• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI MENGENAI CONE-BEAM COMPUTED TOMOGRAPHY DI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI MENGENAI CONE-BEAM COMPUTED TOMOGRAPHY DI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI MENGENAI CONE-BEAM COMPUTED

TOMOGRAPHY DI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

SYIFA NABILA RAMADHANI SIREGAR NIM : 180600105

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2022

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Tahun 2022

Syifa Nabila Ramadhani Siregar

Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Pendidikan Profesi Mengenai Cone-Beam Computed Tomography di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara ix + 40 halaman

Cone-beam computed tomography (CBCT) adalah metode pencitraan radiografi tiga dimensi yang memberikan hasil akurat mengenai struktur jaringan keras.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara mengenai CBCT.

Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner. Jumlah responden sebesar 385 mahasiswa pendidikan profesi angkatan 2017, 2018, 2019, 2020 dan 2021. Hasil penelitian didapatkan mahasiswa menjawab benar mengenai CBCT merupakan radiografi jenis radiasi ionisasi sebesar 52,2%, keunggulan CBCT dibandingkan dengan CT konvensional sebesar 48,1%, perbedaan besar dosis paparan radiasi CBCT dibandingkan dengan CT konvensional sebesar 56,4%, perangkat keras CBCT sebesar 45,2%, derajat sudut cone CBCT sebesar 64,4%, persiapan pasien sebesar 38,4%, posisi pasien sebesar 36,6%, waktu akuisisi CBCT sebesar 24,2%, kualitas gambar CBCT sebesar 42,6%, kelebihan CBCT sebesar 39,5%, kekurangan CBCT sebesar 26,5%, kepanjangan dari FOV sebesar 78,7%, daerah yang dapat dipilih FOV sebesar 70,4%, indikasi CBCT sebesar 53,2% dan kontraindikasi CBCT sebesar 35,3%. Kesimpulan penelitian adalah tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai CBCT di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara kategori baik sebesar 11,2% (43 orang), kategori cukup sebesar 21,8% (84 orang) dan kategori kurang sebesar 67,0% (258 orang).

Daftar rujukan : 27 (2011-2021)

(3)

i

(4)

ii

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan penguji pada tanggal………….Juni 2022

TIM PENGUJI

KETUA : drg. Cek Dara Manja, Sp. RKG (K)

ANGGOTA : 1. drg. Rini Octavia Nasution, M.Kes., Sp. Perio (K) 2. drg. Dewi Kartika, MDSc

(5)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini telah selesai disusun oleh penulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua tercinta bapak Charles Darwin Siregar dan ibu Tuty Ramona Ketaren yang telah membesarkan, memberi kasih sayang tidak terbalas, doa, nasihat, semangat dan dukungan serta segala bantuan baik berupa moril ataupun materil yang tidak akan terbalas oleh penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak dan adik penulis abang Abraham Darajatun Siregar, kakak Andriana Amnil, abang Dahniel Rizki Siregar dan kakak Farica Amanda yang selalu mendoakan serta memberikan dukungan kepada penulis.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Dr. drg. Essie Octiara, Sp. KGA selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. drg. Cek Dara Manja, Sp. RKG (K) selaku Ketua Departemen Radiologi Kedokteran Gigi dan dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan banyak waktu luang, arahan, dukungan, serta dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. drg. Rini Octavia Nasution, M.Kes., Sp. Perio (K) dan drg. Dewi Kartika, M.DSc selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, masukan, serta bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat menjadi lebih baik lagi.

4. drg. Hendry Rusdy M.Kes., Sp. BM (K) selaku penasehat akademik yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis.

(6)

iv

5. Bang Fajar selaku Pegawai Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam menyelesaikan surat-surat yang diperlukan saat penelitian dilaksanakan.

6. Seluruh staf pengajar dan pegawai bagian Departemen Radiologi Kedokteran Gigi yang turut membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

7. Seluruh dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan sumbangsih ilmu selama penulis menjalani perkuliahan.

8. Seluruh mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah bersedia menjadi subjek penelitian dan membantu penulis menyelesaikan penelitian skripsi ini.

9. Mahira, Nadya, Sherina dan Bella yang telah banyak menghabiskan waktu bersama penulis menjalani perkuliahan dan memberikan bantuan, dukungan, kritik dan saran kepada penulis selama penulisan skripsi, serta teman-teman satu bimbingan skripsi penulis, Nahya, Sonia, Intania dan Pipit yang turut membantu dan memberikan semangat kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, untuk itu dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran dari berbagai pihak apabila terdapat kekurangan serta kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat serta sumbangsih pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, pengembang ilmu dan masyarakat.

Medan, Juni 2022 Penulis,

Syifa Nabila Ramadhani Siregar NIM. 180600105

(7)

v DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

HALAMAN PERSETUJUAN TIM PENILAI ... ii

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan ... 5

2.2 Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Gigi ... 7

2.3 Radiografi Kedokteran Gigi ... 9

2.4 Jenis Radiografi Kedokteran Gigi ... 9

2.4.1 Radiografi Intraoral ... 10

2.4.1.1 Radiografi Intraoral Konvensional ... 10

2.4.1.2 Radiografi Intraoral Digital ... 10

2.4.2 Radiografi Ekstraoral ... 11

2.4.2.1 Radiografi Ekstraoral Konvensional... 12

2.4.2.2 Radiografi Ekstraoral Digital ... 13

2.4.2.2.1 Radiografi Ekstraoral Digital 2 Dimensi ... 13

2.4.2.2.2 Radiografi Ekstraoral Digital 3 Dimensi ... 13

(8)

vi

2.5. Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) ... 14

2.5.1 Perangkat keras CBCT ... 14

2.5.2 Teknik CBCT ... 16

2.5.3 Indikasi dan Kontraindikasi CBCT ... 18

2.5.4 Persiapan pasien sebelum penyinaran CBCT ... 20

2.5.5 Kelebihan CBCT ... 21

2.5.6 Kekurangan CBCT ... 23

2.6 Kerangka Teori ... 25

2.7 Kerangka Konsep... 26

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 27

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

3.3 Populasi dan Sampel ... 27

3.3.1 Populasi ... 27

3.3.2 Sampel ... 27

3.4 Besar Sampel ... 28

3.5 Variabel dan Definisi Operasional... 28

3.6 Prosedur Pengumpulan Data... 29

3.7 Pengolahan dan Analisis Data ... 29

3.7.1 Pengolahan Data ... 29

3.7.2 Analisis Data ... 30

3.8 Etika Penelitian ... 30

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 31

BAB 5 PEMBAHASAN ... 34

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 38

6.2 Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(9)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Frekuensi responden berdasarkan angkatan ... 31 2. Frekuensi Pengetahuan Mahasiswa Pendidikan Profesi mengenai

CBCT di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera utara ... 32 3. Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Pendidikan Profesi mengenai CBCT di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara ... 33

(10)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Mesin CBCT ... 15

2. Macam-macam FOV pada CBCT ... 16

3. Gambaran 3D pada CBCT ... 17

4. Pandangan aksial pada CBCT ... 17

5. Pandangan koronal pada CBCT ... 18

6. Pandangan sagital pada CBCT ... 18

7. Kemampuan collimate pada CBCT ... 22

(11)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Kuesioner penelitian

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 3. Lembar Ethical Clearance

4. Lembar Informed Consent

5. Lembar persetujuan setelah pemberian Informed Consent 6. Rincian Biaya Penelitian

7. Jadwal Pelaksanaan Skripsi 8. Curriculum Vitae

(12)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setelah ditemukannya sinar-x tahun 1895, pencitraan radiografi mengalami perubahan yaitu suatu perkembangan dari gambar dua dimensi ke tiga dimensi.

Perubahan tersebut dapat dilihat pada salah satu pencitraan dento-maxillofacial yang menghasilkan gambar tiga dimensi yaitu cone-beam computed tomography (CBCT).

Pencitraan CBCT memiliki keunggulan dalam meningkatkan akurasi diagnostik penyakit, kualitas pelayanan kesehatan dengan peningkatan perencanaan perawatan, lebih sedikit paparan radiasi pada pasien dan memerlukan waktu sedikit.1

CBCT merupakan teknologi yang cukup mapan pada kedokteran gigi karena bisa dipakai dalam pencitraan tiga dimensi gigi & mulut. Perkembangannya dalam teknologi pemindaian, menjadikan CBCT salah satu modalitas diagnostik penting untuk pelatihan dokter gigi dan peneliti pada bidang dunia digital kedokteran gigi.

