!'

...,,/ /~ "4,'. '" . . . , ( J / ~

>J \

Artinya "Wahai Tuhan ka1ni! Berikan kami kebaikan du- nia ini, dan kebaikan di akhirat kelak dan peliha- ralah kami dari azab neraka".

1) Pcngarahan Pada Rapat Paripuma Lengkap Majelis Ulama lndonesia; Ja- karta; 21 Agustus 1981.

(34)

Berdasarkan ayat di atas, jelas umat Islan1 mempunyai motivasi yang kuat dalam usaha mewujudkan tujuan nasional, mcmbina masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual, bcrdasarkan Pancasila. Ajaran Islam telah mem- berikan garis dan pedoman yang jelas bagi umatnya dalam n1engisi kc hid upannya di dunia ini, tenl tam a dalam menegak- kan yang baik dan mencegah yang mungkar C'amar ma'rur·

dan "'nahi munkar"). Namun kita juga melihat kenyataan, bahwa masih banyak umat Islam yang belum memahami se- penuhnya akan makna ajaran agamanya, sehingga sering ter- jadi kesalahfahaman di antara umat Islam itu sendiri dalam

beberapa masalah.

Di sinilah letak peranan ulama dalam usaha mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Sebab untuk berhasilnya pem- bangunan nasional, diperlukan kesadaran masyarakat akan pentingnya pembangunan itu, dan kesediaan mereka untuk meningkatkan partisipasinya. Para alim ulama dalam kehi- dupan masyarakat Indonesia berperan sebagai guru masya- rakat yang memiliki ilmu dan kebijaksanaan, sehingga kata dan fatwa mereka diturut dan diikuti serta dipatuhi. Oleh se- bab itu, di tangan ulama dan tokoh-tokoh agamalah terdapat kunci yang bisa menghambat dan melanjutkan proses pemba- ngunan. Dengan demikian, maka para ulama dan tokoh-tokoh agama ikut menentukan sukses tidaknya pembangunan sesuai dengan keaktipannya memberikan bimbingan, tuntunan dan pengarahan kepada umat beragama, dengan berbagai kebijak- sanaan, khususnya dalam bentuk :

(1) menterje1nahkan nilai-nilai dan nonna-norma agama da- lam kehidupan masyarakat;

(2) menterjemahkan gagasan-gagasan pembangunan ke da- lam bahasa yang dipahami oleh umat beragama;

(3) memberikan pendapat, saran dan petunjuk terhadap ide- ide dan cara-cara yang dilakukan untuk suksesnya pe1n- bangunan;

(35)

(4) dengan bahasa ulama, mendorong masyarakat dan umat beragama untuk ikut serta secara aktip dalam usaha pembangunan bangsa.

Apabila keempat tersebut di atas dapat dilaksanakan, maka bukan saja pem bangunan itu bisa berhasil. akan tetapi gagasan pembangunan nasional sebagai pembangunan ma- nusia Indonesia seutuhnya akan dapat dipenuhi.

Siapapun yang memahami sejarah bangsa Indonesia ten- tu yakin sepenuhnya peranan penting yang dilakukan oleh para ulama , baik pad a zaman sebelum dan sesudah kemerde- kaan, bahkan sejak adanya Nusantara ini. Tidaklah dapat di- mungkiri, bahwa para ulamalah yang pertama kali memper- kenalkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih terbelakang. Para ulama merupakan unsur pen ting dalam mencerdaskan bangsa Indonesia sebelum dikenal sistem sekolah modern yang diperkenalkan dunia Ba- rat, melalui pihak penjajah. Dalam merebut dan memperta- hankan kemerdekaan kobaran patriotisme lahir dari sema- ngat para ulama yang didorong oleh ajaran Islam yang kuat bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.

Sebagai akibat dari penjajahan, para ulama melakukan

"hijrah" atau "isolasi" karena sikap "non kooperatir' terha- dap penjajah. Sikap ini besar atau kecil kadang-kadang masih tercennin sampai saat ini karena anggapan seolah-olah ada se- suatu yang tidak sesuai dengan panggilan jiwanya. Apabila se- lama ini masih dirasakan adanya kurang keserasian atau ma- sih saja ada saling curiga mencurigai, tiada lain karena build up selama masa penjajal1an yang panjang ten tu saja memerlu- kan waktu cukup panjang untuk menghapuskannya.

