PEMBINAAN BADAN PERADILAN AGAMA
B. PEMBINAAN HAKIM AGAMA. 22
Ikatan Hakim Agarna atau IKAHA baru dibentuk pada bulan Maret 1979. Meskipun usia IKAHA masih sangat mu-da, tetapi bila kita melihat peraturan perundangan di Indone-sia, sejak zaman Hindia Belanda (Stbl. 152/1882 tentang Pembetukan Raad Agama di Jawa dan Madura dan lain-lain-nya), maka peranan Pengadilan Agarna di Indonesia dalam ranannya penegakan hukum cukup besar. Sebagai aparat pe-negak hukum, penyelenggara negara, para hakirn agama hen-daklah mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya serta menjaga persatuan dan kesatuan dalam kesadaran Wa-wasan Nusantara. Sebagairnana ditegaskan dalarn Garis Besar
22) Amanat Pada Musyawanh Wilayah IKAHA Jateng dan DI. Yogyabrta;
Semarang; 4 April 1980.
Haluan Negara bahwa untuk memantapkan stabilitas di bi-dang politik haruslah diusahakan makin kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa serta makin tegak tumbuhnya kehidup-an konstitusional, demokratis dkehidup-an berdasarkkehidup-an hukum. Guna meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam meng-ayomi masyarakat yang merupakan aparat bagi terciptanya stabilitas nasional, maka aparatur pemerintah dan aparatur pelaksana dan penegak hukum, dalam hal ini perlu terus me-nerus dibina, ditingkatkan dan dikembangkan.
1. Hakim Agama dalam Pandangan Masyarakat.
Dalam masyarakat yang dinamis yang terus menerus berobah dan berkembang, kita memerlukan hakim-hakim agama yang mampu dan cakap, bukan saja dalam hukum agama melainkan juga dalam bidang ilmu pengetahuan hu-kum, serta mengerti pula masyarakat dan perkembangan-nya, terlebih-lebih dalam bidang kesadaran hukum. Di sam-ping usaha peningkatan kecakapan para Hakim Agama yang bersifat instansional dalam bentuk program pendi-dikan dan latihan, maka sebenamya yang sangat penting adalah peningkatan diri secara individual oleh para Hakim Agama sendiri, dengan terus belajar.
Adalah pendapat yang keliru apabila selepas dari me-ngiku ti pendidikan baik formal maupun non fonnal, lalu beranggapan dan merasa bahwa pengetahuan yang diper-oleh sudah cukup. Ini akan menjadikan seseorang beku dan terbelakang, tidak marnpu mengiku ti lajunya perk em bang-an masyarakat. Para Hakim Agama, oleh masyarakat tidak hanya dipandang sebagai pegawai Pemerintah, melainkan juga sebagai tempat meminta pendapat yang memang di-anggap mempunyai otoritas. Karena masyarakat terus ber-obah dan berkem bang, mengakibatkan banyak persoalan dalam masyarakat akan diajukan dan ditanyakan kepada para Hakim Agama, para Ulama dan para Kyai. lkatan
Ha-kim Agama harus mampu melayani masyarakat dan
mam-pu melayani para anggotanya sehingga benar-benar cakap sebagai aparat penegak hukum penyelenggara negara dan pelayan hukum.
Kcmampuan dan kewibawaan Hakim adalah syarat mutlak untuk tercapainya ketertiban dan kepastian hu-kum. Di samping itu dituntut pula kejujuran dan motivasi kerja yang baik, dedikasi yang tinggi dari para Hakim Aga-ma kepada bangsa, negara dan agaAga-ma. Karena itu setiap Ha-kim Agama dituntut untuk memberikan keputusan yang seadil-adilnya terhadap pencari keadilan, sebab keputusan-keputusan yang diambil akan memberi pengaruh yang be-sar sekali terhadap pertumbuhan kehidupan agama di In-donesia dan pem binaan hukum nasional. Hakim Agama hendaknya mampu menyajikan keadilan dan kebenaran yang sesuai dengan kesadaran hukum dalam masyarakat.
Dengan demikian para Hakim telah melaksanakan pem-bangunan Nasional di bidang pelayanan hukum dan keadil-an. Dewasa ini Pemerintah dengan sungguh-sungguh ber-usaha mewujudkan delapan jalur pemerataan yang salah satu di antaranya ialah pemerataan mendapatkan pelayan-an hukum dpelayan-an keadilpelayan-an.
Pengetahuan yang telah diperoleh di sekolah, di pe-san tren atau perguruan tinggi belum dan tidak akan cu-kup untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Satu-satunya jalan bagi para Hakim Agama apabila dia ingin suk-ses dalam pekerjaannya ialah bahwa dia harus belajar. Da-lam hubungan ini para Hakim Agama tidak hanya perlu mempelajari hukum agama dan "tarikh tasyri". melainkan juga falsafah syariah, tehnis perundangan, ilmu hukum umum, hukum perdata intemasional, ilmu administrasi dan managemen dan lain sebagainya. Di samping itu harus juga dipelajari falsafah hukum, sosiologi hukum dan
per-kembangan sosial kultural bangsa kita sendiri. Hal tersebut tentu akan memberikan wama yang lebih baik pada putus-an-putusan para Hakim Agama. Dan lebih jauh dari itu,
da-patlah diharapkan suatu prospeK dan perkembangan yang lebih meningkat.