CBCT mulai tersedia secara luas dan memiliki banyak aplikasi di bidang kedokteran gigi.2 Jika dibandingkan dengan pemindai CT konvensional, CBCT lebih murah dan membutuhkan lebih sedikit ruang, waktu pemindaian yang cepat, batasan beam dari kepala ke leher, dosis radiasi lebih rendah dan memiliki mode tampilan interaktif yang menawarkan pencitraan maksilofasial dan reformasi multiplanar.3

CBCT memiliki banyak aplikasi yang signifikan dalam kedokteran gigi, termasuk penilaian tulang rahang untuk penempatan implan gigi, perencanaan perawatan ortodontik dan penilaian dari sendi temporomandibular untuk perubahan tulang yang buruk. CBCT juga digunakan untuk estimasi kedekatan sepertiga mandibula gigi geraham ke kanal mandibula sebelumnya ekstraksi, penilaian untuk tanda-tanda infeksi, kista dan tumor, trauma dentoalveolar, celah bibir, celah langit-langit dan review endodontik.4

Pengetahuan tentang keunggulan teknologi dan aplikasi CBCT tampak masih kurang di antara dokter gigi umum dan mahasiswa kedokteran gigi. CBCT dalam

(13)

kurikulum radiologi kedokteran gigi adalah syarat mutlak untuk mendorong para calon dokter gigi agar dapat menerapkan pencitraan tiga dimensi dengan diagnosis dan perencanaan pengobatan yang tepat sehingga sangat penting untuk melakukan studi mengukur tingkat pengetahuan dan sikap terhadap CBCT di antara mahasiswa kedokteran gigi.4

Penelitian Sivesh S et al (2020), terhadap mahasiswa kedokteran gigi yang sedang magang di dua Dental Colleges Chennai secara survei online didapatkan hasil untuk kesadaran tentang penggunaan CBCT pada pencitraan dento-maksilofasial sebesar 180 (97,3%) responden sadar dan 5 (2,7%) tidak sadar. Untuk pengetahuan tentang metode kerja CBCT didapati 95 (51,4%) responden mengerti dan 90 (48,6%) tidak mengerti.5 Penelitian Ramhari S et al (2020) di Nagpur, untuk menilai pengetahuan, kesadaran dan sikap mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi umum terhadap CBCT ditemukan bahwa kesadaran di antara mahasiswa pascasarjana (25,35%), mahasiswa magang (24,79%), mahasiswa sarjana (24,69%) dan dokter gigi umum (21,46%). Tentang pengetahuan CBCT didapati mahasiswa pascasarjana (29,64%), mahasiswa sarjana (26,4%), mahasiswa magang (25,87%), dokter gigi umum (18,07%).1

Penelitian Mehtaab SB et al (2021) di Nagpur, melakukan survei menggunakan kuesioner di antara 300 mahasiswa dan dokter gigi umum untuk menilai pengetahuan mereka tentang penerapan CBCT. Mayoritas peserta memiliki kesadaran tentang CBCT dan hampir serupa di antara mahasiswa sarjana (24,3%), mahasiswa pascasarjana (24,2%), mahasiswa magang (25,3%) dan dokter gigi umum (23,9%) tanpa perbedaan yang signifikan.6 Penelitian Kamburog˘lu K et al (2011) di Turkey, kuesioner yang terdiri dari 11 pertanyaan diberikan kepada 472 (272 perempuan, 200 laki-laki) siswa di Fakultas Kedokteran Gigi dan Gaza Universitas Ankara (AU).

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas (GU) terdiri dari 280 mahasiswa sarjana dan 192 mahasiswa pascasarjana. Selain mengumpulkan informasi demografis, kuesioner menilai pengetahuan umum responden dan sikap terhadap CBCT. Survei menemukan bahwa 70,8% mahasiswa sarjana dan 83,3% mahasiswa pasca sarjana merasakan instruksi yang diberikan tentang CBCT tidak cukup.3

(14)

Penelitian Reham F (2017) di Saudi, terdapat 108 mahasiswi kedokteran gigi (90 sarjana di tahun klinis dan 18 pascasarjana). Ditemukan bahwa mayoritas kontributor menerima pembelajaran tentang CBCT (93,8%, n=76) sementara (6,2%, n= 5) belum menerima pembelajaran tentang CBCT. Kesadaran terhadap CBCT hampir serupa antara mahasiswa sarjana (92,9%) dan mahasiswa pascasarjana (100%), dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara tanggapan mereka tentang kesadaran terhadap CBCT. Pada Universitas Gazi menunjukkan bahwa kesadaran CBCT antara mahasiswa pascasarjana lebih dari mahasiswa sarjana (P= 0.00).

Persentase tertinggi adalah (88,5%, n=62) dari mahasiswa sarjana dan (90,9%, n=10) dari mahasiswa pascasarjana memperoleh informasi tentang CBCT dari pelajaran fakultas saja, dan persentase paling sedikit berasal dari seminar atau pelajaran dari fakultas dan internet (1,2%, n=1).4

Berdasarkan uraian diatas, peneliti memilih mahasiswa pendidikan profesi menjadi sampel penelitian adalah agar menarik interest mereka untuk mengetahui bahwa departemen radiologi memiliki perangkat yang dapat memperlihatkan gambaran 3 dimensi yang menarik, asik untuk dipelajari dan sangat bermanfaat untuk jangka panjang kedepannya karena para mahasiswa pendidikan profesi sudah mendekati gelar dokter gigi, maka dapat tahu bahwa gambaran tiga dimensi yang dihasilkan CBCT ini nantinya dapat sangat bermanfaat untuk merujuk pasien dan menegakkan diagnosis. Tampak perbedaan signifikan diantara beberapa penelitian terhadap pengetahuan tentang CBCT yang membuat peneliti sangat tertarik untuk mengetahui pemahaman mahasiswa pendidikan profesi mengenai CBCT di Fakultas Kedokteran Gigi USU.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan permasalahan penelitian ini ialah bagaimanakah tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi USU terhadap CBCT.

(15)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pemahaman mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi USU mengenai CBCT.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan bisa memberi penjelasan tentang tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi pada Fakultas Kedokteran Gigi USU mengenai CBCT.

Manfaat aplikatif, diharapkan menjadi acuan untuk para mahasiswa pendidikan profesi yang nantinya akan menempuh gelar dokter gigi dan tentunya harus mengenal tentang gambaran tiga dimensi yang dipelajari pada Departemen Radiologi Kedokteran Gigi.

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

Pengetahuan ialah hasil “pengetahun” dan terjadi ketika seorang melaksanakan penginderaan atas objek. Penginderaan terjadi dapat dengan panca indera manusia, yaitu: indera melihat, mendengar, menerima, merasa serta meraba. Tindakan yang dilandasi terhadap ilmu pasti lebih konsisten ketimbang tindakan yang tak dilandasi sama keilmuan.7

Menurut Notoatmodjo (2003), terdapat bermacam faktor yang berperan dalam merajai pengetahuan, yakni:

a. Usia

Pengetahuan pasti berkembang berdasarkan pada pertambahan usia serta pengalaman yang telah didapatkan.

b. Pendidikan

Seseorang dengan pendidikan tinggi, pastinya memiliki pengetahuan yang berbeda terhadap seorang yang tidak berpendidikan.

c. Intelegensia

Berdasarkan Kamus Lengkap Psikologi, intelegensia ialah kesanggupan pahaman atas pertalian-pertalian dan belajar dengan sangat cepat. Pengetahuan yang dikarenakan intelegensia menjadikan seorang bisa bertindak tangkas, tepat & mudah saat menentukan pilihan.

d. Pekerjaan

Seorang akan banyak mempunyai informasi dan pengalaman dengan bekerja, maka pengetahuan yang didapat akan lebih luas.

e. Pengalaman

Pengetahuan seseorang akan lebih luas jika memiliki banyak pengalaman. 7 Pengetahuan terliput dalam enam domain kognitif (Notoatmodjo, 2007)23, yakni:

