• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM DAN MASALAH SOSIAL.25

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 117-122)

PENGEMBANGAN ZAKAT

B. ISLAM DAN MASALAH SOSIAL.25

Adalah suatu hal yang perlu disadari bahwa dewasa ini jurang yang memisahkan antara dunia kaya dan dunia

mis-kin, belumlah dapat dijembatani sebagaimana diharapkan.

Bahkan dikhawatirkan bahwa jurang itu makin hari menjadi makin lebar. Ajaran Islam menekankan agar kemiskinan da-pat dikurangi dan bahkan harus dihilangkan hingga setiap nusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok ma-syarakat, dapat hidup sebagai manusia yang pa tut.

Dalam ajaran Islam, tiap-tiap perintah untuk berbuat ibadah yang langsung berhubungan dengan Tuhan selalu di-barengi dengan perintah untuk berbuat amal saleh, yakni amal perbuatan yang berguna untuk kepentingan umat manusia.

Dalam nafas yang sama, diperingatkan bahwa orang-orang yang melakukan shalat tetapi lalai akan makna dan hik-mah shalat itu, bahkan suka berbuat yang berlebih-lebihan dan tidak suka menolong orang lain dengan perbuatan-per-buatan yang berguna, akan ditimpa malapetaka. Perhatian ke arah masalah-masalah sosial, perhatian ke arah menghilang-kan kepincangan-kepincangan sosial, usaha untuk menim-buni jurang yang memisahkan antara si kaya dan si miskin, adalah merupakan kewajiban agama.

Menghilangkan kepincangan-kepincangan sosial dengan memberikan bantuan kepada kelompok masyaraKat yang ke-kurangan, tidaklah cukup hanya didasarkan kepada rasa kasih sayang saja. Tetapi hendaknya juga ditanamkan suatu kesadaran bahwa adalah kewajiban bagi orang yang berke- · cukupan untuk membantu orang yang mampu untuk mengu-rangi kepincangan-kepincangan sosial. Selain itu juga perlu ditanam rasa percaya pada diri sendiri di kalangan orang-orang yang dibantu, bahwa mereka adalah juga mempunyai

25) Ceramah Pada Studium General Pengurus Sesar HMI. Jakarta 7 Agustus 1980.

kemampuan yang sama sebagai yang lain, untuk merubah keadaannya dengan kerja keras dan kesadaran.

Karena persoalan kemiskinan merupakan persoalan besar yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mengatasinya, maka sabda Rasulullah adalah sangat tepat bahwa "Kemis-kinan mendekatkan kepada Kekafiran". Seorang dapat saja, atau hampir-hampir menjadi kafir karena kemiskinan. Sabda Rasulullah tersebut dapat diterjemahkan dan ditafsirkan lebih luas dan Iebih tegas. Hadits ini akan terus relevan dengan ke-adaan sekarang dan juga masa mendatang selama masih ada kemiskinan. Karena kemiskinan itu pada lazimnya lebih ba-nyak terdapat di negara yang sedang berkembang, termasuk persoalan bangsa Indonesia. Dan ini tidak berarti bahwa ke-miskinan tidak ada di negara yang sudah maju.

Kemiskinan bukan pula satu-satunya tantangan bagi umt Islam, sebab tantangan yang tidak kurang pentingnya untuk dijawab adalah masalah kebodohan. Kebodohan yang merata di seluruh negara berkembang, tidak hanya dapat di-salahkan kepada fihak penjajah, tetapi juga menjadi tantang-an ytantang-ang harus dijawab dengtantang-an usaha pendidiktantang-an, mencerdas-kan umat dan bangsa. Hal-hal tersebut merupamencerdas-kan persoalan yang berkaitan antara satu dengan yang lain. Kita harus me-ningkatkan kesadaran solidaritas sosial dalam masyarakat Islam secara luas. Masalah kemiskinan, kebodohan dan ke-terbelakangan adalah masalah umat manusia dari dahulu sam-pai dewasa ini. Di mana-mana di kolong langit ini kemiskin-an selalu ada dkemiskin-an mkemiskin-anusia secara sadar atau tidak, dengkemiskin-an ke-mampuan yang besar atau kecil terus berjuang memerangi-nya. Kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan menjadi ciri dari pada masyarakat di Dunia Ketiga, di mana rakyat dan masyarakatnya sedang tumbuh dan berkembang untuk mengejar ketinggalan dari negara-negara maju. Namun de-mikian masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbela-kangan ini tidak hanya persoalan negara-negara yang sedang berkembang, sebab di Eropa pun masalah ini belum hilang