Satu hal yang barangkali menjadi catatan dewasa ini ada- lah adanya satu fikiran bahwa bangsa Indonesia pada umum- nya, dan umat beragama pada khususnya terlalu berat kepada orientasi politik. Saat sekarang ini, kita mulai (terutama sejak kita melaksanakan Pelita I) kepada orientasi pembangunan.

(36)

Apabila suatu persoalan dilihat dari kaca mata pembangunan maka persoalan yang sama akan berbeda hasilnya apabila di- lihat dari kaca mata politik. Karena itu kiranya menjadi pe- mikiran bersama untuk meluruskan orientasi masyarakat ter- sebut, sesuai dengan persoalan yang dihadapi bersama oleh se- luruh bangsa. Dalam hal ini dapat dikemukakan sebagai contoh, Islam dengan segala totalitasnya, sering-sering tam- pak memang lebih berat kepada pertimbangan politik. Ajaran Islam, tidak memisahkan antara negara dengan agama. Per- soalannya adalah bagaimana melaksanakan ajaran agama de- ngan sebaik-baiknya dengan tidak bertentangan dengan kon- disi yang ada. Dalam negara yang berdasarkan Pancasila, tidak mungkin terjadi hal-hal yang bertentangan dengan agama.

Landasan negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kehidupan masyarakat untuk melaksa- nakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Dalam gelora ma- syarakat yang sedang membangun, motivasi agama merupa- kan alat yang ampuh dalam menggelorakan semangat masya- rakat dalam pembangunan. Motivasi keagamaan hendaknya melahirkan hasil-hasil karya dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan seterusnya.

Sesuai dengan peranan dan fungsi ulama, dapatlah kira- nya dikembangkan dan ditingkatkan peranan umat Islam da- lam pembangunan bangsa, negara dan agama. Kita tumbuh suburkan saling membantu, saling memerlukan, saling mem- beri dan menerima serta semakin dieratkan hubungan yang baik antara ulama dan umara. Oleh karena itu menjadi ke·

wajiban umat Islam untuk lebih meningkatkan peranannya dalarn pembangunan bangsa dan negara, sebab umat Islam se- dikitnya mempunyai tiga kewajiban pokok, yaitu :

( l) Umat Islam berkewajiban untuk menyelamatkan Islam dan umatnya dari segala macam ancaman dan tindakan;

(2) Umat Islam berkewajiban untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sehingga umat Islam secara individu mau-

(37)

pun kelompok benar-benar mempunyai peranan;

(3) Umat Islam berkewajiban untuk 1nelakukan dakwah Is- lainiyah, sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Ketiga kewajiban tersebut tidak dapat dilepaskan dari usaha besar bangsa Indonesia dalam pembangunan bangsa, negara dan agama, agar benar-benar dapat terwujud suatu ma- syarakat Pancasila yang agamis dan masyarakat beragama yang Pancasilais. Dalam hubungan inilah 2 barangkali masalah pendekatan melalui keagamaan perlu dikaji dan dirumuskan lebih lanjut, sehingga jalur melalui keagamaan ini merupakan salah satu jalur yang tidak terpisahkan dari seluruh jalur-jalur yang dipergunakan untuk meratakan informasi tentang pem- bangunan Nasional kepada seluruh lapisan masyarakat.

Satu hal yang harus diketahui dan disadari bersama da- lam kehidupan bernegara yang semakin kompleks di masa pembangunan sekarang bahwa komunikasi merupakan kegi- atan pokok dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari se- luruh sistem alam semesta. Dalam kehidupan manusia mu- tlak harus mengadakan komunikasi dengan lingkungan, baik lingkungan alam atau lingkungan sesama manusia. Suatu rea- litas bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Dan sebagai makhluk sosial, manusia membina kehidupan dalam ikatan suatu kelompok yang dinamakan masyarakat, baik masya-

rakat yang paling kecil bentuknya seperti keluarga, maupun masyarakat yang telah berkembang menjadi bangsa.