(17)

a. Tahu (know)

Tahu didefinisikan seperti ingatan terhadap suatu materi yang sudah diperoleh sebelumnya. Tahu pada tingkatan ini ialah mengulang kembali ingatan atas suatu yang rinci dari semua bahan yang diperolehnya ataupun dorongan yang sudah didiapatkannya.

b. Paham (comprehension)

Paham dimaknai seperti kesanggupan dalam memberikan penjelasan dengan benar terhadap objek yang ia tahu dan bisa menginterpretasikan materi itu dengan betul.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi didefinisikan seperti mampu dalam memakai materi yang sudah didapatkan atas kondisi ataupun secara real (sebenarnya). Aplikasi bisa dimaknai seperti memnggunakan hukum, rumus, tata cara, prinsip & lainnya pada kondisi lainnya.

d. Analisis (analysis)

Menganalisis merupakan tindakan yang mampu dalam menguraikan materi ataupun objek kedalam komponen-komponen, namun masih pada struktur organisasi, dan masih terdapat hubungannya satu dengan lainnya. Kemampuan analisis bisa digambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan lainnya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis merupakan tindakan yang mampu dalam menyusuni formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Sintesis menuding kepada suatu kemampuan dalam meletakkan ataupun mengaitkan bagian di dalam bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan rasa mampu dalam melaksanakan justifikasi atau penilaian atas materi ataupun objek didasarkan pada suatu kriteria.

Menurut Arikunto (1993); Pengukuran pengetahuan bisa dikerjakan secara tanya- jawab ataupun angket yang menunggangi isi materi yang hendak diukur dari subjek penelitian. Intensitas pengetahuan yang hendak diketahui bisa disesuaikan pada

(18)

tingkatan tersebut di atas. Menurut Nursalam (2008); taraf pengetahuan terhadap masing-masing tingkat pengetahuan bisa dilaksanakan secara scoring7, yakni:

1. Tingkatan pengetahuan baik dengan skor nilai 76 – 100 %.

2. Tingkatan pengetahuan cukup baik dengan skor nilai 56 – 75 %.

3. Tingkatan pengetahuan kurang baik dengan skor nilai < 56 %.

2.2 Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Gigi

Mahasiswa profesi dokter gigi melakukan pendidikan profesinya dibawah kewenangan dokter penanggung jawab yang bertugas pada rumah sakit pendidikan.

Sebelum melaksanakan tindakan terhadap pasien, mahasiswa profesi akan dilewati tahapan bimbingan kepada dokter penanggung jawab, kemudian mahasiswa profesi akan didampingi dan diawasi sama dokter penanggung jawab ketika melaksanakan tindakan ke pasien. Mahasiswa profesi tidak diperbolehkan melaksanakan perbuatan medis ataupun menetapkan putusan perawatan ke pasien tidak didasari pengetahuan dokter penanggung jawab.8

Metode pembelajaran profesi dokter gigi dilakukan pada bentuk pembelajaran klinik terintegrasi dan pembelajaran kesehatan komunitas pada tempat pelayanan kesehatan dengan dokter gigi yang bekerja pada rumah sakit gigi dan mulut pendidikan memberi pengawasan kepada mahasiswa profesi dalam melaksanakan layanan terhadap pasien sesuai PERMENKES No.2052/MENKES/PER/X/2011 tentang izin praktik dan pelaksanaan praktik kedokteran pasal 24. Metode pendidikan profesi dokter gigi pula bekerjasama dengan RSGM universitas yang berhubungan yang bersama-sama dengan fakultas kedokteran gigi dalam memperoleh lulusan dokter gigi yang ahli dan bisa memberikan layanan kesehatan ke masyarakat.8

Pendidikan yang ditempuh supaya menjadi dokter gigi wajib selesaikan Program S1 Kedokteran gigi lebih dulu dengan waktu pendidikan rata-rata tiga setengah ataupun empat tahun dan dilanjuti pada tahapanpendidikan profesi dokter gigi. Hal itu sebagaimana pada UU No. 20 tahun 2013 Pasal 7 ayat 2 dan 6. Mahasiswa dokter gigi yang telah menuntaskan program S1 dan kemudian menjalankan pendidikan profesi atau disebut dengan koas ataupun dokter gigi muda.8

(19)

2.3 Radiografi Kedokteran Gigi

Peran radiografi kedokteran gigi makin menambun sejalan dengan berkembangnya pengetahuan kini. Menurut Hanna Bachtiar, gambaran yang dihasilkan dari radiografi adalah sesuatu yang paling berguna bagi dokter gigi, terutama melihat ada kelainan yang tidak terlihat ketika pemeriksaan klinis sehingga sangat membantu Dokter gigi menentukan diagnosis, rencana perawatan dan menilai keberhasilan perawatan yang sudah dilaksanakan kepada pasien.9

Perkembangan teknologi radiologi telah memberi sejumlah manfaat terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan diagnostik radiologi dan proteksi radiasi pada pasien.

Pemberian radiasi serendah mungkin ke pasien setara dengan kebutuhan klinis adalah point penting pada pelayanan diagnostik radiologi yang wajib memperoleh animo.

Salah satu sumber radiasi saat fotoronsen ialah pesawat sinar-x. Sinar-x mempunyai potensi bahaya radiasi sehingga pemanfaatannya perlu melihat aspek proteksi radiasi.

Pesawat sinar-x pula wajib dalam keadaan yang baik dan dirawat berdasarkan atas program jaminan kualitas.9

2.4 Jenis Radiografi Kedokteran Gigi

Pada bidang kedokteran gigi radiografi dibagi kedalam dua berdasarkan teknik pemotretan serta penempatan film, yakni teknik intraoral dan teknik ekstraoral.

Teknik radiografi intraoral adalah teknik pemotretan radiografi gigi geligi berserta jaringan disekitarnya dengan film yang diletak pada rongga mulut pasien seperti pada radiografi periapikal, radiografi bitewing dan radiografi oklusal. Teknik radiografi ekstraoral, film rontgen diletakkan pada luar mulut pasien yaitu pada teknik radiografi panoramik, proyeksi lateral sefalometri dan lainnya.10

2.4.1 Radiografi Intraoral

Radiografi intraoral adalah teknik pemotretan yang mana film gigi yang berbentuk kecil dipakai dalam diagnosis pada Kedokteran Gigi. Hal tersebut dibutuhkan dalam memperoleh bayangan dari semua ataupun sebagian gigi, tepi-tepi alveolar dan jaringan penyangga. Terkadang tulang sekitar apeks perlu diikut sertakan dalam

(20)

pemotretan misalnya untuk melihat gigi yang terpendam atau kelainan patologis ujung akar.11

Bentuk rahang menyerupai tapal kuda maka hanya satu, dua atau maksimum tiga gigi yang dapat diproyeksi sekaligus ke dalam film, oleh karena itu untuk memotret semua gigi dibutuhkan beberapa film.11 Tipe-tipe radiografi intraoral adalah radiografi interproksimal (bite-wing), radiografi periapikal dan radiografi oklusal.12

2.4.1.1 Radiografi Intraoral Konvensional

Radiografi intraoral konvensional memerlukan beberapa perangkat ketika menggunakannya yaitu sumber sinar-X, film, film holder dan larutan pemroses film yakni developer dan fixer.13 Radiografi intraoral konvensional melewati proses prosessing film atau proses pencucian film. Prossesing film bisa dilaksanakan secara dua cara yakni dengan manual dan otomatis. Prosessing dengan manual dikerjakan dikamar gelap dan dengan injeksi sedangkan yang otomatis memakai mesin prosesor.

Tahapan prosessing film meliputi developing, rinsing, fixing, washing dan drying.12

2.4.1.2 Radiografi Intraoral Digital

Radiografi intraoral digital dapat dilakukan secara indirect, semi-direct dan direct.13

a. Radiografi Intraoral digital Indirect

Dalam metode Radiografi intraoral digital Indirect, radiografi konvensional (gambar analog) ditransfer ke media digital dengan bantuan pemindai flatbed dengan transparansi adaptor, pemindai slide dan kamera digital. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambar digital dengan mudah. Teknik indirect ini lebih murah dibandingkan dengan teknik digital semi-direct dan teknik direct. Teknik ini telah kehilangan popularitasnya karena penyebaran teknik digital lainnya melebar luas.13 b. Radiografi Intraoral Digital Semi-Direct

Sistem Radiografi intraoral Digital semi-direct menggunakan pelat berlapis fosfor (PSP) yang dapat distimulasi. Pelat ditempatkan di mulut pasien dan terkena sinar-x.