sama sekali. Masih dijumpai di Portugal, di Spanyol, bahkan di beberapa negara maju yang lain. Misalnya di Perancis yang penduduknya 53 juta itu masih dijumpai sejumlah kira-kira 2 juta penduduk yang masih tinggal di lorong-lorong ge-lap, di gubuk-gubuk bekas mobil, di tengah-tengah gedung-gedung bertingkat dan hiruk-pikuknya kehidupan kota.

Demikian juga di Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Ha-nya saja di Eropa dan negara-negara maju lainHa-nya dijumpai lebih banyakyang hidup berkecukupan dibandingkan yang miskin. Di negara negara yang sedang berkembang sebaliknya lebih bayak yang miskin. Persoalan tersebut juga bukan per-soalan umat Islam saja, sebab umat Kristen dan Katolik di Portugal dan Spanyol dan di negara-negara Amerika Latin, Umat Hindu dan Budha di kawasan Asia pun masih belum dapat melepaskan diri dari lingkaran kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan tersebut. Tetapi harus diakui bahwa umat Islam memang masih jauh ketinggalan dalam menangani masalah ini. Ajaran Islam sesungguhnya merupakan moral force yang kuat untuk mengubah masyarakat dari kemiskin-an kepada hidup berkecukupkemiskin-an, dari kebodohkemiskin-an kepada ke-majuan ilmu pengetahuan dan peradaban, dari keterbelakang-an kepada kemajuketerbelakang-an dketerbelakang-an modernisasi. Hal ini telah dibukti-kan oleh kebenaran sejarah, ketika Islam mulai muncul di Jazirah Arabia pada abad ke 7 kemudian berkembang dan meluas. Ke barat sampai ke bagian selatan Perancis, ke timur sampai ke Philiphina dan Indonesia, ke selatan masuk jauh ke pedalaman sampai ke bagian selatan Afrika. Pada waktu itu Dunia Islam menjadi tumpuan perhatian dunia. Orang-orang Eropa yang saat itu terbelakang dibanding dengan ke-majuan Islam, telah belajar banyak dari Dunia Islam yang akhimya mampu berdiri sendiri bahkan meninggalkan jauh Dunia Islam yang telah mengajari mereka. Pada a bad I 0 menjadi titik awal "perpecahan dunia Islam" ditandai dengan perpecahan dalam wilayah pengaruhnya yang sangat luas.

Luasnya wilayah pengaruh Islam tidak didukung oleh

ke-kua tan solidari tas Islam. Berangsur-angsur s~jak a bad ke 12, Dunia Islam menjadi terbelakang, jumud, statis dan bahkan jatuh ke dalam kekuasaan penjajahan bangsa-bangsa Eropa yang telah menjadi dinamis dan maju setelah berkenalan dan belajar dari kemajuan dan peradaban Islam. Syukur bahwa umat Islam akhirnya sadar akan keadaan nasibnya yang bu-ruk tersebut, umat Islam mulai sadar akan kemiskinan, ke-bodohan dan keterbelakangannya setelah memasuki abad ke 19.