2. Ikatan Hakim Agama dalam Pembangunan Profesi.
Sejak berlakunya Undang-Undang No. 1 tahun 1974 (tentang Perkawinan) secara efektif, maka beban kerja Pe-ngadilan Agama bertambah. Dengan meningkatnya beban tugas yang dihadapi Pengadilan Agama, maka kemampuan tehnis administratif para petugas Pengadilan Agarna pada umumnya dan Hakim Agarna pada khususnya perlu diting-katkan. Apalagi dengan pelaksanaan Undang-Undang Per-kawinan dalam masa tumbuh dan berkembangnya Negara Republik Indonesia dalam kehidupan Intemasional seka-rang ini. Perkembangan dan pertumbuhan Negara Repu-blik Indonesia dalarn hubungan Intemasional mengakibat-kan Peradilan Agama harus mempunyai sistem administrasi yang menjangkau masyarakat Intemasional pula. Dengan adanya pegawai-pegawai Republik Indonesia di luar negeri, adanya perkawinan carnpuran antar bangsa/negara dan per-kawinan campuran antar agama, Pengadilan Agama dido-rong untuk mampu menegakkan hukum yang universal dan didarnpingi dengan sistem administrasi yang mantap.
Hukum Agama yang telah dipositifkan dalam Undang-Undang Perkawinan pada hakekatnya adalah Hukum Barn di Indonesia dan merupakan fiqih Baru Indonesia terhadap hukum syara! Undang-Undang Perkawinan yang merupa-kan hukum baru dan fiqih baru itu mampu membawa per-gaulan Intemasional yang sekarang ini tumbuh dan ber-kembang. Untuk mampu melaksanakan secara tepat dan benar, diperlukan pengembangan ilmu (ilmu hukum khu-susnya hukum perdata lntemasional, Hukum Publik Inter-nasional dan Hukum Islam, Methode berfikir Hukum Is-lam serta Ilmu Administrasi). Dari itulah Ikatan Hakim Agama dituntut untuk ikut memberikan pembinaan terha-dap segenap anggota-anggotanya, sehingga mampu meng-hadapi tantangan tersebut.
3. Sikap jujur, Memenuhi Rasa Keadilan dan Motivasi Kerja.
Seorang Hakim Agama tidak dapat sekedar mengan-dalkan kemampuan ilmu, akan tetapi harus mempunyai integritas Pribadi. Ia jujur terhadap dirinya dengan tidak mengambil sesuatu keputusan yang ia tahu bahwa kepu-tusannya itu tidak sesuai dengan keyakinannya. Ia hams sadar bahwa ia bertanggung jawab kepada negara, masya-rakat dan Allah SWT atas segala keputusannya. Selain itu ia harus berusaha sejauh mungkin untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Untuk itu ia harus mengerti sema-ngat zamannya. Oleh karenanya diharapkan, motivasi ker-ja Hakim Agama dan selun1h pegawai Pcngadilan Agama adalah motif merealisir iman, menunaikan ibadah kepada Allah dengan beramal dalam kehidupan pemerin tah Ne-gara Republik Indonesia. Inilah motif bekerja yang tinggi mutunya dan sesuai dengan ajaran Islam dan dasar Negara Pancasila. Motif bekerja yang demikian akan mempengaru-hi sikap hakim dalam bertindak dan berbuat, semempengaru-hingga mampu mengembangkan wibawa Pemerin tah, khususnya wibawa Pengadilan Agama dalam menegakkan keadilan yang bersendi kebenaran.
4. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain.
Hakim Agama sebagai salah satu unsur penegak hu-kum hendaknya melakukan pendekatan dan kerjasama de-ngan instansi lain khususnya dalam bidang penegakkan hu-kum. Hal ini sangat diperlukan untuk kelancaran pekerja-an Pengadilpekerja-an Agama itu sendiri. Para Hakim Agama hams sadar, bahwa untuk menumbuhkan wibawa hukum, wiba-wa Pemerintah dan wibawiba-wa Negara Republik Indonesia perlu adanya kerjasama kordinatif yang ditingkatkan te-rus.