(21)

Setelah eksposur, pelat dipindai dengan sistem pemindai laser khusus dan gambar laten akan terlihat pada monitor komputer.13

c. Radiografi Intraoral Digital Direct

Radiografi intraoral Digital direct menggunakan solid-state sensors. Ada dua jenis complementary metal oxide semiconductor (CMOS) dan solid-state sensors; charge- coupled device (CCD).13

Radiografi intraoral digital dua dimensi telah unggul dalam jenis, ukuran, bentuk, dosis efektif radiasi, dan resolusi sensor dibandingkan radiografi intraoral konvensional. Studi melaporkan kegunaan radiografi intraoral digital dua dimensi dapat menegakkan diagnosis pada karies, cacat tulang periodontal, aplikasi endodontik dan diagnosis lesi periapikal, fraktur akar dan resorpsi akar.13

2.4.2 Radiografi Ekstraoral

Radiografi ekstraoral digunakan untuk memeriksa area yang tidak dapat tertangkap oleh film intraoral atau untuk mengevaluasi tengkorak, wajah (termasuk maksila dan mandibula), atau tulang belakang leher untuk penyakit, trauma, atau kelainan. Radiografi ekstraoral juga membantu dalam menguji hubungan antara berbagai orofasial dan struktur gigi, pertumbuhan dan perkembangan wajah, atau progres pengobatan.14 Radiografi ekstraoral adalah radiografi panoramik, radiografi submentovertex, radiografi sefalometri, radiografi posteroanterior, radiografi lateral jaw, radiografi proyeksi reverse-towne, radiografi proyeksi mandibular oblique lateral dan lainnya.12

2.4.2.1 Radiografi Ekstraoral Konvensional

Radiografi ekstraoral digital dipakai pada kedokteran gigi selama lebih dari 25 tahun, tetapi tidak bisa seluruhnya mengganti radiografi berbasis film konvensional.

Alasannya sebab diperlukan dana yang cukup besar dalam memandatkan radiografi konvensional menjadi radiografi digital.15

Bagi dokter gigi yang memulai praktek baru sebaiknya menerapkan radiografi digital, karena tidak ada banyak perbedaan antara radiografi konvensional dan digital

(22)

dalam implementasi biaya. Biaya pemeliharaan untuk sistem berbasis charge coupled device (CCD) ataupun complementary metal-oxide semiconductor (CMOS) bisa lebih rendah ketimbang radiografi yang memakai film. Praktisi perlu mempertimbangkan jika radiografi konvensional pula memerlukan biaya dalam film dan larutan prosesing film.15

2.4.2.2 Radiografi Ekstraoral Digital

Revolusi dalam radiografi ekstraoral digital mencakup pencitraan panoramik digital dan pencitraan sefalometri digital. Radiografi ekstraoral digital belum banyak digunakan sejak pertama kali diperkenalkan di pasar kedokteran gigi dikarenakan biayanya yang sangat mahal. Beberapa saat setelah penemuan radiografi ekstraoral digital, sistem ini relatif hemat biaya dengan perbaikan pengaturan komputer (kecepatan komputer, kapasitas penyimpanan data) telah diproduksi dan mulai banyak dipakai dalam praktik kedokteran gigi. Kualitas gambar panoramik digital telah diteliti sama dengan radiografi panoramik konvensional.13

2.4.2.2.1 Radiografi Ekstraoral Digital 2 Dimensi

Radiografi panoramik telah menjadi salah satu metode pencitraan ekstraoral digital yang paling umum di kalangan dokter gigi. Teknik ini menyediakan struktur wajah meliputi gigi rahang atas, rahang bawah dan struktur pendukungnya untuk diperlihatkan pada satu film dengan eksposur tunggal, sangat sederhana dan dapat diterapkan dalam kasus ketika pembukaan mulut tidak cukup untuk menempatkan reseptor intraoral, dan refleks muntah yang ekstrim. Mirip dengan pencitraan panoramik, revolusi yang sama terjadi di radiografi sefalometrik. Radiografi sefalometri adalah teknik memberikan gambar kepala di lateral, tampilan posterioanterior, dan sering digunakan oleh ortodontis untuk membantu perencanaan perawatan. Gambar sefalometri digital memungkinkan untuk melakukan analisis sefalometrik, superimposisi, peningkatan gambar untuk bantuan lebih lanjut dalam diagnosis, penyimpanan yang mudah dan transmisi data.13

(23)

2.4.2.2.2 Radiografi Ekstraoral Digital 3 Dimensi

Seiring kemajuan teknologi dalam pencitraan radiografi telah banyak memperkenalkan metode baru di banyak bidang radiologi, termasuk radiologi dentomaxillofacial. Multislice Computed Tomography (MSCT) imaging merupakan metode pencitraan 3D yang cukup terkenal, namun cone beam CT (CBCT) menjadi metode pencitraan dentomaxillofacial yang lebih berkembang pesat dari akhir tahun 1990-an sampai sekarang. Saat ini pencitraan CBCT adalah metode pencitraan yang banyak digunakan dalam radiologi dentomaxillofacial dan dipercaya dapat melihat struktur jaringan keras dengan akurat.16

2.5 Cone-Beam Computed Tomography (CBCT)

Cone beam computed tomography (CBCT) adalah metode pencitraan radiografi yang memberikan hasil akurat dengan pencitraan tiga dimensi (3D) pada struktur jaringan keras. CBCT merupakan modalitas pencitraan yang menggunakan radiasi ionisasi. Modalitas pencitraan ini mampu memberikan resolusi sub-milimeter (2 line pair/mm) dengan kualitas gambar diagnostik yang lebih tinggi dan waktu pemindaian lebih singkat (~60 detik). Dosis paparan radiasi dari CBCT adalah 10 kali lebih rendah dari CT scan konvensional selama maksilofasial eksposur (68 Sv dibandingkan dengan 600 Sv konvensional CT) dan memiliki akurasi dimensi yang bagus. CBCT mampu memberikan representasi 3D dari struktur maksilofasial dengan distorsi minimal dan mengurangi bahaya radiasi.17

CBCT awalnya diperkenalkan karena perannya yang dibutuhkan pada bidang Prosthodonsia kedokteran gigi. Selain itu, CBCT juga diperlukan pada bagian bedah mulut, ortodontik, endodontik, sleep apnea, gangguan sendi temporomandibular (TMJ), periodontik dan di bidang THT.18

2.5.1 Perangkat keras CBCT

1. X-ray Generation (tabung sinar-X)

Terdapat katoda dan anoda pada tabung sinar-x CBCT yang ditempatkan dalam tabung gelas vakum. Katoda terdiri dari filamen tungsten dengan diameter 2mm dan

(24)

panjang 1 cm yang terletak pada molybdenum focusing cup. Anoda terdiri dari tungsten target, yang tertanam di batang tembaga.19

2. Gantry (Gambar 1)

Sebagian besar mesin CBCT menggunakan pengaturan di mana tabung sinar-X dan detektor terhubung di bidang horizontal. Dengan itu posisi pasien dapat duduk atau berdiri (fixed C-arm). Berdasarkan jenis pada unit scan CBCT, posisi pasien dapat terlentang, duduk, atau berdiri. Pada posisi terlentang secara fisik lebih besar dalam bentuk ukurannya dan tidak memungkinkan untuk menampung pasien cacat fisik. Unit CBCT dengan tipe duduk lebih nyaman tapi tetap tidak mengizinkan pemindaian dengan duduk pada kursi roda atau pasien cacat fisik. Pada sisi lain, unit berdiri juga tidak dapat disetel rendah untuk menampung pasien dengan kursi roda.19

Gambar 1. Mesin CBCT19

Sistem CBCT dapat dikategorikan menurut FOV (Field Of View atau Lapang Pandang adalah daerah yang diradiasi pada pasien22) yang tersedia atau tinggi volume pemindaian yang dipilih (Gambar 2) sebagai berikut:

-Daerah terlokalisasi: kira-kira 5 cm (misalnya dentoalveolar, sendi temporomandibular)

- Lengkungan tunggal: 5 - 7 cm (misalnya rahang atas/mandibula)

(25)

- Interarch: 7 - 10 cm (misalnya mandibula dan superior termasuk concha inferior) - Maksilofasial: 10 - 15 cm (misalnya mandibula dan meluas ke nasion)

- Kraniofasial: 15 cm (misalnya dari batas bawah mandibula ke verteks kepala)

Gambar 2. Macam-macam FOV pada CBCT19 3. Detektor

Detektor sinar-X mengubah sinar-X foton yang masuk menjadi sinyal listrik.