Munculnya sederetan nama-nama mujaddid atau pembaharu seperti Muhammad Abduh di Mesir, Jamaluddin al Afgani asal Afganistan yang pengembara, Muhammad Iqbal di Pakis-tan, HOS Tjokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy'ari di Indonesia, adalah bukti kesadaran akan ketidak beruntungan umat Islam pada abad ke 19 dan pada awal abad ke 20. Kesadaran ini makin meninggi intensitasnya ketika muncul gerakan-gerakan kemerdekaan di mana-mana, terutama setelah konferensi Bandung tahun 1955 dan Konfe-rensi Islam Asia Afrika tahun 1965. Pada tahun 1970an ke-sadaran ini meningkat tidak hanya dalam forum-for um inter-nasional dengan nama Islam, seperti Konferensi Menteri-menteri Urusan Islam, Muktamar Media Massa Islam ke I yang berlangsung di Jakarta tanggal I sampai 3 September 1980 dan lain-lain, tetapi juga tercermin dari forum inter-nasional dengan nama lain seperti Konf erensi Negara-Negara Non Blok, Konferensi Kelompok 77 di Manila, Konferensi Bukares tentang Kependudukan, Konferensi Bahan Ma-kanan di Roma serta forum-forum PBB lainnya. Deklarasi-deklarasi PBB seperti Deklarasi tentang usaha menciptakan tata ekonomi dunia baru, adalah tidak terlepas dari rangkaian usaha dari masyarakat Dunia Ketiga, di mana kelompok ma-syarakat Islam mempunyai peranan yang penting, dalam me-wujudkan keadilan sosial, menciptakan Dunianya dan Dunia Baru yang lebih baik. Usaha-usaha ini tentulah timbul dari ke-sadaran untuk mengatasi masalah kebodohan, kemiskinan

dan keterbelakangan tersebut. Karena itu asumsi bahwa umat Islam kurang peka terhadap kemiskinan, kebodohan dan ke-terbelakangan tersebut. Karena itu asumsi bahwa umat Islam kurang peka terhadap kemiskinan, kebodohan dan keterbe-lakangan dan Iain-lain mu ngkin ada benarnya bila dimaksud-kan kepada masa-masa penjajahan di mana umat Islam teng-gelam dalam kejumudan, statis dan terhentinya kemampuan ijtihad serta pembaharuan pemikiran yang berakibatkan ke-terbelakangan dalam berbagai hal tersebut. Tetapi asumsi ter-sebut tidak tepat bila dimaksudkan kepada kondisi umat Is-lam pada awal kebangkitannya sampai kepada zaman seka-rang ini.

Dalam hubungan inilah kiranya umat Islam menjadi un-sur pertama dalam pembangunan bangsa, negara dan agama.

Umat beragama hendaknya melaksanakan kewajiban agama-nya. Umat Islam hendaknya melaksanakan ajaran Islam se-perti berzakat, bersedekah, berinfaq yang kesemuanya itu tidak dapat dilepaskan dengan kewajiban untuk pembangun-an. Kita semua menyadari, bahwa untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan yang berwibawa dan diperhitungkan, tidak terlepas dari usaha kita ctalam pembangunan bangsa dan ne-gara ini. Karena itu, khususnya umat Islam, diminta untuk berpartisipasi secara aktif dalam mensukseskan program-pro-gram pembangunan yang pada hakekatnya juga merupakan program untul< meningkatkan kemampuan seluruh umat Islam, karena dia adalah mayoritas dari bangsa, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan maupun bidang-bidang sosial lainnya.

Apabila bangsa Indonesia berhasil meningkatkan ke-mampuannya melalui pembangunan yang telah digariskan, dengan sendirinya maka kemampuan untuk menggalang so-lidaritas sosial umat Islam akan meningkat baik untuk tingkat nasional, regional maupun internasional. Dengan kata lain solidaritas umat Islam akan berwibawa dan umat Islam akan

menjadi kekuatan yang berwibawa dan diperhitungkan, apa-bila individu-individu muslim memberikan dukungan dan partisipasi penuh dalam pembangunan bangsa dan negara-nya. Solidaritas sosial masyarakat Islam yang memang men-jadi kekuatan yang berwibawa dan menentukan bersama de-ngan perkembade-ngan dan kemajuan di bidang ekonomi, po-litik, agama, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Sema-ngat solidaritas itu sendiri, tidak dapat lahir dengan sen-dirinya, tetapi harus dibina dan dikembangkan dalam ber-bagai bidang yang dapat mengikat dan menggalang per-satuan.

C. ZAKAT DAN USAHA PEMECAHAN MASALAH

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 117-122)