Di dalam kehidupan bermasyarakat memungkinkan orang bekerjasama dengan orang lain serta mengadakan pem- bagian pekerjaan. Dengan berkomunikasi orang dapat tukar menukar pengalaman. Dengan demikian, maka komunikasi merupakan kegiatan yang pokok dalam kehidupan bennasya- rakat. Seperti yang dikatakan oleh William L. Rivers, bahwa

2) Ceramah Pada Kongres ke V lkatan Pers Mahasiswa Indonesia; Jakarta;

28 Mei 1980.

(38)

komunikasi itu merupakan realitas pokok dari kehidupan ma- nusia (a central fact of human existence).

Melalui komunikasi, orang dapat mempengaruhi dan me- ngubah sikap orang lain. Komunikasi memungkinkan pemin- dahan atau penyebaran ide atau penemuan baru kepada orang Iain dalam proses pembangunan. Dengan demikian, maka ko- munikasi itu merupakan alat pembangunan, alat modernisasi/

pembaharuan secara timbal balik dalam rangka menemukan Iandasan bagi terbinanya kesatuan pengertian dan pendekatan tentang masalah-masalah yang dihadapi, sehingga dapat men- jurus kepada kesempatan dalam melaksanakan kepentingan

bersama.

Suatu program atau gagasan yang telah dicanangkan be- lum tentu mendapat dukungan dari masyarakat luas, kalau mekanisme komunikasi dalam menginfom1asikan ide-ide dan program-program itu macet. Apabila mekanisme komunikasi antara pemerintah sebagai pengambil keputusan dengan rak- yat berjalan lancar, maka gagasan atau ide itu akan dengan mudah diterima oleh rakyat, atau setidak-tidaknya masyara- kat dapat mengerti latar belakang sekalipun ia belum mene- rima sepenuhnya ide itu. Dengan demikian, dapat dicarikan pemecahannya apabila rencana atau ide tersebut dirasakan berat atau kurang layak untuk dilaksanakan atau diterima.

Menyadari pentingnya dialog dan komunikasi itulah maka dewasa ini selalu kita usahakan terciptanya semangat dialog dan komunikasi melalui forum-forum yang kita ang-

~ap efektif. Khusus untuk menunjang pembangunan pernah dilakukan Pekan Komunikasi Pem bangunan oleh Departemen Dalam Negeri beberapa tahun yang lalu dan juga Pekan Ori- entasi Pembangunan bagi Ularna dan Khatib untuk golongan agama Islam. Dalam hal ini diakui bahwa belum semua masa- lah telah dapat dipecahkan dengan forum Komunikasi. Te- tapi kita semua bemiat dan berusaha semaksimal mungkin, dalam memecahkan pennasalahan-pennasalahan yang diha-

(39)

dapi itu dengan memantapkan komunikasi antar lintas sek- toral dari semua kegiatan, sehingga tidak ada satu sektor pun yang tidak memperoleh inforrnasi atau tidak terkontrol. Dan karena itu pulalah agaknya yang mendorong lahirnya disiplin (spesialisasi) baru dalam ilmu Komunikasi Modem sekarang yang kita kenal dengan nama "Komunikasi Penunjang Pem- bangunan" (Development support Communication).

Dalam proses berkomunikasi misalnya, penyampaian ide komunikator kepada komunikan untuk memperoleh hasil- hasil yang maksimal, tidak semata-mata tergantung dari pe- nguasaan tehnik komunikasi, tetapi sangat banyak tergantung dari masalah-masalah lain, seperti masalah psikologis, maupun sosiologis, bahkan masalah antropologis historis dan ekono- mis. Dalam menerima suatu infom1asi atau berita (pesan) se- orang atau sesuatu kelompok ada yang sifatnya aktif atau ter- buka, yaitu tidak saja diterima dalam arti bentuk luamya, tetapi diyakini pula. Proses yang disebut proses hubungan an- tara harapan dan manfaat. Jadi sesuatu yang diusulkan atau dipesankan oleh Komunikator akan dapat diterima komuni- kan atau audiens, apabila komunikasi tersebut ada harapan akan memperoleh manfaat.

Khusus untuk masyarakat tradisional, apakah sesuatu pesan itu mendapat respons positip atau negatip, sangat ter-

gantung pada komunikator dan "penyaring berita/informasi".