Mesin CBCT dapat menggunakan salah satu dari jenis detektor berikut19: (1) image intensifier/charge-coupled device (IIT/CCD) atau

(2) detektor dengan panel datar (FPD).

2.5.3 Teknik CBCT

Teknik pada CBCT awalnya dikembangkan untuk angiografi pada tahun 1982 dan diterapkan pada pencitraan dental beberapa saat setelahnya. CBCT merupakan pencitraan tiga dimensi dari area yang diminati tanpa tumpang tindih dengan struktur lain. Gambar multiplanar dan 3D dapat dicapai dengan teknik, dosis radiasi yang lebih rendah dan resolusi spasial namun hasil gambar masih sering terdapat noise yang cukup besar disebabkan oleh radiasi. Demikian, kontras jaringan lunak dalam gambar CBCT lebih rendah daripada gambar CT.13

(26)

Sistem CBCT bekerja dengan detektor panel datar dan pemindai khusus menggunakan sumber sinar-x terkolimasi yang menghasilkan sinar-x berbentuk kerucut atau piramida dalam satu atau rotasi melingkar parsial (180-360)16 di sekitar kepala pasien. CBCT dapat menghasilkan gambaran 3D (Gambar 3) dari pandangan aksial (Gambar 4), pandangan koronal (Gambar 5) dan pandangan sagital (Gambar 6).13

Gambar 3. Gambaran 3D pada CBCT13

Gambar 4. Gambaran CBCT dalam pandangan aksial13

(27)

Gambar 5. Gambaran CBCT dalam pandangan koronal13

Gambar 6. Gambaran CBCT dalam pandangan sagital13 2.5.4 Indikasi dan Kontraindikasi CBCT

Indikasi CBCT20:

1. Gigi impaksi dan supernumerary teeth

CBCT dapat digunakan untuk aplikasi gigi yang impaksi, gigi supernumerary teeth dan yang terkait dengan struktur vital sekitarnya.

2. Perawatan ortodontik skeletal yang mengalami abnormalitas kompleks

CBCT dapat digunakan untuk keperluan ortodonti, seperti pentingnya pertumbuhan tulang palatal, pola skeletal, inklinasi gigi, menentukan lebar tulang alveolar untuk pergerakan bukolingual gigi dan untuk perencanaan bedah ortognatik dan orthomorphie facial.

(28)

3. Bedah oral dan maksilofasial

Aksesibilitas yang luas dari CBCT dapat digunakan untuk menilai cedera oral dan maksilofasial seperti fraktur midfasial dan orbital termasuk fraktur dentoalveolar.

Dengan menggunakan CBCT, dapat melihat lokasi dan memperluas patologi dari:

- Kista tumor odontogenik dan non-odontogenik - Osteomyelitis

- Tonsilloliths

- Kelenjar getah bening - Batu kelenjar ludah

4. Perawatan endodontik pada gigi dengan akar lebih dari 1 (multiroot) ketika anatomis saluran akar tidak terlihat dengan baik melalui pemeriksaan radiologi konvensional intraoral.

5. Trauma gigi yang diduga fraktur akar.

6. Implan gigi

Pengganti gigi yang hilang dengan teknik implan memerlukan penilaian yang akurat agar dapat menempatkan implan dengan baik dan untuk menghindari kerusakan struktur vital, tinggi lebar dari posisi implant yang direncanakan, densitas tulang dan profil alveolus. CBCT dapat digunakan untuk penilaian pascabedah yang meliputi bonegraft dan posisi implant dalam alveolus.

7. TMJ Disorder

CBCT menghasilkan gambaran multiplanar dan 3 dimensi dari struktur kondilus dan sekitarnya sehingga memungkinkan analisis TMJ. Melalui CBCT, dapat diketahui joint space dan posisi yang benar dari kondilus dalam fossa sehingga sangat membantu dalam mengidentifikasi adanya dislokasi pada sendi. Selain itu, dapat diukur atap dari fossa glenoid dan membantu menemukan jaringan lunak sekitar TMJ. CBCT dapat memberikan gambaran yang baik untuk kasus-kasus yang melibatkan anomali kondilus, trauma, ankylosis fibro-osseus, dan rheumatoid arthritis.

8. Karsinoma yang meluas ke tulang rahang.

9. Kasus endodontic

(29)

CBCT dapat digunakan untuk melihat lesi yang sudah meluas ke sinus maksilaris.

10. Kasus periodontik

CBCT dapat digunakan untuk menilai kista periodontal dan penilaian pascaoperasi dari perawatan periodontal regenerative.

11. Kasus Forensik Perkiraan usia gigi Kontraindikasi CBCT19:

1. Digunakan secara rutin untuk mendeteksi kasus-kasus berikut:

- Karies

- Kehilangan tulang periodontal

- Pemeriksaan rutin pada kelainan periapikal - Diagnosis ortodontik rutin

2. Pasien yang tidak mampu

3. Tidak dapat mendiagnosis karies yang berdekatan dengan restorasi logam 4. Keropos tulang yang berdekatan dengan implant

5. Faktor pasien - Usia

- Radiosensitivitas (misalnya Gorlin Goltz Syndrome) - Kehamilan

- Riwayat paparan radiasi berat

2.5.5 Persiapan pasien sebelum penyinaran CBCT

Pasien harus diantar ke unit pemindai dan sebelum stabilisasi kepala, diberikan perlindungan penghalang radiasi pribadi yang sesuai yaitu apron bertimbal diterapkan dengan benar (di atas kerah) untuk pasien terutama untuk pasien hamil dan anak- anak. Setiap unit CBCT memiliki metode stabilisasi kepala yang unik, bervariasi dari chin cup hingga penyangga kepala posterior atau lateral hingga sandaran kepala.

Gerakan pasien dapat diminimalkan dengan penerapan satu atau lebih metode secara bersamaan. Kualitas gambar dapat menjadi buruk bila banyak pergerakan pada kepala pasien maka operator harus memberitahu pasien. Penyelarasan area yang diinginkan

(30)

dengan sinar-x sangat penting dalam pencitraan bidang yang sesuai, sehingga mengurangi paparan radiasi pasien dan mengoptimalkan kualitas gambar dengan mengurangi radiasi yang tersebar.14

Sebelum pemindaian, pasien harus diminta untuk mengeluarkan semua benda logam dari daerah kepala dan leher termasuk kacamata, perhiasan (termasuk anting- anting dan tindikan), dan gigi palsu sebagian dari logam. Tidak perlu melepas prostesis plastik yang dapat dilepas sepenuhnya kecuali secara spesifik dinyatakan lain (misalnya, pandangan temporomandibular tertutup atau pandangan ortodontik).

Pemindaian dilakukan dengan penekan lidah atau gulungan kapas. Pasien harus diarahkan untuk tetap diam sebelum terpapar, bernapas perlahan melalui hidung, dan menutup mata untuk mengurangi kemungkinan pasien bergerak sebagai akibat dari mengikuti detektor saat lewat di depan wajah.14

2.5.6 Kelebihan CBCT Kelebihan CBCT21: 1. Batasan sinar X-ray

Mesin CBCT memiliki kemampuan untuk collimate (pilih Field of View, FOV, Gambar 7), mengarahkan sinar-X ke area yang diinginkan dan mengurangi ukuran radiasi. Prosedur ini memenuhi kebutuhan individu yaitu meminimalisir paparan yang tidak perlu terhadap pasien dan penyebaran radiasi.