5. Masalah Pemerataan Pelayanan Hukum dan Keadilan.
Salah satu dari delapan jalur pemerataan seperti telah disinggung sebelumnya adalah pemerataan mendapatkan
pelayanan hukum dan keadilan. Undang-Undang Perkawin-an (UU No. 1 /1974) bukPerkawin-an saja berfungsi sebagai salah satu undang-undang nasional, tetapi juga berfungsi sebagai pembina mental bangsa, dengan melakukan penertiban dan penyelesaian kasus-kasus hukum keluarga, melalui proses hukum dan produk-produk hukumnya. Dalam rangka pe-laksanaan pelayanan hukum dan keadilan masih dijumpai beberapa hambatan, diantaranya banyak daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh masyarakat, berhubung di daerah tersebut belum dibentuk Pengadilan Agama, dan masih di-rasakan kurangnya tenaga-tenaga tehnis hukum pada Pe-ngadilan Agama. Untuk mengatasi hambatan-hambatan ter-sebut. Pemerintah sedang mengusahakan dibentuknya Pe-ngadilan Agama Tingkat Pertama sebanyak 27 buah dan Pengadilan Agama Tingkat Banding sebanyak 5 buah. Se-hubungan dengan kekurangan tenaga tehnis hukum, Peme-rintah berusaha terus dan berdaya upaya untuk memecah-kan masalah tenaga tehnis hukum tersebut. Walaupun de-mikian, tenaga tehnis hukum yang ada sekarang hendak-lah bisa bekerja dan berprestasi setinggi mungkin dalam memberikan pelayanan hukum dan keadilan masyarakat.
C. MASALAH YANG DIHADAPI DAN SARAN PEME-CAHANNY A. 23
Berkaitan dengan Pembinaan Badan Peradilan Agama ini, ada beberapa masalah yang perlu mendapatkan pemecah-an lebih bpemecah-anyak. Masalah tersebut pemecah-antara lain ialah :
1. Kurang lengkapnya Peraturan Perundangan Nasional di bidang Hukum dan Peradilan. Peraturan Perundangan Na-sional memang masih sangat kurang. Sebagaimana dike-tahui belum ada peraturan yang bersifat Nasional di bi-dang : Hukum Acara Uuga Acara Pengadilan Agama), Hu-kum Waris, susunan Kekuasaan Pengadilan Agama, Un-dang-undang Kasasi dan berbagai Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan.
2. Masih ada 25 Kabupaten dan satu Propinsi, yaitu Propinsi Timer-Timur belum ada Pengadilan Agama disamping baru ada Pengadilan Agama Tingkat Banding yang melayani
I 0 Propinsi.
3. Kurangnya sarana dan prasarana Pengadilan Agama. Di-perkirakan sampai sekarang masih kurang 5.285 pegawai termasuk hakim sebanyak
±
1.300 orang. Gedung Penga-dilan masih kurang, karenanya ada yang masih atau me-nyewa, menumpang. Di samping itu juga masih kurangnya buku-buku pedoman di bidang hukum. Sarana anggaran dirasa juga sangat kurang (Rp. 60.000,- setahun untuk se-tiap Pengadilan Agama).4. Kasasi dan Hakim Agung Bidang Agama. Karena pero-bahan dan perkembangan kesadaran hukum Masyarakat, saat-saat terakhir ini mulai adanya masalah kasasi (Undang-Undang No. 14 tahun 1970). Diakui bahwa belum ada dang-Undang tentang Kasasi sebagai dimaksud oleh Un-dang-Undang no. 14 tahun 1970, tetapi tuntutan keadilan dan kesadaran hukum masyarakat menghendakinya. Un-dang-Undang no. 13 tahun 1965 (pasal 41) menghendaki adanya Hakim Agung yang menangani pada tingkat kasasi perkara yang dilayani Pengadilan Agama. Namun di Mah-kamah Agung belum ada atau belum ditunjuk secara ter-buka Hakim Agung yang khusus menangani hal seperti itu.
Sejalan dengan masalah-masalah tersebut di atas, maka : I. Perlu diterbitkan Peraturan Perundangan tentang Acara
Peradilan (khususnya Acara Pengadilan Agama), Acara Ka-sasi, Susunan dan Kekuasaan Badan Peradilan Agama, Hu-kum Waris Nasional dan berbagai Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan. Peraturan Perundangan
Na-23) Penjelasan Menag Dalam Sidang Ke Ill DPARI, 26 April 1979.
sional di bidang hukum dan peradilan perlu d1man tapkan, sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan GBHN serta P4.
2. Perlu pembentukan 25 Pengadilan Agama dan 5 Pengadilan Tinggi Agama dan usaha pemberian pelayanan hukum
un-tuk umat Islam di Timor-Timur.
3. Perlu peningkatan sarana dan prasarana Pengadilan Agama baik berupa gedung, personil, anggaran dan sarana tehnis anggaran dan sarana tehnis hukum (buku juklak dan lain-lain). Dal am hal ini pen am bahan Hakim Agama dan Pa-nitera sangat diperlu kan.
4. Perlu adanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Un-dang ten tang Kasasi bagi Pengadilan Agama dan adanya Hakim Agung bidang Agama di Mahkamah Agung .
.5. Perlu diketahui bahwa masalah hukum bagi umat Islam adalah masalah essensial dan peka. Memang Republik In-donesia bukan Negara Islam, tapi warga negara yang ber-agama Islam mengenai dirinya, khususnya yang menyang-kut keyakinannya, tidak rela kalau diselesaikan dengan cara lain. Karenanya dalam hal ini perlu ditangani secara sen us.