Dependensi anggauta masyarakat dari pemimpin tidak resmi atau pemimpin resmi adalah tetap besar. Dengan penjelasan lain, dalam masyarakat pedesaan kenyataan sekarang masih bersifat tradisional, di mana model komunikasi yang berlaku adalah model arus dua tahap (two step flow). Masyarakat yang berstruktur tradisional akan sulit menerima suatu ide pembaharuan untuk diadopsi. Masyarakat yang demikian baru akan mengadopsi ide pembaharuan dengan melalui pe- mimpin setempat, di mana pemimpin setempat dianggap

"opinion leader"nya. Tahap pertama media komunikasi

(40)

massa seperti radio, televisi dan media tercetak/tertulis itu hanya dapat mencapai pemimpin setempat. Tahap kedua pe- mimpin setempat dengan media komunikasi tatap muka atau media komunikasi antar primdi (face to face communication) atau "interpersonal communication" menyampaikan pesan pembaharuan kepada rakyat. Dengan demikian opinion leader memegang peranan penting dalam komunikasi di daerah pe- desaan.

Faktor yang menentukan diterimanya atau ditolaknya pesan atau gagasan oleh penerima pesan (komunikan) ialah:

a. bagaimana materi pesan itu;

b. bagaimana cara menyajikannya (apakah) dengan paksaan a tau persuasi;

c. siapa penyebar idea (pesan) itu, apakah sudah dikenal baik oleh komunikan, bagaimana kontak pribadi antara komu- nikator dan komunikan (affinitas komunikan dan komuni- kator);

d. apakah pesan atau ide yang disampaikan mengganggu ni- lai-nilai yang dianut komunikan seperti adat, agama dan kepentingan setempat.

Dalam hubungan dengan posisi pembendung informasi dan pesan tersebut di atas, kedudukan tokoh agama, ulama atau Kyai sebagai "infonnal leader" cukup menentukan (dominan). Dalam masyarakat beragama, terutama di daerah- daerah pedesaan di mana lebih dari 85% dari rakyat menetap, pesan atau infonnasi itu mau tidak mau akan diadopsi rakyat lewat ulama Kyai. J ika sud ah diterima oleh Ulama a tau Kyai dengan sendirinya akan mudah diterima oleh rakyat atau umat yang banyak. "Fatwa" atau kata putus dari Ulama atau Kyai (pemuka agamanya) lazimnya akan ditaati oleh masya- rakat di lingkungannya, lebih-lebih bagi jemaah yang sudah terjalin afinitas dengan Ulama/Kyai atau pemuka agama tadi.

Forum-forum ta tap muka an tara. seorang Ulama dengan jam a-

(41)

ahnya cukup efektif untuk menumbuhkan semangat afini- tas. Mass media modem seperti TV dan Radio, surat kabar dan lain-lain belum mampu mengatasi forum-forum yang ada di kalangan umat beragama. Di lingkungan umat Islam umpa- manya kita dapat mencatat forum-forum pembentuk penda- pat seperti mim bar jum 'at, Majelis Ta'lim, acara kenduri, pon- dok pesantren, organisasi dan lain-lain. Fatwa atau sikap Ulama, khususnya yang menyangkut masalah agama, akan di- ikuti oleh umat Islam. Di lingkungan umat Katolik kita me- ngenal garis-garis disiplin dari MA WI dan Kristen dari Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI).

Banyak pengalaman yang membuktikan hal di atas. Be- tapa misalnya pemerin tah mengalami ban yak kesulitan tatka- la mula-mula program Keluarga Berencana dilontarkan kepa- da umat beragama. Tanpa ada pendekatan dengan Ulama, program KB boleh dikatakan tidak dapat berjalan lancar se- bagaimana mestinya, bahkan mendapat banyak tantangan dari umat beragama. Tetapi setelah diadakan komunikasi de- ngan kalangan ulama dan pemimpin agama, dan bahasa KB diterjemahkan ke dalam bahasa agama, dan setelah ada pene- gasan dari ulama bah wa KB tidak bertentangan dengan aga- ma, program KB dapat diterima oleh masyarakat beragama, khususnya umat Islam.

Program-program pembangunan yang lain pun banyak yang belum berkomunikasi secara baik dengan umat beraga- ma, khususnya dengan umat Islam. Bahkan pernah terjadi ke- bekuan komunikasi. Oleh karena itu pemerintah berusaha ke- ras untuk menembus kekuatan tersebut.