2. Akurasi gambar

Mesin CBCT memberikan isotropik voxel. CBCT menghasilkan rentang resolusi sub-milimeter dari 0,4 mm hingga serendah 0,09 mm. Sub-milimeter menjadikan CBCT cukup tepat untuk pengukuran dalam aplikasi oral dan maksilofasial karena memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk penilaian lokasi implan dan analisis ortodontik.

3. Waktu pemindaian cepat

Waktu yang digunakan dalam teknologi CBCT untuk memperoleh gambar 3D biasanya membutuhkan waktu pemindaian mulai dari 5 hingga 40 detik sebanding

(31)

dengan radiografi panoramik. Waktu pemindaian yang singkat menguntungkan dalam menurunkan artefak pergerakan pasien.

Gambar 7. Kemampuan memilih FOV untuk penyinaran dari sinar-x ke daerah yang diinginkan21

4. Pengurangan dosis

Dosis efektif (E) menurut kategori dan model peralatan CBCT dan FOV ditunjuk berkisar 29-477 Sv. Lebih tinggi pengurangan dosis hingga 40% dapat dicapai dengan memvariasikan posisi pasien (memiringkan dagu) dan tambahan penggunaan alat pelindung diri (thyroid collar). CBCT memberikan dosis radiasi pasien yang setara dengan 5 hingga 74 kali lipat dari sinar-X panoramik.

5. Mode tampilan unik untuk pencitraan maksilofasial

CBCT dapat tersegmentasi non-ortogonal (MPR) untuk menghasilkan planar miring dan reformasi melengkung (panorama simulasi bebas distorsi gambar) dan reformasi penampang serial, yang semuanya dapat digunakan untuk menonjolkan ketepatan struktur anatomi dan fungsi diagnostik. Fitur ini sangat penting untuk mengingat anatomi maksilofasial. Visualisasi 3D didapat dari dataset termasuk jumlah sinar, MIP dan komputer 3D yang dihasilkan model.

(32)

6. Mengurangi artefak

Peningkatan jumlah proyeksi pada CBCT telah merendahkan tingkat artefak logam, terutama dalam rekonstruksi sekunder yang dimaksudkan untuk melihat rahang dan gigi.

2.5.7 Kekurangan CBCT Kekurangan CBCT:

1. Artefak

Artefak adalah setiap distorsi atau kesalahan pada gambar. Hal tersebut merusak kualitas gambar CBCT dan batasan visualisasi yang memadai dari struktur di daerah dento-alveolar. Artefak bisa berupa pengerasan pada beam (menghasilkan artefak cupping, garis-garis dan lapisan yang berwarna gelap), Artefak yang berkaitan dengan pasien (gerakan pasien yang mengakibatkan ketidaktajaman hasil rekonstruksi gambar), Artefak terkait pemindai (melingkar atau berbentuk cincin) dan artefak terkait cone-beam (volume parsial, undersampling, dan efek cone-beam).21 2. Noise pada gambar

Noise pada hasil foto CBCT disebabkan oleh volume besar yang disinari selama pemindaian CBCT menghasilkan interaksi berat dengan jaringan yang menghasilkan radiasi dan menyebabkan redaman nonlinier oleh detektor. Deteksi x-ray tambahan ini berkontribusi untuk degradasi gambar.21

3. Kontras jaringan lunak yang buruk

Kontras adalah variasi spasial dari intensitas foton sinar-x yang ditransmisikan melalui pasien. Kontras memberikan ukuran perbedaan antara daerah dalam sebuah gambar. Variasi dalam intensitas yang ditransmisikan adalah hasil dari redaman diferensial x-ray oleh jaringan yang berbeda dalam kepadatan, nomor atom dan ketebalan. Dua faktor utama membatasi resolusi kontras CBCT:

1. Meskipun radiasi berkontribusi pada peningkatan noise gambar, juga merupakan faktor signifikan dalam mengurangi kontras dengan menambahkan sinyal latar belakang yang tidak mewakili anatomi, sehingga mengurangi kualitas gambar.

(33)

2. Ada banyak artefak berbasis detektor panel datar yang melekat mempengaruhi linearitas atau responsnya terhadap radiasi sinar-x. Saturasi (efek piksel nonlinier di atas eksposur tertentu), arus gelap (muatan yang terakumulasi dari waktu ke waktu dengan atau tanpa eksposur), dan piksel buruk (piksel yang tidak bereaksi terhadap eksposur) berkontribusi pada nonlinier. Selain itu, sensitivitas ke berbagai wilayah panel terhadap radiasi (variasi penguatan piksel-ke-piksel) mungkin tidak seragam di seluruh wilayah.20

(34)

2.6 Kerangka Teori

Konvensional Digital

2 Dimensi

Konvensional Digital

Radiografi Kedokteran Gigi

Intraoral

Jenis Radiografi Kedokteran Gigi

Pengetahuan Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran

Gigi

Perangkat Keras

Ekstraoral

Indikasi dan Kotraindi

kasi

Kelebihan Persiapan

pasien sebelum penyinaran Teknik

3 Dimensi CBCT

Kekurangan

(35)

2.7 Kerangka Konsep

Mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi

USU

Pengetahuan mengenai Cone-Beam Computed Tomography (CBCT)

(36)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif analitik secara pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk melihat tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi USU mengenai penggunaan CBCT.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Fakultas Kedokteran Gigi USU. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2021 hingga Juni 2022.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi dari penelitian ini ialah semua mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara di Kota Medan.

3.3.2 Sampel

Sampel dari penelitian ini ialah mahasiswa pendidikan profesi angkatan 2017 sampai dengan angkatan 2021 dengan cara mengambil data dengan simple random sampling.

Kriteria inklusi adalah bersedia untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian Kriteria eksklusi adalah mahasiswa pendidikan profesi yang sedang tidak aktif atau cuti

(37)

3.4 Besar Sampel

Besar sampel pada penelitian ini bisa ditetapkan dengan rumus sebagai berikut:

𝑛 =𝑍2. 𝑃𝑄 𝑑2 Keterangan rumus:

n: Jumlah sampel

Z: Derajat Kepercayaan (95%=1,95) P: Proporsi populasi penelitian (0,5) Q: Selisih antara populasi (1-P) D: Presisi kepercayaan (5%)

Cara Perhitungan sampel Minimum

𝑛 =(1. 962)(0,5)(1 − 0,5) 0,052

𝑛 = 384,16

Sampel yang diambil pada penelitian ialah 385 orang.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

Pengetahuan Mahasiswa Pendidikan Profesi mengenai Cone-Beam Computed Tomography (CBCT)

Hasil tahu dari Mahasiswa

pendidikan profesi di Fakultas

Kedokteran Gigi mengenai

penggunaan, teknik, indikasi, kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan CBCT

Kuesioner dalam bentuk google form

Hasil Ukur pengetahuan dikategorikan menjadi:

1. Baik: Skor 12-15

(76%-100%) 2. Cukup: Skor 9-11

(56%-75%) 3. Kurang: Skor

>9 (<56%)

Ordinal

(38)

3.6 Prosedur Pengumpulan Data

1. Mengurusi surat izin untuk penelitian dan izin penelitian dari Komite Etik Penelitian Bidang Kesehatan

2. Setelah surat izin didapatkan, dilakukan penelitian secara membagikan kuesioner dengan online dalam bentuk Google Form

3. Pengumpulan data yang didapatkan dari Google Form 4. Pengolahan dan analisis data

3.7 Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Pengolahan data

1. Pengetahuan

Adapun dalam mengukur pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi terhadap pemakaian CBCT ialah dengan memberi skor pada kuesioner yang sudah diisi oleh subjek penelitian. Jumlah pertanyaan adalah 15, setiap pertanyaan berbentuk pilihan ganda dengan menentukan jawaban paling tepat. Pemberian skor pada setiap pertanyaan ialah sebagai berikut.

a. Jawaban benar memiliki skor 1 b. Jawaban salah memiliki skor 0

Berdasarkan seluruh pertanyaan yang memiliki total skor maksimal 15, maka pengkategorian pengetahuan berlandaskan total skor jawaban benar adalah sebagai berikut:

a. Termasuk kategori pengetahuan baik apabila jumlah skor 12-15 (76%-100%) b. Termasuk kategori pengetahuan cukup jika jumlah skor 9-11 (56%-75%) c. Termasuk kategori pengetahuan kurang jika jumlah skor <9 (<56%) 2. Pengolahan data

Pengolahan data dilaksanakan dengan komputerisasi secara tahapan sebagai berikut:

(39)

a. Penyuntingan data (editing)

Pemeriksaan kembali apakah data yang terkumpul telah lengkap, jelas dan tak meragukan, serta tidak ada kesalahan dan lainnya.

b. Membuat lembaran kode (coding sheet)

Memberikan kode pada lembar kuesioner dengan tujuan untuk memberikan nomor responden agar lebih mudah ketiks pengolahan dan perhitungan jumlah nilai dari semua pertanyaan.

c. Memasukkan data (entry)

Memasukan data ke dalam kolom yang sudah disesuaikan terhadap jawaban masing-masing pertanyaan.

d. Tabulasi

Membuat tabel data sesuai tujuan penelitian.

3.7.2 Analisis Data

Analisis data dikerjakan dengan univariat dan dihitung pada bentuk persentase.

3.8 Etika Penelitian

Etika Penelitian dalam penelitian ini, mencakupi:

a. Lembar persetujuan (Informed Consent)

Peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian, tindakan yang akan dilakukan serta menjelaskan manfaat yang akan didapatkan dari penelitian ini kemudian memberikan lembar persetujuan kepada subjek.

b. Ethical clearance

Penelitian ini akan memperoleh izin dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran USU dengan nomor surat (133/KEPK/USU/2022) yang didasarkan pada ketentuan etika baik bersifat internasional ataupun nasional.

(40)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada 385 mahasiswa pendidikan profesi angkatan 2017, 2018, 2019, 2020 dan 2021 di Fakultas Kedokteran Gigi USU. Penelitian ini dimulai dari bulan Maret 2022 hingga Mei 2022. Dari 385 mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi Univeristas Sumatera Utara seluruhnya mengisi dan memberikan respon. Subjek penelitian didapat secara simple random sampling dan penelitian memakai kuesioner google form.

Frekuensi responden berdasarkan angkatan diperoleh angkatan 2017 sejumlah 11 orang, angkatan 2018 sejumlah 14 orang, angkatan 2019 sejumlah 151 orang, angkatan 2020 sejumlah 109 orang dan angkatan 2021 sejumlah 100 orang (Tabel 1).

Tabel 1. Frekuensi responden berdasarkan angkatan

Angkatan n %

2017 11 2,9

2018 14 3,6

2019 151 39,2

2020 109 28,3

2021 100 26,0

Total 385 100,0

Frekuensi Pengetahuan Mengenai Cone-Beam Computed Tomography diperoleh jawaban benar dan salah disertai persentase yang dijawab oleh Mahasiswa Pendidikan Profesi di Fakultas Kedokteran Gigi USU sebanyak 385 orang (Tabel 2).

(41)

Tabel 2. Frekuensi pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai Cone Beam Computed Tomography di Fakultas Kedokteran Gigi USU, n = 385. (n = orang)

No. pengetahuan mengenai Cone-Beam Computed Tomography

Jumlah

Benar Salah

n % n %

1. CBCT merupakan radiografi jenis radiasi ionisasi

201 52,2 184 47,8 2. Keunggulan CBCT dibandingkan dengan

CT konvensional

185 48,1 200 51,9 3. Perbedaan besar dosis paparan radiasi

CBCT dengan CT Konvensional

217 56,4 168 43,6

4. Perangkat keras dari CBCT 174 45,2 211 54,8 5. Derajat sudut kon CBCT bergerak

mengelilingi kepala pasien

248 64,4 137 35,6 6. Persiapan pada pasien sebelum penyinaran

CBCT

148 38,4 237 61,6 7. Posisi pasien saat dilakukan pemeriksaan

CBCT

141 36,6 244 63,4

8. Waktu akuisisi CBCT 93 24,4 292 75,6

9. Kualitas gambar pada CBCT 164 42,6 221 57,4

10. Kelebihan CBCT 152 39,5 233 60,5

11. Kekurangan CBCT 102 26,5 283 73,5

12. Kepanjangan FOV 303 78,7 82 21.3

13. Daerah yang dapat dipilih menggunakan fitur FOV pada CBCT

271 70,4 114 29,6

14. Indikasi CBCT 205 53,2 180 46,8

15. Kontraindikasi CBCT 136 35,3 249 64,7

Frekuensi tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara indivu mengenai Cone-Beam Computed Tomography di Fakultas Kedokteran Gigi USU diperoleh 11,2% baik, 21,8% cukup dan 67,0% kurang. (Tabel 3).

(42)

Tabel 3. Frekuensi tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu mengenai Cone-Beam Computed Tomography di Fakultas Kedokteran Gigi USU

Kategori n %

Baik 43 11,2

Cukup 84 21,8

Kurang 258 67,0

Total 385 100,0

(43)

BAB 5 PEMBAHASAN

CBCT adalah pencitraan dento-maksilofasial dengan hasil berupa gambaran 3D dan mempunyai proses reformasi multiplanar yang menguntungkan seperti pemilihan ukuran area penyinaran, ketepatan gambar, waktu pemindaian yang lebih cepat dan lain-lain.6 Pengetahuan tentang keunggulan teknologi dan aplikasi CBCT tampak masih kurang di antara dokter gigi umum dan mahasiswa kedokteran gigi. CBCT dalam kurikulum radiologi kedokteran gigi adalah syarat mutlak untuk mendorong para calon dokter gigi agar dapat menerapkan pencitraan tiga dimensi dengan diagnosis dan perencanaan pengobatan yang tepat.4 Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa pendidikan profesi angkatan 2017, 2018, 2019, 2020 dan 2021 di Fakultas Kedokteran Gigi USU.

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan (Tabel 1) terdapat 2,9% responden angkatan 2017 dan 3,6% responden angkatan 2018. Kedua angkatan tersebut memiliki persentase paling sedikit dikarenakan sebagian besar sudah mendapat gelar dokter gigi saat dilakukannya penelitian ini. Terdapat 39,2% responden angkatan 2019, 28,3% responden angkatan 2020 dan 26,0% angkatan 2021. Persentase responden angkatan 2021 tampak lebih sedikit dari kedua angkatan lainnya karena saat dilakukannya penelitian ini, mahasiswa pendidikan profesi angkatan 2021 sedang sibuk mengikuti post-test dan tidak dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner.

Pengetahuan responden mengenai jenis radiografi dari CBCT (Tabel 2) 52,2%

responden menjawab dengan benar dan masuk kedalam kategori kurang. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian responden masih tidak mengetahui sumber radiasi yang digunakan untuk menghasilkan suatu gambaran radiografi.

Penelitian de-Azevedo-Vaz SL et al (2013) mengenai pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi terhadap radiografi kedokteran gigi mendapat hasil 62,3% responden menjawab dengan benar. Salah satu prinsip umum radiografi adalah tentang mengetahui jenis radiasi yang digunakan pada bidang kedokteran gigi. Jenis

(44)

radiografi dalam kedokteran gigi yang biasa dipakai adalah radiografi yang menggunakan radiasi ionisasi untuk menghasilkan gambar.24

Frekuensi responden yang menjawab benar mengenai keunggulan CBCT dibandingkan dengan CT konvensional sebanyak 48,1% dan dikategorikan kurang.