Kedudukan Ulama dalam masyarakat sangat berpenga- n1h, hal itu lebih-lebih dirasakan pada masyarakat desa. Sela- in menjadi pemimpin di bidang peribadatan, juga sebagai pembuat pendapat umum. Seperti telah diutarakan sebe- lumnya bah wa anggapan dan fatwa ulama terhadap suatu ma- salah dapat menciptakan pendapat umum. Reaksi umat ter-

(42)

hadap sesuatu gagasan atau ide baru biasanya terlebih dahulu dihubungkan dengan hukum dan pandangan agama. Pendapat ulama bagi masyarakat pedesaan pada umumnya dianggap se- bagai kata putus yang tidak perlu dipertanyakan lagi ala.san- nya. Mereka pun memiliki banyak forum komunikasi lang- sung dengan para jamaah seperti Mesjid, Musholla. selamatan, pondok pesantren, majlis ta'lim, mimbar Jum'at dan lain-lain.

Mereka dengan bebas mengadakan komunikasi langsung (ta- tap muka) dengan para jamaah. Dan komunikasi langsung ini sampai sekarang ini oleh sebagian ahli publisistik masih diakui lebih ampuh dibandingkan dengan sistem komunikasi moden1.

Karena walaupun komunikasi alat-alat modern seperti Televi- si, Radio, Surat Kabar dan lain-lain telah jauh jangkauannya, namun masih mempunyai kekurangan-kekurangan antara lain :

~1) Lebih sukar dan larnbat mendapatkan umpan balik.;

(2) Tidak terjadi kontak langsung antara komunikator (pemberi) dan penerima (audensi) apalagi dialog;

(3) Kurang adanya saling mengamati antara pemberi dan pe- nenma.

Peningkatan jumlah Stasiun-stasiun RRI dan penambah- an kapasitas transmisi pemancar RRI, bertambahnya jumlah Televisi dan naiknya sirkulasi surat kabar antara lain dengan

"Program Koran Masuk Desa", tetap tidak merubah posisi ulama sebagai pembawa infonnasi, dan pembuat pendapat umum bagi masyarakat sekitar, khususnya di lingkungan ma- syarakat pedesaan. Sebab jangkauan alat-alat modern di atas masih tetap berkisar pada daerah kota yang dialami hanya se- kitar 17% rakyat Indonesia. Daerah pedesaan yang didiami 83% umat hanya sebagian kecil saja yang dapat dijangkau oleh media massa modern. Sedangkan selebihnya mendapat informasi melalui mubaligh, Khatib, para Kyai, Ulama serta pemuka agama lainnya. Karena itu kedudukan ulama, muba- ligh, khatib dan pemuka agama. dalam hubungan dengan pe-

(43)

nyampaian informasi, tanggapan mengenai soal-soaJ pemba- ngunan dan ikhtiar pemerintah mcratakan hasiJ-hasil pemba- ngunan sangat menentukan sekali. Infonnasi dan komentar seorang mubaligh atau khatib dapat menggairahkan umat untuk membantu mensukseskan pembangunan dan program pemerintah. Akan tetapi sebaJiknya, infonnasi yang keliru dan komentar negatip seorang mubaJigh dan khatib atau pe- muka agama lainnya karena tidak mcmahami strategi pem- bangunan (tujuan sebenarnya) dapat mcmbuat masyarakat menjadi apatis, masa bodoh dan kadang-kadang mcrusak. Ke- adaan inilah yang perlu dijaga dan dihindari bersama, dengan jalan mcmperbanyak dialog satu dcngan yang lain.

B. FUNGSI MAJELIS ULAMA INDONESIA.

Sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Dasamya, di antara fungsi Majelis Ula ma Indonesia adalah: "Memberi fat- wa dan naseha t mengenai masalah keagamaan dan kemasya- raka tan kepada Pemerin tah dan uma t Islam umumnya se- bagai amar ma 'ruf nahi munkar, dalam usaha meningkatkan Ketahanan Nasional" .. Melihat fungsinya ini, Majelis Ula ma adalah suatu majclis yang berusaha untuk mencari ketentuan hukum agama terhadap sesuatu tindak laku manusia baik se- cara perseorangan maupun secara kelompok. Sudah barang tentu majelis juga tidak melupakan pendapat para sarjana dan ulama ataupun pihak-pihak yang lebih memahami situasi sebagai bahan pertimbangan, selama tidak. menyimpang dari

. . . . .

pnns1p-pnns1p aJaran agama.