Keunggulan yang dimiliki CBCT adalah dosis paparan radiasi jauh lebih rendah daripada CT konvensional. Pada penelitian yang dilakukan Pamadya S dkk (2021) didapatkan 46,4% responden tidak mengetahui tentang perbedaan CBCT dengan CT konvensional. CBCT bisa menghasilkan gambaran tiga dimensi serta tampilan dari berbagai potongan mirip dengan hasil pemeriksaan CT Scan kepala tetapi dengan dosis radiasi yang lebih rendah. Dalam kurun waktu 12 tahun terakhir, masih cukup banyak artikel ilmiah yang memakai radiograf konvensional untuk mengevaluasi pemasangan implant dental.25

Pengetahuan responden mengenai perbedaan besar dosis paparan radiasi CBCT dibandingkan dengan CT konvensional dikategorikan cukup karena 56,4%

mahasiswa pendidikan profesi mengetahuinya. Dosis paparan radiasi dari CBCT adalah 10 kali lebih rendah dari CT scan konvensional selama maksilofasial eksposur (68 Sv dibandingkan dengan 600 Sv konvensional CT). Penelitian Kamburoglu K et al (2011) mendapat hasil bahwa 61,7% responden mengetahui bahwa CBCT memiliki dosis radiasi yang lebih kecil dibandingkan CT konvensional. Sejak tahun 1990-an teknologi CT diterapkan pada praktek kedokteran gigi. Terkait dengan paparan radiasi yang relatif tinggi, teknologi cone beam computed tomography (CBCT) dapat menggantikan penggunaan CT pada praktek kedokteran gigi.3,17,26

Responden yang mengetahui tentang perangkat keras CBCT sebanyak 45,2%

dikategorikan berpengetahuan kurang. Perangkat keras CBCT terdiri dari Tabung Sinar-X, Gantry dan Detektor.19 Pengetahuan responden mengenai derajat sudut cone CBCT bergerak mengelilingi kepala pasien dikategorikan cukup karena 64,4%

responden yang menjawab dengan benar. Dapat dilihat sebagian besar responden pada hasil penelitian ini mengetahui cara kerja cone pada perangkat CBCT. Sistem CBCT bekerja dengan detektor panel datar dan pemindai khusus menggunakan sumber sinar-x terkolimasi yang menghasilkan sinar-x berbentuk kerucut atau

(45)

piramida dalam satu atau rotasi melingkar parsial (180-360) di sekitar kepala pasien. 13,16

Responden mengetahui tentang persiapan yang diterapkan untuk pasien sebelum penyinaran CBCT sebanyak 38,4% dan dikategorikan kurang. Pemindaian CBCT dilakukan dengan penekan lidah atau gulungan kapas. Pasien harus diarahkan untuk tetap diam sebelum terpapar, bernapas perlahan melalui hidung, dan menutup mata untuk mengurangi kemungkinan pasien bergerak sebagai akibat dari mengikuti detektor saat lewat di depan wajah.14 Frekuensi responden mengenai posisi pasien saat pemeriksaan CBCT dikategorikan berpengetahuan kurang karena 36,6%

responden menjawab benar. Berdasarkan jenis pada unit scan CBCT, posisi pasien dapat terlentang, duduk, atau berdiri.19

Responden yang mengetahui waktu akuisisi CBCT sebanyak 24,2% dan dikategorikan berpengetahuan kurang. Waktu yang digunakan dalam teknologi CBCT untuk memperoleh gambar 3D biasanya membutuhkan waktu pemindaian mulai dari 5 hingga 40 detik. Berdasarkan penelitian Lechuga L et al (2016) mengenai waktu akuisisi CBCT pada Standart Dose Head (SDH) dan Standart Dose Head Full (SDHFS) berlangsung selama 20 detik sedangkan 25 detik untuk High Quality Head (HQH), High Quality Head Full (HQHFS) dan OBl1.3 Full Screen (OBl13FS).27 Pengetahuan responden tentang kualitas gambar CBCT dikategorikan berpengetahuan kurang karena hanya 42,6% responden mengetahuinya. Modalitas pencitraan CBCT mampu memberikan resolusi sub-milimeter (2 line pair/mm) dengan kualitas gambar diagnostik yang lebih tinggi dan waktu pemindaian lebih singkat. Berdasarkan penelitian Lechuga L et al (2016) dengan membandingkan kualitas gambar dan dosis radiasi yang dilepaskan oleh CBCT dan CT scan diperoleh hasil bahwa resolusi spasial CBCT lebih baik dibandingkan CT Scan, sedangkan CT scan menghasilkan diferensiasi jaringan lunak yang lebih baik.17,27

Frekuensi responden mengenai kelebihan CBCT dan kekurangan CBCT sebanyak 39,5% dan 26,5% dikategorikan berpengetahuan kurang. Peningkatan jumlah proyeksi pada CBCT telah merendahkan tingkat artefak logam, terutama dalam rekonstruksi sekunder yang dimaksudkan untuk melihat rahang dan gigi namun

(46)

CBCT tidak menghasilkan kontras yang baik pada jaringan lunak. Dua faktor utama membatasi resolusi kontras CBCT: (1) Meskipun radiasi berkontribusi pada peningkatan noise gambar, juga merupakan faktor signifikan dalam mengurangi kontras dengan menambahkan sinyal latar belakang yang tidak mewakili anatomi, sehingga mengurangi kualitas gambar, (2) Ada banyak artefak berbasis detektor panel datar yang melekat mempengaruhi linearitas atau responsnya terhadap radiasi sinar-x.

Menurut penelitian Sathawane R et al (2020) tentang pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai kelebihan dan kekurangan CBCT didapatkan 34,35%

dan 20,17% responden mengetahuinya.1,20,21

Pengetahuan responden mengenai kepanjangan dari FOV dikategorikan baik karena 78,7% responden menjawab dengan benar. Field Of View atau Lapang Pandang adalah daerah yang diradiasi pada pasien. Pada penelitian Pamadya S dkk (2017) mengenai pengetahuan tentang FOV pada CBCT didapat sebesar 60,6%

responden menjawab dengan benar. Peran dari FOV sendiri adalah untuk meminimalisir dosis radiasi yang dikeluarkan, menyamakan area paparan radiasi yang diperlukan.22,25

Frekuensi responden yang mengetahui daerah yang dapat dipilih FOV hanya 70,4% sehingga dikategorikan berpengetahuan cukup. FOV memiliki beberapa daerah yang dapat dipilih untuk penyinaran yaitu pada lengkung rahang, Maksilofasial, Kraniofasial, Daerah dentoalveolar dan Interarch. Pada penelitian Sathawane R et al (2020) tentang pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai FOV didapatkan 25,35% responden menjawab dengan benar.1,19 Responden yang mengetahui indikasi CBCT dan kontraindikasi CBCT dikategorikan berpengetahuan kurang dengan presentase 53,2% dan 35,3%. Pada penelitian Al Noaman RF et al (2017) mengenai indikasi dan kontraindikasi CBCT didapatkan 95,7% dan 54,3% mahasiswa pendidikan profesi menjawab dengan benar.4

Pada Tabel 3 terlihat bahwa secara individu tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi USU didapatkan kategori baik sebesar 11,2% (43 orang), kategori cukup sebesar 21,8% (84 orang) dan kategori kurang sebesar 67,0% (258 orang). Hasil dengan persentase tertinggi adalah kategori

(47)

kurang. Hal tersebut dikarenakan CBCT bukan merupakan kompetensi mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi namun penelitian ini dilakukan untuk melihat interest mereka terhadap perangkat tersebut yang nantinya akan sangat berguna pada saat mendapat gelar dokter gigi atau dokter gigi spesialis.

(48)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Pada penelitian ini bisa disimpulkan jika tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai Cone-Beam Computed Tomography di Fakultas Kedokteran Gigi USU, yaitu kategori baik sejumlah 11,2% (43 orang), kategori cukup sebesar 21,8% (84 orang) dan kategori kurang sebesar 67,0% (258 orang).

6.2 Saran

Untuk dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi USU diperlukan tambahan pengalaman dalam proses pembelajaran yaitu memperlihatkan secara langsung hasil gambaran radiografi CBCT di Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Menghasilkan usulan serta gagasan untuk merumuskan konsep dasar perencanaan dan perancangan fasilitas Rest Area pada ruas jalan lintas sumatera di Sumatera Utara

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kreativitas iklan dan kredibilitas cellebrity endorser (Syahrini) terhadap keputusan pembelian mie sedaap white

Di awal semester, mahasiswa mengisi KRS dan di akhir semester, mahasiswa mengisi kuesioner kinerja dosen untuk tiap-tiap dosen per mata kuliah, LPPM mengirimkan rekap

2009, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Jakarta: PT

Kekerasan verbal yang dialami anak akan berdampak secara holistik yaitu dampak psikis yang dirasakan oleh korban antara lain berkeringat, jantung berdetak

Adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan

Penulisan ilmiah ini juga menggambarkan langkah-langkah pembuatan sistem pakar untuk penerimaan pegawai yang nantinya diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan agar lebih

[r]