Masalah-masalah Islam dan masalah-masalah kemasyara- katan di Indonesia adalah beraneka ragam. Kalau Majelis Ula- ma sifat kerjanya hanya menilai sesuatu kasus yang sedang berjalan atau yang sudah berlalu, maka sering kali seperti

"ketinggalan kereta api". Tetapi sebaliknya apabila Majelis Ulama mem berikan pemikiran-pemikiran yang konsepsional tentang masalah-masalah yang perlu dikerjakan, baik oleh

(44)

masyarakat maupun oleh p!merintah, maka pemikiran-pe- mikiran Majelis Ulama tersebut akan menjadi perhatian dan pertimbangan Iebih dari pada pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya reaktif.

Sebagai Iandasan pokok kebijaksanaan gagasan-gagasan konsepsional Majelis Ulama, adalah konsep penjabaran

"amar ma'rur', mengajak umat manusia untuk melakukan kebaikan dan kebenaran, dan "nahi munkar", mencegah ma- nusia dari pada perbuatan yang kurang baik atau kurang pa- tut. Dengan bertitik tolak dari ketentuan agama tersebut, se- Lenarnya umat Islam sudah seharusnya menjadi pelopor yang ada digaris terdepan dalam mensukseskan pembangunan na- sional.

Selama ini, sementara opini yang berkembang dalam ma- syarakat menyatakan bahwa umat Islam sudah melakukan

"nahi munkar", tetapi umat Islam masih kurang melakukan

"amar ma'ruf, mengajak orang melakukan yang baik dan ter- puji. Oleh sebab itu "amar ma'rur' hendaknya diperbanyak bersama-sama dengan "nahi munkar". Dan ini bisa dilakukan dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang konsepsional dengan menunjukkan cara bagaimana .sesuatu hal yang ma'ruf itu dapat dilaksanakan.

Berkaitan dengan masalah tersebut, dapatlah dicatat bahwa segala usaha, kegiatan umat Islam yang disalurkan oleh perorangan dan organisasi keagamaan, baik tingkat lokal, re- gional ataupun nasional, begitu pula semua tugas penyeleng- garaan pembinaan kehidupan beragama oleh Pemerintah, ada- lah merupakan suatu kesatuan pengalaman "fardlu kifayah", dalam bentuk dan sasaran yang luas dan serba kompleks.

Fungsi Majelis tnama Indonesia, baik di tingkat Pusat maupun di Daerah, sudah seharusnya melakukan usaha ke arah penyatuan pemikiran, perencanaan dan pengamalan ajar- an agama dalam bentuk program kerja yang lebih serasi untuk k.epentingan seluruh umat dan bangsa. Majelis Ulama dengan

Referensi

Dokumen terkait

Rasionalisasi yang umum dilakukan oleh pria dengan mencari pasangan lebih muda adalah karena pihak wanita tidak lagi tertarik pada seks setelah menopause, hal ini semakin diperparah

Berdasarkan Hasil Evaluasi Ke-2 terhadap Dokumen Penawaran dan Evaluasi Ke-2 terhadap persyaratan kualifikasi yang telah saudara sampaikan untuk Pekerjaan

Dari semua instrument yang terdapat pada penelitian yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini, metode angket sebagai metode primer, karena data yang diperoleh dari angket

Diharapkan kepada pihak manajemen agar dapat menyadari risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses pengolahan produk setengah jadi liquid dan powder dari

Pada sistem ini dapat dijelaskan cara kerja alat yaitu, penggunaan mikrokontroller Arduino Uno sebagai tempat pemrosesan data yang diinput dari perangkat- perangkat

Berdasarkan hasil pengujian aktivitas sediaan serum ekstrak kopi hijau (Coffea canephora var. Robusta) dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak kopi hijau

Dan pada ciprofloksasin selain terlihat perbedaan yang nyata pada semuanya juga menunjukan aktivitas yang paling besar.Untuk kontrol positif pada bakteri S aureus

( inherent) dan menjadi bagian dari suatu zat, sistem, kondisi, atau peralatan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahaya adalah sumber terjadinya kecelakaan. atau insiden baik